Tuesday, September 2, 2008

Part III Kesakitan Panah Asmara

Merasa sapaannya tidak diindahkan oleh sang tabib, Lukman mulai merasa kesal mungkin karena dia sudah lelah sekali jadi emosi tidak bisa dikontrol lagi. Tapi belum sempat dia mengeluarkan kata-kata kasar, dia merasakan punggungnya ditimpuk sesuatu, cepat dia menoleh ke arah datangnya timpukan. Terlihat Datuak Marindiang sedang berdiri menyender pada sebuah pohon besar sambil menyeringai memandang kepada Lukman. Pemuda ini tidak berani mengumbar emosinya kepada teman ayahnya ini karena dia tahu dia akan dapat masalah besar jika dia melakukan hal itu, tapi tetap dia memasang muka cemberut karena kesal sekali.

 

“Kalian ini benar-benar tidak sopan sekali, masak di depan sang penolong, kalian tidak turun dari kuda untuk menyapanya?” Di mana etiket tata krama yang telah diajarkan oleh orang tua kalian?” tegur Datuak Marindiang kepada mereka.

 

Segera mereka menyadari kesalahan mereka, pantas saja sang tabib tidak mau menjawab pertanyaan tadi. Karena dalam adat kesopanan, jika orang berbicara di atas kuda dengan orang yang menginjak tanah maka kedudukan orang yang diatas kuda lebih tinggi derajatnya dari orang yang berdiri di tanah. Sedangkan tabib tersebut boleh dibilang mereka harus menghormatinya karena sudah melepaskan budi kepada mereka, jadi tidak sepantasnya mereka melakukan penyapaan dengan cara seperti itu. Buru-buru semua turun dari kuda dengan wajah memerah malu, terutama Lukman yang saking tergesa-gesanya tadi karena takut sang tabib menghilang lagi melakukan kesalahan seperti itu.

 

Setelah mereka semua turun dari kuda, semuanya merangkap kedua tangan di dada dan sambil membungkukkan badan memberi hormat kepada sang tabib yang masih saja asyik membersihkan wajah dan mulutnya dengan air.

 

“Salam hormat dan kenal kami kepada anda, Dewi Tangan Dingin.” Kata Lukman mewakili teman-temannya.

 

Tidak terdengar sahutan apa-apa dari tabib tersebut, seakan-akan dia tidak menyadari kehadiran banyak orang di sekitarnya. Malah anehnya kuda Putih yang tadinya merumput, membalikan badannya menghadap mereka dan memberikan salam dengan menganggukan kepalanya secara anggun sekali ke arah mereka seakan membalas sapaan hormat mereka. Kebalikan dengan sang majikan yang masih asyik membasuh dirinya seakan dia tidak perduli dengan keadaan sekitarnya. Melihat hal ini rombongan Lukman mempunyai perasaan yang campur aduk antara takjub melihat kelakuan sang kuda itu dan kesal melihat tingkah majikannya.

 

“Maafkan kami, tabib, jika kami tidak sopan tadi. Kini kami menyampaikan salam hormat kami kepada tabib dan kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada anda karena telah menolong kami selama ini. Perkenankanlah kami memperkenalkan diri kepada anda agar kelak kami tidak disangka sebagai orang yang tidak tahu budi dan terima kasih kepada orang yang telah menolong kami. Kami berjanji kami pasti akan membayar budi besar yang telah anda lepaskan kepada kami, karena kami mempunyai prinsip  tidak pernah berhutang apapun kepada siapapun tanpa kami bayar, begitu juga jika ada orang yang berhutang pada kami tidak akan pernah tidak akan kami tagih. Harap anda memakluminya.” Kata Malik terdengar tegas karena dia juga mulai merasa tidak nyaman melihat tabib tersebut menyepelekan kehadiran mereka.

 

Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut sang tabib dan dia berbicara kepada kudanya dengan alunan suara yang begitu lembut mendayu,”Bening, aku selalu merasa heran melihat tingkah laku manusia. Selalu merasa ingin dihormati, ingin disanjung dan selalu ingin diingat budinya. Jika melihat ada orang yang tidak mengenal arti ketiga hal tersebut, mereka merasa penasaran selalu ingin tahu untuk mencari pembenaran diri. Manusia itu suka lupa bahwa apapun yang dilakukan di muka bumi ini selalu ada hukum sebab akibat, setiap perbuatan baik pasti ada balasannya dan begitu juga kebalikannya. Kenapa manusia selalu meributkan masalah balas membalas, adalah hal itu bisa menentramkan dan memberi kedamaian dalam jiwa seseorang dengan keterikatan seperti itu ? Jika sekarang aku berbuat baik kepada seseorang bukan berarti aku menuntut orang itu juga harus berbuat kebaikan kepadaku, tapi alangkah indahnya kalau dia melakukan kebaikan yang seperti aku lakukan padanya dibalas dengan memberi kebaikan pula kepada orang lain, sehingga mata rantai dari sebuah kebaikan tidak akan terputus begitu saja ? Tapi pasti timbul pertanyaan, jadi jika aku melakukan kejahatan kepada seseorang, apakah seseorang itu harus melakukan kejahatan juga kepada orang lain ? Nah di sinilah letak kepekaan batiniah dan keindahan seni sebuah hati yang penuh dengan kebajikan. Dari kecil sehingga dewasa kita dididik oleh orang tua dan lingkungan kita untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, jika batin dan hati kita tidak bisa memilah itu semua apakah itu berarti kita gagal menjadi manusia ?”

 

Suasana hening sekali setelah mendengar perkataan yang luar biasa dalam itu, terdengar hanyalah kicauan burung dan matahari yang mulai merangkak naik ke langit. Semua orang terdiam dan berusaha meresapi kata-kata yang begitu dalam artinya yang baru saja mereka dengar dari mulut sang tabib, tidak terkecuali Datuak Marindiang. Sebagai orang yang sudah banyak makan asam asin dunia, dan bertualang ke tempat-tempat asing, baru sekali ini dia terpesona mendengar perkataan itu keluar dari seorang dara yang masih muda usianya. Karena selama ini perkataan semacam ini pada umumnya diperbincangkan oleh orang-orang yang sudah lanjut usianya atau seorang pertapa, tapi ini keluar dari mulut seorang dara belia. Timbul rasa hormat yang tulus dari dalam hati orang tua ini kepada dara cucu dari Tabib Mato Tigo, ternyata benarlah semua pujian yang diberikan oleh sang kakek kepada cucunya. Selain ilmu pengobatannya yang luar biasa, dara ini memiliki juga ilmu silat yang handal ditambah lagi dengan ilmu batiniah yang sudah cukup dalam. Benar-benar dara pilihan yang sudah jarang sekali ditemui di jaman sekarang ini, sekarang dia sudah tidak penasaran lagi akan wajah sang dara yang dia yakin sekali pasti cantik jelita, jadi dia menunggu saja untuk melihat sampai sang dara berkenan untuk memperlihatkan wajahnya.

