Monday, November 24, 2008

Bab IX : Malaikat Penghisap Darah jilid 1

Kita tinggalkan dulu Kahar yang sedang terhanyut menceritakan kasih asmaranya di masa lalu dan Bumi yang asyik mendengarkan.


 

Kembali ke nagari Batang Kapeh, setelah kepergian Kahar dan Bumi ada sebuah kejadian yang nantinya mempengaruhi kehidupan Karim sebagai salah satu penumpas kekuasaan kegelapan.

 

Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, orang tua Karim telah kembali dari perjalanan mereka jadi kebanyakan mereka selalu ada di rumah untuk memperhatikan anak mereka. Sejak hari di mana mereka mendatangi rumah wali Bumi, mereka tidak ada habis-habisnya mebicarakan kejadian saat itu.
Ada saja yang mereka bicarakan bahkan sekarang bicara mereka sudah melebar ke mana-mana dan Karim mendengarkan saja cerita orang tuanya dengan asyik. Walaupun bagi anak yang pintar ini dia merasa ada kejanggalan dari cerita-cerita orang tuanya dan sering mengerutkan kening mendengar cerita yang tidak masuk akalnya.

 

Sering dia menanyakan kepada orang tuanya jika dia menemukan kejanggalan cerita orang tuanya terutama bapaknya. Bagi anak secerdas dia, hal-hal yang tidak masuk logikanya pasti dia akan mengejar kejelasan dari cerita itu. Yang nantinya berakhir dengan pertengkaran bapak dan anak karena masing-masing memegang teguh pemikirannya. Dan biasanya diselesaikan dengan kemenangan pihak orang tua tentunya menggunakan kata-kata pamungkasnya, “Kamu masih kecil belum tahu apa-apa, Bapak ini sudah tua dan sudah banyak makan asin asam dunia jadi bapak jauh lebih pengalaman dibandingkan kamu. Jadi lebih baik kamu mendengarkan saja kata-kata Bapak dan jangan tanya-tanya terus serta membantahnya.”

 

Karim sangat membenci mendengar perkataan seperti itu, karena dia merasa dilecehkan dan dengan muka kesal dan cemberut dia pergi keluar sambil menghantak-hantakan kakinya. Kali ini saking kesalnya dia pergi sambil banting pintu pula, biasanya sudah begini dia suka mencari Aswin untuk menceritakan kekesalannya dan berdua mereka suka membahasnya ala anak seusia mereka. Tapi dia tahu biasanya jam segini Aswin tidak ada di rumah, entah ke mana anak itu pergi setiap ditanya selalu saja tersenyum jahil.

 

Sambil mulut komat kamit tidak jelas dia berjalan terus tanpa menghiraukan kanan kirinya, dia tidak sadar sudah jalan jauh dari rumah mendekati tepi nagari. Tiba-tiba dia mendengar suara rintihan seseorang, antara perasaan ingin tahu dan takut dia berusaha mencari sumber suara tersebut. Akhirnya dia menemukan di samping kirinya mendekati pohon beringin besar yang berdiri megah di sisi jalan tertutup ilalang tinggi. Perlahan-lahan dia mendekati asal suara tersebut, berlindung di balik pohon dia melihat ada tubuh pria dewasa yang tergeletak. Takut-takut dia menghampiri tubuh yang terlentang itu, dia melihat tubuh orang tersebut penuh luka bacokan dan darah yang sudah agak mengering melekat di bajunya, sedangkan wajah orang itu tertutup tangan kirinya dan tangan kanan memegang dada yang terlihat sobek besar.

 

Orang tersebut mendengar ada yang mendekati tapi tidak bisa bergerak kuatir kalau musuh yang datang dia pasrah akan nasibnya, dengan memejamkan mata dan menyebut nama Tuhan, dia siap menghadap sang Pemilik Nyawanya. Yang ditunggu-tunggu tetap tidak terjadi malah dia mendengar helaan nafas ngeri dari kanak-kanak, akhirnya dia membuka mata dan melihat ke arah kirinya langsung menemukan dirinya tercermin di sepasang mata besar dan jernih sedang memandang dirinya dengan takut tapi ada rasa ingin tahu yang kental sekali.

 

Anak yang cakap dan kelihatan bersih tidak seperti anak desa biasa, entah kenapa pria ini merasa pernah melihat tatapan mata yang serupa dengan anak ini. Ada perasaan akrab dan hangat dalam dirinya ketika menatap sepasang mata yang sekarang memandangnya dengan kening berkerut.

 

“Paman siapa? Kenapa bisa terluka? Kenapa tergeletak di sini ? Apa lukanya sakit? Paman bisa bicara ?” bertubi-tubi pertanyaan yang dilontarkan oleh anak itu, sehingga pria ini merasa geli melihat gaya anak itu bertanya.

 

Dengan susah payah pria ini berusaha menjawab pertanyaan, “Anak kecil siapa nama kamu?”

 

“Namaku Karim, paman kenapa bisa ada di sini ? paman sepertinya perlu obat, sebentar aku panggilkan etek Siti untuk obatin paman.”

 

Cepat anak itu bergerak dan berlari meninggalkan pria itu, terpaksa pria itu mengerahkan sisa tenaga yang ada di tubuhnya dan mengalirkan ke tangan kirinya melontarkan ilmu Penghisap Raga Mematikan Langkah. Dan terjadi keanehan tubuh kecil Karim tiba-tiba seperti tertarik ke belakang dan dia tidak bisa menggerakan tubuhnya untuk meneruskan larinya. Seperti ada tenaga penghisap yang kuat sekali menarik dirinya, sehingga kakinya terasa seperti terangkat dari tanah dan bergerak mundur ke sumber tenaga yang menghisapnya itu.

 

Terkejut dan takut, Karim berteriak kencang sekali memanggil-manggil orang tuanya dan terakhir memanggil nama Aswin, entah kenapa dia memanggil nama temannya itu. Pria yang menarik anak itu merasa tidak enak juga membuat anak kecil ketakutan tapi dia sadar kalau dia tidak melakukan hal ini segera maka dia tidak punya kesempatan lagi untuk bicara dan menitipkan pesan.

 

Segera setelah Karim berdiri di dekatnya, orang itu melepaskan tenaga dalamnya tapi dengan cepat mencekal tangan anak itu, karena kuatir dia akan lari. Dengan sisa tenaga yang masih ada, orang itu berusaha berbicara kepada Karim.

 

 “ Anak baik, jangan takut, paman tidak bermaksud jahat kepada kamu. Paman tahu umur paman sudah tidak bisa dipertahankan lagi dengan luka yang begini banyaknya. Kamu lihat sendirikan badan paman berdarah semua,” katanya sambil berusaha memperdengarkan nada yang ringan supaya sang anak tidak takut padanya.

 

Melihat keadaan orang itu yang menggenaskan Karim merasa kasihan sekali dan mulai bisa meredakan rasa takut dalam dirinya, setelah itu kembali dia melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi lagi kepada orang itu.

 

“Paman siapa, asalnya dari mana, kenapa bisa ada di sini, bagaimana bisa terluka begini, siapa orang jahat yang melukai paman, jauhkah rumah paman dari sini ? Paman harus segera diobati, di nagari kami ada seorang tabib yang hebat sekali banyak orang yang berobat padanya dan sembuh. Paman jangan kuatir tidak bisa disembuhkan oleh beliau, aku yakin pasti bisa beliau dijuluki Dewi Tangan Dingin oleh orang kampung kami.”

 

Mendengar pertanyaan yang begitu banyaknya sempat orang ini merasa geli akan kebawelan anak ini, tapi begitu mendengar bahwa tabib yang berjuluk Dewi Tangan Dingin ada di kampung anak ini langsung tumbuh harapan dalam diri orang ini. Tapi dia juga sadar bahwa keadaan dirinya benar-benar terluka sangat parah sekali ditambah lagi tadi dia sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk menarik anak itu kembali.

 

“Namamu Karim bukan? Tanya dia, dan melihat anak kecil itu mengganggukkan kepalanya dengan mata yang masih menyiratkan kecemasan dan kuatir, hatinya terasa hangat melihat tatapan mata polos dan cemas itu. Sudah lama dia tidak lagi merasakan kehangatan di hati sejak kematian isteri dan anaknya dibunuh oleh musuh besarnya dan itu terjadi setahun yang lalu. Dia seperti menemukan diri anaknya yang meninggal itu pada bocah bawel ini, anaknya sebelum meninggal seusia bocah ini dan sama cerewetnya.

 

“Paman, tunggu di sini aku akan panggilkan orang kampung untuk bantu angkat paman ke tempat etek Siti, mau ya paman?” bujuk anak ini karena menguatirkan keselamatan orang itu. Entah kenapa dia merasa kasihan dan ingin sekali menolong paman tersebut, ada seperti dorongan yang kuat dalam dirinya segera berlari memanggil orang kampung untuk membantu orang ini.

 

“Sabarlah nak, paman ingin bicara sebentar…” belum selesai dia bicara tiba-tiba dia merasa ada orang yang sedang menuju ke tempatnya dengan gerakan cepat sekali walaupun dia terluka parah tapi tenaga dalamnya yang sangat tinggi membuat dia masih bisa bertahan sampai sekarang dan bisa mengetahui ada orang lain.

 

Tiba-tiba di depan mereka berdiri seorang bocah lain seumuran Karim dan seorang tua yang dia tidak bisa melihat jelas wajahnya karena seperti tertutup oleh kabut tipis yang mengelilingi sekitar tubuhnya.

 

Terdengar Karim berkata,”Aswin!”

 

“Karim, aku mendengar teriakanmu memanggilku tadi, ada apa?” tanya Aswin sambil tetap matanya memandang ke arah orang yang terluka itu.

 

Sementara itu orang tua yang menyertai Aswin, memandang pria terluka itu dengan tenang lalu berkata,”Hmmmm pukulan Pencabik Nyawa dan sabetan Ladiang (Golok) Angek (Panas), orang muda, kau pasti berilmu tinggi karena tidak sembarang orang masih bisa bertahan setelah dilukai oleh 2 orang sehebat Iblis Gadang Sarewa dan Datuak Runduang Alam dengan begitu parahnya. Aku akan membantu mengobati lukamu agar kau bisa bertahan sampai kau bisa diobati oleh tabib.”

 

Cepat sekali gerakan orang tua itu menotok dan menyalurkan tenaga dalam ke tubuh orang yang terluka ini, tidak sampai lama orang itu merasa dadanya yang sesak berangsur mulai lega dan kesakitan tubuhnya mulai berkurang serta darah yang mengalir sudah berhenti sama sekali. Walau dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih seperti semula tapi dia tahu dia sudah diselamatkan oleh orang tua yang datang bersama anak yang bernama Aswin itu.

 

“Terima kasih orang tua, kau telah menolong nyawaku, budi baik ini pasti suatu saat akan aku bayar.”

 

Aswin yang dari tadi diam saja sekarang buka mulut,” Kakek, paman ini harus segera kita bawa ke tempat etek Siti supaya beliau bisa mengobati luka tubuhnya.”

 

“Iya kakek, kasihan paman ini dari tadi sudah terbaring tidak bisa gerak, aku sudah cemas sekali tidak bisa bawa dia ke tempat etek Siti,”kata Karim kepada orang tua yang datang bersama Aswin.

 

“Orang muda siapa namamu, kenapa kau bisa ada di sini?”

 

“Nama saya, Manik Siahaan dari Utara, saya berada di sini karena mengejar musuh besar tapi sesampai di sini dia telah menunggu bersama kedua temannya dan mengeroyok saya, setelah sekitar tujuh puluh jurus saya tidak bisa bertahan lagi, saya sempat melukai mereka tapi tetap saja tidak bisa mengalahkan mereka, mungkin karena ilmu saya belum tinggi sehingga bisa dikalahkan dengan mudah.’ kata orang yang bernama Manik ini dengan geram.

 

“Ha ha ha anak muda, menurut aku yang tua ini kamu itu sudah termasuk kategori orang yang berilmu tinggi sekali, karena bisa menghadapi keroyokan dari 2 orang dengan ilmu setingkat Iblis Gadang Sarewa dan Datuak Runduang Alam, serta 1 orang yang dibantu dari jauh dengan ilmu hitam tidak banyak orang yang bisa menghadapi salah satu dari mereka saja, tapi kau bisa bertahan berarti ilmu kesaktianmu pasti di atas mereka. Dan masa ini orang muda yang berilmu tinggi sepertimu tidak banyak, kau tidak perlu merendahkan dirimu sendiri, memang mereka saja yang pengecut, tahu tidak bisa menghadapimu seorang diri maka melakukan pengeroyokan.”

 

Dalam hati Manik terkejut dan kagum sekali, orang tua itu tahu dia dikeroyok oleh 3 orang, padahal beliau hanya menyebut 2 nama saja, artinya beliau kenal 2 orang itu sedangkan orang ketiga memang pasti beliau tidak kenal karena orang ketiga inilah musuh besarnya yang dia kejar dari kampungnya di Utara Pulau Andalas sampai ke sini. Dan dia bertambah kagum lagi mendengar bahwa kakek itu bisa menduga musuh besarnya menggunakan ilmu hitam untuk melawan dirinya. Dari pembicaraan ini Manik langsung tahu dia berhadapan dengan orang tua yang berilmu tinggi sekali mungkin di atas dirinya jauh karena bisa menebak dari lukanya saja dan tadi juga dia merasakan ada aliran tenaga dalam yang dahsyat yang masuk ke tubuhnya membantu tenaga dalamnya sendiri untuk bertahan dari semua luka yang dia derita.

 

“Kakek, sudahlah jangan banyak bicara lagi dengan paman ini, segera saja kita bawa dia untuk diobati, aku cemas lihat luka di tubuhnya itu,”kata Karim dengan mata yang kuatir menatap Datuak Inyiak Balang.

 

“Baiklah, kakek akan bawa dia ke rumah Aswin, dan kau berjalan pulanglah dengan Aswin,” setelah berkata demikian orang tua itu menggerakan tangan kanannya perlahan dan terjadi keanehan tubuh Manik terangkat lurus seperti dia diangkat dengan tandu dan sekejab saja orang yang terluka itu dan Datuak sudah tidak ada di sekitar tempat tadi.

 

Karim yang kaget melihat kejadian itu hanya bisa terbengong-bengong dengan mulut menganga, Aswin yang melihat temannya dalam keadaan seperti itu timbul keisengannya. Diambilnya buah ceri yang ada di samping pohon di belakang dia berdiri dan menimpuknnya ke mulut temannya yang sedang menganga itu. Karim terkejut ketika merasa ada benda yang masuk mulutnya, secara reflek menutup mulutnya dan menelan benda yang masuk mulutnya itu.

 

Cepat dia berpaling menatap Aswin,”Apa yang kau masukan dalam mulut aku?” tanyanya kebingungan.

 

“Aku masukan daki di ketiakku ke dalam mulutmu,” kata anak nakal itu dengan terbahak-bahak.

 

Tapi Karim merupakan anak yang cerdik sekali, sebelum dia menelan sempat dia merasakan benda yang masuk mulutnya itu terasa licin dan bulat kecil jadi dia tahu pasti itu bukan daki seperti yang dikatakan Aswin. Menurut pemikiran cerdiknya daki itu kalau dibulatinpun tidak akan terasa licin seperti yang dia rasakan di mulutnya itu. Jadi dia tahu Aswin membohonginya, timbul keinginannya untuk balas mengisengin temannya walau sebenarnya dia ingin segera menyusul kakek dan paman yang terluka itu.

 

“Wah dakimu enak yah Win, lain kali boleh aku coba lagi, benar-benar enak banget,’ katanya sambil mendecak-decakan mulutnya seperti orang yang mencicipi makanan enak.

 

Aswin yang membayangkan Karim mencicipi dakinya, merasa perutnya langsung mual dan ingin muntah, cepat dia menutup mulutnya agar tidak muntah, karena dia bisa ditertawakan oleh Karim kalau sampai terjadi.

 

Buru-buru dia mengajak Karim kembali ke nagari untuk menyusul gurunya dan orang terluka itu, dalam hati dia mengutuk habis-habisan temannya yang balik mengerjai dia. Sedangkan Karim menahan geli melihat wajah Aswin yang menahan muntahnya tadi, dia ingin tertawa keras-keras tapi entah kenapa dia merasa tidak mampu melakukannya, dia masih mencemaskan keadaan paman Manik itu. Segera Aswin menarik tangan temannya untuk segera berlari cepat menyusul, karena Aswin sudah memiliki tenaga dalam maka dengan mudahnya dia membantu temannya untuk mengimbangi ilmu lari cepatnya, sehingga kedua bocah ini bisa dengan cepat sampai di rumah Aswin.

 

Sesampai mereka di rumah itu, kelihatan kesibukan terjadi di ruang pengobatan, tapi Aswin sudah tidak melihat gurunya lagi.

 

Tiba-tiba dia mendengar suara gurunya di telinganya,” Aswin, hari ini sampai di sini dulu latihan kita, kamu temani temanmu Karim bermain dan jaga-jaga kondisi paman yang terluka itu, jika terjadi sesuatu yang sangat berbahaya kamu panggil kakek segera.”

 

“Baik, kek,” sahut Aswin pelan.

 

Sementara itu Siti sibuk mengobati pria yang terluka itu, luka sabetan golok melintang di dadanya terlihat mengerikan sekali karena di pinggiran luka terlihat seperti melepuh yang menjadi ciri khas dari Golok Angek, dan di paha kanannya ada luka berwarna kehijauan yang berarti luka tersebut beracun, tapi bagusnya racun itu tidak menjalar sampai ke atas. Di sekujur tubuhnya penuh dengan sayatan-sayatan halus sepertinya dia terkena puluhan benda tajam yang kecil, itulah kehebatan ilmu Pencabik Nyawa.

 

Untung sebelumnya dia sudah mendapat bantuan pengobatan dari Datuak Inyiak Balang, sehingga lebih memudahkan Siti untuk melakukan pengobatan selanjutnya. Setelah membersihkan semua luka, Siti meminumkan obat hasil ramuan dari daging ikan Karak Batu (sejenis ikan yang berwarna coklat gelap dan bersisik keras seperti batu) merupakan ikan jenis langka sekali yang bisa ditemukan di kedalaman lautan pada saat bulan purnama penuh dengan remasan bunga kenanga merah yang ditemukan di dasar Gunung Merapi. Obat ini berkhasiat untuk membersihkan segala macam racun jahat yang ada di dalam tubuh pasiennya.

 

Lalu Siti mengoleskan juga obat ramuan bubuk akar bahar dengan ular Balang Limo sejenis ular air yang paling berbisa yang hidup di perairan payau pada luka di sekujur tubunya dengan cepat sekali, saat dioles pada luka di dada, Manik langsung mengeluarkan jeritan kesakitan yang menyayat hati, tinggi melengking seakan bisa membangkitkan orang mati untuk hidup kembali. Siti sengaja tidak memberitahukan kepada pasien akan kesakitan yang bakalan dialami, karena dia tidak mau pasien berusaha menahan sakit sehingga membuat kulit di sekitar luka menjadi tegang, menyebabkan kulit susah untuk bertaut kembali. Tapi akibatnya semua orang yang hadir di ruangan tersebut merasa telinganya berdenging-denging akibat jeritan yang dikeluarkan oleh Manik, untung dia tidak menyertakannya dengan tenaga dalam kalau tidak entah apa yang bakalan terjadi. Setelah mengeluarkan jeritan panjang itu, Manik langsung pingsan karena sudah tidak punya tenaga lagi untuk menahan sakit yang menggila pada luka di dadanya.

 

Setelah mengoles luka tersebut Siti langsung membalut kuat luka-luka dengan kain putih bersih yang memang disediakan untuk membalut luka, selesai membalut terlihat keadaan Manik seperti mumi yang  hanya kelihatan wajahnya saja karena seluruh tubuhnya dari leher, tangan, dada, perut, kaki dibalut dengan kain putih itu. Ini dilakukan Siti untuk menjaga agar obat bisa bekerja dengan baik pada setiap luka yang ada.

 

Muka yang berlepotan dengan darah dan tanah itu dibersihkan Siti dengan hati-hati karena takut ada luka di wajah pria itu. Setelah dibersihkan terlihatlah seraut wajah pucat yang gagah dan jantan dengan hidung mancung agak bengkok di batangnya dan dagu persegi yang menjadi ciri khas orang Utara dari Pulau Andalas, tapi semua ini diperlunak dengan bibir yang sexy untuk ukuran pria jantan sepertinya.

 

Berbisik Karim kepada Aswin,”Win, paman itu gagah juga yah tapi hi hi hi kayak mayat hidup mengerikan dibalut seperti itu.”

 

“Hush, jangan berisik nanti paman bisa bangun sedangkan dia butuh istirahat, hayo kita keluar, aku sudah lapar. Kamu mau ikut makan ketupat buatan etek Siti?”

 

“Mau… mau … aku mau…,” sahut Karim dengan mata berbinar-binar senang.

 

Akhirnya mereka semua meninggalkan pria itu untuk istirahat memulihkan tenaganya, Siti merapikan semua peralatan pengobatannya dibantu oleh Uni Anik. Setelah melihat keadaan pasiennya sekali lagi, Siti meninggalkan kamar tapi sebelumnya dia berpesan kepada Uni Anik untuk menjaganya sebentar sampai Siti kembali lagi untuk memeriksa keadaannya.

 

Siti berjalan ke ruang makan untuk menemui kedua anak kesayangannya itu dan makan bersama mereka. Sambil berjalan Siti memikirkan kenapa pria itu bisa bertahan dengan luka-luka seperti dideritanya, tadi dia sempat juga memeriksa detak nadi dan aliran darah pasien, dia menemukan ada 2 macam aliran tenaga yang halus sekali sedang membantu tubuh pasien untuk mengatur peredaran darahnya yang kacau akibat luka pukulan maupun luka karena racun. Kedua tenaga ini saling membantu untuk memulihkan semua aliran darah yang tersumbat agar bisa mempercepat kesembuhan dari dalam tubuhnya. Mungkin tenaga inilah yang membuat pasiennya bisa bertahan cukup lama terhadap semua lukanya.

 

Terlihat kedua anak tersebut sedang asyik sekali makan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa, Siti tanpa terasa ikut tersenyum juga melihatnya. Memang kedua anak ini sangat lucu sekali kalau sudah seperti itu, tapi kalau kenakalannya kumat tidak ada seorangpun yang lolos dari kejahilannya dan Siti hanya bisa mengurut dada menahan kejengkelan melihat kelakuan mereka berdua.  

 

“Anak-anak, enak tidak ketupat buatan etek?”

 

“Wah, etek ini adalah ketupat yang paling enak sedunia, tiada tandingannya bahkan kehebatan ibuku memasak masih jauh dibandingkan dengan etek. Aswin memang beruntung sekali bisa makan enak setiap hari, aku jadi iri.”

 

“Hehehe… jangan irilah, kalau kamu suka bisa saja datang ke sini setiap hari untuk makan makanan buatan etekku ini yang lamak nian.”

 

Siti tersenyum mendengar celoteh kedua anak kecil ini, dia senang sekali mereka menyukai masakannya dan dia juga tahu Aswin bukan anak yang pelit terhadap teman-temannya, semua yang dia rasa enak pasti dia bagi ke teman-temannya atau orang-orang yang dia sayangi. Dan sepertinya semua orang yang ada di nagari ini juga seperti itu padanya, semua makanan enak pasti ada saja yang mengantar buat Aswin jika dia menginginkannya. Untung saja anak itu tahu diri dan tidak pernah menyalahgunakan kesayangan orang padanya walau tetap saja kenakalannya tidak bisa ditahan.

 

Tiba-tiba langit yang tadinya cerah dan terang benderang sekarang menjadi gelap dan mendung, patuih (petir) menyambar-nyambar dengan garangnya, di kejauhan seperti terdengar suara dengungan yang sangat kuat sekali. Udara langsung berubah dingin sekali, di luar terdengar teriakan orang-orang untuk segera membereskan pekerjaan karena hujan akan menjelang. Tapi ada keanehan dengan keadaan ini, cuaca mendung ini hanya menggantung di daerah sekeliling nagari tapi begitu lepas dari pinggiran nagari cuaca tetap terang benderang seperti semula.

 

Mula-mula orang tidak menyadari hal ini karena sedang sibuk berlarian dan berteriak untuk segera membereskan pekerjaan sebelum hujan, tapi orang-orang yang tinggal agak di pinggiran negeri mulai menyadarinya karena mereka merasa sebagian tempat mereka berlangitkan mendung gelap sekali sedangkan sebagian lagi terang dengan sinaran matahari yang terik sekali. Sementara mereka terbengong-bengong melihat keanehan ini, mendadak mereka melihat ada segumpalan kabut tipis sekali yang melesat cepat ke arah kampung, yang datang entah dari mana.

 

Kabut ini bergerak sangat cepat sekali, bahkan mereka sudah tidak bisa melihatnya lagi, mereka berpikir apakah tadi itu hanya ilusi saja. Tapi sebenarnya apa yang mereka lihat tadi benar adanya, itu adalah kabut pembunuh kiriman dari seorang dukun santet yang hebat sekali yang berasal dari bagian paling Utara pulau Andalas ini. Dukun ini bernama Sibayak Langu merupakan dukun hitam yang sangat sadis dan kejam sekali, dengan uang emas semua bisa diselesaikannya dengan tuntas. Selain itu dukun sesat ini juga terkenal kesukaannya pada perempuan tidak perduli siapa dia kalau dia sudah suka tidak ada yang lolos dari cengkramannya.

 

Banyak tokoh-tokoh persilatan golongon putih yang menjajal ketinggian ilmunya tapi banyak berakhir dengan kematian. Dukun ini bertempat tinggal di Gunung Sibayak, tempat ini hutan belantara yang sangat mengerikan sekali jarang manusia yang mau ke sana kalau tidak ingin sesuatu darinya. Salah satu orang yang minta bantuannya adalah Garang Simanungkalit yang merupakan ayah dari Ranting Simanungkalit, musuh besar dari Manik Siahaan. Orang tua itu tahu anaknya telah berlaku kelewatan dengan membunuh isteri serta anak Manik, karena tidak rela wanita itu bersuamikan orang lain selain dirinya. Dan beliau juga mengetahui bahwa anaknya bukanlah tandingan dari pria perkasa itu, bahkan dia sendiri yang terkenal ilmunyapun tidak bisa menandingi Manik.

 

Sebagai orang tua yang menyayangi anaknya, dia berusaha melindungi semua perbuatan anaknya, karena memang di tanah Batak, anak laki-laki sangat dihargai bak pangeran walaupun anak tersebut tidak memiliki sifat yang baik. Ketika Manik mengetahui bahwa Ranting membunuh anak isterinya, maka mulai saat itu kehidupan keluarga mereka tidak ada kententraman lagi, banyak orang-orang hebat yang diperkerjakan untuk menahan serangan dari pria yang sudah gelap mata itu, tapi tiada satu jua yang bisa menahannya. Terakhir karena takut anaknya menemui ajal maka Garang Simanungkalit menyuruh anaknya pergi ke barat dari Pulau Andalas ini untuk tinggal bersama tulangnya yang menikah dengan orang Minang yang juga merupakan tokoh terkenal di sana yaitu Datuak Runduang Alam.

 

Dengan berbekal uang emas dan surat dari sang ayah serta didampingi orang berkepandaian tinggi yang dipilih ayahnya, Ranting Simanungkalit berangkat segera menuju ke tempat bibinya. Sayang sekali maksud hatinya tersebut sampai juga di telinga Manik, segera pria muda itu memburu musuhnya itu ke ranah Minang, Garang yang mendengar hal ini menjadi cemas dan ketakutan sekali anaknya bisa menemui ajal di tangan Manik. Dia berusaha mencari berita dari teman-temannya siapa pembunuh bayaran yang paling hebat untuk melakukan pembunuhan terhadap musuh anaknya itu, akhirnya setelah hampir 2 bulan dari saat keberangkatan anaknya, dia mendengar tentang dukun santet, Sibayak Langu ini. Dengan susah payah selama hampir sebulan dia mencari dukun ini akhirnya menemukannya, dengan uang emas sebanyak 10 keping, terjadilah kesepakatan pembunuhan terhadap Manik Siahaan, musuh anaknya.

 

Dukun sesat ini senang sekali menerima 10 keping uang emas dari Garang Simanungkalit, segera dia memerintahkan kedua muridnya turun gunung untuk membunuh Manik. Berbekal cermin Bala Sibayak, kedua murid tersebut mempelajari semua gerak gerik pria muda itu, mereka mengetahui bahwa pemuda ini bukan lawan yang enteng karena mempunyai ilmu kebatinan tingkat tinggi dan binatang peliharaan makhluk halus yang diwariskan oleh leluhurnya. Sementara mereka akan tinggal di rumah keluarga Simanungkalit untuk lebih leluasa melakukan pekerjaan mereka.

 

Pas hari itu mereka melihat di cermin Bala, Ranting bersama paman dan teman pamannya dapat dikejar oleh Manik dan terlibat perkelahian. Langsung murid tertua membantu Ranting dengan ilmu hitam mereka, Tenaga Setan Menguak Neraka tingkat tiga, yaitu sebuah ilmu jarak jauh yang disalurkan kepada yang dituju untuk menambah tenaga dalam dan menambah ilmu silatnya. Dan murid keduanya menyalurkan ilmu Penyirap Roh melalui kedua mata Ranting agar lawan tidak bisa bergerak karena rohnya sudah disirap sehingga mudah sekali untuk dibunuh.

 

Sayang sekali yang dihadapi mereka adalah seorang pria hebat didikan orang yang dijuluki setengah dewa oleh masyarakat persilatan daerah Batak sana, yaitu Kakek Penghisap Darah, sebuah julukan yang seram sekali padahal kakek ini dari golongan putih tetapi memang ilmunya pamungkasnya ganas sekali, Ilmu Aliran Darah Dewa. Ilmu ini dimainkan dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk cakar yang mengincar leher korban, sehingga luka yang dihasilkan seperti luka akibat gigitan drakula, yang hebatnya darah yang keluar dari luka itu mengalir dengan derasnya seperti ada dorongan dari tubuh si korban untuk memompa keluar semua darah yang ada di tubuhnya.

 

Dan tidak seorangpun dapat membendung keluarnya darah tersebut walau dibantu dengan ilmu totokan untuk menghentikan aliran darah tersebut tetap saja tidak bisa berhenti. Selama ini tidak ada seorangpun dari lawan si kakek yang dapat diselamatkan sekali sudah kena ilmu tersebut walaupun sudah memanggil tabib yang paling hebat sekalipun. Hanya kakek ini saja yang bisa menyembuhkan orang yang kena luka ini, dengan ilmu Totokan Pengikat Nadi, yang juga merupakan ilmu yang hebat sekali di mana seluruh aliran nadi di tubuh yang bersangkutan akan membeku bila kena totokan ini dan tidak ada seorangpun juga yang bisa membebaskan dirinya dari totokan ini, kecuali dibebaskan oleh orang yang menggunakan ilmu ini.

 

Kedua ilmu ini sudah diwariskan kepada murid kesayangannya Manik Siahaan, yang sudah menguasai kedua ilmu ini dengan baik sekali walau masih belum sempurna, tinggal dilatih terus menerus agar semakin sempurna penguasaannya terhadap ilmu ini. Bahkan berkat bakat dan kecerdikannya, Manik berusaha mengembangkan ilmu ini dengan menggabungkan menjadi sebuah ilmu yang lebih hebat lagi. Dan dia sedang dalam tahap pengujian akan penggabungan kedua ilmu ini, maka dapat dibayangkan kalau ilmu tersebut berhasil diyakininya, dia akan masuk ke jajaran tokoh persilatan nomor satu yang susah dicari tandingannya, bisa disejajarkan dengan kehebatan gurunya sendiri. Kakek Penghisap Darah menyadari kehebatan muridnya, maka sedari kecil pria ini sudah dididik dengan keras sekali akan kejujuran, kerendahan hati dan kebaikan agar tidak tersesat jalan hidupnya kelak. Karena dia merupakan musuh yang berbahaya sekali bagi golongan putih jika dia benar-benar sesat jalan hidupnya.

 

Ditambah lagi dia mendapatkan warisan hebat dari keluarganya, benar-benar seorang lawan tangguh. Jadi mereka tidak tanggung-tanggung dalam memberikan bantuan kepada Ranting Simanungkalit.

 

Kejadian ini bermula saat Ranting Simanungkalit jatuh cinta kepada seorang dara jelita yang bernama Mega Sagala, diam-diam dalam hati dia ingin memiliki bunga jelita ini, tapi sayang sang dara sudah mempunyai pilihan hati sendiri. Segala upaya dia lakukan untuk merebut sang dara dari tangan kekasihnya, tapi apa lacur dara tersebut tidak bergeming dari pilihan hatinya. Ranting yang merupakan anak tunggal dari kepala daerah dan terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya tidak bisa dengan mudahnya menyingkirkan lawan asmaranya yang sudah terkenal akan kehebatan ilmunya dan merupakan keturunan keluarga terpandang seperti yang dilakukannya pada musuhnya yang lain. Bahkan ayahnya yang mempunyai jabatan penting dalam pemerintahan juga tidak berani bertindak seenaknya terhadap keluarga Manik Siahaan.

 

Hal ini sangat mengesalkan hatinya dan membuat dia gelap mata ketika mendengar sang pujaan akan menikah. Dia merencanakan akan menculik dara itu dan memaksanya menjadi isterinya kalau perlu memperkosanya sehingga dara itu akan terpaksa menikah dengannya. Ketika dia melaksanakan niatnya itu dan hampir berhasil tiba-tiba dia dihadang oleh kekasih dara itu yaitu Manik Siahaan, terjadilah perkelahian hebat antara Manik dengan Ranting yang dibantu oleh orang-orang bayarannya. Rencana ini gagal, Ranting pulang dengan tubuh luka-luka akibat pukulan Manik dan membawa serta dendam mendalam terhadap Manik dan Mega.

 

Dia berusaha memperdalam ilmunya dengan berguru kepada seorang tokoh sesat terkenal yang bernama Iblis Muka Seribu yang tinggal di salah satu pulau yang ada di lautan Indonesia. Selama 5 tahun dia berguru, saat dia kembali dia mendengar kabar dara yang dicintainya itu sudah menikah dan mempunyai anak dari musuhnya. Dendam semakin membara sehingga membutakan mata hatinya untuk merelakan Mega menjadi milik Manik, kembali dia merencanakan untuk membalas dendamnya kepada keluarga kecil Manik Siahaan itu.

 

Saat yang ditunggu akhirnya datangnya juga ketika Manik dipanggil oleh kakek buyutnya ke Mandailing, dia tahu dibutuhkan waktu cukup lama untuk Manik kembali ke daerah mereka, Balige. Manik sendiri tidak mengetahui bahwa pelukan dan ciuman yang diberikan kepada isteri dan anaknya sebelum dia berangkat merupakan yang terakhir kalinya. Isteri dan anaknya dititip di rumah mertuanya karena keluarganya semua berangkat menuju ke Mandailing untuk memenuhi panggilan sesepuh keluarga mereka itu.

 

Tiga hari setelah kepergian Manik, Ranting menyatroni rumah keluarga Mega untuk meminta dengan paksa agar Mega mau menjadi isterinya dan meninggalkan Manik. Keluarga Mega menentang keras tindakan Ranting ini, akibatnya terjadi perang mulut yang berakhir dengan pembantaian yang dilakukan Ranting kepada keluarga Mega dan anak Manik. Sedangkan Mega dibawa lari olehnya, Mega yang tidak kuat menahan penderitaan batinnya berteriak-teriak seperti orang gila, Tombak yang ingin menghentikan teriakan-teriakan Mega mencekik lehernya dengan tujuan sebenarnya hanya menakut-nakuti saja tapi yang terjadi malahan Mega meninggal akibat cekikan Tombak yang terlalu kuat.

 

Ranting menjadi ketakutan dengan perestiwa ini, cepat dia balik ke rumahnya dan meminta ayahnya menyelesaikan masalah yang sudah ditimbulkannya. Segera sang ayah menyuruh orang-orang kepercayaannya membersihkan bukti-bukti kesalahan Ranting dengan cara mereka membakar rumah keluarga Mega untuk menghapus jejak dan membunuh 3 orang saksi mata yang melihat kejadian di rumah Mega. Dikarenakan keluarga Mega tinggal di pinggiran kampung jauh dari pusat kampong maka tidak banyak orang yang tahu kejadian sebenarnya. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga, ini yang terjadi pada Ranting, dia tidak menyangka ada 1 sanksi penting yang lolos dari pembantaian itu yaitu pengasuh anak Manik yang kebetulan saat kejadian sedang buang hajat di kali yang tidak jauh dari rumah.

 

Saat dia kembali, dia masih sempat melihat Ranting membanting anak asuhnya lalu menarik majikannya dengan paksa keluar rumah, saking ketakutannya dia pingsan melihat kejadian itu. Ini yang menyelamatkan dia dari ancaman kematian, ketika dia siuman dia melihat rumah orang tua majikannya sedang dilalap di jago merah dengan hebatnya. Sang pengasuh setia ini hancur hatinya, dengan berbekal uang dan pakaian yang ada di tubuhnya, dia menyusul majikan laki-lakinya ke Mandailing karena dia tahu kalau dia masuk ke kampung mereka maka orang suruhan dari keluarga Simanungkalit akan membunuhnya.

 

Sementara itu Manik dan keluarganya telah tiba di rumah leluhur pihak ibunya, dalam perjalanan menuju ke Mandailing beberapa kali perasaan tidak enak mengganggu perasaan Manik, ada dorongan dalam dirinya untuk kembali pulang melihat isteri dan anaknya. Tapi setiap kali dia mengungkapkan masalah ini kedua orang tua dan saudara-saudaranya langsung menasihati panjang lebar mengenai pentingnya memenuhi panggilan sang sesepuh itu. Manik yang tidak ingin ribut dengan keluarganya akhirnya tetap berangkat walau tetap dihantui perasaan tidak enak yang mengganggu hatinya.

 

Dalam tempo 4 hari dengan menunggang kuda, mereka sekeluarga sampai di Mandailing, dan bertemu dengan sanak saudara yang sudah sampai terlebih dahulu. Malam itu diadakan pesta syukuran antar keluarga dengan menyajikan bermacam-macam makanan khas orang Batak, dan terdengar juga suara-suara indah diiringi oleh alat musik yang menyertai kemeriahan suasana pesta itu. Tapi di balik kemeriahan suasana, ada seseorang yang gundah gulana, hatinya risau, ini membuat dia murung  dan tidak bisa ikut bergembira pada pesta itu. Oleh karenanya sesudah makan, dia langsung masuk kamar dan beristirahat, jauh dalam hati sebenarnya dia males sekali untuk pergi jauh meninggalkan anak dan isterinya.

