Monday, April 14, 2008

VII : Menerima anak harimau yang terluka

Dikarenakan sekujur badan Saiful terluka dan lembam maka mereka sepakat kereta yang tadinya hendak digunakan oleh Masnan dan Burhan, dipakai Basri untuk mengangkut Saiful yang terluka. Anak itu butuh ruang untuk istirahat akibat luka-lukanya. Dan kebetulan juga Masnan memang ingin cepat-cepat kembali memilih menggunakan kudanya membawa Burhan. Sedangkan barang-barangnya bisa dikirim menyusul, hanya barang-barang yang penting saja dibawanya seperti beberapa lembar baju Burhan.


Segera Basri mengeluarkan perlengkapannya untuk membuat kereta yang mengangkut Saiful menjadi nyaman bagi orang yang kesakitan seperti anak itu. Basri merasa hatinya sakit setiap kali melihat keadaan Saiful, karena itu ia mempercepat kerjanya agar bisa segera membawa anak itu pergi, dia juga mengupah orang untuk membantunya selama perjalanan di samping para kusir keretanya. Perjalanan ke kampung halamannya dari Nagari Batang Kapeh ini cukup jauh bisa memakan waktu 3 hari 2 malam, makanya dia membekali diri dengan segala obat2an dan makanan kering yang bergizi serta air minum yang bersih untuk membantu memulihkan kondisi Saiful secepatnya.


Setelah semua persiapan selesai, mereka segera berangkat, Saiful yang dalam keadaan lemah digendong Basri dengan hati-hati diletakkan di kasur yang sudah disiapkan sebelumnya. Basri yang menggendong tubuh ringkih Saiful merasa hatinya sesak dan rasanya ingin memukul orang. Dia tidak habis pikir kenapa ada orang tua yang tega memukuli anaknya sendiri seperti ini, begitu banyak dia menemui orang jahat dan kejam tapi belum pernah dia melihat kekejaman seperti ini.


Sempat dalam hati dia mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan dalam mengatur takdir manusia , dia yang sangat mengharapkan bisa diberikan anak, Tuhan tidak berikan kepadanya tapi malahan diberikan kepada mereka yang tidak bertanggung jawab atas titipan Tuhan itu. Tapi dengan dasar iman yang teguh dia menarik kesimpulan mungkin justru inilah rencana Tuhan mempertemukan dia dengan Saiful yang menderita untuk menjadi murid sekaligus anaknya. Dia sadar jika anak itu lahir dari rahim isterinya belum tentu anak itu akan bisa menjadi anak yang baik karena pasti akan sangat dimanjakan oleh orang tua Basri maupun orang tua isterinya. Dengan mempunyai dasar penderitaan seperti Saiful, melatih anak itu untuk lebih sabar dan menghargai hidup serta tahan derita.

Tetapi tetap saja dia tidak terima ada seorang laki-laki besar memukuli seorang anak kecil bertubuh kurus dan ringkih tanpa memikirkan akibatnya. Karena itu timbul niat dalam hatinya untuk tidak akan pernah memberikan uang yang telah dijanjikan kepada orang tua Saiful sepeserpun.

Hari sudah lewat tengah hari ketika Basri berpamitan untuk berangkat pada Bumi dan Kahar serta Siti, tiba-tiba dari samping kereta sebelah kanan bapaknya Saiful memunculkan diri dengan agak takut-takut mendekati Basri dan Bumi.

 

Aswin yang pertama kali melihat lelaki itu sudah bergerak hendak menghajar pria dewasa itu, matanya sudah memancarkan sinar kehijauan tanda kemarahannya yang memuncak, untung keburu ditahan Kahar yang kebetulan berdiri di sampingnya. Dengan perlahan Kahar membujuk anak itu untuk jangan bertindak gegabah yang nantinya malah menghambat kepergian temannya itu. Anak itu mengepalkan tangannya dengan geram menahan kemarahannya karena dia juga kuatir Ipul bisa tidak berangkat kalau dia buat gara-gara.

Basri yang melihat pria itu sudah langsung ingin menghajarnya untung Kahar dan Bumi sempat mencegahnya. Bapaknya Saiful buru-buru mundur ke belakang takut kena hajar oleh pria yang akan bawa anaknya pergi. Sebenarnya dia takut untuk datang menagih janji kepada pria itu karena dia tahu pria itu sangat  membenci dia sehingga bisa saja memukulnya habis-habisan seperti dia memukuli anaknya tadi pagi.

Keberaniannya untuk memunculkan dirinya ke hadapan Basri dikarenakan isterinya sudah mengancam jika dia tidak bawa uang yang dijanjikan tersebut isterinya akan pergi dengan pria lain yang merupakan saingan dia sejak dulu dalam memperebutkan isterinya. Selain itu dia juga sudah bosan jadi orang miskin dan dilecehkan oleh orang yang paling dicintainya, dia berharap dengan adanya uang ini dia bisa mempertahankan isterinya dan hidup makmur tanpa perlu bekerja keras lagi. Dorongan hasrat inilah yang memicu keberaniannya untuk menemui Basri, dia rela dipukulin habis-habisan selama dia bisa menerima uang banyak dari Basri.

Tadi pagi dia dan isterinya memukuli anak mereka, karena Saiful tidak mau pergi dengan Basri, anak itu bersikeras ingin tetap tinggal dan berjanji akan melakukan apapun selama tidak menyuruh dia pergi dari rumah. Isterinya naik pitam mendengar hal ini karena dia sudah membayangkan bisa mempunyai rumah bagus dan baju-baju yang mewah, langsung menghajar anak mereka. Lalu isterinya tidak puas mulai menteror dirinya untuk membuat anak mereka pergi dengan pria yang menjanjikan uang banyak pada mereka itu. Akibat tidak tahan dengan teriakan-teriakan kemarahan isterinya yang menyakitkan hatinya, dia ikut-ikutan memaksa anaknya untuk pergi dengan memukulinya sekaligus sebagai pelampiasan kesakitan dia akibat kata-kata tajam dari sang isteri.

Kesakitan hati dia membuat dia lupa dan buta bahwa yang dia pukuli itu adalah anak kandungnya dan seorang anak yang masih kecil sekali dengan tubuh kurus dan ringkih seperti itu. Pukulan kayu yang menghajar tubuhnya, membuat dia tersadar apa yang telah dilakukannya, tapi dia sudah tidak sempat menyesalinya karena keburu pingsan. Setelah diguyur dengan air dingin oleh isterinya dia menjadi sadar dan dari isterinya, dia tahu yang memukul dirinya adalah tukang kebun wali nagari mereka, dan langsung dia menyadari dia akan mendapatkan masalah dengan janji uang itu. Sang isteri tidak mau tahu bahkan tetap memaksanya untuk menagih janji kepada Basri, sempat dia merasakan ketakutan yang sangat membayangkan apa yang bakal terjadi jika dia meminta uang tersebut. Tapi karena desakan dan ancaman dari sang isteri dan membayangkan hidup yang mewah membuat dia mengeraskan hati dan menepis perasaan ketakutannya untuk bertemu dengan Basri.

Melihat pria itu, hawa amarah Basri memuncak sampai ke ubun-ubunnya, kalau tidak dipegang Kahar dan dicegah Bumi ingin rasanya dia meremukkan muka pria itu dan menguncang-guncang otaknya supaya sadar akan perbuatannya. Dia tahu pria ini datang untuk menagih janjinya, dan dia sudah bertekat untuk tidak memberikan uangnya. Dengan tangan masih dipegang Kahar dan Bumi yang berdiri diantara dia dengan pria bajingan itu, dia berusaha menahan kemarahannya mengingat jika memperpanjang masalah dia tidak akan bisa membawa Saiful pergi secepatnya.

Suasana penuh ketegangan, Bumi yang tidak suka dengan pria ini berusaha sabar karena terus terang saja ingin rasanya dia juga turun tangan untuk memberi hajaran kepada pria ini, tapi dia sadar sebagai wali nagari dia tidak bisa bertindak sembarangan saja. Melihat bahwa Basri tidak bisa bicara akibat kemarahannya, maka Bumi berinisiatif bertanya.

