Monday, December 3, 2007

V. PARA MURID
Part I

Sementara menunggu anak-anak itu datang, Bumi mengajak Kahar, Basri dan Masnan ke ruang kerjanya. Maksud Bumi sebelum mereka bertemu lebih baik dia memberitahu kepada teman-temannya latar belakang dari calon murid mereka nantinya. Setelah duduk di tempat yang tersedia, Bumi mulai angkat bicara untuk menyampaikan kepada teman-temannya.

“Saudara-saudaraku, aku pikir sebelum kalian berkenalan dengan calon murid kalian terlebih dulu aku ingin memberi sedikit info yang aku ketahui kepada kalian mengenai mereka supaya nanti lebih bisa cepat saling mendekatkan diri satu dengan yang lainnya, bagaimana menurut kalian ?”

“Uda Bumi, gagasan uda bagus sekali jadi nanti kami tidak akan sungkan berhubungan dengan keluarga si anak dan juga bisa lebih cepat memahami karakter mereka, ini sangat membantu sekali untuk bisa mengatasi kecanggungan diantara kami.” Kata Basri.

“Benar sekali uda, karena Basri dan aku pasti akan membawa pergi kedua murid kami ke tempat kami, seharusnya kami lebih mengenal mereka supaya lebih gampang menyesuaikan diri. Beda dengan Kahar berhubung belum berkeluarga dia bisa saja tinggal di sini untuk mendidik muridnya itu.” Kata Masnan dengan senyum kecil yang terlihat mencurigakan bagi Kahar.

“Aku sih tidak keberatan kalau Kahar mau latih muridnya di sini, aku malahan senang artinya aku punya teman latih tanding yang hebat untuk membantu meningkatkan ilmu silatku. Dan juga aku dapat bantuan tambahan orang untuk menemani Siti kalau dia pergi ke nagari-nagari tetangga untuk mengobati orang. Selama ini aku selalu menguatirkan dia kalau pergi jauh-jauh, pernah sekali waktu hampir 3 bulan lamanya dia menghilang tanpa pengawal yang biasa mendampinginya, aku cemas sekali tapi ternyata dia diundang oleh Rangkayo Syamsul dari Koto Gadang untuk mengobati penyakit isterinya yang parah sekali.  Karena diburu waktu Siti sampai lupa memberitahukan kepadaku ke mana dia pergi.” Kata Bumi sambil tersenyum-senyum simpul.

Mendengar ini wajah Kahar menjadi merah sekali karena dia benar-benar malu, saudara-saudaranya sudah bisa menebak isi hatinya kepada Siti. Untuk menutupi perasaannya itu dia berusaha mengalihkan pembicaraan yang sudah menjurus memojokan dia tersebut.

“Uda Bumi, bisa tidak uda ceritakan pada kami mengenai latar belakang anak-anak tersebut?” kata dia cepat-cepat, takut mereka tambah semangat menggodanya.

“Sabarlah Kahar, kenapa kamu terburu-buru begitu, apa yang kamu kejar? Apa sudah tidak sabar mau ke ruang makan bantuin Siti siapkan makan siang?”goda Bumi sambil tersenyum jahil.

“Bukan begitu uda, aku cuma ingin supaya aku bisa lebih mengenal muridku dengan baik sehingga bisa memikirkan metode apa yang terbaik yang bisa kuajarkan kepadanya karena waktu kita untuk mengajar mereka singkat sekali hanya 5 tahun. Sedangkan mereka belum punya dasar-dasar ilmu yang memadai untuk menerima pengajaran kita, benar kan ?”kata Kahar dengan tersipu dan berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Sudahlah uda jangan kamu ganggu juga adik kita itu, nanti yang ada malah dia bisa benar-benar jadi manusia api seperti anakmu bilang.”kata Masnan sambil tersenyum.

“Hehehehe….. kau benar Masnan, yah sudah aku akan mulai menceritakan mengenai Burhan dulu, karena dia yang tertua dari kelima anak lainnya.” Sahut Bumi.

“Burhan, merupakan anak yang tenang dan pendiam, dia sudah tidak mempunyai orang tua lagi sejak nagarinya dilanda gampo(gempa) besar beberapa waktu yang lalu. Sekarang dia tinggal bersama dengan keluarga mamak(paman)nya, anak-anak mamaknya sepantaran dengan dia yang berusia 6 tahun, satu anak perempuan berusia 7 tahun dan satu anak laki-laki berusia 3 tahun. Keluarga mamaknya bukan keluarga berada, mereka juga keluarga miskin, untuk hidupnya mamak dan isterinya harus bekerja di sawah orang lain dan menerima upah untuk menghidupi keluarga mereka. Kehadiran Burhan sebenarnya memberatkan mereka, tapi karena mereka sepasang suami isteri yang baik hati, mereka tetap menerima kehadiran anak itu. Dan untungnya  Burhan seorang anak yang tahu diri, suka membantu mamaknya dengan menemani dan menjaga kedua anak mamaknya, membersihkan rumah bahkan kadang-kadang aku lihat dia sedang memasak nasi untuk makanan mereka semua.

Aku suka sedih memikirkan nasibnya, dia baru berusia 6 tahun tapi kehidupan yang keras membuat dia seperti bukan kanak-kanak lagi, cara berpikirnya sudah seperti orang dewasa, penuh pengertian dan bijaksana, kadang-kadang aku suka terheran-heran dengar semua perkataannya. Aku suka suruh Aswin memanggil dia main ke sini sore-sore sambil aku ajarkan ilmu pernafasan untuk menguatkan badannya, Aswin juga berteman baik dengan dia, bahkan kadang-kadang aku melihat Aswin lebih mematuhi perkataan Burhan daripada aku.” Kata Bumi dengan menghela nafas.

“Uda Bumi, sudah berapa lama kau ajarkan dia ilmu pernafasan?” Tanya Masnan.

“Kira-kira hampir 2 tahun, aku mengenal anak ini pertama kali ketika dia sakit dan dibawa mamaknya berobat pada Siti, dia harus dirawat dengan sebaik-baiknya karena kondisi dirinya parah sekali, ketika itu dia baru datang diantar orang ke tempat mamaknya tidak lama sepeninggalan orang tuanya. Badannya kurus sekali, kulitnya bercak-bercak merah, nafasnya tinggal satu-satu  seakan-akan setiap saat bisa meninggal, menurut orang yang membawanya dia tertimbun tanah selama 7 hari dan masih hidup waktu ditemukan tapi dalam kondisi yang menggenaskan sekali. Dan menurut Siti, dia digigit oleh semut beracun dan kelabang bertanduk yang sangat berbahaya sekali racunnya. Campuran kedua racun ini menyebabkan dia dalam keadaan kritis, yang mengherankannya lagi seharusnya dia sudah lama mati akibat keracunan kedua binatang itu tapi entah kenapa dia tetap bisa bertahan hidup sampai diantarkan ke sini, sudah menjelang 1 bulan dari gampo tersebut terjadi. “

“Siapa orang itu uda, kenapa dia bisa tahu Burhan harus dibawa ke mamaknya di sini?”Tanya Masnan dengan serius.

“Aku tidak tahu jelas siapa orang itu, kamu bisa tanyakan langsung pada mamaknya ketika mereka datang. Yang aku tahu ketika orang itu datang, dia hanya bilang bahwa dia disuruh seseorang untuk mengantarkan anak ini ke Batang Kapeh karena mamaknya tinggal di sana , lalu seseorang itu memberikan uang untuk biaya perjalanan mereka. Hanya itu saja keterangan yang aku ketahui, selebihnya aku tidak tahu karena kesibukanku saat itu jadi tidak membuat aku ingin mengetahui lebih lanjut.” Jawab Bumi.

“Tapi dia benar-benar anak yang tangguh, ketika dia diobati oleh Siti, aku tahu sekali dia itu kesakitan karena Siti harus berusaha menetralisir kedua racun yang mengendap di tubuhnya, jadi Siti terpaksa meminumkan kepadanya air murni dari Danau Maninjau yang telah dicampur dengan sari bunga Cempaka Biru. Ketika air campuran tersebut diminumkan padanya, tidak lama dia menggeliat-geliat kesakitan dan seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat segadang-gadang biji jagung, tapi dia menggigit bibirnya tidak mengeluarkan rintihan sedikitpun. Menurut Siti, penderitaan dia itu belum tentu orang dewasa bisa menahannya karena kerjanya pemunah racun itu harus melebur kedua racun itu menjadi satu sebelum dikeluarkan melalui kencing. Dan dia harus meminum ramuan tersebut selama 1 bulan penuh sampai kedua racun itu benar-benar hilang dari tubuhnya.”