 

Pandeka Konek yang memang orangnya penasaran dan tidak mau mengalah, setelah mendengar perkataan dara tersebut malah menjadi tambah penasaran. Dia tidak bisa menerima perkataan tabib itu dengan pandangan luas dan hati terbuka, dia merasa seolah-olah dia digurui oleh angkatan lebih muda darinya yang menurutnya belum banyak pengalaman seperti yang dialaminya. Jadi dia ingin sekali memperdebatkan perkataan tabib tersebut, saat dia hendak buka mulut membantah dara itu, seperti Lukman, dia merasakan punggungnya ditimpuk. Dengan mata melotot dia melihat ke arah Datuak Marindiang, dia melihat sang Datuak meletakkan telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan dia untuk diam. Kesal sekali Pandeka Konek melihat
gaya Datuak Marindiang, tapi dia tahu dia kalah dengan orang ini baik dari silat maupun pengalaman walaupun usia mereka tidak berbeda jauh. Dia melihat Datuak Marindiang berjalan ke arah mereka sambil tersenyum lucu dan memandang sang tabib dengan siratan mata yang jenaka seolah ada hal lucu yang sedang dipikirkannya.

 

Melihat hal ini Pandeka Konek cepat mengalihkan matanya ke arah sang tabib, terlihat sang tabib sudah selesai membasuh dirinya dan sedang bersiap-siap untuk berdiri.

 

“Bening, kemarilah! Aku ingin mengelap wajahku agar bisa terlihat bersih dan sopan oleh para tamu kita.”

 

Dan kuda hebat itu seperti mengerti apa yang dikatakan majikannya, berjalan ke arah tuannya dan memposisikan berdiri menyamping sehingga tuannya bisa meraih apapun yang ada di punggungnya tanpa harus merubah posisi berdirinya yang tetap membelakangi rombongan yang ada di belakangnya. Akhirnya berdirilah sang tabib, terlihat sesosok tubuh gadis yang tinggi ramping berambut panjang bergelombang hitam sehat sampai mencapai pantat sang pemilik. Begitu berdiri, tangan sang tabib meraih kantong yang ada tergantung di punggung kudanya dan mengeluarkan selembar kain biru tebal dan menyekakan kain itu ke wajah dan tangannya untuk mengeringkan tetesan air.

 

Sementara itu semua orang yang hadir di tempat itu terdiam menunggu sang tabib selesai melakukan pekerjaannya.

 

“Hmmm… Bening, terasa segar sekali setelah menikmati air sejuk ini dan membersihkan diri, kamu memang kuda pintar yang bisa memilih tempat indah seperti ini.”

 

Tangannya kembali bergerak memasukan kain tersebut ke dalam buntalan dan mengeluarkan sehelai kain  berwarna ungu lembayung yang kecil panjang, dan mengikatkan kain itu ke rambutnya dengan erat.

 

Datuak Marinding melihat gadis itu sepertinya sudah hampir selesai merapikan dirinya, dia berkata,” Nona Siti, maafkanlah kami jika kami mengganggu ketentraman hati nona. Bukan maksud kami seperti itu, tapi kami ini hanyalah manusia biasa yang tidak mudah melepaskan diri dari segala nafsu dan emosi . Jadi sebagai seorang gadis yang bijaksana dan kebanggaan dari kakekmu Tabib Mato Tiga, kami harapkan pengertianmu untuk memaklumi rasa penasaran yang bercokol dalam diri kami terhadap nona. Aku sebagai orang yang pernah ditolong kakekmu dan juga sahabatnya meminta agar kau mau menerima kami sebegai teman bukan sebagai pengganggu yang harus dihindari terus. Mungkin setelah kita semua menjadi temanmu, kami bisa lebih memahami dan menerima segala keunikan yang ada dalam diri nona sehingga kami bisa pulang dengan hati tentram karena mendapat teman yang seistimewa diri nona.”

 

Sungguh pandai Datuak Marindiang merangkai kata sehingga bagi  yang dituju merasa tidak enak hati tapi tidak tersinggung mendengar teguran yang begitu halusnya atas semua sikapnya selama ini kepada mereka. Sedang bagi yang lain, memandang takjub kepada orang ini, tak terpikir oleh mereka untuk berkata seperti itu sebuah teguran halus yang terkemas dengan sangat indahnya sehingga tidak menyinggung perasaan yang mendengarnya. Pandeka Konek yang mendengar perkataan  Datuak Marindiang menjadi termangu-mangu, sungguh dia kalah jauh dari beliau, memang pantaslah selama ini dia kalah dari beliau. Dia benar-benar orang yang hebat dalam segala segi baik ilmu silat maupun ilmu sastra bahkan tutur bahasanya begitu sopan dan mengena sekali.

 

Kahar yang ada di atas pohon melihat dan mendengarkan saja percakapan yang terjadi dengan perasaan kagum kepada dara cantik dan orang setengah baya itu. Permainan kata yang begitu dalam siratan maknanya, dan Kahar menjadi penasaran ingin mendengar jawaban dari dara cantik itu. Perasaannya kepada dara itu semakin mendalam dan sekarang ditambah lagi dengan perasaan hormat setelah mendengar dara itu berbicara tadi. Dan satu hal lagi dicatat dalam hatinya, dara cantik ini bernama Siti, sebuah nama sederhana tapi indah disebutkan.

 

Tidak hanya Kahar yang mencatat nama dara ini, kedua pemuda yang ada di bawah sana juga menanamkan nama itu dalam hati mereka, dan kelak mereka dapat memberitahukan kepada keluarga mereka nama orang yang telah menolong mereka. Tapi mereka tidak tahu bahwa nanti bukan hanya nama gadis itu tertanam dalam hati tapi berikut dengan wajah dan segala tingkah lakunyapun mengendap dalam jiwa mereka.

 

Terdengar suara tertawa yang merdu merayu, seakan mengajak semua orang di situ ikut merasakan kegembiraan gadis itu. Mereka yang mendengarkannya ada yang ikut-ikutan tersenyum, ada yang tambah penasaran, pokoknya semua perasaan tidak jelas tercampur aduk. Ditambah lagi suara burung-burung berkicau semakin riuh mengiringi tawa gadis itu seakan mereka sedang memuji merdunya suara tawa yang terdengar itu.

 

“Hmmmm… paman Marindiang… Benar apa yang dikatakan kakek, aku harus hati-hati mendengar perkataan paman, kalau tidak awas diri bisa tersanjung dan terhempas sekaligus.” Kata gadis itu dengan nada geli.

 

“Ah, nona Siti, kakekmu benar-benar santiang (pintar) mangecekan urang (mengatai orang). Mana mungkin pamanmu ini akan menghempaskan kamu, gadis yang cantik jelita.” Sahut Datuak Marindiang menggoda.

 

Kembali terdengar tawa geli yang pelan dan gadis itu perlahan-lahan membalikan tubuhnya, dia berdiri membelakangi matahari, awalnya mereka semua tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena silau. Melihat hal itu cepat Datuak Marindiang berpindah tempat agak ke kanan  untuk menghindari silau diikuti dengan yang lain, dan dara itupun memutar tubuhkan sedikit ke arah mana rombongan itu bergerak. Mereka semua bergerak ke arah yang mendekati pohon di mana Kahar sedang duduk menonton kejadian di bawah itu. Begitu mereka sudah tidak silau lagi, barulah mereka bisa melihat wajah dara itu. Dan…….. semua terpaku di tempat dengan mulut melongo dan seperti orang yang hilang kesadaran memandang wajah dara itu. Bahkan Datuak Marindiang yang sudah biasa melihat wajah orang yang tampan dan cantik karena kegemaran anehnya itu sekarangpun hanya bisa memandang dara itu dan tidak bisa bicara apapun, semua perkataan yang tadi dia persiapkan untuk diutarakan kepada Siti hilang tidak berbekas dari pikirannya.