“ Ada perlu apa, awak(kamu) datang ka siko (ke sini)?” Tanya Bumi

“Ehhh, anu… ini…ehh… mamaamauu tatannyaa,..”dengan gugup ayah Saiful menjawab.

Keringat dingin membasahi tubuhnya dan detak jantungnya lebih cepat dari biasanya sehingga dia merasa dadanya terasa sakit menahan gerakan detak jantungnya. Perasaan ingin terkencing juga dia rasakan sangat kuat sekali, kalau tidak teringat akan malu dia pasti sudah kencing di celana. Dia sadar pria yang bernama Basri itu sangat membencinya, tapi dia bertekat harus bisa mendapatkan uang itu walaupun mungkin jumlahnya kurang dari yang telah dijanjikan.

“Mau nanya apa kamu?” Tanya Bumi.

“Aaappppaaa Ssssaaaiiifffuulll..” dia menelan ludah tidak berani menatap Basri lagi. Dia berusaha menatap kereta supaya dia tidak gugup bicaranya.

“Cepat katakan mau apa kamu?” kesabaran Bumi semakin menipis karena dia sudah bisa menduga apa yang dikehendaki oleh ayah Saiful.

“Sssaaiiiffuuul sssuuudddaahhh mmmaaauuuu dddiiibbbaaawwwaaa pergi?” akhirnya dia bisa bicara juga, keinginan untuk kencing semakin mendesak, dia sudah kuatir betapa malunya dia kalau sampai terkencing di celana.

“Iya, sudah mau berangkat. Sekarang kamu minggirlah ke sana , kereta sudah mau jalan.” Kata Bumi dengan tegas sekali.

Ayah Saiful belum beranjak juga dari tempat dia berdiri di samping kereta yang mengangkut Saiful. Dia sudah tidak mampu berbicara menyatakan keinginannya karena dia sedang menahan keinginan untuk kencing, dan ketakutannya setiap kali melihat sinar mata Basri yang memandangnya dengan penuh kebencian dan hasrat membunuh yang terbayang di matanya.

“Sudah sana…., kenapa belum ke sana juga, nanti bisa ketabrak kereta,” seru Bumi.

Bumi memandang kepada penjaga keamanan nagari yang kebetulan berkumpul di halaman tersebut untuk membantu mengangkut barang-barang ke kereta tadi. Mereka yang sudah lama bekerja dengan wali nagari itu sudah tahu apa arti pandangan dari wali Bumi. Segera dua orang dari mereka berjalan mendekati ayah Saiful untuk menariknya dari sisi kereta. Ayah Saiful melihat dua orang yang menghampirinya, dia tahu sebentar lagi mereka akan menariknya, buru-buru dia memeluk kereta tersebut erat-erat sambil berteriak-teriak memanggil nama anaknya.

Untung saja tadi Siti sudah memberikan sedikit obat tidur untuk Saiful agar dia tertidur sebentar untuk memulihkan kondisi tubuhnya agar dalam perjalanan yang panjang ini dia tidak terlalu kelelahan. Jadi apapun yang dilakukan oleh ayahnya sekarang, dia tidak mengetahuinya, tapi tetap saja Basri takut jika Saiful terbangun akibat ulah ayahnya.

Karena itu segera Basri berusaha membebaskan dirinya dari Kahar dan Bumi, dia sudah ingin sekali memukul hancur mulut orang itu. Kahar yang merasakan gerakan Basri buru-buru mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan Basri begitu juga dengan Bumi yang tahu adik angkatnya sudah tidak bisa tahan kesabarannya, segera berjalan menghampiri ayah Saiful.

Bumi tahu jika tidak dia lakukan sesuatu segera maka Basri akan melakukan sebuah tindakan yang akan disesalinya nanti. Dia harus menghentikan orang yang “sakit jiwanya” ini secepatnya, dia mengulurkan tangannya ke arah ayah Saiful, dan menotok kedua tangan pria itu dan menghentakan agar pegangannya terlepas dari kereta itu. Kedua tangan ayah Saiful menjadi lemas dan tidak bisa digerakan sama sekali, dia semakin ketakutan merasa dirinya terancam karena dia sadar wali Bumi merupakan seorang tokoh sakti.

Dia membuka mulutnya besar-besar untuk menjerit supaya seluruh penduduk datang melihat wali Bumi mengancamnya. Dia tidak sadar bahwa semua penduduk sudah tahu perbuatannya terhadap Saiful, apalagi dengan adanya kejadian tadi pagi. Tukang kebun yang menjemput Saiful sudah menyebarkan gossip mengenai perbuatan ayah Saiful pada anaknya yang tentunya sudah dibumbui sana sini. Sehingga kalau dia mengharapkan bantuan penduduk atas hukuman yang diberikan wali Bumi padanya, dia tidak akan menerimanya.

Tapi sebelum sempat dia berteriak, kembali Bumi mengulurkan tangannya dengan cepat menotok lehernya supaya tidak mengeluarkan suaranya dan mulutnya tetap dalam keadaan menganga selebar-lebarnya. Ayah Saiful semakin ketakutan dengan hukuman yang diberikan oleh Bumi, kencing yang tadinya ditahan akhirnya keluar juga merembes di celananya dan membasahi kakinya. Dia sudah mulai merasa mulutnya kram akibat tidak bisa ditutup lagi, dia berusaha menutup mulutnya tapi tidak bisa karena kedua tangannya tidak bisa digunakan lagi.

Melihat kondisinya seperti itu beberapa penjaga keamanan yang ada di situ menutup hidung menghinanya sambil tersenyum-senyum mengejeknya. Dia tidak perduli lagi bagaimana keadaannya karena dia sudah panic dengan hukuman yang diberikan oleh wali Bumi, dengan menetaskan air mata ketakutan dia berusaha mohon ampun kepada wali Bumi dengan menekuk lututnya dan menyembah. Tapi Bumi tidak mengabulkannya karena dia memang ingin memberi pelajaran kepada pria itu agar tidak bertindak semena-mena kepada kaum yang lemah.

Bumi memberi isyarat kepada Kahar untuk menarik tangan Basri agar segera dia naik kereta dan berangkat, tidak perlu lagi menghiraukan keadaan di sini. Kahar perlahan-lahan menarik tangan Basri yang sudah terkepal kencang sekali.

“Uda Basri, hayolah pergi, biar keadaan di sini uda Bumi yang mengatasinya. Kasihan Saiful kalau kelamaan di jalan dengan tubuh seperti itu nanti dia bisa tambah parah sakitnya,”kata Kahar kepada Basri.

Akhirnya Basri mau juga ditarik Kahar untuk naik ke kereta dan melanjutkan perjalanannya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Bumi, Kahar dan Siti, serta melemparkan pandangan jijik kepada ayah Saiful segera dia memerintahkan tukang kuda untuk jalan. Melihat hal itu ayah Saiful berusaha mengejar kereta tersebut karena dia melihat peluang mendapatkan uang akan segera hilang bersama berlalunya kereta itu. Dengan cucuran air mata dan kondisi mulut menganga serta kedua tangan yang lumpuh sungguh keadaannya sangat menyedihkan sekali.

Aswin yang melihat ayah Saiful berusaha mengejar kereta itu langsung bergerak cepat mengikuti lelaki itu, tapi kembali Kahar buru-buru mengikutinya, dan menarik tangannya untuk ikut mengantar kepergian temannya sampai di batas ujung nagari. Tujuan Kahar agar anak ini tidak menghajar bapak temannya itu, karena dia sudah lihat sorot penuh kemurkaan dalam mata Aswin.

Kuda-kuda yang menarik kedua kereta tersebut dipacu kencang oleh para kusirnya, tidak berapa lama sudah meninggalkan ayah Saiful yang masih berusaha mengejar, tapi itu tidak berlangsung lama karena siksaan yang dirasakannya akibat mulutnya tidak bisa tertutup membuat dia tidak bisa mengejar kereta itu lagi.

Dengan terduduk di atas tanah, dia menangis dan kedua kakinya menggosok-gosok tanah persis seperti anak kecil menangis jika anak itu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Penduduk nagari yang melihat dia merasa antara kasihan, kesal, dan lucu, tapi itulah hidup seorang laki-laki yang tidak bisa menjadi seorang lelaki sejati baik bagi dirinya sendiri maupun keluarganya.