 

Manik datang ke rumah besar keluarga Siregar benar-benar karena ingin memenuhi permintaan ibunya saja, tidak ada pemikiran lain dan sedikitpun tidak terbesit keinginan untuk mendapatkan warisan yang menjadi dasar pemanggilan sang kakek buyut kepada keluarga besarnya. karena dia sadar warisan itu hanya diberikan kepada pembawa marga Siregar, sedangkan dia menggunakan marga Siahaan. Menurut adat istiadat turun menurun yang berlaku seharusnya warisan ini diberikan kepada cucu laki-laki dan cucu  buyut laki-laki langsung yang membawa nama marga keluarga, Siregar yang merupakan marga kakek buyut Manik dari pihak ibu.

 

Ketika itu kakek buyut Siregar merasa dirinya menjelang ajal, maka beliau mengumpulkan semua keluarganya untuk mendengar pesan terakhirnya dan memberikan warisan leluhur kepada orang pilihan. Setelah kedatangan keluarga Manik, maka sudah lengkaplah keluarga garis keturunan sang kakek buyut ini. Dua hari sesudah kedatangan Manik di rumah besar itu, sang kakek memanggil semua keluarga laki-lakinya untuk berkumpul di ruang tengah, sedangkan yang perempuan tidak diperkenankan mendekati ruang tengah tersebut, jadi mereka semua hanya boleh di kamar atau di dapur saja. Ternyata ada sekitar 20 orang terkumpul di ruangan leluhur keluarga Siregar, bersama mereka juga ada 5 orang sesepuh keluarga dan 5 orang teman lama keluarga yang dijadikan saksi agar tidak ada yang merasa dirugikan dengan ketidakadilan.

 

Manik yang perasaan hatinya sedang tidak enak, merasa tidak bergairah untuk ikut-ikutan berkumpul, ingin rasanya dia segera pulang menemui anak dan isterinya. Ibunya yang melihat hal ini langsung menegur dia agar segera ke ruang tengah supaya urusan di sini bisa cepat beres dan dia bisa pulang segera. Mendengar perkataan ibunya, Manik buru-buru ke ruang tengah. Ketika dia sampai di ruang tengah dia melihat semua orang berkumpul dengan antusias sekali, suara dan tawa bergema dengan enaknya.

 

Setelah melihat semuanya sudah berkumpul maka mulailah sang sesepuh membuka pembicaraan dengan menyampaikan alasan kenapa mereka berkumpul hari ini adalah untuk menurunkan warisan leluhur kepada pemilik barunya dengan upacara adat yang sudah ditentukan. Sebelum dimulai upacara penyerahan warisan itu, Datuk Kumis Putih menyampaikan beberapa pesan penting dan pembagian tugas kepada keluarga yang hadir.

 

Ada satu perkataan penting mengenai warisan leluhur yang menjadi perhatian semua orang bahwa ilmu Penghisap Raga Mematikan Langkah hanya bisa didapat setelah makhluk halus yang berwujud elang penjaga roh memilih dan menyatu dengan tuannya yang baru. Jadi ilmu Penghisap raga mematikan langkah merupakan satu kesatuan dengan elang penjaga roh, tidak bisa dipisahkan. Semakin kecil harapan mereka untuk mendapatkan salah satu dari warisan itu, beliau juga meminta kepada yang tidak terpilih untuk tidak kecewa dan berusaha merebut warisan itu dengan membunuh pemilik barunya karena itu tidak ada gunanya. Warisan itu tidak dapat seenaknya saja dirampas dari pemiliknya, jika pemiliknya dalam keadaan sangat berbahaya sekali kedua warisan ini akan melindungi tuannya.

 

Warisan ini telah membuktikan bahwa siapapun pemiliknya akan termasuk jajaran tokoh utama di dunia persilatan Pulau Andalas ini dan jarang ada yang bisa menandinginya. Siapa yang tidak pernah mendengar nama Datuk Kumis Putih yang merupakan julukan kakek buyut Siregar, apalagi beliau sedari muda senang bertualang sampai ke nagari seberang kerajaan Melayu dan tanah Jawa, sehingga namanya semakin terkenal sebagai tokoh pilih tanding dalam menumpas kejahatan dan menegakkan kebenaran. Bahkan sempat beliau menjadi pimpin tokoh persilatan di tanah Batak ini selama hampir 1 dekade sampai dia menyerahkan jabatannya pada temannya, si Tongkat Penghancur Tulang, yang hanya menjabat sebentar saja lalu dipaksa bubar oleh tokoh2 persilatan lainnya.

 

Oleh karena itu diantara mereka sangat mengharapkan mendapat warisan ini berangan-angan akan menjadi pemimpin dunia persilatan tidak hanya di sini tapi di seluruh Pulau Andalas. Bahkan ada yang diam-diam mempersiapkan diri untuk merebut warisan tersebut jika dia tidak mendapatkannya. Dan seperti yang telah sama-sama mereka ketahui juga warisan ini akan memilih sendiri tuannya yang baru dan itu tidak bisa mereka rubah sendiri sesuai dengan kemauan mereka. Tapi yang namanya manusia selalu saja ingin mencoba meraih apapun yang diinginkannya menggunakan segala cara dengan harapan bisa terjadi sesuai keinginan hati mereka, walaupun hal ini seringkali gagal.

 

Setelah sang kakek memberikan nasihat dan pesan yang beliau rasa penting untuk disampaikan, maka dimulailah upacara penyerahan warisan leluhur itu. Manik yang sedang gelisah memikirkan anak dan isterinya tidak konsentrasi dengan apa yang sedang terjadi malah sibuk memikirkan kenapa perasaan tidak enak selalu menggelayuti hatinya. Sesuai dengan adat yang berlaku dipilihlah 3 orang yang dianggap paling baik ilmu silat dan budi pekertinya diantara yang lain. Karena calon harus melalui 3 tahap ujian sebelum dia mendapatkan warisan tersebut, ujian pertama mengenai budi pekerti, ujian kedua kemampuan ilmu silatnya, dan ujian terakhir yang paling berat adalah ujian kebatinan. Supaya pilihan ini adil maka diserahkan kepada pendengar untuk memilih 3 orang yang dirasa memang pantas mendapatkan warisan tersebut.

 

Dari sekian banyak orang terpilihlah 2 orang yang mereka anggap pantas menerima warisan tersebut, kebetulan salah satunya bernama Sutan Siregar yang merupakan murid kesayangan langsung dari Datuk Kumis Putih. Dalam hati Datuk Kumis Putih senang juga muridnya terpilih, tapi karena calon kurang 1 orang lagi, maka mereka kembali diharuskan memilih. Terjadi keributan yang lebih heboh dibandingkan ketika memilih kedua orang pertama. Karena masing-masing mengganggap diri paling hebat, hanya ada satu orang yang tidak tertarik dengan apa yang terjadi matanya terlihat merawang memandang kosong ke depan. Keadaan ini disadari oleh sang kakek, beliau tahu cucu buyut luarnya yang satu ini sebenarnya paling hebat dibandingkan dengan yang lain dari segi ilmu maupun budi perkertinya tapi sayang dia hanya cucu luar jadi tidak bisa dipilih.

 

Beliau merasa sayang sekali kenapa orang sehebat ini tidak mempunyai hak untuk ikut pemilihan ahli waris. Walaupun beliau tidak terlalu mengenal kepribadian cucu luarnya terlalu jauh dan masih mengharapkan agar cucu dalamnya yang dapat warisan itu, hati kecil beliau tetap menginginkan cucu luarnya itu mendapat hak juga untuk dipilih. Sambil merenung memikirkan bagaimana caranya agar bisa memasukan cucu luarnya ini, beliau memperhatikan sekelilingnya.

 

Terlihat semua orang sibuk bicara saling membanggakan diri, bahkan beliau dapat merasakan diantara mereka ada yang membentuk kelompok agar bisa mendukung pencalonan dirinya. Keributan ini masih belum selesai juga sekarang malahan diantara mereka terbagi 2 kelompok yang masing-masing berkeras dengan orang pilihannya melihat hal ini sang kakek segera turun bicara. Semakin mantap hatinya untuk memilih cucu luarnya  itu untuk menjadi salah satu calon.

 

Dengan mengangkat tangannya dan suaranya yang lantang beliau menyuruh diam mereka semua, dikarenakan suara yang keluar diiringi dengan tenaga dalam maka semua orang merasakan telinganya berdengung keras dan bagi ilmunya yang rendah langsung merasa pusing kepalanya. Dan ketika sang kakek melirik ke arah cucu buyutnya yang sedang bengong itu, beliau tersirap hatinya karena sang cucu seperti tidak merasakan apa-apa bahkan masih dalam posisi bengongnya seperti tidak merasakan hentakan suara ke gendang telinganya. Kini beliau sadar bahwa cucunya yang satu ini tidak kalah dengan cucu kesayangannya dalam hal tenaga dalam. Beliau memang mendengar kabar bahwa cucunya ini menjadi murid tunggal sahabat lamanya, Kakek Penghisap Darah, tapi beliau tidak menyangka tingkatan cucunya sudah begitu tingginya.

 

Karena keseharian cucunya tidak terlihat bahwa dia mempunyai ilmu silat tinggi, cendrung terlihat seperti orang biasa saja, tidak pernah dia membanggakan dirinya atau menggunakan ilmunya untuk memamerkan kehebatannya. Baru kali ini sang kakek menyadari bahwa cucunya yang satu ini mungkin orang istimewa juga, selama ini dia lebih memperhatikan cucu dalamnya saja yang membawa marganya. Semakin penasaran hatinya ingin tahu sampai di mana kehebatan hasil didikan sahabat lamanya itu.

 

Suasana menjadi hening setelah suara menggelegar sang kakek untuk meminta mereka diam, semua mata memandang sang kakek.

 

“Cucuku semua, pemilihan ini menyebabkan keributan diantara kalian yang seharusnya tidak perlu terjadi jika seandainya kalian sadar dan mawas diri. Kerendahan hati sangat diperlukan diantara kalian agar orang lain bisa meninggikan diri kalian, tapi ketinggian hati hanya mengakibatkan kehancuran bagi sang punya diri.”

 

Secara tidak langsung sang kakek menyindir semua cucunya yang sudah berlagak paling hebat sejagat raya, sekarang beliau menyadari banyak diantara mereka yang tidak mempunyai sifat yang baik malahan ada beberapa yang cendrung mempunyai sifat yang jahat. Mereka yang merasa tersindir langsung dengan perkataan sang kakek langsung menundukan kepalanya, tidak berani lagi banyak bicara.

 

“Bagus, sekarang kalian menyadari hal itu. Setelah aku melihat dan mempertimbangkan beberapa hari ini, aku melihat ada 1 orang diantara kalian yang sebenarnya memiliki ilmu silat dan tenaga dalam yang hebat tapi tidak pernah menonjolkan diri sehingga tidak banyak diantara kita yang tahu kehebatannya. Mungkin pilihan aku pada dia kali ini akan menimbulkan keributan diantara kalian dikarenakan tidak sesuai dengan adat yang berlaku selama ini,” sengaja sang kakek diam untuk melihat reaksi para cucunya.

 

Setelah melihat wajah-wajah penasaran dan kebingungan yang memandang dirinya, beliau melanjutkan ucapannya.

 

“Beberapa waktu yang lalu aku pernah membaca catatan-catatan lama dari leluhur kita mengenai upacara penyerahan warisan ini, aku baru tahu bahwa warisan ini dulunya adalah milik marga lain bukan marga Siregar seperti yang kita ketahui selama ini. Kalian bisa melihat dan membaca hal ini tercatat dalam daun lontar yang ada di ruangan tempat penyimpan barang-barang antik keluarga kita.”

 

“Ompung, kalau boleh aku bertanya apa yang ompung maksudkan dari tadi, pusing kepala aku mendengarkan perkataan ompung,”kata salah seorang cucu dalamnya yang bernama Sirdar, paman kandung dari Sutan.

 

“Sirdar, kau semakin tua semakin tidak sabaran, belajarlah sabar, malu sama usia berkelakuan seperti anak muda yang tidak sabaran,” tegur sang kakek.

 

Mendengar teguran ini Sirdar langsung terdiam dan tertunduk malu, karena dia sadar diantara yang lain dia yang paling bodoh jadi dengan pertanyaannya itu secara tidak langsung dia menyatakan bahwa dia adalah lekaki kasar yang bodoh. Yang lain juga ikut-ikutan diam dan tidak berani bertanya lagi, takut kena semprotan tajam dari ompung mereka.

 

Sang kakek melanjutkan pembicaraannya,” kalian dari tadi meributkan siapa yang paling berhak menjadi calon pewaris, dan kalian sudah sepakat untuk memilih Sutan dan Tombak sebagai calon. Sekarang tinggal 1 orang lagi apa kalian sudah mendapatkan orang yang sehebat calon sebelumnya?”

 

Kembali keributan terjadi saling menonjolkan pilihan mereka, tapi dalam hati mereka semua tahu tidak ada calon lain yang sehebat Sutan dan Tombak. Jadi sebenarnya siapapun yang terpilih pasti akan kalah jika mengikuti ujian yang diberikan. Diantara mereka yang pintar dan cerdas langsung menyadari makna pernyataan dan pertanyaan sang kakek itu, dari tadi mereka ributkan memilih calon yang membawa marga tapi ketika menyimak kembali perkataan sang kakek, mereka merasa sang kakek memberikan kesempatan kepada yang tidak membawa nama marga. Ada enam orang yang tidak membawa nama marga sang kakek termasuk Manik, dan mereka sebenarnya tidak kalah dengan saudara-saudara yang lain hanya karena mereka dilahirkan dari ayah yang membawa marga sendiri maka mereka secara tidak langsung tersisihkan.

 

Tapi setelah mendengarkan perkataan sang kakek, timbul harapan di hati mereka, siapa tahu mereka bisa mewarisi ilmu leluhur itu. Sedangkan yang membawa marga mulai menyadari adanya saingan tidak langsung dengan pernyataan sang kakek, dan mulai mereka was-was akan hilangnya kesempatan mereka. Karena sedikit banyak mereka tahu diantara 6 orang itu ada 1 saudara mereka yang memang hebat setingkat dengan Sutan dan Tombak yaitu Pane Aritonang dari Muara Nauli, merupakan murid kesayangan dari Raja Pedang Naga yang sudah terkenal kelihayannya hampir menyamai kakek mereka. Dan Pane sendiri mendapat julukan Pedang Naga Kecil dari dunia persilatan di mana dia sudah menebar banyak bibit kebaikan dan menumpas kejahatan sehingga namanya semakin harum saja.

 

Dibandingkan Sutan dan Tombak sebenarnya Pane jauh lebih terkenal di kalangan dunia persilatan jauh sebelum mereka berdua memasukinya. Sekarang Pane berusia hampir 37 tahun, yang berarti lebih matang pengalamannya dibandingkan dengan Sutan yang baru berusia 26 tahun dan Tombak yang berusia 34 tahun. Jadi wajarlah bila Pane diikutkan sebagai calon dengan segudang pengalaman dan namanya yang harum di dunia persilatan. Ini membuat cemas para cucu yang membawa nama marga, mereka kuatir kedua orang calon sebelumnya bisa dikalahkan sehingga warisan itu akan keluar dari marga mereka.

 

Diam-diam sebenarnya Pane senang sekali dengan pernyataan sang kakek, tapi di permukaan wajahnya hal itu tidak bisa terlihat, dia dengan tenang memandang sekitarnya dan sepertinya tidak memperdulikan pandangan mata beberapa orang yang ditujukan kepadanya. Dalam hati dia sudah merasa yakin bahwa dia bakalan terpilih sebagai salah satu dari calon itu, sementara pelan-pelan suara ribut itu mereda ketika semua mulai menyadari maksud dari pernyataan dan pertanyaan sang kakek. Satu hal yang patut sangat dibanggakan dari orang Batak adalah mereka tidak malu mengakui kehebatan orang lain setelah mereka benar-benar merasa dikalahkan, dan hal ini terjadi juga dalam ruangan, perlahan-lahan mereka mulai sepertinya menyadari bahwa ada orang hebat diantara mereka yang harus diperhitungkan.

 

Walau dalam hati tidak setuju tapi mereka menyadari bahwa hal ini tidak terhindarkan, jadi mereka hanya ambil sikap diam saja dan menyerahkan semua keputusan ke tangan sang kakek. Mata awas sang kakek melihat mereka semua melirik ke arah Pane dan tidak satu juga yang melirik ke cucu incarannya itu. Karena yang bersangkutan masih asyik saja dengan pikirannya sendiri tanpa menghiraukan keributan yang terjadi di sekitarnya. Sang kakek juga tahu pilihan mereka terhadap Pane sudah menunjukan kualitas orang itu, tapi beliau tetap menginginkan yang satu itu terpilih. Beliau ingin membukakan mata dan hati yang lain akan makna kerendahan hati dan kesederhaan sikap.

 

“Hmmmm sekarang kalian sudah tenang jadi berarti kalian sudah tahu apa yang dari tadi aku hendak sampaikan, bagaimana menurut kalian?”

 

Lintar yang merupakan cucu paling tua yang ada di ruangan ini mewakili saudara-saudaranya untuk menjawab sang kakek,”Ompung, kami sadar sebagai cucu dalam ompung sudah mengecewakan, tidak bisa mensejajarkan diri dengan Sutan dan Tombak. Oleh karena itu ompung, kami menyerahkan semua keputusan ini ke tangan Ompung, apalagi ompung bicara itu ada dasarnya jadi kami tidak bisa berkata lain, semua terserah Ompung.”

 

“Kalian yakin dengan keputusan ini dan tidak akan menyesalinya di kemudian hari? Aku ingin sekarang kita terbuka untuk membicarakannya agar semua bisa puas dengan keputusanku ini.”

 

Kembali Lintar yang menjawab setelah terlebih dahulu memandang wajah semua yang ada di ruangan itu,”Ompung, kami yakin dengan hal ini karena memang ini salah kami yang tidak bisa menjadi lebih baik, dan seperti yang ompung ajarkan kepada kami, untuk berani dan secara jantan mengakui kehebatan orang lain tanpa menyalahkan siapa-siapa. Dan kini kami sebagai cucu orang nomor satu di dunia persilatan tanah Batak ini harus jujur dan jantan mengakui bahwa saudara kami, Pane memang merupakan orang pilihan yang istimewa sama dengan Sutan dan Tombak.”

 

“Jadi kalian sepakat untuk memilih Pane menjadi calon ketiga?”

 

Serentak mereka semua menjawab tegas,”Iya, ompung!”

 

“Baguslah kalau begitu, tidak sia-sia aku masih hidup sampai hari ini untuk melihat sikap jantan semua cucuku, aku bangga sekali, tidak menyesal aku pergi dari dunia ini karena sudah berhasil mendidik kalian menjadi seorang lelaki kebanggaan keluarga,” sahut sang kakek dengan terharu.

 

“Pane, bagaimana dengan dirimu? Apa kau siap untuk menghadapi ujian ini ?”

 

“Ompung, aku siap menghadapi ujian ini, dan berusaha tidak akan memalukan diriku sendiri dan membuat saudara yang lain menyesal memilih aku sebagai calon pewaris,” jawabnya perlahan namun tegas.

 

Pane berusaha menahan gejolak dirinya untuk berteriak dan melompat kegirangan, dia yakin bisa menangani kedua saudaranya itu agar bisa memenangkan ujian yang diberikan. Mereka semua tidak tahu apa yang berkecamuk di hati pemuda ini, tapi mata batin sang kakek bisa meraba isi hati sang cucu. Beliau masih tidak puas dengan pilihan mereka, tapi hendak dikata pilihan mereka ini memang yang terbaik dari yang ada di luar kedua calon lainnya. Semakin terpojok membuat sang kakek semakin berusaha mencari jalan keluar untuk “memaksa” cucu incarannya itu menjadi calon.

 

Sang cucu dilihatnya masih tidak perduli dengan apa yang terjadi tapi sekarang sudah mulai kembali dari penjelahan alam pikirannya. Dengan tenang dan santai dia memandang sekelilingnya, matanya hanya menatap agak lama kepada Sutan, Tombak dan Pane sesudahnya dia ambil sikap diam saja memandang lurus ke depan ke arah jendela yang ada di samping belakang kepala sang kakek.

 

“Baiklah, calon 3 orang sudah dipilih…” tiba-tiba sang kakek menghentikan pembicaraan dan dengan cepat tangannya menjentik ke arah depan.

 

Terdengar teriakan,” Aduh…”

 

Semua mata memandang ke arah teriakan itu, terlihat Manik sedang mengusap-usap kedua kupingnya yang pedas kena jentikan tangan jarak jauh dari kakeknya.

 

“Manik, mengapa kau melamun saja dari tadi, apa kau merasa hal ini tidak penting? Atau kau merasa paling hebat sehingga tidak menghendaki warisan dariku ini?” bentak Datuk Kumis Putih dengan keras sekali dan mata yang melotot marah kepada cucunya itu.

 

Manik yang mendapat serangan mendadak dan sekarang ditambah lagi dengan bentakan dari sang kakek, terkejut setengah mati, kebingungan dia  dengan situasi yang sekarang semua mata memandang dia dengan mencela. Tergagap dia berusaha menjawab pertanyaan sang kakek, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya karena masih terkejut setengah mati dan tangannya mengusap-usap telinganya yang sakit akibat jentikan sang kakek.

 

Keadaannya benar-benar lucu sekali, wajah memerah malu, mata yang terlihat cemas kebingungan, mulut megap-megap, dan kedua tangan sedang mengusap-usap telinganya yang memerah. Kalau tidak takut sang kakek tambah marah mau mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat Manik. Tapi tahu sang kakek sedang marah besar tiada satu juga yang berani menunjukan muka geli dan komentar atas kejadian ini. Sebenarnya Datuk Kumis Putih ada perasaan sedikit kesal juga terhadap cucunya ini, tapi dia senang juga karena dia tahu sang cucu mempunyai tenaga dalam yang bagus sekali. Dia mengetahuinya karena pada saat dia menjentikan tangannya, dia menyertakan sepertiga tenaga dalamnya, dia melihat sebenarnya sang cucu bisa saja mengelak dari serangannya itu tapi Manik madah saja terima.

 

Makanya telinganya terasa pedas dan berdenging, untung dia sempat menyalurkan tenaga dalam ke kupingnya untuk menghindari kehancuran akibat jentikan sang kakek. Diam-diam dia semakin mengagumi kakeknya yang hebat itu dan merasa bangga memiliki kakek seperti Datuk Kumis Putih.

 

“Jawab Manik, apa kau merasa dirimu paling hebat sejagat raya sehingga kau tidak memperdulikan perkataanku?” bentak sang kakek.

 

Manik tahu dia harus menjawab cepat bentakan sang kakek, kalau tidak mau urusan tambah runyam. Cepat dia mengendalikan dirinya agar bisa dengan tenang menjawab kakeknya.

 

“Maafkan aku, ompung. Tidak ada maksud dalam hati seperti yang ompung katakan, jadi jangan salah sangka. Aku tidak merasa diri paling hebat, ompung, bahkan aku kagum kepada saudara-saudara kita yang ternyata hebat-hebat semua,” katanya  dengan tulus.

 

“Hmmm apa benar pemikiranmu seperti itu, jangan-jangan dalam hati kau meremehkan mereka, hanya karena aku yang bicara maka kau pura-pura rendah hati? Aku tidak percaya dengan semua omonganmu itu, oleh karena itu sebagai hukuman kau harus menjadi calon pewaris agar kau merasakan pahitnya ketiga ujian yang aku berikan,” kata sang kakek dengan tegas dan mata yang menatap Manik dengan dingin seperti merasa terhina dengan semua kelakuan cucunya itu.

 

Manik yang tidak menyangka akan dihukum seperti itu hanya bisa menganga mulutnya dan bengong seperti orang bodoh.

 

Sedangkan yang lain karena mereka semua tidak tahu banyak tentang diri Manik, menyangka itu adalah cara sang kakek memberikan hukuman agar sang cucu dipermalukan karena telah membuat sang kakek marah. Banyak diantara mereka yang diam-diam dalam hati menyukuri hukuman yang diberikan sang kakek, mereka berpikir Manik akan menerima pelajarannya dengan sangat pahit sekali. Tapi hanya satu orang saja yang tahu kehebatan Manik sebenarnya, orang itu adalah Datuk Kumis Putih.

 

“Jadi sekarang aku tetapkan 4 orang yang menjadi calon pewaris ilmu penyirap raga mematikan langkah dan elang penjaga roh. Kalian setuju?”

 

“Kami setuju!” teriak yang lain.

 

Tapi Manik yang merasa bersalah dengan semua ini berusaha berkata kepada kakeknya,”Ompung, aku tidak setuju dengan ini, kenapa ompung tidak menghukum aku dengan cara yang lain?”

 

“Apa maksudmu, anak nakal?”

 

“Ompung, ujian ini bukan untuk dibuat main-main, aku tahu aku bersalah dan memang pantas untuk dihukum. Aku bersedia dihukum tapi bukan dengan cara begini, lagian..…” belum selesai Manik berkata langsung dipotong sang kakek karena beliau kuatir maksud hatinya gagal.

 

“Oooohhh… maksudmu kau takut menerima hukuman ini, kau takut malu karena gagal mengikuti ujian atau kau takut ketahuan bahwa kau itu hanya seorang pemuda yang tidak berguna? Malu aku mempunyai cucu yang pengecut seperti kau tidak berani menerima hukuman walau tahu diri bersalah.” kata sang kakek dengan tajam dan pandangan meremehkan.

 

Melihat hal itu kembali semua mata memandang Manik, tapi kali ini dengan tatapan menghina dan menantang jiwa kependekarannya. Panas juga hati Manik menerima semua ini, maksudnya baik tidak ingin mengganggu kelancaran jalannya upacara penyerahan warisan itu, dia rela mengganti hukuman itu dengan hukuman cambuk seperti yang selalu dilakukan orang tua kepada anaknya yang bersalah besar.

 

Dengan emosi dia berkata,”Baik ompung, kalau memang hukuman ini yang harus aku jalani aku siap menerimanya.”

 

Sang kakek senang sekali siasatnya berhasil menjebak semua orang untuk menerima maksud hatinya, tapi dia masih belum puas mengerjai cucunya itu, dia ingin sang cucu benar-benar mengerahkan tenaganya untuk menjalani “hukumannya” itu.

 

“Hmmmm… apa kata-katamu bisa dipegang Manik ?”

 

“Pasti ompung, sekali laki-laki berucap seribu kudapun tidak akan mampu menariknya kembali,” tegas Manik berucap.

 

“Baiklah, kalau kau bisa menyelesaikan ujian ini dengan baik dan sepenuh hatimu berusaha, maka aku akan memaafkan engkau. Tapi jika aku melihat kau tidak sungguh-sungguh menjalani ujian ini maka aku akan memutuskan tali kekeluargaan denganmu, bahkan ibumu tidak aku perkenankan untuk mengakui kau sebagai anaknya!”

 

Semua yang mendengar hal ini terkejut sekali berubah pucat muka mereka, semuanya merasa bahwa sang kakek tersinggung sekali sehingga marah besar kepada Manik seperti itu. Wajah Manik terlihat putih seperti mayat saking shock mendengar kata-kata sang kakek, dia benar-benar tidak menyangka kelakuannya menyebabkan kakek yang dihormatinya ini sangat marah sampai seperti itu padanya, semua kecemasan hati sebelum ini lenyap terganti dengan kekuatirannya menghadapi kemarahan sang kakek. Peluh membanjir keluar dari lubang pori-porinya, dadanya berdegub kencang, dia harus benar-benar menfokuskan dirinya untuk menghadapi “hukumannya”. Walau perasaannya masih memikirkan anak dan isteri tapi karena sekarang dia sudah mengeluarkan janji seperti itu ditambah lagi ancaman sang kakek, jadi benar-benar harus serius dan mengerahkan segala kemampuannya.

 

Sang kakek yang berhasil membuat cucunya terpojok merasa gembira sekali, dia tahu manusia manapun yang bila dipojokan sampai sedemikian rupa akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk melawan keadaan. Tapi dia ingin membuat ujian yang diadakan berlangsung dengan hebat dan tidak akan terlupakan oleh semua orang karena itu dia juga berusaha memotivasi cucunya yang lain supaya mengerahkan segenap kemampuan mereka.

 

“Dan kalian, Sutan, Tombak dan Pane, aku ingin kalian juga mengerahkan segala kemampuan kalian, jangan kalian berani kalah dari Manik. Dia pasti akan mengerahkan semua kemampuannya untuk melaksanakan hukumannya dengan baik. Kalian yang melakukan hal ini karena memang pilihan orang-orang yang mempercayai kalian buktikan kepada mereka bahwa kalianlah yang terbaik. Jangan buat aku kecewa dan malu jika Manik sampai menang, dia melakukan ini karena hukuman sedangkan kalian karena terpilih. Ingat itu baik-baik!” tegas Datuk Kumis Putih dengan garang.

 

Ketiga calon yang lain segera berkobar dadanya mendengar perkataan sang kakek, mereka bertekat untuk memberikan yang terbaik dan tidak akan kalah terhadap Manik. Mereka merasa pasti bisa mengalahkan Manik yang tidak punya kelebihan apapun, mereka menganggap enteng Manik dan hanya memikirkan bagaimana mengalahkan salah satu diantara mereka saja. Mereka tidak tahu bahwa lawan terberat mereka sebenarnya adalah pemuda ini, yang selalu menyembunyikan kehebatan dirinya di mata orang lain sesuai pesan gurunya.

 

“Baik, ompung, kami pasti akan mengerahkan segenap kemampuan kami agar tidak mengecewakan ompung dan saudara yang lain!” sahut Sutan mewakili yang lain.

 

Dia senang sekali bahwa kali ini ujian yang dia berikan akan berlangsung dengan meriah sekali karena dia telah mendapatkan calon-calon yang hebat untuk membuktikan siapa yang pantas menerima warisan dari dirinya. Karena sudah saatnya makan siang, sang kakek membubarkan mereka semua untuk istirahat, besok dimulainya ujian dari pagi sampai malam dan berlangsung selama 2 hari. Jadi mereka harus siapkan diri mereka dengan baik supaya ujian besok bisa berlangsung dengan lancar.

 

Manik yang masih kebingungan dan kuatir dengan hukumannya tidak habis mengerti kenapa dia bisa tertimpa sial seperti ini. Dan saudara-saudaranya yang lain mengolok-olok dia dan orang tuanya memarahi karena kelakuan yang membuat sang sepuh marah besar. Walaupun hatinya masih resah dengan perasaan tidak enak memikirkan anak dan isterinya, tapi sebagai seorang laki-laki yang sudah mengeluarkan janjinya maka dia harus melakukannya dengan segenap kemampuannya. Dia sadar harus berkosentrasi penuh dan mempersiapkan dirinya diantaranya harus bersemedi, melatih gerak tangan dan kaki.

 

Sementara semua menyerbu ruang makan, terlihat sang kakek belum beranjak dari tempat duduknya tadi dan beliau ditemani oleh salah seorang teman sejatinya sedari kecil, Benteng Simbolon. Mereka terlibat percakapan dengan serius sekali walau wajah mereka berdua terlihat selalu tersenyum.

 

“Bang Kumis, aku tahu kau merencanakan sesuatu dengan pencalonan seperti tadi itu. Aku tahu sebenarnya kau tidak dalam kondisi ingin menghukum cucumu, jadi ceritakan padaku apa yang ada di benakmu itu dan jangan berdusta karena aku tahu siapa kau ini?”

 

“Benteng, kamu memang seperti cacing dalam perutku saja, tidak ada yang lolos dari pengamatan mata licikmu itu?” sahut Datuk Kumis Putih sambil tersenyum.

 

“Karena aku merasa aneh saja, kau yang tidak pernah perduli pada banyak peradatan tiba-tiba bisa marah seperti itu mana mau putuskan hubungan keluarga lagi. Bisa terkencing-kencing takut cucu kau itu kalau dia sampai kalah, aku tahu kau mau tekan dia supaya keluarkan seluruh kemampuannya. Apa sedemikian hebatkah dirinya sehingga perlu kau melakukan semua ini agar dia bisa ikut ujian yang kau berikan ?”

 

“Kau tahu Benteng, cucuku yang satu itu murid kesayangan dari sahabat lamaku. Kau pernah dengar seorang tua yang dijuluki Kakek Penghisap Darah ?”

 

“Jangan kau katakan bahwa cucumu itu muridnya?” kata Benteng dengan tercengang.

 

“Hahahaha… sekarang kau mengerti kenapa aku memaksa dia ikut ujian ini ? Kau tahu ini satu rahasia lagi yang mau kukatakan padamu, cucuku itu di dunia persilatan dijuluki Malaikat Penghisap Darah,” kata sang kakek dengan bangga.

 

“Hah… dari mana kau tahu bahwa Malaikat Penghisap Darah itu adalah cucumu, selama ini tidak ada satupun orang yang pernah melihat wajah aslinya. Seluruh kepalanya ditutupi kain putih bahkan matanya saja ditutupi kain kasat, bagaimana kau tahu dia adalah pendekar pilih tanding itu?” kata Benteng bingung.

 

“Memang aku tidak tahu pasti, tapi aku sangat yakin bahwa cucuku itulah Malaikat Penghisap Darah. Tadi aku sudah uji sedikit kemampuannya dan kau tahu dia lulus dengan baik. Kau lihat saja besok saat dia ujian kedua dan ketiga, baru kau sadar siapa cucuku itu sebenarnya,” kata sang kakek tersenyum senang.

 

“Apa kau berharap dia yang akan menerima warisan darimu ? Bukannya itu malah melanggar aturan yang ada ? Bagaimana kau akan atasi hal ini ? Aku tahu kau bilang dasarnya dari sejarah yang tertulis di daun lontar yang kau punya, tapi apa itu bisa diterima oleh cucumu kelak?”

 

“Hehehe… Benteng, aku yakin beberapa dari cucuku sekarang pasti sedang pergi mencari daun lontar itu, untuk memastikan perkataanku tadi. Bagiku hal itu lebih baik lagi karena memang begitulah kenyataan yang tercatat di sejarah, dan aku yakin mereka tidak akan berani mencuri untuk menghapus kebenaran yang tertera di daun lontar itu.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena aku sudah meletakkan penjaga di ruangan itu dan penjaga khusus daun lontar, tidak sembarangan orang yang bisa mengalahkan para penjaga itu. Kalaupun kalah, maka aku akan segera tahu.”

 

“Tapi terlepas dari itu semua sebenarnya ujian yang aku laksanakan itu hanya sekedar melihat kemampuan para cucuku saja. Ujian yang benar-benar adalah ketika ilmu dan elang itu memilih sendiri tuannya, bahkan akupun tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika mereka sudah menetapkan majikan mereka yang baru.”

 

“Hmmm jadi begitu, yah kita lihat saja nanti bagaimana jadinya, mudah-mudahan semua bisa berjalan lancar.”

 

“Yah sudah, hayo kita makan, aku sudah lapar. Ah… aku tidak sabar lagi menunggu besok, pasti sangat menarik.”

 

Maka berlalulah mereka ke ruangan makan, dan benar apa yang dikatakan sang kakek, beberapa dari cucunya pergi ke ruang antic belakang untuk mencari daun lontar itu. Mereka hanya bisa melihatnya dari luar lemari kaca, dan ketika ada yang hendak menyentuhnya, tangannya langsung kebakar, sehingga yang lain tidak ada yang berani menyentuhnya lagi.

 

Dan hari itu berlalu dengan berbagai hal yang berkecamuk di benak masing-masing orang, sedangkan yang hendak ujian besok mempersiapkan diri mereka agar bisa tampil dengan membanggakan.

Posted by sieklie in 06:36:14 | Permalink | Comments (2)

Tuesday, September 2, 2008

Part III Kesakitan Panah Asmara

Merasa sapaannya tidak diindahkan oleh sang tabib, Lukman mulai merasa kesal mungkin karena dia sudah lelah sekali jadi emosi tidak bisa dikontrol lagi. Tapi belum sempat dia mengeluarkan kata-kata kasar, dia merasakan punggungnya ditimpuk sesuatu, cepat dia menoleh ke arah datangnya timpukan. Terlihat Datuak Marindiang sedang berdiri menyender pada sebuah pohon besar sambil menyeringai memandang kepada Lukman. Pemuda ini tidak berani mengumbar emosinya kepada teman ayahnya ini karena dia tahu dia akan dapat masalah besar jika dia melakukan hal itu, tapi tetap dia memasang muka cemberut karena kesal sekali.

 

“Kalian ini benar-benar tidak sopan sekali, masak di depan sang penolong, kalian tidak turun dari kuda untuk menyapanya?” Di mana etiket tata krama yang telah diajarkan oleh orang tua kalian?” tegur Datuak Marindiang kepada mereka.

 

Segera mereka menyadari kesalahan mereka, pantas saja sang tabib tidak mau menjawab pertanyaan tadi. Karena dalam adat kesopanan, jika orang berbicara di atas kuda dengan orang yang menginjak tanah maka kedudukan orang yang diatas kuda lebih tinggi derajatnya dari orang yang berdiri di tanah. Sedangkan tabib tersebut boleh dibilang mereka harus menghormatinya karena sudah melepaskan budi kepada mereka, jadi tidak sepantasnya mereka melakukan penyapaan dengan cara seperti itu. Buru-buru semua turun dari kuda dengan wajah memerah malu, terutama Lukman yang saking tergesa-gesanya tadi karena takut sang tabib menghilang lagi melakukan kesalahan seperti itu.

 

Setelah mereka semua turun dari kuda, semuanya merangkap kedua tangan di dada dan sambil membungkukkan badan memberi hormat kepada sang tabib yang masih saja asyik membersihkan wajah dan mulutnya dengan air.

 

“Salam hormat dan kenal kami kepada anda, Dewi Tangan Dingin.” Kata Lukman mewakili teman-temannya.

 

Tidak terdengar sahutan apa-apa dari tabib tersebut, seakan-akan dia tidak menyadari kehadiran banyak orang di sekitarnya. Malah anehnya kuda Putih yang tadinya merumput, membalikan badannya menghadap mereka dan memberikan salam dengan menganggukan kepalanya secara anggun sekali ke arah mereka seakan membalas sapaan hormat mereka. Kebalikan dengan sang majikan yang masih asyik membasuh dirinya seakan dia tidak perduli dengan keadaan sekitarnya. Melihat hal ini rombongan Lukman mempunyai perasaan yang campur aduk antara takjub melihat kelakuan sang kuda itu dan kesal melihat tingkah majikannya.

 

“Maafkan kami, tabib, jika kami tidak sopan tadi. Kini kami menyampaikan salam hormat kami kepada tabib dan kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada anda karena telah menolong kami selama ini. Perkenankanlah kami memperkenalkan diri kepada anda agar kelak kami tidak disangka sebagai orang yang tidak tahu budi dan terima kasih kepada orang yang telah menolong kami. Kami berjanji kami pasti akan membayar budi besar yang telah anda lepaskan kepada kami, karena kami mempunyai prinsip  tidak pernah berhutang apapun kepada siapapun tanpa kami bayar, begitu juga jika ada orang yang berhutang pada kami tidak akan pernah tidak akan kami tagih. Harap anda memakluminya.” Kata Malik terdengar tegas karena dia juga mulai merasa tidak nyaman melihat tabib tersebut menyepelekan kehadiran mereka.