 

Semua pria yang ada dalam rombongan itu berdiri bengong dan seperti orang bodoh menatap Siti, begitu juga dengan Kahar yang terpesona melihat seri wajah dara itu yang terlihat segar setelah dibersihkan dari debu. Wajah yang begitu indah terpahat dengan nilai seni keindahan yang hanya dimiliki oleh Sang Pencipta, tanpa mampu seorang manusiapun yang bisa menirukannya dengan sempurna. Siti yang melihat keadaan ini hanya bisa menghela nafas dan tersenyum, dia sudah biasa menghadapi orang yang melihat wajahnya seperti ini bahkan kadang-kadang dia suka risih jika dipelototin seperti ini makanya dia lebih suka menyamar sehingga tidak menimbulkan masalah nantinya. Tapi satu hal yang dia lupakan adalah dia…. TERSENYUM… dan itu langsung menghunjam tepat di hati yang melihatnya, melihat hal itu dewa asmara tertawa nakal dengan kerasnya. Dia langsung melepaskan panah asmaranya secara bersamaan ke jantung kedua pemuda yang penasaran itu, setelah terlebih dahulu melepaskannya untuk Kahar.

 

Dan seperti Kahar, Lukman dan Malik tidak berdaya untuk melepaskan diri dari panah yang sudah menancap di hati mereka. Mereka hanya bisa menatap dan menatap senyum sang dara cantik jelita itu, tidak pernah terpikirkan oleh mereka sedikitpun bahwa sang tabib adalah seorang dara yang akan membuat sukma mereka melayang-layang tidak menentu dan degub jantung mereka berdetak kencang seperti detak tetabuhan.

 

Pandeka Tangan Siluman yang cepat menyadari situasi, mungkin karena beliau memang orang yang lebih dalam batiniahnya dibandingkan yang lain. Cepat dia menepuk bahu Lukman dan Malik, untuk menyadarkan kedua tuannya itu akan keadaan karena mereka berdua terlihat seperti tersihir sehingga tidak sadar air liur mereka sudah menetes di tepi bibir. Lalu diapun menepuk temannya Pandeka Konek dan Datuak Marindiang, segera keduanya tersadar. Sedangkan kedua pemuda itu masih berusaha meraih kembali kesadaran mereka dengan menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat.

 

Tanpa basa basi langsung Datuak Marindiang berkata,”Onde mande kanduang, yo lah sabana rancak padusi ko, indak heran awak kini ko,  Tabib Mato Tigo selalu sambunyian inyo.  Iko baru namonya sabana rancak, indak sia-sia awak iduik selamo iko, yo Tuhan sabana elok, Inyo bari awak kesempatan mencaliak urang sarancak ko. Uninyo lain rancaknyo kini adiaknyo lain pulo rancaknyo.” (Ya ibu kandung, inilah sebenarnya perempuan cantik, tidak heran saya sekarang ini, Tabib Mato Tigo selalu sembunyikan dia. Ini baru namanya benar-benar cantik, tidak sia-sia hidup saya selama ini, ya Tuhan benar-benar baik, Dia beri saya kesempatan melihat orang secantik ini. Kakaknya lain cantiknya kini adiknya lain pula cantiknya)”.

 

Apa yang dikatakan oleh Datuak Marindiang benar adanya kecantikan Siti merupakan kecantikan yang eksotik sekali, kecantikan seorang gadis dengan kulit sawo matang dan bentuk wajah yang unik serta tubuh yang menggambarkan kesensualan sang pemilik memang tiada duanya. Beda dengan sang kakak yang mempunyai kecantikan oriental dikarenakan kulitnya yang putih kekuningan seperti ibu mereka. Wajah Siti mirip dengan ibu mereka tapi rambut dan kulitnya mengambil dari sang ayah, kebalikan dengan sang kakak yang berwajahkan ambil garis keturunan sang ayah tapi rambut dan kulit ambil dari sang ibu. Perpaduan yang sangat indah dan elok sekali. Tidak salah sekarang semua pria yang hadir di situ hanya bisa menatap bengong pada dara cantik ini.

 

Siti hanya diam saja membiarkan rombongan itu memulihkan kondisi kesadaran mereka yang kelihatannya sesaat hilang entah ke mana. Setelah dia lihat mereka sudah pulih kesadarannya baru dia berbicara.

 

“Baiklah, sekarang kalian sudah bertemu dengan aku, apa yang kalian inginkan dari aku ?”

 

Lukman berusaha bicara tapi suaranya seperti tidak mau bekerja dengan baik, bahkan seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya. Malik lebih bisa mengeluarkan suara yang akhirnya dia yang berbicara menjawab pertanyaan dara nan rancak ini.

 

Dengan terbata-bata dan suara yang gugup dia berusaha menjawab,”Maaafffkkannn kaammmiii,… hmmm, maafkan kami, Nona Siti, jika selama ini kami sepertinya tidak tahu terima kasih sehingga menyusahkan nona. Bukan maksud kami seperti itu tapi karena kami menghormati dan ingin berterima kasih langsung kepada nona makanya kami terus mengikuti nona sehingga kami tidak menyadari bahwa itu telah mengganggu nona. Tapi sejujurnya kami tidak menyesal telah melakukan hal ini karena kami merasa tidak sia-sia semua usaha kami untuk menemui nona nan rancak rupawan bak mutiara gemilang.’

 

Semua orang memandang Malik dengan bengong karena belum pernah selama ini mereka mendengar pemuda ini mengeluarkan kata-kata rayuan, memuji iya tapi merayu… ? Mereka jarang mendengar pemuda ini memuji seorang gadis yang bagaimanapun cantiknya, tapi sekarang bahkan merayunya…? Ditambah lagi sinar matanya yang memandang lembut dan syahdu sekali kepada dara cantik yang baru pertama kali ditemuinya itu.

 

Lukman tidak mau kalah, dia merasa kecolongan oleh Malik, langsung dia menyambung perkataan Malik,”Benar sekali nona Siti, kami ingin sekali berjumpa dan menyampaikan maaf kami jika selama ini telah berburuk sangka dan mengeluarkan perkataan serta sikap yang mungkin menyinggung perasaan nona. Kami tahu seorang dara yang begitu rupawan seperti nona tentu bersedia memaafkan kebodohan dan kekasaran kami kepada nona, terutama aku, nona. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas sikapku yang tidak berkenan di hati nona.”

 

Kembali semua memandang ke Lukman dan bengong menatapnya karena seperti juga Malik, orang seperti Lukman itu tidak gampang mengeluarkan kata-kata minta maaf walaupun itu sudah jelas kesalahan dia biasanya dia terdiam dan akan memperbaiki kesalahannya. Jarang sekali dia mengeluarkan kata minta maaf dengan begitu mudahnya dengan mata memohon meminta pengertian kepada orang lain.

