Masnan datang ke nagari Batang Kapeh menggunakan kuda kesayangannya si Tunggul Item yang merupakan keturunan kuda yang hebat sekali anak dari kuda kesayangan raja yaitu kuda Petir Biru yang berasal dari negeri seberang, hadiah upeti dari saudagar negeri Tar-tar. Kuda yang sangat elok sekali dan mempunyai daya tahan tubuh yang hebat sekali bisa berlari terus menerus selama 2 hari tanpa makan dan minum dengan kecepatan yang tetap stabil.
Karena ingin cepat sampai di rumah, maka Masnan mengajak Burhan untuk naik kuda bersamanya. Burhan yang tidak pernah naik kuda sebelumnya, dalam hati merasa takut melihat kuda besar berbadan hitam pekat ini. Bagi dia, kuda ini terlihat tinggi dan besar sekali, tapi dia memang anak yang spesial sekali ketakutannya tidak diperlihatkannya di depan orang-orang dengan menggertakan giginya dia berusaha mengatasi rasa takutnya itu.
Ketika Masnan yang dari atas kuda mengulurkan tangannya kepada Burhan untuk mengangkat anak ini duduk di belakangnya, sempat Burhan ragu sejenak dan Masnan yang mengetahui ketakutan Burhan berusaha membujuk anak itu untuk tidak takut naik kuda ini. Dia tidak sempat mengajarkan kepada Burhan cara mendekatkan diri pada kuda ini, agar Burhan tidak takut lagi pada Tunggul Item. Akhirnya siaplah berangkat mereka berdua, setelah berpamitan dengan yang lain, segera Masnan memacu kudanya ke arah Barat menuju Pagaruyuang. Selama di perjalanan Burhan memeluk pinggang Masnan erat-erat karena selain dia takut pada kuda tersebut, dia juga takut jatuh. Belum pernah seumur hidupnya naik kuda, selama ini dia hanya tahu naik gerobak yang ditarik kuda saja tapi benar-benar naik kuda ini merupakan pengalaman pertama baginya. Pengalaman ini sangat tidak enak sekali, pantatnya sampai sakit duduk di atas kuda, dan punggungnya pegal sekali karena harus duduk tegak terus, tapi tidak pernah dimulutnya terdengar keluhan. Setelah setengah hari mereka berkuda, Masnan menghentikan kudanya untuk beristirahat, karena dia merasakan perut Burhan yang menempel di punggungnya berbunyi minta diisi, baru dia sadar dia tidak sendirian naik kuda tapi bersama seorang anak kecil yang tidak mempunyai daya tahan tubuh seperti dia. Dekat sebuah sungai, Masnan menghentikan kudanya untuk istirahat, dia membiarkan kudanya merumput dan minum air dari sungai tersebut, sementara itu Masnan membuka perbekalan untuk dimakan bersama Burhan. Sebenarnya Masnan sudah melihat wajah Burhan yang terlihat menahan sakit akibat menunggang kuda, tapi sengaja dia tidak menanyakan kepada anak itu karena dia melihat anak itu tidak mengeluarkan keluhan apapun atas penderitaannya. Dia jadi ingin menguji daya tahan ini sampai mana, Masnan tahu betapa sakit dan pegal-pegalnya semua urat di paha atas, punggung dan pantat anak itu belum ditambah teriknya matahari yang menyorot mereka, benar-benar penderitaan yang tidak mengenakkan sekali bagi seorang anak kecil seperti Burhan.
Setelah mereka memakan roti untuk mengganjal perut segera Masnan berdiri mengajak Burhan untuk melanjutkan perjalanan. Burhan yang belum pernah mengalami hal seperti ini, berusaha bangkit dari duduknya, langsung rasa sakit karena pegalnya menghajar paha dan pinggangnya, ingin dia berteriak tapi dengan keras hati dia mengunci rapat mulutnya. Dengan tertatih-tatih dia berjalan menghampiri Masnan yang sudah menunggu dia di dekat kuda mereka.
“Burhan, apa kamu kesakitan ?” tanya Masnan.
“Iya, paman.”sahut Burhan.
“Apa kita istirahat lagi sampai kamu memulihkan kondisi kamu?”
“Tidak perlu paman, aku masih bisa dan kuat untuk meneruskan perjalanan kita.”
“Kamu yakin?” tanya Masnan.
“Yakin, paman” dengan tegas Burhan menjawab pertanyaan Masnan. Sebenarnya Masnan tidak tega melihat penderitaan Burhan, tapi dia tidak ingin mempunyai murid cengeng dan dia juga tahu Burhan merupakan seorang anak yang tidak suka dikasihani, dia akan berusaha sekuatnya sampai titik darah penghabisan baru dia minta tolong. Segera Masnan dan Burhan melanjutkan perjalanan mereka, kuda terus berlari cepat dan semakin lama semakin cepat sehingga Burhan hanya melihat kelabatan daun-daun di sepanjang jalan saking kencangnya kuda terebut berlari. Kesakitan dan pegal yang dirasakan oleh Burhan tambah lama tambah parah tapi tetap dia tidak mengeluhkannya sedikitpun. Bagi dia, ini adalah sebuah ujian hidup yang harus dilalui dan dia mengeraskan hatinya untuk bisa melalui semua ini. Lama kelamaan dia merasa mengantuk sekali, akhirnya dia tertidur di punggung Masnan, dengan tidak mengendorkan pegangan tangan kanannya pada pelana kuda, Masnan menggunakan tangan kirinya untuk memegang tangan Burhan agar dia tidak jatuh akibat goncangan dari lari kudanya.
Menjelang tengah malam sampailah Masnan di pinggiran sebuah desa, dia megurangi kecepatan kudanya agar tidak menganggu penduduk desa tersebut. Pelan-pelan dia menjalankan kudanya, baru dia masuk masuk wilayah desa tersebut, tiba-tiba dia mendengar suara keributan di ujung desa sebelah sana, terdengar teriakan dan jeritan yang menyayat hati. Segera dia memacu kudanya menuju arah suara keributan tersebut, sementara itu Burhan sudah terbangun dari lelapnya, seluruh badanya terasa remuk sekali tapi tidak keluar keluhan dari mulutnya. Dia juga mendengar jeritan yang mengiriskan hati, jantungnya berdebar-debar kencang, dia mempererat pelukannya pada pinggang Masnan.
Masnan mengetahui ketakutan Burhan, tapi dia ingin mendidik muridnya itu untuk melihat di lapangan secara langsung situasi apa yang sedang terjadi dan bagaimana mengatasinya. Mereka sudah mendekati tempat asal jeritan tadi, pemandangan di situ benar-benar mengejutkan hati Masnan, di lapangan luas itu dia melihat ada beberapa laki-laki kasar sedang memperkosa wanita-wanita kampung secara terbuka seperti binatang saja, dan para laki-lakinya sedang diikat di tiang dan sedang dilecuti. DI sudut kanan terlihat beberapa mayat bergelimpangan, keadaan ini sungguh mengerikan sekali dan yang terlebih menjijikan lagi hal ini disaksikan oleh 3 orang laki-laki yang berbentuk aneh sedang duduk di tengah-tengah kekacauan ini sambil menikmati santapan ayam panggangnya dan minum tuak. Mereka seolah-olah melihat sebuah pertunjukan yang memang disajikan untuk menambah selera makan mereka Orang pertama yang dilihat Masnan dari ketiga orang ini, adalah yang sedang memegang paha ayam di tangan kiri dan di tangan kanan memegang dan meremas-remas kedua bukit seorang gadis, gadis itu sudah dalam kondisi menggenaskan sekali, rambut kusut masai, baju sudah sobek-sobek memperlihatkan bentuk tubuhnya yang memang aduhai, tapi pandangan mata gadis itu sudah kosong seperti orang mati walaupun dia belum mati. Dan orang yang memegangnya mempunyai bentuk wajah mengerikan penuh dengan codet dengan bibir yang tebal menjijikan dan mempunyai mata juling yang bergerak liar tidak menentu.
Sedangkan teman di sebelah kanannya telihat lebih mengerikan, hidungnya somplak sebagian, pipinya penuh dengan jerawat besar-besar dan bernanah yang dibiarkan oleh pemilik wajah tersebut meleleh membasahi mukanya. Benar-benar wajah yang memuakan sekali. Terakhir orang yang dilihat Masnan tidak memuakan dan mengerikan seperti kedua temannya, wajahnya biasa saja tapi sinar matanya kejam sekali dan senyumnya merindingkan bulu kuduk bagi yang melihatnya. Masnan menyesal membawa Burhan ke tempat itu, seharusnya dia meninggalkan bocah bersama kudanya di pinggiran desa sebelah sana, tapi karena keinginannya yang egois sehingga menyebabkan bocah yang masih kecil ini harus melihat pemandangan yang mengerikan seperti ini. Ketiga orang yang sedang makan itu cepat menolehkan kepalanya melihat siapa yang sedang mendekati tempat bersenang-senang mereka. Mereka melihat seorang pria gagah bersama dengan seorang bocah mendekati tempat mereka dengan tenang. Mereka tertarik sekali melihat pria, bocah dan kuda yang datang mendekat tersebut dengan pandangan yang tajam, mereka saling pandang satu dengan yang lain dan tiba-tiba mereka tertawa terbahak-bahak yang menggema di seluruh tempat itu. “Sakti, malam ini kau tidak lagi bakalan mengeluh karena kami dapat hiburan kesenangan sedangkan kau tidak, aku lihat kesukaanmu itu benar-benar pilihan tidak seperti bocah dusun tadi. Hahahahaa…” kata pria yang mempunyai hidung somplak itu kepada temannya.
“Belum tentu aku suka, karena aku belum lihat wajah dan bentuk tubuhnya dengan jelas.”kata pria yang bermata kejam tersebut dengan senyum-senyum.
Dalam hati dia senang sekali karena melihat calon mangsanya datang mendekat, dia yakin mangsanya kali ini jauh lebih baik dari tadi. Pria yang bernama Sakti ini mempunyai kelainan gila, sangat suka melakukan hubungan sex dengan bocah-bocah kecil baik itu laki-laki atau perempuan, tapi tidak sembarangan bocah juga, dia sangat pemilih dengan mangsanya, dia menyukai bocah yang berkulit bersih dan berbadan tegap serta berwajah bagus. Tadi dia sudah menyalurkan hasratnya kepada seorang bocah dusun, tapi anak tersebut tidak kuat menahan gelora gila Sakti, sehingga anak tersebut pingsan berkali-kali dan akhirnya mati dipukul kepalanya oleh Sakti yang kesal sekali melihat anak tersebut pingsan terus menerus, sedangkan dia menyukai sedang melakukan itu mangsanya harus menjerit-jerit kesakitan baru dia bisa mencapai kepuasannya. Benar-benar seorang sakit jiwanya (jaman sekarang disebut psikopat), dan terlebih menjijikan lagi dia suka melakukannya di depan teman dan anak buahnya seperti ingin memamerkan keperkasaannya. “Dan kau, Epen, aku lihat kau sudah mengeluarkan liur dari bibirmu melihat kuda hitam yang bagus itu. Malam ini kita benar-benar menikmati kesenangan…hahahahaha..”kata pria yang sedang memegang gadis kepada pria yang hidungnya somplak itu.
“Benar sekali, sudah lama sekali aku menginginkan mempunyai kuda yang sangat bagus, ternyata malam ini ada orang yang berbaik hati mengantarkannya untukku. Menurutmu Pinyak, hadiah apa yang harus kuberikan kepada pria yang sudah baik hati mengantarkan kesenangan buat aku dan Sakti…hahahaha” kata Epen kepada teman-temannya itu.
