<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>5 Harimau Muda</title>
	<atom:link href="http://aboutjuls.blog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aboutjuls.blog.com</link>
	<description>Cersil karya sendiri</description>
	<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 13:36:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bab IX : Malaikat Penghisap Darah jilid 1</title>
		<link>http://aboutjuls.blog.com/2008/11/24/bab-ix-malaikat-penghisap-darah-jilid-1/</link>
		<comments>http://aboutjuls.blog.com/2008/11/24/bab-ix-malaikat-penghisap-darah-jilid-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 13:36:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sieklie</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kita tinggalkan dulu Kahar yang sedang terhanyut menceritakan kasih asmaranya di masa lalu dan Bumi yang asyik mendengarkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /?>
&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kembali ke nagari Batang Kapeh, setelah kepergian Kahar dan Bumi ada sebuah kejadian yang nantinya mempengaruhi kehidupan Karim sebagai salah satu penumpas kekuasaan kegelapan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, orang tua Karim telah kembali dari perjalanan mereka jadi kebanyakan mereka selalu ada di rumah untuk memperhatikan anak mereka. Sejak hari di mana mereka mendatangi rumah wali Bumi, mereka tidak ada habis-habisnya mebicarakan kejadian saat itu. <?xml:namespace prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" /?>
Ada saja yang mereka bicarakan bahkan sekarang bicara mereka sudah melebar ke mana-mana dan Karim mendengarkan saja cerita orang tuanya dengan asyik. Walaupun bagi anak yang pintar ini dia merasa ada kejanggalan dari cerita-cerita orang tuanya dan sering mengerutkan kening mendengar cerita yang tidak masuk akalnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sering dia menanyakan kepada orang tuanya jika dia menemukan kejanggalan cerita orang tuanya terutama bapaknya. Bagi anak secerdas dia, hal-hal yang tidak masuk logikanya pasti dia akan mengejar kejelasan dari cerita itu. Yang nantinya berakhir dengan pertengkaran bapak dan anak karena masing-masing memegang teguh pemikirannya. Dan biasanya diselesaikan dengan kemenangan pihak orang tua tentunya menggunakan kata-kata pamungkasnya, “Kamu masih kecil belum tahu apa-apa, Bapak ini sudah tua dan sudah banyak makan asin asam dunia jadi bapak jauh lebih pengalaman dibandingkan kamu. Jadi lebih baik kamu mendengarkan saja kata-kata Bapak dan jangan tanya-tanya terus serta membantahnya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Karim sangat membenci mendengar perkataan seperti itu, karena dia merasa dilecehkan dan dengan muka kesal dan cemberut dia pergi keluar sambil menghantak-hantakan kakinya. Kali ini saking kesalnya dia pergi sambil banting pintu pula, biasanya sudah begini dia suka mencari Aswin untuk menceritakan kekesalannya dan berdua mereka suka membahasnya ala anak seusia mereka. Tapi dia tahu biasanya jam segini Aswin tidak ada di rumah, entah ke mana anak itu pergi setiap ditanya selalu saja tersenyum jahil.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sambil mulut komat kamit tidak jelas dia berjalan terus tanpa menghiraukan kanan kirinya, dia tidak sadar sudah jalan jauh dari rumah mendekati tepi nagari. Tiba-tiba dia mendengar suara rintihan seseorang, antara perasaan ingin tahu dan takut dia berusaha mencari sumber suara tersebut. Akhirnya dia menemukan di samping kirinya mendekati pohon beringin besar yang berdiri megah di sisi jalan tertutup ilalang tinggi. Perlahan-lahan dia mendekati asal suara tersebut, berlindung di balik pohon dia melihat ada tubuh pria dewasa yang tergeletak. Takut-takut dia menghampiri tubuh yang terlentang itu, dia melihat tubuh orang tersebut penuh luka bacokan dan darah yang sudah agak mengering melekat di bajunya, sedangkan wajah orang itu tertutup tangan kirinya dan tangan kanan memegang dada yang terlihat sobek besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Orang tersebut mendengar ada yang mendekati tapi tidak bisa bergerak kuatir kalau musuh yang datang dia pasrah akan nasibnya, dengan memejamkan mata dan menyebut nama Tuhan, dia siap menghadap sang Pemilik Nyawanya. Yang ditunggu-tunggu tetap tidak terjadi malah dia mendengar helaan nafas ngeri dari kanak-kanak, akhirnya dia membuka mata dan melihat ke arah kirinya langsung menemukan dirinya tercermin di sepasang mata besar dan jernih sedang memandang dirinya dengan takut tapi ada rasa ingin tahu yang kental sekali.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Anak yang cakap dan kelihatan bersih tidak seperti anak desa biasa, entah kenapa pria ini merasa pernah melihat tatapan mata yang serupa dengan anak ini. Ada perasaan akrab dan hangat dalam dirinya ketika menatap sepasang mata yang sekarang memandangnya dengan kening berkerut.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Paman siapa? Kenapa bisa terluka? Kenapa tergeletak di sini ? Apa lukanya sakit? Paman bisa bicara ?” bertubi-tubi pertanyaan yang dilontarkan oleh anak itu, sehingga pria ini merasa geli melihat gaya anak itu bertanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan susah payah pria ini berusaha menjawab pertanyaan, “Anak kecil siapa nama kamu?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Namaku Karim, paman kenapa bisa ada di sini ? paman sepertinya perlu obat, sebentar aku panggilkan etek Siti untuk obatin paman.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Cepat anak itu bergerak dan berlari meninggalkan pria itu, terpaksa pria itu mengerahkan sisa tenaga yang ada di tubuhnya dan mengalirkan ke tangan kirinya melontarkan ilmu Penghisap Raga Mematikan Langkah. Dan terjadi keanehan tubuh kecil Karim tiba-tiba seperti tertarik ke belakang dan dia tidak bisa menggerakan tubuhnya untuk meneruskan larinya. Seperti ada tenaga penghisap yang kuat sekali menarik dirinya, sehingga kakinya terasa seperti terangkat dari tanah dan bergerak mundur ke sumber tenaga yang menghisapnya itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Terkejut dan takut, Karim berteriak kencang sekali memanggil-manggil orang tuanya dan terakhir memanggil nama Aswin, entah kenapa dia memanggil nama temannya itu. Pria yang menarik anak itu merasa tidak enak juga membuat anak kecil ketakutan tapi dia sadar kalau dia tidak melakukan hal ini segera maka dia tidak punya kesempatan lagi untuk bicara dan menitipkan pesan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Segera setelah Karim berdiri di dekatnya, orang itu melepaskan tenaga dalamnya tapi dengan cepat mencekal tangan anak itu, karena kuatir dia akan lari. Dengan sisa tenaga yang masih ada, orang itu berusaha berbicara kepada Karim.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span>“ Anak baik, jangan takut, paman tidak bermaksud jahat kepada kamu. Paman tahu umur paman sudah tidak bisa dipertahankan lagi dengan luka yang begini banyaknya. Kamu lihat sendirikan badan paman berdarah semua,” katanya sambil berusaha memperdengarkan nada yang ringan supaya sang anak tidak takut padanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Melihat keadaan orang itu yang menggenaskan Karim merasa kasihan sekali dan mulai bisa meredakan rasa takut dalam dirinya, setelah itu kembali dia melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi lagi kepada orang itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Paman siapa, asalnya dari mana, kenapa bisa ada di sini, bagaimana bisa terluka begini, siapa orang jahat yang melukai paman, jauhkah rumah paman dari sini ? Paman harus segera diobati, di nagari kami ada seorang tabib yang hebat sekali banyak orang yang berobat padanya dan sembuh. Paman jangan kuatir tidak bisa disembuhkan oleh beliau, aku yakin pasti bisa beliau dijuluki Dewi Tangan Dingin oleh orang kampung kami.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mendengar pertanyaan yang begitu banyaknya sempat orang ini merasa geli akan kebawelan anak ini, tapi begitu mendengar bahwa tabib yang berjuluk Dewi Tangan Dingin ada di kampung anak ini langsung tumbuh harapan dalam diri orang ini. Tapi dia juga sadar bahwa keadaan dirinya benar-benar terluka sangat parah sekali ditambah lagi tadi dia sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk menarik anak itu kembali.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Namamu Karim bukan? Tanya dia, dan melihat anak kecil itu mengganggukkan kepalanya dengan mata yang masih menyiratkan kecemasan dan kuatir, hatinya terasa hangat melihat tatapan mata polos dan cemas itu. Sudah lama dia tidak lagi merasakan kehangatan di hati sejak kematian isteri dan anaknya dibunuh oleh musuh besarnya dan itu terjadi setahun yang lalu. Dia seperti menemukan diri anaknya yang meninggal itu pada bocah bawel ini, anaknya sebelum meninggal seusia bocah ini dan sama cerewetnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Paman, tunggu di sini aku akan panggilkan orang kampung untuk bantu angkat paman ke tempat etek Siti, mau ya paman?” bujuk anak ini karena menguatirkan keselamatan orang itu. Entah kenapa dia merasa kasihan dan ingin sekali menolong paman tersebut, ada seperti dorongan yang kuat dalam dirinya segera berlari memanggil orang kampung untuk membantu orang ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sabarlah nak, paman ingin bicara sebentar…” belum selesai dia bicara tiba-tiba dia merasa ada orang yang sedang menuju ke tempatnya dengan gerakan cepat sekali walaupun dia terluka parah tapi tenaga dalamnya yang sangat tinggi membuat dia masih bisa bertahan sampai sekarang dan bisa mengetahui ada orang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tiba-tiba di depan mereka berdiri seorang bocah lain seumuran Karim dan seorang tua yang dia tidak bisa melihat jelas wajahnya karena seperti tertutup oleh kabut tipis yang mengelilingi sekitar tubuhnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Terdengar Karim berkata,”Aswin!”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Karim, aku mendengar teriakanmu memanggilku tadi, ada apa?” tanya Aswin sambil tetap matanya memandang ke arah orang yang terluka itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sementara itu orang tua yang menyertai Aswin, memandang pria terluka itu dengan tenang lalu berkata,”Hmmmm pukulan Pencabik Nyawa dan sabetan Ladiang (Golok) Angek (Panas), orang muda, kau pasti berilmu tinggi karena tidak sembarang orang masih bisa bertahan setelah dilukai oleh 2 orang sehebat Iblis Gadang Sarewa dan Datuak Runduang Alam dengan begitu parahnya. Aku akan membantu mengobati lukamu agar kau bisa bertahan sampai kau bisa diobati oleh tabib.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Cepat sekali gerakan orang tua itu menotok dan menyalurkan tenaga dalam ke tubuh orang yang terluka ini, tidak sampai lama orang itu merasa dadanya yang sesak berangsur mulai lega dan kesakitan tubuhnya mulai berkurang serta darah yang mengalir sudah berhenti sama sekali. Walau dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih seperti semula tapi dia tahu dia sudah diselamatkan oleh orang tua yang datang bersama anak yang bernama Aswin itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Terima kasih orang tua, kau telah menolong nyawaku, budi baik ini pasti suatu saat akan aku bayar.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Aswin yang dari tadi diam saja sekarang buka mulut,” Kakek, paman ini harus segera kita bawa ke tempat etek Siti supaya beliau bisa mengobati luka tubuhnya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Iya kakek, kasihan paman ini dari tadi sudah terbaring tidak bisa gerak, aku sudah cemas sekali tidak bisa bawa dia ke tempat etek Siti,”kata Karim kepada orang tua yang datang bersama Aswin.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Orang muda siapa namamu, kenapa kau bisa ada di sini?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Nama saya, Manik Siahaan dari Utara, saya berada di sini karena mengejar musuh besar tapi sesampai di sini dia telah menunggu bersama kedua temannya dan mengeroyok saya, setelah sekitar tujuh puluh jurus saya tidak bisa bertahan lagi, saya sempat melukai mereka tapi tetap saja tidak bisa mengalahkan mereka, mungkin karena ilmu saya belum tinggi sehingga bisa dikalahkan dengan mudah.’ kata orang yang bernama Manik ini dengan geram.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Ha ha ha anak muda, menurut aku yang tua ini kamu itu sudah termasuk kategori orang yang berilmu tinggi sekali, karena bisa menghadapi keroyokan dari 2 orang dengan ilmu setingkat Iblis Gadang Sarewa dan Datuak Runduang Alam, serta 1 orang yang dibantu dari jauh dengan ilmu hitam tidak banyak orang yang bisa menghadapi salah satu dari mereka saja, tapi kau bisa bertahan berarti ilmu kesaktianmu pasti di atas mereka. Dan masa ini orang muda yang berilmu tinggi sepertimu tidak banyak, kau tidak perlu merendahkan dirimu sendiri, memang mereka saja yang pengecut, tahu tidak bisa menghadapimu seorang diri maka melakukan pengeroyokan.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dalam hati Manik terkejut dan kagum sekali, orang tua itu tahu dia dikeroyok oleh 3 orang, padahal beliau hanya menyebut 2 nama saja, artinya beliau kenal 2 orang itu sedangkan orang ketiga memang pasti beliau tidak kenal karena orang ketiga inilah musuh besarnya yang dia kejar dari kampungnya di Utara Pulau Andalas sampai ke sini. Dan dia bertambah kagum lagi mendengar bahwa kakek itu bisa menduga musuh besarnya menggunakan ilmu hitam untuk melawan dirinya. Dari pembicaraan ini Manik langsung tahu dia berhadapan dengan orang tua yang berilmu tinggi sekali mungkin di atas dirinya jauh karena bisa menebak dari lukanya saja dan tadi juga dia merasakan ada aliran tenaga dalam yang dahsyat yang masuk ke tubuhnya membantu tenaga dalamnya sendiri untuk bertahan dari semua luka yang dia derita.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Kakek, sudahlah jangan banyak bicara lagi dengan paman ini, segera saja kita bawa dia untuk diobati, aku cemas lihat luka di tubuhnya itu,”kata Karim dengan mata yang kuatir menatap Datuak Inyiak Balang.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Baiklah, kakek akan bawa dia ke rumah Aswin, dan kau berjalan pulanglah dengan Aswin,” setelah berkata demikian orang tua itu menggerakan tangan kanannya perlahan dan terjadi keanehan tubuh Manik terangkat lurus seperti dia diangkat dengan tandu dan sekejab saja orang yang terluka itu dan Datuak sudah tidak ada di sekitar tempat tadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Karim yang kaget melihat kejadian itu hanya bisa terbengong-bengong dengan mulut menganga, Aswin yang melihat temannya dalam keadaan seperti itu timbul keisengannya. Diambilnya buah ceri yang ada di samping pohon di belakang dia berdiri dan menimpuknnya ke mulut temannya yang sedang menganga itu. Karim terkejut ketika merasa ada benda yang masuk mulutnya, secara reflek menutup mulutnya dan menelan benda yang masuk mulutnya itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Cepat dia berpaling menatap Aswin,”Apa yang kau masukan dalam mulut aku?” tanyanya kebingungan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Aku masukan daki di ketiakku ke dalam mulutmu,” kata anak nakal itu dengan terbahak-bahak.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tapi Karim merupakan anak yang cerdik sekali, sebelum dia menelan sempat dia merasakan benda yang masuk mulutnya itu terasa licin dan bulat kecil jadi dia tahu pasti itu bukan daki seperti yang dikatakan Aswin. Menurut pemikiran cerdiknya daki itu kalau dibulatinpun tidak akan terasa licin seperti yang dia rasakan di mulutnya itu. Jadi dia tahu Aswin membohonginya, timbul keinginannya untuk balas mengisengin temannya walau sebenarnya dia ingin segera menyusul kakek dan paman yang terluka itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Wah dakimu enak yah Win, lain kali boleh aku coba lagi, benar-benar enak banget,’ katanya sambil mendecak-decakan mulutnya seperti orang yang mencicipi makanan enak.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Aswin yang membayangkan Karim mencicipi dakinya, merasa perutnya langsung mual dan ingin muntah, cepat dia menutup mulutnya agar tidak muntah, karena dia bisa ditertawakan oleh Karim kalau sampai terjadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Buru-buru dia mengajak Karim kembali ke nagari untuk menyusul gurunya dan orang terluka itu, dalam hati dia mengutuk habis-habisan temannya yang balik mengerjai dia. Sedangkan Karim menahan geli melihat wajah Aswin yang menahan muntahnya tadi, dia ingin tertawa keras-keras tapi entah kenapa dia merasa tidak mampu melakukannya, dia masih mencemaskan keadaan paman Manik itu. Segera Aswin menarik tangan temannya untuk segera berlari cepat menyusul, karena Aswin sudah memiliki tenaga dalam maka dengan mudahnya dia membantu temannya untuk mengimbangi ilmu lari cepatnya, sehingga kedua bocah ini bisa dengan cepat sampai di rumah Aswin.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sesampai mereka di rumah itu, kelihatan kesibukan terjadi di ruang pengobatan, tapi Aswin sudah tidak melihat gurunya lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tiba-tiba dia mendengar suara gurunya di telinganya,” Aswin, hari ini sampai di sini dulu latihan kita, kamu temani temanmu Karim bermain dan jaga-jaga kondisi paman yang terluka itu, jika terjadi sesuatu yang sangat berbahaya kamu panggil kakek segera.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Baik, kek,” sahut Aswin pelan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sementara itu Siti sibuk mengobati pria yang terluka itu, luka sabetan golok melintang di dadanya terlihat mengerikan sekali karena di pinggiran luka terlihat seperti melepuh yang menjadi ciri khas dari Golok Angek, dan di paha kanannya ada luka berwarna kehijauan yang berarti luka tersebut beracun, tapi bagusnya racun itu tidak menjalar sampai ke atas. Di sekujur tubuhnya penuh dengan sayatan-sayatan halus sepertinya dia terkena puluhan benda tajam yang kecil, itulah kehebatan ilmu Pencabik Nyawa.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Untung sebelumnya dia sudah mendapat bantuan pengobatan dari Datuak Inyiak Balang, sehingga lebih memudahkan Siti untuk melakukan pengobatan selanjutnya. Setelah membersihkan semua luka, Siti meminumkan obat hasil ramuan dari daging ikan Karak Batu (sejenis ikan yang berwarna coklat gelap dan bersisik keras seperti batu) merupakan ikan jenis langka sekali yang bisa ditemukan di kedalaman lautan pada saat bulan purnama penuh dengan remasan bunga kenanga merah yang ditemukan di dasar Gunung Merapi. Obat ini berkhasiat untuk membersihkan segala macam racun jahat yang ada di dalam tubuh pasiennya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Lalu Siti mengoleskan juga obat ramuan bubuk akar bahar dengan ular Balang Limo sejenis ular air yang paling berbisa yang hidup di perairan payau pada luka di sekujur tubunya dengan cepat sekali, saat dioles pada luka di dada, Manik langsung mengeluarkan jeritan kesakitan yang menyayat hati, tinggi melengking seakan bisa membangkitkan orang mati untuk hidup kembali. Siti sengaja tidak memberitahukan kepada pasien akan kesakitan yang bakalan dialami, karena dia tidak mau pasien berusaha menahan sakit sehingga membuat kulit di sekitar luka menjadi tegang, menyebabkan kulit susah untuk bertaut kembali. Tapi akibatnya semua orang yang hadir di ruangan tersebut merasa telinganya berdenging-denging akibat jeritan yang dikeluarkan oleh Manik, untung dia tidak menyertakannya dengan tenaga dalam kalau tidak entah apa yang bakalan terjadi. Setelah mengeluarkan jeritan panjang itu, Manik langsung pingsan karena sudah tidak punya tenaga lagi untuk menahan sakit yang menggila pada luka di dadanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Setelah mengoles luka tersebut Siti langsung membalut kuat luka-luka dengan kain putih bersih yang memang disediakan untuk membalut luka, selesai membalut terlihat keadaan Manik seperti mumi yang <span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span>hanya kelihatan wajahnya saja karena seluruh tubuhnya dari leher, tangan, dada, perut, kaki dibalut dengan kain putih itu. Ini dilakukan Siti untuk menjaga agar obat bisa bekerja dengan baik pada setiap luka yang ada.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Muka yang berlepotan dengan darah dan tanah itu dibersihkan Siti dengan hati-hati karena takut ada luka di wajah pria itu. Setelah dibersihkan terlihatlah seraut wajah pucat yang gagah dan jantan dengan hidung mancung agak bengkok di batangnya dan dagu persegi yang menjadi ciri khas orang Utara dari Pulau Andalas, tapi semua ini diperlunak dengan bibir yang sexy untuk ukuran pria jantan sepertinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Berbisik Karim kepada Aswin,”Win, paman itu gagah juga yah tapi hi hi hi kayak mayat hidup mengerikan dibalut seperti itu.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Hush, jangan berisik nanti paman bisa bangun sedangkan dia butuh istirahat, hayo kita keluar, aku sudah lapar. Kamu mau ikut makan ketupat buatan etek Siti?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Mau… mau … aku mau…,” sahut Karim dengan mata berbinar-binar senang.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Akhirnya mereka semua meninggalkan pria itu untuk istirahat memulihkan tenaganya, Siti merapikan semua peralatan pengobatannya dibantu oleh Uni Anik. Setelah melihat keadaan pasiennya sekali lagi, Siti meninggalkan kamar tapi sebelumnya dia berpesan kepada Uni Anik untuk menjaganya sebentar sampai Siti kembali lagi untuk memeriksa keadaannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Siti berjalan ke ruang makan untuk menemui kedua anak kesayangannya itu dan makan bersama mereka. Sambil berjalan Siti memikirkan kenapa pria itu bisa bertahan dengan luka-luka seperti dideritanya, tadi dia sempat juga memeriksa detak nadi dan aliran darah pasien, dia menemukan ada 2 macam aliran tenaga yang halus sekali sedang membantu tubuh pasien untuk mengatur peredaran darahnya yang kacau akibat luka pukulan maupun luka karena racun. Kedua tenaga ini saling membantu untuk memulihkan semua aliran darah yang tersumbat agar bisa mempercepat kesembuhan dari dalam tubuhnya. Mungkin tenaga inilah yang membuat pasiennya bisa bertahan cukup lama terhadap semua lukanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Terlihat kedua anak tersebut sedang asyik sekali makan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa, Siti tanpa terasa ikut tersenyum juga melihatnya. Memang kedua anak ini sangat lucu sekali kalau sudah seperti itu, tapi kalau kenakalannya kumat tidak ada seorangpun yang lolos dari kejahilannya dan Siti hanya bisa mengurut dada menahan kejengkelan melihat kelakuan mereka berdua. <span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Anak-anak, enak tidak ketupat buatan etek?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Wah, etek ini adalah ketupat yang paling enak sedunia, tiada tandingannya bahkan kehebatan ibuku memasak masih jauh dibandingkan dengan etek. Aswin memang beruntung sekali bisa makan enak setiap hari, aku jadi iri.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Hehehe… jangan irilah, kalau kamu suka bisa saja datang ke sini setiap hari untuk makan makanan buatan etekku ini yang lamak nian.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Siti tersenyum mendengar celoteh kedua anak kecil ini, dia senang sekali mereka menyukai masakannya dan dia juga tahu Aswin bukan anak yang pelit terhadap teman-temannya, semua yang dia rasa enak pasti dia bagi ke teman-temannya atau orang-orang yang dia sayangi. Dan sepertinya semua orang yang ada di nagari ini juga seperti itu padanya, semua makanan enak pasti ada saja yang mengantar buat Aswin jika dia menginginkannya. Untung saja anak itu tahu diri dan tidak pernah menyalahgunakan kesayangan orang padanya walau tetap saja kenakalannya tidak bisa ditahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tiba-tiba langit yang tadinya cerah dan terang benderang sekarang menjadi gelap dan mendung, patuih (petir) menyambar-nyambar dengan garangnya, di kejauhan seperti terdengar suara dengungan yang sangat kuat sekali. Udara langsung berubah dingin sekali, di luar terdengar teriakan orang-orang untuk segera membereskan pekerjaan karena hujan akan menjelang. Tapi ada keanehan dengan keadaan ini, cuaca mendung ini hanya menggantung di daerah sekeliling nagari tapi begitu lepas dari pinggiran nagari cuaca tetap terang benderang seperti semula.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mula-mula orang tidak menyadari hal ini karena sedang sibuk berlarian dan berteriak untuk segera membereskan pekerjaan sebelum hujan, tapi orang-orang yang tinggal agak di pinggiran negeri mulai menyadarinya karena mereka merasa sebagian tempat mereka berlangitkan mendung gelap sekali sedangkan sebagian lagi terang dengan sinaran matahari yang terik sekali. Sementara mereka terbengong-bengong melihat keanehan ini, mendadak mereka melihat ada segumpalan kabut tipis sekali yang melesat cepat ke arah kampung, yang datang entah dari mana.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kabut ini bergerak sangat cepat sekali, bahkan mereka sudah tidak bisa melihatnya lagi, mereka berpikir apakah tadi itu hanya ilusi saja. Tapi sebenarnya apa yang mereka lihat tadi benar adanya, itu adalah kabut pembunuh kiriman dari seorang dukun santet yang hebat sekali yang berasal dari bagian paling Utara pulau Andalas ini. Dukun ini bernama Sibayak Langu merupakan dukun hitam yang sangat sadis dan kejam sekali, dengan uang emas semua bisa diselesaikannya dengan tuntas. Selain itu dukun sesat ini juga terkenal kesukaannya pada perempuan tidak perduli siapa dia kalau dia sudah suka tidak ada yang lolos dari cengkramannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Banyak tokoh-tokoh persilatan golongon putih yang menjajal ketinggian ilmunya tapi banyak berakhir dengan kematian. Dukun ini bertempat tinggal di Gunung Sibayak, tempat ini hutan belantara yang sangat mengerikan sekali jarang manusia yang mau ke sana kalau tidak ingin sesuatu darinya. Salah satu orang yang minta bantuannya adalah Garang Simanungkalit yang merupakan ayah dari Ranting Simanungkalit, musuh besar dari Manik Siahaan. Orang tua itu tahu anaknya telah berlaku kelewatan dengan membunuh isteri serta anak Manik, karena tidak rela wanita itu bersuamikan orang lain selain dirinya. Dan beliau juga mengetahui bahwa anaknya bukanlah tandingan dari pria perkasa itu, bahkan dia sendiri yang terkenal ilmunyapun tidak bisa menandingi Manik.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sebagai orang tua yang menyayangi anaknya, dia berusaha melindungi semua perbuatan anaknya, karena memang di tanah Batak, anak laki-laki sangat dihargai bak pangeran walaupun anak tersebut tidak memiliki sifat yang baik. Ketika Manik mengetahui bahwa Ranting membunuh anak isterinya, maka mulai saat itu kehidupan keluarga mereka tidak ada kententraman lagi, banyak orang-orang hebat yang diperkerjakan untuk menahan serangan dari pria yang sudah gelap mata itu, tapi tiada satu jua yang bisa menahannya. Terakhir karena takut anaknya menemui ajal maka Garang Simanungkalit menyuruh anaknya pergi ke barat dari Pulau Andalas ini untuk tinggal bersama tulangnya yang menikah dengan orang Minang yang juga merupakan tokoh terkenal di sana yaitu Datuak Runduang Alam.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan berbekal uang emas dan surat dari sang ayah serta didampingi orang berkepandaian tinggi yang dipilih ayahnya, Ranting Simanungkalit berangkat segera menuju ke tempat bibinya. Sayang sekali maksud hatinya tersebut sampai juga di telinga Manik, segera pria muda itu memburu musuhnya itu ke ranah Minang, Garang yang mendengar hal ini menjadi cemas dan ketakutan sekali anaknya bisa menemui ajal di tangan Manik. Dia berusaha mencari berita dari teman-temannya siapa pembunuh bayaran yang paling hebat untuk melakukan pembunuhan terhadap musuh anaknya itu, akhirnya setelah hampir 2 bulan dari saat keberangkatan anaknya, dia mendengar tentang dukun santet, Sibayak Langu ini. Dengan susah payah selama hampir sebulan dia mencari dukun ini akhirnya menemukannya, dengan uang emas sebanyak 10 keping, terjadilah kesepakatan pembunuhan terhadap Manik Siahaan, musuh anaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dukun sesat ini senang sekali menerima 10 keping uang emas dari Garang Simanungkalit, segera dia memerintahkan kedua muridnya turun gunung untuk membunuh Manik. Berbekal cermin Bala Sibayak, kedua murid tersebut mempelajari semua gerak gerik pria muda itu, mereka mengetahui bahwa pemuda ini bukan lawan yang enteng karena mempunyai ilmu kebatinan tingkat tinggi dan binatang peliharaan makhluk halus yang diwariskan oleh leluhurnya. Sementara mereka akan tinggal di rumah keluarga Simanungkalit untuk lebih leluasa melakukan pekerjaan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Pas hari itu mereka melihat di cermin Bala, Ranting bersama paman dan teman pamannya dapat dikejar oleh Manik dan terlibat perkelahian. Langsung murid tertua membantu Ranting dengan ilmu hitam mereka, Tenaga Setan Menguak Neraka tingkat tiga, yaitu sebuah ilmu jarak jauh yang disalurkan kepada yang dituju untuk menambah tenaga dalam dan menambah ilmu silatnya. Dan murid keduanya menyalurkan ilmu Penyirap Roh melalui kedua mata Ranting agar lawan tidak bisa bergerak karena rohnya sudah disirap sehingga mudah sekali untuk dibunuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sayang sekali yang dihadapi mereka adalah seorang pria hebat didikan orang yang dijuluki setengah dewa oleh masyarakat persilatan daerah Batak sana, yaitu Kakek Penghisap Darah, sebuah julukan yang seram sekali padahal kakek ini dari golongan putih tetapi memang ilmunya pamungkasnya ganas sekali, Ilmu Aliran Darah Dewa. Ilmu ini dimainkan dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk cakar yang mengincar leher korban, sehingga luka yang dihasilkan seperti luka akibat gigitan drakula, yang hebatnya darah yang keluar dari luka itu mengalir dengan derasnya seperti ada dorongan dari tubuh si korban untuk memompa keluar semua darah yang ada di tubuhnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dan tidak seorangpun dapat membendung keluarnya darah tersebut walau dibantu dengan ilmu totokan untuk menghentikan aliran darah tersebut tetap saja tidak bisa berhenti. Selama ini tidak ada seorangpun dari lawan si kakek yang dapat diselamatkan sekali sudah kena ilmu tersebut walaupun sudah memanggil tabib yang paling hebat sekalipun. Hanya kakek ini saja yang bisa menyembuhkan orang yang kena luka ini, dengan ilmu Totokan Pengikat Nadi, yang juga merupakan ilmu yang hebat sekali di mana seluruh aliran nadi di tubuh yang bersangkutan akan membeku bila kena totokan ini dan tidak ada seorangpun juga yang bisa membebaskan dirinya dari totokan ini, kecuali dibebaskan oleh orang yang menggunakan ilmu ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kedua ilmu ini sudah diwariskan kepada murid kesayangannya Manik Siahaan, yang sudah menguasai kedua ilmu ini dengan baik sekali walau masih belum sempurna, tinggal dilatih terus menerus agar semakin sempurna penguasaannya terhadap ilmu ini. Bahkan berkat bakat dan kecerdikannya, Manik berusaha mengembangkan ilmu ini dengan menggabungkan menjadi sebuah ilmu yang lebih hebat lagi. Dan dia sedang dalam tahap pengujian akan penggabungan kedua ilmu ini, maka dapat dibayangkan kalau ilmu tersebut berhasil diyakininya, dia akan masuk ke jajaran tokoh persilatan nomor satu yang susah dicari tandingannya, bisa disejajarkan dengan kehebatan gurunya sendiri. Kakek Penghisap Darah menyadari kehebatan muridnya, maka sedari kecil pria ini sudah dididik dengan keras sekali akan kejujuran, kerendahan hati dan kebaikan agar tidak tersesat jalan hidupnya kelak. Karena dia merupakan musuh yang berbahaya sekali bagi golongan putih jika dia benar-benar sesat jalan hidupnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ditambah lagi dia mendapatkan warisan hebat dari keluarganya, benar-benar seorang lawan tangguh. Jadi mereka tidak tanggung-tanggung dalam memberikan bantuan kepada Ranting Simanungkalit.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kejadian ini bermula saat Ranting Simanungkalit jatuh cinta kepada seorang dara jelita yang bernama Mega Sagala, diam-diam dalam hati dia ingin memiliki bunga jelita ini, tapi sayang sang dara sudah mempunyai pilihan hati sendiri. Segala upaya dia lakukan untuk merebut sang dara dari tangan kekasihnya, tapi apa lacur dara tersebut tidak bergeming dari pilihan hatinya. Ranting yang merupakan anak tunggal dari kepala daerah dan terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya tidak bisa dengan mudahnya menyingkirkan lawan asmaranya yang sudah terkenal akan kehebatan ilmunya dan merupakan keturunan keluarga terpandang seperti yang dilakukannya pada musuhnya yang lain. Bahkan ayahnya yang mempunyai jabatan penting dalam pemerintahan juga tidak berani bertindak seenaknya terhadap keluarga Manik Siahaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Hal ini sangat mengesalkan hatinya dan membuat dia gelap mata ketika mendengar sang pujaan akan menikah. Dia merencanakan akan menculik dara itu dan memaksanya menjadi isterinya kalau perlu memperkosanya sehingga dara itu akan terpaksa menikah dengannya. Ketika dia melaksanakan niatnya itu dan hampir berhasil tiba-tiba dia dihadang oleh kekasih dara itu yaitu Manik Siahaan, terjadilah perkelahian hebat antara Manik dengan Ranting yang dibantu oleh orang-orang bayarannya. Rencana ini gagal, Ranting pulang dengan tubuh luka-luka akibat pukulan Manik dan membawa serta dendam mendalam terhadap Manik dan Mega.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dia berusaha memperdalam ilmunya dengan berguru kepada seorang tokoh sesat terkenal yang bernama Iblis Muka Seribu yang tinggal di salah satu pulau yang ada di lautan Indonesia. Selama 5 tahun dia berguru, saat dia kembali dia mendengar kabar dara yang dicintainya itu sudah menikah dan mempunyai anak dari musuhnya. Dendam semakin membara sehingga membutakan mata hatinya untuk merelakan Mega menjadi milik Manik, kembali dia merencanakan untuk membalas dendamnya kepada keluarga kecil Manik Siahaan itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Saat yang ditunggu akhirnya datangnya juga ketika Manik dipanggil oleh kakek buyutnya ke Mandailing, dia tahu dibutuhkan waktu cukup lama untuk Manik kembali ke daerah mereka, Balige. Manik sendiri tidak mengetahui bahwa pelukan dan ciuman yang diberikan kepada isteri dan anaknya sebelum dia berangkat merupakan yang terakhir kalinya. Isteri dan anaknya dititip di rumah mertuanya karena keluarganya semua berangkat menuju ke Mandailing untuk memenuhi panggilan sesepuh keluarga mereka itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tiga hari setelah kepergian Manik, Ranting menyatroni rumah keluarga Mega untuk meminta dengan paksa agar Mega mau menjadi isterinya dan meninggalkan Manik. Keluarga Mega menentang keras tindakan Ranting ini, akibatnya terjadi perang mulut yang berakhir dengan pembantaian yang dilakukan Ranting kepada keluarga Mega dan anak Manik. Sedangkan Mega dibawa lari olehnya, Mega yang tidak kuat menahan penderitaan batinnya berteriak-teriak seperti orang gila, Tombak yang ingin menghentikan teriakan-teriakan Mega mencekik lehernya dengan tujuan sebenarnya hanya menakut-nakuti saja tapi yang terjadi malahan Mega meninggal akibat cekikan Tombak yang terlalu kuat.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ranting menjadi ketakutan dengan perestiwa ini, cepat dia balik ke rumahnya dan meminta ayahnya menyelesaikan masalah yang sudah ditimbulkannya. Segera sang ayah menyuruh orang-orang kepercayaannya membersihkan bukti-bukti kesalahan Ranting dengan cara mereka membakar rumah keluarga Mega untuk menghapus jejak dan membunuh 3 orang saksi mata yang melihat kejadian di rumah Mega. Dikarenakan keluarga Mega tinggal di pinggiran kampung jauh dari pusat kampong maka tidak banyak orang yang tahu kejadian sebenarnya. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga, ini yang terjadi pada Ranting, dia tidak menyangka ada 1 sanksi penting yang lolos dari pembantaian itu yaitu pengasuh anak Manik yang kebetulan saat kejadian sedang buang hajat di kali yang tidak jauh dari rumah.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Saat dia kembali, dia masih sempat melihat Ranting membanting anak asuhnya lalu menarik majikannya dengan paksa keluar rumah, saking ketakutannya dia pingsan melihat kejadian itu. Ini yang menyelamatkan dia dari ancaman kematian, ketika dia siuman dia melihat rumah orang tua majikannya sedang dilalap di jago merah dengan hebatnya. Sang pengasuh setia ini hancur hatinya, dengan berbekal uang dan pakaian yang ada di tubuhnya, dia menyusul majikan laki-lakinya ke Mandailing karena dia tahu kalau dia masuk ke kampung mereka maka orang suruhan dari keluarga Simanungkalit akan membunuhnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sementara itu Manik dan keluarganya telah tiba di rumah leluhur pihak ibunya, dalam perjalanan menuju ke Mandailing beberapa kali perasaan tidak enak mengganggu perasaan Manik, ada dorongan dalam dirinya untuk kembali pulang melihat isteri dan anaknya. Tapi setiap kali dia mengungkapkan masalah ini kedua orang tua dan saudara-saudaranya langsung menasihati panjang lebar mengenai pentingnya memenuhi panggilan sang sesepuh itu. Manik yang tidak ingin ribut dengan keluarganya akhirnya tetap berangkat walau tetap dihantui perasaan tidak enak yang mengganggu hatinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dalam tempo 4 hari dengan menunggang kuda, mereka sekeluarga sampai di Mandailing, dan bertemu dengan sanak saudara yang sudah sampai terlebih dahulu. Malam itu diadakan pesta syukuran antar keluarga dengan menyajikan bermacam-macam makanan khas orang Batak, dan terdengar juga suara-suara indah diiringi oleh alat musik yang menyertai kemeriahan suasana pesta itu. Tapi di balik kemeriahan suasana, ada seseorang yang gundah gulana, hatinya risau, ini membuat dia murung<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> dan tidak bisa ikut bergembira pada pesta itu. Oleh karenanya sesudah makan, dia langsung masuk kamar dan beristirahat, jauh dalam hati sebenarnya dia males sekali untuk pergi jauh meninggalkan anak dan isterinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Manik datang ke rumah besar keluarga Siregar benar-benar karena ingin memenuhi permintaan ibunya saja, tidak ada pemikiran lain dan sedikitpun tidak terbesit keinginan untuk mendapatkan warisan yang menjadi dasar pemanggilan sang kakek buyut kepada keluarga besarnya. karena dia sadar warisan itu hanya diberikan kepada pembawa marga Siregar, sedangkan dia menggunakan marga Siahaan. Menurut adat istiadat turun menurun yang berlaku seharusnya warisan ini diberikan kepada cucu laki-laki dan cucu<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> buyut laki-laki langsung yang membawa nama marga keluarga, Siregar yang merupakan marga kakek buyut Manik dari pihak ibu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ketika itu kakek buyut Siregar merasa dirinya menjelang ajal, maka beliau mengumpulkan semua keluarganya untuk mendengar pesan terakhirnya dan memberikan warisan leluhur kepada orang pilihan. Setelah kedatangan keluarga Manik, maka sudah lengkaplah keluarga garis keturunan sang kakek buyut ini. Dua hari sesudah kedatangan Manik di rumah besar itu, sang kakek memanggil semua keluarga laki-lakinya untuk berkumpul di ruang tengah, sedangkan yang perempuan tidak diperkenankan mendekati ruang tengah tersebut, jadi mereka semua hanya boleh di kamar atau di dapur saja. Ternyata ada sekitar 20 orang terkumpul di ruangan leluhur keluarga Siregar, bersama mereka juga ada 5 orang sesepuh keluarga dan 5 orang teman lama keluarga yang dijadikan saksi agar tidak ada yang merasa dirugikan dengan ketidakadilan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Manik yang perasaan hatinya sedang tidak enak, merasa tidak bergairah untuk ikut-ikutan berkumpul, ingin rasanya dia segera pulang menemui anak dan isterinya. Ibunya yang melihat hal ini langsung menegur dia agar segera ke ruang tengah supaya urusan di sini bisa cepat beres dan dia bisa pulang segera. Mendengar perkataan ibunya, Manik buru-buru ke ruang tengah. Ketika dia sampai di ruang tengah dia melihat semua orang berkumpul dengan antusias sekali, suara dan tawa bergema dengan enaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Setelah melihat semuanya sudah berkumpul maka mulailah sang sesepuh membuka pembicaraan dengan menyampaikan alasan kenapa mereka berkumpul hari ini adalah untuk menurunkan warisan leluhur kepada pemilik barunya dengan upacara adat yang sudah ditentukan. Sebelum dimulai upacara penyerahan warisan itu, Datuk Kumis Putih menyampaikan beberapa pesan penting dan pembagian tugas kepada keluarga yang hadir.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ada satu perkataan penting mengenai warisan leluhur yang menjadi perhatian semua orang bahwa ilmu Penghisap Raga Mematikan Langkah hanya bisa didapat setelah makhluk halus yang berwujud elang penjaga roh memilih dan menyatu dengan tuannya yang baru. Jadi ilmu Penghisap raga mematikan langkah merupakan satu kesatuan dengan elang penjaga roh, tidak bisa dipisahkan. Semakin kecil harapan mereka untuk mendapatkan salah satu dari warisan itu, beliau juga meminta kepada yang tidak terpilih untuk tidak kecewa dan berusaha merebut warisan itu dengan membunuh pemilik barunya karena itu tidak ada gunanya. Warisan itu tidak dapat seenaknya saja dirampas dari pemiliknya, jika pemiliknya dalam keadaan sangat berbahaya sekali kedua warisan ini akan melindungi tuannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Warisan ini telah membuktikan bahwa siapapun pemiliknya akan termasuk jajaran tokoh utama di dunia persilatan Pulau Andalas ini dan jarang ada yang bisa menandinginya. Siapa yang tidak pernah mendengar nama Datuk Kumis Putih yang merupakan julukan kakek buyut Siregar, apalagi beliau sedari muda senang bertualang sampai ke nagari seberang kerajaan Melayu dan tanah Jawa, sehingga namanya semakin terkenal sebagai tokoh pilih tanding dalam menumpas kejahatan dan menegakkan kebenaran. Bahkan sempat beliau menjadi pimpin tokoh persilatan di tanah Batak ini selama hampir 1 dekade sampai dia menyerahkan jabatannya pada temannya, si Tongkat Penghancur Tulang, yang hanya menjabat sebentar saja lalu dipaksa bubar oleh tokoh2 persilatan lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Oleh karena itu diantara mereka sangat mengharapkan mendapat warisan ini berangan-angan akan menjadi pemimpin dunia persilatan tidak hanya di sini tapi di seluruh Pulau Andalas. Bahkan ada yang diam-diam mempersiapkan diri untuk merebut warisan tersebut jika dia tidak mendapatkannya. Dan seperti yang telah sama-sama mereka ketahui juga warisan ini akan memilih sendiri tuannya yang baru dan itu tidak bisa mereka rubah sendiri sesuai dengan kemauan mereka. Tapi yang namanya manusia selalu saja ingin mencoba meraih apapun yang diinginkannya menggunakan segala cara dengan harapan bisa terjadi sesuai keinginan hati mereka, walaupun hal ini seringkali gagal.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Setelah sang kakek memberikan nasihat dan pesan yang beliau rasa penting untuk disampaikan, maka dimulailah upacara penyerahan warisan leluhur itu. Manik yang sedang gelisah memikirkan anak dan isterinya tidak konsentrasi dengan apa yang sedang terjadi malah sibuk memikirkan kenapa perasaan tidak enak selalu menggelayuti hatinya. Sesuai dengan adat yang berlaku dipilihlah 3 orang yang dianggap paling baik ilmu silat dan budi pekertinya diantara yang lain. Karena calon harus melalui 3 tahap ujian sebelum dia mendapatkan warisan tersebut, ujian pertama mengenai budi pekerti, ujian kedua kemampuan ilmu silatnya, dan ujian terakhir yang paling berat adalah ujian kebatinan. Supaya pilihan ini adil maka diserahkan kepada pendengar untuk memilih 3 orang yang dirasa memang pantas mendapatkan warisan tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dari sekian banyak orang terpilihlah 2 orang yang mereka anggap pantas menerima warisan tersebut, kebetulan salah satunya bernama Sutan Siregar yang merupakan murid kesayangan langsung dari Datuk Kumis Putih. Dalam hati Datuk Kumis Putih senang juga muridnya terpilih, tapi karena calon kurang 1 orang lagi, maka mereka kembali diharuskan memilih. Terjadi keributan yang lebih heboh dibandingkan ketika memilih kedua orang pertama. Karena masing-masing mengganggap diri paling hebat, hanya ada satu orang yang tidak tertarik dengan apa yang terjadi matanya terlihat merawang memandang kosong ke depan. Keadaan ini disadari oleh sang kakek, beliau tahu cucu buyut luarnya yang satu ini sebenarnya paling hebat dibandingkan dengan yang lain dari segi ilmu maupun budi perkertinya tapi sayang dia hanya cucu luar jadi tidak bisa dipilih.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Beliau merasa sayang sekali kenapa orang sehebat ini tidak mempunyai hak untuk ikut pemilihan ahli waris. Walaupun beliau tidak terlalu mengenal kepribadian cucu luarnya terlalu jauh dan masih mengharapkan agar cucu dalamnya yang dapat warisan itu, hati kecil beliau tetap menginginkan cucu luarnya itu mendapat hak juga untuk dipilih. Sambil merenung memikirkan bagaimana caranya agar bisa memasukan cucu luarnya ini, beliau memperhatikan sekelilingnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Terlihat semua orang sibuk bicara saling membanggakan diri, bahkan beliau dapat merasakan diantara mereka ada yang membentuk kelompok agar bisa mendukung pencalonan dirinya. Keributan ini masih belum selesai juga sekarang malahan diantara mereka terbagi 2 kelompok yang masing-masing berkeras dengan orang pilihannya melihat hal ini sang kakek segera turun bicara. Semakin mantap hatinya untuk memilih cucu luarnya<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> itu untuk menjadi salah satu calon.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan mengangkat tangannya dan suaranya yang lantang beliau menyuruh diam mereka semua, dikarenakan suara yang keluar diiringi dengan tenaga dalam maka semua orang merasakan telinganya berdengung keras dan bagi ilmunya yang rendah langsung merasa pusing kepalanya. Dan ketika sang kakek melirik ke arah cucu buyutnya yang sedang bengong itu, beliau tersirap hatinya karena sang cucu seperti tidak merasakan apa-apa bahkan masih dalam posisi bengongnya seperti tidak merasakan hentakan suara ke gendang telinganya. Kini beliau sadar bahwa cucunya yang satu ini tidak kalah dengan cucu kesayangannya dalam hal tenaga dalam. Beliau memang mendengar kabar bahwa cucunya ini menjadi murid tunggal sahabat lamanya, Kakek Penghisap Darah, tapi beliau tidak menyangka tingkatan cucunya sudah begitu tingginya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Karena keseharian cucunya tidak terlihat bahwa dia mempunyai ilmu silat tinggi, cendrung terlihat seperti orang biasa saja, tidak pernah dia membanggakan dirinya atau menggunakan ilmunya untuk memamerkan kehebatannya. Baru kali ini sang kakek menyadari bahwa cucunya yang satu ini mungkin orang istimewa juga, selama ini dia lebih memperhatikan cucu dalamnya saja yang membawa marganya. Semakin penasaran hatinya ingin tahu sampai di mana kehebatan hasil didikan sahabat lamanya itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Suasana menjadi hening setelah suara menggelegar sang kakek untuk meminta mereka diam, semua mata memandang sang kakek.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Cucuku semua, pemilihan ini menyebabkan keributan diantara kalian yang seharusnya tidak perlu terjadi jika seandainya kalian sadar dan mawas diri. Kerendahan hati sangat diperlukan diantara kalian agar orang lain bisa meninggikan diri kalian, tapi ketinggian hati hanya mengakibatkan kehancuran bagi sang punya diri.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Secara tidak langsung sang kakek menyindir semua cucunya yang sudah berlagak paling hebat sejagat raya, sekarang beliau menyadari banyak diantara mereka yang tidak mempunyai sifat yang baik malahan ada beberapa yang cendrung mempunyai sifat yang jahat. Mereka yang merasa tersindir langsung dengan perkataan sang kakek langsung menundukan kepalanya, tidak berani lagi banyak bicara.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Bagus, sekarang kalian menyadari hal itu. Setelah aku melihat dan mempertimbangkan beberapa hari ini, aku melihat ada 1 orang diantara kalian yang sebenarnya memiliki ilmu silat dan tenaga dalam yang hebat tapi tidak pernah menonjolkan diri sehingga tidak banyak diantara kita yang tahu kehebatannya. Mungkin pilihan aku pada dia kali ini akan menimbulkan keributan diantara kalian dikarenakan tidak sesuai dengan adat yang berlaku selama ini,” sengaja sang kakek diam untuk melihat reaksi para cucunya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Setelah melihat wajah-wajah penasaran dan kebingungan yang memandang dirinya, beliau melanjutkan ucapannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Beberapa waktu yang lalu aku pernah membaca catatan-catatan lama dari leluhur kita mengenai upacara penyerahan warisan ini, aku baru tahu bahwa warisan ini dulunya adalah milik marga lain bukan marga Siregar seperti yang kita ketahui selama ini. Kalian bisa melihat dan membaca hal ini tercatat dalam daun lontar yang ada di ruangan tempat penyimpan barang-barang antik keluarga kita.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Ompung, kalau boleh aku bertanya apa yang ompung maksudkan dari tadi, pusing kepala aku mendengarkan perkataan ompung,”kata salah seorang cucu dalamnya yang bernama Sirdar, paman kandung dari Sutan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sirdar, kau semakin tua semakin tidak sabaran, belajarlah sabar, malu sama usia berkelakuan seperti anak muda yang tidak sabaran,” tegur sang kakek.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mendengar teguran ini Sirdar langsung terdiam dan tertunduk malu, karena dia sadar diantara yang lain dia yang paling bodoh jadi dengan pertanyaannya itu secara tidak langsung dia menyatakan bahwa dia adalah lekaki kasar yang bodoh. Yang lain juga ikut-ikutan diam dan tidak berani bertanya lagi, takut kena semprotan tajam dari ompung mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sang kakek melanjutkan pembicaraannya,” kalian dari tadi meributkan siapa yang paling berhak menjadi calon pewaris, dan kalian sudah sepakat untuk memilih Sutan dan Tombak sebagai calon. Sekarang tinggal 1 orang lagi apa kalian sudah mendapatkan orang yang sehebat calon sebelumnya?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kembali keributan terjadi saling menonjolkan pilihan mereka, tapi dalam hati mereka semua tahu tidak ada calon lain yang sehebat Sutan dan Tombak. Jadi sebenarnya siapapun yang terpilih pasti akan kalah jika mengikuti ujian yang diberikan. Diantara mereka yang pintar dan cerdas langsung menyadari makna pernyataan dan pertanyaan sang kakek itu, dari tadi mereka ributkan memilih calon yang membawa marga tapi ketika menyimak kembali perkataan sang kakek, mereka merasa sang kakek memberikan kesempatan kepada yang tidak membawa nama marga. Ada enam orang yang tidak membawa nama marga sang kakek termasuk Manik, dan mereka sebenarnya tidak kalah dengan saudara-saudara yang lain hanya karena mereka dilahirkan dari ayah yang membawa marga sendiri maka mereka secara tidak langsung tersisihkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tapi setelah mendengarkan perkataan sang kakek, timbul harapan di hati mereka, siapa tahu mereka bisa mewarisi ilmu leluhur itu. Sedangkan yang membawa marga mulai menyadari adanya saingan tidak langsung dengan pernyataan sang kakek, dan mulai mereka was-was akan hilangnya kesempatan mereka. Karena sedikit banyak mereka tahu diantara 6 orang itu ada 1 saudara mereka yang memang hebat setingkat dengan Sutan dan Tombak yaitu Pane Aritonang dari Muara Nauli, merupakan murid kesayangan dari Raja Pedang Naga yang sudah terkenal kelihayannya hampir menyamai kakek mereka. Dan Pane sendiri mendapat julukan Pedang Naga Kecil dari dunia persilatan di mana dia sudah menebar banyak bibit kebaikan dan menumpas kejahatan sehingga namanya semakin harum saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dibandingkan Sutan dan Tombak sebenarnya Pane jauh lebih terkenal di kalangan dunia persilatan jauh sebelum mereka berdua memasukinya. Sekarang Pane berusia hampir 37 tahun, yang berarti lebih matang pengalamannya dibandingkan dengan Sutan yang baru berusia 26 tahun dan Tombak yang berusia 34 tahun. Jadi wajarlah bila Pane diikutkan sebagai calon dengan segudang pengalaman dan namanya yang harum di dunia persilatan. Ini membuat cemas para cucu yang membawa nama marga, mereka kuatir kedua orang calon sebelumnya bisa dikalahkan sehingga warisan itu akan keluar dari marga mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Diam-diam sebenarnya Pane senang sekali dengan pernyataan sang kakek, tapi di permukaan wajahnya hal itu tidak bisa terlihat, dia dengan tenang memandang sekitarnya dan sepertinya tidak memperdulikan pandangan mata beberapa orang yang ditujukan kepadanya. Dalam hati dia sudah merasa yakin bahwa dia bakalan terpilih sebagai salah satu dari calon itu, sementara pelan-pelan suara ribut itu mereda ketika semua mulai menyadari maksud dari pernyataan dan pertanyaan sang kakek. Satu hal yang patut sangat dibanggakan dari orang Batak adalah mereka tidak malu mengakui kehebatan orang lain setelah mereka benar-benar merasa dikalahkan, dan hal ini terjadi juga dalam ruangan, perlahan-lahan mereka mulai sepertinya menyadari bahwa ada orang hebat diantara mereka yang harus diperhitungkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Walau dalam hati tidak setuju tapi mereka menyadari bahwa hal ini tidak terhindarkan, jadi mereka hanya ambil sikap diam saja dan menyerahkan semua keputusan ke tangan sang kakek. Mata awas sang kakek melihat mereka semua melirik ke arah Pane dan tidak satu juga yang melirik ke cucu incarannya itu. Karena yang bersangkutan masih asyik saja dengan pikirannya sendiri tanpa menghiraukan keributan yang terjadi di sekitarnya. Sang kakek juga tahu pilihan mereka terhadap Pane sudah menu]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kita tinggalkan dulu Kahar yang sedang terhanyut menceritakan kasih asmaranya di masa lalu dan Bumi yang asyik mendengarkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /?><br />
&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kembali ke nagari Batang Kapeh, setelah kepergian Kahar dan Bumi ada sebuah kejadian yang nantinya mempengaruhi kehidupan Karim sebagai salah satu penumpas kekuasaan kegelapan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, orang tua Karim telah kembali dari perjalanan mereka jadi kebanyakan mereka selalu ada di rumah untuk memperhatikan anak mereka. Sejak hari di mana mereka mendatangi rumah wali Bumi, mereka tidak ada habis-habisnya mebicarakan kejadian saat itu. <?xml:namespace prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" /?><br />
Ada saja yang mereka bicarakan bahkan sekarang bicara mereka sudah melebar ke mana-mana dan Karim mendengarkan saja cerita orang tuanya dengan asyik. Walaupun bagi anak yang pintar ini dia merasa ada kejanggalan dari cerita-cerita orang tuanya dan sering mengerutkan kening mendengar cerita yang tidak masuk akalnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sering dia menanyakan kepada orang tuanya jika dia menemukan kejanggalan cerita orang tuanya terutama bapaknya. Bagi anak secerdas dia, hal-hal yang tidak masuk logikanya pasti dia akan mengejar kejelasan dari cerita itu. Yang nantinya berakhir dengan pertengkaran bapak dan anak karena masing-masing memegang teguh pemikirannya. Dan biasanya diselesaikan dengan kemenangan pihak orang tua tentunya menggunakan kata-kata pamungkasnya, “Kamu masih kecil belum tahu apa-apa, Bapak ini sudah tua dan sudah banyak makan asin asam dunia jadi bapak jauh lebih pengalaman dibandingkan kamu. Jadi lebih baik kamu mendengarkan saja kata-kata Bapak dan jangan tanya-tanya terus serta membantahnya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Karim sangat membenci mendengar perkataan seperti itu, karena dia merasa dilecehkan dan dengan muka kesal dan cemberut dia pergi keluar sambil menghantak-hantakan kakinya. Kali ini saking kesalnya dia pergi sambil banting pintu pula, biasanya sudah begini dia suka mencari Aswin untuk menceritakan kekesalannya dan berdua mereka suka membahasnya ala anak seusia mereka. Tapi dia tahu biasanya jam segini Aswin tidak ada di rumah, entah ke mana anak itu pergi setiap ditanya selalu saja tersenyum jahil.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sambil mulut komat kamit tidak jelas dia berjalan terus tanpa menghiraukan kanan kirinya, dia tidak sadar sudah jalan jauh dari rumah mendekati tepi nagari. Tiba-tiba dia mendengar suara rintihan seseorang, antara perasaan ingin tahu dan takut dia berusaha mencari sumber suara tersebut. Akhirnya dia menemukan di samping kirinya mendekati pohon beringin besar yang berdiri megah di sisi jalan tertutup ilalang tinggi. Perlahan-lahan dia mendekati asal suara tersebut, berlindung di balik pohon dia melihat ada tubuh pria dewasa yang tergeletak. Takut-takut dia menghampiri tubuh yang terlentang itu, dia melihat tubuh orang tersebut penuh luka bacokan dan darah yang sudah agak mengering melekat di bajunya, sedangkan wajah orang itu tertutup tangan kirinya dan tangan kanan memegang dada yang terlihat sobek besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Orang tersebut mendengar ada yang mendekati tapi tidak bisa bergerak kuatir kalau musuh yang datang dia pasrah akan nasibnya, dengan memejamkan mata dan menyebut nama Tuhan, dia siap menghadap sang Pemilik Nyawanya. Yang ditunggu-tunggu tetap tidak terjadi malah dia mendengar helaan nafas ngeri dari kanak-kanak, akhirnya dia membuka mata dan melihat ke arah kirinya langsung menemukan dirinya tercermin di sepasang mata besar dan jernih sedang memandang dirinya dengan takut tapi ada rasa ingin tahu yang kental sekali.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Anak yang cakap dan kelihatan bersih tidak seperti anak desa biasa, entah kenapa pria ini merasa pernah melihat tatapan mata yang serupa dengan anak ini. Ada perasaan akrab dan hangat dalam dirinya ketika menatap sepasang mata yang sekarang memandangnya dengan kening berkerut.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Paman siapa? Kenapa bisa terluka? Kenapa tergeletak di sini ? Apa lukanya sakit? Paman bisa bicara ?” bertubi-tubi pertanyaan yang dilontarkan oleh anak itu, sehingga pria ini merasa geli melihat gaya anak itu bertanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan susah payah pria ini berusaha menjawab pertanyaan, “Anak kecil siapa nama kamu?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Namaku Karim, paman kenapa bisa ada di sini ? paman sepertinya perlu obat, sebentar aku panggilkan etek Siti untuk obatin paman.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Cepat anak itu bergerak dan berlari meninggalkan pria itu, terpaksa pria itu mengerahkan sisa tenaga yang ada di tubuhnya dan mengalirkan ke tangan kirinya melontarkan ilmu Penghisap Raga Mematikan Langkah. Dan terjadi keanehan tubuh kecil Karim tiba-tiba seperti tertarik ke belakang dan dia tidak bisa menggerakan tubuhnya untuk meneruskan larinya. Seperti ada tenaga penghisap yang kuat sekali menarik dirinya, sehingga kakinya terasa seperti terangkat dari tanah dan bergerak mundur ke sumber tenaga yang menghisapnya itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Terkejut dan takut, Karim berteriak kencang sekali memanggil-manggil orang tuanya dan terakhir memanggil nama Aswin, entah kenapa dia memanggil nama temannya itu. Pria yang menarik anak itu merasa tidak enak juga membuat anak kecil ketakutan tapi dia sadar kalau dia tidak melakukan hal ini segera maka dia tidak punya kesempatan lagi untuk bicara dan menitipkan pesan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Segera setelah Karim berdiri di dekatnya, orang itu melepaskan tenaga dalamnya tapi dengan cepat mencekal tangan anak itu, karena kuatir dia akan lari. Dengan sisa tenaga yang masih ada, orang itu berusaha berbicara kepada Karim.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span>“ Anak baik, jangan takut, paman tidak bermaksud jahat kepada kamu. Paman tahu umur paman sudah tidak bisa dipertahankan lagi dengan luka yang begini banyaknya. Kamu lihat sendirikan badan paman berdarah semua,” katanya sambil berusaha memperdengarkan nada yang ringan supaya sang anak tidak takut padanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Melihat keadaan orang itu yang menggenaskan Karim merasa kasihan sekali dan mulai bisa meredakan rasa takut dalam dirinya, setelah itu kembali dia melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi lagi kepada orang itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Paman siapa, asalnya dari mana, kenapa bisa ada di sini, bagaimana bisa terluka begini, siapa orang jahat yang melukai paman, jauhkah rumah paman dari sini ? Paman harus segera diobati, di nagari kami ada seorang tabib yang hebat sekali banyak orang yang berobat padanya dan sembuh. Paman jangan kuatir tidak bisa disembuhkan oleh beliau, aku yakin pasti bisa beliau dijuluki Dewi Tangan Dingin oleh orang kampung kami.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mendengar pertanyaan yang begitu banyaknya sempat orang ini merasa geli akan kebawelan anak ini, tapi begitu mendengar bahwa tabib yang berjuluk Dewi Tangan Dingin ada di kampung anak ini langsung tumbuh harapan dalam diri orang ini. Tapi dia juga sadar bahwa keadaan dirinya benar-benar terluka sangat parah sekali ditambah lagi tadi dia sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk menarik anak itu kembali.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Namamu Karim bukan? Tanya dia, dan melihat anak kecil itu mengganggukkan kepalanya dengan mata yang masih menyiratkan kecemasan dan kuatir, hatinya terasa hangat melihat tatapan mata polos dan cemas itu. Sudah lama dia tidak lagi merasakan kehangatan di hati sejak kematian isteri dan anaknya dibunuh oleh musuh besarnya dan itu terjadi setahun yang lalu. Dia seperti menemukan diri anaknya yang meninggal itu pada bocah bawel ini, anaknya sebelum meninggal seusia bocah ini dan sama cerewetnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Paman, tunggu di sini aku akan panggilkan orang kampung untuk bantu angkat paman ke tempat etek Siti, mau ya paman?” bujuk anak ini karena menguatirkan keselamatan orang itu. Entah kenapa dia merasa kasihan dan ingin sekali menolong paman tersebut, ada seperti dorongan yang kuat dalam dirinya segera berlari memanggil orang kampung untuk membantu orang ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sabarlah nak, paman ingin bicara sebentar…” belum selesai dia bicara tiba-tiba dia merasa ada orang yang sedang menuju ke tempatnya dengan gerakan cepat sekali walaupun dia terluka parah tapi tenaga dalamnya yang sangat tinggi membuat dia masih bisa bertahan sampai sekarang dan bisa mengetahui ada orang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tiba-tiba di depan mereka berdiri seorang bocah lain seumuran Karim dan seorang tua yang dia tidak bisa melihat jelas wajahnya karena seperti tertutup oleh kabut tipis yang mengelilingi sekitar tubuhnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Terdengar Karim berkata,”Aswin!”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Karim, aku mendengar teriakanmu memanggilku tadi, ada apa?” tanya Aswin sambil tetap matanya memandang ke arah orang yang terluka itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sementara itu orang tua yang menyertai Aswin, memandang pria terluka itu dengan tenang lalu berkata,”Hmmmm pukulan Pencabik Nyawa dan sabetan Ladiang (Golok) Angek (Panas), orang muda, kau pasti berilmu tinggi karena tidak sembarang orang masih bisa bertahan setelah dilukai oleh 2 orang sehebat Iblis Gadang Sarewa dan Datuak Runduang Alam dengan begitu parahnya. Aku akan membantu mengobati lukamu agar kau bisa bertahan sampai kau bisa diobati oleh tabib.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Cepat sekali gerakan orang tua itu menotok dan menyalurkan tenaga dalam ke tubuh orang yang terluka ini, tidak sampai lama orang itu merasa dadanya yang sesak berangsur mulai lega dan kesakitan tubuhnya mulai berkurang serta darah yang mengalir sudah berhenti sama sekali. Walau dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih seperti semula tapi dia tahu dia sudah diselamatkan oleh orang tua yang datang bersama anak yang bernama Aswin itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Terima kasih orang tua, kau telah menolong nyawaku, budi baik ini pasti suatu saat akan aku bayar.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Aswin yang dari tadi diam saja sekarang buka mulut,” Kakek, paman ini harus segera kita bawa ke tempat etek Siti supaya beliau bisa mengobati luka tubuhnya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Iya kakek, kasihan paman ini dari tadi sudah terbaring tidak bisa gerak, aku sudah cemas sekali tidak bisa bawa dia ke tempat etek Siti,”kata Karim kepada orang tua yang datang bersama Aswin.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Orang muda siapa namamu, kenapa kau bisa ada di sini?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Nama saya, Manik Siahaan dari Utara, saya berada di sini karena mengejar musuh besar tapi sesampai di sini dia telah menunggu bersama kedua temannya dan mengeroyok saya, setelah sekitar tujuh puluh jurus saya tidak bisa bertahan lagi, saya sempat melukai mereka tapi tetap saja tidak bisa mengalahkan mereka, mungkin karena ilmu saya belum tinggi sehingga bisa dikalahkan dengan mudah.’ kata orang yang bernama Manik ini dengan geram.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Ha ha ha anak muda, menurut aku yang tua ini kamu itu sudah termasuk kategori orang yang berilmu tinggi sekali, karena bisa menghadapi keroyokan dari 2 orang dengan ilmu setingkat Iblis Gadang Sarewa dan Datuak Runduang Alam, serta 1 orang yang dibantu dari jauh dengan ilmu hitam tidak banyak orang yang bisa menghadapi salah satu dari mereka saja, tapi kau bisa bertahan berarti ilmu kesaktianmu pasti di atas mereka. Dan masa ini orang muda yang berilmu tinggi sepertimu tidak banyak, kau tidak perlu merendahkan dirimu sendiri, memang mereka saja yang pengecut, tahu tidak bisa menghadapimu seorang diri maka melakukan pengeroyokan.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dalam hati Manik terkejut dan kagum sekali, orang tua itu tahu dia dikeroyok oleh 3 orang, padahal beliau hanya menyebut 2 nama saja, artinya beliau kenal 2 orang itu sedangkan orang ketiga memang pasti beliau tidak kenal karena orang ketiga inilah musuh besarnya yang dia kejar dari kampungnya di Utara Pulau Andalas sampai ke sini. Dan dia bertambah kagum lagi mendengar bahwa kakek itu bisa menduga musuh besarnya menggunakan ilmu hitam untuk melawan dirinya. Dari pembicaraan ini Manik langsung tahu dia berhadapan dengan orang tua yang berilmu tinggi sekali mungkin di atas dirinya jauh karena bisa menebak dari lukanya saja dan tadi juga dia merasakan ada aliran tenaga dalam yang dahsyat yang masuk ke tubuhnya membantu tenaga dalamnya sendiri untuk bertahan dari semua luka yang dia derita.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Kakek, sudahlah jangan banyak bicara lagi dengan paman ini, segera saja kita bawa dia untuk diobati, aku cemas lihat luka di tubuhnya itu,”kata Karim dengan mata yang kuatir menatap Datuak Inyiak Balang.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Baiklah, kakek akan bawa dia ke rumah Aswin, dan kau berjalan pulanglah dengan Aswin,” setelah berkata demikian orang tua itu menggerakan tangan kanannya perlahan dan terjadi keanehan tubuh Manik terangkat lurus seperti dia diangkat dengan tandu dan sekejab saja orang yang terluka itu dan Datuak sudah tidak ada di sekitar tempat tadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Karim yang kaget melihat kejadian itu hanya bisa terbengong-bengong dengan mulut menganga, Aswin yang melihat temannya dalam keadaan seperti itu timbul keisengannya. Diambilnya buah ceri yang ada di samping pohon di belakang dia berdiri dan menimpuknnya ke mulut temannya yang sedang menganga itu. Karim terkejut ketika merasa ada benda yang masuk mulutnya, secara reflek menutup mulutnya dan menelan benda yang masuk mulutnya itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Cepat dia berpaling menatap Aswin,”Apa yang kau masukan dalam mulut aku?” tanyanya kebingungan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Aku masukan daki di ketiakku ke dalam mulutmu,” kata anak nakal itu dengan terbahak-bahak.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tapi Karim merupakan anak yang cerdik sekali, sebelum dia menelan sempat dia merasakan benda yang masuk mulutnya itu terasa licin dan bulat kecil jadi dia tahu pasti itu bukan daki seperti yang dikatakan Aswin. Menurut pemikiran cerdiknya daki itu kalau dibulatinpun tidak akan terasa licin seperti yang dia rasakan di mulutnya itu. Jadi dia tahu Aswin membohonginya, timbul keinginannya untuk balas mengisengin temannya walau sebenarnya dia ingin segera menyusul kakek dan paman yang terluka itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Wah dakimu enak yah Win, lain kali boleh aku coba lagi, benar-benar enak banget,’ katanya sambil mendecak-decakan mulutnya seperti orang yang mencicipi makanan enak.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Aswin yang membayangkan Karim mencicipi dakinya, merasa perutnya langsung mual dan ingin muntah, cepat dia menutup mulutnya agar tidak muntah, karena dia bisa ditertawakan oleh Karim kalau sampai terjadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Buru-buru dia mengajak Karim kembali ke nagari untuk menyusul gurunya dan orang terluka itu, dalam hati dia mengutuk habis-habisan temannya yang balik mengerjai dia. Sedangkan Karim menahan geli melihat wajah Aswin yang menahan muntahnya tadi, dia ingin tertawa keras-keras tapi entah kenapa dia merasa tidak mampu melakukannya, dia masih mencemaskan keadaan paman Manik itu. Segera Aswin menarik tangan temannya untuk segera berlari cepat menyusul, karena Aswin sudah memiliki tenaga dalam maka dengan mudahnya dia membantu temannya untuk mengimbangi ilmu lari cepatnya, sehingga kedua bocah ini bisa dengan cepat sampai di rumah Aswin.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sesampai mereka di rumah itu, kelihatan kesibukan terjadi di ruang pengobatan, tapi Aswin sudah tidak melihat gurunya lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tiba-tiba dia mendengar suara gurunya di telinganya,” Aswin, hari ini sampai di sini dulu latihan kita, kamu temani temanmu Karim bermain dan jaga-jaga kondisi paman yang terluka itu, jika terjadi sesuatu yang sangat berbahaya kamu panggil kakek segera.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Baik, kek,” sahut Aswin pelan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sementara itu Siti sibuk mengobati pria yang terluka itu, luka sabetan golok melintang di dadanya terlihat mengerikan sekali karena di pinggiran luka terlihat seperti melepuh yang menjadi ciri khas dari Golok Angek, dan di paha kanannya ada luka berwarna kehijauan yang berarti luka tersebut beracun, tapi bagusnya racun itu tidak menjalar sampai ke atas. Di sekujur tubuhnya penuh dengan sayatan-sayatan halus sepertinya dia terkena puluhan benda tajam yang kecil, itulah kehebatan ilmu Pencabik Nyawa.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Untung sebelumnya dia sudah mendapat bantuan pengobatan dari Datuak Inyiak Balang, sehingga lebih memudahkan Siti untuk melakukan pengobatan selanjutnya. Setelah membersihkan semua luka, Siti meminumkan obat hasil ramuan dari daging ikan Karak Batu (sejenis ikan yang berwarna coklat gelap dan bersisik keras seperti batu) merupakan ikan jenis langka sekali yang bisa ditemukan di kedalaman lautan pada saat bulan purnama penuh dengan remasan bunga kenanga merah yang ditemukan di dasar Gunung Merapi. Obat ini berkhasiat untuk membersihkan segala macam racun jahat yang ada di dalam tubuh pasiennya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Lalu Siti mengoleskan juga obat ramuan bubuk akar bahar dengan ular Balang Limo sejenis ular air yang paling berbisa yang hidup di perairan payau pada luka di sekujur tubunya dengan cepat sekali, saat dioles pada luka di dada, Manik langsung mengeluarkan jeritan kesakitan yang menyayat hati, tinggi melengking seakan bisa membangkitkan orang mati untuk hidup kembali. Siti sengaja tidak memberitahukan kepada pasien akan kesakitan yang bakalan dialami, karena dia tidak mau pasien berusaha menahan sakit sehingga membuat kulit di sekitar luka menjadi tegang, menyebabkan kulit susah untuk bertaut kembali. Tapi akibatnya semua orang yang hadir di ruangan tersebut merasa telinganya berdenging-denging akibat jeritan yang dikeluarkan oleh Manik, untung dia tidak menyertakannya dengan tenaga dalam kalau tidak entah apa yang bakalan terjadi. Setelah mengeluarkan jeritan panjang itu, Manik langsung pingsan karena sudah tidak punya tenaga lagi untuk menahan sakit yang menggila pada luka di dadanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Setelah mengoles luka tersebut Siti langsung membalut kuat luka-luka dengan kain putih bersih yang memang disediakan untuk membalut luka, selesai membalut terlihat keadaan Manik seperti mumi yang <span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span>hanya kelihatan wajahnya saja karena seluruh tubuhnya dari leher, tangan, dada, perut, kaki dibalut dengan kain putih itu. Ini dilakukan Siti untuk menjaga agar obat bisa bekerja dengan baik pada setiap luka yang ada.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Muka yang berlepotan dengan darah dan tanah itu dibersihkan Siti dengan hati-hati karena takut ada luka di wajah pria itu. Setelah dibersihkan terlihatlah seraut wajah pucat yang gagah dan jantan dengan hidung mancung agak bengkok di batangnya dan dagu persegi yang menjadi ciri khas orang Utara dari Pulau Andalas, tapi semua ini diperlunak dengan bibir yang sexy untuk ukuran pria jantan sepertinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Berbisik Karim kepada Aswin,”Win, paman itu gagah juga yah tapi hi hi hi kayak mayat hidup mengerikan dibalut seperti itu.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Hush, jangan berisik nanti paman bisa bangun sedangkan dia butuh istirahat, hayo kita keluar, aku sudah lapar. Kamu mau ikut makan ketupat buatan etek Siti?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Mau… mau … aku mau…,” sahut Karim dengan mata berbinar-binar senang.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Akhirnya mereka semua meninggalkan pria itu untuk istirahat memulihkan tenaganya, Siti merapikan semua peralatan pengobatannya dibantu oleh Uni Anik. Setelah melihat keadaan pasiennya sekali lagi, Siti meninggalkan kamar tapi sebelumnya dia berpesan kepada Uni Anik untuk menjaganya sebentar sampai Siti kembali lagi untuk memeriksa keadaannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Siti berjalan ke ruang makan untuk menemui kedua anak kesayangannya itu dan makan bersama mereka. Sambil berjalan Siti memikirkan kenapa pria itu bisa bertahan dengan luka-luka seperti dideritanya, tadi dia sempat juga memeriksa detak nadi dan aliran darah pasien, dia menemukan ada 2 macam aliran tenaga yang halus sekali sedang membantu tubuh pasien untuk mengatur peredaran darahnya yang kacau akibat luka pukulan maupun luka karena racun. Kedua tenaga ini saling membantu untuk memulihkan semua aliran darah yang tersumbat agar bisa mempercepat kesembuhan dari dalam tubuhnya. Mungkin tenaga inilah yang membuat pasiennya bisa bertahan cukup lama terhadap semua lukanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Terlihat kedua anak tersebut sedang asyik sekali makan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa, Siti tanpa terasa ikut tersenyum juga melihatnya. Memang kedua anak ini sangat lucu sekali kalau sudah seperti itu, tapi kalau kenakalannya kumat tidak ada seorangpun yang lolos dari kejahilannya dan Siti hanya bisa mengurut dada menahan kejengkelan melihat kelakuan mereka berdua. <span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Anak-anak, enak tidak ketupat buatan etek?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Wah, etek ini adalah ketupat yang paling enak sedunia, tiada tandingannya bahkan kehebatan ibuku memasak masih jauh dibandingkan dengan etek. Aswin memang beruntung sekali bisa makan enak setiap hari, aku jadi iri.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Hehehe… jangan irilah, kalau kamu suka bisa saja datang ke sini setiap hari untuk makan makanan buatan etekku ini yang lamak nian.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Siti tersenyum mendengar celoteh kedua anak kecil ini, dia senang sekali mereka menyukai masakannya dan dia juga tahu Aswin bukan anak yang pelit terhadap teman-temannya, semua yang dia rasa enak pasti dia bagi ke teman-temannya atau orang-orang yang dia sayangi. Dan sepertinya semua orang yang ada di nagari ini juga seperti itu padanya, semua makanan enak pasti ada saja yang mengantar buat Aswin jika dia menginginkannya. Untung saja anak itu tahu diri dan tidak pernah menyalahgunakan kesayangan orang padanya walau tetap saja kenakalannya tidak bisa ditahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tiba-tiba langit yang tadinya cerah dan terang benderang sekarang menjadi gelap dan mendung, patuih (petir) menyambar-nyambar dengan garangnya, di kejauhan seperti terdengar suara dengungan yang sangat kuat sekali. Udara langsung berubah dingin sekali, di luar terdengar teriakan orang-orang untuk segera membereskan pekerjaan karena hujan akan menjelang. Tapi ada keanehan dengan keadaan ini, cuaca mendung ini hanya menggantung di daerah sekeliling nagari tapi begitu lepas dari pinggiran nagari cuaca tetap terang benderang seperti semula.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mula-mula orang tidak menyadari hal ini karena sedang sibuk berlarian dan berteriak untuk segera membereskan pekerjaan sebelum hujan, tapi orang-orang yang tinggal agak di pinggiran negeri mulai menyadarinya karena mereka merasa sebagian tempat mereka berlangitkan mendung gelap sekali sedangkan sebagian lagi terang dengan sinaran matahari yang terik sekali. Sementara mereka terbengong-bengong melihat keanehan ini, mendadak mereka melihat ada segumpalan kabut tipis sekali yang melesat cepat ke arah kampung, yang datang entah dari mana.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kabut ini bergerak sangat cepat sekali, bahkan mereka sudah tidak bisa melihatnya lagi, mereka berpikir apakah tadi itu hanya ilusi saja. Tapi sebenarnya apa yang mereka lihat tadi benar adanya, itu adalah kabut pembunuh kiriman dari seorang dukun santet yang hebat sekali yang berasal dari bagian paling Utara pulau Andalas ini. Dukun ini bernama Sibayak Langu merupakan dukun hitam yang sangat sadis dan kejam sekali, dengan uang emas semua bisa diselesaikannya dengan tuntas. Selain itu dukun sesat ini juga terkenal kesukaannya pada perempuan tidak perduli siapa dia kalau dia sudah suka tidak ada yang lolos dari cengkramannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Banyak tokoh-tokoh persilatan golongon putih yang menjajal ketinggian ilmunya tapi banyak berakhir dengan kematian. Dukun ini bertempat tinggal di Gunung Sibayak, tempat ini hutan belantara yang sangat mengerikan sekali jarang manusia yang mau ke sana kalau tidak ingin sesuatu darinya. Salah satu orang yang minta bantuannya adalah Garang Simanungkalit yang merupakan ayah dari Ranting Simanungkalit, musuh besar dari Manik Siahaan. Orang tua itu tahu anaknya telah berlaku kelewatan dengan membunuh isteri serta anak Manik, karena tidak rela wanita itu bersuamikan orang lain selain dirinya. Dan beliau juga mengetahui bahwa anaknya bukanlah tandingan dari pria perkasa itu, bahkan dia sendiri yang terkenal ilmunyapun tidak bisa menandingi Manik.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sebagai orang tua yang menyayangi anaknya, dia berusaha melindungi semua perbuatan anaknya, karena memang di tanah Batak, anak laki-laki sangat dihargai bak pangeran walaupun anak tersebut tidak memiliki sifat yang baik. Ketika Manik mengetahui bahwa Ranting membunuh anak isterinya, maka mulai saat itu kehidupan keluarga mereka tidak ada kententraman lagi, banyak orang-orang hebat yang diperkerjakan untuk menahan serangan dari pria yang sudah gelap mata itu, tapi tiada satu jua yang bisa menahannya. Terakhir karena takut anaknya menemui ajal maka Garang Simanungkalit menyuruh anaknya pergi ke barat dari Pulau Andalas ini untuk tinggal bersama tulangnya yang menikah dengan orang Minang yang juga merupakan tokoh terkenal di sana yaitu Datuak Runduang Alam.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan berbekal uang emas dan surat dari sang ayah serta didampingi orang berkepandaian tinggi yang dipilih ayahnya, Ranting Simanungkalit berangkat segera menuju ke tempat bibinya. Sayang sekali maksud hatinya tersebut sampai juga di telinga Manik, segera pria muda itu memburu musuhnya itu ke ranah Minang, Garang yang mendengar hal ini menjadi cemas dan ketakutan sekali anaknya bisa menemui ajal di tangan Manik. Dia berusaha mencari berita dari teman-temannya siapa pembunuh bayaran yang paling hebat untuk melakukan pembunuhan terhadap musuh anaknya itu, akhirnya setelah hampir 2 bulan dari saat keberangkatan anaknya, dia mendengar tentang dukun santet, Sibayak Langu ini. Dengan susah payah selama hampir sebulan dia mencari dukun ini akhirnya menemukannya, dengan uang emas sebanyak 10 keping, terjadilah kesepakatan pembunuhan terhadap Manik Siahaan, musuh anaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dukun sesat ini senang sekali menerima 10 keping uang emas dari Garang Simanungkalit, segera dia memerintahkan kedua muridnya turun gunung untuk membunuh Manik. Berbekal cermin Bala Sibayak, kedua murid tersebut mempelajari semua gerak gerik pria muda itu, mereka mengetahui bahwa pemuda ini bukan lawan yang enteng karena mempunyai ilmu kebatinan tingkat tinggi dan binatang peliharaan makhluk halus yang diwariskan oleh leluhurnya. Sementara mereka akan tinggal di rumah keluarga Simanungkalit untuk lebih leluasa melakukan pekerjaan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Pas hari itu mereka melihat di cermin Bala, Ranting bersama paman dan teman pamannya dapat dikejar oleh Manik dan terlibat perkelahian. Langsung murid tertua membantu Ranting dengan ilmu hitam mereka, Tenaga Setan Menguak Neraka tingkat tiga, yaitu sebuah ilmu jarak jauh yang disalurkan kepada yang dituju untuk menambah tenaga dalam dan menambah ilmu silatnya. Dan murid keduanya menyalurkan ilmu Penyirap Roh melalui kedua mata Ranting agar lawan tidak bisa bergerak karena rohnya sudah disirap sehingga mudah sekali untuk dibunuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sayang sekali yang dihadapi mereka adalah seorang pria hebat didikan orang yang dijuluki setengah dewa oleh masyarakat persilatan daerah Batak sana, yaitu Kakek Penghisap Darah, sebuah julukan yang seram sekali padahal kakek ini dari golongan putih tetapi memang ilmunya pamungkasnya ganas sekali, Ilmu Aliran Darah Dewa. Ilmu ini dimainkan dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk cakar yang mengincar leher korban, sehingga luka yang dihasilkan seperti luka akibat gigitan drakula, yang hebatnya darah yang keluar dari luka itu mengalir dengan derasnya seperti ada dorongan dari tubuh si korban untuk memompa keluar semua darah yang ada di tubuhnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dan tidak seorangpun dapat membendung keluarnya darah tersebut walau dibantu dengan ilmu totokan untuk menghentikan aliran darah tersebut tetap saja tidak bisa berhenti. Selama ini tidak ada seorangpun dari lawan si kakek yang dapat diselamatkan sekali sudah kena ilmu tersebut walaupun sudah memanggil tabib yang paling hebat sekalipun. Hanya kakek ini saja yang bisa menyembuhkan orang yang kena luka ini, dengan ilmu Totokan Pengikat Nadi, yang juga merupakan ilmu yang hebat sekali di mana seluruh aliran nadi di tubuh yang bersangkutan akan membeku bila kena totokan ini dan tidak ada seorangpun juga yang bisa membebaskan dirinya dari totokan ini, kecuali dibebaskan oleh orang yang menggunakan ilmu ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kedua ilmu ini sudah diwariskan kepada murid kesayangannya Manik Siahaan, yang sudah menguasai kedua ilmu ini dengan baik sekali walau masih belum sempurna, tinggal dilatih terus menerus agar semakin sempurna penguasaannya terhadap ilmu ini. Bahkan berkat bakat dan kecerdikannya, Manik berusaha mengembangkan ilmu ini dengan menggabungkan menjadi sebuah ilmu yang lebih hebat lagi. Dan dia sedang dalam tahap pengujian akan penggabungan kedua ilmu ini, maka dapat dibayangkan kalau ilmu tersebut berhasil diyakininya, dia akan masuk ke jajaran tokoh persilatan nomor satu yang susah dicari tandingannya, bisa disejajarkan dengan kehebatan gurunya sendiri. Kakek Penghisap Darah menyadari kehebatan muridnya, maka sedari kecil pria ini sudah dididik dengan keras sekali akan kejujuran, kerendahan hati dan kebaikan agar tidak tersesat jalan hidupnya kelak. Karena dia merupakan musuh yang berbahaya sekali bagi golongan putih jika dia benar-benar sesat jalan hidupnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ditambah lagi dia mendapatkan warisan hebat dari keluarganya, benar-benar seorang lawan tangguh. Jadi mereka tidak tanggung-tanggung dalam memberikan bantuan kepada Ranting Simanungkalit.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kejadian ini bermula saat Ranting Simanungkalit jatuh cinta kepada seorang dara jelita yang bernama Mega Sagala, diam-diam dalam hati dia ingin memiliki bunga jelita ini, tapi sayang sang dara sudah mempunyai pilihan hati sendiri. Segala upaya dia lakukan untuk merebut sang dara dari tangan kekasihnya, tapi apa lacur dara tersebut tidak bergeming dari pilihan hatinya. Ranting yang merupakan anak tunggal dari kepala daerah dan terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya tidak bisa dengan mudahnya menyingkirkan lawan asmaranya yang sudah terkenal akan kehebatan ilmunya dan merupakan keturunan keluarga terpandang seperti yang dilakukannya pada musuhnya yang lain. Bahkan ayahnya yang mempunyai jabatan penting dalam pemerintahan juga tidak berani bertindak seenaknya terhadap keluarga Manik Siahaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Hal ini sangat mengesalkan hatinya dan membuat dia gelap mata ketika mendengar sang pujaan akan menikah. Dia merencanakan akan menculik dara itu dan memaksanya menjadi isterinya kalau perlu memperkosanya sehingga dara itu akan terpaksa menikah dengannya. Ketika dia melaksanakan niatnya itu dan hampir berhasil tiba-tiba dia dihadang oleh kekasih dara itu yaitu Manik Siahaan, terjadilah perkelahian hebat antara Manik dengan Ranting yang dibantu oleh orang-orang bayarannya. Rencana ini gagal, Ranting pulang dengan tubuh luka-luka akibat pukulan Manik dan membawa serta dendam mendalam terhadap Manik dan Mega.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dia berusaha memperdalam ilmunya dengan berguru kepada seorang tokoh sesat terkenal yang bernama Iblis Muka Seribu yang tinggal di salah satu pulau yang ada di lautan Indonesia. Selama 5 tahun dia berguru, saat dia kembali dia mendengar kabar dara yang dicintainya itu sudah menikah dan mempunyai anak dari musuhnya. Dendam semakin membara sehingga membutakan mata hatinya untuk merelakan Mega menjadi milik Manik, kembali dia merencanakan untuk membalas dendamnya kepada keluarga kecil Manik Siahaan itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Saat yang ditunggu akhirnya datangnya juga ketika Manik dipanggil oleh kakek buyutnya ke Mandailing, dia tahu dibutuhkan waktu cukup lama untuk Manik kembali ke daerah mereka, Balige. Manik sendiri tidak mengetahui bahwa pelukan dan ciuman yang diberikan kepada isteri dan anaknya sebelum dia berangkat merupakan yang terakhir kalinya. Isteri dan anaknya dititip di rumah mertuanya karena keluarganya semua berangkat menuju ke Mandailing untuk memenuhi panggilan sesepuh keluarga mereka itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tiga hari setelah kepergian Manik, Ranting menyatroni rumah keluarga Mega untuk meminta dengan paksa agar Mega mau menjadi isterinya dan meninggalkan Manik. Keluarga Mega menentang keras tindakan Ranting ini, akibatnya terjadi perang mulut yang berakhir dengan pembantaian yang dilakukan Ranting kepada keluarga Mega dan anak Manik. Sedangkan Mega dibawa lari olehnya, Mega yang tidak kuat menahan penderitaan batinnya berteriak-teriak seperti orang gila, Tombak yang ingin menghentikan teriakan-teriakan Mega mencekik lehernya dengan tujuan sebenarnya hanya menakut-nakuti saja tapi yang terjadi malahan Mega meninggal akibat cekikan Tombak yang terlalu kuat.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ranting menjadi ketakutan dengan perestiwa ini, cepat dia balik ke rumahnya dan meminta ayahnya menyelesaikan masalah yang sudah ditimbulkannya. Segera sang ayah menyuruh orang-orang kepercayaannya membersihkan bukti-bukti kesalahan Ranting dengan cara mereka membakar rumah keluarga Mega untuk menghapus jejak dan membunuh 3 orang saksi mata yang melihat kejadian di rumah Mega. Dikarenakan keluarga Mega tinggal di pinggiran kampung jauh dari pusat kampong maka tidak banyak orang yang tahu kejadian sebenarnya. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga, ini yang terjadi pada Ranting, dia tidak menyangka ada 1 sanksi penting yang lolos dari pembantaian itu yaitu pengasuh anak Manik yang kebetulan saat kejadian sedang buang hajat di kali yang tidak jauh dari rumah.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Saat dia kembali, dia masih sempat melihat Ranting membanting anak asuhnya lalu menarik majikannya dengan paksa keluar rumah, saking ketakutannya dia pingsan melihat kejadian itu. Ini yang menyelamatkan dia dari ancaman kematian, ketika dia siuman dia melihat rumah orang tua majikannya sedang dilalap di jago merah dengan hebatnya. Sang pengasuh setia ini hancur hatinya, dengan berbekal uang dan pakaian yang ada di tubuhnya, dia menyusul majikan laki-lakinya ke Mandailing karena dia tahu kalau dia masuk ke kampung mereka maka orang suruhan dari keluarga Simanungkalit akan membunuhnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sementara itu Manik dan keluarganya telah tiba di rumah leluhur pihak ibunya, dalam perjalanan menuju ke Mandailing beberapa kali perasaan tidak enak mengganggu perasaan Manik, ada dorongan dalam dirinya untuk kembali pulang melihat isteri dan anaknya. Tapi setiap kali dia mengungkapkan masalah ini kedua orang tua dan saudara-saudaranya langsung menasihati panjang lebar mengenai pentingnya memenuhi panggilan sang sesepuh itu. Manik yang tidak ingin ribut dengan keluarganya akhirnya tetap berangkat walau tetap dihantui perasaan tidak enak yang mengganggu hatinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dalam tempo 4 hari dengan menunggang kuda, mereka sekeluarga sampai di Mandailing, dan bertemu dengan sanak saudara yang sudah sampai terlebih dahulu. Malam itu diadakan pesta syukuran antar keluarga dengan menyajikan bermacam-macam makanan khas orang Batak, dan terdengar juga suara-suara indah diiringi oleh alat musik yang menyertai kemeriahan suasana pesta itu. Tapi di balik kemeriahan suasana, ada seseorang yang gundah gulana, hatinya risau, ini membuat dia murung<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> dan tidak bisa ikut bergembira pada pesta itu. Oleh karenanya sesudah makan, dia langsung masuk kamar dan beristirahat, jauh dalam hati sebenarnya dia males sekali untuk pergi jauh meninggalkan anak dan isterinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Manik datang ke rumah besar keluarga Siregar benar-benar karena ingin memenuhi permintaan ibunya saja, tidak ada pemikiran lain dan sedikitpun tidak terbesit keinginan untuk mendapatkan warisan yang menjadi dasar pemanggilan sang kakek buyut kepada keluarga besarnya. karena dia sadar warisan itu hanya diberikan kepada pembawa marga Siregar, sedangkan dia menggunakan marga Siahaan. Menurut adat istiadat turun menurun yang berlaku seharusnya warisan ini diberikan kepada cucu laki-laki dan cucu<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> buyut laki-laki langsung yang membawa nama marga keluarga, Siregar yang merupakan marga kakek buyut Manik dari pihak ibu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ketika itu kakek buyut Siregar merasa dirinya menjelang ajal, maka beliau mengumpulkan semua keluarganya untuk mendengar pesan terakhirnya dan memberikan warisan leluhur kepada orang pilihan. Setelah kedatangan keluarga Manik, maka sudah lengkaplah keluarga garis keturunan sang kakek buyut ini. Dua hari sesudah kedatangan Manik di rumah besar itu, sang kakek memanggil semua keluarga laki-lakinya untuk berkumpul di ruang tengah, sedangkan yang perempuan tidak diperkenankan mendekati ruang tengah tersebut, jadi mereka semua hanya boleh di kamar atau di dapur saja. Ternyata ada sekitar 20 orang terkumpul di ruangan leluhur keluarga Siregar, bersama mereka juga ada 5 orang sesepuh keluarga dan 5 orang teman lama keluarga yang dijadikan saksi agar tidak ada yang merasa dirugikan dengan ketidakadilan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Manik yang perasaan hatinya sedang tidak enak, merasa tidak bergairah untuk ikut-ikutan berkumpul, ingin rasanya dia segera pulang menemui anak dan isterinya. Ibunya yang melihat hal ini langsung menegur dia agar segera ke ruang tengah supaya urusan di sini bisa cepat beres dan dia bisa pulang segera. Mendengar perkataan ibunya, Manik buru-buru ke ruang tengah. Ketika dia sampai di ruang tengah dia melihat semua orang berkumpul dengan antusias sekali, suara dan tawa bergema dengan enaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Setelah melihat semuanya sudah berkumpul maka mulailah sang sesepuh membuka pembicaraan dengan menyampaikan alasan kenapa mereka berkumpul hari ini adalah untuk menurunkan warisan leluhur kepada pemilik barunya dengan upacara adat yang sudah ditentukan. Sebelum dimulai upacara penyerahan warisan itu, Datuk Kumis Putih menyampaikan beberapa pesan penting dan pembagian tugas kepada keluarga yang hadir.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ada satu perkataan penting mengenai warisan leluhur yang menjadi perhatian semua orang bahwa ilmu Penghisap Raga Mematikan Langkah hanya bisa didapat setelah makhluk halus yang berwujud elang penjaga roh memilih dan menyatu dengan tuannya yang baru. Jadi ilmu Penghisap raga mematikan langkah merupakan satu kesatuan dengan elang penjaga roh, tidak bisa dipisahkan. Semakin kecil harapan mereka untuk mendapatkan salah satu dari warisan itu, beliau juga meminta kepada yang tidak terpilih untuk tidak kecewa dan berusaha merebut warisan itu dengan membunuh pemilik barunya karena itu tidak ada gunanya. Warisan itu tidak dapat seenaknya saja dirampas dari pemiliknya, jika pemiliknya dalam keadaan sangat berbahaya sekali kedua warisan ini akan melindungi tuannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Warisan ini telah membuktikan bahwa siapapun pemiliknya akan termasuk jajaran tokoh utama di dunia persilatan Pulau Andalas ini dan jarang ada yang bisa menandinginya. Siapa yang tidak pernah mendengar nama Datuk Kumis Putih yang merupakan julukan kakek buyut Siregar, apalagi beliau sedari muda senang bertualang sampai ke nagari seberang kerajaan Melayu dan tanah Jawa, sehingga namanya semakin terkenal sebagai tokoh pilih tanding dalam menumpas kejahatan dan menegakkan kebenaran. Bahkan sempat beliau menjadi pimpin tokoh persilatan di tanah Batak ini selama hampir 1 dekade sampai dia menyerahkan jabatannya pada temannya, si Tongkat Penghancur Tulang, yang hanya menjabat sebentar saja lalu dipaksa bubar oleh tokoh2 persilatan lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Oleh karena itu diantara mereka sangat mengharapkan mendapat warisan ini berangan-angan akan menjadi pemimpin dunia persilatan tidak hanya di sini tapi di seluruh Pulau Andalas. Bahkan ada yang diam-diam mempersiapkan diri untuk merebut warisan tersebut jika dia tidak mendapatkannya. Dan seperti yang telah sama-sama mereka ketahui juga warisan ini akan memilih sendiri tuannya yang baru dan itu tidak bisa mereka rubah sendiri sesuai dengan kemauan mereka. Tapi yang namanya manusia selalu saja ingin mencoba meraih apapun yang diinginkannya menggunakan segala cara dengan harapan bisa terjadi sesuai keinginan hati mereka, walaupun hal ini seringkali gagal.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Setelah sang kakek memberikan nasihat dan pesan yang beliau rasa penting untuk disampaikan, maka dimulailah upacara penyerahan warisan leluhur itu. Manik yang sedang gelisah memikirkan anak dan isterinya tidak konsentrasi dengan apa yang sedang terjadi malah sibuk memikirkan kenapa perasaan tidak enak selalu menggelayuti hatinya. Sesuai dengan adat yang berlaku dipilihlah 3 orang yang dianggap paling baik ilmu silat dan budi pekertinya diantara yang lain. Karena calon harus melalui 3 tahap ujian sebelum dia mendapatkan warisan tersebut, ujian pertama mengenai budi pekerti, ujian kedua kemampuan ilmu silatnya, dan ujian terakhir yang paling berat adalah ujian kebatinan. Supaya pilihan ini adil maka diserahkan kepada pendengar untuk memilih 3 orang yang dirasa memang pantas mendapatkan warisan tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dari sekian banyak orang terpilihlah 2 orang yang mereka anggap pantas menerima warisan tersebut, kebetulan salah satunya bernama Sutan Siregar yang merupakan murid kesayangan langsung dari Datuk Kumis Putih. Dalam hati Datuk Kumis Putih senang juga muridnya terpilih, tapi karena calon kurang 1 orang lagi, maka mereka kembali diharuskan memilih. Terjadi keributan yang lebih heboh dibandingkan ketika memilih kedua orang pertama. Karena masing-masing mengganggap diri paling hebat, hanya ada satu orang yang tidak tertarik dengan apa yang terjadi matanya terlihat merawang memandang kosong ke depan. Keadaan ini disadari oleh sang kakek, beliau tahu cucu buyut luarnya yang satu ini sebenarnya paling hebat dibandingkan dengan yang lain dari segi ilmu maupun budi perkertinya tapi sayang dia hanya cucu luar jadi tidak bisa dipilih.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Beliau merasa sayang sekali kenapa orang sehebat ini tidak mempunyai hak untuk ikut pemilihan ahli waris. Walaupun beliau tidak terlalu mengenal kepribadian cucu luarnya terlalu jauh dan masih mengharapkan agar cucu dalamnya yang dapat warisan itu, hati kecil beliau tetap menginginkan cucu luarnya itu mendapat hak juga untuk dipilih. Sambil merenung memikirkan bagaimana caranya agar bisa memasukan cucu luarnya ini, beliau memperhatikan sekelilingnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Terlihat semua orang sibuk bicara saling membanggakan diri, bahkan beliau dapat merasakan diantara mereka ada yang membentuk kelompok agar bisa mendukung pencalonan dirinya. Keributan ini masih belum selesai juga sekarang malahan diantara mereka terbagi 2 kelompok yang masing-masing berkeras dengan orang pilihannya melihat hal ini sang kakek segera turun bicara. Semakin mantap hatinya untuk memilih cucu luarnya<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> itu untuk menjadi salah satu calon.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan mengangkat tangannya dan suaranya yang lantang beliau menyuruh diam mereka semua, dikarenakan suara yang keluar diiringi dengan tenaga dalam maka semua orang merasakan telinganya berdengung keras dan bagi ilmunya yang rendah langsung merasa pusing kepalanya. Dan ketika sang kakek melirik ke arah cucu buyutnya yang sedang bengong itu, beliau tersirap hatinya karena sang cucu seperti tidak merasakan apa-apa bahkan masih dalam posisi bengongnya seperti tidak merasakan hentakan suara ke gendang telinganya. Kini beliau sadar bahwa cucunya yang satu ini tidak kalah dengan cucu kesayangannya dalam hal tenaga dalam. Beliau memang mendengar kabar bahwa cucunya ini menjadi murid tunggal sahabat lamanya, Kakek Penghisap Darah, tapi beliau tidak menyangka tingkatan cucunya sudah begitu tingginya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Karena keseharian cucunya tidak terlihat bahwa dia mempunyai ilmu silat tinggi, cendrung terlihat seperti orang biasa saja, tidak pernah dia membanggakan dirinya atau menggunakan ilmunya untuk memamerkan kehebatannya. Baru kali ini sang kakek menyadari bahwa cucunya yang satu ini mungkin orang istimewa juga, selama ini dia lebih memperhatikan cucu dalamnya saja yang membawa marganya. Semakin penasaran hatinya ingin tahu sampai di mana kehebatan hasil didikan sahabat lamanya itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Suasana menjadi hening setelah suara menggelegar sang kakek untuk meminta mereka diam, semua mata memandang sang kakek.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Cucuku semua, pemilihan ini menyebabkan keributan diantara kalian yang seharusnya tidak perlu terjadi jika seandainya kalian sadar dan mawas diri. Kerendahan hati sangat diperlukan diantara kalian agar orang lain bisa meninggikan diri kalian, tapi ketinggian hati hanya mengakibatkan kehancuran bagi sang punya diri.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Secara tidak langsung sang kakek menyindir semua cucunya yang sudah berlagak paling hebat sejagat raya, sekarang beliau menyadari banyak diantara mereka yang tidak mempunyai sifat yang baik malahan ada beberapa yang cendrung mempunyai sifat yang jahat. Mereka yang merasa tersindir langsung dengan perkataan sang kakek langsung menundukan kepalanya, tidak berani lagi banyak bicara.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Bagus, sekarang kalian menyadari hal itu. Setelah aku melihat dan mempertimbangkan beberapa hari ini, aku melihat ada 1 orang diantara kalian yang sebenarnya memiliki ilmu silat dan tenaga dalam yang hebat tapi tidak pernah menonjolkan diri sehingga tidak banyak diantara kita yang tahu kehebatannya. Mungkin pilihan aku pada dia kali ini akan menimbulkan keributan diantara kalian dikarenakan tidak sesuai dengan adat yang berlaku selama ini,” sengaja sang kakek diam untuk melihat reaksi para cucunya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Setelah melihat wajah-wajah penasaran dan kebingungan yang memandang dirinya, beliau melanjutkan ucapannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Beberapa waktu yang lalu aku pernah membaca catatan-catatan lama dari leluhur kita mengenai upacara penyerahan warisan ini, aku baru tahu bahwa warisan ini dulunya adalah milik marga lain bukan marga Siregar seperti yang kita ketahui selama ini. Kalian bisa melihat dan membaca hal ini tercatat dalam daun lontar yang ada di ruangan tempat penyimpan barang-barang antik keluarga kita.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Ompung, kalau boleh aku bertanya apa yang ompung maksudkan dari tadi, pusing kepala aku mendengarkan perkataan ompung,”kata salah seorang cucu dalamnya yang bernama Sirdar, paman kandung dari Sutan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sirdar, kau semakin tua semakin tidak sabaran, belajarlah sabar, malu sama usia berkelakuan seperti anak muda yang tidak sabaran,” tegur sang kakek.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mendengar teguran ini Sirdar langsung terdiam dan tertunduk malu, karena dia sadar diantara yang lain dia yang paling bodoh jadi dengan pertanyaannya itu secara tidak langsung dia menyatakan bahwa dia adalah lekaki kasar yang bodoh. Yang lain juga ikut-ikutan diam dan tidak berani bertanya lagi, takut kena semprotan tajam dari ompung mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sang kakek melanjutkan pembicaraannya,” kalian dari tadi meributkan siapa yang paling berhak menjadi calon pewaris, dan kalian sudah sepakat untuk memilih Sutan dan Tombak sebagai calon. Sekarang tinggal 1 orang lagi apa kalian sudah mendapatkan orang yang sehebat calon sebelumnya?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kembali keributan terjadi saling menonjolkan pilihan mereka, tapi dalam hati mereka semua tahu tidak ada calon lain yang sehebat Sutan dan Tombak. Jadi sebenarnya siapapun yang terpilih pasti akan kalah jika mengikuti ujian yang diberikan. Diantara mereka yang pintar dan cerdas langsung menyadari makna pernyataan dan pertanyaan sang kakek itu, dari tadi mereka ributkan memilih calon yang membawa marga tapi ketika menyimak kembali perkataan sang kakek, mereka merasa sang kakek memberikan kesempatan kepada yang tidak membawa nama marga. Ada enam orang yang tidak membawa nama marga sang kakek termasuk Manik, dan mereka sebenarnya tidak kalah dengan saudara-saudara yang lain hanya karena mereka dilahirkan dari ayah yang membawa marga sendiri maka mereka secara tidak langsung tersisihkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tapi setelah mendengarkan perkataan sang kakek, timbul harapan di hati mereka, siapa tahu mereka bisa mewarisi ilmu leluhur itu. Sedangkan yang membawa marga mulai menyadari adanya saingan tidak langsung dengan pernyataan sang kakek, dan mulai mereka was-was akan hilangnya kesempatan mereka. Karena sedikit banyak mereka tahu diantara 6 orang itu ada 1 saudara mereka yang memang hebat setingkat dengan Sutan dan Tombak yaitu Pane Aritonang dari Muara Nauli, merupakan murid kesayangan dari Raja Pedang Naga yang sudah terkenal kelihayannya hampir menyamai kakek mereka. Dan Pane sendiri mendapat julukan Pedang Naga Kecil dari dunia persilatan di mana dia sudah menebar banyak bibit kebaikan dan menumpas kejahatan sehingga namanya semakin harum saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dibandingkan Sutan dan Tombak sebenarnya Pane jauh lebih terkenal di kalangan dunia persilatan jauh sebelum mereka berdua memasukinya. Sekarang Pane berusia hampir 37 tahun, yang berarti lebih matang pengalamannya dibandingkan dengan Sutan yang baru berusia 26 tahun dan Tombak yang berusia 34 tahun. Jadi wajarlah bila Pane diikutkan sebagai calon dengan segudang pengalaman dan namanya yang harum di dunia persilatan. Ini membuat cemas para cucu yang membawa nama marga, mereka kuatir kedua orang calon sebelumnya bisa dikalahkan sehingga warisan itu akan keluar dari marga mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Diam-diam sebenarnya Pane senang sekali dengan pernyataan sang kakek, tapi di permukaan wajahnya hal itu tidak bisa terlihat, dia dengan tenang memandang sekitarnya dan sepertinya tidak memperdulikan pandangan mata beberapa orang yang ditujukan kepadanya. Dalam hati dia sudah merasa yakin bahwa dia bakalan terpilih sebagai salah satu dari calon itu, sementara pelan-pelan suara ribut itu mereda ketika semua mulai menyadari maksud dari pernyataan dan pertanyaan sang kakek. Satu hal yang patut sangat dibanggakan dari orang Batak adalah mereka tidak malu mengakui kehebatan orang lain setelah mereka benar-benar merasa dikalahkan, dan hal ini terjadi juga dalam ruangan, perlahan-lahan mereka mulai sepertinya menyadari bahwa ada orang hebat diantara mereka yang harus diperhitungkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Walau dalam hati tidak setuju tapi mereka menyadari bahwa hal ini tidak terhindarkan, jadi mereka hanya ambil sikap diam saja dan menyerahkan semua keputusan ke tangan sang kakek. Mata awas sang kakek melihat mereka semua melirik ke arah Pane dan tidak satu juga yang melirik ke cucu incarannya itu. Karena yang bersangkutan masih asyik saja dengan pikirannya sendiri tanpa menghiraukan keributan yang terjadi di sekitarnya. Sang kakek juga tahu pilihan mereka terhadap Pane sudah menunjukan kualitas orang itu, tapi beliau tetap menginginkan yang satu itu terpilih. Beliau ingin membukakan mata dan hati yang lain akan makna kerendahan hati dan kesederhaan sikap.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Hmmmm sekarang kalian sudah tenang jadi berarti kalian sudah tahu apa yang dari tadi aku hendak sampaikan, bagaimana menurut kalian?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Lintar yang merupakan cucu paling tua yang ada di ruangan ini mewakili saudara-saudaranya untuk menjawab sang kakek,”Ompung, kami sadar sebagai cucu dalam ompung sudah mengecewakan, tidak bisa mensejajarkan diri dengan Sutan dan Tombak. Oleh karena itu ompung, kami menyerahkan semua keputusan ini ke tangan Ompung, apalagi ompung bicara itu ada dasarnya jadi kami tidak bisa berkata lain, semua terserah Ompung.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Kalian yakin dengan keputusan ini dan tidak akan menyesalinya di kemudian hari? Aku ingin sekarang kita terbuka untuk membicarakannya agar semua bisa puas dengan keputusanku ini.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kembali Lintar yang menjawab setelah terlebih dahulu memandang wajah semua yang ada di ruangan itu,”Ompung, kami yakin dengan hal ini karena memang ini salah kami yang tidak bisa menjadi lebih baik, dan seperti yang ompung ajarkan kepada kami, untuk berani dan secara jantan mengakui kehebatan orang lain tanpa menyalahkan siapa-siapa. Dan kini kami sebagai cucu orang nomor satu di dunia persilatan tanah Batak ini harus jujur dan jantan mengakui bahwa saudara kami, Pane memang merupakan orang pilihan yang istimewa sama dengan Sutan dan Tombak.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Jadi kalian sepakat untuk memilih Pane menjadi calon ketiga?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Serentak mereka semua menjawab tegas,”Iya, ompung!”