 

Melihat keadaan kedua pemuda ini angkatan tua seperti Pandeka Tangan Siluman, Pandeka Konek dan Datuak Marindiang hanya bisa geleng-geleng kepala saja, mereka memaklumi keadaan pemuda ini. Seadainya mereka seusia pemuda itu tidak pelak lagi merekapun akan jatuh bertekuk lutut di depan nona cantik ini. Mereka melihat gelagat yang kurang bagus kelak dengan keadaan kedua pemuda ini, tapi mereka tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya. Hanyalah dara cantik itu yang bisa menyelesaikan pertingkaian yang sudah memunculkan taringnya diantara kedua pemuda ini.

 

Siti yang walaupun di usia semuda ini sudah mempunyai kebijaksanaan yang cukup tinggi tapi untuk urusan asmara masih jauh dari pengetahuan dasar yang seharusnya dimiliki oleh seorang dara seusianya. Karena dia dididik oleh kakeknya sedari kecil dan berkelana di dalam hutan-hutan sehingga untuk pendidikan mengenai asmara dia tidak mengerti sama sekali. Sehingga problem yang dia timbulkan kepada kedua pemuda ini, dia tidak menyadarinya. Dari kecil dia sudah menyadari reaksi orang yang aneh setiap melihat wajah dia ataupun kakaknya, hanya dia tidak mengerti kenapa orang menatapnya seperti itu. Pernah sekali hal ini dia tanyakan kepada orang tuanya, mereka menjawab karena orang-orang itu suka memandang keindahan secara berlebihan sehingga tidak bisa melihat suatu keindahan itu sebagai sebuah kewajaran dan syukur akan nikmat yang diberikan oleh Sang Pengasih.

 

Karena kebanyakan manusia itu lemah dan mudah sekali melibatkan diri dengan kekacauan baik secara sadar maupun tidak sadar. Oleh karena itu mereka berpesan kepada kedua putrinya untuk selalu menutupi wajah asli mereka dengan topeng tipis yang dibuat khusus oleh kakek mereka agar kecantikan mereka tidak terlalu menonjol. Hanya di rumah saja mereka melepaskan topengnya, tapi memang dasarnya cantik walau sudah menggunakan topeng untuk mengurangi kecantikan mereka tetap mereka termasuk kategori orang cantik. Tapi itu tidak membuat orang sampai terperangah seperti melihat wajah asli mereka.

 

Kali ini karena sudah merasa berdebu dan tidak nyaman, maka Siti membuka topengnya dan mencuci wajahnya, dia tidak menyadari masalah yang segera dia timbulkan.

 

“Nah, sekarang kalian sudah bertemu dengan aku dan menyampaikan hormat serta terima kasih kalian langsung kepadaku. Jadi aku rasa sudah selesai bukan kepentingan kalian, aku harap ini juga menyelesaikan rasa penasaran kalian. Dan dalam kesempatan ini aku menegaskan kembali kepada kalian, bahwa aku tidak merasa perlu menerima balas budi kalian karena di dunia ini setiap kebaikan maupun kejahatan pasti ada balasannya. Jika sekarang aku berbuat baik pada kalian, maka suatu saat  pasti akan ada orang yang berbuat baik juga kepadaku sehingga mata rantai dari sebuah kebajikan tidak akan terputus begitu saja. Karena kalian memaksa aku menerima penghormatan dan rasa terima kasih kalian, tapi aku harap setelah ini semua selesai dan kalian tidak usah lagi mengikuti aku karena aku masih banyak tugas yang harus aku selesaikan. Aku harap pengertian kalian untuk tidak mengikuti aku lagi, dengan kalian melakukan hal itu saja sudah menunjukan rasa terima kasih kalian kepadaku,” dara itu berkata dengan tegas karena dia sudah ingin segera melanjutkan perjalanannya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh kakeknya.

 

Mereka semua maklum dengan perkataan dara ini sudah secara langsung mengatakan bahwa dia tidak ingin mereka mengikuti perjalanannya lagi dan dara ini sudah tidak mau diganggu lagi oleh mereka. Seharusnya mereka tahu diri dengan kata-kata tegas dari dara ini, tapi ketika cinta sudah datang tanpa bisa ditahan perasaan takut yang berputar di sekitarnya ikut muncul di permukaan. Takut kehilangan, takut tidak bertemu lagi atau takut diambil orang dan takut karena sebab macam-macam lagi mendera jiwa mereka yang kasmaran seperti Lukman dan Malik. Mereka tidak rela berpisah dari dara yang telah merenggut cinta mereka dengan begitu saja, walau mereka mendengar perkataannya tapi tetap saja mereka tidak bisa menerima kenyataan ini. Mulailah mereka berdua berusaha mencari alasan untuk bisa selalu berdekatan dengan dara ini.

 

Perbantahan dari kedua pemuda ini mulai terlontar menanggapi perkataan Siti, mereka tetap memaksa ingin mengikuti dara itu dan Siti juga bersikukuh untuk tidak mau diikuti. Pandeka Konek yang kasihan melihat kedua tuannya sudah seperti orang yang mau putus asa menjawab semua penolakan Siti akhirnya angkat bicara.

 

“Nona Siti, tidak baik rasanya menolak kebaikan hati orang lain yang ingin membantu nona, apakah nona tidak punya perasaan sehingga terus menerus orang yang ingin memberikan kebaikan kepada nona? Apakah sedemikian rendahkah nona memandang kami sehingga menolak bantuan dari kami?”

 

Belum sempat Siti buka mulut untuk menjawab perkataan Pandeka Konek, tiba-tiba terdengar suara ketawa pria yang terdengar jantan menyahut perkataan beliau.

 

“Ha..ha..ha.. manusia di dunia ini benar-benar suka lucu dan  berlebihan, sudah jelas-jelas orang menolak tapi masih memaksa lagi, malah memojokan orang lagi. Apa itu caranya berterima kasih manusia jaman sekarang kepada penolongnya ?”

 

Mereka semua terkejut mendengar perkataan itu, semua berusaha mencari darimana suara itu datangnya. Dan mereka melihat ada seorang pemuda sedang duduk dengan enaknya di sebuah pohon yang tidak jauh dari mereka sambil mengayun-ayunkan kakinya dan tersenyum mengejek ke arah mereka. Siapa lagi kalau bukan Kahar, dari tadi dia mendengar pembicaraan mereka, dia sudah gatal-gatal ingin membantu Siti, dalam hatinya orang-orang ini tidak tahu diri sekali, sudah jelas ditolak tapi malah memaksa terus memojokan lagi. Benar-benar tidak kenal budi mereka ini.

 

Pandeka Konek yang mengeluarkan perkataan tadi, memerah muka sampai ke telinganya mendengar teguran dari pemuda yang kelihatannya masih muda sepantaran tuannya. Dia belum bisa melihat wajah jelas pemuda itu karena sebagian wajahnya tertutup bayangan daun pohon. Karena malunya dia melampiaskan kekesalannya kepada pemuda itu, satu hal yang tidak dia sadari mungkin saking malu dan kesalnya. Seharusnya dia cepat menyadari kenapa kehadiran pemuda itu tidak mereka sadari dari tadi, itu artinya pemuda itu bukan pemuda sembarangan yang bisa sekali pukul selesai urusan.