“Menurutku, karena sudah lama sekali tidak pernah menguji coba ilmu terakhir kita, Pukulan Trisula Kalajengking Merah, bagaimana kalau kita hadiahkan dia pukulan tersebut. Dia merupakan tamu kehormatan kita untuk merasakan pukulan tersebut, bagaimana menurut kalian?”
“Wah ide yang bagus sekali, aku sudah tidak sabar lagi ingin mencicipi kesukaanku itu,”kata Sakti dengan mata berbinar-binar setelah dia melihat Burhan dengan lebih dekat lagi. Dia menyukai yang dia lihat, sungguh bocah yang membuat hasratnya terbangun dengan dahsyatnya.
Bocah itu mempunyai wajah yang begitu gagah dan bentuk badan segitiga terbalik yang sangat proposional sekali. Benar-benar bocah pilihan sekali, dia juga melihat anak ini mempunyai tulang dan darah yang bersih, dia sangat menyukai mangsanya kali ini jarang sekali dia melihat bocah seperti ini. Dulu dia pernah mendapatkan mangsa seperti bocah ini, dan dia puas sekali karena bocah itu bisa kuat menahan gelora hasrat birahinya berhari-hari sebelum akhirnya anak itu mati dibunuhnya. Apalagi anak ini seharusnya lebih hebat lagi, dia merasa tertantang melihat sinar tajam dari bocah itu ketika memandang dia dan teman-temannya walaupun mukanya pucat pasi melihat situasi di sekitanya, benar-benar menggairahkan untuk ditaklukan. Pikiran yang kotor dan menjijikan bermain-main di benaknya, kalau saja Burhan atau Masnan tahu apa yang ada di benak orang gila ini mereka akan menggidik ngeri dan jijik sekali.
Masnan yang mendengar pembicaraan mereka dan melihat keadaan ini menjadi sangat murka, dia tahu maksud hati orang yang bernama Sakti itu, dia mengincar Burhan untuk menjadi korban kepuasannya. Membayangkannya sungguh sangat menjijikan sekali, Masnan ingin sekali meremukan kepala mereka segera, tapi dia tahu diri dengan keadaan di sekitarnya apalagi dia harus melindungi Burhan. Dia pernah mendengar Pukulan Trisula Kalajengking Merah, pukulan ini dimiliki oleh pimpinan perkumpulan Kalajengking Merah yang dikenal di dunia persilatan dengan julukan 3 Iblis Darah Gila. Perkumpulan ini sudah lama sekali ingin dibasmi oleh pasukan kerajaan maupun orang-orang dari dunia persilatan tapi selalu saja mereka dapat meloloskan diri. Mereka merupakan perampok yang terkenal dengan kekejamannya, korban mereka selalu diperkosa dulu sebelum dibunuh baik itu wanita maupun anak kecil sedangkan laki-laki dewasa suka disiksa dengan racun mereka, Racun Kalajengking Merah. Ilmu silat ketiga pimpinan perkumpulan ini sangat tinggi apalagi jika mereka menggabungkan diri membentuk barisan trisula, jarang orang yang bisa menandingi ilmu mereka. Oleh karena itu mereka sangat sombong sekali, seolah-olah tidak takut melakukan kekejaman di tempat umum. Sudah banyak korban mereka diantaranya ada keluarga bangsawan, keluarga pesilat kenamaan, dan orang-orang kaya daerah. Mereka pernah menyatroni Basri di rumahnya tapi kebetulan saat itu kedua mertua Basri sedang datang berkunjung sehingga mereka dapat dikalahkan walau akhirnya mereka dapat meloloskan diri dalam keadaan luka parah. Peristiwa itu membuat nama mereka hilang dari dunia persilatan, tapi sepertinya sekarang mereka mulai muncul kembali setelah hampir 5 tahun tidak kedengaran lagi namanya.Kini Masnan harus menghadapi mereka seorang diri, dia merasa kuatir juga karena harus melindungi Burhan, tadi diam-diam dia sudah melepaskan panah ke angkasa untuk memanggil bantuan dari pasukan kerajaan. Dia berharap jika pasukan itu datang dia bisa meminta mereka melarikan Burhan sehingga dia bisa berkelahi dengan tenang tanpa memikirkan keselamatan Burhan lagi dan dia bisa menangkap dedengkot perkumpulan yang sudah mengganggu ketentraman masyarakat. Burhan yang memang bocah polos dan selalu hidup sederhana, tidak pernah menyangka bahwa di luar lingkungannya ada hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dia melihat semua kejadian di tempat itu dengan bingung dan merasa aneh dengan semua tingkah laku orang-orang yang ada di sana. Matanya menatap tajam sekitarnya dan keningnya berkerut tanda tidak mengerti, tapi nalurinya mengatakan bahwa semua yang terjadi tersebut merupakan hal yang salah tidak sesuai dengan semua ajaran kebaikan yang dia terima selama ini. Ketika matanya beradu pandang dengan salah satu pria yang ada di dekat api unggun itu, dia merasa semua bulu kuduknya berdiri dan perasaan ngeri seakan menyelimuti dirinya, otomatis dia bergerak berlindung di belakang Masnan dengan memegang jubah panjangnya. Belum pernah sepanjang hidupnya Burhan merasakan kengerian seperti ini, dia merasa orang itu menatap dia seakan ingin menelannya terlihat jakun orang itu turun naik seakan setiap saat akan melahapnya.
Tapi walaupun begitu bocah inipun bukan bocah sembarangan, dia merupakan bocah pilihan untuk mengatasi sang angkara murka, wajahnya tetap tenang dan sinar matanya tetap tajam menatap semua yang terjadi. Di wajahnya tidak ada guratan takut, kuatir atau apapun, seolah tenang dan teduh saja, hanya Masnan yang tahu betapa ketakutannya anak ini, dia merasakan tubuh anak ini gemetar dan tangannya mencengkram erat jubahnya serta jantungnya berdebar keras di kakinya. Sempat Masnan menoleh untuk memberikan ketenangan pada anak ini, tapi begitu melihat wajahnya yang tenang tidak mencerminkan ketakutannya sama sekali, Masnan dibuat kagum sekali, inilah wajah yang akan bisa menipu orang di meja judi tanpa orang tahu dia sudah menipu. Dia melihat 3 orang yang ada di api unggun itu memancarkan sinar kekaguman yang sama dengannya ketika melihat wajah tenang Burhan.
Dalam hati ketiga orang itu langsung punya dugaan bocah ini pasti didikan orang hebat, dan pria yang bersamanya pasti juga orang hebat karena mereka melihat gerakan yang mantap dari pria itu dan wajah yang dingin memandang mereka dengan mata yang tajam memiriskan hati. Mereka tahu mereka berhadapan dengan orang yang berilmu tinggi juga, karena itu mereka harus hati-hati dan tidak boleh salah langkah, sekali salah nyawa taruhannya. Mereka sudah melihat nyawa mereka menjadi taruhan dalam penyelesaian mereka dengan pria gagah itu. Tapi mereka tidak takut selain ilmu mereka sudah meningkat secara personal dibandingkan dulu dan mereka juga menyempurnakan ilmu pukulan mereka dengan bimbingan guru baru mereka yang sangat mumpuni itu. Desa ini merupakan korban kedua setelah lama mereka menyembunyikan diri untuk menyembuhkan diri dan berlatih meningkatkan ilmu silat mereka. Dendam mereka kepada suami isteri Pendekar dari Bukit Naga selalu membara, semua cacat yang ada di tubuh mereka merupakan hasil karya sepasang pendekar ini tapi mereka tahu mereka belum bisa menandingi pasangan pendekar itu bahkan dengan ilmu andalan mereka yang terbarupun masih belum mampu menandingi gabungan ilmu kedua pendekar itu. Oleh karenanya mereka harus mempunyai rencana yang matang agar bisa menghancurkan musuh mereka itu kalau perlu menggunakan cara licik supaya berhasil. Sebelum rencana itu terlaksana mereka ingin menguji coba ilmu mereka yang sudah disempurnakan, karena saat ini mereka bertemu dengan orang yang kelihatannya bisa menandingi mereka. Melihat cara pria gagah itu bergerak dan sinar matanya, kelihatan bahwa orang ini berisi pasti mempunyai tenaga dalam yang hebat karena bisa mengeluarkan sinar mata yang tajam jernih.
Sakti yang melihat bocah bersama pria gagah itu, merasa sangat baik sekali peruntungannya karena baru sekali ini dia melihat bocah pilihan yang jarang sekali bisa ditemui, berwajah gagah dan menyiratkan ketenangan, mempunyai sepasang mata yang bening teduh menghanyutkan setiap dia memandang mata bocah itu dia merasa dia ingin menenggelamkan diri ke dalam keteduhan mata bening itu. Hasratnya menjadi menggila setiap kali memandang wajah bocah itu belum lagi bentuk tubuhnya yang tegap gagah dengan dada bidang sungguh sebuah kombinasi yang nyaris sempurna yang dimiliki seorang bocah laki-laki, dia yakin jika bocah ini besar nanti pasti akan banyak sekali gadis-gadis jatuh hati padanya. Tapi hal ini tidak boleh terjadi hanya dia seorang yang boleh memiliki bocah sempurna ini, dia tidak akan membaginya dengan orang lain. Jika dia tidak dapat bocah ini maka tidak ada orang lain yang boleh memilikinya juga, dia sudah merencanakan jika mereka kalah nanti minimal bocah ini harus mati, dia cemburu dan iri membayangkan orang lain yang memiliki bocah ini. Sungguh pikiran orang gila dan sakit batinnya sampai bisa memikirkan hal seperti itu..
Epen yang sudah tergiur melihat kuda milik pria gagah itu langsung buka mulutnya,”Hai saudara, siapa awak (kamu) ini? Apakah datang ke sini ingin ikut berpesta bersama kami ? Hahahhaa..” Masnan menahan kemarahannya, karena dia tahu jika emosinya naik maka dia tidak akan bisa tenang memikirkan situasi di sini, dengan suara lantang mencerminkan kegagahannya dia menyahut,” Namaku Masnan, dan ini muridku Burhan, aku tahu siapa kalian. Kalian merupakan pimpinan dari perkumpulan Kalajengking Merah yang bergelar Iblis Muka Setan, Iblis Mata Juling dan Iblis Gila Bocah.” “Wah Pinyak, hebat dia bisa tahu siapa kita tapi dia kurang ajar mengatakan kau si mata juling..hahahaha” kata Epen, dia sengaja mengatakan seperti itu karena dia tahu temannya itu paling benci dibilang mata juling.
Benar saja pria yang bermata juling itu langsung naik darah mendengar Masnan memanggil dia juling, dia merasa matanya adalah keistimewaannya yang bisa melihat segala arah dalam waktu bersamaan sekarang dihina orang dengan kata juling, langsung saja dia membuang ayam dan gadis yang ada di pangkuannya, berdiri dan bersiap ingin menyerang Masnan, tapi untung keburu ditahan temannya yang bernama Sakti.
“Sabar dulu teman, kalau kau mau menghajar dia boleh saja tapi aku harus menyelamatkan dulu bocah kesayanganku itu supaya tidak kena hajaranmu. Dan lagian waktu kita masih panjang untuk mengerjai dia…hahahaha.. janganlah cepat kita mengotori tangan kita biar anak-anak saja yang menyelesaikannya,”kata Sakti dengan congkak, dia memang yang paling licik diantara mereka, dengan mengorbankan anak buah mereka dia bisa mengukur kekuatan lawannya terlebih dahulu sebelum dia turun tangan, kalaupun akhrinya dia turun tangan, lawannya sudah terkuras tenaga melawan anak buahnya itu.
