Friday, May 16, 2008

VIII  SAKITNYA PANAH ASMARA


Part 1


Setelah kepergian Masnan dan Basri, Bumi mengajak Kahar untuk menemani dirinya pergi ke nagari tetangga. Sebenarnya maksud Bumi mengajak Kahar karena dia ingin memastikan dugaannya bahwa Kahar memang menaruh hati pada iparnya. Dia tidak ingin salah dalam menilai sehingga nantinya bisa meregangkan hubungan diantara mereka karena masalah ini. Memang beberapa kali Kahar secara tersamar menyinggung hubungannya dengan Siti tapi dia masih ragu untuk menanggapi karena dia masih menunggu reaksi Siti. Setelah beberapa hari ini dia melihat reaksi Siti, dia menjadi lebih yakin ternyata maksud hati Kahar disambut oleh Siti walau tidak kentara tapi dia yang sudah bertahun-tahun mengenal iparnya ini mengerti juga akan perasaan wanita cantik itu.

Kahar yang memang tidak mempunyai kerjaan lain, merasa senang sekali diajak Bumi, karena terus terang saja dia bingung mau melakukan apa di rumah Bumi. Dia masih belum dapat caranya untuk mengajak ngobrol sang pujaan, karena dia masih menyimpan sedikit kekuatiran apakah Siti masih menyukai dia seperti dulu atau sudah tidak lagi sejak dia menyakiti hati wanita itu. Merupakan penyesalan yang tidak berkesudahan dalam hidupnya saat dia secara sengaja menyakiti hati Siti akibat cemburu yang membabi buta yang tidak pula terbukti kebenaran dugaan buruknya itu.

Sebelum pergi Bumi memberi instruksi kepada pegawainya untuk melakukan beberapa hal yang berkaitan dengan keadaan nagari. Setelah semua selesai dan berpamitan dengan Siti, mereka berdua berjalan kea rah Selatan dari nagari, pada saat masih di dalam nagari mereka berjalan seperti biasa, tapi begitu sudah menjauhi pinggiran nagari mereka menggunakan ilmu peringan tubuh untuk mempercepat langkah mereka karena hari sudah siang. Bumi sengaja tidak ajak Kahar makan siang di rumah, karena dia ingin mengajak Kahar makan di rumah makan yang ada di nagari tetangga sambil ngobrol masalah Siti dan dia tidak mau Siti mengetahui pembicaraan mereka.
Tidak lama sampailah mereka di nagari tetangga, memang ilmu kedua orang ini sangatlah mumpuni, perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 1 hari dengan berjalan kaki biasa, dapat mereka lakukan dalam waktu 2 jam saja tanpa terlihat nafas mereka memburu. Begitu sampai di pinggiran nagari, mereka mengurangi kecepatan dan mulai berjalan biasa sambil bercakap-cakap. Bumi mengajak Kahar berjalan menuju ke rumah makan yang cukup terkenal di nagari.

Rumah makan yang terkenal itu bernama Gadang Salero, dan merupakan pemilik dari wali nagari ini yang juga merupakan teman dari Bumi. Sehingga waktu Bumi memasuki rumah makan ini pelayan dan pengawas rumah makan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka. Semua orang yang ada di rumah makan itu mengenal siapa Bumi adanya, selain merupakan teman baik majikan, mereka juga tahu bahwa orang ini merupakan tokoh hebat dari dunia persilatan. Karena sudah beberapa kali mereka melihat kehebatan tokoh ini ketika menolong nagari mereka dari gangguan perampok, sehingga setiap kedatangan beliau ke nagari ini selalu disambut dengan sukacita.

Bumi yang melihat pengawas rumah makan yang bernama Daus menghampirinya segera tersenyum dan menyapa, “Hmmm Daus, apa kabar ?, apa ada meja kosong buat kami ?”

“ Ada tuan Bumi, meja yang anda suka gunakan kebetulan sekali kosong, silahkan anda ikuti saya,” sahut pengawas itu.

Diiringi dengan pelayan, mereka segera menuju ke meja makan yang ada agak di belakang dari rumah makan tersebut. Tempatnya agak terpojok sehingga jika orang datang ke rumah makan itu tidak akan bisa melihat mereka segera, tapi bagi yang duduk di meja tersebut bisa leluasa memandang orang-orang yang datang ke rumah makan itu. Bumi sangat menyukai lokasi penempatan meja tersebut karena tidak terganggu dengan kesibukan di rumah makan yang selalu ramai ini.

“Tuan hendak pesan makan apa, atau mau yang seperti biasa ?”

“Daus, apa hari ini ada masak gulai otak dan kepala ikan?”

“Kebetulan sekali tuan, kedua gulai kesukaan tuan hari ini ada, tukang masak kami sedang suka membuatnya.”

“Baiklah Daus, aku pesan gulai otak dan kepala ikan dan sayur pucuk paranci (daun singkong) serta lado (sambal) yang banyak. Kahar, kamu mau pesan apa ? Di sini makanannya enak-enak, tukang masaknya Ajo Iman itu kalau memasak makanan apa saja wah lamak bana (enak benar).”

“Benarkah? Aku jadi penasaran, apa di sini ada jual pakasan (sejenis masakan campuran durian matang dengan udang dan pete, masakan ini cukup terkenal)? Ini makanan kesukaanku yang tidak semua orang bisa memasaknya dengan enak,” kata Kahar dengan tersenyum.

“Wah tuan benar-benar mengenal masakan enak, hari ini hari keberuntungan tuan, menu special kami hari ini memang pakasan, saya jamin pasti tuan akan kecanduan dengan masakan pakasan Ajo Iman, karena beliau terkenal sekali dengan masakan ini dan biasanya beliau jarang sekali memasaknya, repot kerjanya.”

“Oya, baguslah aku pesan 1 porsi ditambah dengan gulai paku (sejenis tanaman pakis), aku lihat di sebelah sana orang makan gulai paku dengan enaknya. Dan juga jangan lupa bawakan 1 ekor ayam goreng.”

“Ujang, bawa pesanan ini ke Ajo Iman, bilang wali Bumi yang pesan pasti dia senang sekali.”

Buru-buru pelayan berjalan ke belakang untuk menemui tukang masak, benar saja dugaan si pengawas begitu tahu ini merupakan pesanan dari orang yang pernah menolongnya, Ajo Iman dengan senang dan cekatan menyiapkan semua pesanan wali Bumi.

Sedangkan si pengawas masih mendampingi Bumi dan Kahar,”Tuan-tuan mau minum apa ? Bagaimana kalau saya sarankan minum tea Embun Pagi yang merupakan racikan khusus yang di bawa dari daerah Agam. Teanya sangat wangi dan segar sekali diminum dingin di saat siang garang begini.”

“Bagaimana Kahar, apa kamu ingin mencobanya?”

“Boleh uda Bumi, sepertinya sangat menggoda sekali kedengarannya, memang aku sudah berasa panas untung saja kita duduk di tempat yang semilir anginnya terasa kalau tidak sudah kegerahan aku dari tadi.”

“Sebentar lagi makanan dan minumannya akan kami antar, harap sabar menunggu pasti tidak akan lama saya jamin. Kalau tidak ada lagi yang hendak dipesan saya permisi mengurus tamu yang lain.”

“Silakan Daus, oya kamu tidak usah beritahu kepada majikanmu bahwa aku ada di sini, tidak enak rasanya setiap kali ke sini makan gratis apalagi aku bawa teman. Terima kasih Daus.”

“Baiklah tuan Bumi, saya tidak akan memberitahukan majikan, saya permisi.”

Segera Daus meninggalkan kedua tamu itu, dia berjalan menuju meja kasir dan berdiri di sampingnya sambil terus menyapa tamu yang datang dan menemani mereka jika kebetulan mereka merupakan pelanggan tetap rumah makan ini.

Sepeninggal si pengawas, Bumi mulai berpikir bagaimana caranya untuk mencari tahu perasaan Kahar kepada Siti, dan dia juga merasa bahwa diantara kedua insan ini pasti pernah terjadi sesuatu. Karena belum pernah Bumi melihat Kahar sangat gugup dan cemas dalam menghadapi wanita, biasanya dia tenang-tenang saja malah kebanyakan wanita-wanita cantik itu dekat-dekat dan berusaha mencari perhatian dia. Tapi dengan Siti kebalikannya, Kahar yang berusaha menarik perhatian wanita cantik itu dan sepertinya takut-takut membuat Siti tersinggung. Menurut Bumi, hal ini sangat menggelikan sekali dia sudah pernah membahas masalah ini dengan Basri dan Masnan, kedua temannya juga menganggap lucu sekali. Dan ada satu informasi yang didapat Bumi dari salah satu anak buahnya, bahwa dulu sekali pernah ada hubungan antara Kahar dengan Siti tapi entah kenapa hubungan pertemanan itu berakhir.

Bumi ingin sekali mengetahui hal ini, apa penyebab kekakuan dalam hubungan Kahar dan Siti, seolah-olah Kahar takut menyakiti Siti dan Siti sepertinya agak menjaga jarak dengan Kahar. Sering Bumi melihat Kahar sembunyi-sembunyi menatap Siti dengan pilu dan mata yang penuh kerinduan bahkan sekali-kali Bumi melihat ada guratan penyesalan di wajah pemuda itu. Ini membuat Bumi penasaran sekali ingin mengetahui apa yang telah terjadi antara ipar dan adik angkatnya, karena di wajah iparnya dia tidak bisa melihat apapun wajah itu selalu tenang sepertinya tidak ada gejolak apapun yang bisa mengoyak ketenangan yang dalam itu.