“Eh orang muda, kalau bicara jangan sembarangan, kau pikir siapa dirimu, berani-berani mengganggu pembicaraan orang? Apa orang tuamu tidak mengajarkan tata krama kepada kamu, untuk tidak boleh menguping pembicaraan orang lain? Bentak Pandeka Konek dengan kerasnya.

 

“Ya ampun pak tua, justru aku mau tanya apa orang tua pak tua tidak ajarin bagaimana cara yang benar dan baik untuk berterima kasih kepada penolong dirimu? Apa begitu caranya ? Wah berarti kita sama-sama tidak diajarin tata krama oleh orang tua kita,”kata Kahar dengan wajah yang dibuat terperangah seolah-olah takjub dengan tata krama ajaran orang tua Pandeka Konek.

 

Langsung saja Pandeka Konek tambah naik darah mendengarnya, belum dia sempat menyahutinya sudah keduluan Datuak Marindiang.

 

“Anak muda benar apa yang kau katakan, kita manusia harusnya tahu tata krama dan hormat kepada orang yang sudah menolong tidak sepantasnya kita memaksa dia untuk memenuhi permintaan kita. Ini membuat kita menjadi tidak tahu diri sekali, menyusahkan orang yang sudah menolong. Perkataanmu sungguh menarik anak muda, bolehkah kita berkenalan? Aku bernama Datuak Marindiang, datang ke sini hanya ingin melihat keindahan saja.”

 

Sebagai orang yang diajari sopan santun yang sangat kuat, Kahar tahu diri sebagai orang muda harus menghormati orang yang lebih tua. Dengan perkataan Datuak Marindiang itu artinya pihak tua sudah mengalah dan dia sebagai pihak yang muda gilirannya untuk tahu diri dan memperkenalkan siapa dirinya. Cepat dia meloncat turun di dekat Datuak Marindiang berdiri.

 

Kembali Datuak Marindiang terkejut melihat wajah yang sangat tampan dan mempunyai aura khusus yang dimiliki oleh keluarga kerajaan sehingga keelokan wajah pemuda ini terlihat begitu sempurna. Tinggi dan postur tubuh yang merupakan idaman tiap pria, hidungnya mancung dan tengahnya agak sedikit cungik (patah) tanpa mengurangi keindahan bentuk wajahnya malah mempertegas wajah jantannya, bibir tipis dengan belah di tengahnya serta dagu persegi khas milik laki-laki sejati, alis hitam yang tebal memayungi matanya yang bersirat riang dan jenaka sehingga hal ini sangat kontras sekali membuat orang hanya bisa menatap dirinya tanpa tahu harus berbuat apa.

 

Dalam hati Datuak Marindiang merasa senang sekali, ternyata dia menemukan sepasang manusia yang begitu elok dan rupawan wajah dan tubuhnya. Tidak sia-sia dia menghabiskan waktu untuk berkelana dan membantu keluarga temannya itu, dia mendapatkan hasil yang luar biasa sekali ini. Dia harus memastikan kepada sepasang manusia elok ini untuk dilukis olehnya. Yang laki-laki cerminan seorang lelaki jantan sejati dan yang perempuan secantik lembayung mewarnai langit berawan memantulkan sentuhan keindahan yang tiada tara.

 

Lain lagi dengan perasaan yang ditimbulkan Kahar kepada orang-orang lain seperti pada Pandeka Konek, dia terkejut karena dia seperti mengenal wajah pemuda tampan itu. Wajahnya mirip sekali dengan orang yang sangat dihormati dan disanjungnya, dia bersedia mati untuk orang ini. Tapi kenapa wajah pemuda ini mirip dengan orang itu, karena pemuda biasa seperti ini tidak mungkin ada hubungan dengan keluarga kerajaan karena orang itu masih merupakan kerabat dekat dengan raja sekarang. Dia jadi penasaran sekali siapakah gerangan pemuda ini, memang dia mendengar kabar bahwa orang yang dihormatinya itu mempunyai seorang putera yang dibesarkan di luar istana, apakah pemuda ini maksudnya ?

 

Bagi Lukman dan Malik, secara naluri mereka tahu pemuda ini akan menjadi lawan berat mereka dalam memperebutkan cinta sang tabib. Sedangkan persaingan diantara mereka saja sudah merepotkan apalagi ditambah dengan pemuda yang memang harus diakui sangat tampan ini. Tapi menilik dari baju yang dia pakai pemuda ini bukan dari keluarga berada seperti mereka, jadi mereka bisa berkurang perasaan tersainginya. Sayang sekali mereka tidak tahu siapa sebenarnya pemuda tampan ini, jika mereka tahu mungkin mereka akan lebih sadar diri dan tidak akan bersikap takabur seperti sekarang ini.

 

Pandeka Tangan Siluman yang paling awas diantara mereka semua menyadari bahwa pemuda ini bukan pemuda sembarangan, terlihat dari cara dia melompat dan mendarat di depan mereka. Gerakannya begitu ringan seperti kapas yang tertiup angin dan jejak kakinya tidak terlihat di tanah yang diinjaknya. Matanya biarpun terlihat memancarkan sinar riang dan jenaka tetap tidak bisa menyembunyian ketajaman sinarnya yang menandakan pemuda ini memiliki tenaga dalam yang tinggi.

 

Siti yang melihat ada seorang pemuda membantu dia menjawab sindiran Pandeka Konek tadi melihat pemuda itu dengan tenang walau ada perasaan berdebar ketika menerima sambaran lirikan tajam dari pemuda itu. Dia tidak menyadari bahwa dewa asmara sudah berdiri di sampingnya sedang mengukur berapa dalam panah asmaranya akan menembus jantung hati gadis ini. Dengan seringai jahil dan nakal sekali beliau menancapkan panah tersebut perlahan-lahan sampai berapa dalam tiada yang tahu…

 

Pandeka Konek yang penasaran dengan pemuda tampan ini, langsung menanyakan,” Hai anak muda, siapa gerangan dirimu? Berani-beraninya mencampuri urusan orang lain ?”

 

Sambil tersenyum, pemuda itu menjawabnya,”Paman, siapapun aku adanya tapi melihat ketidakadilan di mana dan kapan saja, aku pasti ingin mencampurinya. Karena menurut aku, tidak sepantasnya kita memaksakan kehendak kita kepada orang lain apalagi kepada penolongnya, di mana letak keadilan kalau sudah begitu? Walaupun arti keadilan itu sering disalahgunakan orang tetapi aku atas perkenan Yang Di atas berusaha untuk mencari keadilan dari semua pengetahuan dan pelajaran yang aku terima. Dan hal yang terjadi di sini tadi sungguh-sungguh tidak adil makanya aku perlu turun tangan untuk mencari letak keadilan itu.!”