Bumi yang merasa sudah cukup hukuman yang diberikan kepada ayah Saiful berjalan mendekatinya, sambil memandang keras dia menegur, “Hmmm… untuk apa awak menangis, indak ado gunonya lai (tidak ada gunanya lagi). Nasi sudah jadi bubur, karena kelakukan awak (kamu) sendiri makanya teman ambo (saya) tidak mau memberikan uang seperti yang inyo (dia) janjikan pada awak.”

Tambah deras turun air mata ayah Saiful mendengarkan perkataan itu, jika Bumi belum menotok lehernya mungkin suara menangis menggerung-gerungnya kedengaran kencang sekali. Dia kesal sekali karena dia sudah membayangkan bakalan ditinggalkan isterinya jika dia tidak membawa pulang uang, sama sekali dia tidak memikirkan anaknya apakah anak itu bisa sembuh atau tidak, ke mana anak itu akan dibawa. Yang ada di benaknya sekarang bagaimana supaya menahan isterinya tidak pergi meninggalkannya dan bagaimana agar wali Bumi mau membebaskan dia dari hukuman yang menyiksa ini.

“Sekarang kamu dengarkan baik-baik apa yang hendak ambo (saya) sampaikan, sebagai seorang laki-laki kamu sudah gagal total, apalagi menjadi orang tua kamu sudah tidak berhak menyebut diri seorang ayah bagi anak kamu. Aku tidak mau banyak ngomong pada orang rendah macam kamu, jadi singkat kata aku ingin begitu aku bebaskan kamu dari siksaan ini kamu beserta isteri kamu harus pergi meninggalkan nagari ini secepatnya, dan jangan kembali lagi, jika kamu ketahuan kembali kesini lagi aku tidak akan segan-segan menghukum kalian berdua dengan tuduhan menganiaya anak kecil. Dan aku rasa tidak ada orang yang akan membela manusia seperti kamu ini, bahkan oleh kerajaan kamu bisa dimasukan ke dalam penjara,”tegas Bumi.

“Kamu mengerti yang aku katakan!” kata Bumi dengan keras kepada ayah Saiful.

Pria itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dia ingin secepat mungkin dilepaskan dari siksaan tidak enak ini, dia mulai merasa mulutnya tambah lama tambah kram dan tulang pipinya terasa berderak-derak seperti hendak patah. Dia berjanji dalam hati untuk pergi selamanya dari nagari yang menyebalkan ini untuk selamanya, begitu banyak penderitaan yang dialami selama tinggal di sini, tidak pernah dia merasakan kebahagiaan kecuali saat dia berhasil mempersunting isterinya. Jadi tidak menjadi soal kalo dia harus meninggalkan nagari ini dengan secepatnya.

Melihat itu segera Bumi menggerakan tangannya ke leher dan kedua tangan ayah Saiful untuk dibebaskan dari totokan. Sesaat ayah Saiful merasakan kesakitan seperti digigit beribu semut di kedua lengannya, sedangkan mulutnya dengan susah payah akhirnya dia bisa menutupnya. Dia memandang dengan dendam ke arah sekelilingnya, mereka yang telah berani mentertawakan dirinya, dia tidak berani memperlihatkan kemarahannya kepada wali Bumi karena takut dihukum lagi, tapi hatinya penuh dengan bara dendam dan kemarahan akibat perlakuan wali itu padanya. Dalam hati dia berjanji jika Tuhan memberikan kesempatan padanya, maka dia akan mencari cara untuk membalas dendam kepada wali Bumi dan teman-temannya serta penduduk Batang Kapeh karena sudah berani mengusir dan menghinanya.

“Cepat pergi dari sini, sebelum kesabaranku menghilang!”kata wali Bumi.

Bergegas ayah Saiful meninggalkan tempat itu, dia berlari-lari pulang ke rumah sambil dalam hati mengarang kebohongan pada isterinya. Tapi sesampainya di rumah, dia tidak menemukan isterinya bahkan semua barang yang berharga di rumah juga raib bersama kepergian isterinya yang entah ke mana. Berteriak-teriak dia memanggil nama isterinya tapi rumah itu tetap lengang sunyi saja. Berlari-lari dia ke luar rumah untuk mencari ke mana sang isteri pergi, sambil bertanya-tanya dengan tetangga yang melintas ke rumahnya, tapi tidak satu juga yang melihat isterinya.

Sampai sore dia sibuk mencari-cari isterinya tetap tidak ditemukannya, dengan tubuh lunglai dan hati yang panas penuh dengan kemarahan dan kebencian dia menyalahkan semua penduduk nagari ini terutama wali Bumi serta temanya, Basri. Jika Basri tidak menjanjikan uang emas untuknya tidak bakalan isterinya akan meninggalkannya begitu saja, dan jika wali Bumi tidak menyiksa dia seperti tadi mungkin dia masih keburu menahan kepergian isterinya. Sungguh benar-benar pikiran orang picik dan egois sekali, dia tidak sadar akan keadaan diri sendiri tetapi selalu mempersalahkan keadaan dan orang yang ada di sekitarnya. Orang seperti ini sangatlah berbahaya sekali kalau sampai kita pernah berbenturan dengan dirinya, karena semua kesakitan jiwa yang diterimanya ingin dia lampiaskan kepada orang lain.

Dengan penuh kemarahan dan api dendam yang menggelegak di dadanya dia pergi meninggalkan nagari Batang Kapeh, dia berjanji suatu saat nanti dia akan membalas semua perbuatan yang dia terima hari ini. Di kemudian hari ayah Saiful ini akan menjadi musuh yang mengancam ketentraman di nagari Batang Kapeh dan keselamatan Bumi serta teman-temannya terutama keluarga Basri Surian.

Kita tinggalkan ayah Saiful yang membawa dirinya ke arah dunia kegelapan, mari ikuti perjalanan Saiful dan Basri.

Dengan memacu kuda untuk berlari cepat, Basri mengharapkan bisa sampai di rumah lebih cepat dari biasanya.Dia merencanakan untuk tidak beristirahat lama-lama karena kuatir keadaan Saiful, dia merasa lebih tenang kalau sudah sampai di rumah, oleh karena itu mereka berjalan terus siang malam. Dia membawa uang yang cukup untuk memenuhi keinginannya itu, dia ingin segera memperkenalkan bocah yang malang ini pada isterinya dan berharap isterinya akan menyukainya seperti dia mulai menyayangi Saiful. 

Sampailah mereka di sebuah nagari yang terlihat ramai sekali walaupun hari sudah malam, terlihat keramaian orang-orang berlalu lalang dan rumah makan yang masih ramai dikunjungi orang. Melihat hal itu Basri mengambil keputusan untuk mengganti kudanya yang sudah kelelahan dengan kuda baru dan segar yang pasti dimiliki oleh penjual kuda di nagari yang terlihat cukup makmur ini. Segera dia memerintahkan kusir kudanya untuk mengantarnya ke rumah penginapan yang terlihat besar di nagari ini, yang di bawah penginapan itu ada rumah makannya. Lalu dia menyuruh kusirnya untuk ke tukang kuda agar bisa mengganti kuda mereka yang sudah kelelahan itu, dia memberikan uang yang cukup lumayan besar.

Basri memang bukan seorang majikan yang pelit, tapi bukan berarti dia juga seorang majikan yang sangat royal. Dia sudah memperhitungkan berapa kira-kira biaya tukar tambah 4 ekor kuda dan biaya makan dari kusir dan keneknya yang berjumlah 5 orang itu. Jadi uang yang diberikan tidak akan berlebih banyak setelah dikurangi biaya-biaya tersebut dan dia anggap uang saku mereka jika mereka ingin membeli barang keperluan lainnya.