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Baguslah kalau begitu, tidak sia-sia aku masih hidup sampai hari ini untuk melihat sikap jantan semua cucuku, aku bangga sekali, tidak menyesal aku pergi dari dunia ini karena sudah berhasil mendidik kalian menjadi seorang lelaki kebanggaan keluarga,” sahut sang kakek dengan terharu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Pane, bagaimana dengan dirimu? Apa kau siap untuk menghadapi ujian ini ?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Ompung, aku siap menghadapi ujian ini, dan berusaha tidak akan memalukan diriku sendiri dan membuat saudara yang lain menyesal memilih aku sebagai calon pewaris,” jawabnya perlahan namun tegas.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Pane berusaha menahan gejolak dirinya untuk berteriak dan melompat kegirangan, dia yakin bisa menangani kedua saudaranya itu agar bisa memenangkan ujian yang diberikan. Mereka semua tidak tahu apa yang berkecamuk di hati pemuda ini, tapi mata batin sang kakek bisa meraba isi hati sang cucu. Beliau masih tidak puas dengan pilihan mereka, tapi hendak dikata pilihan mereka ini memang yang terbaik dari yang ada di luar kedua calon lainnya. Semakin terpojok membuat sang kakek semakin berusaha mencari jalan keluar untuk “memaksa” cucu incarannya itu menjadi calon.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sang cucu dilihatnya masih tidak perduli dengan apa yang terjadi tapi sekarang sudah mulai kembali dari penjelahan alam pikirannya. Dengan tenang dan santai dia memandang sekelilingnya, matanya hanya menatap agak lama kepada Sutan, Tombak dan Pane sesudahnya dia ambil sikap diam saja memandang lurus ke depan ke arah jendela yang ada di samping belakang kepala sang kakek.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Baiklah, calon 3 orang sudah dipilih…” tiba-tiba sang kakek menghentikan pembicaraan dan dengan cepat tangannya menjentik ke arah depan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Terdengar teriakan,” Aduh…”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Semua mata memandang ke arah teriakan itu, terlihat Manik sedang mengusap-usap kedua kupingnya yang pedas kena jentikan tangan jarak jauh dari kakeknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Manik, mengapa kau melamun saja dari tadi, apa kau merasa hal ini tidak penting? Atau kau merasa paling hebat sehingga tidak menghendaki warisan dariku ini?” bentak Datuk Kumis Putih dengan keras sekali dan mata yang melotot marah kepada cucunya itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Manik yang mendapat serangan mendadak dan sekarang ditambah lagi dengan bentakan dari sang kakek, terkejut setengah mati, kebingungan dia<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> dengan situasi yang sekarang semua mata memandang dia dengan mencela. Tergagap dia berusaha menjawab pertanyaan sang kakek, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya karena masih terkejut setengah mati dan tangannya mengusap-usap telinganya yang sakit akibat jentikan sang kakek.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Keadaannya benar-benar lucu sekali, wajah memerah malu, mata yang terlihat cemas kebingungan, mulut megap-megap, dan kedua tangan sedang mengusap-usap telinganya yang memerah. Kalau tidak takut sang kakek tambah marah mau mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat Manik. Tapi tahu sang kakek sedang marah besar tiada satu juga yang berani menunjukan muka geli dan komentar atas kejadian ini. Sebenarnya Datuk Kumis Putih ada perasaan sedikit kesal juga terhadap cucunya ini, tapi dia senang juga karena dia tahu sang cucu mempunyai tenaga dalam yang bagus sekali. Dia mengetahuinya karena pada saat dia menjentikan tangannya, dia menyertakan sepertiga tenaga dalamnya, dia melihat sebenarnya sang cucu bisa saja mengelak dari serangannya itu tapi Manik madah saja terima.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Makanya telinganya terasa pedas dan berdenging, untung dia sempat menyalurkan tenaga dalam ke kupingnya untuk menghindari kehancuran akibat jentikan sang kakek. Diam-diam dia semakin mengagumi kakeknya yang hebat itu dan merasa bangga memiliki kakek seperti Datuk Kumis Putih.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Jawab Manik, apa kau merasa dirimu paling hebat sejagat raya sehingga kau tidak memperdulikan perkataanku?” bentak sang kakek.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Manik tahu dia harus menjawab cepat bentakan sang kakek, kalau tidak mau urusan tambah runyam. Cepat dia mengendalikan dirinya agar bisa dengan tenang menjawab kakeknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Maafkan aku, ompung. Tidak ada maksud dalam hati seperti yang ompung katakan, jadi jangan salah sangka. Aku tidak merasa diri paling hebat, ompung, bahkan aku kagum kepada saudara-saudara kita yang ternyata hebat-hebat semua,” katanya<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> dengan tulus.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Hmmm apa benar pemikiranmu seperti itu, jangan-jangan dalam hati kau meremehkan mereka, hanya karena aku yang bicara maka kau pura-pura rendah hati? Aku tidak percaya dengan semua omonganmu itu, oleh karena itu sebagai hukuman kau harus menjadi calon pewaris agar kau merasakan pahitnya ketiga ujian yang aku berikan,” kata sang kakek dengan tegas dan mata yang menatap Manik dengan dingin seperti merasa terhina dengan semua kelakuan cucunya itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Manik yang tidak menyangka akan dihukum seperti itu hanya bisa menganga mulutnya dan bengong seperti orang bodoh.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sedangkan yang lain karena mereka semua tidak tahu banyak tentang diri Manik, menyangka itu adalah cara sang kakek memberikan hukuman agar sang cucu dipermalukan karena telah membuat sang kakek marah. Banyak diantara mereka yang diam-diam dalam hati menyukuri hukuman yang diberikan sang kakek, mereka berpikir Manik akan menerima pelajarannya dengan sangat pahit sekali. Tapi hanya satu orang saja yang tahu kehebatan Manik sebenarnya, orang itu adalah Datuk Kumis Putih.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Jadi sekarang aku tetapkan 4 orang yang menjadi calon pewaris ilmu penyirap raga mematikan langkah dan elang penjaga roh. Kalian setuju?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Kami setuju!” teriak yang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tapi Manik yang merasa bersalah dengan semua ini berusaha berkata kepada kakeknya,”Ompung, aku tidak setuju dengan ini, kenapa ompung tidak menghukum aku dengan cara yang lain?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Apa maksudmu, anak nakal?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Ompung, ujian ini bukan untuk dibuat main-main, aku tahu aku bersalah dan memang pantas untuk dihukum. Aku bersedia dihukum tapi bukan dengan cara begini, lagian..…” belum selesai Manik berkata langsung dipotong sang kakek karena beliau kuatir maksud hatinya gagal.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Oooohhh… maksudmu kau takut menerima hukuman ini, kau takut malu karena gagal mengikuti ujian atau kau takut ketahuan bahwa kau itu hanya seorang pemuda yang tidak berguna? Malu aku mempunyai cucu yang pengecut seperti kau tidak berani menerima hukuman walau tahu diri bersalah.” kata sang kakek dengan tajam dan pandangan meremehkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Melihat hal itu kembali semua mata memandang Manik, tapi kali ini dengan tatapan menghina dan menantang jiwa kependekarannya. Panas juga hati Manik menerima semua ini, maksudnya baik tidak ingin mengganggu kelancaran jalannya upacara penyerahan warisan itu, dia rela mengganti hukuman itu dengan hukuman cambuk seperti yang selalu dilakukan orang tua kepada anaknya yang bersalah besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan emosi dia berkata,”Baik ompung, kalau memang hukuman ini yang harus aku jalani aku siap menerimanya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sang kakek senang sekali siasatnya berhasil menjebak semua orang untuk menerima maksud hatinya, tapi dia masih belum puas mengerjai cucunya itu, dia ingin sang cucu benar-benar mengerahkan tenaganya untuk menjalani “hukumannya” itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Hmmmm… apa kata-katamu bisa dipegang Manik ?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Pasti ompung, sekali laki-laki berucap seribu kudapun tidak akan mampu menariknya kembali,” tegas Manik berucap.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Baiklah, kalau kau bisa menyelesaikan ujian ini dengan baik dan sepenuh hatimu berusaha, maka aku akan memaafkan engkau. Tapi jika aku melihat kau tidak sungguh-sungguh menjalani ujian ini maka aku akan memutuskan tali kekeluargaan denganmu, bahkan ibumu tidak aku perkenankan untuk mengakui kau sebagai anaknya!”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Semua yang mendengar hal ini terkejut sekali berubah pucat muka mereka, semuanya merasa bahwa sang kakek tersinggung sekali sehingga marah besar kepada Manik seperti itu. Wajah Manik terlihat putih seperti mayat saking shock mendengar kata-kata sang kakek, dia benar-benar tidak menyangka kelakuannya menyebabkan kakek yang dihormatinya ini sangat marah sampai seperti itu padanya, semua kecemasan hati sebelum ini lenyap terganti dengan kekuatirannya menghadapi kemarahan sang kakek. Peluh membanjir keluar dari lubang pori-porinya, dadanya berdegub kencang, dia harus benar-benar menfokuskan dirinya untuk menghadapi “hukumannya”. Walau perasaannya masih memikirkan anak dan isteri tapi karena sekarang dia sudah mengeluarkan janji seperti itu ditambah lagi ancaman sang kakek, jadi benar-benar harus serius dan mengerahkan segala kemampuannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sang kakek yang berhasil membuat cucunya terpojok merasa gembira sekali, dia tahu manusia manapun yang bila dipojokan sampai sedemikian rupa akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk melawan keadaan. Tapi dia ingin membuat ujian yang diadakan berlangsung dengan hebat dan tidak akan terlupakan oleh semua orang karena itu dia juga berusaha memotivasi cucunya yang lain supaya mengerahkan segenap kemampuan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Dan kalian, Sutan, Tombak dan Pane, aku ingin kalian juga mengerahkan segala kemampuan kalian, jangan kalian berani kalah dari Manik. Dia pasti akan mengerahkan semua kemampuannya untuk melaksanakan hukumannya dengan baik. Kalian yang melakukan hal ini karena memang pilihan orang-orang yang mempercayai kalian buktikan kepada mereka bahwa kalianlah yang terbaik. Jangan buat aku kecewa dan malu jika Manik sampai menang, dia melakukan ini karena hukuman sedangkan kalian karena terpilih. Ingat itu baik-baik!” tegas Datuk Kumis Putih dengan garang.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ketiga calon yang lain segera berkobar dadanya mendengar perkataan sang kakek, mereka bertekat untuk memberikan yang terbaik dan tidak akan kalah terhadap Manik. Mereka merasa pasti bisa mengalahkan Manik yang tidak punya kelebihan apapun, mereka menganggap enteng Manik dan hanya memikirkan bagaimana mengalahkan salah satu diantara mereka saja. Mereka tidak tahu bahwa lawan terberat mereka sebenarnya adalah pemuda ini, yang selalu menyembunyikan kehebatan dirinya di mata orang lain sesuai pesan gurunya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Baik, ompung, kami pasti akan mengerahkan segenap kemampuan kami agar tidak mengecewakan ompung dan saudara yang lain!” sahut Sutan mewakili yang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dia senang sekali bahwa kali ini ujian yang dia berikan akan berlangsung dengan meriah sekali karena dia telah mendapatkan calon-calon yang hebat untuk membuktikan siapa yang pantas menerima warisan dari dirinya. Karena sudah saatnya makan siang, sang kakek membubarkan mereka semua untuk istirahat, besok dimulainya ujian dari pagi sampai malam dan berlangsung selama 2 hari. Jadi mereka harus siapkan diri mereka dengan baik supaya ujian besok bisa berlangsung dengan lancar.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Manik yang masih kebingungan dan kuatir dengan hukumannya tidak habis mengerti kenapa dia bisa tertimpa sial seperti ini. Dan saudara-saudaranya yang lain mengolok-olok dia dan orang tuanya memarahi karena kelakuan yang membuat sang sepuh marah besar. Walaupun hatinya masih resah dengan perasaan tidak enak memikirkan anak dan isterinya, tapi sebagai seorang laki-laki yang sudah mengeluarkan janjinya maka dia harus melakukannya dengan segenap kemampuannya. Dia sadar harus berkosentrasi penuh dan mempersiapkan dirinya diantaranya harus bersemedi, melatih gerak tangan dan kaki.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sementara semua menyerbu ruang makan, terlihat sang kakek belum beranjak dari tempat duduknya tadi dan beliau ditemani oleh salah seorang teman sejatinya sedari kecil, Benteng Simbolon. Mereka terlibat percakapan dengan serius sekali walau wajah mereka berdua terlihat selalu tersenyum.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Bang Kumis, aku tahu kau merencanakan sesuatu dengan pencalonan seperti tadi itu. Aku tahu sebenarnya kau tidak dalam kondisi ingin menghukum cucumu, jadi ceritakan padaku apa yang ada di benakmu itu dan jangan berdusta karena aku tahu siapa kau ini?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Benteng, kamu memang seperti cacing dalam perutku saja, tidak ada yang lolos dari pengamatan mata licikmu itu?” sahut Datuk Kumis Putih sambil tersenyum.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Karena aku merasa aneh saja, kau yang tidak pernah perduli pada banyak peradatan tiba-tiba bisa marah seperti itu mana mau putuskan hubungan keluarga lagi. Bisa terkencing-kencing takut cucu kau itu kalau dia sampai kalah, aku tahu kau mau tekan dia supaya keluarkan seluruh kemampuannya. Apa sedemikian hebatkah dirinya sehingga perlu kau melakukan semua ini agar dia bisa ikut ujian yang kau berikan ?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Kau tahu Benteng, cucuku yang satu itu murid kesayangan dari sahabat lamaku. Kau pernah dengar seorang tua yang dijuluki Kakek Penghisap Darah ?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Jangan kau katakan bahwa cucumu itu muridnya?” kata Benteng dengan tercengang.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Hahahaha… sekarang kau mengerti kenapa aku memaksa dia ikut ujian ini ? Kau tahu ini satu rahasia lagi yang mau kukatakan padamu, cucuku itu di dunia persilatan dijuluki Malaikat Penghisap Darah,” kata sang kakek dengan bangga.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Hah… dari mana kau tahu bahwa Malaikat Penghisap Darah itu adalah cucumu, selama ini tidak ada satupun orang yang pernah melihat wajah aslinya. Seluruh kepalanya ditutupi kain putih bahkan matanya saja ditutupi kain kasat, bagaimana kau tahu dia adalah pendekar pilih tanding itu?” kata Benteng bingung.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Memang aku tidak tahu pasti, tapi aku sangat yakin bahwa cucuku itulah Malaikat Penghisap Darah. Tadi aku sudah uji sedikit kemampuannya dan kau tahu dia lulus dengan baik. Kau lihat saja besok saat dia ujian kedua dan ketiga, baru kau sadar siapa cucuku itu sebenarnya,” kata sang kakek tersenyum senang.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Apa kau berharap dia yang akan menerima warisan darimu ? Bukannya itu malah melanggar aturan yang ada ? Bagaimana kau akan atasi hal ini ? Aku tahu kau bilang dasarnya dari sejarah yang tertulis di daun lontar yang kau punya, tapi apa itu bisa diterima oleh cucumu kelak?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Hehehe… Benteng, aku yakin beberapa dari cucuku sekarang pasti sedang pergi mencari daun lontar itu, untuk memastikan perkataanku tadi. Bagiku hal itu lebih baik lagi karena memang begitulah kenyataan yang tercatat di sejarah, dan aku yakin mereka tidak akan berani mencuri untuk menghapus kebenaran yang tertera di daun lontar itu.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Kenapa?”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Karena aku sudah meletakkan penjaga di ruangan itu dan penjaga khusus daun lontar, tidak sembarangan orang yang bisa mengalahkan para penjaga itu. Kalaupun kalah, maka aku akan segera tahu.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Tapi terlepas dari itu semua sebenarnya ujian yang aku laksanakan itu hanya sekedar melihat kemampuan para cucuku saja. Ujian yang benar-benar adalah ketika ilmu dan elang itu memilih sendiri tuannya, bahkan akupun tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika mereka sudah menetapkan majikan mereka yang baru.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Hmmm jadi begitu, yah kita lihat saja nanti bagaimana jadinya, mudah-mudahan semua bisa berjalan lancar.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Yah sudah, hayo kita makan, aku sudah lapar. Ah… aku tidak sabar lagi menunggu besok, pasti sangat menarik.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Maka berlalulah mereka ke ruangan makan, dan benar apa yang dikatakan sang kakek, beberapa dari cucunya pergi ke ruang antic belakang untuk mencari daun lontar itu. Mereka hanya bisa melihatnya dari luar lemari kaca, dan ketika ada yang hendak menyentuhnya, tangannya langsung kebakar, sehingga yang lain tidak ada yang berani menyentuhnya lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dan hari itu berlalu dengan berbagai hal yang berkecamuk di benak masing-masing orang, sedangkan yang hendak ujian besok mempersiapkan diri mereka agar bisa tampil dengan membanggakan.</p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aboutjuls.blog.com/2008/11/24/bab-ix-malaikat-penghisap-darah-jilid-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Part III Kesakitan Panah Asmara</title>
		<link>http://aboutjuls.blog.com/2008/09/02/part-iii-kesakitan-panah-asmara/</link>
		<comments>http://aboutjuls.blog.com/2008/09/02/part-iii-kesakitan-panah-asmara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 17:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sieklie</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Merasa sapaannya tidak diindahkan oleh sang tabib, Lukman mulai merasa kesal mungkin karena dia sudah lelah sekali jadi emosi tidak bisa dikontrol lagi. Tapi belum sempat dia mengeluarkan kata-kata kasar, dia merasakan punggungnya ditimpuk sesuatu, cepat dia menoleh ke arah datangnya timpukan. Terlihat Datuak Marindiang sedang berdiri menyender pada sebuah pohon besar sambil menyeringai memandang kepada Lukman. Pemuda ini tidak berani mengumbar emosinya kepada teman ayahnya ini karena dia tahu dia akan dapat masalah besar jika dia melakukan hal itu, tapi tetap dia memasang muka cemberut karena kesal sekali. <?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /?>
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Kalian ini benar-benar tidak sopan sekali, masak di depan sang penolong, kalian tidak turun dari kuda untuk menyapanya?” Di mana etiket tata krama yang telah diajarkan oleh orang tua kalian?” tegur Datuak Marindiang kepada mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Segera mereka menyadari kesalahan mereka, pantas saja sang tabib tidak mau menjawab pertanyaan tadi. Karena dalam adat kesopanan, jika orang berbicara di atas kuda dengan orang yang menginjak tanah maka kedudukan orang yang diatas kuda lebih tinggi derajatnya dari orang yang berdiri di tanah. Sedangkan tabib tersebut boleh dibilang mereka harus menghormatinya karena sudah melepaskan budi kepada mereka, jadi tidak sepantasnya mereka melakukan penyapaan dengan cara seperti itu. Buru-buru semua turun dari kuda dengan wajah memerah malu, terutama Lukman yang saking tergesa-gesanya tadi karena takut sang tabib menghilang lagi melakukan kesalahan seperti itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Setelah mereka semua turun dari kuda, semuanya merangkap kedua tangan di dada dan sambil membungkukkan badan memberi hormat kepada sang tabib yang masih saja asyik membersihkan wajah dan mulutnya dengan air.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Salam hormat dan kenal kami kepada anda, Dewi Tangan Dingin.” Kata Lukman mewakili teman-temannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Tidak terdengar sahutan apa-apa dari tabib tersebut, seakan-akan dia tidak menyadari kehadiran banyak orang di sekitarnya. Malah anehnya kuda Putih yang tadinya merumput, membalikan badannya menghadap mereka dan memberikan salam dengan menganggukan kepalanya secara anggun sekali ke arah mereka seakan membalas sapaan hormat mereka. Kebalikan dengan sang majikan yang masih asyik membasuh dirinya seakan dia tidak perduli dengan keadaan sekitarnya. Melihat hal ini rombongan Lukman mempunyai perasaan yang campur aduk antara takjub melihat kelakuan sang kuda itu dan kesal melihat tingkah majikannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Maafkan kami, tabib, jika kami tidak sopan tadi. Kini kami menyampaikan salam hormat kami kepada tabib dan kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada anda karena telah menolong kami selama ini. Perkenankanlah kami memperkenalkan diri kepada anda agar kelak kami tidak disangka sebagai orang yang tidak tahu budi dan terima kasih kepada orang yang telah menolong kami. Kami berjanji kami pasti akan membayar budi besar yang telah anda lepaskan kepada kami, karena kami mempunyai prinsip<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> tidak pernah berhutang apapun kepada siapapun tanpa kami bayar, begitu juga jika ada orang yang berhutang pada kami tidak akan pernah tidak akan kami tagih. Harap anda memakluminya.” Kata Malik terdengar tegas karena dia juga mulai merasa tidak nyaman melihat tabib tersebut menyepelekan kehadiran mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut sang tabib dan dia berbicara kepada kudanya dengan alunan suara yang begitu lembut mendayu,”Bening, aku selalu merasa heran melihat tingkah laku manusia. Selalu merasa ingin dihormati, ingin disanjung dan selalu ingin diingat budinya. Jika melihat ada orang yang tidak mengenal arti ketiga hal tersebut, mereka merasa penasaran selalu ingin tahu untuk mencari pembenaran diri. Manusia itu suka lupa bahwa apapun yang dilakukan di muka bumi ini selalu ada hukum sebab akibat, setiap perbuatan baik pasti ada balasannya dan begitu juga kebalikannya. Kenapa manusia selalu meributkan masalah balas membalas, adalah hal itu bisa menentramkan dan memberi kedamaian dalam jiwa seseorang dengan keterikatan seperti itu ? Jika sekarang aku berbuat baik kepada seseorang bukan berarti aku menuntut orang itu juga harus berbuat kebaikan kepadaku, tapi alangkah indahnya kalau dia melakukan kebaikan yang seperti aku lakukan padanya dibalas dengan memberi kebaikan pula kepada orang lain, sehingga mata rantai dari sebuah kebaikan tidak akan terputus begitu saja ? Tapi pasti timbul pertanyaan, jadi jika aku melakukan kejahatan kepada seseorang, apakah seseorang itu harus melakukan kejahatan juga kepada orang lain ? Nah di sinilah letak kepekaan batiniah dan keindahan seni sebuah hati yang penuh dengan kebajikan. Dari kecil sehingga dewasa kita dididik oleh orang tua dan lingkungan kita untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, jika batin dan hati kita tidak bisa memilah itu semua apakah itu berarti kita gagal menjadi manusia ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Suasana hening sekali setelah mendengar perkataan yang luar biasa dalam itu, terdengar hanyalah kicauan burung dan matahari yang mulai merangkak naik ke langit. Semua orang terdiam dan berusaha meresapi kata-kata yang begitu dalam artinya yang baru saja mereka dengar dari mulut sang tabib, tidak terkecuali Datuak Marindiang. Sebagai orang yang sudah banyak makan asam asin dunia, dan bertualang ke tempat-tempat asing, baru sekali ini dia terpesona mendengar perkataan itu keluar dari seorang dara yang masih muda usianya. Karena selama ini perkataan semacam ini pada umumnya diperbincangkan oleh orang-orang yang sudah lanjut usianya atau seorang pertapa, tapi ini keluar dari mulut seorang dara belia. Timbul rasa hormat yang tulus dari dalam hati orang tua ini kepada dara cucu dari Tabib Mato Tigo, ternyata benarlah semua pujian yang diberikan oleh sang kakek kepada cucunya. Selain ilmu pengobatannya yang luar biasa, dara ini memiliki juga ilmu silat yang handal ditambah lagi dengan ilmu batiniah yang sudah cukup dalam. Benar-benar dara pilihan yang sudah jarang sekali ditemui di jaman sekarang ini, sekarang dia sudah tidak penasaran lagi akan wajah sang dara yang dia yakin sekali pasti cantik jelita, jadi dia menunggu saja untuk melihat sampai sang dara berkenan untuk memperlihatkan wajahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Pandeka Konek yang memang orangnya penasaran dan tidak mau mengalah, setelah mendengar perkataan dara tersebut malah menjadi tambah penasaran. Dia tidak bisa menerima perkataan tabib itu dengan pandangan luas dan hati terbuka, dia merasa seolah-olah dia digurui oleh angkatan lebih muda darinya yang menurutnya belum banyak pengalaman seperti yang dialaminya. Jadi dia ingin sekali memperdebatkan perkataan tabib tersebut, saat dia hendak buka mulut membantah dara itu, seperti Lukman, dia merasakan punggungnya ditimpuk. Dengan mata melotot dia melihat ke arah Datuak Marindiang, dia melihat sang Datuak meletakkan telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan dia untuk diam. Kesal sekali Pandeka Konek melihat <?xml:namespace prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" /?>
gaya Datuak Marindiang, tapi dia tahu dia kalah dengan orang ini baik dari silat maupun pengalaman walaupun usia mereka tidak berbeda jauh. Dia melihat Datuak Marindiang berjalan ke arah mereka sambil tersenyum lucu dan memandang sang tabib dengan siratan mata yang jenaka seolah ada hal lucu yang sedang dipikirkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Melihat hal ini Pandeka Konek cepat mengalihkan matanya ke arah sang tabib, terlihat sang tabib sudah selesai membasuh dirinya dan sedang bersiap-siap untuk berdiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Bening, kemarilah! Aku ingin mengelap wajahku agar bisa terlihat bersih dan sopan oleh para tamu kita.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dan kuda hebat itu seperti mengerti apa yang dikatakan majikannya, berjalan ke arah tuannya dan memposisikan berdiri menyamping sehingga tuannya bisa meraih apapun yang ada di punggungnya tanpa harus merubah posisi berdirinya yang tetap membelakangi rombongan yang ada di belakangnya. Akhirnya berdirilah sang tabib, terlihat sesosok tubuh gadis yang tinggi ramping berambut panjang bergelombang hitam sehat sampai mencapai pantat sang pemilik. Begitu berdiri, tangan sang tabib meraih kantong yang ada tergantung di punggung kudanya dan mengeluarkan selembar kain biru tebal dan menyekakan kain itu ke wajah dan tangannya untuk mengeringkan tetesan air.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Sementara itu semua orang yang hadir di tempat itu terdiam menunggu sang tabib selesai melakukan pekerjaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Hmmm… Bening, terasa segar sekali setelah menikmati air sejuk ini dan membersihkan diri, kamu memang kuda pintar yang bisa memilih tempat indah seperti ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Tangannya kembali bergerak memasukan kain tersebut ke dalam buntalan dan mengeluarkan sehelai kain<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> berwarna ungu lembayung yang kecil panjang, dan mengikatkan kain itu ke rambutnya dengan erat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Datuak Marinding melihat gadis itu sepertinya sudah hampir selesai merapikan dirinya, dia berkata,” Nona Siti, maafkanlah kami jika kami mengganggu ketentraman hati nona. Bukan maksud kami seperti itu, tapi kami ini hanyalah manusia biasa yang tidak mudah melepaskan diri dari segala nafsu dan emosi . Jadi sebagai seorang gadis yang bijaksana dan kebanggaan dari kakekmu Tabib Mato Tiga, kami harapkan pengertianmu untuk memaklumi rasa penasaran yang bercokol dalam diri kami terhadap nona. Aku sebagai orang yang pernah ditolong kakekmu dan juga sahabatnya meminta agar kau mau menerima kami sebegai teman bukan sebagai pengganggu yang harus dihindari terus. Mungkin setelah kita semua menjadi temanmu, kami bisa lebih memahami dan menerima segala keunikan yang ada dalam diri nona sehingga kami bisa pulang dengan hati tentram karena mendapat teman yang seistimewa diri nona.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Sungguh pandai Datuak Marindiang merangkai kata sehingga bagi<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> yang dituju merasa tidak enak hati tapi tidak tersinggung mendengar teguran yang begitu halusnya atas semua sikapnya selama ini kepada mereka. Sedang bagi yang lain, memandang takjub kepada orang ini, tak terpikir oleh mereka untuk berkata seperti itu sebuah teguran halus yang terkemas dengan sangat indahnya sehingga tidak menyinggung perasaan yang mendengarnya. Pandeka Konek yang mendengar perkataan<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> Datuak Marindiang menjadi termangu-mangu, sungguh dia kalah jauh dari beliau, memang pantaslah selama ini dia kalah dari beliau. Dia benar-benar orang yang hebat dalam segala segi baik ilmu silat maupun ilmu sastra bahkan tutur bahasanya begitu sopan dan mengena sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Kahar yang ada di atas pohon melihat dan mendengarkan saja percakapan yang terjadi dengan perasaan kagum kepada dara cantik dan orang setengah baya itu. Permainan kata yang begitu dalam siratan maknanya, dan Kahar menjadi penasaran ingin mendengar jawaban dari dara cantik itu. Perasaannya kepada dara itu semakin mendalam dan sekarang ditambah lagi dengan perasaan hormat setelah mendengar dara itu berbicara tadi. Dan satu hal lagi dicatat dalam hatinya, dara cantik ini bernama Siti, sebuah nama sederhana tapi indah disebutkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Tidak hanya Kahar yang mencatat nama dara ini, kedua pemuda yang ada di bawah sana juga menanamkan nama itu dalam hati mereka, dan kelak mereka dapat memberitahukan kepada keluarga mereka nama orang yang telah menolong mereka. Tapi mereka tidak tahu bahwa nanti bukan hanya nama gadis itu tertanam dalam hati tapi berikut dengan wajah dan segala tingkah lakunyapun mengendap dalam jiwa mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Terdengar suara tertawa yang merdu merayu, seakan mengajak semua orang di situ ikut merasakan kegembiraan gadis itu. Mereka yang mendengarkannya ada yang ikut-ikutan tersenyum, ada yang tambah penasaran, pokoknya semua perasaan tidak jelas tercampur aduk. Ditambah lagi suara burung-burung berkicau semakin riuh mengiringi tawa gadis itu seakan mereka sedang memuji merdunya suara tawa yang terdengar itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Hmmmm… paman Marindiang… Benar apa yang dikatakan kakek, aku harus hati-hati mendengar perkataan paman, kalau tidak awas diri bisa tersanjung dan terhempas sekaligus.” Kata gadis itu dengan nada geli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Ah, nona Siti, kakekmu benar-benar santiang (pintar) mangecekan urang (mengatai orang). Mana mungkin pamanmu ini akan menghempaskan kamu, gadis yang cantik jelita.” Sahut Datuak Marindiang menggoda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Kembali terdengar tawa geli yang pelan dan gadis itu perlahan-lahan membalikan tubuhnya, dia berdiri membelakangi matahari, awalnya mereka semua tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena silau. Melihat hal itu cepat Datuak Marindiang berpindah tempat agak ke kanan<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> untuk menghindari silau diikuti dengan yang lain, dan dara itupun memutar tubuhkan sedikit ke arah mana rombongan itu bergerak. Mereka semua bergerak ke arah yang mendekati pohon di mana Kahar sedang duduk menonton kejadian di bawah itu. Begitu mereka sudah tidak silau lagi, barulah mereka bisa melihat wajah dara itu. Dan…….. semua terpaku di tempat dengan mulut melongo dan seperti orang yang hilang kesadaran memandang wajah dara itu. Bahkan Datuak Marindiang yang sudah biasa melihat wajah orang yang tampan dan cantik karena kegemaran anehnya itu sekarangpun hanya bisa memandang dara itu dan tidak bisa bicara apapun, semua perkataan yang tadi dia persiapkan untuk diutarakan kepada Siti hilang tidak berbekas dari pikirannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Semua pria yang ada dalam rombongan itu berdiri bengong dan seperti orang bodoh menatap Siti, begitu juga dengan Kahar yang terpesona melihat seri wajah dara itu yang terlihat segar setelah dibersihkan dari debu. Wajah yang begitu indah terpahat dengan nilai seni keindahan yang hanya dimiliki oleh Sang Pencipta, tanpa mampu seorang manusiapun yang bisa menirukannya dengan sempurna. Siti yang melihat keadaan ini hanya bisa menghela nafas dan tersenyum, dia sudah biasa menghadapi orang yang melihat wajahnya seperti ini bahkan kadang-kadang dia suka risih jika dipelototin seperti ini makanya dia lebih suka menyamar sehingga tidak menimbulkan masalah nantinya. Tapi satu hal yang dia lupakan adalah dia…. TERSENYUM… dan itu langsung menghunjam tepat di hati yang melihatnya, melihat hal itu dewa asmara tertawa nakal dengan kerasnya. Dia langsung melepaskan panah asmaranya secara bersamaan ke jantung kedua pemuda yang penasaran itu, setelah terlebih dahulu melepaskannya untuk Kahar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dan seperti Kahar, Lukman dan Malik tidak berdaya untuk melepaskan diri dari panah yang sudah menancap di hati mereka. Mereka hanya bisa menatap dan menatap senyum sang dara cantik jelita itu, tidak pernah terpikirkan oleh mereka sedikitpun bahwa sang tabib adalah seorang dara yang akan membuat sukma mereka melayang-layang tidak menentu dan degub jantung mereka berdetak kencang seperti detak tetabuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Pandeka Tangan Siluman yang cepat menyadari situasi, mungkin karena beliau memang orang yang lebih dalam batiniahnya dibandingkan yang lain. Cepat dia menepuk bahu Lukman dan Malik, untuk menyadarkan kedua tuannya itu akan keadaan karena mereka berdua terlihat seperti tersihir sehingga tidak sadar air liur mereka sudah menetes di tepi bibir. Lalu diapun menepuk temannya Pandeka Konek dan Datuak Marindiang, segera keduanya tersadar. Sedangkan kedua pemuda itu masih berusaha meraih kembali kesadaran mereka dengan menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Tanpa basa basi langsung Datuak Marindiang berkata,”Onde mande kanduang, yo lah sabana rancak padusi ko, indak heran awak kini ko,<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> Tabib Mato Tigo selalu sambunyian inyo.<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> Iko baru namonya sabana rancak, indak sia-sia awak iduik selamo iko, yo Tuhan sabana elok, Inyo bari awak kesempatan mencaliak urang sarancak ko. Uninyo lain rancaknyo kini adiaknyo lain pulo rancaknyo.” (Ya ibu kandung, inilah sebenarnya perempuan cantik, tidak heran saya sekarang ini, Tabib Mato Tigo selalu sembunyikan dia. Ini baru namanya benar-benar cantik, tidak sia-sia hidup saya selama ini, ya Tuhan benar-benar baik, Dia beri saya kesempatan melihat orang secantik ini. Kakaknya lain cantiknya kini adiknya lain pula cantiknya)”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Apa yang dikatakan oleh Datuak Marindiang benar adanya kecantikan Siti merupakan kecantikan yang eksotik sekali, kecantikan seorang gadis dengan kulit sawo matang dan bentuk wajah yang unik serta tubuh yang menggambarkan kesensualan sang pemilik memang tiada duanya. Beda dengan sang kakak yang mempunyai kecantikan oriental dikarenakan kulitnya yang putih kekuningan seperti ibu mereka. Wajah Siti mirip dengan ibu mereka tapi rambut dan kulitnya mengambil dari sang ayah, kebalikan dengan sang kakak yang berwajahkan ambil garis keturunan sang ayah tapi rambut dan kulit ambil dari sang ibu. Perpaduan yang sangat indah dan elok sekali. Tidak salah sekarang semua pria yang hadir di situ hanya bisa menatap bengong pada dara cantik ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Siti hanya diam saja membiarkan rombongan itu memulihkan kondisi kesadaran mereka yang kelihatannya sesaat hilang entah ke mana. Setelah dia lihat mereka sudah pulih kesadarannya baru dia berbicara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Baiklah, sekarang kalian sudah bertemu dengan aku, apa yang kalian inginkan dari aku ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Lukman berusaha bicara tapi suaranya seperti tidak mau bekerja dengan baik, bahkan seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya. Malik lebih bisa mengeluarkan suara yang akhirnya dia yang berbicara menjawab pertanyaan dara nan rancak ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dengan terbata-bata dan suara yang gugup dia berusaha menjawab,”Maaafffkkannn kaammmiii,… hmmm, maafkan kami, Nona Siti, jika selama ini kami sepertinya tidak tahu terima kasih sehingga menyusahkan nona. Bukan maksud kami seperti itu tapi karena kami menghormati dan ingin berterima kasih langsung kepada nona makanya kami terus mengikuti nona sehingga kami tidak menyadari bahwa itu telah mengganggu nona. Tapi sejujurnya kami tidak menyesal telah melakukan hal ini karena kami merasa tidak sia-sia semua usaha kami untuk menemui nona nan rancak rupawan bak mutiara gemilang.’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Semua orang memandang Malik dengan bengong karena belum pernah selama ini mereka mendengar pemuda ini mengeluarkan kata-kata rayuan, memuji iya tapi merayu… ? Mereka jarang mendengar pemuda ini memuji seorang gadis yang bagaimanapun cantiknya, tapi sekarang bahkan merayunya…? Ditambah lagi sinar matanya yang memandang lembut dan syahdu sekali kepada dara cantik yang baru pertama kali ditemuinya itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Lukman tidak mau kalah, dia merasa kecolongan oleh Malik, langsung dia menyambung perkataan Malik,”Benar sekali nona Siti, kami ingin sekali berjumpa dan menyampaikan maaf kami jika selama ini telah berburuk sangka dan mengeluarkan perkataan serta sikap yang mungkin menyinggung perasaan nona. Kami tahu seorang dara yang begitu rupawan seperti nona tentu bersedia memaafkan kebodohan dan kekasaran kami kepada nona, terutama aku, nona. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas sikapku yang tidak berkenan di hati nona.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Kembali semua memandang ke Lukman dan bengong menatapnya karena seperti juga Malik, orang seperti Lukman itu tidak gampang mengeluarkan kata-kata minta maaf walaupun itu sudah jelas kesalahan dia biasanya dia terdiam dan akan memperbaiki kesalahannya. Jarang sekali dia mengeluarkan kata minta maaf dengan begitu mudahnya dengan mata memohon meminta pengertian kepada orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Melihat keadaan kedua pemuda ini angkatan tua seperti Pandeka Tangan Siluman, Pandeka Konek dan Datuak Marindiang hanya bisa geleng-geleng kepala saja, mereka memaklumi keadaan pemuda ini. Seadainya mereka seusia pemuda itu tidak pelak lagi merekapun akan jatuh bertekuk lutut di depan nona cantik ini. Mereka melihat gelagat yang kurang bagus kelak dengan keadaan kedua pemuda ini, tapi mereka tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya. Hanyalah dara cantik itu yang bisa menyelesaikan pertingkaian yang sudah memunculkan taringnya diantara kedua pemuda ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Siti yang walaupun di usia semuda ini sudah mempunyai kebijaksanaan yang cukup tinggi tapi untuk urusan asmara masih jauh dari pengetahuan dasar yang seharusnya dimiliki oleh seorang dara seusianya. Karena dia dididik oleh kakeknya sedari kecil dan berkelana di dalam hutan-hutan sehingga untuk pendidikan mengenai asmara dia tidak mengerti sama sekali. Sehingga problem yang dia timbulkan kepada kedua pemuda ini, dia tidak menyadarinya. Dari kecil dia sudah menyadari reaksi orang yang aneh setiap melihat wajah dia ataupun kakaknya, hanya dia tidak mengerti kenapa orang menatapnya seperti itu. Pernah sekali hal ini dia tanyakan kepada orang tuanya, mereka menjawab karena orang-orang itu suka memandang keindahan secara berlebihan sehingga tidak bisa melihat suatu keindahan itu sebagai sebuah kewajaran dan syukur akan nikmat yang diberikan oleh Sang Pengasih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Karena kebanyakan manusia itu lemah dan mudah sekali melibatkan diri dengan kekacauan baik secara sadar maupun tidak sadar. Oleh karena itu mereka berpesan kepada kedua putrinya untuk selalu menutupi wajah asli mereka dengan topeng tipis yang dibuat khusus oleh kakek mereka agar kecantikan mereka tidak terlalu menonjol. Hanya di rumah saja mereka melepaskan topengnya, tapi memang dasarnya cantik walau sudah menggunakan topeng untuk mengurangi kecantikan mereka tetap mereka termasuk kategori orang cantik. Tapi itu tidak membuat orang sampai terperangah seperti melihat wajah asli mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Kali ini karena sudah merasa berdebu dan tidak nyaman, maka Siti membuka topengnya dan mencuci wajahnya, dia tidak menyadari masalah yang segera dia timbulkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Nah, sekarang kalian sudah bertemu dengan aku dan menyampaikan hormat serta terima kasih kalian langsung kepadaku. Jadi aku rasa sudah selesai bukan kepentingan kalian, aku harap ini juga menyelesaikan rasa penasaran kalian. Dan dalam kesempatan ini aku menegaskan kembali kepada kalian, bahwa aku tidak merasa perlu menerima balas budi kalian karena di dunia ini setiap kebaikan maupun kejahatan pasti ada balasannya. Jika sekarang aku berbuat baik pada kalian, maka suatu saat<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> pasti akan ada orang yang berbuat baik juga kepadaku sehingga mata rantai dari sebuah kebajikan tidak akan terputus begitu saja. Karena kalian memaksa aku menerima penghormatan dan rasa terima kasih kalian, tapi aku harap setelah ini semua selesai dan kalian tidak usah lagi mengikuti aku karena aku masih banyak tugas yang harus aku selesaikan. Aku harap pengertian kalian untuk tidak mengikuti aku lagi, dengan kalian melakukan hal itu saja sudah menunjukan rasa terima kasih kalian kepadaku,” dara itu berkata dengan tegas karena dia sudah ingin segera melanjutkan perjalanannya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh kakeknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Mereka semua maklum dengan perkataan dara ini sudah secara langsung mengatakan bahwa dia tidak ingin mereka mengikuti perjalanannya lagi dan dara ini sudah tidak mau diganggu lagi oleh mereka. Seharusnya mereka tahu diri dengan kata-kata tegas dari dara ini, tapi ketika cinta sudah datang tanpa bisa ditahan perasaan takut yang berputar di sekitarnya ikut muncul di permukaan. Takut kehilangan, takut tidak bertemu lagi atau takut diambil orang dan takut karena sebab macam-macam lagi mendera jiwa mereka yang kasmaran seperti Lukman dan Malik. Mereka tidak rela berpisah dari dara yang telah merenggut cinta mereka dengan begitu saja, walau mereka mendengar perkataannya tapi tetap saja mereka tidak bisa menerima kenyataan ini. Mulailah mereka berdua berusaha mencari alasan untuk bisa selalu berdekatan dengan dara ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Perbantahan dari kedua pemuda ini mulai terlontar menanggapi perkataan Siti, mereka tetap memaksa ingin mengikuti dara itu dan Siti juga bersikukuh untuk tidak mau diikuti. Pandeka Konek yang kasihan melihat kedua tuannya sudah seperti orang yang mau putus asa menjawab semua penolakan Siti akhirnya angkat bicara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Nona Siti, tidak baik rasanya menolak kebaikan hati orang lain yang ingin membantu nona, apakah nona tidak punya perasaan sehingga terus menerus orang yang ingin memberikan kebaikan kepada nona? Apakah sedemikian rendahkah nona memandang kami sehingga menolak bantuan dari kami?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Belum sempat Siti buka mulut untuk menjawab perkataan Pandeka Konek, tiba-tiba terdengar suara ketawa pria yang terdengar jantan menyahut perkataan beliau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Ha..ha..ha.. manusia di dunia ini benar-benar suka lucu dan<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> berlebihan, sudah jelas-jelas orang menolak tapi masih memaksa lagi, malah memojokan orang lagi. Apa itu caranya berterima kasih manusia jaman sekarang kepada penolongnya ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Mereka semua terkejut mendengar perkataan itu, semua berusaha mencari darimana suara itu datangnya. Dan mereka melihat ada seorang pemuda sedang duduk dengan enaknya di sebuah pohon yang tidak jauh dari mereka sambil mengayun-ayunkan kakinya dan tersenyum mengejek ke arah mereka. Siapa lagi kalau bukan Kahar, dari tadi dia mendengar pembicaraan mereka, dia sudah gatal-gatal ingin membantu Siti, dalam hatinya orang-orang ini tidak tahu diri sekali, sudah jelas ditolak tapi malah memaksa terus memojokan lagi. Benar-benar tidak kenal budi mereka ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Pandeka Konek yang mengeluarkan perkataan tadi, memerah muka sampai ke telinganya mendengar teguran dari pemuda yang kelihatannya masih muda sepantaran tuannya. Dia belum bisa melihat wajah jelas pemuda itu karena sebagian wajahnya tertutup bayangan daun pohon. Karena malunya dia melampiaskan kekesalannya kepada pemuda itu, satu hal yang tidak dia sadari mungkin saking malu dan kesalnya. Seharusnya dia cepat menyadari kenapa kehadiran pemuda itu tidak mereka sadari dari tadi, itu artinya pemuda itu bukan pemuda sembarangan yang bisa sekali pukul selesai urusan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Eh orang muda, kalau bicara jangan sembarangan, kau pikir siapa dirimu, berani-berani mengganggu pembicaraan orang? Apa orang tuamu tidak mengajarkan tata krama kepada kamu, untuk tidak boleh menguping pembicaraan orang lain? Bentak Pandeka Konek dengan kerasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Ya ampun pak tua, justru aku mau tanya apa orang tua pak tua tidak ajarin bagaimana cara yang benar dan baik untuk berterima kasih kepada penolong dirimu? Apa begitu caranya ? Wah berarti kita sama-sama tidak diajarin tata krama oleh orang tua kita,”kata Kahar dengan wajah yang dibuat terperangah seolah-olah takjub dengan tata krama ajaran orang tua Pandeka Konek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Langsung saja Pandeka Konek tambah naik darah mendengarnya, belum dia sempat menyahutinya sudah keduluan Datuak Marindiang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Anak muda benar apa yang kau katakan, kita manusia harusnya tahu tata krama dan hormat kepada orang yang sudah menolong tidak sepantasnya kita memaksa dia untuk memenuhi permintaan kita. Ini membuat kita menjadi tidak tahu diri sekali, menyusahkan orang yang sudah menolong. Perkataanmu sungguh menarik anak muda, bolehkah kita berkenalan? Aku bernama Datuak Marindiang, datang ke sini hanya ingin melihat keindahan saja.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Sebagai orang yang diajari sopan santun yang sangat kuat, Kahar tahu diri sebagai orang muda harus menghormati orang yang lebih tua. Dengan perkataan Datuak Marindiang itu artinya pihak tua sudah mengalah dan dia sebagai pihak yang muda gilirannya untuk tahu diri dan memperkenalkan siapa dirinya. Cepat dia meloncat turun di dekat Datuak Marindiang berdiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Kembali Datuak Marindiang terkejut melihat wajah yang sangat tampan dan mempunyai aura khusus yang dimiliki oleh keluarga kerajaan sehingga keelokan wajah pemuda ini terlihat begitu sempurna. Tinggi dan postur tubuh yang merupakan idaman tiap pria, hidungnya mancung dan tengahnya agak sedikit cungik (patah) tanpa mengurangi keindahan bentuk wajahnya malah mempertegas wajah jantannya, bibir tipis dengan belah di tengahnya serta dagu persegi khas milik laki-laki sejati, alis hitam yang tebal memayungi matanya yang bersirat riang dan jenaka sehingga hal ini sangat kontras sekali membuat orang hanya bisa menatap dirinya tanpa tahu harus berbuat apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dalam hati Datuak Marindiang merasa senang sekali, ternyata dia menemukan sepasang manusia yang begitu elok dan rupawan wajah dan tubuhnya. Tidak sia-sia dia menghabiskan waktu untuk berkelana dan membantu keluarga temannya itu, dia mendapatkan hasil yang luar biasa sekali ini. Dia harus memastikan kepada sepasang manusia elok ini untuk dilukis olehnya. Yang laki-laki cerminan seorang lelaki jantan sejati dan yang perempuan secantik lembayung mewarnai langit berawan memantulkan sentuhan keindahan yang tiada tara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Lain lagi dengan perasaan yang ditimbulkan Kahar kepada orang-orang lain seperti pada Pandeka Konek, dia terkejut karena dia seperti mengenal wajah pemuda tampan itu. Wajahnya mirip sekali dengan orang yang sangat dihormati dan disanjungnya, dia bersedia mati untuk orang ini. Tapi kenapa wajah pemuda ini mirip dengan orang itu, karena pemuda biasa seperti ini tidak mungkin ada hubungan dengan keluarga kerajaan karena orang itu masih merupakan kerabat dekat dengan raja sekarang. Dia jadi penasaran sekali siapakah gerangan pemuda ini, memang dia mendengar kabar bahwa orang yang dihormatinya itu mempunyai seorang putera yang dibesarkan di luar istana, apakah pemuda ini maksudnya ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Bagi Lukman dan Malik, secara naluri mereka tahu pemuda ini akan menjadi lawan berat mereka dalam memperebutkan cinta sang tabib. Sedangkan persaingan diantara mereka saja sudah merepotkan apalagi ditambah dengan pemuda yang memang harus diakui sangat tampan ini. Tapi menilik dari baju yang dia pakai pemuda ini bukan dari keluarga berada seperti mereka, jadi mereka bisa berkurang perasaan tersainginya. Sayang sekali mereka tidak tahu siapa sebenarnya pemuda tampan ini, jika mereka tahu mungkin mereka akan lebih sadar diri dan tidak akan bersikap takabur seperti sekarang ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Pandeka Tangan Siluman yang paling awas diantara mereka semua menyadari bahwa pemuda ini bukan pemuda sembarangan, terlihat dari cara dia melompat dan mendarat di depan mereka. Gerakannya begitu ringan seperti kapas yang tertiup angin dan jejak kakinya tidak terlihat di tanah yang diinjaknya. Matanya biarpun terlihat memancarkan sinar riang dan jenaka tetap tidak bisa menyembunyian ketajaman sinarnya yang menandakan pemuda ini memiliki tenaga dalam yang tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Siti yang melihat ada seorang pemuda membantu dia menjawab sindiran Pandeka Konek tadi melihat pemuda itu dengan tenang walau ada perasaan berdebar ketika menerima sambaran lirikan tajam dari pemuda itu. Dia tidak menyadari bahwa dewa asmara sudah berdiri di sampingnya sedang mengukur berapa dalam panah asmaranya akan menembus jantung hati gadis ini. Dengan seringai jahil dan nakal sekali beliau menancapkan panah tersebut perlahan-lahan sampai berapa dalam tiada yang tahu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Pandeka Konek yang penasaran dengan pemuda tampan ini, langsung menanyakan,” Hai anak muda, siapa gerangan dirimu? Berani-beraninya mencampuri urusan orang lain ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Sambil tersenyum, pemuda itu menjawabnya,”Paman, siapapun aku adanya tapi melihat ketidakadilan di mana dan kapan saja, aku pasti ingin mencampurinya. Karena menurut aku, tidak sepantasnya kita memaksakan kehendak kita kepada orang lain apalagi kepada penolongnya, di mana letak keadilan kalau sudah begitu? Walaupun arti keadilan itu sering disalahgunakan orang tetapi aku atas perkenan Yang Di atas berusaha untuk mencari keadilan dari semua pengetahuan dan pelajaran yang aku terima. Dan hal yang terjadi di sini tadi sungguh-sungguh tidak adil makanya aku perlu turun tangan untuk mencari letak keadilan itu.!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Jangan berbelit-belit kalau bicara, cepat beritahu kami siapa dirimu ini, sebelum aku memberi pelajaran keadilan kepadamu, anak muda. Atau apa kau takut memberitahu namamu takut aku mengadukan perbuatanmu kepada orang tuamu?,” jawab pandeka Konek dengan nada geram karena merasa dipermainkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Hahaha…Pak Gaek (Pak Tua), baru sekali ini aku bertemu orang yang cupat (sempit) cara berpikirnya dari orang yang sudah tua seperti ini. Tapi baiklah supaya engkau senang aku beritahu namaku padamu. Perkenalkan namaku Kahar, murid dari perguruan Api Matahari. Kalian sudah menginjak wilayah perguruanku, sebagai murid, aku harus mempertanyakan maksud kalian ada di wilayah kami,” sambil merangkap tangan di dada menundukan kepala memberi salam hormat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Sengaja Kahar tidak memperkenalkan jati dirinya yang lain karena dia tidak ingin memancing perhatian yang berlebihan kalau mereka tahu dia masih kerabat dekat dengan raja sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Mereka semua yang mendengar pemuda ini murid dari perguruan Api Matahari menjadi maklum kenapa pemuda itu berada di wilayah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Cepat Pandeka Tangan Siluman mengambil alih pembicaraan karena dia melihat Pandeka Konek sudah merah mukanya dan siap untuk melontarkan kemarahannya. Dia melihat anak muda ini penuh percaya diri berarti dia berisi dan nalurinya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh pemuda ini karena dia merasa pemuda ini bukan orang sembarangan, mata batinnya melihat pemuda ini memiliki aura khusus yang dimiliki oleh keluarga kerajaan. Mungkin saja memang benar dia murid perguruan Api Matahari tapi mungkin tidak itu saja identitas dirinya, jadi mereka semua harus hati-hati jika tidak mau salah kaprah nantinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Tuan Kahar, salam kenal, perkenalkan kami dari keluarga Rangkayo Padang Jati, senang berkenalan dengan tuan. Yang mengenakan baju biru itu Lukman, putra tertua dari Keluarga Rangkayo Padang Jati, di sebelahnya Malik merupakan putra tunggal dari ketua Perguruan Ula Kuniang, di belakang beliau saudara seperguruan dari Perguruan Ula Kuniang, kakek pendek tersebut Pandeka Konek, sedangkan yang di sana kau sudah tahu beliau adalah Datuak Marindiang,” sahut Pandeka Tangan Siluman membalas penghormatan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Semua orang yang ada di rombongan itu memandang tercengang kepada dia, karena jarang sekali dia memanggil orang dengan panggilan tuan kecuali dia memang menghormati orang tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Apa istimewanya pemuda ini sampai mendapat rasa hormat dari pandeka Tangan Siluman. Datuak Marindiang yang juga mengenal kepribadiannya mulai juga memandang pemuda ini dengan lebih awas. Diapun merasa pemuda ini bukan orang sembarangan dengan sikapnya yang tenang dan percaya diri yang kuat serta senyumnya yang menawan seperti tidak kenal takut. Hanya orang yang punya kelebihan dibandingkan orang lain bisa bersikap seperti pemuda ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Kakek, janganlah memanggil aku dengan sebutan tuan, tidak enak kedengarannya, apalagi kita sama-sama orang yang bergerak di dunia persilatan janggal sekali rasanya orang tua terhormat kayak kakek memanggil aku dengan sebutan tuan. Panggil saja namaku, Kahar, tanpa embel-embel apapun aku sudah senang sekali berarti kakek menghargai aku sebagai teman,”kata Kahar dengan nada rendah hati dan senyum senang yang ditujukan kepada Pandeka Tangan Siluman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Naik penghargaan Pandeka Tangan Siluman kepada pemuda istimewa ini, semakin yakin dia pemuda ini bukan orang sembarangan. Hanya orang yang punya kepercayaan diri yang kuat dan sikap yang tahu siapa dirinya yang bisa bersikap seperti pemuda ini. Tahu menempatkan diri, tidak lebih tinggi dan tidak merendah dari orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Baiklah nak Kahar, kata-kata kamu tadi benar adanya kami terlalu memojokan diri kepada tabib padahal beliau sudah menyatakan tegas pendiriannya. Kami melakukan ini mungkin karena keinginan yang besar sekali untuk bisa menyampaikan terima kasih kepada beliau yang sudah melepaskan budi yang begitu besar kepada kami. Kami salah berkata sehingga terkesan memaksakan diri kepada orang yang tidak berkenan dengan kehadiran kami yang terasa mengganggu,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Tabib, kami mohon maaf jika kami memojokan dikau, tidak sedikitpun terbesit di benak kami untuk membuat tabib kesal kepada kami. Mungkin sudah saatnya kami meminta diri kepada tabib untuk melanjutkan perjalanan pulang. Tapi sebelum kami pulang kami mengharapkan janji tabib untuk bisa singgah ke rumah kami untuk melihat keadaan nyonya kami agar kami semua merasa yakin dan tenang akan kesehatan nyonya kami. Jika tabib tidak bisa menjanjikan hal ini, kami tidak bisa pulang dengan tangan hampa dan pasti keluarga kami akan memarahi kami. Aku yakin tabib seorang dara yang pengertian dan berbudi pasti tidak ingin kami dimarahi karena hal ini. Maka biarlah hamba yang rendah ini memintakan kesediaan janji tabib untuk singgah ke rumah kami.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dengan kata-kata yang merendahkan diri dan meminta pengertian dari seorang pandeka Tangan Siluman tidak nanti Siti bisa mengabaikan begitu saja permohonan yang tulus ini. Pandeka Tangan Siluman melakukan hal ini karena dia melihat kalau keadaan ini tidak cepat diatasi maka bisa tambah memperburuk keadaan. Dia tidak mau terlibat permusuhan dengan perguruan Api Matahari yang dia tahu banyak orang kosennya dan membuat sang tabib menjadi sebal serta jengkel kepada mereka. Jika sampai ini terjadi maka sudah bisa dipastikan bahwa mereka semua akan dimarahi oleh Sutan Rangkayo Padang Jati habis-habisan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Pandeka Konek dan Datuak Marindiang terkesima mendengar perkataan Tangan Siluman karena setahu mereka teman mereka ini jarang sekali bicara, kalau sampai bicara biasanya karena dipaksa atau terpaksa. Dan sepertinya hal terakhir yang paling cocok, terpaksa bicara, artinya ada sesuatu yang memaksa beliau bicara menengahi keadaan. Mereka melihat beliau memandang hormat kepada pemuda yang bernama Kahar itu, apa beliau mengetahui siapa gerangan pemuda itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Siti melihat jika dia tidak memberikan jawaban segera maka urusan ini bisa berlarut-larut sedangkan tugas yang diberikan kakeknya harus segera diselesaikan, apalagi ada murid dari Perguruan Api Matahari yang besar kemungkinan bisa membantunya meminta ijin kepada ketua mereka untuk mencari obat di dekat wilayah perguruan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Lukman dan Malik tidak puas dengan perkataan Pandeka Tangan Siluman sudah ingin membantahnya tapi tatapan tajam dari Datuak Marindiang dan Pandeka Tangan Siluman membuat mereka tutup mulut sementara. Mereka ingin melihat dulu apa jawaban gadis cantik ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Sedangkan Kahar melihat ini adalah pemecahan yang terbaik untuk masalah sepele yang sedang diributkan walau dia tetap merasa mereka kelewatan memaksakan kehendaknya kepada Siti tapi memang ini jalan yang terbaik agar semua pihak puas adanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dengan menghela nafas dalam-dalam menjawablah Siti,”Aku masih tidak mengerti kenapa kalian memaksa aku untuk menerima terima kasih kalian secara berlebihan ini. Tapi karena aku sudaht terdesak waktu dan harus segera menyelesaikan tugasku, yah sudahlah aku tidak bisa memastikan kapan waktu tepatnya aku mengunjungi kalian, aku hanya bisa menjanjikan sekitar 2 bulan dari sekarang aku akan datang ke rumah kalian memenuhi undangan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Semua orang lega mendengar janji dari dara ini, tapi tetap saja Lukman dan Malik tidak puas karena baru 2 bulan lagi ketemu dengan dara pujaan hati ini. Mereka sudah membuka mulut mau mengatakan isi hati mereka, buru-buru Datuak Marindiang dan Tangan Siluman menepuk bahu mereka. Datuak Marindiang berbisik kepada mereka berdua untuk menerima syarat dari tabib itu, jika tidak keadaan semakin runyam dan bisa-bisa malah si tabib membenci mereka karena terlalu memaksa. Mendengar perkataan beliau, kedua pemuda yang kerasukan asmara ini sadar mereka lebih takut lagi kalau sampai dibenci daripada berpisah sementara. Walau tidak rela tapi mereka terpaksa menerimanya dengan hati galau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Melihat kedua pemuda itu sudah menerima keadaan, maka kembali Pandeka Tangan Siluman membuka pembicaraan,”Terima kasih tabib atas pengertiannya, kami akan menanti dan sangat mengharapkan kedatangan tabib ke rumah kami 2 bulan dari sekarang. Jika tabib tidak bisa datang kami akan datang menjemput tabib untuk dibawa ke rumah kami karena mungkin saja tabib tersesat tidak tahu di mana rumah kami. Bersama ini juga aku serahkan tanda lambang keluarga dan perguruan kami kepada tabib, supaya bisa memudahkan memasuki wilayah kami dan juga dengan tanda ini tabib bisa meminta bantuan kepada semua anggota perguruan kami jika tabib memerlukan pertolongan. Tabib bisa mengembalikannya kepadaku saat tabib datang ke tempat kami.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Di tangan Pandeka Tangan Siluman ada sebuah besi putih berbentuk lingkaran<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> Sebesar telapak tangan pria dewasa yang ditengahnya ada segitiga yang tercetak lambang keluarga Rangkayo Padang<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> Jati dan Perguruan Ula Kuniang. Tanda lambang yang dipegang oleh Pandeka Tangan Siluman menunjukan kedudukanya yang cukup tinggi dalam keluarga Rangkayo Padang jati dan Perguruan Ula Kuniang. Masing-masing mempunyai tanda lambang yang biasanya hanya tercetak lambang Perguruan Ula Kuniang atau Rangkayo padang Jati, kalau sampai ada 2 lambang tercetak dalam 1 tanda lambang itu artinya orang tersebut bisa memerintahkan orang-orang kedua perguruan untuk melakukan tugas yang diembannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Tanda lambang dari besi Putih seperti yang dimiliki oleh Pandeka Tangan Siluman hanya dimiliki oleh 5 orang saja termasuk Pandeka Tangan Siluman bahkan Pandeka Konek tidak memiliki tanda lambang seperti ini, dia hanya memiliki tanda lambang dari Keluarga Rangkayo Padang jati, jadi bisa diduga kedudukan Pandeka Tangan Siluman lebih tinggi dibandingkan dengan Pandeka Konek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Mereka semua kembali kaget dengan tindakan Pandeka Tangan Siluman, diam-diam Datuak Marindiang kagum dengan kecerdikan beliau secara tidak langsung beliau mengikat sang tabib untuk datang ke rumah mereka tetapi disampaikan dengan cara begitu halus sekali. Tidak salah temannya Rangkayo Padang Jati memilih Pandeka Tangan Siluman untuk mewakilinya memegang 2 lambang tersebut, karena benar-benar dia bisa menggunakannya dengan tepat dan bijaksana. Selama ini Datuak Marindiang tidak pernah menduga bahwa Pandeka Tangan Siluman ini begitu cerdik dan lihaynya dalam menyelesaikan masalah yang sebentar lagi bakalan jadi ramai jika tidak cepat ambil tindakan pencegahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Melihat hal itu Lukman dan Malik buru-buru mengeluarkan tanda lambang mereka masing-masing untuk diserahkan kepada Siti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Tanda aku saja, nona ambil karena tanda aku lebih menunjukan kedudukanku sehingga lebih memudahkan nona kalau menghendaki bantuan dari kami,” kata Lukman dengan gayanya yang sombong mau menunjukan kedudukannya yang lebih tinggi dibandingkan dengan Pandeka Tangan Siluman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Aku punya saja, perguruan kami siap membantu nona di mana saja dan kapan saja jika nona memerlukan bantuan,’ Kata Malik tidak mau kalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TE]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Merasa sapaannya tidak diindahkan oleh sang tabib, Lukman mulai merasa kesal mungkin karena dia sudah lelah sekali jadi emosi tidak bisa dikontrol lagi. Tapi belum sempat dia mengeluarkan kata-kata kasar, dia merasakan punggungnya ditimpuk sesuatu, cepat dia menoleh ke arah datangnya timpukan. Terlihat Datuak Marindiang sedang berdiri menyender pada sebuah pohon besar sambil menyeringai memandang kepada Lukman. Pemuda ini tidak berani mengumbar emosinya kepada teman ayahnya ini karena dia tahu dia akan dapat masalah besar jika dia melakukan hal itu, tapi tetap dia memasang muka cemberut karena kesal sekali. <?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /?><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Kalian ini benar-benar tidak sopan sekali, masak di depan sang penolong, kalian tidak turun dari kuda untuk menyapanya?” Di mana etiket tata krama yang telah diajarkan oleh orang tua kalian?” tegur Datuak Marindiang kepada mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Segera mereka menyadari kesalahan mereka, pantas saja sang tabib tidak mau menjawab pertanyaan tadi. Karena dalam adat kesopanan, jika orang berbicara di atas kuda dengan orang yang menginjak tanah maka kedudukan orang yang diatas kuda lebih tinggi derajatnya dari orang yang berdiri di tanah. Sedangkan tabib tersebut boleh dibilang mereka harus menghormatinya karena sudah melepaskan budi kepada mereka, jadi tidak sepantasnya mereka melakukan penyapaan dengan cara seperti itu. Buru-buru semua turun dari kuda dengan wajah memerah malu, terutama Lukman yang saking tergesa-gesanya tadi karena takut sang tabib menghilang lagi melakukan kesalahan seperti itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Setelah mereka semua turun dari kuda, semuanya merangkap kedua tangan di dada dan sambil membungkukkan badan memberi hormat kepada sang tabib yang masih saja asyik membersihkan wajah dan mulutnya dengan air.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Salam hormat dan kenal kami kepada anda, Dewi Tangan Dingin.” Kata Lukman mewakili teman-temannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Tidak terdengar sahutan apa-apa dari tabib tersebut, seakan-akan dia tidak menyadari kehadiran banyak orang di sekitarnya. Malah anehnya kuda Putih yang tadinya merumput, membalikan badannya menghadap mereka dan memberikan salam dengan menganggukan kepalanya secara anggun sekali ke arah mereka seakan membalas sapaan hormat mereka. Kebalikan dengan sang majikan yang masih asyik membasuh dirinya seakan dia tidak perduli dengan keadaan sekitarnya. Melihat hal ini rombongan Lukman mempunyai perasaan yang campur aduk antara takjub melihat kelakuan sang kuda itu dan kesal melihat tingkah majikannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Maafkan kami, tabib, jika kami tidak sopan tadi. Kini kami menyampaikan salam hormat kami kepada tabib dan kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada anda karena telah menolong kami selama ini. Perkenankanlah kami memperkenalkan diri kepada anda agar kelak kami tidak disangka sebagai orang yang tidak tahu budi dan terima kasih kepada orang yang telah menolong kami. Kami berjanji kami pasti akan membayar budi besar yang telah anda lepaskan kepada kami, karena kami mempunyai prinsip<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> tidak pernah berhutang apapun kepada siapapun tanpa kami bayar, begitu juga jika ada orang yang berhutang pada kami tidak akan pernah tidak akan kami tagih. Harap anda memakluminya.” Kata Malik terdengar tegas karena dia juga mulai merasa tidak nyaman melihat tabib tersebut menyepelekan kehadiran mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut sang tabib dan dia berbicara kepada kudanya dengan alunan suara yang begitu lembut mendayu,”Bening, aku selalu merasa heran melihat tingkah laku manusia. Selalu merasa ingin dihormati, ingin disanjung dan selalu ingin diingat budinya. Jika melihat ada orang yang tidak mengenal arti ketiga hal tersebut, mereka merasa penasaran selalu ingin tahu untuk mencari pembenaran diri. Manusia itu suka lupa bahwa apapun yang dilakukan di muka bumi ini selalu ada hukum sebab akibat, setiap perbuatan baik pasti ada balasannya dan begitu juga kebalikannya. Kenapa manusia selalu meributkan masalah balas membalas, adalah hal itu bisa menentramkan dan memberi kedamaian dalam jiwa seseorang dengan keterikatan seperti itu ? Jika sekarang aku berbuat baik kepada seseorang bukan berarti aku menuntut orang itu juga harus berbuat kebaikan kepadaku, tapi alangkah indahnya kalau dia melakukan kebaikan yang seperti aku lakukan padanya dibalas dengan memberi kebaikan pula kepada orang lain, sehingga mata rantai dari sebuah kebaikan tidak akan terputus begitu saja ? Tapi pasti timbul pertanyaan, jadi jika aku melakukan kejahatan kepada seseorang, apakah seseorang itu harus melakukan kejahatan juga kepada orang lain ? Nah di sinilah letak kepekaan batiniah dan keindahan seni sebuah hati yang penuh dengan kebajikan. Dari kecil sehingga dewasa kita dididik oleh orang tua dan lingkungan kita untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, jika batin dan hati kita tidak bisa memilah itu semua apakah itu berarti kita gagal menjadi manusia ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Suasana hening sekali setelah mendengar perkataan yang luar biasa dalam itu, terdengar hanyalah kicauan burung dan matahari yang mulai merangkak naik ke langit. Semua orang terdiam dan berusaha meresapi kata-kata yang begitu dalam artinya yang baru saja mereka dengar dari mulut sang tabib, tidak terkecuali Datuak Marindiang. Sebagai orang yang sudah banyak makan asam asin dunia, dan bertualang ke tempat-tempat asing, baru sekali ini dia terpesona mendengar perkataan itu keluar dari seorang dara yang masih muda usianya. Karena selama ini perkataan semacam ini pada umumnya diperbincangkan oleh orang-orang yang sudah lanjut usianya atau seorang pertapa, tapi ini keluar dari mulut seorang dara belia. Timbul rasa hormat yang tulus dari dalam hati orang tua ini kepada dara cucu dari Tabib Mato Tigo, ternyata benarlah semua pujian yang diberikan oleh sang kakek kepada cucunya. Selain ilmu pengobatannya yang luar biasa, dara ini memiliki juga ilmu silat yang handal ditambah lagi dengan ilmu batiniah yang sudah cukup dalam. Benar-benar dara pilihan yang sudah jarang sekali ditemui di jaman sekarang ini, sekarang dia sudah tidak penasaran lagi akan wajah sang dara yang dia yakin sekali pasti cantik jelita, jadi dia menunggu saja untuk melihat sampai sang dara berkenan untuk memperlihatkan wajahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Pandeka Konek yang memang orangnya penasaran dan tidak mau mengalah, setelah mendengar perkataan dara tersebut malah menjadi tambah penasaran. Dia tidak bisa menerima perkataan tabib itu dengan pandangan luas dan hati terbuka, dia merasa seolah-olah dia digurui oleh angkatan lebih muda darinya yang menurutnya belum banyak pengalaman seperti yang dialaminya. Jadi dia ingin sekali memperdebatkan perkataan tabib tersebut, saat dia hendak buka mulut membantah dara itu, seperti Lukman, dia merasakan punggungnya ditimpuk. Dengan mata melotot dia melihat ke arah Datuak Marindiang, dia melihat sang Datuak meletakkan telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan dia untuk diam. Kesal sekali Pandeka Konek melihat <?xml:namespace prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" /?><br />
gaya Datuak Marindiang, tapi dia tahu dia kalah dengan orang ini baik dari silat maupun pengalaman walaupun usia mereka tidak berbeda jauh. Dia melihat Datuak Marindiang berjalan ke arah mereka sambil tersenyum lucu dan memandang sang tabib dengan siratan mata yang jenaka seolah ada hal lucu yang sedang dipikirkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Melihat hal ini Pandeka Konek cepat mengalihkan matanya ke arah sang tabib, terlihat sang tabib sudah selesai membasuh dirinya dan sedang bersiap-siap untuk berdiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Bening, kemarilah! Aku ingin mengelap wajahku agar bisa terlihat bersih dan sopan oleh para tamu kita.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dan kuda hebat itu seperti mengerti apa yang dikatakan majikannya, berjalan ke arah tuannya dan memposisikan berdiri menyamping sehingga tuannya bisa meraih apapun yang ada di punggungnya tanpa harus merubah posisi berdirinya yang tetap membelakangi rombongan yang ada di belakangnya. Akhirnya berdirilah sang tabib, terlihat sesosok tubuh gadis yang tinggi ramping berambut panjang bergelombang hitam sehat sampai mencapai pantat sang pemilik. Begitu berdiri, tangan sang tabib meraih kantong yang ada tergantung di punggung kudanya dan mengeluarkan selembar kain biru tebal dan menyekakan kain itu ke wajah dan tangannya untuk mengeringkan tetesan air.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Sementara itu semua orang yang hadir di tempat itu terdiam menunggu sang tabib selesai melakukan pekerjaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Hmmm… Bening, terasa segar sekali setelah menikmati air sejuk ini dan membersihkan diri, kamu memang kuda pintar yang bisa memilih tempat indah seperti ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Tangannya kembali bergerak memasukan kain tersebut ke dalam buntalan dan mengeluarkan sehelai kain<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> berwarna ungu lembayung yang kecil panjang, dan mengikatkan kain itu ke rambutnya dengan erat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Datuak Marinding melihat gadis itu sepertinya sudah hampir selesai merapikan dirinya, dia berkata,” Nona Siti, maafkanlah kami jika kami mengganggu ketentraman hati nona. Bukan maksud kami seperti itu, tapi kami ini hanyalah manusia biasa yang tidak mudah melepaskan diri dari segala nafsu dan emosi . Jadi sebagai seorang gadis yang bijaksana dan kebanggaan dari kakekmu Tabib Mato Tiga, kami harapkan pengertianmu untuk memaklumi rasa penasaran yang bercokol dalam diri kami terhadap nona. Aku sebagai orang yang pernah ditolong kakekmu dan juga sahabatnya meminta agar kau mau menerima kami sebegai teman bukan sebagai pengganggu yang harus dihindari terus. Mungkin setelah kita semua menjadi temanmu, kami bisa lebih memahami dan menerima segala keunikan yang ada dalam diri nona sehingga kami bisa pulang dengan hati tentram karena mendapat teman yang seistimewa diri nona.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Sungguh pandai Datuak Marindiang merangkai kata sehingga bagi<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> yang dituju merasa tidak enak hati tapi tidak tersinggung mendengar teguran yang begitu halusnya atas semua sikapnya selama ini kepada mereka. Sedang bagi yang lain, memandang takjub kepada orang ini, tak terpikir oleh mereka untuk berkata seperti itu sebuah teguran halus yang terkemas dengan sangat indahnya sehingga tidak menyinggung perasaan yang mendengarnya. Pandeka Konek yang mendengar perkataan<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> Datuak Marindiang menjadi termangu-mangu, sungguh dia kalah jauh dari beliau, memang pantaslah selama ini dia kalah dari beliau. Dia benar-benar orang yang hebat dalam segala segi baik ilmu silat maupun ilmu sastra bahkan tutur bahasanya begitu sopan dan mengena sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Kahar yang ada di atas pohon melihat dan mendengarkan saja percakapan yang terjadi dengan perasaan kagum kepada dara cantik dan orang setengah baya itu. Permainan kata yang begitu dalam siratan maknanya, dan Kahar menjadi penasaran ingin mendengar jawaban dari dara cantik itu. Perasaannya kepada dara itu semakin mendalam dan sekarang ditambah lagi dengan perasaan hormat setelah mendengar dara itu berbicara tadi. Dan satu hal lagi dicatat dalam hatinya, dara cantik ini bernama Siti, sebuah nama sederhana tapi indah disebutkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Tidak hanya Kahar yang mencatat nama dara ini, kedua pemuda yang ada di bawah sana juga menanamkan nama itu dalam hati mereka, dan kelak mereka dapat memberitahukan kepada keluarga mereka nama orang yang telah menolong mereka. Tapi mereka tidak tahu bahwa nanti bukan hanya nama gadis itu tertanam dalam hati tapi berikut dengan wajah dan segala tingkah lakunyapun mengendap dalam jiwa mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Terdengar suara tertawa yang merdu merayu, seakan mengajak semua orang di situ ikut merasakan kegembiraan gadis itu. Mereka yang mendengarkannya ada yang ikut-ikutan tersenyum, ada yang tambah penasaran, pokoknya semua perasaan tidak jelas tercampur aduk. Ditambah lagi suara burung-burung berkicau semakin riuh mengiringi tawa gadis itu seakan mereka sedang memuji merdunya suara tawa yang terdengar itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Hmmmm… paman Marindiang… Benar apa yang dikatakan kakek, aku harus hati-hati mendengar perkataan paman, kalau tidak awas diri bisa tersanjung dan terhempas sekaligus.” Kata gadis itu dengan nada geli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Ah, nona Siti, kakekmu benar-benar santiang (pintar) mangecekan urang (mengatai orang). Mana mungkin pamanmu ini akan menghempaskan kamu, gadis yang cantik jelita.” Sahut Datuak Marindiang menggoda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Kembali terdengar tawa geli yang pelan dan gadis itu perlahan-lahan membalikan tubuhnya, dia berdiri membelakangi matahari, awalnya mereka semua tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena silau. Melihat hal itu cepat Datuak Marindiang berpindah tempat agak ke kanan<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> untuk menghindari silau diikuti dengan yang lain, dan dara itupun memutar tubuhkan sedikit ke arah mana rombongan itu bergerak. Mereka semua bergerak ke arah yang mendekati pohon di mana Kahar sedang duduk menonton kejadian di bawah itu. Begitu mereka sudah tidak silau lagi, barulah mereka bisa melihat wajah dara itu. Dan…….. semua terpaku di tempat dengan mulut melongo dan seperti orang yang hilang kesadaran memandang wajah dara itu. Bahkan Datuak Marindiang yang sudah biasa melihat wajah orang yang tampan dan cantik karena kegemaran anehnya itu sekarangpun hanya bisa memandang dara itu dan tidak bisa bicara apapun, semua perkataan yang tadi dia persiapkan untuk diutarakan kepada Siti hilang tidak berbekas dari pikirannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Semua pria yang ada dalam rombongan itu berdiri bengong dan seperti orang bodoh menatap Siti, begitu juga dengan Kahar yang terpesona melihat seri wajah dara itu yang terlihat segar setelah dibersihkan dari debu. Wajah yang begitu indah terpahat dengan nilai seni keindahan yang hanya dimiliki oleh Sang Pencipta, tanpa mampu seorang manusiapun yang bisa menirukannya dengan sempurna. Siti yang melihat keadaan ini hanya bisa menghela nafas dan tersenyum, dia sudah biasa menghadapi orang yang melihat wajahnya seperti ini bahkan kadang-kadang dia suka risih jika dipelototin seperti ini makanya dia lebih suka menyamar sehingga tidak menimbulkan masalah nantinya. Tapi satu hal yang dia lupakan adalah dia…. TERSENYUM… dan itu langsung menghunjam tepat di hati yang melihatnya, melihat hal itu dewa asmara tertawa nakal dengan kerasnya. Dia langsung melepaskan panah asmaranya secara bersamaan ke jantung kedua pemuda yang penasaran itu, setelah terlebih dahulu melepaskannya untuk Kahar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dan seperti Kahar, Lukman dan Malik tidak berdaya untuk melepaskan diri dari panah yang sudah menancap di hati mereka. Mereka hanya bisa menatap dan menatap senyum sang dara cantik jelita itu, tidak pernah terpikirkan oleh mereka sedikitpun bahwa sang tabib adalah seorang dara yang akan membuat sukma mereka melayang-layang tidak menentu dan degub jantung mereka berdetak kencang seperti detak tetabuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Pandeka Tangan Siluman yang cepat menyadari situasi, mungkin karena beliau memang orang yang lebih dalam batiniahnya dibandingkan yang lain. Cepat dia menepuk bahu Lukman dan Malik, untuk menyadarkan kedua tuannya itu akan keadaan karena mereka berdua terlihat seperti tersihir sehingga tidak sadar air liur mereka sudah menetes di tepi bibir. Lalu diapun menepuk temannya Pandeka Konek dan Datuak Marindiang, segera keduanya tersadar. Sedangkan kedua pemuda itu masih berusaha meraih kembali kesadaran mereka dengan menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Tanpa basa basi langsung Datuak Marindiang berkata,”Onde mande kanduang, yo lah sabana rancak padusi ko, indak heran awak kini ko,<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> Tabib Mato Tigo selalu sambunyian inyo.<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> Iko baru namonya sabana rancak, indak sia-sia awak iduik selamo iko, yo Tuhan sabana elok, Inyo bari awak kesempatan mencaliak urang sarancak ko. Uninyo lain rancaknyo kini adiaknyo lain pulo rancaknyo.” (Ya ibu kandung, inilah sebenarnya perempuan cantik, tidak heran saya sekarang ini, Tabib Mato Tigo selalu sembunyikan dia. Ini baru namanya benar-benar cantik, tidak sia-sia hidup saya selama ini, ya Tuhan benar-benar baik, Dia beri saya kesempatan melihat orang secantik ini. Kakaknya lain cantiknya kini adiknya lain pula cantiknya)”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Apa yang dikatakan oleh Datuak Marindiang benar adanya kecantikan Siti merupakan kecantikan yang eksotik sekali, kecantikan seorang gadis dengan kulit sawo matang dan bentuk wajah yang unik serta tubuh yang menggambarkan kesensualan sang pemilik memang tiada duanya. Beda dengan sang kakak yang mempunyai kecantikan oriental dikarenakan kulitnya yang putih kekuningan seperti ibu mereka. Wajah Siti mirip dengan ibu mereka tapi rambut dan kulitnya mengambil dari sang ayah, kebalikan dengan sang kakak yang berwajahkan ambil garis keturunan sang ayah tapi rambut dan kulit ambil dari sang ibu. Perpaduan yang sangat indah dan elok sekali. Tidak salah sekarang semua pria yang hadir di situ hanya bisa menatap bengong pada dara cantik ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Siti hanya diam saja membiarkan rombongan itu memulihkan kondisi kesadaran mereka yang kelihatannya sesaat hilang entah ke mana. Setelah dia lihat mereka sudah pulih kesadarannya baru dia berbicara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Baiklah, sekarang kalian sudah bertemu dengan aku, apa yang kalian inginkan dari aku ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Lukman berusaha bicara tapi suaranya seperti tidak mau bekerja dengan baik, bahkan seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya. Malik lebih bisa mengeluarkan suara yang akhirnya dia yang berbicara menjawab pertanyaan dara nan rancak ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dengan terbata-bata dan suara yang gugup dia berusaha menjawab,”Maaafffkkannn kaammmiii,… hmmm, maafkan kami, Nona Siti, jika selama ini kami sepertinya tidak tahu terima kasih sehingga menyusahkan nona. Bukan maksud kami seperti itu tapi karena kami menghormati dan ingin berterima kasih langsung kepada nona makanya kami terus mengikuti nona sehingga kami tidak menyadari bahwa itu telah mengganggu nona. Tapi sejujurnya kami tidak menyesal telah melakukan hal ini karena kami merasa tidak sia-sia semua usaha kami untuk menemui nona nan rancak rupawan bak mutiara gemilang.’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Semua orang memandang Malik dengan bengong karena belum pernah selama ini mereka mendengar pemuda ini mengeluarkan kata-kata rayuan, memuji iya tapi merayu… ? Mereka jarang mendengar pemuda ini memuji seorang gadis yang bagaimanapun cantiknya, tapi sekarang bahkan merayunya…? Ditambah lagi sinar matanya yang memandang lembut dan syahdu sekali kepada dara cantik yang baru pertama kali ditemuinya itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Lukman tidak mau kalah, dia merasa kecolongan oleh Malik, langsung dia menyambung perkataan Malik,”Benar sekali nona Siti, kami ingin sekali berjumpa dan menyampaikan maaf kami jika selama ini telah berburuk sangka dan mengeluarkan perkataan serta sikap yang mungkin menyinggung perasaan nona. Kami tahu seorang dara yang begitu rupawan seperti nona tentu bersedia memaafkan kebodohan dan kekasaran kami kepada nona, terutama aku, nona. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas sikapku yang tidak berkenan di hati nona.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Kembali semua memandang ke Lukman dan bengong menatapnya karena seperti juga Malik, orang seperti Lukman itu tidak gampang mengeluarkan kata-kata minta maaf walaupun itu sudah jelas kesalahan dia biasanya dia terdiam dan akan memperbaiki kesalahannya. Jarang sekali dia mengeluarkan kata minta maaf dengan begitu mudahnya dengan mata memohon meminta pengertian kepada orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Melihat keadaan kedua pemuda ini angkatan tua seperti Pandeka Tangan Siluman, Pandeka Konek dan Datuak Marindiang hanya bisa geleng-geleng kepala saja, mereka memaklumi keadaan pemuda ini. Seadainya mereka seusia pemuda itu tidak pelak lagi merekapun akan jatuh bertekuk lutut di depan nona cantik ini. Mereka melihat gelagat yang kurang bagus kelak dengan keadaan kedua pemuda ini, tapi mereka tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya. Hanyalah dara cantik itu yang bisa menyelesaikan pertingkaian yang sudah memunculkan taringnya diantara kedua pemuda ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Siti yang walaupun di usia semuda ini sudah mempunyai kebijaksanaan yang cukup tinggi tapi untuk urusan asmara masih jauh dari pengetahuan dasar yang seharusnya dimiliki oleh seorang dara seusianya. Karena dia dididik oleh kakeknya sedari kecil dan berkelana di dalam hutan-hutan sehingga untuk pendidikan mengenai asmara dia tidak mengerti sama sekali. Sehingga problem yang dia timbulkan kepada kedua pemuda ini, dia tidak menyadarinya. Dari kecil dia sudah menyadari reaksi orang yang aneh setiap melihat wajah dia ataupun kakaknya, hanya dia tidak mengerti kenapa orang menatapnya seperti itu. Pernah sekali hal ini dia tanyakan kepada orang tuanya, mereka menjawab karena orang-orang itu suka memandang keindahan secara berlebihan sehingga tidak bisa melihat suatu keindahan itu sebagai sebuah kewajaran dan syukur akan nikmat yang diberikan oleh Sang Pengasih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Karena kebanyakan manusia itu lemah dan mudah sekali melibatkan diri dengan kekacauan baik secara sadar maupun tidak sadar. Oleh karena itu mereka berpesan kepada kedua putrinya untuk selalu menutupi wajah asli mereka dengan topeng tipis yang dibuat khusus oleh kakek mereka agar kecantikan mereka tidak terlalu menonjol. Hanya di rumah saja mereka melepaskan topengnya, tapi memang dasarnya cantik walau sudah menggunakan topeng untuk mengurangi kecantikan mereka tetap mereka termasuk kategori orang cantik. Tapi itu tidak membuat orang sampai terperangah seperti melihat wajah asli mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Kali ini karena sudah merasa berdebu dan tidak nyaman, maka Siti membuka topengnya dan mencuci wajahnya, dia tidak menyadari masalah yang segera dia timbulkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Nah, sekarang kalian sudah bertemu dengan aku dan menyampaikan hormat serta terima kasih kalian langsung kepadaku. Jadi aku rasa sudah selesai bukan kepentingan kalian, aku harap ini juga menyelesaikan rasa penasaran kalian. Dan dalam kesempatan ini aku menegaskan kembali kepada kalian, bahwa aku tidak merasa perlu menerima balas budi kalian karena di dunia ini setiap kebaikan maupun kejahatan pasti ada balasannya. Jika sekarang aku berbuat baik pada kalian, maka suatu saat<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> pasti akan ada orang yang berbuat baik juga kepadaku sehingga mata rantai dari sebuah kebajikan tidak akan terputus begitu saja. Karena kalian memaksa aku menerima penghormatan dan rasa terima kasih kalian, tapi aku harap setelah ini semua selesai dan kalian tidak usah lagi mengikuti aku karena aku masih banyak tugas yang harus aku selesaikan. Aku harap pengertian kalian untuk tidak mengikuti aku lagi, dengan kalian melakukan hal itu saja sudah menunjukan rasa terima kasih kalian kepadaku,” dara itu berkata dengan tegas karena dia sudah ingin segera melanjutkan perjalanannya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh kakeknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Mereka semua maklum dengan perkataan dara ini sudah secara langsung mengatakan bahwa dia tidak ingin mereka mengikuti perjalanannya lagi dan dara ini sudah tidak mau diganggu lagi oleh mereka. Seharusnya mereka tahu diri dengan kata-kata tegas dari dara ini, tapi ketika cinta sudah datang tanpa bisa ditahan perasaan takut yang berputar di sekitarnya ikut muncul di permukaan. Takut kehilangan, takut tidak bertemu lagi atau takut diambil orang dan takut karena sebab macam-macam lagi mendera jiwa mereka yang kasmaran seperti Lukman dan Malik. Mereka tidak rela berpisah dari dara yang telah merenggut cinta mereka dengan begitu saja, walau mereka mendengar perkataannya tapi tetap saja mereka tidak bisa menerima kenyataan ini. Mulailah mereka berdua berusaha mencari alasan untuk bisa selalu berdekatan dengan dara ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Perbantahan dari kedua pemuda ini mulai terlontar menanggapi perkataan Siti, mereka tetap memaksa ingin mengikuti dara itu dan Siti juga bersikukuh untuk tidak mau diikuti. Pandeka Konek yang kasihan melihat kedua tuannya sudah seperti orang yang mau putus asa menjawab semua penolakan Siti akhirnya angkat bicara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Nona Siti, tidak baik rasanya menolak kebaikan hati orang lain yang ingin membantu nona, apakah nona tidak punya perasaan sehingga terus menerus orang yang ingin memberikan kebaikan kepada nona? Apakah sedemikian rendahkah nona memandang kami sehingga menolak bantuan dari kami?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Belum sempat Siti buka mulut untuk menjawab perkataan Pandeka Konek, tiba-tiba terdengar suara ketawa pria yang terdengar jantan menyahut perkataan beliau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Ha..ha..ha.. manusia di dunia ini benar-benar suka lucu dan<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> berlebihan, sudah jelas-jelas orang menolak tapi masih memaksa lagi, malah memojokan orang lagi. Apa itu caranya berterima kasih manusia jaman sekarang kepada penolongnya ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Mereka semua terkejut mendengar perkataan itu, semua berusaha mencari darimana suara itu datangnya. Dan mereka melihat ada seorang pemuda sedang duduk dengan enaknya di sebuah pohon yang tidak jauh dari mereka sambil mengayun-ayunkan kakinya dan tersenyum mengejek ke arah mereka. Siapa lagi kalau bukan Kahar, dari tadi dia mendengar pembicaraan mereka, dia sudah gatal-gatal ingin membantu Siti, dalam hatinya orang-orang ini tidak tahu diri sekali, sudah jelas ditolak tapi malah memaksa terus memojokan lagi. Benar-benar tidak kenal budi mereka ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Pandeka Konek yang mengeluarkan perkataan tadi, memerah muka sampai ke telinganya mendengar teguran dari pemuda yang kelihatannya masih muda sepantaran tuannya. Dia belum bisa melihat wajah jelas pemuda itu karena sebagian wajahnya tertutup bayangan daun pohon. Karena malunya dia melampiaskan kekesalannya kepada pemuda itu, satu hal yang tidak dia sadari mungkin saking malu dan kesalnya. Seharusnya dia cepat menyadari kenapa kehadiran pemuda itu tidak mereka sadari dari tadi, itu artinya pemuda itu bukan pemuda sembarangan yang bisa sekali pukul selesai urusan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Eh orang muda, kalau bicara jangan sembarangan, kau pikir siapa dirimu, berani-berani mengganggu pembicaraan orang? Apa orang tuamu tidak mengajarkan tata krama kepada kamu, untuk tidak boleh menguping pembicaraan orang lain? Bentak Pandeka Konek dengan kerasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Ya ampun pak tua, justru aku mau tanya apa orang tua pak tua tidak ajarin bagaimana cara yang benar dan baik untuk berterima kasih kepada penolong dirimu? Apa begitu caranya ? Wah berarti kita sama-sama tidak diajarin tata krama oleh orang tua kita,”kata Kahar dengan wajah yang dibuat terperangah seolah-olah takjub dengan tata krama ajaran orang tua Pandeka Konek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Langsung saja Pandeka Konek tambah naik darah mendengarnya, belum dia sempat menyahutinya sudah keduluan Datuak Marindiang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Anak muda benar apa yang kau katakan, kita manusia harusnya tahu tata krama dan hormat kepada orang yang sudah menolong tidak sepantasnya kita memaksa dia untuk memenuhi permintaan kita. Ini membuat kita menjadi tidak tahu diri sekali, menyusahkan orang yang sudah menolong. Perkataanmu sungguh menarik anak muda, bolehkah kita berkenalan? Aku bernama Datuak Marindiang, datang ke sini hanya ingin melihat keindahan saja.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Sebagai orang yang diajari sopan santun yang sangat kuat, Kahar tahu diri sebagai orang muda harus menghormati orang yang lebih tua. Dengan perkataan Datuak Marindiang itu artinya pihak tua sudah mengalah dan dia sebagai pihak yang muda gilirannya untuk tahu diri dan memperkenalkan siapa dirinya. Cepat dia meloncat turun di dekat Datuak Marindiang berdiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Kembali Datuak Marindiang terkejut melihat wajah yang sangat tampan dan mempunyai aura khusus yang dimiliki oleh keluarga kerajaan sehingga keelokan wajah pemuda ini terlihat begitu sempurna. Tinggi dan postur tubuh yang merupakan idaman tiap pria, hidungnya mancung dan tengahnya agak sedikit cungik (patah) tanpa mengurangi keindahan bentuk wajahnya malah mempertegas wajah jantannya, bibir tipis dengan belah di tengahnya serta dagu persegi khas milik laki-laki sejati, alis hitam yang tebal memayungi matanya yang bersirat riang dan jenaka sehingga hal ini sangat kontras sekali membuat orang hanya bisa menatap dirinya tanpa tahu harus berbuat apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dalam hati Datuak Marindiang merasa senang sekali, ternyata dia menemukan sepasang manusia yang begitu elok dan rupawan wajah dan tubuhnya. Tidak sia-sia dia menghabiskan waktu untuk berkelana dan membantu keluarga temannya itu, dia mendapatkan hasil yang luar biasa sekali ini. Dia harus memastikan kepada sepasang manusia elok ini untuk dilukis olehnya. Yang laki-laki cerminan seorang lelaki jantan sejati dan yang perempuan secantik lembayung mewarnai langit berawan memantulkan sentuhan keindahan yang tiada tara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Lain lagi dengan perasaan yang ditimbulkan Kahar kepada orang-orang lain seperti pada Pandeka Konek, dia terkejut karena dia seperti mengenal wajah pemuda tampan itu. Wajahnya mirip sekali dengan orang yang sangat dihormati dan disanjungnya, dia bersedia mati untuk orang ini. Tapi kenapa wajah pemuda ini mirip dengan orang itu, karena pemuda biasa seperti ini tidak mungkin ada hubungan dengan keluarga kerajaan karena orang itu masih merupakan kerabat dekat dengan raja sekarang. Dia jadi penasaran sekali siapakah gerangan pemuda ini, memang dia mendengar kabar bahwa orang yang dihormatinya itu mempunyai seorang putera yang dibesarkan di luar istana, apakah pemuda ini maksudnya ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Bagi Lukman dan Malik, secara naluri mereka tahu pemuda ini akan menjadi lawan berat mereka dalam memperebutkan cinta sang tabib. Sedangkan persaingan diantara mereka saja sudah merepotkan apalagi ditambah dengan pemuda yang memang harus diakui sangat tampan ini. Tapi menilik dari baju yang dia pakai pemuda ini bukan dari keluarga berada seperti mereka, jadi mereka bisa berkurang perasaan tersainginya. Sayang sekali mereka tidak tahu siapa sebenarnya pemuda tampan ini, jika mereka tahu mungkin mereka akan lebih sadar diri dan tidak akan bersikap takabur seperti sekarang ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Pandeka Tangan Siluman yang paling awas diantara mereka semua menyadari bahwa pemuda ini bukan pemuda sembarangan, terlihat dari cara dia melompat dan mendarat di depan mereka. Gerakannya begitu ringan seperti kapas yang tertiup angin dan jejak kakinya tidak terlihat di tanah yang diinjaknya. Matanya biarpun terlihat memancarkan sinar riang dan jenaka tetap tidak bisa menyembunyian ketajaman sinarnya yang menandakan pemuda ini memiliki tenaga dalam yang tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Siti yang melihat ada seorang pemuda membantu dia menjawab sindiran Pandeka Konek tadi melihat pemuda itu dengan tenang walau ada perasaan berdebar ketika menerima sambaran lirikan tajam dari pemuda itu. Dia tidak menyadari bahwa dewa asmara sudah berdiri di sampingnya sedang mengukur berapa dalam panah asmaranya akan menembus jantung hati gadis ini. Dengan seringai jahil dan nakal sekali beliau menancapkan panah tersebut perlahan-lahan sampai berapa dalam tiada yang tahu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Pandeka Konek yang penasaran dengan pemuda tampan ini, langsung menanyakan,” Hai anak muda, siapa gerangan dirimu? Berani-beraninya mencampuri urusan orang lain ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Sambil tersenyum, pemuda itu menjawabnya,”Paman, siapapun aku adanya tapi melihat ketidakadilan di mana dan kapan saja, aku pasti ingin mencampurinya. Karena menurut aku, tidak sepantasnya kita memaksakan kehendak kita kepada orang lain apalagi kepada penolongnya, di mana letak keadilan kalau sudah begitu? Walaupun arti keadilan itu sering disalahgunakan orang tetapi aku atas perkenan Yang Di atas berusaha untuk mencari keadilan dari semua pengetahuan dan pelajaran yang aku terima. Dan hal yang terjadi di sini tadi sungguh-sungguh tidak adil makanya aku perlu turun tangan untuk mencari letak keadilan itu.!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Jangan berbelit-belit kalau bicara, cepat beritahu kami siapa dirimu ini, sebelum aku memberi pelajaran keadilan kepadamu, anak muda. Atau apa kau takut memberitahu namamu takut aku mengadukan perbuatanmu kepada orang tuamu?,” jawab pandeka Konek dengan nada geram karena merasa dipermainkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Hahaha…Pak Gaek (Pak Tua), baru sekali ini aku bertemu orang yang cupat (sempit) cara berpikirnya dari orang yang sudah tua seperti ini. Tapi baiklah supaya engkau senang aku beritahu namaku padamu. Perkenalkan namaku Kahar, murid dari perguruan Api Matahari. Kalian sudah menginjak wilayah perguruanku, sebagai murid, aku harus mempertanyakan maksud kalian ada di wilayah kami,” sambil merangkap tangan di dada menundukan kepala memberi salam hormat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Sengaja Kahar tidak memperkenalkan jati dirinya yang lain karena dia tidak ingin memancing perhatian yang berlebihan kalau mereka tahu dia masih kerabat dekat dengan raja sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Mereka semua yang mendengar pemuda ini murid dari perguruan Api Matahari menjadi maklum kenapa pemuda itu berada di wilayah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Cepat Pandeka Tangan Siluman mengambil alih pembicaraan karena dia melihat Pandeka Konek sudah merah mukanya dan siap untuk melontarkan kemarahannya. Dia melihat anak muda ini penuh percaya diri berarti dia berisi dan nalurinya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh pemuda ini karena dia merasa pemuda ini bukan orang sembarangan, mata batinnya melihat pemuda ini memiliki aura khusus yang dimiliki oleh keluarga kerajaan. Mungkin saja memang benar dia murid perguruan Api Matahari tapi mungkin tidak itu saja identitas dirinya, jadi mereka semua harus hati-hati jika tidak mau salah kaprah nantinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Tuan Kahar, salam kenal, perkenalkan kami dari keluarga Rangkayo Padang Jati, senang berkenalan dengan tuan. Yang mengenakan baju biru itu Lukman, putra tertua dari Keluarga Rangkayo Padang Jati, di sebelahnya Malik merupakan putra tunggal dari ketua Perguruan Ula Kuniang, di belakang beliau saudara seperguruan dari Perguruan Ula Kuniang, kakek pendek tersebut Pandeka Konek, sedangkan yang di sana kau sudah tahu beliau adalah Datuak Marindiang,” sahut Pandeka Tangan Siluman membalas penghormatan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Semua orang yang ada di rombongan itu memandang tercengang kepada dia, karena jarang sekali dia memanggil orang dengan panggilan tuan kecuali dia memang menghormati orang tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Apa istimewanya pemuda ini sampai mendapat rasa hormat dari pandeka Tangan Siluman. Datuak Marindiang yang juga mengenal kepribadiannya mulai juga memandang pemuda ini dengan lebih awas. Diapun merasa pemuda ini bukan orang sembarangan dengan sikapnya yang tenang dan percaya diri yang kuat serta senyumnya yang menawan seperti tidak kenal takut. Hanya orang yang punya kelebihan dibandingkan orang lain bisa bersikap seperti pemuda ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Kakek, janganlah memanggil aku dengan sebutan tuan, tidak enak kedengarannya, apalagi kita sama-sama orang yang bergerak di dunia persilatan janggal sekali rasanya orang tua terhormat kayak kakek memanggil aku dengan sebutan tuan. Panggil saja namaku, Kahar, tanpa embel-embel apapun aku sudah senang sekali berarti kakek menghargai aku sebagai teman,”kata Kahar dengan nada rendah hati dan senyum senang yang ditujukan kepada Pandeka Tangan Siluman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Naik penghargaan Pandeka Tangan Siluman kepada pemuda istimewa ini, semakin yakin dia pemuda ini bukan orang sembarangan. Hanya orang yang punya kepercayaan diri yang kuat dan sikap yang tahu siapa dirinya yang bisa bersikap seperti pemuda ini. Tahu menempatkan diri, tidak lebih tinggi dan tidak merendah dari orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Baiklah nak Kahar, kata-kata kamu tadi benar adanya kami terlalu memojokan diri kepada tabib padahal beliau sudah menyatakan tegas pendiriannya. Kami melakukan ini mungkin karena keinginan yang besar sekali untuk bisa menyampaikan terima kasih kepada beliau yang sudah melepaskan budi yang begitu besar kepada kami. Kami salah berkata sehingga terkesan memaksakan diri kepada orang yang tidak berkenan dengan kehadiran kami yang terasa mengganggu,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Tabib, kami mohon maaf jika kami memojokan dikau, tidak sedikitpun terbesit di benak kami untuk membuat tabib kesal kepada kami. Mungkin sudah saatnya kami meminta diri kepada tabib untuk melanjutkan perjalanan pulang. Tapi sebelum kami pulang kami mengharapkan janji tabib untuk bisa singgah ke rumah kami untuk melihat keadaan nyonya kami agar kami semua merasa yakin dan tenang akan kesehatan nyonya kami. Jika tabib tidak bisa menjanjikan hal ini, kami tidak bisa pulang dengan tangan hampa dan pasti keluarga kami akan memarahi kami. Aku yakin tabib seorang dara yang pengertian dan berbudi pasti tidak ingin kami dimarahi karena hal ini. Maka biarlah hamba yang rendah ini memintakan kesediaan janji tabib untuk singgah ke rumah kami.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dengan kata-kata yang merendahkan diri dan meminta pengertian dari seorang pandeka Tangan Siluman tidak nanti Siti bisa mengabaikan begitu saja permohonan yang tulus ini. Pandeka Tangan Siluman melakukan hal ini karena dia melihat kalau keadaan ini tidak cepat diatasi maka bisa tambah memperburuk keadaan. Dia tidak mau terlibat permusuhan dengan perguruan Api Matahari yang dia tahu banyak orang kosennya dan membuat sang tabib menjadi sebal serta jengkel kepada mereka. Jika sampai ini terjadi maka sudah bisa dipastikan bahwa mereka semua akan dimarahi oleh Sutan Rangkayo Padang Jati habis-habisan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Pandeka Konek dan Datuak Marindiang terkesima mendengar perkataan Tangan Siluman karena setahu mereka teman mereka ini jarang sekali bicara, kalau sampai bicara biasanya karena dipaksa atau terpaksa. Dan sepertinya hal terakhir yang paling cocok, terpaksa bicara, artinya ada sesuatu yang memaksa beliau bicara menengahi keadaan. Mereka melihat beliau memandang hormat kepada pemuda yang bernama Kahar itu, apa beliau mengetahui siapa gerangan pemuda itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Siti melihat jika dia tidak memberikan jawaban segera maka urusan ini bisa berlarut-larut sedangkan tugas yang diberikan kakeknya harus segera diselesaikan, apalagi ada murid dari Perguruan Api Matahari yang besar kemungkinan bisa membantunya meminta ijin kepada ketua mereka untuk mencari obat di dekat wilayah perguruan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Lukman dan Malik tidak puas dengan perkataan Pandeka Tangan Siluman sudah ingin membantahnya tapi tatapan tajam dari Datuak Marindiang dan Pandeka Tangan Siluman membuat mereka tutup mulut sementara. Mereka ingin melihat dulu apa jawaban gadis cantik ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Sedangkan Kahar melihat ini adalah pemecahan yang terbaik untuk masalah sepele yang sedang diributkan walau dia tetap merasa mereka kelewatan memaksakan kehendaknya kepada Siti tapi memang ini jalan yang terbaik agar semua pihak puas adanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dengan menghela nafas dalam-dalam menjawablah Siti,”Aku masih tidak mengerti kenapa kalian memaksa aku untuk menerima terima kasih kalian secara berlebihan ini. Tapi karena aku sudaht terdesak waktu dan harus segera menyelesaikan tugasku, yah sudahlah aku tidak bisa memastikan kapan waktu tepatnya aku mengunjungi kalian, aku hanya bisa menjanjikan sekitar 2 bulan dari sekarang aku akan datang ke rumah kalian memenuhi undangan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Semua orang lega mendengar janji dari dara ini, tapi tetap saja Lukman dan Malik tidak puas karena baru 2 bulan lagi ketemu dengan dara pujaan hati ini. Mereka sudah membuka mulut mau mengatakan isi hati mereka, buru-buru Datuak Marindiang dan Tangan Siluman menepuk bahu mereka. Datuak Marindiang berbisik kepada mereka berdua untuk menerima syarat dari tabib itu, jika tidak keadaan semakin runyam dan bisa-bisa malah si tabib membenci mereka karena terlalu memaksa. Mendengar perkataan beliau, kedua pemuda yang kerasukan asmara ini sadar mereka lebih takut lagi kalau sampai dibenci daripada berpisah sementara. Walau tidak rela tapi mereka terpaksa menerimanya dengan hati galau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Melihat kedua pemuda itu sudah menerima keadaan, maka kembali Pandeka Tangan Siluman membuka pembicaraan,”Terima kasih tabib atas pengertiannya, kami akan menanti dan sangat mengharapkan kedatangan tabib ke rumah kami 2 bulan dari sekarang. Jika tabib tidak bisa datang kami akan datang menjemput tabib untuk dibawa ke rumah kami karena mungkin saja tabib tersesat tidak tahu di mana rumah kami. Bersama ini juga aku serahkan tanda lambang keluarga dan perguruan kami kepada tabib, supaya bisa memudahkan memasuki wilayah kami dan juga dengan tanda ini tabib bisa meminta bantuan kepada semua anggota perguruan kami jika tabib memerlukan pertolongan. Tabib bisa mengembalikannya kepadaku saat tabib datang ke tempat kami.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Di tangan Pandeka Tangan Siluman ada sebuah besi putih berbentuk lingkaran<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> Sebesar telapak tangan pria dewasa yang ditengahnya ada segitiga yang tercetak lambang keluarga Rangkayo Padang<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> Jati dan Perguruan Ula Kuniang. Tanda lambang yang dipegang oleh Pandeka Tangan Siluman menunjukan kedudukanya yang cukup tinggi dalam keluarga Rangkayo Padang jati dan Perguruan Ula Kuniang. Masing-masing mempunyai tanda lambang yang biasanya hanya tercetak lambang Perguruan Ula Kuniang atau Rangkayo padang Jati, kalau sampai ada 2 lambang tercetak dalam 1 tanda lambang itu artinya orang tersebut bisa memerintahkan orang-orang kedua perguruan untuk melakukan tugas yang diembannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Tanda lambang dari besi Putih seperti yang dimiliki oleh Pandeka Tangan Siluman hanya dimiliki oleh 5 orang saja termasuk Pandeka Tangan Siluman bahkan Pandeka Konek tidak memiliki tanda lambang seperti ini, dia hanya memiliki tanda lambang dari Keluarga Rangkayo Padang jati, jadi bisa diduga kedudukan Pandeka Tangan Siluman lebih tinggi dibandingkan dengan Pandeka Konek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Mereka semua kembali kaget dengan tindakan Pandeka Tangan Siluman, diam-diam Datuak Marindiang kagum dengan kecerdikan beliau secara tidak langsung beliau mengikat sang tabib untuk datang ke rumah mereka tetapi disampaikan dengan cara begitu halus sekali. Tidak salah temannya Rangkayo Padang Jati memilih Pandeka Tangan Siluman untuk mewakilinya memegang 2 lambang tersebut, karena benar-benar dia bisa menggunakannya dengan tepat dan bijaksana. Selama ini Datuak Marindiang tidak pernah menduga bahwa Pandeka Tangan Siluman ini begitu cerdik dan lihaynya dalam menyelesaikan masalah yang sebentar lagi bakalan jadi ramai jika tidak cepat ambil tindakan pencegahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Melihat hal itu Lukman dan Malik buru-buru mengeluarkan tanda lambang mereka masing-masing untuk diserahkan kepada Siti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Tanda aku saja, nona ambil karena tanda aku lebih menunjukan kedudukanku sehingga lebih memudahkan nona kalau menghendaki bantuan dari kami,” kata Lukman dengan gayanya yang sombong mau menunjukan kedudukannya yang lebih tinggi dibandingkan dengan Pandeka Tangan Siluman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Aku punya saja, perguruan kami siap membantu nona di mana saja dan kapan saja jika nona memerlukan bantuan,’ Kata Malik tidak mau kalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Kedua tanda lambang yang dipegang kedua pemuda ini juga hanya mencetak masing-masing lambang keluarga atau perguruan mereka. Tidak seperti yang dimiliki oleh Pandeka Tangan Siluman, walau tanda lambang mereka berwarna perunggu yang menandakan mereka adalah keluarga inti dan mempunyai kekuasaan lebih tinggi tapi jika dikatakan menguntungkan lebih baik memegang tanda lambang seperti yang dimilik Pandeka Tangan Siluman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Yang lain melihat kedua pemuda itu terselip perasaan kuatir keadaan akan bisa memburuk diantara kedua sepupu ini. Siti juga bisa membaca gelagat yang bakalan tidak mengenakan tidak diambil salah jika diambil juga salah. Supaya mereka cepat-cepat pergi dan tidak menganggunya lagi maka dia memilih untuk mengambil tanda milik kakek tua itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Kakek, jika aku mengambil tanda lambang itu, apa nanti tidak menimbulkan kesulitan pada kakek?’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Jangan kuatir tabib, aku percaya pada nona untuk menggunakannya secara bijaksana. Dan mengenai tanda lambang ini nona tidak usah kuatir aku akan dimarahin majikanku dengan memberikan tanda lambang ini pada tabib, karena mereka pasti setuju dengan tindakanku ini. Dan penggunaan tanda ini juga rahasia, yang jika digunakan oleh orang yang tidak mengetahui rahasianya tidak ada gunanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Baiklah, kalau memang kakek tidak kuatir aku akan ambil tanda lambang kakek<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> yang nanti akan aku kembalikan saat aku singgah ke rumah kalian.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Terima kasih tabib, sekarang aku bisikan rahasia penggunaan lambang ini….” Dengan menggunakan ilmu Susup Suara, Pandeka Tangan Siluman membisikan cara menggunakan tanda lambang tersebut kepada Siti. Tiada seorangpun tahu apa yang sedang dibisikan oleh kakek itu, bahkan lUkman dan Malikpun sebenarnya tidak pernah tahu rahasia di balik tanda lambang itu. Karena hanya ketua dan orang kepercayaannya saja yang tahu bagaimana cara menggunakan tanda lambang tersebut. Dan rahasia ini akan diwariskan kepada ketua baru dan<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> orang kepercayaan berikutnya setelah yang lama mati atau berhenti dengan persetujuan ketua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Sudah mengertikah tabib dengan penggunaan tanda lambang tersebut?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Sudah kakek, baiklah aku akan menggunakannya sesuai dengan petunjuk kakek. Aku berjanji untuk tidak menyalahgunakannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Baguslah, aku percaya pada tabib, sekarang kami mohon diri dulu, mudah-mudahan kita bertemu kembali dengan keadaan yang lebih baik. Kami menantikan kedatangan anda segera.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Segera Pandeka Tangan Siluman memberi kode kepada yang lain untuk segera berlalu dari situ, kedua pemuda merasa berat sekali dengan perpisahan ini tapi mereka sadar jika sampai dara tersebut benci pada mereka maka kemungkinan mereka bisa mengambil hati sang dara akan sangat susah sekali. Lebih baik memang sang dara ke rumah mereka jadi mereka lebih punya pendukung yang bisa membantu mereka jika diperlukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Malik ingin memastikan ke mana sang dara akan datang ke rumah dia atau ke rumah Lukman, biarpun rumah mereka tidak terlalu jauh letaknya tapi tetap membutuhkan waktu untuk sampai ditambah lagi dia merasa lebih nyaman kalau sang dara datang ke rumahnya sehingga dia bisa menunjukan kesan baiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Nona Siti, jika nona jadi datang, ke rumah siapakah nona hendak berkunjung sehingga kami bisa mempersiapkan diri menyambut kedatangan nona, ke rumah saya atau Lukman?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Hmmm … aku belum memikirkannya, nanti saja aku kabarkan di mana kita bertemu, aku tahu kalian tinggal berdekatan jadi mungkin saja aku memilih daerah di tengah antara rumah kalian. Atau bisa juga aku memilih tempat lain dan mengundang kalian untuk datang ke tempat itu. Tergantung situasi nanti saja seperti apa yang jelas aku sudah berjanji akan bertemu dengan kalian lagi 2 bulan mendatang,” kata Siti tegas tidak ingin diganggu gugat lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Hayolah tuan muda Malik, kita jalan sekarang, mumpung masih pagi jika kita bergerak cepat kita bisa singgah ke penginapan yang kita lihat di jalan tadi untuk beristirahat dan kemudian meneruskan perjalanan kita. “</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">“Nak Kahar dan tabib, senang sekali berjumpa dengan kalian. Nak Kahar, jika punya waktu datanglah bermain di tempat kami, dengan senang hati kami menyambut kedatangan anda. Jika merasa sungkan datang sendiri datanglah bersama tabib sehingga memudahkan kami juga dalam penyambutan,”kata Pandeka Tangan Siluman dengan senyum dan mata yang berbinar menggoda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Segera kedua manusia yang rupa elok ini menjura ke arah rombongan untuk menghormati dan mengucapkan salam perpisahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Lukman dan Malik langsung memandang tidak senang dengan cara dan kata Pandeka Tangan Siluman kepada saingan mereka itu. Tapi mereka tidak bisa bicara langsung saat ini karena kalau kejadian ini sampai ketahuan ayah mereka, mereka bisa dalam masalah besar. Jadi harus bersabar sampai mereka sudah sendiri dan akan menanyakan maksud dari perkataan kakek itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Akhirnya semua naik ke kuda masing-masing untuk melanjutkan perjalanan setelah terlebih dahulu Pandeka Tangan Siluman dan Datuak Marindiang mendorong-dorong Lukman dan Malik untuk segera berangkat. Lukman dan Malik merasa hatinya tertinggal bersama sang dara cantik itu, dan tidak ingin beranjak dari situ tapi apa daya mereka harus segera pergi jika tidak ingin dibenci. Setelah semua naik ke kuda, langsung mengarahkan kuda ke arah mereka datang untuk kembali pulang ke rumah, sebelum pergi kembali kedua pemuda itu memandang sayu ke arah dara yang sedang memandang kepergian mereka dengan wajah lembut dan senyum mengucapkan selamat jalan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dengan mata mendelik mereka memandang pemuda tampan saingan mereka yang sedang melihat kepergiaan mereka dengan tersenyum-senyum senang dan mata berbinar nakal dan senang yang tidak disembunyikannya. Lega hati Kahar melihat akhirnya rombongan itu pergi juga, karena dia sudah merasa tidak sabar lagi untuk segera mendekati dara pencuri hatinya itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Dan sebelum mereka pergi masih sempat ada sebuah adegan yang mengejutkan semua orang, di mana semua kuda yang akan berangkat itu<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> memandang dan mengganggukan kepalanya ke<span style="mso-spacerun: yes">&#160;</span> arah kuda putih tersebut seakan meminta pamit untuk pergi. Kuda putih itu menyambutnya dengan menganggukan kepalanya sedikit tanda kedudukannya lebih tinggi dari kuda yang lain seolah mengijinkan mereka pergi. Anehnya lagi sekarang baru mereka memperhatikan kuda tersebut mempunyai warna mata yang tidak biasa, warnanya biru pekat bukan hitam yang seperti mereka perkirakan semula, karena ketika dia dengan sombongnya memandang kepergian mereka terlihat pancaran kilau kebiruan dari mata kuda tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">Rombongan tersebut pergi dengan membawa perasaan masing-masing yang bercampur aduk antara heran, kagum, terkejut, galau, sedih, kesal, dan lain-lain. Hanya 2 orang dalam rombongan ini yang pergi dengan perasaan kaget dan kagum, mereka saling lirik dan seakan saling bisa membaca pikiran temannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte">&#160;</span></p>