 

“Jangan berbelit-belit kalau bicara, cepat beritahu kami siapa dirimu ini, sebelum aku memberi pelajaran keadilan kepadamu, anak muda. Atau apa kau takut memberitahu namamu takut aku mengadukan perbuatanmu kepada orang tuamu?,” jawab pandeka Konek dengan nada geram karena merasa dipermainkan.

 

“Hahaha…Pak Gaek (Pak Tua), baru sekali ini aku bertemu orang yang cupat (sempit) cara berpikirnya dari orang yang sudah tua seperti ini. Tapi baiklah supaya engkau senang aku beritahu namaku padamu. Perkenalkan namaku Kahar, murid dari perguruan Api Matahari. Kalian sudah menginjak wilayah perguruanku, sebagai murid, aku harus mempertanyakan maksud kalian ada di wilayah kami,” sambil merangkap tangan di dada menundukan kepala memberi salam hormat.

 

Sengaja Kahar tidak memperkenalkan jati dirinya yang lain karena dia tidak ingin memancing perhatian yang berlebihan kalau mereka tahu dia masih kerabat dekat dengan raja sekarang.

 

Mereka semua yang mendengar pemuda ini murid dari perguruan Api Matahari menjadi maklum kenapa pemuda itu berada di wilayah ini.

 

Cepat Pandeka Tangan Siluman mengambil alih pembicaraan karena dia melihat Pandeka Konek sudah merah mukanya dan siap untuk melontarkan kemarahannya. Dia melihat anak muda ini penuh percaya diri berarti dia berisi dan nalurinya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh pemuda ini karena dia merasa pemuda ini bukan orang sembarangan, mata batinnya melihat pemuda ini memiliki aura khusus yang dimiliki oleh keluarga kerajaan. Mungkin saja memang benar dia murid perguruan Api Matahari tapi mungkin tidak itu saja identitas dirinya, jadi mereka semua harus hati-hati jika tidak mau salah kaprah nantinya.

 

“Tuan Kahar, salam kenal, perkenalkan kami dari keluarga Rangkayo Padang Jati, senang berkenalan dengan tuan. Yang mengenakan baju biru itu Lukman, putra tertua dari Keluarga Rangkayo Padang Jati, di sebelahnya Malik merupakan putra tunggal dari ketua Perguruan Ula Kuniang, di belakang beliau saudara seperguruan dari Perguruan Ula Kuniang, kakek pendek tersebut Pandeka Konek, sedangkan yang di sana kau sudah tahu beliau adalah Datuak Marindiang,” sahut Pandeka Tangan Siluman membalas penghormatan tersebut.

 

Semua orang yang ada di rombongan itu memandang tercengang kepada dia, karena jarang sekali dia memanggil orang dengan panggilan tuan kecuali dia memang menghormati orang tersebut.

 

Apa istimewanya pemuda ini sampai mendapat rasa hormat dari pandeka Tangan Siluman. Datuak Marindiang yang juga mengenal kepribadiannya mulai juga memandang pemuda ini dengan lebih awas. Diapun merasa pemuda ini bukan orang sembarangan dengan sikapnya yang tenang dan percaya diri yang kuat serta senyumnya yang menawan seperti tidak kenal takut. Hanya orang yang punya kelebihan dibandingkan orang lain bisa bersikap seperti pemuda ini.

 

“Kakek, janganlah memanggil aku dengan sebutan tuan, tidak enak kedengarannya, apalagi kita sama-sama orang yang bergerak di dunia persilatan janggal sekali rasanya orang tua terhormat kayak kakek memanggil aku dengan sebutan tuan. Panggil saja namaku, Kahar, tanpa embel-embel apapun aku sudah senang sekali berarti kakek menghargai aku sebagai teman,”kata Kahar dengan nada rendah hati dan senyum senang yang ditujukan kepada Pandeka Tangan Siluman.

 

Naik penghargaan Pandeka Tangan Siluman kepada pemuda istimewa ini, semakin yakin dia pemuda ini bukan orang sembarangan. Hanya orang yang punya kepercayaan diri yang kuat dan sikap yang tahu siapa dirinya yang bisa bersikap seperti pemuda ini. Tahu menempatkan diri, tidak lebih tinggi dan tidak merendah dari orang lain.

 

“Baiklah nak Kahar, kata-kata kamu tadi benar adanya kami terlalu memojokan diri kepada tabib padahal beliau sudah menyatakan tegas pendiriannya. Kami melakukan ini mungkin karena keinginan yang besar sekali untuk bisa menyampaikan terima kasih kepada beliau yang sudah melepaskan budi yang begitu besar kepada kami. Kami salah berkata sehingga terkesan memaksakan diri kepada orang yang tidak berkenan dengan kehadiran kami yang terasa mengganggu,”

 

“Tabib, kami mohon maaf jika kami memojokan dikau, tidak sedikitpun terbesit di benak kami untuk membuat tabib kesal kepada kami. Mungkin sudah saatnya kami meminta diri kepada tabib untuk melanjutkan perjalanan pulang. Tapi sebelum kami pulang kami mengharapkan janji tabib untuk bisa singgah ke rumah kami untuk melihat keadaan nyonya kami agar kami semua merasa yakin dan tenang akan kesehatan nyonya kami. Jika tabib tidak bisa menjanjikan hal ini, kami tidak bisa pulang dengan tangan hampa dan pasti keluarga kami akan memarahi kami. Aku yakin tabib seorang dara yang pengertian dan berbudi pasti tidak ingin kami dimarahi karena hal ini. Maka biarlah hamba yang rendah ini memintakan kesediaan janji tabib untuk singgah ke rumah kami.”

 

Dengan kata-kata yang merendahkan diri dan meminta pengertian dari seorang pandeka Tangan Siluman tidak nanti Siti bisa mengabaikan begitu saja permohonan yang tulus ini. Pandeka Tangan Siluman melakukan hal ini karena dia melihat kalau keadaan ini tidak cepat diatasi maka bisa tambah memperburuk keadaan. Dia tidak mau terlibat permusuhan dengan perguruan Api Matahari yang dia tahu banyak orang kosennya dan membuat sang tabib menjadi sebal serta jengkel kepada mereka. Jika sampai ini terjadi maka sudah bisa dipastikan bahwa mereka semua akan dimarahi oleh Sutan Rangkayo Padang Jati habis-habisan.

 

Pandeka Konek dan Datuak Marindiang terkesima mendengar perkataan Tangan Siluman karena setahu mereka teman mereka ini jarang sekali bicara, kalau sampai bicara biasanya karena dipaksa atau terpaksa. Dan sepertinya hal terakhir yang paling cocok, terpaksa bicara, artinya ada sesuatu yang memaksa beliau bicara menengahi keadaan. Mereka melihat beliau memandang hormat kepada pemuda yang bernama Kahar itu, apa beliau mengetahui siapa gerangan pemuda itu?

 

Siti melihat jika dia tidak memberikan jawaban segera maka urusan ini bisa berlarut-larut sedangkan tugas yang diberikan kakeknya harus segera diselesaikan, apalagi ada murid dari Perguruan Api Matahari yang besar kemungkinan bisa membantunya meminta ijin kepada ketua mereka untuk mencari obat di dekat wilayah perguruan mereka.