“Aswin sempat menangis melihat Burhan kesakitan seperti itu, cukup lama dia bertahan dalam kondisi seperti itu sampai akhirnya dia pingsan tidak sadarkan diri. Aku sempat bingung juga kenapa Aswin bisa tahu seberapa kesakitannya Burhan ketika itu, ketika kutanyakan kata dia, saat dia pegang tangan Burhan, dia mencengkram tangan Aswin dengan kuat sekali sampai sakit rasanya, tapi Aswin tidak merasakan kesakitan itu karena dia merasa kasihan melihat penderitaan Burhan. Tadinya aku tidak sadar juga kenapa Aswin bisa menahan sakit akibat cengkraman Burhan, kini aku tahu ternyata anakku saat itu sudah diisi oleh datuak sehingga bisa menahan sakit. Sejak saat itu sampai saat  kesembuhannya, Burhan selalu ditemani Aswin, bahkan anakku mau tidur hanya dengan Burhan saja, dan Burhan perlahan-lahan sembuh, proses kesembuhannya memakan waktu hampir 3 bulan.”

“Setelah dia sembuh, Burhan dan Aswin menjadi sobat sejati, mereka begitu dekat satu dengan yang lainnya, Burhan selalu menutupi semua kenakalan Aswin dan cendrung selalu membela anakku yang bandel itu. Dan aku tertarik dengan ketabahan dan kesetiaannya mulai mengajarkan dia ilmu pernafasan itu tujuannya agar bisa memperkuat kondisi tubuhnya. Tidak lama keluarga mamaknya membawa dia pulang ke rumah mereka, sejak saat itu anakku suka bermain ke sana dan setiap senja Aswin akan membawa Burhan ke sini untuk berlatih ilmu pernafasan dan meditasi denganku selama 2 jam setiap harinya. Dan ternyata dia merupakan seorang murid yang berbakat ditambah lagi dia tekun dan rajin sekali melakukan latihan, aku menjadi bersemangat mengajarinya tidak seperti ajarin Aswin walaupun anakku itu tidak kalah bakatnya tapi setiap mengajari dia, rasanya aku mau marah-marah terus akibat kemalasannya tapi sejak ada Burhan, anakku jadi ikut-ikutan rajin berlatih.” Kata Bumi sambil menggeleng-geleng kepala ingat kelakuan anaknya.

“Uda Bumi, dari tadi kau hanya ceritakan keistimewaan anak ini, apa tidak ada kejelekannya sama sekali?” Tanya Masnan penasaran.

“Uda Masnan, dari tadi uda terus bertanya tentang anak ini, apa uda suka anak ini ?” Tanya Kahar.

“Entahlah Kahar, aku merasa anak ini akan cocok menjadi muridku, ada perasaan seakan-akan dia akan menjadi bagian dari hidupku.”kata Masnan sambil merenung.

“Mengenai kejelekannya, aku merasa tidak terlalu mempengaruhi semua keistimewaan dia. Dia itu terlalu pendiam, apa yang ada di hatinya tidak akan pernah kita bisa tahu, semua kesedihan dan kesusahannya tidak pernah terungkap keluar semua tersimpan rapi di dalam hatinya. Pernah aku menanyakan kepadanya bagaimana caranya orang tua dia meninggal, dia hanya menatapku dengan sedih dan di matanya kulihat kepedihan yang begitu dalam, tapi satu katapun tidak keluar dari mulutnya. Hanya dengan menatap dia, aku rasanya tidak sanggup lagi mendesak dia untuk menceritakan kisah hidupnya yang begitu menggenaskan harus kehilangan orang tuanya dalam usia muda. Sejak saat itu aku tidak pernah bertanya lagi mengenai orangtuanya dan kehidupannya saat dia masih di kampungnya, takut dia merasa sedih.”

“Hmmm… anak yang luar biasa, kuat menahan derita dan tabah menjalani kehidupannya tanpa mengeluh. Benar-benar anak pilihan, aku akan bangga sekali bisa menjadi gurunya walau tidak dalam waktu yang lama, tapi aku yakin dia pasti akan bisa menjadi seorang pendekar yang gagah berani.”kata Masnan dengan hati senang.

“Bagaimana dengan kalian, Kahar dan Basri, apa kalian ingin anak ini menjadi murid kalian?”

“Uda Masnan, jangan senang hati dulu, kita kan hanya baru mendengar kata uda Bumi, belum kita lihat anak itu secara langsung, siapa tahu begitu melihatnya uda tidak berkenan mengambilnya sebagai murid.”goda Basri.

“Tidak mungkin Basri, aku tidak akan tertarik pada anak ini, aku mempercayai penilaian uda Bumi, walaupun nanti pas saat ketemu ternyata anaknya berwajah jelek sekalipun, aku tetap akan mengangkat dia menjadi muridku.”tegas Masnan.

“Yah ampun uda, masak lihat calon muridnya dari segi paras, jelek atau tampan yang penting hatinya, untuk apa dia tampan kalau dia buruk hatinya, malah nanti dia akan memalukan kita sebagai gurunya.”kata Kahar.

“Bukan begitu maksudku Kahar, itu perumpaanku saja. Bagaimana uda Bumi, apa menurutmu dia bisa menjadi muridku?”Tanya Masnan.

“Kita lihat saja nanti Masnan, jangan terburu-buru menentukan hanya dari ceritaku mengenai Burhan, kau kan belum mendengar tentang anak-anak yang lain. Dan satu hal yang perlu kau ketahui Burhan bukan anak yang berparas tampan, tapi aku menyukai parasnya karena mempunyai karakter wajah yang jantan, dan aku yakin jika dia besar nanti akan banyak wanita yang mencari perlindungan pada dirinya.”kata Bumi dengan nyengir.

“Ah, uda Bumi macam-macam saja, bilang anak orang jelek tapi bisa membuat wanita menyukai dia, gimana ni uda penjelasannya.”kata Masnan dengan tersenyum.

“Yah sudah, kau lihat saja nanti anaknya.”

“Terus uda gimana dengan anak yang lain?” Tanya Basri penasaran. Kalau mau jujur memang dia tertarik juga dengan Burhan tapi dia tidak mau rugi jadi perlu mendengar latar belakang anak yang lain.

“Baiklah, anak kedua yang kita bicarakan adalah Karim, anak ini adalah anak sepupuku yang dititipkan padaku beberapa waktu yang lalu ketika orangtua pergi ke tanah seberang, baru beberapa waktu yang lalu orangtuanya pulang dari rantau dan mengambil anak tersebut kembali. Anak ini dititipkan ke aku setiap kali orang tuanya pergi, jadi dia sudah akrab dengan Aswin, bahkan menjadi teman sekomplotan Aswin dalam melakukan kenakalan, mereka berdua merupakan anak yang paling nakal sedunia menurutku. Dan lucunya mereka patuh sekali pada Burhan, setiap aku melarang mereka melakukan sesuatu mereka hanya saling pandang satu dengan yang lain lalu tetap saja melakukan apapun yang aku larang. Tapi ketika Burhan melarang mereka, tidak satupun dari mereka yang akan melanggarnya. Sering aku bertanya-tanya wibawa apa yang dipunyai Burhan sehingga mereka patuh padanya?”kata Bumi dengan gemas sekali.

“Sebenarnya Karim anak yang pintar nan licik, dia bisa memasang wajah tidak berdosanya untuk mengelabui orang atas perbuatannya, tapi sejak bergaul dengan Aswin kelicikan dia berkurang tapi tingkat kenakalannya bertambah. Yang aku maksudkan licik adalah dia mampu membuat anak lain yang bertanggung jawab atas semua perbuatan kenakalannya. Dia hampir  selalu lolos dari setiap hukuman atas perbuatannya, hanya pada Aswin saja yang dia tidak mampu memanipulasi, karena ternyata kelicikan anakku di atas Karim.”

“Hahahaha…. Uda Bumi, seharusnya kau bersyukur bahwa tidak ada orang nantinya yang bisa mengerjai anakmu.”tawa Masnan dengan keras, sedangkan yang lain mendengarnya sambil tersenyum.

“Sejak kenal Aswin, memang banyak juga perubahan dalam dirinya, tadinya dia merupakan anak yang bandel luar biasa, suka mengerjai anak lain sampai orang tua anak-anak itu mengeluh dan mengadu padaku mengenai masalah ini. Karena pengaduan inilah akhirnya aku memutuskan untuk menerima anak ini di rumahku setiap kali orang tuanya pergi, tidak lagi membiarkan anak itu ditinggalkan dengan pembantu di rumah. Dan itu sudah berlangsung sejak 1 tahun yang lalu, dan sama seperti Burhan dan Aswin, aku mendidik anak ini dengan ilmu pernafasan dan meditasi agar bisa meredam sedikit kenakalannya. “

“Wah uda, masak setelah mengatakan yang baik-baik mengenai Burhan, sekarang malah menjelek-jelekan Karim, jangan-jangan karena uda sudah pusing atas kelakuan anak itu makanya jadi tidak melihat keistimewaan anak itu lagi.”kata Kahar menggoda Bumi, karena biarpun Bumi menjelek-jelekkan anak tersebut tapi tetap di nada Bumi, dia bisa merasakan rasa sayang Bumi pada anak ini.