“Anak-anak hayo siap-siap kalian untuk menghadapi mainan baru.”kata Sakti kepada anak buahnya. Begitu mendengar komando dari pimpinan mereka, segera mereka meninggalkan apapun yang sedang mereka kerjakan untuk siap-siap menyerang musuh. Di sini terlihat betapa hebatnya kepatuhan anak buah kepada para pimpinannya, padahal ada beberapa diantara mereka sedang melampiaskan nafsu binatangnya, biasanya tidak mudah untuk membuat orang yang sedang di puncak gairah menghentikan kegiatannya hanya berdasarkan perintah, tapi mereka melakukan hal itu dengan tertibnya bahkan sudah membentuk barisan walau ada beberapa diantara mereka tetap dalam kondisi memperbaiki pakaian mereka yang berantakan.
Mereka melakukan ini bukan karena mereka memang menghormati pimpinannya tapi karena takut, para pimpinan tidak segan-segan menyiksa mereka jika tidak mengikuti komando, pernah dulu ada teman mereka ada yang sedang keasyikan melampiaskan nafsunya tidak mendengar perintah pimpinannya, langsung saat itu juga dikebiri oleh pimpinan, tak tebayangkan kesakitan yang diderita teman mereka itu. Sejak saat itu tidak berani lagi mereka melanggar perintah dari pimpinan walau dalam keadaan yang tidak memungkinkan sekalipun. Pimpinan mereka memang kejam tapi juga royal, semua hasil rampok dibagi rata diantara mereka, bahkan tidak segan-segan memberikan hadiah besar kepada mereka jika memang pantas diberikan.
“Bagaimana pria gagah, hebat bukan anak buah kami? Dalam sekejab mereka siap untuk menyerang saudara, jadi lebih baik menyerah saja sebelum dagingmu dicincang oleh mereka. Kami akan memperlakukan saudara dan anak saudara sebaik mungkin sehingga anda tidak akan menyesal pernah hidup di dunia ini….hahahaha…”kata Sakti dengan pongahnya kepada Masnan.
Memang dalam hati Masnan ada kekaguman akan ketaatan anak buah dari perkumpulan Kalajengking Merah ini, tidak mudah untuk membuat orang bersiap dalam kondisi asyik masyuk seperti tadi. Dari sini dia dapat menganalisa betapa hebat dan kejamnya pada pimpinan itu sehingga bisa membuat anak buahnya dalam kondisi apapun mematuhi perintah tanpa banyak gerutu dan caci maki. Masnan semakin yakin dia dalam posisi sulit melihat keadaan seperti ini, tingkat kewaspadaan dan aliran tenaga dalam ke seluruh tubuhnya semakin meningkat seiring dia merasa akan bahaya yang mengintai Burhan setiap saat. Dia melihat orang yang bernama Sakti itu tidak melepaskan tatapan matanya kepada Burhan sedari mereka datang ke tempat ini, Masnan tahu orang seperti Sakti merupakan orang yang paling berbahaya diantara 2 pimpinan yang lain. Karena itu dia harus benar-benar kosentrasi menjaga segala kemungkinan yang terjadi, yang paling dia pikirkan adalah Burhan, kasihan anak ini kalau sampai jatuh ke tangan orang yang bernama Sakti tersebut. Semua dalam keadaan membisu, belum ada yang berani bergerak karena takut akan kalah langkah, Masnan sudah berkeputusan akan melontarkan Burhan ke atas punggung si Tunggul untuk dibawa lari menghindar dan dia tidak mau gegabah salah mengambil langkah mengingat dia akan dikeroyok dan 3 pimpinan tersebut dalam keadaan menonton, dia tidak mau semua perhitungannya meleset sehingga semakin membahayakan Burhan. Hanya sekarang dia menunggu saat yang tepat agar bisa menyelamatkan Burhan sambil menunggu bala bantuan tiba. Panah yang dia lepaskan tadi merupakan panggilan khusus kepada para wakilnya untuk menemui dia secepat mungkin. Dia mempunyai 3 wakil yang berilmu tinggi juga dan masing-masing membawahi 3 kepala regu yang juga ilmunya setara dengan pimpinan perguruan silat tingkat menengah dan masing-masing regu mempunyai 30 orang anggota.
Dia memperkirakan orang yang ada di lapangan ini berkisar 50 orang perampok termasuk pimpinannya dan ada 20 orang penduduk desa yang dalam keadaan menggenaskan. Dia berharap para wakilnya mengerti tindakan apa yang harus dilakukan dengan terlepasnya panah khusus itu sehingga dia bisa menangkap juga para dedengkot perkumpulan ini. Keadaan ini berlangsung cukup lama, ketiga pimpinan Kalajengking Merah ini sengaja belum ambil tindakan apapun karena mereka mau melihat mental lawannya apakah sekuat yang mereka perkirakan atau tidak. Jika lawan mereka merupakan lawan yang tangguh maka kondisi seperti ini tidak akan mempengaruhinya, tapi jika lawannya mental tempe maka dia akan bertindah gegabah tidak sabaran untuk memulai gerakan di saat itulah bisa terjadi salah langkah yang mengakibatkan kekalahan bagi pihak lawan. Tapi yang mereka hadapi adalah salah satu panglima kepercayaan dari sang raja, yang berarti bukan merupakan orang sembarangan yang gampang digertak atau dipermainkan dengan mudah. Setiap panglima mempunyai ciri khas masing-masing tapi mereka semua mempunyai kesamaan dalam tingkat kesabaran yang luar biasa sekali, mereka sudah didik untuk tetap tenang dan sabar dalam segala situasi sehingga mereka tidak pernah kalah dalam pertempuran apapun juga minimal seri.
Akhirnya malah pihak Kalajengking Merah yang tidak sabaran, Pinyak yang memang paling emosional diantara mereka sudah tidak sabar ingin melihat kehebatan pria gagah itu, dia merasa pria ini bisa dikalahkan dengan begitu banyak anak buahnya dan kedua temannya dibandingkan dengan pria itu sendiri belum lagi harus melindungi bocah yang ada di sampingnya. Berarti posisi pria itu tidak menguntungkan, tadi dia sudah marah sekali ketika pria itu menghina matanya. Sekarang kesabaran dia sudah menipis apalagi melihat pria itu memandang mereka dengan tenangnya tanpa ada perasaan takut dan ngeri di matanya. Langsung saja keluar perintah dari mulutnya untuk menyerang pria itu.
“Anak-anak, hayo serang pria itu dari empat penjuru, gunakan ilmu barisan Sengatan Kalajengking.” Langsung anak buahnya bergerak dengan cepat membentuk 4 barisan kecil yang berbentuk kalajengking, ini tidak ada dalam perkiraan Masnan bahwa dia akan dikepung dari 4 penjuru dengan ilmu barisan yang sangat rapi sekali kerjanya, dia memandang sekelilingnya dan melihat ada 4 kelompok orang yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk kalajengking. Setiap kelompok terdiri dari 12 orang yang sudah siap dalam posisinya masing-masing, ada yang membentuk seperti capit kalajengking, ada yang di belakang 1 orang mendukung temannya membentuk setengah lingkaran seakan-akan menyerupai ekor kalajengking mengandung racun itu, dan memang terlihat di tangan orang yang di atas memegang tombak yang ujungnya berkilauan berwarna merah darah yang artinya sudah dilumuri dengan racun kalajengking merah. Mereka dalam posisi siap untuk menyerang hanya tinggal tunggu komando dari pimpinannya.
“Eh Pinyak, hati-hati dengan kuda yang bagus itu jangan pula kau suruh anak-anak sengat kuda kesayanganku itu. Kuhantam kepalamu nanti kalau terjadi sesuatu pada kuda cantik itu.” Kata Epen dengan kuatir. “Iya Pinyak, kalau sampai bocah kecintaanku tergores sedikit saja kulitnya, akan kubikin lurus kedua biji matamu itu.”teriak Sakti dengan cemas.
“Kalian berdua ini maunya apa hah? Kalau kalian kuatir dengan barang kesayangan kalian, pikir saja sendiri bagaimana caranya menyelamatkan jangan aku yang kalian salahkan, kita ini sedang menghadapi musuh tangguh jadi tidak bisa menguatirkan apapun, bisa kalah kita nanti.” Kata Pinyak dengan gusar.
“Hmmm benar juga kau, Pinyak, baiklah Sakti hayo kita serang dulu pria itu kau ambil bocah itu dan aku menarik kudanya biar leluasa anak buah kita melawan dia. Eh pria gagah, supaya kau bisa melawan kami dengan tenang lebih baik kau serahkan kuda dan bocah itu kepada kami agar bisa dijaga dengan baik. Kau tidak usah kuatir kami pasti merawat mereka berdua dengan sebaik-baiknya.”kata Epen dengan tersenyum licik.
Masnan sudah tahu bahwa mereka tidak akan melepaskan kuda dan Burhan begitu saja, akhirnya dia mengambil keputusan untuk mendukung Burhan di punggungnya sementara si tunggul dibiarkan pergi karena kuda itu akan bisa lari dengan lebih cepat kalau tidak ada yang menunggangi dan dia tidak kuatir Burhan jatuh juga. Sgera dia menggamit tangan Burhan dan berbisik pada bocah itu.
“Burhan, keadaan gawat, paman akan menggendong kamu di punggung paman, tangan kamu harus memegang leher paman dengan kuat dan kaki kamu harus melingkari pinggang paman dengan erat supaya kamu tidak lepas, apapun yang terjadi kamu harus bertahan, jangan pernah lengah karena musuh kita sangat kejam sekali. Kamu bisa dan berani melakukan itu ?”tanya Masnan.
Burhan hanya menganggukkan kepalanya karena dia tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya saking tegangnya, dan dia tahu jika ingin selamat dia harus melakukan apa yang diperintahkan, ini pengalaman pertama dan baru bagi dia di mana keselamatan dirinya terancam dan dia merasa tegang sekali ada perasaan takut tapi dia percaya pamannya tidak akan membiarkan dia celaka. Tanpa mengendorkan kewaspadaannya, Masnan mengulurkan tangan untuk mengangkat Burhan ke punggungnya dan Burhan melakukan semua yang diperintahkan, setelah merasakan posisi badan Burhan di belakangnya terasa mantap, Masnan kembali mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya.
Burhan biarpun jantungnya berdebar keras, tetapi dia tetap bisa mengendalikan dirinya untuk tetap tenang menghadapi situasi genting seperti ini. Pikiran jernihnya bisa melihat bahwa pasukan lawan sudah mempersiapkan diri untuk menyerang, walaupun dia anak-anak tapi kecerdasannya di atas rata-rata, dia bisa melihat barisan yang ada di barat tidak sebaik 3 barisan lain. Lalu juga dia melihat barisan yang di utara pemegang tombaknya terlihat dalam posisi siap sekali dan mata orang itu berkilat tajam menandakan orang ini memiliki kekuatan di atas teman-temannya. Berarti barisan ini lebih tangguh dibandingkan barisan yang lain, Burhan menatap sekelilingnya dengan tenang sambil melihat-lihat keadaan.