 

Lukman dan Malik tidak puas dengan perkataan Pandeka Tangan Siluman sudah ingin membantahnya tapi tatapan tajam dari Datuak Marindiang dan Pandeka Tangan Siluman membuat mereka tutup mulut sementara. Mereka ingin melihat dulu apa jawaban gadis cantik ini.

 

Sedangkan Kahar melihat ini adalah pemecahan yang terbaik untuk masalah sepele yang sedang diributkan walau dia tetap merasa mereka kelewatan memaksakan kehendaknya kepada Siti tapi memang ini jalan yang terbaik agar semua pihak puas adanya.

 

Dengan menghela nafas dalam-dalam menjawablah Siti,”Aku masih tidak mengerti kenapa kalian memaksa aku untuk menerima terima kasih kalian secara berlebihan ini. Tapi karena aku sudaht terdesak waktu dan harus segera menyelesaikan tugasku, yah sudahlah aku tidak bisa memastikan kapan waktu tepatnya aku mengunjungi kalian, aku hanya bisa menjanjikan sekitar 2 bulan dari sekarang aku akan datang ke rumah kalian memenuhi undangan.”

 

Semua orang lega mendengar janji dari dara ini, tapi tetap saja Lukman dan Malik tidak puas karena baru 2 bulan lagi ketemu dengan dara pujaan hati ini. Mereka sudah membuka mulut mau mengatakan isi hati mereka, buru-buru Datuak Marindiang dan Tangan Siluman menepuk bahu mereka. Datuak Marindiang berbisik kepada mereka berdua untuk menerima syarat dari tabib itu, jika tidak keadaan semakin runyam dan bisa-bisa malah si tabib membenci mereka karena terlalu memaksa. Mendengar perkataan beliau, kedua pemuda yang kerasukan asmara ini sadar mereka lebih takut lagi kalau sampai dibenci daripada berpisah sementara. Walau tidak rela tapi mereka terpaksa menerimanya dengan hati galau.

 

Melihat kedua pemuda itu sudah menerima keadaan, maka kembali Pandeka Tangan Siluman membuka pembicaraan,”Terima kasih tabib atas pengertiannya, kami akan menanti dan sangat mengharapkan kedatangan tabib ke rumah kami 2 bulan dari sekarang. Jika tabib tidak bisa datang kami akan datang menjemput tabib untuk dibawa ke rumah kami karena mungkin saja tabib tersesat tidak tahu di mana rumah kami. Bersama ini juga aku serahkan tanda lambang keluarga dan perguruan kami kepada tabib, supaya bisa memudahkan memasuki wilayah kami dan juga dengan tanda ini tabib bisa meminta bantuan kepada semua anggota perguruan kami jika tabib memerlukan pertolongan. Tabib bisa mengembalikannya kepadaku saat tabib datang ke tempat kami.”

 

Di tangan Pandeka Tangan Siluman ada sebuah besi putih berbentuk lingkaran  Sebesar telapak tangan pria dewasa yang ditengahnya ada segitiga yang tercetak lambang keluarga Rangkayo Padang  Jati dan Perguruan Ula Kuniang. Tanda lambang yang dipegang oleh Pandeka Tangan Siluman menunjukan kedudukanya yang cukup tinggi dalam keluarga Rangkayo Padang jati dan Perguruan Ula Kuniang. Masing-masing mempunyai tanda lambang yang biasanya hanya tercetak lambang Perguruan Ula Kuniang atau Rangkayo padang Jati, kalau sampai ada 2 lambang tercetak dalam 1 tanda lambang itu artinya orang tersebut bisa memerintahkan orang-orang kedua perguruan untuk melakukan tugas yang diembannya.

 

Tanda lambang dari besi Putih seperti yang dimiliki oleh Pandeka Tangan Siluman hanya dimiliki oleh 5 orang saja termasuk Pandeka Tangan Siluman bahkan Pandeka Konek tidak memiliki tanda lambang seperti ini, dia hanya memiliki tanda lambang dari Keluarga Rangkayo Padang jati, jadi bisa diduga kedudukan Pandeka Tangan Siluman lebih tinggi dibandingkan dengan Pandeka Konek.

 

Mereka semua kembali kaget dengan tindakan Pandeka Tangan Siluman, diam-diam Datuak Marindiang kagum dengan kecerdikan beliau secara tidak langsung beliau mengikat sang tabib untuk datang ke rumah mereka tetapi disampaikan dengan cara begitu halus sekali. Tidak salah temannya Rangkayo Padang Jati memilih Pandeka Tangan Siluman untuk mewakilinya memegang 2 lambang tersebut, karena benar-benar dia bisa menggunakannya dengan tepat dan bijaksana. Selama ini Datuak Marindiang tidak pernah menduga bahwa Pandeka Tangan Siluman ini begitu cerdik dan lihaynya dalam menyelesaikan masalah yang sebentar lagi bakalan jadi ramai jika tidak cepat ambil tindakan pencegahan.

 

Melihat hal itu Lukman dan Malik buru-buru mengeluarkan tanda lambang mereka masing-masing untuk diserahkan kepada Siti.

 

“Tanda aku saja, nona ambil karena tanda aku lebih menunjukan kedudukanku sehingga lebih memudahkan nona kalau menghendaki bantuan dari kami,” kata Lukman dengan gayanya yang sombong mau menunjukan kedudukannya yang lebih tinggi dibandingkan dengan Pandeka Tangan Siluman.

 

“Aku punya saja, perguruan kami siap membantu nona di mana saja dan kapan saja jika nona memerlukan bantuan,’ Kata Malik tidak mau kalah.

 

Kedua tanda lambang yang dipegang kedua pemuda ini juga hanya mencetak masing-masing lambang keluarga atau perguruan mereka. Tidak seperti yang dimiliki oleh Pandeka Tangan Siluman, walau tanda lambang mereka berwarna perunggu yang menandakan mereka adalah keluarga inti dan mempunyai kekuasaan lebih tinggi tapi jika dikatakan menguntungkan lebih baik memegang tanda lambang seperti yang dimilik Pandeka Tangan Siluman.

 

Yang lain melihat kedua pemuda itu terselip perasaan kuatir keadaan akan bisa memburuk diantara kedua sepupu ini. Siti juga bisa membaca gelagat yang bakalan tidak mengenakan tidak diambil salah jika diambil juga salah. Supaya mereka cepat-cepat pergi dan tidak menganggunya lagi maka dia memilih untuk mengambil tanda milik kakek tua itu.

 

“Kakek, jika aku mengambil tanda lambang itu, apa nanti tidak menimbulkan kesulitan pada kakek?’

 

“Jangan kuatir tabib, aku percaya pada nona untuk menggunakannya secara bijaksana. Dan mengenai tanda lambang ini nona tidak usah kuatir aku akan dimarahin majikanku dengan memberikan tanda lambang ini pada tabib, karena mereka pasti setuju dengan tindakanku ini. Dan penggunaan tanda ini juga rahasia, yang jika digunakan oleh orang yang tidak mengetahui rahasianya tidak ada gunanya.”

 

“Baiklah, kalau memang kakek tidak kuatir aku akan ambil tanda lambang kakek  yang nanti akan aku kembalikan saat aku singgah ke rumah kalian.”