Sambil menunggu kusir kuda kembali, dia menyewa sebuah kamar untuk meletakan Saiful di tempat tidur. Dia juga meminta makanan diantarkan ke kamar saja, setelah selesai dia makan, dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebuah kantung yang setelah dibuka tercium bau wangi yang segar sekali. Dia memasukan tangannya ke dalam kantung dan mengeluarkan sebuah buah kecil yang berwarna kuning bening dan berbentuk seperti terompet, dipandanginya buah itu di telapak tangan kirinya. Lalu dia berjalan ke arah Saiful setelah menarik serutan pada kantung itu dia menaruhnya lagi ke sakunya. Sambil membuka mulut Saiful, dia meremas buah itu sampai mengeluarkan air yang pekat kekuning-kuningan dimasukan ke mulut Saiful, lalu diurutnya leher Saiful agar anak itu bisa menelan air dan ampas buah itu.

Basri tidak mengetahui nama buah yang dia berikan kepada Saiful, tapi dia tahu khasiatnya. Dulu waktu dia masih muda, mengikuti hawa nafsu emosinya dia pernah menjejakan kakinya ke Lembah Setan yang terletak di hutan nagari Sijunjuang. Dia ingin membuktikan kepada teman-teman seperguruannya bahwa dia lebih hebat tidak takut apapun juga dengan mendatangi lembah angker ini. Dia sempat merasakan keangkeran dari lembah ini dan hampir mati kalau tidak cepat ditolong oleh gurunya yang sudah tahu akan kenakalan muridnya yang satu ini. Tapi di balik itu dia mendapat hikmahnya, dia menemukan buah kuning itu yang menjadi penyambung nyawanya ketika dia terjebak di lembah itu. Bahkan gurunya tidak mengetahui nama buah itu,jadi mereka menamakan buah dari Lembah Setan, dia juga sudah menanyakan kepada Siti mengenai buah ini tapi dari buku pengobatan warisan Tabib Mato Tigo tidak ada yang mencantumkan mengenai buah kuning ini.

Tapi yang dia tahu memakan buah ini bisa memulihkan kondisi tubuh yang kelelahan dan kesakitan dengan cepat sekali. Makan 1 buah ini saja bisa mengenyangkan perut selama 1 hari, makanya dia memberikan kepada Saiful 1 buah untuk dimakan. Tadi pagi dan siang dia kelupaan memberi makan buah ini kepada Saiful karena keburu naik darah melihat ayah anak itu dan ingin secepatnya pergi menjauhinya. Sebenarnya Basri sangat berhemat sekali dalam menggunakan buah ini, dia hanya memiliki sekitar 10 buah sehingga kalau tidak dalam keadaan genting sekali tidak akan dikeluarkan buah ini untuk dimakan. Karena rasa sayangnya kepada Saiful menyebabkan dia memberi makan buah itu kepadanya, dia ingin anak itu cepat pulih sehingga dia bisa melatih tubuh anak itu dengan ilmu silat dan tenaga dalam.

Setelah dia mencuci muka dan berganti pakaian, Basri keluar kamar untuk melihat apakah keretanya sudah datang, karena dia ingin secepatnya melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya. Ternyata kusirnya telah menunggu di pintu utama rumah penginapan itu, segera Basri membayar biaya makan dan sewa kamar kepada kasir setelah itu dia balik ke kamar untuk mengambil buntalan bajunya dan menggendong Saiful menuju ke kereta untuk melanjutkan perjalanan. Selama dia melakukan pemindahan itu tidak sekejabpun Saiful sadar diri apa yang terjadi, malahan dia seperti tertidur dengan sangat pulasnya lupa akan seluruh dunia yang ada di sekitarnya.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat, dan melakukan pergantian kuda dalam 2 kali sehari pagi dan malam hari, perjalanan dilakukan hampir tanpa berhenti. Saiful sempat bangun beberapa kali untuk bertukar pakaian dan mencoba makan dengan mulutnya yang terasa sakit akibat pukulan ayahnya. Basri yang melihat bagaimana Saiful menahan kesakitan setiap buka mulutnya untuk makan merasa pedih sekali hatinya, akhirnya dia mengambil keputusan Saiful akan diberikan remasan buah dari Lembah Setan itu menganjal perutnya yang lapar. Setelah itu Basri membantunya minum obat yang diberikan Siti yang berupa cairan yang berbau tidak enak dengan susah payah Saiful berusaha menelan obat tidak enak itu, setiap dia selesai minum obat itu tidak lama kemudian dia akan kembali tertidur pulas seharian penuh.

Selama 3 hari perjalanan, mereka tidak menemui hambatan yang berarti semuanya berjalan lancar sesuai dengan perkiraan Basri. Sementara itu Saiful juga sudah memakan 3 buah dari lembah Setan itu untuk mempertahankan dirinya dari kelaparannya. Yang tidak diketahui oleh Basri adalah campuran buah dari Lembah Setan dengan obat yang diberikan oleh Siti ternyata menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam diri anak itu.

Ada sebuah kekuatan yang terbangun dalam diri Saiful, dengan kondisinya yang tertidur pulas, pernafasannya jadi rata dan tenang serta seluruh tubuhnya tidak bergerak seperti dalam keadaan meditasi, membuat khasiat buah dari Lembah Setan itu bisa bekerja maximal apalagi mendapat campuran dari obat Siti. Ditambah lagi ada satu hal lagi yang tidak diketahui oleh siapapun bahwa golongan darah yang dimiliki Saiful merupakan jenis golongan darah langka yaitu jenis yang mempunyai tingkat kekebalan tinggi terhadap semua penyakit manusia.

Tetapi bagi manusia yang mempunyai ilmu kebatinan yang tinggi akan bisa melihat bahwa darah Saiful seakan mengeluarkan sebuah kekuatan hawa pemusnah yang dahsyat sekali. Sungguh sebuah kekuatan yang menggiriskan hati yang mulai bergerak dalam tubuhnya akibat dipicu oleh buah dari Lembah setan yang telah bercampur dengan obat pemberian dari Siti. Kelak apabila dia marah dan darahnya bergolak hebat maka hawa pemusnah ini akan keluar dan memancarkan kehebatannya. Jika hawa pemusnah ini mengenai bangsa kegelapan maka mereka akan musnah menjadi serpihan, dan untuk manusia akan mematikan semua gerakan motoriknya sehingga tidak bisa melakukan apapun seperti merasakan kelumpuhan di seluruh tubuh.

Itulah keistimewaan yang dimiliki Saiful yang luput dilihat oleh orang-orang, bahkan Datuak Inyiak Balang saja tidak dapat mengetahui hal ini. Yang tahu hal ini hanyalah Pangeran Satyawarman dan Panglima Sulaiman, karena itu diam-diam mereka mengawasi Saiful lebih dibandingkan dari anak-anak lain. Mereka memutuskan untuk memberi tahu kepada Datuak Saluang Maut yang akan menjadi guru anak ini pada saat menjelang akil balik , kekuatan ini akan bergerak mencapai puncaknya dengan cepat. Ilmu Alunan Darah Pengejar Nyawa milik sang Datuak itulah yang bisa meredakan daya pemusnah dari kekuatan Saiful, oleh karena itu mereka harus mempersiapkan Datuak Saluang Maut untuk menerima murid istimewa ini.

Kembali ke perjalanan Basri dan Saiful, mereka sudah mulai memasuki wilayah kampong Basri, Saiful masih belum terbangun dari tidur pulasnya. Kereta mulai dikurangi kecepatan larinya karena sudah memasuki pinggiran nagari tempat tinggal Basri dan keluarganya.  Akhirnya tepat tengah hari, kereta berhenti di sebuah gerbang berwarna hitam bergaris-garis emas, terlihat para pengawal  membuka pintu dan melihat siapa gerangan yang datang. Ternyata majikan mereka, segera mereka membuka pintu lebar-lebar agar kereta kuda itu bisa masuk ke halaman depan rumah. Dan salah seorang dari pengawal berlari masuk ke dalam rumah untuk memanggil nyonya majikannya. Tidak lama dari dalam rumah keluarlah sang nyonya yang berjalan cepat menghampiri suaminya yang sedang turun dari kereta kuda.