“Aku bukan mau menjelek-jelekan anak ini tapi memang kenyataannya begitu kok.”bantah Bumi.

“Tapi uda, masih tidak ada sedikitpun kebaikan dalam diri anak tersebut?”Tanya Basri.

“Kebaikannya ada yang justru juga kelemahannya, dia bisa membujuk orang untuk melakukan apa yang dikehendakinya tanpa orang itu punya rasa keberatan sedikitpun. Bila sedang senang dia suka bernyanyi-nyanyi kecil dan suaranya merdu sekali, bisa membuat orang terbuai mendengar suaranya. Selain itu dia suka meniru-niru suara dan gaya temannya, dan  yang istimewanya, cara dia meniru persis sekali. Aku suka keliru antara suara dia dengan Aswin, karena dia mampu menirukan suara Aswin dengan baik sekali tanpa cela, bahkan gaya berjalan Aswinpun mampu ditiru olehnya. Kadang-kadang hal ini membuat dia berkelahi dengan Aswin, karena anakku merasa terganggu dengan Karim meniru-niru dirinya, tapi untungnya mereka sehabis berkelahi langsung baikan lagi. Sebenarnya Karim seperti itu karena dia kesal sendirian di rumah dengan pembantu yang selalu menuruti semua perintahnya, akibat bosan dia mulai belajar meniru semua gaya dan suara orang tuanya untuk mengerjai pembantunya. Lama-lama dia mulai mempelajari gaya dan suara orang lain, dan pada akhirnya ini menjadi salah satu keahlian dia untuk berbuat kenakalan.”

“Tapi uda Bumi biarpun dia mampu meniru suara orang lain, tapi dia kan masih anak-anak pasti suara orang dewasa yang ditirunya tidak sempurna, pasti masih ada aksen anak-anaknya.”kata Kahar.

“Itu benar sekali, Kahar, tapi kau tahu dia bisa memanfaatkan kain untuk mengeluarkan suara yang berat seperti orang dewasa, entah bagaimana cara dia melakukannya tapi dia pernah berhasil mengelabui Aswin dan Siti ketika dia meniru suaraku.”

“Bagiku ini menunjukkan bahwa Karim juga bukan anak biasa, dia mempunyai kecerdikan dan kepintaran yang luar biasa untuk membuat dirinya senang, selain tentunya bakat alami dia untuk meniru orang lain.”

“Memang betul yang kau katakan itu, Basri tapi ingat hal ini bisa membahayakan orang lain jika dia bermaksud jahat kalau dia besar nantinya. Aku kuatir saja dia bisa mencelakai orang lain dan dirinya akibat bakatnya, makanya aku berusaha untuk menanamkan budi pekerti padanya dengan menyuruh Burhan dan Aswin berteman dengan dia untuk mengajarkan hal-hal baik yang harus dilakukannya.”

“Untungnya dia punya perasaan sungkan pada Burhan, dan sedikit perasaan agak takut pada Aswin, aku sendiri tidak tahu kenapa dia punya perasaan takut pada Aswin. Karena aku pernah melihat suatu ketika dia berbuat kenakalan yang keterlaluan menurutku, dan baru aku mau menegur perbuatannya tapi sudah didahului oleh Aswin.”

“Kenakalan seperti apa yang dilakukannya sehingga menyebabkan anakmu marah?” Tanya Masnan.

“Dia melempari orang gila dengan batu dan teriak-teriak mengejeknya terus, ketika orang gila itu mengejar dia, langsung suruh pembantunya memukuli orang gila itu. Aswin marah sekali melihat hal itu belum pernah aku melihat anakku marah seperti itu, Aswin hanya panggil nama dia sekali saja begitu Karim menoleh ke arah anakku, langsung aku melihat wajahnya berubah menjadi takut dan buru-buru menyuruh pembantunya berhenti memukuli orang gila itu, segera dia menghampiri Aswin dengan kepala menunduk serta berbisik minta maaf. “

“Aku heran sekali kenapa ketika melihat wajah Aswin, dia menjadi takut, padahal aku perhatikan wajah anakku biasa saja seperti wajah anak-anak marah.”

“Masak sih, aku yakin pasti ada sesuatu dalam diri Aswin yang tidak terlihat olehmu uda, tapi terlihat oleh Karim.”

“Mungkin juga Kahar, ada yang terlewatkan olehku saat itu karena aku terlanjut heran dengan kelakuan Karim. Tapi untunglah sejak saat itu Karim berubah menjadi anak yang lebih baik, masih tetap nakal tapi tidak mencelakai orang lain. Bersama dengan anakku dia selalu berbuat keributan di mana saja,  hanya bila bersama Burhan saja mereka tidak melakukan perbuatan yang menjengkelkan.”kata Bumi dengan gemas bercampur geli.

“Bagaimana dengan anak  yang lain uda, apa mereka dekat juga dengan Aswin?”Tanya Basri.

“Sabar Basri, kamu sepertinya sudah lapar yah jadi tidak sabar menunggu kelanjutan cerita dariku.”goda Bumi.

“Bukan begitu uda, aku hanya ingin segera mengetahui latar belakang mereka  supaya pas ketemu lebih tahu apa yang mau kukatakan karena aku ingin segera pulang dan segera melatih ilmu baruku itu seperti yang uda katakan, waktu kita tidak banyak untuk melatih anak-anak tersebut.” Bantah Basri.

“Benar yang kau katakan Basri. Sekarang kita bicara tentang Saiful, sebenarnya aku tidak tahu harus berkata apa tentang anak ini. “Bumi berkata dengan wajah serius.

“Memangnya kenapa uda?” kejar Basri penasaran.

Dengan menghela nafas Bumi bercerita tentang Saiful, “Baru-baru ini aku mengetahui ternyata Saiful itu sering dianiaya orangtuanya. Selama ini aku heran kenapa anak itu selalu memakai baju tangan panjang dan celana panjang. Dan tidak seperti anak yang lain dia selalu murung dan wajahnya selalu terlihat sedih tidak pernah aku melihat dia tertawa seceria  teman-temannya. Dia seorang anak yang pemalu dan pemurung sekali, tadinya aku pikir wajahnya sering luka dan bengkak akibat berantem dengan teman seusianya atau seperti alasan yang sering dia katakan saat dia berobat pada Siti bahwa dia sering jatuh karena tidak hati-hati berjalan. “

“Aku tidak pernah memperhatikan hal ini sebelumnya, 3 bulan yang lalu Aswin pulang ke rumah dan bicara padaku, dia bertanya apa pantas seorang ayah memukuli anaknya sampai babak belur bahkan anak itu tidak bersalah sekalipun. Aku yang tidak tahu arah pembicaraan anakku tentu saja agak marah mendengar pertanyaan seperti itu. Aku pikir anakku mau menguji aku, makanya aku menegur dan memberitahukan padanya, sampai kapanpun aku tidak akan memukul dia tanpa alasan yang jelas.”

“Saat aku tanya dia mengapa dia berkata seperti itu, dia menceritakan tentang penderitaan Saiful, rupanya saat itu dia ke rumah Saiful, terus dia mendengar rintihan-rintihan kesakitan, karena penasaran dia mengintip ke dalam rumah, dia melihat sebuah pemandangan yang mengejutkannya, Saiful sedang dipukuli habis-habisan oleh bapaknya dan ibunya hanya melihat saja anaknya dipukuli. Aswin shock sekali melihat itu, karena tidak tahan dia melempar bapak Saiful dengan batu dan menyebabkan luka di kepala bapaknya.  Karena terkejut Bapaknya Saiful berhenti menyiksa anaknya dan melihat ke arah jendela. Aswin yang melihat Saiful tergeletak di lantai dalam keadaan babak belur marah sekali. Menurut cerita orang tua Saiful saat itu mata Aswin memancarkan sinar kehijauan yang tajam sekali ke arah mereka, dan wajahnya berubah sangat menakutkan sehingga yang tadinya mereka mau memarahi Aswin karena ikut campur urusan mereka,  malah menjadi ketakutan sekali melihat wajah dan mata Aswin. Mereka seperti berhadapan dengan seorang yang sangat agung sekali dan itu membuat mereka berlutut kepadanya untuk meminta ampun.  Aku tidak tahu apa yang dilakukan Aswin kepada mereka, tapi saat itu mereka benar-benar merasa ketakutan sekali, mereka tidak berani menceritakan apa yang telah anakku katakan pada mereka.”

“Gila, jaman sekarang masih ada juga orang tua yang sakit seperti itu. Kalau orang seperti itu bertemu dengan aku, akan aku lumat dia menjadi bubur.”kata Basri dengan marah sekali.