Dia mengambil keputusan untuk membisikan kepada Masnan tentang apa yang dia lihat, dia ingin membantu agar mereka bedua bisa melewati keadaan yang genting ini dengan baik. Dengan berbisik-bisik di telinga Masnan, Burhan mengatakan temuannya, Masnan terkejut sekali dengan bisikan Burhan tidak dia sangka bocah ini bisa melihat keadaan dengan baik sekali walaupun Masnan dapat merasakan ketegangannya. Dia mengedarkan pandangannya ke barat dan melihat memang apa yang dikatakan Burhan benar adanya, tadi dia sudah melihat hal itu tapi tidak berpikir jauh tapi setelah mendapat bisikan dari Burhan apalagi dia melihat barisan Utara memang terkesan lebih tangguh dari barisan yang lain, dia jadi merubah siasat perangnya. Burhan yang tadinya ditempatkan di belakang punggung sekarang dia rubah posisinya pindahkan ke depan badannya, ada dua hal dia melakukan hal ini pertama dia merasa barisan Utara kuat berarti berbahaya sekali kalau Burhan ada di punggungnya, kedua dengan Burhan pindah ke depan mungkin saja dia tidak terlalu leluasa bergerak tapi dia bisa minta bantuan Burhan untuk melihat keadaan di belakangnya, walaupun Burhan belum mempunyai mata tajam bisa melihat gerakan orang yang melebihi kecepatan orang biasa, tapi minimal anak itu bisa membantu dia melihat keadaan di belakang punggungnya.
Ketiga pimpinan Kalajengking Merah melihat kejadian yang berlangsung cepat yang dilakukan oleh lawan bersama bocah itu, mereka melihat bocah itu membisikan sesuatu di telinga pria tersebut dan tidak lama posisi bocah berubah menjadi ke depan. Mereka heran apa yang dibisikan oleh anak itu kepada lawan sehingga dia mengambil posisi yang berbeda, Sakti yang memang sudah mengincar anak itu merasa bahwa bocah kali ini merupakan anak yang sangat istimewa. Dia melihat ada ketenangan yang tidak wajar di mata anak itu, seakan mata itu bisa menghipnotis orang untuk menghentikan gerakannya, hanya dengan menatap matanya yang jernih dan teduh itu. Sakti sempat merasakan dirinya seakan tenggelam, ketika pandangan matanya beradu dengan pandangan mata anak itu, ada sesuatu yang berdesir di dadanya setiap melihat bocah itu, seakan ada perintah dalam hatinya untuk menjaga pemilik mata teduh itu. Makanya dia merasa kuatir mendengar perintah temannya untuk mengurung musuh menggunakan ilmu barisan mereka. Dia tahu ilmu barisan mereka merupakan ilmu barisan yang tangguh sekali hanya bisa dikalahkan dengan ilmu barisan dari Perguruan Dewa Kuda, sangat jarang ada pendekar yang bisa menghancurkan formasi mereka, kecuali pendekar tersebut benar-benar pendekar yang mumpuni.
Dia tahu lawan sekali ini sangat tangguh tapi tidak menutup kemungkinan setiap perkelahian pasti ada yang terluka, dia kuatir akan keadaan bocah yang dikaguminya itu. Sedangkan Epen, juga menguatirkan kuda incarannya, kuda itu terus menempel di dekat tuannya, dan dia melihat kuda itu juga dalam keadaan tenang walau dia bisa melihat kuda itu merasakan ketegangan yang ada di sekelilingnya tapi tetap saja kuda itu berdiri dengan kokoh dan gagah disamping tuannya. Benar-benar kuda yang hebat sekali, Epen semakin ingin memiliki kuda luar biasa ini, jika dia berhasil menaklukan kuda itu dia yakin kuda itu akan setia padanya seperti yang ditunjukan pada majikannya sekarang.
Pinyak sudah tidak sabar dengan keadaan ini, langsung mengeluarkan aba-aba,”Serang 2 siap 1 dan mundur 1.”
Bagi orang awam, mereka tidak mengerti arti perintah itu tapi bagi mereka yang diperintah sudah tahu apa yang akan dilakukan, segera barisan selatan dan timur menyerang ke arah Masnan bertiga, ketika Masnan mendengar teriakan aba-aba itu, segera dia menepuk tengkuk kudanya sebanyak 3 kali dan langsung kuda itu berbalik arah ke barat untuk berlari kencang ke arah barat. Sedangkan pasukan Barat yang sedang melakukan gerakan mundur tidak menyangka akan diserang oleh seekor kuda yang bergerak seperti angin besar menuju ke arah mereka, pasukan ini langsung kacau balau apalagi mereka juga mendengar teriakan pimpinan mereka yang tidak boleh melukai kuda itu. Kuda itu memperlihatkan keistimewaannya dengan mampu meloncati formasi 2 orang yang berdiri menumpuk menjadi ekor tersebut dengan indahnya sehingga mereka semua terpana menatap keindahan itu, tidak lama derap kuda itu menghilang di tengah kegelapan malam semakin lama semakin menjauh dan akhirnya tidak terdengar sama sekali, itu dilakukan dalam hitungan detik saja.
Masnan yang melihat kudanya menarik perhatian lawan segera menggunakan keadaan ini dengan sebaiknya, dia mengeluarkan 2 buah pil kecil dari pinggangnya untuk diberikan kepada Burhan dan dirinya untuk menelannya. Lalu dia juga mengeluarkan 2 butir benda bulat kira-kira sebesar gundu dan menyerahkan kepada Burhan untuk digenggam dalam kedua tangannya dengan pesan Burhan tidak boleh melemparkan kedua benda itu sampai dia merasa keadaan mereka sudah parah sekali dan tidak ada jalan keluar lagi. Sungguh tanggung jawab yang berat bagi seorang anak yang baru berusia 6 tahun, tapi kembali Burhan menunjukan keistimewaannya, dia tahu pasti apa yang harus dia lakukan dan mengambil keputusan untuk melakukannya sebaik mungkin. Sebenarnya Masnan juga ingin menguji bocah itu apakah dia memang seistimewa yang diperkirakan Masnan.
Untungnya tindakan mereka berdua tidak ada yang melihat karena semuanya sedang terpana menatap kehebatan kuda yang dimiliki lawan. Ketika sadar langsung Epen berkoar-koar memerintahkan untuk menangkap kuda itu kembali, anak buah mereka jadi bingung mau mengikuti perintah siapa, di tengah kebingungan tersebut dimanfaatkan oleh Masnan untuk bergerak cepat ke arah Selatan untuk mendobrak formasi yang ada di sana, mereka yang tidak menduga adanya serangan yang datang tiba-tiba gegalapan menerima serangan tersebut. Tapi ternyata itu serangan tipuan yang dilakukan oleh Masnan, karena begitu mereka bergerak menghindarkan diri, Masnan berlari cepat menjauhi lapangan tersebut, dia sengaja melakukan itu agar mereka mengikutinya dan meninggalkan penduduk yang dalam keadaan menggenaskan itu tanpa diganggu, karena dia kuatir benda yang diberikan kepada Burhan itu kalau dilontarkan ke tanah akan meledak dan melukai orang sedangkan penduduk itu tidak dalam keadaan bisa menolong diri mereka untuk menghindar dari daya ledakan itu. Jadi lebih baik dia menyingkir mencari daerah yang lebih lapang untuk menunggu mereka.
Melihat Masnan melarikan diri, segera ketiga pimpinan Kalajengking merah menyadari bahwa mereka telah ditipu mentah-mentah oleh pria itu. Segera mereka berlari memburu sambil berteriak-teriak memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti mereka. Sakti yang tidak ingin kehilangan Burhan dengan cepat mengejar ke arah larinya Masnan, memang dian diantara mereka yang mempunyai ilmu peringan tubuh yang bagus, sehingga dia duluan sampai di tempat Masnan menunggu mereka. Dia tidak melihat Burhan, langsung dia mengedarkan pandangannya di sekitar tempat itu bahkan dia memandang pepohonan yang ada di sekitar mereka untuk memastikan di mana Masnan menyembunyikan bocah tersebut. Tetapi tetap saja dia tidak melihat bocah itu, hatinya berdebar keras sekali ketakutan kehilangan bocah yang sudah membetot hatinya itu.
“Eh pria gagah ke mana kau sembunyikan bocah tampan itu?” tanya dia dengan gusar kepada Masnan.
“Tidak perlu kau tahu ke mana dia, yang jelas dia sudah aman dari gangguan orang gilo kayak kau ini.”
“Hahaha… baiklah aku akan menangkap kau dulu dan menyiksamu sampai kau mengatakan di mana anak itu kau sembunyikan. Teman-teman, dia ada di sini.”teriak Sakti dengan nyaring sekali menggunakan ilmu suara jarak jauh. Segera saja tempat ini dipenuhi oleh teman-temannya, Pinyak langsung merepet mencaci maki karena dia harus membetulkan dulu baju dan celananya sebelum mengejar musuh yang lari cepat. Epen menyeringai buas karena tidak suka sampai dikerjai seperti tadi, musuh hampir saja lolos dan kuda incarannya sudah menghilang, dia ingin melampiaskan kekesalan hatinya pada pria gagah itu.
“Baiklah, kau memang orang hebat bisa menipu kami dengan caramu itu, tapi ini tidak berlaku untuk kedua kalinya, kali ini kau akan lumat seperti daging cincang karena sudah berani menipu kami. Hayo anak-anak cepat kalian siapkan barisan kalian, jika kalian berani lengah lagi seperti tadi kalian rasakan nanti akibatnya aku sendiri akan membuat kalian menyesal berani melanggar perintahku.”teriak Epen dengan garang.
Mendengar ancaman tersebut berlari-lari mereka mencari posisi mereka dan menyusun barisan seperti tadi dengan cepat, kembali Masnan melihat benar yang dikatakan Burhan bahwa barisan Barat paling lemah diantara semua barisan dan barisan Utara yang paling tangguh. Dia kagum sekali pada muridnya itu ternyata muridnya benar-benar mempunyai daya analisa yang tajam sekali, kelak dia bisa didik untuk menjadi ahli strategi yang hebat sekali bahkan dalam hati kecilnya Masnan tahu suatu saat nanti Burhan akan bisa melampauinya. Dan dia bisa berbangga diri bahwa anak yang hebat ini, dia ada ambil bagian dalam mendidiknya. Sekarang dia sudah siap menghadapi serangan mereka, Burhan sudah disembunyikannya di tempat yang aman, di mana mereka tidak akan pernah menduga di mana dia menyembunyikannya. Dengan Masnan ditengah kepungan 4 barisan itu, terlihat ketiga pimpinannya menatap barisan tersebut dengan tenang karena mereka yakin sekali mampu mengalahkan orang ini. Karena Epen yang paling gusar dengan kejadian tadi maka komando ada di bawah kendalinya, kedua temannya tidak akan ikut campur karena mereka tidak mau membingungkan anak buahnya. Mereka bertiga masing-masing bisa memberikan komando kepada anak buahnya tapi tidak pernah sekaligus memerintahkan berbarengan. Bahkan jika mereka ikut bertempur mengeroyok lawan mereka, otomatis komando akan dipegang Sakti dan mereka semua tanpa terkecuali mematuhi apapun perintah dari Sakti, karena yang lain tahu Sakti yang paling cerdik dan licik diantara mereka, dia mampu membaca situasi dengan cepat sekali dan beberapa kali mereka berhasil lolos dari bahaya berkat kecerdikan Sakti. Dan sebenarnya diantara mereka, Saktilah yang paling berbakat, tapi dia memang orangnya tidak bisa dipegang buntutnya seperti seniman gila bertindak sesuai dengan angin mana yang menghembusi dia. Jadi mereka semua sepakat yang memimpin kelompok mereka diserahkan ke tangan Epen yang paling besar pengaruhnya terhadap anak buah mereka. Dan barisan mereka sungguh dilatih dengan disiplin yang keras sekali, mereka bergerak sesuai dengan aba-aba yang diberikan, bahkan setiap hari tidak ada dilalui tanpa latihan yang keras dari pimpinan mereka, hanya saat-saat tertentu seperti sekarang ini saja mereka tidak berlatih. Tiap 1 bulan sekali mereka meliburkan diri dari latihan selama 1 minggu untuk bersenang-senang setelah itu mereka harus berlatih kembali, mereka telah melakukannya hampir 3 tahun belakangan ini, sehingga dapat dibayangkan kekompakan mereka dalam bekerjasama. Barisan mereka memang sangat terkenal di dunia persilatan bahkan didengung-dengungkan bisa menandingi barisan perguruan Dewa Kuda yang memang sudah mempunyai nama besar dalam ilmu barisan.