Hanya anaknya yang bandel itu saja yang mampu membuat wajah Siti mempunyai emosi, setiap kali menatap Aswin mata dan wajahnya melembut, atau kalau anak bandel itu terluka dia melihat sinar kecemasan dan kekuatiran tergurat di wajah cantik itu. Selebihnya dia tidak pernah melihat emosi apapun terpancar di wajah Siti kecuali ketenangan dan kedamaian. Dulu sekali ketika dia baru menikahi isterinya, dia sering melihat sinar kebahagiaan bermain-main di wajah Siti tapi sejak kepulangannya dari merantau dan kematian isterinya, wajah Siti berubah menjadi tenang yang dingin seolah-olah semua emosi yang ada dalam dirinya raib bersama kepergian sang kakak tercinta.

Tapi setelah dipikir-pikir dia ingat cerita Kahar, bahwa pemuda itu sudah lama mengenal Siti dan waktunya itu bersamaan dengan waktu Siti pergi merantau. Jangan-jangan mereka berdua ada apa-apanya waktu sama-sama merantau dulu. Semakin Bumi memikirkannya semakin dia penasaran daripada dia mati karenanya biar dia menanyakan saja pada yang bersangkutan, karena menanyakan pada Siti tidak leluasa seperti dia bertanya pada Kahar.

Sedangkan Kahar ternyata memikirkan hal yang sama juga, dia lagi mencari cara bagaimana baiknya menyampaikan maksud hatinya kepada Bumi. Dia sudah tidak sabar lagi untuk segera mempersunting wanita pujaan hatinya itu, karena dia takut jika menunda-nunda lagi dia bisa kehilangan lagi. Sudah cukup semua kebodohan dan kesakitan hatinya dengan kehilangan Siti, dia sudah tidak sanggup lagi kalau harus kehilangan kedua kalinya. Setiap kali memandang wajah Siti, dia disiksa oleh perasaan bersalah dan pedih serta yang paling parah adalah kerinduannya pada wanita cantik itu. Dia tahu Siti seorang wanita yang lembut dan peka perasaannya, pasti sudah memaafkan dia atas semua perbuatannya di masa lalu. Tapi apa masih cintakah wanita ini padanya itu merupakan sebuah pertanyaan, kadang dia melihat Siti menatap dia dengan lembut tapi kebanyakan sinar mata dan wajahnya tidak tersirat apapun saat memandang padanya.

Semuanya terasa dingin mencekam hatinya, tidak seperti tatapan mata dan wajah Siti ketika memandang Aswin yang begitu hangat dan penuh kasih sayang. Dulu sekali tatapan seperti itu pernah diterimanya dari Siti, dia merasa hatinya penuh kehangatan dan cinta setiap kali Siti memandangnya seperti itu. Dan dari dulu dia juga tahu Siti bukanlah tipe wanita yang gampang menunjukan perasaannya kepada orang lain. Hanya orang yang peka perasaannya tahu bagaimana kuatnya perasaan wanita itu terhadap orang-orang yang dicintainya. Sayang dia melupakan hal itu, sehingga mengakibatkan hancurnya hubungan mereka dan berakhir dia selalu merana dan kesepian dalam jiwanya akibat kehilangan Siti.

Kini Tuhan mengabulkan doanya untuk memberi kesempatan kedua untuk meraih lagi kebahagiaan bersama orang yang dicintainya, tidak akan lagi dia mengulangi kebodohan yang sama ditambah lagi sekarang tidak ada penghalang bagi hubungan mereka. Dia tidak sadar bahwa ibu muridnya menaruh pengharapan padanya yang nantinya bisa mengganggu hubungannya dengan Siti.

Belum sempat Bumi membuka mulut untuk bertanya, Kahar sudah mendahuluinya bicara,”Uda, sudah berapa lama kita menjadi saudara angkat ?”

Bumi yang ditanya jadi bingung kenapa tiba-tiba saudara angkat termudanya bisa bertanya seperti itu. Dia belum melihat arah dari pembicaraan Kahar, tapi dia menjawab juga,”Kurang lebih hampir 15 tahun, kenapa ?”

“Apa selama kita berteman, uda melihat aku seperti seorang pemuda genit yang gampang tergoda oleh wanita cantik?”

“Hmmmm… memang aku juga suka heran kenapa kamu tidak tergoda oleh wanita-wanita cantik yang mengelilingi dan mengagumi dirimu, bahkan sempat terpikir oleh kami jangan-jangan kau tertarik pada pria,” kata Bumi sambil tersenyum menggoda.

Mendengar perkataan Bumi, buru-buru Kahar memalingkan wajah untuk memandang wajah Bumi yang sedang menyeringai jenaka, dia langsung tahu sang uda sedang menggodanya. Kahar tersenyum pahit melihat itu, karena dia tidak sanggup tersenyum saat ini ada beban yang berat sekali ingin diungkapkan kepada sang uda. Dia tidak tahu bila udanya mendengar apa yang ingin dia ceritakan apa masih mau membantunya mendapatkan Siti atau tidak.

Belum sempat dia melanjutkan pembicaraan, masakan yang masih panas mengepul diantarkan pelayan untuk dihidangkan ke meja mereka, segera tercium bau masakan yang lamak sekali yang mengundang perut menyanyikan nada sumbangnya. Selain pesanan mereka ternyata pelayan juga menyajikan dendeng batokok (empal empuk), jengkol muda yang dijadikan lalapan, pete balado (bercabe) yang digoreng dengan kulitnya, gulai ikan pangek (ikan asam pedas). Benar-benar masakan yang mengundang selera ditambah dengan nasi putih pulen yang berasal dari beras Solok yang diletakkan dalam bakul. Hmmm lamak bana, mintuo lalu indak caliak lai (enak sekali, mertua lewat tidak lihat lagi), kemudian tea yang dijanjikanpun dihidangkan dan benar seperti yang dikatakan bau wangi yang enak tercium dari teko.


“Kahar, nanti saja kita bicaranya, aku sudah lapar sekali, kan lebih enak kalau bicara dalam keadaan sudah kenyang. Mau bicara sampai berapa jam juga akan aku layani, gimana?”

“Aku rasa juga enakan begitu, uda, karena sepertinya makanannya mengundang selera sekali.”

Setelah mencuci tangan bersih-bersih, mereka makan dengan lahapnya menggunakan sendok yang diberikan langsung oleh Tuhan yaitu tangan, yo bana sero (ya benar2 enak). Bumi sangat menikmati makanannya, sedangkan Kahar tidak terlalu menikmatinya karena pikirannya sibuk memikirkan apa dia akan bercerita jujur atau ada bagian2 yang dihilangkan supaya Bumi tidak menyalahkannya dan mau membantu hubungannya dengan Siti.
Selesai makan sambil menikmati tea dingin yang disajikan, Kahar merasa sudah saatnya dia menyambung pembicaraannya yang terputus tadi. Kebetulan suasana di rumah makan tersebut sudah mulai sepi jadi enak untuk bicara tanpa takut terganggu dengan suara orang lain.


“Nah, Kahar, perut sudah kenyang, hati sudah lapang, silahkan kau lanjutkan pembicaraan yang terputus tadi.”

Dengan menghela nafas Kahar memulai pembicaraannya,”Aku tahu uda semua suka bingung dengan sikapku yang tidak tertarik pada wanita cantik manapun. Bukan maksud aku seperti itu uda, mungkin pada awal perkenalan kita dulu, aku belum mengerti artinya cinta dan rindu, oleh karena itu aku tidak terlalu menanggapi para wanita cantik yang mendekati aku. Tapi setelah aku mengenal Siti, aku baru tahu enaknya diperhatikan dan disayang oleh wanita cantik. Mungkin karena keenakanlah yang membuat aku lupa diri dan sengsara begini…”

“O, jadi kau sudah lama mengenal Siti ? Kenapa kau bilang sejak mengenal Siti, kau tahu artinya cinta, apa dulu kalian sempat menjadi sepasang kekasih?” potong Bumi tidak sabar.

“Begitulah uda, kami berdua pernah menjadi sepasang kekasih, tapi karena kebodohanku maka aku kehilangan cinta sejatiku,” kata Kahar dengan pilu.

“Kenapa bisa begitu, setahuku engkau bukanlah seorang pemuda yang bodoh, Kahar,” selagi Bumi memotong pembicaraan Kahar yang dia rasanya terlalu lama dan tidak langsung ke tujuan tapi dibalik semua perkataan Kahar, dia merasakan kesedihan dan penyesalan yang mendalam.

Dengan senyum yang teramat pahit Kahar menjawab,”Terima kasih atas pujian uda, tapi uda dalam kasus ini aku benar-benar orang yang paling bodoh sejagat raya ini. Aku menyia-nyiakan kasih murni dari Siti lantaran cemburu dan godaan sesaat.”

“Kahar, sudah cukup basa basimu itu sekarang lebih baik kau ceritakan awal mula kebodohanmu itu, aku sudah tidak sabar mendengarnya.”