“Ketika aku mengetahui hal itu aku juga naik darah, buru-buru aku hendak ke rumah mereka, tapi Aswin bilang dia sudah membawa Saiful untuk diobati oleh Siti. Aku langsung ke ruang pengobatan Siti, apa yang aku lihat di sana benar-benar menggenaskan sekali, anak itu tergeletak di sana dengan wajah hancur berlumuran darah, tulang rusuknya patah, tangannya penuh dengan luka akibat dibakar pakai rokok. Rasanya saat itu juga aku ingin membunuh bapaknya, tubuh kurus kering seorang anak kecil yang berusia 6 tahun mana kuat dia menahan pukulan dari seorang dewasa yang bertubuh sebesar kau, Masnan. Aku merasa malu sekali sebagai seorang wali nagari tapi tidak tahu adanya penyiksaan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada anak kecil di wilayahku. Ternyata ayah Saiful seorang pemabuk dan pejudi, sedangkan ibunya seorang wanita yang tidak mencintai suaminya, karena kekesalan hati sang ayah maka dilampiaskan hal itu pada anaknya, sang ibu yang melihat hal itu masa bodoh saja karena memang sejak dulu dia sudah membenci anaknya yang menurutnya adalah hasil suaminya memperkosa dirinya.”

“Yah Tuhan, aku sampai tidak bisa berkata apapun saat itu,  ingin aku mengusir kedua orang itu dari wilayahku, tapi aku takut nanti malah aku tidak bisa mengawasi mereka jika mereka kembali menyiksa Saiful. Sejak kejadian itu Saiful tinggal di rumahku, kalian tahu dibutuhkan waktu hampir 2 bulan untuk memulihkan tubuhnya akibat deraan itu. Setiap kali aku melihat Saiful, hatiku sedih sekali, ingin rasanya berteriak meminta keadilan pada Tuhan kenapa ini harus terjadi pada anak seperti dia. Burhan, Aswin, Karim dan bahkan si kecil Bastian selalu menjaga dan melindungi dia, mereka berusaha menghibur dan menjadi teman yang baik bagi Saiful. Aku jarang mendengar tertawa lepasnya, selama di sini baru sekali aku mendengar suara tawanya ketika dia sembuh dan anak-anak yang lain merayakannya dengan bertindak gila-gilaan di kamar Aswin. Ketika aku masuk mau melarang mereka berbuat keributan, saat itu aku baru melihat senyum dan tawa yang tulus di wajah Saiful, aku tidak sampai hati melarang mereka, hatiku terenyuh melihat senyum dan tawa itu seakan-akan perbuatan ini baru pertama kali dilakukannya.”

Mendengar kisah ini, semua pria yang ada di ruangan itu merasakan hatinya iba dan pedih sekali atas penderitaan anak yang bernama Saiful itu.  Bahkan Basri berlinangan air mata, karena jauh dalam lubuk hatinya dia sangat menginginkan seorang anak untuk memeriahkan rumah tangganya tapi apa daya karena dia pernah keracunan sangat hebat membuat dia tidak bisa memiliki seorang anak. Sempat hal ini membuat dia putus asa dan tidak ingin menikah, tapi isterinya,  seorang pendekar wanita yang hebat bernama Ropita, berjuluk Gadis Jarum Neraka, tetap bersikeras memilih dia menjadi suaminya, walaupun mengetahui mereka tidak bakal dikarunia seorang anakpun. Memang mereka merencanakan hendak mengangkat anak dalam waktu dekat ini, hanya belum sempat terlaksana karena mereka berdua masih sibuk mengurusi usaha mereka.

Di dalam hati Basri bertekat akan mengambil Saiful sebagai muridnya, karena dia ingin memberikan kepada Saiful perasaan kasih sayang orang tua kepada anaknya, dan ingin menerima cinta yang tulus  dari seorang anak.

Lanjut Bumi,”Kalian tahu yang paling memiriskan hatiku adalah ketika aku Tanya kepada Saiful apakah orang tuanya benar menyiksanya, dia malah membela orang tuanya dengan mengatakan dia yang nakal sehingga orang tuanya ingin memberi pelajaran kepadanya supaya lain kali tidak berbuat nakal lagi. Bahkan setelah dia sembuh, dia ingin pulang ke rumahnya, katanya kasihan ibunya tidak ada yang bantuin bersihkan rumah kalau dia kelamaan tinggal di rumahku.”

“Benar-benar anak yang berhati mulia, walaupun disiksa habis-habisan seperti itu masih saja dia berbakti pada orangtuanya. Aku ingin sekali anak itu bisa ikut denganku menjadi muridku, pasti Ropita sangat senang sekali aku bisa membawa pulang Saiful untuk menemaninya.”kata Basri.

“Jadi, kau sudah menetapkan pilihanmu Basri, tidak mau yang lain ? Kita belum mendengar kisah mengenai Bastian kan ?” kata Masnan.

“Uda Masnan, aku sudah menetapkan pilihanku untuk memilih Saiful menjadi muridku, aku tahu kau sudah mempunyai seorang putri, bisa jadi kasih sayangpun terpecah jika Saiful menjadi muridmu, kasihan putrimu nantinya. Sedangkan kami tidak mempunyai seorang anakpun, jadi jika kami melimpahkan kasih sayang padanya tidak akan ada yang merasa iri hati. Karena anak seperti Saiful itu membutuhkan penanganan lebih supaya dia bisa membuka pintu hatinya kepada orang dewasa dan dengan kasih sayang yang berlimpah untuk membuat dirinya merasa menjadi manusia seutuhnya.  Tidak seperti sekarang, dia tidak tahu salahnya apa sehingga menerima siksaan seperti ini, orang tuanya sudah memanipulasi jiwanya sehingga dia tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah lagi secara manusiawi.”

“Wah Basri, kau benar-benar serius sekali ingin mengambil Saiful menjadi muridmu, kalau begitu aku sudah tidak bisa bicara lagi, baiklah apa ada yang keberatan jika Saiful jadi murid Basri?”Tanya Bumi.

Masnan dan Kahar sama-sama geleng-geleng kepala karena mereka melihat di wajah dan mata Basri terlihat tekat untuk memiliki Saiful sebagai muridnya, kalau sudah begitu pasti dia pasti akan melakukan apapun agar bisa menjadikan Saiful muridnya.  Dan mereka berdua tidak mau ribut hanya masalah begini saja, Masnan sendiri sebenarnya sudah puas dengan Burhan menjadi muridnya, apalagi mendengar cerita mengenai Burhan, dia merasa Burhan akan cocok ikut dia, sebab dia sudah terbiasa menjaga anak mamaknya. Putri Masnan, merupakan seorang anak perempuan yang nakal sekali bernama Nilam berusia 4 tahun, dia tahu semua orang menyayanginya sehingga dia menjadi manja sekali. Bahkan Masnan sendiri tidak sampai hati marah kepada Nilam setiap dia melakukan perbuatan yang nakal. Dia berharap Burhan bisa menangani anaknya seperti dia bisa menangani Aswin, yang dia tahu merupakan seorang bocah laki-laki yang bandel dan cerdik sekali.

“Baiklah, aku teruskan cerita mengenai Bastian, dia merupakan anak terkecil dari kelompok mainnya Aswin, hampir seusia dengan Aswin tapi Aswin tua beberapa bulan darinya. Aku tidak tahu banyak mengenai latar belakang keluarga mereka. Yang aku tahu sepeninggal ayahnya, ibunya mengajak anaknya pindah ke sini, mereka sudah tinggal di sini sekitar 4 tahun lamanya. Ibunya sangat akrab dengan Siti, mungkin karena mereka sebaya, jadi cepat sekali bisa dekat. Ibu bastian bernama Lastri, pernah aku mendengar dia mengatakan kepada Siti bahwa dia tidak mempunyai sanak keluarga karena dia anak tunggal dari orang tuanya yang sudah lama meninggal, selama ini dia dibesarkan oleh keluarga teman ayahnya dan mempunyai guru silat yang dia tidak tahu siapa namanya, karena setiap kali mengajar selalu memakai topeng jadi sampai sekarang dia tidak pernah tahu siapa gurunya itu. “

“Ketika usianya sudah cukup, dia merantau untuk memperdalam pengalaman dan ilmu silatnya. Saat dia merantau di tanah Jawadwipa itulah dia bertemu dengan ayah Bastian, dan mereka menikah. Sampai sebelum ayah Bastian meninggal karena sakit mereka masih tinggal di Jawa, tapi setelah ayah Bastian meninggal mereka meninggalkan daerah itu dan pulang kembali ke asal sang ibu, akhirnya sampailah mereka ke sini. Menyukai daerah ini mereka mulai menetap, sejak kecil Bastian menjadi teman bermain bagi Aswin, tapi Aswin memperlakukan Bastian seperti adiknya saja, selalu berusaha melindungi Bastian dari gangguan siapapun.  Lastri juga menyayangi Aswin, dia selalu mengatakan dia mempunyai anak kembar yang nakal sekali, dan aku juga merasakan hal yang sama. Mereka benar-benar seperti anak kembar, ke mana-mana selalu berdua, tapi sejak Aswin mengenal Burhan, Karim dan terakhir dengan Saiful, mereka berlima menjadi sahabat karib bahkan kata Aswin, mereka sudah terikat sumpah setia satu dengan yang lainnya. Anakku benar-benar memusingkan kepala, lagaknya seperti orang dewasa saja.”kata Bumi gemas.