Rumah besar milik keluarga Basri ini tidak terlihat mewah hanya kelihatan bersih dan rapi serta semuanya tertata dengan cita rasa yang tinggi sehingga terasa nyaman bagi mata yang memandang. Bangunan rumah terbagi atas 2 bagian, yaitu rumah tamu dan rumah utama, rumah tamu terletak di depan rumah utama. Rumah tamu ini memang disiapkan untuk tamu-tamu Basri yang datang menginap, terdiri dari 4 kamar tidur, ruang menerima tamu dan ruang makan tamu jadi tidak bercampur dengan rumah utama. Jika berjalan terus menuju belakang ruang makan maka mereka akan sampai ke rumah utama di mana Basri dan keluarganya tinggal. Biasanya jika tidak ada tamu yang menginap maka rumah tamu ini akan ditutup dan para penghuni rumah utama akan menggunakan jalan belakang untuk melakukan aktivitas keluar masuk rumah

Basri yang merasa senang sekali bisa pulang ke rumah segera meloncat turun, dan melihat isterinya berlari menhampirinya, dengan membentangkan kedua lengannya mendekati sang isteri tercinta begitu sudah dekat langsung memeluknya dengan penuh kerinduan. Sesaat mereka berdua berpelukan erat di depan para pembantu dan pengawal tanpa sungkan dan rikuh, para pembantu dan pengawal yang sudah lama mengikuti mereka mengetahui ritual ini, jadi mereka sudah terbiasa dengan keadaan itu. Mereka ikut merasakan kebahagiaan majikan mereka, dan mereka sudah tahu tugas mereka untuk membongkar bawaan sang majikan, hasil dari perjalanannya.

Saat mereka membuka kereta yang membawa Saiful, salah satu dari pembantu itu menjerit kaget karena tidak menyangka melihat ada seorang anak dalam kereta itu.

Ropita yang mendengar jeritan kecil tersebut melepaskan pelukan suaminya dan memandang kepada pembantunya dengan kerutan di dahi.

“ Ada apa, Upik?’ Tanya Ropita.

“Maaf nyonya, di dalam kereta ada seorang anak kecil, saya jadi kaget,”sahut Upik.

Ropita berbalik menatap suaminya dengan bingung, sang suami terlihat tersenyum melihat sang isteri.

“Kanda, sia awak bawok kamari (siapa kamu bawa kemari) ?” Tanya Ropita.

“Ropita, kanda ingin dinda berkenalan dengan muridku, dia anak yang sangat special sekali. Kanda jatuh sayang padanya ketika pertama kali melihat dia, kanda harap dinda juga menyukainya seperti kanda menyukainya.”

Basri tidak menceritakan keadaan Saiful kepada Ropita, dia ingin sang isteri mengetahui sendiri kondisi anak itu. Tapi Ropita mulai punya perasaan tidak suka, kalau memang anak itu menjadi murid suaminya kenapa anak itu tidak turun dan memberi hormat kepadanya. Dia ingin menyindir suaminya tentang etiket menghormati orang yang lebih tua yang harus diajarkan kepada muridnya itu, tapi belum sempat dia bicara suaminya sudah melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kereta di mana anak itu berada dan naik ke dalamnya.

Karena penasaran Ropita mengikuti suaminya untuk melihat murid suaminya itu, ketika suaminya keluar sambil menggendong seorang bocah laki-laki yang sedang tertidur, dia merasa tidak senang karena dia menganggap anak yang tidak punya sopan santun. Sudah sampai di tempat bukannya bangun tapi malah masih tertidur dengan enaknya, yang mengherankan adalah suaminya menggendong anak itu dengan hati-hati sekali dan memegang punggungnya dengan lembut sekali seakan takut anak itu akan terluka. Tatapan mata suaminya terkandung rasa sayang yang mendalam, dia belum pernah melihat suaminya mempunyai pandangan yang lembut seperti ini sebelumnya kepada anak-anak siapapun, walaupun dia tahu suaminya sangat merindukan untuk memiliki anak.

Dan suaminya suka sekali kalau rumahnya kedatangan anak-anak kecil bermain, begitu banyak kemenakan yang dimiliki suaminya dari saudara-saudaranya tapi dia belum pernah sekalipun melihat suaminya mempunyai pandangan mata selembut terhadap anak yang ada digendongannya itu. Ini membangkitkan perasaan tidak enak dalam hatinya seperti perasaan cemburu karena selama ini suaminya hanya menatap dia dengan kelembutan seperti itu tapi kini dia mempunyai saingan seorang bocah. Ingin sekali dia melihat wajah anak itu tapi dia belum bisa melihat karena wajahnya tertutup rambut dan leher suaminya. Suaminya berjalan dengan cepat tapi tidak menggoyangkan tubuhnya seakan takut anak itu akan bangun akibat gerakan tubuhnya kala berjalan.

Melihat hal ini semakin heran dan tidak enak perasaan Ropita akan kelakuan suaminya, karena itu dia mengikuti sang suami ke arah kamar yang sudah diminta suaminya melalui merpati pos untuk disiapkan. Ropita yang telah terbiasa dengan tamu-tamu suaminya yang sering datang ke rumah mereka sempat terheran dengan isi surat dari suaminya, yang meminta kamar di sebelah kamar mereka untuk dibersihkan dan disiapkan menerima tamu. Biasanya teman-teman dekat saja yang bisa menginap di rumah utama mereka, tapi mereka tidak pernah tidur di sebelah kamar utama. Tadinya Ropita berpikir saudara angkat suaminya yang datang menginap di rumah, sehingga harus menyiapkan kamar di rumah utama, tapi yang mengherankan kenapa harus kamar di sebelah kamar mereka.

Kamar itu tidak pernah digunakan oleh siapapun karena tadinya disiapkan Basri untuk anak mereka sebelum dia tahu bahwa dia tidak bisa mempunyai anak. Jadi untuk menjaga perasaan sang suami, kamar itu tidak pernah digunakan karena dia pernah melihat suaminya memasuki kamar itu tengah malam dan berdiri merenung di tengah kamar. Sejak itu kamar tersebut tertutup bagi siapapun, kecuali suaminya, seolah kamar itu merupakan ruang meditasi suaminya. Sekarang suaminya minta kamar tersebut dibersihkan dan dirapikan ternyata untuk menyambut muridnya.

Mereka dengan diam terus berjalan menuju kamar itu, begitu pintu kamar dibuka tercium bau wangi yang segar memenuhi ruangan kamar itu, terlihat tempat tidur dialasi dengan kain lembut berwarna biru langit senada dengan kelambu yang melingkari tempat tidur itu, sesuai dengan permintaan suaminya. Dengan sebelah tangannya, Basri membuka jendela yang ada di samping ranjang sinar terang memasuki kamar, tapi sinar matahari tidak menyengat masuk kamar karena posisi kamar berada di selatan jadi baik matahari terbit maupun matahari terbenam tidak akan menyorot ke dalam kamar ini.

Setelah itu dengan hati-hati Basri membungkukan badannya untuk meletakan Saiful di tempat tidur, Ropita yang berada di belakang suaminya belum bisa melihat wajah anak itu. Basri yang tahu rasa penasaran isterinya bertanya-tanya dalam hati bagaimana wajah isterinya jika melihat wajah hancur anak ini akibat pukulan ayahnya. Dia tahu hati lembut sang isteri melihat kemalangan orang lain, walaupun terlihat di permukaan isterinya seorang perempuan yang keras. Kini dia ingin tahu apa yang akan terjadi pada isterinya saat melihat keadaan Saiful, pelan-pelan dia menegakkan tubuhnya dan bergeser ke samping untuk memberi kesempatan kepada isterinya melihat wajah muridnya.

Ropita yang sudah sangat penasaran buru-buru bergerak ke depan untuk melihat jelas wajah murid suaminya. Begitu dia melihat dia langsung berteriak kaget dan terpukul sekali melihat wajah bocah itu, dia melihat wajah yang membengkak dan biru keunguan di hampir semua kulit wajah anak itu. Dia tahu ini bukan karena jatuh maka wajah anak itu seperti ini, dengan gemetaran tangannya menyentuh lembut wajah yang membengkak membiru itu. Hatinya miris sekali dan matanya langsung berkaca-kaca melihat keadaan anak ini. Dengan membisu dia memalingkan wajahnya ke arah suaminya, pandangan matanya menanyakan apa yang terjadi pada anak ini.