Kembali Kahar merasa berat sekali menceritakan kebodohannya bukan karena dia malu tapi dia takut setelah menceritakan kisah ini kemungkinan besar Bumi tidak setuju menjodohkan dia dengan Siti. Sedangkan dia tahu sekali Siti sangat menghormati iparnya sehingga bisa jadi mempengaruhi keputusan wanita pujaannya itu ditambah lagi dia tidak yakin akan perasaan Siti padanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya, lebih baik begini karena dia percaya uda Bumi pasti bisa mempertimbangkannya dengan bijaksana.

“Baiklah uda Bumi, aku akan mulai menceritakan kisah kami, tapi uda jangan potong pembicaraan aku, karena susah sekali rasanya mengeluarkannya dari dalam sini,”kata Kahar sambil menunjuk dadanya.


Bumi menganggukkan kepalanya, dia dapat melihat dari wajah dan mata Kahar, penderitaan batin yang selama ini disembunyikan pemuda ini dari mereka, saudara angkatnya. Dia tambah penasaran lagi, apa yang telah terjadi sehingga pemuda seperti Kahar jadi menderita begini.

Sambil menatap awan dari jendela di samping mereka, Kahar mengenang masa lalu pertemuan dia dengan Siti dan mulai menceritakan….

Kahar yang ketika itu merupakan pemuda yang baru lulus dari perguruan silatnya diijinkan oleh gurunya untuk turun gunung dan merantau sekalian pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya yang sudah hampir 8 tahun tidak ditemuinya. Dia merasa senang sekali karena diantara murid-murid yang lain dia tidak diperbolehkan sering turun gunung sampai pelajarannya selesai. Perkenalannya dengan Bumi, Masnan dan Basri dikarenakan kebetulan sekali mereka ikut gurunya datang berkunjung pas perayaan ulang tahun ketua perguruan silat tempat dia bernaung, dan sempat terjadi kekacauan besar tapi yang berbuah mereka mengangkat saudara satu dengan yang lain.


Guru Kahar yang merupakan adik seperguruan dari kakek guru ketua perguruan Api Matahari memang menggembleng dia dengan keras, yang untungnya dia merupakan murid yang sangat berbakat sekali sehingga semua pelajaran yang diberikan bisa diselesaikannya dengan baik dalam waktu yang singkat. Dididik oleh orang seperti Datuak Matohari Ameh membuat Kahar menjadi pendekar yang mumpuni, karena memang gurunya merupakan tokoh yang paling berbakat dan tinggi ilmunya dalam perguruan Api Matahari. Hanya karena beliau tidak menyukai keduniawian maka beliau tidak terlibat langsung pada operasional perguruan semua diserahkannya pada kakak seperguruannya dan dilanjutkan oleh murid-murid lainnya. Beliau belum pernah menerima murid sebelumnya sampai dia bertemu dengan Kahar ketika terjadi kerusuhan di perayaan ulang tahun itu.


Sebenarnya gurunya berat melepaskan Kahar untuk pergi merantau karena selain anak ini memang berbakat, dia pintar menghibur hati gurunya dan sangat rajin sehingga sang guru sangat menyayanginya. Tapi semua pelajaran telah diberikan kepada Kahar, sehingga sudah tiba waktunya untuk Kahar menimba pengalaman di dunia persilatan, gurunya yakin dengan ilmu yang diberikan kepada pemuda ini bisa mengatasi semua masalah yang terjadi. Gurunya selalu berpesan agar dia selalu berbuat baik, menghindari pertengkaran yang tidak perlu, dan berusaha memberi ampun kepada orang yang mau bertobat. Ketika Kahar mau turun gunung, dia menyempatkan diri bertemu dengan guru pertamanya yaitu ketua perguruan yang bergelar Pandeka Penakluk Matahari.


Pandeka Penakluk Matahari sendiri merupakan tokoh persilatan yang disegani sekali oleh perguruan silat lainnya. Kahar menjadi murid pandeka ini dikarenakan hubungan persaudaraan antara ayahanda Kahar dengan pandeka ini. Ketua perguruan ini mempunyai 4 murid utama termasuk Kahar, tapi dia memang paling sayang pada Kahar karena pemuda ini sangat berbakat dan rendah hati walaupun dia termasuk keluarga kerajaan. Makanya waktu paman kakek gurunya mengambil Kahar menjadi muridnya, pandeka ini tidak keberatan karena dia tahu bakat anak ini yang melampaui teman-temannya.

Kini anak itu menghadap padanya dan tetap bersikeras memanggilnya guru, padahal dari segi kedudukan Kahar di atas dia, setingkat dengan gurunya. Dan pada saudara perguruannya tetap memanggil uda dan uni tanpa membedakan kedudukan, pokoknya siapa yang lebih tua darinya selalu dipanggil dengan hormat. Semua orang menyayangi pemuda cakap ini kecuali kakak seperguruannya yang nomor 2 bernama Yunus. Pemuda ini selalu iri terhadap Kahar yang melebihi segalanya dari dia, Yunus juga termasuk keluarga kerajaan hanya dia merupakan saudara jauh sedangkan Kahar merupakan sepupu dari raja sekarang.

Tapi dia pintar menutupi perasaan irinya pada Kahar, di muka semua orang dia berlaku sopan dan baik sehingga tidak terlihat sifat jeleknya. Hanya Datuak Matahari Ameh yang bisa merasakan ketidakberesan pemuda ini, oleh karena itu dia memesan wanti-wanti kepada muridnya untuk berhati-hati pada pemuda itu. Karena beliau melihat aura kegelapan yang melingkupi sekeliling pemuda itu, dan dengan tenaga kebatinan dia juga tahu bahwa pemuda ini mempunyai kekuatan sesat dalam dirinya yang belum dibangkitkan. Beliau tidak bisa mengusir pemuda itu dari perguruan Api Matahari, karena akan menimbulkan masalah besar ke depannya. Makanya yang dia bisa lakukan hanya memperkuat kebatinan dan ilmu serta tenaga dalam Kahar agar nantinya bisa menghadapi Yunus.


Setelah berpamitan dengan guru dan saudara seperguruannya, Kahar melangkah dengan ringan menuju ke kaki gunung Tandikat untuk memulai pertualangannya. Karena dia berjalan dengan santai sekali maka sampai di kaki gunung sudah senja, segera dia pergi ke rumah wali nagari untuk menumpang mandi dan makan. Semua penduduk sudah mengenal murid-murid perguruan Api matahari, mereka senang sekali menerima dan membantu karena murid-murid dari perguruan ini sangat baik dan ramah serta ringan tangan menolong mereka. Jadi tidak masalah kalau ada murid perguruan ini minta berteduh dan makan di rumah wali nagari itu. Sesudah mandi dan makan, Kahar berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya, dia tidak ingin mengganggu wali nagari yang baik itu lebih lama lagi.

Dengan santai dan bersiul-siul dia melangkahkan kakinya menuju hutan yang menjadi perbatasan nagari ini dengan dunia luar, kebetulan sinar bulan sangat penuh dan terang sekali sehingga memudahkan dia untuk melanjutkan perjalanan. Dengan ilmu lari cepat dia sudah meninggalkan nagari dan kira-kira tengah malam dia sudah hampir sampai di pinggiran hutan sebelah sana . Tapi karena ngantuk dia mau istirahat dulu, dia lihat pohon-pohion yang tumbuh di sekitar tempat dia berdiri dan melihat ada sebuah pohon yang kelihatannya enak untuk menjadi tempat tidurnya. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh dia sampai di atas pohon, dan sebentar kemudian diapun sudah terlelap. Malam semakin larut, tiba-tiba dia mendengar derap kuda yang kencang sekali menuju ke arah pohon tempat dia tidur, segera dia membuka matanya melihat arah datangnya suara derap kuda tapi dia tidak merubah posisi tubuhnya yang masih tertidur di atas dahan pohon.

Terlihat seekor kuda putih berlari kencang sekali dari arah Timur membawa sosok tubuh kecil di atasnya, Kahar tidak bisa melihat wajah si penunggang kuda karena tertutup dengan kain yang melilit kepalanya. Ketika hampir dekat pohon Kahar, tiba-tiba si penunggang kuda bersiul tinggi melengking dan hebatnya kudanya berhenti berlari seakan-akan dia mempunyai rem di kakinya. Sambil terus menengok ke belakang si penunggang kuda turun dari atas kudanya.

“Bening, aku rasa kita sudah meninggalkan jauh orang-orang bawel itu di belakang kita, lebih baik kita istirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan kita ke perguruan Api Matahari,”terdengar suara lirih si penunggang bicara dengan kudanya.


Kahar tidak bisa memastikan apakah itu suara pria atau wanita karena dia masih belum bisa melihat wajah dan potongan tubuh penunggang kuda itu. Hanya kalau dia taksir tinggi orang itu hanya sebatas dadanya saja, Kahar termasuk pemuda yang tinggi dan berdada bidang yang cukup lebar, sedangkan penunggang kuda ini kelihatannya bertumbuh kurus. Orang dan kudanya langsung duduk di atas tanah dengan enaknya seolah tidak memperdulikan kotor atau tidaknya tanah itu. Si penunggang kuda langsung menjatuhkan badannya ke perut kudanya dan langsung tertidur. Sang kudapun dengan tenang membaringkan tubuhnya di tanah dan membiarkan tuannya tidur di perutnya. Kahar masih belum bisa melihat wajah sang penunggang kuda karena tertutup oleh kain yang menutupi seluruh tubuhnya termasuk wajahnya.