 

Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut sang tabib dan dia berbicara kepada kudanya dengan alunan suara yang begitu lembut mendayu,”Bening, aku selalu merasa heran melihat tingkah laku manusia. Selalu merasa ingin dihormati, ingin disanjung dan selalu ingin diingat budinya. Jika melihat ada orang yang tidak mengenal arti ketiga hal tersebut, mereka merasa penasaran selalu ingin tahu untuk mencari pembenaran diri. Manusia itu suka lupa bahwa apapun yang dilakukan di muka bumi ini selalu ada hukum sebab akibat, setiap perbuatan baik pasti ada balasannya dan begitu juga kebalikannya. Kenapa manusia selalu meributkan masalah balas membalas, adalah hal itu bisa menentramkan dan memberi kedamaian dalam jiwa seseorang dengan keterikatan seperti itu ? Jika sekarang aku berbuat baik kepada seseorang bukan berarti aku menuntut orang itu juga harus berbuat kebaikan kepadaku, tapi alangkah indahnya kalau dia melakukan kebaikan yang seperti aku lakukan padanya dibalas dengan memberi kebaikan pula kepada orang lain, sehingga mata rantai dari sebuah kebaikan tidak akan terputus begitu saja ? Tapi pasti timbul pertanyaan, jadi jika aku melakukan kejahatan kepada seseorang, apakah seseorang itu harus melakukan kejahatan juga kepada orang lain ? Nah di sinilah letak kepekaan batiniah dan keindahan seni sebuah hati yang penuh dengan kebajikan. Dari kecil sehingga dewasa kita dididik oleh orang tua dan lingkungan kita untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, jika batin dan hati kita tidak bisa memilah itu semua apakah itu berarti kita gagal menjadi manusia ?”

 

Suasana hening sekali setelah mendengar perkataan yang luar biasa dalam itu, terdengar hanyalah kicauan burung dan matahari yang mulai merangkak naik ke langit. Semua orang terdiam dan berusaha meresapi kata-kata yang begitu dalam artinya yang baru saja mereka dengar dari mulut sang tabib, tidak terkecuali Datuak Marindiang. Sebagai orang yang sudah banyak makan asam asin dunia, dan bertualang ke tempat-tempat asing, baru sekali ini dia terpesona mendengar perkataan itu keluar dari seorang dara yang masih muda usianya. Karena selama ini perkataan semacam ini pada umumnya diperbincangkan oleh orang-orang yang sudah lanjut usianya atau seorang pertapa, tapi ini keluar dari mulut seorang dara belia. Timbul rasa hormat yang tulus dari dalam hati orang tua ini kepada dara cucu dari Tabib Mato Tigo, ternyata benarlah semua pujian yang diberikan oleh sang kakek kepada cucunya. Selain ilmu pengobatannya yang luar biasa, dara ini memiliki juga ilmu silat yang handal ditambah lagi dengan ilmu batiniah yang sudah cukup dalam. Benar-benar dara pilihan yang sudah jarang sekali ditemui di jaman sekarang ini, sekarang dia sudah tidak penasaran lagi akan wajah sang dara yang dia yakin sekali pasti cantik jelita, jadi dia menunggu saja untuk melihat sampai sang dara berkenan untuk memperlihatkan wajahnya.

 

Pandeka Konek yang memang orangnya penasaran dan tidak mau mengalah, setelah mendengar perkataan dara tersebut malah menjadi tambah penasaran. Dia tidak bisa menerima perkataan tabib itu dengan pandangan luas dan hati terbuka, dia merasa seolah-olah dia digurui oleh angkatan lebih muda darinya yang menurutnya belum banyak pengalaman seperti yang dialaminya. Jadi dia ingin sekali memperdebatkan perkataan tabib tersebut, saat dia hendak buka mulut membantah dara itu, seperti Lukman, dia merasakan punggungnya ditimpuk. Dengan mata melotot dia melihat ke arah Datuak Marindiang, dia melihat sang Datuak meletakkan telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan dia untuk diam. Kesal sekali Pandeka Konek melihat
gaya Datuak Marindiang, tapi dia tahu dia kalah dengan orang ini baik dari silat maupun pengalaman walaupun usia mereka tidak berbeda jauh. Dia melihat Datuak Marindiang berjalan ke arah mereka sambil tersenyum lucu dan memandang sang tabib dengan siratan mata yang jenaka seolah ada hal lucu yang sedang dipikirkannya.

 

Melihat hal ini Pandeka Konek cepat mengalihkan matanya ke arah sang tabib, terlihat sang tabib sudah selesai membasuh dirinya dan sedang bersiap-siap untuk berdiri.

 

“Bening, kemarilah! Aku ingin mengelap wajahku agar bisa terlihat bersih dan sopan oleh para tamu kita.”

 

Dan kuda hebat itu seperti mengerti apa yang dikatakan majikannya, berjalan ke arah tuannya dan memposisikan berdiri menyamping sehingga tuannya bisa meraih apapun yang ada di punggungnya tanpa harus merubah posisi berdirinya yang tetap membelakangi rombongan yang ada di belakangnya. Akhirnya berdirilah sang tabib, terlihat sesosok tubuh gadis yang tinggi ramping berambut panjang bergelombang hitam sehat sampai mencapai pantat sang pemilik. Begitu berdiri, tangan sang tabib meraih kantong yang ada tergantung di punggung kudanya dan mengeluarkan selembar kain biru tebal dan menyekakan kain itu ke wajah dan tangannya untuk mengeringkan tetesan air.

 

Sementara itu semua orang yang hadir di tempat itu terdiam menunggu sang tabib selesai melakukan pekerjaannya.

 

“Hmmm… Bening, terasa segar sekali setelah menikmati air sejuk ini dan membersihkan diri, kamu memang kuda pintar yang bisa memilih tempat indah seperti ini.”

 

Tangannya kembali bergerak memasukan kain tersebut ke dalam buntalan dan mengeluarkan sehelai kain  berwarna ungu lembayung yang kecil panjang, dan mengikatkan kain itu ke rambutnya dengan erat.

 

Datuak Marinding melihat gadis itu sepertinya sudah hampir selesai merapikan dirinya, dia berkata,” Nona Siti, maafkanlah kami jika kami mengganggu ketentraman hati nona. Bukan maksud kami seperti itu, tapi kami ini hanyalah manusia biasa yang tidak mudah melepaskan diri dari segala nafsu dan emosi . Jadi sebagai seorang gadis yang bijaksana dan kebanggaan dari kakekmu Tabib Mato Tiga, kami harapkan pengertianmu untuk memaklumi rasa penasaran yang bercokol dalam diri kami terhadap nona. Aku sebagai orang yang pernah ditolong kakekmu dan juga sahabatnya meminta agar kau mau menerima kami sebegai teman bukan sebagai pengganggu yang harus dihindari terus. Mungkin setelah kita semua menjadi temanmu, kami bisa lebih memahami dan menerima segala keunikan yang ada dalam diri nona sehingga kami bisa pulang dengan hati tentram karena mendapat teman yang seistimewa diri nona.”

 

Sungguh pandai Datuak Marindiang merangkai kata sehingga bagi  yang dituju merasa tidak enak hati tapi tidak tersinggung mendengar teguran yang begitu halusnya atas semua sikapnya selama ini kepada mereka. Sedang bagi yang lain, memandang takjub kepada orang ini, tak terpikir oleh mereka untuk berkata seperti itu sebuah teguran halus yang terkemas dengan sangat indahnya sehingga tidak menyinggung perasaan yang mendengarnya. Pandeka Konek yang mendengar perkataan  Datuak Marindiang menjadi termangu-mangu, sungguh dia kalah jauh dari beliau, memang pantaslah selama ini dia kalah dari beliau. Dia benar-benar orang yang hebat dalam segala segi baik ilmu silat maupun ilmu sastra bahkan tutur bahasanya begitu sopan dan mengena sekali.

 

Kahar yang ada di atas pohon melihat dan mendengarkan saja percakapan yang terjadi dengan perasaan kagum kepada dara cantik dan orang setengah baya itu. Permainan kata yang begitu dalam siratan maknanya, dan Kahar menjadi penasaran ingin mendengar jawaban dari dara cantik itu. Perasaannya kepada dara itu semakin mendalam dan sekarang ditambah lagi dengan perasaan hormat setelah mendengar dara itu berbicara tadi. Dan satu hal lagi dicatat dalam hatinya, dara cantik ini bernama Siti, sebuah nama sederhana tapi indah disebutkan.

 

Tidak hanya Kahar yang mencatat nama dara ini, kedua pemuda yang ada di bawah sana juga menanamkan nama itu dalam hati mereka, dan kelak mereka dapat memberitahukan kepada keluarga mereka nama orang yang telah menolong mereka. Tapi mereka tidak tahu bahwa nanti bukan hanya nama gadis itu tertanam dalam hati tapi berikut dengan wajah dan segala tingkah lakunyapun mengendap dalam jiwa mereka.

 

Terdengar suara tertawa yang merdu merayu, seakan mengajak semua orang di situ ikut merasakan kegembiraan gadis itu. Mereka yang mendengarkannya ada yang ikut-ikutan tersenyum, ada yang tambah penasaran, pokoknya semua perasaan tidak jelas tercampur aduk. Ditambah lagi suara burung-burung berkicau semakin riuh mengiringi tawa gadis itu seakan mereka sedang memuji merdunya suara tawa yang terdengar itu.

 

“Hmmmm… paman Marindiang… Benar apa yang dikatakan kakek, aku harus hati-hati mendengar perkataan paman, kalau tidak awas diri bisa tersanjung dan terhempas sekaligus.” Kata gadis itu dengan nada geli.

 

“Ah, nona Siti, kakekmu benar-benar santiang (pintar) mangecekan urang (mengatai orang). Mana mungkin pamanmu ini akan menghempaskan kamu, gadis yang cantik jelita.” Sahut Datuak Marindiang menggoda.

 

Kembali terdengar tawa geli yang pelan dan gadis itu perlahan-lahan membalikan tubuhnya, dia berdiri membelakangi matahari, awalnya mereka semua tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena silau. Melihat hal itu cepat Datuak Marindiang berpindah tempat agak ke kanan  untuk menghindari silau diikuti dengan yang lain, dan dara itupun memutar tubuhkan sedikit ke arah mana rombongan itu bergerak. Mereka semua bergerak ke arah yang mendekati pohon di mana Kahar sedang duduk menonton kejadian di bawah itu. Begitu mereka sudah tidak silau lagi, barulah mereka bisa melihat wajah dara itu. Dan…….. semua terpaku di tempat dengan mulut melongo dan seperti orang yang hilang kesadaran memandang wajah dara itu. Bahkan Datuak Marindiang yang sudah biasa melihat wajah orang yang tampan dan cantik karena kegemaran anehnya itu sekarangpun hanya bisa memandang dara itu dan tidak bisa bicara apapun, semua perkataan yang tadi dia persiapkan untuk diutarakan kepada Siti hilang tidak berbekas dari pikirannya.

 

Semua pria yang ada dalam rombongan itu berdiri bengong dan seperti orang bodoh menatap Siti, begitu juga dengan Kahar yang terpesona melihat seri wajah dara itu yang terlihat segar setelah dibersihkan dari debu. Wajah yang begitu indah terpahat dengan nilai seni keindahan yang hanya dimiliki oleh Sang Pencipta, tanpa mampu seorang manusiapun yang bisa menirukannya dengan sempurna. Siti yang melihat keadaan ini hanya bisa menghela nafas dan tersenyum, dia sudah biasa menghadapi orang yang melihat wajahnya seperti ini bahkan kadang-kadang dia suka risih jika dipelototin seperti ini makanya dia lebih suka menyamar sehingga tidak menimbulkan masalah nantinya. Tapi satu hal yang dia lupakan adalah dia…. TERSENYUM… dan itu langsung menghunjam tepat di hati yang melihatnya, melihat hal itu dewa asmara tertawa nakal dengan kerasnya. Dia langsung melepaskan panah asmaranya secara bersamaan ke jantung kedua pemuda yang penasaran itu, setelah terlebih dahulu melepaskannya untuk Kahar.

 

Dan seperti Kahar, Lukman dan Malik tidak berdaya untuk melepaskan diri dari panah yang sudah menancap di hati mereka. Mereka hanya bisa menatap dan menatap senyum sang dara cantik jelita itu, tidak pernah terpikirkan oleh mereka sedikitpun bahwa sang tabib adalah seorang dara yang akan membuat sukma mereka melayang-layang tidak menentu dan degub jantung mereka berdetak kencang seperti detak tetabuhan.

 

Pandeka Tangan Siluman yang cepat menyadari situasi, mungkin karena beliau memang orang yang lebih dalam batiniahnya dibandingkan yang lain. Cepat dia menepuk bahu Lukman dan Malik, untuk menyadarkan kedua tuannya itu akan keadaan karena mereka berdua terlihat seperti tersihir sehingga tidak sadar air liur mereka sudah menetes di tepi bibir. Lalu diapun menepuk temannya Pandeka Konek dan Datuak Marindiang, segera keduanya tersadar. Sedangkan kedua pemuda itu masih berusaha meraih kembali kesadaran mereka dengan menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat.

 

Tanpa basa basi langsung Datuak Marindiang berkata,”Onde mande kanduang, yo lah sabana rancak padusi ko, indak heran awak kini ko,  Tabib Mato Tigo selalu sambunyian inyo.  Iko baru namonya sabana rancak, indak sia-sia awak iduik selamo iko, yo Tuhan sabana elok, Inyo bari awak kesempatan mencaliak urang sarancak ko. Uninyo lain rancaknyo kini adiaknyo lain pulo rancaknyo.” (Ya ibu kandung, inilah sebenarnya perempuan cantik, tidak heran saya sekarang ini, Tabib Mato Tigo selalu sembunyikan dia. Ini baru namanya benar-benar cantik, tidak sia-sia hidup saya selama ini, ya Tuhan benar-benar baik, Dia beri saya kesempatan melihat orang secantik ini. Kakaknya lain cantiknya kini adiknya lain pula cantiknya)”.

 

Apa yang dikatakan oleh Datuak Marindiang benar adanya kecantikan Siti merupakan kecantikan yang eksotik sekali, kecantikan seorang gadis dengan kulit sawo matang dan bentuk wajah yang unik serta tubuh yang menggambarkan kesensualan sang pemilik memang tiada duanya. Beda dengan sang kakak yang mempunyai kecantikan oriental dikarenakan kulitnya yang putih kekuningan seperti ibu mereka. Wajah Siti mirip dengan ibu mereka tapi rambut dan kulitnya mengambil dari sang ayah, kebalikan dengan sang kakak yang berwajahkan ambil garis keturunan sang ayah tapi rambut dan kulit ambil dari sang ibu. Perpaduan yang sangat indah dan elok sekali. Tidak salah sekarang semua pria yang hadir di situ hanya bisa menatap bengong pada dara cantik ini.

 

Siti hanya diam saja membiarkan rombongan itu memulihkan kondisi kesadaran mereka yang kelihatannya sesaat hilang entah ke mana. Setelah dia lihat mereka sudah pulih kesadarannya baru dia berbicara.

 

“Baiklah, sekarang kalian sudah bertemu dengan aku, apa yang kalian inginkan dari aku ?”

 

Lukman berusaha bicara tapi suaranya seperti tidak mau bekerja dengan baik, bahkan seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya. Malik lebih bisa mengeluarkan suara yang akhirnya dia yang berbicara menjawab pertanyaan dara nan rancak ini.

 

Dengan terbata-bata dan suara yang gugup dia berusaha menjawab,”Maaafffkkannn kaammmiii,… hmmm, maafkan kami, Nona Siti, jika selama ini kami sepertinya tidak tahu terima kasih sehingga menyusahkan nona. Bukan maksud kami seperti itu tapi karena kami menghormati dan ingin berterima kasih langsung kepada nona makanya kami terus mengikuti nona sehingga kami tidak menyadari bahwa itu telah mengganggu nona. Tapi sejujurnya kami tidak menyesal telah melakukan hal ini karena kami merasa tidak sia-sia semua usaha kami untuk menemui nona nan rancak rupawan bak mutiara gemilang.’

 

Semua orang memandang Malik dengan bengong karena belum pernah selama ini mereka mendengar pemuda ini mengeluarkan kata-kata rayuan, memuji iya tapi merayu… ? Mereka jarang mendengar pemuda ini memuji seorang gadis yang bagaimanapun cantiknya, tapi sekarang bahkan merayunya…? Ditambah lagi sinar matanya yang memandang lembut dan syahdu sekali kepada dara cantik yang baru pertama kali ditemuinya itu.

 

Lukman tidak mau kalah, dia merasa kecolongan oleh Malik, langsung dia menyambung perkataan Malik,”Benar sekali nona Siti, kami ingin sekali berjumpa dan menyampaikan maaf kami jika selama ini telah berburuk sangka dan mengeluarkan perkataan serta sikap yang mungkin menyinggung perasaan nona. Kami tahu seorang dara yang begitu rupawan seperti nona tentu bersedia memaafkan kebodohan dan kekasaran kami kepada nona, terutama aku, nona. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas sikapku yang tidak berkenan di hati nona.”

 

Kembali semua memandang ke Lukman dan bengong menatapnya karena seperti juga Malik, orang seperti Lukman itu tidak gampang mengeluarkan kata-kata minta maaf walaupun itu sudah jelas kesalahan dia biasanya dia terdiam dan akan memperbaiki kesalahannya. Jarang sekali dia mengeluarkan kata minta maaf dengan begitu mudahnya dengan mata memohon meminta pengertian kepada orang lain.

 

Melihat keadaan kedua pemuda ini angkatan tua seperti Pandeka Tangan Siluman, Pandeka Konek dan Datuak Marindiang hanya bisa geleng-geleng kepala saja, mereka memaklumi keadaan pemuda ini. Seadainya mereka seusia pemuda itu tidak pelak lagi merekapun akan jatuh bertekuk lutut di depan nona cantik ini. Mereka melihat gelagat yang kurang bagus kelak dengan keadaan kedua pemuda ini, tapi mereka tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya. Hanyalah dara cantik itu yang bisa menyelesaikan pertingkaian yang sudah memunculkan taringnya diantara kedua pemuda ini.

 

Siti yang walaupun di usia semuda ini sudah mempunyai kebijaksanaan yang cukup tinggi tapi untuk urusan asmara masih jauh dari pengetahuan dasar yang seharusnya dimiliki oleh seorang dara seusianya. Karena dia dididik oleh kakeknya sedari kecil dan berkelana di dalam hutan-hutan sehingga untuk pendidikan mengenai asmara dia tidak mengerti sama sekali. Sehingga problem yang dia timbulkan kepada kedua pemuda ini, dia tidak menyadarinya. Dari kecil dia sudah menyadari reaksi orang yang aneh setiap melihat wajah dia ataupun kakaknya, hanya dia tidak mengerti kenapa orang menatapnya seperti itu. Pernah sekali hal ini dia tanyakan kepada orang tuanya, mereka menjawab karena orang-orang itu suka memandang keindahan secara berlebihan sehingga tidak bisa melihat suatu keindahan itu sebagai sebuah kewajaran dan syukur akan nikmat yang diberikan oleh Sang Pengasih.

 

Karena kebanyakan manusia itu lemah dan mudah sekali melibatkan diri dengan kekacauan baik secara sadar maupun tidak sadar. Oleh karena itu mereka berpesan kepada kedua putrinya untuk selalu menutupi wajah asli mereka dengan topeng tipis yang dibuat khusus oleh kakek mereka agar kecantikan mereka tidak terlalu menonjol. Hanya di rumah saja mereka melepaskan topengnya, tapi memang dasarnya cantik walau sudah menggunakan topeng untuk mengurangi kecantikan mereka tetap mereka termasuk kategori orang cantik. Tapi itu tidak membuat orang sampai terperangah seperti melihat wajah asli mereka.

 

Kali ini karena sudah merasa berdebu dan tidak nyaman, maka Siti membuka topengnya dan mencuci wajahnya, dia tidak menyadari masalah yang segera dia timbulkan.

 

“Nah, sekarang kalian sudah bertemu dengan aku dan menyampaikan hormat serta terima kasih kalian langsung kepadaku. Jadi aku rasa sudah selesai bukan kepentingan kalian, aku harap ini juga menyelesaikan rasa penasaran kalian. Dan dalam kesempatan ini aku menegaskan kembali kepada kalian, bahwa aku tidak merasa perlu menerima balas budi kalian karena di dunia ini setiap kebaikan maupun kejahatan pasti ada balasannya. Jika sekarang aku berbuat baik pada kalian, maka suatu saat  pasti akan ada orang yang berbuat baik juga kepadaku sehingga mata rantai dari sebuah kebajikan tidak akan terputus begitu saja. Karena kalian memaksa aku menerima penghormatan dan rasa terima kasih kalian, tapi aku harap setelah ini semua selesai dan kalian tidak usah lagi mengikuti aku karena aku masih banyak tugas yang harus aku selesaikan. Aku harap pengertian kalian untuk tidak mengikuti aku lagi, dengan kalian melakukan hal itu saja sudah menunjukan rasa terima kasih kalian kepadaku,” dara itu berkata dengan tegas karena dia sudah ingin segera melanjutkan perjalanannya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh kakeknya.

 

Mereka semua maklum dengan perkataan dara ini sudah secara langsung mengatakan bahwa dia tidak ingin mereka mengikuti perjalanannya lagi dan dara ini sudah tidak mau diganggu lagi oleh mereka. Seharusnya mereka tahu diri dengan kata-kata tegas dari dara ini, tapi ketika cinta sudah datang tanpa bisa ditahan perasaan takut yang berputar di sekitarnya ikut muncul di permukaan. Takut kehilangan, takut tidak bertemu lagi atau takut diambil orang dan takut karena sebab macam-macam lagi mendera jiwa mereka yang kasmaran seperti Lukman dan Malik. Mereka tidak rela berpisah dari dara yang telah merenggut cinta mereka dengan begitu saja, walau mereka mendengar perkataannya tapi tetap saja mereka tidak bisa menerima kenyataan ini. Mulailah mereka berdua berusaha mencari alasan untuk bisa selalu berdekatan dengan dara ini.

 

Perbantahan dari kedua pemuda ini mulai terlontar menanggapi perkataan Siti, mereka tetap memaksa ingin mengikuti dara itu dan Siti juga bersikukuh untuk tidak mau diikuti. Pandeka Konek yang kasihan melihat kedua tuannya sudah seperti orang yang mau putus asa menjawab semua penolakan Siti akhirnya angkat bicara.

 

“Nona Siti, tidak baik rasanya menolak kebaikan hati orang lain yang ingin membantu nona, apakah nona tidak punya perasaan sehingga terus menerus orang yang ingin memberikan kebaikan kepada nona? Apakah sedemikian rendahkah nona memandang kami sehingga menolak bantuan dari kami?”

 

Belum sempat Siti buka mulut untuk menjawab perkataan Pandeka Konek, tiba-tiba terdengar suara ketawa pria yang terdengar jantan menyahut perkataan beliau.

 

“Ha..ha..ha.. manusia di dunia ini benar-benar suka lucu dan  berlebihan, sudah jelas-jelas orang menolak tapi masih memaksa lagi, malah memojokan orang lagi. Apa itu caranya berterima kasih manusia jaman sekarang kepada penolongnya ?”

 

Mereka semua terkejut mendengar perkataan itu, semua berusaha mencari darimana suara itu datangnya. Dan mereka melihat ada seorang pemuda sedang duduk dengan enaknya di sebuah pohon yang tidak jauh dari mereka sambil mengayun-ayunkan kakinya dan tersenyum mengejek ke arah mereka. Siapa lagi kalau bukan Kahar, dari tadi dia mendengar pembicaraan mereka, dia sudah gatal-gatal ingin membantu Siti, dalam hatinya orang-orang ini tidak tahu diri sekali, sudah jelas ditolak tapi malah memaksa terus memojokan lagi. Benar-benar tidak kenal budi mereka ini.

 

Pandeka Konek yang mengeluarkan perkataan tadi, memerah muka sampai ke telinganya mendengar teguran dari pemuda yang kelihatannya masih muda sepantaran tuannya. Dia belum bisa melihat wajah jelas pemuda itu karena sebagian wajahnya tertutup bayangan daun pohon. Karena malunya dia melampiaskan kekesalannya kepada pemuda itu, satu hal yang tidak dia sadari mungkin saking malu dan kesalnya. Seharusnya dia cepat menyadari kenapa kehadiran pemuda itu tidak mereka sadari dari tadi, itu artinya pemuda itu bukan pemuda sembarangan yang bisa sekali pukul selesai urusan.

“Eh orang muda, kalau bicara jangan sembarangan, kau pikir siapa dirimu, berani-berani mengganggu pembicaraan orang? Apa orang tuamu tidak mengajarkan tata krama kepada kamu, untuk tidak boleh menguping pembicaraan orang lain? Bentak Pandeka Konek dengan kerasnya.

 

“Ya ampun pak tua, justru aku mau tanya apa orang tua pak tua tidak ajarin bagaimana cara yang benar dan baik untuk berterima kasih kepada penolong dirimu? Apa begitu caranya ? Wah berarti kita sama-sama tidak diajarin tata krama oleh orang tua kita,”kata Kahar dengan wajah yang dibuat terperangah seolah-olah takjub dengan tata krama ajaran orang tua Pandeka Konek.

 

Langsung saja Pandeka Konek tambah naik darah mendengarnya, belum dia sempat menyahutinya sudah keduluan Datuak Marindiang.

 

“Anak muda benar apa yang kau katakan, kita manusia harusnya tahu tata krama dan hormat kepada orang yang sudah menolong tidak sepantasnya kita memaksa dia untuk memenuhi permintaan kita. Ini membuat kita menjadi tidak tahu diri sekali, menyusahkan orang yang sudah menolong. Perkataanmu sungguh menarik anak muda, bolehkah kita berkenalan? Aku bernama Datuak Marindiang, datang ke sini hanya ingin melihat keindahan saja.”

 

Sebagai orang yang diajari sopan santun yang sangat kuat, Kahar tahu diri sebagai orang muda harus menghormati orang yang lebih tua. Dengan perkataan Datuak Marindiang itu artinya pihak tua sudah mengalah dan dia sebagai pihak yang muda gilirannya untuk tahu diri dan memperkenalkan siapa dirinya. Cepat dia meloncat turun di dekat Datuak Marindiang berdiri.

 

Kembali Datuak Marindiang terkejut melihat wajah yang sangat tampan dan mempunyai aura khusus yang dimiliki oleh keluarga kerajaan sehingga keelokan wajah pemuda ini terlihat begitu sempurna. Tinggi dan postur tubuh yang merupakan idaman tiap pria, hidungnya mancung dan tengahnya agak sedikit cungik (patah) tanpa mengurangi keindahan bentuk wajahnya malah mempertegas wajah jantannya, bibir tipis dengan belah di tengahnya serta dagu persegi khas milik laki-laki sejati, alis hitam yang tebal memayungi matanya yang bersirat riang dan jenaka sehingga hal ini sangat kontras sekali membuat orang hanya bisa menatap dirinya tanpa tahu harus berbuat apa.

 

Dalam hati Datuak Marindiang merasa senang sekali, ternyata dia menemukan sepasang manusia yang begitu elok dan rupawan wajah dan tubuhnya. Tidak sia-sia dia menghabiskan waktu untuk berkelana dan membantu keluarga temannya itu, dia mendapatkan hasil yang luar biasa sekali ini. Dia harus memastikan kepada sepasang manusia elok ini untuk dilukis olehnya. Yang laki-laki cerminan seorang lelaki jantan sejati dan yang perempuan secantik lembayung mewarnai langit berawan memantulkan sentuhan keindahan yang tiada tara.

 

Lain lagi dengan perasaan yang ditimbulkan Kahar kepada orang-orang lain seperti pada Pandeka Konek, dia terkejut karena dia seperti mengenal wajah pemuda tampan itu. Wajahnya mirip sekali dengan orang yang sangat dihormati dan disanjungnya, dia bersedia mati untuk orang ini. Tapi kenapa wajah pemuda ini mirip dengan orang itu, karena pemuda biasa seperti ini tidak mungkin ada hubungan dengan keluarga kerajaan karena orang itu masih merupakan kerabat dekat dengan raja sekarang. Dia jadi penasaran sekali siapakah gerangan pemuda ini, memang dia mendengar kabar bahwa orang yang dihormatinya itu mempunyai seorang putera yang dibesarkan di luar istana, apakah pemuda ini maksudnya ?

 

Bagi Lukman dan Malik, secara naluri mereka tahu pemuda ini akan menjadi lawan berat mereka dalam memperebutkan cinta sang tabib. Sedangkan persaingan diantara mereka saja sudah merepotkan apalagi ditambah dengan pemuda yang memang harus diakui sangat tampan ini. Tapi menilik dari baju yang dia pakai pemuda ini bukan dari keluarga berada seperti mereka, jadi mereka bisa berkurang perasaan tersainginya. Sayang sekali mereka tidak tahu siapa sebenarnya pemuda tampan ini, jika mereka tahu mungkin mereka akan lebih sadar diri dan tidak akan bersikap takabur seperti sekarang ini.

 

Pandeka Tangan Siluman yang paling awas diantara mereka semua menyadari bahwa pemuda ini bukan pemuda sembarangan, terlihat dari cara dia melompat dan mendarat di depan mereka. Gerakannya begitu ringan seperti kapas yang tertiup angin dan jejak kakinya tidak terlihat di tanah yang diinjaknya. Matanya biarpun terlihat memancarkan sinar riang dan jenaka tetap tidak bisa menyembunyian ketajaman sinarnya yang menandakan pemuda ini memiliki tenaga dalam yang tinggi.

 

Siti yang melihat ada seorang pemuda membantu dia menjawab sindiran Pandeka Konek tadi melihat pemuda itu dengan tenang walau ada perasaan berdebar ketika menerima sambaran lirikan tajam dari pemuda itu. Dia tidak menyadari bahwa dewa asmara sudah berdiri di sampingnya sedang mengukur berapa dalam panah asmaranya akan menembus jantung hati gadis ini. Dengan seringai jahil dan nakal sekali beliau menancapkan panah tersebut perlahan-lahan sampai berapa dalam tiada yang tahu…

 

Pandeka Konek yang penasaran dengan pemuda tampan ini, langsung menanyakan,” Hai anak muda, siapa gerangan dirimu? Berani-beraninya mencampuri urusan orang lain ?”

 

Sambil tersenyum, pemuda itu menjawabnya,”Paman, siapapun aku adanya tapi melihat ketidakadilan di mana dan kapan saja, aku pasti ingin mencampurinya. Karena menurut aku, tidak sepantasnya kita memaksakan kehendak kita kepada orang lain apalagi kepada penolongnya, di mana letak keadilan kalau sudah begitu? Walaupun arti keadilan itu sering disalahgunakan orang tetapi aku atas perkenan Yang Di atas berusaha untuk mencari keadilan dari semua pengetahuan dan pelajaran yang aku terima. Dan hal yang terjadi di sini tadi sungguh-sungguh tidak adil makanya aku perlu turun tangan untuk mencari letak keadilan itu.!”

 

“Jangan berbelit-belit kalau bicara, cepat beritahu kami siapa dirimu ini, sebelum aku memberi pelajaran keadilan kepadamu, anak muda. Atau apa kau takut memberitahu namamu takut aku mengadukan perbuatanmu kepada orang tuamu?,” jawab pandeka Konek dengan nada geram karena merasa dipermainkan.

 

“Hahaha…Pak Gaek (Pak Tua), baru sekali ini aku bertemu orang yang cupat (sempit) cara berpikirnya dari orang yang sudah tua seperti ini. Tapi baiklah supaya engkau senang aku beritahu namaku padamu. Perkenalkan namaku Kahar, murid dari perguruan Api Matahari. Kalian sudah menginjak wilayah perguruanku, sebagai murid, aku harus mempertanyakan maksud kalian ada di wilayah kami,” sambil merangkap tangan di dada menundukan kepala memberi salam hormat.

 

Sengaja Kahar tidak memperkenalkan jati dirinya yang lain karena dia tidak ingin memancing perhatian yang berlebihan kalau mereka tahu dia masih kerabat dekat dengan raja sekarang.

 

Mereka semua yang mendengar pemuda ini murid dari perguruan Api Matahari menjadi maklum kenapa pemuda itu berada di wilayah ini.

 

Cepat Pandeka Tangan Siluman mengambil alih pembicaraan karena dia melihat Pandeka Konek sudah merah mukanya dan siap untuk melontarkan kemarahannya. Dia melihat anak muda ini penuh percaya diri berarti dia berisi dan nalurinya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh pemuda ini karena dia merasa pemuda ini bukan orang sembarangan, mata batinnya melihat pemuda ini memiliki aura khusus yang dimiliki oleh keluarga kerajaan. Mungkin saja memang benar dia murid perguruan Api Matahari tapi mungkin tidak itu saja identitas dirinya, jadi mereka semua harus hati-hati jika tidak mau salah kaprah nantinya.

 

“Tuan Kahar, salam kenal, perkenalkan kami dari keluarga Rangkayo Padang Jati, senang berkenalan dengan tuan. Yang mengenakan baju biru itu Lukman, putra tertua dari Keluarga Rangkayo Padang Jati, di sebelahnya Malik merupakan putra tunggal dari ketua Perguruan Ula Kuniang, di belakang beliau saudara seperguruan dari Perguruan Ula Kuniang, kakek pendek tersebut Pandeka Konek, sedangkan yang di sana kau sudah tahu beliau adalah Datuak Marindiang,” sahut Pandeka Tangan Siluman membalas penghormatan tersebut.

 

Semua orang yang ada di rombongan itu memandang tercengang kepada dia, karena jarang sekali dia memanggil orang dengan panggilan tuan kecuali dia memang menghormati orang tersebut.

 

Apa istimewanya pemuda ini sampai mendapat rasa hormat dari pandeka Tangan Siluman. Datuak Marindiang yang juga mengenal kepribadiannya mulai juga memandang pemuda ini dengan lebih awas. Diapun merasa pemuda ini bukan orang sembarangan dengan sikapnya yang tenang dan percaya diri yang kuat serta senyumnya yang menawan seperti tidak kenal takut. Hanya orang yang punya kelebihan dibandingkan orang lain bisa bersikap seperti pemuda ini.

 

“Kakek, janganlah memanggil aku dengan sebutan tuan, tidak enak kedengarannya, apalagi kita sama-sama orang yang bergerak di dunia persilatan janggal sekali rasanya orang tua terhormat kayak kakek memanggil aku dengan sebutan tuan. Panggil saja namaku, Kahar, tanpa embel-embel apapun aku sudah senang sekali berarti kakek menghargai aku sebagai teman,”kata Kahar dengan nada rendah hati dan senyum senang yang ditujukan kepada Pandeka Tangan Siluman.

 

Naik penghargaan Pandeka Tangan Siluman kepada pemuda istimewa ini, semakin yakin dia pemuda ini bukan orang sembarangan. Hanya orang yang punya kepercayaan diri yang kuat dan sikap yang tahu siapa dirinya yang bisa bersikap seperti pemuda ini. Tahu menempatkan diri, tidak lebih tinggi dan tidak merendah dari orang lain.

 

“Baiklah nak Kahar, kata-kata kamu tadi benar adanya kami terlalu memojokan diri kepada tabib padahal beliau sudah menyatakan tegas pendiriannya. Kami melakukan ini mungkin karena keinginan yang besar sekali untuk bisa menyampaikan terima kasih kepada beliau yang sudah melepaskan budi yang begitu besar kepada kami. Kami salah berkata sehingga terkesan memaksakan diri kepada orang yang tidak berkenan dengan kehadiran kami yang terasa mengganggu,”

 

“Tabib, kami mohon maaf jika kami memojokan dikau, tidak sedikitpun terbesit di benak kami untuk membuat tabib kesal kepada kami. Mungkin sudah saatnya kami meminta diri kepada tabib untuk melanjutkan perjalanan pulang. Tapi sebelum kami pulang kami mengharapkan janji tabib untuk bisa singgah ke rumah kami untuk melihat keadaan nyonya kami agar kami semua merasa yakin dan tenang akan kesehatan nyonya kami. Jika tabib tidak bisa menjanjikan hal ini, kami tidak bisa pulang dengan tangan hampa dan pasti keluarga kami akan memarahi kami. Aku yakin tabib seorang dara yang pengertian dan berbudi pasti tidak ingin kami dimarahi karena hal ini. Maka biarlah hamba yang rendah ini memintakan kesediaan janji tabib untuk singgah ke rumah kami.”

 

Dengan kata-kata yang merendahkan diri dan meminta pengertian dari seorang pandeka Tangan Siluman tidak nanti Siti bisa mengabaikan begitu saja permohonan yang tulus ini. Pandeka Tangan Siluman melakukan hal ini karena dia melihat kalau keadaan ini tidak cepat diatasi maka bisa tambah memperburuk keadaan. Dia tidak mau terlibat permusuhan dengan perguruan Api Matahari yang dia tahu banyak orang kosennya dan membuat sang tabib menjadi sebal serta jengkel kepada mereka. Jika sampai ini terjadi maka sudah bisa dipastikan bahwa mereka semua akan dimarahi oleh Sutan Rangkayo Padang Jati habis-habisan.

 

Pandeka Konek dan Datuak Marindiang terkesima mendengar perkataan Tangan Siluman karena setahu mereka teman mereka ini jarang sekali bicara, kalau sampai bicara biasanya karena dipaksa atau terpaksa. Dan sepertinya hal terakhir yang paling cocok, terpaksa bicara, artinya ada sesuatu yang memaksa beliau bicara menengahi keadaan. Mereka melihat beliau memandang hormat kepada pemuda yang bernama Kahar itu, apa beliau mengetahui siapa gerangan pemuda itu?

 

Siti melihat jika dia tidak memberikan jawaban segera maka urusan ini bisa berlarut-larut sedangkan tugas yang diberikan kakeknya harus segera diselesaikan, apalagi ada murid dari Perguruan Api Matahari yang besar kemungkinan bisa membantunya meminta ijin kepada ketua mereka untuk mencari obat di dekat wilayah perguruan mereka.

 

Lukman dan Malik tidak puas dengan perkataan Pandeka Tangan Siluman sudah ingin membantahnya tapi tatapan tajam dari Datuak Marindiang dan Pandeka Tangan Siluman membuat mereka tutup mulut sementara. Mereka ingin melihat dulu apa jawaban gadis cantik ini.

 

Sedangkan Kahar melihat ini adalah pemecahan yang terbaik untuk masalah sepele yang sedang diributkan walau dia tetap merasa mereka kelewatan memaksakan kehendaknya kepada Siti tapi memang ini jalan yang terbaik agar semua pihak puas adanya.

 

Dengan menghela nafas dalam-dalam menjawablah Siti,”Aku masih tidak mengerti kenapa kalian memaksa aku untuk menerima terima kasih kalian secara berlebihan ini. Tapi karena aku sudaht terdesak waktu dan harus segera menyelesaikan tugasku, yah sudahlah aku tidak bisa memastikan kapan waktu tepatnya aku mengunjungi kalian, aku hanya bisa menjanjikan sekitar 2 bulan dari sekarang aku akan datang ke rumah kalian memenuhi undangan.”