<p><span style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: Forte; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA">Siapakah mereka itu ? Apa yang membuat mereka seakan menyimpan rahasia seakan hanya mereka yang tahu ? Dan bagaimana dengan keadaan Kahar dan Siti setelah ditinggal rombongan?</span>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aboutjuls.blog.com/2008/09/02/part-iii-kesakitan-panah-asmara/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jilid VIII</title>
		<link>http://aboutjuls.blog.com/2008/06/10/jilid-viii/</link>
		<comments>http://aboutjuls.blog.com/2008/06/10/jilid-viii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 17:23:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sieklie</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<font size="7" face="book antiqua,palatino"><em>Part II<br />
<br /></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Terdesak dengan keadaan, rombongan Lukman dan Malik segera berupaya mencari jejak ke mana perginya tabib itu, dikarenakan kuda yang dimiliki sang tabib sangat menyolok sekali warna putihnya sehingga orang yang bertemu di jalan ingat akan kuda putih itu. Dan mereka dengan cepat bisa mengikuti jejak sang tabib, pernah sekali hampir mereka bisa menemui sang tabib, tapi kembali dia menghilang dengan menggunakan penyamarannya yang hebat itu. Kali ini sang tabib merubah warna kudanya menjadi abu-abu dan dia merubah diri menjadi seorang gadis yang berusia 30 tahunan yang mempunyai wajah biasa saja, sehingga orang bisa cepat melupakan wajah yang tidak ada istimewanya itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Sudah hampir seminggu mereka mengejar sang tabib masih belum ketemu juga sampai di suatu malam di pinggiran hutan, mereka sedang melepaskan lelah setelah berkuda sekian lama untuk mencari sang tabib yang masih belum ditemui itu. Mereka berbincang-bincang mengenai perangai sang tabib yang menurut mereka sangat aneh dan belagak sekali mentang-mentang mau dimintai tolong. Dari pembicaraan yang mengenai sang tabib, entah bagaimana tiba-tiba mereka teringat akan musuh mereka dan membicarakannnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Terdengar pandeka Konek bertanya,” Aku merasa heran sekali kenapa waktu kita meninggalkan nagari itu sampai saat ini mereka tidak mengejar kita? Padahal kita sama-sama tahu mereka mendendam sekali pada tuan muda Lukman, biasanya mereka pasti menggunakan segala macam racun untuk mengerjai kita. Tapi anehnya selama hampir satu minggu ini kita berjalan tidak sekalipun kita menemui niat jahat mereka. Aku sudah berjaga-jaga takutnya mereka mancido (membokong) kita dari belakang, apa kalian tidak merasakan keanehan tersebut?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Iya, benar sekali kakek, aku merasakan hal yang sama karena biasanya sasaran mereka adalah aku. Terbukti waktu kita menemui tabib itu, jika tidak pasti aku sudah mati karena racun mereka. Tapi entah kenapa aku belum bisa menerima kalau bukan tabib itu yang meracuni aku, terbukti sejak dia menghilang kita semua aman-aman saja tidak ada yang kena racun satu orangpun juga dalam rombongan kita. Aku mulai berpikir apa bukan tabib itu merupakan orang mereka yang sengaja berbuat begitu supaya bisa masuk ke benteng kita dengan alasan mau mengobati ibu kami?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Entahlah tuan muda, aku selalu berfirasat tabib itu bukanlah orang jahat, memang dia nyentrik dan seenaknya sendiri mungkin karena dia mengerti kemampuannya sehingga menjadi bertingkah seperti itu. Tapi kalau dia berniat jahat pada kita, aku rasa tidak karena jika dia mau menganiaya kita mudah sekali baginya terutama tuan muda Lukman yang memang merupakan sasaran orang dari perguruan Merak Hitam. Aku tetap merasa ada sesuatu yang ganjil dari semua ini dan aku masih belum menangkap keganjilan itu lebih lanjut,’ kata pandeka Tangan Siluman.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Apa kalian merasa tidak selama seminggu ini, kita mengejar sang tabib tidak sekalipun kita merasa ada ancaman bahaya yang mengintai kita bahkan seolah-olah ada yang melindungi kita. Pernah suatu malam aku terbangun tiba-tiba tapi aku tidak tahu apa penyebabnya, hanya merasa mendengar sesuatu yang halus sekali tapi entah apa itu. Saat itu aku berpikir apakah aku ngelindur atau berhalusinasi, tapi kini setelah kita ngobrol begini aku merasa memang ada sesuatu yang tidak wajar sedang berlangsung di sekitar kita tanpa kita sadari sama sekali.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Adik Malik, aku juga merasakan hal yang sama, <span>&#160;</span>pernah aku merasa melihat berkelabat bayangan orang tapi ketika aku melihat ke arah itu tidak terlihat apapun, hanya aku melihat pohon ditempat itu berubah dari coklat lama-lama menjadi abu-abu seperti abu kayu yang habis terbakar. Hanya waktu itu aku tidak menyadarinya karena sedang tegang <span>&#160;</span>dan berjaga-jaga serangan dari musuh,” kata salah satu dari saudara seperguruan Malik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Hmmmm… memang ada yang tidak beres dengan ini semua, oleh karena itu kalian waspadalah mulai sekarang jangan sampai kita celaka di tangan musuh. Apapun yang mencurigakan tolong beritahukan kepada yang lain sehingga kita bisa saling mengingatkan dan berjaga-jaga,” kata Lukman dengan kening yang berkerut.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Dia yang berilmu silat tinggi bahkan lebih tinggi 1 tingkat dari Malik dan kedua kakek pengawalnya tersebut tidak bisa mengetahui jika ada orang lain di sekitar mereka. Berarti ilmu orang tersebut jauh lebih tinggi dari mereka semua, buktinya mereka bisa merasakan kehadirannya tapi tidak bisa mengetahui di mana keberadaannya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Tiba-tiba mereka mendengar suara ringkikan kuda di kejauhan dan sepertinya kuda tersebut berlari menuju ke arah mereka. Belum sempat Lukman berteriak memperingati rombongannya, sebuah benda putih melesat dengan cepatnya seperti anak panah yang dilepaskan dari busur lewat di samping mereka sehingga mereka hanya merasakan angin yang bertiup sangat kuat sekali di sekitar mereka dan debu berterbangan menutupi pandangan mata mereka. Tapi Kasman yang berdiri dari agak jauh dari benda tersebut dapat melihat dengan jelas bahwa benda itu adalah seekor kuda putih yang terasa kontras dengan gelapnya suasana akibat sudah turunnya sang malam. Langsung dia berteriak-teriak memberitahukan kepada yang lain, mereka bergegas menaiki kuda masing-masing untuk mengejar kuda putih tersebut.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Kuda Lukman dan kuda Malik merupakan kuda-kuda pilihan juga dan keturunan dari <span>&#160;</span>kuda-kuda yang langka dan hebat, tetapi dibandingkan dengan kuda putih di depan itu tidak ada artinya sebentar saja mereka kehilangan bayangan kuda putih tersebut, hanya dari jauh mereka mendengar samar-samar derap langkah kaki kuda itu. Penasaran mereka berdua memacu kedua kudanya untuk mengejar kuda putih itu, sehingga sebentar saja mereka meninggalkan rombongan mereka yang hanya menggunakan kuda “biasa” dibandingkan dengan kedua kuda pemuda itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Kira-kira hampir sejam kemudian rombongan itu bertemu dengan kedua pemuda yang sedang memeriksa tanah dan pepohonan di sekitar mereka. Mereka berdua sedang sibuk melihat, memegang bahkan mencium udara di sekitar tempat itu, seolah-olah mereka mencari sesuatu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tuan muda Lukman, apa yang terjadi? Apa yang kalian berdua lakukan?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kakek Konek, anda lihat tidak pohon yang di sebelah sana itu?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Segera mereka melihat arah yang ditunjuk oleh Lukman, mereka melihat pohon itu biasa-biasa saja seperti umumnya pohon. Tapi pandeka Tangan Siluman punya pemikiran lain, jika sampai tuan muda bertanya pasti ada sesuatu pada pohon itu, cepat diarahkan kudanya mendekati pohon tersebut.<span>&#160;</span> Setelah mengamati beberapa saat dia melihat pohon itu berubah warna menjadi abu-abu sebesar lingkaran gelas minum teh di bagian tengah pohon. Dia menjulurkan tangannya untuk menyentuh pohon, tapi segera Malik berteriak untuk mencegahnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Jangan sentuh pohon itu kakek, nanti bisa kena racun yang mematikan!”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Kaget pendekar ini mendengar pernyataan Malik, untung dia belum menyentuh pohon itu, kalau tidak bisa mati tanpa tahu sebabnya.</span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tuan muda, kenapa kalian bisa tahu pohon ini mengandung racun?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tadi di kejauhan kami mendengar suara pertarungan dan waktu kami hampir mendekati tempat ini tiba-tiba suara pertarungan itu berhenti dan kami masih mendengar suara seseorang berkata, Berani sekali kalian main racun jahat di sekitarku, nih rasakan racunku, aku ingin lihat apakah kalian sanggup menyembuhkan diri, Bilang pada guru kalian si Merak Hitam kalau dia berani main racun jahat lagi mencelakai orang, aku tidak akan segan-segan lagi membuat dia menyesal belajar ilmu racun. Kemudian terdengar teriakan kesakitan, dari mulut beberapa orang, dan pas kami sampai suasana sudah sunyi seperti tidak pernah terjadi sesuatu di sini. Mereka semua telah pergi dengan cepat sekali, Lukman mengejar ke arah kiri dan aku mengejar ke arah kanan, tidak lama aku mengikuti bayangan orang itu aku mendengar dia berkata, anak muda berhati-hatilah lebih baik segera kau susul sepupumu itu,<span>&#160;</span> sebelum dia menjadi mayat pulang ke rumah kalian. Aku sudah tidak bisa melindungi kalian lagi sekarang karena tugasku sudah mendesak sekali harus diselesaikan segera, dan mengenai ibu kalian, ambilah obat ini untuk diberikan kepada beliau, aku sudah mengetahui apa penyebab penyakit ibu kalian dari orang perguruan Merak Hitam, ibu kalian diracuni oleh mereka, dan ini obat penawarnya, mudah-mudahan bisa cepat sembuh.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku terkejut sekali tiba-tiba ada benda yang melesat dengan cepat sekali ke arahku, cepat aku menangkap benda tersebut, dan di tanganku ada 1 kantong kecil serta di dalamnya ada 6 butir obat berwarna kuning dan berikut kertas cara penggunaannya. Karena menangkap obat itu aku agak tertunda mengikuti bayangan tersebut, jadi aku sudah tidak bisa mengejar lagi. Dari perkataan orang itu aku berkesimpulan semua bentuk <span>&#160;</span>aneh di sekitar daerah ini pasti mengandung racun, makanya aku melarang kakek untuk menyentuh pohon tersebut.”<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tuan muda Lukman, bagaimana dengan dirimu? Apa yang terjadi, tidak dapatkah kau mengejar bayangan yang lari ke arah kiri?” Tanya Pandeka Tangan Siluman.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tidak, aku tidak berhasil mengejar mereka, karena ketika aku sudah hampir mendekati mereka, tiba-tiba mereka membalikan badan menyambitkan pisau belati ke arahku, diserang seperti itu buru-buru aku menghindarinya. Walaupun aku tidak bisa mengejar mereka lagi, tapi aku yakin mereka itu orang perguruan Merak Hitam karena aku melihat bendera mereka dipegang oleh salah satu dari mereka. Cepat aku kembali ke sini karena menguatirkan Malik mengejar bayangan ke arah berlawanan itu.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Waktu aku sampai di sini aku melihat Malik juga baru sampai, lalu dia menceritakan apa yang terjadi padaku, tapi aku masih tidak mempercayainya. Kami bertengkar dan hampir aku membuang obat itu kalau tidak kebetulan lewat sahabat ayah, Datuak Marindiang, beliau melihat dan memeriksa obat yang ada di tangan Malik, dan beliau mengatakan bahwa benar obat ini obat pemunah segala racun yang merupakan obat andalan dari Tabib Mato Tigo. Dia mengetahui obat ini dari bau dan warna kuningnya yang khas, karena dulu dia pernah minum obat manjur ini ketika dia kena racun jahat juga. Mendengar omongan beliau baru aku mempercayai bahwa obat ini adalah obat manjur.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Ke mana perginya Datuak Marindiang sekarang, tuan muda. Aku sudah lama tidak bertemu beliau, ingin sekali berbincang-bincang menukar pengalaman dengan beliau.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Ala kakek Konek bilang saja kau mau mengajak dia bertanding ilmu silat lagi kan ? Kau tidak terima kekalahanmu yang dulu bukan ?” sahut Kasman dengan senyum usilnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Mendengar perkataan Kasman, pandeka Konek langsung cemberut dan mendelik kepada pemuda yang polos dan nakal itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Setelah memberi penjelasan kepada kami, beliau menanyakan kepada Malik ke mana arah orang yang memberikan obat ini pergi, Malik menunjukan ke arah mana dia pergi dan beliau langsung menyusulnya. Sempat sebelum beliau pergi beliau mengatakan kepada kami untuk mempelajari daerah sekitar sini agar kami bisa mengenali bau khas yang dikeluarkan oleh racun dari Perguruan Merak Hitam agar kelak nanti kami bisa mengantisipasinya.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kenapa beliau mengejar orang itu, apakah beliau sakit?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku sempat menanyakan hal itu kepada beliau, kata beliau, dia mendengar kabar bahwa orang tersebut adalah murid Tabib Mato Tigo, dan katanya kakek itu selalu membangga-banggakan keahlian pengobatan cucunya yang sudah menyamai dia dalam usia yang muda sekali. Dan juga beliau penasaran sekali apakah wajah nona tersebut secantik kakaknya yang sangat terkenal di kota raja dengan sebutan Dewi Nan Kuniang.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Dasar tua bangka mata keranjang tidak bisa melihat rupa cantik nan rupawan, langsung saja mau caliak (lihat,” gerutu pandeka Konek bersungut-sungut.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Mereka semua tertawa mendengar gerutuan tersebut, karena mereka mengetahui Datuak Marindiang merupakan pria setengah tua yang iseng saja, dia tidak akan mengganggu nona-nona cantik dalam arti menjadi “penjahat pemetik bunga”. Beliau memang punya kegemaran aneh suka melihat wajah-wajah yang cantik dan tampan rupawan, lalu melukis wajah mereka untuk menjadi koleksi pribadinya. Dan sebenarnya tidak banyak orang yang menurut beliau tampan dan cantik bahkan Lukman dan Malik yang termasuk kategori tampan saja bagi beliau biasa-biasa saja. Memang sebuah kegemaran yang aneh sekali, tapi hal inilah yang mempertemukan dia dengan ayah Lukman dan menjadi sahabat baik, karena ayah Lukman menurut beliau merupakan termasuk pria yang paling tampan yang pernah ditemuinya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Jadi sekarang, kedua tuan muda sudah tahu bagaimana bau khas yang dikeluarkan oleh racun perguruan Merak Hitam?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Iya kira-kira begitu uda Randu, ada semacam bau yang khas sekali di setiap racun perguruan Merak Hitam, aku juga mencium bau ini di tubuh ibu ketika aku dekat-dekat beliau,” kata Malik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Maksud tuan muda, bau khas yang seperti apa?” kata Randu sambil mengendus-endus di sekitar mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku tidak bisa bilang bau yang seperti apa, kalau kau tidak konsentrasikan pancaindramu memang bau ini tidak akan tercium coba kerahkan ilmu Kijang Mencium Bayangan, pasti kau akan bisa mencium bau yang aku maksudkan.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Segera kelima saudara seperguruan Malik mengerahkan ilmu tersebut, memang ilmu ini sangat khas sekali karena ilmu ini mengandalkan bau seseorang untuk mengetahui posisi lawan di saat pertandingan melawan musuh yang bisa menggandakan dirinya seperti ilmu Gandakan Roh Setan milik Datuak Kalam Kambang, yang merupakan pimpinan dari perguruan Kalam Kambang dan seorang datuk sesat yang menguasai wilayah Timur dari pusat kerajaan Pagaruyung. Selama ini datuak ini tidak bisa mengganggu pusat kerajaan karena di sekeliling ibukota dijaga ketat oleh pasukan Garuda yang terkenal kedahsyatannya. Bahkan sempat perguruan beliau hampir musnah oleh panglima dan 3 jenderal pasukan Garuda ketika mereka mencoba memasuki ibukota, sejak itu mereka melarikan diri ke Timur dan berdiam di daerah jauh dalam perdalaman hutan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Ilmu ini juga sudah digunakan oleh Malik dan saudara-saudaranya dalam melacak keberadaan tabib sakti itu tapi memang tabib itu hebat sekali dia mampu menghilangkan bau khas dari tubuhnya sehingga mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan sang tabib sampai sekarang ini.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Benar sekali tuan muda ada semacam bau khas yang tertinggal di sekitar sini, kalau ini benar cirri khas perguruan Merak Hitam dalam ilmu racun mereka, kita akan bisa mengantisipasinya ke depan nanti,” kata Randu dengan gembira.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Sementara itu kedua kakek tersebut sudah juga bisa mencium bau khas yang dimaksud, hanya Kasman sendiri yang masih belum bisa mencium bau khas yang dimaksud tapi dia tidak berani bilang kepada yang lain takut disangka bodoh dan rendah ilmunya dibandingkan dengan yang lain. Kesombongannya inilah yang nantinya mencelakakan dirinya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Sekarang apa yang harus kita lakukan tuan muda, obat sudah di tangan sebaiknya kita kembali ke rumah untuk memberikan obat ini kepada nyonya berdua,” kata Pandeka Konek.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Lukman terlihat berpikir dari tadi dan tidak banyak berbicara karena sebenarnya dia penasaran sekali kenapa mereka tidak bisa menemui sang tabib, seakan sang tabib merasa mereka tidak pantas bertemu dengannya. Dia sangat penasaran sekali bahkan dia tidak mampu melupakan sorot mata sang tabib yang seakan membetot sukmanya itu. Terbersit di dalam hatinya untuk mengetahui apakah benar sang tabib itu adalah seorang gadis rupawan yang menyamar ataukah itu hanya isu yang sengaja dilontarkan di dunia persilatan agar gadis itu mendapat nama dengan cepat.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Semua menunggu keputusan Lukman sambil memandang wajahnya yang terlihat sedang berpikir keras. Akhirnya dia bicara dengan suara pelan dan jelas terkandung rasa penasaran kepada yang lain.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tolong kalian jawab yang jujur, apakah kalian tidak penasaran dengan sang tabib yang misterius itu? Terus terang saja aku merasa terhina sekali kenapa dia tidak mau bertemu dengan kita dan menerima terima kasih kita secara langsung? Sedemikian tidak berharganya terima kasih dari keluarga kita padanya sehingga bahkan dia tidak mau bertemu muka dengan kita dan datang berkunjung ke rumah kita untuk mengobati ibu? Aku ingin sekali melihat wajahnya dan bisa berbicara dengannya untuk menanyakan padanya kenapa dia berbuat begitu pada kita sehingga bisa hilang rasa penasaran di hatiku saat ini, kalau memang kita telah berbuat salah yang tidak kita sengaja aku bersedia meminta maaf padanya,” kata Lukman.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Yang lain mendengar perkataan Lukman memang merasa penasaran sekali kenapa sang tabib seperti itu dengan mereka, apa yang telah mereka perbuat sehingga beliau tidak mau bertemu dengan mereka. Tapi merekapun sadar mereka tetap harus mengantar obat tersebut untuk kedua orang yang sedang menderita kesakitan di rumah.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tuan muda Lukman, terus terang saja aku penasaran juga tapi kita harus segera pulang untuk membawa obat tersebut<span>&#160;</span> agar<span>&#160;</span> nyonya bisa segera bebas dari kesengsaraannya.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Iya, uda Lukman kita harus segera kembali untuk bawa obat buat ibu.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kalian benar, kakek Tangan Siluman dan Kasman, kita harus segera kembali demi ibu, tapi kenapa hatiku masih tidak rela melepaskan tabib tersebut seakan sudah di depan mata tapi kita tidak bisa meraihnya. Aku juga ingin meminta obat penawar racun seandainya perguruan Merak Hitam menyerang kita kembali dengan racun, yah minimal petunjuknya agar obat penawar tersebut dapat kita buat sendiri dan diperbanyak untuk dibagikan kepada anggota kita semua.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Benar yang kau katakan Lukman, aku juga berpikiran sama denganmu, mungkin lebih baik kita pecah menjadi 2 rombongan, 1 rombongan mengantar obat buat ibu dan 1 rombongan lagi menyusul ke mana tabib itu pergi. Bagaimana menurut kalian usulku ini?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Belum sempat Lukman menjawab usul Malik, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi letusan di udara, dan terlihat di langit warna hijau pekat sekali sesaat sebelum buyar ditiup angin, itu tanda pengenal dari perguruan mereka yang menandakan ada anggota mereka yang dalam bahaya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Melihat hal tersebut semua orang buru-buru naik ke kuda mereka dan melupakan masalah sang tabib karena tanda bahaya yang dilepaskan itu tanda bahaya tingkat 3 yang artinya benar-benar dalam keadaan yang berbahaya dan genting sekali.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Cepat, kita menuju ke Utara, sepertinya ada teman kita yang dalam bahaya, mudah-mudahan tidak jauh dari sini,” kata Lukman sambil dengan cepat mengarahkan kudanya.<br />
<br />
Untungnya malam itu langit sangat terang benderang, bulan bersinar bulat penuh dan banyak bintang yang berserakan di pekatnya malam sehingga seperti lampu yang redup menyinari bumi. Tapi bagi kaum pendekar pengelana dengan penerangan seperti ini sudah cukup membantu bagi penglihatan mereka akan sekelilingnya, mengingat mereka mempunyai mata yang berbeda dengan manusia biasa, karena semakin tinggi tenaga dalam seseorang akan semakin kuat daya penglihatan orang tersebut.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Tidak lama mereka mendengarkan suara pertempuran yang seru sekali di depan mereka, semakin cepat mereka memacu kudanya, Lukman dan Malik segera mendahului sampai. Terlihat suasana di sebuah lapangan pertempuran tidak seimbang, adik kedua Lukman, Darman sedang dikeroyok tokoh kelima dan keenam perguruan Merak Hitam yaitu Siluman Merak Rawa dan Siluman Merak Pohon, dan yang lain 8 orang saudara seperguruan Malik sedang dikeroyok oleh 25 orang anggota Merak Hitam. Dan terlihat 2 tubuh yang tergeletak di tanah yaitu<span>&#160;</span> pengawal Rangkayo Padang Jati, Pandeka Tendangan Petir dan Pandeka Pedang Pamuncak, mereka terlihat seperti sudah tidak bernafas dan wajah mereka sudah berubah menjadi menghitam itu tanda mereka keracunan hebat.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Tanpa pikir panjang lagi segera Lukman menyerbu untuk membantu adiknya yang sudah dalam keadaan payah sekali dan Malik memburu kedua pengawal tersebut sambil mengeluarkan 2 butir obat penawar racun yang diberikan oleh tabib itu, yang penting menyelamatkan jiwa orang yang ada di depan mata dulu, dia melupakan bahwa mencari obat pemberian tabib itu susah sekali sekarang dia memberikan kepada orang lain tanpa pikir panjang. Sungguh benar-benar seorang pemuda yang mempunyai hati yang baik sekali jarang ada orang yang seperti dia, apalagi obat itu berguna untuk orang yang paling disayanginya tapi berhubung ada orang lain yang membutuhkan dia memberikannya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Malik membantu menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh kedua pengawal tersebut, sedangkan Lukman begitu terjun ke gelanggang segera mengeluarkan ilmu andalannya yaitu Ilmu Walet Menerjang Badai.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Darman, aku datang membantumu!”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Ketiga orang yang sedang terlibat perkelahian seru itu kaget mendengar perkataan itu, Kedua Siluman Merak itu merasakan ada angin dahsyat yang bergerak tajam menuju mereka, cepat Siluman Merak Rawa mengangkat kedua tangannya untuk menangkis serangan dari Lukman. Sedangkan Siluman Merak Pohon tetap dalam posisi menyerang Darman, tadinya mereka sudah senang sekali sudah hampir bisa menangkap dan menyandera anak kedua dari musuh perguruan mereka. Tapi gangguan datang terpaksa mereka membagi kekuatan, tapi siluman Merak Pohon tetap yakin dia dapat meringkus pemuda yang jadi lawannya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Dengan pukulan beracun Merak Menebarkan Benih, dia melompat ke atas dengan posisi kaki yang merapat, dia melontarkan puluhan jarum beracun kea rah Darman, dia yakin sekali jarum itu akan mengenai pemuda lawannya. Setelah itu dibarengi dengan kecepatan yang tinggi dia berbalik arah dan mempersiapkan kedua tangannya membentuk mulut merak dengan ilmu Merak Mematuk Mangsa menyerang ke arah Lukman yang sedang mendesak saudaranya itu. Tapi yang menjadi pemikirannya bukanlah yang dikehendaki oleh sang Ilahi, di saat keadaan Darman sedang genting, tiba-tiba dari arah belakang Darman terlontar sebuah batu hitam<span>&#160;</span> berbentuk persegi panjang sebesar batu bata dan begitu batu itu melayang ke arah jarum-jarum tersebut, semua jarum-jarum yang tadinya bergerak menyerang Darman tiba-tiba seperti tersedot oleh batu tersebut. Jarum-jarum itu semuanya melengket di batu hitam tanpa tersisa, dan selamatlah Darman.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Ternyata batu hitam itu merupakan batu sembrani (magnet) yang bisa menyedot semua benda yang terbuat dari besi. Darman menoleh ke belakangnya untuk melihat siapa orang yang telah membantunya itu, dia melihat seseorang bercadar dan tertutup dengan jubah besar berwarna lembayung yang indah sekali sedang duduk di atas seekor kuda putih. Lalu orang itu menggerakan tangannya dan batu hitam yang jatuh di tanah tersebut bergerak meluncur ke arahnya dengan cepat sekali. Terlihat pada batu itu terlilit seuntas tali panjang yang bisa digunakan untuk menariknya kembali kepada sang pemilik. Dan batu hitam itu disimpan di kantong yang ada di sisi kakinya, dan dari kantong itu dia mengeluarkan sebuah botol berbentuk seperti buah alpukat.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Dia melemparkan botol itu ke arah Darman sambil menghentakan kakinya ke perut kuda putih itu dan kuda putih itu segera berlari cepat seperti angin menjauhi arena perkelahian seru itu. Terdengar kata-katanya kepada Darman,”Anak muda, kau ambilah botol ini lalu berikan kepada teman-temanmu untuk diminum agar semua racun yang ada dalam tubuh mereka bisa bersih segera, dan berikan juga obat ini kepada ibumu yang sedang sakit karena keracunan. Katakan kepada saudaramu, jangan lagi mengikuti aku dengan alasan apapun juga, di dalam botol ini ada 500 butir obat penawar racun yang bisa kalian gunakan seandainya kalian keracunan berat nantinya. Dan kau juga sekarang segera minum obat penawar itu, jangan sampai terlambat.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Darman menerima botol yang dilemparkan kepadanya itu, ingin dia mengucapkan terima kasih kepada penunggang kuda putih itu tapi mereka sudah tidak terlihat lagi seakan hanya dalam mimpi saja ada orang yang menolongnya kalau dia tidak memegang botol obat ini. Dia mengalihkan pandangannya ke arah pertempuran seru di depannya, dia melihat sekarang Lukman berhadapan dengan Siluman Merak Rawa dan Malik dengan Siluman Merak Pohon, kedua pengawalnya terlihat sedang bersila memulihkan kondisi tubuh mereka, 8 orang yang lain sudah menjadi bulan-bulanan dari orang perguruan Merak Hitam, cepat dia berlari ke arah pertempuran itu sambil membuka tutup botol dan mengeluarkan 1 butir obat berwarna kuning untuk ditelannya, tidak sedikitpun dia terpikir untuk meragukan maksud orang tersebut. Karena kalau oang itu benar-benar hendak mencelakainya tidak bakal orang itu berbicara seperti itu padanya, berarti orang itu kenal dengan saudaranya, hanya dia belum tahu saudaranya yang mana, setelah itu dia memasukan botol obat ke dalam bajunya. Begitu Darman datang membantu keadaan menjadi semakin ramai, dengan serangan-serangan gencar dan berbahaya Darman berusaha menyelamatkan teman-temannya dari barisan perguruan Merak Hitam itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Sementara itu pertempuran Lukman dan Siluman Merak Rawa sudah mencapai titik tertinggi, keduanya terlihat sedang mempersiapkan diri dengan ilmu pemuncak mereka. Dari beberapa kali bentrokan tangan tadi, Lukman sudah bisa mengukur tenaga dalam Siluman Merak Rawa masih kalah setingkat dari dirinya, tapi dia tidak bisa lengah juga karena semua ilmu dari siluman itu mengandung racun yang berbahaya dan mematikan jika kena anggota tubuh.<span>&#160;</span> Lukman mengerahkan ilmu Walet Menerjang Badai tingkat ke 9 yaitu Walet Memapas Angin, dengan mengandalkan ilmu peringan tubuh tingkat tinggi dia memainkan ilmu dahsyat ini, ilmu ini tidak mengeluarkan suara apapun dan tidak terasakan adanya angin yang bergerak di sekitarnya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Siluman Merak Rawa tahu dia dalam keadaan berbahaya pemuda lawannya ini lebih hebat lagi dari pemuda sebelumnya, dia melihat ada kemiripan diantara kedua pemuda tersebut pasti mereka kakak beradik tapi pemuda yang pertama jauh lebih tampan dari yang ini. Dia merapalkan ilmu tertingginya ilmu Bayangan Merak Menarik Arwah, ini merupakan ilmu yang paling hebat dari perguruannya, walaupun dia baru sampai tingkat 4 tapi dia sudah susah dicari tandingannya. Dia tidak tahu bahwa musuh yang paling dicari kakak pertamanya adalah pemuda ini, karena selama ini dia dan Merak Pohon selalu harus menemani guru mereka bertualang ke tanah Jawa. Sejak guru mereka meninggal dunia beberapa bulan yang lalu, mereka dipanggil oleh kakak seperguruan mereka untuk kembali ke perguruan dan membantu sang kakak untuk membalas dendam.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Terlihat keduanya sedang mempersiapkan diri untuk memuntahkan ilmu tertinggi mereka kepada lawan. Sementara itu Malik juga sudah mengimbangi permainan Merak Pohon, terlihat memang Malik kalah setengah tingkat dari musuhnya tapi untungnya dibantu dengan ilmu peringan tubuhnya yang bagus dia masih bisa menapaki semua serangan musuh dengan baik. Dengan ilmu Ula Kuniang Mengejar Bayangan dia menyerang dan bertahan melawan Merak Pohon, dan musuhnya sudah mulai hilang kesabarannya setelah melihat situasi bisa berubah sewaktu-waktu, segera dia memainkan ilmu Bayangan Merak Menarik Arwah tingkat 3 agar bisa cepat mengalahkan musuhnya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Merak Pohon kosentrasi mempersiapkan diri dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke arah jari-jari tangannya sambil menahan gempuran dari Malik yang bergerak bagaikan ular menyusup di setiap celah lowong diantara serangannya. Pertandingan kedua orang ini berlangsung seru, tiba-tiba terdengar jeritan kesakitan dari arah pertempuran Darman dengan Barisan Merak Hitam, ternyata salah seorang dari teman rombongan Darman kena pukulan akibat sebelumnya dia sudah kena racun sehingga tenaga dalamnya berkurang dan menyebabkan gerakannya menjadi lambat untuk menghindari serangan. Keadaan pertempuran Darman dan teman-temannya melawan Barisan Merak Hitam terlihat tetap tidak membaik, karena rata-rata mereka semua sudah kepayahan akibat racun yang disebarkan oleh orang perguruan Merak Hitam. Jika kondisi mereka tidak keracunan mungkin mereka masih bisa bertahan dan tidak seperti sekarang sewaktu-waktu akan ambruk.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Malik masih sempat melihat ke arah teriakan itu dan hampir saja kena pukulan dari Merak Pohon akibat kelengahannya itu, sedangkan Lukman tidak berani menoleh ke arah jeritan itu karena dia sudah melihat lawannya sudah siap melontarkan pukulan mematikan ke arahnya. Dalam keadaan yang semakin genting tiba-tiba mereka semua mendengarkan derap kaki kuda yang banyak sekali menuju ke lapangan itu. Lukman dan Malik yang tahu itu adalah rombongan mereka menjadi lebih lega dan tenang karena tahu situasi sebentar lagi akan berbalik, sedangkan dari pihak musuh mulai menyadari keadaan bisa memburuk jika yang datang adalah musuh. Sementara itu kedua pengawal Darman yang sudah hampir selesai mengobati diri menyadari akan kedatangan banyak orang, mereka cemas sekali takut musuh yang datang sedangkan mereka dalam masa kritis mengobati luka mereka. Darman dan teman-temannya yang sedang bertempur di sisi lainnya tidak memperhatikan hal itu karena mereka sedang sibuk kosentrasi untuk melayani serangan yang sangat teratur dari Barisan Merak Hitam jika lengah sedikit nyawa taruhannya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Seperti dugaan Lukman dan Malik memang yang sedang datang mendekat itu adalah rombongan mereka. Begitu sampai ke lapangan itu mereka semua bergerak ke lapangan untuk membantu teman-teman mereka, Pandeka Tangan Siluman dan Pandeka Konek berpencaran membantu Lukman dan Malik, sedangkan yang lain langsung terjun ke pertempuran Darman. Melihat kedatangan teman-temannya, mereka menjadi semangat sekali dan pertempuran menjadi tambah seru.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Pandeka Konek yang hendak membantu Lukman segera dicegahnya, “Kakek, cepat kau tolong Darman, aku masih bisa atasi mereka. Darman dan yang lain keracunan hebat takutnya mereka tidak bisa ditolong lagi kalau terlambat!”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><span>&#160;</span><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Setelah melihat Lukman tidak bakalan kalah dari lawannya, cepat Pandeka Konek bergerak ke arah pertempuran Darman dan teman-temannya. Dia melihat pertempuran tersebut masih berlangsung alot sekali, Barisan Merak Hitam itu sungguh sebuah barisan kerjasama tim yang sangat kompak sekali, setiap orang tahu posisi masing-masing dan secara bergantian memainkan ilmu menyerang dan bertahannya dengan sangat baik sekali. Sedangkan di pihak mereka, keadaan Darman dan <span>&#160;</span>8 orang temannya dalam keadaan payah sekali di seluruh tubuh mereka sudah banyak luka dan sewaktu-waktu bisa ambruk tapi setelah ditambah dengan Kasman dan 5 orang saudara perguruan Malik, keadaan mulai membaik walau tetap tidak bisa mengalahkan barisan tersebut.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Barisan Merak Hitam ini dimainkan oleh 25 orang dengan sangat baik sekali, karena mereka dilatih langsung oleh ketua mereka dengan sangat keras. Mereka seolah-olah menyatu satu dengan yang lainnya, orang lain tidak tahu siapa yang memegang komando dari gerakan barisan yang memang sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga orang lain tidak mengetahuinya kecuali oleh anggotanya sendiri. Sebenarnya kunci rahasia kelemahan barisan ini ada pada si pemegang komando, karena jika orang mengetahui siapa yang mengatur bisa mengincarnya dan mematikan gerakannya, otomatis jika gerakannya mati anggota yang lainpun akan kebingungan untuk menggerakan barisannya. Mereka berjumlah 25 orang merupakan sebuah barisan yang mempunyai jumlah orang yang sangat banyak jadi tidak gampang untuk mengatur gerakan penyerangan dan pertahanan jika mereka tidak ada yang mengepalainya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Ditambah lagi mereka semua menggunakan baju dan penutup wajah berwarna hitam sehingga susah sekali untuk mengetahui pimpinan mereka. Lawan tidak bisa melihat wajah mereka sehingga mereka dengan leluasa bisa bergerak tanpa kuatir sang pemimpin akan diredam gerakannya. Pandeka Konek yang melihat keadaan ini langsung mengetahui satu-satunya cara adalah menggempur barisan ini dari belakang, jadi menyerang mereka dari dua sisi depan dan belakang. Dia langsung menyerang sisi belakang barisan yang sedang sibuk menggempur Darman dan teman-teman yang lain. Dan ternyata Pandeka Konek kecele dengan dugaannya, barisan ini benar-benar barisan yang tangguh dan hebat sekali, memang mereka dilatih untuk menghadapi saat harus bertempur menyerang kubu Rangkayo Jati yang dikawal oleh banyak orang-orang berilmu tinggi, jadi satu-satunya cara adalah membuat sebuah barisan yang bisa meredam kekuatan pengawal keluarga itu. Begitu tahu mereka diserang dari belakang, mereka langsung merubah gaya serangan tadinya mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam, sekarang mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam Kembar jadi seperti dua orang anak kembar mereka bisa saling bergantian menutupi kanan kiri mengisi kelemahan posisi teman-teman mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Sungguh pemandangan luar biasa, 25 orang bertempur menekan 2 orang pesilat dengan ilmu kelas satu dibantu dengan 14 orang lainnya tanpa mereka sendiri mengalami kesulitan bahkan pihak yang digempur harus berhati-hati beradu tangan dengan mereka karena seluruh tubuh 25 orang ini berlumuran racun yang mematikan. Yang paling parah keadaannya adalah Merak Pohon karena dikeroyok oleh Malik dan Pandeka Tangan Siluman, mereka berdua ingin cepat-cepat menyudahi pertempuran karena mau membantu kelompok Darman yang beberapa orang diantaranya sudah sangat kepayahan akibat racun yang masuk ke tubuh mereka.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Merak Pohon menyadari keadaannya yang berbahaya itu tapi dia tidak mau menyerah kalah, dia mengeluarkan senjata andalannya pisau terbang Merak Hitam, di tangannya pisau ini bergerak seakan terbang mencari mangsanya. Begitu dia mengeluarkan 2 pisau dari dalam bajunya, segera tercium bau amis yang sangat menyengat hidung, Malik dan Pandeka Tangan Siluman mengetahui bahwa senjata ini dilumuri dengan racun yang sangat berbahaya sekali, mereka harus berhati-hati agar tidak tergores pisau belati beracun itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Sedangkan keadaan Lukman sudah di atas angin, Merak Rawa sudah mulai susah menahan gerakan Lukman, terpaksa dia mengeluarkan juga senjata andalannya sabuk yang terbuat dari bulu-bulu merak yang sudah direndam dengan obat-obat dan racun ganas supaya bisa menjadi senjata. Melihat hal ini Lukman tidak mau kalah mengeluarkan senjatanya yaitu pedang Walet Perak, pedang ini warisan dari gurunya, khusus dibuat dari perak murni yang mempunyai kadar murninya sangat tinggi hampir mencapai 100% dan dicampur dengan baja putih yang jarang sekali ditemukan jadi dapat dibayangkan kehebatannya. Pedang ini sangatlah tajam sekali dan belum ada yang bisa menghancurkannya,<span>&#160;</span> pedang yang bisa mengimbangi ketenarannya adalah <span>&#160;</span>pedang Batu Angin milik Orang Gaek Indak Banamo (Orang tua tidak bernama) dan pedang Gadang Barek (Besar berat) pusaka perguruan Jawi Putiah (sapi putih). Konon kabarnya pedang ini hanya bisa dihancurkan oleh pedang pusaka Naga Hijau yang dipegang oleh raja Adtyawarman dan Pedang legenda Damar Pelangi yang konon tidak jelas keberadaannya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Benar-benar pertempuran tingkat tinggi, Lukman mengerahkan ilmu pedang Walet Peraknya untuk menandingi Sabuk Merak Hitam milik Merak Rawa. Pedang di tangan Lukman bergerak-gerak cepat sekali seperti burung walet menyambar-nyambar ke segala arah tubuh Merak Rawa, sedangkan sabuk Merak Rawa tidak mau ketinggalan bergerak mengimbangi kekuatan pedang Walet Perak. Merak Rawa selalu berusaha menjaga jarak jangkauan sabuknya yang panjang itu, sedangkan Lukman lebih menyukai pertempuran jarak pendek. Untuk mengatasi hal ini keduanya berusaha menggunakan cara apapun untuk saling mengalahkan. Melihat hal ini Lukman merubah strategi permainan silatnya, mulai dia menggunakan pedangnya untuk memapas sabuk tersebut, dari beberapa kali benturan, pedang itu berhasil memotong sabuk itu hampir sepertiga panjangnya. Merak Rawa mulai merasa gelagat tidak baik berpihak pada dia dan rombongannya, sambil terus memainkan sabuknya sempat dia melirik ke arah dua pertempuran lainnya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Dia melihat adik seperguruannya sedang terdesak hebat dikeroyok 2 orang tinggal tunggu saatnya saja untuk binasa, sedangkan barisan Merak Hitamnya sedang diobrak abrik oleh 7 orang dengan tingkat kepandaian yang lebih tinggi dari musuh sebelumnya, walaupun belum terlihat mereka bakalan kalah. Dan terlihat di sudut kanan lapangan 8 orang lawan awal dari barisan Merak Hitam sedang bersila memulihkan kondisi mereka yang sudah terluka dan keracunan. Hal ini sangat tidak menguntungkan sekali bagi pihaknya, dia harus segera menyingkir dari sini. Mulailah akal liciknya bekerja, perlahan-lahan dia menggeser pertempurannya mendekati saudaranya, dan menggunakan ilmu bicara jarak jauh dia menyuruh saudaranya mulai bergeser ke arah barisan merak hitam serta dia juga menyuruh pimpinan barisan menyiapkan anak buahnya semua untuk kabur dari gelanggang dengan menggunakan bom racun buatan mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Duuuuaaarrrrr, terdengar ledakan keras sekali dari tengah pertempuran dari barisan Merak Hitam, ternyata salah satu dari anggota barisan menjatuhkan bom untuk mengalihkan perhatian Malik dan Pandeka Tangan Siluman yang telah mendesak Merak Pohon yang sudah terluka. Ketika semua orang dikagetkan dengan bunyi ledakan itu, Merak Rawa mengambil kesempatan itu lari menuju ke saudaranya dan menangkap tangannya untuk dibawa berlari dengan cepat sekali. Semua orang selain dari perguruan Merak Hitam buru-buru menjauhi asap beracun yang menyelimuti arena pertempuran, cepat mereka menarik saudara mereka yang terluka agar tidak terhirup asap itu. Terdengar ledakan kedua, dan asap semakin tebal mengitari arena, tambah jauh rombongan Lukman dan Darman berlari meninggalkan tempat itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Setelah mereka cukup jauh dari arena pertempuran barulah mereka berhenti berlari, sambil meletakkan saudara-saudara mereka yang terluka di tanah. Mereka melupakan kuda-kuda mereka yang tertambat di dekat pertempuran tadi, karena mereka hanya memikirkan menyelamatkan diri dan teman-teman dari bahaya keracunan akibat bom asap tersebut.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kurang ajar, memang bangsat licik, coba mereka tidak main bom asap itu, tidak nanti mereka bisa meloloskan diri.” Sumpah serapah Pandeka Konek.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Sudahlah kakek, sekarang yang penting kita obati dulu teman-teman kita” sahut Darman sambil membagi-bagikan obat yang telah dia terima dari orang misterius tadi.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Darman, darimana kau dapat obat ini?”Tanya Malik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tadi ketika aku sudah hampir kena jarum Merak Hitam, <span>&#160;</span>tiba-tiba datang seseorang yang berjubah lembayung yang sangat indah sekali menolong aku dan memberikan obat ini.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Jangan-jangan dia datang membantu kita?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku yakin sekali, Man, sepertinya memang dia yang membantu kita.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Ini sudah yang ke berapa kalinya dia membantu kita, berarti dia tidak seperti yang kau curigai selama ini, Lukman.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku tahu, kakek Konek, hanya aku penasaran saja kenapa dia tidak mau bertemu muka dengan kita?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kalau aku boleh bertanya, emangnya siapa yang kalian bicarakan dari tadi?” Tanya Darman kebingungan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Oya, kenapa kalian bisa sampai di sini, bertemu dengan musuh?” Tanya Lukman.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kami mendengar kabar Datuak Kaba Angin bahwa Dewi Tangan Dingin sedang menuju gunung Tandikat untuk mencari obat, makanya kami menyusul ke sini, baru kami sampai, tiba-tiba kami diserang mereka dengan cara curang sekali, makanya kedua paman sampai bisa diracuni mereka. Untung kalian keburu datang kalau tidak kami semua sudah mati dibunuh mereka.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tapi kalau melihat cara mereka menyerang sepertinya mereka tidak ingin membunuh kalian, karena kalau mereka benar-benar hendak membunuh kalian dari tadi pasti kalian sudah mati oleh racun Merak Hitam mereka yang berbahaya itu. Aku rasa mereka ingin menyandera kalian untuk tujuan yang tidak baik.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Benar juga yang uda Lukman katakan, sepertinya memang begitu rencana mereka, ketika semburan racun mereka yang dihadang oleh paman Jamin (Pandeka Tendangan Petir) dan paman Dasrun (Pandeka Pedang Pamuncak) tidak sampai merenggut nyawa mereka langsung biasanya sehebat apapun ilmu tenaga dalam orang bila sudah berhadapan dengan racun Merak Hitam tidak ada yang bisa selamat, pasti hanya bisa bertahan sebentar saja sebelum kehilangan kesadaran atau nyawa.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Darman telah selesai membagikan obat kepada yang terluka kena racun, dan memasukan botol obat tersebut ke dalam bajunya lagi. Belum sempat dia membuka mulut untuk menanyakan sampai di mana pencarian mereka akan obat untuk ibu mereka, tiba-tiba terdengar gemuruh suara derap kuda yang ramai sekali di belakang mereka dari arah pertempuran tadi. Buru-buru mereka semua menyingkir dan mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Terlihat sekumpulan debu berterbangan mengiringi kuda-kuda yang berlari ke arah mereka yang dipimpin oleh seekor kuda putih yang berlari tenang ke arah mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Mereka yang sudah pernah melihat kuda putih ini tahu bahwa bukan musuh yang datang, ketika hampir mendekati tempat mereka, kuda putih itu berhenti berlari dan mengangkat kedua kaki depannya dan meringkik dengan keras seakan memerintahkan kuda lain yang ada di belakangnya untuk berhenti. Dan anehnya semua kuda yang ada di belakangnyapun berhenti berlari bahkan mereka berdiri dengan membentuk sebuah barisan yang teratur sekali. Kuda Putih itu menolehkan kepalanya kepada semua manusia yang sedang memandang dengan melongo takjub melihat semua ini, lalu kuda itu menganggukan kepalanya dan kembali berdiri dengan kedua kaki depannya sebelum dia pergi dengan kecepatan angin meninggalkan mereka semua.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Tidak ada satupun dari manusia yang ada di sana yang tidak terpesona akan kecerdikan dan kehebatan kuda putih itu. Cukup lama mereka dalam keadaan diam diri dan tidak tahu harus berkata apa, keheningan itu dipecahkan oleh suara kuda-kuda yang mendengus dan menggerak-gerakan badannya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kalian lihat tadi ? Apa aku bermimpi seekor kuda mengantarkan kuda kita dan menganggukan kepalanya pada kita?” Tanya Darman dengan masih tidak percaya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Memang kuda yang sangat hebat sekali, ingin aku memiliki kuda seperti itu biarpun hanya keturunannya saja. Sang tabib berhasil melatih kudanya dengan luar biasa sekali.”sahut Malik dengan takjub.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Lukman hanya terdiam di tempat dan tidak habis berpikir, kalau kuda putih itu muncul di sini artinya pemiliknya tidak jauh-jauh dari mereka dan masih ada di sekitar mereka untuk melindungi mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Mereka semua terkejut ketika mendengar suara Darman yang sambil merangkapkan kedua tangannya dan membungkukan badannya ke semua arah, “Terima kasih kepada anda yang sudah menolong kami, budi baik ini pasti akan kami balas suatu saat nanti.” Dia menggunakan ilmu Teriakan Gaung Bumi untuk menyampaikan pesan kepada sang penolong mereka yang tidak tahu ada di mana.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tuan muda Darman, kau ini bikin kami terkejut saja.”kata Jamin sambil mengurut-urut dada saking terkejutnya mendengar suara keras yeng bergema tadi.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Tapi Darman diam saja seperti mendengarkan sesuatu, mereka melihat ke arahnya dengan bingung.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Darman, ada apa ?” Tanya Malik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Ssssttt….”<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Terlihat beberapa kali Darman mengangguk-anggukan kepalanya tanda menyetujui sesuatu atau mengerti sesuatu, mereka semua menunggu sampai Darman buka suara.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Baiklah, akan aku laksanakan perintah tabib.”kata Darman dengan keras seperti tadi menggunakan ilmu Teriakan Gaung Bumi.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“ Ada apa Darman, cepat katakan,” kata Lukman tidak sabar.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tadi tabib berpesan kepadaku agar obat yang dia berikan itu segera diberikan kepada ibu kita, yang satu ditelan sedangkan yang satu lagi dilarutkan dalam air mandi ibu setelah dia dapat berdiri kembali. Sedangkan yang satu lagi untuk berjaga-jaga seandainya kondisi ibu tidak segera pulih keesokan harinya. Beliau bilang sudah memberikan 6 butir obat itu kepada uda Malik, dan dia tahu 2 butir sudah digunakan untuk mengobati paman, jadi dia menyuruh aku memberikan dua butir lagi kepada uda sebagai ganti obat yang telah ditelan paman.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Apalagi yang dikatakan beliau?” Tanya Malik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Beliau juga mengatakan agar kalian jangan mengejar beliau lagi, kita disuruh segera balik dengan membawa obat penawar racun ini untuk digunakan bilamana musuh menyerang dengan racun. Dan agar ibu bisa cepat sembuh kembali. Beliau berani jamin ibu akan bisa disembuhkan dengan obat penawar racun yang beliau berikan, jika ibu masih belum sembuh juga mungkin karena racunnya sudah menyebar ke seluruh organ penting dalam tubuh ibu maka kita diharuskan untuk pergi ke nagari Batang Agam menemui Nenek Ubek Sakti untuk meminta daun Selasih Cicak agar dicampur dengan obat dari beliau dan rebus untuk diminumkan. Guna daun ini untuk memulihkan luka akibat racun yang merusak organ tubuh ibu, dan kita harus segera mengobati ibu agar jangan sampai terlambat, karena waktu untuk mengobati ibu hanya tinggal 1½ bln lagi, lewat dari masa itu biarpun Tabib Mato Tigo sendiri yang mengobati tetap saja nyawa ibu bisa tidak tertolong lagi.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Mendengar penuturan Darman, mereka semua sepakat untuk cepat pulang membawa obat yang dibutuhkan oleh ibu mereka, setelah kondisi yang terluka sudah memadai. Obat yang diberikan oleh sang tabib memang sangat mujarab sekali, sebentar saja mereka semua sudah pulih dari keracunan hanya tinggal luka luar yang sudah mereka obati pula dengan obat yang mereka bawa dari rumah. Setelah semua selesai pengobatannya mereka menaiki kuda mereka dan melarikan kudanya ke arah pulang.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Selama melarikan kuda mereka menuju pulang masing-masing dari mereka tidak lepas dari memikirkan sang tabib yang misterius itu apalagi Lukman dan Malik, mereka masih penasaran terhadap sang tabib yang tidak berhasil mereka temui itu. Baru mereka berjalan sebentar saja mereka menemui rombongan ketiga pencari obat yaitu rombongan yang dipimpin oleh paman mereka, Datuak Samolangik, adik dari ayahnya Malik.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Mereka juga mendengar kabar bahwa tabib yang mereka cari sedang menuju ke daerah Gunung Tadikat, makanya mereka bisa sampai di daerah ini. Kebetulan perjumpaan mereka ini sudah menjelang tengah malam dan mereka semua yang tadi habis bertempur tiba-tiba&#160;merasa&#160;kelaparan, mengingat mereka tidak sempat untuk makan karena pertempuran itu memakan waktu yang cukup lama.&#160;&#160;Hal ini bisa saja terjadi karena sekarang mereka dalam situasi aman dan tenang sehingga mereka sudah bisa merasakan perut mereka kosong belum diisi. Mereka mengambil tempat&#160;melingkari api unggun yang sudah dibuat&#160;&#160;sambil membuka perbekalan mereka dan makan dengan lahapnya. Selesai makan, mereka ingin mengaso dan tiduran sejenak setelah tadi mereka bertempur mati-matian melawan musuh dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing silih berganti.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Terlihat Lukman diam membisu saja dari tadi sepertinya sedang memikirkan sesuatu, yang lain tidak berani menganggu. Kemudian dia memandang kepada mereka semua dengan wajah penuh pertimbangan, mereka sudah selesai saling bercerita pengalaman dan istirahatnya, sekarang sudah ingin bergerak untuk melanjutkan perjalanan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kalian pulanglah semua dulu, bawa obat untuk ibu. Aku masih ingin tinggal di sini,”kata Lukman kepada mereka semua.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Mau apa tuan muda Lukman tetap tinggal di sini? Bukannya tuan ingin cepat-cepat pulang bertemu dengan keluarga?” Tanya Pandeka Konek yang memang paling dekat dengan Lukman sehingga beliau berani bicara terus terang apa saja kepadanya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku ingin mencari tabib itu untuk menyampaikan maafku karena selalu salah sangka dan terima kasih atas bantuan beliau kepada kita secara langsung.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tapi uda, beliau kan sudah katakan bahwa kita tidak perlu mencari beliau lagi, harus cepat pulang untuk membawa obat untuk ibu.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku tahu itu Darman, tapi aku tidak bisa menutupi rasa penasaranku akan beliau, kenapa beliau selalu bersembunyi-sembunyi menolong kita dan kenapa beliau tidak mau menemui kita? Apakah karena beliau tersinggung akan perkataanku? Jika benar aku ingin sekali minta maaf langsung kepada beliau.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Apa kalian juga tidak merasa aneh dan penasaran terhadap tabib ini ? Bukannya aku meragukan kemampuan beliau untuk menyembuhkan ibu kita tapi entah kenapa aku merasa harus bertemu dengan beliau untuk menuntaskan rasa penasaran yang bercokol di hatiku ini. Aku juga mendengar bahwa beliau menuju gunung Tandikat untuk mencari obat langka di sana , pasti tidak mudah untuk melakukan hal ini. Aku ingin membantu beliau karena kita sudah menerima budinya yang sangat besar itu, jadi menurutku inilah caranya agar kita bisa membalas budinya, walau beliau tidak mengharapkan balasan apapun dari kita. Bagaimana menurut kalian ?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Benar juga yang kau katakan Lukman, terus terang saja aku masih penasaran dengan tabib itu, beliau sudah menjaga kita dari marabahaya dan melepaskan budi pula kepada kita, rasanya kita ini sudah begitu banyak menerima budi, tapi tidak tahu bagaimana membalasnya. Aku sependapat denganmu, Man, kita memang harus membantu beliau dan kalau bisa sesudah urusannya selesai kita<span>&#160;</span> bisa mengajak beliau ke rumah kita agar kita sekeluarga bisa menyampaikan terima kasih yang layak kepada beliau.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Uda Lukman dan uda Malik, apa kalian lupa ibu sedang menunggu obat dari kita, apa kalian tidak rindu kepada ibu dan ingin melihat beliau segera sembuh,” debat Kasman dengan mimik kebingungan mendengar pembicaraan kedua kakaknya itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Benar sekali Malik, apa kau tidak rindu kepada ibumu? Bukannya kau yang paling kuatir ketika ibumu sakit, apa kau tidak ingin tahu apakah ibumu bisa disembuhkan atau tidak?” Tanya Datuak Samolangik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Kedua pemuda itu terdiam mendengar pendapat adik dan paman mereka, di batin mereka berperang keinginan untuk mencari tabib itu dan melihat kesembuhan ibu mereka.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Uda berdua, aku mengerti perasaan uda, aku juga merasakan hal yang sama. Begini sajalah kita bertiga pergi mencari tabib itu, sedangkan yang lain pulang dengan membawa obat untuk diserahkan kepada ibu. Aku yakin berkat obat ini ibu pasti sembuh, karena tabib itu sudah terkenal kehebatannya jadi pasti beliau tidak akan merusak reputasinya dengan memberikan obat sembarangan untuk ibu. Bagaimana menurut kalian?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tuan muda Darman, kau ingin ikut juga?” Tanya Jamin menatap kuatir tuan muda kesayangannya itu, diantara ketiga anak Rangkayo Jati memang Darmanlah yang paling disayangi semua orang, dia seorang yang pemuda y]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><font size="7" face="book antiqua,palatino"><em>Part II</p>
<p></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Terdesak dengan keadaan, rombongan Lukman dan Malik segera berupaya mencari jejak ke mana perginya tabib itu, dikarenakan kuda yang dimiliki sang tabib sangat menyolok sekali warna putihnya sehingga orang yang bertemu di jalan ingat akan kuda putih itu. Dan mereka dengan cepat bisa mengikuti jejak sang tabib, pernah sekali hampir mereka bisa menemui sang tabib, tapi kembali dia menghilang dengan menggunakan penyamarannya yang hebat itu. Kali ini sang tabib merubah warna kudanya menjadi abu-abu dan dia merubah diri menjadi seorang gadis yang berusia 30 tahunan yang mempunyai wajah biasa saja, sehingga orang bisa cepat melupakan wajah yang tidak ada istimewanya itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Sudah hampir seminggu mereka mengejar sang tabib masih belum ketemu juga sampai di suatu malam di pinggiran hutan, mereka sedang melepaskan lelah setelah berkuda sekian lama untuk mencari sang tabib yang masih belum ditemui itu. Mereka berbincang-bincang mengenai perangai sang tabib yang menurut mereka sangat aneh dan belagak sekali mentang-mentang mau dimintai tolong. Dari pembicaraan yang mengenai sang tabib, entah bagaimana tiba-tiba mereka teringat akan musuh mereka dan membicarakannnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Terdengar pandeka Konek bertanya,” Aku merasa heran sekali kenapa waktu kita meninggalkan nagari itu sampai saat ini mereka tidak mengejar kita? Padahal kita sama-sama tahu mereka mendendam sekali pada tuan muda Lukman, biasanya mereka pasti menggunakan segala macam racun untuk mengerjai kita. Tapi anehnya selama hampir satu minggu ini kita berjalan tidak sekalipun kita menemui niat jahat mereka. Aku sudah berjaga-jaga takutnya mereka mancido (membokong) kita dari belakang, apa kalian tidak merasakan keanehan tersebut?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Iya, benar sekali kakek, aku merasakan hal yang sama karena biasanya sasaran mereka adalah aku. Terbukti waktu kita menemui tabib itu, jika tidak pasti aku sudah mati karena racun mereka. Tapi entah kenapa aku belum bisa menerima kalau bukan tabib itu yang meracuni aku, terbukti sejak dia menghilang kita semua aman-aman saja tidak ada yang kena racun satu orangpun juga dalam rombongan kita. Aku mulai berpikir apa bukan tabib itu merupakan orang mereka yang sengaja berbuat begitu supaya bisa masuk ke benteng kita dengan alasan mau mengobati ibu kami?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Entahlah tuan muda, aku selalu berfirasat tabib itu bukanlah orang jahat, memang dia nyentrik dan seenaknya sendiri mungkin karena dia mengerti kemampuannya sehingga menjadi bertingkah seperti itu. Tapi kalau dia berniat jahat pada kita, aku rasa tidak karena jika dia mau menganiaya kita mudah sekali baginya terutama tuan muda Lukman yang memang merupakan sasaran orang dari perguruan Merak Hitam. Aku tetap merasa ada sesuatu yang ganjil dari semua ini dan aku masih belum menangkap keganjilan itu lebih lanjut,’ kata pandeka Tangan Siluman.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Apa kalian merasa tidak selama seminggu ini, kita mengejar sang tabib tidak sekalipun kita merasa ada ancaman bahaya yang mengintai kita bahkan seolah-olah ada yang melindungi kita. Pernah suatu malam aku terbangun tiba-tiba tapi aku tidak tahu apa penyebabnya, hanya merasa mendengar sesuatu yang halus sekali tapi entah apa itu. Saat itu aku berpikir apakah aku ngelindur atau berhalusinasi, tapi kini setelah kita ngobrol begini aku merasa memang ada sesuatu yang tidak wajar sedang berlangsung di sekitar kita tanpa kita sadari sama sekali.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Adik Malik, aku juga merasakan hal yang sama, <span>&#160;</span>pernah aku merasa melihat berkelabat bayangan orang tapi ketika aku melihat ke arah itu tidak terlihat apapun, hanya aku melihat pohon ditempat itu berubah dari coklat lama-lama menjadi abu-abu seperti abu kayu yang habis terbakar. Hanya waktu itu aku tidak menyadarinya karena sedang tegang <span>&#160;</span>dan berjaga-jaga serangan dari musuh,” kata salah satu dari saudara seperguruan Malik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Hmmmm… memang ada yang tidak beres dengan ini semua, oleh karena itu kalian waspadalah mulai sekarang jangan sampai kita celaka di tangan musuh. Apapun yang mencurigakan tolong beritahukan kepada yang lain sehingga kita bisa saling mengingatkan dan berjaga-jaga,” kata Lukman dengan kening yang berkerut.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Dia yang berilmu silat tinggi bahkan lebih tinggi 1 tingkat dari Malik dan kedua kakek pengawalnya tersebut tidak bisa mengetahui jika ada orang lain di sekitar mereka. Berarti ilmu orang tersebut jauh lebih tinggi dari mereka semua, buktinya mereka bisa merasakan kehadirannya tapi tidak bisa mengetahui di mana keberadaannya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Tiba-tiba mereka mendengar suara ringkikan kuda di kejauhan dan sepertinya kuda tersebut berlari menuju ke arah mereka. Belum sempat Lukman berteriak memperingati rombongannya, sebuah benda putih melesat dengan cepatnya seperti anak panah yang dilepaskan dari busur lewat di samping mereka sehingga mereka hanya merasakan angin yang bertiup sangat kuat sekali di sekitar mereka dan debu berterbangan menutupi pandangan mata mereka. Tapi Kasman yang berdiri dari agak jauh dari benda tersebut dapat melihat dengan jelas bahwa benda itu adalah seekor kuda putih yang terasa kontras dengan gelapnya suasana akibat sudah turunnya sang malam. Langsung dia berteriak-teriak memberitahukan kepada yang lain, mereka bergegas menaiki kuda masing-masing untuk mengejar kuda putih tersebut.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Kuda Lukman dan kuda Malik merupakan kuda-kuda pilihan juga dan keturunan dari <span>&#160;</span>kuda-kuda yang langka dan hebat, tetapi dibandingkan dengan kuda putih di depan itu tidak ada artinya sebentar saja mereka kehilangan bayangan kuda putih tersebut, hanya dari jauh mereka mendengar samar-samar derap langkah kaki kuda itu. Penasaran mereka berdua memacu kedua kudanya untuk mengejar kuda putih itu, sehingga sebentar saja mereka meninggalkan rombongan mereka yang hanya menggunakan kuda “biasa” dibandingkan dengan kedua kuda pemuda itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Kira-kira hampir sejam kemudian rombongan itu bertemu dengan kedua pemuda yang sedang memeriksa tanah dan pepohonan di sekitar mereka. Mereka berdua sedang sibuk melihat, memegang bahkan mencium udara di sekitar tempat itu, seolah-olah mereka mencari sesuatu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tuan muda Lukman, apa yang terjadi? Apa yang kalian berdua lakukan?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kakek Konek, anda lihat tidak pohon yang di sebelah sana itu?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Segera mereka melihat arah yang ditunjuk oleh Lukman, mereka melihat pohon itu biasa-biasa saja seperti umumnya pohon. Tapi pandeka Tangan Siluman punya pemikiran lain, jika sampai tuan muda bertanya pasti ada sesuatu pada pohon itu, cepat diarahkan kudanya mendekati pohon tersebut.<span>&#160;</span> Setelah mengamati beberapa saat dia melihat pohon itu berubah warna menjadi abu-abu sebesar lingkaran gelas minum teh di bagian tengah pohon. Dia menjulurkan tangannya untuk menyentuh pohon, tapi segera Malik berteriak untuk mencegahnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Jangan sentuh pohon itu kakek, nanti bisa kena racun yang mematikan!”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Kaget pendekar ini mendengar pernyataan Malik, untung dia belum menyentuh pohon itu, kalau tidak bisa mati tanpa tahu sebabnya.</span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tuan muda, kenapa kalian bisa tahu pohon ini mengandung racun?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tadi di kejauhan kami mendengar suara pertarungan dan waktu kami hampir mendekati tempat ini tiba-tiba suara pertarungan itu berhenti dan kami masih mendengar suara seseorang berkata, Berani sekali kalian main racun jahat di sekitarku, nih rasakan racunku, aku ingin lihat apakah kalian sanggup menyembuhkan diri, Bilang pada guru kalian si Merak Hitam kalau dia berani main racun jahat lagi mencelakai orang, aku tidak akan segan-segan lagi membuat dia menyesal belajar ilmu racun. Kemudian terdengar teriakan kesakitan, dari mulut beberapa orang, dan pas kami sampai suasana sudah sunyi seperti tidak pernah terjadi sesuatu di sini. Mereka semua telah pergi dengan cepat sekali, Lukman mengejar ke arah kiri dan aku mengejar ke arah kanan, tidak lama aku mengikuti bayangan orang itu aku mendengar dia berkata, anak muda berhati-hatilah lebih baik segera kau susul sepupumu itu,<span>&#160;</span> sebelum dia menjadi mayat pulang ke rumah kalian. Aku sudah tidak bisa melindungi kalian lagi sekarang karena tugasku sudah mendesak sekali harus diselesaikan segera, dan mengenai ibu kalian, ambilah obat ini untuk diberikan kepada beliau, aku sudah mengetahui apa penyebab penyakit ibu kalian dari orang perguruan Merak Hitam, ibu kalian diracuni oleh mereka, dan ini obat penawarnya, mudah-mudahan bisa cepat sembuh.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku terkejut sekali tiba-tiba ada benda yang melesat dengan cepat sekali ke arahku, cepat aku menangkap benda tersebut, dan di tanganku ada 1 kantong kecil serta di dalamnya ada 6 butir obat berwarna kuning dan berikut kertas cara penggunaannya. Karena menangkap obat itu aku agak tertunda mengikuti bayangan tersebut, jadi aku sudah tidak bisa mengejar lagi. Dari perkataan orang itu aku berkesimpulan semua bentuk <span>&#160;</span>aneh di sekitar daerah ini pasti mengandung racun, makanya aku melarang kakek untuk menyentuh pohon tersebut.”<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tuan muda Lukman, bagaimana dengan dirimu? Apa yang terjadi, tidak dapatkah kau mengejar bayangan yang lari ke arah kiri?” Tanya Pandeka Tangan Siluman.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tidak, aku tidak berhasil mengejar mereka, karena ketika aku sudah hampir mendekati mereka, tiba-tiba mereka membalikan badan menyambitkan pisau belati ke arahku, diserang seperti itu buru-buru aku menghindarinya. Walaupun aku tidak bisa mengejar mereka lagi, tapi aku yakin mereka itu orang perguruan Merak Hitam karena aku melihat bendera mereka dipegang oleh salah satu dari mereka. Cepat aku kembali ke sini karena menguatirkan Malik mengejar bayangan ke arah berlawanan itu.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Waktu aku sampai di sini aku melihat Malik juga baru sampai, lalu dia menceritakan apa yang terjadi padaku, tapi aku masih tidak mempercayainya. Kami bertengkar dan hampir aku membuang obat itu kalau tidak kebetulan lewat sahabat ayah, Datuak Marindiang, beliau melihat dan memeriksa obat yang ada di tangan Malik, dan beliau mengatakan bahwa benar obat ini obat pemunah segala racun yang merupakan obat andalan dari Tabib Mato Tigo. Dia mengetahui obat ini dari bau dan warna kuningnya yang khas, karena dulu dia pernah minum obat manjur ini ketika dia kena racun jahat juga. Mendengar omongan beliau baru aku mempercayai bahwa obat ini adalah obat manjur.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Ke mana perginya Datuak Marindiang sekarang, tuan muda. Aku sudah lama tidak bertemu beliau, ingin sekali berbincang-bincang menukar pengalaman dengan beliau.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Ala kakek Konek bilang saja kau mau mengajak dia bertanding ilmu silat lagi kan ? Kau tidak terima kekalahanmu yang dulu bukan ?” sahut Kasman dengan senyum usilnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Mendengar perkataan Kasman, pandeka Konek langsung cemberut dan mendelik kepada pemuda yang polos dan nakal itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Setelah memberi penjelasan kepada kami, beliau menanyakan kepada Malik ke mana arah orang yang memberikan obat ini pergi, Malik menunjukan ke arah mana dia pergi dan beliau langsung menyusulnya. Sempat sebelum beliau pergi beliau mengatakan kepada kami untuk mempelajari daerah sekitar sini agar kami bisa mengenali bau khas yang dikeluarkan oleh racun dari Perguruan Merak Hitam agar kelak nanti kami bisa mengantisipasinya.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kenapa beliau mengejar orang itu, apakah beliau sakit?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku sempat menanyakan hal itu kepada beliau, kata beliau, dia mendengar kabar bahwa orang tersebut adalah murid Tabib Mato Tigo, dan katanya kakek itu selalu membangga-banggakan keahlian pengobatan cucunya yang sudah menyamai dia dalam usia yang muda sekali. Dan juga beliau penasaran sekali apakah wajah nona tersebut secantik kakaknya yang sangat terkenal di kota raja dengan sebutan Dewi Nan Kuniang.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Dasar tua bangka mata keranjang tidak bisa melihat rupa cantik nan rupawan, langsung saja mau caliak (lihat,” gerutu pandeka Konek bersungut-sungut.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Mereka semua tertawa mendengar gerutuan tersebut, karena mereka mengetahui Datuak Marindiang merupakan pria setengah tua yang iseng saja, dia tidak akan mengganggu nona-nona cantik dalam arti menjadi “penjahat pemetik bunga”. Beliau memang punya kegemaran aneh suka melihat wajah-wajah yang cantik dan tampan rupawan, lalu melukis wajah mereka untuk menjadi koleksi pribadinya. Dan sebenarnya tidak banyak orang yang menurut beliau tampan dan cantik bahkan Lukman dan Malik yang termasuk kategori tampan saja bagi beliau biasa-biasa saja. Memang sebuah kegemaran yang aneh sekali, tapi hal inilah yang mempertemukan dia dengan ayah Lukman dan menjadi sahabat baik, karena ayah Lukman menurut beliau merupakan termasuk pria yang paling tampan yang pernah ditemuinya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Jadi sekarang, kedua tuan muda sudah tahu bagaimana bau khas yang dikeluarkan oleh racun perguruan Merak Hitam?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Iya kira-kira begitu uda Randu, ada semacam bau yang khas sekali di setiap racun perguruan Merak Hitam, aku juga mencium bau ini di tubuh ibu ketika aku dekat-dekat beliau,” kata Malik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Maksud tuan muda, bau khas yang seperti apa?” kata Randu sambil mengendus-endus di sekitar mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku tidak bisa bilang bau yang seperti apa, kalau kau tidak konsentrasikan pancaindramu memang bau ini tidak akan tercium coba kerahkan ilmu Kijang Mencium Bayangan, pasti kau akan bisa mencium bau yang aku maksudkan.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Segera kelima saudara seperguruan Malik mengerahkan ilmu tersebut, memang ilmu ini sangat khas sekali karena ilmu ini mengandalkan bau seseorang untuk mengetahui posisi lawan di saat pertandingan melawan musuh yang bisa menggandakan dirinya seperti ilmu Gandakan Roh Setan milik Datuak Kalam Kambang, yang merupakan pimpinan dari perguruan Kalam Kambang dan seorang datuk sesat yang menguasai wilayah Timur dari pusat kerajaan Pagaruyung. Selama ini datuak ini tidak bisa mengganggu pusat kerajaan karena di sekeliling ibukota dijaga ketat oleh pasukan Garuda yang terkenal kedahsyatannya. Bahkan sempat perguruan beliau hampir musnah oleh panglima dan 3 jenderal pasukan Garuda ketika mereka mencoba memasuki ibukota, sejak itu mereka melarikan diri ke Timur dan berdiam di daerah jauh dalam perdalaman hutan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Ilmu ini juga sudah digunakan oleh Malik dan saudara-saudaranya dalam melacak keberadaan tabib sakti itu tapi memang tabib itu hebat sekali dia mampu menghilangkan bau khas dari tubuhnya sehingga mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan sang tabib sampai sekarang ini.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Benar sekali tuan muda ada semacam bau khas yang tertinggal di sekitar sini, kalau ini benar cirri khas perguruan Merak Hitam dalam ilmu racun mereka, kita akan bisa mengantisipasinya ke depan nanti,” kata Randu dengan gembira.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Sementara itu kedua kakek tersebut sudah juga bisa mencium bau khas yang dimaksud, hanya Kasman sendiri yang masih belum bisa mencium bau khas yang dimaksud tapi dia tidak berani bilang kepada yang lain takut disangka bodoh dan rendah ilmunya dibandingkan dengan yang lain. Kesombongannya inilah yang nantinya mencelakakan dirinya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Sekarang apa yang harus kita lakukan tuan muda, obat sudah di tangan sebaiknya kita kembali ke rumah untuk memberikan obat ini kepada nyonya berdua,” kata Pandeka Konek.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Lukman terlihat berpikir dari tadi dan tidak banyak berbicara karena sebenarnya dia penasaran sekali kenapa mereka tidak bisa menemui sang tabib, seakan sang tabib merasa mereka tidak pantas bertemu dengannya. Dia sangat penasaran sekali bahkan dia tidak mampu melupakan sorot mata sang tabib yang seakan membetot sukmanya itu. Terbersit di dalam hatinya untuk mengetahui apakah benar sang tabib itu adalah seorang gadis rupawan yang menyamar ataukah itu hanya isu yang sengaja dilontarkan di dunia persilatan agar gadis itu mendapat nama dengan cepat.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Semua menunggu keputusan Lukman sambil memandang wajahnya yang terlihat sedang berpikir keras. Akhirnya dia bicara dengan suara pelan dan jelas terkandung rasa penasaran kepada yang lain.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tolong kalian jawab yang jujur, apakah kalian tidak penasaran dengan sang tabib yang misterius itu? Terus terang saja aku merasa terhina sekali kenapa dia tidak mau bertemu dengan kita dan menerima terima kasih kita secara langsung? Sedemikian tidak berharganya terima kasih dari keluarga kita padanya sehingga bahkan dia tidak mau bertemu muka dengan kita dan datang berkunjung ke rumah kita untuk mengobati ibu? Aku ingin sekali melihat wajahnya dan bisa berbicara dengannya untuk menanyakan padanya kenapa dia berbuat begitu pada kita sehingga bisa hilang rasa penasaran di hatiku saat ini, kalau memang kita telah berbuat salah yang tidak kita sengaja aku bersedia meminta maaf padanya,” kata Lukman.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Yang lain mendengar perkataan Lukman memang merasa penasaran sekali kenapa sang tabib seperti itu dengan mereka, apa yang telah mereka perbuat sehingga beliau tidak mau bertemu dengan mereka. Tapi merekapun sadar mereka tetap harus mengantar obat tersebut untuk kedua orang yang sedang menderita kesakitan di rumah.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tuan muda Lukman, terus terang saja aku penasaran juga tapi kita harus segera pulang untuk membawa obat tersebut<span>&#160;</span> agar<span>&#160;</span> nyonya bisa segera bebas dari kesengsaraannya.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Iya, uda Lukman kita harus segera kembali untuk bawa obat buat ibu.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kalian benar, kakek Tangan Siluman dan Kasman, kita harus segera kembali demi ibu, tapi kenapa hatiku masih tidak rela melepaskan tabib tersebut seakan sudah di depan mata tapi kita tidak bisa meraihnya. Aku juga ingin meminta obat penawar racun seandainya perguruan Merak Hitam menyerang kita kembali dengan racun, yah minimal petunjuknya agar obat penawar tersebut dapat kita buat sendiri dan diperbanyak untuk dibagikan kepada anggota kita semua.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Benar yang kau katakan Lukman, aku juga berpikiran sama denganmu, mungkin lebih baik kita pecah menjadi 2 rombongan, 1 rombongan mengantar obat buat ibu dan 1 rombongan lagi menyusul ke mana tabib itu pergi. Bagaimana menurut kalian usulku ini?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Belum sempat Lukman menjawab usul Malik, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi letusan di udara, dan terlihat di langit warna hijau pekat sekali sesaat sebelum buyar ditiup angin, itu tanda pengenal dari perguruan mereka yang menandakan ada anggota mereka yang dalam bahaya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Melihat hal tersebut semua orang buru-buru naik ke kuda mereka dan melupakan masalah sang tabib karena tanda bahaya yang dilepaskan itu tanda bahaya tingkat 3 yang artinya benar-benar dalam keadaan yang berbahaya dan genting sekali.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Cepat, kita menuju ke Utara, sepertinya ada teman kita yang dalam bahaya, mudah-mudahan tidak jauh dari sini,” kata Lukman sambil dengan cepat mengarahkan kudanya.</p>
<p>Untungnya malam itu langit sangat terang benderang, bulan bersinar bulat penuh dan banyak bintang yang berserakan di pekatnya malam sehingga seperti lampu yang redup menyinari bumi. Tapi bagi kaum pendekar pengelana dengan penerangan seperti ini sudah cukup membantu bagi penglihatan mereka akan sekelilingnya, mengingat mereka mempunyai mata yang berbeda dengan manusia biasa, karena semakin tinggi tenaga dalam seseorang akan semakin kuat daya penglihatan orang tersebut.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Tidak lama mereka mendengarkan suara pertempuran yang seru sekali di depan mereka, semakin cepat mereka memacu kudanya, Lukman dan Malik segera mendahului sampai. Terlihat suasana di sebuah lapangan pertempuran tidak seimbang, adik kedua Lukman, Darman sedang dikeroyok tokoh kelima dan keenam perguruan Merak Hitam yaitu Siluman Merak Rawa dan Siluman Merak Pohon, dan yang lain 8 orang saudara seperguruan Malik sedang dikeroyok oleh 25 orang anggota Merak Hitam. Dan terlihat 2 tubuh yang tergeletak di tanah yaitu<span>&#160;</span> pengawal Rangkayo Padang Jati, Pandeka Tendangan Petir dan Pandeka Pedang Pamuncak, mereka terlihat seperti sudah tidak bernafas dan wajah mereka sudah berubah menjadi menghitam itu tanda mereka keracunan hebat.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Tanpa pikir panjang lagi segera Lukman menyerbu untuk membantu adiknya yang sudah dalam keadaan payah sekali dan Malik memburu kedua pengawal tersebut sambil mengeluarkan 2 butir obat penawar racun yang diberikan oleh tabib itu, yang penting menyelamatkan jiwa orang yang ada di depan mata dulu, dia melupakan bahwa mencari obat pemberian tabib itu susah sekali sekarang dia memberikan kepada orang lain tanpa pikir panjang. Sungguh benar-benar seorang pemuda yang mempunyai hati yang baik sekali jarang ada orang yang seperti dia, apalagi obat itu berguna untuk orang yang paling disayanginya tapi berhubung ada orang lain yang membutuhkan dia memberikannya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Malik membantu menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh kedua pengawal tersebut, sedangkan Lukman begitu terjun ke gelanggang segera mengeluarkan ilmu andalannya yaitu Ilmu Walet Menerjang Badai.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Darman, aku datang membantumu!”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Ketiga orang yang sedang terlibat perkelahian seru itu kaget mendengar perkataan itu, Kedua Siluman Merak itu merasakan ada angin dahsyat yang bergerak tajam menuju mereka, cepat Siluman Merak Rawa mengangkat kedua tangannya untuk menangkis serangan dari Lukman. Sedangkan Siluman Merak Pohon tetap dalam posisi menyerang Darman, tadinya mereka sudah senang sekali sudah hampir bisa menangkap dan menyandera anak kedua dari musuh perguruan mereka. Tapi gangguan datang terpaksa mereka membagi kekuatan, tapi siluman Merak Pohon tetap yakin dia dapat meringkus pemuda yang jadi lawannya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Dengan pukulan beracun Merak Menebarkan Benih, dia melompat ke atas dengan posisi kaki yang merapat, dia melontarkan puluhan jarum beracun kea rah Darman, dia yakin sekali jarum itu akan mengenai pemuda lawannya. Setelah itu dibarengi dengan kecepatan yang tinggi dia berbalik arah dan mempersiapkan kedua tangannya membentuk mulut merak dengan ilmu Merak Mematuk Mangsa menyerang ke arah Lukman yang sedang mendesak saudaranya itu. Tapi yang menjadi pemikirannya bukanlah yang dikehendaki oleh sang Ilahi, di saat keadaan Darman sedang genting, tiba-tiba dari arah belakang Darman terlontar sebuah batu hitam<span>&#160;</span> berbentuk persegi panjang sebesar batu bata dan begitu batu itu melayang ke arah jarum-jarum tersebut, semua jarum-jarum yang tadinya bergerak menyerang Darman tiba-tiba seperti tersedot oleh batu tersebut. Jarum-jarum itu semuanya melengket di batu hitam tanpa tersisa, dan selamatlah Darman.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Ternyata batu hitam itu merupakan batu sembrani (magnet) yang bisa menyedot semua benda yang terbuat dari besi. Darman menoleh ke belakangnya untuk melihat siapa orang yang telah membantunya itu, dia melihat seseorang bercadar dan tertutup dengan jubah besar berwarna lembayung yang indah sekali sedang duduk di atas seekor kuda putih. Lalu orang itu menggerakan tangannya dan batu hitam yang jatuh di tanah tersebut bergerak meluncur ke arahnya dengan cepat sekali. Terlihat pada batu itu terlilit seuntas tali panjang yang bisa digunakan untuk menariknya kembali kepada sang pemilik. Dan batu hitam itu disimpan di kantong yang ada di sisi kakinya, dan dari kantong itu dia mengeluarkan sebuah botol berbentuk seperti buah alpukat.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Dia melemparkan botol itu ke arah Darman sambil menghentakan kakinya ke perut kuda putih itu dan kuda putih itu segera berlari cepat seperti angin menjauhi arena perkelahian seru itu. Terdengar kata-katanya kepada Darman,”Anak muda, kau ambilah botol ini lalu berikan kepada teman-temanmu untuk diminum agar semua racun yang ada dalam tubuh mereka bisa bersih segera, dan berikan juga obat ini kepada ibumu yang sedang sakit karena keracunan. Katakan kepada saudaramu, jangan lagi mengikuti aku dengan alasan apapun juga, di dalam botol ini ada 500 butir obat penawar racun yang bisa kalian gunakan seandainya kalian keracunan berat nantinya. Dan kau juga sekarang segera minum obat penawar itu, jangan sampai terlambat.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Darman menerima botol yang dilemparkan kepadanya itu, ingin dia mengucapkan terima kasih kepada penunggang kuda putih itu tapi mereka sudah tidak terlihat lagi seakan hanya dalam mimpi saja ada orang yang menolongnya kalau dia tidak memegang botol obat ini. Dia mengalihkan pandangannya ke arah pertempuran seru di depannya, dia melihat sekarang Lukman berhadapan dengan Siluman Merak Rawa dan Malik dengan Siluman Merak Pohon, kedua pengawalnya terlihat sedang bersila memulihkan kondisi tubuh mereka, 8 orang yang lain sudah menjadi bulan-bulanan dari orang perguruan Merak Hitam, cepat dia berlari ke arah pertempuran itu sambil membuka tutup botol dan mengeluarkan 1 butir obat berwarna kuning untuk ditelannya, tidak sedikitpun dia terpikir untuk meragukan maksud orang tersebut. Karena kalau oang itu benar-benar hendak mencelakainya tidak bakal orang itu berbicara seperti itu padanya, berarti orang itu kenal dengan saudaranya, hanya dia belum tahu saudaranya yang mana, setelah itu dia memasukan botol obat ke dalam bajunya. Begitu Darman datang membantu keadaan menjadi semakin ramai, dengan serangan-serangan gencar dan berbahaya Darman berusaha menyelamatkan teman-temannya dari barisan perguruan Merak Hitam itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Sementara itu pertempuran Lukman dan Siluman Merak Rawa sudah mencapai titik tertinggi, keduanya terlihat sedang mempersiapkan diri dengan ilmu pemuncak mereka. Dari beberapa kali bentrokan tangan tadi, Lukman sudah bisa mengukur tenaga dalam Siluman Merak Rawa masih kalah setingkat dari dirinya, tapi dia tidak bisa lengah juga karena semua ilmu dari siluman itu mengandung racun yang berbahaya dan mematikan jika kena anggota tubuh.<span>&#160;</span> Lukman mengerahkan ilmu Walet Menerjang Badai tingkat ke 9 yaitu Walet Memapas Angin, dengan mengandalkan ilmu peringan tubuh tingkat tinggi dia memainkan ilmu dahsyat ini, ilmu ini tidak mengeluarkan suara apapun dan tidak terasakan adanya angin yang bergerak di sekitarnya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Siluman Merak Rawa tahu dia dalam keadaan berbahaya pemuda lawannya ini lebih hebat lagi dari pemuda sebelumnya, dia melihat ada kemiripan diantara kedua pemuda tersebut pasti mereka kakak beradik tapi pemuda yang pertama jauh lebih tampan dari yang ini. Dia merapalkan ilmu tertingginya ilmu Bayangan Merak Menarik Arwah, ini merupakan ilmu yang paling hebat dari perguruannya, walaupun dia baru sampai tingkat 4 tapi dia sudah susah dicari tandingannya. Dia tidak tahu bahwa musuh yang paling dicari kakak pertamanya adalah pemuda ini, karena selama ini dia dan Merak Pohon selalu harus menemani guru mereka bertualang ke tanah Jawa. Sejak guru mereka meninggal dunia beberapa bulan yang lalu, mereka dipanggil oleh kakak seperguruan mereka untuk kembali ke perguruan dan membantu sang kakak untuk membalas dendam.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Terlihat keduanya sedang mempersiapkan diri untuk memuntahkan ilmu tertinggi mereka kepada lawan. Sementara itu Malik juga sudah mengimbangi permainan Merak Pohon, terlihat memang Malik kalah setengah tingkat dari musuhnya tapi untungnya dibantu dengan ilmu peringan tubuhnya yang bagus dia masih bisa menapaki semua serangan musuh dengan baik. Dengan ilmu Ula Kuniang Mengejar Bayangan dia menyerang dan bertahan melawan Merak Pohon, dan musuhnya sudah mulai hilang kesabarannya setelah melihat situasi bisa berubah sewaktu-waktu, segera dia memainkan ilmu Bayangan Merak Menarik Arwah tingkat 3 agar bisa cepat mengalahkan musuhnya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Merak Pohon kosentrasi mempersiapkan diri dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke arah jari-jari tangannya sambil menahan gempuran dari Malik yang bergerak bagaikan ular menyusup di setiap celah lowong diantara serangannya. Pertandingan kedua orang ini berlangsung seru, tiba-tiba terdengar jeritan kesakitan dari arah pertempuran Darman dengan Barisan Merak Hitam, ternyata salah seorang dari teman rombongan Darman kena pukulan akibat sebelumnya dia sudah kena racun sehingga tenaga dalamnya berkurang dan menyebabkan gerakannya menjadi lambat untuk menghindari serangan. Keadaan pertempuran Darman dan teman-temannya melawan Barisan Merak Hitam terlihat tetap tidak membaik, karena rata-rata mereka semua sudah kepayahan akibat racun yang disebarkan oleh orang perguruan Merak Hitam. Jika kondisi mereka tidak keracunan mungkin mereka masih bisa bertahan dan tidak seperti sekarang sewaktu-waktu akan ambruk.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Malik masih sempat melihat ke arah teriakan itu dan hampir saja kena pukulan dari Merak Pohon akibat kelengahannya itu, sedangkan Lukman tidak berani menoleh ke arah jeritan itu karena dia sudah melihat lawannya sudah siap melontarkan pukulan mematikan ke arahnya. Dalam keadaan yang semakin genting tiba-tiba mereka semua mendengarkan derap kaki kuda yang banyak sekali menuju ke lapangan itu. Lukman dan Malik yang tahu itu adalah rombongan mereka menjadi lebih lega dan tenang karena tahu situasi sebentar lagi akan berbalik, sedangkan dari pihak musuh mulai menyadari keadaan bisa memburuk jika yang datang adalah musuh. Sementara itu kedua pengawal Darman yang sudah hampir selesai mengobati diri menyadari akan kedatangan banyak orang, mereka cemas sekali takut musuh yang datang sedangkan mereka dalam masa kritis mengobati luka mereka. Darman dan teman-temannya yang sedang bertempur di sisi lainnya tidak memperhatikan hal itu karena mereka sedang sibuk kosentrasi untuk melayani serangan yang sangat teratur dari Barisan Merak Hitam jika lengah sedikit nyawa taruhannya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Seperti dugaan Lukman dan Malik memang yang sedang datang mendekat itu adalah rombongan mereka. Begitu sampai ke lapangan itu mereka semua bergerak ke lapangan untuk membantu teman-teman mereka, Pandeka Tangan Siluman dan Pandeka Konek berpencaran membantu Lukman dan Malik, sedangkan yang lain langsung terjun ke pertempuran Darman. Melihat kedatangan teman-temannya, mereka menjadi semangat sekali dan pertempuran menjadi tambah seru.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Pandeka Konek yang hendak membantu Lukman segera dicegahnya, “Kakek, cepat kau tolong Darman, aku masih bisa atasi mereka. Darman dan yang lain keracunan hebat takutnya mereka tidak bisa ditolong lagi kalau terlambat!”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><span>&#160;</span><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Setelah melihat Lukman tidak bakalan kalah dari lawannya, cepat Pandeka Konek bergerak ke arah pertempuran Darman dan teman-temannya. Dia melihat pertempuran tersebut masih berlangsung alot sekali, Barisan Merak Hitam itu sungguh sebuah barisan kerjasama tim yang sangat kompak sekali, setiap orang tahu posisi masing-masing dan secara bergantian memainkan ilmu menyerang dan bertahannya dengan sangat baik sekali. Sedangkan di pihak mereka, keadaan Darman dan <span>&#160;</span>8 orang temannya dalam keadaan payah sekali di seluruh tubuh mereka sudah banyak luka dan sewaktu-waktu bisa ambruk tapi setelah ditambah dengan Kasman dan 5 orang saudara perguruan Malik, keadaan mulai membaik walau tetap tidak bisa mengalahkan barisan tersebut.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Barisan Merak Hitam ini dimainkan oleh 25 orang dengan sangat baik sekali, karena mereka dilatih langsung oleh ketua mereka dengan sangat keras. Mereka seolah-olah menyatu satu dengan yang lainnya, orang lain tidak tahu siapa yang memegang komando dari gerakan barisan yang memang sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga orang lain tidak mengetahuinya kecuali oleh anggotanya sendiri. Sebenarnya kunci rahasia kelemahan barisan ini ada pada si pemegang komando, karena jika orang mengetahui siapa yang mengatur bisa mengincarnya dan mematikan gerakannya, otomatis jika gerakannya mati anggota yang lainpun akan kebingungan untuk menggerakan barisannya. Mereka berjumlah 25 orang merupakan sebuah barisan yang mempunyai jumlah orang yang sangat banyak jadi tidak gampang untuk mengatur gerakan penyerangan dan pertahanan jika mereka tidak ada yang mengepalainya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Ditambah lagi mereka semua menggunakan baju dan penutup wajah berwarna hitam sehingga susah sekali untuk mengetahui pimpinan mereka. Lawan tidak bisa melihat wajah mereka sehingga mereka dengan leluasa bisa bergerak tanpa kuatir sang pemimpin akan diredam gerakannya. Pandeka Konek yang melihat keadaan ini langsung mengetahui satu-satunya cara adalah menggempur barisan ini dari belakang, jadi menyerang mereka dari dua sisi depan dan belakang. Dia langsung menyerang sisi belakang barisan yang sedang sibuk menggempur Darman dan teman-teman yang lain. Dan ternyata Pandeka Konek kecele dengan dugaannya, barisan ini benar-benar barisan yang tangguh dan hebat sekali, memang mereka dilatih untuk menghadapi saat harus bertempur menyerang kubu Rangkayo Jati yang dikawal oleh banyak orang-orang berilmu tinggi, jadi satu-satunya cara adalah membuat sebuah barisan yang bisa meredam kekuatan pengawal keluarga itu. Begitu tahu mereka diserang dari belakang, mereka langsung merubah gaya serangan tadinya mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam, sekarang mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam Kembar jadi seperti dua orang anak kembar mereka bisa saling bergantian menutupi kanan kiri mengisi kelemahan posisi teman-teman mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Sungguh pemandangan luar biasa, 25 orang bertempur menekan 2 orang pesilat dengan ilmu kelas satu dibantu dengan 14 orang lainnya tanpa mereka sendiri mengalami kesulitan bahkan pihak yang digempur harus berhati-hati beradu tangan dengan mereka karena seluruh tubuh 25 orang ini berlumuran racun yang mematikan. Yang paling parah keadaannya adalah Merak Pohon karena dikeroyok oleh Malik dan Pandeka Tangan Siluman, mereka berdua ingin cepat-cepat menyudahi pertempuran karena mau membantu kelompok Darman yang beberapa orang diantaranya sudah sangat kepayahan akibat racun yang masuk ke tubuh mereka.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Merak Pohon menyadari keadaannya yang berbahaya itu tapi dia tidak mau menyerah kalah, dia mengeluarkan senjata andalannya pisau terbang Merak Hitam, di tangannya pisau ini bergerak seakan terbang mencari mangsanya. Begitu dia mengeluarkan 2 pisau dari dalam bajunya, segera tercium bau amis yang sangat menyengat hidung, Malik dan Pandeka Tangan Siluman mengetahui bahwa senjata ini dilumuri dengan racun yang sangat berbahaya sekali, mereka harus berhati-hati agar tidak tergores pisau belati beracun itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Sedangkan keadaan Lukman sudah di atas angin, Merak Rawa sudah mulai susah menahan gerakan Lukman, terpaksa dia mengeluarkan juga senjata andalannya sabuk yang terbuat dari bulu-bulu merak yang sudah direndam dengan obat-obat dan racun ganas supaya bisa menjadi senjata. Melihat hal ini Lukman tidak mau kalah mengeluarkan senjatanya yaitu pedang Walet Perak, pedang ini warisan dari gurunya, khusus dibuat dari perak murni yang mempunyai kadar murninya sangat tinggi hampir mencapai 100% dan dicampur dengan baja putih yang jarang sekali ditemukan jadi dapat dibayangkan kehebatannya. Pedang ini sangatlah tajam sekali dan belum ada yang bisa menghancurkannya,<span>&#160;</span> pedang yang bisa mengimbangi ketenarannya adalah <span>&#160;</span>pedang Batu Angin milik Orang Gaek Indak Banamo (Orang tua tidak bernama) dan pedang Gadang Barek (Besar berat) pusaka perguruan Jawi Putiah (sapi putih). Konon kabarnya pedang ini hanya bisa dihancurkan oleh pedang pusaka Naga Hijau yang dipegang oleh raja Adtyawarman dan Pedang legenda Damar Pelangi yang konon tidak jelas keberadaannya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Benar-benar pertempuran tingkat tinggi, Lukman mengerahkan ilmu pedang Walet Peraknya untuk menandingi Sabuk Merak Hitam milik Merak Rawa. Pedang di tangan Lukman bergerak-gerak cepat sekali seperti burung walet menyambar-nyambar ke segala arah tubuh Merak Rawa, sedangkan sabuk Merak Rawa tidak mau ketinggalan bergerak mengimbangi kekuatan pedang Walet Perak. Merak Rawa selalu berusaha menjaga jarak jangkauan sabuknya yang panjang itu, sedangkan Lukman lebih menyukai pertempuran jarak pendek. Untuk mengatasi hal ini keduanya berusaha menggunakan cara apapun untuk saling mengalahkan. Melihat hal ini Lukman merubah strategi permainan silatnya, mulai dia menggunakan pedangnya untuk memapas sabuk tersebut, dari beberapa kali benturan, pedang itu berhasil memotong sabuk itu hampir sepertiga panjangnya. Merak Rawa mulai merasa gelagat tidak baik berpihak pada dia dan rombongannya, sambil terus memainkan sabuknya sempat dia melirik ke arah dua pertempuran lainnya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Dia melihat adik seperguruannya sedang terdesak hebat dikeroyok 2 orang tinggal tunggu saatnya saja untuk binasa, sedangkan barisan Merak Hitamnya sedang diobrak abrik oleh 7 orang dengan tingkat kepandaian yang lebih tinggi dari musuh sebelumnya, walaupun belum terlihat mereka bakalan kalah. Dan terlihat di sudut kanan lapangan 8 orang lawan awal dari barisan Merak Hitam sedang bersila memulihkan kondisi mereka yang sudah terluka dan keracunan. Hal ini sangat tidak menguntungkan sekali bagi pihaknya, dia harus segera menyingkir dari sini. Mulailah akal liciknya bekerja, perlahan-lahan dia menggeser pertempurannya mendekati saudaranya, dan menggunakan ilmu bicara jarak jauh dia menyuruh saudaranya mulai bergeser ke arah barisan merak hitam serta dia juga menyuruh pimpinan barisan menyiapkan anak buahnya semua untuk kabur dari gelanggang dengan menggunakan bom racun buatan mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Duuuuaaarrrrr, terdengar ledakan keras sekali dari tengah pertempuran dari barisan Merak Hitam, ternyata salah satu dari anggota barisan menjatuhkan bom untuk mengalihkan perhatian Malik dan Pandeka Tangan Siluman yang telah mendesak Merak Pohon yang sudah terluka. Ketika semua orang dikagetkan dengan bunyi ledakan itu, Merak Rawa mengambil kesempatan itu lari menuju ke saudaranya dan menangkap tangannya untuk dibawa berlari dengan cepat sekali. Semua orang selain dari perguruan Merak Hitam buru-buru menjauhi asap beracun yang menyelimuti arena pertempuran, cepat mereka menarik saudara mereka yang terluka agar tidak terhirup asap itu. Terdengar ledakan kedua, dan asap semakin tebal mengitari arena, tambah jauh rombongan Lukman dan Darman berlari meninggalkan tempat itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Setelah mereka cukup jauh dari arena pertempuran barulah mereka berhenti berlari, sambil meletakkan saudara-saudara mereka yang terluka di tanah. Mereka melupakan kuda-kuda mereka yang tertambat di dekat pertempuran tadi, karena mereka hanya memikirkan menyelamatkan diri dan teman-teman dari bahaya keracunan akibat bom asap tersebut.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kurang ajar, memang bangsat licik, coba mereka tidak main bom asap itu, tidak nanti mereka bisa meloloskan diri.” Sumpah serapah Pandeka Konek.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Sudahlah kakek, sekarang yang penting kita obati dulu teman-teman kita” sahut Darman sambil membagi-bagikan obat yang telah dia terima dari orang misterius tadi.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Darman, darimana kau dapat obat ini?”Tanya Malik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tadi ketika aku sudah hampir kena jarum Merak Hitam, <span>&#160;</span>tiba-tiba datang seseorang yang berjubah lembayung yang sangat indah sekali menolong aku dan memberikan obat ini.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Jangan-jangan dia datang membantu kita?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku yakin sekali, Man, sepertinya memang dia yang membantu kita.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Ini sudah yang ke berapa kalinya dia membantu kita, berarti dia tidak seperti yang kau curigai selama ini, Lukman.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku tahu, kakek Konek, hanya aku penasaran saja kenapa dia tidak mau bertemu muka dengan kita?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kalau aku boleh bertanya, emangnya siapa yang kalian bicarakan dari tadi?” Tanya Darman kebingungan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Oya, kenapa kalian bisa sampai di sini, bertemu dengan musuh?” Tanya Lukman.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kami mendengar kabar Datuak Kaba Angin bahwa Dewi Tangan Dingin sedang menuju gunung Tandikat untuk mencari obat, makanya kami menyusul ke sini, baru kami sampai, tiba-tiba kami diserang mereka dengan cara curang sekali, makanya kedua paman sampai bisa diracuni mereka. Untung kalian keburu datang kalau tidak kami semua sudah mati dibunuh mereka.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tapi kalau melihat cara mereka menyerang sepertinya mereka tidak ingin membunuh kalian, karena kalau mereka benar-benar hendak membunuh kalian dari tadi pasti kalian sudah mati oleh racun Merak Hitam mereka yang berbahaya itu. Aku rasa mereka ingin menyandera kalian untuk tujuan yang tidak baik.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Benar juga yang uda Lukman katakan, sepertinya memang begitu rencana mereka, ketika semburan racun mereka yang dihadang oleh paman Jamin (Pandeka Tendangan Petir) dan paman Dasrun (Pandeka Pedang Pamuncak) tidak sampai merenggut nyawa mereka langsung biasanya sehebat apapun ilmu tenaga dalam orang bila sudah berhadapan dengan racun Merak Hitam tidak ada yang bisa selamat, pasti hanya bisa bertahan sebentar saja sebelum kehilangan kesadaran atau nyawa.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Darman telah selesai membagikan obat kepada yang terluka kena racun, dan memasukan botol obat tersebut ke dalam bajunya lagi. Belum sempat dia membuka mulut untuk menanyakan sampai di mana pencarian mereka akan obat untuk ibu mereka, tiba-tiba terdengar gemuruh suara derap kuda yang ramai sekali di belakang mereka dari arah pertempuran tadi. Buru-buru mereka semua menyingkir dan mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Terlihat sekumpulan debu berterbangan mengiringi kuda-kuda yang berlari ke arah mereka yang dipimpin oleh seekor kuda putih yang berlari tenang ke arah mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Mereka yang sudah pernah melihat kuda putih ini tahu bahwa bukan musuh yang datang, ketika hampir mendekati tempat mereka, kuda putih itu berhenti berlari dan mengangkat kedua kaki depannya dan meringkik dengan keras seakan memerintahkan kuda lain yang ada di belakangnya untuk berhenti. Dan anehnya semua kuda yang ada di belakangnyapun berhenti berlari bahkan mereka berdiri dengan membentuk sebuah barisan yang teratur sekali. Kuda Putih itu menolehkan kepalanya kepada semua manusia yang sedang memandang dengan melongo takjub melihat semua ini, lalu kuda itu menganggukan kepalanya dan kembali berdiri dengan kedua kaki depannya sebelum dia pergi dengan kecepatan angin meninggalkan mereka semua.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Tidak ada satupun dari manusia yang ada di sana yang tidak terpesona akan kecerdikan dan kehebatan kuda putih itu. Cukup lama mereka dalam keadaan diam diri dan tidak tahu harus berkata apa, keheningan itu dipecahkan oleh suara kuda-kuda yang mendengus dan menggerak-gerakan badannya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kalian lihat tadi ? Apa aku bermimpi seekor kuda mengantarkan kuda kita dan menganggukan kepalanya pada kita?” Tanya Darman dengan masih tidak percaya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Memang kuda yang sangat hebat sekali, ingin aku memiliki kuda seperti itu biarpun hanya keturunannya saja. Sang tabib berhasil melatih kudanya dengan luar biasa sekali.”sahut Malik dengan takjub.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Lukman hanya terdiam di tempat dan tidak habis berpikir, kalau kuda putih itu muncul di sini artinya pemiliknya tidak jauh-jauh dari mereka dan masih ada di sekitar mereka untuk melindungi mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Mereka semua terkejut ketika mendengar suara Darman yang sambil merangkapkan kedua tangannya dan membungkukan badannya ke semua arah, “Terima kasih kepada anda yang sudah menolong kami, budi baik ini pasti akan kami balas suatu saat nanti.” Dia menggunakan ilmu Teriakan Gaung Bumi untuk menyampaikan pesan kepada sang penolong mereka yang tidak tahu ada di mana.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tuan muda Darman, kau ini bikin kami terkejut saja.”kata Jamin sambil mengurut-urut dada saking terkejutnya mendengar suara keras yeng bergema tadi.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Tapi Darman diam saja seperti mendengarkan sesuatu, mereka melihat ke arahnya dengan bingung.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Darman, ada apa ?” Tanya Malik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Ssssttt….”<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Terlihat beberapa kali Darman mengangguk-anggukan kepalanya tanda menyetujui sesuatu atau mengerti sesuatu, mereka semua menunggu sampai Darman buka suara.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Baiklah, akan aku laksanakan perintah tabib.”kata Darman dengan keras seperti tadi menggunakan ilmu Teriakan Gaung Bumi.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“ Ada apa Darman, cepat katakan,” kata Lukman tidak sabar.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tadi tabib berpesan kepadaku agar obat yang dia berikan itu segera diberikan kepada ibu kita, yang satu ditelan sedangkan yang satu lagi dilarutkan dalam air mandi ibu setelah dia dapat berdiri kembali. Sedangkan yang satu lagi untuk berjaga-jaga seandainya kondisi ibu tidak segera pulih keesokan harinya. Beliau bilang sudah memberikan 6 butir obat itu kepada uda Malik, dan dia tahu 2 butir sudah digunakan untuk mengobati paman, jadi dia menyuruh aku memberikan dua butir lagi kepada uda sebagai ganti obat yang telah ditelan paman.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Apalagi yang dikatakan beliau?” Tanya Malik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Beliau juga mengatakan agar kalian jangan mengejar beliau lagi, kita disuruh segera balik dengan membawa obat penawar racun ini untuk digunakan bilamana musuh menyerang dengan racun. Dan agar ibu bisa cepat sembuh kembali. Beliau berani jamin ibu akan bisa disembuhkan dengan obat penawar racun yang beliau berikan, jika ibu masih belum sembuh juga mungkin karena racunnya sudah menyebar ke seluruh organ penting dalam tubuh ibu maka kita diharuskan untuk pergi ke nagari Batang Agam menemui Nenek Ubek Sakti untuk meminta daun Selasih Cicak agar dicampur dengan obat dari beliau dan rebus untuk diminumkan. Guna daun ini untuk memulihkan luka akibat racun yang merusak organ tubuh ibu, dan kita harus segera mengobati ibu agar jangan sampai terlambat, karena waktu untuk mengobati ibu hanya tinggal 1½ bln lagi, lewat dari masa itu biarpun Tabib Mato Tigo sendiri yang mengobati tetap saja nyawa ibu bisa tidak tertolong lagi.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Mendengar penuturan Darman, mereka semua sepakat untuk cepat pulang membawa obat yang dibutuhkan oleh ibu mereka, setelah kondisi yang terluka sudah memadai. Obat yang diberikan oleh sang tabib memang sangat mujarab sekali, sebentar saja mereka semua sudah pulih dari keracunan hanya tinggal luka luar yang sudah mereka obati pula dengan obat yang mereka bawa dari rumah. Setelah semua selesai pengobatannya mereka menaiki kuda mereka dan melarikan kudanya ke arah pulang.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Selama melarikan kuda mereka menuju pulang masing-masing dari mereka tidak lepas dari memikirkan sang tabib yang misterius itu apalagi Lukman dan Malik, mereka masih penasaran terhadap sang tabib yang tidak berhasil mereka temui itu. Baru mereka berjalan sebentar saja mereka menemui rombongan ketiga pencari obat yaitu rombongan yang dipimpin oleh paman mereka, Datuak Samolangik, adik dari ayahnya Malik.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Mereka juga mendengar kabar bahwa tabib yang mereka cari sedang menuju ke daerah Gunung Tadikat, makanya mereka bisa sampai di daerah ini. Kebetulan perjumpaan mereka ini sudah menjelang tengah malam dan mereka semua yang tadi habis bertempur tiba-tiba&#160;merasa&#160;kelaparan, mengingat mereka tidak sempat untuk makan karena pertempuran itu memakan waktu yang cukup lama.&#160;&#160;Hal ini bisa saja terjadi karena sekarang mereka dalam situasi aman dan tenang sehingga mereka sudah bisa merasakan perut mereka kosong belum diisi. Mereka mengambil tempat&#160;melingkari api unggun yang sudah dibuat&#160;&#160;sambil membuka perbekalan mereka dan makan dengan lahapnya. Selesai makan, mereka ingin mengaso dan tiduran sejenak setelah tadi mereka bertempur mati-matian melawan musuh dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing silih berganti.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Terlihat Lukman diam membisu saja dari tadi sepertinya sedang memikirkan sesuatu, yang lain tidak berani menganggu. Kemudian dia memandang kepada mereka semua dengan wajah penuh pertimbangan, mereka sudah selesai saling bercerita pengalaman dan istirahatnya, sekarang sudah ingin bergerak untuk melanjutkan perjalanan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kalian pulanglah semua dulu, bawa obat untuk ibu. Aku masih ingin tinggal di sini,”kata Lukman kepada mereka semua.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Mau apa tuan muda Lukman tetap tinggal di sini? Bukannya tuan ingin cepat-cepat pulang bertemu dengan keluarga?” Tanya Pandeka Konek yang memang paling dekat dengan Lukman sehingga beliau berani bicara terus terang apa saja kepadanya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku ingin mencari tabib itu untuk menyampaikan maafku karena selalu salah sangka dan terima kasih atas bantuan beliau kepada kita secara langsung.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tapi uda, beliau kan sudah katakan bahwa kita tidak perlu mencari beliau lagi, harus cepat pulang untuk membawa obat untuk ibu.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Aku tahu itu Darman, tapi aku tidak bisa menutupi rasa penasaranku akan beliau, kenapa beliau selalu bersembunyi-sembunyi menolong kita dan kenapa beliau tidak mau menemui kita? Apakah karena beliau tersinggung akan perkataanku? Jika benar aku ingin sekali minta maaf langsung kepada beliau.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Apa kalian juga tidak merasa aneh dan penasaran terhadap tabib ini ? Bukannya aku meragukan kemampuan beliau untuk menyembuhkan ibu kita tapi entah kenapa aku merasa harus bertemu dengan beliau untuk menuntaskan rasa penasaran yang bercokol di hatiku ini. Aku juga mendengar bahwa beliau menuju gunung Tandikat untuk mencari obat langka di sana , pasti tidak mudah untuk melakukan hal ini. Aku ingin membantu beliau karena kita sudah menerima budinya yang sangat besar itu, jadi menurutku inilah caranya agar kita bisa membalas budinya, walau beliau tidak mengharapkan balasan apapun dari kita. Bagaimana menurut kalian ?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Benar juga yang kau katakan Lukman, terus terang saja aku masih penasaran dengan tabib itu, beliau sudah menjaga kita dari marabahaya dan melepaskan budi pula kepada kita, rasanya kita ini sudah begitu banyak menerima budi, tapi tidak tahu bagaimana membalasnya. Aku sependapat denganmu, Man, kita memang harus membantu beliau dan kalau bisa sesudah urusannya selesai kita<span>&#160;</span> bisa mengajak beliau ke rumah kita agar kita sekeluarga bisa menyampaikan terima kasih yang layak kepada beliau.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Uda Lukman dan uda Malik, apa kalian lupa ibu sedang menunggu obat dari kita, apa kalian tidak rindu kepada ibu dan ingin melihat beliau segera sembuh,” debat Kasman dengan mimik kebingungan mendengar pembicaraan kedua kakaknya itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Benar sekali Malik, apa kau tidak rindu kepada ibumu? Bukannya kau yang paling kuatir ketika ibumu sakit, apa kau tidak ingin tahu apakah ibumu bisa disembuhkan atau tidak?” Tanya Datuak Samolangik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Kedua pemuda itu terdiam mendengar pendapat adik dan paman mereka, di batin mereka berperang keinginan untuk mencari tabib itu dan melihat kesembuhan ibu mereka.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Uda berdua, aku mengerti perasaan uda, aku juga merasakan hal yang sama. Begini sajalah kita bertiga pergi mencari tabib itu, sedangkan yang lain pulang dengan membawa obat untuk diserahkan kepada ibu. Aku yakin berkat obat ini ibu pasti sembuh, karena tabib itu sudah terkenal kehebatannya jadi pasti beliau tidak akan merusak reputasinya dengan memberikan obat sembarangan untuk ibu. Bagaimana menurut kalian?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Tuan muda Darman, kau ingin ikut juga?” Tanya Jamin menatap kuatir tuan muda kesayangannya itu, diantara ketiga anak Rangkayo Jati memang Darmanlah yang paling disayangi semua orang, dia seorang yang pemuda yang ramah dan sopan kepada siapa saja. Senyumnya dapat meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya ditambah lagi dengan tutur katanya yang lembut membuat siapa saja tidak bisa marah kepadanya. Berbeda dengan Lukman yang memang dari kecil sudah menunjukan wataknya yang keras dan pendiam sehingga para pengawal agak sedikit sungkan kepadanya, sedangkan Kasman masih bertingkah laku kekanak-kanakan seperti anak kecil yang manja jadi mereka masih menanggapnya pemuda yang baru besar.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Waktu pembagian rombongan untuk mencari sang tabib saja mereka juga berebutan ingin menemani Darman, bahkan Pandeka Konek yang memang dekat dengan Lukmanpun lebih memilih ikut rombongan Darman. Tapi setelah melihat orang berebutan ingin mendampingi Darman, akhirnya dia bersama Pandeka Tangan Siluman memutuskan untuk menemani Lukman dan Malik saja.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Paman, jangan kuatir seperti itu, kami pasti bisa menjaga diri kami, yang penting sekarang kalian pulang cepat untuk memberikan obat kepada ibu dan bersiaga kalau-kalau musuh akan menyerang kita karena mereka tahu banyak diantara kita yang tidak ada di tempat sekarang ini.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kalau begitu biarlah aku ikut tuan muda, sedangkan yang lain pulang mengawal obat itu,”sahut Pandeka Konek cepat, dia ingin sekali berjumpa dengan Datuak Marindiang yang sedang mengejar tabib itu juga.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">“Kami juga ingin mengawal tuan muda, bagaimana pertanggunganjawab kami kepada ayah tuan muda sekiranya kami membiarkan tuan muda pergi begitu saja tanpa kami,” Tanya Randu sambil memandang kepada Malik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya mereka memutuskan rombongan Lukman dan Malik tetap mencari sang tabib, Darman tetap pulang bersama 2 rombongan lain membawa obat penawar racun tersebut. Mereka berpisah menuju arah yang berbeda, Lukman beserta rombongannya menuju arah mereka datang tadi sedangkan rombongan Darman bergerak ke Utara menuju pulang.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Papyrus">Setelah beberapa hari mereka melacak jejak sang tabib akhirnya mereka menemukannya sedang menuju gunung Tandikat dari arah Timur gunung tersebut, dan hampir mereka berhasil menyusul tabib tersebut tapi kembali tabib itu bisa meloloskan diri. Mereka terus mengejar beliau dengan tidak kenal lelah kadang-kadang mereka mendapat petanda dari Datuak Marindiang yang ternyata diam-diam membantu mereka juga untuk menemukan sang tabib.<span>&#160;</span> Sampai akhirnya suatu ketika mereka menemukan jejak sang<span>&#160;</span> tabib yang menuju sebuah sungai yang mengalir di sebuah hutan yang mendekati kaki gunung Tandikat tersebut.<br /></span></font>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aboutjuls.blog.com/2008/06/10/jilid-viii/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://aboutjuls.blog.com/2008/05/16/</link>