Suaminya melihat wajah sang isteri yang pucat sekali dan mata yang berkaca-kaca itu mengetahui bagaimana perasaan isterinya karena itu pula perasaannya saat pertama kali melihat keadaan Saiful. Ditariknya tangan sang isteri untuk duduk di dekat meja yang ada di tengah ruangan, dia ingin menceritakan kisah Saiful dalam posisi duduk karena dia merasa lemas setiap kali mengingat pagi saat dia mau membawa anak itu. Mulailah dia bercerita dengan diawali dari mimpi Bumi dan permintaan sesepuh untuk dia menerima murid, dilanjutkan dengan perkenalannya dengan Saiful dan berakhir dengan pemukulan orang tuanya.

Mendengar kisah Saiful, Ropita menangis pilu dan mengepalkan tangannya erat-erat, ingin sekali dia menghajar kedua orang tua Saiful sampai minta ampun. Hatinya yang tadinya tidak senang kepada Saiful kini berbalik menjadi iba dan terbitlah perasaan sayangnya kepada bocah malang ini. Dengan saputangan pemberian suaminya, Ropita menghapus air matanya yang berderai dan hidungnya yang meler. Pelan-pelan dia bangkit dan mendekati bocah malang itu, dia menatap bocah itu berlama-lama seakan ingin mencari tahu bagaimana wajah anak itu kalau tidak bengkak dan membiru seperti ini.

Kemudian dia tersadar anak itu pasti kotor dan belum menukar bajunya akibat perjalanan mereka. Buru-buru dia berbalik ingin menyuruh pembantunya membeli baju untuk anak ini, tapi sang suami yang sudah tahu isi hati isteri sudah terdahulu menyuruh pembantu mengambil buntalan berisikan baju Saiful yang dia beli sebelum dia pergi dari Batang Kapeh serta membawa air untuk melap debu yang melengkat di tubuh bocah itu. Di meja sudah tersedia semua kebutuhan isterinya, Ropita yang menatap barang yang ada di meja tersenyum kepada sang suami.

Dengan bantuan sang suami, dia menarik meja tersebut mendekati ranjang supaya memudahkan dia melap tubuh dan menukar baju bocah malang ini. Basri yang mengerti perasaan Ropita berusaha menyampaikan kondisi Saiful dengan hati-hati takut isterinya kaget sekali.

“Dinda, selesai awak melap tubuh Saiful tolong oleskan obat-obat ini di wajah dan tubuhnya yah.”

Ropita yang mendengar perkataan suaminya terkejut sekali, karena tadinya dia berpikir bahwa orang tua anak ini hanya memukuli wajah saja tapi mendengar suara suaminya dan tatapannya, dia tahu dugaannya salah. Tangannya menjadi tambah gemetar ketika mau membuka baju Saiful, untuk dilap, setelah membuka kancing bajunya, dia mendudukan anak itu menyandarkan ke tubuhnya pelan-pelan melepaskan bajunya. Ketika dia melihat punggung anak itu dia tersirap dan terbelalak kaget, saat mendorong tubuh anak ini menjauh dari tubuhnya dia melihat bekas luka-luka dan luka-luka baru yang bertebaran di seluruh tubuh anak itu baik di punggung maupun tubuh depannya bahkan sampai di kedua tangannya.

Langsung air matanya jatuh berderai-derai, mulutnya gemetar menahan isakan melihat penderitaan bocah kecil ini. Dia memeluk anak ini dengan lembut takut melukainya, kini dia mengerti kenapa suaminya memperlakukan bocah ini dengan lembut. Sekujur tubuh kecil dan rapuh itu penuh dengan luka, hatinya terasa sakit sekali menahan kemarahan dan kepedihan akan penderitaan anak sekecil ini. Dengan lembut dia meletakan kembali anak itu ke tempat tidur dan mulai melap tubuh anak ini dengan hati-hati takut menyakitinya. Setelah selesai melap seluruh tubuhnya, dia menarik celana panjang bocah itu, kembali terpampang luka-luka baru dan bekasnya yang memenuhi kaki kurus itu.

Air mata tidak berhenti jatuh di wajahnya setiap melihat luka-luka itu, mata dan hidungnya sudah berwarna merah, tangan suaminya di pundak menepuk-nepuk menenangkan hatinya. Tapi hatinya tetap tidak tenang, hatinya sakit sekali, hal ini membangkitkan perasaan keibuannya dengan kuat sekali, seperti induk ayam yang melindungi anaknya. Dia berjanji dalam hati selama anak ini berada di bawah perlindungannya jangan harap ada yang boleh memukulnya, kalau sampai terjadi dia akan menghajar orang itu tanpa ampun.

Selesai melap, dengan lembut dia mengoles obat ke seluruh luka yang ada di wajah, tubuh, punggung, tangan dan kaki Saiful. Untung bocah itu dalam kondisi tertidur kalau dia bangun pasti akan meringis kesakitan akibat obat yang dioleskan pada luka sekujur tubuhnya. Obat Siti sangat mujarab karena Saiful tidak demam selama dalam perjalanan, bahkan perlahan-lahan warna biru dan bengkak Saiful berkurang banyak. Basri tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan isterinya pada saat pertama kali melihat keadaan Saiful yang berdarah-darah di seluruh wajahnya akibat pukulan bapaknya. Mungkin saat itu langsung akan dibunuhnya laki-laki itu tanpa penyesalan sedikitpun.

Seiring dengan memakaikan baju kepada bocah malang ini semakin meningkatkan perasaan sayang Ropita. Sesudah selesai merawat dan memakaikan bajunya, Ropita masih tetap duduk di kursi di samping ranjang dengan diam membisu menatap anak itu. Suasana dalam ruangan itu sunyi, Basri juga tidak ingin membuka percakapan dengan isterinya yang terlihat larut dalam pikirannya. Dia sendiri juga merasakan apa yang dirasakan oleh isterinya, di saat mereka berdua melamun sambil menatap Saiful, tiba-tiba bocah itu membuka matanya dan langsung menatap ke mata Ropita. Tatapan mata yang sendu dan bingung itu terasa menghunjam jantung Ropita, ternyata anak ini mempunyai bentuk mata yang indah sekali.

Saiful yang terbangun melihat seorang wanita cantik sedang menatapnya dengan air mata yang menetas di pipi menjadi kebingungan. Dia dapat merasakan aliran kasih sayang yang mendalam dari wanita cantik itu kepadanya, hal ini pernah dia rasakan ketika dia digendong oleh gurunya. Mengingat akan gurunya buru-buru matanya bergerak ke sekeliling ruangan, dan dia melihat gurunya berdiri di belakang wanita cantik itu sedang menatapnya dengan lembut dan mulut tersenyum gembira. Dia merasa senang melihat gurunya ada di sana , matanya terlihat memancarkan kerlip senang walau itu tidak merubah tatapan sendunya. Biarpun dia merupakan anak yang hidup dalam penderitaan tapi dia juga seorang anak yang sangat cerdas, dia dapat menduga wanita cantik yang menatapnya dengan penuh kasih sayang itu adalah isteri gurunya.

Dia mengalihkan pandangan matanya kepada wanita cantik itu, perasaan tenang dan bahagia terasa mengalir di tubuhnya, ketika membalas tatapan wanita itu. Mengingat sopan santun yang diajarkan teman-temannya kepadanya, perlahan dia membuka suara untuk menyampaikan salam kepada guru dan isteri gurunya, dia berusaha menggerakan tangannya untuk menggapai tangan isteri gurunya untuk dicium sebagai tanda hormat. Tapi dia tidak mampu menggerakan tangannya seakan tangannya berat sekali, Ropita yang menyadari apa yang hendak dilakukan anak ini menjadi terharu dan air mata kembali berderai di pipinya yang mulus itu.

“Sudah sayang, tidak perlu kamu menggerakan tanganmu, tunggu sembuh dulu yah,” kata Ropita dengan suara serak kebanyakan menangis.