Suasana tenang dan sepi membuat Kahar mengantuk lagi, ingin melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu karena kehadiran orang dan kudanya. Tadi sempat dia heran mendengar gumaman orang itu yang mau ke perguruannya, besok dia akan menguntit orang ini karena dia ingin memastikan apakah orang ini bermaksud jelek ke perguruannya atau tidak. Jika tidak dia bisa dengan tenang meninggalkan daerah perguruannya untuk melanjutkan perjalanan.

Baru saja dia merasa tertidur tiba-tiba di kejauhan lamat-lamat dia mendengar derap kuda yang banyak menuju ke arah dirinya, Sambil menggerutu kesal dia terbangun dari tidurnya, tapi suasana sudah mulai terang, malam sudah menyelinap ke peraduannya untuk memanggil bangun sang mentari. Suasana sungguh indah sekali di remang-remang cahaya pagi, bila tidak terganggu oleh suara derap kaki kuda. Kesal sekali rasanya belum kenyang tidurnya harus terganggu lagi, cepat dia menoleh ke arah orang dan penunggang kuda di bawahnya. Rupanya orang itu belum mendengar derap kuda dari jauh itu tapi sang kuda sudah mendengarnya dan mengeluarkan suara ringkikan pelan sambil kepalanya ditoleh ke samping dan sundul pelan majikannya. Tapi sang majikan masih keenakan tidurnya mungkin karena kelelahan berkuda sehingga tidak terbangun walau sudah disundul-sundul kudanya. Semakin lama suara derap kuda itu semakin dekat, kuda itu mengeluarkan suara ringkingan keras dan berusaha berdiri agar bisa membangunkan sang majikan. Akhirnya sang majikan bangun juga dan terduduk dengan lemasnya, kudanya kembali mendorong-dorong punggung majikannya agar segera berdiri. Sang majikan mengangkat kedua tangannya  dan mendoyongkan kepalanya ke arah belakang sambil menggeliatkan badannya.

Saat itulah penutup kepalanya terbuka dan rambut yang menutupi wajah itu tersibak tergerai ke belakang. Tampaklah seraut wajah wanita yang sangat cantik sekali apalagi ketika sinar matahari yang mulai mengintip malu-malu mencium wajah itu. Kahar terpesona memandang wajah itu sungguh teramat sangat cantik, berkulit sawo matang yang mulus, berbibir bawah yang tebal sensual dan hidung yang mungil mancung melengkapi keindahan wajah itu. Dia belum bisa melihat mata sang pemilik wajah dikarenakan dia masih menutup matanya menikmati ciuman hangat dari sang mentari. Ketika si cantik membuka matanya, sang dewa langsung melepaskan panah asmaranya tepat mengenai jantung Kahar, sejak saat itu wanita itu sudah merenggut kedamaian dan ketenangan Kahar.


Kahar jatuh cinta tanpa bisa mengelak atau melepaskan diri lagi dari panah asmara yang sudah menancap di jantungnya dengan tepat sekali. Mata indah sang pemilik wajah cantik itu benar-benar menggoncangkan iman, begitu bening dan teduh sekali jika memandang ke dalamnya seakan ingin ikut tenggelam ke dalam mata indah itu. Belum pernah selama hidupnya Kahar merasakan gairah dan semangat yang membara karena seorang gadis cantik, sudah banyak ditemui gadis-gadis cantik yang pernah datang berkunjung ke perguruannya atau teman-teman mainnya waktu masih di istana tapi tidak ada satunya yang mampu mengguncang perasaannya seperti saat ini.

Dia lupa akan keadaan sekitarnya hanya mampu melihat pemandangan indah di depannya tanpa berkedip, sedangkan suara derap banyak kuda semakin mendekati tempat mereka. Tapi yang anehnya si cantik itu tidak menghiraukan hal itu bahkan dia masih menikmati angin nan lembut yang meniupi rambut dan bajunya perlahan-lahan. Terdengar senandung lembut dari bibirnya yang sensual itu seakan menikmati cerahnya pagi ini. Dan kudanya sudah berjalan agak ke samping menuju sungai kecil yang mengalir untuk minum dan makan rumput yang tumbuh subur di pinggiran sungai tersebut.

“Bening, kamu enak sekali sudah minum, aku juga ingin minum tapi harus ditadah dulu pasti segar sekali rasa embun pagi,” terdengar suara merdu nan lembut keluar dari bibir sensual itu.

Kahar semakin terbuai dengan keadaan yang ada di sekitarnya, apalagi setelah mendengar suara yang lembut berirama itu. Dia melihat gadis itu mengeluarkan sebuah tabung dari bamboo dari balik bajunya dan dengan gerakan yang luwes sekali dia menyapukan bamboo itu pelan-pelan ke titik-titik embun yang ada di dedaunan yang tumbuh subur di dekatnya. Gerakannya sedemikian cepat dan luwes sekali, tidak ada embun pagi yang lolos dari tabung bamboonya. Melihat hal ini Kahar tahu bahwa gadis ini bukan orang sembarangan pasti mempunyai ilmu silat yang bagus sekali, walau mungkin dibandingkan dengan dirinya masih jauh tapi cukup untuk dia membela diri seandainya terjadi sesuatu.


Setelah beberapa lama dia memasukan embun pagi di tabung bambunya, gadis itu tertawa lembut melihat hasil kerjanya, suara tawanya sungguh menggelitik sukma Kahar, dia jadi ikutan tersenyum melihat tingkah laku dara cantik itu.

“Bening, cukup banyak juga embun yang aku dapat, lumayan untuk melepaskan dahaga.”

Segera dara itu meminum embun pagi yang ada di tabung bambunya,”Hmmmm…. Nikmati sekali rasanya Bening, sekarang aku sudah siap menghadapi orang-orang bandel itu. Tapi aku harus mencuci muka dulu menghilangkan debu yang melengket ini.”

Biarpun dia seorang perantau akan tetapi tetap dia seorang anak gadis yang mementingkan kebersihan dan kerapian dirinya. Dia berjalan menuju sungai kecil itu dan mencuci tangan dan mukanya, sambil melepaskan jubah kain yang melingkari tubuh dan kepalanya. Kembali Kahar terpana menatap dara itu, ternyata dia memiliki rambut hitam panjang yang indah berkilauan dan bentuk tubuh yang sangat proposional sekali dengan tinggi tubuhnya. Sempurna kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan dara itu, jari tangan yang lentik itu menepuk-nepuk mukanya dengan air sungai yang jernih itu.


Dan sementara itu segerombolan orang berkuda sudah terlihat mendekati tempat mereka, dan pemimpin rombongan sudah mengangkat tangannya untuk memerintahkan kepada rombongan agar menghentikan lari kuda mereka. Dia sudah melihat kuda putih itu dan pemiliknya yang sedang berjongkok mencuci tangan dan wajahnya di sungai itu.


“Selamat pagi Dewi, maafkan kami yang mengejar anda seperti ini,” sapa halus sang pemimpin kepada dara yang sedang membelakangi mereka.

Kahar memandang pemimpin rombongan itu, seorang pemuda yang cakap sekali dengan pakaian mahal membalut tubuhnya. Ada sekitar 10 orang dalam rombongan berkuda itu, 5 orang diantaranya sudah berusia paruh baya sedangkan 2 orang sudah kakek-kakek dan sisanya anak muda seumuran dengan pemimpin rombongan yang ditaksir Kahar tidak beda usianya dengan dirinya. Dia bersiap-siap akan membantu dara cantik itu seandainya rombongan ini mengganggunya.


Pemuda pemimpin rombongan ini bernama Lukman, yang merupakan putera pertama dari keluarga ternama Rangkayo Padang Jati sedangkan 2 pemuda di belakangnya merupakan adik kandungnya, Kasman, dan sepupunya, Malik yang juga berasal dari keluarga hebat yang memiliki perguruan silat Ula Kuniang (Ular Kuning). Sedangkan 2 orang kakek yang ada dalam rombongan ini juga bukan orang sembarangan, yang pendek dengan rambut putih panjang sebahu bergelar Pandeka Konek dari Bukit Sagantang, sedangkan yang lebih tinggi dengan kepala botak bergelar Pandeka Tangan Siluman. Kedua kakek ini merupakan tokoh hebat dalam dunia persilatan hanya sedikit orang yang mampu menghadapi kehebatan mereka, selama ini mereka menjadi pengawal pribadi dari ayah Lukman yaitu Sutan Mudo Padang Jati.


Yang 5 orang lagi merupakan murid-murid utama dalam perguruan silat Ula Kuniang, mereka datang karena mengawal putera guru mereka. Rombongan ini ditugaskan oleh Sutan Mudo Padang Jati untuk mencari tabib yang bisa menyembuhkan ibu Lukman dan ibu Malik yang tiba-tiba diserang penyakit yang tidak ketahuan dari mana datangnya. Kedua perempuan ini sudah seminggu lamanya berbaring sakit dengan seluruh tubuh memerah dan melepuh seakan kena bakar api yang sangat hebat. Kedua suami mereka sudah memanggil tabib-tabib ternama tapi tidak seorangpun mampu menyembuhkan kedua wanita ini. Sehingga suatu ketika seorang pedagang teman baik Sutan Padang Jati, memberitahukan bahwa sekarang di dunia persilatan terdengar kabar ada seorang tabib yang sakti murid dari Tabib mato Tigo yang suka menolong orang. Tabib itu bernama Dewi Tangan Dingin, beliau sangat terkenal sekali kesaktian ilmu pengobatannya, masalahnya tidak mudah untuk bisa menemui beliau.