 

Semua orang lega mendengar janji dari dara ini, tapi tetap saja Lukman dan Malik tidak puas karena baru 2 bulan lagi ketemu dengan dara pujaan hati ini. Mereka sudah membuka mulut mau mengatakan isi hati mereka, buru-buru Datuak Marindiang dan Tangan Siluman menepuk bahu mereka. Datuak Marindiang berbisik kepada mereka berdua untuk menerima syarat dari tabib itu, jika tidak keadaan semakin runyam dan bisa-bisa malah si tabib membenci mereka karena terlalu memaksa. Mendengar perkataan beliau, kedua pemuda yang kerasukan asmara ini sadar mereka lebih takut lagi kalau sampai dibenci daripada berpisah sementara. Walau tidak rela tapi mereka terpaksa menerimanya dengan hati galau.

 

Melihat kedua pemuda itu sudah menerima keadaan, maka kembali Pandeka Tangan Siluman membuka pembicaraan,”Terima kasih tabib atas pengertiannya, kami akan menanti dan sangat mengharapkan kedatangan tabib ke rumah kami 2 bulan dari sekarang. Jika tabib tidak bisa datang kami akan datang menjemput tabib untuk dibawa ke rumah kami karena mungkin saja tabib tersesat tidak tahu di mana rumah kami. Bersama ini juga aku serahkan tanda lambang keluarga dan perguruan kami kepada tabib, supaya bisa memudahkan memasuki wilayah kami dan juga dengan tanda ini tabib bisa meminta bantuan kepada semua anggota perguruan kami jika tabib memerlukan pertolongan. Tabib bisa mengembalikannya kepadaku saat tabib datang ke tempat kami.”

 

Di tangan Pandeka Tangan Siluman ada sebuah besi putih berbentuk lingkaran  Sebesar telapak tangan pria dewasa yang ditengahnya ada segitiga yang tercetak lambang keluarga Rangkayo Padang  Jati dan Perguruan Ula Kuniang. Tanda lambang yang dipegang oleh Pandeka Tangan Siluman menunjukan kedudukanya yang cukup tinggi dalam keluarga Rangkayo Padang jati dan Perguruan Ula Kuniang. Masing-masing mempunyai tanda lambang yang biasanya hanya tercetak lambang Perguruan Ula Kuniang atau Rangkayo padang Jati, kalau sampai ada 2 lambang tercetak dalam 1 tanda lambang itu artinya orang tersebut bisa memerintahkan orang-orang kedua perguruan untuk melakukan tugas yang diembannya.

 

Tanda lambang dari besi Putih seperti yang dimiliki oleh Pandeka Tangan Siluman hanya dimiliki oleh 5 orang saja termasuk Pandeka Tangan Siluman bahkan Pandeka Konek tidak memiliki tanda lambang seperti ini, dia hanya memiliki tanda lambang dari Keluarga Rangkayo Padang jati, jadi bisa diduga kedudukan Pandeka Tangan Siluman lebih tinggi dibandingkan dengan Pandeka Konek.

 

Mereka semua kembali kaget dengan tindakan Pandeka Tangan Siluman, diam-diam Datuak Marindiang kagum dengan kecerdikan beliau secara tidak langsung beliau mengikat sang tabib untuk datang ke rumah mereka tetapi disampaikan dengan cara begitu halus sekali. Tidak salah temannya Rangkayo Padang Jati memilih Pandeka Tangan Siluman untuk mewakilinya memegang 2 lambang tersebut, karena benar-benar dia bisa menggunakannya dengan tepat dan bijaksana. Selama ini Datuak Marindiang tidak pernah menduga bahwa Pandeka Tangan Siluman ini begitu cerdik dan lihaynya dalam menyelesaikan masalah yang sebentar lagi bakalan jadi ramai jika tidak cepat ambil tindakan pencegahan.

 

Melihat hal itu Lukman dan Malik buru-buru mengeluarkan tanda lambang mereka masing-masing untuk diserahkan kepada Siti.

 

“Tanda aku saja, nona ambil karena tanda aku lebih menunjukan kedudukanku sehingga lebih memudahkan nona kalau menghendaki bantuan dari kami,” kata Lukman dengan gayanya yang sombong mau menunjukan kedudukannya yang lebih tinggi dibandingkan dengan Pandeka Tangan Siluman.

 

“Aku punya saja, perguruan kami siap membantu nona di mana saja dan kapan saja jika nona memerlukan bantuan,’ Kata Malik tidak mau kalah.

 

Kedua tanda lambang yang dipegang kedua pemuda ini juga hanya mencetak masing-masing lambang keluarga atau perguruan mereka. Tidak seperti yang dimiliki oleh Pandeka Tangan Siluman, walau tanda lambang mereka berwarna perunggu yang menandakan mereka adalah keluarga inti dan mempunyai kekuasaan lebih tinggi tapi jika dikatakan menguntungkan lebih baik memegang tanda lambang seperti yang dimilik Pandeka Tangan Siluman.

 

Yang lain melihat kedua pemuda itu terselip perasaan kuatir keadaan akan bisa memburuk diantara kedua sepupu ini. Siti juga bisa membaca gelagat yang bakalan tidak mengenakan tidak diambil salah jika diambil juga salah. Supaya mereka cepat-cepat pergi dan tidak menganggunya lagi maka dia memilih untuk mengambil tanda milik kakek tua itu.

 

“Kakek, jika aku mengambil tanda lambang itu, apa nanti tidak menimbulkan kesulitan pada kakek?’

 

“Jangan kuatir tabib, aku percaya pada nona untuk menggunakannya secara bijaksana. Dan mengenai tanda lambang ini nona tidak usah kuatir aku akan dimarahin majikanku dengan memberikan tanda lambang ini pada tabib, karena mereka pasti setuju dengan tindakanku ini. Dan penggunaan tanda ini juga rahasia, yang jika digunakan oleh orang yang tidak mengetahui rahasianya tidak ada gunanya.”

 

“Baiklah, kalau memang kakek tidak kuatir aku akan ambil tanda lambang kakek  yang nanti akan aku kembalikan saat aku singgah ke rumah kalian.”

 

“Terima kasih tabib, sekarang aku bisikan rahasia penggunaan lambang ini….” Dengan menggunakan ilmu Susup Suara, Pandeka Tangan Siluman membisikan cara menggunakan tanda lambang tersebut kepada Siti. Tiada seorangpun tahu apa yang sedang dibisikan oleh kakek itu, bahkan lUkman dan Malikpun sebenarnya tidak pernah tahu rahasia di balik tanda lambang itu. Karena hanya ketua dan orang kepercayaannya saja yang tahu bagaimana cara menggunakan tanda lambang tersebut. Dan rahasia ini akan diwariskan kepada ketua baru dan  orang kepercayaan berikutnya setelah yang lama mati atau berhenti dengan persetujuan ketua.

 

“Sudah mengertikah tabib dengan penggunaan tanda lambang tersebut?”

 

“Sudah kakek, baiklah aku akan menggunakannya sesuai dengan petunjuk kakek. Aku berjanji untuk tidak menyalahgunakannya.”

 

“Baguslah, aku percaya pada tabib, sekarang kami mohon diri dulu, mudah-mudahan kita bertemu kembali dengan keadaan yang lebih baik. Kami menantikan kedatangan anda segera.”

 

Segera Pandeka Tangan Siluman memberi kode kepada yang lain untuk segera berlalu dari situ, kedua pemuda merasa berat sekali dengan perpisahan ini tapi mereka sadar jika sampai dara tersebut benci pada mereka maka kemungkinan mereka bisa mengambil hati sang dara akan sangat susah sekali. Lebih baik memang sang dara ke rumah mereka jadi mereka lebih punya pendukung yang bisa membantu mereka jika diperlukan.

 

Malik ingin memastikan ke mana sang dara akan datang ke rumah dia atau ke rumah Lukman, biarpun rumah mereka tidak terlalu jauh letaknya tapi tetap membutuhkan waktu untuk sampai ditambah lagi dia merasa lebih nyaman kalau sang dara datang ke rumahnya sehingga dia bisa menunjukan kesan baiknya.

 

“Nona Siti, jika nona jadi datang, ke rumah siapakah nona hendak berkunjung sehingga kami bisa mempersiapkan diri menyambut kedatangan nona, ke rumah saya atau Lukman?”

 

“Hmmm … aku belum memikirkannya, nanti saja aku kabarkan di mana kita bertemu, aku tahu kalian tinggal berdekatan jadi mungkin saja aku memilih daerah di tengah antara rumah kalian. Atau bisa juga aku memilih tempat lain dan mengundang kalian untuk datang ke tempat itu. Tergantung situasi nanti saja seperti apa yang jelas aku sudah berjanji akan bertemu dengan kalian lagi 2 bulan mendatang,” kata Siti tegas tidak ingin diganggu gugat lagi.

 

“Hayolah tuan muda Malik, kita jalan sekarang, mumpung masih pagi jika kita bergerak cepat kita bisa singgah ke penginapan yang kita lihat di jalan tadi untuk beristirahat dan kemudian meneruskan perjalanan kita. “

 

“Nak Kahar dan tabib, senang sekali berjumpa dengan kalian. Nak Kahar, jika punya waktu datanglah bermain di tempat kami, dengan senang hati kami menyambut kedatangan anda. Jika merasa sungkan datang sendiri datanglah bersama tabib sehingga memudahkan kami juga dalam penyambutan,”kata Pandeka Tangan Siluman dengan senyum dan mata yang berbinar menggoda.

 

Segera kedua manusia yang rupa elok ini menjura ke arah rombongan untuk menghormati dan mengucapkan salam perpisahan.

 

Lukman dan Malik langsung memandang tidak senang dengan cara dan kata Pandeka Tangan Siluman kepada saingan mereka itu. Tapi mereka tidak bisa bicara langsung saat ini karena kalau kejadian ini sampai ketahuan ayah mereka, mereka bisa dalam masalah besar. Jadi harus bersabar sampai mereka sudah sendiri dan akan menanyakan maksud dari perkataan kakek itu.

 

Akhirnya semua naik ke kuda masing-masing untuk melanjutkan perjalanan setelah terlebih dahulu Pandeka Tangan Siluman dan Datuak Marindiang mendorong-dorong Lukman dan Malik untuk segera berangkat. Lukman dan Malik merasa hatinya tertinggal bersama sang dara cantik itu, dan tidak ingin beranjak dari situ tapi apa daya mereka harus segera pergi jika tidak ingin dibenci. Setelah semua naik ke kuda, langsung mengarahkan kuda ke arah mereka datang untuk kembali pulang ke rumah, sebelum pergi kembali kedua pemuda itu memandang sayu ke arah dara yang sedang memandang kepergian mereka dengan wajah lembut dan senyum mengucapkan selamat jalan.

 

Dengan mata mendelik mereka memandang pemuda tampan saingan mereka yang sedang melihat kepergiaan mereka dengan tersenyum-senyum senang dan mata berbinar nakal dan senang yang tidak disembunyikannya. Lega hati Kahar melihat akhirnya rombongan itu pergi juga, karena dia sudah merasa tidak sabar lagi untuk segera mendekati dara pencuri hatinya itu.

 

Dan sebelum mereka pergi masih sempat ada sebuah adegan yang mengejutkan semua orang, di mana semua kuda yang akan berangkat itu  memandang dan mengganggukan kepalanya ke  arah kuda putih tersebut seakan meminta pamit untuk pergi. Kuda putih itu menyambutnya dengan menganggukan kepalanya sedikit tanda kedudukannya lebih tinggi dari kuda yang lain seolah mengijinkan mereka pergi. Anehnya lagi sekarang baru mereka memperhatikan kuda tersebut mempunyai warna mata yang tidak biasa, warnanya biru pekat bukan hitam yang seperti mereka perkirakan semula, karena ketika dia dengan sombongnya memandang kepergian mereka terlihat pancaran kilau kebiruan dari mata kuda tersebut.

 

Rombongan tersebut pergi dengan membawa perasaan masing-masing yang bercampur aduk antara heran, kagum, terkejut, galau, sedih, kesal, dan lain-lain. Hanya 2 orang dalam rombongan ini yang pergi dengan perasaan kaget dan kagum, mereka saling lirik dan seakan saling bisa membaca pikiran temannya.

 

Siapakah mereka itu ? Apa yang membuat mereka seakan menyimpan rahasia seakan hanya mereka yang tahu ? Dan bagaimana dengan keadaan Kahar dan Siti setelah ditinggal rombongan?

Posted by sieklie in 10:01:02 | Permalink | Comments (2)

Tuesday, June 10, 2008

Jilid VIII

Part II

Terdesak dengan keadaan, rombongan Lukman dan Malik segera berupaya mencari jejak ke mana perginya tabib itu, dikarenakan kuda yang dimiliki sang tabib sangat menyolok sekali warna putihnya sehingga orang yang bertemu di jalan ingat akan kuda putih itu. Dan mereka dengan cepat bisa mengikuti jejak sang tabib, pernah sekali hampir mereka bisa menemui sang tabib, tapi kembali dia menghilang dengan menggunakan penyamarannya yang hebat itu. Kali ini sang tabib merubah warna kudanya menjadi abu-abu dan dia merubah diri menjadi seorang gadis yang berusia 30 tahunan yang mempunyai wajah biasa saja, sehingga orang bisa cepat melupakan wajah yang tidak ada istimewanya itu.

Sudah hampir seminggu mereka mengejar sang tabib masih belum ketemu juga sampai di suatu malam di pinggiran hutan, mereka sedang melepaskan lelah setelah berkuda sekian lama untuk mencari sang tabib yang masih belum ditemui itu. Mereka berbincang-bincang mengenai perangai sang tabib yang menurut mereka sangat aneh dan belagak sekali mentang-mentang mau dimintai tolong. Dari pembicaraan yang mengenai sang tabib, entah bagaimana tiba-tiba mereka teringat akan musuh mereka dan membicarakannnya.

Terdengar pandeka Konek bertanya,” Aku merasa heran sekali kenapa waktu kita meninggalkan nagari itu sampai saat ini mereka tidak mengejar kita? Padahal kita sama-sama tahu mereka mendendam sekali pada tuan muda Lukman, biasanya mereka pasti menggunakan segala macam racun untuk mengerjai kita. Tapi anehnya selama hampir satu minggu ini kita berjalan tidak sekalipun kita menemui niat jahat mereka. Aku sudah berjaga-jaga takutnya mereka mancido (membokong) kita dari belakang, apa kalian tidak merasakan keanehan tersebut?”

“Iya, benar sekali kakek, aku merasakan hal yang sama karena biasanya sasaran mereka adalah aku. Terbukti waktu kita menemui tabib itu, jika tidak pasti aku sudah mati karena racun mereka. Tapi entah kenapa aku belum bisa menerima kalau bukan tabib itu yang meracuni aku, terbukti sejak dia menghilang kita semua aman-aman saja tidak ada yang kena racun satu orangpun juga dalam rombongan kita. Aku mulai berpikir apa bukan tabib itu merupakan orang mereka yang sengaja berbuat begitu supaya bisa masuk ke benteng kita dengan alasan mau mengobati ibu kami?”

“Entahlah tuan muda, aku selalu berfirasat tabib itu bukanlah orang jahat, memang dia nyentrik dan seenaknya sendiri mungkin karena dia mengerti kemampuannya sehingga menjadi bertingkah seperti itu. Tapi kalau dia berniat jahat pada kita, aku rasa tidak karena jika dia mau menganiaya kita mudah sekali baginya terutama tuan muda Lukman yang memang merupakan sasaran orang dari perguruan Merak Hitam. Aku tetap merasa ada sesuatu yang ganjil dari semua ini dan aku masih belum menangkap keganjilan itu lebih lanjut,’ kata pandeka Tangan Siluman.

“Apa kalian merasa tidak selama seminggu ini, kita mengejar sang tabib tidak sekalipun kita merasa ada ancaman bahaya yang mengintai kita bahkan seolah-olah ada yang melindungi kita. Pernah suatu malam aku terbangun tiba-tiba tapi aku tidak tahu apa penyebabnya, hanya merasa mendengar sesuatu yang halus sekali tapi entah apa itu. Saat itu aku berpikir apakah aku ngelindur atau berhalusinasi, tapi kini setelah kita ngobrol begini aku merasa memang ada sesuatu yang tidak wajar sedang berlangsung di sekitar kita tanpa kita sadari sama sekali.”

“Adik Malik, aku juga merasakan hal yang sama,  pernah aku merasa melihat berkelabat bayangan orang tapi ketika aku melihat ke arah itu tidak terlihat apapun, hanya aku melihat pohon ditempat itu berubah dari coklat lama-lama menjadi abu-abu seperti abu kayu yang habis terbakar. Hanya waktu itu aku tidak menyadarinya karena sedang tegang  dan berjaga-jaga serangan dari musuh,” kata salah satu dari saudara seperguruan Malik.

“Hmmmm… memang ada yang tidak beres dengan ini semua, oleh karena itu kalian waspadalah mulai sekarang jangan sampai kita celaka di tangan musuh. Apapun yang mencurigakan tolong beritahukan kepada yang lain sehingga kita bisa saling mengingatkan dan berjaga-jaga,” kata Lukman dengan kening yang berkerut.

Dia yang berilmu silat tinggi bahkan lebih tinggi 1 tingkat dari Malik dan kedua kakek pengawalnya tersebut tidak bisa mengetahui jika ada orang lain di sekitar mereka. Berarti ilmu orang tersebut jauh lebih tinggi dari mereka semua, buktinya mereka bisa merasakan kehadirannya tapi tidak bisa mengetahui di mana keberadaannya.

Tiba-tiba mereka mendengar suara ringkikan kuda di kejauhan dan sepertinya kuda tersebut berlari menuju ke arah mereka. Belum sempat Lukman berteriak memperingati rombongannya, sebuah benda putih melesat dengan cepatnya seperti anak panah yang dilepaskan dari busur lewat di samping mereka sehingga mereka hanya merasakan angin yang bertiup sangat kuat sekali di sekitar mereka dan debu berterbangan menutupi pandangan mata mereka. Tapi Kasman yang berdiri dari agak jauh dari benda tersebut dapat melihat dengan jelas bahwa benda itu adalah seekor kuda putih yang terasa kontras dengan gelapnya suasana akibat sudah turunnya sang malam. Langsung dia berteriak-teriak memberitahukan kepada yang lain, mereka bergegas menaiki kuda masing-masing untuk mengejar kuda putih tersebut.

Kuda Lukman dan kuda Malik merupakan kuda-kuda pilihan juga dan keturunan dari  kuda-kuda yang langka dan hebat, tetapi dibandingkan dengan kuda putih di depan itu tidak ada artinya sebentar saja mereka kehilangan bayangan kuda putih tersebut, hanya dari jauh mereka mendengar samar-samar derap langkah kaki kuda itu. Penasaran mereka berdua memacu kedua kudanya untuk mengejar kuda putih itu, sehingga sebentar saja mereka meninggalkan rombongan mereka yang hanya menggunakan kuda “biasa” dibandingkan dengan kedua kuda pemuda itu.

Kira-kira hampir sejam kemudian rombongan itu bertemu dengan kedua pemuda yang sedang memeriksa tanah dan pepohonan di sekitar mereka. Mereka berdua sedang sibuk melihat, memegang bahkan mencium udara di sekitar tempat itu, seolah-olah mereka mencari sesuatu.

“Tuan muda Lukman, apa yang terjadi? Apa yang kalian berdua lakukan?”

“Kakek Konek, anda lihat tidak pohon yang di sebelah sana itu?”

Segera mereka melihat arah yang ditunjuk oleh Lukman, mereka melihat pohon itu biasa-biasa saja seperti umumnya pohon. Tapi pandeka Tangan Siluman punya pemikiran lain, jika sampai tuan muda bertanya pasti ada sesuatu pada pohon itu, cepat diarahkan kudanya mendekati pohon tersebut.  Setelah mengamati beberapa saat dia melihat pohon itu berubah warna menjadi abu-abu sebesar lingkaran gelas minum teh di bagian tengah pohon. Dia menjulurkan tangannya untuk menyentuh pohon, tapi segera Malik berteriak untuk mencegahnya.

“Jangan sentuh pohon itu kakek, nanti bisa kena racun yang mematikan!”

Kaget pendekar ini mendengar pernyataan Malik, untung dia belum menyentuh pohon itu, kalau tidak bisa mati tanpa tahu sebabnya.
“Tuan muda, kenapa kalian bisa tahu pohon ini mengandung racun?”

“Tadi di kejauhan kami mendengar suara pertarungan dan waktu kami hampir mendekati tempat ini tiba-tiba suara pertarungan itu berhenti dan kami masih mendengar suara seseorang berkata, Berani sekali kalian main racun jahat di sekitarku, nih rasakan racunku, aku ingin lihat apakah kalian sanggup menyembuhkan diri, Bilang pada guru kalian si Merak Hitam kalau dia berani main racun jahat lagi mencelakai orang, aku tidak akan segan-segan lagi membuat dia menyesal belajar ilmu racun. Kemudian terdengar teriakan kesakitan, dari mulut beberapa orang, dan pas kami sampai suasana sudah sunyi seperti tidak pernah terjadi sesuatu di sini. Mereka semua telah pergi dengan cepat sekali, Lukman mengejar ke arah kiri dan aku mengejar ke arah kanan, tidak lama aku mengikuti bayangan orang itu aku mendengar dia berkata, anak muda berhati-hatilah lebih baik segera kau susul sepupumu itu,  sebelum dia menjadi mayat pulang ke rumah kalian. Aku sudah tidak bisa melindungi kalian lagi sekarang karena tugasku sudah mendesak sekali harus diselesaikan segera, dan mengenai ibu kalian, ambilah obat ini untuk diberikan kepada beliau, aku sudah mengetahui apa penyebab penyakit ibu kalian dari orang perguruan Merak Hitam, ibu kalian diracuni oleh mereka, dan ini obat penawarnya, mudah-mudahan bisa cepat sembuh.”

“Aku terkejut sekali tiba-tiba ada benda yang melesat dengan cepat sekali ke arahku, cepat aku menangkap benda tersebut, dan di tanganku ada 1 kantong kecil serta di dalamnya ada 6 butir obat berwarna kuning dan berikut kertas cara penggunaannya. Karena menangkap obat itu aku agak tertunda mengikuti bayangan tersebut, jadi aku sudah tidak bisa mengejar lagi. Dari perkataan orang itu aku berkesimpulan semua bentuk  aneh di sekitar daerah ini pasti mengandung racun, makanya aku melarang kakek untuk menyentuh pohon tersebut.”

“Tuan muda Lukman, bagaimana dengan dirimu? Apa yang terjadi, tidak dapatkah kau mengejar bayangan yang lari ke arah kiri?” Tanya Pandeka Tangan Siluman.

“Tidak, aku tidak berhasil mengejar mereka, karena ketika aku sudah hampir mendekati mereka, tiba-tiba mereka membalikan badan menyambitkan pisau belati ke arahku, diserang seperti itu buru-buru aku menghindarinya. Walaupun aku tidak bisa mengejar mereka lagi, tapi aku yakin mereka itu orang perguruan Merak Hitam karena aku melihat bendera mereka dipegang oleh salah satu dari mereka. Cepat aku kembali ke sini karena menguatirkan Malik mengejar bayangan ke arah berlawanan itu.”

“Waktu aku sampai di sini aku melihat Malik juga baru sampai, lalu dia menceritakan apa yang terjadi padaku, tapi aku masih tidak mempercayainya. Kami bertengkar dan hampir aku membuang obat itu kalau tidak kebetulan lewat sahabat ayah, Datuak Marindiang, beliau melihat dan memeriksa obat yang ada di tangan Malik, dan beliau mengatakan bahwa benar obat ini obat pemunah segala racun yang merupakan obat andalan dari Tabib Mato Tigo. Dia mengetahui obat ini dari bau dan warna kuningnya yang khas, karena dulu dia pernah minum obat manjur ini ketika dia kena racun jahat juga. Mendengar omongan beliau baru aku mempercayai bahwa obat ini adalah obat manjur.”

“Ke mana perginya Datuak Marindiang sekarang, tuan muda. Aku sudah lama tidak bertemu beliau, ingin sekali berbincang-bincang menukar pengalaman dengan beliau.”

“Ala kakek Konek bilang saja kau mau mengajak dia bertanding ilmu silat lagi kan ? Kau tidak terima kekalahanmu yang dulu bukan ?” sahut Kasman dengan senyum usilnya.

Mendengar perkataan Kasman, pandeka Konek langsung cemberut dan mendelik kepada pemuda yang polos dan nakal itu.

“Setelah memberi penjelasan kepada kami, beliau menanyakan kepada Malik ke mana arah orang yang memberikan obat ini pergi, Malik menunjukan ke arah mana dia pergi dan beliau langsung menyusulnya. Sempat sebelum beliau pergi beliau mengatakan kepada kami untuk mempelajari daerah sekitar sini agar kami bisa mengenali bau khas yang dikeluarkan oleh racun dari Perguruan Merak Hitam agar kelak nanti kami bisa mengantisipasinya.”

“Kenapa beliau mengejar orang itu, apakah beliau sakit?”

“Aku sempat menanyakan hal itu kepada beliau, kata beliau, dia mendengar kabar bahwa orang tersebut adalah murid Tabib Mato Tigo, dan katanya kakek itu selalu membangga-banggakan keahlian pengobatan cucunya yang sudah menyamai dia dalam usia yang muda sekali. Dan juga beliau penasaran sekali apakah wajah nona tersebut secantik kakaknya yang sangat terkenal di kota raja dengan sebutan Dewi Nan Kuniang.”

“Dasar tua bangka mata keranjang tidak bisa melihat rupa cantik nan rupawan, langsung saja mau caliak (lihat,” gerutu pandeka Konek bersungut-sungut.

Mereka semua tertawa mendengar gerutuan tersebut, karena mereka mengetahui Datuak Marindiang merupakan pria setengah tua yang iseng saja, dia tidak akan mengganggu nona-nona cantik dalam arti menjadi “penjahat pemetik bunga”. Beliau memang punya kegemaran aneh suka melihat wajah-wajah yang cantik dan tampan rupawan, lalu melukis wajah mereka untuk menjadi koleksi pribadinya. Dan sebenarnya tidak banyak orang yang menurut beliau tampan dan cantik bahkan Lukman dan Malik yang termasuk kategori tampan saja bagi beliau biasa-biasa saja. Memang sebuah kegemaran yang aneh sekali, tapi hal inilah yang mempertemukan dia dengan ayah Lukman dan menjadi sahabat baik, karena ayah Lukman menurut beliau merupakan termasuk pria yang paling tampan yang pernah ditemuinya.

“Jadi sekarang, kedua tuan muda sudah tahu bagaimana bau khas yang dikeluarkan oleh racun perguruan Merak Hitam?”

“Iya kira-kira begitu uda Randu, ada semacam bau yang khas sekali di setiap racun perguruan Merak Hitam, aku juga mencium bau ini di tubuh ibu ketika aku dekat-dekat beliau,” kata Malik.

“Maksud tuan muda, bau khas yang seperti apa?” kata Randu sambil mengendus-endus di sekitar mereka.

“Aku tidak bisa bilang bau yang seperti apa, kalau kau tidak konsentrasikan pancaindramu memang bau ini tidak akan tercium coba kerahkan ilmu Kijang Mencium Bayangan, pasti kau akan bisa mencium bau yang aku maksudkan.”

Segera kelima saudara seperguruan Malik mengerahkan ilmu tersebut, memang ilmu ini sangat khas sekali karena ilmu ini mengandalkan bau seseorang untuk mengetahui posisi lawan di saat pertandingan melawan musuh yang bisa menggandakan dirinya seperti ilmu Gandakan Roh Setan milik Datuak Kalam Kambang, yang merupakan pimpinan dari perguruan Kalam Kambang dan seorang datuk sesat yang menguasai wilayah Timur dari pusat kerajaan Pagaruyung. Selama ini datuak ini tidak bisa mengganggu pusat kerajaan karena di sekeliling ibukota dijaga ketat oleh pasukan Garuda yang terkenal kedahsyatannya. Bahkan sempat perguruan beliau hampir musnah oleh panglima dan 3 jenderal pasukan Garuda ketika mereka mencoba memasuki ibukota, sejak itu mereka melarikan diri ke Timur dan berdiam di daerah jauh dalam perdalaman hutan.

Ilmu ini juga sudah digunakan oleh Malik dan saudara-saudaranya dalam melacak keberadaan tabib sakti itu tapi memang tabib itu hebat sekali dia mampu menghilangkan bau khas dari tubuhnya sehingga mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan sang tabib sampai sekarang ini.

“Benar sekali tuan muda ada semacam bau khas yang tertinggal di sekitar sini, kalau ini benar cirri khas perguruan Merak Hitam dalam ilmu racun mereka, kita akan bisa mengantisipasinya ke depan nanti,” kata Randu dengan gembira.

Sementara itu kedua kakek tersebut sudah juga bisa mencium bau khas yang dimaksud, hanya Kasman sendiri yang masih belum bisa mencium bau khas yang dimaksud tapi dia tidak berani bilang kepada yang lain takut disangka bodoh dan rendah ilmunya dibandingkan dengan yang lain. Kesombongannya inilah yang nantinya mencelakakan dirinya.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan tuan muda, obat sudah di tangan sebaiknya kita kembali ke rumah untuk memberikan obat ini kepada nyonya berdua,” kata Pandeka Konek.

Lukman terlihat berpikir dari tadi dan tidak banyak berbicara karena sebenarnya dia penasaran sekali kenapa mereka tidak bisa menemui sang tabib, seakan sang tabib merasa mereka tidak pantas bertemu dengannya. Dia sangat penasaran sekali bahkan dia tidak mampu melupakan sorot mata sang tabib yang seakan membetot sukmanya itu. Terbersit di dalam hatinya untuk mengetahui apakah benar sang tabib itu adalah seorang gadis rupawan yang menyamar ataukah itu hanya isu yang sengaja dilontarkan di dunia persilatan agar gadis itu mendapat nama dengan cepat.
Semua menunggu keputusan Lukman sambil memandang wajahnya yang terlihat sedang berpikir keras. Akhirnya dia bicara dengan suara pelan dan jelas terkandung rasa penasaran kepada yang lain.

“Tolong kalian jawab yang jujur, apakah kalian tidak penasaran dengan sang tabib yang misterius itu? Terus terang saja aku merasa terhina sekali kenapa dia tidak mau bertemu dengan kita dan menerima terima kasih kita secara langsung? Sedemikian tidak berharganya terima kasih dari keluarga kita padanya sehingga bahkan dia tidak mau bertemu muka dengan kita dan datang berkunjung ke rumah kita untuk mengobati ibu? Aku ingin sekali melihat wajahnya dan bisa berbicara dengannya untuk menanyakan padanya kenapa dia berbuat begitu pada kita sehingga bisa hilang rasa penasaran di hatiku saat ini, kalau memang kita telah berbuat salah yang tidak kita sengaja aku bersedia meminta maaf padanya,” kata Lukman.

Yang lain mendengar perkataan Lukman memang merasa penasaran sekali kenapa sang tabib seperti itu dengan mereka, apa yang telah mereka perbuat sehingga beliau tidak mau bertemu dengan mereka. Tapi merekapun sadar mereka tetap harus mengantar obat tersebut untuk kedua orang yang sedang menderita kesakitan di rumah.

“Tuan muda Lukman, terus terang saja aku penasaran juga tapi kita harus segera pulang untuk membawa obat tersebut  agar  nyonya bisa segera bebas dari kesengsaraannya.”

“Iya, uda Lukman kita harus segera kembali untuk bawa obat buat ibu.”

“Kalian benar, kakek Tangan Siluman dan Kasman, kita harus segera kembali demi ibu, tapi kenapa hatiku masih tidak rela melepaskan tabib tersebut seakan sudah di depan mata tapi kita tidak bisa meraihnya. Aku juga ingin meminta obat penawar racun seandainya perguruan Merak Hitam menyerang kita kembali dengan racun, yah minimal petunjuknya agar obat penawar tersebut dapat kita buat sendiri dan diperbanyak untuk dibagikan kepada anggota kita semua.”

“Benar yang kau katakan Lukman, aku juga berpikiran sama denganmu, mungkin lebih baik kita pecah menjadi 2 rombongan, 1 rombongan mengantar obat buat ibu dan 1 rombongan lagi menyusul ke mana tabib itu pergi. Bagaimana menurut kalian usulku ini?”

Belum sempat Lukman menjawab usul Malik, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi letusan di udara, dan terlihat di langit warna hijau pekat sekali sesaat sebelum buyar ditiup angin, itu tanda pengenal dari perguruan mereka yang menandakan ada anggota mereka yang dalam bahaya.

Melihat hal tersebut semua orang buru-buru naik ke kuda mereka dan melupakan masalah sang tabib karena tanda bahaya yang dilepaskan itu tanda bahaya tingkat 3 yang artinya benar-benar dalam keadaan yang berbahaya dan genting sekali.

“Cepat, kita menuju ke Utara, sepertinya ada teman kita yang dalam bahaya, mudah-mudahan tidak jauh dari sini,” kata Lukman sambil dengan cepat mengarahkan kudanya.

Untungnya malam itu langit sangat terang benderang, bulan bersinar bulat penuh dan banyak bintang yang berserakan di pekatnya malam sehingga seperti lampu yang redup menyinari bumi. Tapi bagi kaum pendekar pengelana dengan penerangan seperti ini sudah cukup membantu bagi penglihatan mereka akan sekelilingnya, mengingat mereka mempunyai mata yang berbeda dengan manusia biasa, karena semakin tinggi tenaga dalam seseorang akan semakin kuat daya penglihatan orang tersebut.

Tidak lama mereka mendengarkan suara pertempuran yang seru sekali di depan mereka, semakin cepat mereka memacu kudanya, Lukman dan Malik segera mendahului sampai. Terlihat suasana di sebuah lapangan pertempuran tidak seimbang, adik kedua Lukman, Darman sedang dikeroyok tokoh kelima dan keenam perguruan Merak Hitam yaitu Siluman Merak Rawa dan Siluman Merak Pohon, dan yang lain 8 orang saudara seperguruan Malik sedang dikeroyok oleh 25 orang anggota Merak Hitam. Dan terlihat 2 tubuh yang tergeletak di tanah yaitu  pengawal Rangkayo Padang Jati, Pandeka Tendangan Petir dan Pandeka Pedang Pamuncak, mereka terlihat seperti sudah tidak bernafas dan wajah mereka sudah berubah menjadi menghitam itu tanda mereka keracunan hebat.

Tanpa pikir panjang lagi segera Lukman menyerbu untuk membantu adiknya yang sudah dalam keadaan payah sekali dan Malik memburu kedua pengawal tersebut sambil mengeluarkan 2 butir obat penawar racun yang diberikan oleh tabib itu, yang penting menyelamatkan jiwa orang yang ada di depan mata dulu, dia melupakan bahwa mencari obat pemberian tabib itu susah sekali sekarang dia memberikan kepada orang lain tanpa pikir panjang. Sungguh benar-benar seorang pemuda yang mempunyai hati yang baik sekali jarang ada orang yang seperti dia, apalagi obat itu berguna untuk orang yang paling disayanginya tapi berhubung ada orang lain yang membutuhkan dia memberikannya.

Malik membantu menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh kedua pengawal tersebut, sedangkan Lukman begitu terjun ke gelanggang segera mengeluarkan ilmu andalannya yaitu Ilmu Walet Menerjang Badai.

“Darman, aku datang membantumu!”

Ketiga orang yang sedang terlibat perkelahian seru itu kaget mendengar perkataan itu, Kedua Siluman Merak itu merasakan ada angin dahsyat yang bergerak tajam menuju mereka, cepat Siluman Merak Rawa mengangkat kedua tangannya untuk menangkis serangan dari Lukman. Sedangkan Siluman Merak Pohon tetap dalam posisi menyerang Darman, tadinya mereka sudah senang sekali sudah hampir bisa menangkap dan menyandera anak kedua dari musuh perguruan mereka. Tapi gangguan datang terpaksa mereka membagi kekuatan, tapi siluman Merak Pohon tetap yakin dia dapat meringkus pemuda yang jadi lawannya.

Dengan pukulan beracun Merak Menebarkan Benih, dia melompat ke atas dengan posisi kaki yang merapat, dia melontarkan puluhan jarum beracun kea rah Darman, dia yakin sekali jarum itu akan mengenai pemuda lawannya. Setelah itu dibarengi dengan kecepatan yang tinggi dia berbalik arah dan mempersiapkan kedua tangannya membentuk mulut merak dengan ilmu Merak Mematuk Mangsa menyerang ke arah Lukman yang sedang mendesak saudaranya itu. Tapi yang menjadi pemikirannya bukanlah yang dikehendaki oleh sang Ilahi, di saat keadaan Darman sedang genting, tiba-tiba dari arah belakang Darman terlontar sebuah batu hitam  berbentuk persegi panjang sebesar batu bata dan begitu batu itu melayang ke arah jarum-jarum tersebut, semua jarum-jarum yang tadinya bergerak menyerang Darman tiba-tiba seperti tersedot oleh batu tersebut. Jarum-jarum itu semuanya melengket di batu hitam tanpa tersisa, dan selamatlah Darman.

Ternyata batu hitam itu merupakan batu sembrani (magnet) yang bisa menyedot semua benda yang terbuat dari besi. Darman menoleh ke belakangnya untuk melihat siapa orang yang telah membantunya itu, dia melihat seseorang bercadar dan tertutup dengan jubah besar berwarna lembayung yang indah sekali sedang duduk di atas seekor kuda putih. Lalu orang itu menggerakan tangannya dan batu hitam yang jatuh di tanah tersebut bergerak meluncur ke arahnya dengan cepat sekali. Terlihat pada batu itu terlilit seuntas tali panjang yang bisa digunakan untuk menariknya kembali kepada sang pemilik. Dan batu hitam itu disimpan di kantong yang ada di sisi kakinya, dan dari kantong itu dia mengeluarkan sebuah botol berbentuk seperti buah alpukat.

Dia melemparkan botol itu ke arah Darman sambil menghentakan kakinya ke perut kuda putih itu dan kuda putih itu segera berlari cepat seperti angin menjauhi arena perkelahian seru itu. Terdengar kata-katanya kepada Darman,”Anak muda, kau ambilah botol ini lalu berikan kepada teman-temanmu untuk diminum agar semua racun yang ada dalam tubuh mereka bisa bersih segera, dan berikan juga obat ini kepada ibumu yang sedang sakit karena keracunan. Katakan kepada saudaramu, jangan lagi mengikuti aku dengan alasan apapun juga, di dalam botol ini ada 500 butir obat penawar racun yang bisa kalian gunakan seandainya kalian keracunan berat nantinya. Dan kau juga sekarang segera minum obat penawar itu, jangan sampai terlambat.”