Saiful yang selama hidupnya tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya merasa mendapat limpahan kebahagiaan dalam hatinya walau di wajahnya hal itu tidak tercermin tapi kerlip senang terlihat di mata sendu itu. Ropita yang mulai mengenal ciri-ciri pribadi anak itu mengetahui hal ini, dia juga merasa senang karena anak ini bisa menerima dirinya. Anak ini menatapnya terus bergantian dengan suaminya seakan tidak ingin mereka pergi meninggalkannya. Hati kedua suami isteri ini bercampur aduk, ada perasaan senang, ada perasaan pedih, ada perasaan bahagia kini mereka mempunyai anak yang mereka bisa urus, ada perasaan sakit setiap membayangkan penderitaan anak ini.

Perlahan jari tangan Ropita membelai wajah yang sembab membiru itu, Saiful membiarkan tangan itu mengelus wajahnya dan bisa merasakan kesejukan yang mengaliri hatinya. Tidak terasa setitik air mata bergulir dari kedua sudut matanya, walau mata itu tetap menatap sendu tapi Ropita sudah tidak melihat kesedihan yang dalam seperti pertama kali anak itu menatapnya.

“Ipul, kamu lapar ndak? Kan sudah seharian kamu tidak makan,” Tanya Basri.

Malu-malu bocah itu menganggukkan kepalanya tanda dia memang lapar, melihat itu buru-buru Ropita berdiri dan berjalan keluar menuju dapur untuk membuatkan bubur dan sup agar bisa dimakan Saiful. Dia tahu bocah itu masih susah untuk makan nasi dengan bibir yang menebal dan ada luka di sekitar bibir dalamnya kena giginya akibat gamparan keras ayahnya, jadi pasti akan terasa menyakitkan bila makan makanan yang keras.

Sementara itu Basri menemani Saiful di kamar dengan bercerita kisah perjalanan hidupnya sambil menunggu isterinya mengambilkan makanan. Saiful mendengarkannya dengan penuh perhatian, jika ada kejadian yang lucu dia berusaha tersenyum walau itu menyakitkan bagi dia menggerakan wajahnya, tapi dia berusaha menyenangkan hati gurunya. Basri bisa melihat anak itu menahan sakit setiap kali berusaha tersenyum tapi tidak dengar keluhan apapun dari bibir mungil itu, hatinya pilu sekali melihat hal itu tapi dia tidak menegur bocah itu karena dia tahu Saiful menikmati semua ceritanya.

Basri jarang sekali mau menceritakan kisah hidupnya kepada siapapun, biasanya orang lain yang lebih suka berbicara tentang diri mereka kepadanya. Kini dengan hanya melihat kerlipan indah di mata sendu itu mengalirlah semua kenangan yang pernah dia jalani selama hidupnya. Mungkin karena cerita Basri yang sangat seru membuat Saiful bisa bertahan melawan lapar yang sudah menyerang perutnya. Akhirnya tidak tertahan juga perut Saiful berbunyi nyaring minta diisi, bocah ini merasa malu sekali dengan gurunya. Mendengar bunyi dari perut Saiful, Basri tertawa terbahak-bahak apalagi dia tahu anak itu malu sekali terlihat dari perubahan warna kulit wajahnya yang tadinya biru keungu-unguan sekarang semakin menggelap warnanya.

“Sabar yah nak, ibu sedang ambil makanan di dapur buat kamu,” kata Basri sambil membelai rambut hitam lebat milik Saiful.

Dia sengaja menyebutkan dirinya dengan panggilan bapak dan isterinya dengan panggilan ibu, karena dia ingin membiasakan Saiful memanggil mereka dengan panggilan tersebut. Basri tidak ingin anak itu memanggil dia guru dan isterinya ibu guru, karena dia menginginkan Saiful menjadi anaknya sehingga panggilan itu terasa lebih nyaman bagi dia.

Tidak lama masuklah isterinya dengan membawa senampan makanan penuh untuk suami dan bocah yang sudah merebut hatinya itu. Setelah meletakan makanan di meja yang masih berada di samping ranjang, Ropita duduk di samping Saiful dengan perlahan-lahan membantu anak itu bangun untuk duduk. Dia tahu penderitaan anak itu untuk berusaha duduk, pasti seluruh tubuhnya berdenyut kesakitan saat dia menggerakan tubuhnya dan menduduki bekas pukulan yang ada di pantatnya. Hebatnya tidak keluar suara keluhan apapun dari mulut mungil tertutup rapat itu, bahkan di wajahnyapun tidak tergambar kesakitan yang dia rasakan. Tapi jika memperhatikan dengan seksama maka ada siratan kesakitan dalam mata sendu itu, dalam hati Ropita bertanya-tanya penderitaan seperti apa yang dialami anak ini sehingga rasa sakit saja tidak bisa dia ungkapkan keluar.

Hati Ropita seperti diiris-iris membayangkan bocah berusia 6 tahun harus menanggung penderitaan seperti ini. Dia berjanji mulai saat ini tidak ada seorangpun yang boleh menyakiti Saiful, kalau tidak akan berhadapan dengannya langsung dan dia tidak akan segan-segan menghabisi nyawa orang yang berani menyakiti anaknya. Iya, Saiful mulai sekarang adalah anak dia dan Basri, dia yakin sang suami pasti setuju dengan usulan dia untuk mengangkat Saiful sebagai anak mereka. Dia akan membicarakan masalah ini dengan suaminya nanti malam, sekarang yang terpenting mengisi perut anaknya yang sudah lapar.

Ropita menyadarkan tubuh Saiful pada bantal-bantalan yang ditegakan di belakang punggungnya. Mata sendu bocah itu menatapnya dengan lekat-lekat seperti ingin mengukir wajah dia dan Basri di dalam hatinya. Pelan-pelan Ropita menyuapi Saiful untuk makan, setiap dia melihat kejaban mata tanda kesakitan dari anak itu, hatinya terasa sesak sekali bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Basripun mengalami hal yang sama, berkali-kali dia menghela nafas panjang untuk mententramkan gejolak kesedihan di hatinya. Dia tidak bisa makan makanan yang telah disediakan isterinya di meja setiap melihat Saiful berusaha menelan makanannya.

Biarpun masih bocah kecil tapi Saiful sudah dimatangkan oleh penderitaan sehingga ketika ada sepasang suami isteri yang begitu hangat dan penuh kasih sayang kepadanya, dia seperti sebuah spon yang menyerap air itu terus menerus. Dia ingin sekali membahagiakan kedua orang yang baik hati ini dan berjanji dalam hati, budi kebaikan ini akan selalu dia ingat dan berusaha membalasnya dengan segenap jiwa raganya. Melihat wanita cantik itu meneteskan air mata untuknya dia merasa terharu sekali, dengan susah payah dia berusaha menggerakan kedua tangannya untuk mengusap butir-butir air mata yang mengalir di pipi yang mulus itu.

Usahanya berhasil menghapus air mata di pipi itu, dengan suara yang begitu lirih sekali dia berkata kepada Ropita, “Ibu, jangan menangis lagi, sakit dadaku melihat ibu menangis.”

Jika mereka bukan sepasang pendekar yang hebat dan sudah terlatih pendengarannya mungkin mereka tidak akan bisa mendengar suara lirih yang keluar dari bibir mungil itu. Mendengar perkataan itu Ropita tambah keras tangisnya dan memeluk tubuh ringkih itu erat-erat, tersentuh perasaan keibuannya dengan perkataan Saiful itu. Basri juga tersentuh sekali dengan kehalusan jiwa Saiful, dia tahu isterinya tidak akan pernah melepaskan Saiful pergi jauh-jauh dari sisinya, entah bagaimana nanti kelak bila saatnya Saiful akan dibawa pergi oleh gurunya yang lain. Dia juga tidak berani membayangkan bagaimana perasaannya ketika Saiful dibawa pergi oleh guru barunya, yang penting saat sekarang ini dia berdua isterinya akan merawat dan menjaga Saiful dengan sebaik-baiknya.