Tabib ini sering menyamar sehingga wajah aslinya tidak seorangpun yang tahu, yang orang tahu bahwa tabib ini seorang wanita tapi apakah dia sudah tua atau muda tidak ada seorangpun yang tahu dengan jelas. Orang yang sudah pernah ditolongnya menyebut beliau dengan sebutan Dewi Tangan Dingin, karena selain tahu dia seorang wanita, mereka yang pernah diobatinya tahu dia memiliki tangan yang terasa dingin sejuk setiap menyentuh luka atau tubuh si sakit. Dan ciri tangan dingin sejuk inilah merupakan petunjuk khusus tabib itu yang tidak dimiliki oleh tabib lain.


Jadi saat Lukman dan Malik ditugaskan untuk mencari tabib ini, mereka kewalahan juga karena tanda pengenal tabib ini hanyalah dia seorang wanita dan mempunyai tangan yang dingin sejuk. Sudah hampir 2 minggu mencari kabar tabib ini, akhirnya mereka mendengar kabar kehadiran tabib ini di sekitar wilayah gunung Tandikat karena ada korban sakit menular di sebuah nagari dekat gunung tersebut. Dan biasanya tabib itu akan datang ke daerah bencana seperti itu untuk memberikan pengobatan kepada penduduk. Setelah menunggu hampir 3 hari lamanya dan benar saja seorang tabib  datang untuk menyembuhkan penduduk, hanya mereka tidak sangka dan kecewa sekali karena tabib itu seorang pria tua sedangkan tabib yang mereka tunggu itu adalah seorang wanita.

Malik yang sudah tidak tahan menunggu karena menguatirkan sang ibu, meminta kepada yang lain untuk membawa saja tabib ini pulang siapa tahu beliau bisa menyembuhkan ibu mereka. Sedangkan Lukman tetap bersikeras ingin menunggu tabib sakti itu, sempat terjadi pertengkaran diantara mereka untung cepat dilerai oleh kedua kakek itu. Kasman yang melihat kedua kakaknya ribut seperti itu, pergi ke luar untuk melihat-lihat keadaan penduduk yang disembuhkan oleh tabib tua itu. Dari penduduk yang telah disembuhkan oleh tabib itu, dia mendapat berita bahwa tabib itu mempunyai tangan ajaib yang terasa dingin  menyejukan setiap kali memegang tubuh mereka. Mendengar hal ini Kasman merasa curiga, jangan-jangan tabib ini adalah tabib yang mereka cari. Buru-buru dia pulang untuk memberitahukan kepada saudara-saudaranya. Begitu sampai di tempat mereka menginap Kasman mencari kakak dan sepupunya, yang ternyata sedang berkumpul di kamar kakaknya.

“Uda Lukman, ada berita aneh.”

“Kasman, ada apa jangan bicara yang buat orang kesal,” kata Lukman dengan muka cemberut karena dia masih kesal sekali dengan Malik.

“Ini berita yang mungkin membuat kita bisa pergi dari nagari ini dengan cepat,” sahut Kasman.
“Berita apa yang kau bawa, Kasman?” Tanya Malik.

“Begini uda Malik, waktu aku jalan-jalan keliling nagari ini aku bertemu dengan penduduk yang sudah sembuh dari pengobatan tabib itu, dia menceritakan bahwa tabib itu mempunyai tangan yang halus dan lembut….”
“Semua tangan tabib memang halus dan lembut, kalau tidak bisa kesakitan pasiennya,”potong Lukman dengan tidak sabaran.

“Yang uda katakan itu betul, tapi ada satu lagi yang perlu uda tahu, menurut mereka tangan si tabib juga dingin menyejukan ketika menyentuh tubuh mereka.”

“Hah, apa benar itu Kasman, kau jangan bercanda,” Tanya Malik sambil berdiri dari kursinya.

“Itu benar uda, tadinya aku juga tidak percaya tapi setelah aku menanyakan pada beberapa orang, mereka semua bilang sama tangan tabib itu dingin menyejukan, makanya aku buru-buru balik untuk memberitahukan kepada kalian semua.”

“Lukman, kita harus menyelidiki kebenaran berita ini segera, karena ibu kita sudah hampir sebulan menderita aku sudah tidak tahan memikirkannya. Saking kuatirnya kita hampir lupa bahwa tabib Dewi tangan Dingin itu suka menyamar bisa jadi tabib ini merupakan samaran dia, selama ini kita selalu terpaku hendak mencari tabib wanita. Padahal bisa jadi tabib itu sudah di depan mata kita tapi kita tidak menyadarinya.” kata Malik dengan cepat.


“Baiklah kita semua keluar dan selidiki hal ini, mudah-mudahan saja benar, aku juga sudah tidak sabar sekali setiap memikirkan penderitaan ibu kita.”

Segera mereka keluar dari kamar penginapan dan menyebar ke seluruh nagari untuk membuktikan kebenaran berita itu. Kedua kakek yang menyertai mereka bertugas untuk pura-pura menjadi pesakitan agar bisa merasakan pengobatan dari tabib itu, Lukman serta Malik menyamar sebagai keluarga dari kedua kakek itu, sedangkan 5 orang saudara seperguruan Malik serta Kasman bertugas mencari keterangan dari penduduk, di mana tabib itu tinggal dan dari mana datangnya.


Mereka berempat berjalan menuju ke rumah yang dijadikan tempat pengobatan darurat oleh penduduk, di sana sudah terlihat antrian penduduk yang tinggal 3 orang lagi.

“Kakek Konek, kau kerahkanlah tenaga dalammu supaya keliatan kau sedang sakit, begitu juga dengan kakek Botak supaya kita bisa menjajal apakah benar dia tabib yang dimaksudkan oleh ayah.” Kata Lukman kepada kedua kakek tersebut.

“Malik, kau pura-pura papah kakek Konek masuk duluan dan kakek Konek tugasmu adalah mengetahui apakah benar dia tabib yang kita cari, apakah bisa kalian lakukan hal itu?”

“Tenang Lukman, kami pasti bisa lakukan hal itu, kau juga harus siap-siap dengan si Botak untuk mengantisipasi keadaan jika sekiranya kami tidak berhasil, kalian harus gunakan kekerasan untuk mengancam dia agar mengaku siapa gerangan dirinya,” kata Pandeka Konek.

“Baiklah kakek, sekarang giliran kalian untuk masuk, orang di depan kalian sudah hampir selesai,”bisik Lukman.
Setelah penduduk terakhir pergi, giliran Malik dan Pandeka Konek masuk ke ruang pemeriksaan. Malik mempapah pandeka Konek yang seolah-olah sedang kesakitan berat sekali. Nafasnya memburu dan terengah-engah, muka dan tubuhnya berwarna kemerahan seperti orang menderita demam, serta keringat membanjiri wajahnya.
Darma menuntun pandeka Konek untuk duduk di kursi yang telah disediakan untuk pasien, begitu mereka duduk langsung tabibnya berkata.

“Untuk apa kalian datang ke sini, kalian kan tidak sedang sakit jadi hentikan kepura-puraan kalian, katakan saja terus terang mau apa kalian datang ke sini?”

Kaget sekali kedua orang ini tidak mereka sangka ternyata tabib ini bisa tahu rencana mereka. Malik tidak kehilangan akal, cepat-cepat dia berpikir dan menjawab pertanyaan dari si tabib,

“Siapa bilang kakekku tidak sakit, tabib tahu dari mana beliau tidak sakit, jika memang tabib tidak bisa menyembuhkan bilang saja tidak perlu berkata kakek saya tidak sakit seperti itu.”

Tabib itu memandang wajah Malik dengan tenang sekali, mata itu menatap seakan ingin menjenguk di kedalaman hati mencari sebuah kejujuran di sana . Malik yang ditatap oleh mata itu merasakan sensasi yang tidak pernah dia alami sebelumnya, dia merasa ditatap oleh sepasang mata yang dapat membetot sukmanya keluar dari rongga dadanya. Langsung kedua tangan Malik berkeringat menahan getaran kekuatiran akibat kebohonganya, sedangkan Pandeka Konek melihat dari cara menatap tabib itu dia mendapati bahwa tabib ini pasti berilmu silat tinggi. Dia tidak berani bertindak gegabah karena kuatir malah bisa merunyamkan masalah ke depannya.


“Maafkan cucuku tabib, mungkin karena dia risau dengan penyakitku sehingga dia bicara tidak sopan padamu, biarlah aku yang tua ini memintakan maaf untuknya.” Dengan lagak sedang dalam kesakitan.

“Lebih baik kalian berterus terang saja mau apa kalian bertemu dengan aku, sebelum aku marah dan tidak akan memberikan obat penawar racun yang kalian sudah hirup di kamar ini.”