“Dan perlu kalian ketahui dikarenakan Bastian beribukan seorang ibu yang pandai silat, maka sejak kecil dia sudah dilatih silat oleh ibunya, makanya dia bisa mengimbangi kenakalan Aswin. Aku pernah melihat ibunya berlatih dan ilmu silatnya lumayan menurutku, ketika aku pegang tubuh Bastian aku juga sudah merasakan di dalam tubuhnya sudah mengalir tenaga dalam, ini berarti ibunya sudah melatih anaknya sejak kecil. Menurut Siti, Lastri sering menanyakan kepada dia mengenai khasiat tanaman atau binatang2 yang bisa memperkuat tubuh. Terakhir aku dengar dari Siti, dia pernah menanyakan mengenai khasiat dari Lebah Biso (Racun) Api yang merupakan salah satu  binatang langka.”

“Hmmm…. seingat aku, konon kabarnya binatang ini merupakan piaraan dari Dewi Kipeh Matohari dari Gunung Merapi.  Tapi kenapa dia menanyakan hal ini, apa dia kenal dengan sang Dewi atau dia juga memelihara binatang ini?” kata Kahar dengan kening berkerut.

“Aku tidak tahu mengenai hal itu, karena aku tidak pernah masuk ke rumahnya, tapi kalau dari cerita Siti yang sering main ke rumahnya, dia tidak pernah melihat adanya sarang lebah di rumah itu.”

“Khasiat Lebah Biso Api sangat bagus sekali bagi manusia yang meminum madunya dan memakan ratu lebah. Lebah ini  ukurannya sama besar dengan lebah biasa hanya yang membedakan mereka mempunyai tubuh berwarna bening merah keemasan seperti bara api. Dan di setiap satu sarang akan berisikan 5 ekor ratu yang dipimpin oleh 1 ekor  ratu yang mempunyai warna tubuh yang paling indah dan cemerlang. Lebah-lebah ini sekali menyengat bisa menyebabkan binatang atau manusia mati seketika dengan tubuh hangus, tapi yang aneh ratu lebah ini tidak mempunyai sengat sehingga ratu-ratu ini sangat dijaga dengan ketat oleh lebah pekerjanya.”

“Kahar, kenapa kau bisa mengetahui mengenai perihal lebah ini?” Tanya Masnan.

“Dulu, aku pernah melihat dan menangkap lebah api itu karena aku tertarik melihat keanehan tubuh lebah itu. Aku sempat tersengat oleh lebah yang kutangkap itu, dan tidak lama tubuhku serasa seperti terbakar api, panas sekali dan tenaga dalamku bergolak dengan hebat sekali. Karena kesal aku makan lebah api itu dengan harapan rasa terbakar di tubuhku menghilang, tapi ternyata aku keracunan malahan panas tubuhku meningkat dan aku merasa kulitku terbakar  perih sekali serta mulai melepuh, banyak tumbuh benjolan-benjolan berisikan air di sekitar tubuhku. Ini sangat menyiksa sekali aku tidak bisa mengerahkan tenaga dalamku karena dia bentrok dengan racun dari lebah api itu. Aku tidak tahu berapa lama aku dalam keadaan seperti ini, ketika aku sadar dan membuka mataku, di depanku berdiri seorang wanita tua yang masih cantik memandangku dengan tenang. Dia mengatakan bahwa untung dia lewat di tempatku, sehingga bisa menyelamatkan nyawaku karena makan lebah apinya, dia memperkenalkan dirinya dengan sebutan Dewi Kipeh Matohari dan mengatakan lebah api itu adalah piaraannya. Aku disembuhkan dengan menggunakan madu dari lebah api tersebut, tapi ada efek yang tidak terduga pada diriku, tenaga dalamku berubah menjadi berunsurkan api, karena racun lebah api melebur ke dalam tenaga dalamku.”

“Sejak saat itu aku berlatih ilmuku mengarah ke unsur api akibat sengatan lebah biso api itu. Dan sang dewi mengatakan kepadaku, untung aku tidak memakan ratu lebah apinya karena kalau itu terjadi entah bagaimana dia bisa membantuku. Karena aku harus minum madunya dulu beberapa waktu baru kemudian boleh makan ratu lebah api untuk menambah tenaga dalamku.”

Yang heran adalah Bumi, semua terjadi sesuai dengan perkataan dari Pangeran Satyawarman, bahwa sang guru akan memilih murid-muridnya sendiri tanpa dia harus memberikan petunjuk kepada mereka siapa yang akan menjadi murid mereka masing-masing.  Dan semua itu cocok dengan kelima unsur yang disebut oleh beliau untuk melengkapi unsur air, yang menjadi pusat keseimbangan dalam menghancurkan dunia kegelapan.

Terdengar suara ketukan di pintu, dan anak buah Bumi memberi salam sekaligus memberitahukan bahwa para tamu sudah hadir di ruang tengah. Segera mereka beranjak menuju ke ruang tengah untuk menemui calon murid mereka. Di sana terlihat semua hadir, Lastri ibunya Bastian, orangtua Saiful, orang tua Karim yang kebetulan sudah pulang dari merantau, Mamaknya Burhan dan  Siti ada bersama mereka. Sedangkan anak-anak terlihat sedang berkumpul di sudut ruangan berbicara sambil ketawa cekikikan. Bumi memanggil nama Aswin, dan segera semua bocah itu melihat ke arah Bumi, mereka melihat 5 orang bocah yang berwajah cakap dan lugu yang sedang memandangi mereka. Dalam hati mereka, jika bocah-bocah ini besar nanti pasti akan membuat banyak perempuan yang tergila-gila, mereka semua mempunyai ketampanan yang berbeda satu dengan yang lain.

“Aswin,  bawa teman-temanmu ke sini, kenalkan dengan para pamanmu!”

“Baik ayah, hayo teman-teman aku kenalkan dengan para pamanku yang gagah berani ini.”

Segera bocah-bocah ini berdiri mengikuti Aswin yang menghampiri keempat pria gagah yang sedang berdiri dekat pintu pembatas ruang tengah dan ruang dalam.  Aswin memperkenalkan mereka semua dengan cara dia yang lucu dan menggemaskan.

“Hmmm…. Teman-teman, pria yang gagah dengan kumis melintang itu bernama Paman Masnan, pria yang selalu tersenyum manis itu bernama paman Basri dan terakhir yang paling ganteng diantara semua pamanku yang tercinta ini bernama paman Kahar atau aku sebut beliau, Manusia Api… hehehehe..” kata bocah nakal tersebut dengan tertawa jahil.

“Manusia Api…? Kenapa disebut demikian ? Apa dia bisa mengeluarkan api ? Bagaimana caranya ?” Tanya keheranan bocah yang paling kecil diantara mereka dan mempunyai wajah yang sangat imut-imut pada Aswin.

Belum sempat Aswin menjawab, langsung Kahar yang menjawab karena dia tidak mau Aswin membuat dia jadi bahan tertawaan apalagi ada Siti,”Pertanyaan bagus sekali, anak baik. Paman tidak bisa mengeluarkan api, hanya Aswin saja yang pintar-pintar memberi julukan Manusia Api pada paman.”

“Iya,  tapi tidak mungkin Aswin berikan nama Manusia Api pada paman kalau tidak ada alasannya!” bantah bocah lain yang berwajah gagah dan sinar mata tenang itu.

Semua mata para bocah itu memandang Kahar, seolah minta jawaban, sepertinya mereka lupa siapa yang memberi julukan kepada Kahar. Kahar yang ditanya balik seperti itu kebingungan juga ditatap keempat pasang mata dengan penasaran dan sepasang mata yang memandang dengan nakal sambil tersenyum-senyum jahil.

Ketiga temannya memandang dia dengan tersenyum-senyum, sedangkan orang lain di ruangan itu memandang bingung pada pemuda tampan ini, tapi ada 2 orang wanita yang memandang wajah Kahar itu dengan perasaan yang berdebar-debar.  Akhirnya Kahar memutuskan untuk menceritakan yang kejadian tadi pagi dengan versi dia, tapi belum sempat dia bicara, sudah dipotong oleh Bumi yang kasihan melihat dia dipelototin oleh bocah-bocah nakal itu.

“Sudah, nanti saja kalian Tanya sama Aswin sendiri, sekarang paman mau memperkenalkan orang tua kalian pada paman-paman ini.”