Epen dengan berkacak pinggang menatap tajam ke arah Masnan, dia sudah bertekat ingin melumatkan lawannya itu untuk melampiaskan kedongkolannya akibat kuda incarannya dibiarkan lolos oleh majikannya. Epen melirik kepada Pinyak dan Sakti, dia melihat kedua temannya menganggukan kepala tanda dia boleh mulai serangan mereka.
“Depan 1, dakek (dekat), 1 tunggu.”demikian teriakan perintah Epen kepada anak buahnya, segera membentuk formasi sesuai dengan perintah itu. Tiga barisan yaitu utara, selatan dan timur bergerak mematuhi perintah sedangkan barat tetap di tempatnya semula, barisan timur dan selatan bergerak saling berdiri berdekatan dan yang utara maju ke depan dari posisi semula, jadi sekarang posisi Masnan di depan barisan Utara dan membelakangi barisan Barat, sedangkan kedua barisan lain saling bersebelahan di belakang barisan Utara.
“Serang dengan Gelombang Sengatan Memecah Bumi.”teriak Epen, segera barisan utara menyerang ke arah Masnan dengan cepat sekali sambil bagian ekor yang memegang tombak mengayunkan tombaknya ke arah Masnan, disusul dengan kedua barisan di belakang bersiap untuk menggantikan posisi utara jika berhasil dipukul. Dua belas orang bergerak berbarengan meluruk ke arah Masnan yang sudah siap sedia. Terjadi benturan dan iringan teriakan kesakitan ketika benturan pertama terjadi diantara mereka, cepat sekali kedua barisan di belakang bergerak menutupi ruang langkah Masnan untuk menghindari serangan. Masnan merasakan bahwa tenaga dalam mereka semua masih di bawah dia, tapi yang dia salut sekali adalah kerapian gerakan mereka untuk saling menutupi kelemahan atau kekosongan akibat berhasil dipukul oleh Masnan.
Terdengar lagi teriakan Epen,”Kibasan Ekor Menyengat Bumi”, segera mereka bergerak lagi membentuk formasi baru untuk menghadapi Masnan, Barisan Barat yang tadinya diam saja mulai memasuki arena pertempuran. Sekarang Masnan dikeroyok 48 orang dengan 4 tombak beracun yang selalu mengincar dia kemanapun bergerak. Masnan tentu saja tidak membiarkan tombak itu mengenai tubuhnya segera dia melakukan serangan balik dengan ilmu andalannya Manyilang Tangan Bumi Tarangkek yang bermuatan tenaga dalam tiga perempat bagian, dia tidak mau keluarkan semua karena takutnya pemimpin mereka turun tangan dia tidak bisa melawan mereka. Itu saja dia sudah bisa mengimbangi formasi tersebut, melihat hal ini Epen tambah naik darah, dia memerintahkan lagi,” Terjangan Kaki Hantam Bumi” ini merupakan ilmu ketiga pada barisan kalajengking, berarti tinggal 2 gerakan lagi dalam formasi itu.
Keadaan ini berlangsung cukup alot dan dahsyat sekali, mereka yang jatuh bangun karena pukulan Masnan langsung bangkit kembali dan bergerak ke dalam formasinya untuk mengurung Masnan. Sungguh sebuah formasi yang sangat tangguh, mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh mematuhi setiap perintah yang diberikan. Masnan melihat walaupun pimpinannya memberikan aba-aba formasinya tapi dalam formasi itu sendiri mereka mempunyai pimpinan barisan yang bergerak sesuai dengan instruksi dari tombak yang digerakkan oleh orang yang bertumpu pada bahu temannya atau bisa dikatakan sebagai ekor dari kalajengking. Masnan mulai merasa keadaan ini tidak menguntungkannya mereka sudah bertempur cukup lama, dan dia tahu 48 orang itu sudah pernah kena kepalan tangan dan kakinya tapi herannya mereka seakan tidak merasakannya. Dia mulai melihat sekelilingnya sambil tetap menghindari tusukan tombak beracun itu, ketika matanya terarah kepada orang yang bernama Pinyak, dia melihat mulut orang itu komat kamit dan matanya dalam posisi lurus menatap satu arah yaitu ke arahnya.
Masnan tidak tahu apa yang terjadi tapi dia melihat setiap ada yang jatuh tiba-tiba mereka bisa berdiri kembali dalam kondisi sepertinya tidak merasakan kesakitan akibat pukulan atau tamparan yang diberikan padahal jelas sekali kondisi mereka sudah babak belur tapi tetap saja mereka mampu bergerak seperti tidak ada apa-apa. Memang Masnan tidak mau membunuh mereka langsung selain dia tidak tega dia juga ingin menangkap mereka hidup-hidup agar bisa diadili sesuai hukum kerajaan. Ini bisa menjadi contoh bagi perampok lain untuk tidak berbuat seperti perkumpulan ini. Tapi ini hanya tinggal keinginan karena semakin lama formasi ini semakin berbahaya karena para anggotanya mulai bergerak nekat mendekati dan mengepung dia.
Epen yang melihat keadaan lawan sudah agak keteteran menjadi senang sehingga dia menjadi meningkatkan serangan untuk segera menyelesaikan pertarungan ini. Dia bersama teman-temannya juga menganggumi pria yang bernama Masnan ini, masih dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu apapun padahal ilmu yang mereka lontarkan sudah mencapai tingkat ketiga. Kini dia melihat dia bisa melontarkan ilmu tingkat empat untuk semakin menekan lawan sehingga keadaan berbalik menjadi kemenangan di pihak dia.
Terdengar teriakan menggelegar dari mulut Epen,”Marapek(merapat) Badan Sejajar Bumi” ini adalah formasi yang paling berbahaya karena semua anggota barisan kembali mengepung Masnan dari 4 penjuru tapi dengan posisi kaki setengah ditekuk bahkan yang bergerak seperti capit, semua berjongkok dan orang yang bertumpu di badan temannyapun sudah turun ke belakang tombak tetap terentang di atas kepala. Tiba-tiba terdengar desingan tombak dari 4 penjuru menyerang Masnan, dan capit yang tadinya berjongkok begerak bersamaan meloncat ke depan menubruk kaki Masnan.
Dia diserbu dua arah dari bawah dan atas, jika dia mengelakkan tubrukan kaki meloncat ke atas sudah pasti tubuhnya menjadi sasaran empuk tombak, jika dia merunduk kakinya disamber dari bawah. Yang hebatnya lagi ke empat tombak berdesing ke arahnya tidak pada ketinggian yang sama, bahkan mereka berjenjang mulai dari setinggi si bawah pusar, setinggi perut, setinggi dada dan setinggi leher, semuanya susul menyusul dari 4 penjuru, jadi hanya orang2 yang benar-benar mempunyai ilmu peringan tubuh tingkat tinggi yang mau mengelak dari lontaran tombak itu. Dan dia tahu dia tidak punya ilmu seperti Kahar dalam hal ilmu peringan tubuh, tapi dia punya tenaga dalam yang kuat sekali yang bertumpu pada bumi, oleh karena itu dia memutuskan merundukan badannya dan memperkokoh kuda-kudanya mempersiapkan dirinya menggunakan ilmu Hempasan Angin Tabangkan Awan untuk menerima serangan dari bawah.
Jadi sebelum tombak itu mengenai tubuhnya segera dia mengayunkan tangannya ke arah bawah, terjadilah benturan yang hebat sekali dan terlihat orang yang berusaha menyambar kaki Masnan tadi terlempar semua ke belakang dengan wajah berlepotan darah karena tinjunya bersarang di wajah mereka dengan telak sekali, menimpa temannya di belakang yang sedang menunggu untuk membantu serangan mereka. Sedangkan tombak yang dilontarkan hanya sedikit sekali jaraknya dari punggung Masnan yang buru-buru merunduk menghindari serangan, diterima oleh masing-masing pemegang tombak, ini artinya tombak tersebut sudah bukan milik semula semua bertukar posisi sesuai dengan arah lontaran.
Benar-benar serangan yang berbahaya sekali, kini Masnan tahu kalau dia ingin segera menyelesaikan pertempuran ini dia harus secepatnya menyikirkan lawannya, yang berarti dia harus membunuh atau minimal melukai berat mereka. Segera dia merapal ilmu andalannya dalam tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya, dan bersiap menerima serangan berikut. Dan kembali dia melihat keanehan orang yang sudah kena hajaran dia dengan keras sekali, masih bisa berdiri dan membentuk formasi kembali, bahkan dia tidak melihat di wajah mereka rasa sakit akibat pukulannya itu. Dia memalingkan kepalanya ke arah pria yang bernama Pinyak itu dan dia melihat pria itu sedang komat kamit dan dari kepalanya keluar asap berkilauan keperakan dari ubun-ubunnya.
Langsung dia dapat menduga pria ini mempunyai ilmu hitam yang bisa menghipnotis orang untuk tidak merasakan kesakitan atau yang lebih dikenal di dunia persilatan dengan sebutan Ilmu Hitam Panarik (penarik) Sukma, ilmu ini sudah lama hilang dari dunia persilatan tapi kini bisa muncul lagi ini artinya dunia persilatan akan diguncang kembali dengan prahara. Tapi dia bisa melihat ilmu yang digunakan pria itu belum terlalu sempurna bahkan masih belum menyamai sang empunya ilmu ketika waktu dia kecil dulu melihat gurunya bersama para sahabatnya menghadapi Bandaro Rumbiah (sejenis daun yang digunakan untuk atap) seorang iblis yang mempunyai ilmu kebatinan aliran sesat tingkat tinggi. Dia mampu membuat orang yang setengah karat tetap melanjutkan pertempuran dengan tenaga yang sama seperti dia normal. Akhirnya Bandaro Rumbiah berhasil dibunuh, dan beredar kabar ilmu itu lenyap bersama meninggal sang pencipta ilmu itu. Tapi kini ilmu itu muncul kembali berarti ilmu jahat itu sudah ada perwarisnya, dia harus berhati-hati kalau ingin bisa selamat dari pertempuran yang mematikan ini.