Terkejut sekali kedua orang ini bahkan Pandeka Konek sampai meloncat berdiri dari kursinya, keduanya tidak menyangka bahwa tabib ini bisa meracuni orang tanpa orang tersebut tahu atau sadar apa yang terlah terjadi. Cepat mereka berdua mengalirkan tenaga dalam mereka di dalam tubuh untuk mengeluarkan racun yang ada di tubuh mereka. Sebagai ahli silat, ilmu tenaga dalam mereka sudah sangat bagus, jadi mengeluarkan racun yang ada di tubuh, mereka bisa melakukannya dengan mudah sekali. Setelah mereka melakukan hal itu mereka tidak merasa ada racun di tubuh mereka, mereka curiga apa benar mereka telah terkena racun seperti yang dikatakan tabib itu atau ini hanyalah gertakan biasa saja.


Si tabib tahu mereka tidak mempercayai pembicaraan dia, “Sekali lagi aku Tanya, mau apa kalian datang ke sini?”
“Sungguh tabib, saya mau berobat datang ke sini bukan untuk main-main!”tegas Pandekar Konek.

“Baiklah, aku percaya pada kalian tapi jika aku tahu kalian berbohong kalian bertanggung jawab sendiri atas racun yang sudah masuk ke dalam tubuh kalian. Kesinikan tanganmu kakek, aku ingin memeriksanya.”

Konek mengulurkan tangan kanannya ke arah tabib, begitu jari tabib itu menyentuh nadi tangan kanannya, serangkum angin yang sejuk dingin menerpa tangannya. Karena kaget dia cepat menarik tangannya, lupa dia akan julukan tabib yang mereka cari itu, langsung saja dia melompat berdiri dari kursinya. Malik yang melihat hal itu ikutan terkejut akibat gerakan kakek Konek, dasar pemuda cerdas dia dapat menduga bahwa si kakek kaget karena jari tabib yang memegang nadinya terasa sejuk dingin. Dan si tabib melihat hal ini tenang-tenang saja, malahan dia memandang mereka berdua dengan wajah dingin dan terlihat senyum mengejek di bibirnya.


Tadinya Konek kaget karena berpikir mau diserang oleh si tabib sehingga dia lupa informasi yang dia dapat sebelumnya bahwa tabib ini mempunyai tangan yang dingin sejuk. Dengan muka merah menahan malu dia memandang Malik dan si tabib bergantian, seolah minta bantuan untuk memperbaiki keadaan. Malik yang memang seorang pemuda yang sangat cerdas sekali cepat membaca situasi berusaha membantu Konek agar si tabib tidak tersinggung dan rahasia mereka ketahuan.


“Kakek, kenapa bergerak seperti itu, bukannya kakek merasa tubuhnya tidak enak, kalau kakek selalu ketakutan diperiksa oleh tabib, bagaimana bisa sembuh yang ada malah nanti kakek tambah sakit, aku juga yang susah jadinya. Sekarang kakek duduk lagi di kursi itu dan tenang sajalah diperiksa tabib kalau tabib itu mencelakakan kakek akan aku hantam dia jadi kakek jangan kuatir yah.”

Secara tidak langsung Malik juga mau bilang ke si tabib jika dia berani macam-macam, dia tidak sungkan-sungkan untuk menghajar si tabib. Tabib mendengar perkataan Malik tambah dalam senyum mengejeknya dan matanya bersinar tambah dingin menatap pemuda itu, kembali Malik merasa hatinya berdenyut tidak karuan menerima tatapan mata itu. Entah kenapa hal ini bisa terjadi Malik sendiri bingung kenapa setiap mata tabib itu menatapnya dia merasa jantungnya seakan berdenyut lebih cepat, dia pikir apa tabib ini menggunakan ilmu kebatinan untuk menaklukannya. Cepat dia mengerahkan ilmu kebatinan yang diajarkan oleh ayahnya untuk mengatasi kalau-kalau dia diserang oleh ilmu kebatinan, tapi kembali dia heran dia tidak merasa ada serangan ilmu kebatinan terhadap dirinya tapi kenapa jantungnya berdenyut tidak karuan begini. Apa dia sudah gila bisa merasa seperti ini hanya tatapan dari seorang tabib laki-laki yang sudah tua begini, cepat dia menggeleng kepalanya untuk menghapus pikiran tidak warasnya.


Tabib yang melihat tingkah laku kedua orang yang ada di depannya tertawa geli dalam hati, dia merasa mereka berdua sungguh lucu sekali terutama pemuda tampan itu, karena setiap dia menatap pemuda itu langsung muka pemuda itu memerah dan salah tingkah tidak karuan. Apa pemuda itu tahu bahwa dia seorang gadis ? Tapi tidak mungkin, karena gejolak emosi yang bermain di wajah pemuda itu mengatakan dia sendiri bingung kenapa bisa bertingkah seperti itu. Dan si kakek tua itu dari tadi seperti merasa terancam dan selalu siap sedia akan serangan mendadak, memang dia sedikit nakal menyebarkan racun daun bunga malam untuk mengerjai kedua orang ini dan kedua orang yang ada di depan. Dia sudah mencuri dengar pembicaraan mereka mengenai ingin mengujinya apakah dia tabib yang dicari atau bukan, biarpun dia ahli pengobatan tapi untuk ilmu silat dia tidak kalah lihaynya dia mendapat didikan langsung dari sang ibu dan sang kakek, tabib mato tigo, yang ahli silat ternama juga. Memang ilmu silatnya tidak selihai ilmu peringan tubuhnya apalagi dibandingkan dengan ilmu pengobatannya tapi bukan berarti dia tidak bisa membela diri. Makanya dia sengaja tadi mengerahkan sedikit tenaga dalamnya sehingga tangannya terasa dingin menyentuh kulit kakek yang mengaku sedang demam panas itu.


Dia sudah berbulan-bulan mempelajari racun Awan Biru dari buku-buku pengobatan pemberian dari gurunya dan satu-satunya pengobatan hanyalah dengan mencampurkan daun bunga malam, jahe,  daun bertulang putih dan kadal kaco (kaca, dinamakan kadal kaca karena mempunyai bentuk tubuh yang bening sehingga bisa terlihat isi tubuh dari kadal tersebut). Daun bertulang putih harus ditumbuk dengan darah bening dari kadal kaco lalu dimasak dengan tambahan daun bunga malam dan jahe setelah mendidih langsung diminumkan kepada penderita racun Awan Biru. Dan dia tahu kedua barang pertama merupakan barang langka yang sangat susah sekali mendapatkannya karena dibutuhkan kesabaran yang besar sekali untuk mencarinya di sekeliling puncak Gunung Tadikat yang luas itu.

Kembali kakek itu mengulurkan tangannya ke tabib untuk diperiksa, tapi kali ini sengaja dara yang bernama asli Siti ini, ingin memberi pelajaran kepada kakek dan pemuda tampan itu.

“Aku sudah katakana bahwa anda tidak sakit, jadi lebih baik kalian bersama teman kalian di luar itu pergi tinggalkan tempat ini. Lagian kalian tidak usah kuatir akan racun yang aku sebut-sebut itu, kalian kan tidak percaya bahwa kalian kena racun jadi yah silahkan pergi sekarang,’ kata Siti dengan suara yang sengaja dikeraskan supaya terdengar sampai di luar.


Lukman dan kakek botak yang mendengarkan hal ini langsung tahu tabib itu sudah tahu maksud mereka, segera mereka melangkah masuk ke dalam, karena tidak ingin mengacaukan lebih lanjut keadaan takutnya si tabib marah mereka lebih berabe lagi. Begitu masuk Lukman mengarahkan matanya menatap tabib yang sedang cemberut menahan marah itu, dan seperti Malik, tatapan mata tabib itu membuat jantung Lukman bergetar dengan kerasnya. Dia sendiri bingung kenapa hal ini bisa terjadi, dia sampai tidak bisa mengalihkan matanya dari tatapan magis tabib itu. Seakan sukmanya sudah tersedot oleh tatapan mata yang tajam dan dingin itu. Sesaat Lukman bengong menatap tabib itu, kakek Botak yang cepat menyadari apa yang terjadi berusaha menowel tangan Lukman untuk menyadarkannya.


Gelagapan Lukman menyadarkan dirinya kembali, mukanya langsung memerah malu karena ketahuan bengong menatap tabib itu. Hatinya mengutuk dirinya habis-habisan bisa-bisanya dia sampai seperti orang bodoh hanya ditatap oleh mata seorang pria setengah baya seperti tabib itu. Dengan berusaha membersihkan tenggorokannya karena tiba-tiba seperti ada yang mengganjal Lukman membuka mulut untuk bicara, tapi belum sempat dia bicara tabib itu sudah memotong pembicaraan mereka.


“Nah, karena kalian sudah lengkap hadir di sini kenapa kalian tidak mulai bicara apa yang kalian inginkan dari aku. Jujur saja tidak usah bertele-tele, aku paling benci berurusan dengan orang yang suka berbohong’” tegas sang tabib.

Lukman yang tadinya ingin berbohong menjadi sungkan akibat hantaman bicara dari sang tabib itu. Sudah tidak ada jalan lain oleh karena itu dia harus jujur siapa tahu tabib ini bisa mengobati ibu mereka.

“Maafkan kelancangan kami tabib, kami tidak bermaksud mempermainkan tabib, ini semata hanya kami ingin pasti apakah anda benar tabib yang kami cari.”