“Tapi ayah, para paman kan belum kenalan sama teman-temanku!” kata Aswin.

“Ya, sudah kamu lekas perkenalkan temanmu pada para paman.”

“Baiklah paman-pamanku tercinta,”kata Aswin dengan lagak jenaka,”ini aku perkenalkan teman-temanku,”sambil menunjuk tangannya ke arah kanannya, “anak yang berwajah gagah menyeramkan itu bernama Burhan, terus di sebelahnya yang bermata dingin itu bernama Saiful, di sebelah kiri yang ini yang paling bawel namanya Karim, sedangkan yang kecil lucu itu bernama Bastian.”

“Aswin, aku itu tidak kecil, umur kita sama.”protes Bastian.

“Lho memang badan kamu paling kecil diantara kita, benar tidak teman-teman?” Tanya Aswin.

Yang lain manggut-manggut menjawab pertanyaan Aswin sambil tersenyum geli karena mereka tahu sebentar lagi akan terjadi perang mulut antara kedua bocah itu. Belum sempat Bastian membela diri, segera Bumi bicara,” Anak-anak, sekarang giliran kalian perkenalkan orang tua kalian pada paman-paman ini.”

“Bastian, kamu kenalkan ibu kamu pada paman di sini.”perintah Bumi cepat, karena dia sudah tahu jika tidak cepat melerai mereka, bisa ribut berkepanjangan.

Dengan wajah cemberut bocah imut-imut ini menghampiri ibunya dan menarik tangannya menuju ke arah pria-pria itu, “Paman sekalian ini ibuku, namanya Lastri.”

Lastri dengan merangkap tangan di dada memberikan salam kepada mereka semua, sambil mencuri-curi pandang pada Kahar.  Segera mereka membalas sapaan itu dengan hormat yang sama. Ibu Bastian ini merupakan seorang wanita yang cantik, masih berusia muda sekitar 28 tahunan, dan matanya bersinar cukup tajam menandakan dia mempunyai ilmu tenaga dalam.  Hatinya bergetar saat dia melihat Kahar, karena wajah pemuda itu mirip sekali dengan teman masa kecilnya dulu, dia ingin menanyakan hal ini kepada Kahar tapi tahu situasi tidak memungkinkan oleh karena itu dia akan mencari kesempatan untuk menanyakan hal ini.

Kemudian Bumi menunjuk kepada Burhan, segera bocah ini mengetahui maksud Bumi, dan berjalan menghampiri mamaknya. Mereka berjalan menuju ke kelompok ini, “Paman, ini mamakku namanya Datuak Sapinggan Alang.”

“Salam kenal saudara-saudaraku.”kata mamak Burhan dengan kedua tangan merangkap di dada, dibalas oleh mereka semua.

Giliran Karim yang ditunjuk Bumi, sebelum anaknya menghampiri kedua orang tua Karim sudah mendahului berjalan menuju mereka.

“Perkenalkan nama saya, Jintan, dan isteri saya, Hasnah.”kata orang tua Karim dengan ramah.

Tinggal giliran Saiful yang memperkenalkan orang tuanya, tapi Bumi dengan cepat mengarahkan matanya ke arah dua orang yang sedang berdiri dengan agak takut-takut memandang ke mereka. Kedua orang ini merasakan tatapan kemarahan dari para pria yang belum mereka kenal itu mengarah kepada mereka. Bumi melambaikan tangannya memanggil kedua orang itu, dengan perlahan kedua orang itu mendekati.

Basri yang memang berniat untuk mengambil Saiful sebagai muridnya, sudah memperhatikan bocah itu sejak Aswin memperkenalkan mereka. Hatinya sangat terenyuh melihat tubuh kurus anak yang bernama Saiful itu,  anak ini cukup tinggi dibandingkan dengan anak seusianya, tubuhnya ringkih sekali, berwajah sendu dan memiliki mata yang begitu dingin. Dia kelihatan tampan sekali pada saat tersenyum, di kedua belah pipinya terlihat dekik yang sangat dalam. Dan entah kenapa begitu memandang wajah sendu itu, Basri langsung jatuh sayang kepada anak ini,  dia berjanji dalam hati akan merawat anak ini sebaik-baiknya, bila memungkinkan dia ingin mengangkat anak ini sebagai anaknya, tapi nanti masalah ini dibicarakan lagi karena dia belum tahu bagaimana reaksi isterinya begitu melihat Saiful.

Ketika kedua orang tua Saiful sudah sampai di dekat kelompok ini, Basri baru menolehkan kepalanya menatap kedua orang yang begitu kejam terhadap anak sendiri. Sang ibu berwajah cantik manis dengan tubuh yang masih sintal tapi memiliki mata yang sangat dingin sekali seperti mata anaknya. Sang ayah berwajah biasa saja dengan bibir lebar dan tebal sehingga membuat wajah itu terlihat jelek sekali jika tersenyum, tapi berbadan tinggi besar dan urat-urat yang menonjol di sekitar tangannya membuat pria ini kelihatan sangat menyeramkan. Membayangkan kepalan tangan sebesar buah kelapa meninju anak seringkih Saiful membuat Basri ingin sekali menghajar pria itu sampai semaput.

Dengan tergagap pria itu memperkenalkan namanya dan isterinya, keempat pria yang lain dengan wajah dingin menyambut penghormatan yang diberikan kepada mereka. Setelah itu segera Bumi mengajak mereka ke ruang makan untuk makan siang bersama, anak-anak mendengar kata makan langsung gembira dan berlari-lari mengikuti Aswin yang menarik tangan Burhan dan Saiful ke dalam. Siti sudah menunggu mereka semua di ruang makan, dan sudah mulai menyajikan makanan di meja dan menata piring dan gelas di setiap kursi yang ada. Lastri dengan cepat berusaha membantu Siti, sedangkan ibu Saiful pura-pura tidak melihat kesibukan itu, dia malas sekali membantu karena takut jari tangannya bisa rusak. Selama ini setelah Saiful berusia 5 tahun, ibunya memaksa dia untuk mengurus dapur dan menyediakan makanan, bayangkan anak sekecil itu sudah dipaksa melakukan pekerjaan seorang ibu, benar-benar perempuan yang sadis sekali.

Oleh karena itu Basri yang sudah mendengar kisah Saiful menjadi tidak suka sekali pada kedua orang ini,  dia sempat melihat tubuh ringkih Saiful yang menegang ketika kedua orangtuanya mendekati dan berdiri di belakangnya. Seolah-olah tubuh kecil itu siap jika terjadi sesuatu, ini merupakan sebuah gerakan reflek dari sang bocah setiap saat dia bersama kedua orangtuanya itu. Mendidih hati Basri melihat keadaan itu, ingin rasanya dia berteriak memaki-maki kedua orang yang tidak tahu malu itu, tapi dia kuatir jika dia melakukan itu dia akan membuat Saiful takut menjadi muridnya.

Karena tidak tahan Basri langsung berjongkok memandang Saiful,”Namamu Saiful kan ? Berapa usia kamu sekarang?” Tanya Basri lembut pada Saiful. Mata Saiful memandang Basri dengan dingin dan membisu, melihat hal ini ayahnya langsung mendorong tubuh anaknya untuk menjawab pertanyaan itu. Tangan Saiful langsung menutupi wajahnya dan tubuhnya mengkeret seolah-olah dia takut dipukul oleh sang ayah. Basri yang melihat hal ini tidak tahan lagi ingin segera meninju muka ayah Saiful dan memakinya, tapi untung Bumi segera melihat perubahan wajah Basri, cepat dia memegang pundak Basri untuk menenangkannya. Sedangkan ayah Saiful melihat wajah Basri menjadi takut dan berkeringat dingin, karena mata Basri memancarkan hawa pembunuh ke arahnya.

“Tenang Saiful, kamu tidak usah takut sama paman Basri, dia orang baik dan ingin mengetahui usia kamu jadi kamu harus menjawabnya.” Kata Bumi dengan lembut.

“Iya, uda Saiful, aku kan sudah bilang kalau ditanya harus jawab, kan uda tidak bisu.”tukas Aswin.

Dengan suara perlahan sekali nyaris tidak terdengar Saiful menjawab pertanyaan Basri,”6 tahun”

“Kamu takut pada paman?”Tanya Basri.

Saiful menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menunduk, tadi saat dia memandang wajah pria murah senyum ini, dia merasakan sebuah kehangatan dalam dirinya. Dia tahu pria ini tidak akan pernah menyakitinya seperti ayahnya, dia melihat cara pria itu memandang dirinya seperti ayah Aswin memandang Aswin, ada perasaan bahagia ditatap seperti itu. Sekalipun mata ayah Aswin menyorot marah pada anaknya tapi tetap dia merasakan beda dengan sorotan mata ayahnya. Saiful benar-benar seorang anak yang sangat sensitive akibat luka batinnya yang diderita sejak dia kecil, sehingga dia bisa menyelami perasaan orang lain padanya. Diam-diam di hatinya terbesit pikiran seandainya pria bernama Basri ini ayahnya pasti hidupnya akan penuh senyum seperti pria itu. Sekarang ini dia tidak mampu terlalu banyak tersenyum karena memang dia merasa tidak ada hal yang bisa membahagiakan dirinya di rumah, kecuali saat dia bersama teman-temannya.