Kembali dia diserang dari segala arah, pertempuran semakin lama semakin tidak beres, tenaga Masnan tambah lama tambah terkuras sedangkan musuh sepertinya tidak berhenti juga tenaganya tetap seperti semula. Dia melihat keadaannya benar-benar tidak menguntungkan, bala bantuan yang diharapkan tetap saja belum datang. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk meningkatkan penggunaan tenaga dalamnya sampai tingkat tertinggi dan melontarkan puncak ilmunya Hampasan Angin Tabangkan Awan pada jurus terakhir. Dia mulai mempersiapkan dirinya, sedangkan Epen melihat bahwa lawannya akan mengerahkan ilmu mautnya kepada mereka, segera dia meningkatkan penggunaan ilmu barisannya ke tingkat kelima, teriaknya,”Kalajengking Merah keluar sarang!” Dan semua barisannya tiba-tiba bergerak bergabung dan membentuk kalajengking besar dengan capit di kiri kanan, 4 orang yang memegang tombak memecahkan diri dua-dua orang membentuk capit, sedangkan di ekornya telah ada Sakti dengan tangan sudah memegang tombak pula berdiri di pundak kedua temannya Epen dan Pinyak. Mulut Pinyak masih dalam keadaan komat kamit, tapi tidak seperti tadi berdiri diam sekarang dalam posisi menahan tubuh Sakti yang akan bergerak menyerang seperti ekor kalajengking. Keadaan terasa semakin memanas, masing-masing pihak mengerahkan ilmu tertingginya untuk mengalahkan lawan. Keadaan ini sudah diperhitungkan oleh Masnan, hanya yang tidak pernah dia pikirkan adalah di jurus terakhir semua pimpinannya turun tangan sendiri.
Hal ini terjadi karena Sakti sudah melihat lawan sekali ini benar-benar hebat sekali sudah bertempur kurang lebih 2 jam tapi masih dalam kondisi tegar, kalo lawan lain sudah dari tadi kalah. Si licik ini bisa melihat walau mereka bergabung menjadi satu sesuai dengan ilmu mereka tetap saja mereka membutuhkan waktu yang lama untuk mengalahkan pria ini. Sedangkan dia merasa ada yang tidak wajar seakan-akan pria ini menunggu-menunggu sesuatu karena seharusnya dengan ilmu yang dia miliki dari tadi barisan mereka sudah hancur, bahkan mungkin sekarang mereka bertiga yang sedang bertempur dengan pria ini. Karena itu dia membisikan ke telinga teman-temannya dengan ilmu pengirim suara untuk segera menyudahi pertempuran ini, artinya mereka semua harus siap-siap terjun ke arena pertempuran dan membentuk formasi kalajengking besar. Teman-temannya langsung menyetujui, karena mereka sendiri sudah mulai gemas dan kuatir seandainya mereka terbantai malam ini. Segera formasi besar itu mulai mengitari sekeliling Masnan dengan kecepatan pelan tapi sangat teratur dan rapi sekali. Keempat orang yang akan bertindak sebagai capit sudah mulai menghunuskan tombaknya ke arah Masnan dengan keadaan saling memunggungi satu dengan yang lain. Sedangkan Sakti sendiri sudah bersiap-siap untuk mengkomandoi pertempuran kali ini, dia sudah tidak sabar ingin segera mengetahui keberadaan bocah yang telah menawan hatinya itu. “Serang kanan, mundur kiri.” Segera mereka melakukan perintahnya, dan Masnan yang menghadapi serangan capit kanan berusaha menangkis hujaman tombak ke arahnya, tapi baru dia mengangkat tangannya untuk menangkis capit, dari atas kepalanya sudah datang tombak yang dipegang Sakti yang menghujam ke kepalanya. Sungguh sebuah serangan yang ganas sekali kecepatan ekor jauh lebih menekan dari sebelumnya karena dilakukan oleh 3 pimpinan perkumpulan ini yang mempunyai ilmu dan tenaga dalam yang selisihnya tidak jauh dari Masnan.Gerakan Sakti yang ditopang oleh kedua kawannya sungguh hebat sekali, ekor itu bisa bergerak ke segala arah dengan tingkat kedinamisan yang tinggi sekali jauh dibandingkan dengan permainan anak buah mereka. Temannya bisa memegang kedua kaki Sakti dan mengayunkannya ke segala arah dengan tenaga dalam gabungan mereka bertiga sehingga menghasilkan tingkat serangan yang mematikan. Mulailah Masnan kewalahan dengan semua serangan ini, dia harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bisa menahan serangan mereka.
Perlahan-lahan dia mulai keteteran dan harus mundur sampai jungkir balik menghindari serangan capit dan ekor barisan ini. Suatu saat tiba-tiba terdengar teriakan Sakti,”Kena kau,” dia melihat peluang untuk menghantam dada Masnan dengan tombak, padahal di saat itu Masnan sedang mencoba mengibaskan serangan dari kedua capit. Masnanpun berpikir kali ini kena dia akan tombak beracun itu, tapi emang Tuhan yang punya kuasa di saat genting itu tiba-tiba terdengar seperti suara deru ombak yang kencang sekali di telinga semua orang dan itu terasa menusuk-nusuk telinga mereka sehingga mengganggu kosentrasi mereka semua. Tapi Sakti memang hebat walau dia sempat sesaat kehilangan kosentrasi tapi dia tetap bisa melanjutkan serangannya, Masnan yang juga terpengaruh gelombang suara deru ombak itu semakin keteter dengan serangan dari Sakti. Untuk mengurangi kerusakan yang timbul akibat tusukan tombak didadanya itu dengan cepat dia menyilangkan tangannya ke dada untuk menahan tusukan tombak yang datang, dia rela kehilangan satu tangannya daripada mati tanpa perjuangan untuk hidup walau dia sudah mati langkah.
Ternyata Tuhan berkehendak lain, tombak yang mengarah ke dada Masnan, tiba-tiba hancur seperti debu dihantam oleh sebentuk kepalan tinju yang tidak jelas datangnya dari mana. Sakti yang memegang tombak itu sampai terlempar jauh bersama kedua teman yang memegang kakinya itu, getaran tinju yang sarat dengan tenaga dalam itu benar-benar menggetarkan dada mereka semua, sehingga mereka muntah darah menahan getaran tenaga dalam itu. Tapi mereka masih belum terluka dalam, mereka melihat keadaan yang sangat tidak menguntungkan tersebut buru-buru mereka melarikan diri meninggalkan semua anak buahnya untuk menahan kejaran orang hebat itu. Para anak buah melihat pimpinannya lari, semua ikutan berlari mengejar pimpinannya, dalam sekejab terdengar derap kaki orang yang berlarian semakin lama semakin menjauh. Masnan bergerak hendak mengejar mereka, tapi tiba-tiba di telinganya terdengar suara, “Sudah jangan dikejar lagi, kamu harus mengobati luka di tanganmu yang tergores tombak beracun itu.”
Kaget Masnan mendengar hal itu, dia tidak sadar bahwa ternyata tangannya sempat tergores oleh ujung tombak, dan dia melihat tangan kanannya disekitar goresan berubah berwarna merah menghitam dan dia merasakan aliran darahanya mulai membaca racun tersebut, buru-buru dia menotok tangannya untuk menghentikan aliran darahnya, tapi belum sempat dia melakukannya dia merasa tangannya seperti ada angin yang menggores lebih besar lukanya, segera saja darah hitam keluar dari luka yang menganga di tangannya itu mengalir dengan derasnya seakan-akan ada yang mengurutnya untuk keluar, memang dia merasakan ada tekanan udara pada lengan itu. Dia kaget sekali ada orang yang demikian hebatnya bisa melukai tangannya hanya dengan angin kibasan tangannya dan menekan urat di lengannya dari jarak jauh. Segera Masnan menegakkan kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang membantunya itu, tidak terlihat orang sejauh matanya memandang kegelapan malam ini. Matanya yang sudah terlatih untuk melihat kegelapan tidak mampu melihat di mana orang itu tepatnya berdiri. Tidak lama pengobatan itu selesai, terdengar suara,”Hmmm racun di tubuhmu sudah aku keluarkan, buka mulutmu makan obat penawar ini,” terdengar desingan angin cepat sekali mengarah ke mulut Masnan.
“Kau balutlah lukamu segera dengan bubuk ini,”kembali terdengar desingan angin ke arahnya, dia sudah berusaha melihat darimana datangnya angin itu tetapi tetap dia tidak bisa melihatnya. Cepat dia menyambut bungkusan kecil yang dilemparkan kepadanya itu, dan membuka bungkusan serta menaruh bubuk itu di sepanjang luka goresannya itu, anehnya langsung lukanya mengering dan tidak lama kulitnya langsung menutup, yang terlihat hanya sebuah goresan panjang di tangannya seperti orang terluka akibat goresan kertas. Sungguh obat yang mujarab sekali dan dia ingin berterima kasih kepada penolongnya,”Tuan, terima kasih atas pertolongan tuan, budi besar ini akan saya bayar kelak, siapakah gerangan tuan.”
“Aku tidak butuh balas budinya, hanya pesanku lain kali berhati-hatilah, jangan gegabah membawa anak kecil ke medan pertempuran seperti ini.” Kata suara itu.
Masnan menyadari kesalahannya seharusnya dia tidak membawa Burhan ke tempat orang-orang jahat itu berkumpul, dia seharusnya meninggalkan anak itu di pinggiran hutan bersama kudanya sementara dia menyelesaikan pekerjaannya. Inilah kecerobohannya akibat rasa ego ingin mempunyai murid yang hebat melebihi teman-temannya, padahal dia sudah tahu bahwa muridnya tidak kalah istimewanya dibandingkan murid temannya. Sadarlah dia bahwa selama ini walau sedikit ada perasaan penasaran ingin mempunyai kelebihan yang bisa dibanggakan dari teman-temannya seperti Kahar yang mempunyai ilmu silat lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang lain. Dengan cepat dia memohon maaf kepada sang Pencipta agar dia diberi kelapangan hati dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sesaat dia sudah tidak merasakan lagi kehadiran orang itu, tapi sempat dia terpikir olehnya darimana orang itu tahu dia bersama seorang anak di medan pertempuran ini. Tapi mengingat betapa hebatnya orang ini, dia yakin orang itu berkat tenaga dalamnya yang tinggi mempunyai pendengaran yang sangat peka sehingga bisa membedakan tarikan nafas orang dewasa dengan anak kecil. Dia sudah menyembunyikan Burhan dengan lihai sekali bahkan tadi lawan-lawannya saja sampai tidak tahu ke mana dia menyembunyikan anak itu. Mengingat Burhan, buru-buru dia berjalan ke arah pohon paling besar di situ dan mendorong pohon itu ke arah samping sedikit lalu dengan berjongkok memasukan kepalanya ke dalam lubang kecil yang ada di bawah akar pohon itu.
“Burhan, kamu mendengarkan paman?” lama tidak ada jawaban terdengar, mulailah Masnan cemas kalau terjadi sesuatu pada anak itu, karena tadi saking terburu-buru dikejar musuh begitu melihat tempat persembunyian yang bagus ini dia langsung saja memasukan Burhan ke dalam lubang kecil ini. Lubang inipun ditemukan tidak sengaja, saat dia sedang memandang sekeliling melihat di mana dia akan menyembunyikan Burhan, tiba-tiba Burhan memandang ke arah pohon tersebut, dia merasa ada yang aneh pada pohon itu kenapa pohon ini bisa berdiri condong ke arah kiri dan akarnya sampai keluar sebagian di permukaan tanah.
“Paman, lihat pohon itu aneh sekali.”