		<comments>http://aboutjuls.blog.com/2008/05/16/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 17:44:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sieklie</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<span style="font-size: 24pt; color: fuchsia; font-family: 'Bradley Hand ITC'"><strong>VIII<span>&#160;</span> SAKITNYA PANAH</strong> <strong>ASMARA<br />
<br /></strong><br /></span><span style="font-size: 24pt; color: fuchsia; font-family: 'Bradley Hand ITC'"><span style="font-size: 24pt; color: blue; font-family: 'Bradley Hand ITC'"><strong>Part 1<br />
<br /></strong><br /></span><span style="font-size: 24pt; color: blue; font-family: 'Bradley Hand ITC'"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Setelah kepergian Masnan dan Basri, Bumi mengajak Kahar untuk menemani dirinya pergi ke nagari tetangga. Sebenarnya maksud Bumi mengajak Kahar karena dia ingin memastikan dugaannya bahwa Kahar memang menaruh hati pada iparnya. Dia tidak ingin salah dalam menilai sehingga nantinya bisa meregangkan hubungan diantara mereka karena masalah ini. Memang beberapa kali Kahar secara tersamar menyinggung hubungannya dengan Siti tapi dia masih ragu untuk menanggapi karena dia masih menunggu reaksi Siti. Setelah beberapa hari ini dia melihat reaksi Siti, dia menjadi lebih yakin ternyata maksud hati Kahar disambut oleh Siti walau tidak kentara tapi dia yang sudah bertahun-tahun mengenal iparnya ini mengerti juga akan perasaan wanita cantik itu.<br />
<br /></font></span></span></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kahar yang memang tidak mempunyai kerjaan lain, merasa senang sekali diajak Bumi, karena terus terang saja dia bingung mau melakukan apa di rumah Bumi. Dia masih belum dapat caranya untuk mengajak ngobrol sang pujaan, karena dia masih menyimpan sedikit kekuatiran apakah Siti masih menyukai dia seperti dulu atau sudah tidak lagi sejak dia menyakiti hati wanita itu. Merupakan penyesalan yang tidak berkesudahan dalam hidupnya saat dia secara sengaja menyakiti hati Siti akibat cemburu yang membabi buta yang tidak pula terbukti kebenaran dugaan buruknya itu.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sebelum pergi Bumi memberi instruksi kepada pegawainya untuk melakukan beberapa hal yang berkaitan dengan keadaan nagari. Setelah semua selesai dan berpamitan dengan Siti, mereka berdua berjalan kea rah Selatan dari nagari, pada saat masih di dalam nagari mereka berjalan seperti biasa, tapi begitu sudah menjauhi pinggiran nagari mereka menggunakan ilmu peringan tubuh untuk mempercepat langkah mereka karena hari sudah siang. Bumi sengaja tidak ajak Kahar makan siang di rumah, karena dia ingin mengajak Kahar makan di rumah makan yang ada di nagari tetangga sambil ngobrol masalah Siti dan dia tidak mau Siti mengetahui pembicaraan mereka.<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Tidak lama sampailah mereka di nagari tetangga, memang ilmu kedua orang ini sangatlah mumpuni, perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 1 hari dengan berjalan kaki biasa, dapat mereka lakukan dalam waktu 2 jam saja tanpa terlihat nafas mereka memburu. Begitu sampai di pinggiran nagari, mereka mengurangi kecepatan dan mulai berjalan biasa sambil bercakap-cakap. Bumi mengajak Kahar berjalan menuju ke rumah makan yang cukup terkenal di nagari.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Rumah makan yang terkenal itu bernama Gadang Salero, dan merupakan pemilik dari wali nagari ini yang juga merupakan teman dari Bumi. Sehingga waktu Bumi memasuki rumah makan ini pelayan dan pengawas rumah makan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka. Semua orang yang ada di rumah makan itu mengenal siapa Bumi adanya, selain merupakan teman baik majikan, mereka juga tahu bahwa orang ini merupakan tokoh hebat dari dunia persilatan. Karena sudah beberapa kali mereka melihat kehebatan tokoh ini ketika menolong nagari mereka dari gangguan perampok, sehingga setiap kedatangan beliau ke nagari ini selalu disambut dengan sukacita.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Bumi yang melihat pengawas rumah makan yang bernama Daus menghampirinya segera tersenyum dan menyapa, “Hmmm Daus, apa kabar ?, apa ada meja kosong buat kami ?”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“ Ada tuan Bumi, meja yang anda suka gunakan kebetulan sekali kosong, silahkan anda ikuti saya,” sahut pengawas itu.<br />
<br /></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Diiringi dengan pelayan, mereka segera menuju ke meja makan yang ada agak di belakang dari rumah makan tersebut. Tempatnya agak terpojok sehingga jika orang datang ke rumah makan itu tidak akan bisa melihat mereka segera, tapi bagi yang duduk di meja tersebut bisa leluasa memandang orang-orang yang datang ke rumah makan itu. Bumi sangat menyukai lokasi penempatan meja tersebut karena tidak terganggu dengan kesibukan di rumah makan yang selalu ramai ini.<br />
<br /></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Tuan hendak pesan makan apa, atau mau yang seperti biasa ?”<br />
<br /></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Daus, apa hari ini ada masak gulai otak dan kepala ikan?”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kebetulan sekali tuan, kedua gulai kesukaan tuan hari ini ada, tukang masak kami sedang suka membuatnya.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Baiklah Daus, aku pesan gulai otak dan kepala ikan dan sayur pucuk paranci (daun singkong) serta lado (sambal) yang banyak. Kahar, kamu mau pesan apa ? Di sini makanannya enak-enak, tukang masaknya Ajo Iman itu kalau memasak makanan apa saja wah lamak bana (enak benar).”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Benarkah? Aku jadi penasaran, apa di sini ada jual pakasan (sejenis masakan campuran durian matang dengan udang dan pete, masakan ini cukup terkenal)? Ini makanan kesukaanku yang tidak semua orang bisa memasaknya dengan enak,” kata Kahar dengan tersenyum.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Wah tuan benar-benar mengenal masakan enak, hari ini hari keberuntungan tuan, menu special kami hari ini memang pakasan, saya jamin pasti tuan akan kecanduan dengan masakan pakasan Ajo Iman, karena beliau terkenal sekali dengan masakan ini dan biasanya beliau jarang sekali memasaknya, repot kerjanya.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Oya, baguslah aku pesan 1 porsi ditambah dengan gulai paku (sejenis tanaman pakis), aku lihat di sebelah sana orang makan gulai paku dengan enaknya. Dan juga jangan lupa bawakan 1 ekor ayam goreng.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Ujang, bawa pesanan ini ke Ajo Iman, bilang wali Bumi yang pesan pasti dia senang sekali.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Buru-buru pelayan berjalan ke belakang untuk menemui tukang masak, benar saja dugaan si pengawas begitu tahu ini merupakan pesanan dari orang yang pernah menolongnya, Ajo Iman dengan senang dan cekatan menyiapkan semua pesanan wali Bumi.<br />
<br /></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sedangkan si pengawas masih mendampingi Bumi dan Kahar,”Tuan-tuan mau minum apa ? Bagaimana kalau saya sarankan minum tea Embun Pagi yang merupakan racikan khusus yang di bawa dari daerah Agam. Teanya sangat wangi dan segar sekali diminum dingin di saat siang garang begini.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Bagaimana Kahar, apa kamu ingin mencobanya?”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Boleh uda Bumi, sepertinya sangat menggoda sekali kedengarannya, memang aku sudah berasa panas untung saja kita duduk di tempat yang semilir anginnya terasa kalau tidak sudah kegerahan aku dari tadi.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Sebentar lagi makanan dan minumannya akan kami antar, harap sabar menunggu pasti tidak akan lama saya jamin. Kalau tidak ada lagi yang hendak dipesan saya permisi mengurus tamu yang lain.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Silakan Daus, oya kamu tidak usah beritahu kepada majikanmu bahwa aku ada di sini, tidak enak rasanya setiap kali ke sini makan gratis apalagi aku bawa teman. Terima kasih Daus.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Baiklah tuan Bumi, saya tidak akan memberitahukan majikan, saya permisi.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Segera Daus meninggalkan kedua tamu itu, dia berjalan menuju meja kasir dan berdiri di sampingnya sambil terus menyapa tamu yang datang dan menemani mereka jika kebetulan mereka merupakan pelanggan tetap rumah makan ini.<br />
<br /></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sepeninggal si pengawas, Bumi mulai berpikir bagaimana caranya untuk mencari tahu perasaan Kahar kepada Siti, dan dia juga merasa bahwa diantara kedua insan ini pasti pernah terjadi sesuatu. Karena belum pernah Bumi melihat Kahar sangat gugup dan cemas dalam menghadapi wanita, biasanya dia tenang-tenang saja malah kebanyakan wanita-wanita cantik itu dekat-dekat dan berusaha mencari perhatian dia. Tapi dengan Siti kebalikannya, Kahar yang berusaha menarik perhatian wanita cantik itu dan sepertinya takut-takut membuat Siti tersinggung. Menurut Bumi, hal ini sangat menggelikan sekali dia sudah pernah membahas masalah ini dengan Basri dan Masnan, kedua temannya juga menganggap lucu sekali. Dan ada satu informasi yang didapat Bumi dari salah satu anak buahnya, bahwa dulu sekali pernah ada hubungan antara Kahar dengan Siti tapi entah kenapa hubungan pertemanan itu berakhir.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Bumi ingin sekali mengetahui hal ini, apa penyebab kekakuan dalam hubungan Kahar dan Siti, seolah-olah Kahar takut menyakiti Siti dan Siti sepertinya agak menjaga jarak dengan Kahar. Sering Bumi melihat Kahar sembunyi-sembunyi menatap Siti dengan pilu dan mata yang penuh kerinduan bahkan sekali-kali Bumi melihat ada guratan penyesalan di wajah pemuda itu. Ini membuat Bumi penasaran sekali ingin mengetahui apa yang telah terjadi antara ipar dan adik angkatnya, karena di wajah iparnya dia tidak bisa melihat apapun wajah itu selalu tenang sepertinya tidak ada gejolak apapun yang bisa mengoyak ketenangan yang dalam itu.<br />
<br />
Hanya anaknya yang bandel itu saja yang mampu membuat wajah Siti mempunyai emosi, setiap kali menatap Aswin mata dan wajahnya melembut, atau kalau anak bandel itu terluka dia melihat sinar kecemasan dan kekuatiran tergurat di wajah cantik itu. Selebihnya dia tidak pernah melihat emosi apapun terpancar di wajah Siti kecuali ketenangan dan kedamaian. Dulu sekali ketika dia baru menikahi isterinya, dia sering melihat sinar kebahagiaan bermain-main di wajah Siti tapi sejak kepulangannya dari merantau dan kematian isterinya, wajah Siti berubah menjadi tenang yang dingin seolah-olah semua emosi yang ada dalam dirinya raib bersama kepergian sang kakak tercinta.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Tapi setelah dipikir-pikir dia ingat cerita Kahar, bahwa pemuda itu sudah lama mengenal Siti dan waktunya itu bersamaan dengan waktu Siti pergi merantau. Jangan-jangan mereka berdua ada apa-apanya waktu sama-sama merantau dulu. Semakin Bumi memikirkannya semakin dia penasaran daripada dia mati karenanya biar dia menanyakan saja pada yang bersangkutan, karena menanyakan pada Siti tidak leluasa seperti dia bertanya pada Kahar.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sedangkan Kahar ternyata memikirkan hal yang sama juga, dia lagi mencari cara bagaimana baiknya menyampaikan maksud hatinya kepada Bumi. Dia sudah tidak sabar lagi untuk segera mempersunting wanita pujaan hatinya itu, karena dia takut jika menunda-nunda lagi dia bisa kehilangan lagi. Sudah cukup semua kebodohan dan kesakitan hatinya dengan kehilangan Siti, dia sudah tidak sanggup lagi kalau harus kehilangan kedua kalinya. Setiap kali memandang wajah Siti, dia disiksa oleh perasaan bersalah dan pedih serta yang paling parah adalah kerinduannya pada wanita cantik itu. Dia tahu Siti seorang wanita yang lembut dan peka perasaannya, pasti sudah memaafkan dia atas semua perbuatannya di masa lalu. Tapi apa masih cintakah wanita ini padanya itu merupakan sebuah pertanyaan, kadang dia melihat Siti menatap dia dengan lembut tapi kebanyakan sinar mata dan wajahnya tidak tersirat apapun saat memandang padanya.<br />
<br /></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Semuanya terasa dingin mencekam hatinya, tidak seperti tatapan mata dan wajah Siti ketika memandang Aswin yang begitu hangat dan penuh kasih sayang. Dulu sekali tatapan seperti itu pernah diterimanya dari Siti, dia merasa hatinya penuh kehangatan dan cinta setiap kali Siti memandangnya seperti itu. Dan dari dulu dia juga tahu Siti bukanlah tipe wanita yang gampang menunjukan perasaannya kepada orang lain. Hanya orang yang peka perasaannya tahu bagaimana kuatnya perasaan wanita itu terhadap orang-orang yang dicintainya. Sayang dia melupakan hal itu, sehingga mengakibatkan hancurnya hubungan mereka dan berakhir dia selalu merana dan kesepian dalam jiwanya akibat kehilangan Siti.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kini Tuhan mengabulkan doanya untuk memberi kesempatan kedua untuk meraih lagi kebahagiaan bersama orang yang dicintainya, tidak akan lagi dia mengulangi kebodohan yang sama ditambah lagi sekarang tidak ada penghalang bagi hubungan mereka. Dia tidak sadar bahwa ibu muridnya menaruh pengharapan padanya yang nantinya bisa mengganggu hubungannya dengan Siti.<br />
<br /></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Belum sempat Bumi membuka mulut untuk bertanya, Kahar sudah mendahuluinya bicara,”Uda, sudah berapa lama kita menjadi saudara angkat ?”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Bumi yang ditanya jadi bingung kenapa tiba-tiba saudara angkat termudanya bisa bertanya seperti itu. Dia belum melihat arah dari pembicaraan Kahar, tapi dia menjawab juga,”Kurang lebih hampir 15 tahun, kenapa ?”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Apa selama kita berteman, uda melihat aku seperti seorang pemuda genit yang gampang tergoda oleh wanita cantik?”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Hmmmm… memang aku juga suka heran kenapa kamu tidak tergoda oleh wanita-wanita cantik yang mengelilingi dan mengagumi dirimu, bahkan sempat terpikir oleh kami jangan-jangan kau tertarik pada pria,” kata Bumi sambil tersenyum menggoda.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Mendengar perkataan Bumi, buru-buru Kahar memalingkan wajah untuk memandang wajah Bumi yang sedang menyeringai jenaka, dia langsung tahu sang uda sedang menggodanya. Kahar tersenyum pahit melihat itu, karena dia tidak sanggup tersenyum saat ini ada beban yang berat sekali ingin diungkapkan kepada sang uda. Dia tidak tahu bila udanya mendengar apa yang ingin dia ceritakan apa masih mau membantunya mendapatkan Siti atau tidak.<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Belum sempat dia melanjutkan pembicaraan, masakan yang masih panas mengepul diantarkan pelayan untuk dihidangkan ke meja mereka, segera tercium bau masakan yang lamak sekali yang mengundang perut menyanyikan nada sumbangnya. Selain pesanan mereka ternyata pelayan juga menyajikan dendeng batokok (empal empuk), jengkol muda yang dijadikan lalapan, pete balado (bercabe) yang digoreng dengan kulitnya, gulai ikan pangek (ikan asam pedas). Benar-benar masakan yang mengundang selera ditambah dengan nasi putih pulen yang berasal dari beras Solok yang diletakkan dalam bakul. Hmmm lamak bana, mintuo lalu indak caliak lai (enak sekali, mertua lewat tidak lihat lagi), kemudian tea yang dijanjikanpun dihidangkan dan benar seperti yang dikatakan bau wangi yang enak tercium dari teko.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kahar, nanti saja kita bicaranya, aku sudah lapar sekali, kan lebih enak kalau bicara dalam keadaan sudah kenyang. Mau bicara sampai berapa jam juga akan aku layani, gimana?”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Aku rasa juga enakan begitu, uda, karena sepertinya makanannya mengundang selera sekali.”<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Setelah mencuci tangan bersih-bersih, mereka makan dengan lahapnya menggunakan sendok yang diberikan langsung oleh Tuhan yaitu tangan, yo bana sero (ya benar2 enak). Bumi sangat menikmati makanannya, sedangkan Kahar tidak terlalu menikmatinya karena pikirannya sibuk memikirkan apa dia akan bercerita jujur atau ada bagian2 yang dihilangkan supaya Bumi tidak menyalahkannya dan mau membantu hubungannya dengan Siti.<br /></font></span></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Selesai makan sambil menikmati tea dingin yang disajikan, Kahar merasa sudah saatnya dia menyambung pembicaraannya yang terputus tadi. Kebetulan suasana di rumah makan tersebut sudah mulai sepi jadi enak untuk bicara tanpa takut terganggu dengan suara orang lain.<br /></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Nah, Kahar, perut sudah kenyang, hati sudah lapang, silahkan kau lanjutkan pembicaraan yang terputus tadi.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Dengan menghela nafas Kahar memulai pembicaraannya,”Aku tahu uda semua suka bingung dengan sikapku yang tidak tertarik pada wanita cantik manapun. Bukan maksud aku seperti itu uda, mungkin pada awal perkenalan kita dulu, aku belum mengerti artinya cinta dan rindu, oleh karena itu aku tidak terlalu menanggapi para wanita cantik yang mendekati aku. Tapi setelah aku mengenal Siti, aku baru tahu enaknya diperhatikan dan disayang oleh wanita cantik. Mungkin karena keenakanlah yang membuat aku lupa diri dan sengsara begini…”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“O, jadi kau sudah lama mengenal Siti ? Kenapa kau bilang sejak mengenal Siti, kau tahu artinya cinta, apa dulu kalian sempat menjadi sepasang kekasih?” potong Bumi tidak sabar.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Begitulah uda, kami berdua pernah menjadi sepasang kekasih, tapi karena kebodohanku maka aku kehilangan cinta sejatiku,” kata Kahar dengan pilu.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kenapa bisa begitu, setahuku engkau bukanlah seorang pemuda yang bodoh, Kahar,” selagi Bumi memotong pembicaraan Kahar yang dia rasanya terlalu lama dan tidak langsung ke tujuan tapi dibalik semua perkataan Kahar, dia merasakan kesedihan dan penyesalan yang mendalam.<br />
<br /></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Dengan senyum yang teramat pahit Kahar menjawab,”Terima kasih atas pujian uda, tapi uda dalam kasus ini aku benar-benar orang yang paling bodoh sejagat raya ini. Aku menyia-nyiakan kasih murni dari Siti lantaran cemburu dan godaan sesaat.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kahar, sudah cukup basa basimu itu sekarang lebih baik kau ceritakan awal mula kebodohanmu itu, aku sudah tidak sabar mendengarnya.”<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kembali Kahar merasa berat sekali menceritakan kebodohannya bukan karena dia malu tapi dia takut setelah menceritakan kisah ini kemungkinan besar Bumi tidak setuju menjodohkan dia dengan Siti. Sedangkan dia tahu sekali Siti sangat menghormati iparnya sehingga bisa jadi mempengaruhi keputusan wanita pujaannya itu ditambah lagi dia tidak yakin akan perasaan Siti padanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya, lebih baik begini karena dia percaya uda Bumi pasti bisa mempertimbangkannya dengan bijaksana.<br />
<br /></font></span></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Baiklah uda Bumi, aku akan mulai menceritakan kisah kami, tapi uda jangan potong pembicaraan aku, karena susah sekali rasanya mengeluarkannya dari dalam sini,”kata Kahar sambil menunjuk dadanya.<br /></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Bumi menganggukkan kepalanya, dia dapat melihat dari wajah dan mata Kahar, penderitaan batin yang selama ini disembunyikan pemuda ini dari mereka, saudara angkatnya. Dia tambah penasaran lagi, apa yang telah terjadi sehingga pemuda seperti Kahar jadi menderita begini.<br />
<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sambil menatap awan dari jendela di samping mereka, Kahar mengenang masa lalu pertemuan dia dengan Siti dan mulai menceritakan….<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kahar yang ketika itu merupakan pemuda yang baru lulus dari perguruan silatnya diijinkan oleh gurunya untuk turun gunung dan merantau sekalian pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya yang sudah hampir 8 tahun tidak ditemuinya. Dia merasa senang sekali karena diantara murid-murid yang lain dia tidak diperbolehkan sering turun gunung sampai pelajarannya selesai. Perkenalannya dengan Bumi, Masnan dan Basri dikarenakan kebetulan sekali mereka ikut gurunya datang berkunjung pas perayaan ulang tahun ketua perguruan silat tempat dia bernaung, dan sempat terjadi kekacauan besar tapi yang berbuah mereka mengangkat saudara satu dengan yang lain.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Guru Kahar yang merupakan adik seperguruan dari kakek guru ketua perguruan Api Matahari memang menggembleng dia dengan keras, yang untungnya dia merupakan murid yang sangat berbakat sekali sehingga semua pelajaran yang diberikan bisa diselesaikannya dengan baik dalam waktu yang singkat. Dididik oleh orang seperti Datuak Matohari Ameh membuat Kahar menjadi pendekar yang mumpuni, karena memang gurunya merupakan tokoh yang paling berbakat dan tinggi ilmunya dalam perguruan Api Matahari. Hanya karena beliau tidak menyukai keduniawian maka beliau tidak terlibat langsung pada operasional perguruan semua diserahkannya pada kakak seperguruannya dan dilanjutkan oleh murid-murid lainnya. Beliau belum pernah menerima murid sebelumnya sampai dia bertemu dengan Kahar ketika terjadi kerusuhan di perayaan ulang tahun itu.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sebenarnya gurunya berat melepaskan Kahar untuk pergi merantau karena selain anak ini memang berbakat, dia pintar menghibur hati gurunya dan sangat rajin sehingga sang guru sangat menyayanginya. Tapi semua pelajaran telah diberikan kepada Kahar, sehingga sudah tiba waktunya untuk Kahar menimba pengalaman di dunia persilatan, gurunya yakin dengan ilmu yang diberikan kepada pemuda ini bisa mengatasi semua masalah yang terjadi. Gurunya selalu berpesan agar dia selalu berbuat baik, menghindari pertengkaran yang tidak perlu, dan berusaha memberi ampun kepada orang yang mau bertobat. Ketika Kahar mau turun gunung, dia menyempatkan diri bertemu dengan guru pertamanya yaitu ketua perguruan yang bergelar Pandeka Penakluk Matahari.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Pandeka Penakluk Matahari sendiri merupakan tokoh persilatan yang disegani sekali oleh perguruan silat lainnya. Kahar menjadi murid pandeka ini dikarenakan hubungan persaudaraan antara ayahanda Kahar dengan pandeka ini. Ketua perguruan ini mempunyai 4 murid utama termasuk Kahar, tapi dia memang paling sayang pada Kahar karena pemuda ini sangat berbakat dan rendah hati walaupun dia termasuk keluarga kerajaan. Makanya waktu paman kakek gurunya mengambil Kahar menjadi muridnya, pandeka ini tidak keberatan karena dia tahu bakat anak ini yang melampaui teman-temannya.<br />
<br /></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kini anak itu menghadap padanya dan tetap bersikeras memanggilnya guru, padahal dari segi kedudukan Kahar di atas dia, setingkat dengan gurunya. Dan pada saudara perguruannya tetap memanggil uda dan uni tanpa membedakan kedudukan, pokoknya siapa yang lebih tua darinya selalu dipanggil dengan hormat. Semua orang menyayangi pemuda cakap ini kecuali kakak seperguruannya yang nomor 2 bernama Yunus. Pemuda ini selalu iri terhadap Kahar yang melebihi segalanya dari dia, Yunus juga termasuk keluarga kerajaan hanya dia merupakan saudara jauh sedangkan Kahar merupakan sepupu dari raja sekarang.<br />
<br /></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Tapi dia pintar menutupi perasaan irinya pada Kahar, di muka semua orang dia berlaku sopan dan baik sehingga tidak terlihat sifat jeleknya. Hanya Datuak Matahari Ameh yang bisa merasakan ketidakberesan pemuda ini, oleh karena itu dia memesan wanti-wanti kepada muridnya untuk berhati-hati pada pemuda itu. Karena beliau melihat aura kegelapan yang melingkupi sekeliling pemuda itu, dan dengan tenaga kebatinan dia juga tahu bahwa pemuda ini mempunyai kekuatan sesat dalam dirinya yang belum dibangkitkan. Beliau tidak bisa mengusir pemuda itu dari perguruan Api Matahari, karena akan menimbulkan masalah besar ke depannya. Makanya yang dia bisa lakukan hanya memperkuat kebatinan dan ilmu serta tenaga dalam Kahar agar nantinya bisa menghadapi Yunus.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Setelah berpamitan dengan guru dan saudara seperguruannya, Kahar melangkah dengan ringan menuju ke kaki gunung Tandikat untuk memulai pertualangannya. Karena dia berjalan dengan santai sekali maka sampai di kaki gunung sudah senja, segera dia pergi ke rumah wali nagari untuk menumpang mandi dan makan. Semua penduduk sudah mengenal murid-murid perguruan Api matahari, mereka senang sekali menerima dan membantu karena murid-murid dari perguruan ini sangat baik dan ramah serta ringan tangan menolong mereka. Jadi tidak masalah kalau ada murid perguruan ini minta berteduh dan makan di rumah wali nagari itu. Sesudah mandi dan makan, Kahar berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya, dia tidak ingin mengganggu wali nagari yang baik itu lebih lama lagi.<br />
<br /></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Dengan santai dan bersiul-siul dia melangkahkan kakinya menuju hutan yang menjadi perbatasan nagari ini dengan dunia luar, kebetulan sinar bulan sangat penuh dan terang sekali sehingga memudahkan dia untuk melanjutkan perjalanan. Dengan ilmu lari cepat dia sudah meninggalkan nagari dan kira-kira tengah malam dia sudah hampir sampai di pinggiran hutan sebelah sana . Tapi karena ngantuk dia mau istirahat dulu, dia lihat pohon-pohion yang tumbuh di sekitar tempat dia berdiri dan melihat ada sebuah pohon yang kelihatannya enak untuk menjadi tempat tidurnya. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh dia sampai di atas pohon, dan sebentar kemudian diapun sudah terlelap. Malam semakin larut, tiba-tiba dia mendengar derap kuda yang kencang sekali menuju ke arah pohon tempat dia tidur, segera dia membuka matanya melihat arah datangnya suara derap kuda tapi dia tidak merubah posisi tubuhnya yang masih tertidur di atas dahan pohon.<br />
<br /></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Terlihat seekor kuda putih berlari kencang sekali dari arah Timur membawa sosok tubuh kecil di atasnya, Kahar tidak bisa melihat wajah si penunggang kuda karena tertutup dengan kain yang melilit kepalanya. Ketika hampir dekat pohon Kahar, tiba-tiba si penunggang kuda bersiul tinggi melengking dan hebatnya kudanya berhenti berlari seakan-akan dia mempunyai rem di kakinya. Sambil terus menengok ke belakang si penunggang kuda turun dari atas kudanya.<br />
<br /></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Bening, aku rasa kita sudah meninggalkan jauh&#160;orang-orang bawel&#160;itu di belakang kita, lebih baik kita istirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan kita ke perguruan Api Matahari,”terdengar suara lirih si penunggang bicara dengan kudanya.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kahar tidak bisa memastikan apakah itu suara pria atau wanita karena dia masih belum bisa melihat wajah dan potongan tubuh penunggang kuda itu. Hanya kalau dia taksir tinggi orang itu hanya sebatas dadanya saja, Kahar termasuk pemuda yang tinggi dan berdada bidang yang cukup lebar, sedangkan penunggang kuda ini kelihatannya bertumbuh kurus. Orang dan kudanya langsung duduk di atas tanah dengan enaknya seolah tidak memperdulikan kotor atau tidaknya tanah itu. Si penunggang kuda langsung menjatuhkan badannya ke perut kudanya dan langsung tertidur. Sang kudapun dengan tenang membaringkan tubuhnya di tanah dan membiarkan tuannya tidur di perutnya. Kahar masih belum bisa melihat wajah sang penunggang kuda karena tertutup oleh kain yang menutupi seluruh tubuhnya termasuk wajahnya.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Suasana tenang dan sepi membuat Kahar mengantuk lagi, ingin melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu karena kehadiran orang dan kudanya. Tadi sempat dia heran mendengar gumaman orang itu yang mau ke perguruannya, besok dia akan menguntit orang ini karena dia ingin memastikan apakah orang ini bermaksud jelek ke perguruannya atau tidak. Jika tidak dia bisa dengan tenang meninggalkan daerah perguruannya untuk melanjutkan perjalanan.<br />
<br /></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Baru saja dia merasa tertidur tiba-tiba di kejauhan lamat-lamat dia mendengar derap kuda yang banyak menuju ke arah dirinya, Sambil menggerutu kesal dia terbangun dari tidurnya, tapi suasana sudah mulai terang, malam sudah menyelinap ke peraduannya untuk memanggil bangun sang mentari. Suasana sungguh indah sekali di remang-remang cahaya pagi, bila tidak terganggu oleh suara derap kaki kuda. Kesal sekali rasanya belum kenyang tidurnya harus terganggu lagi, cepat dia menoleh ke arah orang dan penunggang kuda di bawahnya. Rupanya orang itu belum mendengar derap kuda dari jauh itu tapi sang kuda sudah mendengarnya dan mengeluarkan suara ringkikan pelan sambil kepalanya ditoleh ke samping dan sundul pelan majikannya. Tapi sang majikan masih keenakan tidurnya mungkin karena kelelahan berkuda sehingga tidak terbangun walau sudah disundul-sundul kudanya. Semakin lama suara derap kuda itu semakin dekat, kuda itu mengeluarkan suara ringkingan keras dan berusaha berdiri agar bisa membangunkan sang majikan. Akhirnya sang majikan bangun juga dan terduduk dengan lemasnya, kudanya kembali mendorong-dorong punggung majikannya agar segera berdiri. Sang majikan mengangkat kedua tangannya<span>&#160;</span> dan mendoyongkan kepalanya ke arah belakang sambil menggeliatkan badannya.<br /></font></span></font></span></div>
<br />
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Saat itulah penutup kepalanya terbuka dan rambut yang menutupi wajah itu tersibak tergerai ke belakang. Tampaklah seraut wajah wanita yang sangat cantik sekali apalagi ketika sinar matahari yang mulai mengintip malu-malu mencium wajah itu. Kahar terpesona memandang wajah itu sungguh teramat sangat cantik, berkulit sawo matang yang mulus, berbibir bawah yang tebal sensual dan hidung yang mungil mancung melengkapi keindahan wajah itu. Dia belum bisa melihat mata sang pemilik wajah dikarenakan dia masih menutup matanya menikmati ciuman hangat dari sang mentari. Ketika si cantik membuka matanya, sang dewa langsung melepaskan panah asmaranya tepat mengenai jantung Kahar, sejak saat itu wanita itu sudah merenggut kedamaian dan ketenangan Kahar.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kahar jatuh cinta tanpa bisa mengelak atau melepaskan diri lagi dari panah asmara yang sudah menancap di jantungnya dengan tepat sekali. Mata indah sang pemilik wajah cantik itu benar-benar menggoncangkan iman, begitu bening dan teduh sekali jika memandang ke dalamnya seakan ingin ikut tenggelam ke dalam mata indah itu. Belum pernah selama hidupnya Kahar merasakan gairah dan semangat yang membara karena seorang gadis cantik, sudah banyak ditemui gadis-gadis cantik yang pernah datang berkunjung ke perguruannya atau teman-teman mainnya waktu masih di istana tapi tidak ada satunya yang mampu mengguncang perasaannya seperti saat ini.<br />
<br /></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Dia lupa akan keadaan sekitarnya hanya mampu melihat pemandangan indah di depannya tanpa berkedip, sedangkan suara derap banyak kuda semakin mendekati tempat mereka. Tapi yang anehnya si cantik itu tidak menghiraukan hal itu bahkan dia masih menikmati angin nan lembut yang meniupi rambut dan bajunya perlahan-lahan. Terdengar senandung lembut dari bibirnya yang sensual itu seakan menikmati cerahnya pagi ini. Dan kudanya sudah berjalan agak ke samping menuju sungai kecil yang mengalir untuk minum dan makan rumput yang tumbuh subur di pinggiran sungai tersebut.<br />
<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Bening, kamu enak sekali sudah minum, aku juga ingin minum tapi harus ditadah dulu pasti segar sekali rasa embun pagi,” terdengar suara merdu nan lembut keluar dari bibir sensual itu.<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kahar semakin terbuai dengan keadaan yang ada di sekitarnya, apalagi setelah mendengar suara yang lembut berirama itu. Dia melihat gadis itu mengeluarkan sebuah tabung dari bamboo dari balik bajunya dan dengan gerakan yang luwes sekali dia menyapukan bamboo itu pelan-pelan ke titik-titik embun yang ada di dedaunan yang tumbuh subur di dekatnya. Gerakannya sedemikian cepat dan luwes sekali, tidak ada embun pagi yang lolos dari tabung bamboonya. Melihat hal ini Kahar tahu bahwa gadis ini bukan orang sembarangan pasti mempunyai ilmu silat yang bagus sekali, walau mungkin dibandingkan dengan dirinya masih jauh tapi cukup untuk dia membela diri seandainya terjadi sesuatu.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Setelah beberapa lama dia memasukan embun pagi di tabung bambunya, gadis itu tertawa lembut melihat hasil kerjanya, suara tawanya sungguh menggelitik sukma Kahar, dia jadi ikutan tersenyum melihat tingkah laku dara cantik itu.<br />
<br /></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Bening, cukup banyak juga embun yang aku dapat, lumayan untuk melepaskan dahaga.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Segera dara itu meminum embun pagi yang ada di tabung bambunya,”Hmmmm…. Nikmati sekali rasanya Bening, sekarang aku sudah siap menghadapi orang-orang bandel itu. Tapi aku harus mencuci muka dulu menghilangkan debu yang melengket ini.”<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Biarpun dia seorang perantau akan tetapi tetap dia seorang anak gadis yang mementingkan kebersihan dan kerapian dirinya.&#160;Dia berjalan&#160;menuju sungai kecil itu dan mencuci tangan dan mukanya, sambil melepaskan jubah kain yang melingkari tubuh dan kepalanya. Kembali Kahar terpana menatap dara itu, ternyata dia memiliki rambut hitam panjang yang indah berkilauan dan bentuk tubuh yang sangat proposional sekali dengan tinggi tubuhnya. Sempurna kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan dara itu, jari tangan yang lentik itu menepuk-nepuk mukanya dengan air sungai yang jernih itu.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Dan sementara itu segerombolan orang berkuda sudah terlihat mendekati tempat mereka, dan pemimpin rombongan sudah mengangkat tangannya untuk memerintahkan kepada rombongan agar menghentikan lari kuda mereka. Dia sudah melihat kuda putih itu dan pemiliknya yang sedang berjongkok mencuci tangan dan wajahnya di sungai itu.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Selamat pagi Dewi, maafkan kami yang mengejar anda seperti ini,” sapa halus sang pemimpin kepada dara yang sedang membelakangi mereka.<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kahar memandang pemimpin rombongan itu, seorang pemuda yang cakap sekali dengan pakaian mahal membalut tubuhnya. Ada sekitar 10 orang dalam rombongan berkuda itu, 5 orang diantaranya sudah berusia paruh baya sedangkan 2 orang sudah kakek-kakek dan sisanya anak muda seumuran dengan pemimpin rombongan yang ditaksir Kahar tidak beda usianya dengan dirinya. Dia bersiap-siap akan membantu dara cantik itu seandainya rombongan ini mengganggunya.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Pemuda pemimpin rombongan ini bernama Lukman, yang merupakan putera pertama dari keluarga ternama Rangkayo Padang Jati sedangkan 2 pemuda di belakangnya merupakan adik kandungnya, Kasman, dan sepupunya, Malik yang juga berasal dari keluarga hebat yang memiliki perguruan silat Ula Kuniang (Ular Kuning). Sedangkan 2 orang kakek yang ada dalam rombongan ini juga bukan orang sembarangan, yang pendek dengan rambut putih panjang sebahu bergelar Pandeka Konek dari Bukit Sagantang, sedangkan yang lebih tinggi dengan kepala botak bergelar Pandeka Tangan Siluman. Kedua kakek ini merupakan tokoh hebat dalam dunia persilatan hanya sedikit orang yang mampu menghadapi kehebatan mereka, selama ini mereka menjadi pengawal pribadi dari ayah Lukman yaitu Sutan Mudo Padang Jati.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Yang 5 orang lagi merupakan murid-murid utama dalam perguruan silat Ula Kuniang, mereka datang karena mengawal putera guru mereka. Rombongan ini ditugaskan oleh Sutan Mudo Padang Jati untuk mencari tabib yang bisa menyembuhkan ibu Lukman dan ibu Malik yang tiba-tiba diserang penyakit yang tidak ketahuan dari mana datangnya. Kedua perempuan ini sudah seminggu lamanya berbaring sakit dengan seluruh tubuh memerah dan melepuh seakan kena bakar api yang sangat hebat. Kedua suami mereka sudah memanggil tabib-tabib ternama tapi tidak seorangpun mampu menyembuhkan kedua wanita ini. Sehingga suatu ketika seorang pedagang teman baik Sutan Padang Jati, memberitahukan bahwa sekarang di dunia persilatan terdengar kabar ada seorang tabib yang sakti murid dari Tabib mato Tigo yang suka menolong orang. Tabib itu bernama Dewi Tangan Dingin, beliau sangat terkenal sekali kesaktian ilmu pengobatannya, masalahnya tidak mudah untuk bisa menemui beliau.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Tabib ini sering menyamar sehingga wajah aslinya tidak seorangpun yang tahu, yang orang tahu bahwa tabib ini seorang wanita tapi apakah dia sudah tua atau muda tidak ada seorangpun yang tahu dengan jelas. Orang yang sudah pernah ditolongnya menyebut beliau dengan sebutan Dewi Tangan Dingin, karena selain tahu dia seorang wanita, mereka yang pernah diobatinya tahu dia memiliki tangan yang terasa dingin sejuk setiap menyentuh luka atau tubuh si sakit. Dan ciri tangan dingin sejuk inilah merupakan petunjuk khusus tabib itu yang tidak dimiliki oleh tabib lain.<br /></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Jadi saat Lukman dan Malik ditugaskan untuk mencari tabib ini, mereka kewalahan juga karena tanda pengenal tabib ini hanyalah dia seorang wanita dan mempunyai tangan yang dingin sejuk. Sudah hampir 2 minggu mencari kabar tabib ini, akhirnya mereka mendengar kabar kehadiran tabib ini di sekitar wilayah gunung Tandikat karena ada korban sakit menular di sebuah nagari dekat gunung tersebut. Dan biasanya tabib itu akan datang ke daerah bencana seperti itu untuk memberikan pengobatan kepada penduduk. Setelah menunggu hampir 3 hari lamanya dan benar saja seorang tabib <span>&#160;</span>datang untuk menyembuhkan penduduk, hanya mereka tidak sangka dan kecewa sekali karena tabib itu seorang pria tua sedangkan tabib yang mereka tunggu itu adalah seorang wanita.<br /></font></span></font></span></div>
<br />
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Malik yang sudah tidak tahan menunggu karena menguatirkan sang ibu, meminta kepada yang lain untuk membawa saja tabib ini pulang siapa tahu beliau bisa menyembuhkan ibu mereka. Sedangkan Lukman tetap bersikeras ingin menunggu tabib sakti itu, sempat terjadi pertengkaran diantara mereka untung cepat dilerai oleh kedua kakek itu. Kasman yang melihat kedua kakaknya ribut seperti itu, pergi ke luar untuk melihat-lihat keadaan penduduk yang disembuhkan oleh tabib tua itu. Dari penduduk yang telah disembuhkan oleh tabib itu, dia mendapat berita bahwa tabib itu mempunyai tangan ajaib yang terasa dingin<span>&#160;</span> menyejukan setiap kali memegang tubuh mereka. Mendengar hal ini Kasman merasa curiga, jangan-jangan tabib ini adalah tabib yang mereka cari. Buru-buru dia pulang untuk memberitahukan kepada saudara-saudaranya. Begitu sampai di tempat mereka menginap Kasman mencari kakak dan sepupunya, yang ternyata sedang berkumpul di kamar kakaknya.<br /></font></span></font></span></div>
<br />
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Uda Lukman, ada berita aneh.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kasman, ada apa jangan bicara yang buat orang kesal,” kata Lukman dengan muka cemberut karena dia masih kesal sekali dengan Malik.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Ini berita yang mungkin membuat kita bisa pergi dari nagari ini dengan cepat,” sahut Kasman.<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Berita apa yang kau bawa, Kasman?” Tanya Malik.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Begini uda Malik, waktu aku jalan-jalan keliling nagari ini aku bertemu dengan penduduk yang sudah sembuh dari pengobatan tabib itu, dia menceritakan bahwa tabib itu mempunyai tangan yang halus dan lembut….”<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Semua tangan tabib memang halus dan lembut, kalau tidak bisa kesakitan pasiennya,”potong Lukman dengan tidak sabaran.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Yang uda katakan itu betul, tapi ada satu lagi yang perlu uda tahu, menurut mereka tangan si tabib juga dingin menyejukan ketika menyentuh tubuh mereka.”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Hah, apa benar itu Kasman, kau jangan bercanda,” Tanya Malik sambil berdiri dari kursinya.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Itu benar uda, tadinya aku juga tidak percaya tapi setelah aku menanyakan pada beberapa orang, mereka semua bilang sama tangan tabib itu dingin menyejukan, makanya aku buru-buru balik untuk memberitahukan kepada kalian semua.”<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Lukman, kita harus menyelidiki kebenaran berita ini segera, karena ibu kita sudah hampir sebulan menderita aku sudah tidak tahan memikirkannya. Saking kuatirnya kita hampir lupa bahwa tabib Dewi tangan Dingin itu suka menyamar bisa jadi tabib ini merupakan samaran dia, selama ini kita selalu terpaku hendak mencari tabib wanita. Padahal bisa jadi tabib itu sudah di depan mata kita tapi kita tidak menyadarinya.” kata Malik dengan cepat.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Baiklah kita semua keluar dan selidiki hal ini, mudah-mudahan saja benar, aku juga sudah tidak sabar sekali setiap memikirkan penderitaan ibu kita.”<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Segera mereka keluar dari kamar penginapan dan menyebar ke seluruh nagari untuk membuktikan kebenaran berita itu. Kedua kakek yang menyertai mereka bertugas untuk pura-pura menjadi pesakitan agar bisa merasakan pengobatan dari tabib itu, Lukman serta Malik menyamar sebagai keluarga dari kedua kakek itu, sedangkan 5 orang saudara seperguruan Malik serta Kasman bertugas mencari keterangan dari penduduk, di mana tabib itu tinggal dan dari mana datangnya.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Mereka berempat berjalan menuju ke rumah yang dijadikan tempat pengobatan darurat oleh penduduk, di sana sudah terlihat antrian penduduk yang tinggal 3 orang lagi.<br />
<br /></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kakek Konek, kau kerahkanlah tenaga dalammu supaya keliatan kau sedang sakit, begitu juga dengan kakek Botak supaya kita bisa menjajal apakah benar dia tabib yang dimaksudkan oleh ayah.” Kata Lukman kepada kedua kakek tersebut.<br />
<br /></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Malik, kau pura-pura papah kakek Konek masuk duluan dan kakek Konek tugasmu adalah mengetahui apakah benar dia tabib yang kita cari, apakah bisa kalian lakukan hal itu?”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Tenang Lukman, kami pasti bisa lakukan hal itu, kau juga harus siap-siap dengan si Botak untuk mengantisipasi keadaan jika sekiranya kami tidak berhasil, kalian harus gunakan kekerasan untuk mengancam dia agar mengaku siapa gerangan dirinya,” kata Pandeka Konek.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Baiklah kakek, sekarang giliran kalian untuk masuk, orang di depan kalian sudah hampir selesai,”bisik Lukman.<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Setelah penduduk terakhir pergi, giliran Malik dan Pandeka Konek masuk ke ruang pemeriksaan. Malik mempapah pandeka Konek yang seolah-olah sedang kesakitan berat sekali. Nafasnya memburu dan terengah-engah, muka dan tubuhnya berwarna kemerahan seperti orang menderita demam, serta keringat membanjiri wajahnya.<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Darma menuntun pandeka Konek untuk duduk di kursi yang telah disediakan untuk pasien, begitu mereka duduk langsung tabibnya berkata.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Untuk apa kalian datang ke sini, kalian kan tidak sedang sakit jadi hentikan kepura-puraan kalian, katakan saja terus terang mau apa kalian datang ke sini?”<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kaget sekali kedua orang ini tidak mereka sangka ternyata tabib ini bisa tahu rencana mereka. Malik tidak kehilangan akal, cepat-cepat dia berpikir dan menjawab pertanyaan dari si tabib,<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Siapa bilang kakekku tidak sakit, tabib tahu dari mana beliau tidak sakit, jika memang tabib tidak bisa menyembuhkan bilang saja tidak perlu berkata kakek saya tidak sakit seperti itu.”<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Tabib itu memandang wajah Malik dengan tenang sekali, mata itu menatap seakan ingin menjenguk di kedalaman hati mencari sebuah kejujuran di sana . Malik yang ditatap oleh mata itu merasakan sensasi yang tidak pernah dia alami sebelumnya, dia merasa ditatap oleh sepasang mata yang dapat membetot sukmanya keluar dari rongga dadanya. Langsung kedua tangan Malik berkeringat menahan getaran kekuatiran akibat kebohonganya, sedangkan Pandeka Konek melihat dari cara menatap tabib itu dia mendapati bahwa tabib ini pasti berilmu silat tinggi. Dia tidak berani bertindak gegabah karena kuatir malah bisa merunyamkan masalah ke depannya.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Maafkan cucuku tabib, mungkin karena dia risau dengan penyakitku sehingga dia bicara tidak sopan padamu, biarlah aku yang tua ini memintakan maaf untuknya.” Dengan lagak sedang dalam kesakitan.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Lebih baik kalian berterus terang saja mau apa kalian bertemu dengan aku, sebelum aku marah dan tidak akan memberikan obat penawar racun yang kalian sudah hirup di kamar ini.”<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Terkejut sekali kedua orang ini bahkan Pandeka Konek sampai meloncat berdiri dari kursinya, keduanya tidak menyangka bahwa tabib ini bisa meracuni orang tanpa orang tersebut tahu atau sadar apa yang terlah terjadi. Cepat mereka berdua mengalirkan tenaga dalam mereka di dalam tubuh untuk mengeluarkan racun yang ada di tubuh mereka. Sebagai ahli silat, ilmu tenaga dalam mereka sudah sangat bagus, jadi mengeluarkan racun yang ada di tubuh, mereka bisa melakukannya dengan mudah sekali. Setelah mereka melakukan hal itu mereka tidak merasa ada racun di tubuh mereka, mereka curiga apa benar mereka telah terkena racun seperti yang dikatakan tabib itu atau ini hanyalah gertakan biasa saja.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Si tabib tahu mereka tidak mempercayai pembicaraan dia, “Sekali lagi aku Tanya, mau apa kalian datang ke sini?”<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Sungguh tabib, saya mau berobat datang ke sini bukan untuk main-main!”tegas Pandekar Konek.<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Baiklah, aku percaya pada kalian tapi jika aku tahu kalian berbohong kalian bertanggung jawab sendiri atas racun yang sudah masuk ke dalam tubuh kalian. Kesinikan tanganmu kakek, aku ingin memeriksanya.”<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Konek mengulurkan tangan kanannya ke arah tabib, begitu jari tabib itu menyentuh nadi tangan kanannya, serangkum angin yang sejuk dingin menerpa tangannya. Karena kaget dia cepat menarik tangannya, lupa dia akan julukan tabib yang mereka cari itu, langsung saja dia melompat berdiri dari kursinya. Malik yang melihat hal itu ikutan terkejut akibat gerakan kakek Konek, dasar pemuda cerdas dia dapat menduga bahwa si kakek kaget karena jari tabib yang memegang nadinya terasa sejuk dingin. Dan si tabib melihat hal ini tenang-tenang saja, malahan dia memandang mereka berdua dengan wajah dingin dan terlihat senyum mengejek di bibirnya.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Tadinya Konek kaget karena berpikir mau diserang oleh si tabib sehingga dia lupa informasi yang dia dapat sebelumnya bahwa tabib ini mempunyai tangan yang dingin sejuk. Dengan muka merah menahan malu dia memandang Malik dan si tabib bergantian, seolah minta bantuan untuk memperbaiki keadaan. Malik yang memang seorang pemuda yang sangat cerdas sekali cepat membaca situasi berusaha membantu Konek agar si tabib tidak tersinggung dan rahasia mereka ketahuan.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kakek, kenapa bergerak seperti itu, bukannya kakek merasa tubuhnya tidak enak, kalau kakek selalu ketakutan diperiksa oleh tabib, bagaimana bisa sembuh yang ada malah nanti kakek tambah sakit, aku juga yang susah jadinya. Sekarang kakek duduk lagi di kursi itu dan tenang sajalah diperiksa tabib kalau tabib itu mencelakakan kakek akan aku hantam dia jadi kakek jangan kuatir yah.”<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Secara tidak langsung Malik juga mau bilang ke si tabib jika dia berani macam-macam, dia tidak sungkan-sungkan untuk menghajar si tabib. Tabib mendengar perkataan Malik tambah dalam senyum mengejeknya dan matanya bersinar tambah dingin menatap pemuda itu, kembali Malik merasa hatinya berdenyut tidak karuan menerima tatapan mata itu. Entah kenapa hal ini bisa terjadi Malik sendiri bingung kenapa setiap mata tabib itu menatapnya dia merasa jantungnya seakan berdenyut lebih cepat, dia pikir apa tabib ini menggunakan ilmu kebatinan untuk menaklukannya. Cepat dia mengerahkan ilmu kebatinan yang diajarkan oleh ayahnya untuk mengatasi kalau-kalau dia diserang oleh ilmu kebatinan, tapi kembali dia heran dia tidak merasa ada serangan ilmu kebatinan terhadap dirinya tapi kenapa jantungnya berdenyut tidak karuan begini. Apa dia sudah gila bisa merasa seperti ini hanya tatapan dari seorang tabib laki-laki yang sudah tua begini, cepat dia menggeleng kepalanya untuk menghapus pikiran tidak warasnya.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Tabib yang melihat tingkah laku kedua orang yang ada di depannya tertawa geli dalam hati, dia merasa mereka berdua sungguh lucu sekali terutama pemuda tampan itu, karena setiap dia menatap pemuda itu langsung muka pemuda itu memerah dan salah tingkah tidak karuan. Apa pemuda itu tahu bahwa dia seorang gadis ? Tapi tidak mungkin, karena gejolak emosi yang bermain di wajah pemuda itu mengatakan dia sendiri bingung kenapa bisa bertingkah seperti itu. Dan si kakek tua itu dari tadi seperti merasa terancam dan selalu siap sedia akan serangan mendadak, memang dia sedikit nakal menyebarkan racun daun bunga malam untuk mengerjai kedua orang ini dan kedua orang yang ada di depan. Dia sudah mencuri dengar pembicaraan mereka mengenai ingin mengujinya apakah dia tabib yang dicari atau bukan, biarpun dia ahli pengobatan tapi untuk ilmu silat dia tidak kalah lihaynya dia mendapat didikan langsung dari sang ibu dan sang kakek, tabib mato tigo, yang ahli silat ternama juga. Memang ilmu silatnya tidak selihai ilmu peringan tubuhnya apalagi dibandingkan dengan ilmu pengobatannya tapi bukan berarti dia tidak bisa membela diri. Makanya dia sengaja tadi mengerahkan sedikit tenaga dalamnya sehingga tangannya terasa dingin menyentuh kulit kakek yang mengaku sedang demam panas itu.<br />
<br />
<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Dia sudah berbulan-bulan mempelajari racun Awan Biru dari buku-buku pengobatan pemberian dari gurunya dan satu-satunya pengobatan hanyalah dengan mencampurkan daun bunga malam, jahe,<span>&#160;</span> daun bertulang putih dan kadal kaco (kaca, dinamakan kadal kaca karena mempunyai bentuk tubuh yang bening sehingga bisa terlihat isi tubuh dari kadal tersebut). Daun bertulang putih harus ditumbuk dengan darah bening dari kadal kaco lalu dimasak dengan tambahan daun bunga malam dan jahe setelah mendidih langsung diminumkan kepada penderita racun Awan Biru. Dan dia tahu kedua barang pertama merupakan barang langka yang sangat susah sekali mendapatkannya karena dibutuhkan kesabaran yang besar sekali untuk mencarinya di sekeliling puncak Gunung Tadikat yang luas itu.<br /></font></span></font></span></div>
<br />
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kembali kakek itu mengulurkan tangannya ke tabib untuk diperiksa, tapi kali ini sengaja dara yang bernama asli Siti ini, ingin memberi pelajaran kepada kakek dan pemuda tampan itu.<br />
<br /></font></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Aku sudah katakana bahwa anda tidak sakit, jadi lebih baik kalian bersama teman kalian di luar itu pergi tinggalkan tempat ini. Lagian kalian tidak usah kuatir akan racun yang aku sebut-sebut itu, kalian kan tidak percaya bahwa kalian kena racun jadi yah silahkan pergi sekarang,’ kata Siti dengan suara yang sengaja dikeraskan supaya terdengar sampai di luar.<br /></font></span></font></span></div>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Lukman dan kakek botak yang mendengarkan hal ini langsung tahu tabib itu sudah tahu maksud mereka, segera mereka melangkah masuk ke dalam, karena tidak ingin mengacaukan lebih lanjut keadaan takutnya si tabib marah mereka lebih berabe lagi. Begitu masuk Lukman mengarahkan matanya menatap tabib yang sedang cemberut menahan marah itu, dan seperti Malik, tatapan mata tabib itu membuat jantung Lukman bergetar dengan kerasnya. Dia sendiri bingung kenapa hal ini bisa terjadi, dia sampai tidak bisa mengalihkan matanya dari tatapan magis tabib itu. Seakan s]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span style="font-size: 24pt; color: fuchsia; font-family: 'Bradley Hand ITC'"><strong>VIII<span>&#160;</span> SAKITNYA PANAH</strong> <strong>ASMARA</p>
<p></strong><br /></span><span style="font-size: 24pt; color: fuchsia; font-family: 'Bradley Hand ITC'"><span style="font-size: 24pt; color: blue; font-family: 'Bradley Hand ITC'"><strong>Part 1</p>
<p></strong><br /></span><span style="font-size: 24pt; color: blue; font-family: 'Bradley Hand ITC'"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Setelah kepergian Masnan dan Basri, Bumi mengajak Kahar untuk menemani dirinya pergi ke nagari tetangga. Sebenarnya maksud Bumi mengajak Kahar karena dia ingin memastikan dugaannya bahwa Kahar memang menaruh hati pada iparnya. Dia tidak ingin salah dalam menilai sehingga nantinya bisa meregangkan hubungan diantara mereka karena masalah ini. Memang beberapa kali Kahar secara tersamar menyinggung hubungannya dengan Siti tapi dia masih ragu untuk menanggapi karena dia masih menunggu reaksi Siti. Setelah beberapa hari ini dia melihat reaksi Siti, dia menjadi lebih yakin ternyata maksud hati Kahar disambut oleh Siti walau tidak kentara tapi dia yang sudah bertahun-tahun mengenal iparnya ini mengerti juga akan perasaan wanita cantik itu.</p>
<p></font></span></span></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kahar yang memang tidak mempunyai kerjaan lain, merasa senang sekali diajak Bumi, karena terus terang saja dia bingung mau melakukan apa di rumah Bumi. Dia masih belum dapat caranya untuk mengajak ngobrol sang pujaan, karena dia masih menyimpan sedikit kekuatiran apakah Siti masih menyukai dia seperti dulu atau sudah tidak lagi sejak dia menyakiti hati wanita itu. Merupakan penyesalan yang tidak berkesudahan dalam hidupnya saat dia secara sengaja menyakiti hati Siti akibat cemburu yang membabi buta yang tidak pula terbukti kebenaran dugaan buruknya itu.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sebelum pergi Bumi memberi instruksi kepada pegawainya untuk melakukan beberapa hal yang berkaitan dengan keadaan nagari. Setelah semua selesai dan berpamitan dengan Siti, mereka berdua berjalan kea rah Selatan dari nagari, pada saat masih di dalam nagari mereka berjalan seperti biasa, tapi begitu sudah menjauhi pinggiran nagari mereka menggunakan ilmu peringan tubuh untuk mempercepat langkah mereka karena hari sudah siang. Bumi sengaja tidak ajak Kahar makan siang di rumah, karena dia ingin mengajak Kahar makan di rumah makan yang ada di nagari tetangga sambil ngobrol masalah Siti dan dia tidak mau Siti mengetahui pembicaraan mereka.<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Tidak lama sampailah mereka di nagari tetangga, memang ilmu kedua orang ini sangatlah mumpuni, perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 1 hari dengan berjalan kaki biasa, dapat mereka lakukan dalam waktu 2 jam saja tanpa terlihat nafas mereka memburu. Begitu sampai di pinggiran nagari, mereka mengurangi kecepatan dan mulai berjalan biasa sambil bercakap-cakap. Bumi mengajak Kahar berjalan menuju ke rumah makan yang cukup terkenal di nagari.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Rumah makan yang terkenal itu bernama Gadang Salero, dan merupakan pemilik dari wali nagari ini yang juga merupakan teman dari Bumi. Sehingga waktu Bumi memasuki rumah makan ini pelayan dan pengawas rumah makan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka. Semua orang yang ada di rumah makan itu mengenal siapa Bumi adanya, selain merupakan teman baik majikan, mereka juga tahu bahwa orang ini merupakan tokoh hebat dari dunia persilatan. Karena sudah beberapa kali mereka melihat kehebatan tokoh ini ketika menolong nagari mereka dari gangguan perampok, sehingga setiap kedatangan beliau ke nagari ini selalu disambut dengan sukacita.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Bumi yang melihat pengawas rumah makan yang bernama Daus menghampirinya segera tersenyum dan menyapa, “Hmmm Daus, apa kabar ?, apa ada meja kosong buat kami ?”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“ Ada tuan Bumi, meja yang anda suka gunakan kebetulan sekali kosong, silahkan anda ikuti saya,” sahut pengawas itu.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Diiringi dengan pelayan, mereka segera menuju ke meja makan yang ada agak di belakang dari rumah makan tersebut. Tempatnya agak terpojok sehingga jika orang datang ke rumah makan itu tidak akan bisa melihat mereka segera, tapi bagi yang duduk di meja tersebut bisa leluasa memandang orang-orang yang datang ke rumah makan itu. Bumi sangat menyukai lokasi penempatan meja tersebut karena tidak terganggu dengan kesibukan di rumah makan yang selalu ramai ini.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Tuan hendak pesan makan apa, atau mau yang seperti biasa ?”</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Daus, apa hari ini ada masak gulai otak dan kepala ikan?”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kebetulan sekali tuan, kedua gulai kesukaan tuan hari ini ada, tukang masak kami sedang suka membuatnya.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Baiklah Daus, aku pesan gulai otak dan kepala ikan dan sayur pucuk paranci (daun singkong) serta lado (sambal) yang banyak. Kahar, kamu mau pesan apa ? Di sini makanannya enak-enak, tukang masaknya Ajo Iman itu kalau memasak makanan apa saja wah lamak bana (enak benar).”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Benarkah? Aku jadi penasaran, apa di sini ada jual pakasan (sejenis masakan campuran durian matang dengan udang dan pete, masakan ini cukup terkenal)? Ini makanan kesukaanku yang tidak semua orang bisa memasaknya dengan enak,” kata Kahar dengan tersenyum.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Wah tuan benar-benar mengenal masakan enak, hari ini hari keberuntungan tuan, menu special kami hari ini memang pakasan, saya jamin pasti tuan akan kecanduan dengan masakan pakasan Ajo Iman, karena beliau terkenal sekali dengan masakan ini dan biasanya beliau jarang sekali memasaknya, repot kerjanya.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Oya, baguslah aku pesan 1 porsi ditambah dengan gulai paku (sejenis tanaman pakis), aku lihat di sebelah sana orang makan gulai paku dengan enaknya. Dan juga jangan lupa bawakan 1 ekor ayam goreng.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Ujang, bawa pesanan ini ke Ajo Iman, bilang wali Bumi yang pesan pasti dia senang sekali.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Buru-buru pelayan berjalan ke belakang untuk menemui tukang masak, benar saja dugaan si pengawas begitu tahu ini merupakan pesanan dari orang yang pernah menolongnya, Ajo Iman dengan senang dan cekatan menyiapkan semua pesanan wali Bumi.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sedangkan si pengawas masih mendampingi Bumi dan Kahar,”Tuan-tuan mau minum apa ? Bagaimana kalau saya sarankan minum tea Embun Pagi yang merupakan racikan khusus yang di bawa dari daerah Agam. Teanya sangat wangi dan segar sekali diminum dingin di saat siang garang begini.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Bagaimana Kahar, apa kamu ingin mencobanya?”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Boleh uda Bumi, sepertinya sangat menggoda sekali kedengarannya, memang aku sudah berasa panas untung saja kita duduk di tempat yang semilir anginnya terasa kalau tidak sudah kegerahan aku dari tadi.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Sebentar lagi makanan dan minumannya akan kami antar, harap sabar menunggu pasti tidak akan lama saya jamin. Kalau tidak ada lagi yang hendak dipesan saya permisi mengurus tamu yang lain.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Silakan Daus, oya kamu tidak usah beritahu kepada majikanmu bahwa aku ada di sini, tidak enak rasanya setiap kali ke sini makan gratis apalagi aku bawa teman. Terima kasih Daus.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Baiklah tuan Bumi, saya tidak akan memberitahukan majikan, saya permisi.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Segera Daus meninggalkan kedua tamu itu, dia berjalan menuju meja kasir dan berdiri di sampingnya sambil terus menyapa tamu yang datang dan menemani mereka jika kebetulan mereka merupakan pelanggan tetap rumah makan ini.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sepeninggal si pengawas, Bumi mulai berpikir bagaimana caranya untuk mencari tahu perasaan Kahar kepada Siti, dan dia juga merasa bahwa diantara kedua insan ini pasti pernah terjadi sesuatu. Karena belum pernah Bumi melihat Kahar sangat gugup dan cemas dalam menghadapi wanita, biasanya dia tenang-tenang saja malah kebanyakan wanita-wanita cantik itu dekat-dekat dan berusaha mencari perhatian dia. Tapi dengan Siti kebalikannya, Kahar yang berusaha menarik perhatian wanita cantik itu dan sepertinya takut-takut membuat Siti tersinggung. Menurut Bumi, hal ini sangat menggelikan sekali dia sudah pernah membahas masalah ini dengan Basri dan Masnan, kedua temannya juga menganggap lucu sekali. Dan ada satu informasi yang didapat Bumi dari salah satu anak buahnya, bahwa dulu sekali pernah ada hubungan antara Kahar dengan Siti tapi entah kenapa hubungan pertemanan itu berakhir.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Bumi ingin sekali mengetahui hal ini, apa penyebab kekakuan dalam hubungan Kahar dan Siti, seolah-olah Kahar takut menyakiti Siti dan Siti sepertinya agak menjaga jarak dengan Kahar. Sering Bumi melihat Kahar sembunyi-sembunyi menatap Siti dengan pilu dan mata yang penuh kerinduan bahkan sekali-kali Bumi melihat ada guratan penyesalan di wajah pemuda itu. Ini membuat Bumi penasaran sekali ingin mengetahui apa yang telah terjadi antara ipar dan adik angkatnya, karena di wajah iparnya dia tidak bisa melihat apapun wajah itu selalu tenang sepertinya tidak ada gejolak apapun yang bisa mengoyak ketenangan yang dalam itu.</p>
<p>Hanya anaknya yang bandel itu saja yang mampu membuat wajah Siti mempunyai emosi, setiap kali menatap Aswin mata dan wajahnya melembut, atau kalau anak bandel itu terluka dia melihat sinar kecemasan dan kekuatiran tergurat di wajah cantik itu. Selebihnya dia tidak pernah melihat emosi apapun terpancar di wajah Siti kecuali ketenangan dan kedamaian. Dulu sekali ketika dia baru menikahi isterinya, dia sering melihat sinar kebahagiaan bermain-main di wajah Siti tapi sejak kepulangannya dari merantau dan kematian isterinya, wajah Siti berubah menjadi tenang yang dingin seolah-olah semua emosi yang ada dalam dirinya raib bersama kepergian sang kakak tercinta.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Tapi setelah dipikir-pikir dia ingat cerita Kahar, bahwa pemuda itu sudah lama mengenal Siti dan waktunya itu bersamaan dengan waktu Siti pergi merantau. Jangan-jangan mereka berdua ada apa-apanya waktu sama-sama merantau dulu. Semakin Bumi memikirkannya semakin dia penasaran daripada dia mati karenanya biar dia menanyakan saja pada yang bersangkutan, karena menanyakan pada Siti tidak leluasa seperti dia bertanya pada Kahar.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sedangkan Kahar ternyata memikirkan hal yang sama juga, dia lagi mencari cara bagaimana baiknya menyampaikan maksud hatinya kepada Bumi. Dia sudah tidak sabar lagi untuk segera mempersunting wanita pujaan hatinya itu, karena dia takut jika menunda-nunda lagi dia bisa kehilangan lagi. Sudah cukup semua kebodohan dan kesakitan hatinya dengan kehilangan Siti, dia sudah tidak sanggup lagi kalau harus kehilangan kedua kalinya. Setiap kali memandang wajah Siti, dia disiksa oleh perasaan bersalah dan pedih serta yang paling parah adalah kerinduannya pada wanita cantik itu. Dia tahu Siti seorang wanita yang lembut dan peka perasaannya, pasti sudah memaafkan dia atas semua perbuatannya di masa lalu. Tapi apa masih cintakah wanita ini padanya itu merupakan sebuah pertanyaan, kadang dia melihat Siti menatap dia dengan lembut tapi kebanyakan sinar mata dan wajahnya tidak tersirat apapun saat memandang padanya.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Semuanya terasa dingin mencekam hatinya, tidak seperti tatapan mata dan wajah Siti ketika memandang Aswin yang begitu hangat dan penuh kasih sayang. Dulu sekali tatapan seperti itu pernah diterimanya dari Siti, dia merasa hatinya penuh kehangatan dan cinta setiap kali Siti memandangnya seperti itu. Dan dari dulu dia juga tahu Siti bukanlah tipe wanita yang gampang menunjukan perasaannya kepada orang lain. Hanya orang yang peka perasaannya tahu bagaimana kuatnya perasaan wanita itu terhadap orang-orang yang dicintainya. Sayang dia melupakan hal itu, sehingga mengakibatkan hancurnya hubungan mereka dan berakhir dia selalu merana dan kesepian dalam jiwanya akibat kehilangan Siti.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kini Tuhan mengabulkan doanya untuk memberi kesempatan kedua untuk meraih lagi kebahagiaan bersama orang yang dicintainya, tidak akan lagi dia mengulangi kebodohan yang sama ditambah lagi sekarang tidak ada penghalang bagi hubungan mereka. Dia tidak sadar bahwa ibu muridnya menaruh pengharapan padanya yang nantinya bisa mengganggu hubungannya dengan Siti.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Belum sempat Bumi membuka mulut untuk bertanya, Kahar sudah mendahuluinya bicara,”Uda, sudah berapa lama kita menjadi saudara angkat ?”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Bumi yang ditanya jadi bingung kenapa tiba-tiba saudara angkat termudanya bisa bertanya seperti itu. Dia belum melihat arah dari pembicaraan Kahar, tapi dia menjawab juga,”Kurang lebih hampir 15 tahun, kenapa ?”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Apa selama kita berteman, uda melihat aku seperti seorang pemuda genit yang gampang tergoda oleh wanita cantik?”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Hmmmm… memang aku juga suka heran kenapa kamu tidak tergoda oleh wanita-wanita cantik yang mengelilingi dan mengagumi dirimu, bahkan sempat terpikir oleh kami jangan-jangan kau tertarik pada pria,” kata Bumi sambil tersenyum menggoda.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Mendengar perkataan Bumi, buru-buru Kahar memalingkan wajah untuk memandang wajah Bumi yang sedang menyeringai jenaka, dia langsung tahu sang uda sedang menggodanya. Kahar tersenyum pahit melihat itu, karena dia tidak sanggup tersenyum saat ini ada beban yang berat sekali ingin diungkapkan kepada sang uda. Dia tidak tahu bila udanya mendengar apa yang ingin dia ceritakan apa masih mau membantunya mendapatkan Siti atau tidak.</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Belum sempat dia melanjutkan pembicaraan, masakan yang masih panas mengepul diantarkan pelayan untuk dihidangkan ke meja mereka, segera tercium bau masakan yang lamak sekali yang mengundang perut menyanyikan nada sumbangnya. Selain pesanan mereka ternyata pelayan juga menyajikan dendeng batokok (empal empuk), jengkol muda yang dijadikan lalapan, pete balado (bercabe) yang digoreng dengan kulitnya, gulai ikan pangek (ikan asam pedas). Benar-benar masakan yang mengundang selera ditambah dengan nasi putih pulen yang berasal dari beras Solok yang diletakkan dalam bakul. Hmmm lamak bana, mintuo lalu indak caliak lai (enak sekali, mertua lewat tidak lihat lagi), kemudian tea yang dijanjikanpun dihidangkan dan benar seperti yang dikatakan bau wangi yang enak tercium dari teko.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kahar, nanti saja kita bicaranya, aku sudah lapar sekali, kan lebih enak kalau bicara dalam keadaan sudah kenyang. Mau bicara sampai berapa jam juga akan aku layani, gimana?”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Aku rasa juga enakan begitu, uda, karena sepertinya makanannya mengundang selera sekali.”</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Setelah mencuci tangan bersih-bersih, mereka makan dengan lahapnya menggunakan sendok yang diberikan langsung oleh Tuhan yaitu tangan, yo bana sero (ya benar2 enak). Bumi sangat menikmati makanannya, sedangkan Kahar tidak terlalu menikmatinya karena pikirannya sibuk memikirkan apa dia akan bercerita jujur atau ada bagian2 yang dihilangkan supaya Bumi tidak menyalahkannya dan mau membantu hubungannya dengan Siti.<br /></font></span></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Selesai makan sambil menikmati tea dingin yang disajikan, Kahar merasa sudah saatnya dia menyambung pembicaraannya yang terputus tadi. Kebetulan suasana di rumah makan tersebut sudah mulai sepi jadi enak untuk bicara tanpa takut terganggu dengan suara orang lain.<br /></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Nah, Kahar, perut sudah kenyang, hati sudah lapang, silahkan kau lanjutkan pembicaraan yang terputus tadi.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Dengan menghela nafas Kahar memulai pembicaraannya,”Aku tahu uda semua suka bingung dengan sikapku yang tidak tertarik pada wanita cantik manapun. Bukan maksud aku seperti itu uda, mungkin pada awal perkenalan kita dulu, aku belum mengerti artinya cinta dan rindu, oleh karena itu aku tidak terlalu menanggapi para wanita cantik yang mendekati aku. Tapi setelah aku mengenal Siti, aku baru tahu enaknya diperhatikan dan disayang oleh wanita cantik. Mungkin karena keenakanlah yang membuat aku lupa diri dan sengsara begini…”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“O, jadi kau sudah lama mengenal Siti ? Kenapa kau bilang sejak mengenal Siti, kau tahu artinya cinta, apa dulu kalian sempat menjadi sepasang kekasih?” potong Bumi tidak sabar.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Begitulah uda, kami berdua pernah menjadi sepasang kekasih, tapi karena kebodohanku maka aku kehilangan cinta sejatiku,” kata Kahar dengan pilu.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kenapa bisa begitu, setahuku engkau bukanlah seorang pemuda yang bodoh, Kahar,” selagi Bumi memotong pembicaraan Kahar yang dia rasanya terlalu lama dan tidak langsung ke tujuan tapi dibalik semua perkataan Kahar, dia merasakan kesedihan dan penyesalan yang mendalam.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Dengan senyum yang teramat pahit Kahar menjawab,”Terima kasih atas pujian uda, tapi uda dalam kasus ini aku benar-benar orang yang paling bodoh sejagat raya ini. Aku menyia-nyiakan kasih murni dari Siti lantaran cemburu dan godaan sesaat.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kahar, sudah cukup basa basimu itu sekarang lebih baik kau ceritakan awal mula kebodohanmu itu, aku sudah tidak sabar mendengarnya.”</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kembali Kahar merasa berat sekali menceritakan kebodohannya bukan karena dia malu tapi dia takut setelah menceritakan kisah ini kemungkinan besar Bumi tidak setuju menjodohkan dia dengan Siti. Sedangkan dia tahu sekali Siti sangat menghormati iparnya sehingga bisa jadi mempengaruhi keputusan wanita pujaannya itu ditambah lagi dia tidak yakin akan perasaan Siti padanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya, lebih baik begini karena dia percaya uda Bumi pasti bisa mempertimbangkannya dengan bijaksana.</p>
<p></font></span></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Baiklah uda Bumi, aku akan mulai menceritakan kisah kami, tapi uda jangan potong pembicaraan aku, karena susah sekali rasanya mengeluarkannya dari dalam sini,”kata Kahar sambil menunjuk dadanya.<br /></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><br /></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Bumi menganggukkan kepalanya, dia dapat melihat dari wajah dan mata Kahar, penderitaan batin yang selama ini disembunyikan pemuda ini dari mereka, saudara angkatnya. Dia tambah penasaran lagi, apa yang telah terjadi sehingga pemuda seperti Kahar jadi menderita begini.</p>
<p></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sambil menatap awan dari jendela di samping mereka, Kahar mengenang masa lalu pertemuan dia dengan Siti dan mulai menceritakan….</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kahar yang ketika itu merupakan pemuda yang baru lulus dari perguruan silatnya diijinkan oleh gurunya untuk turun gunung dan merantau sekalian pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya yang sudah hampir 8 tahun tidak ditemuinya. Dia merasa senang sekali karena diantara murid-murid yang lain dia tidak diperbolehkan sering turun gunung sampai pelajarannya selesai. Perkenalannya dengan Bumi, Masnan dan Basri dikarenakan kebetulan sekali mereka ikut gurunya datang berkunjung pas perayaan ulang tahun ketua perguruan silat tempat dia bernaung, dan sempat terjadi kekacauan besar tapi yang berbuah mereka mengangkat saudara satu dengan yang lain.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Guru Kahar yang merupakan adik seperguruan dari kakek guru ketua perguruan Api Matahari memang menggembleng dia dengan keras, yang untungnya dia merupakan murid yang sangat berbakat sekali sehingga semua pelajaran yang diberikan bisa diselesaikannya dengan baik dalam waktu yang singkat. Dididik oleh orang seperti Datuak Matohari Ameh membuat Kahar menjadi pendekar yang mumpuni, karena memang gurunya merupakan tokoh yang paling berbakat dan tinggi ilmunya dalam perguruan Api Matahari. Hanya karena beliau tidak menyukai keduniawian maka beliau tidak terlibat langsung pada operasional perguruan semua diserahkannya pada kakak seperguruannya dan dilanjutkan oleh murid-murid lainnya. Beliau belum pernah menerima murid sebelumnya sampai dia bertemu dengan Kahar ketika terjadi kerusuhan di perayaan ulang tahun itu.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sebenarnya gurunya berat melepaskan Kahar untuk pergi merantau karena selain anak ini memang berbakat, dia pintar menghibur hati gurunya dan sangat rajin sehingga sang guru sangat menyayanginya. Tapi semua pelajaran telah diberikan kepada Kahar, sehingga sudah tiba waktunya untuk Kahar menimba pengalaman di dunia persilatan, gurunya yakin dengan ilmu yang diberikan kepada pemuda ini bisa mengatasi semua masalah yang terjadi. Gurunya selalu berpesan agar dia selalu berbuat baik, menghindari pertengkaran yang tidak perlu, dan berusaha memberi ampun kepada orang yang mau bertobat. Ketika Kahar mau turun gunung, dia menyempatkan diri bertemu dengan guru pertamanya yaitu ketua perguruan yang bergelar Pandeka Penakluk Matahari.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Pandeka Penakluk Matahari sendiri merupakan tokoh persilatan yang disegani sekali oleh perguruan silat lainnya. Kahar menjadi murid pandeka ini dikarenakan hubungan persaudaraan antara ayahanda Kahar dengan pandeka ini. Ketua perguruan ini mempunyai 4 murid utama termasuk Kahar, tapi dia memang paling sayang pada Kahar karena pemuda ini sangat berbakat dan rendah hati walaupun dia termasuk keluarga kerajaan. Makanya waktu paman kakek gurunya mengambil Kahar menjadi muridnya, pandeka ini tidak keberatan karena dia tahu bakat anak ini yang melampaui teman-temannya.</p>
<p></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kini anak itu menghadap padanya dan tetap bersikeras memanggilnya guru, padahal dari segi kedudukan Kahar di atas dia, setingkat dengan gurunya. Dan pada saudara perguruannya tetap memanggil uda dan uni tanpa membedakan kedudukan, pokoknya siapa yang lebih tua darinya selalu dipanggil dengan hormat. Semua orang menyayangi pemuda cakap ini kecuali kakak seperguruannya yang nomor 2 bernama Yunus. Pemuda ini selalu iri terhadap Kahar yang melebihi segalanya dari dia, Yunus juga termasuk keluarga kerajaan hanya dia merupakan saudara jauh sedangkan Kahar merupakan sepupu dari raja sekarang.</p>
<p></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Tapi dia pintar menutupi perasaan irinya pada Kahar, di muka semua orang dia berlaku sopan dan baik sehingga tidak terlihat sifat jeleknya. Hanya Datuak Matahari Ameh yang bisa merasakan ketidakberesan pemuda ini, oleh karena itu dia memesan wanti-wanti kepada muridnya untuk berhati-hati pada pemuda itu. Karena beliau melihat aura kegelapan yang melingkupi sekeliling pemuda itu, dan dengan tenaga kebatinan dia juga tahu bahwa pemuda ini mempunyai kekuatan sesat dalam dirinya yang belum dibangkitkan. Beliau tidak bisa mengusir pemuda itu dari perguruan Api Matahari, karena akan menimbulkan masalah besar ke depannya. Makanya yang dia bisa lakukan hanya memperkuat kebatinan dan ilmu serta tenaga dalam Kahar agar nantinya bisa menghadapi Yunus.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Setelah berpamitan dengan guru dan saudara seperguruannya, Kahar melangkah dengan ringan menuju ke kaki gunung Tandikat untuk memulai pertualangannya. Karena dia berjalan dengan santai sekali maka sampai di kaki gunung sudah senja, segera dia pergi ke rumah wali nagari untuk menumpang mandi dan makan. Semua penduduk sudah mengenal murid-murid perguruan Api matahari, mereka senang sekali menerima dan membantu karena murid-murid dari perguruan ini sangat baik dan ramah serta ringan tangan menolong mereka. Jadi tidak masalah kalau ada murid perguruan ini minta berteduh dan makan di rumah wali nagari itu. Sesudah mandi dan makan, Kahar berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya, dia tidak ingin mengganggu wali nagari yang baik itu lebih lama lagi.</p>
<p></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Dengan santai dan bersiul-siul dia melangkahkan kakinya menuju hutan yang menjadi perbatasan nagari ini dengan dunia luar, kebetulan sinar bulan sangat penuh dan terang sekali sehingga memudahkan dia untuk melanjutkan perjalanan. Dengan ilmu lari cepat dia sudah meninggalkan nagari dan kira-kira tengah malam dia sudah hampir sampai di pinggiran hutan sebelah sana . Tapi karena ngantuk dia mau istirahat dulu, dia lihat pohon-pohion yang tumbuh di sekitar tempat dia berdiri dan melihat ada sebuah pohon yang kelihatannya enak untuk menjadi tempat tidurnya. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh dia sampai di atas pohon, dan sebentar kemudian diapun sudah terlelap. Malam semakin larut, tiba-tiba dia mendengar derap kuda yang kencang sekali menuju ke arah pohon tempat dia tidur, segera dia membuka matanya melihat arah datangnya suara derap kuda tapi dia tidak merubah posisi tubuhnya yang masih tertidur di atas dahan pohon.</p>
<p></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Terlihat seekor kuda putih berlari kencang sekali dari arah Timur membawa sosok tubuh kecil di atasnya, Kahar tidak bisa melihat wajah si penunggang kuda karena tertutup dengan kain yang melilit kepalanya. Ketika hampir dekat pohon Kahar, tiba-tiba si penunggang kuda bersiul tinggi melengking dan hebatnya kudanya berhenti berlari seakan-akan dia mempunyai rem di kakinya. Sambil terus menengok ke belakang si penunggang kuda turun dari atas kudanya.</p>
<p></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Bening, aku rasa kita sudah meninggalkan jauh&#160;orang-orang bawel&#160;itu di belakang kita, lebih baik kita istirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan kita ke perguruan Api Matahari,”terdengar suara lirih si penunggang bicara dengan kudanya.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kahar tidak bisa memastikan apakah itu suara pria atau wanita karena dia masih belum bisa melihat wajah dan potongan tubuh penunggang kuda itu. Hanya kalau dia taksir tinggi orang itu hanya sebatas dadanya saja, Kahar termasuk pemuda yang tinggi dan berdada bidang yang cukup lebar, sedangkan penunggang kuda ini kelihatannya bertumbuh kurus. Orang dan kudanya langsung duduk di atas tanah dengan enaknya seolah tidak memperdulikan kotor atau tidaknya tanah itu. Si penunggang kuda langsung menjatuhkan badannya ke perut kudanya dan langsung tertidur. Sang kudapun dengan tenang membaringkan tubuhnya di tanah dan membiarkan tuannya tidur di perutnya. Kahar masih belum bisa melihat wajah sang penunggang kuda karena tertutup oleh kain yang menutupi seluruh tubuhnya termasuk wajahnya.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Suasana tenang dan sepi membuat Kahar mengantuk lagi, ingin melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu karena kehadiran orang dan kudanya. Tadi sempat dia heran mendengar gumaman orang itu yang mau ke perguruannya, besok dia akan menguntit orang ini karena dia ingin memastikan apakah orang ini bermaksud jelek ke perguruannya atau tidak. Jika tidak dia bisa dengan tenang meninggalkan daerah perguruannya untuk melanjutkan perjalanan.</p>
<p></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Baru saja dia merasa tertidur tiba-tiba di kejauhan lamat-lamat dia mendengar derap kuda yang banyak menuju ke arah dirinya, Sambil menggerutu kesal dia terbangun dari tidurnya, tapi suasana sudah mulai terang, malam sudah menyelinap ke peraduannya untuk memanggil bangun sang mentari. Suasana sungguh indah sekali di remang-remang cahaya pagi, bila tidak terganggu oleh suara derap kaki kuda. Kesal sekali rasanya belum kenyang tidurnya harus terganggu lagi, cepat dia menoleh ke arah orang dan penunggang kuda di bawahnya. Rupanya orang itu belum mendengar derap kuda dari jauh itu tapi sang kuda sudah mendengarnya dan mengeluarkan suara ringkikan pelan sambil kepalanya ditoleh ke samping dan sundul pelan majikannya. Tapi sang majikan masih keenakan tidurnya mungkin karena kelelahan berkuda sehingga tidak terbangun walau sudah disundul-sundul kudanya. Semakin lama suara derap kuda itu semakin dekat, kuda itu mengeluarkan suara ringkingan keras dan berusaha berdiri agar bisa membangunkan sang majikan. Akhirnya sang majikan bangun juga dan terduduk dengan lemasnya, kudanya kembali mendorong-dorong punggung majikannya agar segera berdiri. Sang majikan mengangkat kedua tangannya<span>&#160;</span> dan mendoyongkan kepalanya ke arah belakang sambil menggeliatkan badannya.<br /></font></span></font></span></div>
<p></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Saat itulah penutup kepalanya terbuka dan rambut yang menutupi wajah itu tersibak tergerai ke belakang. Tampaklah seraut wajah wanita yang sangat cantik sekali apalagi ketika sinar matahari yang mulai mengintip malu-malu mencium wajah itu. Kahar terpesona memandang wajah itu sungguh teramat sangat cantik, berkulit sawo matang yang mulus, berbibir bawah yang tebal sensual dan hidung yang mungil mancung melengkapi keindahan wajah itu. Dia belum bisa melihat mata sang pemilik wajah dikarenakan dia masih menutup matanya menikmati ciuman hangat dari sang mentari. Ketika si cantik membuka matanya, sang dewa langsung melepaskan panah asmaranya tepat mengenai jantung Kahar, sejak saat itu wanita itu sudah merenggut kedamaian dan ketenangan Kahar.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kahar jatuh cinta tanpa bisa mengelak atau melepaskan diri lagi dari panah asmara yang sudah menancap di jantungnya dengan tepat sekali. Mata indah sang pemilik wajah cantik itu benar-benar menggoncangkan iman, begitu bening dan teduh sekali jika memandang ke dalamnya seakan ingin ikut tenggelam ke dalam mata indah itu. Belum pernah selama hidupnya Kahar merasakan gairah dan semangat yang membara karena seorang gadis cantik, sudah banyak ditemui gadis-gadis cantik yang pernah datang berkunjung ke perguruannya atau teman-teman mainnya waktu masih di istana tapi tidak ada satunya yang mampu mengguncang perasaannya seperti saat ini.</p>
<p></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Dia lupa akan keadaan sekitarnya hanya mampu melihat pemandangan indah di depannya tanpa berkedip, sedangkan suara derap banyak kuda semakin mendekati tempat mereka. Tapi yang anehnya si cantik itu tidak menghiraukan hal itu bahkan dia masih menikmati angin nan lembut yang meniupi rambut dan bajunya perlahan-lahan. Terdengar senandung lembut dari bibirnya yang sensual itu seakan menikmati cerahnya pagi ini. Dan kudanya sudah berjalan agak ke samping menuju sungai kecil yang mengalir untuk minum dan makan rumput yang tumbuh subur di pinggiran sungai tersebut.</p>
<p></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Bening, kamu enak sekali sudah minum, aku juga ingin minum tapi harus ditadah dulu pasti segar sekali rasa embun pagi,” terdengar suara merdu nan lembut keluar dari bibir sensual itu.</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kahar semakin terbuai dengan keadaan yang ada di sekitarnya, apalagi setelah mendengar suara yang lembut berirama itu. Dia melihat gadis itu mengeluarkan sebuah tabung dari bamboo dari balik bajunya dan dengan gerakan yang luwes sekali dia menyapukan bamboo itu pelan-pelan ke titik-titik embun yang ada di dedaunan yang tumbuh subur di dekatnya. Gerakannya sedemikian cepat dan luwes sekali, tidak ada embun pagi yang lolos dari tabung bamboonya. Melihat hal ini Kahar tahu bahwa gadis ini bukan orang sembarangan pasti mempunyai ilmu silat yang bagus sekali, walau mungkin dibandingkan dengan dirinya masih jauh tapi cukup untuk dia membela diri seandainya terjadi sesuatu.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Setelah beberapa lama dia memasukan embun pagi di tabung bambunya, gadis itu tertawa lembut melihat hasil kerjanya, suara tawanya sungguh menggelitik sukma Kahar, dia jadi ikutan tersenyum melihat tingkah laku dara cantik itu.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Bening, cukup banyak juga embun yang aku dapat, lumayan untuk melepaskan dahaga.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Segera dara itu meminum embun pagi yang ada di tabung bambunya,”Hmmmm…. Nikmati sekali rasanya Bening, sekarang aku sudah siap menghadapi orang-orang bandel itu. Tapi aku harus mencuci muka dulu menghilangkan debu yang melengket ini.”</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Biarpun dia seorang perantau akan tetapi tetap dia seorang anak gadis yang mementingkan kebersihan dan kerapian dirinya.&#160;Dia berjalan&#160;menuju sungai kecil itu dan mencuci tangan dan mukanya, sambil melepaskan jubah kain yang melingkari tubuh dan kepalanya. Kembali Kahar terpana menatap dara itu, ternyata dia memiliki rambut hitam panjang yang indah berkilauan dan bentuk tubuh yang sangat proposional sekali dengan tinggi tubuhnya. Sempurna kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan dara itu, jari tangan yang lentik itu menepuk-nepuk mukanya dengan air sungai yang jernih itu.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Dan sementara itu segerombolan orang berkuda sudah terlihat mendekati tempat mereka, dan pemimpin rombongan sudah mengangkat tangannya untuk memerintahkan kepada rombongan agar menghentikan lari kuda mereka. Dia sudah melihat kuda putih itu dan pemiliknya yang sedang berjongkok mencuci tangan dan wajahnya di sungai itu.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Selamat pagi Dewi, maafkan kami yang mengejar anda seperti ini,” sapa halus sang pemimpin kepada dara yang sedang membelakangi mereka.</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kahar memandang pemimpin rombongan itu, seorang pemuda yang cakap sekali dengan pakaian mahal membalut tubuhnya. Ada sekitar 10 orang dalam rombongan berkuda itu, 5 orang diantaranya sudah berusia paruh baya sedangkan 2 orang sudah kakek-kakek dan sisanya anak muda seumuran dengan pemimpin rombongan yang ditaksir Kahar tidak beda usianya dengan dirinya. Dia bersiap-siap akan membantu dara cantik itu seandainya rombongan ini mengganggunya.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Pemuda pemimpin rombongan ini bernama Lukman, yang merupakan putera pertama dari keluarga ternama Rangkayo Padang Jati sedangkan 2 pemuda di belakangnya merupakan adik kandungnya, Kasman, dan sepupunya, Malik yang juga berasal dari keluarga hebat yang memiliki perguruan silat Ula Kuniang (Ular Kuning). Sedangkan 2 orang kakek yang ada dalam rombongan ini juga bukan orang sembarangan, yang pendek dengan rambut putih panjang sebahu bergelar Pandeka Konek dari Bukit Sagantang, sedangkan yang lebih tinggi dengan kepala botak bergelar Pandeka Tangan Siluman. Kedua kakek ini merupakan tokoh hebat dalam dunia persilatan hanya sedikit orang yang mampu menghadapi kehebatan mereka, selama ini mereka menjadi pengawal pribadi dari ayah Lukman yaitu Sutan Mudo Padang Jati.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Yang 5 orang lagi merupakan murid-murid utama dalam perguruan silat Ula Kuniang, mereka datang karena mengawal putera guru mereka. Rombongan ini ditugaskan oleh Sutan Mudo Padang Jati untuk mencari tabib yang bisa menyembuhkan ibu Lukman dan ibu Malik yang tiba-tiba diserang penyakit yang tidak ketahuan dari mana datangnya. Kedua perempuan ini sudah seminggu lamanya berbaring sakit dengan seluruh tubuh memerah dan melepuh seakan kena bakar api yang sangat hebat. Kedua suami mereka sudah memanggil tabib-tabib ternama tapi tidak seorangpun mampu menyembuhkan kedua wanita ini. Sehingga suatu ketika seorang pedagang teman baik Sutan Padang Jati, memberitahukan bahwa sekarang di dunia persilatan terdengar kabar ada seorang tabib yang sakti murid dari Tabib mato Tigo yang suka menolong orang. Tabib itu bernama Dewi Tangan Dingin, beliau sangat terkenal sekali kesaktian ilmu pengobatannya, masalahnya tidak mudah untuk bisa menemui beliau.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Tabib ini sering menyamar sehingga wajah aslinya tidak seorangpun yang tahu, yang orang tahu bahwa tabib ini seorang wanita tapi apakah dia sudah tua atau muda tidak ada seorangpun yang tahu dengan jelas. Orang yang sudah pernah ditolongnya menyebut beliau dengan sebutan Dewi Tangan Dingin, karena selain tahu dia seorang wanita, mereka yang pernah diobatinya tahu dia memiliki tangan yang terasa dingin sejuk setiap menyentuh luka atau tubuh si sakit. Dan ciri tangan dingin sejuk inilah merupakan petunjuk khusus tabib itu yang tidak dimiliki oleh tabib lain.<br /></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Jadi saat Lukman dan Malik ditugaskan untuk mencari tabib ini, mereka kewalahan juga karena tanda pengenal tabib ini hanyalah dia seorang wanita dan mempunyai tangan yang dingin sejuk. Sudah hampir 2 minggu mencari kabar tabib ini, akhirnya mereka mendengar kabar kehadiran tabib ini di sekitar wilayah gunung Tandikat karena ada korban sakit menular di sebuah nagari dekat gunung tersebut. Dan biasanya tabib itu akan datang ke daerah bencana seperti itu untuk memberikan pengobatan kepada penduduk. Setelah menunggu hampir 3 hari lamanya dan benar saja seorang tabib <span>&#160;</span>datang untuk menyembuhkan penduduk, hanya mereka tidak sangka dan kecewa sekali karena tabib itu seorang pria tua sedangkan tabib yang mereka tunggu itu adalah seorang wanita.<br /></font></span></font></span></div>
<p></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Malik yang sudah tidak tahan menunggu karena menguatirkan sang ibu, meminta kepada yang lain untuk membawa saja tabib ini pulang siapa tahu beliau bisa menyembuhkan ibu mereka. Sedangkan Lukman tetap bersikeras ingin menunggu tabib sakti itu, sempat terjadi pertengkaran diantara mereka untung cepat dilerai oleh kedua kakek itu. Kasman yang melihat kedua kakaknya ribut seperti itu, pergi ke luar untuk melihat-lihat keadaan penduduk yang disembuhkan oleh tabib tua itu. Dari penduduk yang telah disembuhkan oleh tabib itu, dia mendapat berita bahwa tabib itu mempunyai tangan ajaib yang terasa dingin<span>&#160;</span> menyejukan setiap kali memegang tubuh mereka. Mendengar hal ini Kasman merasa curiga, jangan-jangan tabib ini adalah tabib yang mereka cari. Buru-buru dia pulang untuk memberitahukan kepada saudara-saudaranya. Begitu sampai di tempat mereka menginap Kasman mencari kakak dan sepupunya, yang ternyata sedang berkumpul di kamar kakaknya.<br /></font></span></font></span></div>