 

“Terima kasih tabib, sekarang aku bisikan rahasia penggunaan lambang ini….” Dengan menggunakan ilmu Susup Suara, Pandeka Tangan Siluman membisikan cara menggunakan tanda lambang tersebut kepada Siti. Tiada seorangpun tahu apa yang sedang dibisikan oleh kakek itu, bahkan lUkman dan Malikpun sebenarnya tidak pernah tahu rahasia di balik tanda lambang itu. Karena hanya ketua dan orang kepercayaannya saja yang tahu bagaimana cara menggunakan tanda lambang tersebut. Dan rahasia ini akan diwariskan kepada ketua baru dan  orang kepercayaan berikutnya setelah yang lama mati atau berhenti dengan persetujuan ketua.

 

“Sudah mengertikah tabib dengan penggunaan tanda lambang tersebut?”

 

“Sudah kakek, baiklah aku akan menggunakannya sesuai dengan petunjuk kakek. Aku berjanji untuk tidak menyalahgunakannya.”

 

“Baguslah, aku percaya pada tabib, sekarang kami mohon diri dulu, mudah-mudahan kita bertemu kembali dengan keadaan yang lebih baik. Kami menantikan kedatangan anda segera.”

 

Segera Pandeka Tangan Siluman memberi kode kepada yang lain untuk segera berlalu dari situ, kedua pemuda merasa berat sekali dengan perpisahan ini tapi mereka sadar jika sampai dara tersebut benci pada mereka maka kemungkinan mereka bisa mengambil hati sang dara akan sangat susah sekali. Lebih baik memang sang dara ke rumah mereka jadi mereka lebih punya pendukung yang bisa membantu mereka jika diperlukan.

 

Malik ingin memastikan ke mana sang dara akan datang ke rumah dia atau ke rumah Lukman, biarpun rumah mereka tidak terlalu jauh letaknya tapi tetap membutuhkan waktu untuk sampai ditambah lagi dia merasa lebih nyaman kalau sang dara datang ke rumahnya sehingga dia bisa menunjukan kesan baiknya.

 

“Nona Siti, jika nona jadi datang, ke rumah siapakah nona hendak berkunjung sehingga kami bisa mempersiapkan diri menyambut kedatangan nona, ke rumah saya atau Lukman?”

 

“Hmmm … aku belum memikirkannya, nanti saja aku kabarkan di mana kita bertemu, aku tahu kalian tinggal berdekatan jadi mungkin saja aku memilih daerah di tengah antara rumah kalian. Atau bisa juga aku memilih tempat lain dan mengundang kalian untuk datang ke tempat itu. Tergantung situasi nanti saja seperti apa yang jelas aku sudah berjanji akan bertemu dengan kalian lagi 2 bulan mendatang,” kata Siti tegas tidak ingin diganggu gugat lagi.

 

“Hayolah tuan muda Malik, kita jalan sekarang, mumpung masih pagi jika kita bergerak cepat kita bisa singgah ke penginapan yang kita lihat di jalan tadi untuk beristirahat dan kemudian meneruskan perjalanan kita. “

 

“Nak Kahar dan tabib, senang sekali berjumpa dengan kalian. Nak Kahar, jika punya waktu datanglah bermain di tempat kami, dengan senang hati kami menyambut kedatangan anda. Jika merasa sungkan datang sendiri datanglah bersama tabib sehingga memudahkan kami juga dalam penyambutan,”kata Pandeka Tangan Siluman dengan senyum dan mata yang berbinar menggoda.

 

Segera kedua manusia yang rupa elok ini menjura ke arah rombongan untuk menghormati dan mengucapkan salam perpisahan.

 

Lukman dan Malik langsung memandang tidak senang dengan cara dan kata Pandeka Tangan Siluman kepada saingan mereka itu. Tapi mereka tidak bisa bicara langsung saat ini karena kalau kejadian ini sampai ketahuan ayah mereka, mereka bisa dalam masalah besar. Jadi harus bersabar sampai mereka sudah sendiri dan akan menanyakan maksud dari perkataan kakek itu.

 

Akhirnya semua naik ke kuda masing-masing untuk melanjutkan perjalanan setelah terlebih dahulu Pandeka Tangan Siluman dan Datuak Marindiang mendorong-dorong Lukman dan Malik untuk segera berangkat. Lukman dan Malik merasa hatinya tertinggal bersama sang dara cantik itu, dan tidak ingin beranjak dari situ tapi apa daya mereka harus segera pergi jika tidak ingin dibenci. Setelah semua naik ke kuda, langsung mengarahkan kuda ke arah mereka datang untuk kembali pulang ke rumah, sebelum pergi kembali kedua pemuda itu memandang sayu ke arah dara yang sedang memandang kepergian mereka dengan wajah lembut dan senyum mengucapkan selamat jalan.

 

Dengan mata mendelik mereka memandang pemuda tampan saingan mereka yang sedang melihat kepergiaan mereka dengan tersenyum-senyum senang dan mata berbinar nakal dan senang yang tidak disembunyikannya. Lega hati Kahar melihat akhirnya rombongan itu pergi juga, karena dia sudah merasa tidak sabar lagi untuk segera mendekati dara pencuri hatinya itu.

 

Dan sebelum mereka pergi masih sempat ada sebuah adegan yang mengejutkan semua orang, di mana semua kuda yang akan berangkat itu  memandang dan mengganggukan kepalanya ke  arah kuda putih tersebut seakan meminta pamit untuk pergi. Kuda putih itu menyambutnya dengan menganggukan kepalanya sedikit tanda kedudukannya lebih tinggi dari kuda yang lain seolah mengijinkan mereka pergi. Anehnya lagi sekarang baru mereka memperhatikan kuda tersebut mempunyai warna mata yang tidak biasa, warnanya biru pekat bukan hitam yang seperti mereka perkirakan semula, karena ketika dia dengan sombongnya memandang kepergian mereka terlihat pancaran kilau kebiruan dari mata kuda tersebut.

 

Rombongan tersebut pergi dengan membawa perasaan masing-masing yang bercampur aduk antara heran, kagum, terkejut, galau, sedih, kesal, dan lain-lain. Hanya 2 orang dalam rombongan ini yang pergi dengan perasaan kaget dan kagum, mereka saling lirik dan seakan saling bisa membaca pikiran temannya.

 

Siapakah mereka itu ? Apa yang membuat mereka seakan menyimpan rahasia seakan hanya mereka yang tahu ? Dan bagaimana dengan keadaan Kahar dan Siti setelah ditinggal rombongan?

Posted by sieklie in 10:01:02
Comments

2 Responses

  1. Anonymous says:

    Terima kasih kepada teman-teman yang sudah membaca karyaku ini. Mudah-mudahan kalian menyukainya seperti aku yang juga menyukainya ketika menulis cerita ini. Mohon maaf aku agak lama menyambung cerita ini karena ada beberapa kesibukanku yang menyita waktuku. Selamat menikmati…:)

  2. yonky says:

    ceritanya bagus, cuman kok flashback nya agak kepanjangan ya :D
    Kalo bisa jgn terlalu lama updatenya. hehehe

Leave a Reply