Masnan yang lagi bingung hendak menyembunyikan Burhan sempat jengkel mendengar pertanyaan Burhan, tapi dia tetap saja ingin melihat pohon aneh yang dikatakan Burhan itu, dengan maksud ingin mengomeli anak itu dalam keadaan genting masih melihat hal yang aneh. Tapi saat dia melihat pohon itu dia juga merasakan keanehan pada pohon itu, cepat dia bergerak ke arah pohon itu dan melihat-lihat di sekitarnya ternyata di samping belakang pohon itu ada lubang sebesar anak kecil yang bisa dimasukin oleh anak-anak. Pas saat dia hendak memeriksa lebih lanjut tiba-tiba dia mendengar desiran angin tanda lawan sudah dekat buru-buru dia menggapai tangan Burhan untuk menyembunyikannya di dalam lubang itu. “Burhan, musuh sudah datang, paman tidak ingin kau celaka, maka paman akan sembunyikan kau di lubang ini, apa kau takut masuk ke dalam lubang ini?” Masnan sudah berpikir jika anak ini tidak mau, dia akan melindungi anak ini sampai titik darah penghabisan. “Tidak paman, aku percaya orang baik pasti dilindungi Tuhan.” Sahut anak ini dengan gagah berani. “Baiklah, paman masukan kau ke lubang ini dan menutupinya dengan daun, kamu tunggu di sini sampai keadaan aman baru kau keluar atau kau tunggu sampai paman memanggilmu. Kamu mengerti?”
“Mengerti paman.” “Kamu memang anak yang berani, paman bangga menjadi gurumu, sekarang paman masukan kamu ke dalam lubang ini.”
Tidak lama Masnan menutup lubang tempat persembunyian Burhan, Sakti hadir di depannya, seperti yang telah diceritakan terdahulu. Sekarang Masnan sedang kebingungan karena dia sudah memanggil-manggil Burhan tetapi tetap saja tidak ada sahutan, dan tanah tempat Burhan berpijak tadi sudah amblas ke dalam, dia kuatir sekali kalau terjadi apa-apa pada Burhan bagaimana pertanggungjawaban dia kepada teman-temannya dan keluarga Burhan. Kecemasannya semakin meningkat karena sudah sekian lama dia memanggil anak itu tetap tidak ada sahutan, lubang itu terlalu kecil bagi tubuhnya untuk dimasuki, karena cemasnya dia menggali lubang itu untuk diperbesar, tapi baru sebentar dia menggali tiba-tiba telinganya menangkap erangan suara anak-anak di bawah sana. “Burhan… Burhan… kamukah itu?” teriak Masnan ke arah lubang itu. Kembali terdengar erangan kesakitan dari dalam sana, Masnan semakin panik tambah cepat dia menggali tanah di sekitar pohon itu. Terdengar suara lemah,”Paman, tolong aku.”
“Kamu di mana Burhan? Paman pasti menolong kamu, tunggu sebentar paman mencarikan tali buat menolong kamu.” Masnan melihat tidak memungkinkan baginya untuk menggali tanah itu, dia kuatir malah pohon itu akan ambruk menggetarkan tanah sehingga lubang persembunyian Burhan bisa tertutup selamanya.
Oleh karena itu dia langsung berdiri, dan memasukan jarinya di mulut dan bersiul nyaring sekali dengan ditambah tenaga dalamnya saking mencemaskan keadaan Burhan, dia memanggil kudanya karena di pelananya ada tali panjang yang disimpannya untuk keadaan-keadaan darurat seperti ini. Tidak lama terdengar derap langkah yang cepat sekali menuju ke arahnya, sepertinya tidak terlihat apa-apa hanya derap dan deru angin saja mengiringi kedatangan kuda hebat itu, mungkin karena kuda itu berbadan hitam pekat seperti malam sehingga saat dia bergerak dia hampir menyatu dengan pekatnya malam.
Ketika kuda itu sudah mendekati Masnan, dia mengurangi kecepatan larinya dan berhenti pas di samping Masnan.
“Kuda pintar, kau memang hebat dan kebanggaanku.”kata Masnan sambil menepuk-nepuk lehernya, kuda itu seakan mengerti dan mengangguk-anggukan kepalanya.
Masnan mengambil tali yang ada di pelana dan mengulurkan ke lubang itu, sambil berseru,”Burhan, paman menurunkan tali ke bawah, kamu peganglan tali itu, paman akan menarikmu ke atas.”
Lama Masnan tidak mendengar apapun di bawah sana, tali yang diulurkan oleh Masnan sudah 5 tombak panjangnya baru terasa menyentuh dasar, berarti Burhan jatuh dari ketinggian yang bisa membuat patah kakinya. Memikirkan ini Masnan tambah cemas lagi, kembali dia memanggil-manggil Burhan.
Tiba-tiba talinya terasa bergerak ada yang berusaha meraihnya, “Burhan, cepat raih tali itu, nak, paman akan menarik kamu ke atas, pegang talinya erat-erat jangan dilepaskan apapun yang terjadi.”
Masnan merasakan talinya seperti diganduli benda berat dan tertarik ke bawah sedikit sesuai dengan berat benda yang ada di bawah itu. Pelan-pelan Masnan menarik beban itu ke atas, semakin lama semakin cepat tarikannya karena dia ingin segera melihat keadaan Burhan, hampir mendekati permukaan tanah dia sudah melihat memang Burhan yang memegang tali itu erat-erat, wajah dan bajunya sudah berlumuran tanah. Buru-buru Masnan menariknya dan melepaskan tali, memegang tubuh Burhan yang melemas. Masnan menghapuskan noda tanah yang ada di wajah Burhan, tiba-tiba dia terpekik kaget karena wajah Burhan seperti terbungkus semacam cairan lilin yang tebal berwarna bening sehingga masih bisa melihat wajah Burhan di bawahnya, dan hanya mata, serta semua lubang di wajahnya saja yang tidak tertutup cairan yang membeku itu.
Belum hilang kaget Masnan, tiba-tiba di sampingnya telah berdiri seorang tua yang gagah sekali memandang wajah Burhan.
“Hmmm.”katanya, suara itu mirip sekali dengan suara orang yang menolong dia. Tangan orang tua itu bergerak di sekujur tubuh Burhan sambil terus menggumam tidak jelas, semakin dia memeriksa semakin berseri wajah orang tua itu.
“Anak yang hebat dan beruntung. Mempunyai susunan tulang yang sempurna dan susunan syaraf otak yang luar biasa serta ketahanan tubuh yang hebat, benar-benar kombinasi yang nyaris tanpa cacat.”kata kakek itu dengan senang,
“Siapa nama anak ini?”tanya kakek pada Masnan.
“Burhan, tuan, dan siapakah tuan, apakah tuan yang menolong saya tadi?”
“Kamu jangan panggil aku tuan, panggil saja pak Gaek (Tua). Apakah ini muridmu?”
“Benar sekali pak Gaek,” dalam hati Masnan heran kenapa orang ini bisa tahu Burhan adalah muridnya bukan anaknya.
“Pasti kau bertanya dalam hati kenapa aku tahu dia bukan anakmu, itu dikarenakan struktur tulangnya jauh lebih bagus darimu dan bentuk wajahnya tidak ada sedikitpun yang mirip denganmu,”kata orang tua itu dengan tersenyum geli.
Masnan semakin yakin bahwa orang tua yang senang dipanggil pak Gaek ini pastilah tokoh persilatan ternama yang sudah menghilang dari dunia persilatan. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan karena dia kuatir wajah Burhan yang ditutupi oleh cairan bening itu.
“Pak, tahukah anda cairan apa yang membeku di wajah muridku ini?” “Aku tahu, anak ini benar-benar beruntung sekali, kau pernah mendengar nama binatang Kadal Baangin (berangin)?”
“Pernah, dulu sekali diceritakan oleh guruku. Jangan katakan muridku mendapat semburan ludah dari kadal itu?”tanya Masnan was-was, karena dia pernah mendengar cerita bahwa kadal ini mempunyai kelebihan dan kekurangan, dagingnya sangat lezat sekali untuk dimakan, barang siapa yang pernah memakan dagingnya maka suhu tubuhnya akan bisa menyesuaikan diri pada lingkungannya, jadi suhu tubuh orang itu akan tetap stabil di udara dingin maupun di udara panas sekalipun. Hanya ludah kadal ini tidak baik bagi sembarangan orang, bisa menyebabkan kematian yang menggenaskan, tapi jika orang sudah pernah memakan dagingnya maka ludah ini tidak berpengaruh apapun bahkan bisa membuat bagian tubuh manapun kena semburannya, akan bisa menyembuhkan lukanya sendiri misalnya kalau orang itu kena goresan tombak seperti Masnan tadi maka luka yang menganga di kulit itu akan mengering dan menutup sendiri tanpa perlu bantuan obat-obatan apapun juga serta tidak meninggalkan jejak pada kulitnya.
“Apapun yang diceritakan oleh gurumu, itu benar adanya, anak ini sungguh beruntung sekali.” Tiba-tiba Burhan membuka matanya dan saat dia membuka matanya dia langsung menatap wajah pak tua itu, dan orang tua itu langsung kaget menerima tatapan bening dan teduh dari Burhan.
“Hahahaha… Tuhan, Kau sungguh baik mengabulkan permohonan hambaMu yang rendah ini. Di usia yang semakin larut ini Kau berikan aku sebuah hadiah yang bagus sekali yang tidak berani aku meminta lebih,”kata kakek itu dengan berlinang air mata tapi mulutnya tetap tersenyum.
Masnan dan Burhan yang baru sadar itu terkejut melihat kakek itu tertawa dengan gembiranya sampai berlinangan air matanya. Mereka heran apa yang dikatakan oleh orang tua itu, terlebih lagi Burhan yang baru sadar dia masih kebingungan memandang sekitarnya.
“Paman, di manakah kita ini? Dan kenapa mukaku terasa tebal?” tanya dia kebingungan. Tangannya sudah terangkat hendak memegang wajahnya, tapi buru-buru orang tua itu menarik tangannya.
“Jangan kau pegang wajahmu dulu, besok siang baru boleh dibersihkan, karena cairan itu belum membeku sepenuhnya di wajahmu, jadi khasiatnya belum sempurna.”
Burhan memandang orang tua itu dengan bingung, matanya tajam menatap seakan ingin mengerti apa yang barusan dikatakan oleh orang itu.
“Anak yang baik, kau memang seorang anak yang beruntung sekali, aku melihat di tubuhmu sudah ada mengendap khasiat dari kadal yang kau makan dan juga aku merasakan aliran darahmu sangat baik sekali bahkan ada beberapa bagian jalan darahmu terbuka dengan sendirinya tanpa perlu latihan tenaga dalam untuk membukanya, ibaratnya tubuhmu sudah seperti wadah terbuka lebar yang menunggu diisi dengan tenaga dalam agar bisa membangkitkan tenaga murnimu. Boleh aku tahu selain kau makan kadal, apakah kau ada makan yang lain?”
Burhan yang berada di pangkuan Masnan masih dalam keadaan bingung berusaha menjawab pertanyaan orang tua itu,”Tadi waktu aku masuk ke dalam lubang bersembunyi, aku mendengar suara pertempuran tapi lama kelamaan aku merasa lapar sekali dan tubuhku mulai terasa sakit semua, aku tidak tahu harus bagaimana, jadi aku berjongkok di dalam lubang itu, pas tanganku meraba tanah, aku merasa tanah yang aku pegang berbeda dengan tanah biasanya, tanah ini sangat halus dan lembut sekali, tapi itu hanya ada di dinding kanan aku sedangkan dinding kiri tetap seperti tanah biasa.