Basri merasa lega sekali, Saiful tidak takut padanya, dia merasa ada sebuah kemajuan dalam hubungan mereka, dia akan menyediakan waktu agar anak ini mau pergi bersamanya, tadinya dia buru-buru mau mengajak anak itu pergi tapi setelah melihat Saiful, dia tahu harus pelan-pelan membujuk anak ini untuk ikut bersamanya karena anak ini mempunyai trauma dengan orang dewasa selalu kuatir dia akan dipukul. Dia bertekat anak ini harus ikut dengannya menjauhi orang tuanya yang sadis dan kejam itu.

Begitu juga dengan Masnan, dia merasa puas sekali dengan pilihan hatinya, Burhan memang benar-benar seorang anak yang berbadan kokoh dan berwajah jantan sekali, dengan alis hitam yang tebal dan mata yang begitu tenang melihat sekitarnya, benar-benar bocah pilihan. Dia yakin sekali bisa mengajarkan ilmunya kepada Burhan tanpa perlu susah payah, ditambah lagi dia akan tenang sekarang karena ada yang akan menemani putrid tunggalnya bermain.

Dan Kahar  puas dengan calon muridnya, yang memang seperti Aswin katakan bertubuh paling kecil diantara mereka dan memiliki wajah imut-imut sekali serta mata yang berbinar-binar terang seperti bintang di pagi hari. Mengingatkannya pada adik terkecilnya yang sudah meninggal dunia, dia seperti menemukan lagi adik yang paling disayanginya itu dalam diri Bastian.

Lain lagi dengan Bumi, selama ini karena dia sudah tahu kelakuan Karim, selama anak itu bergaul dengan anaknya dan akhir-akhir ini menjadi muridnya bersama yang lain, dia sudah lama mengamati tingkah laku anak itu dan sudah tahu anak itu merupakan bocah pilihan dengan kecerdasan yang ditunjukan selama ini mengatasi semua kesulitan yang datang padanya dan tugas yang akan diembannya kelak.

Mereka semua puas dengan calon murid mereka, sekarang tinggal bagaimana menyampaikan kepada orang tuanya untuk bisa membawa murid tersebut pergi ke tempat mereka. Bumi yang melihat wajah teman-temannya jadi senang karena dia tidak melihat ada kekecewaan di wajah mereka, semuanya sepertinya antusias sekali untuk cepat-cepat bisa membawa muridnya pulang terutama Masnan dan Basri.

Segera Bumi mengajak mereka semua ke ruang makan untuk makan siang bersama sambil saling mengakrabkan diri. Basri yang telah jatuh sayang pada Saiful berjalan mendampingi bocah itu, dia belum berani mengulurkan tangannya takut sang anak akan menjauhkan diri jadi dia hanya mengajak Saiful untuk berjalan bersamanya. Saiful yang sensitive ini bisa merasakan rasa sayang dari Basri, dia senang sekali ternyata ada orang asing yang bisa menyukai dia, tapi di wajahnya tidak terlukis kebahagiaannya, hanya matanya tidak bersinar sendu dan dingin seperti tadi, sekarang ada setitik cahaya di sana. Basri melihat hal itu dan menjadi senang sekali, dia semakin optimis anak ini akan bisa dia pulang.

Masnanpun berjalan di samping Burhan, dia menyukai cara berjalan Burhan yang gagah dan kokoh, bahu bidang yang tegap dan langkah kaki yang mantap membuat dia merasa tidak sia-sia selama ini dia menunggu untuk mendapatkan seorang murid yang bagus seperti Burhan. Dan dia juga yakin isteri dan anaknya pasti menyukai anak ini, sebenarnya jika dia mau jujur dialah yang paling bahagia dengan adanya Burhan, dia merasa seolah-olah mendapat anak laki-laki yang selama ini dia inginkan tapi sayang sang isteri tidak bisa memberikan anak laki-laki untuknya karena kondisi isterinya yang tidak memungkinkan. Tidak seperti pria lain yang mempunyai isteri lebih dari satu dengan alasan apapun, dia mempunyai prinsip jika laki-laki tidak bisa memenuhi janji yang telah dikeluarkan dari mulutnya maka dia bukan seorang kesatria yang pantas dihormati,  melainkan seorang pecundang besar. Burhan merasakan perhatian pria ini padanya, dan di dalam hati dia sangat mengagumi dan menaruh rasa hormat pada pria gagah tersebut,  dia ingin jika dia besar nanti akan bisa seperti paman Masnan yang kelihatannya gagah perwira dan berwibawa.

Karim, Bastian dan Aswin berjalan bersama-sama sambil saling berbicara dan tertawa-tawa. Disusul oleh para orang tua dan wali dari masing-masing anak itu. Kahar berjalan bersama Bumi sambil sekali-kali mencuri pandang ke arah Siti yang kelihatan sedang asyik bercakap-cakap dengan ibu Bastian. Kedua perempuan ini benar-benar cantik sekali, ibu Bastian masih terlihat cantik sekali mungkin karena usianya yang masih muda. Dia juga merasakan bahwa wanita ini sering mencuri-curi pandang ke arahnya, dia merasa risih sekali karena jauh dalam lubuk hatinya dia berharap Sitilah yang mencuri-curi pandang padanya. Tapi terlihat Siti dengan tenang dan lembut berjalan dan tidak pernah sekalipun dia merasa memandang ke arahnya.

Sampai di ruang makan, di meja makan tersaji makanan yang banyak dan terlihat sangat mengundang selera, seperti ada daun singkong rebus, gulai pakis, rendang, gulai kol, ikan bakar, ayam balado, dan lain-lain, tidak ketinggalan lado mudo  (cabe hijau) dan krupuk merah yang menjadi ciri khas daerah Batang Kapeh. Wah benar-benar menggiurkan, Bumi menyilahkan tamu-tamunya untuk duduk, dengan segera mereka mengambil posisi mengelilingi meja besar itu.  Anak-anak kebagian duduk di meja kecil yang terletak di sudut ruangan, di sana juga tersaji makanan khas untuk anak-anak.

Setelah berbasa-basi sejenak, mereka mulai makan dengan lahap, makanannya benar-benar sangat enak sekali, tidak lama berkumandang pujian untuk Siti yang telah susah payah memasak makanan seenak ini. Yang dipuji hanya bisa tersipu malu, dan Kahar memandang sang pujaan hati dengan mata yang berbinar-binar, makanan yang dimakannya terasa sangat nikmat melebihi makanan yang tersaji di istana Pagaruyuang. Cukup lama juga mereka menikmati makanan lezat ini, karena mereka makan sampai menambah-nambah nasinya, semua orang merasa senang dan gembira.

Setelah mereka mencicipi hidangan penutup seperti pisang hasil kebun sendiri, es kelapa muda dan kue manis, mereka berjalan kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan pembicaraan. Sampai di ruang tengah, masing-masing ambil posisi duduk yang menyenangkan bagi mereka.

Bumi membuka pembicaraan ini dengan memberikan salam kepada mereka semua, dia memperkenalkan teman-temannya dengan gelar dan status mereka miliki karena ini akan mempermudah  mereka untuk memberitahukan maksud dari dia dan teman-temannya yang ingin mengambil anak-anak mereka sebagai murid.

“Para saudara sekalian, tadi kita sudah mengetahui nama dari teman-temanku ini, tapi kalian kan belum tahu siapa mereka ini sebenarnya.” Dia melihat warganya manggut-manggutkan kepalanya membenarkan ucapannya.

“Baiklah aku akan memberitahu kepada kalian mengenai mereka, pria berkumis nan gagah tersebut seperti yang kalian tahu bernama Masnan, beliau adalah wakil panglima  pasukan Garuda Malayang, yang  sangat terkenal dengan kehebatan para anggotanya. Beliau bergelar Panglima Garuda Emas, yang artinya beliau merupakan pimpinan dari pasukan Garuda Emas, sebuah pasukan elite  utama kerajaan yang bertugas mengawal keluarga raja dan melindungi istana dari serbuan pengacau. Tidak sembarang orang bisa masuk jadi pasukan Garuda Emas, banyak pemuda-pemuda kita berambisi bisa masuk jadi anggota tapi seleksinya sangat ketat sekali sehingga yang benar-benar hebat dan tangguh yang bisa menjadi pasukan Garuda Emas.” Kata Bumi dengan bangga.