<p>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Uda Lukman, ada berita aneh.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kasman, ada apa jangan bicara yang buat orang kesal,” kata Lukman dengan muka cemberut karena dia masih kesal sekali dengan Malik.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Ini berita yang mungkin membuat kita bisa pergi dari nagari ini dengan cepat,” sahut Kasman.<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Berita apa yang kau bawa, Kasman?” Tanya Malik.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Begini uda Malik, waktu aku jalan-jalan keliling nagari ini aku bertemu dengan penduduk yang sudah sembuh dari pengobatan tabib itu, dia menceritakan bahwa tabib itu mempunyai tangan yang halus dan lembut….”<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Semua tangan tabib memang halus dan lembut, kalau tidak bisa kesakitan pasiennya,”potong Lukman dengan tidak sabaran.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Yang uda katakan itu betul, tapi ada satu lagi yang perlu uda tahu, menurut mereka tangan si tabib juga dingin menyejukan ketika menyentuh tubuh mereka.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Hah, apa benar itu Kasman, kau jangan bercanda,” Tanya Malik sambil berdiri dari kursinya.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Itu benar uda, tadinya aku juga tidak percaya tapi setelah aku menanyakan pada beberapa orang, mereka semua bilang sama tangan tabib itu dingin menyejukan, makanya aku buru-buru balik untuk memberitahukan kepada kalian semua.”</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Lukman, kita harus menyelidiki kebenaran berita ini segera, karena ibu kita sudah hampir sebulan menderita aku sudah tidak tahan memikirkannya. Saking kuatirnya kita hampir lupa bahwa tabib Dewi tangan Dingin itu suka menyamar bisa jadi tabib ini merupakan samaran dia, selama ini kita selalu terpaku hendak mencari tabib wanita. Padahal bisa jadi tabib itu sudah di depan mata kita tapi kita tidak menyadarinya.” kata Malik dengan cepat.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Baiklah kita semua keluar dan selidiki hal ini, mudah-mudahan saja benar, aku juga sudah tidak sabar sekali setiap memikirkan penderitaan ibu kita.”</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Segera mereka keluar dari kamar penginapan dan menyebar ke seluruh nagari untuk membuktikan kebenaran berita itu. Kedua kakek yang menyertai mereka bertugas untuk pura-pura menjadi pesakitan agar bisa merasakan pengobatan dari tabib itu, Lukman serta Malik menyamar sebagai keluarga dari kedua kakek itu, sedangkan 5 orang saudara seperguruan Malik serta Kasman bertugas mencari keterangan dari penduduk, di mana tabib itu tinggal dan dari mana datangnya.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Mereka berempat berjalan menuju ke rumah yang dijadikan tempat pengobatan darurat oleh penduduk, di sana sudah terlihat antrian penduduk yang tinggal 3 orang lagi.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kakek Konek, kau kerahkanlah tenaga dalammu supaya keliatan kau sedang sakit, begitu juga dengan kakek Botak supaya kita bisa menjajal apakah benar dia tabib yang dimaksudkan oleh ayah.” Kata Lukman kepada kedua kakek tersebut.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Malik, kau pura-pura papah kakek Konek masuk duluan dan kakek Konek tugasmu adalah mengetahui apakah benar dia tabib yang kita cari, apakah bisa kalian lakukan hal itu?”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Tenang Lukman, kami pasti bisa lakukan hal itu, kau juga harus siap-siap dengan si Botak untuk mengantisipasi keadaan jika sekiranya kami tidak berhasil, kalian harus gunakan kekerasan untuk mengancam dia agar mengaku siapa gerangan dirinya,” kata Pandeka Konek.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Baiklah kakek, sekarang giliran kalian untuk masuk, orang di depan kalian sudah hampir selesai,”bisik Lukman.<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Setelah penduduk terakhir pergi, giliran Malik dan Pandeka Konek masuk ke ruang pemeriksaan. Malik mempapah pandeka Konek yang seolah-olah sedang kesakitan berat sekali. Nafasnya memburu dan terengah-engah, muka dan tubuhnya berwarna kemerahan seperti orang menderita demam, serta keringat membanjiri wajahnya.<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Darma menuntun pandeka Konek untuk duduk di kursi yang telah disediakan untuk pasien, begitu mereka duduk langsung tabibnya berkata.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Untuk apa kalian datang ke sini, kalian kan tidak sedang sakit jadi hentikan kepura-puraan kalian, katakan saja terus terang mau apa kalian datang ke sini?”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kaget sekali kedua orang ini tidak mereka sangka ternyata tabib ini bisa tahu rencana mereka. Malik tidak kehilangan akal, cepat-cepat dia berpikir dan menjawab pertanyaan dari si tabib,</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Siapa bilang kakekku tidak sakit, tabib tahu dari mana beliau tidak sakit, jika memang tabib tidak bisa menyembuhkan bilang saja tidak perlu berkata kakek saya tidak sakit seperti itu.”</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Tabib itu memandang wajah Malik dengan tenang sekali, mata itu menatap seakan ingin menjenguk di kedalaman hati mencari sebuah kejujuran di sana . Malik yang ditatap oleh mata itu merasakan sensasi yang tidak pernah dia alami sebelumnya, dia merasa ditatap oleh sepasang mata yang dapat membetot sukmanya keluar dari rongga dadanya. Langsung kedua tangan Malik berkeringat menahan getaran kekuatiran akibat kebohonganya, sedangkan Pandeka Konek melihat dari cara menatap tabib itu dia mendapati bahwa tabib ini pasti berilmu silat tinggi. Dia tidak berani bertindak gegabah karena kuatir malah bisa merunyamkan masalah ke depannya.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Maafkan cucuku tabib, mungkin karena dia risau dengan penyakitku sehingga dia bicara tidak sopan padamu, biarlah aku yang tua ini memintakan maaf untuknya.” Dengan lagak sedang dalam kesakitan.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Lebih baik kalian berterus terang saja mau apa kalian bertemu dengan aku, sebelum aku marah dan tidak akan memberikan obat penawar racun yang kalian sudah hirup di kamar ini.”</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Terkejut sekali kedua orang ini bahkan Pandeka Konek sampai meloncat berdiri dari kursinya, keduanya tidak menyangka bahwa tabib ini bisa meracuni orang tanpa orang tersebut tahu atau sadar apa yang terlah terjadi. Cepat mereka berdua mengalirkan tenaga dalam mereka di dalam tubuh untuk mengeluarkan racun yang ada di tubuh mereka. Sebagai ahli silat, ilmu tenaga dalam mereka sudah sangat bagus, jadi mengeluarkan racun yang ada di tubuh, mereka bisa melakukannya dengan mudah sekali. Setelah mereka melakukan hal itu mereka tidak merasa ada racun di tubuh mereka, mereka curiga apa benar mereka telah terkena racun seperti yang dikatakan tabib itu atau ini hanyalah gertakan biasa saja.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Si tabib tahu mereka tidak mempercayai pembicaraan dia, “Sekali lagi aku Tanya, mau apa kalian datang ke sini?”<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Sungguh tabib, saya mau berobat datang ke sini bukan untuk main-main!”tegas Pandekar Konek.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Baiklah, aku percaya pada kalian tapi jika aku tahu kalian berbohong kalian bertanggung jawab sendiri atas racun yang sudah masuk ke dalam tubuh kalian. Kesinikan tanganmu kakek, aku ingin memeriksanya.”</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Konek mengulurkan tangan kanannya ke arah tabib, begitu jari tabib itu menyentuh nadi tangan kanannya, serangkum angin yang sejuk dingin menerpa tangannya. Karena kaget dia cepat menarik tangannya, lupa dia akan julukan tabib yang mereka cari itu, langsung saja dia melompat berdiri dari kursinya. Malik yang melihat hal itu ikutan terkejut akibat gerakan kakek Konek, dasar pemuda cerdas dia dapat menduga bahwa si kakek kaget karena jari tabib yang memegang nadinya terasa sejuk dingin. Dan si tabib melihat hal ini tenang-tenang saja, malahan dia memandang mereka berdua dengan wajah dingin dan terlihat senyum mengejek di bibirnya.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Tadinya Konek kaget karena berpikir mau diserang oleh si tabib sehingga dia lupa informasi yang dia dapat sebelumnya bahwa tabib ini mempunyai tangan yang dingin sejuk. Dengan muka merah menahan malu dia memandang Malik dan si tabib bergantian, seolah minta bantuan untuk memperbaiki keadaan. Malik yang memang seorang pemuda yang sangat cerdas sekali cepat membaca situasi berusaha membantu Konek agar si tabib tidak tersinggung dan rahasia mereka ketahuan.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Kakek, kenapa bergerak seperti itu, bukannya kakek merasa tubuhnya tidak enak, kalau kakek selalu ketakutan diperiksa oleh tabib, bagaimana bisa sembuh yang ada malah nanti kakek tambah sakit, aku juga yang susah jadinya. Sekarang kakek duduk lagi di kursi itu dan tenang sajalah diperiksa tabib kalau tabib itu mencelakakan kakek akan aku hantam dia jadi kakek jangan kuatir yah.”</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Secara tidak langsung Malik juga mau bilang ke si tabib jika dia berani macam-macam, dia tidak sungkan-sungkan untuk menghajar si tabib. Tabib mendengar perkataan Malik tambah dalam senyum mengejeknya dan matanya bersinar tambah dingin menatap pemuda itu, kembali Malik merasa hatinya berdenyut tidak karuan menerima tatapan mata itu. Entah kenapa hal ini bisa terjadi Malik sendiri bingung kenapa setiap mata tabib itu menatapnya dia merasa jantungnya seakan berdenyut lebih cepat, dia pikir apa tabib ini menggunakan ilmu kebatinan untuk menaklukannya. Cepat dia mengerahkan ilmu kebatinan yang diajarkan oleh ayahnya untuk mengatasi kalau-kalau dia diserang oleh ilmu kebatinan, tapi kembali dia heran dia tidak merasa ada serangan ilmu kebatinan terhadap dirinya tapi kenapa jantungnya berdenyut tidak karuan begini. Apa dia sudah gila bisa merasa seperti ini hanya tatapan dari seorang tabib laki-laki yang sudah tua begini, cepat dia menggeleng kepalanya untuk menghapus pikiran tidak warasnya.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Tabib yang melihat tingkah laku kedua orang yang ada di depannya tertawa geli dalam hati, dia merasa mereka berdua sungguh lucu sekali terutama pemuda tampan itu, karena setiap dia menatap pemuda itu langsung muka pemuda itu memerah dan salah tingkah tidak karuan. Apa pemuda itu tahu bahwa dia seorang gadis ? Tapi tidak mungkin, karena gejolak emosi yang bermain di wajah pemuda itu mengatakan dia sendiri bingung kenapa bisa bertingkah seperti itu. Dan si kakek tua itu dari tadi seperti merasa terancam dan selalu siap sedia akan serangan mendadak, memang dia sedikit nakal menyebarkan racun daun bunga malam untuk mengerjai kedua orang ini dan kedua orang yang ada di depan. Dia sudah mencuri dengar pembicaraan mereka mengenai ingin mengujinya apakah dia tabib yang dicari atau bukan, biarpun dia ahli pengobatan tapi untuk ilmu silat dia tidak kalah lihaynya dia mendapat didikan langsung dari sang ibu dan sang kakek, tabib mato tigo, yang ahli silat ternama juga. Memang ilmu silatnya tidak selihai ilmu peringan tubuhnya apalagi dibandingkan dengan ilmu pengobatannya tapi bukan berarti dia tidak bisa membela diri. Makanya dia sengaja tadi mengerahkan sedikit tenaga dalamnya sehingga tangannya terasa dingin menyentuh kulit kakek yang mengaku sedang demam panas itu.</p>
<p></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><br /></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Dia sudah berbulan-bulan mempelajari racun Awan Biru dari buku-buku pengobatan pemberian dari gurunya dan satu-satunya pengobatan hanyalah dengan mencampurkan daun bunga malam, jahe,<span>&#160;</span> daun bertulang putih dan kadal kaco (kaca, dinamakan kadal kaca karena mempunyai bentuk tubuh yang bening sehingga bisa terlihat isi tubuh dari kadal tersebut). Daun bertulang putih harus ditumbuk dengan darah bening dari kadal kaco lalu dimasak dengan tambahan daun bunga malam dan jahe setelah mendidih langsung diminumkan kepada penderita racun Awan Biru. Dan dia tahu kedua barang pertama merupakan barang langka yang sangat susah sekali mendapatkannya karena dibutuhkan kesabaran yang besar sekali untuk mencarinya di sekeliling puncak Gunung Tadikat yang luas itu.<br /></font></span></font></span></div>
<p>
<span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kembali kakek itu mengulurkan tangannya ke tabib untuk diperiksa, tapi kali ini sengaja dara yang bernama asli Siti ini, ingin memberi pelajaran kepada kakek dan pemuda tampan itu.</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Aku sudah katakana bahwa anda tidak sakit, jadi lebih baik kalian bersama teman kalian di luar itu pergi tinggalkan tempat ini. Lagian kalian tidak usah kuatir akan racun yang aku sebut-sebut itu, kalian kan tidak percaya bahwa kalian kena racun jadi yah silahkan pergi sekarang,’ kata Siti dengan suara yang sengaja dikeraskan supaya terdengar sampai di luar.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Lukman dan kakek botak yang mendengarkan hal ini langsung tahu tabib itu sudah tahu maksud mereka, segera mereka melangkah masuk ke dalam, karena tidak ingin mengacaukan lebih lanjut keadaan takutnya si tabib marah mereka lebih berabe lagi. Begitu masuk Lukman mengarahkan matanya menatap tabib yang sedang cemberut menahan marah itu, dan seperti Malik, tatapan mata tabib itu membuat jantung Lukman bergetar dengan kerasnya. Dia sendiri bingung kenapa hal ini bisa terjadi, dia sampai tidak bisa mengalihkan matanya dari tatapan magis tabib itu. Seakan sukmanya sudah tersedot oleh tatapan mata yang tajam dan dingin itu. Sesaat Lukman bengong menatap tabib itu, kakek Botak yang cepat menyadari apa yang terjadi berusaha menowel tangan Lukman untuk menyadarkannya.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Gelagapan Lukman menyadarkan dirinya kembali, mukanya langsung memerah malu karena ketahuan bengong menatap tabib itu. Hatinya mengutuk dirinya habis-habisan bisa-bisanya dia sampai seperti orang bodoh hanya ditatap oleh mata seorang pria setengah baya seperti tabib itu. Dengan berusaha membersihkan tenggorokannya karena tiba-tiba seperti ada yang mengganjal Lukman membuka mulut untuk bicara, tapi belum sempat dia bicara tabib itu sudah memotong pembicaraan mereka.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Nah, karena kalian sudah lengkap hadir di sini kenapa kalian tidak mulai bicara apa yang kalian inginkan dari aku. Jujur saja tidak usah bertele-tele, aku paling benci berurusan dengan orang yang suka berbohong’” tegas sang tabib.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Lukman yang tadinya ingin berbohong menjadi sungkan akibat hantaman bicara dari sang tabib itu. Sudah tidak ada jalan lain oleh karena itu dia harus jujur siapa tahu tabib ini bisa mengobati ibu mereka.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Maafkan kelancangan kami tabib, kami tidak bermaksud mempermainkan tabib, ini semata hanya kami ingin pasti apakah anda benar tabib yang kami cari.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Yang jelas aku bukan tabib yang kalian cari, kalau benar aku yang kalian cari tidak akan seperti ini kalian terhadap aku.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Lukman langsung gelagapan mendengar jawaban ketus dari sang tabib, Malik yang melihat situasi semakin runyam berusaha memperbaiki keadaan lagi, baru dia hendak buka mulut sudah dipotong lagi oleh sang tabib.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Diam kau anak muda pembohong, aku tidak mau mendengar omonganmu yang mirip orang terkentut,” sinis sang tabib itu berkata.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Malik mendengar perkataan itu naik darah juga akhirnya, dia merasa terhina dibilang pembohong seperti itu, mukanya sudah merah menahan kemarahan yang ingin dia lontarkan keluar tapi keburu tangannya digamit oleh Pandeka Konek yang melihat situasi sudah tidak terkendali lagi.</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Sekali lagi maafkan kami, tabib, kami tidak bermaksud membuat anda tersinggung, kami hanya bingung dengan keterangan yang kami terima. Kami mendengar dari penduduk bahwa anda bertangan dingin menyejukan dalam penyembuhan pesakit sedangkan keterangan yang kami terima bahwa tabib yang mempunyai tangan dingin menyejukan itu dimiliki oleh Dewi Tangan Dingin. Dan anda seorang laki-laki mana mungkin merupakan Dewi Tangan Dingin, tapi kami juga mendengar keterangan lagi bahwa sang Dewi itu suka sekali menyamar sehingga kami ingin memastikan apakah anda adalah tabib Dewi Tangan Dingin, karena kami tidak ingin salah orang,” kata Pandeka Tangan Siluman menjelaskan dengan cepat.</p>
<p></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Hmmm… informasi yang anda dengar itu salah, pak gaek (pak tua). Mana mungkin tanganku yang keriput ini bisa terasa dingin menyejukan, macam-macam saja kalian ini. Mungkin yang dimaksudkan penduduk dengan tangan dingin menyejukan itu karena aku merendam tanganku di air dingin supaya saat menyentuh tubuh pasienku yang panas bisa terjadi kejutan pada aliran darah mereka yang kacau akibat penyakit yang mereka derita. Jadi aku bisa tahu bagaimana cara menyembuhkan mereka, apa itu yang kalian maksudkan dengan tangan dingin sejuk ? Apa wajahku ini seperti seorang Dewi di mata kalian ?”</p>
<p></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kata-kata ketus yang keluar dari mulut sang tabib membuat yang mendengarnya sangat tidak enak perasaannya. Dalam hati mereka mengutuk Kasman habis-habisan yang membuat mereka dalam keadaan dipermalukan seperti ini, mereka lupa siapa sebenarnya yang merencanakan hal ini. Kasman hanya memberitahukan bahwa tabib yang menyembuhkan penduduk tangannya dingin menyejukan jadi bagaimana cara tabib itu mempunyai tangan dingin seperti itu bukan salah dia. Tipikal manusiawi sekali, setiap terjadi kesalahan selalu berusaha mencari kambing hitam, tapi sebaliknya setiap kali berhasil selalu berusaha menunjukan bahwa “AKU” lah yang membuat keberhasilan itu.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Siti sedang tertawa geli dalam hati melihat wajah 4 orang tersebut dikerjai olehnya, entah kenapa dia menjadi usil sekali ingin mengerjai mereka, terlebih-lebih kedua pemuda yang gayanya sangat bossy itu benar-benar membuat kumat keisengannya. Tapi di lain sisi dia yang berperasaan halus dapat merasakan bahwa mereka sekarang ini sangat membutuhkan pertolongan seorang tabib, karena itu dia ingin membantu mereka juga tapi setelah puas menjahili keempat orang ini.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Mengapa kalian tidak menjawab pertanyaanku ?… Kenapa mendadak kalian menjadi bisu? Aku bukan seorang tabib yang punya keahlian menyembuhkan orang bisu jadi kalian lebih baik mencari tabib lain saja,” kata sang tabib sambil berdiri dari kursi dan sepertinya hendak pergi dari ruangan itu.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Buru-buru Malik berusaha menahannya, terlepas apakah benar atau tidaknya beliau penyamaran dari Dewi Tangan Dingin, siapa tahu dia bisa menyembuhkan ibunya.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Maafkan kami, tabib, kami terpaksa melakukan ini karena kami sedang menguatirkan keadaan ibu kami yang sakit parah sekali. Sudah banyak tabib yang kami panggil bahkan tabib kerajaanpun sudah datang memeriksa ibu kami tapi tetap saja mereka tidak bisa menyembuhkan ibu kami. Kira-kira sebulan yang lalu kami mendengar keterangan bahwa di dunia persilatan ada seorang tabib yang bergelar Dewi Tangan Dingin yang benar-benar seperti seorang Dewi yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit bahkan konon kabarnya orang yang hampir matipun mampu disembuhkannya. Oleh karena itu kami ditugaskan oleh ayah kami untuk mencari tabib itu agar bisa mengobati ibu kami,” kata Malik dengan tersedat karena dia benar-benar mencemaskan keadaan ibu yang sangat dicintainya itu.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Tapi sudah hampir sebulan kami mencari tabib itu tidak sekalipun kami bisa menemui beliau, kami berangkat dalam 3 rombongan dan sampai kemarin kami mendengar kabar rombongan yang lainpun belum berhasil menemukan tabib itu. Kami sudah hampir putus asa karena memikirkan keadaan ibu kami, sampai akhirnya kami mendengar keterangan mengenai tabib dari penduduk di sini. Oleh karena itu kami memastikan apakah anda adalah tabib yang kami cari itu.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Sekarang kalian sudah tahu kan bahwa aku bukanlah tabib yang kalian cari, jadi sekarang kalian mau apa dari aku?” potong sang tabib dengan cepat seolah ingin segera berlalu dari sini.<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Mereka berempat terdiam mendengar perkataan sang tabib, samar-samar ada tantangan yang dilontarkan sang tabib kepada mereka.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Lukman yang merasa menjadi pimpinan rombongan mengambil alih pembicaraan,”Sekali lagi maafkan kami tabib, karena kami tidak menemui Dewi Tangan Dingin, bagaimana kalau tabib saja yang mencoba menyembuhkan ibu kami? Kami sudah melihat kehebatan tabib menyembuhkan penyakit menular pada penduduk di sini jadi kami ingin membawa anda pulang untuk memeriksa ibu kami.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sebenarnya Siti ingin membantu mereka, karena dia bisa melihat kecemasan di mata kedua pemuda itu, tapi dia masih kesal karena mereka ingin menggunakan kekerasan padanya memaksa dia untuk mengaku apakah dia si Dewi Tangan Dingin. Kalau mereka bertanya baik-baik dan tidak mengancam segala, sudah dari tadi dia akan pergi dengan mereka untuk membantu mengobati ibu mereka. Pikiran perempuan memang aneh, hanya masalah kecil begini saja bisa tersinggung sampai seperti ini, yang mungkin bagi para pria tidak masuk akal, tapi bagi kaum perempuan ini menyinggung perasaannya dengan ancaman seperti itu, walaupun mereka ingin membantu yang jelas mereka ingin menyiksa dulu para pria yang kurang ajar itu, baru membantunya kemudian.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Apa anda yakin aku bisa menyembuhkan ibu anda, bukannya lebih baik anda mencari lagi saja tabib Dewi Tangan Dingin yang kalian puja-puja itu daripada anda membuang nafas dan tenaga untuk bicara dengan aku saat ini,” kata sang tabib dengan dingin seperti tersinggung.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Pandeka Konek dan Pandeka Tangan Siluman sudah dari tadi kesal mendengar pembicaraan yang seperti tidak berkesudahan ini. Mereka sudah gatal-gatal tangannya ingin menghajar tabib yang lancang mulut ini, buntut-buntutnya sepertinya sang tabib tidak ingin membantu mereka, jadi kenapa harus beradu mulut tidak berguna dengan dia.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Sudahlah tuan muda Lukman mari kita pergi dari sini sepertinya tabib ini tidak mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan nyonya berdua, jadi kenapa kita masih di sini lebih baik kita pergi saja,” kata Pandeka Konek dengan sinis.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Benar sekali yang dikatakan oleh pembantu kecil kalian ini, sudah sana pergi tinggalkan tempat ini dan cari tabib yang kalian maksud itu,” kata sang tabib dengan menyebalkan.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Lukman yang sudah habis kesabarannya karena kesal dengan kata-kata sang tabib ditambah lagi kekuatirannya terhadap sang ibu menjadi naik pitam dengan pedas dia berkata,”Memang kalau orang baru bisa menyembuhkan sedikit saja sudah banyak lagaknya, benar yang dikatakan oleh orang-orang padi semakin berisi semakin merunduk, dan padi yang tidak berisi memang berdirinya paling tegak padahal dia lupa kalau angin bertiup kencang dia akan dipermainkan mengikuti kemauan sang angin,”ejeknya.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Mendengar perkataan yang pedas ini, Siti semakin tidak suka terhadap pemuda yang lagaknya seperti pemimpin besar ini, semakin tidak mau dia membantu mereka.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Itu kalian sudah tahu bahwa aku tidak menyembuhkan ibu kalian jadi kenapa kalian masih berdiri di sini tidak cepat pergi saja,” gantian dia mengejek mereka.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Lukman yang berharap ejekannya menjadi tantangan bagi si tabib untuk membuktikan kemampuannya jadi kecele karena si tabib tidak menanggapi seperti yang diharapkannya. Tapi jawaban dari sang tabib membuat kedua pandeka yang kaya pengalaman seperti Konek dan Tangan Siluman menyadari satu hal, hanya orang yang berkepandaian dan tahu bagaimana hebat dirinya saja yang tidak terpengaruh dengan ejekan yang dilontarkan oleh tuan muda mereka. Mereka berdua saling melemparkan pandangan mata dan memberi isyarat satu dengan yang lain seolah ingin mengatakan jangan-jangan inilah tabib yang mereka cari itu. Malik yang sedang memandang ke arah kakek Konek melihat hal itu, dia seorang pemuda yang sangat cerdik dan dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua orang tua itu.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Cepat dia menggunakan ilmu pengirim suara kepada pandeka Konek,”Kek, ada apa ? Apa kakek berpikir bahwa tabib ini di Dewi Tangan Dingin yang sedang menyamar?”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Benar tuan muda, kami berpikir dari perkataan beliau dari tadi sepertinya dia si Dewi Tangan Dingin, karena aku merasa dia terlalu percaya diri dan merasa yakin kita memerlukan bantuannya makanya dia menjadi bertingkah begini. Lebih baik kita memperkenalkan diri kita pada dia siapa tahu mendengar kebesaran nama kita, dia jadi mau membantu kita.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Iya, kamu benar kakek, dari tadi kita belum perkenalkan diri kita padanya mungkin karena itu dia tersinggung dengan kita, seolah-olah merasa tidak dihargai oleh kita. Sekarang juga aku akan memperkenalkan diri kita padanya siapa tahu dia mau membantu kita,”balas Malik.</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Tabib, kami minta maaf sekali lagi, dari tadi kami belum memperkenalkan diri kami kepada anda, sehingga menjadikan pembicaraan ini tidak enak karena saling belum mengenal.”</p>
<p></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sang tabib diam saja mendengar perkataan dari Malik itu, dalam hati dia berpikir pemuda ini merupakan seorang pemuda yang mempunyai sopan santun pergaulan yang baik sekali. Pemuda yang baik sekali didikan keluarganya, walaupun sudah dihina dari tadi tapi masih bisa sabar dan tetap ingin memperkenalkan dirinya. Pemuda yang mempunyai tekat dan tahu bagaimana mendapatkan apa yang dia inginkan dengan cerdik sekali. Lawan yang tidak boleh dianggap remeh, jika menjadi musuhnya benar-benar pemuda pilih tanding.<br /></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Lukman yang sudah sebal sekali dengan sang tabib mendengar perkataan Malik menjadi tambah jengkel,”Eh Malik, untuk apa lagi kita perkenalkan diri kita pada tabib sombong ini, hayo lekas kita keluar dari sini sebelum aku ingin menghantam sesuatu melampiaskan kekesalanku.”</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Cepat Lukman berjalan keluar untuk segera meninggalkan tempat yang membuat darahnya naik ke ubun-ubun setiap mendengar perkataan sang tabib. Dia yang terbiasa disanjung dan diperlakukan hormat oleh orang-orang yang ada di sekitarnya tidak menerima perlakuan yang seperti itu. Sebenarnya dia bukanlah pemuda yang gila hormat atau haus kekuasaan, tapi entah kenapa setiap perkataan dari tabib itu menyinggung harga dirinya dengan telak sekali. Mungkin karena kecemasannya akan penyakit sang ibu dan kelelahan dia mencari sang tabib belum ketemu juga membuat dia cepat sekali naik darah dan tidak bisa melihat situasi dengan jernih seperti biasanya yang dia lakukan setiap menghadapi persoalan seberat apapun.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kedua kakek dan sepupu dia kebingungan melihat sikapnya seperti itu, tidak biasanya Lukman bersikap seperti ini. Kesabaran dan ketenangan dia dalam menghadapi situasi yang berat selalu membuat dia dikagumi oleh keluarga dan bawahannya bahkan oleh kedua kakek itu. Tapi kini sepertinya dia tidak bisa mengontrol emosinya, ini terlihat sejak 2 hari yang lalu dan tadi pagi ketika dia hampir berkelahi dengan sepupunya. Apa yang berkecamuk di pikiran pemuda ini, apa mungkin dia merindukan Dela, sang pujaan hati?<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">“Nah kalian dengar tuh apa yang dikatakan teman kalian, cepat kalian susul dia sebelum racun dalam tubuhnya membuat dia pingsan di jalanan,”kata sang tabib tiba-tiba.</p>
<p></font></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kaget juga mereka mendengar perkataan sang tabib, antara percaya dan tidak percaya mereka memandang sang tabib dan Lukman bergantian. Tapi melihat wajah sang tabib yang serius dan berkerut begitu membuat mereka buru-buru mengejar Lukman keluar. Benar saja kira-kira 5 tombak dari rumah sang tabib, mereka menemukan Lukman yang tergeletak di jalanan. Wajahnya membiru dan mulutnya mengeluarkan busa serta nafasnya kembang kempis, cepat kakek tangan Siluman mengangkat tubuh Lukman dan segera mereka berlari kembali menuju rumah sang tabib.</p>
<p></font></span></font></span></div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Mereka sudah tidak menemukan sang tabib lagi, tapi di meja di dekat tabib duduk tadi ada 1 buah botol obat dan surat dari sang tabib yang isinya menyuruh mereka memberikan 1 butir obat yang ada dalam botol kepada Lukman secepatnya dan terus meminumkan obat ini 3 kali sehari selama 2 hari berturut-turut agar racun dalam tubuhnya bisa punah. Dan tabib memperingatkan kepada mereka untuk berhati-hati karena ada orang yang ingin mencelakai mereka.<br /></font></span></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Cepat Malik mengeluarkan obat dari dalam botol dan meminumkannya pada Lukman, tidak lama Lukman sadarkan diri dan kebingungan apa yang telah terjadi pada dirinya. Ketika diceritakan, dia terkejut dan malah berpikir bahwa tabib itu yang meracuni dirinya bukankah tabib itu bilang mereka sudah kena racun begitu memasuki rumah itu. Tapi Malik dan kedua pendekar tua itu tidak yakin tabib itu bermaksud jahat pada mereka, daripada ribut terus dengan Lukman akhirnya mereka memutuskan untuk kembali dulu ke penginapan menemui yang lain.</p>
<p></font></span></font></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Sekembalinya ke penginapan, Kasman dan yang lain sudah menunggu mereka dengan berita yang tidak kalah mengejutkan, ternyata musuh bebuyutan perguruan mereka juga datang ke daerah ini, terlihat dari tanda-tanda yang mereka tinggalkan. Memang dari dulu Rangkayo Padang Jati dan perguruan Ula Jati bermusuhan dengan perguruan Merak Hitam yang merupakan perkumpulan golongan sesat yang selalu mengganggu ketentraman penduduk dengan aksi perampokan dan pembunuhan mereka. Beberapa kali mereka bentrok dengan perguruan Merak Hitam, terakhir bentrok anak kedua dari ketua Merak Hitam meninggal di tangan Lukman. Dendam perguruan Merak Hitam semakin menggila terhadap kedua keluarga ini, oleh karena itu ayah Lukman sampai menyewa pendekar-pendekar hebat untuk menjaga rumahnya. Dan Lukman sendiri oleh orang tuanya dikirim ke sebuah nagari kecil di Prabumulih, selatannya Pulau Andalas untuk berguru dengan Pandeka yang sudah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan yang masih merupakan adik tiri dari nenek ayah Lukman dan bergelar Pandeka Walet Selatan.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Lukman juga baru kembali setelah berguru hampir 3 tahun lamanya dengan pandeka itu, baru beberapa bulan dia kembali ibunya sudah kena musibah seperti ini. Berat dugaan penyakit sang ibu dilakukan oleh orang-orang perguruan Merak Hitam yang suka menggunakan racun jika menghadapi lawan yang berat. Mereka menghalalkan segala cara agar bisa menang dari musuh-musuh atau orang yang diincar oleh mereka, tapi masalahnya pihak Lukman belum bisa membuktikan bahwa ini perbuatan perkumpulan sesat itu.</p>
<p></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000">Kini mendengar kabar bahwa musuh mereka ada di daerah yang sama dengan mereka mau tidak mau Lukman harus mempercayai tabib itu tidak bermaksud mengerjai mereka. Yang lain berhasil meyakinkan Lukman bahwa mungkin saja musuh mereka yang meracuninya, dan mereka harus segera mencari tabib itu untuk membantu mereka. Segera mereka kembali berpencar mencari tabib itu, dari penduduk mereka mendengar sang tabib sudah pergi ke luar nagari dengan kuda putihnya bahkan penduduk tidak sempat untuk menyatakan terima kasih kepada sang tabib.<br /></font></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><br /></font></span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><br />
&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><font color="#000000"><em>Bagaimana caranya menemukan si tabib sakti, Dewi Tangan Dingin&#160;? Bagaimana tanggapan Lukman, Kasman dan Malik ketika mengetahui tabib tua itu merupakan seorang dara yang sangat cantik jelita ? <span>&#160;</span>Dan apa pula tanggapan Kahar mendapat lawan dalam memperebutkan cinta kasih sang dara ?<br /></em></font></span>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aboutjuls.blog.com/2008/05/16/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://aboutjuls.blog.com/2008/04/14/</link>
		<comments>http://aboutjuls.blog.com/2008/04/14/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 23:26:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sieklie</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<div style="TEXT-ALIGN: left"></div>
<font size="5"><font color="#FF00FF">VII : Menerima anak harimau yang terluka</font></font><br />
<br />
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3">Dikarenakan sekujur badan Saiful terluka dan lembam maka mereka sepakat kereta yang tadinya hendak digunakan oleh Masnan dan Burhan, dipakai Basri untuk mengangkut Saiful yang terluka. Anak itu butuh ruang untuk istirahat akibat luka-lukanya. Dan kebetulan juga Masnan memang ingin cepat-cepat kembali memilih menggunakan kudanya membawa Burhan. Sedangkan barang-barangnya bisa dikirim menyusul, hanya barang-barang yang penting saja dibawanya seperti beberapa lembar baju Burhan.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3"><br />
Segera Basri mengeluarkan perlengkapannya untuk membuat kereta yang mengangkut Saiful menjadi nyaman bagi orang yang kesakitan seperti anak itu. Basri merasa hatinya sakit setiap kali melihat keadaan Saiful, karena itu ia mempercepat kerjanya agar bisa segera membawa anak itu pergi, dia juga mengupah orang untuk membantunya selama perjalanan di samping para kusir keretanya. Perjalanan ke kampung halamannya dari Nagari Batang Kapeh ini cukup jauh bisa memakan waktu 3 hari 2 malam, makanya dia membekali diri dengan segala obat2an dan makanan kering yang bergizi serta air minum yang bersih untuk membantu memulihkan kondisi Saiful secepatnya.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3"><br />
Setelah semua persiapan selesai, mereka segera berangkat, Saiful yang dalam keadaan lemah digendong Basri dengan hati-hati diletakkan di kasur yang sudah disiapkan sebelumnya. Basri yang menggendong tubuh ringkih Saiful merasa hatinya sesak dan rasanya ingin memukul orang. Dia tidak habis pikir kenapa ada orang tua yang tega memukuli anaknya sendiri seperti ini, begitu banyak dia menemui orang jahat dan kejam tapi belum pernah dia melihat kekejaman seperti ini.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3"><br />
Sempat dalam hati dia mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan dalam mengatur takdir manusia , dia yang sangat mengharapkan bisa diberikan anak, Tuhan tidak berikan kepadanya tapi malahan diberikan kepada mereka yang tidak bertanggung jawab atas titipan Tuhan itu. Tapi dengan dasar iman yang teguh dia menarik kesimpulan mungkin justru inilah rencana Tuhan mempertemukan dia dengan Saiful yang menderita untuk menjadi murid sekaligus anaknya. Dia sadar jika anak itu lahir dari rahim isterinya belum tentu anak itu akan bisa menjadi anak yang baik karena pasti akan sangat dimanjakan oleh orang tua Basri maupun orang tua isterinya. Dengan mempunyai dasar penderitaan seperti Saiful, melatih anak itu untuk lebih sabar dan menghargai hidup serta tahan derita.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3">Tetapi tetap saja dia tidak terima ada seorang laki-laki besar memukuli seorang anak kecil bertubuh kurus dan ringkih tanpa memikirkan akibatnya. Karena itu timbul niat dalam hatinya untuk tidak akan pernah memberikan uang yang telah dijanjikan kepada orang tua Saiful sepeserpun.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3">Hari sudah lewat tengah hari ketika Basri berpamitan untuk berangkat pada Bumi dan Kahar serta Siti, tiba-tiba dari samping kereta sebelah kanan bapaknya Saiful memunculkan diri dengan agak takut-takut mendekati Basri dan Bumi.<br /></font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3">&#160;</font></p>
<p class="MsoNormal" style="FONT-SIZE: 14px; MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3"><span style="COLOR: #3366ff; FONT-FAMILY: 'Bookman Old Style'"><span style="COLOR: #111111; FONT-FAMILY: Times New Roman">Aswin yang pertama kali melihat lelaki itu sudah bergerak hendak menghajar pria dewasa itu, matanya sudah memancarkan sinar kehijauan tanda kemarahannya yang memuncak, untung keburu ditahan Kahar yang kebetulan berdiri di sampingnya. Dengan perlahan Kahar membujuk anak itu untuk jangan bertindak gegabah yang nantinya malah menghambat kepergian temannya itu. Anak itu mengepalkan tangannya dengan geram menahan kemarahannya karena dia juga kuatir Ipul bisa tidak berangkat kalau dia buat gara-gara.<?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /?>
</span></span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><br />
Basri yang melihat pria itu sudah langsung ingin menghajarnya untung Kahar dan Bumi sempat mencegahnya. Bapaknya Saiful buru-buru mundur ke belakang takut kena hajar oleh pria yang akan bawa anaknya pergi. Sebenarnya dia takut untuk datang menagih janji kepada pria itu karena dia tahu pria itu sangat<span>&#160;</span> membenci dia sehingga bisa saja memukulnya habis-habisan seperti dia memukuli anaknya tadi pagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Keberaniannya untuk memunculkan dirinya ke hadapan Basri dikarenakan isterinya sudah mengancam jika dia tidak bawa uang yang dijanjikan tersebut isterinya akan pergi dengan pria lain yang merupakan saingan dia sejak dulu dalam memperebutkan isterinya. Selain itu dia juga sudah bosan jadi orang miskin dan dilecehkan oleh orang yang paling dicintainya, dia berharap dengan adanya uang ini dia bisa mempertahankan isterinya dan hidup makmur tanpa perlu bekerja keras lagi. Dorongan hasrat inilah yang memicu keberaniannya untuk menemui Basri, dia rela dipukulin habis-habisan selama dia bisa menerima uang banyak dari Basri.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tadi pagi dia dan isterinya memukuli anak mereka, karena Saiful tidak mau pergi dengan Basri, anak itu bersikeras ingin tetap tinggal dan berjanji akan melakukan apapun selama tidak menyuruh dia pergi dari rumah. Isterinya naik pitam mendengar hal ini karena dia sudah membayangkan bisa mempunyai rumah bagus dan baju-baju yang mewah, langsung menghajar anak mereka. Lalu isterinya tidak puas mulai menteror dirinya untuk membuat anak mereka pergi dengan pria yang menjanjikan uang banyak pada mereka itu. Akibat tidak tahan dengan teriakan-teriakan kemarahan isterinya yang menyakitkan hatinya, dia ikut-ikutan memaksa anaknya untuk pergi dengan memukulinya sekaligus sebagai pelampiasan kesakitan dia akibat kata-kata tajam dari sang isteri.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kesakitan hati dia membuat dia lupa dan buta bahwa yang dia pukuli itu adalah anak kandungnya dan seorang anak yang masih kecil sekali dengan tubuh kurus dan ringkih seperti itu. Pukulan kayu yang menghajar tubuhnya, membuat dia tersadar apa yang telah dilakukannya, tapi dia sudah tidak sempat menyesalinya karena keburu pingsan. Setelah diguyur dengan air dingin oleh isterinya dia menjadi sadar dan dari isterinya, dia tahu yang memukul dirinya adalah tukang kebun wali nagari mereka, dan langsung dia menyadari dia akan mendapatkan masalah dengan janji uang itu. Sang isteri tidak mau tahu bahkan tetap memaksanya untuk menagih janji kepada Basri, sempat dia merasakan ketakutan yang sangat membayangkan apa yang bakal terjadi jika dia meminta uang tersebut. Tapi karena desakan dan ancaman dari sang isteri dan membayangkan hidup yang mewah membuat dia mengeraskan hati dan menepis perasaan ketakutannya untuk bertemu dengan Basri.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Melihat pria itu, hawa amarah Basri memuncak sampai ke ubun-ubunnya, kalau tidak dipegang Kahar dan dicegah Bumi ingin rasanya dia meremukkan muka pria itu dan menguncang-guncang otaknya supaya sadar akan perbuatannya. Dia tahu pria ini datang untuk menagih janjinya, dan dia sudah bertekat untuk tidak memberikan uangnya. Dengan tangan masih dipegang Kahar dan Bumi yang berdiri diantara dia dengan pria bajingan itu, dia berusaha menahan kemarahannya mengingat jika memperpanjang masalah dia tidak akan bisa membawa Saiful pergi secepatnya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Suasana penuh ketegangan, Bumi yang tidak suka dengan pria ini berusaha sabar karena terus terang saja ingin rasanya dia juga turun tangan untuk memberi hajaran kepada pria ini, tapi dia sadar sebagai wali nagari dia tidak bisa bertindak sembarangan saja. Melihat bahwa Basri tidak bisa bicara akibat kemarahannya, maka Bumi berinisiatif bertanya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“ Ada perlu apa, awak(kamu) datang ka siko (ke sini)?” Tanya Bumi</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Ehhh, anu… ini…ehh… mamaamauu tatannyaa,..”dengan gugup ayah Saiful menjawab.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Keringat dingin membasahi tubuhnya dan detak jantungnya lebih cepat dari biasanya sehingga dia merasa dadanya terasa sakit menahan gerakan detak jantungnya. Perasaan ingin terkencing juga dia rasakan sangat kuat sekali, kalau tidak teringat akan malu dia pasti sudah kencing di celana. Dia sadar pria yang bernama Basri itu sangat membencinya, tapi dia bertekat harus bisa mendapatkan uang itu walaupun mungkin jumlahnya kurang dari yang telah dijanjikan.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Mau nanya apa kamu?” Tanya Bumi.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Aaappppaaa Ssssaaaiiifffuulll..” dia menelan ludah tidak berani menatap Basri lagi. Dia berusaha menatap kereta supaya dia tidak gugup bicaranya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Cepat katakan mau apa kamu?” kesabaran Bumi semakin menipis karena dia sudah bisa menduga apa yang dikehendaki oleh ayah Saiful.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sssaaiiiffuuul sssuuudddaahhh mmmaaauuuu dddiiibbbaaawwwaaa pergi?” akhirnya dia bisa bicara juga, keinginan untuk kencing semakin mendesak, dia sudah kuatir betapa malunya dia kalau sampai terkencing di celana.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Iya, sudah mau berangkat. Sekarang kamu minggirlah ke sana , kereta sudah mau jalan.” Kata Bumi dengan tegas sekali.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ayah Saiful belum beranjak juga dari tempat dia berdiri di samping kereta yang mengangkut Saiful. Dia sudah tidak mampu berbicara menyatakan keinginannya karena dia sedang menahan keinginan untuk kencing, dan ketakutannya setiap kali melihat sinar mata Basri yang memandangnya dengan penuh kebencian dan hasrat membunuh yang terbayang di matanya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sudah sana…., kenapa belum ke sana juga, nanti bisa ketabrak kereta,” seru Bumi.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Bumi memandang kepada penjaga keamanan nagari yang kebetulan berkumpul di halaman tersebut untuk membantu mengangkut barang-barang ke kereta tadi. Mereka yang sudah lama bekerja dengan wali nagari itu sudah tahu apa arti pandangan dari wali Bumi. Segera dua orang dari mereka berjalan mendekati ayah Saiful untuk menariknya dari sisi kereta. Ayah Saiful melihat dua orang yang menghampirinya, dia tahu sebentar lagi mereka akan menariknya, buru-buru dia memeluk kereta tersebut erat-erat sambil berteriak-teriak memanggil nama anaknya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Untung saja tadi Siti sudah memberikan sedikit obat tidur untuk Saiful agar dia tertidur sebentar untuk memulihkan kondisi tubuhnya agar dalam perjalanan yang panjang ini dia tidak terlalu kelelahan. Jadi apapun yang dilakukan oleh ayahnya sekarang, dia tidak mengetahuinya, tapi tetap saja Basri takut jika Saiful terbangun akibat ulah ayahnya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Karena itu segera Basri berusaha membebaskan dirinya dari Kahar dan Bumi, dia sudah ingin sekali memukul hancur mulut orang itu. Kahar yang merasakan gerakan Basri buru-buru mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan Basri begitu juga dengan Bumi yang tahu adik angkatnya sudah tidak bisa tahan kesabarannya, segera berjalan menghampiri ayah Saiful.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Bumi tahu jika tidak dia lakukan sesuatu segera maka Basri akan melakukan sebuah tindakan yang akan disesalinya nanti. Dia harus menghentikan orang yang “sakit jiwanya” ini secepatnya, dia mengulurkan tangannya ke arah ayah Saiful, dan menotok kedua tangan pria itu dan menghentakan agar pegangannya terlepas dari kereta itu. Kedua tangan ayah Saiful menjadi lemas dan tidak bisa digerakan sama sekali, dia semakin ketakutan merasa dirinya terancam karena dia sadar wali Bumi merupakan seorang tokoh sakti.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dia membuka mulutnya besar-besar untuk menjerit supaya seluruh penduduk datang melihat wali Bumi mengancamnya. Dia tidak sadar bahwa semua penduduk sudah tahu perbuatannya terhadap Saiful, apalagi dengan adanya kejadian tadi pagi. Tukang kebun yang menjemput Saiful sudah menyebarkan gossip mengenai perbuatan ayah Saiful pada anaknya yang tentunya sudah dibumbui sana sini. Sehingga kalau dia mengharapkan bantuan penduduk atas hukuman yang diberikan wali Bumi padanya, dia tidak akan menerimanya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tapi sebelum sempat dia berteriak, kembali Bumi mengulurkan tangannya dengan cepat menotok lehernya supaya tidak mengeluarkan suaranya dan mulutnya tetap dalam keadaan menganga selebar-lebarnya. Ayah Saiful semakin ketakutan dengan hukuman yang diberikan oleh Bumi, kencing yang tadinya ditahan akhirnya keluar juga merembes di celananya dan membasahi kakinya. Dia sudah mulai merasa mulutnya kram akibat tidak bisa ditutup lagi, dia berusaha menutup mulutnya tapi tidak bisa karena kedua tangannya tidak bisa digunakan lagi.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Melihat kondisinya seperti itu beberapa penjaga keamanan yang ada di situ menutup hidung menghinanya sambil tersenyum-senyum mengejeknya. Dia tidak perduli lagi bagaimana keadaannya karena dia sudah panic dengan hukuman yang diberikan oleh wali Bumi, dengan menetaskan air mata ketakutan dia berusaha mohon ampun kepada wali Bumi dengan menekuk lututnya dan menyembah. Tapi Bumi tidak mengabulkannya karena dia memang ingin memberi pelajaran kepada pria itu agar tidak bertindak semena-mena kepada kaum yang lemah.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Bumi memberi isyarat kepada Kahar untuk menarik tangan Basri agar segera dia naik kereta dan berangkat, tidak perlu lagi menghiraukan keadaan di sini. Kahar perlahan-lahan menarik tangan Basri yang sudah terkepal kencang sekali.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Uda Basri, hayolah pergi, biar keadaan di sini uda Bumi yang mengatasinya. Kasihan Saiful kalau kelamaan di jalan dengan tubuh seperti itu nanti dia bisa tambah parah sakitnya,”kata Kahar kepada Basri.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Akhirnya Basri mau juga ditarik Kahar untuk naik ke kereta dan melanjutkan perjalanannya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Bumi, Kahar dan Siti, serta melemparkan pandangan jijik kepada ayah Saiful segera dia memerintahkan tukang kuda untuk jalan. Melihat hal itu ayah Saiful berusaha mengejar kereta tersebut karena dia melihat peluang mendapatkan uang akan segera hilang bersama berlalunya kereta itu. Dengan cucuran air mata dan kondisi mulut menganga serta kedua tangan yang lumpuh sungguh keadaannya sangat menyedihkan sekali.<br /></p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="COLOR: #3366ff; FONT-FAMILY: 'Bookman Old Style'"><span style="COLOR: #111111; FONT-FAMILY: Times New Roman">Aswin yang melihat ayah Saiful berusaha mengejar kereta itu langsung bergerak cepat mengikuti lelaki itu, tapi kembali Kahar buru-buru mengikutinya, dan menarik tangannya untuk ikut mengantar kepergian temannya sampai di batas ujung nagari. Tujuan Kahar agar anak ini tidak menghajar bapak temannya itu, karena dia sudah lihat sorot penuh kemurkaan dalam mata Aswin.</span></span></p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kuda-kuda yang menarik kedua kereta tersebut dipacu kencang oleh para kusirnya, tidak berapa lama sudah meninggalkan ayah Saiful yang masih berusaha mengejar, tapi itu tidak berlangsung lama karena siksaan yang dirasakannya akibat mulutnya tidak bisa tertutup membuat dia tidak bisa mengejar kereta itu lagi.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan terduduk di atas tanah, dia menangis dan kedua kakinya menggosok-gosok tanah persis seperti anak kecil menangis jika anak itu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Penduduk nagari yang melihat dia merasa antara kasihan, kesal, dan lucu, tapi itulah hidup seorang laki-laki yang tidak bisa menjadi seorang lelaki sejati baik bagi dirinya sendiri maupun keluarganya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Bumi yang merasa sudah cukup hukuman yang diberikan kepada ayah Saiful berjalan mendekatinya, sambil memandang keras dia menegur, “Hmmm… untuk apa awak menangis, indak ado gunonya lai (tidak ada gunanya lagi). Nasi sudah jadi bubur, karena kelakukan awak (kamu) sendiri makanya teman ambo (saya) tidak mau memberikan uang seperti yang inyo (dia) janjikan pada awak.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tambah deras turun air mata ayah Saiful mendengarkan perkataan itu, jika Bumi belum menotok lehernya mungkin suara menangis menggerung-gerungnya kedengaran kencang sekali. Dia kesal sekali karena dia sudah membayangkan bakalan ditinggalkan isterinya jika dia tidak membawa pulang uang, sama sekali dia tidak memikirkan anaknya apakah anak itu bisa sembuh atau tidak, ke mana anak itu akan dibawa. Yang ada di benaknya sekarang bagaimana supaya menahan isterinya tidak pergi meninggalkannya dan bagaimana agar wali Bumi mau membebaskan dia dari hukuman yang menyiksa ini.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sekarang kamu dengarkan baik-baik apa yang hendak ambo (saya) sampaikan, sebagai seorang laki-laki kamu sudah gagal total, apalagi menjadi orang tua kamu sudah tidak berhak menyebut diri seorang ayah bagi anak kamu. Aku tidak mau banyak ngomong pada orang rendah macam kamu, jadi singkat kata aku ingin begitu aku bebaskan kamu dari siksaan ini kamu beserta isteri kamu harus pergi meninggalkan nagari ini secepatnya, dan jangan kembali lagi, jika kamu ketahuan kembali kesini lagi aku tidak akan segan-segan menghukum kalian berdua dengan tuduhan menganiaya anak kecil. Dan aku rasa tidak ada orang yang akan membela manusia seperti kamu ini, bahkan oleh kerajaan kamu bisa dimasukan ke dalam penjara,”tegas Bumi.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Kamu mengerti yang aku katakan!” kata Bumi dengan keras kepada ayah Saiful.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Pria itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dia ingin secepat mungkin dilepaskan dari siksaan tidak enak ini, dia mulai merasa mulutnya tambah lama tambah kram dan tulang pipinya terasa berderak-derak seperti hendak patah. Dia berjanji dalam hati untuk pergi selamanya dari nagari yang menyebalkan ini untuk selamanya, begitu banyak penderitaan yang dialami selama tinggal di sini, tidak pernah dia merasakan kebahagiaan kecuali saat dia berhasil mempersunting isterinya. Jadi tidak menjadi soal kalo dia harus meninggalkan nagari ini dengan secepatnya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Melihat itu segera Bumi menggerakan tangannya ke leher dan kedua tangan ayah Saiful untuk dibebaskan dari totokan. Sesaat ayah Saiful merasakan kesakitan seperti digigit beribu semut di kedua lengannya, sedangkan mulutnya dengan susah payah akhirnya dia bisa menutupnya. Dia memandang dengan dendam ke arah sekelilingnya, mereka yang telah berani mentertawakan dirinya, dia tidak berani memperlihatkan kemarahannya kepada wali Bumi karena takut dihukum lagi, tapi hatinya penuh dengan bara dendam dan kemarahan akibat perlakuan wali itu padanya. Dalam hati dia berjanji jika Tuhan memberikan kesempatan padanya, maka dia akan mencari cara untuk membalas dendam kepada wali Bumi dan teman-temannya serta penduduk Batang Kapeh karena sudah berani mengusir dan menghinanya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Cepat pergi dari sini, sebelum kesabaranku menghilang!”kata wali Bumi.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Bergegas ayah Saiful meninggalkan tempat itu, dia berlari-lari pulang ke rumah sambil dalam hati mengarang kebohongan pada isterinya. Tapi sesampainya di rumah, dia tidak menemukan isterinya bahkan semua barang yang berharga di rumah juga raib bersama kepergian isterinya yang entah ke mana. Berteriak-teriak dia memanggil nama isterinya tapi rumah itu tetap lengang sunyi saja. Berlari-lari dia ke luar rumah untuk mencari ke mana sang isteri pergi, sambil bertanya-tanya dengan tetangga yang melintas ke rumahnya, tapi tidak satu juga yang melihat isterinya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sampai sore dia sibuk mencari-cari isterinya tetap tidak ditemukannya, dengan tubuh lunglai dan hati yang panas penuh dengan kemarahan dan kebencian dia menyalahkan semua penduduk nagari ini terutama wali Bumi serta temanya, Basri. Jika Basri tidak menjanjikan uang emas untuknya tidak bakalan isterinya akan meninggalkannya begitu saja, dan jika wali Bumi tidak menyiksa dia seperti tadi mungkin dia masih keburu menahan kepergian isterinya. Sungguh benar-benar pikiran orang picik dan egois sekali, dia tidak sadar akan keadaan diri sendiri tetapi selalu mempersalahkan keadaan dan orang yang ada di sekitarnya. Orang seperti ini sangatlah berbahaya sekali kalau sampai kita pernah berbenturan dengan dirinya, karena semua kesakitan jiwa yang diterimanya ingin dia lampiaskan kepada orang lain.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan penuh kemarahan dan api dendam yang menggelegak di dadanya dia pergi meninggalkan nagari Batang Kapeh, dia berjanji suatu saat nanti dia akan membalas semua perbuatan yang dia terima hari ini. Di kemudian hari ayah Saiful ini akan menjadi musuh yang mengancam ketentraman di nagari Batang Kapeh dan keselamatan Bumi serta teman-temannya terutama keluarga Basri Surian.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kita tinggalkan ayah Saiful yang membawa dirinya ke arah dunia kegelapan, mari ikuti perjalanan Saiful dan Basri.<br />
<br />
Dengan memacu kuda untuk berlari cepat, Basri mengharapkan bisa sampai di rumah lebih cepat dari biasanya.Dia merencanakan untuk tidak beristirahat lama-lama karena kuatir keadaan Saiful, dia merasa lebih tenang kalau sudah&#160;sampai di rumah, oleh karena itu mereka berjalan terus siang malam. Dia membawa uang yang cukup untuk memenuhi keinginannya itu, dia ingin segera memperkenalkan bocah yang malang ini pada isterinya dan berharap isterinya akan menyukainya seperti dia mulai menyayangi Saiful.&#160;<br />
<br />
Sampailah mereka di sebuah nagari yang terlihat ramai sekali walaupun hari sudah malam, terlihat keramaian orang-orang berlalu lalang dan rumah makan yang masih ramai dikunjungi orang. Melihat hal itu Basri mengambil keputusan untuk mengganti kudanya yang sudah kelelahan dengan kuda baru dan segar yang pasti dimiliki oleh penjual kuda di nagari yang terlihat cukup makmur ini. Segera dia memerintahkan kusir kudanya untuk mengantarnya ke rumah penginapan yang terlihat besar di nagari ini, yang di bawah penginapan itu ada rumah makannya. Lalu dia menyuruh kusirnya untuk ke tukang kuda agar bisa mengganti kuda mereka yang sudah kelelahan itu, dia memberikan uang yang cukup lumayan besar.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Basri memang bukan seorang majikan yang pelit, tapi bukan berarti dia juga seorang majikan yang sangat royal. Dia sudah memperhitungkan berapa kira-kira biaya tukar tambah 4 ekor kuda dan biaya makan dari kusir dan keneknya yang berjumlah 5 orang itu. Jadi uang yang diberikan tidak akan berlebih banyak setelah dikurangi biaya-biaya tersebut dan dia anggap uang saku mereka jika mereka ingin membeli barang keperluan lainnya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sambil menunggu kusir kuda kembali, dia menyewa sebuah kamar untuk meletakan Saiful di tempat tidur. Dia juga meminta makanan diantarkan ke kamar saja, setelah selesai dia makan, dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebuah kantung yang setelah dibuka tercium bau wangi yang segar sekali. Dia memasukan tangannya ke dalam kantung dan mengeluarkan sebuah buah kecil yang berwarna kuning bening dan berbentuk seperti terompet, dipandanginya buah itu di telapak tangan kirinya. Lalu dia berjalan ke arah Saiful setelah menarik serutan pada kantung itu dia menaruhnya lagi ke sakunya. Sambil membuka mulut Saiful, dia meremas buah itu sampai mengeluarkan air yang pekat kekuning-kuningan dimasukan ke mulut Saiful, lalu diurutnya leher Saiful agar anak itu bisa menelan air dan ampas buah itu.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Basri tidak mengetahui nama buah yang dia berikan kepada Saiful, tapi dia tahu khasiatnya. Dulu waktu dia masih muda, mengikuti hawa nafsu emosinya dia pernah menjejakan kakinya ke Lembah Setan yang terletak di hutan nagari Sijunjuang. Dia ingin membuktikan kepada teman-teman seperguruannya bahwa dia lebih hebat tidak takut apapun juga dengan mendatangi lembah angker ini. Dia sempat merasakan keangkeran dari lembah ini dan hampir mati kalau tidak cepat ditolong oleh gurunya yang sudah tahu akan kenakalan muridnya yang satu ini. Tapi di balik itu dia mendapat hikmahnya, dia menemukan buah kuning itu yang menjadi penyambung nyawanya ketika dia terjebak di lembah itu. Bahkan gurunya tidak mengetahui nama buah itu,jadi mereka menamakan buah dari Lembah Setan, dia juga sudah menanyakan kepada Siti mengenai buah ini tapi dari buku pengobatan warisan Tabib Mato Tigo tidak ada yang mencantumkan mengenai buah kuning ini.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tapi yang dia tahu memakan buah ini bisa memulihkan kondisi tubuh yang kelelahan dan kesakitan dengan cepat sekali. Makan 1 buah ini saja bisa mengenyangkan perut selama 1 hari, makanya dia memberikan kepada Saiful 1 buah untuk dimakan. Tadi pagi dan siang dia kelupaan memberi makan buah ini kepada Saiful karena keburu naik darah melihat ayah anak itu dan ingin secepatnya pergi menjauhinya. Sebenarnya Basri sangat berhemat sekali dalam menggunakan buah ini, dia hanya memiliki sekitar 10 buah sehingga kalau tidak dalam keadaan genting sekali tidak akan dikeluarkan buah ini untuk dimakan. Karena rasa sayangnya kepada Saiful menyebabkan dia memberi makan buah itu kepadanya, dia ingin anak itu cepat pulih sehingga dia bisa melatih tubuh anak itu dengan ilmu silat dan tenaga dalam.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Setelah dia mencuci muka dan berganti pakaian, Basri keluar kamar untuk melihat apakah keretanya sudah datang, karena dia ingin secepatnya melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya. Ternyata kusirnya telah menunggu di pintu utama rumah penginapan itu, segera Basri membayar biaya makan dan sewa kamar kepada kasir setelah itu dia balik ke kamar untuk mengambil buntalan bajunya dan menggendong Saiful menuju ke kereta untuk melanjutkan perjalanan. Selama dia melakukan pemindahan itu tidak sekejabpun Saiful sadar diri apa yang terjadi, malahan dia seperti tertidur dengan sangat pulasnya lupa akan seluruh dunia yang ada di sekitarnya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat, dan melakukan pergantian kuda dalam 2 kali sehari pagi dan malam hari, perjalanan dilakukan hampir tanpa berhenti. Saiful sempat bangun beberapa kali untuk bertukar pakaian dan mencoba makan dengan mulutnya yang terasa sakit akibat pukulan ayahnya. Basri yang melihat bagaimana Saiful menahan kesakitan setiap buka mulutnya untuk makan merasa pedih sekali hatinya, akhirnya dia mengambil keputusan Saiful akan diberikan remasan buah dari Lembah Setan itu menganjal perutnya yang lapar. Setelah itu Basri membantunya minum obat yang diberikan Siti yang berupa cairan yang berbau tidak enak dengan susah payah Saiful berusaha menelan obat tidak enak itu, setiap dia selesai minum obat itu tidak lama kemudian dia akan kembali tertidur pulas seharian penuh.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Selama 3 hari perjalanan, mereka tidak menemui hambatan yang berarti semuanya berjalan lancar sesuai dengan perkiraan Basri. Sementara itu Saiful juga sudah memakan 3 buah dari lembah Setan itu untuk mempertahankan dirinya dari kelaparannya. Yang tidak diketahui oleh Basri adalah campuran buah dari Lembah Setan dengan obat yang diberikan oleh Siti ternyata menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam diri anak itu.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ada sebuah kekuatan yang terbangun dalam diri Saiful, dengan kondisinya yang tertidur pulas, pernafasannya jadi rata dan tenang serta seluruh tubuhnya tidak bergerak seperti dalam keadaan meditasi, membuat khasiat buah dari Lembah Setan itu bisa bekerja maximal apalagi mendapat campuran dari obat Siti. Ditambah lagi ada satu hal lagi yang tidak diketahui oleh siapapun bahwa golongan darah yang dimiliki Saiful merupakan jenis golongan darah langka yaitu jenis yang mempunyai tingkat kekebalan tinggi terhadap semua penyakit manusia.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tetapi bagi manusia yang mempunyai ilmu kebatinan yang tinggi akan bisa melihat bahwa darah Saiful seakan mengeluarkan sebuah kekuatan hawa pemusnah yang dahsyat sekali. Sungguh sebuah kekuatan yang menggiriskan hati yang mulai bergerak dalam tubuhnya akibat dipicu oleh buah dari Lembah setan yang telah bercampur dengan obat pemberian dari Siti. Kelak apabila dia marah dan darahnya bergolak hebat maka hawa pemusnah ini akan keluar dan memancarkan kehebatannya. Jika hawa pemusnah ini mengenai bangsa kegelapan maka mereka akan musnah menjadi serpihan, dan untuk manusia akan mematikan semua gerakan motoriknya sehingga tidak bisa melakukan apapun seperti merasakan kelumpuhan di seluruh tubuh.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Itulah keistimewaan yang dimiliki Saiful yang luput dilihat oleh orang-orang, bahkan Datuak Inyiak Balang saja tidak dapat mengetahui hal ini. Yang tahu hal ini hanyalah Pangeran Satyawarman dan Panglima Sulaiman, karena itu diam-diam mereka mengawasi Saiful lebih dibandingkan dari anak-anak lain. Mereka memutuskan untuk memberi tahu kepada Datuak Saluang Maut yang akan menjadi guru anak ini pada saat menjelang akil balik , kekuatan ini akan bergerak mencapai puncaknya dengan cepat. Ilmu Alunan Darah Pengejar Nyawa milik sang Datuak itulah yang bisa meredakan daya pemusnah dari kekuatan Saiful, oleh karena itu mereka harus mempersiapkan Datuak Saluang Maut untuk menerima murid istimewa ini.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kembali ke perjalanan Basri dan Saiful, mereka sudah mulai memasuki wilayah kampong Basri, Saiful masih belum terbangun dari tidur pulasnya. Kereta mulai dikurangi kecepatan larinya karena sudah memasuki pinggiran nagari tempat tinggal Basri dan keluarganya.<span>&#160;</span> Akhirnya tepat tengah hari, kereta berhenti di sebuah gerbang berwarna hitam bergaris-garis emas, terlihat para pengawal<span>&#160;</span> membuka pintu dan melihat siapa gerangan yang datang. Ternyata majikan mereka, segera mereka membuka pintu lebar-lebar agar kereta kuda itu bisa masuk ke halaman depan rumah. Dan salah seorang dari pengawal berlari masuk ke dalam rumah untuk memanggil nyonya majikannya. Tidak lama dari dalam rumah keluarlah sang nyonya yang berjalan cepat menghampiri suaminya yang sedang turun dari kereta kuda.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Rumah besar milik keluarga Basri ini tidak terlihat mewah hanya kelihatan bersih dan rapi serta semuanya tertata dengan cita rasa yang tinggi sehingga terasa nyaman bagi mata yang memandang. Bangunan rumah terbagi atas 2 bagian, yaitu rumah tamu dan rumah utama, rumah tamu terletak di depan rumah utama. Rumah tamu ini memang disiapkan untuk tamu-tamu Basri yang datang menginap, terdiri dari 4 kamar tidur, ruang menerima tamu dan ruang makan tamu jadi tidak bercampur dengan rumah utama. Jika berjalan terus menuju belakang ruang makan maka mereka akan sampai ke rumah utama di mana Basri dan keluarganya tinggal. Biasanya jika tidak ada tamu yang menginap maka rumah tamu ini akan ditutup dan para penghuni rumah utama akan menggunakan jalan belakang untuk melakukan aktivitas keluar masuk rumah</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Basri yang merasa senang sekali bisa pulang ke rumah segera meloncat turun, dan melihat isterinya berlari menhampirinya, dengan membentangkan kedua lengannya mendekati sang isteri tercinta begitu sudah dekat langsung memeluknya dengan penuh kerinduan. Sesaat mereka berdua berpelukan erat di depan para pembantu dan pengawal tanpa sungkan dan rikuh, para pembantu dan pengawal yang sudah lama mengikuti mereka mengetahui ritual ini, jadi mereka sudah terbiasa dengan keadaan itu. Mereka ikut merasakan kebahagiaan majikan mereka, dan mereka sudah tahu tugas mereka untuk membongkar bawaan sang majikan, hasil dari perjalanannya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Saat mereka membuka kereta yang membawa Saiful, salah satu dari pembantu itu menjerit kaget karena tidak menyangka melihat ada seorang anak dalam kereta itu.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ropita yang mendengar jeritan kecil tersebut melepaskan pelukan suaminya dan memandang kepada pembantunya dengan kerutan di dahi.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“ Ada apa, Upik?’ Tanya Ropita.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Maaf nyonya, di dalam kereta ada seorang anak kecil, saya jadi kaget,”sahut Upik.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ropita berbalik menatap suaminya dengan bingung, sang suami terlihat tersenyum melihat sang isteri.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Kanda, sia awak bawok kamari (siapa kamu bawa kemari) ?” Tanya Ropita.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Ropita, kanda ingin dinda berkenalan dengan muridku, dia anak yang sangat special sekali. Kanda jatuh sayang padanya ketika pertama kali melihat dia, kanda harap dinda juga menyukainya seperti kanda menyukainya.”</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Basri tidak menceritakan keadaan Saiful kepada Ropita, dia ingin sang isteri mengetahui sendiri kondisi anak itu. Tapi Ropita mulai punya perasaan tidak suka, kalau memang anak itu menjadi murid suaminya kenapa anak itu tidak turun dan memberi hormat kepadanya. Dia ingin menyindir suaminya tentang etiket menghormati orang yang lebih tua yang harus diajarkan kepada muridnya itu, tapi belum sempat dia bicara suaminya sudah melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kereta di mana anak itu berada dan naik ke dalamnya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Karena penasaran Ropita mengikuti suaminya untuk melihat murid suaminya itu, ketika suaminya keluar sambil menggendong seorang bocah laki-laki yang sedang tertidur, dia merasa tidak senang karena dia menganggap anak yang tidak punya sopan santun. Sudah sampai di tempat bukannya bangun tapi malah masih tertidur dengan enaknya, yang mengherankan adalah suaminya menggendong anak itu dengan hati-hati sekali dan memegang punggungnya dengan lembut sekali seakan takut anak itu akan terluka. Tatapan mata suaminya terkandung rasa sayang yang mendalam, dia belum pernah melihat suaminya mempunyai pandangan yang lembut seperti ini sebelumnya kepada anak-anak siapapun, walaupun dia tahu suaminya sangat merindukan untuk memiliki anak.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dan suaminya suka sekali kalau rumahnya kedatangan anak-anak kecil bermain, begitu banyak kemenakan yang dimiliki suaminya dari saudara-saudaranya tapi dia belum pernah sekalipun melihat suaminya mempunyai pandangan mata selembut terhadap anak yang ada digendongannya itu. Ini membangkitkan perasaan tidak enak dalam hatinya seperti perasaan cemburu karena selama ini suaminya hanya menatap dia dengan kelembutan seperti itu tapi kini dia mempunyai saingan seorang bocah. Ingin sekali dia melihat wajah anak itu tapi dia belum bisa melihat karena wajahnya tertutup rambut dan leher suaminya. Suaminya berjalan dengan cepat tapi tidak menggoyangkan tubuhnya seakan takut anak itu akan bangun akibat gerakan tubuhnya kala berjalan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Melihat hal ini semakin heran dan tidak enak perasaan Ropita akan kelakuan suaminya, karena itu dia mengikuti sang suami ke arah kamar yang sudah diminta suaminya melalui merpati pos untuk disiapkan. Ropita yang telah terbiasa dengan tamu-tamu suaminya yang sering datang ke rumah mereka sempat terheran dengan isi surat dari suaminya, yang meminta kamar di sebelah kamar mereka untuk dibersihkan dan disiapkan menerima tamu. Biasanya teman-teman dekat saja yang bisa menginap di rumah utama mereka, tapi mereka tidak pernah tidur di sebelah kamar utama. Tadinya Ropita berpikir saudara angkat suaminya yang datang menginap di rumah, sehingga harus menyiapkan kamar di rumah utama, tapi yang mengherankan kenapa harus kamar di sebelah kamar mereka.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kamar itu tidak pernah digunakan oleh siapapun karena tadinya disiapkan Basri untuk anak mereka sebelum dia tahu bahwa dia tidak bisa mempunyai anak. Jadi untuk menjaga perasaan sang suami, kamar itu tidak pernah digunakan karena dia pernah melihat suaminya memasuki kamar itu tengah malam dan berdiri merenung di tengah kamar. Sejak itu kamar tersebut tertutup bagi siapapun, kecuali suaminya, seolah kamar itu merupakan ruang meditasi suaminya. Sekarang suaminya minta kamar tersebut dibersihkan dan dirapikan ternyata untuk menyambut muridnya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mereka dengan diam terus berjalan menuju kamar itu, begitu pintu kamar dibuka tercium bau wangi yang segar memenuhi ruangan kamar itu, terlihat tempat tidur dialasi dengan kain lembut berwarna biru langit senada dengan kelambu yang melingkari tempat tidur itu, sesuai dengan permintaan suaminya. Dengan sebelah tangannya, Basri membuka jendela yang ada di samping ranjang sinar terang memasuki kamar, tapi sinar matahari tidak menyengat masuk kamar karena posisi kamar berada di selatan jadi baik matahari terbit maupun matahari terbenam tidak akan menyorot ke dalam kamar ini.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Setelah itu dengan hati-hati Basri membungkukan badannya untuk meletakan Saiful di tempat tidur, Ropita yang berada di belakang suaminya belum bisa melihat wajah anak itu. Basri yang tahu rasa penasaran isterinya bertanya-tanya dalam hati bagaimana wajah isterinya jika melihat wajah hancur anak ini akibat pukulan ayahnya. Dia tahu hati lembut sang isteri melihat kemalangan orang lain, walaupun terlihat di permukaan isterinya seorang perempuan yang keras. Kini dia ingin tahu apa yang akan terjadi pada isterinya saat melihat keadaan Saiful, pelan-pelan dia menegakkan tubuhnya dan bergeser ke samping untuk memberi kesempatan kepada isterinya melihat wajah muridnya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ropita yang sudah sangat penasaran buru-buru bergerak ke depan untuk melihat jelas wajah murid suaminya. Begitu dia melihat dia langsung berteriak kaget dan terpukul sekali melihat wajah bocah itu, dia melihat wajah yang membengkak dan biru keunguan di hampir semua kulit wajah anak itu. Dia tahu ini bukan karena jatuh maka wajah anak itu seperti ini, dengan gemetaran tangannya menyentuh lembut wajah yang membengkak membiru itu. Hatinya miris sekali dan matanya langsung berkaca-kaca melihat keadaan anak ini. Dengan membisu dia memalingkan wajahnya ke arah suaminya, pandangan matanya menanyakan apa yang terjadi pada anak ini.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Suaminya melihat wajah sang isteri yang pucat sekali dan mata yang berkaca-kaca itu mengetahui bagaimana perasaan isterinya karena itu pula perasaannya saat pertama kali melihat keadaan Saiful. Ditariknya tangan sang isteri untuk duduk di dekat meja yang ada di tengah ruangan, dia ingin menceritakan kisah Saiful dalam posisi duduk karena dia merasa lemas setiap kali mengingat pagi saat dia mau membawa anak itu. Mulailah dia bercerita dengan diawali dari mimpi Bumi dan permintaan sesepuh untuk dia menerima murid, dilanjutkan dengan perkenalannya dengan Saiful dan berakhir dengan pemukulan orang tuanya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mendengar kisah Saiful, Ropita menangis pilu dan mengepalkan tangannya erat-erat, ingin sekali dia menghajar kedua orang tua Saiful sampai minta ampun. Hatinya yang tadinya tidak senang kepada Saiful kini berbalik menjadi iba dan terbitlah perasaan sayangnya kepada bocah malang ini. Dengan saputangan pemberian suaminya, Ropita menghapus air matanya yang berderai dan hidungnya yang meler. Pelan-pelan dia bangkit dan mendekati bocah malang itu, dia menatap bocah itu berlama-lama seakan ingin mencari tahu bagaimana wajah anak itu kalau tidak bengkak dan membiru seperti ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><br />
Kemudian dia tersadar anak itu pasti kotor dan belum menukar bajunya akibat perjalanan mereka. Buru-buru dia berbalik ingin menyuruh pembantunya membeli baju untuk anak ini, tapi sang suami yang sudah tahu isi hati isteri sudah terdahulu menyuruh pembantu mengambil buntalan berisikan baju Saiful yang dia beli sebelum dia pergi dari Batang Kapeh serta membawa air untuk melap debu yang melengkat di tubuh bocah itu. Di meja sudah tersedia semua kebutuhan isterinya, Ropita yang menatap barang yang ada di meja tersenyum kepada sang suami.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan bantuan sang suami, dia menarik meja tersebut mendekati ranjang supaya memudahkan dia melap tubuh dan menukar baju bocah malang ini. Basri yang mengerti perasaan Ropita berusaha menyampaikan kondisi Saiful dengan hati-hati takut isterinya kaget sekali.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Dinda, selesai awak melap tubuh Saiful tolong oleskan obat-obat ini di wajah dan tubuhnya yah.”</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ropita yang mendengar perkataan suaminya terkejut sekali, karena tadinya dia berpikir bahwa orang tua anak ini hanya memukuli wajah saja tapi mendengar suara suaminya dan tatapannya, dia tahu dugaannya salah. Tangannya menjadi tambah gemetar ketika mau membuka baju Saiful, untuk dilap, setelah membuka kancing bajunya, dia mendudukan anak itu menyandarkan ke tubuhnya pelan-pelan melepaskan bajunya. Ketika dia melihat punggung anak itu dia tersirap dan terbelalak kaget, saat mendorong tubuh anak ini menjauh dari tubuhnya dia melihat bekas luka-luka dan luka-luka baru yang bertebaran di seluruh tubuh anak itu baik di punggung maupun tubuh depannya bahkan sampai di kedua tangannya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Langsung air matanya jatuh berderai-derai, mulutnya gemetar menahan isakan melihat penderitaan bocah kecil ini. Dia memeluk anak ini dengan lembut takut melukainya, kini dia mengerti kenapa suaminya memperlakukan bocah ini dengan lembut. Sekujur tubuh kecil dan rapuh itu penuh dengan luka, hatinya terasa sakit sekali menahan kemarahan dan kepedihan akan penderitaan anak sekecil ini. Dengan lembut dia meletakan kembali anak itu ke tempat tidur dan mulai melap tubuh anak ini dengan hati-hati takut menyakitinya. Setelah selesai melap seluruh tubuhnya, dia menarik celana panjang bocah itu, kembali terpampang luka-luka baru dan bekasnya yang memenuhi kaki kurus itu.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Air mata tidak berhenti jatuh di wajahnya setiap melihat luka-luka itu, mata dan hidungnya sudah berwarna merah, tangan suaminya di pundak menepuk-nepuk menenangkan hatinya. Tapi hatinya tetap tidak tenang, hatinya sakit sekali, hal ini membangkitkan perasaan keibuannya dengan kuat sekali, seperti induk ayam yang melindungi anaknya. Dia berjanji dalam hati selama anak ini berada di bawah perlindungannya jangan harap ada yang boleh memukulnya, kalau sampai terjadi dia akan menghajar orang itu tanpa ampun.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Selesai melap, dengan lembut dia mengoles obat ke seluruh luka yang ada di wajah, tubuh, punggung, tangan dan kaki Saiful. Untung bocah itu dalam kondisi tertidur kalau dia bangun pasti akan meringis kesakitan akibat obat yang dioleskan pada luka sekujur tubuhnya. Obat Siti sangat mujarab karena Saiful tidak demam selama dalam perjalanan, bahkan perlahan-lahan warna biru dan bengkak Saiful berkurang banyak. Basri tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan isterinya pada saat pertama kali melihat keadaan Saiful yang berdarah-darah di seluruh wajahnya akibat pukulan bapaknya. Mungkin saat itu langsung akan dibunuhnya laki-laki itu tanpa penyesalan sedikitpun.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Seiring dengan memakaikan baju kepada bocah malang ini semakin meningkatkan perasaan sayang Ropita. Sesudah selesai merawat dan memakaikan bajunya, Ropita masih tetap duduk di kursi di samping ranjang dengan diam membisu menatap anak itu. Suasana dalam ruangan itu sunyi, Basri juga tidak ingin membuka percakapan dengan isterinya yang terlihat larut dalam pikirannya. Dia sendiri juga merasakan apa yang dirasakan oleh isterinya, di saat mereka berdua melamun sambil menatap Saiful, tiba-tiba bocah itu membuka matanya dan langsung menatap ke mata Ropita. Tatapan mata yang sendu dan bingung itu terasa menghunjam jantung Ropita, ternyata anak ini mempunyai bentuk mata yang indah sekali.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Saiful yang terbangun melihat seorang wanita cantik sedang menatapnya dengan air mata yang menetas di pipi menjadi kebingungan. Dia dapat merasakan aliran kasih sayang yang mendalam dari wanita cantik itu kepadanya, hal ini pernah dia rasakan ketika dia digendong oleh gurunya. Mengingat akan gurunya buru-buru matanya bergerak ke sekeliling ruangan, dan dia melihat gurunya berdiri di belakang wanita cantik itu sedang menatapnya dengan lembut dan mulut tersenyum gembira. Dia merasa senang melihat gurunya ada di sana , matanya terlihat memancarkan kerlip senang walau itu tidak merubah tatapan sendunya. Biarpun dia merupakan anak yang hidup dalam penderitaan tapi dia juga seorang anak yang sangat cerdas, dia dapat menduga wanita cantik yang menatapnya dengan penuh kasih sayang itu adalah isteri gurunya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dia mengalihkan pandangan matanya kepada wanita cantik itu, perasaan tenang dan bahagia terasa mengalir di tubuhnya, ketika membalas tatapan wanita itu. Mengingat sopan santun yang diajarkan teman-temannya kepadanya, perlahan dia membuka suara untuk menyampaikan salam kepada guru dan isteri gurunya, dia berusaha menggerakan tangannya untuk menggapai tangan isteri gurunya untuk dicium sebagai tanda hormat. Tapi dia tidak mampu menggerakan tangannya seakan tangannya berat sekali, Ropita yang menyadari apa yang hendak dilakukan anak ini menjadi terharu dan air mata kembali berderai di pipinya yang mulus itu.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sudah sayang, tidak perlu kamu menggerakan tanganmu, tunggu sembuh dulu yah,” kata Ropita dengan suara serak kebanyakan menangis.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Saiful yang selama hidupnya tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya merasa mendapat limpahan kebahagiaan dalam hatinya walau di wajahnya hal itu tidak tercermin tapi kerlip senang terlihat di mata sendu itu. Ropita yang mulai mengenal ciri-ciri pribadi anak itu mengetahui hal ini, dia juga merasa senang karena anak ini bisa menerima dirinya. Anak ini menatapnya terus bergantian dengan suaminya seakan tidak ingin mereka pergi meninggalkannya. Hati kedua suami isteri ini bercampur aduk, ada perasaan senang, ada perasaan pedih, ada perasaan bahagia kini mereka mempunyai anak yang mereka bisa urus, ada perasaan sakit setiap membayangkan penderitaan anak ini.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Perlahan jari tangan Ropita membelai wajah yang sembab membiru itu, Saiful membiarkan tangan itu mengelus wajahnya dan bisa merasakan kesejukan yang mengaliri hatinya. Tidak terasa setitik air mata bergulir dari kedua sudut matanya, walau mata itu tetap menatap sendu tapi Ropita sudah tidak melihat kesedihan yang dalam seperti pertama kali anak itu menatapnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><br />
“Ipul, kamu lapar ndak? Kan sudah seharian kamu tidak makan,” Tanya Basri.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><br />
Malu-malu bocah itu menganggukkan kepalanya tanda dia memang lapar, melihat itu buru-buru Ropita berdiri dan berjalan keluar menuju dapur untuk membuatkan bubur dan sup agar bisa dimakan Saiful. Dia tahu bocah itu masih susah untuk makan nasi dengan bibir yang menebal dan ada luka di sekitar bibir dalamnya kena giginya akibat gamparan keras ayahnya, jadi pasti akan terasa menyakitkan bila makan makanan yang keras.<br />
<br />
Sementara itu Basri menemani Saiful di kamar dengan bercerita kisah perjalanan hidupnya sambil menunggu isterinya mengambilkan makanan. Saiful mendengarkannya dengan penuh perhatian, jika ada kejadian yang lucu dia berusaha tersenyum walau itu menyakitkan bagi dia menggerakan wajahnya, tapi dia berusaha menyenangkan hati gurunya. Basri bisa melihat anak itu menahan sakit setiap kali berusaha tersenyum tapi tidak dengar keluhan apapun dari bibir mungil itu, hatinya pilu sekali melihat hal itu tapi dia tidak menegur bocah itu karena dia tahu Saiful menikmati semua ceritanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Basri jarang sekali mau menceritakan kisah hidupnya kepada siapapun, biasanya orang lain yang lebih suka berbicara tentang diri mereka kepadanya. Kini dengan hanya melihat kerlipan indah di mata sendu itu mengalirlah semua kenangan yang pernah dia jalani selama hidupnya. Mungkin karena cerita Basri yang sangat seru membuat Saiful bisa bertahan melawan lapar yang sudah menyerang perutnya. Akhirnya tidak tertahan juga perut Saiful berbunyi nyaring minta diisi, bocah ini merasa malu sekali dengan gurunya. Mendengar bunyi dari perut Saiful, Basri tertawa terbahak-bahak apalagi dia tahu anak itu malu sekali terlihat dari perubahan warna kulit wajahnya yang tadinya biru keungu-unguan sekarang semakin menggelap warnanya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sabar yah nak, ibu sedang ambil makanan di dapur buat kamu,” kata Basri sambil membelai rambut hitam lebat milik Saiful.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dia sengaja menyebutkan dirinya dengan panggilan bapak dan isterinya dengan panggilan ibu, karena dia ingin membiasakan Saiful memanggil mereka dengan panggilan tersebut. Basri tidak ingin anak itu memanggil dia guru dan isterinya ibu guru, karena dia menginginkan Saiful menjadi anaknya sehingga panggilan itu terasa lebih nyaman bagi dia.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tidak lama masuklah isterinya dengan membawa senampan makanan penuh untuk suami dan bocah yang sudah merebut hatinya itu. Setelah meletakan makanan di meja yang masih berada di samping ranjang, Ropita duduk di samping Saiful dengan perlahan-lahan membantu anak itu bangun untuk duduk. Dia tahu penderitaan anak itu untuk berusaha duduk, pasti seluruh tubuhnya berdenyut kesakitan saat dia menggerakan tubuhnya dan menduduki bekas pukulan yang ada di pantatnya. Hebatnya tidak keluar suara keluhan apapun dari mulut mungil tertutup rapat itu, bahkan di wajahnyapun tidak tergambar kesakitan yang dia rasakan. Tapi jika memperhatikan dengan seksama maka ada siratan kesakitan dalam mata sendu itu, dalam hati Ropita bertanya-tanya penderitaan seperti apa yang dialami anak ini sehingga rasa sakit saja tidak bisa dia ungkapkan keluar.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Hati Ropita seperti diiris-iris membayangkan bocah berusia 6 tahun harus menanggung penderitaan seperti ini. Dia berjanji mulai saat ini tidak ada seorangpun yang boleh menyakiti Saiful, kalau tidak akan berhadapan dengannya langsung dan dia tidak akan segan-segan menghabisi nyawa orang yang berani menyakiti anaknya. Iya, Saiful mulai sekarang adalah anak dia dan Basri, dia yakin sang suami pasti setuju dengan usulan dia untuk mengangkat Saiful sebagai anak mereka. Dia akan membicarakan masalah ini dengan suaminya nanti malam, sekarang yang terpenting mengisi perut anaknya yang sudah lapar.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ropita menyadarkan tubuh Saiful pada bantal-bantalan yang ditegakan di belakang punggungnya. Mata sendu bocah itu menatapnya dengan lekat-lekat seperti ingin mengukir wajah dia dan Basri di dalam hatinya. Pelan-pelan Ropita menyuapi Saiful untuk makan, setiap dia melihat kejaban mata tanda kesakitan dari anak itu, hatinya terasa sesak sekali bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Basripun mengalami hal yang sama, berkali-kali dia menghela nafas panjang untuk mententramkan gejolak kesedihan di hatinya. Dia tidak bisa makan makanan yang telah disediakan isterinya di meja setiap melihat Saiful berusaha menelan makanannya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Biarpun masih bocah kecil tapi Saiful sudah dimatangkan oleh penderitaan sehingga ketika ada sepasang suami isteri yang begitu hangat dan penuh kasih sayang kepadanya, dia seperti sebuah spon yang menyerap air itu terus menerus. Dia ingin sekali membahagiakan kedua orang yang baik hati ini dan berjanji dalam hati, budi kebaikan ini akan selalu dia ingat dan berusaha membalasnya dengan segenap jiwa raganya. Melihat wanita cantik itu meneteskan air mata untuknya dia merasa terharu sekali, dengan susah payah dia berusaha menggerakan kedua tangannya untuk mengusap butir-butir air mata yang mengalir di pipi yang mulus itu.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Usahanya berhasil menghapus air mata di pipi itu, dengan suara yang begitu lirih sekali dia berkata kepada Ropita, “Ibu, jangan menangis lagi, sakit dadaku melihat ibu menangis.”<br />
<br />
Jika mereka bukan sepasang pendekar yang hebat dan sudah terlatih pendengarannya mungkin mereka tidak akan bisa mendengar suara lirih yang keluar dari bibir mungil itu. Mendengar perkataan itu Ropita tambah keras tangisnya dan memeluk tubuh ringkih itu erat-erat, tersentuh perasaan keibuannya dengan perkataan Saiful itu. Basri juga tersentuh sekali dengan kehalusan jiwa Saiful, dia tahu isterinya tidak akan pernah melepaskan Saiful pergi jauh-jauh dari sisinya, entah bagaimana nanti kelak bila saatnya Saiful akan dibawa pergi oleh gurunya yang lain. Dia juga tidak berani membayangkan bagaimana perasaannya ketika Saiful dibawa pergi oleh guru barunya, yang penting saat sekarang ini dia berdua isterinya akan merawat dan menjaga Saiful dengan sebaik-baiknya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sejak hari itu Saiful menjadi salah satu penghuni rumah besar milik Basri dan Ropita, ternyata benar dugaan Basri, anak ini mempunyai kehalusan budi pekerti dan pribadi lembut yang sangat menunjang dia untuk disayang oleh semua penghuni rumah. Setiap orang menatap mata sendu itu terutama wanita rasanya ingin melakukan apapun agar mata itu tidak berselimutkan kesedihan yang dalam. Semakin hari seiring dengan kesembuhannya, berkat perawatan Basri dan isterinya beserta seluruh penghuni rumah, wajah dan tubuh Saiful semakin pulih seperti sedia kala. Mereka terkagum-kagum melihat di bawah wajah yang membengkak mengerikan itu tersimpan seraut wajah yang tampan sekali walau si pemilik jarang tersenyum tapi sorotan sendu yang lembut darinya membuat semua orang tahu isi hatinya yang sedang senang.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Selama hampir 3 bulan dia tinggal di rumah besar itu hanya sekali sepasang suami isteri itu melihat dia tertawa terbahak-bahak ketika dia mendengar cerita bagaimana Basri dikerjain oleh Ropita saat mereka muda dulu. Ternyata suara tertawanya sangat merdu sekali mengalun seindah tatapan matanya yang berbinar bahagia. Memang yang baru mampu membuat dia tertawa hanya Basri dan Ropita saja, sedangkan penghuni yang lain baru bisa mengundang senyumnya saja. Para pembantu dan pegawal rumah itu sudah mendengar kisah anak angkat sekaligus murid majikan mereka dari para kusir yang datang menemani sang majikan pulang ketika itu. Jadi mereka sudah punya perasaan kasihan dan iba terhadap nasib anak yang malang ini, mereka berusaha untuk membuat anak itu betah&#160;tinggal di rumah besar ini.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mereka memanggil dia tuan muda, tapi dia bersikeras meminta mereka memanggil dia dengan nama Ipul, tapi mana mungkin mereka mendengar permintaannya. Anak ini ringan tangan, dan senang membantu siapa saja walau jarang bicara tapi dia suka mendengarkan siapa saja bercerita dengan tatapan mata yang begitu semangat. Semua penghuni rumah dipanggilnya dengan rasa hormat, dari pembantu rumah tangga sampai pengawal sehingga mereka semakin jatuh sayang dan diam-diam menghormati tuan muda mereka ini.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Di suatu senja Basri memanggil Saiful dan isterinya untuk duduk-duduk di teras tingkat dua rumah mereka sambil memandang matahari yang hampir tenggelam. Basri melihat Ropita selalu mendudukan Saiful di tengah-tengah antara mereka berdua, lalu mereka berdua akan berbisik-bisik seru walau kebanyakan Ropita yang berbisik tapi tidak mengurangi keseruan bisik-bisik mereka. Dan dia melihat pancaran kebahagiaan dari dua orang yang dia sayangi ini, sekali-kali dia melihat Saiful memeluk Ropita dengan erat sekali dan pernah dia melihat anak itu mencium pipi isterinya. Melihat hal-hal ini dia hanya bisa tertawa puas karena mendapat murid yang cocok dengan isterinya dan penghuni lain. Sebenarnya juga dia senang sekali karena Saiful sangat mencocoki hatinya juga, anak itu tidak pernah menerima perkataan dia begitu saja, jika dia tidak mengerti maka Basri bisa membaca pertanyaan dari mata dan wajahnya. Ekspersi mata dan wajah Saiful hanya terlihat jika dia menginginkan mereka melihatnya, bila dia tidak ingin memperlihatkan maka tiada orang yang bisa membacanya.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Wajah tampan itu begitu dingin tapi diperlembut dengan sepasang mata indah&#160;nan sendu, sering membuat Basri berpikir bagaimana jika dia besar kelak berapa banyak gadis yang akan jatuh bangun karenanya. Sekarang saja semua wanita penghuni rumah ini sangat memujanya, apapun yang dikehendaki akan mereka lakukan dengan cepat dan senang hati. Untungnya anak ini tahu diri tidak termanjakan dengan keadaan lingkungan yang begitu siap menolongnya setiap saat mengingat latar belakangnya. Basri sendiripun harus mengakui dia sendiri selalu ingin memanjakan bocah tampan ini dengan memberikan mainan yang mahal dan bagus, tapi pernah sekali waktu Saiful dengan takut-takut bicara padanya mengatakan untuk tidak terlalu memanjakannya karena dia takut lupa diri dan menjadi takabur.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mendengar pemintaan seperti itu Basri semakin sayang pada Saiful, dia tahu dia tidak salah memilih Saiful sebagai muridnya. Ternyata tidak hanya pada Basri, Saiful mengatakan hal serupa kepada isterinya untuk tidak membelikan dia banyak baju yang mewah dan mahal serta perhiasan untuk dipakainya. Dia sudah merasa cukup kaya dengan kasih sayang dan kehangatan dari mereka berdua, kata-kata bijak yang keluar dari seorang bocah yang penuh penderitaan hidupnya sungguh meluluhkan hati bagi si pendengarnya. Memang penderitaan yang dideritanya sejak kecil membuat dia dewasa sebelum waktunya, bayangkan anak yang berusia 6 tahun yang kenyang akan siksaan dari orang terdekatnya sudah bisa menahan dirinya dari nafsu ketamakan dan selalu bersyukur atas apapun yang diterimanya sungguh bocah yang sangat istimewa sekali.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tapi kadang-kadang Basri dan Ropita melihat bocah itu menatap langit dengan tatapan sendu berselimutkan kepedihan seakan ingin mengadu kepada bintang-bintang semua kepedihan hatinya yang tersimpan rapi di lubuk hatinya yang paling dalam. Mereka berdua tidak berhasil mengorek apa penyebab kesedihan yang tercermin di mata itu, akhirnya mereka hanya bisa menghibur bocah itu dengan kasih sayang yang mereka miliki.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Memasuki bulan keempat Saiful tinggal bersama mereka, Basri mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada muridnya itu, di bawah pengawasan isterinya, dari pagi sampai malam anak itu tidak ada lelahnya berlatih. Kadang-kadang Basri suka pergi ke daerah-daerah untuk mengecek usahanya, dan saat dia pulang dia terkejut sekali dengan kemajuan dari Saiful. Yang tidak dia sadari adalah berkat campuran buah Lembah Setan dan obat racikan Siti membuat Saiful bisa melakukan gerakan-gerakan yang sulit penuh tenaga terasa lebih mudah. Ditambah dengan kecerdasannya yang memang di atas rata-rata membuat kemajuan Saiful sangat pesat sekali.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dalam kurun waktu 3 bulan setelah kesembuhannya, Saiful sudah bisa meniru semua gerakan silat dasar yang diajarkannya bahkan jurus silat dasar dari isterinya juga mampu dilakukannya dengan sempurna, hanya sayang tenaga dalamnya belum memadai untuk disalurkan di setiap pukulannya. Tapi kemajuan ini sangat menyenangkan hati Basri dan isterinya, mereka tambah semangat mengajarinya. Basri juga tidak melupakan wejangan dari Datuak Inyiak Balang untuk melatih ilmunya lagi dan mencari buku pemberian gurunya dulu di perpustakaan keluarga yang berisikan ilmu Mato Alang (Elang) Jelajah Alam yang sangat hebat untuk melawan bangsa kegelapan.</p>
<br />
<p class="MsoNormal" style="MARGI]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="TEXT-ALIGN: left"></div>
<p><font size="5"><font color="#FF00FF">VII : Menerima anak harimau yang terluka</font></font></p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3">Dikarenakan sekujur badan Saiful terluka dan lembam maka mereka sepakat kereta yang tadinya hendak digunakan oleh Masnan dan Burhan, dipakai Basri untuk mengangkut Saiful yang terluka. Anak itu butuh ruang untuk istirahat akibat luka-lukanya. Dan kebetulan juga Masnan memang ingin cepat-cepat kembali memilih menggunakan kudanya membawa Burhan. Sedangkan barang-barangnya bisa dikirim menyusul, hanya barang-barang yang penting saja dibawanya seperti beberapa lembar baju Burhan.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3"><br />
Segera Basri mengeluarkan perlengkapannya untuk membuat kereta yang mengangkut Saiful menjadi nyaman bagi orang yang kesakitan seperti anak itu. Basri merasa hatinya sakit setiap kali melihat keadaan Saiful, karena itu ia mempercepat kerjanya agar bisa segera membawa anak itu pergi, dia juga mengupah orang untuk membantunya selama perjalanan di samping para kusir keretanya. Perjalanan ke kampung halamannya dari Nagari Batang Kapeh ini cukup jauh bisa memakan waktu 3 hari 2 malam, makanya dia membekali diri dengan segala obat2an dan makanan kering yang bergizi serta air minum yang bersih untuk membantu memulihkan kondisi Saiful secepatnya.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3"><br />
Setelah semua persiapan selesai, mereka segera berangkat, Saiful yang dalam keadaan lemah digendong Basri dengan hati-hati diletakkan di kasur yang sudah disiapkan sebelumnya. Basri yang menggendong tubuh ringkih Saiful merasa hatinya sesak dan rasanya ingin memukul orang. Dia tidak habis pikir kenapa ada orang tua yang tega memukuli anaknya sendiri seperti ini, begitu banyak dia menemui orang jahat dan kejam tapi belum pernah dia melihat kekejaman seperti ini.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3"><br />
Sempat dalam hati dia mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan dalam mengatur takdir manusia , dia yang sangat mengharapkan bisa diberikan anak, Tuhan tidak berikan kepadanya tapi malahan diberikan kepada mereka yang tidak bertanggung jawab atas titipan Tuhan itu. Tapi dengan dasar iman yang teguh dia menarik kesimpulan mungkin justru inilah rencana Tuhan mempertemukan dia dengan Saiful yang menderita untuk menjadi murid sekaligus anaknya. Dia sadar jika anak itu lahir dari rahim isterinya belum tentu anak itu akan bisa menjadi anak yang baik karena pasti akan sangat dimanjakan oleh orang tua Basri maupun orang tua isterinya. Dengan mempunyai dasar penderitaan seperti Saiful, melatih anak itu untuk lebih sabar dan menghargai hidup serta tahan derita.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3">Tetapi tetap saja dia tidak terima ada seorang laki-laki besar memukuli seorang anak kecil bertubuh kurus dan ringkih tanpa memikirkan akibatnya. Karena itu timbul niat dalam hatinya untuk tidak akan pernah memberikan uang yang telah dijanjikan kepada orang tua Saiful sepeserpun.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3">Hari sudah lewat tengah hari ketika Basri berpamitan untuk berangkat pada Bumi dan Kahar serta Siti, tiba-tiba dari samping kereta sebelah kanan bapaknya Saiful memunculkan diri dengan agak takut-takut mendekati Basri dan Bumi.<br /></font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3">&#160;</font></p>
<p class="MsoNormal" style="FONT-SIZE: 14px; MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><font size="3"><span style="COLOR: #3366ff; FONT-FAMILY: 'Bookman Old Style'"><span style="COLOR: #111111; FONT-FAMILY: Times New Roman">Aswin yang pertama kali melihat lelaki itu sudah bergerak hendak menghajar pria dewasa itu, matanya sudah memancarkan sinar kehijauan tanda kemarahannya yang memuncak, untung keburu ditahan Kahar yang kebetulan berdiri di sampingnya. Dengan perlahan Kahar membujuk anak itu untuk jangan bertindak gegabah yang nantinya malah menghambat kepergian temannya itu. Anak itu mengepalkan tangannya dengan geram menahan kemarahannya karena dia juga kuatir Ipul bisa tidak berangkat kalau dia buat gara-gara.<?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /?><br />
</span></span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">
Basri yang melihat pria itu sudah langsung ingin menghajarnya untung Kahar dan Bumi sempat mencegahnya. Bapaknya Saiful buru-buru mundur ke belakang takut kena hajar oleh pria yang akan bawa anaknya pergi. Sebenarnya dia takut untuk datang menagih janji kepada pria itu karena dia tahu pria itu sangat<span>&#160;</span> membenci dia sehingga bisa saja memukulnya habis-habisan seperti dia memukuli anaknya tadi pagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Keberaniannya untuk memunculkan dirinya ke hadapan Basri dikarenakan isterinya sudah mengancam jika dia tidak bawa uang yang dijanjikan tersebut isterinya akan pergi dengan pria lain yang merupakan saingan dia sejak dulu dalam memperebutkan isterinya. Selain itu dia juga sudah bosan jadi orang miskin dan dilecehkan oleh orang yang paling dicintainya, dia berharap dengan adanya uang ini dia bisa mempertahankan isterinya dan hidup makmur tanpa perlu bekerja keras lagi. Dorongan hasrat inilah yang memicu keberaniannya untuk menemui Basri, dia rela dipukulin habis-habisan selama dia bisa menerima uang banyak dari Basri.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tadi pagi dia dan isterinya memukuli anak mereka, karena Saiful tidak mau pergi dengan Basri, anak itu bersikeras ingin tetap tinggal dan berjanji akan melakukan apapun selama tidak menyuruh dia pergi dari rumah. Isterinya naik pitam mendengar hal ini karena dia sudah membayangkan bisa mempunyai rumah bagus dan baju-baju yang mewah, langsung menghajar anak mereka. Lalu isterinya tidak puas mulai menteror dirinya untuk membuat anak mereka pergi dengan pria yang menjanjikan uang banyak pada mereka itu. Akibat tidak tahan dengan teriakan-teriakan kemarahan isterinya yang menyakitkan hatinya, dia ikut-ikutan memaksa anaknya untuk pergi dengan memukulinya sekaligus sebagai pelampiasan kesakitan dia akibat kata-kata tajam dari sang isteri.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kesakitan hati dia membuat dia lupa dan buta bahwa yang dia pukuli itu adalah anak kandungnya dan seorang anak yang masih kecil sekali dengan tubuh kurus dan ringkih seperti itu. Pukulan kayu yang menghajar tubuhnya, membuat dia tersadar apa yang telah dilakukannya, tapi dia sudah tidak sempat menyesalinya karena keburu pingsan. Setelah diguyur dengan air dingin oleh isterinya dia menjadi sadar dan dari isterinya, dia tahu yang memukul dirinya adalah tukang kebun wali nagari mereka, dan langsung dia menyadari dia akan mendapatkan masalah dengan janji uang itu. Sang isteri tidak mau tahu bahkan tetap memaksanya untuk menagih janji kepada Basri, sempat dia merasakan ketakutan yang sangat membayangkan apa yang bakal terjadi jika dia meminta uang tersebut. Tapi karena desakan dan ancaman dari sang isteri dan membayangkan hidup yang mewah membuat dia mengeraskan hati dan menepis perasaan ketakutannya untuk bertemu dengan Basri.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Melihat pria itu, hawa amarah Basri memuncak sampai ke ubun-ubunnya, kalau tidak dipegang Kahar dan dicegah Bumi ingin rasanya dia meremukkan muka pria itu dan menguncang-guncang otaknya supaya sadar akan perbuatannya. Dia tahu pria ini datang untuk menagih janjinya, dan dia sudah bertekat untuk tidak memberikan uangnya. Dengan tangan masih dipegang Kahar dan Bumi yang berdiri diantara dia dengan pria bajingan itu, dia berusaha menahan kemarahannya mengingat jika memperpanjang masalah dia tidak akan bisa membawa Saiful pergi secepatnya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Suasana penuh ketegangan, Bumi yang tidak suka dengan pria ini berusaha sabar karena terus terang saja ingin rasanya dia juga turun tangan untuk memberi hajaran kepada pria ini, tapi dia sadar sebagai wali nagari dia tidak bisa bertindak sembarangan saja. Melihat bahwa Basri tidak bisa bicara akibat kemarahannya, maka Bumi berinisiatif bertanya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“ Ada perlu apa, awak(kamu) datang ka siko (ke sini)?” Tanya Bumi</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Ehhh, anu… ini…ehh… mamaamauu tatannyaa,..”dengan gugup ayah Saiful menjawab.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Keringat dingin membasahi tubuhnya dan detak jantungnya lebih cepat dari biasanya sehingga dia merasa dadanya terasa sakit menahan gerakan detak jantungnya. Perasaan ingin terkencing juga dia rasakan sangat kuat sekali, kalau tidak teringat akan malu dia pasti sudah kencing di celana. Dia sadar pria yang bernama Basri itu sangat membencinya, tapi dia bertekat harus bisa mendapatkan uang itu walaupun mungkin jumlahnya kurang dari yang telah dijanjikan.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Mau nanya apa kamu?” Tanya Bumi.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Aaappppaaa Ssssaaaiiifffuulll..” dia menelan ludah tidak berani menatap Basri lagi. Dia berusaha menatap kereta supaya dia tidak gugup bicaranya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Cepat katakan mau apa kamu?” kesabaran Bumi semakin menipis karena dia sudah bisa menduga apa yang dikehendaki oleh ayah Saiful.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sssaaiiiffuuul sssuuudddaahhh mmmaaauuuu dddiiibbbaaawwwaaa pergi?” akhirnya dia bisa bicara juga, keinginan untuk kencing semakin mendesak, dia sudah kuatir betapa malunya dia kalau sampai terkencing di celana.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Iya, sudah mau berangkat. Sekarang kamu minggirlah ke sana , kereta sudah mau jalan.” Kata Bumi dengan tegas sekali.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ayah Saiful belum beranjak juga dari tempat dia berdiri di samping kereta yang mengangkut Saiful. Dia sudah tidak mampu berbicara menyatakan keinginannya karena dia sedang menahan keinginan untuk kencing, dan ketakutannya setiap kali melihat sinar mata Basri yang memandangnya dengan penuh kebencian dan hasrat membunuh yang terbayang di matanya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sudah sana…., kenapa belum ke sana juga, nanti bisa ketabrak kereta,” seru Bumi.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Bumi memandang kepada penjaga keamanan nagari yang kebetulan berkumpul di halaman tersebut untuk membantu mengangkut barang-barang ke kereta tadi. Mereka yang sudah lama bekerja dengan wali nagari itu sudah tahu apa arti pandangan dari wali Bumi. Segera dua orang dari mereka berjalan mendekati ayah Saiful untuk menariknya dari sisi kereta. Ayah Saiful melihat dua orang yang menghampirinya, dia tahu sebentar lagi mereka akan menariknya, buru-buru dia memeluk kereta tersebut erat-erat sambil berteriak-teriak memanggil nama anaknya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Untung saja tadi Siti sudah memberikan sedikit obat tidur untuk Saiful agar dia tertidur sebentar untuk memulihkan kondisi tubuhnya agar dalam perjalanan yang panjang ini dia tidak terlalu kelelahan. Jadi apapun yang dilakukan oleh ayahnya sekarang, dia tidak mengetahuinya, tapi tetap saja Basri takut jika Saiful terbangun akibat ulah ayahnya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Karena itu segera Basri berusaha membebaskan dirinya dari Kahar dan Bumi, dia sudah ingin sekali memukul hancur mulut orang itu. Kahar yang merasakan gerakan Basri buru-buru mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan Basri begitu juga dengan Bumi yang tahu adik angkatnya sudah tidak bisa tahan kesabarannya, segera berjalan menghampiri ayah Saiful.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Bumi tahu jika tidak dia lakukan sesuatu segera maka Basri akan melakukan sebuah tindakan yang akan disesalinya nanti. Dia harus menghentikan orang yang “sakit jiwanya” ini secepatnya, dia mengulurkan tangannya ke arah ayah Saiful, dan menotok kedua tangan pria itu dan menghentakan agar pegangannya terlepas dari kereta itu. Kedua tangan ayah Saiful menjadi lemas dan tidak bisa digerakan sama sekali, dia semakin ketakutan merasa dirinya terancam karena dia sadar wali Bumi merupakan seorang tokoh sakti.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dia membuka mulutnya besar-besar untuk menjerit supaya seluruh penduduk datang melihat wali Bumi mengancamnya. Dia tidak sadar bahwa semua penduduk sudah tahu perbuatannya terhadap Saiful, apalagi dengan adanya kejadian tadi pagi. Tukang kebun yang menjemput Saiful sudah menyebarkan gossip mengenai perbuatan ayah Saiful pada anaknya yang tentunya sudah dibumbui sana sini. Sehingga kalau dia mengharapkan bantuan penduduk atas hukuman yang diberikan wali Bumi padanya, dia tidak akan menerimanya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tapi sebelum sempat dia berteriak, kembali Bumi mengulurkan tangannya dengan cepat menotok lehernya supaya tidak mengeluarkan suaranya dan mulutnya tetap dalam keadaan menganga selebar-lebarnya. Ayah Saiful semakin ketakutan dengan hukuman yang diberikan oleh Bumi, kencing yang tadinya ditahan akhirnya keluar juga merembes di celananya dan membasahi kakinya. Dia sudah mulai merasa mulutnya kram akibat tidak bisa ditutup lagi, dia berusaha menutup mulutnya tapi tidak bisa karena kedua tangannya tidak bisa digunakan lagi.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Melihat kondisinya seperti itu beberapa penjaga keamanan yang ada di situ menutup hidung menghinanya sambil tersenyum-senyum mengejeknya. Dia tidak perduli lagi bagaimana keadaannya karena dia sudah panic dengan hukuman yang diberikan oleh wali Bumi, dengan menetaskan air mata ketakutan dia berusaha mohon ampun kepada wali Bumi dengan menekuk lututnya dan menyembah. Tapi Bumi tidak mengabulkannya karena dia memang ingin memberi pelajaran kepada pria itu agar tidak bertindak semena-mena kepada kaum yang lemah.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Bumi memberi isyarat kepada Kahar untuk menarik tangan Basri agar segera dia naik kereta dan berangkat, tidak perlu lagi menghiraukan keadaan di sini. Kahar perlahan-lahan menarik tangan Basri yang sudah terkepal kencang sekali.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Uda Basri, hayolah pergi, biar keadaan di sini uda Bumi yang mengatasinya. Kasihan Saiful kalau kelamaan di jalan dengan tubuh seperti itu nanti dia bisa tambah parah sakitnya,”kata Kahar kepada Basri.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Akhirnya Basri mau juga ditarik Kahar untuk naik ke kereta dan melanjutkan perjalanannya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Bumi, Kahar dan Siti, serta melemparkan pandangan jijik kepada ayah Saiful segera dia memerintahkan tukang kuda untuk jalan. Melihat hal itu ayah Saiful berusaha mengejar kereta tersebut karena dia melihat peluang mendapatkan uang akan segera hilang bersama berlalunya kereta itu. Dengan cucuran air mata dan kondisi mulut menganga serta kedua tangan yang lumpuh sungguh keadaannya sangat menyedihkan sekali.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"><span style="COLOR: #3366ff; FONT-FAMILY: 'Bookman Old Style'"><span style="COLOR: #111111; FONT-FAMILY: Times New Roman">Aswin yang melihat ayah Saiful berusaha mengejar kereta itu langsung bergerak cepat mengikuti lelaki itu, tapi kembali Kahar buru-buru mengikutinya, dan menarik tangannya untuk ikut mengantar kepergian temannya sampai di batas ujung nagari. Tujuan Kahar agar anak ini tidak menghajar bapak temannya itu, karena dia sudah lihat sorot penuh kemurkaan dalam mata Aswin.</span></span></p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kuda-kuda yang menarik kedua kereta tersebut dipacu kencang oleh para kusirnya, tidak berapa lama sudah meninggalkan ayah Saiful yang masih berusaha mengejar, tapi itu tidak berlangsung lama karena siksaan yang dirasakannya akibat mulutnya tidak bisa tertutup membuat dia tidak bisa mengejar kereta itu lagi.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan terduduk di atas tanah, dia menangis dan kedua kakinya menggosok-gosok tanah persis seperti anak kecil menangis jika anak itu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Penduduk nagari yang melihat dia merasa antara kasihan, kesal, dan lucu, tapi itulah hidup seorang laki-laki yang tidak bisa menjadi seorang lelaki sejati baik bagi dirinya sendiri maupun keluarganya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Bumi yang merasa sudah cukup hukuman yang diberikan kepada ayah Saiful berjalan mendekatinya, sambil memandang keras dia menegur, “Hmmm… untuk apa awak menangis, indak ado gunonya lai (tidak ada gunanya lagi). Nasi sudah jadi bubur, karena kelakukan awak (kamu) sendiri makanya teman ambo (saya) tidak mau memberikan uang seperti yang inyo (dia) janjikan pada awak.”</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tambah deras turun air mata ayah Saiful mendengarkan perkataan itu, jika Bumi belum menotok lehernya mungkin suara menangis menggerung-gerungnya kedengaran kencang sekali. Dia kesal sekali karena dia sudah membayangkan bakalan ditinggalkan isterinya jika dia tidak membawa pulang uang, sama sekali dia tidak memikirkan anaknya apakah anak itu bisa sembuh atau tidak, ke mana anak itu akan dibawa. Yang ada di benaknya sekarang bagaimana supaya menahan isterinya tidak pergi meninggalkannya dan bagaimana agar wali Bumi mau membebaskan dia dari hukuman yang menyiksa ini.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sekarang kamu dengarkan baik-baik apa yang hendak ambo (saya) sampaikan, sebagai seorang laki-laki kamu sudah gagal total, apalagi menjadi orang tua kamu sudah tidak berhak menyebut diri seorang ayah bagi anak kamu. Aku tidak mau banyak ngomong pada orang rendah macam kamu, jadi singkat kata aku ingin begitu aku bebaskan kamu dari siksaan ini kamu beserta isteri kamu harus pergi meninggalkan nagari ini secepatnya, dan jangan kembali lagi, jika kamu ketahuan kembali kesini lagi aku tidak akan segan-segan menghukum kalian berdua dengan tuduhan menganiaya anak kecil. Dan aku rasa tidak ada orang yang akan membela manusia seperti kamu ini, bahkan oleh kerajaan kamu bisa dimasukan ke dalam penjara,”tegas Bumi.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Kamu mengerti yang aku katakan!” kata Bumi dengan keras kepada ayah Saiful.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Pria itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dia ingin secepat mungkin dilepaskan dari siksaan tidak enak ini, dia mulai merasa mulutnya tambah lama tambah kram dan tulang pipinya terasa berderak-derak seperti hendak patah. Dia berjanji dalam hati untuk pergi selamanya dari nagari yang menyebalkan ini untuk selamanya, begitu banyak penderitaan yang dialami selama tinggal di sini, tidak pernah dia merasakan kebahagiaan kecuali saat dia berhasil mempersunting isterinya. Jadi tidak menjadi soal kalo dia harus meninggalkan nagari ini dengan secepatnya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Melihat itu segera Bumi menggerakan tangannya ke leher dan kedua tangan ayah Saiful untuk dibebaskan dari totokan. Sesaat ayah Saiful merasakan kesakitan seperti digigit beribu semut di kedua lengannya, sedangkan mulutnya dengan susah payah akhirnya dia bisa menutupnya. Dia memandang dengan dendam ke arah sekelilingnya, mereka yang telah berani mentertawakan dirinya, dia tidak berani memperlihatkan kemarahannya kepada wali Bumi karena takut dihukum lagi, tapi hatinya penuh dengan bara dendam dan kemarahan akibat perlakuan wali itu padanya. Dalam hati dia berjanji jika Tuhan memberikan kesempatan padanya, maka dia akan mencari cara untuk membalas dendam kepada wali Bumi dan teman-temannya serta penduduk Batang Kapeh karena sudah berani mengusir dan menghinanya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Cepat pergi dari sini, sebelum kesabaranku menghilang!”kata wali Bumi.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Bergegas ayah Saiful meninggalkan tempat itu, dia berlari-lari pulang ke rumah sambil dalam hati mengarang kebohongan pada isterinya. Tapi sesampainya di rumah, dia tidak menemukan isterinya bahkan semua barang yang berharga di rumah juga raib bersama kepergian isterinya yang entah ke mana. Berteriak-teriak dia memanggil nama isterinya tapi rumah itu tetap lengang sunyi saja. Berlari-lari dia ke luar rumah untuk mencari ke mana sang isteri pergi, sambil bertanya-tanya dengan tetangga yang melintas ke rumahnya, tapi tidak satu juga yang melihat isterinya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sampai sore dia sibuk mencari-cari isterinya tetap tidak ditemukannya, dengan tubuh lunglai dan hati yang panas penuh dengan kemarahan dan kebencian dia menyalahkan semua penduduk nagari ini terutama wali Bumi serta temanya, Basri. Jika Basri tidak menjanjikan uang emas untuknya tidak bakalan isterinya akan meninggalkannya begitu saja, dan jika wali Bumi tidak menyiksa dia seperti tadi mungkin dia masih keburu menahan kepergian isterinya. Sungguh benar-benar pikiran orang picik dan egois sekali, dia tidak sadar akan keadaan diri sendiri tetapi selalu mempersalahkan keadaan dan orang yang ada di sekitarnya. Orang seperti ini sangatlah berbahaya sekali kalau sampai kita pernah berbenturan dengan dirinya, karena semua kesakitan jiwa yang diterimanya ingin dia lampiaskan kepada orang lain.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan penuh kemarahan dan api dendam yang menggelegak di dadanya dia pergi meninggalkan nagari Batang Kapeh, dia berjanji suatu saat nanti dia akan membalas semua perbuatan yang dia terima hari ini. Di kemudian hari ayah Saiful ini akan menjadi musuh yang mengancam ketentraman di nagari Batang Kapeh dan keselamatan Bumi serta teman-temannya terutama keluarga Basri Surian.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kita tinggalkan ayah Saiful yang membawa dirinya ke arah dunia kegelapan, mari ikuti perjalanan Saiful dan Basri.</p>