Karena bosan, aku mengorek-ngorek tanah lembut itu untuk dibuat mainan, belum lama aku bermain, terdengar getaran keras yang menghantam tanah dekat tempat aku bersembunyi, dan tanah tempat aku berpijak ambruk dengan cepatnya, aku sudah tidak bisa berteriak minta tolong karena aku sendiri kaget dan berusaha menggapai di dinding supaya tidak jatuh semakin dalam. Tapi aku tidak dapat memegang apapun, aku jatuh di tanah yang empuk sekali walaupun begitu aku merasakan kakiku sangat sakit sekali. Lalu aku memandang sekeliling aku dan melihat banyak jamur yang aneh bentuknya mengeluarkan bau menyengat hidung, aku melihat semut-semut memakan jamur itu, aku pikir pasti jamur ini tidak beracun karena semut saja makan jamur ini. Aku memetik beberapa buah dan memakannya, memang baunya tidak enak tapi waktu sampai di mulut terasa enak sekali, jadi karena lapar aku memakan hampir semua jamur yang tumbuh di sekeliling aku.
Sedang aku asyik makan tiba-tiba keluar kadal yang juga ingin makan jamur yang sedang kucoba petik, dia menggigit tanganku karena kesakitan aku bales gigit dia dan dia melepaskan gigitan di tanganku dan menyemburkan ludahnya ke wajah dan leherku. Karena jijik dan kesal, ludahnya meleleh di wajah dan tubuhku, aku kembali menggigit kadal itu dengan kencang sekali, ternyata darah dan dagingnya terasa sangat manis, saking kelaparannya aku memakan binatang itu, aku sudah meminta maaf padanya karena memakan dia,”kata Burhan dengan air mata berlinang dan wajah yang merasa bersalah karena sudah bertindak kejam memakan kadal itu.
Burhan tidak pernah melakukan perbuatan seperti tadi, memakan mentah-mentah kadal yang menggigit tangannya itu, dia merasa dia sudah menjadi orang yang sama dengan penjahat tadi, makanya dia merasa sedih sekali.
Buru-buru Masnan menghiburnya,”Burhan, kamu melakukan itu karena ingin menyelamatkan dirimu, jadi apa yang telah kamu lakukan tidak salah.” “Tapi paman jika seandainya aku tidak berebutan jamur dengan kadal itu pasti aku tidak akan memakan kadal itu,”bantah Burhan.
Kakek tua yang mendengar percakapan mereka tersenyum geli sekali, dia tahu anak yang ingin dia jadikan murid ini merupakan seorang anak yang baik dan tulus hatinya serta mempunyai prinsip. Benar-benar sesuai harapan dia selama ini, memang dia sudah memiliki 2 orang murid, mereka mengharumkan namanya di dunia persilatan tapi tidak ada yang mempunyai bakat seistimewa dan seberuntung anak ini. Dia ingin mengambil murid terakhir sebelum dia pergi dari dunia ini, ilmu terakhirnya harus ada pewarisnya, kedua murid pertamanya tidak bisa menguasai ilmunya, walau dia sudah melatih mereka dalam 2 tahun terakhir ini tapi tetap saja kemajuan mereka sangatlah lamban sekali. Dia ingin ilmu terakhirnya ini dimiliki oleh orang yang berhati tulus dan tidak serakah, dan anak ini sangat mencocoki keinginannya itu. Mendengar guru dan murid ini masih berbantahan, dia merasa perlu menengahi.
“Anak yang baik, apa yang dikatakan gurumu benar adanya, jangan pernah menyesal apapun yang telah kau lakukan karena itu tidak menyelesaikan kesulitanmu, yang harus kau lakukan adalah berjalanlah terus ke depan dan perbaikilah semua kesalahan yang telah kau lakukan sebelumnya, agar jalan berikutnya bisa sesuai dengan hati nuranimu.”
Sungguh sebuah filsafat hidup yang sederhana sekali tapi mengandung arti yang begitu luas. Anak seusia Burhan mana mengerti dengan pernyataan dari kakek itu, tapi sungguh aneh sekali ternyata dia mengerti, karena memang anak ini mempunyai kecerdasan di atas rata-rata anak biasa dan suka menganalisa sesuatu makanya dia bisa mengerti apa yang dikatakan kakek itu walau tidak semua tapi minimal dia paham sedikit.
“Terima kasih kakek yang baik atas nasihatnya.”
Burhan berusaha bangkit berdiri dari pangkuan Masnan, tapi ternyata dia tidak mampu melakukannya, kakinya terasa lemas sekali. Masnan membantu dia berdiri, tapi karena kakinya lemas sekali akhirnya Masnan menggendongnya.
“Burhan, sekarang juga kita lanjutkan perjalanan kita, mudah-mudahan di jalan kita bertemu dengan pasukan kerajaan yang bisa bantu kita menolong penduduk desa itu.”
“Pak Gaek, kami pamit dulu karena perjalanan kami masih jauh, terima kasih atas pertolongannya,”kata Masnan sambil membungkuk hormat, dia tidak bisa merangkap tangannya karena menggendong Burhan.
“Orang muda, kamu akan mendidik anak ini?” “Iya, ini amanat yang aku terima dari kakek guru kami.”
“Amanat, maksudmu?”
Masnan mempercayai orang tua itu, dan menceritakan secara ringkas tentang mimpi aneh Bumi, sahabatnya itu. Saat mendengar dedengkot persilatan akan ikut mendidik 5 orang anak itu dia terkejut bahkan ketika gelarnya disebut juga dia lebih kaget lagi. Jadi benar memang anak ini berjodoh dengannya, semesta sudah mengatur pertemuan ini sedemikian rupa sehingga dia juga berminat mengambil anak ini sebagai muridnya tanpa menyadari Tuhan sudah merancang buatnya.
“Hahaha… sekali lagi terima kasih Tuhan, telah Kau kirimkan anak ini untuk menjadi muridku.”
“Oya siapa namamu orang muda?”
“Nama saya Masnan, pak Gaek, dan siapakah nama bapak?” “Apakah engkau, Masnan yang Panglima Kerajaan itu?” “Benar sekali pak.” “Bagus…bagus… kamu akan bisa meletakkan dasar yang baik untuk calon muridku ini.” “Maksud bapak?”tanya Masnan kebingungan.
“5 tahun lagi aku akan menjemput anak ini untuk kudidik di kediamanku, jagalah dia baik-baik, pas siang hari nanti kau basuhlah tubuhnya di sungai yang ada di dekat sini tidak jauh dari desa sebelah Utara tempat ini. Khasiat jamur dan kadal itu pasti berguna sekali baginya, sayang aku tidak tahu nama jamur yang disebutnya tadi.”
“Selamat tinggal, sampai ketemu 5 tahun lagi.” Seiring dengan ucapan tersebut orang tua itu menghilang dari pandangan mereka. Masnan yang tahu dia berhadapan dengan orang yang hebat, penasaran ingin tahu siapa gerangan orang tua yang berwajah tirus penuh ketenangan itu. “Pak gaek, siapakah gerangan bapak, bolehkah aku mengenal nama anda?” Terdengar suara mengalunkan sebuah syair ,”Hai sang rembulan ke manakah kau sembunyi, aku akan mengejarmu dengan tanganku membelah lautan mencari tempat persembunyianmu di sebuah pulau.”
Mendengar syair itu Masnan tersentak kaget, itu merupakan syair yang sering disebut gurunya sebagai tanda ciri khas seorang dedengkot persilatan yang ternama jauh di atas jaman gurunya, beliau dikenal dengan nama Pandeka Tinju Lautan yang bersemayam di Pulau Bulan (dekat P. Batam sekarang). Tokoh sakti ini sudah lama menghilang dari dunia persilatan hampir 40 tahun tidak terdengar kabar beritanya, hanya anak muridnya saja yang dikenal orang karena mereka memang bergerak di dunia persilatan menunaikan tugas yang diberikan gurunya untuk membantu orang. Kini dia melihat sendiri tokoh yang nyaris menjadi legenda itu, kalau tidak salah gurunya mengatakan bahwa dia mengundurkan diri di usia 52 tahun, jadi kalau dihitung sekarang seharusnya kakek itu berusia sekitar 90 tahun, tapi kenapa wajahnya masih terlihat lebih muda. Benar yang dikatakan dalam mimpi Bumi, bahwa salah satu dedengkot dunia persilatan akan mengambil muridnya sebagai pewaris, dia merasa bangga sekali diberi kesempatan untuk memberikan dasar-dasar silat pada muridnya. Ini artinya dia harus kerja keras agar tidak memalukan namanya di depan tokoh ini, dia berjanji akan mendidik Burhan dengan sebaiknya.
Segera dia berjalan menuju kudanya, dan naik ke punggung kuda serta mengarahkan kudanya menuju arah yang ditunjuk kakek sakti itu. Tidak lama dia berjalan, dia menemui anggota pasukannya yang sedang mencarinya, dan dia meminta mereka untuk pergi ke desa yang diserang perampok agar bisa membantu penduduk desa itu. Dua orang wakilnya dengan cepat memenuhi perintahnya dan seorang wakilnya mendampingi dia dalam perjalanan pulang ke ibukota.
Setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh kakek sakti itu untuk memandikan Burhan tepat jam 12 siang di tengah sungai dekat desa, dia melihat wajah dan tubuh Burhan berubah menjadi lebih bersih dan sehat dari sebelumnya, semua kotoran yang melekat tubuhnya bersih bersama dengan terkelupasnya cairan yang membeku itu. Wajahnya terlihat lebih bersinar dan matanya terlihat lebih jernih dari biasanya, semua orang yang melihat anak ini melihat sebuah wajah yang gagah rupawan dan mempunyai aura yang kuat sekali serta keagungan yang hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan saja. Sepintas orang akan menyangka Burhan merupakan anak dari seorang pangeran atau raja muda atau masih keluarga dekat kerajaan. Karena wajahnya sangat aristokrat sekali kelihatannya, dan ketenangan wajah ditambah dengan keteduhan pandangan matanya melengkapi seluruh nilai tambah yang ada di dirinya. Masnan dan wakilnya melihat Burhan, seakan melihat seorang putra raja yang dalam pakaian sederhana, mereka mengagumi anak kecil ini, timbulah perasaan tenang dan damai setiap kali melihat wajah anak ini. Segera saja mereka jatuh sayang pada anak kecil ini, ada perasaan ingin melindunginya.
Jarak tempat mereka beristirahat dengan ibukota sudah dekat, Masnan mengajak wakilnya dan Burhan untuk secepatnya melanjutkan perjalanan. Burhan walaupun masih merasa uratnya sakit naik kuda, tapi perlahan-lahan dia sudah dapat irama menunggang kuda dengan baik.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju ibukota, sesampai di rumah Masnan, sang wakil berpamitan untuk pulang ke rumahnya karena mereka sampai sudah menjelang malam. Mereka disambut oleh isteri dan anak Masnan, oleh Masnan, Burhan diperkenalkan sebagai muridnya. Burhan sesuai dengan ajaran sopan santun yang dia terima langsung mengambil tangan isteri Masnan dan menciumnya sambil memperkenalkan dirinya. Isteri Masnan yang bernama Risma langsung jatuh sayang pada anak gagah rupawan yang sopan ini, dia senang sekali ternyata murid suaminya sangat mengenal sopan santun walau dibesarkan di sebuah nagari. Sedangkan Hasnah, anak Masnan, merasakan mendapatkan teman bermain dan saudara, dia senang sekali dengan hadiah yang dibawa ayahnya kali ini.
Sejak hari itu Burhan tinggal bersama keluarga Masnan untuk menerima didikan dari sang paman agar bisa menjadi pandeka hebat yang akan mengalahkan sang kegelapan dan memusnahkan sang angkara murka.
Demikianlah perjalanan Burhan menuju tempat dia melaksanakan pendidikan dasarnya, bagaimana dengan Syaiful, pengalaman apa yang diterimanya ? Apakah berbeda dengan Burhan ?
bersambung