Pasukan Garuda Malayang merupakan pasukan yang sangat terlatih dengan baik dan menjadi kebanggaan kerajaan. Pasukan ini terdiri 5 unit utama, yaitu pasukan Garuda Emas, Garuda Perak, Garuda Besi, Garuda Hitam dan Garuda Merah. Garuda Emas bertugas melindungi istana dan keluarga raja, Garuda Perak merupakan pasukan perang yang dimiliki kerajaan bertugas untuk melindungi kerajaan dari serangan musuh, Garuda Besi merupakan pasukan penjaga keamanan di perbatasan kerajaan dengan tetangga, Garuda Hitam merupakan pasukan mata-mata kerajaan, tidak ada yang tahu berapa banyak anggotanya dan siapa pimpinan pasukan ini karena semua mereka menggunakan topeng dan pakaian dari kain hitam bahkan mata mereka ditutup dengan kain jaring hitam sehingga orang lain tidak bisa menduga siapa gerangan orang-orang dari pasukan ini konon kabarnya orang yang direkrut di dalam pasukan ini merupakan orang-orang yang terhebat dan pilihan dari pasukan garuda lainnya (tidak ada seorangpun yang tahu bahwa panglima pasukan ini adalah Bumi, hanya 3 orang saja yang tahu hal ini, yaitu raja, penasihat kerajaan dan panglima besar kerajaan). Dan terakhir adalah pasukan Garuda Merah yang bertugas menjaga keamaan di dalam kerajaan ibaratnya polisi jaman sekarang.  Masing-masing pasukan Garuda ini dipimpin oleh seorang panglima yang bertanggung jawab kepada panglima besar dan raja. Ini sekelumit tentang unit-unit yang ada dalam pasukan Garuda Malayang.

“Ah, uda Bumi ini terlalu memuji, aku hanya orang biasa saja, kebetulan saja raja mempercayai aku untuk memimpin pasukan Garuda Emas itu.” Kata Masnan dengan rendah hati.

Para orang tua dan wali dari anak-anak itu sangat terkejut saat mendengar perkenalan dari Bumi, tidak pernah mereka sangka ternyata pria gagah ini merupakan seorang panglima dari pasukan elit kerajaan. Bermacam-macam perasaan timbul di hati masing-masing, ada perasaan bangga, kuatir, cemas dan takut,  yang paling mendesak adalah perasaan bertanya-tanya kenapa seorang panglima kerajaan diperkenalkan pada mereka, apa tujuan sebenarnya. Tapi mereka semua diam dan menunggu perkenalan selanjutnya, sekarang mereka menjadi penasaran siapa sebenarnya kedua pria lainnya.

“Nah, yang  di samping kiriku ini bernama Basri Surian, merupakan seorang pedagang sangat terkenal sekali. Mungkin yang suka merantau dan berdagang di luaran mengenal Balai Gadai Damai atau Rumah Makan Sabana Sero, beliau ini pemiliknya.”kata Bumi.

Orang tua Karim langsung menarik nafas kaget karena mereka sudah mendengar kedua nama tersebut, tidak pernah mereka menyangka pria murah senyum ini adalah pemilik Balai Gadai Damai, yang merupakan tempat orang menggadaikan barang-barangnya untuk mendapatkan uang, ada di mana-mana, hampir di setiap nagari ada balai ini, begitu juga dengan rumah makan tersebut juga tersebar di banyak tempat dan sangat terkenal dengan masakan rendang dan gulai otaknya yang luar biasa enaknya. Itu yang mereka tahu saja, tapi dari kabar yang beredar pemilik kedua tempat ini bahkan punya banyak usaha lainnya dan isterinya merupakan pendekar pilih tanding yang terkenal 20 tahun yang lalu dengan julukan Gadis Jarum Neraka, dengan senjata rahasianya berbentuk jarum sudah banyak tokoh sesat yang dibinasakannya dan tidak pernah memberi ampun kepada mereka. 

“Beliau ini mempunyai julukan Rangkayo dari Sijunjuang.”sambung Bumi kepada yang lain. 

Kembali terdengar desah kaget mendengar julukan beliau, sungguh tak terbayangkan bagaimana kaya rayanya orang ini dan pasti ilmu silatnya juga sangat hebat karena beristerikan seorang pendekar wanita ternama.  Tamu yang lain yang belum pernah mendengar julukan ini jadi bertanya-tanya pada Jintan, sambil berbisik-bisik Jintan dan isterinya menjelaskan pada mereka, setelah itu mereka baru mengerti siapa pria murah senyum ini dan bertanya-tanya dalam hati jika dia memang orang sekaya itu kenapa berpakaian sangat sederhana sekali. Mereka sempat meragukan hal ini tapi karena yang memperkenalkan adalah wali nagari yang sangat mereka hormati jadi mau tidak mau mereka mempercayainya.

“Nah, pemuda yang tampan ini bernama Kahar atau terkenal juga dengan nama Sutan Mudo Barangin, masih kemenakan dari raja kita sekarang, dan beliau juga sangat terkenal di dunia persilatan.”

Mereka semua yang hadir tambah terkejut lagi dengan status dari pemuda tampan itu, ini artinya dia seorang pangeran juga. Memang terpancar di wajahnya aura keagungan keluarga kerajaan, sikap dan tindak tanduknya sangat halus sekali seperti sikap seorang bangsawan.  Lastri merasa lebih terkejut lagi, karena teman masa kecilnya memang dari keluarga kerajaan juga, semakin yakin dia bahwa Kahar adalah teman masa kecilnya, dia sudah merencanakan akan mendekati pemuda ini dan menanyakannya. Sebenarnya Kahar adalah teman kakaknya tapi sering bermain juga dengan dirinya, diam-diam waktu kecil dia berangan bisa menjadi isteri Kahar, dan perasaan cinta ini sampai sekarang masih ada di dadanya. Dia tahu Kahar belum mempunyai isteri, dia sudah menanyakannya pada Siti, walaupun dia sudah punya anak tapi dia yakin masih bisa merebut hati Kahar, karena dia masih terlihat cantik dan usianya juga masih lebih muda dari Siti 2 tahun ditambah lagi waktu kecil dulu mereka pernah berjanji akan menjadi suami isteri ketika besar nanti.

Lastri mulai mengkhayalkan menjadi isteri Kahar, dia tidak menyadari bahwa Kahar tidak mempunyai perasaan apapun padanya bahkan ingat dia teman masa kecilnya saja tidak. Hati Kahar sekarang ini terisi penuh dengan wajah Siti, dia sudah tidak mampu lagi melihat wanita lain, apalagi sang pujaan hati begitu memikat hati penampilannya siang ini seakan membetot sukmanya keluar dari tubuhnya. Ini sebabnya dia tidak dengar saat Bumi memperkenalkannya pada yang lain, karena dia sedang sibuk meredakan denyut jantungnya ketika pandangan matanya bersirobok dengan kerlingan mata Siti.  Bumi yang tidak mendengar sahutan dari Kahar, memalingkan wajahnya melihat Kahar, dan langsung tawanya hampir tersembur keluar, karena melihat wajah Kahar yang memerah malu sambil curi-curi pandang pada Siti. Seorang pria dewasa yang terkenal ketampanannya dan ilmu silatnya yang hebat bisa salah tingkah di depan seorang gadis. 

Semakin bulat tekat Bumi untuk menjodohkan kedua insan ini, karena dia sudah melihat tanda-tanda dari keduanya yang saling menyukai. Dia merencanakan nanti malam akan menanyakan hal ini pada Kahar, apakah serius ingin mempersunting Siti. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa mereka berdua pernah saling menjalin hubungan asmara dulunya yang berakhir dengan kesedihan, ditambah lagi dengan kehadiran Lastri yang akan menyulitkan dia menyatukan kedua insan ini.

Setelah acara perkenalan selesai, para orang tua dan wali keempat anak yang sedang asyik bermain dengan Aswin ini tambah menjadi sungkan terhadap tamu istimewa dari wali nagari mereka. Tidak pernah terlintas dalam benak mereka untuk bisa bertemu dan berbicara dengan tamu istimewa ini. Dan ini semakin timbul pertanyaan dalam hati mereka, mau apa orang-orang terkenal seperti mereka mau berkenalan dengan mereka yang bukan siapa-siapa ini. Dengan wajah yang kebingungan mereka memandang wajah wali nagari dan ingin mengajukan pertanyaan. Bumi yang sudah melihat gelagat mereka ingin bertanya segera membuka suara untuk menjelaskan.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu, kedatangan kalian ke rumah aku ini dikarenakan aku mau minta pendapat dari kalian mengenai sebuah persoalan, entah kalian bisa membantu atau tidak?”


 

Apa tanggapan mereka atas permintaan Wali Nagari itu ? Apa yang akan terjadi dengan calon murid ini ?


bersambung

Posted by sieklie in 01:58:14 | Permalink | Comments Off