Darman menerima botol yang dilemparkan kepadanya itu, ingin dia mengucapkan terima kasih kepada penunggang kuda putih itu tapi mereka sudah tidak terlihat lagi seakan hanya dalam mimpi saja ada orang yang menolongnya kalau dia tidak memegang botol obat ini. Dia mengalihkan pandangannya ke arah pertempuran seru di depannya, dia melihat sekarang Lukman berhadapan dengan Siluman Merak Rawa dan Malik dengan Siluman Merak Pohon, kedua pengawalnya terlihat sedang bersila memulihkan kondisi tubuh mereka, 8 orang yang lain sudah menjadi bulan-bulanan dari orang perguruan Merak Hitam, cepat dia berlari ke arah pertempuran itu sambil membuka tutup botol dan mengeluarkan 1 butir obat berwarna kuning untuk ditelannya, tidak sedikitpun dia terpikir untuk meragukan maksud orang tersebut. Karena kalau oang itu benar-benar hendak mencelakainya tidak bakal orang itu berbicara seperti itu padanya, berarti orang itu kenal dengan saudaranya, hanya dia belum tahu saudaranya yang mana, setelah itu dia memasukan botol obat ke dalam bajunya. Begitu Darman datang membantu keadaan menjadi semakin ramai, dengan serangan-serangan gencar dan berbahaya Darman berusaha menyelamatkan teman-temannya dari barisan perguruan Merak Hitam itu.

Sementara itu pertempuran Lukman dan Siluman Merak Rawa sudah mencapai titik tertinggi, keduanya terlihat sedang mempersiapkan diri dengan ilmu pemuncak mereka. Dari beberapa kali bentrokan tangan tadi, Lukman sudah bisa mengukur tenaga dalam Siluman Merak Rawa masih kalah setingkat dari dirinya, tapi dia tidak bisa lengah juga karena semua ilmu dari siluman itu mengandung racun yang berbahaya dan mematikan jika kena anggota tubuh.  Lukman mengerahkan ilmu Walet Menerjang Badai tingkat ke 9 yaitu Walet Memapas Angin, dengan mengandalkan ilmu peringan tubuh tingkat tinggi dia memainkan ilmu dahsyat ini, ilmu ini tidak mengeluarkan suara apapun dan tidak terasakan adanya angin yang bergerak di sekitarnya.

Siluman Merak Rawa tahu dia dalam keadaan berbahaya pemuda lawannya ini lebih hebat lagi dari pemuda sebelumnya, dia melihat ada kemiripan diantara kedua pemuda tersebut pasti mereka kakak beradik tapi pemuda yang pertama jauh lebih tampan dari yang ini. Dia merapalkan ilmu tertingginya ilmu Bayangan Merak Menarik Arwah, ini merupakan ilmu yang paling hebat dari perguruannya, walaupun dia baru sampai tingkat 4 tapi dia sudah susah dicari tandingannya. Dia tidak tahu bahwa musuh yang paling dicari kakak pertamanya adalah pemuda ini, karena selama ini dia dan Merak Pohon selalu harus menemani guru mereka bertualang ke tanah Jawa. Sejak guru mereka meninggal dunia beberapa bulan yang lalu, mereka dipanggil oleh kakak seperguruan mereka untuk kembali ke perguruan dan membantu sang kakak untuk membalas dendam.

Terlihat keduanya sedang mempersiapkan diri untuk memuntahkan ilmu tertinggi mereka kepada lawan. Sementara itu Malik juga sudah mengimbangi permainan Merak Pohon, terlihat memang Malik kalah setengah tingkat dari musuhnya tapi untungnya dibantu dengan ilmu peringan tubuhnya yang bagus dia masih bisa menapaki semua serangan musuh dengan baik. Dengan ilmu Ula Kuniang Mengejar Bayangan dia menyerang dan bertahan melawan Merak Pohon, dan musuhnya sudah mulai hilang kesabarannya setelah melihat situasi bisa berubah sewaktu-waktu, segera dia memainkan ilmu Bayangan Merak Menarik Arwah tingkat 3 agar bisa cepat mengalahkan musuhnya.

Merak Pohon kosentrasi mempersiapkan diri dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke arah jari-jari tangannya sambil menahan gempuran dari Malik yang bergerak bagaikan ular menyusup di setiap celah lowong diantara serangannya. Pertandingan kedua orang ini berlangsung seru, tiba-tiba terdengar jeritan kesakitan dari arah pertempuran Darman dengan Barisan Merak Hitam, ternyata salah seorang dari teman rombongan Darman kena pukulan akibat sebelumnya dia sudah kena racun sehingga tenaga dalamnya berkurang dan menyebabkan gerakannya menjadi lambat untuk menghindari serangan. Keadaan pertempuran Darman dan teman-temannya melawan Barisan Merak Hitam terlihat tetap tidak membaik, karena rata-rata mereka semua sudah kepayahan akibat racun yang disebarkan oleh orang perguruan Merak Hitam. Jika kondisi mereka tidak keracunan mungkin mereka masih bisa bertahan dan tidak seperti sekarang sewaktu-waktu akan ambruk.

Malik masih sempat melihat ke arah teriakan itu dan hampir saja kena pukulan dari Merak Pohon akibat kelengahannya itu, sedangkan Lukman tidak berani menoleh ke arah jeritan itu karena dia sudah melihat lawannya sudah siap melontarkan pukulan mematikan ke arahnya. Dalam keadaan yang semakin genting tiba-tiba mereka semua mendengarkan derap kaki kuda yang banyak sekali menuju ke lapangan itu. Lukman dan Malik yang tahu itu adalah rombongan mereka menjadi lebih lega dan tenang karena tahu situasi sebentar lagi akan berbalik, sedangkan dari pihak musuh mulai menyadari keadaan bisa memburuk jika yang datang adalah musuh. Sementara itu kedua pengawal Darman yang sudah hampir selesai mengobati diri menyadari akan kedatangan banyak orang, mereka cemas sekali takut musuh yang datang sedangkan mereka dalam masa kritis mengobati luka mereka. Darman dan teman-temannya yang sedang bertempur di sisi lainnya tidak memperhatikan hal itu karena mereka sedang sibuk kosentrasi untuk melayani serangan yang sangat teratur dari Barisan Merak Hitam jika lengah sedikit nyawa taruhannya.

Seperti dugaan Lukman dan Malik memang yang sedang datang mendekat itu adalah rombongan mereka. Begitu sampai ke lapangan itu mereka semua bergerak ke lapangan untuk membantu teman-teman mereka, Pandeka Tangan Siluman dan Pandeka Konek berpencaran membantu Lukman dan Malik, sedangkan yang lain langsung terjun ke pertempuran Darman. Melihat kedatangan teman-temannya, mereka menjadi semangat sekali dan pertempuran menjadi tambah seru.

Pandeka Konek yang hendak membantu Lukman segera dicegahnya, “Kakek, cepat kau tolong Darman, aku masih bisa atasi mereka. Darman dan yang lain keracunan hebat takutnya mereka tidak bisa ditolong lagi kalau terlambat!”
 
Setelah melihat Lukman tidak bakalan kalah dari lawannya, cepat Pandeka Konek bergerak ke arah pertempuran Darman dan teman-temannya. Dia melihat pertempuran tersebut masih berlangsung alot sekali, Barisan Merak Hitam itu sungguh sebuah barisan kerjasama tim yang sangat kompak sekali, setiap orang tahu posisi masing-masing dan secara bergantian memainkan ilmu menyerang dan bertahannya dengan sangat baik sekali. Sedangkan di pihak mereka, keadaan Darman dan  8 orang temannya dalam keadaan payah sekali di seluruh tubuh mereka sudah banyak luka dan sewaktu-waktu bisa ambruk tapi setelah ditambah dengan Kasman dan 5 orang saudara perguruan Malik, keadaan mulai membaik walau tetap tidak bisa mengalahkan barisan tersebut.

Barisan Merak Hitam ini dimainkan oleh 25 orang dengan sangat baik sekali, karena mereka dilatih langsung oleh ketua mereka dengan sangat keras. Mereka seolah-olah menyatu satu dengan yang lainnya, orang lain tidak tahu siapa yang memegang komando dari gerakan barisan yang memang sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga orang lain tidak mengetahuinya kecuali oleh anggotanya sendiri. Sebenarnya kunci rahasia kelemahan barisan ini ada pada si pemegang komando, karena jika orang mengetahui siapa yang mengatur bisa mengincarnya dan mematikan gerakannya, otomatis jika gerakannya mati anggota yang lainpun akan kebingungan untuk menggerakan barisannya. Mereka berjumlah 25 orang merupakan sebuah barisan yang mempunyai jumlah orang yang sangat banyak jadi tidak gampang untuk mengatur gerakan penyerangan dan pertahanan jika mereka tidak ada yang mengepalainya.

Ditambah lagi mereka semua menggunakan baju dan penutup wajah berwarna hitam sehingga susah sekali untuk mengetahui pimpinan mereka. Lawan tidak bisa melihat wajah mereka sehingga mereka dengan leluasa bisa bergerak tanpa kuatir sang pemimpin akan diredam gerakannya. Pandeka Konek yang melihat keadaan ini langsung mengetahui satu-satunya cara adalah menggempur barisan ini dari belakang, jadi menyerang mereka dari dua sisi depan dan belakang. Dia langsung menyerang sisi belakang barisan yang sedang sibuk menggempur Darman dan teman-teman yang lain. Dan ternyata Pandeka Konek kecele dengan dugaannya, barisan ini benar-benar barisan yang tangguh dan hebat sekali, memang mereka dilatih untuk menghadapi saat harus bertempur menyerang kubu Rangkayo Jati yang dikawal oleh banyak orang-orang berilmu tinggi, jadi satu-satunya cara adalah membuat sebuah barisan yang bisa meredam kekuatan pengawal keluarga itu. Begitu tahu mereka diserang dari belakang, mereka langsung merubah gaya serangan tadinya mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam, sekarang mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam Kembar jadi seperti dua orang anak kembar mereka bisa saling bergantian menutupi kanan kiri mengisi kelemahan posisi teman-teman mereka.

Sungguh pemandangan luar biasa, 25 orang bertempur menekan 2 orang pesilat dengan ilmu kelas satu dibantu dengan 14 orang lainnya tanpa mereka sendiri mengalami kesulitan bahkan pihak yang digempur harus berhati-hati beradu tangan dengan mereka karena seluruh tubuh 25 orang ini berlumuran racun yang mematikan. Yang paling parah keadaannya adalah Merak Pohon karena dikeroyok oleh Malik dan Pandeka Tangan Siluman, mereka berdua ingin cepat-cepat menyudahi pertempuran karena mau membantu kelompok Darman yang beberapa orang diantaranya sudah sangat kepayahan akibat racun yang masuk ke tubuh mereka.
Merak Pohon menyadari keadaannya yang berbahaya itu tapi dia tidak mau menyerah kalah, dia mengeluarkan senjata andalannya pisau terbang Merak Hitam, di tangannya pisau ini bergerak seakan terbang mencari mangsanya. Begitu dia mengeluarkan 2 pisau dari dalam bajunya, segera tercium bau amis yang sangat menyengat hidung, Malik dan Pandeka Tangan Siluman mengetahui bahwa senjata ini dilumuri dengan racun yang sangat berbahaya sekali, mereka harus berhati-hati agar tidak tergores pisau belati beracun itu.

Sedangkan keadaan Lukman sudah di atas angin, Merak Rawa sudah mulai susah menahan gerakan Lukman, terpaksa dia mengeluarkan juga senjata andalannya sabuk yang terbuat dari bulu-bulu merak yang sudah direndam dengan obat-obat dan racun ganas supaya bisa menjadi senjata. Melihat hal ini Lukman tidak mau kalah mengeluarkan senjatanya yaitu pedang Walet Perak, pedang ini warisan dari gurunya, khusus dibuat dari perak murni yang mempunyai kadar murninya sangat tinggi hampir mencapai 100% dan dicampur dengan baja putih yang jarang sekali ditemukan jadi dapat dibayangkan kehebatannya. Pedang ini sangatlah tajam sekali dan belum ada yang bisa menghancurkannya,  pedang yang bisa mengimbangi ketenarannya adalah  pedang Batu Angin milik Orang Gaek Indak Banamo (Orang tua tidak bernama) dan pedang Gadang Barek (Besar berat) pusaka perguruan Jawi Putiah (sapi putih). Konon kabarnya pedang ini hanya bisa dihancurkan oleh pedang pusaka Naga Hijau yang dipegang oleh raja Adtyawarman dan Pedang legenda Damar Pelangi yang konon tidak jelas keberadaannya.

Benar-benar pertempuran tingkat tinggi, Lukman mengerahkan ilmu pedang Walet Peraknya untuk menandingi Sabuk Merak Hitam milik Merak Rawa. Pedang di tangan Lukman bergerak-gerak cepat sekali seperti burung walet menyambar-nyambar ke segala arah tubuh Merak Rawa, sedangkan sabuk Merak Rawa tidak mau ketinggalan bergerak mengimbangi kekuatan pedang Walet Perak. Merak Rawa selalu berusaha menjaga jarak jangkauan sabuknya yang panjang itu, sedangkan Lukman lebih menyukai pertempuran jarak pendek. Untuk mengatasi hal ini keduanya berusaha menggunakan cara apapun untuk saling mengalahkan. Melihat hal ini Lukman merubah strategi permainan silatnya, mulai dia menggunakan pedangnya untuk memapas sabuk tersebut, dari beberapa kali benturan, pedang itu berhasil memotong sabuk itu hampir sepertiga panjangnya. Merak Rawa mulai merasa gelagat tidak baik berpihak pada dia dan rombongannya, sambil terus memainkan sabuknya sempat dia melirik ke arah dua pertempuran lainnya.

Dia melihat adik seperguruannya sedang terdesak hebat dikeroyok 2 orang tinggal tunggu saatnya saja untuk binasa, sedangkan barisan Merak Hitamnya sedang diobrak abrik oleh 7 orang dengan tingkat kepandaian yang lebih tinggi dari musuh sebelumnya, walaupun belum terlihat mereka bakalan kalah. Dan terlihat di sudut kanan lapangan 8 orang lawan awal dari barisan Merak Hitam sedang bersila memulihkan kondisi mereka yang sudah terluka dan keracunan. Hal ini sangat tidak menguntungkan sekali bagi pihaknya, dia harus segera menyingkir dari sini. Mulailah akal liciknya bekerja, perlahan-lahan dia menggeser pertempurannya mendekati saudaranya, dan menggunakan ilmu bicara jarak jauh dia menyuruh saudaranya mulai bergeser ke arah barisan merak hitam serta dia juga menyuruh pimpinan barisan menyiapkan anak buahnya semua untuk kabur dari gelanggang dengan menggunakan bom racun buatan mereka.

Duuuuaaarrrrr, terdengar ledakan keras sekali dari tengah pertempuran dari barisan Merak Hitam, ternyata salah satu dari anggota barisan menjatuhkan bom untuk mengalihkan perhatian Malik dan Pandeka Tangan Siluman yang telah mendesak Merak Pohon yang sudah terluka. Ketika semua orang dikagetkan dengan bunyi ledakan itu, Merak Rawa mengambil kesempatan itu lari menuju ke saudaranya dan menangkap tangannya untuk dibawa berlari dengan cepat sekali. Semua orang selain dari perguruan Merak Hitam buru-buru menjauhi asap beracun yang menyelimuti arena pertempuran, cepat mereka menarik saudara mereka yang terluka agar tidak terhirup asap itu. Terdengar ledakan kedua, dan asap semakin tebal mengitari arena, tambah jauh rombongan Lukman dan Darman berlari meninggalkan tempat itu.

Setelah mereka cukup jauh dari arena pertempuran barulah mereka berhenti berlari, sambil meletakkan saudara-saudara mereka yang terluka di tanah. Mereka melupakan kuda-kuda mereka yang tertambat di dekat pertempuran tadi, karena mereka hanya memikirkan menyelamatkan diri dan teman-teman dari bahaya keracunan akibat bom asap tersebut.

“Kurang ajar, memang bangsat licik, coba mereka tidak main bom asap itu, tidak nanti mereka bisa meloloskan diri.” Sumpah serapah Pandeka Konek.

“Sudahlah kakek, sekarang yang penting kita obati dulu teman-teman kita” sahut Darman sambil membagi-bagikan obat yang telah dia terima dari orang misterius tadi.

“Darman, darimana kau dapat obat ini?”Tanya Malik.

“Tadi ketika aku sudah hampir kena jarum Merak Hitam,  tiba-tiba datang seseorang yang berjubah lembayung yang sangat indah sekali menolong aku dan memberikan obat ini.”

“Jangan-jangan dia datang membantu kita?”

“Aku yakin sekali, Man, sepertinya memang dia yang membantu kita.”

“Ini sudah yang ke berapa kalinya dia membantu kita, berarti dia tidak seperti yang kau curigai selama ini, Lukman.”

“Aku tahu, kakek Konek, hanya aku penasaran saja kenapa dia tidak mau bertemu muka dengan kita?”

“Kalau aku boleh bertanya, emangnya siapa yang kalian bicarakan dari tadi?” Tanya Darman kebingungan.

“Oya, kenapa kalian bisa sampai di sini, bertemu dengan musuh?” Tanya Lukman.

“Kami mendengar kabar Datuak Kaba Angin bahwa Dewi Tangan Dingin sedang menuju gunung Tandikat untuk mencari obat, makanya kami menyusul ke sini, baru kami sampai, tiba-tiba kami diserang mereka dengan cara curang sekali, makanya kedua paman sampai bisa diracuni mereka. Untung kalian keburu datang kalau tidak kami semua sudah mati dibunuh mereka.”

“Tapi kalau melihat cara mereka menyerang sepertinya mereka tidak ingin membunuh kalian, karena kalau mereka benar-benar hendak membunuh kalian dari tadi pasti kalian sudah mati oleh racun Merak Hitam mereka yang berbahaya itu. Aku rasa mereka ingin menyandera kalian untuk tujuan yang tidak baik.”

“Benar juga yang uda Lukman katakan, sepertinya memang begitu rencana mereka, ketika semburan racun mereka yang dihadang oleh paman Jamin (Pandeka Tendangan Petir) dan paman Dasrun (Pandeka Pedang Pamuncak) tidak sampai merenggut nyawa mereka langsung biasanya sehebat apapun ilmu tenaga dalam orang bila sudah berhadapan dengan racun Merak Hitam tidak ada yang bisa selamat, pasti hanya bisa bertahan sebentar saja sebelum kehilangan kesadaran atau nyawa.”

Darman telah selesai membagikan obat kepada yang terluka kena racun, dan memasukan botol obat tersebut ke dalam bajunya lagi. Belum sempat dia membuka mulut untuk menanyakan sampai di mana pencarian mereka akan obat untuk ibu mereka, tiba-tiba terdengar gemuruh suara derap kuda yang ramai sekali di belakang mereka dari arah pertempuran tadi. Buru-buru mereka semua menyingkir dan mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Terlihat sekumpulan debu berterbangan mengiringi kuda-kuda yang berlari ke arah mereka yang dipimpin oleh seekor kuda putih yang berlari tenang ke arah mereka.

Mereka yang sudah pernah melihat kuda putih ini tahu bahwa bukan musuh yang datang, ketika hampir mendekati tempat mereka, kuda putih itu berhenti berlari dan mengangkat kedua kaki depannya dan meringkik dengan keras seakan memerintahkan kuda lain yang ada di belakangnya untuk berhenti. Dan anehnya semua kuda yang ada di belakangnyapun berhenti berlari bahkan mereka berdiri dengan membentuk sebuah barisan yang teratur sekali. Kuda Putih itu menolehkan kepalanya kepada semua manusia yang sedang memandang dengan melongo takjub melihat semua ini, lalu kuda itu menganggukan kepalanya dan kembali berdiri dengan kedua kaki depannya sebelum dia pergi dengan kecepatan angin meninggalkan mereka semua.

Tidak ada satupun dari manusia yang ada di sana yang tidak terpesona akan kecerdikan dan kehebatan kuda putih itu. Cukup lama mereka dalam keadaan diam diri dan tidak tahu harus berkata apa, keheningan itu dipecahkan oleh suara kuda-kuda yang mendengus dan menggerak-gerakan badannya.

“Kalian lihat tadi ? Apa aku bermimpi seekor kuda mengantarkan kuda kita dan menganggukan kepalanya pada kita?” Tanya Darman dengan masih tidak percaya.

“Memang kuda yang sangat hebat sekali, ingin aku memiliki kuda seperti itu biarpun hanya keturunannya saja. Sang tabib berhasil melatih kudanya dengan luar biasa sekali.”sahut Malik dengan takjub.

Lukman hanya terdiam di tempat dan tidak habis berpikir, kalau kuda putih itu muncul di sini artinya pemiliknya tidak jauh-jauh dari mereka dan masih ada di sekitar mereka untuk melindungi mereka.

Mereka semua terkejut ketika mendengar suara Darman yang sambil merangkapkan kedua tangannya dan membungkukan badannya ke semua arah, “Terima kasih kepada anda yang sudah menolong kami, budi baik ini pasti akan kami balas suatu saat nanti.” Dia menggunakan ilmu Teriakan Gaung Bumi untuk menyampaikan pesan kepada sang penolong mereka yang tidak tahu ada di mana.

“Tuan muda Darman, kau ini bikin kami terkejut saja.”kata Jamin sambil mengurut-urut dada saking terkejutnya mendengar suara keras yeng bergema tadi.

Tapi Darman diam saja seperti mendengarkan sesuatu, mereka melihat ke arahnya dengan bingung.

“Darman, ada apa ?” Tanya Malik.

“Ssssttt….”

Terlihat beberapa kali Darman mengangguk-anggukan kepalanya tanda menyetujui sesuatu atau mengerti sesuatu, mereka semua menunggu sampai Darman buka suara.

“Baiklah, akan aku laksanakan perintah tabib.”kata Darman dengan keras seperti tadi menggunakan ilmu Teriakan Gaung Bumi.

“ Ada apa Darman, cepat katakan,” kata Lukman tidak sabar.

“Tadi tabib berpesan kepadaku agar obat yang dia berikan itu segera diberikan kepada ibu kita, yang satu ditelan sedangkan yang satu lagi dilarutkan dalam air mandi ibu setelah dia dapat berdiri kembali. Sedangkan yang satu lagi untuk berjaga-jaga seandainya kondisi ibu tidak segera pulih keesokan harinya. Beliau bilang sudah memberikan 6 butir obat itu kepada uda Malik, dan dia tahu 2 butir sudah digunakan untuk mengobati paman, jadi dia menyuruh aku memberikan dua butir lagi kepada uda sebagai ganti obat yang telah ditelan paman.”

“Apalagi yang dikatakan beliau?” Tanya Malik.

“Beliau juga mengatakan agar kalian jangan mengejar beliau lagi, kita disuruh segera balik dengan membawa obat penawar racun ini untuk digunakan bilamana musuh menyerang dengan racun. Dan agar ibu bisa cepat sembuh kembali. Beliau berani jamin ibu akan bisa disembuhkan dengan obat penawar racun yang beliau berikan, jika ibu masih belum sembuh juga mungkin karena racunnya sudah menyebar ke seluruh organ penting dalam tubuh ibu maka kita diharuskan untuk pergi ke nagari Batang Agam menemui Nenek Ubek Sakti untuk meminta daun Selasih Cicak agar dicampur dengan obat dari beliau dan rebus untuk diminumkan. Guna daun ini untuk memulihkan luka akibat racun yang merusak organ tubuh ibu, dan kita harus segera mengobati ibu agar jangan sampai terlambat, karena waktu untuk mengobati ibu hanya tinggal 1½ bln lagi, lewat dari masa itu biarpun Tabib Mato Tigo sendiri yang mengobati tetap saja nyawa ibu bisa tidak tertolong lagi.”

Mendengar penuturan Darman, mereka semua sepakat untuk cepat pulang membawa obat yang dibutuhkan oleh ibu mereka, setelah kondisi yang terluka sudah memadai. Obat yang diberikan oleh sang tabib memang sangat mujarab sekali, sebentar saja mereka semua sudah pulih dari keracunan hanya tinggal luka luar yang sudah mereka obati pula dengan obat yang mereka bawa dari rumah. Setelah semua selesai pengobatannya mereka menaiki kuda mereka dan melarikan kudanya ke arah pulang.

Selama melarikan kuda mereka menuju pulang masing-masing dari mereka tidak lepas dari memikirkan sang tabib yang misterius itu apalagi Lukman dan Malik, mereka masih penasaran terhadap sang tabib yang tidak berhasil mereka temui itu. Baru mereka berjalan sebentar saja mereka menemui rombongan ketiga pencari obat yaitu rombongan yang dipimpin oleh paman mereka, Datuak Samolangik, adik dari ayahnya Malik.

Mereka juga mendengar kabar bahwa tabib yang mereka cari sedang menuju ke daerah Gunung Tadikat, makanya mereka bisa sampai di daerah ini. Kebetulan perjumpaan mereka ini sudah menjelang tengah malam dan mereka semua yang tadi habis bertempur tiba-tiba merasa kelaparan, mengingat mereka tidak sempat untuk makan karena pertempuran itu memakan waktu yang cukup lama.  Hal ini bisa saja terjadi karena sekarang mereka dalam situasi aman dan tenang sehingga mereka sudah bisa merasakan perut mereka kosong belum diisi. Mereka mengambil tempat melingkari api unggun yang sudah dibuat  sambil membuka perbekalan mereka dan makan dengan lahapnya. Selesai makan, mereka ingin mengaso dan tiduran sejenak setelah tadi mereka bertempur mati-matian melawan musuh dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing silih berganti.

Terlihat Lukman diam membisu saja dari tadi sepertinya sedang memikirkan sesuatu, yang lain tidak berani menganggu. Kemudian dia memandang kepada mereka semua dengan wajah penuh pertimbangan, mereka sudah selesai saling bercerita pengalaman dan istirahatnya, sekarang sudah ingin bergerak untuk melanjutkan perjalanan.

“Kalian pulanglah semua dulu, bawa obat untuk ibu. Aku masih ingin tinggal di sini,”kata Lukman kepada mereka semua.

“Mau apa tuan muda Lukman tetap tinggal di sini? Bukannya tuan ingin cepat-cepat pulang bertemu dengan keluarga?” Tanya Pandeka Konek yang memang paling dekat dengan Lukman sehingga beliau berani bicara terus terang apa saja kepadanya.

“Aku ingin mencari tabib itu untuk menyampaikan maafku karena selalu salah sangka dan terima kasih atas bantuan beliau kepada kita secara langsung.”

“Tapi uda, beliau kan sudah katakan bahwa kita tidak perlu mencari beliau lagi, harus cepat pulang untuk membawa obat untuk ibu.”

“Aku tahu itu Darman, tapi aku tidak bisa menutupi rasa penasaranku akan beliau, kenapa beliau selalu bersembunyi-sembunyi menolong kita dan kenapa beliau tidak mau menemui kita? Apakah karena beliau tersinggung akan perkataanku? Jika benar aku ingin sekali minta maaf langsung kepada beliau.”

“Apa kalian juga tidak merasa aneh dan penasaran terhadap tabib ini ? Bukannya aku meragukan kemampuan beliau untuk menyembuhkan ibu kita tapi entah kenapa aku merasa harus bertemu dengan beliau untuk menuntaskan rasa penasaran yang bercokol di hatiku ini. Aku juga mendengar bahwa beliau menuju gunung Tandikat untuk mencari obat langka di sana , pasti tidak mudah untuk melakukan hal ini. Aku ingin membantu beliau karena kita sudah menerima budinya yang sangat besar itu, jadi menurutku inilah caranya agar kita bisa membalas budinya, walau beliau tidak mengharapkan balasan apapun dari kita. Bagaimana menurut kalian ?”

“Benar juga yang kau katakan Lukman, terus terang saja aku masih penasaran dengan tabib itu, beliau sudah menjaga kita dari marabahaya dan melepaskan budi pula kepada kita, rasanya kita ini sudah begitu banyak menerima budi, tapi tidak tahu bagaimana membalasnya. Aku sependapat denganmu, Man, kita memang harus membantu beliau dan kalau bisa sesudah urusannya selesai kita  bisa mengajak beliau ke rumah kita agar kita sekeluarga bisa menyampaikan terima kasih yang layak kepada beliau.”

“Uda Lukman dan uda Malik, apa kalian lupa ibu sedang menunggu obat dari kita, apa kalian tidak rindu kepada ibu dan ingin melihat beliau segera sembuh,” debat Kasman dengan mimik kebingungan mendengar pembicaraan kedua kakaknya itu.

“Benar sekali Malik, apa kau tidak rindu kepada ibumu? Bukannya kau yang paling kuatir ketika ibumu sakit, apa kau tidak ingin tahu apakah ibumu bisa disembuhkan atau tidak?” Tanya Datuak Samolangik.

Kedua pemuda itu terdiam mendengar pendapat adik dan paman mereka, di batin mereka berperang keinginan untuk mencari tabib itu dan melihat kesembuhan ibu mereka.

“Uda berdua, aku mengerti perasaan uda, aku juga merasakan hal yang sama. Begini sajalah kita bertiga pergi mencari tabib itu, sedangkan yang lain pulang dengan membawa obat untuk diserahkan kepada ibu. Aku yakin berkat obat ini ibu pasti sembuh, karena tabib itu sudah terkenal kehebatannya jadi pasti beliau tidak akan merusak reputasinya dengan memberikan obat sembarangan untuk ibu. Bagaimana menurut kalian?”

“Tuan muda Darman, kau ingin ikut juga?” Tanya Jamin menatap kuatir tuan muda kesayangannya itu, diantara ketiga anak Rangkayo Jati memang Darmanlah yang paling disayangi semua orang, dia seorang yang pemuda yang ramah dan sopan kepada siapa saja. Senyumnya dapat meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya ditambah lagi dengan tutur katanya yang lembut membuat siapa saja tidak bisa marah kepadanya. Berbeda dengan Lukman yang memang dari kecil sudah menunjukan wataknya yang keras dan pendiam sehingga para pengawal agak sedikit sungkan kepadanya, sedangkan Kasman masih bertingkah laku kekanak-kanakan seperti anak kecil yang manja jadi mereka masih menanggapnya pemuda yang baru besar.

Waktu pembagian rombongan untuk mencari sang tabib saja mereka juga berebutan ingin menemani Darman, bahkan Pandeka Konek yang memang dekat dengan Lukmanpun lebih memilih ikut rombongan Darman. Tapi setelah melihat orang berebutan ingin mendampingi Darman, akhirnya dia bersama Pandeka Tangan Siluman memutuskan untuk menemani Lukman dan Malik saja.

“Paman, jangan kuatir seperti itu, kami pasti bisa menjaga diri kami, yang penting sekarang kalian pulang cepat untuk memberikan obat kepada ibu dan bersiaga kalau-kalau musuh akan menyerang kita karena mereka tahu banyak diantara kita yang tidak ada di tempat sekarang ini.”

“Kalau begitu biarlah aku ikut tuan muda, sedangkan yang lain pulang mengawal obat itu,”sahut Pandeka Konek cepat, dia ingin sekali berjumpa dengan Datuak Marindiang yang sedang mengejar tabib itu juga.

“Kami juga ingin mengawal tuan muda, bagaimana pertanggunganjawab kami kepada ayah tuan muda sekiranya kami membiarkan tuan muda pergi begitu saja tanpa kami,” Tanya Randu sambil memandang kepada Malik.

Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya mereka memutuskan rombongan Lukman dan Malik tetap mencari sang tabib, Darman tetap pulang bersama 2 rombongan lain membawa obat penawar racun tersebut. Mereka berpisah menuju arah yang berbeda, Lukman beserta rombongannya menuju arah mereka datang tadi sedangkan rombongan Darman bergerak ke Utara menuju pulang.

Setelah beberapa hari mereka melacak jejak sang tabib akhirnya mereka menemukannya sedang menuju gunung Tandikat dari arah Timur gunung tersebut, dan hampir mereka berhasil menyusul tabib tersebut tapi kembali tabib itu bisa meloloskan diri. Mereka terus mengejar beliau dengan tidak kenal lelah kadang-kadang mereka mendapat petanda dari Datuak Marindiang yang ternyata diam-diam membantu mereka juga untuk menemukan sang tabib.  Sampai akhirnya suatu ketika mereka menemukan jejak sang  tabib yang menuju sebuah sungai yang mengalir di sebuah hutan yang mendekati kaki gunung Tandikat tersebut.

Posted by sieklie in 10:23:09 | Permalink | No Comments »

Friday, May 16, 2008

VIII  SAKITNYA PANAH ASMARA


Part 1


Setelah kepergian Masnan dan Basri, Bumi mengajak Kahar untuk menemani dirinya pergi ke nagari tetangga. Sebenarnya maksud Bumi mengajak Kahar karena dia ingin memastikan dugaannya bahwa Kahar memang menaruh hati pada iparnya. Dia tidak ingin salah dalam menilai sehingga nantinya bisa meregangkan hubungan diantara mereka karena masalah ini. Memang beberapa kali Kahar secara tersamar menyinggung hubungannya dengan Siti tapi dia masih ragu untuk menanggapi karena dia masih menunggu reaksi Siti. Setelah beberapa hari ini dia melihat reaksi Siti, dia menjadi lebih yakin ternyata maksud hati Kahar disambut oleh Siti walau tidak kentara tapi dia yang sudah bertahun-tahun mengenal iparnya ini mengerti juga akan perasaan wanita cantik itu.

Kahar yang memang tidak mempunyai kerjaan lain, merasa senang sekali diajak Bumi, karena terus terang saja dia bingung mau melakukan apa di rumah Bumi. Dia masih belum dapat caranya untuk mengajak ngobrol sang pujaan, karena dia masih menyimpan sedikit kekuatiran apakah Siti masih menyukai dia seperti dulu atau sudah tidak lagi sejak dia menyakiti hati wanita itu. Merupakan penyesalan yang tidak berkesudahan dalam hidupnya saat dia secara sengaja menyakiti hati Siti akibat cemburu yang membabi buta yang tidak pula terbukti kebenaran dugaan buruknya itu.

Sebelum pergi Bumi memberi instruksi kepada pegawainya untuk melakukan beberapa hal yang berkaitan dengan keadaan nagari. Setelah semua selesai dan berpamitan dengan Siti, mereka berdua berjalan kea rah Selatan dari nagari, pada saat masih di dalam nagari mereka berjalan seperti biasa, tapi begitu sudah menjauhi pinggiran nagari mereka menggunakan ilmu peringan tubuh untuk mempercepat langkah mereka karena hari sudah siang. Bumi sengaja tidak ajak Kahar makan siang di rumah, karena dia ingin mengajak Kahar makan di rumah makan yang ada di nagari tetangga sambil ngobrol masalah Siti dan dia tidak mau Siti mengetahui pembicaraan mereka.
Tidak lama sampailah mereka di nagari tetangga, memang ilmu kedua orang ini sangatlah mumpuni, perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 1 hari dengan berjalan kaki biasa, dapat mereka lakukan dalam waktu 2 jam saja tanpa terlihat nafas mereka memburu. Begitu sampai di pinggiran nagari, mereka mengurangi kecepatan dan mulai berjalan biasa sambil bercakap-cakap. Bumi mengajak Kahar berjalan menuju ke rumah makan yang cukup terkenal di nagari.

Rumah makan yang terkenal itu bernama Gadang Salero, dan merupakan pemilik dari wali nagari ini yang juga merupakan teman dari Bumi. Sehingga waktu Bumi memasuki rumah makan ini pelayan dan pengawas rumah makan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka. Semua orang yang ada di rumah makan itu mengenal siapa Bumi adanya, selain merupakan teman baik majikan, mereka juga tahu bahwa orang ini merupakan tokoh hebat dari dunia persilatan. Karena sudah beberapa kali mereka melihat kehebatan tokoh ini ketika menolong nagari mereka dari gangguan perampok, sehingga setiap kedatangan beliau ke nagari ini selalu disambut dengan sukacita.

Bumi yang melihat pengawas rumah makan yang bernama Daus menghampirinya segera tersenyum dan menyapa, “Hmmm Daus, apa kabar ?, apa ada meja kosong buat kami ?”

“ Ada tuan Bumi, meja yang anda suka gunakan kebetulan sekali kosong, silahkan anda ikuti saya,” sahut pengawas itu.

Diiringi dengan pelayan, mereka segera menuju ke meja makan yang ada agak di belakang dari rumah makan tersebut. Tempatnya agak terpojok sehingga jika orang datang ke rumah makan itu tidak akan bisa melihat mereka segera, tapi bagi yang duduk di meja tersebut bisa leluasa memandang orang-orang yang datang ke rumah makan itu. Bumi sangat menyukai lokasi penempatan meja tersebut karena tidak terganggu dengan kesibukan di rumah makan yang selalu ramai ini.

“Tuan hendak pesan makan apa, atau mau yang seperti biasa ?”

“Daus, apa hari ini ada masak gulai otak dan kepala ikan?”

“Kebetulan sekali tuan, kedua gulai kesukaan tuan hari ini ada, tukang masak kami sedang suka membuatnya.”

“Baiklah Daus, aku pesan gulai otak dan kepala ikan dan sayur pucuk paranci (daun singkong) serta lado (sambal) yang banyak. Kahar, kamu mau pesan apa ? Di sini makanannya enak-enak, tukang masaknya Ajo Iman itu kalau memasak makanan apa saja wah lamak bana (enak benar).”

“Benarkah? Aku jadi penasaran, apa di sini ada jual pakasan (sejenis masakan campuran durian matang dengan udang dan pete, masakan ini cukup terkenal)? Ini makanan kesukaanku yang tidak semua orang bisa memasaknya dengan enak,” kata Kahar dengan tersenyum.

“Wah tuan benar-benar mengenal masakan enak, hari ini hari keberuntungan tuan, menu special kami hari ini memang pakasan, saya jamin pasti tuan akan kecanduan dengan masakan pakasan Ajo Iman, karena beliau terkenal sekali dengan masakan ini dan biasanya beliau jarang sekali memasaknya, repot kerjanya.”

“Oya, baguslah aku pesan 1 porsi ditambah dengan gulai paku (sejenis tanaman pakis), aku lihat di sebelah sana orang makan gulai paku dengan enaknya. Dan juga jangan lupa bawakan 1 ekor ayam goreng.”

“Ujang, bawa pesanan ini ke Ajo Iman, bilang wali Bumi yang pesan pasti dia senang sekali.”

Buru-buru pelayan berjalan ke belakang untuk menemui tukang masak, benar saja dugaan si pengawas begitu tahu ini merupakan pesanan dari orang yang pernah menolongnya, Ajo Iman dengan senang dan cekatan menyiapkan semua pesanan wali Bumi.

Sedangkan si pengawas masih mendampingi Bumi dan Kahar,”Tuan-tuan mau minum apa ? Bagaimana kalau saya sarankan minum tea Embun Pagi yang merupakan racikan khusus yang di bawa dari daerah Agam. Teanya sangat wangi dan segar sekali diminum dingin di saat siang garang begini.”

“Bagaimana Kahar, apa kamu ingin mencobanya?”

“Boleh uda Bumi, sepertinya sangat menggoda sekali kedengarannya, memang aku sudah berasa panas untung saja kita duduk di tempat yang semilir anginnya terasa kalau tidak sudah kegerahan aku dari tadi.”