<p>Dengan memacu kuda untuk berlari cepat, Basri mengharapkan bisa sampai di rumah lebih cepat dari biasanya.Dia merencanakan untuk tidak beristirahat lama-lama karena kuatir keadaan Saiful, dia merasa lebih tenang kalau sudah&#160;sampai di rumah, oleh karena itu mereka berjalan terus siang malam. Dia membawa uang yang cukup untuk memenuhi keinginannya itu, dia ingin segera memperkenalkan bocah yang malang ini pada isterinya dan berharap isterinya akan menyukainya seperti dia mulai menyayangi Saiful.&#160;</p>
<p>Sampailah mereka di sebuah nagari yang terlihat ramai sekali walaupun hari sudah malam, terlihat keramaian orang-orang berlalu lalang dan rumah makan yang masih ramai dikunjungi orang. Melihat hal itu Basri mengambil keputusan untuk mengganti kudanya yang sudah kelelahan dengan kuda baru dan segar yang pasti dimiliki oleh penjual kuda di nagari yang terlihat cukup makmur ini. Segera dia memerintahkan kusir kudanya untuk mengantarnya ke rumah penginapan yang terlihat besar di nagari ini, yang di bawah penginapan itu ada rumah makannya. Lalu dia menyuruh kusirnya untuk ke tukang kuda agar bisa mengganti kuda mereka yang sudah kelelahan itu, dia memberikan uang yang cukup lumayan besar.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Basri memang bukan seorang majikan yang pelit, tapi bukan berarti dia juga seorang majikan yang sangat royal. Dia sudah memperhitungkan berapa kira-kira biaya tukar tambah 4 ekor kuda dan biaya makan dari kusir dan keneknya yang berjumlah 5 orang itu. Jadi uang yang diberikan tidak akan berlebih banyak setelah dikurangi biaya-biaya tersebut dan dia anggap uang saku mereka jika mereka ingin membeli barang keperluan lainnya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sambil menunggu kusir kuda kembali, dia menyewa sebuah kamar untuk meletakan Saiful di tempat tidur. Dia juga meminta makanan diantarkan ke kamar saja, setelah selesai dia makan, dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebuah kantung yang setelah dibuka tercium bau wangi yang segar sekali. Dia memasukan tangannya ke dalam kantung dan mengeluarkan sebuah buah kecil yang berwarna kuning bening dan berbentuk seperti terompet, dipandanginya buah itu di telapak tangan kirinya. Lalu dia berjalan ke arah Saiful setelah menarik serutan pada kantung itu dia menaruhnya lagi ke sakunya. Sambil membuka mulut Saiful, dia meremas buah itu sampai mengeluarkan air yang pekat kekuning-kuningan dimasukan ke mulut Saiful, lalu diurutnya leher Saiful agar anak itu bisa menelan air dan ampas buah itu.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Basri tidak mengetahui nama buah yang dia berikan kepada Saiful, tapi dia tahu khasiatnya. Dulu waktu dia masih muda, mengikuti hawa nafsu emosinya dia pernah menjejakan kakinya ke Lembah Setan yang terletak di hutan nagari Sijunjuang. Dia ingin membuktikan kepada teman-teman seperguruannya bahwa dia lebih hebat tidak takut apapun juga dengan mendatangi lembah angker ini. Dia sempat merasakan keangkeran dari lembah ini dan hampir mati kalau tidak cepat ditolong oleh gurunya yang sudah tahu akan kenakalan muridnya yang satu ini. Tapi di balik itu dia mendapat hikmahnya, dia menemukan buah kuning itu yang menjadi penyambung nyawanya ketika dia terjebak di lembah itu. Bahkan gurunya tidak mengetahui nama buah itu,jadi mereka menamakan buah dari Lembah Setan, dia juga sudah menanyakan kepada Siti mengenai buah ini tapi dari buku pengobatan warisan Tabib Mato Tigo tidak ada yang mencantumkan mengenai buah kuning ini.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tapi yang dia tahu memakan buah ini bisa memulihkan kondisi tubuh yang kelelahan dan kesakitan dengan cepat sekali. Makan 1 buah ini saja bisa mengenyangkan perut selama 1 hari, makanya dia memberikan kepada Saiful 1 buah untuk dimakan. Tadi pagi dan siang dia kelupaan memberi makan buah ini kepada Saiful karena keburu naik darah melihat ayah anak itu dan ingin secepatnya pergi menjauhinya. Sebenarnya Basri sangat berhemat sekali dalam menggunakan buah ini, dia hanya memiliki sekitar 10 buah sehingga kalau tidak dalam keadaan genting sekali tidak akan dikeluarkan buah ini untuk dimakan. Karena rasa sayangnya kepada Saiful menyebabkan dia memberi makan buah itu kepadanya, dia ingin anak itu cepat pulih sehingga dia bisa melatih tubuh anak itu dengan ilmu silat dan tenaga dalam.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Setelah dia mencuci muka dan berganti pakaian, Basri keluar kamar untuk melihat apakah keretanya sudah datang, karena dia ingin secepatnya melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya. Ternyata kusirnya telah menunggu di pintu utama rumah penginapan itu, segera Basri membayar biaya makan dan sewa kamar kepada kasir setelah itu dia balik ke kamar untuk mengambil buntalan bajunya dan menggendong Saiful menuju ke kereta untuk melanjutkan perjalanan. Selama dia melakukan pemindahan itu tidak sekejabpun Saiful sadar diri apa yang terjadi, malahan dia seperti tertidur dengan sangat pulasnya lupa akan seluruh dunia yang ada di sekitarnya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat, dan melakukan pergantian kuda dalam 2 kali sehari pagi dan malam hari, perjalanan dilakukan hampir tanpa berhenti. Saiful sempat bangun beberapa kali untuk bertukar pakaian dan mencoba makan dengan mulutnya yang terasa sakit akibat pukulan ayahnya. Basri yang melihat bagaimana Saiful menahan kesakitan setiap buka mulutnya untuk makan merasa pedih sekali hatinya, akhirnya dia mengambil keputusan Saiful akan diberikan remasan buah dari Lembah Setan itu menganjal perutnya yang lapar. Setelah itu Basri membantunya minum obat yang diberikan Siti yang berupa cairan yang berbau tidak enak dengan susah payah Saiful berusaha menelan obat tidak enak itu, setiap dia selesai minum obat itu tidak lama kemudian dia akan kembali tertidur pulas seharian penuh.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Selama 3 hari perjalanan, mereka tidak menemui hambatan yang berarti semuanya berjalan lancar sesuai dengan perkiraan Basri. Sementara itu Saiful juga sudah memakan 3 buah dari lembah Setan itu untuk mempertahankan dirinya dari kelaparannya. Yang tidak diketahui oleh Basri adalah campuran buah dari Lembah Setan dengan obat yang diberikan oleh Siti ternyata menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam diri anak itu.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ada sebuah kekuatan yang terbangun dalam diri Saiful, dengan kondisinya yang tertidur pulas, pernafasannya jadi rata dan tenang serta seluruh tubuhnya tidak bergerak seperti dalam keadaan meditasi, membuat khasiat buah dari Lembah Setan itu bisa bekerja maximal apalagi mendapat campuran dari obat Siti. Ditambah lagi ada satu hal lagi yang tidak diketahui oleh siapapun bahwa golongan darah yang dimiliki Saiful merupakan jenis golongan darah langka yaitu jenis yang mempunyai tingkat kekebalan tinggi terhadap semua penyakit manusia.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tetapi bagi manusia yang mempunyai ilmu kebatinan yang tinggi akan bisa melihat bahwa darah Saiful seakan mengeluarkan sebuah kekuatan hawa pemusnah yang dahsyat sekali. Sungguh sebuah kekuatan yang menggiriskan hati yang mulai bergerak dalam tubuhnya akibat dipicu oleh buah dari Lembah setan yang telah bercampur dengan obat pemberian dari Siti. Kelak apabila dia marah dan darahnya bergolak hebat maka hawa pemusnah ini akan keluar dan memancarkan kehebatannya. Jika hawa pemusnah ini mengenai bangsa kegelapan maka mereka akan musnah menjadi serpihan, dan untuk manusia akan mematikan semua gerakan motoriknya sehingga tidak bisa melakukan apapun seperti merasakan kelumpuhan di seluruh tubuh.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Itulah keistimewaan yang dimiliki Saiful yang luput dilihat oleh orang-orang, bahkan Datuak Inyiak Balang saja tidak dapat mengetahui hal ini. Yang tahu hal ini hanyalah Pangeran Satyawarman dan Panglima Sulaiman, karena itu diam-diam mereka mengawasi Saiful lebih dibandingkan dari anak-anak lain. Mereka memutuskan untuk memberi tahu kepada Datuak Saluang Maut yang akan menjadi guru anak ini pada saat menjelang akil balik , kekuatan ini akan bergerak mencapai puncaknya dengan cepat. Ilmu Alunan Darah Pengejar Nyawa milik sang Datuak itulah yang bisa meredakan daya pemusnah dari kekuatan Saiful, oleh karena itu mereka harus mempersiapkan Datuak Saluang Maut untuk menerima murid istimewa ini.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kembali ke perjalanan Basri dan Saiful, mereka sudah mulai memasuki wilayah kampong Basri, Saiful masih belum terbangun dari tidur pulasnya. Kereta mulai dikurangi kecepatan larinya karena sudah memasuki pinggiran nagari tempat tinggal Basri dan keluarganya.<span>&#160;</span> Akhirnya tepat tengah hari, kereta berhenti di sebuah gerbang berwarna hitam bergaris-garis emas, terlihat para pengawal<span>&#160;</span> membuka pintu dan melihat siapa gerangan yang datang. Ternyata majikan mereka, segera mereka membuka pintu lebar-lebar agar kereta kuda itu bisa masuk ke halaman depan rumah. Dan salah seorang dari pengawal berlari masuk ke dalam rumah untuk memanggil nyonya majikannya. Tidak lama dari dalam rumah keluarlah sang nyonya yang berjalan cepat menghampiri suaminya yang sedang turun dari kereta kuda.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Rumah besar milik keluarga Basri ini tidak terlihat mewah hanya kelihatan bersih dan rapi serta semuanya tertata dengan cita rasa yang tinggi sehingga terasa nyaman bagi mata yang memandang. Bangunan rumah terbagi atas 2 bagian, yaitu rumah tamu dan rumah utama, rumah tamu terletak di depan rumah utama. Rumah tamu ini memang disiapkan untuk tamu-tamu Basri yang datang menginap, terdiri dari 4 kamar tidur, ruang menerima tamu dan ruang makan tamu jadi tidak bercampur dengan rumah utama. Jika berjalan terus menuju belakang ruang makan maka mereka akan sampai ke rumah utama di mana Basri dan keluarganya tinggal. Biasanya jika tidak ada tamu yang menginap maka rumah tamu ini akan ditutup dan para penghuni rumah utama akan menggunakan jalan belakang untuk melakukan aktivitas keluar masuk rumah</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Basri yang merasa senang sekali bisa pulang ke rumah segera meloncat turun, dan melihat isterinya berlari menhampirinya, dengan membentangkan kedua lengannya mendekati sang isteri tercinta begitu sudah dekat langsung memeluknya dengan penuh kerinduan. Sesaat mereka berdua berpelukan erat di depan para pembantu dan pengawal tanpa sungkan dan rikuh, para pembantu dan pengawal yang sudah lama mengikuti mereka mengetahui ritual ini, jadi mereka sudah terbiasa dengan keadaan itu. Mereka ikut merasakan kebahagiaan majikan mereka, dan mereka sudah tahu tugas mereka untuk membongkar bawaan sang majikan, hasil dari perjalanannya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Saat mereka membuka kereta yang membawa Saiful, salah satu dari pembantu itu menjerit kaget karena tidak menyangka melihat ada seorang anak dalam kereta itu.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ropita yang mendengar jeritan kecil tersebut melepaskan pelukan suaminya dan memandang kepada pembantunya dengan kerutan di dahi.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“ Ada apa, Upik?’ Tanya Ropita.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Maaf nyonya, di dalam kereta ada seorang anak kecil, saya jadi kaget,”sahut Upik.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ropita berbalik menatap suaminya dengan bingung, sang suami terlihat tersenyum melihat sang isteri.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Kanda, sia awak bawok kamari (siapa kamu bawa kemari) ?” Tanya Ropita.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Ropita, kanda ingin dinda berkenalan dengan muridku, dia anak yang sangat special sekali. Kanda jatuh sayang padanya ketika pertama kali melihat dia, kanda harap dinda juga menyukainya seperti kanda menyukainya.”</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Basri tidak menceritakan keadaan Saiful kepada Ropita, dia ingin sang isteri mengetahui sendiri kondisi anak itu. Tapi Ropita mulai punya perasaan tidak suka, kalau memang anak itu menjadi murid suaminya kenapa anak itu tidak turun dan memberi hormat kepadanya. Dia ingin menyindir suaminya tentang etiket menghormati orang yang lebih tua yang harus diajarkan kepada muridnya itu, tapi belum sempat dia bicara suaminya sudah melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kereta di mana anak itu berada dan naik ke dalamnya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Karena penasaran Ropita mengikuti suaminya untuk melihat murid suaminya itu, ketika suaminya keluar sambil menggendong seorang bocah laki-laki yang sedang tertidur, dia merasa tidak senang karena dia menganggap anak yang tidak punya sopan santun. Sudah sampai di tempat bukannya bangun tapi malah masih tertidur dengan enaknya, yang mengherankan adalah suaminya menggendong anak itu dengan hati-hati sekali dan memegang punggungnya dengan lembut sekali seakan takut anak itu akan terluka. Tatapan mata suaminya terkandung rasa sayang yang mendalam, dia belum pernah melihat suaminya mempunyai pandangan yang lembut seperti ini sebelumnya kepada anak-anak siapapun, walaupun dia tahu suaminya sangat merindukan untuk memiliki anak.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dan suaminya suka sekali kalau rumahnya kedatangan anak-anak kecil bermain, begitu banyak kemenakan yang dimiliki suaminya dari saudara-saudaranya tapi dia belum pernah sekalipun melihat suaminya mempunyai pandangan mata selembut terhadap anak yang ada digendongannya itu. Ini membangkitkan perasaan tidak enak dalam hatinya seperti perasaan cemburu karena selama ini suaminya hanya menatap dia dengan kelembutan seperti itu tapi kini dia mempunyai saingan seorang bocah. Ingin sekali dia melihat wajah anak itu tapi dia belum bisa melihat karena wajahnya tertutup rambut dan leher suaminya. Suaminya berjalan dengan cepat tapi tidak menggoyangkan tubuhnya seakan takut anak itu akan bangun akibat gerakan tubuhnya kala berjalan.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Melihat hal ini semakin heran dan tidak enak perasaan Ropita akan kelakuan suaminya, karena itu dia mengikuti sang suami ke arah kamar yang sudah diminta suaminya melalui merpati pos untuk disiapkan. Ropita yang telah terbiasa dengan tamu-tamu suaminya yang sering datang ke rumah mereka sempat terheran dengan isi surat dari suaminya, yang meminta kamar di sebelah kamar mereka untuk dibersihkan dan disiapkan menerima tamu. Biasanya teman-teman dekat saja yang bisa menginap di rumah utama mereka, tapi mereka tidak pernah tidur di sebelah kamar utama. Tadinya Ropita berpikir saudara angkat suaminya yang datang menginap di rumah, sehingga harus menyiapkan kamar di rumah utama, tapi yang mengherankan kenapa harus kamar di sebelah kamar mereka.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Kamar itu tidak pernah digunakan oleh siapapun karena tadinya disiapkan Basri untuk anak mereka sebelum dia tahu bahwa dia tidak bisa mempunyai anak. Jadi untuk menjaga perasaan sang suami, kamar itu tidak pernah digunakan karena dia pernah melihat suaminya memasuki kamar itu tengah malam dan berdiri merenung di tengah kamar. Sejak itu kamar tersebut tertutup bagi siapapun, kecuali suaminya, seolah kamar itu merupakan ruang meditasi suaminya. Sekarang suaminya minta kamar tersebut dibersihkan dan dirapikan ternyata untuk menyambut muridnya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mereka dengan diam terus berjalan menuju kamar itu, begitu pintu kamar dibuka tercium bau wangi yang segar memenuhi ruangan kamar itu, terlihat tempat tidur dialasi dengan kain lembut berwarna biru langit senada dengan kelambu yang melingkari tempat tidur itu, sesuai dengan permintaan suaminya. Dengan sebelah tangannya, Basri membuka jendela yang ada di samping ranjang sinar terang memasuki kamar, tapi sinar matahari tidak menyengat masuk kamar karena posisi kamar berada di selatan jadi baik matahari terbit maupun matahari terbenam tidak akan menyorot ke dalam kamar ini.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Setelah itu dengan hati-hati Basri membungkukan badannya untuk meletakan Saiful di tempat tidur, Ropita yang berada di belakang suaminya belum bisa melihat wajah anak itu. Basri yang tahu rasa penasaran isterinya bertanya-tanya dalam hati bagaimana wajah isterinya jika melihat wajah hancur anak ini akibat pukulan ayahnya. Dia tahu hati lembut sang isteri melihat kemalangan orang lain, walaupun terlihat di permukaan isterinya seorang perempuan yang keras. Kini dia ingin tahu apa yang akan terjadi pada isterinya saat melihat keadaan Saiful, pelan-pelan dia menegakkan tubuhnya dan bergeser ke samping untuk memberi kesempatan kepada isterinya melihat wajah muridnya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ropita yang sudah sangat penasaran buru-buru bergerak ke depan untuk melihat jelas wajah murid suaminya. Begitu dia melihat dia langsung berteriak kaget dan terpukul sekali melihat wajah bocah itu, dia melihat wajah yang membengkak dan biru keunguan di hampir semua kulit wajah anak itu. Dia tahu ini bukan karena jatuh maka wajah anak itu seperti ini, dengan gemetaran tangannya menyentuh lembut wajah yang membengkak membiru itu. Hatinya miris sekali dan matanya langsung berkaca-kaca melihat keadaan anak ini. Dengan membisu dia memalingkan wajahnya ke arah suaminya, pandangan matanya menanyakan apa yang terjadi pada anak ini.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Suaminya melihat wajah sang isteri yang pucat sekali dan mata yang berkaca-kaca itu mengetahui bagaimana perasaan isterinya karena itu pula perasaannya saat pertama kali melihat keadaan Saiful. Ditariknya tangan sang isteri untuk duduk di dekat meja yang ada di tengah ruangan, dia ingin menceritakan kisah Saiful dalam posisi duduk karena dia merasa lemas setiap kali mengingat pagi saat dia mau membawa anak itu. Mulailah dia bercerita dengan diawali dari mimpi Bumi dan permintaan sesepuh untuk dia menerima murid, dilanjutkan dengan perkenalannya dengan Saiful dan berakhir dengan pemukulan orang tuanya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mendengar kisah Saiful, Ropita menangis pilu dan mengepalkan tangannya erat-erat, ingin sekali dia menghajar kedua orang tua Saiful sampai minta ampun. Hatinya yang tadinya tidak senang kepada Saiful kini berbalik menjadi iba dan terbitlah perasaan sayangnya kepada bocah malang ini. Dengan saputangan pemberian suaminya, Ropita menghapus air matanya yang berderai dan hidungnya yang meler. Pelan-pelan dia bangkit dan mendekati bocah malang itu, dia menatap bocah itu berlama-lama seakan ingin mencari tahu bagaimana wajah anak itu kalau tidak bengkak dan membiru seperti ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">
Kemudian dia tersadar anak itu pasti kotor dan belum menukar bajunya akibat perjalanan mereka. Buru-buru dia berbalik ingin menyuruh pembantunya membeli baju untuk anak ini, tapi sang suami yang sudah tahu isi hati isteri sudah terdahulu menyuruh pembantu mengambil buntalan berisikan baju Saiful yang dia beli sebelum dia pergi dari Batang Kapeh serta membawa air untuk melap debu yang melengkat di tubuh bocah itu. Di meja sudah tersedia semua kebutuhan isterinya, Ropita yang menatap barang yang ada di meja tersenyum kepada sang suami.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dengan bantuan sang suami, dia menarik meja tersebut mendekati ranjang supaya memudahkan dia melap tubuh dan menukar baju bocah malang ini. Basri yang mengerti perasaan Ropita berusaha menyampaikan kondisi Saiful dengan hati-hati takut isterinya kaget sekali.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Dinda, selesai awak melap tubuh Saiful tolong oleskan obat-obat ini di wajah dan tubuhnya yah.”</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ropita yang mendengar perkataan suaminya terkejut sekali, karena tadinya dia berpikir bahwa orang tua anak ini hanya memukuli wajah saja tapi mendengar suara suaminya dan tatapannya, dia tahu dugaannya salah. Tangannya menjadi tambah gemetar ketika mau membuka baju Saiful, untuk dilap, setelah membuka kancing bajunya, dia mendudukan anak itu menyandarkan ke tubuhnya pelan-pelan melepaskan bajunya. Ketika dia melihat punggung anak itu dia tersirap dan terbelalak kaget, saat mendorong tubuh anak ini menjauh dari tubuhnya dia melihat bekas luka-luka dan luka-luka baru yang bertebaran di seluruh tubuh anak itu baik di punggung maupun tubuh depannya bahkan sampai di kedua tangannya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Langsung air matanya jatuh berderai-derai, mulutnya gemetar menahan isakan melihat penderitaan bocah kecil ini. Dia memeluk anak ini dengan lembut takut melukainya, kini dia mengerti kenapa suaminya memperlakukan bocah ini dengan lembut. Sekujur tubuh kecil dan rapuh itu penuh dengan luka, hatinya terasa sakit sekali menahan kemarahan dan kepedihan akan penderitaan anak sekecil ini. Dengan lembut dia meletakan kembali anak itu ke tempat tidur dan mulai melap tubuh anak ini dengan hati-hati takut menyakitinya. Setelah selesai melap seluruh tubuhnya, dia menarik celana panjang bocah itu, kembali terpampang luka-luka baru dan bekasnya yang memenuhi kaki kurus itu.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Air mata tidak berhenti jatuh di wajahnya setiap melihat luka-luka itu, mata dan hidungnya sudah berwarna merah, tangan suaminya di pundak menepuk-nepuk menenangkan hatinya. Tapi hatinya tetap tidak tenang, hatinya sakit sekali, hal ini membangkitkan perasaan keibuannya dengan kuat sekali, seperti induk ayam yang melindungi anaknya. Dia berjanji dalam hati selama anak ini berada di bawah perlindungannya jangan harap ada yang boleh memukulnya, kalau sampai terjadi dia akan menghajar orang itu tanpa ampun.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Selesai melap, dengan lembut dia mengoles obat ke seluruh luka yang ada di wajah, tubuh, punggung, tangan dan kaki Saiful. Untung bocah itu dalam kondisi tertidur kalau dia bangun pasti akan meringis kesakitan akibat obat yang dioleskan pada luka sekujur tubuhnya. Obat Siti sangat mujarab karena Saiful tidak demam selama dalam perjalanan, bahkan perlahan-lahan warna biru dan bengkak Saiful berkurang banyak. Basri tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan isterinya pada saat pertama kali melihat keadaan Saiful yang berdarah-darah di seluruh wajahnya akibat pukulan bapaknya. Mungkin saat itu langsung akan dibunuhnya laki-laki itu tanpa penyesalan sedikitpun.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Seiring dengan memakaikan baju kepada bocah malang ini semakin meningkatkan perasaan sayang Ropita. Sesudah selesai merawat dan memakaikan bajunya, Ropita masih tetap duduk di kursi di samping ranjang dengan diam membisu menatap anak itu. Suasana dalam ruangan itu sunyi, Basri juga tidak ingin membuka percakapan dengan isterinya yang terlihat larut dalam pikirannya. Dia sendiri juga merasakan apa yang dirasakan oleh isterinya, di saat mereka berdua melamun sambil menatap Saiful, tiba-tiba bocah itu membuka matanya dan langsung menatap ke mata Ropita. Tatapan mata yang sendu dan bingung itu terasa menghunjam jantung Ropita, ternyata anak ini mempunyai bentuk mata yang indah sekali.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Saiful yang terbangun melihat seorang wanita cantik sedang menatapnya dengan air mata yang menetas di pipi menjadi kebingungan. Dia dapat merasakan aliran kasih sayang yang mendalam dari wanita cantik itu kepadanya, hal ini pernah dia rasakan ketika dia digendong oleh gurunya. Mengingat akan gurunya buru-buru matanya bergerak ke sekeliling ruangan, dan dia melihat gurunya berdiri di belakang wanita cantik itu sedang menatapnya dengan lembut dan mulut tersenyum gembira. Dia merasa senang melihat gurunya ada di sana , matanya terlihat memancarkan kerlip senang walau itu tidak merubah tatapan sendunya. Biarpun dia merupakan anak yang hidup dalam penderitaan tapi dia juga seorang anak yang sangat cerdas, dia dapat menduga wanita cantik yang menatapnya dengan penuh kasih sayang itu adalah isteri gurunya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dia mengalihkan pandangan matanya kepada wanita cantik itu, perasaan tenang dan bahagia terasa mengalir di tubuhnya, ketika membalas tatapan wanita itu. Mengingat sopan santun yang diajarkan teman-temannya kepadanya, perlahan dia membuka suara untuk menyampaikan salam kepada guru dan isteri gurunya, dia berusaha menggerakan tangannya untuk menggapai tangan isteri gurunya untuk dicium sebagai tanda hormat. Tapi dia tidak mampu menggerakan tangannya seakan tangannya berat sekali, Ropita yang menyadari apa yang hendak dilakukan anak ini menjadi terharu dan air mata kembali berderai di pipinya yang mulus itu.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sudah sayang, tidak perlu kamu menggerakan tanganmu, tunggu sembuh dulu yah,” kata Ropita dengan suara serak kebanyakan menangis.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Saiful yang selama hidupnya tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya merasa mendapat limpahan kebahagiaan dalam hatinya walau di wajahnya hal itu tidak tercermin tapi kerlip senang terlihat di mata sendu itu. Ropita yang mulai mengenal ciri-ciri pribadi anak itu mengetahui hal ini, dia juga merasa senang karena anak ini bisa menerima dirinya. Anak ini menatapnya terus bergantian dengan suaminya seakan tidak ingin mereka pergi meninggalkannya. Hati kedua suami isteri ini bercampur aduk, ada perasaan senang, ada perasaan pedih, ada perasaan bahagia kini mereka mempunyai anak yang mereka bisa urus, ada perasaan sakit setiap membayangkan penderitaan anak ini.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Perlahan jari tangan Ropita membelai wajah yang sembab membiru itu, Saiful membiarkan tangan itu mengelus wajahnya dan bisa merasakan kesejukan yang mengaliri hatinya. Tidak terasa setitik air mata bergulir dari kedua sudut matanya, walau mata itu tetap menatap sendu tapi Ropita sudah tidak melihat kesedihan yang dalam seperti pertama kali anak itu menatapnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">
“Ipul, kamu lapar ndak? Kan sudah seharian kamu tidak makan,” Tanya Basri.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">
Malu-malu bocah itu menganggukkan kepalanya tanda dia memang lapar, melihat itu buru-buru Ropita berdiri dan berjalan keluar menuju dapur untuk membuatkan bubur dan sup agar bisa dimakan Saiful. Dia tahu bocah itu masih susah untuk makan nasi dengan bibir yang menebal dan ada luka di sekitar bibir dalamnya kena giginya akibat gamparan keras ayahnya, jadi pasti akan terasa menyakitkan bila makan makanan yang keras.</p>
<p>Sementara itu Basri menemani Saiful di kamar dengan bercerita kisah perjalanan hidupnya sambil menunggu isterinya mengambilkan makanan. Saiful mendengarkannya dengan penuh perhatian, jika ada kejadian yang lucu dia berusaha tersenyum walau itu menyakitkan bagi dia menggerakan wajahnya, tapi dia berusaha menyenangkan hati gurunya. Basri bisa melihat anak itu menahan sakit setiap kali berusaha tersenyum tapi tidak dengar keluhan apapun dari bibir mungil itu, hatinya pilu sekali melihat hal itu tapi dia tidak menegur bocah itu karena dia tahu Saiful menikmati semua ceritanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Basri jarang sekali mau menceritakan kisah hidupnya kepada siapapun, biasanya orang lain yang lebih suka berbicara tentang diri mereka kepadanya. Kini dengan hanya melihat kerlipan indah di mata sendu itu mengalirlah semua kenangan yang pernah dia jalani selama hidupnya. Mungkin karena cerita Basri yang sangat seru membuat Saiful bisa bertahan melawan lapar yang sudah menyerang perutnya. Akhirnya tidak tertahan juga perut Saiful berbunyi nyaring minta diisi, bocah ini merasa malu sekali dengan gurunya. Mendengar bunyi dari perut Saiful, Basri tertawa terbahak-bahak apalagi dia tahu anak itu malu sekali terlihat dari perubahan warna kulit wajahnya yang tadinya biru keungu-unguan sekarang semakin menggelap warnanya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">“Sabar yah nak, ibu sedang ambil makanan di dapur buat kamu,” kata Basri sambil membelai rambut hitam lebat milik Saiful.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dia sengaja menyebutkan dirinya dengan panggilan bapak dan isterinya dengan panggilan ibu, karena dia ingin membiasakan Saiful memanggil mereka dengan panggilan tersebut. Basri tidak ingin anak itu memanggil dia guru dan isterinya ibu guru, karena dia menginginkan Saiful menjadi anaknya sehingga panggilan itu terasa lebih nyaman bagi dia.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tidak lama masuklah isterinya dengan membawa senampan makanan penuh untuk suami dan bocah yang sudah merebut hatinya itu. Setelah meletakan makanan di meja yang masih berada di samping ranjang, Ropita duduk di samping Saiful dengan perlahan-lahan membantu anak itu bangun untuk duduk. Dia tahu penderitaan anak itu untuk berusaha duduk, pasti seluruh tubuhnya berdenyut kesakitan saat dia menggerakan tubuhnya dan menduduki bekas pukulan yang ada di pantatnya. Hebatnya tidak keluar suara keluhan apapun dari mulut mungil tertutup rapat itu, bahkan di wajahnyapun tidak tergambar kesakitan yang dia rasakan. Tapi jika memperhatikan dengan seksama maka ada siratan kesakitan dalam mata sendu itu, dalam hati Ropita bertanya-tanya penderitaan seperti apa yang dialami anak ini sehingga rasa sakit saja tidak bisa dia ungkapkan keluar.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Hati Ropita seperti diiris-iris membayangkan bocah berusia 6 tahun harus menanggung penderitaan seperti ini. Dia berjanji mulai saat ini tidak ada seorangpun yang boleh menyakiti Saiful, kalau tidak akan berhadapan dengannya langsung dan dia tidak akan segan-segan menghabisi nyawa orang yang berani menyakiti anaknya. Iya, Saiful mulai sekarang adalah anak dia dan Basri, dia yakin sang suami pasti setuju dengan usulan dia untuk mengangkat Saiful sebagai anak mereka. Dia akan membicarakan masalah ini dengan suaminya nanti malam, sekarang yang terpenting mengisi perut anaknya yang sudah lapar.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Ropita menyadarkan tubuh Saiful pada bantal-bantalan yang ditegakan di belakang punggungnya. Mata sendu bocah itu menatapnya dengan lekat-lekat seperti ingin mengukir wajah dia dan Basri di dalam hatinya. Pelan-pelan Ropita menyuapi Saiful untuk makan, setiap dia melihat kejaban mata tanda kesakitan dari anak itu, hatinya terasa sesak sekali bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Basripun mengalami hal yang sama, berkali-kali dia menghela nafas panjang untuk mententramkan gejolak kesedihan di hatinya. Dia tidak bisa makan makanan yang telah disediakan isterinya di meja setiap melihat Saiful berusaha menelan makanannya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Biarpun masih bocah kecil tapi Saiful sudah dimatangkan oleh penderitaan sehingga ketika ada sepasang suami isteri yang begitu hangat dan penuh kasih sayang kepadanya, dia seperti sebuah spon yang menyerap air itu terus menerus. Dia ingin sekali membahagiakan kedua orang yang baik hati ini dan berjanji dalam hati, budi kebaikan ini akan selalu dia ingat dan berusaha membalasnya dengan segenap jiwa raganya. Melihat wanita cantik itu meneteskan air mata untuknya dia merasa terharu sekali, dengan susah payah dia berusaha menggerakan kedua tangannya untuk mengusap butir-butir air mata yang mengalir di pipi yang mulus itu.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Usahanya berhasil menghapus air mata di pipi itu, dengan suara yang begitu lirih sekali dia berkata kepada Ropita, “Ibu, jangan menangis lagi, sakit dadaku melihat ibu menangis.”</p>
<p>Jika mereka bukan sepasang pendekar yang hebat dan sudah terlatih pendengarannya mungkin mereka tidak akan bisa mendengar suara lirih yang keluar dari bibir mungil itu. Mendengar perkataan itu Ropita tambah keras tangisnya dan memeluk tubuh ringkih itu erat-erat, tersentuh perasaan keibuannya dengan perkataan Saiful itu. Basri juga tersentuh sekali dengan kehalusan jiwa Saiful, dia tahu isterinya tidak akan pernah melepaskan Saiful pergi jauh-jauh dari sisinya, entah bagaimana nanti kelak bila saatnya Saiful akan dibawa pergi oleh gurunya yang lain. Dia juga tidak berani membayangkan bagaimana perasaannya ketika Saiful dibawa pergi oleh guru barunya, yang penting saat sekarang ini dia berdua isterinya akan merawat dan menjaga Saiful dengan sebaik-baiknya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Sejak hari itu Saiful menjadi salah satu penghuni rumah besar milik Basri dan Ropita, ternyata benar dugaan Basri, anak ini mempunyai kehalusan budi pekerti dan pribadi lembut yang sangat menunjang dia untuk disayang oleh semua penghuni rumah. Setiap orang menatap mata sendu itu terutama wanita rasanya ingin melakukan apapun agar mata itu tidak berselimutkan kesedihan yang dalam. Semakin hari seiring dengan kesembuhannya, berkat perawatan Basri dan isterinya beserta seluruh penghuni rumah, wajah dan tubuh Saiful semakin pulih seperti sedia kala. Mereka terkagum-kagum melihat di bawah wajah yang membengkak mengerikan itu tersimpan seraut wajah yang tampan sekali walau si pemilik jarang tersenyum tapi sorotan sendu yang lembut darinya membuat semua orang tahu isi hatinya yang sedang senang.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Selama hampir 3 bulan dia tinggal di rumah besar itu hanya sekali sepasang suami isteri itu melihat dia tertawa terbahak-bahak ketika dia mendengar cerita bagaimana Basri dikerjain oleh Ropita saat mereka muda dulu. Ternyata suara tertawanya sangat merdu sekali mengalun seindah tatapan matanya yang berbinar bahagia. Memang yang baru mampu membuat dia tertawa hanya Basri dan Ropita saja, sedangkan penghuni yang lain baru bisa mengundang senyumnya saja. Para pembantu dan pegawal rumah itu sudah mendengar kisah anak angkat sekaligus murid majikan mereka dari para kusir yang datang menemani sang majikan pulang ketika itu. Jadi mereka sudah punya perasaan kasihan dan iba terhadap nasib anak yang malang ini, mereka berusaha untuk membuat anak itu betah&#160;tinggal di rumah besar ini.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mereka memanggil dia tuan muda, tapi dia bersikeras meminta mereka memanggil dia dengan nama Ipul, tapi mana mungkin mereka mendengar permintaannya. Anak ini ringan tangan, dan senang membantu siapa saja walau jarang bicara tapi dia suka mendengarkan siapa saja bercerita dengan tatapan mata yang begitu semangat. Semua penghuni rumah dipanggilnya dengan rasa hormat, dari pembantu rumah tangga sampai pengawal sehingga mereka semakin jatuh sayang dan diam-diam menghormati tuan muda mereka ini.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Di suatu senja Basri memanggil Saiful dan isterinya untuk duduk-duduk di teras tingkat dua rumah mereka sambil memandang matahari yang hampir tenggelam. Basri melihat Ropita selalu mendudukan Saiful di tengah-tengah antara mereka berdua, lalu mereka berdua akan berbisik-bisik seru walau kebanyakan Ropita yang berbisik tapi tidak mengurangi keseruan bisik-bisik mereka. Dan dia melihat pancaran kebahagiaan dari dua orang yang dia sayangi ini, sekali-kali dia melihat Saiful memeluk Ropita dengan erat sekali dan pernah dia melihat anak itu mencium pipi isterinya. Melihat hal-hal ini dia hanya bisa tertawa puas karena mendapat murid yang cocok dengan isterinya dan penghuni lain. Sebenarnya juga dia senang sekali karena Saiful sangat mencocoki hatinya juga, anak itu tidak pernah menerima perkataan dia begitu saja, jika dia tidak mengerti maka Basri bisa membaca pertanyaan dari mata dan wajahnya. Ekspersi mata dan wajah Saiful hanya terlihat jika dia menginginkan mereka melihatnya, bila dia tidak ingin memperlihatkan maka tiada orang yang bisa membacanya.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Wajah tampan itu begitu dingin tapi diperlembut dengan sepasang mata indah&#160;nan sendu, sering membuat Basri berpikir bagaimana jika dia besar kelak berapa banyak gadis yang akan jatuh bangun karenanya. Sekarang saja semua wanita penghuni rumah ini sangat memujanya, apapun yang dikehendaki akan mereka lakukan dengan cepat dan senang hati. Untungnya anak ini tahu diri tidak termanjakan dengan keadaan lingkungan yang begitu siap menolongnya setiap saat mengingat latar belakangnya. Basri sendiripun harus mengakui dia sendiri selalu ingin memanjakan bocah tampan ini dengan memberikan mainan yang mahal dan bagus, tapi pernah sekali waktu Saiful dengan takut-takut bicara padanya mengatakan untuk tidak terlalu memanjakannya karena dia takut lupa diri dan menjadi takabur.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Mendengar pemintaan seperti itu Basri semakin sayang pada Saiful, dia tahu dia tidak salah memilih Saiful sebagai muridnya. Ternyata tidak hanya pada Basri, Saiful mengatakan hal serupa kepada isterinya untuk tidak membelikan dia banyak baju yang mewah dan mahal serta perhiasan untuk dipakainya. Dia sudah merasa cukup kaya dengan kasih sayang dan kehangatan dari mereka berdua, kata-kata bijak yang keluar dari seorang bocah yang penuh penderitaan hidupnya sungguh meluluhkan hati bagi si pendengarnya. Memang penderitaan yang dideritanya sejak kecil membuat dia dewasa sebelum waktunya, bayangkan anak yang berusia 6 tahun yang kenyang akan siksaan dari orang terdekatnya sudah bisa menahan dirinya dari nafsu ketamakan dan selalu bersyukur atas apapun yang diterimanya sungguh bocah yang sangat istimewa sekali.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Tapi kadang-kadang Basri dan Ropita melihat bocah itu menatap langit dengan tatapan sendu berselimutkan kepedihan seakan ingin mengadu kepada bintang-bintang semua kepedihan hatinya yang tersimpan rapi di lubuk hatinya yang paling dalam. Mereka berdua tidak berhasil mengorek apa penyebab kesedihan yang tercermin di mata itu, akhirnya mereka hanya bisa menghibur bocah itu dengan kasih sayang yang mereka miliki.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Memasuki bulan keempat Saiful tinggal bersama mereka, Basri mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada muridnya itu, di bawah pengawasan isterinya, dari pagi sampai malam anak itu tidak ada lelahnya berlatih. Kadang-kadang Basri suka pergi ke daerah-daerah untuk mengecek usahanya, dan saat dia pulang dia terkejut sekali dengan kemajuan dari Saiful. Yang tidak dia sadari adalah berkat campuran buah Lembah Setan dan obat racikan Siti membuat Saiful bisa melakukan gerakan-gerakan yang sulit penuh tenaga terasa lebih mudah. Ditambah dengan kecerdasannya yang memang di atas rata-rata membuat kemajuan Saiful sangat pesat sekali.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Dalam kurun waktu 3 bulan setelah kesembuhannya, Saiful sudah bisa meniru semua gerakan silat dasar yang diajarkannya bahkan jurus silat dasar dari isterinya juga mampu dilakukannya dengan sempurna, hanya sayang tenaga dalamnya belum memadai untuk disalurkan di setiap pukulannya. Tapi kemajuan ini sangat menyenangkan hati Basri dan isterinya, mereka tambah semangat mengajarinya. Basri juga tidak melupakan wejangan dari Datuak Inyiak Balang untuk melatih ilmunya lagi dan mencari buku pemberian gurunya dulu di perpustakaan keluarga yang berisikan ilmu Mato Alang (Elang) Jelajah Alam yang sangat hebat untuk melawan bangsa kegelapan.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Perlahan-lahan anak harimau yang terluka itu pulih fisiknya seperti sedia kala, tapi luka batin yang tertoreh dalam belum bisa hilang begitu saja hanya sekarang seperti tersimpan di suatu tempat yang gelap di sudut ruang yang paling dalam dirinya. Basri dan Ropita hanya bisa mengobati luka yang kelihatan di permukaan saja, tanpa seijin yang punya luka merekapun tidak dapat berbuat apa-apa. Saiful menjalani hidupnya dengan tenang dan damai bersama guru sekaligus ayah dan ibu angkatnya, mata sendunya lebih terlihat bercahaya dibandingkan sebelumnya, tapi jika dia bersama mereka atau penghuni lain di rumah besar itu. Jika dia sendirian tetap saja mata sendu itu berselimutkan kesedihan yang dalam sekali yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang berperasaan halus saja.</p>
<p></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Di suatu tempat tersembunyi bahaya mengintai ketentraman rumah besar ini, hanya menunggu kesempatan saja untuk menghancurkan seluruh penghuninya.</p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aboutjuls.blog.com/2008/04/14/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://aboutjuls.blog.com/2008/02/21/</link>
		<comments>http://aboutjuls.blog.com/2008/02/21/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 00:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sieklie</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<b><span style="font-size: 18pt; color: blue; font-family: 'Comic Sans MS'" lang="IT" xml:lang="IT">VI : Perjalanan&#160;anak harimau menuju ibukota<br /></span></b><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Kita ikuti perjalanan Burhan terlebih dahulu, Masnan dan Burhan berangkat terlebih dahulu dibandingkan dengan Basri dan Saiful, pagi-pagi sekali mereka sudah siap untuk berangkat dengan dibekali makanan dan obat-obatan oleh Siti agar bisa digunakan selama dalam perjalanan panjang mereka.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan datang ke nagari Batang Kapeh menggunakan kuda kesayangannya si Tunggul Item yang merupakan keturunan kuda yang hebat sekali anak dari kuda kesayangan raja yaitu kuda Petir Biru yang berasal dari negeri seberang, hadiah upeti dari saudagar negeri Tar-tar. Kuda yang sangat elok sekali dan mempunyai daya tahan tubuh yang hebat sekali bisa berlari terus menerus selama 2 hari tanpa makan dan minum dengan kecepatan yang tetap stabil.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Karena ingin cepat sampai di rumah, maka Masnan mengajak Burhan untuk naik kuda bersamanya. Burhan yang tidak pernah naik kuda sebelumnya, dalam hati merasa takut melihat kuda besar berbadan hitam pekat ini. Bagi dia, kuda ini terlihat tinggi dan besar sekali, tapi dia memang anak yang spesial sekali ketakutannya tidak diperlihatkannya di depan orang-orang dengan menggertakan giginya dia berusaha mengatasi rasa takutnya itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Ketika Masnan yang dari atas kuda mengulurkan tangannya kepada Burhan untuk mengangkat anak ini duduk di belakangnya, sempat Burhan ragu sejenak dan Masnan yang mengetahui ketakutan Burhan berusaha membujuk anak itu untuk tidak takut naik kuda ini. Dia tidak sempat mengajarkan kepada Burhan cara mendekatkan diri pada kuda ini, agar Burhan tidak takut lagi pada Tunggul Item.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Akhirnya siaplah berangkat mereka berdua, setelah berpamitan dengan yang lain, segera Masnan memacu kudanya ke arah Barat menuju Pagaruyuang. Selama di perjalanan Burhan memeluk pinggang Masnan erat-erat karena selain dia takut pada kuda tersebut, dia juga takut jatuh. Belum pernah seumur hidupnya naik kuda, selama ini dia hanya tahu naik gerobak yang ditarik kuda saja tapi benar-benar naik kuda ini merupakan pengalaman pertama baginya.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Pengalaman ini sangat tidak enak sekali, pantatnya sampai sakit duduk di atas kuda, dan punggungnya pegal sekali karena harus duduk tegak terus, tapi tidak pernah dimulutnya terdengar keluhan. Setelah setengah hari mereka berkuda, Masnan menghentikan kudanya untuk beristirahat, karena dia merasakan perut Burhan yang menempel di punggungnya berbunyi minta diisi, baru dia sadar dia tidak sendirian naik kuda tapi bersama seorang anak kecil yang tidak mempunyai daya tahan tubuh seperti dia. Dekat sebuah sungai, Masnan menghentikan kudanya untuk istirahat, dia membiarkan kudanya merumput dan minum air dari sungai tersebut, sementara itu Masnan membuka perbekalan untuk dimakan bersama Burhan. Sebenarnya Masnan sudah melihat wajah Burhan yang terlihat menahan sakit akibat menunggang kuda, tapi sengaja dia tidak menanyakan kepada anak itu karena dia melihat anak itu tidak mengeluarkan keluhan apapun atas penderitaannya. Dia jadi ingin menguji daya tahan ini sampai mana, Masnan tahu betapa sakit dan pegal-pegalnya semua urat di paha atas, punggung dan pantat anak itu belum ditambah teriknya matahari yang menyorot mereka, benar-benar penderitaan yang tidak mengenakkan sekali bagi seorang anak kecil seperti Burhan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Setelah mereka memakan roti untuk mengganjal perut segera Masnan berdiri mengajak Burhan untuk melanjutkan perjalanan. Burhan yang belum pernah mengalami hal seperti ini, berusaha bangkit dari duduknya, langsung rasa sakit karena pegalnya menghajar paha dan pinggangnya, ingin dia berteriak tapi dengan keras hati dia mengunci rapat mulutnya. Dengan tertatih-tatih dia berjalan menghampiri Masnan yang sudah menunggu dia di dekat kuda mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Burhan, apa kamu kesakitan ?” tanya Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Iya, paman.”sahut Burhan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Apa kita istirahat lagi sampai kamu memulihkan kondisi kamu?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Tidak perlu paman, aku masih bisa dan kuat untuk meneruskan perjalanan kita.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Kamu yakin?” tanya Masnan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Yakin, paman” dengan tegas Burhan menjawab pertanyaan Masnan.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Sebenarnya Masnan tidak tega melihat penderitaan Burhan, tapi dia tidak ingin mempunyai murid cengeng dan dia juga tahu Burhan merupakan seorang anak yang tidak suka dikasihani, dia akan berusaha sekuatnya sampai titik darah penghabisan baru dia minta tolong. Segera Masnan dan Burhan melanjutkan perjalanan mereka, kuda terus berlari cepat dan semakin lama semakin cepat sehingga Burhan hanya melihat kelabatan daun-daun di sepanjang jalan saking kencangnya kuda terebut berlari. Kesakitan dan pegal yang dirasakan oleh Burhan tambah lama tambah parah tapi tetap dia tidak mengeluhkannya sedikitpun. Bagi dia, ini adalah sebuah ujian hidup yang harus dilalui dan dia mengeraskan hatinya untuk bisa melalui semua ini. Lama kelamaan dia merasa mengantuk sekali, akhirnya dia tertidur di punggung Masnan, dengan tidak mengendorkan pegangan tangan kanannya pada pelana kuda, Masnan menggunakan tangan kirinya untuk memegang tangan Burhan agar dia tidak jatuh akibat goncangan dari lari kudanya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Menjelang tengah malam sampailah Masnan di pinggiran sebuah desa, dia megurangi kecepatan kudanya agar tidak menganggu penduduk desa tersebut. Pelan-pelan dia menjalankan kudanya, baru dia masuk masuk wilayah desa tersebut, tiba-tiba dia mendengar suara keributan di ujung desa sebelah sana, terdengar teriakan dan jeritan yang menyayat hati. Segera dia memacu kudanya menuju arah suara keributan tersebut, sementara itu Burhan sudah terbangun dari lelapnya, seluruh badanya terasa remuk sekali tapi tidak keluar keluhan dari mulutnya. Dia juga mendengar jeritan yang mengiriskan hati, jantungnya berdebar-debar kencang, dia mempererat pelukannya pada pinggang Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan mengetahui ketakutan Burhan, tapi dia ingin mendidik muridnya itu untuk melihat di lapangan secara langsung situasi apa yang sedang terjadi dan bagaimana mengatasinya. Mereka sudah mendekati tempat asal jeritan tadi, pemandangan di situ benar-benar mengejutkan hati Masnan, di lapangan luas itu dia melihat ada beberapa laki-laki kasar sedang memperkosa wanita-wanita kampung secara terbuka seperti binatang saja, dan para laki-lakinya sedang diikat di tiang dan sedang dilecuti. DI sudut kanan terlihat beberapa mayat bergelimpangan, keadaan ini sungguh mengerikan sekali dan yang terlebih menjijikan lagi hal ini disaksikan oleh 3 orang laki-laki yang berbentuk aneh sedang duduk di tengah-tengah kekacauan ini sambil menikmati santapan ayam panggangnya dan minum tuak. Mereka seolah-olah melihat sebuah pertunjukan yang memang disajikan untuk menambah selera makan mereka<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Orang pertama yang dilihat Masnan dari ketiga orang ini, adalah yang sedang memegang paha ayam di tangan kiri dan di tangan kanan memegang dan meremas-remas kedua bukit seorang gadis, gadis itu sudah dalam kondisi menggenaskan sekali, rambut kusut masai, baju sudah sobek-sobek memperlihatkan bentuk tubuhnya yang memang aduhai, tapi pandangan mata gadis itu sudah kosong seperti orang mati walaupun dia belum mati. Dan orang yang memegangnya mempunyai bentuk wajah mengerikan penuh dengan codet dengan bibir yang tebal menjijikan dan mempunyai mata juling yang bergerak liar tidak menentu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Sedangkan teman di sebelah kanannya telihat lebih mengerikan, hidungnya somplak sebagian, pipinya penuh dengan jerawat besar-besar dan bernanah yang dibiarkan oleh pemilik wajah tersebut meleleh membasahi mukanya. Benar-benar wajah yang memuakan sekali. Terakhir orang yang dilihat Masnan tidak memuakan dan mengerikan seperti kedua temannya, wajahnya biasa saja tapi sinar matanya kejam sekali dan senyumnya merindingkan bulu kuduk bagi yang melihatnya. Masnan menyesal membawa Burhan ke tempat itu, seharusnya dia meninggalkan bocah bersama kudanya di pinggiran desa sebelah sana, tapi karena keinginannya yang egois sehingga menyebabkan bocah yang masih kecil ini harus melihat pemandangan yang mengerikan seperti ini.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Ketiga orang yang sedang makan itu cepat menolehkan kepalanya melihat siapa yang sedang mendekati tempat bersenang-senang mereka. Mereka melihat seorang pria gagah bersama dengan seorang bocah mendekati tempat mereka dengan tenang. Mereka tertarik sekali melihat pria, bocah dan kuda yang datang mendekat tersebut dengan pandangan yang tajam, mereka saling pandang satu dengan yang lain dan tiba-tiba mereka tertawa terbahak-bahak yang menggema di seluruh tempat itu.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Sakti, malam ini kau tidak lagi bakalan mengeluh karena kami dapat hiburan kesenangan sedangkan kau tidak, aku lihat kesukaanmu itu benar-benar pilihan tidak seperti bocah dusun tadi. Hahahahaa...” kata pria yang mempunyai hidung somplak itu kepada temannya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Belum tentu aku suka, karena aku belum lihat wajah dan bentuk tubuhnya dengan jelas.”kata pria yang bermata kejam tersebut dengan senyum-senyum.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Dalam hati dia senang sekali karena melihat calon mangsanya datang mendekat, dia yakin mangsanya kali ini jauh lebih baik dari tadi. Pria yang bernama Sakti ini mempunyai kelainan gila, sangat suka melakukan hubungan sex dengan bocah-bocah kecil baik itu laki-laki atau perempuan, tapi tidak sembarangan bocah juga, dia sangat pemilih dengan mangsanya, dia menyukai bocah yang berkulit bersih dan berbadan tegap serta berwajah bagus. Tadi dia sudah menyalurkan hasratnya kepada seorang bocah dusun, tapi anak tersebut tidak kuat menahan gelora gila Sakti, sehingga anak tersebut pingsan berkali-kali dan akhirnya mati dipukul kepalanya oleh Sakti yang kesal sekali melihat anak tersebut pingsan terus menerus, sedangkan dia menyukai sedang melakukan itu mangsanya harus menjerit-jerit kesakitan baru dia bisa mencapai kepuasannya. Benar-benar seorang sakit jiwanya (jaman sekarang disebut psikopat), dan terlebih menjijikan lagi dia suka melakukannya di depan teman dan anak buahnya seperti ingin memamerkan keperkasaannya.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Dan kau, Epen, aku lihat kau sudah mengeluarkan liur dari bibirmu melihat kuda hitam yang bagus itu. Malam ini kita benar-benar menikmati kesenangan...hahahahaha..”kata pria yang sedang memegang gadis kepada pria yang hidungnya somplak itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Benar sekali, sudah lama sekali aku menginginkan mempunyai kuda yang sangat bagus, ternyata malam ini ada orang yang berbaik hati mengantarkannya untukku. Menurutmu Pinyak, hadiah apa yang harus kuberikan kepada pria yang sudah baik hati mengantarkan kesenangan buat aku dan Sakti...hahahaha” kata Epen kepada teman-temannya itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Menurutku, karena sudah lama sekali tidak pernah menguji coba ilmu terakhir kita, Pukulan Trisula Kalajengking Merah, bagaimana kalau kita hadiahkan dia pukulan tersebut. Dia merupakan tamu kehormatan kita untuk merasakan pukulan tersebut, bagaimana menurut kalian?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Wah ide yang bagus sekali, aku sudah tidak sabar lagi ingin mencicipi kesukaanku itu,”kata Sakti dengan mata berbinar-binar setelah dia melihat Burhan dengan lebih dekat lagi. Dia menyukai yang dia lihat, sungguh bocah yang membuat hasratnya terbangun dengan dahsyatnya.<br />
<br />
Bocah itu mempunyai wajah yang begitu gagah dan bentuk badan segitiga terbalik yang sangat proposional sekali. Benar-benar bocah pilihan sekali, dia juga melihat anak ini mempunyai tulang dan darah yang bersih, dia sangat menyukai mangsanya kali ini jarang sekali dia melihat bocah seperti ini. Dulu dia pernah mendapatkan mangsa seperti bocah ini, dan dia puas sekali karena bocah itu bisa kuat menahan gelora hasrat birahinya berhari-hari sebelum akhirnya anak itu mati dibunuhnya. Apalagi anak ini seharusnya lebih hebat lagi, dia merasa tertantang melihat sinar tajam dari bocah itu ketika memandang dia dan teman-temannya walaupun mukanya pucat pasi melihat situasi di sekitanya, benar-benar menggairahkan untuk ditaklukan. Pikiran yang kotor dan menjijikan bermain-main di benaknya, kalau saja Burhan atau Masnan tahu apa yang ada di benak orang gila ini mereka akan menggidik ngeri dan jijik sekali.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Masnan yang mendengar pembicaraan mereka dan melihat keadaan ini menjadi sangat murka, dia tahu maksud hati<span>&#160;</span> orang yang bernama Sakti itu, dia mengincar Burhan untuk menjadi korban kepuasannya. Membayangkannya sungguh sangat menjijikan sekali, Masnan ingin sekali meremukan kepala mereka segera, tapi dia tahu diri dengan keadaan di sekitarnya apalagi dia harus melindungi Burhan. Dia pernah mendengar Pukulan Trisula Kalajengking Merah, pukulan ini dimiliki oleh pimpinan perkumpulan Kalajengking Merah yang dikenal di dunia persilatan dengan julukan 3 Iblis Darah Gila. Perkumpulan ini sudah lama sekali ingin dibasmi oleh pasukan kerajaan maupun orang-orang dari dunia persilatan tapi selalu saja mereka dapat meloloskan diri. Mereka merupakan perampok yang terkenal dengan kekejamannya, korban mereka selalu diperkosa dulu sebelum dibunuh baik itu wanita maupun anak kecil sedangkan laki-laki dewasa suka disiksa dengan racun mereka, Racun Kalajengking Merah.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Ilmu silat ketiga pimpinan perkumpulan ini sangat tinggi apalagi jika mereka menggabungkan diri membentuk barisan trisula, jarang orang yang bisa menandingi ilmu mereka. Oleh karena itu mereka sangat sombong sekali, seolah-olah tidak takut melakukan kekejaman di tempat umum. Sudah banyak korban mereka diantaranya ada keluarga bangsawan, keluarga pesilat kenamaan, dan orang-orang kaya daerah. Mereka pernah menyatroni Basri di rumahnya tapi kebetulan saat itu kedua mertua Basri sedang datang berkunjung sehingga mereka dapat dikalahkan walau akhirnya mereka dapat meloloskan diri dalam keadaan luka parah. Peristiwa itu membuat nama mereka hilang dari dunia persilatan, tapi sepertinya sekarang mereka mulai muncul kembali setelah hampir 5 tahun tidak kedengaran lagi namanya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Kini Masnan harus menghadapi mereka seorang diri, dia merasa kuatir juga karena harus melindungi Burhan, tadi diam-diam dia sudah melepaskan panah ke angkasa untuk memanggil bantuan dari pasukan kerajaan. Dia berharap jika pasukan itu datang dia bisa meminta mereka melarikan Burhan sehingga dia bisa berkelahi dengan tenang tanpa memikirkan keselamatan Burhan lagi dan dia bisa menangkap dedengkot perkumpulan yang sudah mengganggu ketentraman masyarakat.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Burhan yang memang bocah polos dan selalu hidup sederhana, tidak pernah menyangka bahwa di luar lingkungannya ada hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dia melihat semua kejadian di tempat itu dengan bingung dan merasa aneh dengan semua tingkah laku orang-orang yang ada di sana. Matanya menatap tajam sekitarnya dan keningnya berkerut tanda tidak mengerti, tapi nalurinya mengatakan bahwa semua yang terjadi tersebut merupakan hal yang salah tidak sesuai dengan semua ajaran kebaikan yang dia terima selama ini. Ketika matanya beradu pandang dengan salah satu pria yang ada di dekat api unggun itu, dia merasa semua bulu kuduknya berdiri dan perasaan ngeri seakan menyelimuti dirinya, otomatis dia bergerak berlindung di belakang Masnan dengan memegang jubah panjangnya. Belum pernah sepanjang hidupnya Burhan merasakan kengerian seperti ini, dia merasa orang itu menatap dia seakan ingin menelannya terlihat jakun orang itu turun naik seakan setiap saat akan melahapnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Tapi walaupun begitu bocah inipun bukan bocah sembarangan, dia merupakan bocah pilihan untuk mengatasi sang angkara murka, wajahnya tetap tenang dan sinar matanya tetap tajam menatap semua yang terjadi. Di wajahnya tidak ada guratan takut, kuatir atau apapun, seolah tenang dan teduh saja, hanya Masnan yang tahu betapa ketakutannya anak ini, dia merasakan tubuh anak ini gemetar dan tangannya mencengkram erat jubahnya serta jantungnya berdebar keras di kakinya. Sempat Masnan menoleh untuk memberikan ketenangan pada anak ini, tapi begitu melihat wajahnya yang tenang tidak mencerminkan ketakutannya sama sekali, Masnan dibuat kagum sekali, inilah wajah yang akan bisa menipu orang di meja judi tanpa orang tahu dia sudah menipu. Dia melihat 3 orang yang ada di api unggun itu memancarkan sinar kekaguman yang sama dengannya ketika melihat wajah tenang Burhan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Dalam hati ketiga orang itu langsung punya dugaan bocah ini pasti didikan orang hebat, dan pria yang bersamanya pasti juga orang hebat karena mereka melihat gerakan yang mantap dari pria itu dan wajah yang dingin memandang mereka dengan mata yang tajam memiriskan hati. Mereka tahu mereka berhadapan dengan orang yang berilmu tinggi juga, karena itu mereka harus hati-hati dan tidak boleh salah langkah, sekali salah nyawa taruhannya. Mereka sudah melihat nyawa mereka menjadi taruhan dalam penyelesaian mereka dengan pria gagah itu. Tapi mereka tidak takut selain ilmu mereka sudah meningkat secara personal dibandingkan dulu dan mereka juga menyempurnakan ilmu pukulan mereka dengan bimbingan guru baru mereka yang sangat mumpuni itu. Desa ini merupakan korban kedua setelah lama mereka menyembunyikan diri untuk menyembuhkan diri dan berlatih meningkatkan ilmu silat mereka.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Dendam mereka kepada suami isteri Pendekar dari Bukit Naga selalu membara, semua cacat yang ada di tubuh mereka merupakan hasil karya sepasang pendekar ini tapi mereka tahu mereka belum bisa menandingi pasangan pendekar itu bahkan dengan ilmu andalan mereka yang terbarupun masih belum mampu menandingi gabungan ilmu kedua pendekar itu. Oleh karenanya mereka harus mempunyai rencana yang matang agar bisa menghancurkan musuh mereka itu kalau perlu menggunakan cara licik supaya berhasil. Sebelum rencana itu terlaksana mereka ingin menguji coba ilmu mereka yang sudah disempurnakan, karena saat ini mereka bertemu dengan orang yang kelihatannya bisa menandingi mereka. Melihat cara pria gagah itu bergerak dan sinar matanya, kelihatan bahwa orang ini berisi pasti mempunyai tenaga dalam yang hebat karena bisa mengeluarkan sinar mata yang tajam jernih.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Sakti yang melihat bocah bersama pria gagah itu, merasa sangat baik sekali peruntungannya karena baru sekali ini dia melihat bocah pilihan yang jarang sekali bisa ditemui, berwajah gagah dan menyiratkan ketenangan, mempunyai sepasang mata yang bening teduh menghanyutkan setiap dia memandang mata bocah itu dia merasa dia ingin menenggelamkan diri ke dalam keteduhan mata bening itu. Hasratnya menjadi menggila setiap kali memandang wajah bocah itu belum lagi bentuk tubuhnya yang tegap gagah dengan dada bidang sungguh sebuah kombinasi yang nyaris sempurna yang dimiliki seorang bocah laki-laki, dia yakin jika bocah ini besar nanti pasti akan banyak sekali gadis-gadis jatuh hati padanya. Tapi hal ini tidak boleh terjadi hanya dia seorang yang boleh memiliki bocah sempurna ini, dia tidak akan membaginya dengan orang lain. Jika dia tidak dapat bocah ini maka tidak ada orang lain yang boleh memilikinya juga, dia sudah merencanakan jika mereka kalah nanti minimal bocah ini harus mati, dia cemburu dan iri membayangkan orang lain yang memiliki bocah ini. Sungguh pikiran orang gila dan sakit batinnya sampai bisa memikirkan hal seperti itu..<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Epen yang sudah tergiur melihat kuda milik pria gagah itu langsung buka mulutnya,”Hai saudara, siapa awak (kamu) ini? Apakah datang ke sini ingin ikut berpesta bersama kami ? Hahahhaa..”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Masnan menahan kemarahannya, karena dia tahu jika emosinya naik maka dia tidak akan bisa tenang memikirkan situasi di sini, dengan suara lantang mencerminkan kegagahannya dia menyahut,” Namaku Masnan, dan ini muridku Burhan, aku tahu siapa kalian. Kalian merupakan pimpinan dari perkumpulan Kalajengking Merah yang bergelar Iblis Muka Setan, Iblis Mata Juling dan Iblis Gila Bocah.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Wah Pinyak, hebat dia bisa tahu siapa kita tapi dia kurang ajar mengatakan kau si mata juling..hahahaha” kata Epen, dia sengaja mengatakan seperti itu karena dia tahu temannya itu paling benci dibilang mata juling.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Benar saja pria yang bermata juling itu langsung naik darah mendengar Masnan memanggil dia juling, dia merasa matanya adalah keistimewaannya yang bisa melihat segala arah dalam waktu bersamaan sekarang dihina orang dengan kata juling, langsung saja dia membuang ayam dan gadis yang ada di pangkuannya, berdiri dan bersiap ingin menyerang Masnan, tapi untung keburu ditahan temannya yang bernama Sakti.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Sabar dulu teman, kalau kau mau menghajar dia boleh saja tapi aku harus menyelamatkan dulu bocah kesayanganku itu supaya tidak kena hajaranmu. Dan lagian waktu kita masih panjang untuk mengerjai dia...hahahaha.. janganlah cepat kita mengotori tangan kita biar anak-anak saja yang menyelesaikannya,”kata Sakti dengan congkak, dia memang yang paling licik diantara mereka, dengan mengorbankan anak buah mereka dia bisa mengukur kekuatan lawannya terlebih dahulu sebelum dia turun tangan, kalaupun akhrinya dia turun tangan, lawannya sudah terkuras tenaga melawan anak buahnya itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Anak-anak hayo siap-siap kalian untuk menghadapi mainan baru.”kata Sakti kepada anak buahnya. Begitu mendengar komando dari pimpinan mereka, segera mereka meninggalkan apapun yang sedang mereka kerjakan untuk siap-siap menyerang musuh. Di sini terlihat betapa hebatnya kepatuhan anak buah kepada para pimpinannya, padahal ada beberapa diantara mereka sedang melampiaskan nafsu binatangnya, biasanya tidak mudah untuk membuat orang yang sedang di puncak gairah menghentikan kegiatannya hanya berdasarkan perintah, tapi mereka melakukan hal itu dengan tertibnya bahkan sudah membentuk barisan walau ada beberapa diantara mereka tetap dalam kondisi memperbaiki pakaian mereka yang berantakan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Mereka melakukan ini bukan karena mereka memang menghormati pimpinannya tapi karena takut, para pimpinan tidak segan-segan menyiksa mereka jika tidak mengikuti komando, pernah dulu ada teman mereka ada yang sedang keasyikan melampiaskan nafsunya tidak mendengar perintah pimpinannya, langsung saat itu juga dikebiri oleh pimpinan, tak tebayangkan kesakitan yang diderita teman mereka itu. Sejak saat itu tidak berani lagi mereka melanggar perintah dari pimpinan walau dalam keadaan yang tidak memungkinkan sekalipun. Pimpinan mereka memang kejam tapi juga royal, semua hasil rampok dibagi rata diantara mereka, bahkan tidak segan-segan memberikan hadiah besar kepada mereka jika memang pantas diberikan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Bagaimana pria gagah, hebat bukan anak buah kami? Dalam sekejab mereka siap untuk menyerang saudara, jadi lebih baik menyerah saja sebelum dagingmu dicincang oleh mereka. Kami akan memperlakukan saudara dan anak saudara sebaik mungkin sehingga anda tidak akan menyesal pernah hidup di dunia ini....hahahaha...”kata Sakti dengan pongahnya kepada Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Memang dalam hati Masnan ada kekaguman akan ketaatan anak buah dari perkumpulan Kalajengking Merah ini, tidak mudah untuk membuat orang bersiap dalam kondisi asyik masyuk seperti tadi. Dari sini dia dapat menganalisa betapa hebat dan kejamnya pada pimpinan itu sehingga bisa membuat anak buahnya dalam kondisi apapun mematuhi perintah tanpa banyak gerutu dan caci maki. Masnan semakin yakin dia dalam posisi sulit melihat keadaan seperti ini, tingkat kewaspadaan dan aliran tenaga dalam ke seluruh tubuhnya semakin meningkat seiring dia merasa akan bahaya yang mengintai Burhan setiap saat. Dia melihat orang yang bernama Sakti itu tidak melepaskan tatapan matanya kepada Burhan sedari mereka datang ke tempat ini, Masnan tahu orang seperti Sakti merupakan orang yang paling berbahaya diantara 2 pimpinan yang lain. Karena itu dia harus benar-benar kosentrasi menjaga segala kemungkinan yang terjadi, yang paling dia pikirkan adalah Burhan, kasihan anak ini kalau sampai jatuh ke tangan orang yang bernama Sakti tersebut.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Semua dalam keadaan membisu, belum ada yang berani bergerak karena takut akan kalah langkah, Masnan sudah berkeputusan akan melontarkan Burhan ke atas punggung si Tunggul untuk dibawa lari menghindar dan dia tidak mau gegabah salah mengambil langkah mengingat dia akan dikeroyok dan 3 pimpinan tersebut dalam keadaan menonton, dia tidak mau semua perhitungannya meleset sehingga semakin membahayakan Burhan. Hanya sekarang dia menunggu saat yang tepat agar bisa menyelamatkan Burhan sambil menunggu bala bantuan tiba. Panah yang dia lepaskan tadi merupakan panggilan khusus kepada para wakilnya untuk menemui dia secepat mungkin. Dia mempunyai 3 wakil yang berilmu tinggi juga dan masing-masing membawahi 3 kepala regu yang juga ilmunya setara dengan pimpinan perguruan silat tingkat menengah dan masing-masing regu mempunyai 30 orang anggota.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Dia memperkirakan orang yang ada di lapangan ini berkisar 50 orang perampok termasuk pimpinannya dan ada 20 orang penduduk desa yang dalam keadaan menggenaskan. Dia berharap para wakilnya mengerti tindakan apa yang harus dilakukan dengan terlepasnya panah khusus itu sehingga dia bisa menangkap juga para dedengkot perkumpulan ini.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Keadaan ini berlangsung cukup lama, ketiga pimpinan Kalajengking Merah ini sengaja belum ambil tindakan apapun karena mereka mau melihat mental lawannya apakah sekuat yang mereka perkirakan atau tidak. Jika lawan mereka merupakan lawan yang tangguh maka kondisi seperti ini tidak akan mempengaruhinya, tapi jika lawannya mental tempe maka dia akan bertindah gegabah tidak sabaran untuk memulai gerakan di saat itulah bisa terjadi salah langkah yang mengakibatkan kekalahan bagi pihak lawan. Tapi yang mereka hadapi adalah salah satu panglima kepercayaan dari sang raja, yang berarti bukan merupakan orang sembarangan yang gampang digertak atau dipermainkan dengan mudah. Setiap panglima mempunyai ciri khas masing-masing tapi mereka semua mempunyai kesamaan dalam tingkat kesabaran yang luar biasa sekali, mereka sudah didik untuk tetap tenang dan sabar dalam segala situasi sehingga mereka tidak pernah kalah dalam pertempuran apapun juga minimal seri.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Akhirnya malah pihak Kalajengking Merah yang tidak sabaran, Pinyak yang memang paling emosional diantara mereka sudah tidak sabar ingin melihat kehebatan pria gagah itu, dia merasa pria ini bisa dikalahkan dengan begitu banyak anak buahnya dan kedua temannya dibandingkan dengan pria itu sendiri belum lagi harus melindungi bocah yang ada di sampingnya. Berarti posisi pria itu tidak menguntungkan, tadi dia sudah marah sekali ketika pria itu menghina matanya. Sekarang kesabaran dia sudah menipis apalagi melihat pria itu memandang mereka dengan tenangnya tanpa ada perasaan takut dan ngeri di matanya. Langsung saja keluar perintah dari mulutnya untuk menyerang pria itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Anak-anak, hayo serang pria itu dari empat penjuru, gunakan ilmu barisan Sengatan Kalajengking.”<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Langsung anak buahnya bergerak dengan cepat membentuk 4 barisan kecil yang berbentuk kalajengking, ini tidak ada dalam perkiraan Masnan bahwa dia akan dikepung dari 4 penjuru dengan ilmu barisan yang sangat rapi sekali kerjanya, dia memandang sekelilingnya dan melihat ada 4 kelompok orang yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk kalajengking. Setiap kelompok terdiri dari 12 orang yang sudah siap dalam posisinya masing-masing, ada yang membentuk seperti capit kalajengking, ada yang di belakang 1 orang mendukung temannya membentuk setengah lingkaran seakan-akan menyerupai ekor kalajengking mengandung racun itu, dan memang terlihat di tangan orang yang di atas memegang tombak yang ujungnya berkilauan berwarna merah darah yang artinya sudah dilumuri dengan racun kalajengking merah. Mereka dalam posisi siap untuk menyerang hanya tinggal tunggu komando dari pimpinannya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Eh Pinyak, hati-hati dengan kuda yang bagus itu jangan pula kau suruh anak-anak sengat kuda kesayanganku itu. Kuhantam kepalamu nanti kalau terjadi sesuatu pada kuda cantik itu.” Kata Epen dengan kuatir.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Iya Pinyak, kalau sampai bocah kecintaanku tergores sedikit saja kulitnya, akan kubikin lurus kedua biji matamu itu.”teriak Sakti dengan cemas.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Kalian berdua ini maunya apa hah? Kalau kalian kuatir dengan barang kesayangan kalian, pikir saja sendiri bagaimana caranya menyelamatkan jangan aku yang kalian salahkan, kita ini sedang menghadapi musuh tangguh jadi tidak bisa menguatirkan apapun, bisa kalah kita nanti.” Kata Pinyak dengan gusar.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Hmmm benar juga kau, Pinyak, baiklah Sakti hayo kita serang dulu pria itu kau ambil bocah itu dan aku menarik kudanya biar leluasa anak buah kita melawan dia. Eh pria gagah, supaya kau bisa melawan kami dengan tenang lebih baik kau serahkan kuda dan bocah itu kepada kami agar bisa dijaga dengan baik. Kau tidak usah kuatir kami pasti merawat mereka berdua dengan sebaik-baiknya.”kata Epen dengan tersenyum licik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan sudah tahu bahwa mereka tidak akan melepaskan kuda dan Burhan begitu saja, akhirnya dia mengambil keputusan untuk mendukung Burhan di punggungnya sementara si tunggul dibiarkan pergi karena kuda itu akan bisa lari dengan lebih cepat kalau tidak ada yang menunggangi dan dia tidak kuatir Burhan jatuh juga. Sgera dia menggamit tangan Burhan dan berbisik pada bocah itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Burhan, keadaan gawat, paman akan menggendong kamu di punggung paman, tangan kamu harus memegang leher paman dengan kuat dan kaki kamu harus melingkari pinggang paman dengan erat supaya kamu tidak lepas, apapun yang terjadi kamu harus bertahan, jangan pernah lengah karena musuh kita sangat kejam sekali. Kamu bisa dan berani melakukan itu ?”tanya Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Burhan hanya menganggukkan kepalanya karena dia tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya saking tegangnya, dan dia tahu jika ingin selamat dia harus melakukan apa yang diperintahkan, ini pengalaman pertama dan baru bagi dia di mana keselamatan dirinya terancam dan dia merasa tegang sekali ada perasaan takut tapi dia percaya pamannya tidak akan membiarkan dia celaka. Tanpa mengendorkan kewaspadaannya, Masnan mengulurkan tangan untuk mengangkat Burhan ke punggungnya dan Burhan melakukan semua yang diperintahkan, setelah merasakan posisi badan Burhan di belakangnya terasa mantap, Masnan kembali mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Burhan biarpun jantungnya berdebar keras, tetapi dia tetap bisa mengendalikan dirinya untuk tetap tenang menghadapi situasi genting seperti ini. Pikiran jernihnya bisa melihat bahwa pasukan lawan sudah mempersiapkan diri untuk menyerang, walaupun dia anak-anak tapi kecerdasannya di atas rata-rata, dia bisa melihat barisan yang ada di barat tidak sebaik 3 barisan lain. Lalu juga dia melihat barisan yang di utara pemegang tombaknya terlihat dalam posisi siap sekali dan mata orang itu berkilat tajam menandakan orang ini memiliki kekuatan di atas teman-temannya. Berarti barisan ini lebih tangguh dibandingkan barisan yang lain, Burhan menatap sekelilingnya dengan tenang sambil melihat-lihat keadaan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Dia mengambil keputusan untuk membisikan kepada Masnan tentang apa yang dia lihat, dia ingin membantu agar mereka bedua bisa melewati keadaan yang genting ini dengan baik. Dengan berbisik-bisik di telinga Masnan, Burhan mengatakan temuannya, Masnan terkejut sekali dengan bisikan Burhan tidak dia sangka bocah ini bisa melihat keadaan dengan baik sekali walaupun Masnan dapat merasakan ketegangannya. Dia mengedarkan pandangannya ke barat dan melihat memang apa yang dikatakan Burhan benar adanya, tadi dia sudah melihat hal itu tapi tidak berpikir jauh tapi setelah mendapat bisikan dari Burhan apalagi dia melihat barisan Utara memang terkesan lebih tangguh dari barisan yang lain, dia jadi merubah siasat perangnya.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Burhan yang tadinya ditempatkan di belakang punggung sekarang dia rubah posisinya pindahkan ke depan badannya, ada dua hal dia melakukan hal ini pertama dia merasa barisan Utara kuat berarti berbahaya sekali kalau Burhan ada di punggungnya, kedua dengan Burhan pindah ke depan mungkin saja dia tidak terlalu leluasa bergerak tapi dia bisa minta bantuan Burhan untuk melihat keadaan di belakangnya, walaupun Burhan belum mempunyai mata tajam bisa melihat gerakan orang yang melebihi kecepatan orang biasa, tapi minimal anak itu bisa membantu dia melihat keadaan di belakang punggungnya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Ketiga pimpinan Kalajengking Merah melihat kejadian yang berlangsung cepat yang dilakukan oleh lawan bersama bocah itu, mereka melihat bocah itu membisikan sesuatu di telinga pria tersebut dan tidak lama posisi bocah berubah menjadi ke depan. Mereka heran apa yang dibisikan oleh anak itu kepada lawan sehingga dia mengambil posisi yang berbeda, Sakti yang memang sudah mengincar anak itu merasa bahwa bocah kali ini merupakan anak yang sangat istimewa. Dia melihat ada ketenangan yang tidak wajar di mata anak itu, seakan mata itu bisa menghipnotis orang untuk menghentikan gerakannya, hanya dengan menatap matanya yang jernih dan teduh itu. Sakti sempat merasakan dirinya seakan tenggelam, ketika pandangan matanya beradu dengan pandangan mata anak itu, ada sesuatu yang berdesir di dadanya setiap melihat bocah itu, seakan ada perintah dalam hatinya untuk menjaga pemilik mata teduh itu. Makanya dia merasa kuatir mendengar perintah temannya untuk mengurung musuh menggunakan ilmu barisan mereka. Dia tahu ilmu barisan mereka merupakan ilmu barisan yang tangguh sekali hanya bisa dikalahkan dengan ilmu barisan dari Perguruan Dewa Kuda, sangat jarang ada pendekar yang bisa menghancurkan formasi mereka, kecuali pendekar tersebut benar-benar pendekar yang mumpuni.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Dia tahu lawan sekali ini sangat tangguh tapi tidak menutup kemungkinan setiap perkelahian pasti ada yang terluka, dia kuatir akan keadaan bocah yang dikaguminya itu. Sedangkan Epen, juga menguatirkan kuda incarannya, kuda itu terus menempel di dekat tuannya, dan dia melihat kuda itu juga dalam keadaan tenang walau dia bisa melihat kuda itu merasakan ketegangan yang ada di sekelilingnya tapi tetap saja kuda itu berdiri dengan kokoh dan gagah disamping tuannya. Benar-benar kuda yang hebat sekali, Epen semakin ingin memiliki kuda luar biasa ini, jika dia berhasil menaklukan kuda itu dia yakin kuda itu akan setia padanya seperti yang ditunjukan pada majikannya sekarang.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Pinyak sudah tidak sabar dengan keadaan ini, langsung mengeluarkan aba-aba,”Serang<span>&#160;</span> 2 siap 1 dan mundur 1.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Bagi orang awam, mereka tidak mengerti arti perintah itu tapi bagi mereka yang diperintah sudah tahu apa yang akan dilakukan, segera barisan selatan dan timur menyerang ke arah Masnan bertiga, ketika Masnan mendengar teriakan aba-aba itu, segera dia menepuk tengkuk kudanya sebanyak 3 kali dan langsung kuda itu berbalik arah ke barat untuk berlari kencang ke arah barat. Sedangkan pasukan Barat yang sedang melakukan gerakan mundur tidak menyangka akan diserang oleh seekor kuda yang bergerak seperti angin besar menuju ke arah mereka, pasukan ini langsung kacau balau apalagi mereka juga mendengar teriakan pimpinan mereka yang tidak boleh melukai kuda itu. Kuda itu memperlihatkan keistimewaannya dengan mampu meloncati formasi 2 orang yang berdiri menumpuk menjadi ekor tersebut dengan indahnya sehingga mereka semua terpana menatap keindahan itu, tidak lama derap kuda itu menghilang di tengah kegelapan malam semakin lama semakin menjauh dan akhirnya tidak terdengar sama sekali, itu dilakukan dalam hitungan detik saja.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan yang melihat kudanya menarik perhatian lawan segera menggunakan keadaan ini dengan sebaiknya, dia mengeluarkan 2 buah pil kecil dari pinggangnya untuk diberikan kepada Burhan dan dirinya untuk menelannya. Lalu dia juga mengeluarkan 2 butir benda bulat kira-kira sebesar gundu dan menyerahkan kepada Burhan untuk digenggam dalam kedua tangannya dengan pesan Burhan tidak boleh melemparkan kedua benda itu sampai dia merasa keadaan mereka sudah parah sekali dan tidak ada jalan keluar lagi. Sungguh tanggung jawab yang berat bagi seorang anak yang baru berusia 6 tahun, tapi kembali Burhan menunjukan keistimewaannya, dia tahu pasti apa yang harus dia lakukan dan mengambil keputusan untuk melakukannya sebaik mungkin. Sebenarnya Masnan juga ingin menguji bocah itu apakah dia memang seistimewa yang diperkirakan Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Untungnya tindakan mereka berdua tidak ada yang melihat karena semuanya sedang terpana menatap kehebatan kuda yang dimiliki lawan. Ketika sadar langsung Epen berkoar-koar memerintahkan untuk menangkap kuda itu kembali, anak buah mereka jadi bingung mau mengikuti perintah siapa, di tengah kebingungan tersebut dimanfaatkan oleh Masnan untuk bergerak cepat ke arah Selatan untuk mendobrak formasi yang ada di sana, mereka yang tidak menduga adanya serangan yang datang tiba-tiba gegalapan menerima serangan tersebut. Tapi ternyata itu serangan tipuan yang dilakukan oleh Masnan, karena begitu mereka bergerak menghindarkan diri, Masnan berlari cepat menjauhi lapangan tersebut, dia sengaja melakukan itu agar mereka mengikutinya dan meninggalkan penduduk yang dalam keadaan menggenaskan itu tanpa diganggu, karena dia kuatir benda yang diberikan kepada Burhan itu kalau dilontarkan ke tanah akan meledak dan melukai orang sedangkan penduduk itu tidak dalam keadaan bisa menolong diri mereka untuk menghindar dari daya ledakan itu. Jadi lebih baik dia menyingkir mencari daerah yang lebih lapang untuk menunggu mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Melihat Masnan melarikan diri, segera ketiga pimpinan Kalajengking merah menyadari bahwa mereka telah ditipu mentah-mentah oleh pria itu. Segera mereka berlari memburu sambil berteriak-teriak memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti mereka. Sakti yang tidak ingin kehilangan Burhan dengan cepat mengejar ke arah larinya Masnan, memang dian diantara mereka yang mempunyai ilmu peringan tubuh yang bagus, sehingga dia duluan sampai di tempat Masnan menunggu mereka. Dia tidak melihat Burhan, langsung dia mengedarkan pandangannya di sekitar tempat itu bahkan dia memandang pepohonan yang ada di sekitar mereka untuk memastikan di mana Masnan menyembunyikan bocah tersebut. Tetapi tetap saja dia tidak melihat bocah itu, hatinya berdebar keras sekali ketakutan kehilangan bocah yang sudah membetot hatinya itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Eh pria gagah ke mana kau sembunyikan bocah tampan itu?” tanya dia dengan gusar kepada Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Tidak perlu kau tahu ke mana dia, yang jelas dia sudah aman dari gangguan orang gilo kayak kau ini.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Hahaha... baiklah aku akan menangkap kau dulu dan menyiksamu sampai kau mengatakan di mana anak itu kau sembunyikan. Teman-teman, dia ada di sini.”teriak Sakti dengan nyaring sekali menggunakan ilmu suara jarak jauh. Segera saja tempat ini dipenuhi oleh teman-temannya, Pinyak langsung merepet mencaci maki karena dia harus membetulkan dulu baju dan celananya sebelum mengejar musuh yang lari cepat. Epen menyeringai buas karena tidak suka sampai dikerjai seperti tadi, musuh hampir saja lolos dan kuda incarannya sudah menghilang, dia ingin melampiaskan kekesalan hatinya pada pria gagah itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Baiklah, kau memang orang hebat bisa menipu kami dengan caramu itu, tapi ini tidak berlaku untuk kedua kalinya, kali ini kau akan lumat seperti daging cincang karena sudah berani menipu kami. Hayo anak-anak cepat kalian siapkan barisan kalian, jika kalian berani lengah lagi seperti tadi kalian rasakan nanti akibatnya aku sendiri akan membuat kalian menyesal berani melanggar perintahku.”teriak Epen dengan garang.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Mendengar ancaman tersebut berlari-lari mereka mencari posisi mereka dan menyusun barisan seperti tadi dengan cepat, kembali Masnan melihat benar yang dikatakan Burhan bahwa barisan Barat paling lemah diantara semua barisan dan barisan Utara yang paling tangguh. Dia kagum sekali pada muridnya itu ternyata muridnya benar-benar mempunyai daya analisa yang tajam sekali, kelak dia bisa didik untuk menjadi ahli strategi yang hebat sekali bahkan dalam hati kecilnya Masnan tahu suatu saat nanti Burhan akan bisa melampauinya. Dan dia bisa berbangga diri bahwa anak yang hebat ini, dia ada ambil bagian dalam mendidiknya. Sekarang dia sudah siap menghadapi serangan mereka, Burhan sudah disembunyikannya di tempat yang aman, di mana mereka tidak akan pernah menduga di mana dia menyembunyikannya.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Dengan Masnan ditengah kepungan 4 barisan itu, terlihat ketiga pimpinannya menatap barisan tersebut dengan tenang karena mereka yakin sekali mampu mengalahkan orang ini. Karena Epen yang paling gusar dengan kejadian tadi maka komando ada di bawah kendalinya, kedua temannya tidak akan ikut campur karena mereka tidak mau membingungkan anak buahnya. Mereka bertiga masing-masing bisa memberikan komando kepada anak buahnya tapi tidak pernah sekaligus memerintahkan berbarengan. Bahkan jika mereka ikut bertempur mengeroyok lawan mereka, otomatis komando akan dipegang Sakti dan mereka semua tanpa terkecuali mematuhi apapun perintah dari Sakti, karena yang lain tahu Sakti yang paling cerdik dan licik diantara mereka, dia mampu membaca situasi dengan cepat sekali dan beberapa kali mereka berhasil lolos dari bahaya berkat kecerdikan Sakti. Dan sebenarnya diantara mereka, Saktilah yang paling berbakat, tapi dia memang orangnya tidak bisa dipegang buntutnya seperti seniman gila bertindak sesuai dengan angin mana yang menghembusi dia. Jadi mereka semua sepakat yang memimpin kelompok mereka diserahkan ke tangan Epen yang paling besar pengaruhnya terhadap anak buah mereka.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Dan barisan mereka sungguh dilatih dengan disiplin yang keras sekali, mereka bergerak sesuai dengan aba-aba yang diberikan, bahkan setiap hari tidak ada dilalui tanpa latihan yang keras dari pimpinan mereka, hanya saat-saat tertentu seperti sekarang ini saja mereka tidak berlatih. Tiap 1 bulan sekali mereka meliburkan diri dari latihan selama 1 minggu untuk bersenang-senang setelah itu mereka harus berlatih kembali, mereka telah melakukannya hampir 3 tahun belakangan ini, sehingga dapat dibayangkan kekompakan mereka dalam bekerjasama. Barisan mereka memang sangat terkenal di dunia persilatan bahkan didengung-dengungkan bisa menandingi barisan perguruan Dewa Kuda yang memang sudah mempunyai nama besar dalam ilmu barisan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Epen dengan berkacak pinggang menatap tajam ke arah Masnan, dia sudah bertekat ingin melumatkan lawannya itu untuk melampiaskan kedongkolannya akibat kuda incarannya dibiarkan lolos oleh<span>&#160;</span> majikannya. Epen melirik kepada Pinyak dan Sakti, dia melihat kedua temannya menganggukan kepala tanda dia boleh mulai serangan mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Depan 1, dakek (dekat), <span>&#160;</span>1 tunggu.”demikian teriakan perintah Epen kepada anak buahnya, segera membentuk formasi sesuai dengan perintah itu. Tiga barisan yaitu utara, selatan dan timur bergerak mematuhi perintah sedangkan barat tetap di tempatnya semula, barisan timur dan selatan bergerak saling berdiri berdekatan dan yang utara maju ke depan dari posisi semula, jadi sekarang posisi Masnan di depan barisan Utara dan membelakangi barisan Barat, sedangkan kedua barisan lain saling bersebelahan di belakang barisan Utara.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Serang dengan Gelombang Sengatan Memecah Bumi.”teriak Epen, segera barisan utara menyerang ke arah Masnan dengan cepat sekali sambil bagian ekor yang memegang tombak mengayunkan tombaknya ke arah Masnan, disusul dengan kedua barisan di belakang bersiap untuk menggantikan posisi utara jika berhasil dipukul. Dua belas orang bergerak berbarengan meluruk ke arah Masnan yang sudah siap sedia. Terjadi benturan dan iringan teriakan kesakitan ketika benturan pertama terjadi diantara mereka, cepat sekali kedua barisan di belakang bergerak menutupi ruang langkah Masnan untuk menghindari serangan. Masnan merasakan bahwa tenaga dalam mereka semua masih di bawah dia, tapi yang dia salut sekali adalah kerapian gerakan mereka untuk saling menutupi kelemahan atau kekosongan akibat berhasil dipukul oleh Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Terdengar lagi teriakan Epen,”Kibasan Ekor Menyengat Bumi”, segera mereka bergerak lagi membentuk formasi baru untuk menghadapi Masnan, Barisan Barat yang tadinya diam saja mulai memasuki arena pertempuran. Sekarang Masnan dikeroyok 48 orang dengan 4 tombak beracun yang selalu mengincar dia kemanapun bergerak. Masnan tentu saja tidak membiarkan tombak itu mengenai tubuhnya segera dia melakukan serangan balik dengan ilmu andalannya Manyilang Tangan Bumi Tarangkek yang bermuatan tenaga dalam tiga perempat bagian, dia tidak mau keluarkan semua karena takutnya pemimpin mereka turun tangan dia tidak bisa melawan mereka. Itu saja dia sudah bisa mengimbangi formasi tersebut, melihat hal ini Epen tambah naik darah, dia memerintahkan lagi,” Terjangan Kaki Hantam Bumi” ini merupakan ilmu ketiga pada barisan kalajengking, berarti tinggal 2 gerakan lagi dalam formasi itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Keadaan ini berlangsung cukup alot dan dahsyat sekali, mereka yang jatuh bangun karena pukulan Masnan langsung bangkit kembali dan bergerak ke dalam formasinya untuk mengurung Masnan. Sungguh sebuah formasi yang sangat tangguh, mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh mematuhi setiap perintah yang diberikan. Masnan melihat walaupun pimpinannya memberikan aba-aba formasinya tapi dalam formasi itu sendiri mereka mempunyai pimpinan barisan yang bergerak sesuai dengan instruksi dari tombak yang digerakkan oleh orang yang bertumpu pada bahu temannya atau bisa dikatakan sebagai ekor dari kalajengking. Masnan mulai merasa keadaan ini tidak menguntungkannya mereka sudah bertempur cukup lama, dan dia tahu 48 orang itu sudah pernah kena kepalan tangan dan kakinya tapi herannya mereka seakan tidak merasakannya. Dia mulai melihat sekelilingnya sambil tetap menghindari tusukan tombak beracun itu, ketika matanya terarah kepada orang yang bernama Pinyak, dia melihat mulut orang itu komat kamit dan matanya dalam posisi lurus menatap satu arah yaitu ke arahnya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan tidak tahu apa yang terjadi tapi dia melihat setiap ada yang jatuh tiba-tiba mereka bisa berdiri kembali dalam kondisi sepertinya tidak merasakan kesakitan akibat pukulan atau tamparan yang diberikan padahal jelas sekali kondisi mereka sudah babak belur tapi tetap saja mereka mampu bergerak seperti tidak ada apa-apa. Memang Masnan tidak mau membunuh mereka langsung selain dia tidak tega dia juga ingin menangkap mereka hidup-hidup agar bisa diadili sesuai hukum kerajaan. Ini bisa menjadi contoh bagi perampok lain untuk tidak berbuat seperti perkumpulan ini. Tapi ini hanya tinggal keinginan karena semakin lama formasi ini semakin berbahaya karena para anggotanya mulai bergerak nekat mendekati dan mengepung dia.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Epen yang melihat keadaan lawan sudah agak keteteran menjadi senang sehingga dia menjadi meningkatkan serangan untuk segera menyelesaikan pertarungan ini. Dia bersama teman-temannya juga menganggumi pria yang bernama Masnan ini, masih dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu apapun padahal ilmu yang mereka lontarkan sudah mencapai tingkat ketiga. Kini dia melihat dia bisa melontarkan ilmu tingkat empat untuk semakin menekan lawan sehingga keadaan berbalik menjadi kemenangan di pihak dia.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Terdengar teriakan menggelegar dari mulut Epen,”Marapek(merapat) Badan Sejajar Bumi” ini adalah formasi yang paling berbahaya karena semua anggota barisan kembali mengepung Masnan dari 4 penjuru tapi dengan posisi kaki setengah ditekuk bahkan yang bergerak seperti capit, semua berjongkok dan orang yang bertumpu di badan temannyapun sudah turun ke belakang tombak tetap terentang di atas kepala. Tiba-tiba terdengar desingan tombak dari 4 penjuru menyerang Masnan, dan capit yang tadinya berjongkok begerak bersamaan meloncat ke depan menubruk kaki Masnan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Dia diserbu dua arah dari bawah dan atas, jika dia mengelakkan tubrukan kaki meloncat ke atas sudah pasti tubuhnya menjadi sasaran empuk tombak, jika dia merunduk kakinya disamber dari bawah. Yang hebatnya lagi ke empat tombak berdesing ke arahnya tidak pada ketinggian yang sama, bahkan mereka berjenjang mulai dari setinggi si bawah pusar, setinggi perut, setinggi dada dan setinggi leher, semuanya susul menyusul dari 4 penjuru, jadi hanya orang2 yang benar-benar mempunyai ilmu peringan tubuh tingkat tinggi yang mau mengelak dari lontaran tombak itu. Dan dia tahu dia tidak punya ilmu seperti Kahar dalam hal ilmu peringan tubuh, tapi dia punya tenaga dalam yang kuat sekali yang bertumpu pada bumi, oleh karena itu dia memutuskan merundukan badannya dan memperkokoh kuda-kudanya mempersiapkan dirinya menggunakan ilmu Hempasan Angin Tabangkan Awan untuk menerima serangan dari bawah.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Jadi sebelum tombak itu mengenai tubuhnya segera dia mengayunkan tangannya ke arah bawah, terjadilah benturan yang hebat sekali dan terlihat orang yang berusaha menyambar kaki Masnan tadi terlempar semua ke belakang dengan wajah berlepotan darah karena tinjunya bersarang di wajah mereka dengan telak sekali, menimpa temannya di belakang yang sedang menunggu untuk membantu serangan mereka. Sedangkan tombak yang dilontarkan hanya sedikit sekali jaraknya dari punggung Masnan yang buru-buru merunduk menghindari serangan, diterima oleh masing-masing pemegang tombak, ini artinya tombak tersebut sudah bukan milik semula semua bertukar posisi sesuai dengan arah lontaran.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Benar-benar serangan yang berbahaya sekali, kini Masnan tahu kalau dia ingin segera menyelesaikan pertempuran ini dia harus secepatnya menyikirkan lawannya, yang berarti dia harus membunuh atau minimal melukai berat mereka. Segera dia merapal ilmu andalannya dalam tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya, dan bersiap menerima serangan berikut. Dan kembali dia melihat keanehan orang yang sudah kena hajaran dia dengan keras sekali, masih bisa berdiri dan membentuk formasi kembali, bahkan dia tidak melihat di wajah mereka rasa sakit akibat pukulannya itu. Dia memalingkan kepalanya ke arah pria yang bernama Pinyak itu dan dia melihat pria itu sedang komat kamit dan dari kepalanya keluar asap berkilauan keperakan dari ubun-ubunnya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Langsung dia dapat menduga pria ini mempunyai ilmu hitam yang bisa menghipnotis orang untuk tidak merasakan kesakitan atau yang lebih dikenal di dunia persilatan dengan sebutan Ilmu Hitam Panarik (penarik) Sukma, ilmu ini sudah lama hilang dari dunia persilatan tapi kini bisa muncul lagi ini artinya dunia persilatan akan diguncang kembali dengan prahara. Tapi dia bisa melihat ilmu yang digunakan pria itu belum terlalu sempurna bahkan masih belum menyamai sang empunya ilmu ketika waktu dia kecil dulu melihat gurunya bersama para sahabatnya menghadapi Bandaro Rumbiah (sejenis daun yang digunakan untuk atap) seorang iblis yang mempunyai ilmu kebatinan aliran sesat tingkat tinggi. Dia mampu membuat orang yang setengah karat tetap melanjutkan pertempuran dengan tenaga yang sama seperti dia normal. Akhirnya Bandaro Rumbiah berhasil dibunuh, dan beredar kabar ilmu itu lenyap bersama meninggal sang pencipta ilmu itu. Tapi kini ilmu itu muncul kembali berarti ilmu jahat itu sudah ada perwarisnya, dia harus berhati-hati kalau ingin bisa selamat dari pertempuran yang mematikan ini.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Kembali dia diserang dari segala arah, pertempuran semakin lama semakin tidak beres, tenaga Masnan tambah lama tambah terkuras sedangkan musuh sepertinya tidak berhenti juga tenaganya tetap seperti semula. Dia melihat keadaannya benar-benar tidak menguntungkan, bala bantuan yang diharapkan tetap saja belum datang. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk meningkatkan penggunaan tenaga dalamnya sampai tingkat tertinggi dan melontarkan puncak ilmunya Hampasan Angin Tabangkan Awan pada jurus terakhir. Dia mulai mempersiapkan dirinya, sedangkan Epen melihat bahwa lawannya akan mengerahkan ilmu mautnya kepada mereka, segera dia meningkatkan penggunaan ilmu barisannya ke tingkat kelima, teriaknya,”Kalajengking Merah keluar sarang!”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Dan semua barisannya tiba-tiba bergerak bergabung dan membentuk kalajengking besar dengan capit di kiri kanan, 4 orang yang memegang tombak memecahkan diri dua-dua orang membentuk capit, sedangkan di ekornya telah ada Sakti dengan tangan sudah memegang tombak pula berdiri di pundak kedua temannya Epen dan Pinyak. Mulut Pinyak masih dalam keadaan komat kamit, tapi tidak seperti tadi berdiri diam sekarang dalam posisi menahan tubuh Sakti yang akan bergerak menyerang seperti ekor kalajengking. Keadaan terasa semakin memanas, masing-masing pihak mengerahkan ilmu tertingginya untuk mengalahkan lawan. Keadaan ini sudah diperhitungkan oleh Masnan, hanya yang tidak pernah dia pikirkan adalah di jurus terakhir semua pimpinannya turun tangan sendiri.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Hal ini terjadi karena Sakti sudah melihat lawan sekali ini benar-benar hebat sekali sudah bertempur kurang lebih 2 jam tapi masih dalam kondisi tegar, kalo lawan lain sudah dari tadi kalah. Si licik ini bisa melihat walau mereka bergabung menjadi satu sesuai dengan ilmu mereka tetap saja mereka membutuhkan waktu yang lama untuk mengalahkan pria ini. Sedangkan dia merasa ada yang tidak wajar seakan-akan pria ini menunggu-menunggu sesuatu karena seharusnya dengan ilmu yang dia miliki dari tadi barisan mereka sudah hancur, bahkan mungkin sekarang mereka bertiga yang sedang bertempur dengan pria ini. Karena itu dia membisikan ke telinga teman-temannya dengan ilmu pengirim suara untuk segera menyudahi pertempuran ini, artinya mereka semua harus siap-siap terjun ke arena pertempuran dan membentuk formasi kalajengking besar.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Teman-temannya langsung menyetujui, karena mereka sendiri sudah mulai gemas dan kuatir seandainya mereka terbantai malam ini. Segera formasi besar itu mulai mengitari sekeliling Masnan dengan kecepatan pelan tapi sangat teratur dan rapi sekali. Keempat orang yang akan bertindak sebagai capit sudah mulai menghunuskan tombaknya ke arah Masnan dengan keadaan saling memunggungi satu dengan yang lain. Sedangkan Sakti sendiri sudah bersiap-siap untuk mengkomandoi pertempuran kali ini, dia sudah tidak sabar ingin segera mengetahui keberadaan bocah yang telah menawan hatinya itu.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Serang kanan, mundur kiri.” Segera mereka melakukan perintahnya, dan Masnan yang menghadapi serangan capit kanan berusaha menangkis hujaman tombak ke arahnya, tapi baru dia mengangkat tangannya untuk menangkis capit, dari atas kepalanya sudah datang tombak yang dipegang Sakti yang menghujam ke kepalanya. Sungguh sebuah serangan yang ganas sekali kecepatan ekor jauh lebih menekan dari sebelumnya karena dilakukan oleh 3 pimpinan perkumpulan ini yang mempunyai ilmu dan tenaga dalam yang selisihnya tidak jauh dari Masnan.Gerakan Sakti yang ditopang oleh kedua kawannya sungguh hebat sekali, ekor itu bisa bergerak ke segala arah dengan tingkat kedinamisan yang tinggi sekali jauh dibandingkan dengan permainan anak buah mereka. Temannya bisa memegang kedua kaki Sakti dan mengayunkannya ke segala arah dengan tenaga dalam gabungan mereka bertiga sehingga menghasilkan tingkat serangan yang mematikan. Mulailah Masnan kewalahan dengan semua serangan ini, dia harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bisa menahan serangan mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Perlahan-lahan dia mulai keteteran dan harus mundur sampai jungkir balik menghindari serangan capit dan ekor barisan ini. Suatu saat tiba-tiba terdengar teriakan Sakti,”Kena kau,” dia melihat peluang untuk menghantam dada Masnan dengan tombak, padahal di saat itu Masnan sedang mencoba mengibaskan serangan dari kedua capit. Masnanpun berpikir kali ini kena dia akan tombak beracun itu, tapi emang Tuhan yang punya kuasa di saat genting itu tiba-tiba terdengar seperti suara deru ombak yang kencang sekali di telinga semua orang dan itu terasa menusuk-nusuk telinga mereka sehingga mengganggu kosentrasi mereka semua. Tapi Sakti memang hebat walau dia sempat sesaat kehilangan kosentrasi tapi dia tetap bisa melanjutkan serangannya, Masnan yang juga terpengaruh gelombang suara deru ombak itu semakin keteter dengan serangan dari Sakti. Untuk mengurangi kerusakan yang timbul akibat tusukan tombak didadanya itu dengan cepat dia menyilangkan tangannya ke dada untuk menahan tusukan tombak yang datang, dia rela kehilangan satu tangannya daripada mati tanpa perjuangan untuk hidup walau dia sudah mati langkah.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Ternyata Tuhan berkehendak lain, tombak yang mengarah ke dada Masnan, tiba-tiba hancur seperti debu dihantam oleh sebentuk kepalan tinju yang tidak jelas datangnya dari mana. Sakti yang memegang tombak itu sampai terlempar jauh bersama kedua teman yang memegang kakinya itu, getaran tinju yang sarat dengan tenaga dalam itu benar-benar menggetarkan dada mereka semua, sehingga mereka muntah darah menahan getaran tenaga dalam itu. Tapi mereka masih belum terluka dalam, mereka melihat keadaan yang sangat tidak menguntungkan tersebut buru-buru mereka melarikan diri meninggalkan semua anak buahnya untuk menahan kejaran orang hebat itu. Para anak buah melihat pimpinannya lari, semua ikutan berlari mengejar pimpinannya, dalam sekejab&#160;terdengar&#160;derap kaki orang yang berlarian&#160;semakin lama semakin menjauh.&#160;Masnan bergerak hendak mengejar mereka, tapi tiba-tiba di telinganya terdengar suara, “Sudah jangan dikejar lagi, kamu harus mengobati luka di tanganmu yang tergores tombak beracun itu.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Kaget Masnan mendengar hal itu, dia tidak sadar bahwa ternyata tangannya sempat tergores oleh ujung tombak, dan dia melihat tangan kanannya disekitar goresan berubah berwarna merah menghitam dan dia merasakan aliran darahanya mulai membaca racun tersebut, buru-buru dia menotok tangannya untuk mengh]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><span style="font-size: 18pt; color: blue; font-family: 'Comic Sans MS'" lang="IT" xml:lang="IT">VI : Perjalanan&#160;anak harimau menuju ibukota<br /></span></b><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br /></span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Kita ikuti perjalanan Burhan terlebih dahulu, Masnan dan Burhan berangkat terlebih dahulu dibandingkan dengan Basri dan Saiful, pagi-pagi sekali mereka sudah siap untuk berangkat dengan dibekali makanan dan obat-obatan oleh Siti agar bisa digunakan selama dalam perjalanan panjang mereka.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan datang ke nagari Batang Kapeh menggunakan kuda kesayangannya si Tunggul Item yang merupakan keturunan kuda yang hebat sekali anak dari kuda kesayangan raja yaitu kuda Petir Biru yang berasal dari negeri seberang, hadiah upeti dari saudagar negeri Tar-tar. Kuda yang sangat elok sekali dan mempunyai daya tahan tubuh yang hebat sekali bisa berlari terus menerus selama 2 hari tanpa makan dan minum dengan kecepatan yang tetap stabil.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Karena ingin cepat sampai di rumah, maka Masnan mengajak Burhan untuk naik kuda bersamanya. Burhan yang tidak pernah naik kuda sebelumnya, dalam hati merasa takut melihat kuda besar berbadan hitam pekat ini. Bagi dia, kuda ini terlihat tinggi dan besar sekali, tapi dia memang anak yang spesial sekali ketakutannya tidak diperlihatkannya di depan orang-orang dengan menggertakan giginya dia berusaha mengatasi rasa takutnya itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Ketika Masnan yang dari atas kuda mengulurkan tangannya kepada Burhan untuk mengangkat anak ini duduk di belakangnya, sempat Burhan ragu sejenak dan Masnan yang mengetahui ketakutan Burhan berusaha membujuk anak itu untuk tidak takut naik kuda ini. Dia tidak sempat mengajarkan kepada Burhan cara mendekatkan diri pada kuda ini, agar Burhan tidak takut lagi pada Tunggul Item.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Akhirnya siaplah berangkat mereka berdua, setelah berpamitan dengan yang lain, segera Masnan memacu kudanya ke arah Barat menuju Pagaruyuang. Selama di perjalanan Burhan memeluk pinggang Masnan erat-erat karena selain dia takut pada kuda tersebut, dia juga takut jatuh. Belum pernah seumur hidupnya naik kuda, selama ini dia hanya tahu naik gerobak yang ditarik kuda saja tapi benar-benar naik kuda ini merupakan pengalaman pertama baginya.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Pengalaman ini sangat tidak enak sekali, pantatnya sampai sakit duduk di atas kuda, dan punggungnya pegal sekali karena harus duduk tegak terus, tapi tidak pernah dimulutnya terdengar keluhan. Setelah setengah hari mereka berkuda, Masnan menghentikan kudanya untuk beristirahat, karena dia merasakan perut Burhan yang menempel di punggungnya berbunyi minta diisi, baru dia sadar dia tidak sendirian naik kuda tapi bersama seorang anak kecil yang tidak mempunyai daya tahan tubuh seperti dia. Dekat sebuah sungai, Masnan menghentikan kudanya untuk istirahat, dia membiarkan kudanya merumput dan minum air dari sungai tersebut, sementara itu Masnan membuka perbekalan untuk dimakan bersama Burhan. Sebenarnya Masnan sudah melihat wajah Burhan yang terlihat menahan sakit akibat menunggang kuda, tapi sengaja dia tidak menanyakan kepada anak itu karena dia melihat anak itu tidak mengeluarkan keluhan apapun atas penderitaannya. Dia jadi ingin menguji daya tahan ini sampai mana, Masnan tahu betapa sakit dan pegal-pegalnya semua urat di paha atas, punggung dan pantat anak itu belum ditambah teriknya matahari yang menyorot mereka, benar-benar penderitaan yang tidak mengenakkan sekali bagi seorang anak kecil seperti Burhan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Setelah mereka memakan roti untuk mengganjal perut segera Masnan berdiri mengajak Burhan untuk melanjutkan perjalanan. Burhan yang belum pernah mengalami hal seperti ini, berusaha bangkit dari duduknya, langsung rasa sakit karena pegalnya menghajar paha dan pinggangnya, ingin dia berteriak tapi dengan keras hati dia mengunci rapat mulutnya. Dengan tertatih-tatih dia berjalan menghampiri Masnan yang sudah menunggu dia di dekat kuda mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Burhan, apa kamu kesakitan ?” tanya Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Iya, paman.”sahut Burhan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Apa kita istirahat lagi sampai kamu memulihkan kondisi kamu?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Tidak perlu paman, aku masih bisa dan kuat untuk meneruskan perjalanan kita.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Kamu yakin?” tanya Masnan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Yakin, paman” dengan tegas Burhan menjawab pertanyaan Masnan.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Sebenarnya Masnan tidak tega melihat penderitaan Burhan, tapi dia tidak ingin mempunyai murid cengeng dan dia juga tahu Burhan merupakan seorang anak yang tidak suka dikasihani, dia akan berusaha sekuatnya sampai titik darah penghabisan baru dia minta tolong. Segera Masnan dan Burhan melanjutkan perjalanan mereka, kuda terus berlari cepat dan semakin lama semakin cepat sehingga Burhan hanya melihat kelabatan daun-daun di sepanjang jalan saking kencangnya kuda terebut berlari. Kesakitan dan pegal yang dirasakan oleh Burhan tambah lama tambah parah tapi tetap dia tidak mengeluhkannya sedikitpun. Bagi dia, ini adalah sebuah ujian hidup yang harus dilalui dan dia mengeraskan hatinya untuk bisa melalui semua ini. Lama kelamaan dia merasa mengantuk sekali, akhirnya dia tertidur di punggung Masnan, dengan tidak mengendorkan pegangan tangan kanannya pada pelana kuda, Masnan menggunakan tangan kirinya untuk memegang tangan Burhan agar dia tidak jatuh akibat goncangan dari lari kudanya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Menjelang tengah malam sampailah Masnan di pinggiran sebuah desa, dia megurangi kecepatan kudanya agar tidak menganggu penduduk desa tersebut. Pelan-pelan dia menjalankan kudanya, baru dia masuk masuk wilayah desa tersebut, tiba-tiba dia mendengar suara keributan di ujung desa sebelah sana, terdengar teriakan dan jeritan yang menyayat hati. Segera dia memacu kudanya menuju arah suara keributan tersebut, sementara itu Burhan sudah terbangun dari lelapnya, seluruh badanya terasa remuk sekali tapi tidak keluar keluhan dari mulutnya. Dia juga mendengar jeritan yang mengiriskan hati, jantungnya berdebar-debar kencang, dia mempererat pelukannya pada pinggang Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan mengetahui ketakutan Burhan, tapi dia ingin mendidik muridnya itu untuk melihat di lapangan secara langsung situasi apa yang sedang terjadi dan bagaimana mengatasinya. Mereka sudah mendekati tempat asal jeritan tadi, pemandangan di situ benar-benar mengejutkan hati Masnan, di lapangan luas itu dia melihat ada beberapa laki-laki kasar sedang memperkosa wanita-wanita kampung secara terbuka seperti binatang saja, dan para laki-lakinya sedang diikat di tiang dan sedang dilecuti. DI sudut kanan terlihat beberapa mayat bergelimpangan, keadaan ini sungguh mengerikan sekali dan yang terlebih menjijikan lagi hal ini disaksikan oleh 3 orang laki-laki yang berbentuk aneh sedang duduk di tengah-tengah kekacauan ini sambil menikmati santapan ayam panggangnya dan minum tuak. Mereka seolah-olah melihat sebuah pertunjukan yang memang disajikan untuk menambah selera makan mereka</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Orang pertama yang dilihat Masnan dari ketiga orang ini, adalah yang sedang memegang paha ayam di tangan kiri dan di tangan kanan memegang dan meremas-remas kedua bukit seorang gadis, gadis itu sudah dalam kondisi menggenaskan sekali, rambut kusut masai, baju sudah sobek-sobek memperlihatkan bentuk tubuhnya yang memang aduhai, tapi pandangan mata gadis itu sudah kosong seperti orang mati walaupun dia belum mati. Dan orang yang memegangnya mempunyai bentuk wajah mengerikan penuh dengan codet dengan bibir yang tebal menjijikan dan mempunyai mata juling yang bergerak liar tidak menentu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Sedangkan teman di sebelah kanannya telihat lebih mengerikan, hidungnya somplak sebagian, pipinya penuh dengan jerawat besar-besar dan bernanah yang dibiarkan oleh pemilik wajah tersebut meleleh membasahi mukanya. Benar-benar wajah yang memuakan sekali. Terakhir orang yang dilihat Masnan tidak memuakan dan mengerikan seperti kedua temannya, wajahnya biasa saja tapi sinar matanya kejam sekali dan senyumnya merindingkan bulu kuduk bagi yang melihatnya. Masnan menyesal membawa Burhan ke tempat itu, seharusnya dia meninggalkan bocah bersama kudanya di pinggiran desa sebelah sana, tapi karena keinginannya yang egois sehingga menyebabkan bocah yang masih kecil ini harus melihat pemandangan yang mengerikan seperti ini.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Ketiga orang yang sedang makan itu cepat menolehkan kepalanya melihat siapa yang sedang mendekati tempat bersenang-senang mereka. Mereka melihat seorang pria gagah bersama dengan seorang bocah mendekati tempat mereka dengan tenang. Mereka tertarik sekali melihat pria, bocah dan kuda yang datang mendekat tersebut dengan pandangan yang tajam, mereka saling pandang satu dengan yang lain dan tiba-tiba mereka tertawa terbahak-bahak yang menggema di seluruh tempat itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Sakti, malam ini kau tidak lagi bakalan mengeluh karena kami dapat hiburan kesenangan sedangkan kau tidak, aku lihat kesukaanmu itu benar-benar pilihan tidak seperti bocah dusun tadi. Hahahahaa&#8230;” kata pria yang mempunyai hidung somplak itu kepada temannya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Belum tentu aku suka, karena aku belum lihat wajah dan bentuk tubuhnya dengan jelas.”kata pria yang bermata kejam tersebut dengan senyum-senyum.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Dalam hati dia senang sekali karena melihat calon mangsanya datang mendekat, dia yakin mangsanya kali ini jauh lebih baik dari tadi. Pria yang bernama Sakti ini mempunyai kelainan gila, sangat suka melakukan hubungan sex dengan bocah-bocah kecil baik itu laki-laki atau perempuan, tapi tidak sembarangan bocah juga, dia sangat pemilih dengan mangsanya, dia menyukai bocah yang berkulit bersih dan berbadan tegap serta berwajah bagus. Tadi dia sudah menyalurkan hasratnya kepada seorang bocah dusun, tapi anak tersebut tidak kuat menahan gelora gila Sakti, sehingga anak tersebut pingsan berkali-kali dan akhirnya mati dipukul kepalanya oleh Sakti yang kesal sekali melihat anak tersebut pingsan terus menerus, sedangkan dia menyukai sedang melakukan itu mangsanya harus menjerit-jerit kesakitan baru dia bisa mencapai kepuasannya. Benar-benar seorang sakit jiwanya (jaman sekarang disebut psikopat), dan terlebih menjijikan lagi dia suka melakukannya di depan teman dan anak buahnya seperti ingin memamerkan keperkasaannya.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Dan kau, Epen, aku lihat kau sudah mengeluarkan liur dari bibirmu melihat kuda hitam yang bagus itu. Malam ini kita benar-benar menikmati kesenangan&#8230;hahahahaha..”kata pria yang sedang memegang gadis kepada pria yang hidungnya somplak itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Benar sekali, sudah lama sekali aku menginginkan mempunyai kuda yang sangat bagus, ternyata malam ini ada orang yang berbaik hati mengantarkannya untukku. Menurutmu Pinyak, hadiah apa yang harus kuberikan kepada pria yang sudah baik hati mengantarkan kesenangan buat aku dan Sakti&#8230;hahahaha” kata Epen kepada teman-temannya itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Menurutku, karena sudah lama sekali tidak pernah menguji coba ilmu terakhir kita, Pukulan Trisula Kalajengking Merah, bagaimana kalau kita hadiahkan dia pukulan tersebut. Dia merupakan tamu kehormatan kita untuk merasakan pukulan tersebut, bagaimana menurut kalian?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Wah ide yang bagus sekali, aku sudah tidak sabar lagi ingin mencicipi kesukaanku itu,”kata Sakti dengan mata berbinar-binar setelah dia melihat Burhan dengan lebih dekat lagi. Dia menyukai yang dia lihat, sungguh bocah yang membuat hasratnya terbangun dengan dahsyatnya.</p>