“Yang jelas aku bukan tabib yang kalian cari, kalau benar aku yang kalian cari tidak akan seperti ini kalian terhadap aku.”

Lukman langsung gelagapan mendengar jawaban ketus dari sang tabib, Malik yang melihat situasi semakin runyam berusaha memperbaiki keadaan lagi, baru dia hendak buka mulut sudah dipotong lagi oleh sang tabib.

“Diam kau anak muda pembohong, aku tidak mau mendengar omonganmu yang mirip orang terkentut,” sinis sang tabib itu berkata.

Malik mendengar perkataan itu naik darah juga akhirnya, dia merasa terhina dibilang pembohong seperti itu, mukanya sudah merah menahan kemarahan yang ingin dia lontarkan keluar tapi keburu tangannya digamit oleh Pandeka Konek yang melihat situasi sudah tidak terkendali lagi.

“Sekali lagi maafkan kami, tabib, kami tidak bermaksud membuat anda tersinggung, kami hanya bingung dengan keterangan yang kami terima. Kami mendengar dari penduduk bahwa anda bertangan dingin menyejukan dalam penyembuhan pesakit sedangkan keterangan yang kami terima bahwa tabib yang mempunyai tangan dingin menyejukan itu dimiliki oleh Dewi Tangan Dingin. Dan anda seorang laki-laki mana mungkin merupakan Dewi Tangan Dingin, tapi kami juga mendengar keterangan lagi bahwa sang Dewi itu suka sekali menyamar sehingga kami ingin memastikan apakah anda adalah tabib Dewi Tangan Dingin, karena kami tidak ingin salah orang,” kata Pandeka Tangan Siluman menjelaskan dengan cepat.

“Hmmm… informasi yang anda dengar itu salah, pak gaek (pak tua). Mana mungkin tanganku yang keriput ini bisa terasa dingin menyejukan, macam-macam saja kalian ini. Mungkin yang dimaksudkan penduduk dengan tangan dingin menyejukan itu karena aku merendam tanganku di air dingin supaya saat menyentuh tubuh pasienku yang panas bisa terjadi kejutan pada aliran darah mereka yang kacau akibat penyakit yang mereka derita. Jadi aku bisa tahu bagaimana cara menyembuhkan mereka, apa itu yang kalian maksudkan dengan tangan dingin sejuk ? Apa wajahku ini seperti seorang Dewi di mata kalian ?”

Kata-kata ketus yang keluar dari mulut sang tabib membuat yang mendengarnya sangat tidak enak perasaannya. Dalam hati mereka mengutuk Kasman habis-habisan yang membuat mereka dalam keadaan dipermalukan seperti ini, mereka lupa siapa sebenarnya yang merencanakan hal ini. Kasman hanya memberitahukan bahwa tabib yang menyembuhkan penduduk tangannya dingin menyejukan jadi bagaimana cara tabib itu mempunyai tangan dingin seperti itu bukan salah dia. Tipikal manusiawi sekali, setiap terjadi kesalahan selalu berusaha mencari kambing hitam, tapi sebaliknya setiap kali berhasil selalu berusaha menunjukan bahwa “AKU” lah yang membuat keberhasilan itu.


Siti sedang tertawa geli dalam hati melihat wajah 4 orang tersebut dikerjai olehnya, entah kenapa dia menjadi usil sekali ingin mengerjai mereka, terlebih-lebih kedua pemuda yang gayanya sangat bossy itu benar-benar membuat kumat keisengannya. Tapi di lain sisi dia yang berperasaan halus dapat merasakan bahwa mereka sekarang ini sangat membutuhkan pertolongan seorang tabib, karena itu dia ingin membantu mereka juga tapi setelah puas menjahili keempat orang ini.


“Mengapa kalian tidak menjawab pertanyaanku ?… Kenapa mendadak kalian menjadi bisu? Aku bukan seorang tabib yang punya keahlian menyembuhkan orang bisu jadi kalian lebih baik mencari tabib lain saja,” kata sang tabib sambil berdiri dari kursi dan sepertinya hendak pergi dari ruangan itu.

Buru-buru Malik berusaha menahannya, terlepas apakah benar atau tidaknya beliau penyamaran dari Dewi Tangan Dingin, siapa tahu dia bisa menyembuhkan ibunya.

“Maafkan kami, tabib, kami terpaksa melakukan ini karena kami sedang menguatirkan keadaan ibu kami yang sakit parah sekali. Sudah banyak tabib yang kami panggil bahkan tabib kerajaanpun sudah datang memeriksa ibu kami tapi tetap saja mereka tidak bisa menyembuhkan ibu kami. Kira-kira sebulan yang lalu kami mendengar keterangan bahwa di dunia persilatan ada seorang tabib yang bergelar Dewi Tangan Dingin yang benar-benar seperti seorang Dewi yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit bahkan konon kabarnya orang yang hampir matipun mampu disembuhkannya. Oleh karena itu kami ditugaskan oleh ayah kami untuk mencari tabib itu agar bisa mengobati ibu kami,” kata Malik dengan tersedat karena dia benar-benar mencemaskan keadaan ibu yang sangat dicintainya itu.

“Tapi sudah hampir sebulan kami mencari tabib itu tidak sekalipun kami bisa menemui beliau, kami berangkat dalam 3 rombongan dan sampai kemarin kami mendengar kabar rombongan yang lainpun belum berhasil menemukan tabib itu. Kami sudah hampir putus asa karena memikirkan keadaan ibu kami, sampai akhirnya kami mendengar keterangan mengenai tabib dari penduduk di sini. Oleh karena itu kami memastikan apakah anda adalah tabib yang kami cari itu.”

“Sekarang kalian sudah tahu kan bahwa aku bukanlah tabib yang kalian cari, jadi sekarang kalian mau apa dari aku?” potong sang tabib dengan cepat seolah ingin segera berlalu dari sini.
Mereka berempat terdiam mendengar perkataan sang tabib, samar-samar ada tantangan yang dilontarkan sang tabib kepada mereka.

Lukman yang merasa menjadi pimpinan rombongan mengambil alih pembicaraan,”Sekali lagi maafkan kami tabib, karena kami tidak menemui Dewi Tangan Dingin, bagaimana kalau tabib saja yang mencoba menyembuhkan ibu kami? Kami sudah melihat kehebatan tabib menyembuhkan penyakit menular pada penduduk di sini jadi kami ingin membawa anda pulang untuk memeriksa ibu kami.”

Sebenarnya Siti ingin membantu mereka, karena dia bisa melihat kecemasan di mata kedua pemuda itu, tapi dia masih kesal karena mereka ingin menggunakan kekerasan padanya memaksa dia untuk mengaku apakah dia si Dewi Tangan Dingin. Kalau mereka bertanya baik-baik dan tidak mengancam segala, sudah dari tadi dia akan pergi dengan mereka untuk membantu mengobati ibu mereka. Pikiran perempuan memang aneh, hanya masalah kecil begini saja bisa tersinggung sampai seperti ini, yang mungkin bagi para pria tidak masuk akal, tapi bagi kaum perempuan ini menyinggung perasaannya dengan ancaman seperti itu, walaupun mereka ingin membantu yang jelas mereka ingin menyiksa dulu para pria yang kurang ajar itu, baru membantunya kemudian.

“Apa anda yakin aku bisa menyembuhkan ibu anda, bukannya lebih baik anda mencari lagi saja tabib Dewi Tangan Dingin yang kalian puja-puja itu daripada anda membuang nafas dan tenaga untuk bicara dengan aku saat ini,” kata sang tabib dengan dingin seperti tersinggung.

Pandeka Konek dan Pandeka Tangan Siluman sudah dari tadi kesal mendengar pembicaraan yang seperti tidak berkesudahan ini. Mereka sudah gatal-gatal tangannya ingin menghajar tabib yang lancang mulut ini, buntut-buntutnya sepertinya sang tabib tidak ingin membantu mereka, jadi kenapa harus beradu mulut tidak berguna dengan dia.

“Sudahlah tuan muda Lukman mari kita pergi dari sini sepertinya tabib ini tidak mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan nyonya berdua, jadi kenapa kita masih di sini lebih baik kita pergi saja,” kata Pandeka Konek dengan sinis.

“Benar sekali yang dikatakan oleh pembantu kecil kalian ini, sudah sana pergi tinggalkan tempat ini dan cari tabib yang kalian maksud itu,” kata sang tabib dengan menyebalkan.

Lukman yang sudah habis kesabarannya karena kesal dengan kata-kata sang tabib ditambah lagi kekuatirannya terhadap sang ibu menjadi naik pitam dengan pedas dia berkata,”Memang kalau orang baru bisa menyembuhkan sedikit saja sudah banyak lagaknya, benar yang dikatakan oleh orang-orang padi semakin berisi semakin merunduk, dan padi yang tidak berisi memang berdirinya paling tegak padahal dia lupa kalau angin bertiup kencang dia akan dipermainkan mengikuti kemauan sang angin,”ejeknya.

Mendengar perkataan yang pedas ini, Siti semakin tidak suka terhadap pemuda yang lagaknya seperti pemimpin besar ini, semakin tidak mau dia membantu mereka.