“Sebentar lagi makanan dan minumannya akan kami antar, harap sabar menunggu pasti tidak akan lama saya jamin. Kalau tidak ada lagi yang hendak dipesan saya permisi mengurus tamu yang lain.”

“Silakan Daus, oya kamu tidak usah beritahu kepada majikanmu bahwa aku ada di sini, tidak enak rasanya setiap kali ke sini makan gratis apalagi aku bawa teman. Terima kasih Daus.”

“Baiklah tuan Bumi, saya tidak akan memberitahukan majikan, saya permisi.”

Segera Daus meninggalkan kedua tamu itu, dia berjalan menuju meja kasir dan berdiri di sampingnya sambil terus menyapa tamu yang datang dan menemani mereka jika kebetulan mereka merupakan pelanggan tetap rumah makan ini.

Sepeninggal si pengawas, Bumi mulai berpikir bagaimana caranya untuk mencari tahu perasaan Kahar kepada Siti, dan dia juga merasa bahwa diantara kedua insan ini pasti pernah terjadi sesuatu. Karena belum pernah Bumi melihat Kahar sangat gugup dan cemas dalam menghadapi wanita, biasanya dia tenang-tenang saja malah kebanyakan wanita-wanita cantik itu dekat-dekat dan berusaha mencari perhatian dia. Tapi dengan Siti kebalikannya, Kahar yang berusaha menarik perhatian wanita cantik itu dan sepertinya takut-takut membuat Siti tersinggung. Menurut Bumi, hal ini sangat menggelikan sekali dia sudah pernah membahas masalah ini dengan Basri dan Masnan, kedua temannya juga menganggap lucu sekali. Dan ada satu informasi yang didapat Bumi dari salah satu anak buahnya, bahwa dulu sekali pernah ada hubungan antara Kahar dengan Siti tapi entah kenapa hubungan pertemanan itu berakhir.

Bumi ingin sekali mengetahui hal ini, apa penyebab kekakuan dalam hubungan Kahar dan Siti, seolah-olah Kahar takut menyakiti Siti dan Siti sepertinya agak menjaga jarak dengan Kahar. Sering Bumi melihat Kahar sembunyi-sembunyi menatap Siti dengan pilu dan mata yang penuh kerinduan bahkan sekali-kali Bumi melihat ada guratan penyesalan di wajah pemuda itu. Ini membuat Bumi penasaran sekali ingin mengetahui apa yang telah terjadi antara ipar dan adik angkatnya, karena di wajah iparnya dia tidak bisa melihat apapun wajah itu selalu tenang sepertinya tidak ada gejolak apapun yang bisa mengoyak ketenangan yang dalam itu.

Hanya anaknya yang bandel itu saja yang mampu membuat wajah Siti mempunyai emosi, setiap kali menatap Aswin mata dan wajahnya melembut, atau kalau anak bandel itu terluka dia melihat sinar kecemasan dan kekuatiran tergurat di wajah cantik itu. Selebihnya dia tidak pernah melihat emosi apapun terpancar di wajah Siti kecuali ketenangan dan kedamaian. Dulu sekali ketika dia baru menikahi isterinya, dia sering melihat sinar kebahagiaan bermain-main di wajah Siti tapi sejak kepulangannya dari merantau dan kematian isterinya, wajah Siti berubah menjadi tenang yang dingin seolah-olah semua emosi yang ada dalam dirinya raib bersama kepergian sang kakak tercinta.

Tapi setelah dipikir-pikir dia ingat cerita Kahar, bahwa pemuda itu sudah lama mengenal Siti dan waktunya itu bersamaan dengan waktu Siti pergi merantau. Jangan-jangan mereka berdua ada apa-apanya waktu sama-sama merantau dulu. Semakin Bumi memikirkannya semakin dia penasaran daripada dia mati karenanya biar dia menanyakan saja pada yang bersangkutan, karena menanyakan pada Siti tidak leluasa seperti dia bertanya pada Kahar.

Sedangkan Kahar ternyata memikirkan hal yang sama juga, dia lagi mencari cara bagaimana baiknya menyampaikan maksud hatinya kepada Bumi. Dia sudah tidak sabar lagi untuk segera mempersunting wanita pujaan hatinya itu, karena dia takut jika menunda-nunda lagi dia bisa kehilangan lagi. Sudah cukup semua kebodohan dan kesakitan hatinya dengan kehilangan Siti, dia sudah tidak sanggup lagi kalau harus kehilangan kedua kalinya. Setiap kali memandang wajah Siti, dia disiksa oleh perasaan bersalah dan pedih serta yang paling parah adalah kerinduannya pada wanita cantik itu. Dia tahu Siti seorang wanita yang lembut dan peka perasaannya, pasti sudah memaafkan dia atas semua perbuatannya di masa lalu. Tapi apa masih cintakah wanita ini padanya itu merupakan sebuah pertanyaan, kadang dia melihat Siti menatap dia dengan lembut tapi kebanyakan sinar mata dan wajahnya tidak tersirat apapun saat memandang padanya.

Semuanya terasa dingin mencekam hatinya, tidak seperti tatapan mata dan wajah Siti ketika memandang Aswin yang begitu hangat dan penuh kasih sayang. Dulu sekali tatapan seperti itu pernah diterimanya dari Siti, dia merasa hatinya penuh kehangatan dan cinta setiap kali Siti memandangnya seperti itu. Dan dari dulu dia juga tahu Siti bukanlah tipe wanita yang gampang menunjukan perasaannya kepada orang lain. Hanya orang yang peka perasaannya tahu bagaimana kuatnya perasaan wanita itu terhadap orang-orang yang dicintainya. Sayang dia melupakan hal itu, sehingga mengakibatkan hancurnya hubungan mereka dan berakhir dia selalu merana dan kesepian dalam jiwanya akibat kehilangan Siti.

Kini Tuhan mengabulkan doanya untuk memberi kesempatan kedua untuk meraih lagi kebahagiaan bersama orang yang dicintainya, tidak akan lagi dia mengulangi kebodohan yang sama ditambah lagi sekarang tidak ada penghalang bagi hubungan mereka. Dia tidak sadar bahwa ibu muridnya menaruh pengharapan padanya yang nantinya bisa mengganggu hubungannya dengan Siti.

Belum sempat Bumi membuka mulut untuk bertanya, Kahar sudah mendahuluinya bicara,”Uda, sudah berapa lama kita menjadi saudara angkat ?”

Bumi yang ditanya jadi bingung kenapa tiba-tiba saudara angkat termudanya bisa bertanya seperti itu. Dia belum melihat arah dari pembicaraan Kahar, tapi dia menjawab juga,”Kurang lebih hampir 15 tahun, kenapa ?”

“Apa selama kita berteman, uda melihat aku seperti seorang pemuda genit yang gampang tergoda oleh wanita cantik?”

“Hmmmm… memang aku juga suka heran kenapa kamu tidak tergoda oleh wanita-wanita cantik yang mengelilingi dan mengagumi dirimu, bahkan sempat terpikir oleh kami jangan-jangan kau tertarik pada pria,” kata Bumi sambil tersenyum menggoda.

Mendengar perkataan Bumi, buru-buru Kahar memalingkan wajah untuk memandang wajah Bumi yang sedang menyeringai jenaka, dia langsung tahu sang uda sedang menggodanya. Kahar tersenyum pahit melihat itu, karena dia tidak sanggup tersenyum saat ini ada beban yang berat sekali ingin diungkapkan kepada sang uda. Dia tidak tahu bila udanya mendengar apa yang ingin dia ceritakan apa masih mau membantunya mendapatkan Siti atau tidak.

Belum sempat dia melanjutkan pembicaraan, masakan yang masih panas mengepul diantarkan pelayan untuk dihidangkan ke meja mereka, segera tercium bau masakan yang lamak sekali yang mengundang perut menyanyikan nada sumbangnya. Selain pesanan mereka ternyata pelayan juga menyajikan dendeng batokok (empal empuk), jengkol muda yang dijadikan lalapan, pete balado (bercabe) yang digoreng dengan kulitnya, gulai ikan pangek (ikan asam pedas). Benar-benar masakan yang mengundang selera ditambah dengan nasi putih pulen yang berasal dari beras Solok yang diletakkan dalam bakul. Hmmm lamak bana, mintuo lalu indak caliak lai (enak sekali, mertua lewat tidak lihat lagi), kemudian tea yang dijanjikanpun dihidangkan dan benar seperti yang dikatakan bau wangi yang enak tercium dari teko.


“Kahar, nanti saja kita bicaranya, aku sudah lapar sekali, kan lebih enak kalau bicara dalam keadaan sudah kenyang. Mau bicara sampai berapa jam juga akan aku layani, gimana?”

“Aku rasa juga enakan begitu, uda, karena sepertinya makanannya mengundang selera sekali.”

Setelah mencuci tangan bersih-bersih, mereka makan dengan lahapnya menggunakan sendok yang diberikan langsung oleh Tuhan yaitu tangan, yo bana sero (ya benar2 enak). Bumi sangat menikmati makanannya, sedangkan Kahar tidak terlalu menikmatinya karena pikirannya sibuk memikirkan apa dia akan bercerita jujur atau ada bagian2 yang dihilangkan supaya Bumi tidak menyalahkannya dan mau membantu hubungannya dengan Siti.
Selesai makan sambil menikmati tea dingin yang disajikan, Kahar merasa sudah saatnya dia menyambung pembicaraannya yang terputus tadi. Kebetulan suasana di rumah makan tersebut sudah mulai sepi jadi enak untuk bicara tanpa takut terganggu dengan suara orang lain.


“Nah, Kahar, perut sudah kenyang, hati sudah lapang, silahkan kau lanjutkan pembicaraan yang terputus tadi.”

Dengan menghela nafas Kahar memulai pembicaraannya,”Aku tahu uda semua suka bingung dengan sikapku yang tidak tertarik pada wanita cantik manapun. Bukan maksud aku seperti itu uda, mungkin pada awal perkenalan kita dulu, aku belum mengerti artinya cinta dan rindu, oleh karena itu aku tidak terlalu menanggapi para wanita cantik yang mendekati aku. Tapi setelah aku mengenal Siti, aku baru tahu enaknya diperhatikan dan disayang oleh wanita cantik. Mungkin karena keenakanlah yang membuat aku lupa diri dan sengsara begini…”

“O, jadi kau sudah lama mengenal Siti ? Kenapa kau bilang sejak mengenal Siti, kau tahu artinya cinta, apa dulu kalian sempat menjadi sepasang kekasih?” potong Bumi tidak sabar.

“Begitulah uda, kami berdua pernah menjadi sepasang kekasih, tapi karena kebodohanku maka aku kehilangan cinta sejatiku,” kata Kahar dengan pilu.

“Kenapa bisa begitu, setahuku engkau bukanlah seorang pemuda yang bodoh, Kahar,” selagi Bumi memotong pembicaraan Kahar yang dia rasanya terlalu lama dan tidak langsung ke tujuan tapi dibalik semua perkataan Kahar, dia merasakan kesedihan dan penyesalan yang mendalam.

Dengan senyum yang teramat pahit Kahar menjawab,”Terima kasih atas pujian uda, tapi uda dalam kasus ini aku benar-benar orang yang paling bodoh sejagat raya ini. Aku menyia-nyiakan kasih murni dari Siti lantaran cemburu dan godaan sesaat.”

“Kahar, sudah cukup basa basimu itu sekarang lebih baik kau ceritakan awal mula kebodohanmu itu, aku sudah tidak sabar mendengarnya.”

Kembali Kahar merasa berat sekali menceritakan kebodohannya bukan karena dia malu tapi dia takut setelah menceritakan kisah ini kemungkinan besar Bumi tidak setuju menjodohkan dia dengan Siti. Sedangkan dia tahu sekali Siti sangat menghormati iparnya sehingga bisa jadi mempengaruhi keputusan wanita pujaannya itu ditambah lagi dia tidak yakin akan perasaan Siti padanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya, lebih baik begini karena dia percaya uda Bumi pasti bisa mempertimbangkannya dengan bijaksana.

“Baiklah uda Bumi, aku akan mulai menceritakan kisah kami, tapi uda jangan potong pembicaraan aku, karena susah sekali rasanya mengeluarkannya dari dalam sini,”kata Kahar sambil menunjuk dadanya.


Bumi menganggukkan kepalanya, dia dapat melihat dari wajah dan mata Kahar, penderitaan batin yang selama ini disembunyikan pemuda ini dari mereka, saudara angkatnya. Dia tambah penasaran lagi, apa yang telah terjadi sehingga pemuda seperti Kahar jadi menderita begini.

Sambil menatap awan dari jendela di samping mereka, Kahar mengenang masa lalu pertemuan dia dengan Siti dan mulai menceritakan….

Kahar yang ketika itu merupakan pemuda yang baru lulus dari perguruan silatnya diijinkan oleh gurunya untuk turun gunung dan merantau sekalian pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya yang sudah hampir 8 tahun tidak ditemuinya. Dia merasa senang sekali karena diantara murid-murid yang lain dia tidak diperbolehkan sering turun gunung sampai pelajarannya selesai. Perkenalannya dengan Bumi, Masnan dan Basri dikarenakan kebetulan sekali mereka ikut gurunya datang berkunjung pas perayaan ulang tahun ketua perguruan silat tempat dia bernaung, dan sempat terjadi kekacauan besar tapi yang berbuah mereka mengangkat saudara satu dengan yang lain.


Guru Kahar yang merupakan adik seperguruan dari kakek guru ketua perguruan Api Matahari memang menggembleng dia dengan keras, yang untungnya dia merupakan murid yang sangat berbakat sekali sehingga semua pelajaran yang diberikan bisa diselesaikannya dengan baik dalam waktu yang singkat. Dididik oleh orang seperti Datuak Matohari Ameh membuat Kahar menjadi pendekar yang mumpuni, karena memang gurunya merupakan tokoh yang paling berbakat dan tinggi ilmunya dalam perguruan Api Matahari. Hanya karena beliau tidak menyukai keduniawian maka beliau tidak terlibat langsung pada operasional perguruan semua diserahkannya pada kakak seperguruannya dan dilanjutkan oleh murid-murid lainnya. Beliau belum pernah menerima murid sebelumnya sampai dia bertemu dengan Kahar ketika terjadi kerusuhan di perayaan ulang tahun itu.


Sebenarnya gurunya berat melepaskan Kahar untuk pergi merantau karena selain anak ini memang berbakat, dia pintar menghibur hati gurunya dan sangat rajin sehingga sang guru sangat menyayanginya. Tapi semua pelajaran telah diberikan kepada Kahar, sehingga sudah tiba waktunya untuk Kahar menimba pengalaman di dunia persilatan, gurunya yakin dengan ilmu yang diberikan kepada pemuda ini bisa mengatasi semua masalah yang terjadi. Gurunya selalu berpesan agar dia selalu berbuat baik, menghindari pertengkaran yang tidak perlu, dan berusaha memberi ampun kepada orang yang mau bertobat. Ketika Kahar mau turun gunung, dia menyempatkan diri bertemu dengan guru pertamanya yaitu ketua perguruan yang bergelar Pandeka Penakluk Matahari.


Pandeka Penakluk Matahari sendiri merupakan tokoh persilatan yang disegani sekali oleh perguruan silat lainnya. Kahar menjadi murid pandeka ini dikarenakan hubungan persaudaraan antara ayahanda Kahar dengan pandeka ini. Ketua perguruan ini mempunyai 4 murid utama termasuk Kahar, tapi dia memang paling sayang pada Kahar karena pemuda ini sangat berbakat dan rendah hati walaupun dia termasuk keluarga kerajaan. Makanya waktu paman kakek gurunya mengambil Kahar menjadi muridnya, pandeka ini tidak keberatan karena dia tahu bakat anak ini yang melampaui teman-temannya.

Kini anak itu menghadap padanya dan tetap bersikeras memanggilnya guru, padahal dari segi kedudukan Kahar di atas dia, setingkat dengan gurunya. Dan pada saudara perguruannya tetap memanggil uda dan uni tanpa membedakan kedudukan, pokoknya siapa yang lebih tua darinya selalu dipanggil dengan hormat. Semua orang menyayangi pemuda cakap ini kecuali kakak seperguruannya yang nomor 2 bernama Yunus. Pemuda ini selalu iri terhadap Kahar yang melebihi segalanya dari dia, Yunus juga termasuk keluarga kerajaan hanya dia merupakan saudara jauh sedangkan Kahar merupakan sepupu dari raja sekarang.

Tapi dia pintar menutupi perasaan irinya pada Kahar, di muka semua orang dia berlaku sopan dan baik sehingga tidak terlihat sifat jeleknya. Hanya Datuak Matahari Ameh yang bisa merasakan ketidakberesan pemuda ini, oleh karena itu dia memesan wanti-wanti kepada muridnya untuk berhati-hati pada pemuda itu. Karena beliau melihat aura kegelapan yang melingkupi sekeliling pemuda itu, dan dengan tenaga kebatinan dia juga tahu bahwa pemuda ini mempunyai kekuatan sesat dalam dirinya yang belum dibangkitkan. Beliau tidak bisa mengusir pemuda itu dari perguruan Api Matahari, karena akan menimbulkan masalah besar ke depannya. Makanya yang dia bisa lakukan hanya memperkuat kebatinan dan ilmu serta tenaga dalam Kahar agar nantinya bisa menghadapi Yunus.


Setelah berpamitan dengan guru dan saudara seperguruannya, Kahar melangkah dengan ringan menuju ke kaki gunung Tandikat untuk memulai pertualangannya. Karena dia berjalan dengan santai sekali maka sampai di kaki gunung sudah senja, segera dia pergi ke rumah wali nagari untuk menumpang mandi dan makan. Semua penduduk sudah mengenal murid-murid perguruan Api matahari, mereka senang sekali menerima dan membantu karena murid-murid dari perguruan ini sangat baik dan ramah serta ringan tangan menolong mereka. Jadi tidak masalah kalau ada murid perguruan ini minta berteduh dan makan di rumah wali nagari itu. Sesudah mandi dan makan, Kahar berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya, dia tidak ingin mengganggu wali nagari yang baik itu lebih lama lagi.

Dengan santai dan bersiul-siul dia melangkahkan kakinya menuju hutan yang menjadi perbatasan nagari ini dengan dunia luar, kebetulan sinar bulan sangat penuh dan terang sekali sehingga memudahkan dia untuk melanjutkan perjalanan. Dengan ilmu lari cepat dia sudah meninggalkan nagari dan kira-kira tengah malam dia sudah hampir sampai di pinggiran hutan sebelah sana . Tapi karena ngantuk dia mau istirahat dulu, dia lihat pohon-pohion yang tumbuh di sekitar tempat dia berdiri dan melihat ada sebuah pohon yang kelihatannya enak untuk menjadi tempat tidurnya. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh dia sampai di atas pohon, dan sebentar kemudian diapun sudah terlelap. Malam semakin larut, tiba-tiba dia mendengar derap kuda yang kencang sekali menuju ke arah pohon tempat dia tidur, segera dia membuka matanya melihat arah datangnya suara derap kuda tapi dia tidak merubah posisi tubuhnya yang masih tertidur di atas dahan pohon.

Terlihat seekor kuda putih berlari kencang sekali dari arah Timur membawa sosok tubuh kecil di atasnya, Kahar tidak bisa melihat wajah si penunggang kuda karena tertutup dengan kain yang melilit kepalanya. Ketika hampir dekat pohon Kahar, tiba-tiba si penunggang kuda bersiul tinggi melengking dan hebatnya kudanya berhenti berlari seakan-akan dia mempunyai rem di kakinya. Sambil terus menengok ke belakang si penunggang kuda turun dari atas kudanya.

“Bening, aku rasa kita sudah meninggalkan jauh orang-orang bawel itu di belakang kita, lebih baik kita istirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan kita ke perguruan Api Matahari,”terdengar suara lirih si penunggang bicara dengan kudanya.


Kahar tidak bisa memastikan apakah itu suara pria atau wanita karena dia masih belum bisa melihat wajah dan potongan tubuh penunggang kuda itu. Hanya kalau dia taksir tinggi orang itu hanya sebatas dadanya saja, Kahar termasuk pemuda yang tinggi dan berdada bidang yang cukup lebar, sedangkan penunggang kuda ini kelihatannya bertumbuh kurus. Orang dan kudanya langsung duduk di atas tanah dengan enaknya seolah tidak memperdulikan kotor atau tidaknya tanah itu. Si penunggang kuda langsung menjatuhkan badannya ke perut kudanya dan langsung tertidur. Sang kudapun dengan tenang membaringkan tubuhnya di tanah dan membiarkan tuannya tidur di perutnya. Kahar masih belum bisa melihat wajah sang penunggang kuda karena tertutup oleh kain yang menutupi seluruh tubuhnya termasuk wajahnya.


Suasana tenang dan sepi membuat Kahar mengantuk lagi, ingin melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu karena kehadiran orang dan kudanya. Tadi sempat dia heran mendengar gumaman orang itu yang mau ke perguruannya, besok dia akan menguntit orang ini karena dia ingin memastikan apakah orang ini bermaksud jelek ke perguruannya atau tidak. Jika tidak dia bisa dengan tenang meninggalkan daerah perguruannya untuk melanjutkan perjalanan.

Baru saja dia merasa tertidur tiba-tiba di kejauhan lamat-lamat dia mendengar derap kuda yang banyak menuju ke arah dirinya, Sambil menggerutu kesal dia terbangun dari tidurnya, tapi suasana sudah mulai terang, malam sudah menyelinap ke peraduannya untuk memanggil bangun sang mentari. Suasana sungguh indah sekali di remang-remang cahaya pagi, bila tidak terganggu oleh suara derap kaki kuda. Kesal sekali rasanya belum kenyang tidurnya harus terganggu lagi, cepat dia menoleh ke arah orang dan penunggang kuda di bawahnya. Rupanya orang itu belum mendengar derap kuda dari jauh itu tapi sang kuda sudah mendengarnya dan mengeluarkan suara ringkikan pelan sambil kepalanya ditoleh ke samping dan sundul pelan majikannya. Tapi sang majikan masih keenakan tidurnya mungkin karena kelelahan berkuda sehingga tidak terbangun walau sudah disundul-sundul kudanya. Semakin lama suara derap kuda itu semakin dekat, kuda itu mengeluarkan suara ringkingan keras dan berusaha berdiri agar bisa membangunkan sang majikan. Akhirnya sang majikan bangun juga dan terduduk dengan lemasnya, kudanya kembali mendorong-dorong punggung majikannya agar segera berdiri. Sang majikan mengangkat kedua tangannya  dan mendoyongkan kepalanya ke arah belakang sambil menggeliatkan badannya.

Saat itulah penutup kepalanya terbuka dan rambut yang menutupi wajah itu tersibak tergerai ke belakang. Tampaklah seraut wajah wanita yang sangat cantik sekali apalagi ketika sinar matahari yang mulai mengintip malu-malu mencium wajah itu. Kahar terpesona memandang wajah itu sungguh teramat sangat cantik, berkulit sawo matang yang mulus, berbibir bawah yang tebal sensual dan hidung yang mungil mancung melengkapi keindahan wajah itu. Dia belum bisa melihat mata sang pemilik wajah dikarenakan dia masih menutup matanya menikmati ciuman hangat dari sang mentari. Ketika si cantik membuka matanya, sang dewa langsung melepaskan panah asmaranya tepat mengenai jantung Kahar, sejak saat itu wanita itu sudah merenggut kedamaian dan ketenangan Kahar.


Kahar jatuh cinta tanpa bisa mengelak atau melepaskan diri lagi dari panah asmara yang sudah menancap di jantungnya dengan tepat sekali. Mata indah sang pemilik wajah cantik itu benar-benar menggoncangkan iman, begitu bening dan teduh sekali jika memandang ke dalamnya seakan ingin ikut tenggelam ke dalam mata indah itu. Belum pernah selama hidupnya Kahar merasakan gairah dan semangat yang membara karena seorang gadis cantik, sudah banyak ditemui gadis-gadis cantik yang pernah datang berkunjung ke perguruannya atau teman-teman mainnya waktu masih di istana tapi tidak ada satunya yang mampu mengguncang perasaannya seperti saat ini.

Dia lupa akan keadaan sekitarnya hanya mampu melihat pemandangan indah di depannya tanpa berkedip, sedangkan suara derap banyak kuda semakin mendekati tempat mereka. Tapi yang anehnya si cantik itu tidak menghiraukan hal itu bahkan dia masih menikmati angin nan lembut yang meniupi rambut dan bajunya perlahan-lahan. Terdengar senandung lembut dari bibirnya yang sensual itu seakan menikmati cerahnya pagi ini. Dan kudanya sudah berjalan agak ke samping menuju sungai kecil yang mengalir untuk minum dan makan rumput yang tumbuh subur di pinggiran sungai tersebut.

“Bening, kamu enak sekali sudah minum, aku juga ingin minum tapi harus ditadah dulu pasti segar sekali rasa embun pagi,” terdengar suara merdu nan lembut keluar dari bibir sensual itu.

Kahar semakin terbuai dengan keadaan yang ada di sekitarnya, apalagi setelah mendengar suara yang lembut berirama itu. Dia melihat gadis itu mengeluarkan sebuah tabung dari bamboo dari balik bajunya dan dengan gerakan yang luwes sekali dia menyapukan bamboo itu pelan-pelan ke titik-titik embun yang ada di dedaunan yang tumbuh subur di dekatnya. Gerakannya sedemikian cepat dan luwes sekali, tidak ada embun pagi yang lolos dari tabung bamboonya. Melihat hal ini Kahar tahu bahwa gadis ini bukan orang sembarangan pasti mempunyai ilmu silat yang bagus sekali, walau mungkin dibandingkan dengan dirinya masih jauh tapi cukup untuk dia membela diri seandainya terjadi sesuatu.


Setelah beberapa lama dia memasukan embun pagi di tabung bambunya, gadis itu tertawa lembut melihat hasil kerjanya, suara tawanya sungguh menggelitik sukma Kahar, dia jadi ikutan tersenyum melihat tingkah laku dara cantik itu.

“Bening, cukup banyak juga embun yang aku dapat, lumayan untuk melepaskan dahaga.”

Segera dara itu meminum embun pagi yang ada di tabung bambunya,”Hmmmm…. Nikmati sekali rasanya Bening, sekarang aku sudah siap menghadapi orang-orang bandel itu. Tapi aku harus mencuci muka dulu menghilangkan debu yang melengket ini.”

Biarpun dia seorang perantau akan tetapi tetap dia seorang anak gadis yang mementingkan kebersihan dan kerapian dirinya. Dia berjalan menuju sungai kecil itu dan mencuci tangan dan mukanya, sambil melepaskan jubah kain yang melingkari tubuh dan kepalanya. Kembali Kahar terpana menatap dara itu, ternyata dia memiliki rambut hitam panjang yang indah berkilauan dan bentuk tubuh yang sangat proposional sekali dengan tinggi tubuhnya. Sempurna kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan dara itu, jari tangan yang lentik itu menepuk-nepuk mukanya dengan air sungai yang jernih itu.


Dan sementara itu segerombolan orang berkuda sudah terlihat mendekati tempat mereka, dan pemimpin rombongan sudah mengangkat tangannya untuk memerintahkan kepada rombongan agar menghentikan lari kuda mereka. Dia sudah melihat kuda putih itu dan pemiliknya yang sedang berjongkok mencuci tangan dan wajahnya di sungai itu.


“Selamat pagi Dewi, maafkan kami yang mengejar anda seperti ini,” sapa halus sang pemimpin kepada dara yang sedang membelakangi mereka.

Kahar memandang pemimpin rombongan itu, seorang pemuda yang cakap sekali dengan pakaian mahal membalut tubuhnya. Ada sekitar 10 orang dalam rombongan berkuda itu, 5 orang diantaranya sudah berusia paruh baya sedangkan 2 orang sudah kakek-kakek dan sisanya anak muda seumuran dengan pemimpin rombongan yang ditaksir Kahar tidak beda usianya dengan dirinya. Dia bersiap-siap akan membantu dara cantik itu seandainya rombongan ini mengganggunya.


Pemuda pemimpin rombongan ini bernama Lukman, yang merupakan putera pertama dari keluarga ternama Rangkayo Padang Jati sedangkan 2 pemuda di belakangnya merupakan adik kandungnya, Kasman, dan sepupunya, Malik yang juga berasal dari keluarga hebat yang memiliki perguruan silat Ula Kuniang (Ular Kuning). Sedangkan 2 orang kakek yang ada dalam rombongan ini juga bukan orang sembarangan, yang pendek dengan rambut putih panjang sebahu bergelar Pandeka Konek dari Bukit Sagantang, sedangkan yang lebih tinggi dengan kepala botak bergelar Pandeka Tangan Siluman. Kedua kakek ini merupakan tokoh hebat dalam dunia persilatan hanya sedikit orang yang mampu menghadapi kehebatan mereka, selama ini mereka menjadi pengawal pribadi dari ayah Lukman yaitu Sutan Mudo Padang Jati.


Yang 5 orang lagi merupakan murid-murid utama dalam perguruan silat Ula Kuniang, mereka datang karena mengawal putera guru mereka. Rombongan ini ditugaskan oleh Sutan Mudo Padang Jati untuk mencari tabib yang bisa menyembuhkan ibu Lukman dan ibu Malik yang tiba-tiba diserang penyakit yang tidak ketahuan dari mana datangnya. Kedua perempuan ini sudah seminggu lamanya berbaring sakit dengan seluruh tubuh memerah dan melepuh seakan kena bakar api yang sangat hebat. Kedua suami mereka sudah memanggil tabib-tabib ternama tapi tidak seorangpun mampu menyembuhkan kedua wanita ini. Sehingga suatu ketika seorang pedagang teman baik Sutan Padang Jati, memberitahukan bahwa sekarang di dunia persilatan terdengar kabar ada seorang tabib yang sakti murid dari Tabib mato Tigo yang suka menolong orang. Tabib itu bernama Dewi Tangan Dingin, beliau sangat terkenal sekali kesaktian ilmu pengobatannya, masalahnya tidak mudah untuk bisa menemui beliau.


Tabib ini sering menyamar sehingga wajah aslinya tidak seorangpun yang tahu, yang orang tahu bahwa tabib ini seorang wanita tapi apakah dia sudah tua atau muda tidak ada seorangpun yang tahu dengan jelas. Orang yang sudah pernah ditolongnya menyebut beliau dengan sebutan Dewi Tangan Dingin, karena selain tahu dia seorang wanita, mereka yang pernah diobatinya tahu dia memiliki tangan yang terasa dingin sejuk setiap menyentuh luka atau tubuh si sakit. Dan ciri tangan dingin sejuk inilah merupakan petunjuk khusus tabib itu yang tidak dimiliki oleh tabib lain.


Jadi saat Lukman dan Malik ditugaskan untuk mencari tabib ini, mereka kewalahan juga karena tanda pengenal tabib ini hanyalah dia seorang wanita dan mempunyai tangan yang dingin sejuk. Sudah hampir 2 minggu mencari kabar tabib ini, akhirnya mereka mendengar kabar kehadiran tabib ini di sekitar wilayah gunung Tandikat karena ada korban sakit menular di sebuah nagari dekat gunung tersebut. Dan biasanya tabib itu akan datang ke daerah bencana seperti itu untuk memberikan pengobatan kepada penduduk. Setelah menunggu hampir 3 hari lamanya dan benar saja seorang tabib  datang untuk menyembuhkan penduduk, hanya mereka tidak sangka dan kecewa sekali karena tabib itu seorang pria tua sedangkan tabib yang mereka tunggu itu adalah seorang wanita.

Malik yang sudah tidak tahan menunggu karena menguatirkan sang ibu, meminta kepada yang lain untuk membawa saja tabib ini pulang siapa tahu beliau bisa menyembuhkan ibu mereka. Sedangkan Lukman tetap bersikeras ingin menunggu tabib sakti itu, sempat terjadi pertengkaran diantara mereka untung cepat dilerai oleh kedua kakek itu. Kasman yang melihat kedua kakaknya ribut seperti itu, pergi ke luar untuk melihat-lihat keadaan penduduk yang disembuhkan oleh tabib tua itu. Dari penduduk yang telah disembuhkan oleh tabib itu, dia mendapat berita bahwa tabib itu mempunyai tangan ajaib yang terasa dingin  menyejukan setiap kali memegang tubuh mereka. Mendengar hal ini Kasman merasa curiga, jangan-jangan tabib ini adalah tabib yang mereka cari. Buru-buru dia pulang untuk memberitahukan kepada saudara-saudaranya. Begitu sampai di tempat mereka menginap Kasman mencari kakak dan sepupunya, yang ternyata sedang berkumpul di kamar kakaknya.

“Uda Lukman, ada berita aneh.”

“Kasman, ada apa jangan bicara yang buat orang kesal,” kata Lukman dengan muka cemberut karena dia masih kesal sekali dengan Malik.

“Ini berita yang mungkin membuat kita bisa pergi dari nagari ini dengan cepat,” sahut Kasman.
“Berita apa yang kau bawa, Kasman?” Tanya Malik.

“Begini uda Malik, waktu aku jalan-jalan keliling nagari ini aku bertemu dengan penduduk yang sudah sembuh dari pengobatan tabib itu, dia menceritakan bahwa tabib itu mempunyai tangan yang halus dan lembut….”
“Semua tangan tabib memang halus dan lembut, kalau tidak bisa kesakitan pasiennya,”potong Lukman dengan tidak sabaran.

“Yang uda katakan itu betul, tapi ada satu lagi yang perlu uda tahu, menurut mereka tangan si tabib juga dingin menyejukan ketika menyentuh tubuh mereka.”

“Hah, apa benar itu Kasman, kau jangan bercanda,” Tanya Malik sambil berdiri dari kursinya.

“Itu benar uda, tadinya aku juga tidak percaya tapi setelah aku menanyakan pada beberapa orang, mereka semua bilang sama tangan tabib itu dingin menyejukan, makanya aku buru-buru balik untuk memberitahukan kepada kalian semua.”

“Lukman, kita harus menyelidiki kebenaran berita ini segera, karena ibu kita sudah hampir sebulan menderita aku sudah tidak tahan memikirkannya. Saking kuatirnya kita hampir lupa bahwa tabib Dewi tangan Dingin itu suka menyamar bisa jadi tabib ini merupakan samaran dia, selama ini kita selalu terpaku hendak mencari tabib wanita. Padahal bisa jadi tabib itu sudah di depan mata kita tapi kita tidak menyadarinya.” kata Malik dengan cepat.


“Baiklah kita semua keluar dan selidiki hal ini, mudah-mudahan saja benar, aku juga sudah tidak sabar sekali setiap memikirkan penderitaan ibu kita.”

Segera mereka keluar dari kamar penginapan dan menyebar ke seluruh nagari untuk membuktikan kebenaran berita itu. Kedua kakek yang menyertai mereka bertugas untuk pura-pura menjadi pesakitan agar bisa merasakan pengobatan dari tabib itu, Lukman serta Malik menyamar sebagai keluarga dari kedua kakek itu, sedangkan 5 orang saudara seperguruan Malik serta Kasman bertugas mencari keterangan dari penduduk, di mana tabib itu tinggal dan dari mana datangnya.


Mereka berempat berjalan menuju ke rumah yang dijadikan tempat pengobatan darurat oleh penduduk, di sana sudah terlihat antrian penduduk yang tinggal 3 orang lagi.

“Kakek Konek, kau kerahkanlah tenaga dalammu supaya keliatan kau sedang sakit, begitu juga dengan kakek Botak supaya kita bisa menjajal apakah benar dia tabib yang dimaksudkan oleh ayah.” Kata Lukman kepada kedua kakek tersebut.

“Malik, kau pura-pura papah kakek Konek masuk duluan dan kakek Konek tugasmu adalah mengetahui apakah benar dia tabib yang kita cari, apakah bisa kalian lakukan hal itu?”

“Tenang Lukman, kami pasti bisa lakukan hal itu, kau juga harus siap-siap dengan si Botak untuk mengantisipasi keadaan jika sekiranya kami tidak berhasil, kalian harus gunakan kekerasan untuk mengancam dia agar mengaku siapa gerangan dirinya,” kata Pandeka Konek.

“Baiklah kakek, sekarang giliran kalian untuk masuk, orang di depan kalian sudah hampir selesai,”bisik Lukman.
Setelah penduduk terakhir pergi, giliran Malik dan Pandeka Konek masuk ke ruang pemeriksaan. Malik mempapah pandeka Konek yang seolah-olah sedang kesakitan berat sekali. Nafasnya memburu dan terengah-engah, muka dan tubuhnya berwarna kemerahan seperti orang menderita demam, serta keringat membanjiri wajahnya.
Darma menuntun pandeka Konek untuk duduk di kursi yang telah disediakan untuk pasien, begitu mereka duduk langsung tabibnya berkata.

“Untuk apa kalian datang ke sini, kalian kan tidak sedang sakit jadi hentikan kepura-puraan kalian, katakan saja terus terang mau apa kalian datang ke sini?”

Kaget sekali kedua orang ini tidak mereka sangka ternyata tabib ini bisa tahu rencana mereka. Malik tidak kehilangan akal, cepat-cepat dia berpikir dan menjawab pertanyaan dari si tabib,

“Siapa bilang kakekku tidak sakit, tabib tahu dari mana beliau tidak sakit, jika memang tabib tidak bisa menyembuhkan bilang saja tidak perlu berkata kakek saya tidak sakit seperti itu.”

Tabib itu memandang wajah Malik dengan tenang sekali, mata itu menatap seakan ingin menjenguk di kedalaman hati mencari sebuah kejujuran di sana . Malik yang ditatap oleh mata itu merasakan sensasi yang tidak pernah dia alami sebelumnya, dia merasa ditatap oleh sepasang mata yang dapat membetot sukmanya keluar dari rongga dadanya. Langsung kedua tangan Malik berkeringat menahan getaran kekuatiran akibat kebohonganya, sedangkan Pandeka Konek melihat dari cara menatap tabib itu dia mendapati bahwa tabib ini pasti berilmu silat tinggi. Dia tidak berani bertindak gegabah karena kuatir malah bisa merunyamkan masalah ke depannya.


“Maafkan cucuku tabib, mungkin karena dia risau dengan penyakitku sehingga dia bicara tidak sopan padamu, biarlah aku yang tua ini memintakan maaf untuknya.” Dengan lagak sedang dalam kesakitan.

“Lebih baik kalian berterus terang saja mau apa kalian bertemu dengan aku, sebelum aku marah dan tidak akan memberikan obat penawar racun yang kalian sudah hirup di kamar ini.”

Terkejut sekali kedua orang ini bahkan Pandeka Konek sampai meloncat berdiri dari kursinya, keduanya tidak menyangka bahwa tabib ini bisa meracuni orang tanpa orang tersebut tahu atau sadar apa yang terlah terjadi. Cepat mereka berdua mengalirkan tenaga dalam mereka di dalam tubuh untuk mengeluarkan racun yang ada di tubuh mereka. Sebagai ahli silat, ilmu tenaga dalam mereka sudah sangat bagus, jadi mengeluarkan racun yang ada di tubuh, mereka bisa melakukannya dengan mudah sekali. Setelah mereka melakukan hal itu mereka tidak merasa ada racun di tubuh mereka, mereka curiga apa benar mereka telah terkena racun seperti yang dikatakan tabib itu atau ini hanyalah gertakan biasa saja.