<p>Bocah itu mempunyai wajah yang begitu gagah dan bentuk badan segitiga terbalik yang sangat proposional sekali. Benar-benar bocah pilihan sekali, dia juga melihat anak ini mempunyai tulang dan darah yang bersih, dia sangat menyukai mangsanya kali ini jarang sekali dia melihat bocah seperti ini. Dulu dia pernah mendapatkan mangsa seperti bocah ini, dan dia puas sekali karena bocah itu bisa kuat menahan gelora hasrat birahinya berhari-hari sebelum akhirnya anak itu mati dibunuhnya. Apalagi anak ini seharusnya lebih hebat lagi, dia merasa tertantang melihat sinar tajam dari bocah itu ketika memandang dia dan teman-temannya walaupun mukanya pucat pasi melihat situasi di sekitanya, benar-benar menggairahkan untuk ditaklukan. Pikiran yang kotor dan menjijikan bermain-main di benaknya, kalau saja Burhan atau Masnan tahu apa yang ada di benak orang gila ini mereka akan menggidik ngeri dan jijik sekali.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Masnan yang mendengar pembicaraan mereka dan melihat keadaan ini menjadi sangat murka, dia tahu maksud hati<span>&#160;</span> orang yang bernama Sakti itu, dia mengincar Burhan untuk menjadi korban kepuasannya. Membayangkannya sungguh sangat menjijikan sekali, Masnan ingin sekali meremukan kepala mereka segera, tapi dia tahu diri dengan keadaan di sekitarnya apalagi dia harus melindungi Burhan. Dia pernah mendengar Pukulan Trisula Kalajengking Merah, pukulan ini dimiliki oleh pimpinan perkumpulan Kalajengking Merah yang dikenal di dunia persilatan dengan julukan 3 Iblis Darah Gila. Perkumpulan ini sudah lama sekali ingin dibasmi oleh pasukan kerajaan maupun orang-orang dari dunia persilatan tapi selalu saja mereka dapat meloloskan diri. Mereka merupakan perampok yang terkenal dengan kekejamannya, korban mereka selalu diperkosa dulu sebelum dibunuh baik itu wanita maupun anak kecil sedangkan laki-laki dewasa suka disiksa dengan racun mereka, Racun Kalajengking Merah.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Ilmu silat ketiga pimpinan perkumpulan ini sangat tinggi apalagi jika mereka menggabungkan diri membentuk barisan trisula, jarang orang yang bisa menandingi ilmu mereka. Oleh karena itu mereka sangat sombong sekali, seolah-olah tidak takut melakukan kekejaman di tempat umum. Sudah banyak korban mereka diantaranya ada keluarga bangsawan, keluarga pesilat kenamaan, dan orang-orang kaya daerah. Mereka pernah menyatroni Basri di rumahnya tapi kebetulan saat itu kedua mertua Basri sedang datang berkunjung sehingga mereka dapat dikalahkan walau akhirnya mereka dapat meloloskan diri dalam keadaan luka parah. Peristiwa itu membuat nama mereka hilang dari dunia persilatan, tapi sepertinya sekarang mereka mulai muncul kembali setelah hampir 5 tahun tidak kedengaran lagi namanya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Kini Masnan harus menghadapi mereka seorang diri, dia merasa kuatir juga karena harus melindungi Burhan, tadi diam-diam dia sudah melepaskan panah ke angkasa untuk memanggil bantuan dari pasukan kerajaan. Dia berharap jika pasukan itu datang dia bisa meminta mereka melarikan Burhan sehingga dia bisa berkelahi dengan tenang tanpa memikirkan keselamatan Burhan lagi dan dia bisa menangkap dedengkot perkumpulan yang sudah mengganggu ketentraman masyarakat.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Burhan yang memang bocah polos dan selalu hidup sederhana, tidak pernah menyangka bahwa di luar lingkungannya ada hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dia melihat semua kejadian di tempat itu dengan bingung dan merasa aneh dengan semua tingkah laku orang-orang yang ada di sana. Matanya menatap tajam sekitarnya dan keningnya berkerut tanda tidak mengerti, tapi nalurinya mengatakan bahwa semua yang terjadi tersebut merupakan hal yang salah tidak sesuai dengan semua ajaran kebaikan yang dia terima selama ini. Ketika matanya beradu pandang dengan salah satu pria yang ada di dekat api unggun itu, dia merasa semua bulu kuduknya berdiri dan perasaan ngeri seakan menyelimuti dirinya, otomatis dia bergerak berlindung di belakang Masnan dengan memegang jubah panjangnya. Belum pernah sepanjang hidupnya Burhan merasakan kengerian seperti ini, dia merasa orang itu menatap dia seakan ingin menelannya terlihat jakun orang itu turun naik seakan setiap saat akan melahapnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Tapi walaupun begitu bocah inipun bukan bocah sembarangan, dia merupakan bocah pilihan untuk mengatasi sang angkara murka, wajahnya tetap tenang dan sinar matanya tetap tajam menatap semua yang terjadi. Di wajahnya tidak ada guratan takut, kuatir atau apapun, seolah tenang dan teduh saja, hanya Masnan yang tahu betapa ketakutannya anak ini, dia merasakan tubuh anak ini gemetar dan tangannya mencengkram erat jubahnya serta jantungnya berdebar keras di kakinya. Sempat Masnan menoleh untuk memberikan ketenangan pada anak ini, tapi begitu melihat wajahnya yang tenang tidak mencerminkan ketakutannya sama sekali, Masnan dibuat kagum sekali, inilah wajah yang akan bisa menipu orang di meja judi tanpa orang tahu dia sudah menipu. Dia melihat 3 orang yang ada di api unggun itu memancarkan sinar kekaguman yang sama dengannya ketika melihat wajah tenang Burhan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Dalam hati ketiga orang itu langsung punya dugaan bocah ini pasti didikan orang hebat, dan pria yang bersamanya pasti juga orang hebat karena mereka melihat gerakan yang mantap dari pria itu dan wajah yang dingin memandang mereka dengan mata yang tajam memiriskan hati. Mereka tahu mereka berhadapan dengan orang yang berilmu tinggi juga, karena itu mereka harus hati-hati dan tidak boleh salah langkah, sekali salah nyawa taruhannya. Mereka sudah melihat nyawa mereka menjadi taruhan dalam penyelesaian mereka dengan pria gagah itu. Tapi mereka tidak takut selain ilmu mereka sudah meningkat secara personal dibandingkan dulu dan mereka juga menyempurnakan ilmu pukulan mereka dengan bimbingan guru baru mereka yang sangat mumpuni itu. Desa ini merupakan korban kedua setelah lama mereka menyembunyikan diri untuk menyembuhkan diri dan berlatih meningkatkan ilmu silat mereka.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Dendam mereka kepada suami isteri Pendekar dari Bukit Naga selalu membara, semua cacat yang ada di tubuh mereka merupakan hasil karya sepasang pendekar ini tapi mereka tahu mereka belum bisa menandingi pasangan pendekar itu bahkan dengan ilmu andalan mereka yang terbarupun masih belum mampu menandingi gabungan ilmu kedua pendekar itu. Oleh karenanya mereka harus mempunyai rencana yang matang agar bisa menghancurkan musuh mereka itu kalau perlu menggunakan cara licik supaya berhasil. Sebelum rencana itu terlaksana mereka ingin menguji coba ilmu mereka yang sudah disempurnakan, karena saat ini mereka bertemu dengan orang yang kelihatannya bisa menandingi mereka. Melihat cara pria gagah itu bergerak dan sinar matanya, kelihatan bahwa orang ini berisi pasti mempunyai tenaga dalam yang hebat karena bisa mengeluarkan sinar mata yang tajam jernih.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Sakti yang melihat bocah bersama pria gagah itu, merasa sangat baik sekali peruntungannya karena baru sekali ini dia melihat bocah pilihan yang jarang sekali bisa ditemui, berwajah gagah dan menyiratkan ketenangan, mempunyai sepasang mata yang bening teduh menghanyutkan setiap dia memandang mata bocah itu dia merasa dia ingin menenggelamkan diri ke dalam keteduhan mata bening itu. Hasratnya menjadi menggila setiap kali memandang wajah bocah itu belum lagi bentuk tubuhnya yang tegap gagah dengan dada bidang sungguh sebuah kombinasi yang nyaris sempurna yang dimiliki seorang bocah laki-laki, dia yakin jika bocah ini besar nanti pasti akan banyak sekali gadis-gadis jatuh hati padanya. Tapi hal ini tidak boleh terjadi hanya dia seorang yang boleh memiliki bocah sempurna ini, dia tidak akan membaginya dengan orang lain. Jika dia tidak dapat bocah ini maka tidak ada orang lain yang boleh memilikinya juga, dia sudah merencanakan jika mereka kalah nanti minimal bocah ini harus mati, dia cemburu dan iri membayangkan orang lain yang memiliki bocah ini. Sungguh pikiran orang gila dan sakit batinnya sampai bisa memikirkan hal seperti itu..<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Epen yang sudah tergiur melihat kuda milik pria gagah itu langsung buka mulutnya,”Hai saudara, siapa awak (kamu) ini? Apakah datang ke sini ingin ikut berpesta bersama kami ? Hahahhaa..”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Masnan menahan kemarahannya, karena dia tahu jika emosinya naik maka dia tidak akan bisa tenang memikirkan situasi di sini, dengan suara lantang mencerminkan kegagahannya dia menyahut,” Namaku Masnan, dan ini muridku Burhan, aku tahu siapa kalian. Kalian merupakan pimpinan dari perkumpulan Kalajengking Merah yang bergelar Iblis Muka Setan, Iblis Mata Juling dan Iblis Gila Bocah.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Wah Pinyak, hebat dia bisa tahu siapa kita tapi dia kurang ajar mengatakan kau si mata juling..hahahaha” kata Epen, dia sengaja mengatakan seperti itu karena dia tahu temannya itu paling benci dibilang mata juling.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Benar saja pria yang bermata juling itu langsung naik darah mendengar Masnan memanggil dia juling, dia merasa matanya adalah keistimewaannya yang bisa melihat segala arah dalam waktu bersamaan sekarang dihina orang dengan kata juling, langsung saja dia membuang ayam dan gadis yang ada di pangkuannya, berdiri dan bersiap ingin menyerang Masnan, tapi untung keburu ditahan temannya yang bernama Sakti.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Sabar dulu teman, kalau kau mau menghajar dia boleh saja tapi aku harus menyelamatkan dulu bocah kesayanganku itu supaya tidak kena hajaranmu. Dan lagian waktu kita masih panjang untuk mengerjai dia&#8230;hahahaha.. janganlah cepat kita mengotori tangan kita biar anak-anak saja yang menyelesaikannya,”kata Sakti dengan congkak, dia memang yang paling licik diantara mereka, dengan mengorbankan anak buah mereka dia bisa mengukur kekuatan lawannya terlebih dahulu sebelum dia turun tangan, kalaupun akhrinya dia turun tangan, lawannya sudah terkuras tenaga melawan anak buahnya itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Anak-anak hayo siap-siap kalian untuk menghadapi mainan baru.”kata Sakti kepada anak buahnya. Begitu mendengar komando dari pimpinan mereka, segera mereka meninggalkan apapun yang sedang mereka kerjakan untuk siap-siap menyerang musuh. Di sini terlihat betapa hebatnya kepatuhan anak buah kepada para pimpinannya, padahal ada beberapa diantara mereka sedang melampiaskan nafsu binatangnya, biasanya tidak mudah untuk membuat orang yang sedang di puncak gairah menghentikan kegiatannya hanya berdasarkan perintah, tapi mereka melakukan hal itu dengan tertibnya bahkan sudah membentuk barisan walau ada beberapa diantara mereka tetap dalam kondisi memperbaiki pakaian mereka yang berantakan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Mereka melakukan ini bukan karena mereka memang menghormati pimpinannya tapi karena takut, para pimpinan tidak segan-segan menyiksa mereka jika tidak mengikuti komando, pernah dulu ada teman mereka ada yang sedang keasyikan melampiaskan nafsunya tidak mendengar perintah pimpinannya, langsung saat itu juga dikebiri oleh pimpinan, tak tebayangkan kesakitan yang diderita teman mereka itu. Sejak saat itu tidak berani lagi mereka melanggar perintah dari pimpinan walau dalam keadaan yang tidak memungkinkan sekalipun. Pimpinan mereka memang kejam tapi juga royal, semua hasil rampok dibagi rata diantara mereka, bahkan tidak segan-segan memberikan hadiah besar kepada mereka jika memang pantas diberikan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Bagaimana pria gagah, hebat bukan anak buah kami? Dalam sekejab mereka siap untuk menyerang saudara, jadi lebih baik menyerah saja sebelum dagingmu dicincang oleh mereka. Kami akan memperlakukan saudara dan anak saudara sebaik mungkin sehingga anda tidak akan menyesal pernah hidup di dunia ini&#8230;.hahahaha&#8230;”kata Sakti dengan pongahnya kepada Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Memang dalam hati Masnan ada kekaguman akan ketaatan anak buah dari perkumpulan Kalajengking Merah ini, tidak mudah untuk membuat orang bersiap dalam kondisi asyik masyuk seperti tadi. Dari sini dia dapat menganalisa betapa hebat dan kejamnya pada pimpinan itu sehingga bisa membuat anak buahnya dalam kondisi apapun mematuhi perintah tanpa banyak gerutu dan caci maki. Masnan semakin yakin dia dalam posisi sulit melihat keadaan seperti ini, tingkat kewaspadaan dan aliran tenaga dalam ke seluruh tubuhnya semakin meningkat seiring dia merasa akan bahaya yang mengintai Burhan setiap saat. Dia melihat orang yang bernama Sakti itu tidak melepaskan tatapan matanya kepada Burhan sedari mereka datang ke tempat ini, Masnan tahu orang seperti Sakti merupakan orang yang paling berbahaya diantara 2 pimpinan yang lain. Karena itu dia harus benar-benar kosentrasi menjaga segala kemungkinan yang terjadi, yang paling dia pikirkan adalah Burhan, kasihan anak ini kalau sampai jatuh ke tangan orang yang bernama Sakti tersebut.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Semua dalam keadaan membisu, belum ada yang berani bergerak karena takut akan kalah langkah, Masnan sudah berkeputusan akan melontarkan Burhan ke atas punggung si Tunggul untuk dibawa lari menghindar dan dia tidak mau gegabah salah mengambil langkah mengingat dia akan dikeroyok dan 3 pimpinan tersebut dalam keadaan menonton, dia tidak mau semua perhitungannya meleset sehingga semakin membahayakan Burhan. Hanya sekarang dia menunggu saat yang tepat agar bisa menyelamatkan Burhan sambil menunggu bala bantuan tiba. Panah yang dia lepaskan tadi merupakan panggilan khusus kepada para wakilnya untuk menemui dia secepat mungkin. Dia mempunyai 3 wakil yang berilmu tinggi juga dan masing-masing membawahi 3 kepala regu yang juga ilmunya setara dengan pimpinan perguruan silat tingkat menengah dan masing-masing regu mempunyai 30 orang anggota.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Dia memperkirakan orang yang ada di lapangan ini berkisar 50 orang perampok termasuk pimpinannya dan ada 20 orang penduduk desa yang dalam keadaan menggenaskan. Dia berharap para wakilnya mengerti tindakan apa yang harus dilakukan dengan terlepasnya panah khusus itu sehingga dia bisa menangkap juga para dedengkot perkumpulan ini.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Keadaan ini berlangsung cukup lama, ketiga pimpinan Kalajengking Merah ini sengaja belum ambil tindakan apapun karena mereka mau melihat mental lawannya apakah sekuat yang mereka perkirakan atau tidak. Jika lawan mereka merupakan lawan yang tangguh maka kondisi seperti ini tidak akan mempengaruhinya, tapi jika lawannya mental tempe maka dia akan bertindah gegabah tidak sabaran untuk memulai gerakan di saat itulah bisa terjadi salah langkah yang mengakibatkan kekalahan bagi pihak lawan. Tapi yang mereka hadapi adalah salah satu panglima kepercayaan dari sang raja, yang berarti bukan merupakan orang sembarangan yang gampang digertak atau dipermainkan dengan mudah. Setiap panglima mempunyai ciri khas masing-masing tapi mereka semua mempunyai kesamaan dalam tingkat kesabaran yang luar biasa sekali, mereka sudah didik untuk tetap tenang dan sabar dalam segala situasi sehingga mereka tidak pernah kalah dalam pertempuran apapun juga minimal seri.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Akhirnya malah pihak Kalajengking Merah yang tidak sabaran, Pinyak yang memang paling emosional diantara mereka sudah tidak sabar ingin melihat kehebatan pria gagah itu, dia merasa pria ini bisa dikalahkan dengan begitu banyak anak buahnya dan kedua temannya dibandingkan dengan pria itu sendiri belum lagi harus melindungi bocah yang ada di sampingnya. Berarti posisi pria itu tidak menguntungkan, tadi dia sudah marah sekali ketika pria itu menghina matanya. Sekarang kesabaran dia sudah menipis apalagi melihat pria itu memandang mereka dengan tenangnya tanpa ada perasaan takut dan ngeri di matanya. Langsung saja keluar perintah dari mulutnya untuk menyerang pria itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Anak-anak, hayo serang pria itu dari empat penjuru, gunakan ilmu barisan Sengatan Kalajengking.”</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Langsung anak buahnya bergerak dengan cepat membentuk 4 barisan kecil yang berbentuk kalajengking, ini tidak ada dalam perkiraan Masnan bahwa dia akan dikepung dari 4 penjuru dengan ilmu barisan yang sangat rapi sekali kerjanya, dia memandang sekelilingnya dan melihat ada 4 kelompok orang yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk kalajengking. Setiap kelompok terdiri dari 12 orang yang sudah siap dalam posisinya masing-masing, ada yang membentuk seperti capit kalajengking, ada yang di belakang 1 orang mendukung temannya membentuk setengah lingkaran seakan-akan menyerupai ekor kalajengking mengandung racun itu, dan memang terlihat di tangan orang yang di atas memegang tombak yang ujungnya berkilauan berwarna merah darah yang artinya sudah dilumuri dengan racun kalajengking merah. Mereka dalam posisi siap untuk menyerang hanya tinggal tunggu komando dari pimpinannya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Eh Pinyak, hati-hati dengan kuda yang bagus itu jangan pula kau suruh anak-anak sengat kuda kesayanganku itu. Kuhantam kepalamu nanti kalau terjadi sesuatu pada kuda cantik itu.” Kata Epen dengan kuatir.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Iya Pinyak, kalau sampai bocah kecintaanku tergores sedikit saja kulitnya, akan kubikin lurus kedua biji matamu itu.”teriak Sakti dengan cemas.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Kalian berdua ini maunya apa hah? Kalau kalian kuatir dengan barang kesayangan kalian, pikir saja sendiri bagaimana caranya menyelamatkan jangan aku yang kalian salahkan, kita ini sedang menghadapi musuh tangguh jadi tidak bisa menguatirkan apapun, bisa kalah kita nanti.” Kata Pinyak dengan gusar.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Hmmm benar juga kau, Pinyak, baiklah Sakti hayo kita serang dulu pria itu kau ambil bocah itu dan aku menarik kudanya biar leluasa anak buah kita melawan dia. Eh pria gagah, supaya kau bisa melawan kami dengan tenang lebih baik kau serahkan kuda dan bocah itu kepada kami agar bisa dijaga dengan baik. Kau tidak usah kuatir kami pasti merawat mereka berdua dengan sebaik-baiknya.”kata Epen dengan tersenyum licik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan sudah tahu bahwa mereka tidak akan melepaskan kuda dan Burhan begitu saja, akhirnya dia mengambil keputusan untuk mendukung Burhan di punggungnya sementara si tunggul dibiarkan pergi karena kuda itu akan bisa lari dengan lebih cepat kalau tidak ada yang menunggangi dan dia tidak kuatir Burhan jatuh juga. Sgera dia menggamit tangan Burhan dan berbisik pada bocah itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Burhan, keadaan gawat, paman akan menggendong kamu di punggung paman, tangan kamu harus memegang leher paman dengan kuat dan kaki kamu harus melingkari pinggang paman dengan erat supaya kamu tidak lepas, apapun yang terjadi kamu harus bertahan, jangan pernah lengah karena musuh kita sangat kejam sekali. Kamu bisa dan berani melakukan itu ?”tanya Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Burhan hanya menganggukkan kepalanya karena dia tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya saking tegangnya, dan dia tahu jika ingin selamat dia harus melakukan apa yang diperintahkan, ini pengalaman pertama dan baru bagi dia di mana keselamatan dirinya terancam dan dia merasa tegang sekali ada perasaan takut tapi dia percaya pamannya tidak akan membiarkan dia celaka. Tanpa mengendorkan kewaspadaannya, Masnan mengulurkan tangan untuk mengangkat Burhan ke punggungnya dan Burhan melakukan semua yang diperintahkan, setelah merasakan posisi badan Burhan di belakangnya terasa mantap, Masnan kembali mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Burhan biarpun jantungnya berdebar keras, tetapi dia tetap bisa mengendalikan dirinya untuk tetap tenang menghadapi situasi genting seperti ini. Pikiran jernihnya bisa melihat bahwa pasukan lawan sudah mempersiapkan diri untuk menyerang, walaupun dia anak-anak tapi kecerdasannya di atas rata-rata, dia bisa melihat barisan yang ada di barat tidak sebaik 3 barisan lain. Lalu juga dia melihat barisan yang di utara pemegang tombaknya terlihat dalam posisi siap sekali dan mata orang itu berkilat tajam menandakan orang ini memiliki kekuatan di atas teman-temannya. Berarti barisan ini lebih tangguh dibandingkan barisan yang lain, Burhan menatap sekelilingnya dengan tenang sambil melihat-lihat keadaan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Dia mengambil keputusan untuk membisikan kepada Masnan tentang apa yang dia lihat, dia ingin membantu agar mereka bedua bisa melewati keadaan yang genting ini dengan baik. Dengan berbisik-bisik di telinga Masnan, Burhan mengatakan temuannya, Masnan terkejut sekali dengan bisikan Burhan tidak dia sangka bocah ini bisa melihat keadaan dengan baik sekali walaupun Masnan dapat merasakan ketegangannya. Dia mengedarkan pandangannya ke barat dan melihat memang apa yang dikatakan Burhan benar adanya, tadi dia sudah melihat hal itu tapi tidak berpikir jauh tapi setelah mendapat bisikan dari Burhan apalagi dia melihat barisan Utara memang terkesan lebih tangguh dari barisan yang lain, dia jadi merubah siasat perangnya.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Burhan yang tadinya ditempatkan di belakang punggung sekarang dia rubah posisinya pindahkan ke depan badannya, ada dua hal dia melakukan hal ini pertama dia merasa barisan Utara kuat berarti berbahaya sekali kalau Burhan ada di punggungnya, kedua dengan Burhan pindah ke depan mungkin saja dia tidak terlalu leluasa bergerak tapi dia bisa minta bantuan Burhan untuk melihat keadaan di belakangnya, walaupun Burhan belum mempunyai mata tajam bisa melihat gerakan orang yang melebihi kecepatan orang biasa, tapi minimal anak itu bisa membantu dia melihat keadaan di belakang punggungnya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Ketiga pimpinan Kalajengking Merah melihat kejadian yang berlangsung cepat yang dilakukan oleh lawan bersama bocah itu, mereka melihat bocah itu membisikan sesuatu di telinga pria tersebut dan tidak lama posisi bocah berubah menjadi ke depan. Mereka heran apa yang dibisikan oleh anak itu kepada lawan sehingga dia mengambil posisi yang berbeda, Sakti yang memang sudah mengincar anak itu merasa bahwa bocah kali ini merupakan anak yang sangat istimewa. Dia melihat ada ketenangan yang tidak wajar di mata anak itu, seakan mata itu bisa menghipnotis orang untuk menghentikan gerakannya, hanya dengan menatap matanya yang jernih dan teduh itu. Sakti sempat merasakan dirinya seakan tenggelam, ketika pandangan matanya beradu dengan pandangan mata anak itu, ada sesuatu yang berdesir di dadanya setiap melihat bocah itu, seakan ada perintah dalam hatinya untuk menjaga pemilik mata teduh itu. Makanya dia merasa kuatir mendengar perintah temannya untuk mengurung musuh menggunakan ilmu barisan mereka. Dia tahu ilmu barisan mereka merupakan ilmu barisan yang tangguh sekali hanya bisa dikalahkan dengan ilmu barisan dari Perguruan Dewa Kuda, sangat jarang ada pendekar yang bisa menghancurkan formasi mereka, kecuali pendekar tersebut benar-benar pendekar yang mumpuni.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Dia tahu lawan sekali ini sangat tangguh tapi tidak menutup kemungkinan setiap perkelahian pasti ada yang terluka, dia kuatir akan keadaan bocah yang dikaguminya itu. Sedangkan Epen, juga menguatirkan kuda incarannya, kuda itu terus menempel di dekat tuannya, dan dia melihat kuda itu juga dalam keadaan tenang walau dia bisa melihat kuda itu merasakan ketegangan yang ada di sekelilingnya tapi tetap saja kuda itu berdiri dengan kokoh dan gagah disamping tuannya. Benar-benar kuda yang hebat sekali, Epen semakin ingin memiliki kuda luar biasa ini, jika dia berhasil menaklukan kuda itu dia yakin kuda itu akan setia padanya seperti yang ditunjukan pada majikannya sekarang.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Pinyak sudah tidak sabar dengan keadaan ini, langsung mengeluarkan aba-aba,”Serang<span>&#160;</span> 2 siap 1 dan mundur 1.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Bagi orang awam, mereka tidak mengerti arti perintah itu tapi bagi mereka yang diperintah sudah tahu apa yang akan dilakukan, segera barisan selatan dan timur menyerang ke arah Masnan bertiga, ketika Masnan mendengar teriakan aba-aba itu, segera dia menepuk tengkuk kudanya sebanyak 3 kali dan langsung kuda itu berbalik arah ke barat untuk berlari kencang ke arah barat. Sedangkan pasukan Barat yang sedang melakukan gerakan mundur tidak menyangka akan diserang oleh seekor kuda yang bergerak seperti angin besar menuju ke arah mereka, pasukan ini langsung kacau balau apalagi mereka juga mendengar teriakan pimpinan mereka yang tidak boleh melukai kuda itu. Kuda itu memperlihatkan keistimewaannya dengan mampu meloncati formasi 2 orang yang berdiri menumpuk menjadi ekor tersebut dengan indahnya sehingga mereka semua terpana menatap keindahan itu, tidak lama derap kuda itu menghilang di tengah kegelapan malam semakin lama semakin menjauh dan akhirnya tidak terdengar sama sekali, itu dilakukan dalam hitungan detik saja.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan yang melihat kudanya menarik perhatian lawan segera menggunakan keadaan ini dengan sebaiknya, dia mengeluarkan 2 buah pil kecil dari pinggangnya untuk diberikan kepada Burhan dan dirinya untuk menelannya. Lalu dia juga mengeluarkan 2 butir benda bulat kira-kira sebesar gundu dan menyerahkan kepada Burhan untuk digenggam dalam kedua tangannya dengan pesan Burhan tidak boleh melemparkan kedua benda itu sampai dia merasa keadaan mereka sudah parah sekali dan tidak ada jalan keluar lagi. Sungguh tanggung jawab yang berat bagi seorang anak yang baru berusia 6 tahun, tapi kembali Burhan menunjukan keistimewaannya, dia tahu pasti apa yang harus dia lakukan dan mengambil keputusan untuk melakukannya sebaik mungkin. Sebenarnya Masnan juga ingin menguji bocah itu apakah dia memang seistimewa yang diperkirakan Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Untungnya tindakan mereka berdua tidak ada yang melihat karena semuanya sedang terpana menatap kehebatan kuda yang dimiliki lawan. Ketika sadar langsung Epen berkoar-koar memerintahkan untuk menangkap kuda itu kembali, anak buah mereka jadi bingung mau mengikuti perintah siapa, di tengah kebingungan tersebut dimanfaatkan oleh Masnan untuk bergerak cepat ke arah Selatan untuk mendobrak formasi yang ada di sana, mereka yang tidak menduga adanya serangan yang datang tiba-tiba gegalapan menerima serangan tersebut. Tapi ternyata itu serangan tipuan yang dilakukan oleh Masnan, karena begitu mereka bergerak menghindarkan diri, Masnan berlari cepat menjauhi lapangan tersebut, dia sengaja melakukan itu agar mereka mengikutinya dan meninggalkan penduduk yang dalam keadaan menggenaskan itu tanpa diganggu, karena dia kuatir benda yang diberikan kepada Burhan itu kalau dilontarkan ke tanah akan meledak dan melukai orang sedangkan penduduk itu tidak dalam keadaan bisa menolong diri mereka untuk menghindar dari daya ledakan itu. Jadi lebih baik dia menyingkir mencari daerah yang lebih lapang untuk menunggu mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Melihat Masnan melarikan diri, segera ketiga pimpinan Kalajengking merah menyadari bahwa mereka telah ditipu mentah-mentah oleh pria itu. Segera mereka berlari memburu sambil berteriak-teriak memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti mereka. Sakti yang tidak ingin kehilangan Burhan dengan cepat mengejar ke arah larinya Masnan, memang dian diantara mereka yang mempunyai ilmu peringan tubuh yang bagus, sehingga dia duluan sampai di tempat Masnan menunggu mereka. Dia tidak melihat Burhan, langsung dia mengedarkan pandangannya di sekitar tempat itu bahkan dia memandang pepohonan yang ada di sekitar mereka untuk memastikan di mana Masnan menyembunyikan bocah tersebut. Tetapi tetap saja dia tidak melihat bocah itu, hatinya berdebar keras sekali ketakutan kehilangan bocah yang sudah membetot hatinya itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Eh pria gagah ke mana kau sembunyikan bocah tampan itu?” tanya dia dengan gusar kepada Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Tidak perlu kau tahu ke mana dia, yang jelas dia sudah aman dari gangguan orang gilo kayak kau ini.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Hahaha&#8230; baiklah aku akan menangkap kau dulu dan menyiksamu sampai kau mengatakan di mana anak itu kau sembunyikan. Teman-teman, dia ada di sini.”teriak Sakti dengan nyaring sekali menggunakan ilmu suara jarak jauh. Segera saja tempat ini dipenuhi oleh teman-temannya, Pinyak langsung merepet mencaci maki karena dia harus membetulkan dulu baju dan celananya sebelum mengejar musuh yang lari cepat. Epen menyeringai buas karena tidak suka sampai dikerjai seperti tadi, musuh hampir saja lolos dan kuda incarannya sudah menghilang, dia ingin melampiaskan kekesalan hatinya pada pria gagah itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Baiklah, kau memang orang hebat bisa menipu kami dengan caramu itu, tapi ini tidak berlaku untuk kedua kalinya, kali ini kau akan lumat seperti daging cincang karena sudah berani menipu kami. Hayo anak-anak cepat kalian siapkan barisan kalian, jika kalian berani lengah lagi seperti tadi kalian rasakan nanti akibatnya aku sendiri akan membuat kalian menyesal berani melanggar perintahku.”teriak Epen dengan garang.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Mendengar ancaman tersebut berlari-lari mereka mencari posisi mereka dan menyusun barisan seperti tadi dengan cepat, kembali Masnan melihat benar yang dikatakan Burhan bahwa barisan Barat paling lemah diantara semua barisan dan barisan Utara yang paling tangguh. Dia kagum sekali pada muridnya itu ternyata muridnya benar-benar mempunyai daya analisa yang tajam sekali, kelak dia bisa didik untuk menjadi ahli strategi yang hebat sekali bahkan dalam hati kecilnya Masnan tahu suatu saat nanti Burhan akan bisa melampauinya. Dan dia bisa berbangga diri bahwa anak yang hebat ini, dia ada ambil bagian dalam mendidiknya. Sekarang dia sudah siap menghadapi serangan mereka, Burhan sudah disembunyikannya di tempat yang aman, di mana mereka tidak akan pernah menduga di mana dia menyembunyikannya.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Dengan Masnan ditengah kepungan 4 barisan itu, terlihat ketiga pimpinannya menatap barisan tersebut dengan tenang karena mereka yakin sekali mampu mengalahkan orang ini. Karena Epen yang paling gusar dengan kejadian tadi maka komando ada di bawah kendalinya, kedua temannya tidak akan ikut campur karena mereka tidak mau membingungkan anak buahnya. Mereka bertiga masing-masing bisa memberikan komando kepada anak buahnya tapi tidak pernah sekaligus memerintahkan berbarengan. Bahkan jika mereka ikut bertempur mengeroyok lawan mereka, otomatis komando akan dipegang Sakti dan mereka semua tanpa terkecuali mematuhi apapun perintah dari Sakti, karena yang lain tahu Sakti yang paling cerdik dan licik diantara mereka, dia mampu membaca situasi dengan cepat sekali dan beberapa kali mereka berhasil lolos dari bahaya berkat kecerdikan Sakti. Dan sebenarnya diantara mereka, Saktilah yang paling berbakat, tapi dia memang orangnya tidak bisa dipegang buntutnya seperti seniman gila bertindak sesuai dengan angin mana yang menghembusi dia. Jadi mereka semua sepakat yang memimpin kelompok mereka diserahkan ke tangan Epen yang paling besar pengaruhnya terhadap anak buah mereka.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Dan barisan mereka sungguh dilatih dengan disiplin yang keras sekali, mereka bergerak sesuai dengan aba-aba yang diberikan, bahkan setiap hari tidak ada dilalui tanpa latihan yang keras dari pimpinan mereka, hanya saat-saat tertentu seperti sekarang ini saja mereka tidak berlatih. Tiap 1 bulan sekali mereka meliburkan diri dari latihan selama 1 minggu untuk bersenang-senang setelah itu mereka harus berlatih kembali, mereka telah melakukannya hampir 3 tahun belakangan ini, sehingga dapat dibayangkan kekompakan mereka dalam bekerjasama. Barisan mereka memang sangat terkenal di dunia persilatan bahkan didengung-dengungkan bisa menandingi barisan perguruan Dewa Kuda yang memang sudah mempunyai nama besar dalam ilmu barisan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Epen dengan berkacak pinggang menatap tajam ke arah Masnan, dia sudah bertekat ingin melumatkan lawannya itu untuk melampiaskan kedongkolannya akibat kuda incarannya dibiarkan lolos oleh<span>&#160;</span> majikannya. Epen melirik kepada Pinyak dan Sakti, dia melihat kedua temannya menganggukan kepala tanda dia boleh mulai serangan mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Depan 1, dakek (dekat), <span>&#160;</span>1 tunggu.”demikian teriakan perintah Epen kepada anak buahnya, segera membentuk formasi sesuai dengan perintah itu. Tiga barisan yaitu utara, selatan dan timur bergerak mematuhi perintah sedangkan barat tetap di tempatnya semula, barisan timur dan selatan bergerak saling berdiri berdekatan dan yang utara maju ke depan dari posisi semula, jadi sekarang posisi Masnan di depan barisan Utara dan membelakangi barisan Barat, sedangkan kedua barisan lain saling bersebelahan di belakang barisan Utara.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Serang dengan Gelombang Sengatan Memecah Bumi.”teriak Epen, segera barisan utara menyerang ke arah Masnan dengan cepat sekali sambil bagian ekor yang memegang tombak mengayunkan tombaknya ke arah Masnan, disusul dengan kedua barisan di belakang bersiap untuk menggantikan posisi utara jika berhasil dipukul. Dua belas orang bergerak berbarengan meluruk ke arah Masnan yang sudah siap sedia. Terjadi benturan dan iringan teriakan kesakitan ketika benturan pertama terjadi diantara mereka, cepat sekali kedua barisan di belakang bergerak menutupi ruang langkah Masnan untuk menghindari serangan. Masnan merasakan bahwa tenaga dalam mereka semua masih di bawah dia, tapi yang dia salut sekali adalah kerapian gerakan mereka untuk saling menutupi kelemahan atau kekosongan akibat berhasil dipukul oleh Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Terdengar lagi teriakan Epen,”Kibasan Ekor Menyengat Bumi”, segera mereka bergerak lagi membentuk formasi baru untuk menghadapi Masnan, Barisan Barat yang tadinya diam saja mulai memasuki arena pertempuran. Sekarang Masnan dikeroyok 48 orang dengan 4 tombak beracun yang selalu mengincar dia kemanapun bergerak. Masnan tentu saja tidak membiarkan tombak itu mengenai tubuhnya segera dia melakukan serangan balik dengan ilmu andalannya Manyilang Tangan Bumi Tarangkek yang bermuatan tenaga dalam tiga perempat bagian, dia tidak mau keluarkan semua karena takutnya pemimpin mereka turun tangan dia tidak bisa melawan mereka. Itu saja dia sudah bisa mengimbangi formasi tersebut, melihat hal ini Epen tambah naik darah, dia memerintahkan lagi,” Terjangan Kaki Hantam Bumi” ini merupakan ilmu ketiga pada barisan kalajengking, berarti tinggal 2 gerakan lagi dalam formasi itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Keadaan ini berlangsung cukup alot dan dahsyat sekali, mereka yang jatuh bangun karena pukulan Masnan langsung bangkit kembali dan bergerak ke dalam formasinya untuk mengurung Masnan. Sungguh sebuah formasi yang sangat tangguh, mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh mematuhi setiap perintah yang diberikan. Masnan melihat walaupun pimpinannya memberikan aba-aba formasinya tapi dalam formasi itu sendiri mereka mempunyai pimpinan barisan yang bergerak sesuai dengan instruksi dari tombak yang digerakkan oleh orang yang bertumpu pada bahu temannya atau bisa dikatakan sebagai ekor dari kalajengking. Masnan mulai merasa keadaan ini tidak menguntungkannya mereka sudah bertempur cukup lama, dan dia tahu 48 orang itu sudah pernah kena kepalan tangan dan kakinya tapi herannya mereka seakan tidak merasakannya. Dia mulai melihat sekelilingnya sambil tetap menghindari tusukan tombak beracun itu, ketika matanya terarah kepada orang yang bernama Pinyak, dia melihat mulut orang itu komat kamit dan matanya dalam posisi lurus menatap satu arah yaitu ke arahnya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan tidak tahu apa yang terjadi tapi dia melihat setiap ada yang jatuh tiba-tiba mereka bisa berdiri kembali dalam kondisi sepertinya tidak merasakan kesakitan akibat pukulan atau tamparan yang diberikan padahal jelas sekali kondisi mereka sudah babak belur tapi tetap saja mereka mampu bergerak seperti tidak ada apa-apa. Memang Masnan tidak mau membunuh mereka langsung selain dia tidak tega dia juga ingin menangkap mereka hidup-hidup agar bisa diadili sesuai hukum kerajaan. Ini bisa menjadi contoh bagi perampok lain untuk tidak berbuat seperti perkumpulan ini. Tapi ini hanya tinggal keinginan karena semakin lama formasi ini semakin berbahaya karena para anggotanya mulai bergerak nekat mendekati dan mengepung dia.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Epen yang melihat keadaan lawan sudah agak keteteran menjadi senang sehingga dia menjadi meningkatkan serangan untuk segera menyelesaikan pertarungan ini. Dia bersama teman-temannya juga menganggumi pria yang bernama Masnan ini, masih dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu apapun padahal ilmu yang mereka lontarkan sudah mencapai tingkat ketiga. Kini dia melihat dia bisa melontarkan ilmu tingkat empat untuk semakin menekan lawan sehingga keadaan berbalik menjadi kemenangan di pihak dia.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Terdengar teriakan menggelegar dari mulut Epen,”Marapek(merapat) Badan Sejajar Bumi” ini adalah formasi yang paling berbahaya karena semua anggota barisan kembali mengepung Masnan dari 4 penjuru tapi dengan posisi kaki setengah ditekuk bahkan yang bergerak seperti capit, semua berjongkok dan orang yang bertumpu di badan temannyapun sudah turun ke belakang tombak tetap terentang di atas kepala. Tiba-tiba terdengar desingan tombak dari 4 penjuru menyerang Masnan, dan capit yang tadinya berjongkok begerak bersamaan meloncat ke depan menubruk kaki Masnan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Dia diserbu dua arah dari bawah dan atas, jika dia mengelakkan tubrukan kaki meloncat ke atas sudah pasti tubuhnya menjadi sasaran empuk tombak, jika dia merunduk kakinya disamber dari bawah. Yang hebatnya lagi ke empat tombak berdesing ke arahnya tidak pada ketinggian yang sama, bahkan mereka berjenjang mulai dari setinggi si bawah pusar, setinggi perut, setinggi dada dan setinggi leher, semuanya susul menyusul dari 4 penjuru, jadi hanya orang2 yang benar-benar mempunyai ilmu peringan tubuh tingkat tinggi yang mau mengelak dari lontaran tombak itu. Dan dia tahu dia tidak punya ilmu seperti Kahar dalam hal ilmu peringan tubuh, tapi dia punya tenaga dalam yang kuat sekali yang bertumpu pada bumi, oleh karena itu dia memutuskan merundukan badannya dan memperkokoh kuda-kudanya mempersiapkan dirinya menggunakan ilmu Hempasan Angin Tabangkan Awan untuk menerima serangan dari bawah.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Jadi sebelum tombak itu mengenai tubuhnya segera dia mengayunkan tangannya ke arah bawah, terjadilah benturan yang hebat sekali dan terlihat orang yang berusaha menyambar kaki Masnan tadi terlempar semua ke belakang dengan wajah berlepotan darah karena tinjunya bersarang di wajah mereka dengan telak sekali, menimpa temannya di belakang yang sedang menunggu untuk membantu serangan mereka. Sedangkan tombak yang dilontarkan hanya sedikit sekali jaraknya dari punggung Masnan yang buru-buru merunduk menghindari serangan, diterima oleh masing-masing pemegang tombak, ini artinya tombak tersebut sudah bukan milik semula semua bertukar posisi sesuai dengan arah lontaran.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Benar-benar serangan yang berbahaya sekali, kini Masnan tahu kalau dia ingin segera menyelesaikan pertempuran ini dia harus secepatnya menyikirkan lawannya, yang berarti dia harus membunuh atau minimal melukai berat mereka. Segera dia merapal ilmu andalannya dalam tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya, dan bersiap menerima serangan berikut. Dan kembali dia melihat keanehan orang yang sudah kena hajaran dia dengan keras sekali, masih bisa berdiri dan membentuk formasi kembali, bahkan dia tidak melihat di wajah mereka rasa sakit akibat pukulannya itu. Dia memalingkan kepalanya ke arah pria yang bernama Pinyak itu dan dia melihat pria itu sedang komat kamit dan dari kepalanya keluar asap berkilauan keperakan dari ubun-ubunnya.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Langsung dia dapat menduga pria ini mempunyai ilmu hitam yang bisa menghipnotis orang untuk tidak merasakan kesakitan atau yang lebih dikenal di dunia persilatan dengan sebutan Ilmu Hitam Panarik (penarik) Sukma, ilmu ini sudah lama hilang dari dunia persilatan tapi kini bisa muncul lagi ini artinya dunia persilatan akan diguncang kembali dengan prahara. Tapi dia bisa melihat ilmu yang digunakan pria itu belum terlalu sempurna bahkan masih belum menyamai sang empunya ilmu ketika waktu dia kecil dulu melihat gurunya bersama para sahabatnya menghadapi Bandaro Rumbiah (sejenis daun yang digunakan untuk atap) seorang iblis yang mempunyai ilmu kebatinan aliran sesat tingkat tinggi. Dia mampu membuat orang yang setengah karat tetap melanjutkan pertempuran dengan tenaga yang sama seperti dia normal. Akhirnya Bandaro Rumbiah berhasil dibunuh, dan beredar kabar ilmu itu lenyap bersama meninggal sang pencipta ilmu itu. Tapi kini ilmu itu muncul kembali berarti ilmu jahat itu sudah ada perwarisnya, dia harus berhati-hati kalau ingin bisa selamat dari pertempuran yang mematikan ini.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Kembali dia diserang dari segala arah, pertempuran semakin lama semakin tidak beres, tenaga Masnan tambah lama tambah terkuras sedangkan musuh sepertinya tidak berhenti juga tenaganya tetap seperti semula. Dia melihat keadaannya benar-benar tidak menguntungkan, bala bantuan yang diharapkan tetap saja belum datang. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk meningkatkan penggunaan tenaga dalamnya sampai tingkat tertinggi dan melontarkan puncak ilmunya Hampasan Angin Tabangkan Awan pada jurus terakhir. Dia mulai mempersiapkan dirinya, sedangkan Epen melihat bahwa lawannya akan mengerahkan ilmu mautnya kepada mereka, segera dia meningkatkan penggunaan ilmu barisannya ke tingkat kelima, teriaknya,”Kalajengking Merah keluar sarang!”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Dan semua barisannya tiba-tiba bergerak bergabung dan membentuk kalajengking besar dengan capit di kiri kanan, 4 orang yang memegang tombak memecahkan diri dua-dua orang membentuk capit, sedangkan di ekornya telah ada Sakti dengan tangan sudah memegang tombak pula berdiri di pundak kedua temannya Epen dan Pinyak. Mulut Pinyak masih dalam keadaan komat kamit, tapi tidak seperti tadi berdiri diam sekarang dalam posisi menahan tubuh Sakti yang akan bergerak menyerang seperti ekor kalajengking. Keadaan terasa semakin memanas, masing-masing pihak mengerahkan ilmu tertingginya untuk mengalahkan lawan. Keadaan ini sudah diperhitungkan oleh Masnan, hanya yang tidak pernah dia pikirkan adalah di jurus terakhir semua pimpinannya turun tangan sendiri.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Hal ini terjadi karena Sakti sudah melihat lawan sekali ini benar-benar hebat sekali sudah bertempur kurang lebih 2 jam tapi masih dalam kondisi tegar, kalo lawan lain sudah dari tadi kalah. Si licik ini bisa melihat walau mereka bergabung menjadi satu sesuai dengan ilmu mereka tetap saja mereka membutuhkan waktu yang lama untuk mengalahkan pria ini. Sedangkan dia merasa ada yang tidak wajar seakan-akan pria ini menunggu-menunggu sesuatu karena seharusnya dengan ilmu yang dia miliki dari tadi barisan mereka sudah hancur, bahkan mungkin sekarang mereka bertiga yang sedang bertempur dengan pria ini. Karena itu dia membisikan ke telinga teman-temannya dengan ilmu pengirim suara untuk segera menyudahi pertempuran ini, artinya mereka semua harus siap-siap terjun ke arena pertempuran dan membentuk formasi kalajengking besar.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Teman-temannya langsung menyetujui, karena mereka sendiri sudah mulai gemas dan kuatir seandainya mereka terbantai malam ini. Segera formasi besar itu mulai mengitari sekeliling Masnan dengan kecepatan pelan tapi sangat teratur dan rapi sekali. Keempat orang yang akan bertindak sebagai capit sudah mulai menghunuskan tombaknya ke arah Masnan dengan keadaan saling memunggungi satu dengan yang lain. Sedangkan Sakti sendiri sudah bersiap-siap untuk mengkomandoi pertempuran kali ini, dia sudah tidak sabar ingin segera mengetahui keberadaan bocah yang telah menawan hatinya itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Serang kanan, mundur kiri.” Segera mereka melakukan perintahnya, dan Masnan yang menghadapi serangan capit kanan berusaha menangkis hujaman tombak ke arahnya, tapi baru dia mengangkat tangannya untuk menangkis capit, dari atas kepalanya sudah datang tombak yang dipegang Sakti yang menghujam ke kepalanya. Sungguh sebuah serangan yang ganas sekali kecepatan ekor jauh lebih menekan dari sebelumnya karena dilakukan oleh 3 pimpinan perkumpulan ini yang mempunyai ilmu dan tenaga dalam yang selisihnya tidak jauh dari Masnan.Gerakan Sakti yang ditopang oleh kedua kawannya sungguh hebat sekali, ekor itu bisa bergerak ke segala arah dengan tingkat kedinamisan yang tinggi sekali jauh dibandingkan dengan permainan anak buah mereka. Temannya bisa memegang kedua kaki Sakti dan mengayunkannya ke segala arah dengan tenaga dalam gabungan mereka bertiga sehingga menghasilkan tingkat serangan yang mematikan. Mulailah Masnan kewalahan dengan semua serangan ini, dia harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bisa menahan serangan mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Perlahan-lahan dia mulai keteteran dan harus mundur sampai jungkir balik menghindari serangan capit dan ekor barisan ini. Suatu saat tiba-tiba terdengar teriakan Sakti,”Kena kau,” dia melihat peluang untuk menghantam dada Masnan dengan tombak, padahal di saat itu Masnan sedang mencoba mengibaskan serangan dari kedua capit. Masnanpun berpikir kali ini kena dia akan tombak beracun itu, tapi emang Tuhan yang punya kuasa di saat genting itu tiba-tiba terdengar seperti suara deru ombak yang kencang sekali di telinga semua orang dan itu terasa menusuk-nusuk telinga mereka sehingga mengganggu kosentrasi mereka semua. Tapi Sakti memang hebat walau dia sempat sesaat kehilangan kosentrasi tapi dia tetap bisa melanjutkan serangannya, Masnan yang juga terpengaruh gelombang suara deru ombak itu semakin keteter dengan serangan dari Sakti. Untuk mengurangi kerusakan yang timbul akibat tusukan tombak didadanya itu dengan cepat dia menyilangkan tangannya ke dada untuk menahan tusukan tombak yang datang, dia rela kehilangan satu tangannya daripada mati tanpa perjuangan untuk hidup walau dia sudah mati langkah.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Ternyata Tuhan berkehendak lain, tombak yang mengarah ke dada Masnan, tiba-tiba hancur seperti debu dihantam oleh sebentuk kepalan tinju yang tidak jelas datangnya dari mana. Sakti yang memegang tombak itu sampai terlempar jauh bersama kedua teman yang memegang kakinya itu, getaran tinju yang sarat dengan tenaga dalam itu benar-benar menggetarkan dada mereka semua, sehingga mereka muntah darah menahan getaran tenaga dalam itu. Tapi mereka masih belum terluka dalam, mereka melihat keadaan yang sangat tidak menguntungkan tersebut buru-buru mereka melarikan diri meninggalkan semua anak buahnya untuk menahan kejaran orang hebat itu. Para anak buah melihat pimpinannya lari, semua ikutan berlari mengejar pimpinannya, dalam sekejab&#160;terdengar&#160;derap kaki orang yang berlarian&#160;semakin lama semakin menjauh.&#160;Masnan bergerak hendak mengejar mereka, tapi tiba-tiba di telinganya terdengar suara, “Sudah jangan dikejar lagi, kamu harus mengobati luka di tanganmu yang tergores tombak beracun itu.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Kaget Masnan mendengar hal itu, dia tidak sadar bahwa ternyata tangannya sempat tergores oleh ujung tombak, dan dia melihat tangan kanannya disekitar goresan berubah berwarna merah menghitam dan dia merasakan aliran darahanya mulai membaca racun tersebut, buru-buru dia menotok tangannya untuk menghentikan aliran darahnya, tapi belum sempat dia melakukannya dia merasa tangannya seperti ada angin yang menggores lebih besar lukanya, segera saja darah hitam keluar dari luka yang menganga di tangannya itu mengalir dengan derasnya seakan-akan ada yang mengurutnya untuk keluar, memang dia merasakan ada tekanan udara pada lengan itu. Dia kaget sekali ada orang yang demikian hebatnya bisa melukai tangannya hanya dengan angin kibasan tangannya dan menekan urat di lengannya dari jarak jauh. Segera Masnan menegakkan kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang membantunya itu, tidak terlihat orang sejauh matanya memandang kegelapan malam ini. Matanya yang sudah terlatih untuk melihat kegelapan tidak mampu melihat di mana orang itu tepatnya berdiri. Tidak lama pengobatan itu selesai, terdengar suara,”Hmmm racun di tubuhmu sudah aku keluarkan, buka mulutmu makan obat penawar ini,” terdengar desingan angin cepat sekali mengarah ke mulut Masnan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Kau balutlah lukamu segera dengan bubuk ini,”kembali terdengar desingan angin ke arahnya, dia sudah berusaha melihat darimana datangnya angin itu tetapi tetap dia tidak bisa melihatnya. Cepat dia menyambut bungkusan kecil yang dilemparkan kepadanya itu, dan membuka bungkusan serta menaruh bubuk itu di sepanjang luka goresannya itu, anehnya langsung lukanya mengering dan tidak lama kulitnya langsung menutup, yang terlihat hanya sebuah goresan panjang di tangannya seperti orang terluka akibat goresan kertas. Sungguh obat yang mujarab sekali dan dia ingin berterima kasih kepada penolongnya,”Tuan, terima kasih atas pertolongan tuan, budi besar ini akan saya bayar kelak, siapakah gerangan tuan.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Aku tidak butuh balas budinya, hanya pesanku lain kali berhati-hatilah, jangan gegabah membawa anak kecil ke medan pertempuran seperti ini.” Kata suara itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan menyadari kesalahannya seharusnya dia tidak membawa Burhan ke tempat orang-orang jahat itu berkumpul, dia seharusnya meninggalkan anak itu di pinggiran hutan bersama kudanya sementara dia menyelesaikan pekerjaannya. Inilah kecerobohannya akibat rasa ego ingin mempunyai murid yang hebat melebihi teman-temannya, padahal dia sudah tahu bahwa muridnya tidak kalah istimewanya dibandingkan murid temannya. Sadarlah dia bahwa selama ini walau sedikit ada perasaan penasaran ingin mempunyai kelebihan yang bisa dibanggakan dari teman-temannya seperti Kahar yang mempunyai ilmu silat lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang lain. Dengan cepat dia memohon maaf kepada sang Pencipta agar dia diberi kelapangan hati dengan segala kelebihan dan kekurangannya.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Sesaat dia sudah tidak merasakan lagi kehadiran orang itu, tapi sempat dia terpikir olehnya darimana orang itu tahu dia bersama seorang anak di medan pertempuran ini. Tapi mengingat betapa hebatnya orang ini, dia yakin orang itu berkat tenaga dalamnya yang tinggi mempunyai pendengaran yang sangat peka sehingga bisa membedakan tarikan nafas orang dewasa dengan anak kecil. Dia sudah menyembunyikan Burhan dengan lihai sekali bahkan tadi lawan-lawannya saja sampai tidak tahu ke mana dia menyembunyikan anak itu. Mengingat Burhan, buru-buru dia berjalan ke arah pohon paling besar di situ dan mendorong pohon itu ke arah samping sedikit lalu dengan berjongkok memasukan kepalanya ke dalam lubang kecil yang ada di bawah akar pohon itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Burhan, kamu mendengarkan paman?” lama tidak ada jawaban terdengar, mulailah Masnan cemas kalau terjadi sesuatu pada anak itu, karena tadi saking terburu-buru dikejar musuh begitu melihat tempat persembunyian yang bagus ini dia langsung saja memasukan Burhan ke dalam lubang kecil ini. Lubang inipun ditemukan tidak sengaja, saat dia sedang memandang sekeliling melihat di mana dia akan menyembunyikan Burhan, tiba-tiba Burhan memandang ke arah pohon tersebut, dia merasa ada yang aneh pada pohon itu kenapa pohon ini bisa berdiri condong ke arah kiri dan akarnya sampai keluar sebagian di permukaan tanah.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Paman, lihat pohon itu aneh sekali.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan yang lagi bingung hendak menyembunyikan Burhan sempat jengkel mendengar pertanyaan Burhan, tapi dia tetap saja ingin melihat pohon aneh yang dikatakan Burhan itu, dengan maksud ingin mengomeli anak itu dalam keadaan genting masih melihat hal yang aneh. Tapi saat dia melihat pohon itu dia juga merasakan keanehan pada pohon itu, cepat dia bergerak ke arah pohon itu dan melihat-lihat di sekitarnya ternyata di samping belakang pohon itu ada lubang sebesar anak kecil yang bisa dimasukin oleh anak-anak. Pas saat dia hendak memeriksa lebih lanjut tiba-tiba dia mendengar desiran angin tanda lawan sudah dekat buru-buru dia menggapai tangan Burhan untuk menyembunyikannya di dalam lubang itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Burhan, musuh sudah datang, paman tidak ingin kau celaka, maka paman akan sembunyikan kau di lubang ini, apa kau takut masuk ke dalam lubang ini?” Masnan sudah berpikir jika anak ini tidak mau, dia akan melindungi anak ini sampai titik darah penghabisan.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Tidak paman, aku percaya orang baik pasti dilindungi Tuhan.” Sahut anak ini dengan gagah berani.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Baiklah, paman masukan kau ke lubang ini dan menutupinya dengan daun, kamu tunggu di sini sampai keadaan aman baru kau keluar atau kau tunggu sampai paman memanggilmu. Kamu mengerti?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Mengerti paman.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Kamu memang anak yang berani, paman bangga menjadi gurumu, sekarang paman masukan kamu ke dalam lubang ini.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Tidak lama Masnan menutup lubang tempat persembunyian Burhan, Sakti hadir di depannya, seperti yang telah diceritakan terdahulu.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Sekarang Masnan sedang kebingungan karena dia sudah memanggil-manggil Burhan tetapi tetap saja tidak ada sahutan, dan tanah tempat Burhan berpijak tadi sudah amblas ke dalam, dia kuatir sekali kalau terjadi apa-apa pada Burhan bagaimana pertanggungjawaban dia kepada teman-temannya dan keluarga Burhan. Kecemasannya semakin meningkat karena sudah sekian lama dia memanggil anak itu tetap tidak ada sahutan, lubang itu terlalu kecil bagi tubuhnya untuk dimasuki, karena cemasnya dia menggali lubang itu untuk diperbesar, tapi baru sebentar dia menggali tiba-tiba telinganya menangkap erangan suara anak-anak di bawah sana.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Burhan&#8230; Burhan&#8230; kamukah itu?” teriak Masnan ke arah lubang itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Kembali terdengar erangan kesakitan dari dalam sana, Masnan semakin panik tambah cepat dia menggali tanah di sekitar pohon itu.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Terdengar suara lemah,”Paman, tolong aku.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Kamu di mana Burhan? Paman pasti menolong kamu, tunggu sebentar paman mencarikan tali buat menolong kamu.” Masnan melihat tidak memungkinkan baginya untuk menggali tanah itu, dia kuatir malah pohon itu akan ambruk menggetarkan tanah sehingga lubang persembunyian Burhan bisa tertutup selamanya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Oleh karena itu dia langsung berdiri, dan memasukan jarinya di mulut dan bersiul nyaring sekali dengan ditambah tenaga dalamnya saking mencemaskan keadaan Burhan, dia memanggil kudanya karena di pelananya ada tali panjang yang disimpannya untuk keadaan-keadaan darurat seperti ini. Tidak lama terdengar derap langkah yang cepat sekali menuju ke arahnya, sepertinya tidak terlihat apa-apa hanya derap dan deru angin saja mengiringi kedatangan kuda hebat itu, mungkin karena kuda itu berbadan hitam pekat seperti malam sehingga saat dia bergerak dia hampir menyatu dengan pekatnya malam.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Ketika kuda itu sudah mendekati Masnan, dia mengurangi kecepatan larinya dan berhenti pas di samping Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Kuda pintar, kau memang hebat dan kebanggaanku.”kata Masnan sambil menepuk-nepuk lehernya, kuda itu seakan mengerti dan mengangguk-anggukan kepalanya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan mengambil tali yang ada di pelana dan mengulurkan ke lubang itu, sambil berseru,”Burhan, paman menurunkan tali ke bawah, kamu peganglan tali itu, paman akan menarikmu ke atas.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Lama Masnan tidak mendengar apapun di bawah sana, tali yang diulurkan oleh Masnan sudah 5 tombak panjangnya baru terasa menyentuh dasar, berarti Burhan jatuh dari ketinggian yang bisa membuat patah kakinya. Memikirkan ini Masnan tambah cemas lagi, kembali dia memanggil-manggil Burhan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Tiba-tiba talinya terasa bergerak ada yang berusaha meraihnya, “Burhan, cepat raih tali itu, nak, paman akan menarik kamu ke atas, pegang talinya erat-erat jangan dilepaskan apapun yang terjadi.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan merasakan talinya seperti diganduli benda berat dan tertarik ke bawah sedikit sesuai dengan berat benda yang ada di bawah itu. Pelan-pelan Masnan menarik beban itu ke atas, semakin lama semakin cepat tarikannya karena dia ingin segera melihat keadaan Burhan, hampir mendekati permukaan tanah dia sudah melihat memang Burhan yang memegang tali itu erat-erat, wajah dan bajunya sudah berlumuran tanah. Buru-buru Masnan menariknya dan melepaskan tali, memegang tubuh Burhan yang melemas. Masnan menghapuskan noda tanah yang ada di wajah Burhan, tiba-tiba dia terpekik kaget karena wajah Burhan seperti terbungkus semacam cairan lilin yang tebal berwarna bening sehingga masih bisa melihat wajah Burhan di bawahnya, dan hanya mata, serta semua lubang di wajahnya saja yang tidak tertutup cairan yang membeku itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Belum hilang kaget Masnan, tiba-tiba di sampingnya telah berdiri seorang tua yang gagah sekali memandang wajah Burhan.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Hmmm.”katanya, suara itu mirip sekali dengan suara orang yang menolong dia. Tangan orang tua itu bergerak di sekujur tubuh Burhan sambil terus menggumam tidak jelas, semakin dia memeriksa semakin berseri wajah orang tua itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Anak yang hebat dan beruntung. Mempunyai susunan tulang yang sempurna dan susunan syaraf otak yang luar biasa serta ketahanan tubuh yang hebat, benar-benar kombinasi yang nyaris tanpa cacat.”kata kakek itu dengan senang,<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Siapa nama anak ini?”tanya kakek pada Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Burhan, tuan, dan siapakah tuan, apakah tuan yang menolong saya tadi?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Kamu jangan panggil aku tuan, panggil saja pak Gaek (Tua). Apakah ini muridmu?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Benar sekali pak Gaek,” dalam hati Masnan heran kenapa orang ini bisa tahu Burhan adalah muridnya bukan anaknya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Pasti kau bertanya dalam hati kenapa aku tahu dia bukan anakmu, itu dikarenakan struktur tulangnya jauh lebih bagus darimu dan bentuk wajahnya tidak ada sedikitpun yang mirip denganmu,”kata orang tua itu dengan tersenyum geli.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan semakin yakin bahwa orang tua yang senang dipanggil pak Gaek ini pastilah tokoh persilatan ternama yang sudah menghilang dari dunia persilatan. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan karena dia kuatir wajah Burhan yang ditutupi oleh cairan bening itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Pak, tahukah anda cairan apa yang membeku di wajah muridku ini?”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Aku tahu, anak ini benar-benar beruntung sekali, kau pernah mendengar nama binatang Kadal Baangin (berangin)?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Pernah, dulu sekali diceritakan oleh guruku. Jangan katakan muridku mendapat semburan ludah dari kadal itu?”tanya Masnan was-was, karena dia pernah mendengar cerita bahwa kadal ini mempunyai kelebihan dan kekurangan, dagingnya sangat lezat sekali untuk dimakan, barang siapa yang pernah memakan dagingnya maka suhu tubuhnya akan bisa menyesuaikan diri pada lingkungannya, jadi suhu tubuh orang itu akan tetap stabil di udara dingin maupun di udara panas sekalipun. Hanya ludah kadal ini tidak baik bagi sembarangan orang, bisa menyebabkan kematian yang menggenaskan, tapi jika orang sudah pernah memakan dagingnya maka ludah ini tidak berpengaruh apapun bahkan bisa membuat bagian tubuh manapun kena semburannya, akan bisa menyembuhkan lukanya sendiri misalnya kalau orang itu kena goresan tombak seperti Masnan tadi maka luka yang menganga di kulit itu akan mengering dan menutup sendiri tanpa perlu bantuan obat-obatan apapun juga serta tidak meninggalkan jejak pada kulitnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Apapun yang diceritakan oleh gurumu, itu benar adanya, anak ini sungguh beruntung sekali.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Tiba-tiba Burhan membuka matanya dan saat dia membuka matanya dia langsung menatap wajah pak tua itu, dan orang tua itu langsung kaget menerima tatapan bening dan teduh dari Burhan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Hahahaha&#8230; Tuhan, Kau sungguh baik mengabulkan permohonan hambaMu yang rendah ini. Di usia yang semakin larut ini Kau berikan aku sebuah hadiah yang bagus sekali yang tidak berani aku meminta lebih,”kata kakek itu dengan berlinang air mata tapi mulutnya tetap tersenyum.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan dan Burhan yang baru sadar itu terkejut melihat kakek itu tertawa dengan gembiranya sampai berlinangan air matanya. Mereka heran apa yang dikatakan oleh orang tua itu, terlebih lagi Burhan yang baru sadar dia masih kebingungan memandang sekitarnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Paman, di manakah kita ini? Dan kenapa mukaku terasa tebal?” tanya dia kebingungan. Tangannya sudah terangkat hendak memegang wajahnya, tapi buru-buru orang tua itu menarik tangannya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Jangan kau pegang wajahmu dulu, besok siang baru boleh dibersihkan, karena cairan itu belum membeku sepenuhnya di wajahmu, jadi khasiatnya belum sempurna.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Burhan memandang orang tua itu dengan bingung, matanya tajam menatap seakan ingin mengerti apa yang barusan dikatakan oleh orang itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Anak yang baik, kau memang seorang anak yang beruntung sekali, aku melihat di tubuhmu sudah ada mengendap khasiat dari kadal yang kau makan dan juga aku merasakan aliran darahmu sangat baik sekali bahkan ada beberapa bagian jalan darahmu terbuka dengan sendirinya tanpa perlu latihan tenaga dalam untuk membukanya, ibaratnya tubuhmu sudah seperti wadah terbuka lebar yang menunggu diisi dengan tenaga dalam agar bisa membangkitkan tenaga murnimu. Boleh aku tahu selain kau makan kadal, apakah kau ada makan yang lain?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Burhan yang berada di pangkuan Masnan masih dalam keadaan bingung berusaha menjawab pertanyaan orang tua itu,”Tadi waktu aku masuk ke dalam lubang bersembunyi, aku mendengar suara pertempuran tapi lama kelamaan aku merasa lapar sekali dan tubuhku mulai terasa sakit semua, aku tidak tahu harus bagaimana, jadi aku berjongkok di dalam lubang itu, pas tanganku meraba tanah, aku merasa tanah yang aku pegang berbeda dengan tanah biasanya, tanah ini sangat halus dan lembut sekali, tapi itu hanya ada di dinding kanan aku sedangkan dinding kiri tetap seperti tanah biasa.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Karena bosan, aku mengorek-ngorek tanah lembut itu untuk dibuat mainan, belum lama aku bermain, terdengar getaran keras yang menghantam tanah dekat tempat aku bersembunyi, dan tanah tempat aku berpijak ambruk dengan cepatnya, aku sudah tidak bisa berteriak minta tolong karena aku sendiri kaget dan berusaha menggapai di dinding supaya tidak jatuh semakin dalam. Tapi aku tidak dapat memegang apapun, aku jatuh di tanah yang empuk sekali walaupun begitu aku merasakan kakiku sangat sakit sekali. Lalu aku memandang sekeliling aku dan melihat banyak jamur yang aneh bentuknya mengeluarkan bau menyengat hidung, aku melihat semut-semut memakan jamur itu, aku pikir pasti jamur ini tidak beracun karena semut saja makan jamur ini. Aku memetik beberapa buah dan memakannya, memang baunya tidak enak tapi waktu sampai di mulut terasa enak sekali, jadi karena lapar aku memakan hampir semua jamur yang tumbuh di sekeliling aku.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Sedang aku asyik makan tiba-tiba keluar kadal yang juga ingin makan jamur yang sedang kucoba petik, dia menggigit tanganku karena kesakitan aku bales gigit dia dan dia melepaskan gigitan di tanganku dan menyemburkan ludahnya ke wajah dan leherku. Karena jijik dan kesal, ludahnya meleleh di wajah dan tubuhku, aku kembali menggigit kadal itu dengan kencang sekali, ternyata darah dan dagingnya terasa sangat manis, saking kelaparannya aku memakan binatang itu, aku sudah meminta maaf padanya karena memakan dia,”kata Burhan dengan air mata berlinang dan wajah yang merasa bersalah karena sudah bertindak kejam memakan kadal itu.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Burhan tidak pernah melakukan perbuatan seperti tadi, memakan mentah-mentah kadal yang menggigit tangannya itu, dia merasa dia sudah menjadi orang yang sama dengan penjahat tadi, makanya dia merasa sedih sekali.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Buru-buru Masnan menghiburnya,”Burhan, kamu melakukan itu karena ingin menyelamatkan dirimu, jadi apa yang telah kamu lakukan tidak salah.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Tapi paman jika seandainya aku tidak berebutan jamur dengan kadal itu pasti aku tidak akan memakan kadal itu,”bantah Burhan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Kakek tua yang mendengar percakapan mereka tersenyum geli sekali, dia tahu anak yang ingin dia jadikan murid ini merupakan seorang anak yang baik dan tulus hatinya serta mempunyai prinsip. Benar-benar sesuai harapan dia selama ini, memang dia sudah memiliki 2 orang murid, mereka mengharumkan namanya di dunia persilatan tapi tidak ada yang mempunyai bakat seistimewa dan seberuntung anak ini. Dia ingin mengambil murid terakhir sebelum dia pergi dari dunia ini, ilmu terakhirnya harus ada pewarisnya, kedua murid pertamanya tidak bisa menguasai ilmunya, walau dia sudah melatih mereka dalam 2 tahun terakhir ini tapi tetap saja kemajuan mereka sangatlah lamban sekali.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Dia ingin ilmu terakhirnya ini dimiliki oleh orang yang berhati tulus dan tidak serakah, dan anak ini sangat mencocoki keinginannya itu. Mendengar guru dan murid ini masih berbantahan, dia merasa perlu menengahi.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Anak yang baik, apa yang dikatakan gurumu benar adanya, jangan pernah menyesal apapun yang telah kau lakukan karena itu tidak menyelesaikan kesulitanmu, yang harus kau lakukan adalah berjalanlah terus ke depan dan perbaikilah semua kesalahan yang telah kau lakukan sebelumnya, agar jalan berikutnya bisa sesuai dengan hati nuranimu.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Sungguh sebuah filsafat hidup yang sederhana sekali tapi mengandung arti yang begitu luas. Anak seusia Burhan mana mengerti dengan pernyataan dari kakek itu, tapi sungguh aneh sekali ternyata dia mengerti, karena memang anak ini mempunyai kecerdasan di atas rata-rata anak biasa dan suka menganalisa sesuatu makanya dia bisa mengerti apa yang dikatakan kakek itu walau tidak semua tapi minimal dia paham sedikit.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Terima kasih kakek yang baik atas nasihatnya.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Burhan berusaha bangkit berdiri dari pangkuan Masnan, tapi ternyata dia tidak mampu melakukannya, kakinya terasa lemas sekali. Masnan membantu dia berdiri, tapi karena kakinya lemas sekali akhirnya Masnan menggendongnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Burhan, sekarang juga kita lanjutkan perjalanan kita, mudah-mudahan di jalan kita bertemu dengan pasukan kerajaan yang bisa bantu kita menolong penduduk desa itu.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Pak Gaek, kami pamit dulu karena perjalanan kami masih jauh, terima kasih atas pertolongannya,”kata Masnan sambil membungkuk hormat, dia tidak bisa merangkap tangannya karena menggendong Burhan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Orang muda, kamu akan mendidik anak ini?”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Iya, ini amanat yang aku terima dari kakek guru kami.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Amanat, maksudmu?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Masnan mempercayai orang tua itu, dan menceritakan secara ringkas tentang mimpi aneh Bumi, sahabatnya itu. Saat mendengar dedengkot persilatan akan ikut mendidik 5 orang anak itu dia terkejut bahkan ketika gelarnya disebut juga dia lebih kaget lagi. Jadi benar memang anak ini berjodoh dengannya, semesta sudah mengatur pertemuan ini sedemikian rupa sehingga dia juga berminat mengambil anak ini sebagai muridnya tanpa menyadari Tuhan sudah merancang buatnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Hahaha&#8230; sekali lagi terima kasih Tuhan, telah Kau kirimkan anak ini untuk menjadi muridku.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Oya siapa namamu orang muda?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Nama saya Masnan, pak Gaek, dan siapakah nama bapak?”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Apakah engkau, Masnan yang Panglima Kerajaan itu?”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Benar sekali pak.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Bagus&#8230;bagus&#8230; kamu akan bisa meletakkan dasar yang baik untuk calon muridku ini.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Maksud bapak?”tanya Masnan kebingungan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“5 tahun lagi aku akan menjemput anak ini untuk kudidik di kediamanku, jagalah dia baik-baik, pas siang hari nanti kau basuhlah tubuhnya di sungai yang ada di dekat sini tidak jauh dari desa sebelah Utara tempat ini. Khasiat jamur dan kadal itu pasti berguna sekali baginya, sayang aku tidak tahu nama jamur yang disebutnya tadi.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
“Selamat tinggal, sampai ketemu 5 tahun lagi.” Seiring dengan ucapan tersebut orang tua itu menghilang dari pandangan mereka. Masnan yang tahu dia berhadapan dengan orang yang hebat, penasaran ingin tahu siapa gerangan orang tua yang berwajah tirus penuh ketenangan itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">“Pak gaek, siapakah gerangan bapak, bolehkah aku mengenal nama anda?”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Terdengar suara mengalunkan sebuah syair ,”Hai sang rembulan ke manakah kau sembunyi, aku akan mengejarmu dengan tanganku membelah lautan mencari tempat persembunyianmu di sebuah pulau.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Mendengar syair itu Masnan tersentak kaget, itu merupakan syair yang sering disebut gurunya sebagai tanda ciri khas seorang dedengkot persilatan yang ternama jauh di atas jaman gurunya, beliau dikenal dengan nama Pandeka Tinju Lautan yang bersemayam di Pulau Bulan (dekat P. Batam sekarang). Tokoh sakti ini sudah lama menghilang dari dunia persilatan hampir 40 tahun tidak terdengar kabar beritanya, hanya anak muridnya saja yang dikenal orang karena mereka memang bergerak di dunia persilatan menunaikan tugas yang diberikan gurunya untuk membantu orang.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Kini dia melihat sendiri tokoh yang nyaris menjadi legenda itu, kalau tidak salah gurunya mengatakan bahwa dia mengundurkan diri di usia 52 tahun, jadi kalau dihitung sekarang seharusnya kakek itu berusia sekitar 90 tahun, tapi kenapa wajahnya masih terlihat lebih muda. Benar yang dikatakan dalam mimpi Bumi, bahwa salah satu dedengkot dunia persilatan akan mengambil muridnya sebagai pewaris, dia merasa bangga sekali diberi kesempatan untuk memberikan dasar-dasar silat pada muridnya. Ini artinya dia harus kerja keras agar tidak memalukan namanya di depan tokoh ini, dia berjanji akan mendidik Burhan dengan sebaiknya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Segera dia berjalan menuju kudanya, dan naik ke punggung kuda serta mengarahkan kudanya menuju arah yang ditunjuk kakek sakti itu. Tidak lama dia berjalan, dia menemui anggota pasukannya yang sedang mencarinya, dan dia meminta mereka untuk pergi ke desa yang diserang perampok agar bisa membantu penduduk desa itu. Dua orang wakilnya dengan cepat memenuhi perintahnya dan seorang wakilnya mendampingi dia dalam perjalanan pulang ke ibukota.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh kakek sakti itu&#160;untuk memandikan Burhan tepat jam 12 siang di tengah sungai dekat desa, dia melihat wajah dan tubuh Burhan berubah menjadi lebih bersih dan sehat dari sebelumnya, semua kotoran yang melekat tubuhnya bersih bersama dengan terkelupasnya cairan yang membeku itu. Wajahnya terlihat lebih bersinar dan matanya terlihat lebih jernih dari biasanya, semua orang yang melihat anak ini melihat sebuah wajah yang gagah rupawan dan mempunyai aura yang kuat sekali serta keagungan yang hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan saja. Sepintas orang akan menyangka Burhan merupakan anak dari seorang pangeran atau raja muda atau masih keluarga dekat kerajaan. Karena wajahnya sangat aristokrat sekali kelihatannya, dan ketenangan wajah ditambah dengan keteduhan pandangan matanya melengkapi seluruh nilai tambah yang ada di dirinya.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Masnan dan wakilnya melihat Burhan, seakan melihat seorang putra raja yang dalam pakaian sederhana, mereka mengagumi anak kecil ini, timbulah perasaan tenang dan damai setiap kali melihat wajah anak ini. Segera saja mereka jatuh sayang pada anak kecil ini, ada perasaan ingin melindunginya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Jarak tempat mereka beristirahat dengan ibukota sudah dekat, Masnan mengajak wakilnya dan Burhan untuk secepatnya melanjutkan perjalanan. Burhan walaupun masih merasa uratnya sakit naik kuda, tapi perlahan-lahan dia sudah dapat irama menunggang kuda dengan baik.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Mereka melanjutkan perjalanan menuju ibukota, sesampai di rumah Masnan, sang wakil berpamitan untuk pulang ke rumahnya karena mereka sampai sudah menjelang malam. Mereka disambut oleh isteri dan anak Masnan, oleh Masnan, Burhan diperkenalkan sebagai muridnya. Burhan sesuai dengan ajaran sopan santun yang dia terima langsung mengambil tangan isteri Masnan dan menciumnya sambil memperkenalkan dirinya. Isteri Masnan yang bernama Risma langsung jatuh sayang pada anak gagah rupawan yang sopan ini, dia senang sekali ternyata murid suaminya sangat mengenal sopan santun walau dibesarkan di sebuah nagari. Sedangkan Hasnah, anak Masnan, merasakan mendapatkan teman bermain dan saudara, dia senang sekali dengan hadiah yang dibawa ayahnya kali ini.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Sejak hari itu Burhan tinggal bersama keluarga Masnan untuk menerima didikan dari sang paman agar bisa menjadi pandeka hebat yang akan mengalahkan sang kegelapan dan memusnahkan sang angkara murka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Demikianlah perjalanan Burhan menuju tempat dia melaksanakan pendidikan dasarnya, bagaimana dengan Syaiful, pengalaman apa yang diterimanya ? Apakah berbeda dengan Burhan ?<br /></span><b><i><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><br />
bersambung<br /></span></i></b></span></div>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aboutjuls.blog.com/2008/02/21/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://aboutjuls.blog.com/2008/01/11/</link>
		<comments>http://aboutjuls.blog.com/2008/01/11/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 15:04:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sieklie</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><strong><font size="5"><em>PART II<br /></em></font></strong><br />
Seperti yang diceritakan sebelumnya selesai mereka makan siang, mereka berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan bantuan yang diharapkan oleh wali Bumi pada penduduknya..<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Persoalan apa Wali Bumi, katakanlah pada kami siapa tahu kami bisa membantu!” kata Jintan.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Yah Wali Bumi, bantuan seperti apa yang bapak harapkan dari kami mengingat teman-teman bapak orang-orang yang hebat yang sudah pasti lebih mampu menolong bapak dibandingkan kami.” Mamak Burhan angkat bicara.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Jangan berkata begitu, memang teman-temanku ini hebat-hebat tapi justru merekalah yang menyusahkan aku karena itu butuh bantuan kalian.”kata Bumi sambil menghela nafas dan melihat sekeliling.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Mendengar hal ini para orang tua dan wali kaget sekali, bantuan seperti apa yang bisa mereka berikan jika orang hebat yang menyusahkan wali mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Pak Wali, tolong segera katakan bantuan seperti apa yang bisa kami berikan? Jangan buat kami penasaran.”kata Mamak Burhan.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Bumi melihat bahwa yang semuanya penasaran kecuali orang tua Saiful yang acuh tak acuh mendengarkan pembicaraan<span>&#160;</span> ini, mereka sepertinya ingin segera angkat kaki dari rumah Bumi, apalagi mereka melihat cara Basri memandang mereka membuat mereka tambah gerah. Memang wajah Basri tersenyum tapi senyumnya sangat sinis sekali dan sorotan matanya dingin menatap mereka, sungguh suatu pemandangan wajah yang mendirikan bulu roma bila setiap kali mereka memandang ke arah Basri. Bumi memaklumi perasaan Basri yang sangat menyukai anak-anak itu, apalagi dia sudah jatuh sayang pada Saiful semakin dia benci kepada kedua orang itu.<span>&#160;</span> Bumi merasa sebaiknya segera membicarakan keinginan mereka mengingat suasana hati Basri ini.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Baiklah aku akan langsung katakan kepada kalian,<span>&#160;</span> kesusahan apa yang ditimbulkan oleh teman-temanku ini,<span>&#160;</span> seperti yang kalian tahu teman-temanku ini juga merupakan tokoh persilatan ternama di ranah Minang ini. Mereka sedang mencari murid untuk menurunkan ilmu silat mereka yang mumpuni ini. Kebetulan mereka menyukai anak-anak kalian dan berniat menurunkan ilmu mereka kepada anak kalian,” sengaja Bumi berhenti bicara agar para orang tua meresapi perkataannya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Terlihat di wajah mereka kegembiraan karena anak mereka dipilih orang-orang seperti teman-teman wali yang hebat itu untuk dijadikan murid. Masing-masing dengan pemikiran sendiri bahwa kelak anak-anak mereka akan sehebat gurunya. Semua manggut-manggutkan kepalanya, dalam hati mereka merasa ini masalah kecil, mereka pasti setuju menjadikan anak mereka murid dari orang-orang hebat ini. Tapi mereka juga melihat di balik penjelasan dari wali Bumi ada hal lain yang belum diungkapkan, ini yang membuat mereka agak was-was.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Bagaimana, apa kalian setuju anak kalian menjadi murid orang-orang hebat ini ?” Tanya Bumi.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Hampir semua mengangguk kepalanya tanda setuju, yang tidak memberikan reaksi hanya orang tua Saiful yang diam membisu saja, karena memang mereka tidak perduli akan nasib anak mereka. Bumi dan teman-temannya juga melihat hal ini, terlihat Basri saling melemparkan pandangan matanya dengan Bumi. Dalam hati Basri benar-benar kuatir jika mereka tidak setuju dia menjadikan Saiful muridnya.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Jadi kalian setuju kan , anak-anak kalian menjadi murid teman-temanku ini?”Bumi memastikan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Benar bapak wali saya setuju anak saya mendapat guru seperti beliau-beliau ini.”kata Jintan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Saya tidak keberatan pak wali tapi siapa yang akan jadi guru anak saya, apa semuanya?”Tanya Lastri.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Tidak semua menjadi guru anak kalian, temanku sudah memilih yang mana menjadi murid mereka. Seperti Masnan ini, beliau sudah memilih Burhan untuk menjadi muridnya.”kata Bumi sambil menoleh ke arah mamak Burhan seolah minta persetujuan.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Mamak Burhan yang memang seorang pencinta nagarinya sangat menyukai Masnan yang seorang perwira kerajaan, dia sangat senang kemenakannya didik oleh seorang perwira hebat seperti Masnan, malahan diam-diam dia ingin mengajukan permohonan kepada Masnan agar anaknya juga didik oleh perwira ini. Siapa tahu anaknya bisa hebat seperti perwira ini, walaupun dia sayang juga kepada Burhan tapi bila dibandingkan dengan anak sendiri tentu beda kadar sayangnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Wali Bumi, kami setuju Burhan menjadi murid dari Panglima Masnan.”sengaja dia menyebutkan pangkat Masnan agar terdengar keren.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Terima kasih Datuak mengijinkan saya menjadi guru bagi kemenakan anda, mudah-mudahan saya tidak mengecewakan harapan Datuak.” Sahut Masnan.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Sementara itu anak-anak yang tadinya asyik bermain dan mengobrol di sudut ruangan besar itu, mulai terlihat menegakkan badannya dan berjalan ke arah orang tua mereka yang sedang berbicara itu. Terutama Aswin penasaran sekali karena tadi dia mendengar paman Masnannya mengangkat Burhan jadi muridnya, dia ingin tahu paman yang lain memilih temannya yang mana untuk dijadikan murid.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Terdengar suara Bumi,”Dan Kahar ini memilih Bastian untuk menjadi muridnya, bagaimana Lastri apa kamu keberatan?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Mendengar hal ini Lastri menjadi senang dan bahagia sekali, tidak pernah dia membayangkan bahwa Kahar akan memilih anaknya menjadi murid. Tadi saja dia sudah kuatir anaknya akan menjadi murid dari yang lain walau dia senang juga anaknya didik oleh orang hebat tapi kalau boleh jujur dia lebih memilih Kahar untuk menjadi gurunya. Segera dia menyetujui hal ini, dalam hati dia bahagia sekali, merasa jodohnya dengan Kahar diberikan kesempatan kedua oleh Yang Maha Kuasa. Seperti orang mabuk dia tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana mereka menjadi suami isteri nantinya. Dia tidak sadar bahwa ada yang memperhatikan dirinya yang sedang bahagia itu, mata jeli nan indah<span>&#160;</span> sudah memandang wajah temannya sejak mendengar Kahar menjadi guru anaknya jadi dia tahu perubahan yang terjadi di mata dan wajah temannya itu. Hatinya berdesir melihat semua ini, walaupun dia merasa Kahar hanya memperhatikan dirinya tapi dia tidak pernah tahu bagaimana kelanjutannya nanti seperti dulu siapa sangka akhirnya mereka berpisah juga.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Lastri seorang wanita yang ceria, periang dan mudah bergaul dengan siapa saja seperti Rohaya, wanita yang pernah sangat dekat dengan Kahar dulu, sedangkan dia seorang gadis pemalu dan pendiam, tidak pandai mengambil hati seorang laki-lakipun. Akankah tali asmara mereka yang terjalin dulu akan bisa menyambung kembali, atau malah semakin menjauhkan mereka?<span>&#160;</span> Siti tidak mau memikirkan lebih lanjut, dia hanya berpikir kalau memang nanti Kahar lebih bahagia bersama Lastri, dia akan merelakannya, karena bagi dia mencintai itu artinya tidak harus saling memiliki, yang terpenting ingin melihat orang yang dicintai bahagia selalu. Hal ini pernah dilakukannya dulu ketika Kahar lebih memilih Rohaya daripada dirinya, walaupun dia sangat terluka, tapi<span>&#160;</span> tidak pernah di wajahnya tampil kesedihan, selalu tersenyum melihat Kahar dan Rohaya saling bermesraan di depan matanya seolah-olah hal itu tidak melukai hatinya.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Kahar sempat melihat perubahan di mata Siti, dia melihat sekilas ada sinar kesedihan yang memancar dari mata yang indah<span>&#160;</span> itu, tapi belum sempat dia memastikannya sinar itu sudah lenyap berganti dengan sinar yang lembut dan penuh kasih karena Siti melihat<span>&#160;</span> Aswin datang mendekatinya. Ingin sekali Kahar juga menerima tatapan seperti itu, selama beberapa hari ini sinar mata Siti memang lembut menatapnya tapi hanya sebatas itu saja tidak seperti tatapan dia kepada Aswin, sinar matanya memancar dengan penuh kasih yang mendalam bahkan cendrung seperti memuja bocah nakal itu. Dia bertekat dalam hati dalam beberapa hari ini dia akan melakukan pendekatan kembali pada Siti, apapun resiko akan ditempuh seumpama harus berlutut memohon maaf dari Siti akan dilakukannya, dia sudah tidak mau melakukan kesalahan seperti dulu yang berakhir dengan kepahitan, dia kehilangan wanita yang paling dicintainya.<span>&#160;</span> Kini sekian tahun telah berlalu, dia tidak akan mengulang lagi kesalahan dan kebodohan<span>&#160;</span> yang sama, bagaimanapun caranya, dia akan berusaha menjadikan Siti miliknya dan tidak akan dia lepaskan lagi.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Sementara Kahar sibuk dengan gejolak hatinya, Bumi kembali melanjutkan pembicaraannya,”Dan Karim, aku telah memutuskan untuk menjadikan dia murid utamaku bersama puteraku.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Orang tua Karim kelihatan gembira tapi kalau menuruti hati, mereka lebih ingin Karim menjadi murid Basri karena bisa diajarkan ilmu dagang juga, siapa tahu nanti Karim bisa melanjutkan usaha mereka lebih baik lagi.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Dan terakhir untuk Saiful telah dipilih oleh Basri menjadi muridnya. Bagaimana dengan kalian, bapak dan ibu Saiful?” Tanya Bumi sambil menatap kedua orang itu.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Kami terserah anaknya saja, jika dia mau kami tidak bisa melarangnya,” kata ibu Saiful dengan acuh tak acuh, karena dia sudah tidak tahan lama-lama dipandangi dengan tatapan yang dingin dari semua tamu wali nagari.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Saya lihat semuanya sudah memahami maksud hati teman-temanku ini, dan aku senang kalian bisa menerima mereka akan menjadi guru anak-anak kalian. Tapi ada sedikit hal yang perlu didiskusikan dengan kalian terutama dengan orang tua Saiful dan Mamak Burhan. Seperti yang kalian ketahui Masnan dan Basri punya kesibukan dan keluarga yang tidak berada di sini. Mereka merencanakan akan pulang dalam waktu dekat ini, ini artinya mereka juga akan mengajak murid-murid mereka ke tempat tinggal mereka.<span>&#160;</span> Sedangkan Kahar karena dia seorang bujangan dan suka berkelana untuk sementara waktu akan tinggal di rumahku sampai dia mulai ingin berkelana lagi.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Begitu mendengar hal ini langsung Mamak Burhan menyatakan ketidaksetujuannya, karena dia merasa bertanggung jawab kepada kemenakannya ini, kalau Burhan jauh dari sisinya dia tidak bisa lagi memantau perkembangan Burhan. Lastri senang mendengar Kahar akan menetap di sini, dia melihat kesempatan dia terbuka lebar untuk mendekati Kahar, sedangkan Kahar yang mendengar perkataan Bumi, kaget sekaligus senang karena secara tidak langsung Bumi mau mengatakan bahwa Kahar boleh tinggal di rumahnya sementara waktu, dia tidak akan membuang kesempatan emas ini secara percuma, jadi dia tidak komentar apa-apa mengenai hal ini. Yang paling terkejut sebenarnya adalah Siti, hatinya berdetak cepat membayangkan dia akan serumah dengan orang yang dicintainya itu. Entah apa yang akan terjadi dengan hubungan ketiga orang ini, kita lihat saja perkembangannya.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Bapak Saiful juga tadinya hendak protes tapi belum sempat dia buka suara, terdengar bisikan di telinganya,”Jika kau tidak setuju anakmu pergi, maka aku akan membuat kau menyesal telah pernah muncul di hadapanku. Tapi kalau kau setuju aku akan memberikan sejumlah uang emas untuk kau gunakan membeli rumah dan peralatan rumah yang lebih baik dari sekarang serta bisa kau gunakan untuk usaha.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Segera dia menoleh ke arah Basri, dia menjadi bingung karena dia tidak melihat Basri buka mulut untuk bicara padanya<span>&#160;</span> bahkan terlihat sedang berusaha ajak bicara anaknya dan sepertinya yang lain tidak mendengarkan apa yang dibisikan ke telinganya. Dia melihat anaknya diam menatap Basri tapi dia tidak melihat sinar takut di mata anaknya seperti jika anaknya menatap dia dan isterinya. Dia tahu sebenarnya isterinya juga suka menyiksa anak mereka, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa karena takut sang isteri akan meninggalkannya. Akhirnya karena memedam semua perasaan yang melukai hatinya membuat dia suka mabuk-mabukan sesudahnya melampiaskan semua luka hatinya pada orang di sekitarnya termasuk anaknya.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Kini dia merasa mendapat jalan menyingkirkan anak yang dibenci isterinya itu sekaligus dia mendapat uang banyak sehingga dia berharap isterinya menjadi lebih baik padanya dia. Dia berencana akan meminta uang sebanyak-banyaknya pada saudagar kaya itu dan pergi dari sini untuk tinggal di pusat kerajaan, dia tidak memperdulikan anaknya karena dia yakin saudagar itu akan bisa menjaga anaknya lebih baik lagi dan siapa tahu kalau anaknya besar nanti bisa jadi kaya raya serta memberi dia kelimpahan pada saat tuanya. Pikiran-pikiran egois ini bermain di benaknya, dan semakin memantapkannya untuk membiarkan anaknya ikut saudagar ini kalau perlu tidak usah kembali lagi.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Bumi melihat yang hanya protes Mamaknya Burhan sedangkan orang tua Saiful diam saja bahkan kelihatan bapaknya wajahnya seperti senang mendengar anaknya akan pergi meninggalkannya. Bumi menjadi muak sekali memikirkan kedua orang tua ini, jika dia yang jadi orang tua Saiful tidak akan pernah dalam kamusnya merelakan anaknya pergi dengan orang asing walaupun orang itu dapat dipercaya tapi tetap saja dia akan memaksa ikut kalau anaknya dia bawa pergi. Ternyata hal ini tidak saja dirasakan oleh Bumi, bahkan teman-temannya yang lain melihat juga hal ini, semua berpikir buruk terhadap orang tua Saiful. Dan yang paling mengiriskan hati adalah Saiful juga menyadari hal ini karena ketika Bumi mengatakan dia akan dibawa oleh paman yang murah senyum itu pulang ke kampungnya, orang tuanya tidak memberikan reaksi seperti yang dilakukan oleh mamak Burhan. Ini sangat memedihkan hatinya, dia merasa tidak berarti bagi keluarganya dan ini melukai dia dengan teramat sangat,<span>&#160;</span> malah timbul ketakutan dalam dirinya seandainya dia pergi apa nanti orangtuanya akan melupakannya?<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Perasaan ini menghantuinya dan membuat dia tidak ingin pergi, seketika dia menarik diri dari dekat Basri dan beringsut mendekati orangtuanya. Basri yang merasakan hal ini menjadi bingung kenapa anak ini tiba-tiba menjauhkan diri darinya setelah mendengar ucapan Bumi, apakah orang tuanya melarang dia secara diam-diam tanpa sepengetahuannya? Tapi rasanya tadi dia melihat orang tua Saiful sudah setuju untuk membiarkan anaknya ikut dengan Basri, apalagi setelah diiming-iming akan diberikan uang emas. Basri menjadi cemas dan kuatir anak itu tidak mau ikut dengannya, tadi dia sempat melihat di pergelangan anak itu ada bekas ikatan tali yang kuat, sebelumnya dia tidak melihat karena tertutup baju tangan panjang anak itu, kebetulan ketika anak itu sedang mengangkat tangannya membenahi rambutnya dia melihatnya. Hatinya terkoyak merasakan penderitaan Saiful, dia yakin di badan anak itu pasti ditemukan lebih banyak bekas luka akibat penganiayaan orang tuanya. Dia bertekat bagaimanapun caranya dia akan membawa anak ini pergi menjauhi kedua orang tua sadis itu.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Ibu Saiful juga melihat anaknya menjauhi Basri, dia yang sudah mendengar bisikan suaminya tentang uang emas yang akan diberikan kepada mereka jika mengijinkan saudagar itu membawa anak mereka, mengerutkan keningnya. Dia sudah membayangkan akan bersenang-senang dengan uang emas itu, membeli baju-baju sutera seperti yang diimpikannya, alat-alat percantik diri, rumah yang bagus tidak seperti sekarang ini seperti kubangan kerbau kalau hari hujan karena masih berlantai tanah.<span>&#160;</span> Dia akan memaksa anaknya pergi dengan saudagar kaya itu, kalau perlu memakai kekerasan agar anaknya mau pergi, dia tidak rela uang emas yang hampir ada di genggaman tangannya lepas begitu saja. Dia sudah muak menjadi orang miskin terus ditambah lagi mempunyai suami yang begitu dibencinya membuat hidupnya terasa seperti di neraka, sekarang pintu surga terlihat sudah terbuka untuknya mana mungkin dia akan melepaskan begitu saja.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Sementara itu mamak Burhan masih berargumentasi dengan Bumi dan Masnan mengenai kepergiaan Burhan mengikuti Masnan, sebenarnya mamak Burhan keberatan karena dia ingin Masnan mengajari anaknya juga. Jika Masnan akan membawa Burhan pergi, ini artinya anaknya tidak akan bisa menjadi murid Masnan karena isterinya pasti tidak mengijinkan anak bungsu mereka yang baru berusia 3 tahun ikut Burhan berguru pada Masnan. Dia berharap dengan dia keberatan seperti ini Masnan akan mau mengajar Burhan di Batang Kapeh bagaimanapun caranya, karena Masnan sendiri yang meminta Burhan menjadi muridnya, ini artinya Masnan yang membutuhkan Burhan jadi pasti Masnan akan mengalah demi kepentingannya. Tapi dia salah memperkirakan hal ini, Masnan tidak bisa melakukan seperti yang dia minta karena dia harus segera balik ke markasnya, cutinya sudah hampir habis. Jadi jika memang Burhan tidak bisa ikut karena mamaknya tidak setuju, dia tidak bisa berbuat apa-apa, paling nanti dia pikirkan caranya bagaimana agar tetap dia bisa menjalankan amanat dari sesepuh itu, jadi dia tidak memaksa terlalu jauh.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Melihat Masnan tidak memaksa hendak membawa Burhan, dan sepertinya tidak menjadi masalah Burhan tidak ikut mamak Burhan menjadi bertanya-tanya dalam hati apa bukan dia yang kelewatan memaksa kehendaknya ? Karena dia tahu orang seperti Masnan pasti mempunyai tugas dan kewajiban yang sangat besar dan penting terhadap kerajaan, masak hanya gara-gara seorang anak kecil dia akan mengorbankan semuanya. Hanya karena kepentingan dia yang egois menjadikan masa depan kemenakannya jadi suram, minimal jika kemenakannya menjadi pasukan kerajaan seperti Masnan, dia akan kecipratan juga senangnya dan dia bisa mengangkat harga diri keluarganya karena mempunyai kemenakan seorang perwira kerajaan. Dia mulai menyesali tindakannya yang gegabah itu, tapi bagaimana memperbaiki keadaan yang sudah kadung seperti ini.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Tiba-tiba dia dapat akal, dia tahu Burhan sangat mengagumi perwira gagah ini, dia akan pura-pura menanyakan kepada kemenakannya apa mau ikut pergi dengan calon gurunya itu.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Burhan,”kata Mamaknya sambil melambaikan tangannya menyuruh Burhan menghampiri dia, segera bocah itu mendatangi mamaknya,”Yah, Mamak.”sahut Burhan dengan sikap sopan. Ini tidak terlepas dari mata Masnan yang melihat bagaimana anak itu bertindak sangat sopan dan santun serta bersahaja tapi tidak mengurangi aura wibawa yang memancar dari tubuhnya.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Burhan, kamu sudah mendengar tadi bahwa paman itu ingin mengangkat kau sebagai muridnya. Mamak setuju beliau menjadi gurumu supaya kelak besar nanti kaupun akan segagah gurumu itu. Masalahnya adalah jika kau mau menjadi muridnya kau harus ikut dia pergi ke Pagaruyuang, karena beliau merupakan perwira penting dari kerajaan kita. Mamak keberatan jika kau pergi dengan beliau karena selain tanggung jawab mamak pada ibumu juga masalahnya kau akan jauh dari mamak, jadi mamak kuatir kau tidak bisa menyesuaikan diri pada lingkungan keluarga gurumu itu. Jika kau tetap berkeras ingin ikut gurumu, karena memang ini demi masa depanmu juga nantinya, mamak tidak akan melarang sebab mamak ingin yang terbaik untukmu supaya kamu juga bisa membuat bangga orang tuamu yang sudah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanmu dari marabahaya.<span>&#160;</span> Jadi nak, pikirkan baik-baik jangan kuatirkan mamak dan bibimu serta saudara-saudaramu, kamu bisa sekali-kali pulang untuk menjenguk kami disini tentunya seijin gurumu.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Masnan yang mendengar perkataan Mamak Burhan, menjadi kagum<span>&#160;</span> juga pada mamak Burhan, anak berusia 6 tahun seperti Burhan sudah diajarkan untuk menjadi mandiri dan bertanggung jawab terhadap pilihannya, sebenarnya dengan usia 6 tahun, anak-anak masih belum terlalu mengerti dengan apa itu tanggung jawab mengenai pilihan hidup mereka, tapi kembali dia kaget bercampur kagum melihat wajah Burhan, anak itu sepertinya mengerti apa yang dikatakan mamaknya dan termenung seperti berpikir dulu sebelum menjawab, terkesan hati-hati dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan, semua dipikirkannya dulu dengan baik.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Burhan memalingkan wajahnya ke arah Masnan dan bertanya,”Paman, apa benar paman menginginkan saya sebagai murid paman?”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Benar sekali, Burhan, jika kau juga berminat menjadi muridku.”sahut Masnan.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Paman, aku akan mempelajari apa dari paman, kalau aku boleh tahu.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Paman akan mengajarkan kamu banyak hal seperti ilmu agama, membaca dan menulis, ilmu silat, ilmu tenaga dalam dan lain-lain yang nantinya akan bermanfaat bagimu kelak, tapi dengan catatan kamu harus rajin dan giat belajar baru kamu bisa menjadi hebat kelak.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Apa aku bisa seperti paman menjadi seorang panglima kerajaan juga?” Burhan mengetahui Masnan seorang panglima dari Aswin, tadi saat mereka bercakap-cakap di sudut ruangan, Aswin banyak bercerita mengenai paman-pamannya ini, dia menceritakan sedemikian menariknya dengan cara bocahnya sehingga teman-temannya menjadi terkesima dan ingin menjadi sehebat paman-paman itu.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Hahahaha… pertanyaan bagus. Paman tidak bisa menjawabnya, yang bisa menjawabnya hanya kamu sendiri, paman hanya tahu cara untuk bisa menjadi seorang panglima tapi apakah kamu akan menjadi panglima atau tidak nantinya semua kamu yang menentukannya sendiri.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Kembali terlihat Burhan sepertinya merenungkan perkataan Masnan, matanya bersinar-sinar menandakan otaknya lagi berpikir keras. Masnan tahu Burhan seorang anak yang cerdas sekali dan juga sangat hati-hati, maka dia membiarkan Burhan dalam keadaan seperti itu, sampai dia siap melontarkan pertanyaan lagi.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Apakah aku akan tinggal bersama paman dan keluarga? apakah keluarga paman tidak keberatan aku tinggal di rumah paman?”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Jangan kuatir Burhan, keluargaku adalah keluarga yang bersahaja, kami selalu menerima siapa saja yang datang ke rumah kami, pintu rumah kami selalu terbuka untuk teman-teman dan sahabat kami yang datang mengunjungi kami. Dan lagi di rumah kami, ada beberapa kamar kosong yang biasa ditempati oleh para tamu kami yang menginap jadi kamu tidak usah kuatir kalau kamu jadi merepotkan kami. Hmmm sebelum kamu bertanya lebih jauh, paman akan mengatakan padamu bahwa paman mempunyai seorang putri yang hampir seusia kamu, jadi paman rasa kamu bisa mendapat teman bermain seusia kamu. Isteri paman juga sangat menyukai anak-anak dan paman yakin kamu akan bisa memperoleh kasih sayang dia.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Burhan merenungkan kata-kata Masnan, “Paman, apa aku harus memanggil paman dengan sebutan guru atau paman?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Mendengar pertanyaan ini Masnan tahu dia sudah memenangkan hati anak itu, tinggal tunggu anak itu siap memberikan jawabannya.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Terserah kamu mau panggil apa padaku, paman boleh, guru boleh atau ayahpun boleh, aku tidak keberatan.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Dia melihat Burhan memandang wajah mamaknya dan wajah dia secara bergantian, akhirnya dia lihat anak itu siap memberikan jawaban setelah mempertimbangkan semua seperti memang wataknya yang selalu berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Pertama aku akan tetap memanggil paman, kalau diperbolehkan,” dia memandang Masnan dan melihat anggukan Masnan, dia melanjutkan, ”Aku suka sekali menjadi murid paman, tapi aku punya syarat.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Baiklah, apa syaratmu, anak baik.” Kata Masnan penasaran.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Paman, bisakah dalam setiap 2 tahun aku pulang ke sini untuk ketemu sama mamak dan keluargaku? “<span>&#160;<br /></span><br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Tentu saja bisa, karena paman juga ingin bertemu dengan paman Bumi ini. Baiklah paman berjanji setiap 2 tahun sekali kamu boleh balik ke sini selama 2 minggu dan akan paman temani kalau tidak bisa nanti akan paman minta bantuan teman paman. Bagaimana menurutmu?”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Baiklah paman, aku setuju, aku akan ikut bersama paman pulang.”kata Burhan tegas, dia merasa senang dengan adanya janji dari paman Masnan.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Dan mamak Burhan jadi senang sekali karena dia melihat ada kesempatan 2 tahun lagi puteranya bisa didik oleh perwira hebat ini.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Burhan, karena kamu sudah menyetujuinya, mamak hanya bisa merestuinya dan mendoakan saja. Panglima, aku menyerahkan kemenakanku di bawah bimbinganmu, semoga kelak dia besar nanti dia akan bisa seperti anda.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Terima kasih atas restu dan pujian Datuak, aku tidak akan menyia-nyiakannya.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Urusan Burhan selesai dengan sendirinya, direncanakan dalam waktu 3 hari kedepan Masnan akan pulang dengan membawa Burhan pergi. Sekarang giliran Basri karena dia juga mau membawa Saiful pulang ke rumahnya, dia berharap dia tidak menemukan kesulitan dalam hal ini.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Bagaimana dengan kamu, Karim, apa kamu mau menjadi murid utama paman? tanya Bumi, sengaja dia menunda menanyakan Saiful karena dia ingin Saiful merasa nyaman dengan situasi ini, dia sudah melihat tanda-tanda kegelisahan pada wajah Saiful, dia tidak mau membuat anak itu jadi takut pada rencana mereka.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Apakah nanti aku berlatih dengan Aswin, paman? “<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Iya. Apa kamu pikir nantinya kamu bisa mengalahkan Aswin? Sahut Bumi kepada Karim.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Tentu saja bisa paman,<span>&#160;</span> nanti<span>&#160;</span> ketika aku sudah besar pasti aku bisa mengalahkan Aswin.” Jawab Karim dengan pasti.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Baiklah kita lihat saja nanti, yang penting kamu rajin berlajar dan berlatih pasti bisa.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Paman akan mengajari apa padaku? Selama ini aku kan sudah berlatih sesuai dengan petunjuk paman, apa ada ilmu lain yang akan paman ajarkan padaku?”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Iya, makanya kamu rajin berlatih biar kamu bisa tambah hebat lagi<span>&#160;</span> dan mengalahkan Aswin.”<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Apa aku boleh ikut berlatih dengan uda Karim dan Aswin juga paman?”Tanya Bastian.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Hahahaha… Bastian, kamu sudah punya guru sendiri, kamu tahu beliau ini lebih jago dari paman, kamu beruntung dipilih beliau jadi muridnya. Walaupun kamu sudah diajarin paman Kahar, kamu bisa berlatih bersama-sama Aswin dan Karim, supaya ilmu kamu semakin mantap. Paman juga jadi bisa lihat siapa yang terhebat diantara kalian.”kata Bumi sambil memotivasi anak-anak itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br />