“Itu kalian sudah tahu bahwa aku tidak menyembuhkan ibu kalian jadi kenapa kalian masih berdiri di sini tidak cepat pergi saja,” gantian dia mengejek mereka.

Lukman yang berharap ejekannya menjadi tantangan bagi si tabib untuk membuktikan kemampuannya jadi kecele karena si tabib tidak menanggapi seperti yang diharapkannya. Tapi jawaban dari sang tabib membuat kedua pandeka yang kaya pengalaman seperti Konek dan Tangan Siluman menyadari satu hal, hanya orang yang berkepandaian dan tahu bagaimana hebat dirinya saja yang tidak terpengaruh dengan ejekan yang dilontarkan oleh tuan muda mereka. Mereka berdua saling melemparkan pandangan mata dan memberi isyarat satu dengan yang lain seolah ingin mengatakan jangan-jangan inilah tabib yang mereka cari itu. Malik yang sedang memandang ke arah kakek Konek melihat hal itu, dia seorang pemuda yang sangat cerdik dan dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua orang tua itu.

Cepat dia menggunakan ilmu pengirim suara kepada pandeka Konek,”Kek, ada apa ? Apa kakek berpikir bahwa tabib ini di Dewi Tangan Dingin yang sedang menyamar?”

“Benar tuan muda, kami berpikir dari perkataan beliau dari tadi sepertinya dia si Dewi Tangan Dingin, karena aku merasa dia terlalu percaya diri dan merasa yakin kita memerlukan bantuannya makanya dia menjadi bertingkah begini. Lebih baik kita memperkenalkan diri kita pada dia siapa tahu mendengar kebesaran nama kita, dia jadi mau membantu kita.”

“Iya, kamu benar kakek, dari tadi kita belum perkenalkan diri kita padanya mungkin karena itu dia tersinggung dengan kita, seolah-olah merasa tidak dihargai oleh kita. Sekarang juga aku akan memperkenalkan diri kita padanya siapa tahu dia mau membantu kita,”balas Malik.

“Tabib, kami minta maaf sekali lagi, dari tadi kami belum memperkenalkan diri kami kepada anda, sehingga menjadikan pembicaraan ini tidak enak karena saling belum mengenal.”

Sang tabib diam saja mendengar perkataan dari Malik itu, dalam hati dia berpikir pemuda ini merupakan seorang pemuda yang mempunyai sopan santun pergaulan yang baik sekali. Pemuda yang baik sekali didikan keluarganya, walaupun sudah dihina dari tadi tapi masih bisa sabar dan tetap ingin memperkenalkan dirinya. Pemuda yang mempunyai tekat dan tahu bagaimana mendapatkan apa yang dia inginkan dengan cerdik sekali. Lawan yang tidak boleh dianggap remeh, jika menjadi musuhnya benar-benar pemuda pilih tanding.
Lukman yang sudah sebal sekali dengan sang tabib mendengar perkataan Malik menjadi tambah jengkel,”Eh Malik, untuk apa lagi kita perkenalkan diri kita pada tabib sombong ini, hayo lekas kita keluar dari sini sebelum aku ingin menghantam sesuatu melampiaskan kekesalanku.”

Cepat Lukman berjalan keluar untuk segera meninggalkan tempat yang membuat darahnya naik ke ubun-ubun setiap mendengar perkataan sang tabib. Dia yang terbiasa disanjung dan diperlakukan hormat oleh orang-orang yang ada di sekitarnya tidak menerima perlakuan yang seperti itu. Sebenarnya dia bukanlah pemuda yang gila hormat atau haus kekuasaan, tapi entah kenapa setiap perkataan dari tabib itu menyinggung harga dirinya dengan telak sekali. Mungkin karena kecemasannya akan penyakit sang ibu dan kelelahan dia mencari sang tabib belum ketemu juga membuat dia cepat sekali naik darah dan tidak bisa melihat situasi dengan jernih seperti biasanya yang dia lakukan setiap menghadapi persoalan seberat apapun.


Kedua kakek dan sepupu dia kebingungan melihat sikapnya seperti itu, tidak biasanya Lukman bersikap seperti ini. Kesabaran dan ketenangan dia dalam menghadapi situasi yang berat selalu membuat dia dikagumi oleh keluarga dan bawahannya bahkan oleh kedua kakek itu. Tapi kini sepertinya dia tidak bisa mengontrol emosinya, ini terlihat sejak 2 hari yang lalu dan tadi pagi ketika dia hampir berkelahi dengan sepupunya. Apa yang berkecamuk di pikiran pemuda ini, apa mungkin dia merindukan Dela, sang pujaan hati?


“Nah kalian dengar tuh apa yang dikatakan teman kalian, cepat kalian susul dia sebelum racun dalam tubuhnya membuat dia pingsan di jalanan,”kata sang tabib tiba-tiba.

Kaget juga mereka mendengar perkataan sang tabib, antara percaya dan tidak percaya mereka memandang sang tabib dan Lukman bergantian. Tapi melihat wajah sang tabib yang serius dan berkerut begitu membuat mereka buru-buru mengejar Lukman keluar. Benar saja kira-kira 5 tombak dari rumah sang tabib, mereka menemukan Lukman yang tergeletak di jalanan. Wajahnya membiru dan mulutnya mengeluarkan busa serta nafasnya kembang kempis, cepat kakek tangan Siluman mengangkat tubuh Lukman dan segera mereka berlari kembali menuju rumah sang tabib.

Mereka sudah tidak menemukan sang tabib lagi, tapi di meja di dekat tabib duduk tadi ada 1 buah botol obat dan surat dari sang tabib yang isinya menyuruh mereka memberikan 1 butir obat yang ada dalam botol kepada Lukman secepatnya dan terus meminumkan obat ini 3 kali sehari selama 2 hari berturut-turut agar racun dalam tubuhnya bisa punah. Dan tabib memperingatkan kepada mereka untuk berhati-hati karena ada orang yang ingin mencelakai mereka.


Cepat Malik mengeluarkan obat dari dalam botol dan meminumkannya pada Lukman, tidak lama Lukman sadarkan diri dan kebingungan apa yang telah terjadi pada dirinya. Ketika diceritakan, dia terkejut dan malah berpikir bahwa tabib itu yang meracuni dirinya bukankah tabib itu bilang mereka sudah kena racun begitu memasuki rumah itu. Tapi Malik dan kedua pendekar tua itu tidak yakin tabib itu bermaksud jahat pada mereka, daripada ribut terus dengan Lukman akhirnya mereka memutuskan untuk kembali dulu ke penginapan menemui yang lain.

Sekembalinya ke penginapan, Kasman dan yang lain sudah menunggu mereka dengan berita yang tidak kalah mengejutkan, ternyata musuh bebuyutan perguruan mereka juga datang ke daerah ini, terlihat dari tanda-tanda yang mereka tinggalkan. Memang dari dulu Rangkayo Padang Jati dan perguruan Ula Jati bermusuhan dengan perguruan Merak Hitam yang merupakan perkumpulan golongan sesat yang selalu mengganggu ketentraman penduduk dengan aksi perampokan dan pembunuhan mereka. Beberapa kali mereka bentrok dengan perguruan Merak Hitam, terakhir bentrok anak kedua dari ketua Merak Hitam meninggal di tangan Lukman. Dendam perguruan Merak Hitam semakin menggila terhadap kedua keluarga ini, oleh karena itu ayah Lukman sampai menyewa pendekar-pendekar hebat untuk menjaga rumahnya. Dan Lukman sendiri oleh orang tuanya dikirim ke sebuah nagari kecil di Prabumulih, selatannya Pulau Andalas untuk berguru dengan Pandeka yang sudah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan yang masih merupakan adik tiri dari nenek ayah Lukman dan bergelar Pandeka Walet Selatan.

Lukman juga baru kembali setelah berguru hampir 3 tahun lamanya dengan pandeka itu, baru beberapa bulan dia kembali ibunya sudah kena musibah seperti ini. Berat dugaan penyakit sang ibu dilakukan oleh orang-orang perguruan Merak Hitam yang suka menggunakan racun jika menghadapi lawan yang berat. Mereka menghalalkan segala cara agar bisa menang dari musuh-musuh atau orang yang diincar oleh mereka, tapi masalahnya pihak Lukman belum bisa membuktikan bahwa ini perbuatan perkumpulan sesat itu.

Kini mendengar kabar bahwa musuh mereka ada di daerah yang sama dengan mereka mau tidak mau Lukman harus mempercayai tabib itu tidak bermaksud mengerjai mereka. Yang lain berhasil meyakinkan Lukman bahwa mungkin saja musuh mereka yang meracuninya, dan mereka harus segera mencari tabib itu untuk membantu mereka. Segera mereka kembali berpencar mencari tabib itu, dari penduduk mereka mendengar sang tabib sudah pergi ke luar nagari dengan kuda putihnya bahkan penduduk tidak sempat untuk menyatakan terima kasih kepada sang tabib.



 

Bagaimana caranya menemukan si tabib sakti, Dewi Tangan Dingin ? Bagaimana tanggapan Lukman, Kasman dan Malik ketika mengetahui tabib tua itu merupakan seorang dara yang sangat cantik jelita ?  Dan apa pula tanggapan Kahar mendapat lawan dalam memperebutkan cinta kasih sang dara ?

Posted by sieklie at 10:44:24 | Permalink | No Comments »