Si tabib tahu mereka tidak mempercayai pembicaraan dia, “Sekali lagi aku Tanya, mau apa kalian datang ke sini?”
“Sungguh tabib, saya mau berobat datang ke sini bukan untuk main-main!”tegas Pandekar Konek.

“Baiklah, aku percaya pada kalian tapi jika aku tahu kalian berbohong kalian bertanggung jawab sendiri atas racun yang sudah masuk ke dalam tubuh kalian. Kesinikan tanganmu kakek, aku ingin memeriksanya.”

Konek mengulurkan tangan kanannya ke arah tabib, begitu jari tabib itu menyentuh nadi tangan kanannya, serangkum angin yang sejuk dingin menerpa tangannya. Karena kaget dia cepat menarik tangannya, lupa dia akan julukan tabib yang mereka cari itu, langsung saja dia melompat berdiri dari kursinya. Malik yang melihat hal itu ikutan terkejut akibat gerakan kakek Konek, dasar pemuda cerdas dia dapat menduga bahwa si kakek kaget karena jari tabib yang memegang nadinya terasa sejuk dingin. Dan si tabib melihat hal ini tenang-tenang saja, malahan dia memandang mereka berdua dengan wajah dingin dan terlihat senyum mengejek di bibirnya.


Tadinya Konek kaget karena berpikir mau diserang oleh si tabib sehingga dia lupa informasi yang dia dapat sebelumnya bahwa tabib ini mempunyai tangan yang dingin sejuk. Dengan muka merah menahan malu dia memandang Malik dan si tabib bergantian, seolah minta bantuan untuk memperbaiki keadaan. Malik yang memang seorang pemuda yang sangat cerdas sekali cepat membaca situasi berusaha membantu Konek agar si tabib tidak tersinggung dan rahasia mereka ketahuan.


“Kakek, kenapa bergerak seperti itu, bukannya kakek merasa tubuhnya tidak enak, kalau kakek selalu ketakutan diperiksa oleh tabib, bagaimana bisa sembuh yang ada malah nanti kakek tambah sakit, aku juga yang susah jadinya. Sekarang kakek duduk lagi di kursi itu dan tenang sajalah diperiksa tabib kalau tabib itu mencelakakan kakek akan aku hantam dia jadi kakek jangan kuatir yah.”

Secara tidak langsung Malik juga mau bilang ke si tabib jika dia berani macam-macam, dia tidak sungkan-sungkan untuk menghajar si tabib. Tabib mendengar perkataan Malik tambah dalam senyum mengejeknya dan matanya bersinar tambah dingin menatap pemuda itu, kembali Malik merasa hatinya berdenyut tidak karuan menerima tatapan mata itu. Entah kenapa hal ini bisa terjadi Malik sendiri bingung kenapa setiap mata tabib itu menatapnya dia merasa jantungnya seakan berdenyut lebih cepat, dia pikir apa tabib ini menggunakan ilmu kebatinan untuk menaklukannya. Cepat dia mengerahkan ilmu kebatinan yang diajarkan oleh ayahnya untuk mengatasi kalau-kalau dia diserang oleh ilmu kebatinan, tapi kembali dia heran dia tidak merasa ada serangan ilmu kebatinan terhadap dirinya tapi kenapa jantungnya berdenyut tidak karuan begini. Apa dia sudah gila bisa merasa seperti ini hanya tatapan dari seorang tabib laki-laki yang sudah tua begini, cepat dia menggeleng kepalanya untuk menghapus pikiran tidak warasnya.


Tabib yang melihat tingkah laku kedua orang yang ada di depannya tertawa geli dalam hati, dia merasa mereka berdua sungguh lucu sekali terutama pemuda tampan itu, karena setiap dia menatap pemuda itu langsung muka pemuda itu memerah dan salah tingkah tidak karuan. Apa pemuda itu tahu bahwa dia seorang gadis ? Tapi tidak mungkin, karena gejolak emosi yang bermain di wajah pemuda itu mengatakan dia sendiri bingung kenapa bisa bertingkah seperti itu. Dan si kakek tua itu dari tadi seperti merasa terancam dan selalu siap sedia akan serangan mendadak, memang dia sedikit nakal menyebarkan racun daun bunga malam untuk mengerjai kedua orang ini dan kedua orang yang ada di depan. Dia sudah mencuri dengar pembicaraan mereka mengenai ingin mengujinya apakah dia tabib yang dicari atau bukan, biarpun dia ahli pengobatan tapi untuk ilmu silat dia tidak kalah lihaynya dia mendapat didikan langsung dari sang ibu dan sang kakek, tabib mato tigo, yang ahli silat ternama juga. Memang ilmu silatnya tidak selihai ilmu peringan tubuhnya apalagi dibandingkan dengan ilmu pengobatannya tapi bukan berarti dia tidak bisa membela diri. Makanya dia sengaja tadi mengerahkan sedikit tenaga dalamnya sehingga tangannya terasa dingin menyentuh kulit kakek yang mengaku sedang demam panas itu.


Dia sudah berbulan-bulan mempelajari racun Awan Biru dari buku-buku pengobatan pemberian dari gurunya dan satu-satunya pengobatan hanyalah dengan mencampurkan daun bunga malam, jahe,  daun bertulang putih dan kadal kaco (kaca, dinamakan kadal kaca karena mempunyai bentuk tubuh yang bening sehingga bisa terlihat isi tubuh dari kadal tersebut). Daun bertulang putih harus ditumbuk dengan darah bening dari kadal kaco lalu dimasak dengan tambahan daun bunga malam dan jahe setelah mendidih langsung diminumkan kepada penderita racun Awan Biru. Dan dia tahu kedua barang pertama merupakan barang langka yang sangat susah sekali mendapatkannya karena dibutuhkan kesabaran yang besar sekali untuk mencarinya di sekeliling puncak Gunung Tadikat yang luas itu.

Kembali kakek itu mengulurkan tangannya ke tabib untuk diperiksa, tapi kali ini sengaja dara yang bernama asli Siti ini, ingin memberi pelajaran kepada kakek dan pemuda tampan itu.

“Aku sudah katakana bahwa anda tidak sakit, jadi lebih baik kalian bersama teman kalian di luar itu pergi tinggalkan tempat ini. Lagian kalian tidak usah kuatir akan racun yang aku sebut-sebut itu, kalian kan tidak percaya bahwa kalian kena racun jadi yah silahkan pergi sekarang,’ kata Siti dengan suara yang sengaja dikeraskan supaya terdengar sampai di luar.


Lukman dan kakek botak yang mendengarkan hal ini langsung tahu tabib itu sudah tahu maksud mereka, segera mereka melangkah masuk ke dalam, karena tidak ingin mengacaukan lebih lanjut keadaan takutnya si tabib marah mereka lebih berabe lagi. Begitu masuk Lukman mengarahkan matanya menatap tabib yang sedang cemberut menahan marah itu, dan seperti Malik, tatapan mata tabib itu membuat jantung Lukman bergetar dengan kerasnya. Dia sendiri bingung kenapa hal ini bisa terjadi, dia sampai tidak bisa mengalihkan matanya dari tatapan magis tabib itu. Seakan sukmanya sudah tersedot oleh tatapan mata yang tajam dan dingin itu. Sesaat Lukman bengong menatap tabib itu, kakek Botak yang cepat menyadari apa yang terjadi berusaha menowel tangan Lukman untuk menyadarkannya.


Gelagapan Lukman menyadarkan dirinya kembali, mukanya langsung memerah malu karena ketahuan bengong menatap tabib itu. Hatinya mengutuk dirinya habis-habisan bisa-bisanya dia sampai seperti orang bodoh hanya ditatap oleh mata seorang pria setengah baya seperti tabib itu. Dengan berusaha membersihkan tenggorokannya karena tiba-tiba seperti ada yang mengganjal Lukman membuka mulut untuk bicara, tapi belum sempat dia bicara tabib itu sudah memotong pembicaraan mereka.


“Nah, karena kalian sudah lengkap hadir di sini kenapa kalian tidak mulai bicara apa yang kalian inginkan dari aku. Jujur saja tidak usah bertele-tele, aku paling benci berurusan dengan orang yang suka berbohong’” tegas sang tabib.

Lukman yang tadinya ingin berbohong menjadi sungkan akibat hantaman bicara dari sang tabib itu. Sudah tidak ada jalan lain oleh karena itu dia harus jujur siapa tahu tabib ini bisa mengobati ibu mereka.

“Maafkan kelancangan kami tabib, kami tidak bermaksud mempermainkan tabib, ini semata hanya kami ingin pasti apakah anda benar tabib yang kami cari.”

“Yang jelas aku bukan tabib yang kalian cari, kalau benar aku yang kalian cari tidak akan seperti ini kalian terhadap aku.”

Lukman langsung gelagapan mendengar jawaban ketus dari sang tabib, Malik yang melihat situasi semakin runyam berusaha memperbaiki keadaan lagi, baru dia hendak buka mulut sudah dipotong lagi oleh sang tabib.

“Diam kau anak muda pembohong, aku tidak mau mendengar omonganmu yang mirip orang terkentut,” sinis sang tabib itu berkata.

Malik mendengar perkataan itu naik darah juga akhirnya, dia merasa terhina dibilang pembohong seperti itu, mukanya sudah merah menahan kemarahan yang ingin dia lontarkan keluar tapi keburu tangannya digamit oleh Pandeka Konek yang melihat situasi sudah tidak terkendali lagi.

“Sekali lagi maafkan kami, tabib, kami tidak bermaksud membuat anda tersinggung, kami hanya bingung dengan keterangan yang kami terima. Kami mendengar dari penduduk bahwa anda bertangan dingin menyejukan dalam penyembuhan pesakit sedangkan keterangan yang kami terima bahwa tabib yang mempunyai tangan dingin menyejukan itu dimiliki oleh Dewi Tangan Dingin. Dan anda seorang laki-laki mana mungkin merupakan Dewi Tangan Dingin, tapi kami juga mendengar keterangan lagi bahwa sang Dewi itu suka sekali menyamar sehingga kami ingin memastikan apakah anda adalah tabib Dewi Tangan Dingin, karena kami tidak ingin salah orang,” kata Pandeka Tangan Siluman menjelaskan dengan cepat.

“Hmmm… informasi yang anda dengar itu salah, pak gaek (pak tua). Mana mungkin tanganku yang keriput ini bisa terasa dingin menyejukan, macam-macam saja kalian ini. Mungkin yang dimaksudkan penduduk dengan tangan dingin menyejukan itu karena aku merendam tanganku di air dingin supaya saat menyentuh tubuh pasienku yang panas bisa terjadi kejutan pada aliran darah mereka yang kacau akibat penyakit yang mereka derita. Jadi aku bisa tahu bagaimana cara menyembuhkan mereka, apa itu yang kalian maksudkan dengan tangan dingin sejuk ? Apa wajahku ini seperti seorang Dewi di mata kalian ?”

Kata-kata ketus yang keluar dari mulut sang tabib membuat yang mendengarnya sangat tidak enak perasaannya. Dalam hati mereka mengutuk Kasman habis-habisan yang membuat mereka dalam keadaan dipermalukan seperti ini, mereka lupa siapa sebenarnya yang merencanakan hal ini. Kasman hanya memberitahukan bahwa tabib yang menyembuhkan penduduk tangannya dingin menyejukan jadi bagaimana cara tabib itu mempunyai tangan dingin seperti itu bukan salah dia. Tipikal manusiawi sekali, setiap terjadi kesalahan selalu berusaha mencari kambing hitam, tapi sebaliknya setiap kali berhasil selalu berusaha menunjukan bahwa “AKU” lah yang membuat keberhasilan itu.


Siti sedang tertawa geli dalam hati melihat wajah 4 orang tersebut dikerjai olehnya, entah kenapa dia menjadi usil sekali ingin mengerjai mereka, terlebih-lebih kedua pemuda yang gayanya sangat bossy itu benar-benar membuat kumat keisengannya. Tapi di lain sisi dia yang berperasaan halus dapat merasakan bahwa mereka sekarang ini sangat membutuhkan pertolongan seorang tabib, karena itu dia ingin membantu mereka juga tapi setelah puas menjahili keempat orang ini.


“Mengapa kalian tidak menjawab pertanyaanku ?… Kenapa mendadak kalian menjadi bisu? Aku bukan seorang tabib yang punya keahlian menyembuhkan orang bisu jadi kalian lebih baik mencari tabib lain saja,” kata sang tabib sambil berdiri dari kursi dan sepertinya hendak pergi dari ruangan itu.

Buru-buru Malik berusaha menahannya, terlepas apakah benar atau tidaknya beliau penyamaran dari Dewi Tangan Dingin, siapa tahu dia bisa menyembuhkan ibunya.

“Maafkan kami, tabib, kami terpaksa melakukan ini karena kami sedang menguatirkan keadaan ibu kami yang sakit parah sekali. Sudah banyak tabib yang kami panggil bahkan tabib kerajaanpun sudah datang memeriksa ibu kami tapi tetap saja mereka tidak bisa menyembuhkan ibu kami. Kira-kira sebulan yang lalu kami mendengar keterangan bahwa di dunia persilatan ada seorang tabib yang bergelar Dewi Tangan Dingin yang benar-benar seperti seorang Dewi yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit bahkan konon kabarnya orang yang hampir matipun mampu disembuhkannya. Oleh karena itu kami ditugaskan oleh ayah kami untuk mencari tabib itu agar bisa mengobati ibu kami,” kata Malik dengan tersedat karena dia benar-benar mencemaskan keadaan ibu yang sangat dicintainya itu.

“Tapi sudah hampir sebulan kami mencari tabib itu tidak sekalipun kami bisa menemui beliau, kami berangkat dalam 3 rombongan dan sampai kemarin kami mendengar kabar rombongan yang lainpun belum berhasil menemukan tabib itu. Kami sudah hampir putus asa karena memikirkan keadaan ibu kami, sampai akhirnya kami mendengar keterangan mengenai tabib dari penduduk di sini. Oleh karena itu kami memastikan apakah anda adalah tabib yang kami cari itu.”

“Sekarang kalian sudah tahu kan bahwa aku bukanlah tabib yang kalian cari, jadi sekarang kalian mau apa dari aku?” potong sang tabib dengan cepat seolah ingin segera berlalu dari sini.
Mereka berempat terdiam mendengar perkataan sang tabib, samar-samar ada tantangan yang dilontarkan sang tabib kepada mereka.

Lukman yang merasa menjadi pimpinan rombongan mengambil alih pembicaraan,”Sekali lagi maafkan kami tabib, karena kami tidak menemui Dewi Tangan Dingin, bagaimana kalau tabib saja yang mencoba menyembuhkan ibu kami? Kami sudah melihat kehebatan tabib menyembuhkan penyakit menular pada penduduk di sini jadi kami ingin membawa anda pulang untuk memeriksa ibu kami.”

Sebenarnya Siti ingin membantu mereka, karena dia bisa melihat kecemasan di mata kedua pemuda itu, tapi dia masih kesal karena mereka ingin menggunakan kekerasan padanya memaksa dia untuk mengaku apakah dia si Dewi Tangan Dingin. Kalau mereka bertanya baik-baik dan tidak mengancam segala, sudah dari tadi dia akan pergi dengan mereka untuk membantu mengobati ibu mereka. Pikiran perempuan memang aneh, hanya masalah kecil begini saja bisa tersinggung sampai seperti ini, yang mungkin bagi para pria tidak masuk akal, tapi bagi kaum perempuan ini menyinggung perasaannya dengan ancaman seperti itu, walaupun mereka ingin membantu yang jelas mereka ingin menyiksa dulu para pria yang kurang ajar itu, baru membantunya kemudian.

“Apa anda yakin aku bisa menyembuhkan ibu anda, bukannya lebih baik anda mencari lagi saja tabib Dewi Tangan Dingin yang kalian puja-puja itu daripada anda membuang nafas dan tenaga untuk bicara dengan aku saat ini,” kata sang tabib dengan dingin seperti tersinggung.

Pandeka Konek dan Pandeka Tangan Siluman sudah dari tadi kesal mendengar pembicaraan yang seperti tidak berkesudahan ini. Mereka sudah gatal-gatal tangannya ingin menghajar tabib yang lancang mulut ini, buntut-buntutnya sepertinya sang tabib tidak ingin membantu mereka, jadi kenapa harus beradu mulut tidak berguna dengan dia.

“Sudahlah tuan muda Lukman mari kita pergi dari sini sepertinya tabib ini tidak mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan nyonya berdua, jadi kenapa kita masih di sini lebih baik kita pergi saja,” kata Pandeka Konek dengan sinis.

“Benar sekali yang dikatakan oleh pembantu kecil kalian ini, sudah sana pergi tinggalkan tempat ini dan cari tabib yang kalian maksud itu,” kata sang tabib dengan menyebalkan.

Lukman yang sudah habis kesabarannya karena kesal dengan kata-kata sang tabib ditambah lagi kekuatirannya terhadap sang ibu menjadi naik pitam dengan pedas dia berkata,”Memang kalau orang baru bisa menyembuhkan sedikit saja sudah banyak lagaknya, benar yang dikatakan oleh orang-orang padi semakin berisi semakin merunduk, dan padi yang tidak berisi memang berdirinya paling tegak padahal dia lupa kalau angin bertiup kencang dia akan dipermainkan mengikuti kemauan sang angin,”ejeknya.

Mendengar perkataan yang pedas ini, Siti semakin tidak suka terhadap pemuda yang lagaknya seperti pemimpin besar ini, semakin tidak mau dia membantu mereka.

“Itu kalian sudah tahu bahwa aku tidak menyembuhkan ibu kalian jadi kenapa kalian masih berdiri di sini tidak cepat pergi saja,” gantian dia mengejek mereka.

Lukman yang berharap ejekannya menjadi tantangan bagi si tabib untuk membuktikan kemampuannya jadi kecele karena si tabib tidak menanggapi seperti yang diharapkannya. Tapi jawaban dari sang tabib membuat kedua pandeka yang kaya pengalaman seperti Konek dan Tangan Siluman menyadari satu hal, hanya orang yang berkepandaian dan tahu bagaimana hebat dirinya saja yang tidak terpengaruh dengan ejekan yang dilontarkan oleh tuan muda mereka. Mereka berdua saling melemparkan pandangan mata dan memberi isyarat satu dengan yang lain seolah ingin mengatakan jangan-jangan inilah tabib yang mereka cari itu. Malik yang sedang memandang ke arah kakek Konek melihat hal itu, dia seorang pemuda yang sangat cerdik dan dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua orang tua itu.

Cepat dia menggunakan ilmu pengirim suara kepada pandeka Konek,”Kek, ada apa ? Apa kakek berpikir bahwa tabib ini di Dewi Tangan Dingin yang sedang menyamar?”

“Benar tuan muda, kami berpikir dari perkataan beliau dari tadi sepertinya dia si Dewi Tangan Dingin, karena aku merasa dia terlalu percaya diri dan merasa yakin kita memerlukan bantuannya makanya dia menjadi bertingkah begini. Lebih baik kita memperkenalkan diri kita pada dia siapa tahu mendengar kebesaran nama kita, dia jadi mau membantu kita.”

“Iya, kamu benar kakek, dari tadi kita belum perkenalkan diri kita padanya mungkin karena itu dia tersinggung dengan kita, seolah-olah merasa tidak dihargai oleh kita. Sekarang juga aku akan memperkenalkan diri kita padanya siapa tahu dia mau membantu kita,”balas Malik.

“Tabib, kami minta maaf sekali lagi, dari tadi kami belum memperkenalkan diri kami kepada anda, sehingga menjadikan pembicaraan ini tidak enak karena saling belum mengenal.”

Sang tabib diam saja mendengar perkataan dari Malik itu, dalam hati dia berpikir pemuda ini merupakan seorang pemuda yang mempunyai sopan santun pergaulan yang baik sekali. Pemuda yang baik sekali didikan keluarganya, walaupun sudah dihina dari tadi tapi masih bisa sabar dan tetap ingin memperkenalkan dirinya. Pemuda yang mempunyai tekat dan tahu bagaimana mendapatkan apa yang dia inginkan dengan cerdik sekali. Lawan yang tidak boleh dianggap remeh, jika menjadi musuhnya benar-benar pemuda pilih tanding.
Lukman yang sudah sebal sekali dengan sang tabib mendengar perkataan Malik menjadi tambah jengkel,”Eh Malik, untuk apa lagi kita perkenalkan diri kita pada tabib sombong ini, hayo lekas kita keluar dari sini sebelum aku ingin menghantam sesuatu melampiaskan kekesalanku.”

Cepat Lukman berjalan keluar untuk segera meninggalkan tempat yang membuat darahnya naik ke ubun-ubun setiap mendengar perkataan sang tabib. Dia yang terbiasa disanjung dan diperlakukan hormat oleh orang-orang yang ada di sekitarnya tidak menerima perlakuan yang seperti itu. Sebenarnya dia bukanlah pemuda yang gila hormat atau haus kekuasaan, tapi entah kenapa setiap perkataan dari tabib itu menyinggung harga dirinya dengan telak sekali. Mungkin karena kecemasannya akan penyakit sang ibu dan kelelahan dia mencari sang tabib belum ketemu juga membuat dia cepat sekali naik darah dan tidak bisa melihat situasi dengan jernih seperti biasanya yang dia lakukan setiap menghadapi persoalan seberat apapun.


Kedua kakek dan sepupu dia kebingungan melihat sikapnya seperti itu, tidak biasanya Lukman bersikap seperti ini. Kesabaran dan ketenangan dia dalam menghadapi situasi yang berat selalu membuat dia dikagumi oleh keluarga dan bawahannya bahkan oleh kedua kakek itu. Tapi kini sepertinya dia tidak bisa mengontrol emosinya, ini terlihat sejak 2 hari yang lalu dan tadi pagi ketika dia hampir berkelahi dengan sepupunya. Apa yang berkecamuk di pikiran pemuda ini, apa mungkin dia merindukan Dela, sang pujaan hati?


“Nah kalian dengar tuh apa yang dikatakan teman kalian, cepat kalian susul dia sebelum racun dalam tubuhnya membuat dia pingsan di jalanan,”kata sang tabib tiba-tiba.

Kaget juga mereka mendengar perkataan sang tabib, antara percaya dan tidak percaya mereka memandang sang tabib dan Lukman bergantian. Tapi melihat wajah sang tabib yang serius dan berkerut begitu membuat mereka buru-buru mengejar Lukman keluar. Benar saja kira-kira 5 tombak dari rumah sang tabib, mereka menemukan Lukman yang tergeletak di jalanan. Wajahnya membiru dan mulutnya mengeluarkan busa serta nafasnya kembang kempis, cepat kakek tangan Siluman mengangkat tubuh Lukman dan segera mereka berlari kembali menuju rumah sang tabib.

Mereka sudah tidak menemukan sang tabib lagi, tapi di meja di dekat tabib duduk tadi ada 1 buah botol obat dan surat dari sang tabib yang isinya menyuruh mereka memberikan 1 butir obat yang ada dalam botol kepada Lukman secepatnya dan terus meminumkan obat ini 3 kali sehari selama 2 hari berturut-turut agar racun dalam tubuhnya bisa punah. Dan tabib memperingatkan kepada mereka untuk berhati-hati karena ada orang yang ingin mencelakai mereka.


Cepat Malik mengeluarkan obat dari dalam botol dan meminumkannya pada Lukman, tidak lama Lukman sadarkan diri dan kebingungan apa yang telah terjadi pada dirinya. Ketika diceritakan, dia terkejut dan malah berpikir bahwa tabib itu yang meracuni dirinya bukankah tabib itu bilang mereka sudah kena racun begitu memasuki rumah itu. Tapi Malik dan kedua pendekar tua itu tidak yakin tabib itu bermaksud jahat pada mereka, daripada ribut terus dengan Lukman akhirnya mereka memutuskan untuk kembali dulu ke penginapan menemui yang lain.

Sekembalinya ke penginapan, Kasman dan yang lain sudah menunggu mereka dengan berita yang tidak kalah mengejutkan, ternyata musuh bebuyutan perguruan mereka juga datang ke daerah ini, terlihat dari tanda-tanda yang mereka tinggalkan. Memang dari dulu Rangkayo Padang Jati dan perguruan Ula Jati bermusuhan dengan perguruan Merak Hitam yang merupakan perkumpulan golongan sesat yang selalu mengganggu ketentraman penduduk dengan aksi perampokan dan pembunuhan mereka. Beberapa kali mereka bentrok dengan perguruan Merak Hitam, terakhir bentrok anak kedua dari ketua Merak Hitam meninggal di tangan Lukman. Dendam perguruan Merak Hitam semakin menggila terhadap kedua keluarga ini, oleh karena itu ayah Lukman sampai menyewa pendekar-pendekar hebat untuk menjaga rumahnya. Dan Lukman sendiri oleh orang tuanya dikirim ke sebuah nagari kecil di Prabumulih, selatannya Pulau Andalas untuk berguru dengan Pandeka yang sudah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan yang masih merupakan adik tiri dari nenek ayah Lukman dan bergelar Pandeka Walet Selatan.

Lukman juga baru kembali setelah berguru hampir 3 tahun lamanya dengan pandeka itu, baru beberapa bulan dia kembali ibunya sudah kena musibah seperti ini. Berat dugaan penyakit sang ibu dilakukan oleh orang-orang perguruan Merak Hitam yang suka menggunakan racun jika menghadapi lawan yang berat. Mereka menghalalkan segala cara agar bisa menang dari musuh-musuh atau orang yang diincar oleh mereka, tapi masalahnya pihak Lukman belum bisa membuktikan bahwa ini perbuatan perkumpulan sesat itu.

Kini mendengar kabar bahwa musuh mereka ada di daerah yang sama dengan mereka mau tidak mau Lukman harus mempercayai tabib itu tidak bermaksud mengerjai mereka. Yang lain berhasil meyakinkan Lukman bahwa mungkin saja musuh mereka yang meracuninya, dan mereka harus segera mencari tabib itu untuk membantu mereka. Segera mereka kembali berpencar mencari tabib itu, dari penduduk mereka mendengar sang tabib sudah pergi ke luar nagari dengan kuda putihnya bahkan penduduk tidak sempat untuk menyatakan terima kasih kepada sang tabib.



 

Bagaimana caranya menemukan si tabib sakti, Dewi Tangan Dingin ? Bagaimana tanggapan Lukman, Kasman dan Malik ketika mengetahui tabib tua itu merupakan seorang dara yang sangat cantik jelita ?  Dan apa pula tanggapan Kahar mendapat lawan dalam memperebutkan cinta kasih sang dara ?

Posted by sieklie in 10:44:24 | Permalink | No Comments »

Monday, April 14, 2008

VII : Menerima anak harimau yang terluka

Dikarenakan sekujur badan Saiful terluka dan lembam maka mereka sepakat kereta yang tadinya hendak digunakan oleh Masnan dan Burhan, dipakai Basri untuk mengangkut Saiful yang terluka. Anak itu butuh ruang untuk istirahat akibat luka-lukanya. Dan kebetulan juga Masnan memang ingin cepat-cepat kembali memilih menggunakan kudanya membawa Burhan. Sedangkan barang-barangnya bisa dikirim menyusul, hanya barang-barang yang penting saja dibawanya seperti beberapa lembar baju Burhan.


Segera Basri mengeluarkan perlengkapannya untuk membuat kereta yang mengangkut Saiful menjadi nyaman bagi orang yang kesakitan seperti anak itu. Basri merasa hatinya sakit setiap kali melihat keadaan Saiful, karena itu ia mempercepat kerjanya agar bisa segera membawa anak itu pergi, dia juga mengupah orang untuk membantunya selama perjalanan di samping para kusir keretanya. Perjalanan ke kampung halamannya dari Nagari Batang Kapeh ini cukup jauh bisa memakan waktu 3 hari 2 malam, makanya dia membekali diri dengan segala obat2an dan makanan kering yang bergizi serta air minum yang bersih untuk membantu memulihkan kondisi Saiful secepatnya.


Setelah semua persiapan selesai, mereka segera berangkat, Saiful yang dalam keadaan lemah digendong Basri dengan hati-hati diletakkan di kasur yang sudah disiapkan sebelumnya. Basri yang menggendong tubuh ringkih Saiful merasa hatinya sesak dan rasanya ingin memukul orang. Dia tidak habis pikir kenapa ada orang tua yang tega memukuli anaknya sendiri seperti ini, begitu banyak dia menemui orang jahat dan kejam tapi belum pernah dia melihat kekejaman seperti ini.


Sempat dalam hati dia mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan dalam mengatur takdir manusia , dia yang sangat mengharapkan bisa diberikan anak, Tuhan tidak berikan kepadanya tapi malahan diberikan kepada mereka yang tidak bertanggung jawab atas titipan Tuhan itu. Tapi dengan dasar iman yang teguh dia menarik kesimpulan mungkin justru inilah rencana Tuhan mempertemukan dia dengan Saiful yang menderita untuk menjadi murid sekaligus anaknya. Dia sadar jika anak itu lahir dari rahim isterinya belum tentu anak itu akan bisa menjadi anak yang baik karena pasti akan sangat dimanjakan oleh orang tua Basri maupun orang tua isterinya. Dengan mempunyai dasar penderitaan seperti Saiful, melatih anak itu untuk lebih sabar dan menghargai hidup serta tahan derita.

Tetapi tetap saja dia tidak terima ada seorang laki-laki besar memukuli seorang anak kecil bertubuh kurus dan ringkih tanpa memikirkan akibatnya. Karena itu timbul niat dalam hatinya untuk tidak akan pernah memberikan uang yang telah dijanjikan kepada orang tua Saiful sepeserpun.

Hari sudah lewat tengah hari ketika Basri berpamitan untuk berangkat pada Bumi dan Kahar serta Siti, tiba-tiba dari samping kereta sebelah kanan bapaknya Saiful memunculkan diri dengan agak takut-takut mendekati Basri dan Bumi.

 

Aswin yang pertama kali melihat lelaki itu sudah bergerak hendak menghajar pria dewasa itu, matanya sudah memancarkan sinar kehijauan tanda kemarahannya yang memuncak, untung keburu ditahan Kahar yang kebetulan berdiri di sampingnya. Dengan perlahan Kahar membujuk anak itu untuk jangan bertindak gegabah yang nantinya malah menghambat kepergian temannya itu. Anak itu mengepalkan tangannya dengan geram menahan kemarahannya karena dia juga kuatir Ipul bisa tidak berangkat kalau dia buat gara-gara.

Basri yang melihat pria itu sudah langsung ingin menghajarnya untung Kahar dan Bumi sempat mencegahnya. Bapaknya Saiful buru-buru mundur ke belakang takut kena hajar oleh pria yang akan bawa anaknya pergi. Sebenarnya dia takut untuk datang menagih janji kepada pria itu karena dia tahu pria itu sangat  membenci dia sehingga bisa saja memukulnya habis-habisan seperti dia memukuli anaknya tadi pagi.

Keberaniannya untuk memunculkan dirinya ke hadapan Basri dikarenakan isterinya sudah mengancam jika dia tidak bawa uang yang dijanjikan tersebut isterinya akan pergi dengan pria lain yang merupakan saingan dia sejak dulu dalam memperebutkan isterinya. Selain itu dia juga sudah bosan jadi orang miskin dan dilecehkan oleh orang yang paling dicintainya, dia berharap dengan adanya uang ini dia bisa mempertahankan isterinya dan hidup makmur tanpa perlu bekerja keras lagi. Dorongan hasrat inilah yang memicu keberaniannya untuk menemui Basri, dia rela dipukulin habis-habisan selama dia bisa menerima uang banyak dari Basri.

Tadi pagi dia dan isterinya memukuli anak mereka, karena Saiful tidak mau pergi dengan Basri, anak itu bersikeras ingin tetap tinggal dan berjanji akan melakukan apapun selama tidak menyuruh dia pergi dari rumah. Isterinya naik pitam mendengar hal ini karena dia sudah membayangkan bisa mempunyai rumah bagus dan baju-baju yang mewah, langsung menghajar anak mereka. Lalu isterinya tidak puas mulai menteror dirinya untuk membuat anak mereka pergi dengan pria yang menjanjikan uang banyak pada mereka itu. Akibat tidak tahan dengan teriakan-teriakan kemarahan isterinya yang menyakitkan hatinya, dia ikut-ikutan memaksa anaknya untuk pergi dengan memukulinya sekaligus sebagai pelampiasan kesakitan dia akibat kata-kata tajam dari sang isteri.

Kesakitan hati dia membuat dia lupa dan buta bahwa yang dia pukuli itu adalah anak kandungnya dan seorang anak yang masih kecil sekali dengan tubuh kurus dan ringkih seperti itu. Pukulan kayu yang menghajar tubuhnya, membuat dia tersadar apa yang telah dilakukannya, tapi dia sudah tidak sempat menyesalinya karena keburu pingsan. Setelah diguyur dengan air dingin oleh isterinya dia menjadi sadar dan dari isterinya, dia tahu yang memukul dirinya adalah tukang kebun wali nagari mereka, dan langsung dia menyadari dia akan mendapatkan masalah dengan janji uang itu. Sang isteri tidak mau tahu bahkan tetap memaksanya untuk menagih janji kepada Basri, sempat dia merasakan ketakutan yang sangat membayangkan apa yang bakal terjadi jika dia meminta uang tersebut. Tapi karena desakan dan ancaman dari sang isteri dan membayangkan hidup yang mewah membuat dia mengeraskan hati dan menepis perasaan ketakutannya untuk bertemu dengan Basri.

Melihat pria itu, hawa amarah Basri memuncak sampai ke ubun-ubunnya, kalau tidak dipegang Kahar dan dicegah Bumi ingin rasanya dia meremukkan muka pria itu dan menguncang-guncang otaknya supaya sadar akan perbuatannya. Dia tahu pria ini datang untuk menagih janjinya, dan dia sudah bertekat untuk tidak memberikan uangnya. Dengan tangan masih dipegang Kahar dan Bumi yang berdiri diantara dia dengan pria bajingan itu, dia berusaha menahan kemarahannya mengingat jika memperpanjang masalah dia tidak akan bisa membawa Saiful pergi secepatnya.

Suasana penuh ketegangan, Bumi yang tidak suka dengan pria ini berusaha sabar karena terus terang saja ingin rasanya dia juga turun tangan untuk memberi hajaran kepada pria ini, tapi dia sadar sebagai wali nagari dia tidak bisa bertindak sembarangan saja. Melihat bahwa Basri tidak bisa bicara akibat kemarahannya, maka Bumi berinisiatif bertanya.

“ Ada perlu apa, awak(kamu) datang ka siko (ke sini)?” Tanya Bumi

“Ehhh, anu… ini…ehh… mamaamauu tatannyaa,..”dengan gugup ayah Saiful menjawab.

Keringat dingin membasahi tubuhnya dan detak jantungnya lebih cepat dari biasanya sehingga dia merasa dadanya terasa sakit menahan gerakan detak jantungnya. Perasaan ingin terkencing juga dia rasakan sangat kuat sekali, kalau tidak teringat akan malu dia pasti sudah kencing di celana. Dia sadar pria yang bernama Basri itu sangat membencinya, tapi dia bertekat harus bisa mendapatkan uang itu walaupun mungkin jumlahnya kurang dari yang telah dijanjikan.

“Mau nanya apa kamu?” Tanya Bumi.

“Aaappppaaa Ssssaaaiiifffuulll..” dia menelan ludah tidak berani menatap Basri lagi. Dia berusaha menatap kereta supaya dia tidak gugup bicaranya.

“Cepat katakan mau apa kamu?” kesabaran Bumi semakin menipis karena dia sudah bisa menduga apa yang dikehendaki oleh ayah Saiful.

“Sssaaiiiffuuul sssuuudddaahhh mmmaaauuuu dddiiibbbaaawwwaaa pergi?” akhirnya dia bisa bicara juga, keinginan untuk kencing semakin mendesak, dia sudah kuatir betapa malunya dia kalau sampai terkencing di celana.

“Iya, sudah mau berangkat. Sekarang kamu minggirlah ke sana , kereta sudah mau jalan.” Kata Bumi dengan tegas sekali.

Ayah Saiful belum beranjak juga dari tempat dia berdiri di samping kereta yang mengangkut Saiful. Dia sudah tidak mampu berbicara menyatakan keinginannya karena dia sedang menahan keinginan untuk kencing, dan ketakutannya setiap kali melihat sinar mata Basri yang memandangnya dengan penuh kebencian dan hasrat membunuh yang terbayang di matanya.

“Sudah sana…., kenapa belum ke sana juga, nanti bisa ketabrak kereta,” seru Bumi.

Bumi memandang kepada penjaga keamanan nagari yang kebetulan berkumpul di halaman tersebut untuk membantu mengangkut barang-barang ke kereta tadi. Mereka yang sudah lama bekerja dengan wali nagari itu sudah tahu apa arti pandangan dari wali Bumi. Segera dua orang dari mereka berjalan mendekati ayah Saiful untuk menariknya dari sisi kereta. Ayah Saiful melihat dua orang yang menghampirinya, dia tahu sebentar lagi mereka akan menariknya, buru-buru dia memeluk kereta tersebut erat-erat sambil berteriak-teriak memanggil nama anaknya.

Untung saja tadi Siti sudah memberikan sedikit obat tidur untuk Saiful agar dia tertidur sebentar untuk memulihkan kondisi tubuhnya agar dalam perjalanan yang panjang ini dia tidak terlalu kelelahan. Jadi apapun yang dilakukan oleh ayahnya sekarang, dia tidak mengetahuinya, tapi tetap saja Basri takut jika Saiful terbangun akibat ulah ayahnya.

Karena itu segera Basri berusaha membebaskan dirinya dari Kahar dan Bumi, dia sudah ingin sekali memukul hancur mulut orang itu. Kahar yang merasakan gerakan Basri buru-buru mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan Basri begitu juga dengan Bumi yang tahu adik angkatnya sudah tidak bisa tahan kesabarannya, segera berjalan menghampiri ayah Saiful.

Bumi tahu jika tidak dia lakukan sesuatu segera maka Basri akan melakukan sebuah tindakan yang akan disesalinya nanti. Dia harus menghentikan orang yang “sakit jiwanya” ini secepatnya, dia mengulurkan tangannya ke arah ayah Saiful, dan menotok kedua tangan pria itu dan menghentakan agar pegangannya terlepas dari kereta itu. Kedua tangan ayah Saiful menjadi lemas dan tidak bisa digerakan sama sekali, dia semakin ketakutan merasa dirinya terancam karena dia sadar wali Bumi merupakan seorang tokoh sakti.

Dia membuka mulutnya besar-besar untuk menjerit supaya seluruh penduduk datang melihat wali Bumi mengancamnya. Dia tidak sadar bahwa semua penduduk sudah tahu perbuatannya terhadap Saiful, apalagi dengan adanya kejadian tadi pagi. Tukang kebun yang menjemput Saiful sudah menyebarkan gossip mengenai perbuatan ayah Saiful pada anaknya yang tentunya sudah dibumbui sana sini. Sehingga kalau dia mengharapkan bantuan penduduk atas hukuman yang diberikan wali Bumi padanya, dia tidak akan menerimanya.