Sejak hari itu Saiful menjadi salah satu penghuni rumah besar milik Basri dan Ropita, ternyata benar dugaan Basri, anak ini mempunyai kehalusan budi pekerti dan pribadi lembut yang sangat menunjang dia untuk disayang oleh semua penghuni rumah. Setiap orang menatap mata sendu itu terutama wanita rasanya ingin melakukan apapun agar mata itu tidak berselimutkan kesedihan yang dalam. Semakin hari seiring dengan kesembuhannya, berkat perawatan Basri dan isterinya beserta seluruh penghuni rumah, wajah dan tubuh Saiful semakin pulih seperti sedia kala. Mereka terkagum-kagum melihat di bawah wajah yang membengkak mengerikan itu tersimpan seraut wajah yang tampan sekali walau si pemilik jarang tersenyum tapi sorotan sendu yang lembut darinya membuat semua orang tahu isi hatinya yang sedang senang.

Selama hampir 3 bulan dia tinggal di rumah besar itu hanya sekali sepasang suami isteri itu melihat dia tertawa terbahak-bahak ketika dia mendengar cerita bagaimana Basri dikerjain oleh Ropita saat mereka muda dulu. Ternyata suara tertawanya sangat merdu sekali mengalun seindah tatapan matanya yang berbinar bahagia. Memang yang baru mampu membuat dia tertawa hanya Basri dan Ropita saja, sedangkan penghuni yang lain baru bisa mengundang senyumnya saja. Para pembantu dan pegawal rumah itu sudah mendengar kisah anak angkat sekaligus murid majikan mereka dari para kusir yang datang menemani sang majikan pulang ketika itu. Jadi mereka sudah punya perasaan kasihan dan iba terhadap nasib anak yang malang ini, mereka berusaha untuk membuat anak itu betah tinggal di rumah besar ini.

Mereka memanggil dia tuan muda, tapi dia bersikeras meminta mereka memanggil dia dengan nama Ipul, tapi mana mungkin mereka mendengar permintaannya. Anak ini ringan tangan, dan senang membantu siapa saja walau jarang bicara tapi dia suka mendengarkan siapa saja bercerita dengan tatapan mata yang begitu semangat. Semua penghuni rumah dipanggilnya dengan rasa hormat, dari pembantu rumah tangga sampai pengawal sehingga mereka semakin jatuh sayang dan diam-diam menghormati tuan muda mereka ini.

Di suatu senja Basri memanggil Saiful dan isterinya untuk duduk-duduk di teras tingkat dua rumah mereka sambil memandang matahari yang hampir tenggelam. Basri melihat Ropita selalu mendudukan Saiful di tengah-tengah antara mereka berdua, lalu mereka berdua akan berbisik-bisik seru walau kebanyakan Ropita yang berbisik tapi tidak mengurangi keseruan bisik-bisik mereka. Dan dia melihat pancaran kebahagiaan dari dua orang yang dia sayangi ini, sekali-kali dia melihat Saiful memeluk Ropita dengan erat sekali dan pernah dia melihat anak itu mencium pipi isterinya. Melihat hal-hal ini dia hanya bisa tertawa puas karena mendapat murid yang cocok dengan isterinya dan penghuni lain. Sebenarnya juga dia senang sekali karena Saiful sangat mencocoki hatinya juga, anak itu tidak pernah menerima perkataan dia begitu saja, jika dia tidak mengerti maka Basri bisa membaca pertanyaan dari mata dan wajahnya. Ekspersi mata dan wajah Saiful hanya terlihat jika dia menginginkan mereka melihatnya, bila dia tidak ingin memperlihatkan maka tiada orang yang bisa membacanya.

Wajah tampan itu begitu dingin tapi diperlembut dengan sepasang mata indah nan sendu, sering membuat Basri berpikir bagaimana jika dia besar kelak berapa banyak gadis yang akan jatuh bangun karenanya. Sekarang saja semua wanita penghuni rumah ini sangat memujanya, apapun yang dikehendaki akan mereka lakukan dengan cepat dan senang hati. Untungnya anak ini tahu diri tidak termanjakan dengan keadaan lingkungan yang begitu siap menolongnya setiap saat mengingat latar belakangnya. Basri sendiripun harus mengakui dia sendiri selalu ingin memanjakan bocah tampan ini dengan memberikan mainan yang mahal dan bagus, tapi pernah sekali waktu Saiful dengan takut-takut bicara padanya mengatakan untuk tidak terlalu memanjakannya karena dia takut lupa diri dan menjadi takabur.

Mendengar pemintaan seperti itu Basri semakin sayang pada Saiful, dia tahu dia tidak salah memilih Saiful sebagai muridnya. Ternyata tidak hanya pada Basri, Saiful mengatakan hal serupa kepada isterinya untuk tidak membelikan dia banyak baju yang mewah dan mahal serta perhiasan untuk dipakainya. Dia sudah merasa cukup kaya dengan kasih sayang dan kehangatan dari mereka berdua, kata-kata bijak yang keluar dari seorang bocah yang penuh penderitaan hidupnya sungguh meluluhkan hati bagi si pendengarnya. Memang penderitaan yang dideritanya sejak kecil membuat dia dewasa sebelum waktunya, bayangkan anak yang berusia 6 tahun yang kenyang akan siksaan dari orang terdekatnya sudah bisa menahan dirinya dari nafsu ketamakan dan selalu bersyukur atas apapun yang diterimanya sungguh bocah yang sangat istimewa sekali.

Tapi kadang-kadang Basri dan Ropita melihat bocah itu menatap langit dengan tatapan sendu berselimutkan kepedihan seakan ingin mengadu kepada bintang-bintang semua kepedihan hatinya yang tersimpan rapi di lubuk hatinya yang paling dalam. Mereka berdua tidak berhasil mengorek apa penyebab kesedihan yang tercermin di mata itu, akhirnya mereka hanya bisa menghibur bocah itu dengan kasih sayang yang mereka miliki.

Memasuki bulan keempat Saiful tinggal bersama mereka, Basri mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada muridnya itu, di bawah pengawasan isterinya, dari pagi sampai malam anak itu tidak ada lelahnya berlatih. Kadang-kadang Basri suka pergi ke daerah-daerah untuk mengecek usahanya, dan saat dia pulang dia terkejut sekali dengan kemajuan dari Saiful. Yang tidak dia sadari adalah berkat campuran buah Lembah Setan dan obat racikan Siti membuat Saiful bisa melakukan gerakan-gerakan yang sulit penuh tenaga terasa lebih mudah. Ditambah dengan kecerdasannya yang memang di atas rata-rata membuat kemajuan Saiful sangat pesat sekali.

Dalam kurun waktu 3 bulan setelah kesembuhannya, Saiful sudah bisa meniru semua gerakan silat dasar yang diajarkannya bahkan jurus silat dasar dari isterinya juga mampu dilakukannya dengan sempurna, hanya sayang tenaga dalamnya belum memadai untuk disalurkan di setiap pukulannya. Tapi kemajuan ini sangat menyenangkan hati Basri dan isterinya, mereka tambah semangat mengajarinya. Basri juga tidak melupakan wejangan dari Datuak Inyiak Balang untuk melatih ilmunya lagi dan mencari buku pemberian gurunya dulu di perpustakaan keluarga yang berisikan ilmu Mato Alang (Elang) Jelajah Alam yang sangat hebat untuk melawan bangsa kegelapan.

Perlahan-lahan anak harimau yang terluka itu pulih fisiknya seperti sedia kala, tapi luka batin yang tertoreh dalam belum bisa hilang begitu saja hanya sekarang seperti tersimpan di suatu tempat yang gelap di sudut ruang yang paling dalam dirinya. Basri dan Ropita hanya bisa mengobati luka yang kelihatan di permukaan saja, tanpa seijin yang punya luka merekapun tidak dapat berbuat apa-apa. Saiful menjalani hidupnya dengan tenang dan damai bersama guru sekaligus ayah dan ibu angkatnya, mata sendunya lebih terlihat bercahaya dibandingkan sebelumnya, tapi jika dia bersama mereka atau penghuni lain di rumah besar itu. Jika dia sendirian tetap saja mata sendu itu berselimutkan kesedihan yang dalam sekali yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang berperasaan halus saja.

Di suatu tempat tersembunyi bahaya mengintai ketentraman rumah besar ini, hanya menunggu kesempatan saja untuk menghancurkan seluruh penghuninya.

Posted by sieklie at 16:26:46 | Permalink | No Comments »