Sebenarnya persaingan diantara mereka inilah nantinya yang membuat mereka terus tekun mengasah diri untuk menjadi yang terbaik, untung saja mereka dididik oleh tokoh-tokoh yang memang matang kepribadiannya kalau tidak akan bisa menimbulkan iri hati diantara sesama mereka yang bisa berakibat hubungan mereka malah jadi berantakan semua.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Dan nanti kalau Burhan dan Saiful pulang liburan, kalian juga bisa berlatih bersama, jadi pasti akan ketahuan siapa yang malas berlatih dan siapa yang rajin.”kata Bumi sambil tersenyum jahil seperti Aswin kepada anak-anak itu. Padahal sebenarnya dia juga memperhatikan wajah Saiful, apakah anak itu memperlihatkan reaksi penolakan ketika dia berbicara seperti itu, tapi dia tidak melihat reaksi apapun pada wajah anak itu, ini membuat dia kuatir karena itu dia harus memikirkan dengan cara bagaimana supaya anak itu mau berguru dengan Basri. Belum sempat dia menemukan cara terbaik untuk menyampaikan hal ini, anaknya sudah buka suara yang secara tidak langsung membantu dia meyakinkan Saiful agar mau berguru dengan Basri.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Uda Ipul, bagaimana menurut uda, apa nanti uda bisa mengalahkan aku setelah berguru dengan paman Basri?”Tanya Aswin sambil tersenyum-senyum nakal.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Anehnya begitu Aswin yang berbicara wajah sendu Saiful langsung memberikan reaksi, matanya yang tadinya redup menjadi bersinar.<span>&#160;</span> Terlihat mulutnya bergerak perlahan tapi suara yang keluar pelan sekali, hampir tidak terdengar. Aswin jadi kesal dengan cara menjawab Saiful.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Uda, kan aku sudah bilang uda kalau bicara yang keraslah, uda, anak laki-laki masak bicaranya seperti anak perempuan.”protes Aswin dengan manja pada Saiful. Entah kenapa Saiful selalu merasa Aswin itu seperti adik yang dia tidak punya sehingga selalu berusaha untuk memenuhi semua permintaan Aswin. Ada perasaan ingin membahagiakan dan melindungi dari dalam dirinya terhadap Aswin, padahal dia tahu anak ini jauh lebih bisa menjaga diri daripada dirinya. Tapi ini juga mengherankan dirinya, Aswin selalu bisa membuat dia merasa ingin menjadi lebih baik dari dirinya sekarang seperti ada aliran dorongan semangat dari setiap perkataan dan perbuatan Aswin padanya.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Dia berusaha menjawab pertanyaan Aswin,” Uda pasti bisa mengalahkan kamu nanti, Win, lihat saja.”kata Saiful dengan nada lebih keras dan keyakinan yang tinggi.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Jadi uda Ipul mau kan ikut dengan paman Basri untuk belajar macam-macam ilmu pada beliau?” Tanya Aswin, sebenarnya Aswin melakukan ini karena dia ingin Saiful pergi jauh-jauh dari orang tuanya yang jahat itu. Walaupun Aswin baru berusia 5 tahun tapi anak itu sudah punya pikiran seperti orang dewasa, dia tidak ingin melihat temannya disiksa seperti yang dilakukan oleh kedua orang itu.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Diam-diam dalam hati dia mencatat semua perbuatan kedua orang itu di dalam hatinya, jika dia sudah punya kemampuan dia akan membuat kedua orang itu menyesal atas semua perbuatannya. Dia tidak sadar sebenarnya dia sudah bisa melakukan hal itu, <span>&#160;</span>karena saat dia pertama kali melihat bagaimana kedua orang itu menyiksa Saiful, dia sudah hampir membunuh kedua orang itu kalau saja tidak cepat gurunya datang mencegah kekuatan alam bawah sadarnya bekerja muncul di permukaan. Aswin mempunyai kekuatan tenaga kebatinan yang menjadi warisan keluarganya yang turun temurun, kekuatan ini akan muncul pada yang berjodoh saja<span>&#160;</span> dan secara kebetulan kekuatan ini sekarang dimiliki oleh Aswin, tanpa yang bersangkutan mengetahuinya. Sudah lama kekuatan ini tidak pernah muncul, hampir 200 tahun tidak ada satu juga dari silsilah garis keturunan keluarga Aswin yang mewarisinya, baru Aswinlah kekuatan alam ini muncul kembali, oleh karena itu Aswin harus dididik benar-benar secara matang agar dia tidak menggunakannya secara sembarangan.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Saiful terdiam mendengar pertanyaan Aswin, dan ketika dia menatap mata Aswin dia melihat mata temannya itu menatap dengan penuh harap agar dia mengabulkan permintaannya. Kembali dia merasa seperti ada kekuatan yang mendorong dia untuk memenuhi permintaan Aswin, dia tidak ingin mengecewakan harapan yang dia lihat di mata temannya itu akhirnya dia memutuskan untuk memenuhinya. Dia tahu paman yang murah senyum itu tidak akan menyakitinya seperti kedua orang tuanya itu, sekalipun dia akan kehilangan kedua orang tuanya karena kepergiannya ini, dia tidak merasa menyesal karena dia bisa memenuhi harapan Aswin. Di dunia ini yang paling berharga dalam hatinya adalah teman-temannya terutama Aswin,<span>&#160;</span> selama hidupnya baru sekali ini dia merasa berbahagia memiliki orang yang menyayanginya seperti dia menyayangi mereka. Dia melihat teman-temannya bersedia menjadi murid teman ayah Aswin dan semua berjanji akan kembali untuk mengalahkan Aswin, oleh karena itu dia memutuskan untuk menerima tawaran itu dan tidak pernah mengecewakan temannya apapun yang terjadi.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Dan dia sudah berjanji juga untuk bisa mengalahkan Aswin, dan dia tahu dia harus berlatih di bawah bimbingan orang hebat baru dia bisa menandingi Aswin, karena dia sudah melihat kemampuan Aswin untuk melakukan hal-hal yang mustahil yang bisa dilakukan olehnya dan teman-teman lainnya. Sering dia dan teman-teman yang lain membicarakan ingin bisa seperti Aswin, dia melihat Burhan dan Karim serta Bastian sudah bertekat untuk bisa mengalahkan Aswin jadi kenapa dia tidak melakukan hal yang sama. Karena selama ini dia merasa malu dia lebih tua dari Aswin tapi selalu saja Aswin yang melindunginya bukan sebaliknya, untuk itu dia bertekat harus bisa menlindungi Aswin suatu saat kelak.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Bagaimana uda Ipul, jadi tidak ikut paman Basri, uda bisa pulang 2 tahun sekali seperti uda Burhan bertemu dengan kami di sini, lalu kita bisa latih tanding siapa yang paling hebat,”Tanya Aswin mendesak karena dia takut temannya tidak mau pergi.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Baiklah Aswin, demi kamu, aku akan ikut paman Basri,”kata Saiful pelan tapi tegas menjawab pertanyaan Aswin.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Hore…. Asyik… Nanti aku akan punya lawan tanding, tidak seperti sekarang aku bosan tidak ada teman tanding ilmuku… Terima kasih teman-teman, aku tunggu kalian untuk menandingi aku,” kata Aswin sambil melonjak-lonjak kegirangan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Basri mendengar percakapan kedua anak itu merasa lega sekali akhirnya Saiful mau ikut dirinya, dia berterima kasih kepada Aswin karena telah memungkinkan hal itu. Bumi juga senang anaknya bisa membantu teman-temannya untuk menjalankan amanat dari sesepuh. Sedangkan anak-anak lain tersenyum senang dan bahagia juga merasakan kegembiraan Aswin, mereka bertekat akan belajar sebaik-baiknya agar<span>&#160;</span> bisa mengalahkan teman mereka yang nakal ini. Selama ini mereka selalu kalah jika bertanding apapun dengan Aswin baik itu adu lari, adu kecepatan tangan, adu memanjat,<span>&#160;</span> bahkan Aswin bisa memecahkan batu bata dengan tangannya. Dan mereka ingin bisa melakukan hal itu, dan entah kenapa Aswin selalu bisa membangkitkan perasaan persaingan di dalam diri mereka tapi anehnya mereka tidak iri akan kemampuan Aswin karena teman mereka ini tidak pernah menyombongkan kemampuannya bahkan membantu mereka untuk bisa seperti dia.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Paman Basri, aku titip temanku uda Saiful, tolong paman menjaga dia dengan baik yah, karena aku tidak mau lihat dia bersedih lagi dan aku ingin saat dia kembali nanti dia akan bisa lebih sering tersenyum seperti paman,”kata Aswin dengan jahil tapi Basri juga melihat di balik kejahilannya Aswin menatap penuh harapan padanya agar bisa membantu teman yang dia sayangi itu.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Aswin, jangan kuatir paman dan bibi pasti akan menjaga uda Saifulmu dengan sebaik-baiknya, tidak akan mengecewakan harapan kamu,” sahut Basri dengan tersenyum.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Terima kasih paman,”kata bocah nakal itu.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Nak, paman akan membawamu pergi dalam&#160;3 hari ini persiapkanlah semua keperluanmu, nanti paman akan jemput kamu di rumahmu pagi-pagi sekali agar kita bisa naik kereta dengan santai,”kata Basri kepada Saiful.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Saiful menganggukkan kepalanya, dia tidak berani memandang orang tuanya karena takut melihat tatapan marah dari kedua orangtuanya, dia merasa di rumah nanti pasti kedua orangtuanya akan memukul dia karena telah lancang ambil keputusan seperti itu, tapi dia sudah tidak perduli lagi karena dia nekat ingin memehuhi janjinya kepada Aswin, tidak ada yang bisa mencegah dia untuk membuat Aswin bahagia seperti tadi.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Hari menjelang sore ketika mereka meninggalkan rumah wali nagari, sudah ada kesepakatan diantara mereka mengenai pembicaraan tadi. Masnan dan Burhan serta Basri dan Saiful dalam waktu 3 hari ke depan akan berangkat meninggalkan nagari Batang Kapeh menuju rumah masing-masing. Sedangkan Kahar berhubung dia tidak punya tempat yang dituju maka untuk sementara dia akan menetap di rumah wali Bumi sampai saat dia akan pergi ke Gunung Merapi sesuai dengan saran Datuak Inyiak Balang dalam rangka memperdalam ilmunya.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Tidak banyak terjadi dalam&#160;3 hari ke depan, hanya yang ada sebuah perestiwa kecil yang membuat hubungan Kahar dengan Siti membaik. Ini bermula dari kenakalan Aswin, anak nakal ini suka sekali mandi di lubuk (danau kecil)yang ada dalam hutan, air di lubuk ini sangat jernih berasal dari air terjun yang mengalir dari atas bukit. Suatu siang karena panas sekali anak nakal ini ingin sekali mandi di sana tapi dia tidak ingin mandi sendiri, dia tidak bisa mengajak gurunya yang sedang asyik bersemedi, dia juga tidak bisa mengajak bundanya<span>&#160;</span> yang sedang pergi keluar memetik daun obat, apalagi mengajak sang ayah yang sejak pagi tadi sudah pergi dengan teman-temannya entah ke mana. Yang tinggal di rumah hanyalah Kahar yang memang dari tadi pagi sedikit merasa kurang enak badan sehingga memilih untuk tinggal di rumah beristirahat.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Melihat hal ini, Aswin mengajak Kahar untuk pergi ke lubuk tersebut, dengan bujuk rayu yang tidak tertahankan akhirnya Kahar mengabulkan permintaan Aswin. Pergilah mereka ke lubuk tersebut, dan sesampai di sana ketika Kahar melihat air jernih dari lubuk itu langsung terbit keinginan di hatinya untuk berenang bersama Aswin.<span>&#160;</span> Kedua laki-laki satu besar dan satu kecil asyik sekali bermain air dan berenang-renang di lubuk itu, terdengar gelak tawa dan jeritan senang dari kedua orang itu. Mereka tidak sadar ada sepasang mata yang indah sekali menatap mereka dengan tersenyum maklum atas kelakuan kedua orang ini. Sepasang mata milik Siti ini menatap dari gua di balik air terjun, dari tadi sebenarnya Siti sudah menyadari kehadiran mereka, dia memang punya kebiasaan setelah sibuk seharian mencari daun obat, dia suka sekali berenang di lubuk ini dan beristirahat dalam gua di belakang air terjun. Dia sedang mengeringkan tubuh dan rambutnya ketika kedua orang ini datang dan menyeburkan diri mereka.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">TIba-tiba Kahar merasa bulu kuduknya berdiri dan sesaat dia tertegun merasa kehadiran seseorang di sekitar mereka, yang anehnya dia merasakan kehadiran Siti bukan orang lain. Segera dia mengedarkan matanya di sekeliling lubuk untuk melihat apakah benar ada orang di sekitar mereka. Dia tidak melihat ada orang,<span>&#160;</span> dia berdiri mematung memandang ke arah hutan, Aswin yang melihat keadaan Kahar jadi bingung dan bertanya. Kahar mengatakan bahwa dia merasa kehadiran seseorang di dekat mereka. Aswin langsung mengerti apa yang dimaksudkan Kahar, karena dia sudah tahu bahwa bundanya suka beristirahat di gua, pasti yang dimaksudkan oleh pamannya itu adalah bundanya.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Segera dia menarik tangan sang paman untuk berenang mendekati air terjun yang berada cukup jauh dari tempat mereka berenang sekitar 8 tombak. Kahar yang tidak mengerti maksud Aswin menurut saja ditarik, dia berpikir anak itu mengajak dia bermain dengan air terjun walau dia tetap merasakan getaran kehadiran Siti di dekat mereka. Sebenarnya dia penasaran sekali, tapi dia berusaha menepis perasaannya karena dia kuatir dia hanya terlalu banyak berkhayal mengenai Siti sehingga di saat-saat seperti inipun dia merasa kehadiran Siti.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Siti yang sibuk mengeringkan rambutnya tidak menyangka bahwa kedua orang yang tadinya diintai olehnya sedang berenang menuju ke arahnya. Siti dalam kondisi memakai baju dalamnya yang tipis karena baju luarnya masih lembab dikarenakan baju tersebut habis dicuci akibat kena Lumpur saat dia mendaki bukit untuk mengambil daun obat, tidak menyadari mereka sudah ada di balik air terjun dan sedang naik untuk masuk ke dalam gua. Kahar tidak menyangka di belakang air terjun ada sebuah gua, menjadi ingin masuk ke gua untuk melihat ke dalamnya.<span>&#160;</span> Ternyata gua ini cukup terang karena di langit-langit gua ada sebuah lubang yang cukup besar sehingga bisa dimasuki cahaya dari luar membuat gua itu terlihat jelas dalamnya.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Saat itulah Kahar dan Aswin melihat sebentuk badan perempuan yang tinggi langsing dan berkulit sawo matang yang mulus sekali dalam balutan kain tipis berwarna putih, jantung Kahar seakan berhenti berdetak karena secara naluri dia tahu siapa gerangan wanita tersebut. Hal ini dipertegas dengan teriakan Aswin memanggil Siti dan saking kagetnya Siti langsung memutar badannya ke belakang tanpa mengingat bahwa dia tidak menggunakan baju sepantasnya. Terpampanglah di depan mata Kahar sebentuk tubuh wanita yang elok dan indah dipandang mata, dengan kedua bukit dada yang terlihat ranum seperti mangkuk, perut yang datar dan di tengahnya seperti ada jalur yang seksi sekali, serta kedua tungkai yang seperti bulir padi sangat menggiurkan mata laki-laki yang melihatnya.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Tidak berkedip mata Kahar melihat keindahan yang dimiliki sang pujaan hati, tak terasa mulutnya menganga sehingga meneteskan air liurnya. Aswin yang senang sekali melihat bundanya tidak memperhatikan keadaan Kahar, dia sudah berlari menghampiri sang bunda dan menubrukan badannya, Siti yang tidak siap dengan kehadiran mereka tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, akibat tubrukan dari Aswin hampir jatuh terjengkang ke belakang, keburu ditangkap oleh Kahar, yang entah bagaimana bisa bergerak cepat sekali menahan tubuh Siti supaya tidak terjatuh.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Sesaat mereka berdua tidak tahu hendak berkata apa hanya saling memandang saja, Kahar tidak melepaskan tangannya dari tubuh Siti dan Siti tidak berusaha keluar dari pelukan Kahar. Keadaan ini cukup lama, dan Aswin melihat hal ini, anak yang tidak mengerti apa-apa ini terheran melihat kedua orang dewasa ini hanya saling menatap tapi tidak saling bicara. Bolak balik matanya menatap Aswin dan Siti berulang kali, akhirnya karena tidak tahan lagi dia menarik tangan Siti dan bertanya kepada mereka mengapa tidak saling berbicara.<span>&#160;</span> Mereka seperti disadarkan oleh keadaan mendengar suara Aswin, segera Siti berusaha melepaskan diri dari pelukan Kahar tetapi Kahar sepertinya berat melepaskan tangannya dari tubuh molek wanita yang telah menambat hatinya itu, jauh dalam dirinya getaran gairah kejantanannya berdetak keras sekali. Nafsu dan gairah<span>&#160;</span> ingin memiliki sang pujaan semakin menghunjam dirinya dengan kuat sekali, dia sadar hal ini timbul karena perasaan cinta dan rindunya kepada Siti yang terpendam sekian lama.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Akhirnya Siti terbebaskan dari pelukan Kahar, tapi ini menyebabkan dia tambah malu sekali sekarang Kahar bisa melihat tubuhnya setiap detailnya dengan jelas sekali cahaya yang memantul di gua mempertegas pemandangan yang ada di depan mata Kahar. Dalam hati dia berjanji ini adalah yang terakhir kalinya dia memeluk Siti dalam keadaan seperti ini hanya dalam waktu sebentar saja, lain waktu jika dia memeluk wanita molek ini lagi pasti dia akan memuaskan dirinya dalam waktu yang lama sekali…. Dia sudah membayangkan apa saja yang akan dia lakukan dengan wajah yang memerah merona itu, bibir ranum menantang, dan tubuh molek yang membangkitkan gairah kelelakiannya itu. Dia akan memastikan kali ini mimpinya akan terwujud apapun caranya, dia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa cinta dan rindunya kepada Siti, memikirkan Siti sudah tidak di pelukannya saja dia sudah merasa tubuhnya dingin sekali. Cukup sudah semua penderitaannya kehilangan wanita yang dicintainya ini, sekarang wanita itu di depan matanya tidak akan dia lepaskan lagi, apapun halangannya akan dihancurkannya.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Siti melihat emosi yang terpencar di wajah Kahar, dia melihat emosi yang kuat sekali mempertegas wajah jantan itu, matanya seakan memancar api yang membara hanya yang dimengerti secara naluriah oleh seorang wanita, pipinya semakin memerah melihat hal itu. Dia tidak berani berharap banyak lagi seperti dulu karena takut kejadian dulu terulang kembali, dia tidak sanggup kalau harus menanggung kesakitan dan penderitaan kehilangan pemuda yang dicintainya ini. Siti sudah melihat bahwa ibu Bastian juga menaruh perasaan pada Kahar, walaupun dia merelakannya tapi tetap sebagai perempuan perasaan halusnya tersakiti melihat sang pujaan hati lebih memilih perempuan lain daripada dirinya. Karena itu dia tidak mau lagi mengalami hal yang sama kedua kalinya, kini dia lebih berhati-hati lagi dan tidak berani menaruh harapan besar akan hubungan mereka.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Sejak kejadian di lubuk itu, Kahar selalu terbayang-bayang wajah dan kemolekan tubuh Siti di pelupuk matanya, dia tidak bisa tidur nyenyak dan selalu gelisah, dia sudah tidak tahan dengan keadaan ini, harus segera diselesaikan mulailah dia memberanikan diri untuk berbincang-bincang dengan sang pujaan hati dan mencari cara agar secepatnya dia bisa memiliki Siti. Dia sudah berusaha menyampaikan kepada Bumi mengenai perasaan hatinya ini dengan sangat hati-hati sekali agar tidak mengejutkan semua orang, dan dia merasa Bumi mengerti maksud hatinya tapi kenapa dia tidak merasakan Bumi berusaha membantunya mendekatkan dia kepada Siti. Seakan Bumi menunggu tindakan dia terlebih dahulu, karena tidak sabar dengan semua ini mulailah dia mendekatkan diri kepada Siti bahkan sampai Siti pergi mencari obatpun dia mau ikut agar Siti tidak curiga dia menggunakan Aswin untuk menjadi tameng keinginannya itu.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">3&#160;hari telah berlalu, tiba saat keberangkatan Masnan dan Burhan serta Basri dan Syaiful, ternyata setelah kejadian hari itu sepulang dari rumah wali nagari Syaiful dikejutkan dengan tidak marahnya kedua orangtuanya sehubungan dengan rencana kepergiannya mengikuti Basri, bahkan yang lebih mengherankan lagi mereka sepertinya tidak sabar akan kepergiannya itu. Dia menjadi sedih sekali, dia merasa tidak ada orang yang menyayanginya lagi kecuali Aswin dan temannya yang lain. Dia bertekat untuk belajar dengan rajin dan giat agar nantinya dia bisa membuat orang tuanya bangga sehingga mereka akan menyayanginya. Sungguh pemikiran yang meremukan hati jika ada yang tahu apa yang menjadi pemikiran bocah berusia 6 tahun ini. Seperti apapun perlakuan kedua orang tuanya kepadanya tetap saja dia menginginkan kasih sayang dari mereka. Terlihat bahwa dia haus akan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan sering dia iri melihat anak2 yang lain begitu disayangi kedua orang tuanya, tapi untunglah dia tidak mempunyai sifat jahat akibat perasaan irinya itu.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Terlihat sudah ada 2 kereta di depan rumah wali nagari, yang akan mengantarkan mereka kembali ke tempat asalnya. Masnan dan Burhan sudah siap dari tadi, setelah pamit dengan Bumi dan mamak Burhan, mereka berjalan menuju kereta untuk melanjutkan perjalanan. Sedangkan Basri masih menunggu Syaiful yang belum datang juga, dia gelisah sekali apakah anak itu akan jadi ikut atau tidak. Bumi sudah menyuruh tukang kebunnya untuk menyusul ke rumah Syaiful, tidak lama terlihat tukang kebun itu menggendong Syaiful di belakangnya berlari-lari. Begitu mendekat, Basri langsung naik darah karena dia melihat keadaan wajah dan tubuh Syaiful yang babak belur. Rasanya dia ingin terbang ke rumah anak itu untuk menghajar orang tuanya, buru-buru dia mengambil Syaiful dari gendongan tukang kebun, dengan hati yang pedih sekali dia membawa masuk anak itu untuk diobati sebelum dia membawa anak itu pergi. Ingin sekali dia secepatnya membawa anak ini pergi agar tidak usah lagi menerima siksaan dari orang tuanya.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Bumi yang melihat keadaan Syaiful juga menjadi geram sekali, dia menanyakan kepada tukang kebun apa yang terjadi. Tukang kebun tidak tahu apa yang terjadi hanya pas dia sampai di sana dia melihat orang tua Syaiful sedang memukuli anaknya, dan dia marah sekali melihat hal itu, di lihat di situ ada sebuah tongkat panjang langsung dia ambil tongkat itu dan memukulkannya kepada bapak Syaiful. Orang tua Syaiful langsung menghindar dari kejaran tongkat yang digunakan tukang kebun. Setelah itu tukang kebun menggendong Syaiful yang sedang tidak sadarkan diri itu ke rumah wali nagari, karena kuatir nanti dikejar oleh bapaknya Syaiful makanya dia berlari-lari sambil menggendong anak itu.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Syaiful yang sudah dibawa ke dalam langsung ditangani oleh Siti, Aswin yang baru habis mandi langsung ke ruang pengobatan bundanya untuk melihat ada kejadian ribut apa di sana . Alangkah kagetnya dia melihat temannya babak belur seperti itu, kemarahannya timbul dengan hebatnya, terlihat matanya berubah menjadi berkilat-kilat kehijauan memancarkan cahaya mematikan. Tiba-tiba dia menggerakan tubuhnya, melesat dengan cepat sekali ke luar rumah, Basri dan Bumi tidak memperhatikan hal itu karena mereka sedang cemas dan prihatin akan keadaan Syaiful, tapi Kahar melihatnya dan dia terkejut sekali dengan kecepatan Aswin yang berlari keluar itu, anak berusia 5 tahun seperti Aswin mempunyai kemampuan untuk bergerak secepat itu tidak pernah dia temui sebelumnya.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Karena kuatir Aswin akan menimbulkan masalah, buru-buru Kahar menyusulnya, dia harus mengerahkan tenaga ilmu peringan tubuhnya<span>&#160;</span> 4 bagian untuk dapat menyusul larinya Aswin yang telah mendahuluinya. Dari jauh dia melihat Aswin seperti anak peluru yang berlari cepat sekali ke arah selatan dari rumahnya. Melihat hal ini Kahar semakin mempercepat larinya agar bisa menyusul anak itu, ketika sudah dekat Kahar mengulurkan tangannya untuk menangkap tangan Aswin tapi dia tidak menyangka ternyata Aswin mengelak dengan tangkas sekali.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Semakin cepat anak itu berlari dan semakin cepat pula Kahar mengejarnya sebenarnya ingin sekali dia mengukur kemampuan Aswin yang sebenarnya, sayang sekali saat ini tidak memungkinkan karena tadi dia sudah melihat mata Aswin berkilat-kilat kehijauan dengan sinar mata yang mencorong mematikan, dia takut anak itu berbuat yang tidak baik pada orang tua Syaiful karena saking marahnya. Segera dia mengeluarkan ilmunya untuk menangkap Aswin, untunglah Aswin ini masih kecil dan belum matang ilmu, kalau sudah belum tentu dia dapat menangkap dengan begitu mudahnya.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Buru-buru dia menenangkan anak kecil yang sedang marah ini, dengan susah payah akhirnya dia berhasil meyakinkan anak itu untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan penyesalan nanti. Dia membujuk anak itu untuk pulang melihat keadaan temannya yang akan segera berangkat dengan Basri. Dengan menggandeng tangan Aswin, Kahar mengembangkan ilmu peringan tubuhnya agar cepat bisa sampai di rumah Bumi. Benar yang dikatakan Kahar terlihat Syaiful sudah sadarkan diri dan sedang dipersiapkan untuk bisa menempuh perjalanan panjang ikut dengan Basri.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Dengan berurai air mata Aswin memeluk Syaiful karena dia sedih sekali melihat keadaan temannya itu, Syaiful yang melihat anak bandel ini menangis karenanya menjadi terharu dan akhirnya ikut-ikutan menangis.<span>&#160;</span> Orang dewasa di sekeliling mereka juga berkaca-kaca matanya melihat kejadian ini. Siti membekali Basri dengan segala macam obat yang diperlukan oleh Syaiful, Basri sudah tidak bisa ditahan menunggu kesembuhan Syaiful baru berangkat. Dia beralasan akan bisa membunuh kedua orang tua Syaiful bila dia masih lama lagi di sini, jadi lebih baik sekarang perginya, dia akan memastikan Syaiful akan aman selama di perjalanan.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Akhirnya Bumi meluluskan permintaan Basri untuk segera membawa Syaiful pergi bersamanya. Setelah semua persiapan selesai, mereka semua berjalan mengantarkan kepergian Basri dan Syaiful.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Dengan berlari-lari Aswin mengiringi kereta yang membawa teman tersayangnya Syaiful ke tempat paman Basri, dia sempat membisikan kepada temannya itu bahwa dia akan menunggu kepulangan temannya agar mereka bisa bermain kembali, dan Syaiful berjanji akan menjaga dirinya dan belajar dengan giat supaya bisa mengalahkan Aswin.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Aswin mengantar temannya sampai di pinggiran nagari dengan ditemani oleh Kahar yang takut anak ini melakukan sesuatu yang akan disesalinya nanti. Untunglah setelah habis mengantar temannya pergi, Datuak datang menjemput muridnya itu. Kahar hanya merasakan angin lembut menerpa tangan kanannnya saat dia melihat ke kanan, dia tidak melihat siapapun, dan dia menoleh ke<span>&#160;</span> arah Aswin, anak itupun sudah tidak ada di tempat. Kemudian terdengar suara yang dikenalnya sebagai suara Datuak, mengatakan <span>&#160;</span>membawa Aswin pergi berlatih.<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Kahar geleng-geleng kepala akan kehebatan Datuak Inyiak Balang tersebut. Dan dia juga bertanya dalam hati akan jadi apa Aswin besar nanti karena dia sudah merasakan p]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><strong><font size="5"><em>PART II<br /></em></font></strong><br />
Seperti yang diceritakan sebelumnya selesai mereka makan siang, mereka berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan bantuan yang diharapkan oleh wali Bumi pada penduduknya..</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Persoalan apa Wali Bumi, katakanlah pada kami siapa tahu kami bisa membantu!” kata Jintan.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Yah Wali Bumi, bantuan seperti apa yang bapak harapkan dari kami mengingat teman-teman bapak orang-orang yang hebat yang sudah pasti lebih mampu menolong bapak dibandingkan kami.” Mamak Burhan angkat bicara.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Jangan berkata begitu, memang teman-temanku ini hebat-hebat tapi justru merekalah yang menyusahkan aku karena itu butuh bantuan kalian.”kata Bumi sambil menghela nafas dan melihat sekeliling.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Mendengar hal ini para orang tua dan wali kaget sekali, bantuan seperti apa yang bisa mereka berikan jika orang hebat yang menyusahkan wali mereka.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Pak Wali, tolong segera katakan bantuan seperti apa yang bisa kami berikan? Jangan buat kami penasaran.”kata Mamak Burhan.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Bumi melihat bahwa yang semuanya penasaran kecuali orang tua Saiful yang acuh tak acuh mendengarkan pembicaraan<span>&#160;</span> ini, mereka sepertinya ingin segera angkat kaki dari rumah Bumi, apalagi mereka melihat cara Basri memandang mereka membuat mereka tambah gerah. Memang wajah Basri tersenyum tapi senyumnya sangat sinis sekali dan sorotan matanya dingin menatap mereka, sungguh suatu pemandangan wajah yang mendirikan bulu roma bila setiap kali mereka memandang ke arah Basri. Bumi memaklumi perasaan Basri yang sangat menyukai anak-anak itu, apalagi dia sudah jatuh sayang pada Saiful semakin dia benci kepada kedua orang itu.<span>&#160;</span> Bumi merasa sebaiknya segera membicarakan keinginan mereka mengingat suasana hati Basri ini.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Baiklah aku akan langsung katakan kepada kalian,<span>&#160;</span> kesusahan apa yang ditimbulkan oleh teman-temanku ini,<span>&#160;</span> seperti yang kalian tahu teman-temanku ini juga merupakan tokoh persilatan ternama di ranah Minang ini. Mereka sedang mencari murid untuk menurunkan ilmu silat mereka yang mumpuni ini. Kebetulan mereka menyukai anak-anak kalian dan berniat menurunkan ilmu mereka kepada anak kalian,” sengaja Bumi berhenti bicara agar para orang tua meresapi perkataannya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Terlihat di wajah mereka kegembiraan karena anak mereka dipilih orang-orang seperti teman-teman wali yang hebat itu untuk dijadikan murid. Masing-masing dengan pemikiran sendiri bahwa kelak anak-anak mereka akan sehebat gurunya. Semua manggut-manggutkan kepalanya, dalam hati mereka merasa ini masalah kecil, mereka pasti setuju menjadikan anak mereka murid dari orang-orang hebat ini. Tapi mereka juga melihat di balik penjelasan dari wali Bumi ada hal lain yang belum diungkapkan, ini yang membuat mereka agak was-was.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Bagaimana, apa kalian setuju anak kalian menjadi murid orang-orang hebat ini ?” Tanya Bumi.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Hampir semua mengangguk kepalanya tanda setuju, yang tidak memberikan reaksi hanya orang tua Saiful yang diam membisu saja, karena memang mereka tidak perduli akan nasib anak mereka. Bumi dan teman-temannya juga melihat hal ini, terlihat Basri saling melemparkan pandangan matanya dengan Bumi. Dalam hati Basri benar-benar kuatir jika mereka tidak setuju dia menjadikan Saiful muridnya.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Jadi kalian setuju kan , anak-anak kalian menjadi murid teman-temanku ini?”Bumi memastikan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Benar bapak wali saya setuju anak saya mendapat guru seperti beliau-beliau ini.”kata Jintan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Saya tidak keberatan pak wali tapi siapa yang akan jadi guru anak saya, apa semuanya?”Tanya Lastri.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Tidak semua menjadi guru anak kalian, temanku sudah memilih yang mana menjadi murid mereka. Seperti Masnan ini, beliau sudah memilih Burhan untuk menjadi muridnya.”kata Bumi sambil menoleh ke arah mamak Burhan seolah minta persetujuan.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Mamak Burhan yang memang seorang pencinta nagarinya sangat menyukai Masnan yang seorang perwira kerajaan, dia sangat senang kemenakannya didik oleh seorang perwira hebat seperti Masnan, malahan diam-diam dia ingin mengajukan permohonan kepada Masnan agar anaknya juga didik oleh perwira ini. Siapa tahu anaknya bisa hebat seperti perwira ini, walaupun dia sayang juga kepada Burhan tapi bila dibandingkan dengan anak sendiri tentu beda kadar sayangnya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Wali Bumi, kami setuju Burhan menjadi murid dari Panglima Masnan.”sengaja dia menyebutkan pangkat Masnan agar terdengar keren.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Terima kasih Datuak mengijinkan saya menjadi guru bagi kemenakan anda, mudah-mudahan saya tidak mengecewakan harapan Datuak.” Sahut Masnan.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Sementara itu anak-anak yang tadinya asyik bermain dan mengobrol di sudut ruangan besar itu, mulai terlihat menegakkan badannya dan berjalan ke arah orang tua mereka yang sedang berbicara itu. Terutama Aswin penasaran sekali karena tadi dia mendengar paman Masnannya mengangkat Burhan jadi muridnya, dia ingin tahu paman yang lain memilih temannya yang mana untuk dijadikan murid.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Terdengar suara Bumi,”Dan Kahar ini memilih Bastian untuk menjadi muridnya, bagaimana Lastri apa kamu keberatan?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Mendengar hal ini Lastri menjadi senang dan bahagia sekali, tidak pernah dia membayangkan bahwa Kahar akan memilih anaknya menjadi murid. Tadi saja dia sudah kuatir anaknya akan menjadi murid dari yang lain walau dia senang juga anaknya didik oleh orang hebat tapi kalau boleh jujur dia lebih memilih Kahar untuk menjadi gurunya. Segera dia menyetujui hal ini, dalam hati dia bahagia sekali, merasa jodohnya dengan Kahar diberikan kesempatan kedua oleh Yang Maha Kuasa. Seperti orang mabuk dia tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana mereka menjadi suami isteri nantinya. Dia tidak sadar bahwa ada yang memperhatikan dirinya yang sedang bahagia itu, mata jeli nan indah<span>&#160;</span> sudah memandang wajah temannya sejak mendengar Kahar menjadi guru anaknya jadi dia tahu perubahan yang terjadi di mata dan wajah temannya itu. Hatinya berdesir melihat semua ini, walaupun dia merasa Kahar hanya memperhatikan dirinya tapi dia tidak pernah tahu bagaimana kelanjutannya nanti seperti dulu siapa sangka akhirnya mereka berpisah juga.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Lastri seorang wanita yang ceria, periang dan mudah bergaul dengan siapa saja seperti Rohaya, wanita yang pernah sangat dekat dengan Kahar dulu, sedangkan dia seorang gadis pemalu dan pendiam, tidak pandai mengambil hati seorang laki-lakipun. Akankah tali asmara mereka yang terjalin dulu akan bisa menyambung kembali, atau malah semakin menjauhkan mereka?<span>&#160;</span> Siti tidak mau memikirkan lebih lanjut, dia hanya berpikir kalau memang nanti Kahar lebih bahagia bersama Lastri, dia akan merelakannya, karena bagi dia mencintai itu artinya tidak harus saling memiliki, yang terpenting ingin melihat orang yang dicintai bahagia selalu. Hal ini pernah dilakukannya dulu ketika Kahar lebih memilih Rohaya daripada dirinya, walaupun dia sangat terluka, tapi<span>&#160;</span> tidak pernah di wajahnya tampil kesedihan, selalu tersenyum melihat Kahar dan Rohaya saling bermesraan di depan matanya seolah-olah hal itu tidak melukai hatinya.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Kahar sempat melihat perubahan di mata Siti, dia melihat sekilas ada sinar kesedihan yang memancar dari mata yang indah<span>&#160;</span> itu, tapi belum sempat dia memastikannya sinar itu sudah lenyap berganti dengan sinar yang lembut dan penuh kasih karena Siti melihat<span>&#160;</span> Aswin datang mendekatinya. Ingin sekali Kahar juga menerima tatapan seperti itu, selama beberapa hari ini sinar mata Siti memang lembut menatapnya tapi hanya sebatas itu saja tidak seperti tatapan dia kepada Aswin, sinar matanya memancar dengan penuh kasih yang mendalam bahkan cendrung seperti memuja bocah nakal itu. Dia bertekat dalam hati dalam beberapa hari ini dia akan melakukan pendekatan kembali pada Siti, apapun resiko akan ditempuh seumpama harus berlutut memohon maaf dari Siti akan dilakukannya, dia sudah tidak mau melakukan kesalahan seperti dulu yang berakhir dengan kepahitan, dia kehilangan wanita yang paling dicintainya.<span>&#160;</span> Kini sekian tahun telah berlalu, dia tidak akan mengulang lagi kesalahan dan kebodohan<span>&#160;</span> yang sama, bagaimanapun caranya, dia akan berusaha menjadikan Siti miliknya dan tidak akan dia lepaskan lagi.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Sementara Kahar sibuk dengan gejolak hatinya, Bumi kembali melanjutkan pembicaraannya,”Dan Karim, aku telah memutuskan untuk menjadikan dia murid utamaku bersama puteraku.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Orang tua Karim kelihatan gembira tapi kalau menuruti hati, mereka lebih ingin Karim menjadi murid Basri karena bisa diajarkan ilmu dagang juga, siapa tahu nanti Karim bisa melanjutkan usaha mereka lebih baik lagi.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Dan terakhir untuk Saiful telah dipilih oleh Basri menjadi muridnya. Bagaimana dengan kalian, bapak dan ibu Saiful?” Tanya Bumi sambil menatap kedua orang itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Kami terserah anaknya saja, jika dia mau kami tidak bisa melarangnya,” kata ibu Saiful dengan acuh tak acuh, karena dia sudah tidak tahan lama-lama dipandangi dengan tatapan yang dingin dari semua tamu wali nagari.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Saya lihat semuanya sudah memahami maksud hati teman-temanku ini, dan aku senang kalian bisa menerima mereka akan menjadi guru anak-anak kalian. Tapi ada sedikit hal yang perlu didiskusikan dengan kalian terutama dengan orang tua Saiful dan Mamak Burhan. Seperti yang kalian ketahui Masnan dan Basri punya kesibukan dan keluarga yang tidak berada di sini. Mereka merencanakan akan pulang dalam waktu dekat ini, ini artinya mereka juga akan mengajak murid-murid mereka ke tempat tinggal mereka.<span>&#160;</span> Sedangkan Kahar karena dia seorang bujangan dan suka berkelana untuk sementara waktu akan tinggal di rumahku sampai dia mulai ingin berkelana lagi.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Begitu mendengar hal ini langsung Mamak Burhan menyatakan ketidaksetujuannya, karena dia merasa bertanggung jawab kepada kemenakannya ini, kalau Burhan jauh dari sisinya dia tidak bisa lagi memantau perkembangan Burhan. Lastri senang mendengar Kahar akan menetap di sini, dia melihat kesempatan dia terbuka lebar untuk mendekati Kahar, sedangkan Kahar yang mendengar perkataan Bumi, kaget sekaligus senang karena secara tidak langsung Bumi mau mengatakan bahwa Kahar boleh tinggal di rumahnya sementara waktu, dia tidak akan membuang kesempatan emas ini secara percuma, jadi dia tidak komentar apa-apa mengenai hal ini. Yang paling terkejut sebenarnya adalah Siti, hatinya berdetak cepat membayangkan dia akan serumah dengan orang yang dicintainya itu. Entah apa yang akan terjadi dengan hubungan ketiga orang ini, kita lihat saja perkembangannya.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Bapak Saiful juga tadinya hendak protes tapi belum sempat dia buka suara, terdengar bisikan di telinganya,”Jika kau tidak setuju anakmu pergi, maka aku akan membuat kau menyesal telah pernah muncul di hadapanku. Tapi kalau kau setuju aku akan memberikan sejumlah uang emas untuk kau gunakan membeli rumah dan peralatan rumah yang lebih baik dari sekarang serta bisa kau gunakan untuk usaha.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Segera dia menoleh ke arah Basri, dia menjadi bingung karena dia tidak melihat Basri buka mulut untuk bicara padanya<span>&#160;</span> bahkan terlihat sedang berusaha ajak bicara anaknya dan sepertinya yang lain tidak mendengarkan apa yang dibisikan ke telinganya. Dia melihat anaknya diam menatap Basri tapi dia tidak melihat sinar takut di mata anaknya seperti jika anaknya menatap dia dan isterinya. Dia tahu sebenarnya isterinya juga suka menyiksa anak mereka, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa karena takut sang isteri akan meninggalkannya. Akhirnya karena memedam semua perasaan yang melukai hatinya membuat dia suka mabuk-mabukan sesudahnya melampiaskan semua luka hatinya pada orang di sekitarnya termasuk anaknya.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Kini dia merasa mendapat jalan menyingkirkan anak yang dibenci isterinya itu sekaligus dia mendapat uang banyak sehingga dia berharap isterinya menjadi lebih baik padanya dia. Dia berencana akan meminta uang sebanyak-banyaknya pada saudagar kaya itu dan pergi dari sini untuk tinggal di pusat kerajaan, dia tidak memperdulikan anaknya karena dia yakin saudagar itu akan bisa menjaga anaknya lebih baik lagi dan siapa tahu kalau anaknya besar nanti bisa jadi kaya raya serta memberi dia kelimpahan pada saat tuanya. Pikiran-pikiran egois ini bermain di benaknya, dan semakin memantapkannya untuk membiarkan anaknya ikut saudagar ini kalau perlu tidak usah kembali lagi.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Bumi melihat yang hanya protes Mamaknya Burhan sedangkan orang tua Saiful diam saja bahkan kelihatan bapaknya wajahnya seperti senang mendengar anaknya akan pergi meninggalkannya. Bumi menjadi muak sekali memikirkan kedua orang tua ini, jika dia yang jadi orang tua Saiful tidak akan pernah dalam kamusnya merelakan anaknya pergi dengan orang asing walaupun orang itu dapat dipercaya tapi tetap saja dia akan memaksa ikut kalau anaknya dia bawa pergi. Ternyata hal ini tidak saja dirasakan oleh Bumi, bahkan teman-temannya yang lain melihat juga hal ini, semua berpikir buruk terhadap orang tua Saiful. Dan yang paling mengiriskan hati adalah Saiful juga menyadari hal ini karena ketika Bumi mengatakan dia akan dibawa oleh paman yang murah senyum itu pulang ke kampungnya, orang tuanya tidak memberikan reaksi seperti yang dilakukan oleh mamak Burhan. Ini sangat memedihkan hatinya, dia merasa tidak berarti bagi keluarganya dan ini melukai dia dengan teramat sangat,<span>&#160;</span> malah timbul ketakutan dalam dirinya seandainya dia pergi apa nanti orangtuanya akan melupakannya?</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Perasaan ini menghantuinya dan membuat dia tidak ingin pergi, seketika dia menarik diri dari dekat Basri dan beringsut mendekati orangtuanya. Basri yang merasakan hal ini menjadi bingung kenapa anak ini tiba-tiba menjauhkan diri darinya setelah mendengar ucapan Bumi, apakah orang tuanya melarang dia secara diam-diam tanpa sepengetahuannya? Tapi rasanya tadi dia melihat orang tua Saiful sudah setuju untuk membiarkan anaknya ikut dengan Basri, apalagi setelah diiming-iming akan diberikan uang emas. Basri menjadi cemas dan kuatir anak itu tidak mau ikut dengannya, tadi dia sempat melihat di pergelangan anak itu ada bekas ikatan tali yang kuat, sebelumnya dia tidak melihat karena tertutup baju tangan panjang anak itu, kebetulan ketika anak itu sedang mengangkat tangannya membenahi rambutnya dia melihatnya. Hatinya terkoyak merasakan penderitaan Saiful, dia yakin di badan anak itu pasti ditemukan lebih banyak bekas luka akibat penganiayaan orang tuanya. Dia bertekat bagaimanapun caranya dia akan membawa anak ini pergi menjauhi kedua orang tua sadis itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Ibu Saiful juga melihat anaknya menjauhi Basri, dia yang sudah mendengar bisikan suaminya tentang uang emas yang akan diberikan kepada mereka jika mengijinkan saudagar itu membawa anak mereka, mengerutkan keningnya. Dia sudah membayangkan akan bersenang-senang dengan uang emas itu, membeli baju-baju sutera seperti yang diimpikannya, alat-alat percantik diri, rumah yang bagus tidak seperti sekarang ini seperti kubangan kerbau kalau hari hujan karena masih berlantai tanah.<span>&#160;</span> Dia akan memaksa anaknya pergi dengan saudagar kaya itu, kalau perlu memakai kekerasan agar anaknya mau pergi, dia tidak rela uang emas yang hampir ada di genggaman tangannya lepas begitu saja. Dia sudah muak menjadi orang miskin terus ditambah lagi mempunyai suami yang begitu dibencinya membuat hidupnya terasa seperti di neraka, sekarang pintu surga terlihat sudah terbuka untuknya mana mungkin dia akan melepaskan begitu saja.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Sementara itu mamak Burhan masih berargumentasi dengan Bumi dan Masnan mengenai kepergiaan Burhan mengikuti Masnan, sebenarnya mamak Burhan keberatan karena dia ingin Masnan mengajari anaknya juga. Jika Masnan akan membawa Burhan pergi, ini artinya anaknya tidak akan bisa menjadi murid Masnan karena isterinya pasti tidak mengijinkan anak bungsu mereka yang baru berusia 3 tahun ikut Burhan berguru pada Masnan. Dia berharap dengan dia keberatan seperti ini Masnan akan mau mengajar Burhan di Batang Kapeh bagaimanapun caranya, karena Masnan sendiri yang meminta Burhan menjadi muridnya, ini artinya Masnan yang membutuhkan Burhan jadi pasti Masnan akan mengalah demi kepentingannya. Tapi dia salah memperkirakan hal ini, Masnan tidak bisa melakukan seperti yang dia minta karena dia harus segera balik ke markasnya, cutinya sudah hampir habis. Jadi jika memang Burhan tidak bisa ikut karena mamaknya tidak setuju, dia tidak bisa berbuat apa-apa, paling nanti dia pikirkan caranya bagaimana agar tetap dia bisa menjalankan amanat dari sesepuh itu, jadi dia tidak memaksa terlalu jauh.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Melihat Masnan tidak memaksa hendak membawa Burhan, dan sepertinya tidak menjadi masalah Burhan tidak ikut mamak Burhan menjadi bertanya-tanya dalam hati apa bukan dia yang kelewatan memaksa kehendaknya ? Karena dia tahu orang seperti Masnan pasti mempunyai tugas dan kewajiban yang sangat besar dan penting terhadap kerajaan, masak hanya gara-gara seorang anak kecil dia akan mengorbankan semuanya. Hanya karena kepentingan dia yang egois menjadikan masa depan kemenakannya jadi suram, minimal jika kemenakannya menjadi pasukan kerajaan seperti Masnan, dia akan kecipratan juga senangnya dan dia bisa mengangkat harga diri keluarganya karena mempunyai kemenakan seorang perwira kerajaan. Dia mulai menyesali tindakannya yang gegabah itu, tapi bagaimana memperbaiki keadaan yang sudah kadung seperti ini.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Tiba-tiba dia dapat akal, dia tahu Burhan sangat mengagumi perwira gagah ini, dia akan pura-pura menanyakan kepada kemenakannya apa mau ikut pergi dengan calon gurunya itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Burhan,”kata Mamaknya sambil melambaikan tangannya menyuruh Burhan menghampiri dia, segera bocah itu mendatangi mamaknya,”Yah, Mamak.”sahut Burhan dengan sikap sopan. Ini tidak terlepas dari mata Masnan yang melihat bagaimana anak itu bertindak sangat sopan dan santun serta bersahaja tapi tidak mengurangi aura wibawa yang memancar dari tubuhnya.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Burhan, kamu sudah mendengar tadi bahwa paman itu ingin mengangkat kau sebagai muridnya. Mamak setuju beliau menjadi gurumu supaya kelak besar nanti kaupun akan segagah gurumu itu. Masalahnya adalah jika kau mau menjadi muridnya kau harus ikut dia pergi ke Pagaruyuang, karena beliau merupakan perwira penting dari kerajaan kita. Mamak keberatan jika kau pergi dengan beliau karena selain tanggung jawab mamak pada ibumu juga masalahnya kau akan jauh dari mamak, jadi mamak kuatir kau tidak bisa menyesuaikan diri pada lingkungan keluarga gurumu itu. Jika kau tetap berkeras ingin ikut gurumu, karena memang ini demi masa depanmu juga nantinya, mamak tidak akan melarang sebab mamak ingin yang terbaik untukmu supaya kamu juga bisa membuat bangga orang tuamu yang sudah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanmu dari marabahaya.<span>&#160;</span> Jadi nak, pikirkan baik-baik jangan kuatirkan mamak dan bibimu serta saudara-saudaramu, kamu bisa sekali-kali pulang untuk menjenguk kami disini tentunya seijin gurumu.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Masnan yang mendengar perkataan Mamak Burhan, menjadi kagum<span>&#160;</span> juga pada mamak Burhan, anak berusia 6 tahun seperti Burhan sudah diajarkan untuk menjadi mandiri dan bertanggung jawab terhadap pilihannya, sebenarnya dengan usia 6 tahun, anak-anak masih belum terlalu mengerti dengan apa itu tanggung jawab mengenai pilihan hidup mereka, tapi kembali dia kaget bercampur kagum melihat wajah Burhan, anak itu sepertinya mengerti apa yang dikatakan mamaknya dan termenung seperti berpikir dulu sebelum menjawab, terkesan hati-hati dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan, semua dipikirkannya dulu dengan baik.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Burhan memalingkan wajahnya ke arah Masnan dan bertanya,”Paman, apa benar paman menginginkan saya sebagai murid paman?”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Benar sekali, Burhan, jika kau juga berminat menjadi muridku.”sahut Masnan.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Paman, aku akan mempelajari apa dari paman, kalau aku boleh tahu.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Paman akan mengajarkan kamu banyak hal seperti ilmu agama, membaca dan menulis, ilmu silat, ilmu tenaga dalam dan lain-lain yang nantinya akan bermanfaat bagimu kelak, tapi dengan catatan kamu harus rajin dan giat belajar baru kamu bisa menjadi hebat kelak.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Apa aku bisa seperti paman menjadi seorang panglima kerajaan juga?” Burhan mengetahui Masnan seorang panglima dari Aswin, tadi saat mereka bercakap-cakap di sudut ruangan, Aswin banyak bercerita mengenai paman-pamannya ini, dia menceritakan sedemikian menariknya dengan cara bocahnya sehingga teman-temannya menjadi terkesima dan ingin menjadi sehebat paman-paman itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Hahahaha… pertanyaan bagus. Paman tidak bisa menjawabnya, yang bisa menjawabnya hanya kamu sendiri, paman hanya tahu cara untuk bisa menjadi seorang panglima tapi apakah kamu akan menjadi panglima atau tidak nantinya semua kamu yang menentukannya sendiri.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Kembali terlihat Burhan sepertinya merenungkan perkataan Masnan, matanya bersinar-sinar menandakan otaknya lagi berpikir keras. Masnan tahu Burhan seorang anak yang cerdas sekali dan juga sangat hati-hati, maka dia membiarkan Burhan dalam keadaan seperti itu, sampai dia siap melontarkan pertanyaan lagi.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Apakah aku akan tinggal bersama paman dan keluarga? apakah keluarga paman tidak keberatan aku tinggal di rumah paman?”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Jangan kuatir Burhan, keluargaku adalah keluarga yang bersahaja, kami selalu menerima siapa saja yang datang ke rumah kami, pintu rumah kami selalu terbuka untuk teman-teman dan sahabat kami yang datang mengunjungi kami. Dan lagi di rumah kami, ada beberapa kamar kosong yang biasa ditempati oleh para tamu kami yang menginap jadi kamu tidak usah kuatir kalau kamu jadi merepotkan kami. Hmmm sebelum kamu bertanya lebih jauh, paman akan mengatakan padamu bahwa paman mempunyai seorang putri yang hampir seusia kamu, jadi paman rasa kamu bisa mendapat teman bermain seusia kamu. Isteri paman juga sangat menyukai anak-anak dan paman yakin kamu akan bisa memperoleh kasih sayang dia.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Burhan merenungkan kata-kata Masnan, “Paman, apa aku harus memanggil paman dengan sebutan guru atau paman?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Mendengar pertanyaan ini Masnan tahu dia sudah memenangkan hati anak itu, tinggal tunggu anak itu siap memberikan jawabannya.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Terserah kamu mau panggil apa padaku, paman boleh, guru boleh atau ayahpun boleh, aku tidak keberatan.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Dia melihat Burhan memandang wajah mamaknya dan wajah dia secara bergantian, akhirnya dia lihat anak itu siap memberikan jawaban setelah mempertimbangkan semua seperti memang wataknya yang selalu berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Pertama aku akan tetap memanggil paman, kalau diperbolehkan,” dia memandang Masnan dan melihat anggukan Masnan, dia melanjutkan, ”Aku suka sekali menjadi murid paman, tapi aku punya syarat.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Baiklah, apa syaratmu, anak baik.” Kata Masnan penasaran.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Paman, bisakah dalam setiap 2 tahun aku pulang ke sini untuk ketemu sama mamak dan keluargaku? “<span>&#160;<br /></span><br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Tentu saja bisa, karena paman juga ingin bertemu dengan paman Bumi ini. Baiklah paman berjanji setiap 2 tahun sekali kamu boleh balik ke sini selama 2 minggu dan akan paman temani kalau tidak bisa nanti akan paman minta bantuan teman paman. Bagaimana menurutmu?”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Baiklah paman, aku setuju, aku akan ikut bersama paman pulang.”kata Burhan tegas, dia merasa senang dengan adanya janji dari paman Masnan.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Dan mamak Burhan jadi senang sekali karena dia melihat ada kesempatan 2 tahun lagi puteranya bisa didik oleh perwira hebat ini.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Burhan, karena kamu sudah menyetujuinya, mamak hanya bisa merestuinya dan mendoakan saja. Panglima, aku menyerahkan kemenakanku di bawah bimbinganmu, semoga kelak dia besar nanti dia akan bisa seperti anda.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Terima kasih atas restu dan pujian Datuak, aku tidak akan menyia-nyiakannya.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Urusan Burhan selesai dengan sendirinya, direncanakan dalam waktu 3 hari kedepan Masnan akan pulang dengan membawa Burhan pergi. Sekarang giliran Basri karena dia juga mau membawa Saiful pulang ke rumahnya, dia berharap dia tidak menemukan kesulitan dalam hal ini.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Bagaimana dengan kamu, Karim, apa kamu mau menjadi murid utama paman? tanya Bumi, sengaja dia menunda menanyakan Saiful karena dia ingin Saiful merasa nyaman dengan situasi ini, dia sudah melihat tanda-tanda kegelisahan pada wajah Saiful, dia tidak mau membuat anak itu jadi takut pada rencana mereka.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Apakah nanti aku berlatih dengan Aswin, paman? “</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Iya. Apa kamu pikir nantinya kamu bisa mengalahkan Aswin? Sahut Bumi kepada Karim.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Tentu saja bisa paman,<span>&#160;</span> nanti<span>&#160;</span> ketika aku sudah besar pasti aku bisa mengalahkan Aswin.” Jawab Karim dengan pasti.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Baiklah kita lihat saja nanti, yang penting kamu rajin berlajar dan berlatih pasti bisa.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Paman akan mengajari apa padaku? Selama ini aku kan sudah berlatih sesuai dengan petunjuk paman, apa ada ilmu lain yang akan paman ajarkan padaku?”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Iya, makanya kamu rajin berlatih biar kamu bisa tambah hebat lagi<span>&#160;</span> dan mengalahkan Aswin.”</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Apa aku boleh ikut berlatih dengan uda Karim dan Aswin juga paman?”Tanya Bastian.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Hahahaha… Bastian, kamu sudah punya guru sendiri, kamu tahu beliau ini lebih jago dari paman, kamu beruntung dipilih beliau jadi muridnya. Walaupun kamu sudah diajarin paman Kahar, kamu bisa berlatih bersama-sama Aswin dan Karim, supaya ilmu kamu semakin mantap. Paman juga jadi bisa lihat siapa yang terhebat diantara kalian.”kata Bumi sambil memotivasi anak-anak itu.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br />
Sebenarnya persaingan diantara mereka inilah nantinya yang membuat mereka terus tekun mengasah diri untuk menjadi yang terbaik, untung saja mereka dididik oleh tokoh-tokoh yang memang matang kepribadiannya kalau tidak akan bisa menimbulkan iri hati diantara sesama mereka yang bisa berakibat hubungan mereka malah jadi berantakan semua.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Dan nanti kalau Burhan dan Saiful pulang liburan, kalian juga bisa berlatih bersama, jadi pasti akan ketahuan siapa yang malas berlatih dan siapa yang rajin.”kata Bumi sambil tersenyum jahil seperti Aswin kepada anak-anak itu. Padahal sebenarnya dia juga memperhatikan wajah Saiful, apakah anak itu memperlihatkan reaksi penolakan ketika dia berbicara seperti itu, tapi dia tidak melihat reaksi apapun pada wajah anak itu, ini membuat dia kuatir karena itu dia harus memikirkan dengan cara bagaimana supaya anak itu mau berguru dengan Basri. Belum sempat dia menemukan cara terbaik untuk menyampaikan hal ini, anaknya sudah buka suara yang secara tidak langsung membantu dia meyakinkan Saiful agar mau berguru dengan Basri.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Uda Ipul, bagaimana menurut uda, apa nanti uda bisa mengalahkan aku setelah berguru dengan paman Basri?”Tanya Aswin sambil tersenyum-senyum nakal.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Anehnya begitu Aswin yang berbicara wajah sendu Saiful langsung memberikan reaksi, matanya yang tadinya redup menjadi bersinar.<span>&#160;</span> Terlihat mulutnya bergerak perlahan tapi suara yang keluar pelan sekali, hampir tidak terdengar. Aswin jadi kesal dengan cara menjawab Saiful.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Uda, kan aku sudah bilang uda kalau bicara yang keraslah, uda, anak laki-laki masak bicaranya seperti anak perempuan.”protes Aswin dengan manja pada Saiful. Entah kenapa Saiful selalu merasa Aswin itu seperti adik yang dia tidak punya sehingga selalu berusaha untuk memenuhi semua permintaan Aswin. Ada perasaan ingin membahagiakan dan melindungi dari dalam dirinya terhadap Aswin, padahal dia tahu anak ini jauh lebih bisa menjaga diri daripada dirinya. Tapi ini juga mengherankan dirinya, Aswin selalu bisa membuat dia merasa ingin menjadi lebih baik dari dirinya sekarang seperti ada aliran dorongan semangat dari setiap perkataan dan perbuatan Aswin padanya.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Dia berusaha menjawab pertanyaan Aswin,” Uda pasti bisa mengalahkan kamu nanti, Win, lihat saja.”kata Saiful dengan nada lebih keras dan keyakinan yang tinggi.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Jadi uda Ipul mau kan ikut dengan paman Basri untuk belajar macam-macam ilmu pada beliau?” Tanya Aswin, sebenarnya Aswin melakukan ini karena dia ingin Saiful pergi jauh-jauh dari orang tuanya yang jahat itu. Walaupun Aswin baru berusia 5 tahun tapi anak itu sudah punya pikiran seperti orang dewasa, dia tidak ingin melihat temannya disiksa seperti yang dilakukan oleh kedua orang itu.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Diam-diam dalam hati dia mencatat semua perbuatan kedua orang itu di dalam hatinya, jika dia sudah punya kemampuan dia akan membuat kedua orang itu menyesal atas semua perbuatannya. Dia tidak sadar sebenarnya dia sudah bisa melakukan hal itu, <span>&#160;</span>karena saat dia pertama kali melihat bagaimana kedua orang itu menyiksa Saiful, dia sudah hampir membunuh kedua orang itu kalau saja tidak cepat gurunya datang mencegah kekuatan alam bawah sadarnya bekerja muncul di permukaan. Aswin mempunyai kekuatan tenaga kebatinan yang menjadi warisan keluarganya yang turun temurun, kekuatan ini akan muncul pada yang berjodoh saja<span>&#160;</span> dan secara kebetulan kekuatan ini sekarang dimiliki oleh Aswin, tanpa yang bersangkutan mengetahuinya. Sudah lama kekuatan ini tidak pernah muncul, hampir 200 tahun tidak ada satu juga dari silsilah garis keturunan keluarga Aswin yang mewarisinya, baru Aswinlah kekuatan alam ini muncul kembali, oleh karena itu Aswin harus dididik benar-benar secara matang agar dia tidak menggunakannya secara sembarangan.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Saiful terdiam mendengar pertanyaan Aswin, dan ketika dia menatap mata Aswin dia melihat mata temannya itu menatap dengan penuh harap agar dia mengabulkan permintaannya. Kembali dia merasa seperti ada kekuatan yang mendorong dia untuk memenuhi permintaan Aswin, dia tidak ingin mengecewakan harapan yang dia lihat di mata temannya itu akhirnya dia memutuskan untuk memenuhinya. Dia tahu paman yang murah senyum itu tidak akan menyakitinya seperti kedua orang tuanya itu, sekalipun dia akan kehilangan kedua orang tuanya karena kepergiannya ini, dia tidak merasa menyesal karena dia bisa memenuhi harapan Aswin. Di dunia ini yang paling berharga dalam hatinya adalah teman-temannya terutama Aswin,<span>&#160;</span> selama hidupnya baru sekali ini dia merasa berbahagia memiliki orang yang menyayanginya seperti dia menyayangi mereka. Dia melihat teman-temannya bersedia menjadi murid teman ayah Aswin dan semua berjanji akan kembali untuk mengalahkan Aswin, oleh karena itu dia memutuskan untuk menerima tawaran itu dan tidak pernah mengecewakan temannya apapun yang terjadi.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Dan dia sudah berjanji juga untuk bisa mengalahkan Aswin, dan dia tahu dia harus berlatih di bawah bimbingan orang hebat baru dia bisa menandingi Aswin, karena dia sudah melihat kemampuan Aswin untuk melakukan hal-hal yang mustahil yang bisa dilakukan olehnya dan teman-teman lainnya. Sering dia dan teman-teman yang lain membicarakan ingin bisa seperti Aswin, dia melihat Burhan dan Karim serta Bastian sudah bertekat untuk bisa mengalahkan Aswin jadi kenapa dia tidak melakukan hal yang sama. Karena selama ini dia merasa malu dia lebih tua dari Aswin tapi selalu saja Aswin yang melindunginya bukan sebaliknya, untuk itu dia bertekat harus bisa menlindungi Aswin suatu saat kelak.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Bagaimana uda Ipul, jadi tidak ikut paman Basri, uda bisa pulang 2 tahun sekali seperti uda Burhan bertemu dengan kami di sini, lalu kita bisa latih tanding siapa yang paling hebat,”Tanya Aswin mendesak karena dia takut temannya tidak mau pergi.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Baiklah Aswin, demi kamu, aku akan ikut paman Basri,”kata Saiful pelan tapi tegas menjawab pertanyaan Aswin.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Hore…. Asyik… Nanti aku akan punya lawan tanding, tidak seperti sekarang aku bosan tidak ada teman tanding ilmuku… Terima kasih teman-teman, aku tunggu kalian untuk menandingi aku,” kata Aswin sambil melonjak-lonjak kegirangan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Basri mendengar percakapan kedua anak itu merasa lega sekali akhirnya Saiful mau ikut dirinya, dia berterima kasih kepada Aswin karena telah memungkinkan hal itu. Bumi juga senang anaknya bisa membantu teman-temannya untuk menjalankan amanat dari sesepuh. Sedangkan anak-anak lain tersenyum senang dan bahagia juga merasakan kegembiraan Aswin, mereka bertekat akan belajar sebaik-baiknya agar<span>&#160;</span> bisa mengalahkan teman mereka yang nakal ini. Selama ini mereka selalu kalah jika bertanding apapun dengan Aswin baik itu adu lari, adu kecepatan tangan, adu memanjat,<span>&#160;</span> bahkan Aswin bisa memecahkan batu bata dengan tangannya. Dan mereka ingin bisa melakukan hal itu, dan entah kenapa Aswin selalu bisa membangkitkan perasaan persaingan di dalam diri mereka tapi anehnya mereka tidak iri akan kemampuan Aswin karena teman mereka ini tidak pernah menyombongkan kemampuannya bahkan membantu mereka untuk bisa seperti dia.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Paman Basri, aku titip temanku uda Saiful, tolong paman menjaga dia dengan baik yah, karena aku tidak mau lihat dia bersedih lagi dan aku ingin saat dia kembali nanti dia akan bisa lebih sering tersenyum seperti paman,”kata Aswin dengan jahil tapi Basri juga melihat di balik kejahilannya Aswin menatap penuh harapan padanya agar bisa membantu teman yang dia sayangi itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Aswin, jangan kuatir paman dan bibi pasti akan menjaga uda Saifulmu dengan sebaik-baiknya, tidak akan mengecewakan harapan kamu,” sahut Basri dengan tersenyum.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Terima kasih paman,”kata bocah nakal itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Nak, paman akan membawamu pergi dalam&#160;3 hari ini persiapkanlah semua keperluanmu, nanti paman akan jemput kamu di rumahmu pagi-pagi sekali agar kita bisa naik kereta dengan santai,”kata Basri kepada Saiful.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Saiful menganggukkan kepalanya, dia tidak berani memandang orang tuanya karena takut melihat tatapan marah dari kedua orangtuanya, dia merasa di rumah nanti pasti kedua orangtuanya akan memukul dia karena telah lancang ambil keputusan seperti itu, tapi dia sudah tidak perduli lagi karena dia nekat ingin memehuhi janjinya kepada Aswin, tidak ada yang bisa mencegah dia untuk membuat Aswin bahagia seperti tadi.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Hari menjelang sore ketika mereka meninggalkan rumah wali nagari, sudah ada kesepakatan diantara mereka mengenai pembicaraan tadi. Masnan dan Burhan serta Basri dan Saiful dalam waktu 3 hari ke depan akan berangkat meninggalkan nagari Batang Kapeh menuju rumah masing-masing. Sedangkan Kahar berhubung dia tidak punya tempat yang dituju maka untuk sementara dia akan menetap di rumah wali Bumi sampai saat dia akan pergi ke Gunung Merapi sesuai dengan saran Datuak Inyiak Balang dalam rangka memperdalam ilmunya.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Tidak banyak terjadi dalam&#160;3 hari ke depan, hanya yang ada sebuah perestiwa kecil yang membuat hubungan Kahar dengan Siti membaik. Ini bermula dari kenakalan Aswin, anak nakal ini suka sekali mandi di lubuk (danau kecil)yang ada dalam hutan, air di lubuk ini sangat jernih berasal dari air terjun yang mengalir dari atas bukit. Suatu siang karena panas sekali anak nakal ini ingin sekali mandi di sana tapi dia tidak ingin mandi sendiri, dia tidak bisa mengajak gurunya yang sedang asyik bersemedi, dia juga tidak bisa mengajak bundanya<span>&#160;</span> yang sedang pergi keluar memetik daun obat, apalagi mengajak sang ayah yang sejak pagi tadi sudah pergi dengan teman-temannya entah ke mana. Yang tinggal di rumah hanyalah Kahar yang memang dari tadi pagi sedikit merasa kurang enak badan sehingga memilih untuk tinggal di rumah beristirahat.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Melihat hal ini, Aswin mengajak Kahar untuk pergi ke lubuk tersebut, dengan bujuk rayu yang tidak tertahankan akhirnya Kahar mengabulkan permintaan Aswin. Pergilah mereka ke lubuk tersebut, dan sesampai di sana ketika Kahar melihat air jernih dari lubuk itu langsung terbit keinginan di hatinya untuk berenang bersama Aswin.<span>&#160;</span> Kedua laki-laki satu besar dan satu kecil asyik sekali bermain air dan berenang-renang di lubuk itu, terdengar gelak tawa dan jeritan senang dari kedua orang itu. Mereka tidak sadar ada sepasang mata yang indah sekali menatap mereka dengan tersenyum maklum atas kelakuan kedua orang ini. Sepasang mata milik Siti ini menatap dari gua di balik air terjun, dari tadi sebenarnya Siti sudah menyadari kehadiran mereka, dia memang punya kebiasaan setelah sibuk seharian mencari daun obat, dia suka sekali berenang di lubuk ini dan beristirahat dalam gua di belakang air terjun. Dia sedang mengeringkan tubuh dan rambutnya ketika kedua orang ini datang dan menyeburkan diri mereka.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">TIba-tiba Kahar merasa bulu kuduknya berdiri dan sesaat dia tertegun merasa kehadiran seseorang di sekitar mereka, yang anehnya dia merasakan kehadiran Siti bukan orang lain. Segera dia mengedarkan matanya di sekeliling lubuk untuk melihat apakah benar ada orang di sekitar mereka. Dia tidak melihat ada orang,<span>&#160;</span> dia berdiri mematung memandang ke arah hutan, Aswin yang melihat keadaan Kahar jadi bingung dan bertanya. Kahar mengatakan bahwa dia merasa kehadiran seseorang di dekat mereka. Aswin langsung mengerti apa yang dimaksudkan Kahar, karena dia sudah tahu bahwa bundanya suka beristirahat di gua, pasti yang dimaksudkan oleh pamannya itu adalah bundanya.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Segera dia menarik tangan sang paman untuk berenang mendekati air terjun yang berada cukup jauh dari tempat mereka berenang sekitar 8 tombak. Kahar yang tidak mengerti maksud Aswin menurut saja ditarik, dia berpikir anak itu mengajak dia bermain dengan air terjun walau dia tetap merasakan getaran kehadiran Siti di dekat mereka. Sebenarnya dia penasaran sekali, tapi dia berusaha menepis perasaannya karena dia kuatir dia hanya terlalu banyak berkhayal mengenai Siti sehingga di saat-saat seperti inipun dia merasa kehadiran Siti.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Siti yang sibuk mengeringkan rambutnya tidak menyangka bahwa kedua orang yang tadinya diintai olehnya sedang berenang menuju ke arahnya. Siti dalam kondisi memakai baju dalamnya yang tipis karena baju luarnya masih lembab dikarenakan baju tersebut habis dicuci akibat kena Lumpur saat dia mendaki bukit untuk mengambil daun obat, tidak menyadari mereka sudah ada di balik air terjun dan sedang naik untuk masuk ke dalam gua. Kahar tidak menyangka di belakang air terjun ada sebuah gua, menjadi ingin masuk ke gua untuk melihat ke dalamnya.<span>&#160;</span> Ternyata gua ini cukup terang karena di langit-langit gua ada sebuah lubang yang cukup besar sehingga bisa dimasuki cahaya dari luar membuat gua itu terlihat jelas dalamnya.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Saat itulah Kahar dan Aswin melihat sebentuk badan perempuan yang tinggi langsing dan berkulit sawo matang yang mulus sekali dalam balutan kain tipis berwarna putih, jantung Kahar seakan berhenti berdetak karena secara naluri dia tahu siapa gerangan wanita tersebut. Hal ini dipertegas dengan teriakan Aswin memanggil Siti dan saking kagetnya Siti langsung memutar badannya ke belakang tanpa mengingat bahwa dia tidak menggunakan baju sepantasnya. Terpampanglah di depan mata Kahar sebentuk tubuh wanita yang elok dan indah dipandang mata, dengan kedua bukit dada yang terlihat ranum seperti mangkuk, perut yang datar dan di tengahnya seperti ada jalur yang seksi sekali, serta kedua tungkai yang seperti bulir padi sangat menggiurkan mata laki-laki yang melihatnya.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Tidak berkedip mata Kahar melihat keindahan yang dimiliki sang pujaan hati, tak terasa mulutnya menganga sehingga meneteskan air liurnya. Aswin yang senang sekali melihat bundanya tidak memperhatikan keadaan Kahar, dia sudah berlari menghampiri sang bunda dan menubrukan badannya, Siti yang tidak siap dengan kehadiran mereka tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, akibat tubrukan dari Aswin hampir jatuh terjengkang ke belakang, keburu ditangkap oleh Kahar, yang entah bagaimana bisa bergerak cepat sekali menahan tubuh Siti supaya tidak terjatuh.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Sesaat mereka berdua tidak tahu hendak berkata apa hanya saling memandang saja, Kahar tidak melepaskan tangannya dari tubuh Siti dan Siti tidak berusaha keluar dari pelukan Kahar. Keadaan ini cukup lama, dan Aswin melihat hal ini, anak yang tidak mengerti apa-apa ini terheran melihat kedua orang dewasa ini hanya saling menatap tapi tidak saling bicara. Bolak balik matanya menatap Aswin dan Siti berulang kali, akhirnya karena tidak tahan lagi dia menarik tangan Siti dan bertanya kepada mereka mengapa tidak saling berbicara.<span>&#160;</span> Mereka seperti disadarkan oleh keadaan mendengar suara Aswin, segera Siti berusaha melepaskan diri dari pelukan Kahar tetapi Kahar sepertinya berat melepaskan tangannya dari tubuh molek wanita yang telah menambat hatinya itu, jauh dalam dirinya getaran gairah kejantanannya berdetak keras sekali. Nafsu dan gairah<span>&#160;</span> ingin memiliki sang pujaan semakin menghunjam dirinya dengan kuat sekali, dia sadar hal ini timbul karena perasaan cinta dan rindunya kepada Siti yang terpendam sekian lama.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Akhirnya Siti terbebaskan dari pelukan Kahar, tapi ini menyebabkan dia tambah malu sekali sekarang Kahar bisa melihat tubuhnya setiap detailnya dengan jelas sekali cahaya yang memantul di gua mempertegas pemandangan yang ada di depan mata Kahar. Dalam hati dia berjanji ini adalah yang terakhir kalinya dia memeluk Siti dalam keadaan seperti ini hanya dalam waktu sebentar saja, lain waktu jika dia memeluk wanita molek ini lagi pasti dia akan memuaskan dirinya dalam waktu yang lama sekali…. Dia sudah membayangkan apa saja yang akan dia lakukan dengan wajah yang memerah merona itu, bibir ranum menantang, dan tubuh molek yang membangkitkan gairah kelelakiannya itu. Dia akan memastikan kali ini mimpinya akan terwujud apapun caranya, dia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa cinta dan rindunya kepada Siti, memikirkan Siti sudah tidak di pelukannya saja dia sudah merasa tubuhnya dingin sekali. Cukup sudah semua penderitaannya kehilangan wanita yang dicintainya ini, sekarang wanita itu di depan matanya tidak akan dia lepaskan lagi, apapun halangannya akan dihancurkannya.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Siti melihat emosi yang terpencar di wajah Kahar, dia melihat emosi yang kuat sekali mempertegas wajah jantan itu, matanya seakan memancar api yang membara hanya yang dimengerti secara naluriah oleh seorang wanita, pipinya semakin memerah melihat hal itu. Dia tidak berani berharap banyak lagi seperti dulu karena takut kejadian dulu terulang kembali, dia tidak sanggup kalau harus menanggung kesakitan dan penderitaan kehilangan pemuda yang dicintainya ini. Siti sudah melihat bahwa ibu Bastian juga menaruh perasaan pada Kahar, walaupun dia merelakannya tapi tetap sebagai perempuan perasaan halusnya tersakiti melihat sang pujaan hati lebih memilih perempuan lain daripada dirinya. Karena itu dia tidak mau lagi mengalami hal yang sama kedua kalinya, kini dia lebih berhati-hati lagi dan tidak berani menaruh harapan besar akan hubungan mereka.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Sejak kejadian di lubuk itu, Kahar selalu terbayang-bayang wajah dan kemolekan tubuh Siti di pelupuk matanya, dia tidak bisa tidur nyenyak dan selalu gelisah, dia sudah tidak tahan dengan keadaan ini, harus segera diselesaikan mulailah dia memberanikan diri untuk berbincang-bincang dengan sang pujaan hati dan mencari cara agar secepatnya dia bisa memiliki Siti. Dia sudah berusaha menyampaikan kepada Bumi mengenai perasaan hatinya ini dengan sangat hati-hati sekali agar tidak mengejutkan semua orang, dan dia merasa Bumi mengerti maksud hatinya tapi kenapa dia tidak merasakan Bumi berusaha membantunya mendekatkan dia kepada Siti. Seakan Bumi menunggu tindakan dia terlebih dahulu, karena tidak sabar dengan semua ini mulailah dia mendekatkan diri kepada Siti bahkan sampai Siti pergi mencari obatpun dia mau ikut agar Siti tidak curiga dia menggunakan Aswin untuk menjadi tameng keinginannya itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">3&#160;hari telah berlalu, tiba saat keberangkatan Masnan dan Burhan serta Basri dan Syaiful, ternyata setelah kejadian hari itu sepulang dari rumah wali nagari Syaiful dikejutkan dengan tidak marahnya kedua orangtuanya sehubungan dengan rencana kepergiannya mengikuti Basri, bahkan yang lebih mengherankan lagi mereka sepertinya tidak sabar akan kepergiannya itu. Dia menjadi sedih sekali, dia merasa tidak ada orang yang menyayanginya lagi kecuali Aswin dan temannya yang lain. Dia bertekat untuk belajar dengan rajin dan giat agar nantinya dia bisa membuat orang tuanya bangga sehingga mereka akan menyayanginya. Sungguh pemikiran yang meremukan hati jika ada yang tahu apa yang menjadi pemikiran bocah berusia 6 tahun ini. Seperti apapun perlakuan kedua orang tuanya kepadanya tetap saja dia menginginkan kasih sayang dari mereka. Terlihat bahwa dia haus akan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan sering dia iri melihat anak2 yang lain begitu disayangi kedua orang tuanya, tapi untunglah dia tidak mempunyai sifat jahat akibat perasaan irinya itu.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Terlihat sudah ada 2 kereta di depan rumah wali nagari, yang akan mengantarkan mereka kembali ke tempat asalnya. Masnan dan Burhan sudah siap dari tadi, setelah pamit dengan Bumi dan mamak Burhan, mereka berjalan menuju kereta untuk melanjutkan perjalanan. Sedangkan Basri masih menunggu Syaiful yang belum datang juga, dia gelisah sekali apakah anak itu akan jadi ikut atau tidak. Bumi sudah menyuruh tukang kebunnya untuk menyusul ke rumah Syaiful, tidak lama terlihat tukang kebun itu menggendong Syaiful di belakangnya berlari-lari. Begitu mendekat, Basri langsung naik darah karena dia melihat keadaan wajah dan tubuh Syaiful yang babak belur. Rasanya dia ingin terbang ke rumah anak itu untuk menghajar orang tuanya, buru-buru dia mengambil Syaiful dari gendongan tukang kebun, dengan hati yang pedih sekali dia membawa masuk anak itu untuk diobati sebelum dia membawa anak itu pergi. Ingin sekali dia secepatnya membawa anak ini pergi agar tidak usah lagi menerima siksaan dari orang tuanya.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Bumi yang melihat keadaan Syaiful juga menjadi geram sekali, dia menanyakan kepada tukang kebun apa yang terjadi. Tukang kebun tidak tahu apa yang terjadi hanya pas dia sampai di sana dia melihat orang tua Syaiful sedang memukuli anaknya, dan dia marah sekali melihat hal itu, di lihat di situ ada sebuah tongkat panjang langsung dia ambil tongkat itu dan memukulkannya kepada bapak Syaiful. Orang tua Syaiful langsung menghindar dari kejaran tongkat yang digunakan tukang kebun. Setelah itu tukang kebun menggendong Syaiful yang sedang tidak sadarkan diri itu ke rumah wali nagari, karena kuatir nanti dikejar oleh bapaknya Syaiful makanya dia berlari-lari sambil menggendong anak itu.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Syaiful yang sudah dibawa ke dalam langsung ditangani oleh Siti, Aswin yang baru habis mandi langsung ke ruang pengobatan bundanya untuk melihat ada kejadian ribut apa di sana . Alangkah kagetnya dia melihat temannya babak belur seperti itu, kemarahannya timbul dengan hebatnya, terlihat matanya berubah menjadi berkilat-kilat kehijauan memancarkan cahaya mematikan. Tiba-tiba dia menggerakan tubuhnya, melesat dengan cepat sekali ke luar rumah, Basri dan Bumi tidak memperhatikan hal itu karena mereka sedang cemas dan prihatin akan keadaan Syaiful, tapi Kahar melihatnya dan dia terkejut sekali dengan kecepatan Aswin yang berlari keluar itu, anak berusia 5 tahun seperti Aswin mempunyai kemampuan untuk bergerak secepat itu tidak pernah dia temui sebelumnya.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Karena kuatir Aswin akan menimbulkan masalah, buru-buru Kahar menyusulnya, dia harus mengerahkan tenaga ilmu peringan tubuhnya<span>&#160;</span> 4 bagian untuk dapat menyusul larinya Aswin yang telah mendahuluinya. Dari jauh dia melihat Aswin seperti anak peluru yang berlari cepat sekali ke arah selatan dari rumahnya. Melihat hal ini Kahar semakin mempercepat larinya agar bisa menyusul anak itu, ketika sudah dekat Kahar mengulurkan tangannya untuk menangkap tangan Aswin tapi dia tidak menyangka ternyata Aswin mengelak dengan tangkas sekali.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Semakin cepat anak itu berlari dan semakin cepat pula Kahar mengejarnya sebenarnya ingin sekali dia mengukur kemampuan Aswin yang sebenarnya, sayang sekali saat ini tidak memungkinkan karena tadi dia sudah melihat mata Aswin berkilat-kilat kehijauan dengan sinar mata yang mencorong mematikan, dia takut anak itu berbuat yang tidak baik pada orang tua Syaiful karena saking marahnya. Segera dia mengeluarkan ilmunya untuk menangkap Aswin, untunglah Aswin ini masih kecil dan belum matang ilmu, kalau sudah belum tentu dia dapat menangkap dengan begitu mudahnya.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Buru-buru dia menenangkan anak kecil yang sedang marah ini, dengan susah payah akhirnya dia berhasil meyakinkan anak itu untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan penyesalan nanti. Dia membujuk anak itu untuk pulang melihat keadaan temannya yang akan segera berangkat dengan Basri. Dengan menggandeng tangan Aswin, Kahar mengembangkan ilmu peringan tubuhnya agar cepat bisa sampai di rumah Bumi. Benar yang dikatakan Kahar terlihat Syaiful sudah sadarkan diri dan sedang dipersiapkan untuk bisa menempuh perjalanan panjang ikut dengan Basri.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Dengan berurai air mata Aswin memeluk Syaiful karena dia sedih sekali melihat keadaan temannya itu, Syaiful yang melihat anak bandel ini menangis karenanya menjadi terharu dan akhirnya ikut-ikutan menangis.<span>&#160;</span> Orang dewasa di sekeliling mereka juga berkaca-kaca matanya melihat kejadian ini. Siti membekali Basri dengan segala macam obat yang diperlukan oleh Syaiful, Basri sudah tidak bisa ditahan menunggu kesembuhan Syaiful baru berangkat. Dia beralasan akan bisa membunuh kedua orang tua Syaiful bila dia masih lama lagi di sini, jadi lebih baik sekarang perginya, dia akan memastikan Syaiful akan aman selama di perjalanan.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Akhirnya Bumi meluluskan permintaan Basri untuk segera membawa Syaiful pergi bersamanya. Setelah semua persiapan selesai, mereka semua berjalan mengantarkan kepergian Basri dan Syaiful.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Dengan berlari-lari Aswin mengiringi kereta yang membawa teman tersayangnya Syaiful ke tempat paman Basri, dia sempat membisikan kepada temannya itu bahwa dia akan menunggu kepulangan temannya agar mereka bisa bermain kembali, dan Syaiful berjanji akan menjaga dirinya dan belajar dengan giat supaya bisa mengalahkan Aswin.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Aswin mengantar temannya sampai di pinggiran nagari dengan ditemani oleh Kahar yang takut anak ini melakukan sesuatu yang akan disesalinya nanti. Untunglah setelah habis mengantar temannya pergi, Datuak datang menjemput muridnya itu. Kahar hanya merasakan angin lembut menerpa tangan kanannnya saat dia melihat ke kanan, dia tidak melihat siapapun, dan dia menoleh ke<span>&#160;</span> arah Aswin, anak itupun sudah tidak ada di tempat. Kemudian terdengar suara yang dikenalnya sebagai suara Datuak, mengatakan <span>&#160;</span>membawa Aswin pergi berlatih.</p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Kahar geleng-geleng kepala akan kehebatan Datuak Inyiak Balang tersebut. Dan dia juga bertanya dalam hati akan jadi apa Aswin besar nanti karena dia sudah merasakan pembawa yang hebat sekali pada anak bandel itu. Teringat dia akan tugas yang diembankan padanya, mudah-mudahan dia bisa mendidik Bastian sehebat Aswin, karena dia juga bisa melihat muridnya itu juga mempunyai suatu perbawa lain dibandingkan teman-temannya.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Kini dimulailah tugas mereka untuk mendidik calon-calon pejuang yang akan membela kebenaran di masa depan itu.<span><br /></span><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Sementara itu di suatu tempat, di dekat daerah Sungai Puar terdapat sebuah rumah yang besar sekali, pada halamanya sedang berkumpul<span>&#160;</span> seratus orang yang sedang giat berlatih ilmu silat. Di dalam rumah tersebut, di sebuah balairung besar, terlihat berkumpul 13 orang yang diketuai oleh seorang pria setengah baya yang berparas aneh, sebelah wajahnya mencerminkan ketampanannya di masa muda, dan sebelahnya sangat menyeramkan sekali karena kulitnya sudah hancur dan mengoyak mengerikan wajah tampan itu. Kedua mata pria itu dingin mengerikan sekali sedang menatap semua yang hadir di ruangan itu. Mereka sedang merencanakan sesuatu yang akan mengacaukan keadaan kerajaan yang sedang aman dan tentram ini.</p>
<p></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Siapakah mereka dan apa gerangan yang sedang mereka rencanakan ?<br /></span></span></div>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aboutjuls.blog.com/2008/01/11/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://aboutjuls.blog.com/2007/12/03/</link>
		<comments>http://aboutjuls.blog.com/2007/12/03/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2007 08:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sieklie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[5]]></category>

		<category><![CDATA[bumi]]></category>

		<category><![CDATA[harimau]]></category>

		<category><![CDATA[kegelapan]]></category>

		<category><![CDATA[Minang]]></category>

		<category><![CDATA[muda]]></category>

		<category><![CDATA[nagari]]></category>

		<category><![CDATA[ranah]]></category>

		<category><![CDATA[Siti]]></category>

		<category><![CDATA[wali]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<span style="font-size: 18pt; font-family: 'Franklin Gothic Heavy'"><b><span style="font-size: 20pt; font-family: 'Goudy Stout'">V. PARA MURID<br /></span></b>Part I<br />
<br /></span>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Sementara menunggu anak-anak itu datang, Bumi mengajak Kahar, Basri dan Masnan ke ruang kerjanya. Maksud Bumi sebelum mereka bertemu lebih baik dia memberitahu kepada teman-temannya latar belakang dari calon murid mereka nantinya. Setelah duduk di tempat yang tersedia, Bumi mulai angkat bicara untuk menyampaikan kepada teman-temannya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Saudara-saudaraku, aku pikir sebelum kalian berkenalan dengan calon murid kalian terlebih dulu aku ingin memberi sedikit info yang aku ketahui kepada kalian mengenai mereka supaya nanti lebih bisa cepat saling mendekatkan diri satu dengan yang lainnya, bagaimana menurut kalian ?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Uda Bumi, gagasan uda bagus sekali jadi nanti kami tidak akan sungkan berhubungan dengan keluarga si anak dan juga bisa lebih cepat memahami karakter mereka, ini sangat membantu sekali untuk bisa mengatasi kecanggungan diantara kami.” Kata Basri.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Benar sekali uda, karena Basri dan aku pasti akan membawa pergi kedua murid kami ke tempat kami, seharusnya kami lebih mengenal mereka supaya lebih gampang menyesuaikan diri. Beda dengan Kahar berhubung belum berkeluarga dia bisa saja tinggal di sini untuk mendidik muridnya itu.” Kata Masnan dengan senyum kecil yang terlihat mencurigakan bagi Kahar.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Aku sih tidak keberatan kalau Kahar mau latih muridnya di sini, aku malahan senang artinya aku punya teman latih tanding yang hebat untuk membantu meningkatkan ilmu silatku. Dan juga aku dapat bantuan tambahan orang untuk menemani Siti kalau dia pergi ke nagari-nagari tetangga untuk mengobati orang. Selama ini aku selalu menguatirkan dia kalau pergi jauh-jauh, pernah sekali waktu hampir 3 bulan lamanya dia menghilang tanpa pengawal yang biasa mendampinginya, aku cemas sekali tapi ternyata dia diundang oleh Rangkayo Syamsul dari Koto Gadang untuk mengobati penyakit isterinya yang parah sekali.<span>&#160;</span> Karena diburu waktu Siti sampai lupa memberitahukan kepadaku ke mana dia pergi.” Kata Bumi sambil tersenyum-senyum simpul.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Mendengar ini wajah Kahar menjadi merah sekali karena dia benar-benar malu, saudara-saudaranya sudah bisa menebak isi hatinya kepada Siti. Untuk menutupi perasaannya itu dia berusaha mengalihkan pembicaraan yang sudah menjurus memojokan dia tersebut.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Uda Bumi, bisa tidak uda ceritakan pada kami mengenai latar belakang anak-anak tersebut?” kata dia cepat-cepat, takut mereka tambah semangat menggodanya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Sabarlah Kahar, kenapa kamu terburu-buru begitu, apa yang kamu kejar? Apa sudah tidak sabar mau ke ruang makan bantuin Siti siapkan makan siang?”goda Bumi sambil tersenyum jahil.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Bukan begitu uda, aku cuma ingin supaya aku bisa lebih mengenal muridku dengan baik sehingga bisa memikirkan metode apa yang terbaik yang bisa kuajarkan kepadanya karena waktu kita untuk mengajar mereka singkat sekali hanya 5 tahun. Sedangkan mereka belum punya dasar-dasar ilmu yang memadai untuk menerima pengajaran kita, benar kan ?”kata Kahar dengan tersipu dan berusaha mengalihkan pembicaraan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Sudahlah uda jangan kamu ganggu juga adik kita itu, nanti yang ada malah dia bisa benar-benar jadi manusia api seperti anakmu bilang.”kata Masnan sambil tersenyum.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Hehehehe….. kau benar Masnan, yah sudah aku akan mulai menceritakan mengenai Burhan dulu, karena dia yang tertua dari kelima anak lainnya.” Sahut Bumi.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Burhan, merupakan anak yang tenang dan pendiam, dia sudah tidak mempunyai orang tua lagi sejak nagarinya dilanda gampo(gempa) besar beberapa waktu yang lalu. Sekarang dia tinggal bersama dengan keluarga mamak(paman)nya, anak-anak mamaknya sepantaran dengan dia yang berusia 6 tahun, satu anak perempuan berusia 7 tahun dan satu anak laki-laki berusia 3 tahun. Keluarga mamaknya bukan keluarga berada, mereka juga keluarga miskin, untuk hidupnya mamak dan isterinya harus bekerja di sawah orang lain dan menerima upah untuk menghidupi keluarga mereka. Kehadiran Burhan sebenarnya memberatkan mereka, tapi karena mereka sepasang suami isteri yang baik hati, mereka tetap menerima kehadiran anak itu. Dan untungnya<span>&#160;</span> Burhan seorang anak yang tahu diri, suka membantu mamaknya dengan menemani dan menjaga kedua anak mamaknya, membersihkan rumah bahkan kadang-kadang aku lihat dia sedang memasak nasi untuk makanan mereka semua.<br /></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Aku suka sedih memikirkan nasibnya, dia baru berusia 6 tahun tapi kehidupan yang keras membuat dia seperti bukan kanak-kanak lagi, cara berpikirnya sudah seperti orang dewasa, penuh pengertian dan bijaksana, kadang-kadang aku suka terheran-heran dengar semua perkataannya. Aku suka suruh Aswin memanggil dia main ke sini sore-sore sambil aku ajarkan ilmu pernafasan untuk menguatkan badannya, Aswin juga berteman baik dengan dia, bahkan kadang-kadang aku melihat Aswin lebih mematuhi perkataan Burhan daripada aku.” Kata Bumi dengan menghela nafas.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Uda Bumi, sudah berapa lama kau ajarkan dia ilmu pernafasan?” Tanya Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Kira-kira hampir 2 tahun, aku mengenal anak ini pertama kali ketika dia sakit dan dibawa mamaknya berobat pada Siti, dia harus dirawat dengan sebaik-baiknya karena kondisi dirinya parah sekali, ketika itu dia baru datang diantar orang ke tempat mamaknya tidak lama sepeninggalan orang tuanya. Badannya kurus sekali, kulitnya bercak-bercak merah, nafasnya tinggal satu-satu<span>&#160;</span> seakan-akan setiap saat bisa meninggal, menurut orang yang membawanya dia tertimbun tanah selama 7 hari dan masih hidup waktu ditemukan tapi dalam kondisi yang menggenaskan sekali. Dan menurut Siti, dia digigit oleh semut beracun dan kelabang bertanduk yang sangat berbahaya sekali racunnya. Campuran kedua racun ini menyebabkan dia dalam keadaan kritis, yang mengherankannya lagi seharusnya dia sudah lama mati akibat keracunan kedua binatang itu tapi entah kenapa dia tetap bisa bertahan hidup sampai diantarkan ke sini, sudah menjelang 1 bulan dari gampo tersebut terjadi. “<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Siapa orang itu uda, kenapa dia bisa tahu Burhan harus dibawa ke mamaknya di sini?”Tanya Masnan dengan serius.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Aku tidak tahu jelas siapa orang itu, kamu bisa tanyakan langsung pada mamaknya ketika mereka datang. Yang aku tahu ketika orang itu datang, dia hanya bilang bahwa dia disuruh seseorang untuk mengantarkan anak ini ke Batang Kapeh karena mamaknya tinggal di sana , lalu seseorang itu memberikan uang untuk biaya perjalanan mereka. Hanya itu saja keterangan yang aku ketahui, selebihnya aku tidak tahu karena kesibukanku saat itu jadi tidak membuat aku ingin mengetahui lebih lanjut.” Jawab Bumi.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Tapi dia benar-benar anak yang tangguh, ketika dia diobati oleh Siti, aku tahu sekali dia itu kesakitan karena Siti harus berusaha menetralisir kedua racun yang mengendap di tubuhnya, jadi Siti terpaksa meminumkan kepadanya air murni dari Danau Maninjau yang telah dicampur dengan sari bunga Cempaka Biru. Ketika air campuran tersebut diminumkan padanya, tidak lama dia menggeliat-geliat kesakitan dan seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat segadang-gadang biji jagung, tapi dia menggigit bibirnya tidak mengeluarkan rintihan sedikitpun. Menurut Siti, penderitaan dia itu belum tentu orang dewasa bisa menahannya karena kerjanya pemunah racun itu harus melebur kedua racun itu menjadi satu sebelum dikeluarkan melalui kencing. Dan dia harus meminum ramuan tersebut selama 1 bulan penuh sampai kedua racun itu benar-benar hilang dari tubuhnya.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Aswin sempat menangis melihat Burhan kesakitan seperti itu, cukup lama dia bertahan dalam kondisi seperti itu sampai akhirnya dia pingsan tidak sadarkan diri. Aku sempat bingung juga kenapa Aswin bisa tahu seberapa kesakitannya Burhan ketika itu, ketika kutanyakan kata dia, saat dia pegang tangan Burhan, dia mencengkram tangan Aswin dengan kuat sekali sampai sakit rasanya, tapi Aswin tidak merasakan kesakitan itu karena dia merasa kasihan melihat penderitaan Burhan. Tadinya aku tidak sadar juga kenapa Aswin bisa menahan sakit akibat cengkraman Burhan, kini aku tahu ternyata anakku saat itu sudah diisi oleh datuak sehingga bisa menahan sakit. Sejak saat itu sampai saat <span>&#160;</span>kesembuhannya, Burhan selalu ditemani Aswin, bahkan anakku mau tidur hanya dengan Burhan saja, dan Burhan perlahan-lahan sembuh, proses kesembuhannya memakan waktu hampir 3 bulan.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Setelah dia sembuh, Burhan dan Aswin menjadi sobat sejati, mereka begitu dekat satu dengan yang lainnya, Burhan selalu menutupi semua kenakalan Aswin dan cendrung selalu membela anakku yang bandel itu. Dan aku tertarik dengan ketabahan dan kesetiaannya mulai mengajarkan dia ilmu pernafasan itu tujuannya agar bisa memperkuat kondisi tubuhnya. Tidak lama keluarga mamaknya membawa dia pulang ke rumah mereka, sejak saat itu anakku suka bermain ke sana dan setiap senja Aswin akan membawa Burhan ke sini untuk berlatih ilmu pernafasan dan meditasi denganku selama 2 jam setiap harinya. Dan ternyata dia merupakan seorang murid yang berbakat ditambah lagi dia tekun dan rajin sekali melakukan latihan, aku menjadi bersemangat mengajarinya tidak seperti ajarin Aswin walaupun anakku itu tidak kalah bakatnya tapi setiap mengajari dia, rasanya aku mau marah-marah terus akibat kemalasannya tapi sejak ada Burhan, anakku jadi ikut-ikutan rajin berlatih.” Kata Bumi sambil menggeleng-geleng kepala ingat kelakuan anaknya.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Uda Bumi, dari tadi kau hanya ceritakan keistimewaan anak ini, apa tidak ada kejelekannya sama sekali?” Tanya Masnan penasaran.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Uda Masnan, dari tadi uda terus bertanya tentang anak ini, apa uda suka anak ini ?” Tanya Kahar.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Entahlah Kahar, aku merasa anak ini akan cocok menjadi muridku, ada perasaan seakan-akan dia akan menjadi bagian dari hidupku.”kata Masnan sambil merenung.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Mengenai kejelekannya, aku merasa tidak terlalu mempengaruhi semua keistimewaan dia. Dia itu terlalu pendiam, apa yang ada di hatinya tidak akan pernah kita bisa tahu, semua kesedihan dan kesusahannya tidak pernah terungkap keluar semua tersimpan rapi di dalam hatinya. Pernah aku menanyakan kepadanya bagaimana caranya orang tua dia meninggal, dia hanya menatapku dengan sedih dan di matanya kulihat kepedihan yang begitu dalam, tapi satu katapun tidak keluar dari mulutnya. Hanya dengan menatap dia, aku rasanya tidak sanggup lagi mendesak dia untuk menceritakan kisah hidupnya yang begitu menggenaskan harus kehilangan orang tuanya dalam usia muda. Sejak saat itu aku tidak pernah bertanya lagi mengenai orangtuanya dan kehidupannya saat dia masih di kampungnya, takut dia merasa sedih.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Hmmm… anak yang luar biasa, kuat menahan derita dan tabah menjalani kehidupannya tanpa mengeluh. Benar-benar anak pilihan, aku akan bangga sekali bisa menjadi gurunya walau tidak dalam waktu yang lama, tapi aku yakin dia pasti akan bisa menjadi seorang pendekar yang gagah berani.”kata Masnan dengan hati senang.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Bagaimana dengan kalian, Kahar dan Basri, apa kalian ingin anak ini menjadi murid kalian?”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Uda Masnan, jangan senang hati dulu, kita kan hanya baru mendengar kata uda Bumi, belum kita lihat anak itu secara langsung, siapa tahu begitu melihatnya uda tidak berkenan mengambilnya sebagai murid.”goda Basri.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Tidak mungkin Basri, aku tidak akan tertarik pada anak ini, aku mempercayai penilaian uda Bumi, walaupun nanti pas saat ketemu ternyata anaknya&#160;berwajah&#160;jelek sekalipun, aku tetap akan mengangkat dia menjadi muridku.”tegas Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Yah ampun uda, masak lihat calon muridnya dari segi paras, jelek atau tampan yang penting hatinya, untuk apa dia tampan kalau dia buruk hatinya,&#160;malah nanti&#160;dia akan memalukan kita sebagai gurunya.”kata Kahar.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Bukan begitu maksudku Kahar, itu perumpaanku saja. Bagaimana uda Bumi, apa menurutmu dia bisa menjadi muridku?”Tanya Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Kita lihat saja nanti Masnan, jangan terburu-buru menentukan hanya dari ceritaku mengenai Burhan, kau kan belum mendengar tentang anak-anak yang lain. Dan satu hal yang perlu kau ketahui Burhan bukan anak yang berparas tampan, tapi aku menyukai parasnya karena mempunyai karakter wajah yang jantan, dan aku yakin jika dia besar nanti akan banyak wanita yang mencari perlindungan pada dirinya.”kata Bumi dengan nyengir.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Ah, uda Bumi macam-macam saja, bilang anak orang jelek tapi bisa membuat wanita menyukai dia, gimana ni uda penjelasannya.”kata Masnan dengan tersenyum.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Yah sudah, kau lihat saja nanti anaknya.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Terus uda gimana dengan anak yang lain?” Tanya Basri penasaran. Kalau mau jujur memang dia tertarik juga dengan Burhan tapi dia tidak mau rugi jadi perlu mendengar latar belakang anak yang lain.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Baiklah, anak kedua yang kita bicarakan adalah Karim, anak ini adalah anak sepupuku yang dititipkan padaku beberapa waktu yang lalu ketika orangtua pergi ke tanah seberang, baru beberapa waktu yang lalu orangtuanya pulang dari rantau dan mengambil anak tersebut kembali. Anak ini dititipkan ke aku setiap kali orang tuanya pergi, jadi dia sudah akrab dengan Aswin, bahkan menjadi teman sekomplotan Aswin dalam melakukan kenakalan, mereka berdua merupakan anak yang paling nakal sedunia menurutku. Dan lucunya mereka patuh sekali pada Burhan, setiap aku melarang mereka melakukan sesuatu mereka hanya saling pandang satu dengan yang lain lalu tetap saja melakukan apapun yang aku larang. Tapi ketika Burhan melarang mereka, tidak satupun dari mereka yang akan melanggarnya. Sering aku bertanya-tanya wibawa apa yang dipunyai Burhan sehingga mereka patuh padanya?”kata Bumi dengan gemas sekali.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Sebenarnya Karim anak yang pintar nan licik, dia bisa memasang wajah tidak berdosanya untuk mengelabui orang atas perbuatannya, tapi sejak bergaul dengan Aswin kelicikan dia berkurang tapi tingkat kenakalannya bertambah. Yang aku maksudkan licik adalah dia mampu membuat anak lain yang bertanggung jawab atas semua perbuatan kenakalannya. Dia hampir<span>&#160;</span> selalu lolos dari setiap hukuman atas perbuatannya, hanya pada Aswin saja yang dia tidak mampu memanipulasi, karena ternyata kelicikan anakku di atas Karim.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Hahahaha…. Uda Bumi, seharusnya kau bersyukur bahwa tidak ada orang nantinya yang bisa mengerjai anakmu.”tawa Masnan dengan keras, sedangkan yang lain mendengarnya sambil tersenyum.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Sejak kenal Aswin, memang banyak juga perubahan dalam dirinya, tadinya dia merupakan anak yang bandel luar biasa, suka mengerjai anak lain sampai orang tua anak-anak itu mengeluh dan mengadu padaku mengenai masalah ini. Karena pengaduan inilah akhirnya aku memutuskan untuk menerima anak ini di rumahku setiap kali orang tuanya pergi, tidak lagi membiarkan anak itu ditinggalkan dengan pembantu di rumah. Dan itu sudah berlangsung sejak 1 tahun yang lalu, dan sama seperti Burhan dan Aswin, aku mendidik anak ini dengan ilmu pernafasan dan meditasi agar bisa meredam sedikit kenakalannya. “<br />
<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Wah uda, masak setelah mengatakan yang baik-baik mengenai Burhan, sekarang malah menjelek-jelekan Karim, jangan-jangan karena uda sudah pusing atas kelakuan anak itu makanya jadi tidak melihat keistimewaan anak itu lagi.”kata Kahar menggoda Bumi, karena biarpun Bumi menjelek-jelekkan anak tersebut tapi tetap di nada Bumi, dia bisa merasakan rasa sayang Bumi pada anak ini.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Aku bukan mau menjelek-jelekan anak ini tapi memang kenyataannya begitu kok.”bantah Bumi.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Tapi uda, masih tidak ada sedikitpun kebaikan dalam diri anak tersebut?”Tanya Basri.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Kebaikannya ada yang justru juga kelemahannya, dia bisa membujuk orang untuk melakukan apa yang dikehendakinya tanpa orang itu punya rasa keberatan sedikitpun. Bila sedang senang dia suka bernyanyi-nyanyi kecil dan suaranya merdu sekali, bisa membuat orang terbuai mendengar suaranya. Selain itu dia suka meniru-niru suara dan gaya temannya, dan <span>&#160;</span>yang istimewanya, cara dia meniru persis sekali. Aku suka keliru antara suara dia dengan Aswin, karena dia mampu menirukan suara Aswin dengan baik sekali tanpa cela, bahkan gaya berjalan Aswinpun mampu ditiru olehnya. Kadang-kadang hal ini membuat dia berkelahi dengan Aswin, karena anakku merasa terganggu dengan Karim meniru-niru dirinya, tapi untungnya mereka sehabis berkelahi langsung baikan lagi. Sebenarnya Karim seperti itu karena dia kesal sendirian di rumah dengan pembantu yang selalu menuruti semua perintahnya, akibat bosan dia mulai belajar meniru semua gaya dan suara orang tuanya untuk mengerjai pembantunya. Lama-lama dia mulai mempelajari gaya dan suara orang lain, dan pada akhirnya ini menjadi salah satu keahlian dia untuk berbuat kenakalan.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Tapi uda Bumi biarpun dia mampu meniru suara orang lain, tapi dia kan masih anak-anak pasti suara orang dewasa yang ditirunya tidak sempurna, pasti masih ada aksen anak-anaknya.”kata Kahar.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Itu benar sekali, Kahar, tapi kau tahu dia bisa memanfaatkan kain untuk mengeluarkan suara yang berat seperti orang dewasa, entah bagaimana cara dia melakukannya tapi dia pernah berhasil mengelabui Aswin dan Siti ketika dia meniru suaraku.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Bagiku ini menunjukkan bahwa Karim juga bukan anak biasa, dia mempunyai kecerdikan dan kepintaran yang luar biasa untuk membuat dirinya senang, selain tentunya bakat alami dia untuk meniru orang lain.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Memang betul yang kau katakan itu, Basri tapi ingat hal ini bisa membahayakan orang lain jika dia bermaksud jahat kalau dia besar nantinya. Aku kuatir saja dia bisa mencelakai orang lain dan dirinya akibat bakatnya, makanya aku berusaha untuk menanamkan budi pekerti padanya dengan menyuruh Burhan dan Aswin berteman dengan dia untuk mengajarkan hal-hal baik yang harus dilakukannya.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Untungnya dia punya perasaan sungkan pada Burhan, dan sedikit perasaan agak takut pada Aswin, aku sendiri tidak tahu kenapa dia punya perasaan takut pada Aswin. Karena aku pernah melihat suatu ketika dia berbuat kenakalan yang keterlaluan menurutku, dan baru aku mau menegur perbuatannya tapi sudah didahului oleh Aswin.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Kenakalan seperti apa yang dilakukannya sehingga menyebabkan anakmu marah?” Tanya Masnan.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Dia melempari orang gila dengan batu dan teriak-teriak mengejeknya terus, ketika orang gila itu mengejar dia, langsung suruh pembantunya memukuli orang gila itu. Aswin marah sekali melihat hal itu belum pernah aku melihat anakku marah seperti itu, Aswin hanya panggil nama dia sekali saja begitu Karim menoleh ke arah anakku, langsung aku melihat wajahnya berubah menjadi takut dan buru-buru menyuruh pembantunya berhenti memukuli orang gila itu, segera dia menghampiri Aswin dengan kepala menunduk serta berbisik minta maaf. “<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Aku heran sekali kenapa ketika melihat wajah Aswin, dia menjadi takut, padahal aku perhatikan wajah anakku biasa saja seperti wajah anak-anak marah.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Masak sih, aku yakin pasti ada sesuatu dalam diri Aswin yang tidak terlihat olehmu uda, tapi terlihat oleh Karim.”<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Mungkin juga Kahar, ada yang terlewatkan olehku saat itu karena aku terlanjut heran dengan kelakuan Karim. Tapi untunglah sejak saat itu Karim berubah menjadi anak yang lebih baik, masih tetap nakal tapi tidak mencelakai orang lain. Bersama dengan anakku dia selalu berbuat keributan di mana saja,<span>&#160;</span> hanya bila bersama Burhan saja mereka tidak melakukan perbuatan yang menjengkelkan.”kata Bumi dengan gemas bercampur geli.<br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><br /></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">“Bagaimana dengan anak<span>&#