Tapi sebelum sempat dia berteriak, kembali Bumi mengulurkan tangannya dengan cepat menotok lehernya supaya tidak mengeluarkan suaranya dan mulutnya tetap dalam keadaan menganga selebar-lebarnya. Ayah Saiful semakin ketakutan dengan hukuman yang diberikan oleh Bumi, kencing yang tadinya ditahan akhirnya keluar juga merembes di celananya dan membasahi kakinya. Dia sudah mulai merasa mulutnya kram akibat tidak bisa ditutup lagi, dia berusaha menutup mulutnya tapi tidak bisa karena kedua tangannya tidak bisa digunakan lagi.

Melihat kondisinya seperti itu beberapa penjaga keamanan yang ada di situ menutup hidung menghinanya sambil tersenyum-senyum mengejeknya. Dia tidak perduli lagi bagaimana keadaannya karena dia sudah panic dengan hukuman yang diberikan oleh wali Bumi, dengan menetaskan air mata ketakutan dia berusaha mohon ampun kepada wali Bumi dengan menekuk lututnya dan menyembah. Tapi Bumi tidak mengabulkannya karena dia memang ingin memberi pelajaran kepada pria itu agar tidak bertindak semena-mena kepada kaum yang lemah.

Bumi memberi isyarat kepada Kahar untuk menarik tangan Basri agar segera dia naik kereta dan berangkat, tidak perlu lagi menghiraukan keadaan di sini. Kahar perlahan-lahan menarik tangan Basri yang sudah terkepal kencang sekali.

“Uda Basri, hayolah pergi, biar keadaan di sini uda Bumi yang mengatasinya. Kasihan Saiful kalau kelamaan di jalan dengan tubuh seperti itu nanti dia bisa tambah parah sakitnya,”kata Kahar kepada Basri.

Akhirnya Basri mau juga ditarik Kahar untuk naik ke kereta dan melanjutkan perjalanannya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Bumi, Kahar dan Siti, serta melemparkan pandangan jijik kepada ayah Saiful segera dia memerintahkan tukang kuda untuk jalan. Melihat hal itu ayah Saiful berusaha mengejar kereta tersebut karena dia melihat peluang mendapatkan uang akan segera hilang bersama berlalunya kereta itu. Dengan cucuran air mata dan kondisi mulut menganga serta kedua tangan yang lumpuh sungguh keadaannya sangat menyedihkan sekali.

Aswin yang melihat ayah Saiful berusaha mengejar kereta itu langsung bergerak cepat mengikuti lelaki itu, tapi kembali Kahar buru-buru mengikutinya, dan menarik tangannya untuk ikut mengantar kepergian temannya sampai di batas ujung nagari. Tujuan Kahar agar anak ini tidak menghajar bapak temannya itu, karena dia sudah lihat sorot penuh kemurkaan dalam mata Aswin.

Kuda-kuda yang menarik kedua kereta tersebut dipacu kencang oleh para kusirnya, tidak berapa lama sudah meninggalkan ayah Saiful yang masih berusaha mengejar, tapi itu tidak berlangsung lama karena siksaan yang dirasakannya akibat mulutnya tidak bisa tertutup membuat dia tidak bisa mengejar kereta itu lagi.

Dengan terduduk di atas tanah, dia menangis dan kedua kakinya menggosok-gosok tanah persis seperti anak kecil menangis jika anak itu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Penduduk nagari yang melihat dia merasa antara kasihan, kesal, dan lucu, tapi itulah hidup seorang laki-laki yang tidak bisa menjadi seorang lelaki sejati baik bagi dirinya sendiri maupun keluarganya.

Bumi yang merasa sudah cukup hukuman yang diberikan kepada ayah Saiful berjalan mendekatinya, sambil memandang keras dia menegur, “Hmmm… untuk apa awak menangis, indak ado gunonya lai (tidak ada gunanya lagi). Nasi sudah jadi bubur, karena kelakukan awak (kamu) sendiri makanya teman ambo (saya) tidak mau memberikan uang seperti yang inyo (dia) janjikan pada awak.”

Tambah deras turun air mata ayah Saiful mendengarkan perkataan itu, jika Bumi belum menotok lehernya mungkin suara menangis menggerung-gerungnya kedengaran kencang sekali. Dia kesal sekali karena dia sudah membayangkan bakalan ditinggalkan isterinya jika dia tidak membawa pulang uang, sama sekali dia tidak memikirkan anaknya apakah anak itu bisa sembuh atau tidak, ke mana anak itu akan dibawa. Yang ada di benaknya sekarang bagaimana supaya menahan isterinya tidak pergi meninggalkannya dan bagaimana agar wali Bumi mau membebaskan dia dari hukuman yang menyiksa ini.

“Sekarang kamu dengarkan baik-baik apa yang hendak ambo (saya) sampaikan, sebagai seorang laki-laki kamu sudah gagal total, apalagi menjadi orang tua kamu sudah tidak berhak menyebut diri seorang ayah bagi anak kamu. Aku tidak mau banyak ngomong pada orang rendah macam kamu, jadi singkat kata aku ingin begitu aku bebaskan kamu dari siksaan ini kamu beserta isteri kamu harus pergi meninggalkan nagari ini secepatnya, dan jangan kembali lagi, jika kamu ketahuan kembali kesini lagi aku tidak akan segan-segan menghukum kalian berdua dengan tuduhan menganiaya anak kecil. Dan aku rasa tidak ada orang yang akan membela manusia seperti kamu ini, bahkan oleh kerajaan kamu bisa dimasukan ke dalam penjara,”tegas Bumi.

“Kamu mengerti yang aku katakan!” kata Bumi dengan keras kepada ayah Saiful.

Pria itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dia ingin secepat mungkin dilepaskan dari siksaan tidak enak ini, dia mulai merasa mulutnya tambah lama tambah kram dan tulang pipinya terasa berderak-derak seperti hendak patah. Dia berjanji dalam hati untuk pergi selamanya dari nagari yang menyebalkan ini untuk selamanya, begitu banyak penderitaan yang dialami selama tinggal di sini, tidak pernah dia merasakan kebahagiaan kecuali saat dia berhasil mempersunting isterinya. Jadi tidak menjadi soal kalo dia harus meninggalkan nagari ini dengan secepatnya.

Melihat itu segera Bumi menggerakan tangannya ke leher dan kedua tangan ayah Saiful untuk dibebaskan dari totokan. Sesaat ayah Saiful merasakan kesakitan seperti digigit beribu semut di kedua lengannya, sedangkan mulutnya dengan susah payah akhirnya dia bisa menutupnya. Dia memandang dengan dendam ke arah sekelilingnya, mereka yang telah berani mentertawakan dirinya, dia tidak berani memperlihatkan kemarahannya kepada wali Bumi karena takut dihukum lagi, tapi hatinya penuh dengan bara dendam dan kemarahan akibat perlakuan wali itu padanya. Dalam hati dia berjanji jika Tuhan memberikan kesempatan padanya, maka dia akan mencari cara untuk membalas dendam kepada wali Bumi dan teman-temannya serta penduduk Batang Kapeh karena sudah berani mengusir dan menghinanya.

“Cepat pergi dari sini, sebelum kesabaranku menghilang!”kata wali Bumi.

Bergegas ayah Saiful meninggalkan tempat itu, dia berlari-lari pulang ke rumah sambil dalam hati mengarang kebohongan pada isterinya. Tapi sesampainya di rumah, dia tidak menemukan isterinya bahkan semua barang yang berharga di rumah juga raib bersama kepergian isterinya yang entah ke mana. Berteriak-teriak dia memanggil nama isterinya tapi rumah itu tetap lengang sunyi saja. Berlari-lari dia ke luar rumah untuk mencari ke mana sang isteri pergi, sambil bertanya-tanya dengan tetangga yang melintas ke rumahnya, tapi tidak satu juga yang melihat isterinya.

Sampai sore dia sibuk mencari-cari isterinya tetap tidak ditemukannya, dengan tubuh lunglai dan hati yang panas penuh dengan kemarahan dan kebencian dia menyalahkan semua penduduk nagari ini terutama wali Bumi serta temanya, Basri. Jika Basri tidak menjanjikan uang emas untuknya tidak bakalan isterinya akan meninggalkannya begitu saja, dan jika wali Bumi tidak menyiksa dia seperti tadi mungkin dia masih keburu menahan kepergian isterinya. Sungguh benar-benar pikiran orang picik dan egois sekali, dia tidak sadar akan keadaan diri sendiri tetapi selalu mempersalahkan keadaan dan orang yang ada di sekitarnya. Orang seperti ini sangatlah berbahaya sekali kalau sampai kita pernah berbenturan dengan dirinya, karena semua kesakitan jiwa yang diterimanya ingin dia lampiaskan kepada orang lain.

Dengan penuh kemarahan dan api dendam yang menggelegak di dadanya dia pergi meninggalkan nagari Batang Kapeh, dia berjanji suatu saat nanti dia akan membalas semua perbuatan yang dia terima hari ini. Di kemudian hari ayah Saiful ini akan menjadi musuh yang mengancam ketentraman di nagari Batang Kapeh dan keselamatan Bumi serta teman-temannya terutama keluarga Basri Surian.

Kita tinggalkan ayah Saiful yang membawa dirinya ke arah dunia kegelapan, mari ikuti perjalanan Saiful dan Basri.

Dengan memacu kuda untuk berlari cepat, Basri mengharapkan bisa sampai di rumah lebih cepat dari biasanya.Dia merencanakan untuk tidak beristirahat lama-lama karena kuatir keadaan Saiful, dia merasa lebih tenang kalau sudah sampai di rumah, oleh karena itu mereka berjalan terus siang malam. Dia membawa uang yang cukup untuk memenuhi keinginannya itu, dia ingin segera memperkenalkan bocah yang malang ini pada isterinya dan berharap isterinya akan menyukainya seperti dia mulai menyayangi Saiful. 

Sampailah mereka di sebuah nagari yang terlihat ramai sekali walaupun hari sudah malam, terlihat keramaian orang-orang berlalu lalang dan rumah makan yang masih ramai dikunjungi orang. Melihat hal itu Basri mengambil keputusan untuk mengganti kudanya yang sudah kelelahan dengan kuda baru dan segar yang pasti dimiliki oleh penjual kuda di nagari yang terlihat cukup makmur ini. Segera dia memerintahkan kusir kudanya untuk mengantarnya ke rumah penginapan yang terlihat besar di nagari ini, yang di bawah penginapan itu ada rumah makannya. Lalu dia menyuruh kusirnya untuk ke tukang kuda agar bisa mengganti kuda mereka yang sudah kelelahan itu, dia memberikan uang yang cukup lumayan besar.

Basri memang bukan seorang majikan yang pelit, tapi bukan berarti dia juga seorang majikan yang sangat royal. Dia sudah memperhitungkan berapa kira-kira biaya tukar tambah 4 ekor kuda dan biaya makan dari kusir dan keneknya yang berjumlah 5 orang itu. Jadi uang yang diberikan tidak akan berlebih banyak setelah dikurangi biaya-biaya tersebut dan dia anggap uang saku mereka jika mereka ingin membeli barang keperluan lainnya.

Sambil menunggu kusir kuda kembali, dia menyewa sebuah kamar untuk meletakan Saiful di tempat tidur. Dia juga meminta makanan diantarkan ke kamar saja, setelah selesai dia makan, dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebuah kantung yang setelah dibuka tercium bau wangi yang segar sekali. Dia memasukan tangannya ke dalam kantung dan mengeluarkan sebuah buah kecil yang berwarna kuning bening dan berbentuk seperti terompet, dipandanginya buah itu di telapak tangan kirinya. Lalu dia berjalan ke arah Saiful setelah menarik serutan pada kantung itu dia menaruhnya lagi ke sakunya. Sambil membuka mulut Saiful, dia meremas buah itu sampai mengeluarkan air yang pekat kekuning-kuningan dimasukan ke mulut Saiful, lalu diurutnya leher Saiful agar anak itu bisa menelan air dan ampas buah itu.

Basri tidak mengetahui nama buah yang dia berikan kepada Saiful, tapi dia tahu khasiatnya. Dulu waktu dia masih muda, mengikuti hawa nafsu emosinya dia pernah menjejakan kakinya ke Lembah Setan yang terletak di hutan nagari Sijunjuang. Dia ingin membuktikan kepada teman-teman seperguruannya bahwa dia lebih hebat tidak takut apapun juga dengan mendatangi lembah angker ini. Dia sempat merasakan keangkeran dari lembah ini dan hampir mati kalau tidak cepat ditolong oleh gurunya yang sudah tahu akan kenakalan muridnya yang satu ini. Tapi di balik itu dia mendapat hikmahnya, dia menemukan buah kuning itu yang menjadi penyambung nyawanya ketika dia terjebak di lembah itu. Bahkan gurunya tidak mengetahui nama buah itu,jadi mereka menamakan buah dari Lembah Setan, dia juga sudah menanyakan kepada Siti mengenai buah ini tapi dari buku pengobatan warisan Tabib Mato Tigo tidak ada yang mencantumkan mengenai buah kuning ini.

Tapi yang dia tahu memakan buah ini bisa memulihkan kondisi tubuh yang kelelahan dan kesakitan dengan cepat sekali. Makan 1 buah ini saja bisa mengenyangkan perut selama 1 hari, makanya dia memberikan kepada Saiful 1 buah untuk dimakan. Tadi pagi dan siang dia kelupaan memberi makan buah ini kepada Saiful karena keburu naik darah melihat ayah anak itu dan ingin secepatnya pergi menjauhinya. Sebenarnya Basri sangat berhemat sekali dalam menggunakan buah ini, dia hanya memiliki sekitar 10 buah sehingga kalau tidak dalam keadaan genting sekali tidak akan dikeluarkan buah ini untuk dimakan. Karena rasa sayangnya kepada Saiful menyebabkan dia memberi makan buah itu kepadanya, dia ingin anak itu cepat pulih sehingga dia bisa melatih tubuh anak itu dengan ilmu silat dan tenaga dalam.

Setelah dia mencuci muka dan berganti pakaian, Basri keluar kamar untuk melihat apakah keretanya sudah datang, karena dia ingin secepatnya melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya. Ternyata kusirnya telah menunggu di pintu utama rumah penginapan itu, segera Basri membayar biaya makan dan sewa kamar kepada kasir setelah itu dia balik ke kamar untuk mengambil buntalan bajunya dan menggendong Saiful menuju ke kereta untuk melanjutkan perjalanan. Selama dia melakukan pemindahan itu tidak sekejabpun Saiful sadar diri apa yang terjadi, malahan dia seperti tertidur dengan sangat pulasnya lupa akan seluruh dunia yang ada di sekitarnya.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat, dan melakukan pergantian kuda dalam 2 kali sehari pagi dan malam hari, perjalanan dilakukan hampir tanpa berhenti. Saiful sempat bangun beberapa kali untuk bertukar pakaian dan mencoba makan dengan mulutnya yang terasa sakit akibat pukulan ayahnya. Basri yang melihat bagaimana Saiful menahan kesakitan setiap buka mulutnya untuk makan merasa pedih sekali hatinya, akhirnya dia mengambil keputusan Saiful akan diberikan remasan buah dari Lembah Setan itu menganjal perutnya yang lapar. Setelah itu Basri membantunya minum obat yang diberikan Siti yang berupa cairan yang berbau tidak enak dengan susah payah Saiful berusaha menelan obat tidak enak itu, setiap dia selesai minum obat itu tidak lama kemudian dia akan kembali tertidur pulas seharian penuh.

Selama 3 hari perjalanan, mereka tidak menemui hambatan yang berarti semuanya berjalan lancar sesuai dengan perkiraan Basri. Sementara itu Saiful juga sudah memakan 3 buah dari lembah Setan itu untuk mempertahankan dirinya dari kelaparannya. Yang tidak diketahui oleh Basri adalah campuran buah dari Lembah Setan dengan obat yang diberikan oleh Siti ternyata menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam diri anak itu.

Ada sebuah kekuatan yang terbangun dalam diri Saiful, dengan kondisinya yang tertidur pulas, pernafasannya jadi rata dan tenang serta seluruh tubuhnya tidak bergerak seperti dalam keadaan meditasi, membuat khasiat buah dari Lembah Setan itu bisa bekerja maximal apalagi mendapat campuran dari obat Siti. Ditambah lagi ada satu hal lagi yang tidak diketahui oleh siapapun bahwa golongan darah yang dimiliki Saiful merupakan jenis golongan darah langka yaitu jenis yang mempunyai tingkat kekebalan tinggi terhadap semua penyakit manusia.

Tetapi bagi manusia yang mempunyai ilmu kebatinan yang tinggi akan bisa melihat bahwa darah Saiful seakan mengeluarkan sebuah kekuatan hawa pemusnah yang dahsyat sekali. Sungguh sebuah kekuatan yang menggiriskan hati yang mulai bergerak dalam tubuhnya akibat dipicu oleh buah dari Lembah setan yang telah bercampur dengan obat pemberian dari Siti. Kelak apabila dia marah dan darahnya bergolak hebat maka hawa pemusnah ini akan keluar dan memancarkan kehebatannya. Jika hawa pemusnah ini mengenai bangsa kegelapan maka mereka akan musnah menjadi serpihan, dan untuk manusia akan mematikan semua gerakan motoriknya sehingga tidak bisa melakukan apapun seperti merasakan kelumpuhan di seluruh tubuh.

Itulah keistimewaan yang dimiliki Saiful yang luput dilihat oleh orang-orang, bahkan Datuak Inyiak Balang saja tidak dapat mengetahui hal ini. Yang tahu hal ini hanyalah Pangeran Satyawarman dan Panglima Sulaiman, karena itu diam-diam mereka mengawasi Saiful lebih dibandingkan dari anak-anak lain. Mereka memutuskan untuk memberi tahu kepada Datuak Saluang Maut yang akan menjadi guru anak ini pada saat menjelang akil balik , kekuatan ini akan bergerak mencapai puncaknya dengan cepat. Ilmu Alunan Darah Pengejar Nyawa milik sang Datuak itulah yang bisa meredakan daya pemusnah dari kekuatan Saiful, oleh karena itu mereka harus mempersiapkan Datuak Saluang Maut untuk menerima murid istimewa ini.

Kembali ke perjalanan Basri dan Saiful, mereka sudah mulai memasuki wilayah kampong Basri, Saiful masih belum terbangun dari tidur pulasnya. Kereta mulai dikurangi kecepatan larinya karena sudah memasuki pinggiran nagari tempat tinggal Basri dan keluarganya.  Akhirnya tepat tengah hari, kereta berhenti di sebuah gerbang berwarna hitam bergaris-garis emas, terlihat para pengawal  membuka pintu dan melihat siapa gerangan yang datang. Ternyata majikan mereka, segera mereka membuka pintu lebar-lebar agar kereta kuda itu bisa masuk ke halaman depan rumah. Dan salah seorang dari pengawal berlari masuk ke dalam rumah untuk memanggil nyonya majikannya. Tidak lama dari dalam rumah keluarlah sang nyonya yang berjalan cepat menghampiri suaminya yang sedang turun dari kereta kuda.

Rumah besar milik keluarga Basri ini tidak terlihat mewah hanya kelihatan bersih dan rapi serta semuanya tertata dengan cita rasa yang tinggi sehingga terasa nyaman bagi mata yang memandang. Bangunan rumah terbagi atas 2 bagian, yaitu rumah tamu dan rumah utama, rumah tamu terletak di depan rumah utama. Rumah tamu ini memang disiapkan untuk tamu-tamu Basri yang datang menginap, terdiri dari 4 kamar tidur, ruang menerima tamu dan ruang makan tamu jadi tidak bercampur dengan rumah utama. Jika berjalan terus menuju belakang ruang makan maka mereka akan sampai ke rumah utama di mana Basri dan keluarganya tinggal. Biasanya jika tidak ada tamu yang menginap maka rumah tamu ini akan ditutup dan para penghuni rumah utama akan menggunakan jalan belakang untuk melakukan aktivitas keluar masuk rumah

Basri yang merasa senang sekali bisa pulang ke rumah segera meloncat turun, dan melihat isterinya berlari menhampirinya, dengan membentangkan kedua lengannya mendekati sang isteri tercinta begitu sudah dekat langsung memeluknya dengan penuh kerinduan. Sesaat mereka berdua berpelukan erat di depan para pembantu dan pengawal tanpa sungkan dan rikuh, para pembantu dan pengawal yang sudah lama mengikuti mereka mengetahui ritual ini, jadi mereka sudah terbiasa dengan keadaan itu. Mereka ikut merasakan kebahagiaan majikan mereka, dan mereka sudah tahu tugas mereka untuk membongkar bawaan sang majikan, hasil dari perjalanannya.

Saat mereka membuka kereta yang membawa Saiful, salah satu dari pembantu itu menjerit kaget karena tidak menyangka melihat ada seorang anak dalam kereta itu.

Ropita yang mendengar jeritan kecil tersebut melepaskan pelukan suaminya dan memandang kepada pembantunya dengan kerutan di dahi.

“ Ada apa, Upik?’ Tanya Ropita.

“Maaf nyonya, di dalam kereta ada seorang anak kecil, saya jadi kaget,”sahut Upik.

Ropita berbalik menatap suaminya dengan bingung, sang suami terlihat tersenyum melihat sang isteri.

“Kanda, sia awak bawok kamari (siapa kamu bawa kemari) ?” Tanya Ropita.

“Ropita, kanda ingin dinda berkenalan dengan muridku, dia anak yang sangat special sekali. Kanda jatuh sayang padanya ketika pertama kali melihat dia, kanda harap dinda juga menyukainya seperti kanda menyukainya.”

Basri tidak menceritakan keadaan Saiful kepada Ropita, dia ingin sang isteri mengetahui sendiri kondisi anak itu. Tapi Ropita mulai punya perasaan tidak suka, kalau memang anak itu menjadi murid suaminya kenapa anak itu tidak turun dan memberi hormat kepadanya. Dia ingin menyindir suaminya tentang etiket menghormati orang yang lebih tua yang harus diajarkan kepada muridnya itu, tapi belum sempat dia bicara suaminya sudah melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kereta di mana anak itu berada dan naik ke dalamnya.

Karena penasaran Ropita mengikuti suaminya untuk melihat murid suaminya itu, ketika suaminya keluar sambil menggendong seorang bocah laki-laki yang sedang tertidur, dia merasa tidak senang karena dia menganggap anak yang tidak punya sopan santun. Sudah sampai di tempat bukannya bangun tapi malah masih tertidur dengan enaknya, yang mengherankan adalah suaminya menggendong anak itu dengan hati-hati sekali dan memegang punggungnya dengan lembut sekali seakan takut anak itu akan terluka. Tatapan mata suaminya terkandung rasa sayang yang mendalam, dia belum pernah melihat suaminya mempunyai pandangan yang lembut seperti ini sebelumnya kepada anak-anak siapapun, walaupun dia tahu suaminya sangat merindukan untuk memiliki anak.

Dan suaminya suka sekali kalau rumahnya kedatangan anak-anak kecil bermain, begitu banyak kemenakan yang dimiliki suaminya dari saudara-saudaranya tapi dia belum pernah sekalipun melihat suaminya mempunyai pandangan mata selembut terhadap anak yang ada digendongannya itu. Ini membangkitkan perasaan tidak enak dalam hatinya seperti perasaan cemburu karena selama ini suaminya hanya menatap dia dengan kelembutan seperti itu tapi kini dia mempunyai saingan seorang bocah. Ingin sekali dia melihat wajah anak itu tapi dia belum bisa melihat karena wajahnya tertutup rambut dan leher suaminya. Suaminya berjalan dengan cepat tapi tidak menggoyangkan tubuhnya seakan takut anak itu akan bangun akibat gerakan tubuhnya kala berjalan.

Melihat hal ini semakin heran dan tidak enak perasaan Ropita akan kelakuan suaminya, karena itu dia mengikuti sang suami ke arah kamar yang sudah diminta suaminya melalui merpati pos untuk disiapkan. Ropita yang telah terbiasa dengan tamu-tamu suaminya yang sering datang ke rumah mereka sempat terheran dengan isi surat dari suaminya, yang meminta kamar di sebelah kamar mereka untuk dibersihkan dan disiapkan menerima tamu. Biasanya teman-teman dekat saja yang bisa menginap di rumah utama mereka, tapi mereka tidak pernah tidur di sebelah kamar utama. Tadinya Ropita berpikir saudara angkat suaminya yang datang menginap di rumah, sehingga harus menyiapkan kamar di rumah utama, tapi yang mengherankan kenapa harus kamar di sebelah kamar mereka.

Kamar itu tidak pernah digunakan oleh siapapun karena tadinya disiapkan Basri untuk anak mereka sebelum dia tahu bahwa dia tidak bisa mempunyai anak. Jadi untuk menjaga perasaan sang suami, kamar itu tidak pernah digunakan karena dia pernah melihat suaminya memasuki kamar itu tengah malam dan berdiri merenung di tengah kamar. Sejak itu kamar tersebut tertutup bagi siapapun, kecuali suaminya, seolah kamar itu merupakan ruang meditasi suaminya. Sekarang suaminya minta kamar tersebut dibersihkan dan dirapikan ternyata untuk menyambut muridnya.

Mereka dengan diam terus berjalan menuju kamar itu, begitu pintu kamar dibuka tercium bau wangi yang segar memenuhi ruangan kamar itu, terlihat tempat tidur dialasi dengan kain lembut berwarna biru langit senada dengan kelambu yang melingkari tempat tidur itu, sesuai dengan permintaan suaminya. Dengan sebelah tangannya, Basri membuka jendela yang ada di samping ranjang sinar terang memasuki kamar, tapi sinar matahari tidak menyengat masuk kamar karena posisi kamar berada di selatan jadi baik matahari terbit maupun matahari terbenam tidak akan menyorot ke dalam kamar ini.

Setelah itu dengan hati-hati Basri membungkukan badannya untuk meletakan Saiful di tempat tidur, Ropita yang berada di belakang suaminya belum bisa melihat wajah anak itu. Basri yang tahu rasa penasaran isterinya bertanya-tanya dalam hati bagaimana wajah isterinya jika melihat wajah hancur anak ini akibat pukulan ayahnya. Dia tahu hati lembut sang isteri melihat kemalangan orang lain, walaupun terlihat di permukaan isterinya seorang perempuan yang keras. Kini dia ingin tahu apa yang akan terjadi pada isterinya saat melihat keadaan Saiful, pelan-pelan dia menegakkan tubuhnya dan bergeser ke samping untuk memberi kesempatan kepada isterinya melihat wajah muridnya.

Ropita yang sudah sangat penasaran buru-buru bergerak ke depan untuk melihat jelas wajah murid suaminya. Begitu dia melihat dia langsung berteriak kaget dan terpukul sekali melihat wajah bocah itu, dia melihat wajah yang membengkak dan biru keunguan di hampir semua kulit wajah anak itu. Dia tahu ini bukan karena jatuh maka wajah anak itu seperti ini, dengan gemetaran tangannya menyentuh lembut wajah yang membengkak membiru itu. Hatinya miris sekali dan matanya langsung berkaca-kaca melihat keadaan anak ini. Dengan membisu dia memalingkan wajahnya ke arah suaminya, pandangan matanya menanyakan apa yang terjadi pada anak ini.

Suaminya melihat wajah sang isteri yang pucat sekali dan mata yang berkaca-kaca itu mengetahui bagaimana perasaan isterinya karena itu pula perasaannya saat pertama kali melihat keadaan Saiful. Ditariknya tangan sang isteri untuk duduk di dekat meja yang ada di tengah ruangan, dia ingin menceritakan kisah Saiful dalam posisi duduk karena dia merasa lemas setiap kali mengingat pagi saat dia mau membawa anak itu. Mulailah dia bercerita dengan diawali dari mimpi Bumi dan permintaan sesepuh untuk dia menerima murid, dilanjutkan dengan perkenalannya dengan Saiful dan berakhir dengan pemukulan orang tuanya.

Mendengar kisah Saiful, Ropita menangis pilu dan mengepalkan tangannya erat-erat, ingin sekali dia menghajar kedua orang tua Saiful sampai minta ampun. Hatinya yang tadinya tidak senang kepada Saiful kini berbalik menjadi iba dan terbitlah perasaan sayangnya kepada bocah malang ini. Dengan saputangan pemberian suaminya, Ropita menghapus air matanya yang berderai dan hidungnya yang meler. Pelan-pelan dia bangkit dan mendekati bocah malang itu, dia menatap bocah itu berlama-lama seakan ingin mencari tahu bagaimana wajah anak itu kalau tidak bengkak dan membiru seperti ini.

Kemudian dia tersadar anak itu pasti kotor dan belum menukar bajunya akibat perjalanan mereka. Buru-buru dia berbalik ingin menyuruh pembantunya membeli baju untuk anak ini, tapi sang suami yang sudah tahu isi hati isteri sudah terdahulu menyuruh pembantu mengambil buntalan berisikan baju Saiful yang dia beli sebelum dia pergi dari Batang Kapeh serta membawa air untuk melap debu yang melengkat di tubuh bocah itu. Di meja sudah tersedia semua kebutuhan isterinya, Ropita yang menatap barang yang ada di meja tersenyum kepada sang suami.

Dengan bantuan sang suami, dia menarik meja tersebut mendekati ranjang supaya memudahkan dia melap tubuh dan menukar baju bocah malang ini. Basri yang mengerti perasaan Ropita berusaha menyampaikan kondisi Saiful dengan hati-hati takut isterinya kaget sekali.

“Dinda, selesai awak melap tubuh Saiful tolong oleskan obat-obat ini di wajah dan tubuhnya yah.”

Ropita yang mendengar perkataan suaminya terkejut sekali, karena tadinya dia berpikir bahwa orang tua anak ini hanya memukuli wajah saja tapi mendengar suara suaminya dan tatapannya, dia tahu dugaannya salah. Tangannya menjadi tambah gemetar ketika mau membuka baju Saiful, untuk dilap, setelah membuka kancing bajunya, dia mendudukan anak itu menyandarkan ke tubuhnya pelan-pelan melepaskan bajunya. Ketika dia melihat punggung anak itu dia tersirap dan terbelalak kaget, saat mendorong tubuh anak ini menjauh dari tubuhnya dia melihat bekas luka-luka dan luka-luka baru yang bertebaran di seluruh tubuh anak itu baik di punggung maupun tubuh depannya bahkan sampai di kedua tangannya.

Langsung air matanya jatuh berderai-derai, mulutnya gemetar menahan isakan melihat penderitaan bocah kecil ini. Dia memeluk anak ini dengan lembut takut melukainya, kini dia mengerti kenapa suaminya memperlakukan bocah ini dengan lembut. Sekujur tubuh kecil dan rapuh itu penuh dengan luka, hatinya terasa sakit sekali menahan kemarahan dan kepedihan akan penderitaan anak sekecil ini. Dengan lembut dia meletakan kembali anak itu ke tempat tidur dan mulai melap tubuh anak ini dengan hati-hati takut menyakitinya. Setelah selesai melap seluruh tubuhnya, dia menarik celana panjang bocah itu, kembali terpampang luka-luka baru dan bekasnya yang memenuhi kaki kurus itu.

Air mata tidak berhenti jatuh di wajahnya setiap melihat luka-luka itu, mata dan hidungnya sudah berwarna merah, tangan suaminya di pundak menepuk-nepuk menenangkan hatinya. Tapi hatinya tetap tidak tenang, hatinya sakit sekali, hal ini membangkitkan perasaan keibuannya dengan kuat sekali, seperti induk ayam yang melindungi anaknya. Dia berjanji dalam hati selama anak ini berada di bawah perlindungannya jangan harap ada yang boleh memukulnya, kalau sampai terjadi dia akan menghajar orang itu tanpa ampun.

Selesai melap, dengan lembut dia mengoles obat ke seluruh luka yang ada di wajah, tubuh, punggung, tangan dan kaki Saiful. Untung bocah itu dalam kondisi tertidur kalau dia bangun pasti akan meringis kesakitan akibat obat yang dioleskan pada luka sekujur tubuhnya. Obat Siti sangat mujarab karena Saiful tidak demam selama dalam perjalanan, bahkan perlahan-lahan warna biru dan bengkak Saiful berkurang banyak. Basri tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan isterinya pada saat pertama kali melihat keadaan Saiful yang berdarah-darah di seluruh wajahnya akibat pukulan bapaknya. Mungkin saat itu langsung akan dibunuhnya laki-laki itu tanpa penyesalan sedikitpun.

Seiring dengan memakaikan baju kepada bocah malang ini semakin meningkatkan perasaan sayang Ropita. Sesudah selesai merawat dan memakaikan bajunya, Ropita masih tetap duduk di kursi di samping ranjang dengan diam membisu menatap anak itu. Suasana dalam ruangan itu sunyi, Basri juga tidak ingin membuka percakapan dengan isterinya yang terlihat larut dalam pikirannya. Dia sendiri juga merasakan apa yang dirasakan oleh isterinya, di saat mereka berdua melamun sambil menatap Saiful, tiba-tiba bocah itu membuka matanya dan langsung menatap ke mata Ropita. Tatapan mata yang sendu dan bingung itu terasa menghunjam jantung Ropita, ternyata anak ini mempunyai bentuk mata yang indah sekali.

Saiful yang terbangun melihat seorang wanita cantik sedang menatapnya dengan air mata yang menetas di pipi menjadi kebingungan. Dia dapat merasakan aliran kasih sayang yang mendalam dari wanita cantik itu kepadanya, hal ini pernah dia rasakan ketika dia digendong oleh gurunya. Mengingat akan gurunya buru-buru matanya bergerak ke sekeliling ruangan, dan dia melihat gurunya berdiri di belakang wanita cantik itu sedang menatapnya dengan lembut dan mulut tersenyum gembira. Dia merasa senang melihat gurunya ada di sana , matanya terlihat memancarkan kerlip senang walau itu tidak merubah tatapan sendunya. Biarpun dia merupakan anak yang hidup dalam penderitaan tapi dia juga seorang anak yang sangat cerdas, dia dapat menduga wanita cantik yang menatapnya dengan penuh kasih sayang itu adalah isteri gurunya.

Dia mengalihkan pandangan matanya kepada wanita cantik itu, perasaan tenang dan bahagia terasa mengalir di tubuhnya, ketika membalas tatapan wanita itu. Mengingat sopan santun yang diajarkan teman-temannya kepadanya, perlahan dia membuka suara untuk menyampaikan salam kepada guru dan isteri gurunya, dia berusaha menggerakan tangannya untuk menggapai tangan isteri gurunya untuk dicium sebagai tanda hormat. Tapi dia tidak mampu menggerakan tangannya seakan tangannya berat sekali, Ropita yang menyadari apa yang hendak dilakukan anak ini menjadi terharu dan air mata kembali berderai di pipinya yang mulus itu.

“Sudah sayang, tidak perlu kamu menggerakan tanganmu, tunggu sembuh dulu yah,” kata Ropita dengan suara serak kebanyakan menangis.

Saiful yang selama hidupnya tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya merasa mendapat limpahan kebahagiaan dalam hatinya walau di wajahnya hal itu tidak tercermin tapi kerlip senang terlihat di mata sendu itu. Ropita yang mulai mengenal ciri-ciri pribadi anak itu mengetahui hal ini, dia juga merasa senang karena anak ini bisa menerima dirinya. Anak ini menatapnya terus bergantian dengan suaminya seakan tidak ingin mereka pergi meninggalkannya. Hati kedua suami isteri ini bercampur aduk, ada perasaan senang, ada perasaan pedih, ada perasaan bahagia kini mereka mempunyai anak yang mereka bisa urus, ada perasaan sakit setiap membayangkan penderitaan anak ini.

Perlahan jari tangan Ropita membelai wajah yang sembab membiru itu, Saiful membiarkan tangan itu mengelus wajahnya dan bisa merasakan kesejukan yang mengaliri hatinya. Tidak terasa setitik air mata bergulir dari kedua sudut matanya, walau mata itu tetap menatap sendu tapi Ropita sudah tidak melihat kesedihan yang dalam seperti pertama kali anak itu menatapnya.

“Ipul, kamu lapar ndak? Kan sudah seharian kamu tidak makan,” Tanya Basri.

Malu-malu bocah itu menganggukkan kepalanya tanda dia memang lapar, melihat itu buru-buru Ropita berdiri dan berjalan keluar menuju dapur untuk membuatkan bubur dan sup agar bisa dimakan Saiful. Dia tahu bocah itu masih susah untuk makan nasi dengan bibir yang menebal dan ada luka di sekitar bibir dalamnya kena giginya akibat gamparan keras ayahnya, jadi pasti akan terasa menyakitkan bila makan makanan yang keras.

Sementara itu Basri menemani Saiful di kamar dengan bercerita kisah perjalanan hidupnya sambil menunggu isterinya mengambilkan makanan. Saiful mendengarkannya dengan penuh perhatian, jika ada kejadian yang lucu dia berusaha tersenyum walau itu menyakitkan bagi dia menggerakan wajahnya, tapi dia berusaha menyenangkan hati gurunya. Basri bisa melihat anak itu menahan sakit setiap kali berusaha tersenyum tapi tidak dengar keluhan apapun dari bibir mungil itu, hatinya pilu sekali melihat hal itu tapi dia tidak menegur bocah itu karena dia tahu Saiful menikmati semua ceritanya.

Basri jarang sekali mau menceritakan kisah hidupnya kepada siapapun, biasanya orang lain yang lebih suka berbicara tentang diri mereka kepadanya. Kini dengan hanya melihat kerlipan indah di mata sendu itu mengalirlah semua kenangan yang pernah dia jalani selama hidupnya. Mungkin karena cerita Basri yang sangat seru membuat Saiful bisa bertahan melawan lapar yang sudah menyerang perutnya. Akhirnya tidak tertahan juga perut Saiful berbunyi nyaring minta diisi, bocah ini merasa malu sekali dengan gurunya. Mendengar bunyi dari perut Saiful, Basri tertawa terbahak-bahak apalagi dia tahu anak itu malu sekali terlihat dari perubahan warna kulit wajahnya yang tadinya biru keungu-unguan sekarang semakin menggelap warnanya.

“Sabar yah nak, ibu sedang ambil makanan di dapur buat kamu,” kata Basri sambil membelai rambut hitam lebat milik Saiful.

Dia sengaja menyebutkan dirinya dengan panggilan bapak dan isterinya dengan panggilan ibu, karena dia ingin membiasakan Saiful memanggil mereka dengan panggilan tersebut. Basri tidak ingin anak itu memanggil dia guru dan isterinya ibu guru, karena dia menginginkan Saiful menjadi anaknya sehingga panggilan itu terasa lebih nyaman bagi dia.

Tidak lama masuklah isterinya dengan membawa senampan makanan penuh untuk suami dan bocah yang sudah merebut hatinya itu. Setelah meletakan makanan di meja yang masih berada di samping ranjang, Ropita duduk di samping Saiful dengan perlahan-lahan membantu anak itu bangun untuk duduk. Dia tahu penderitaan anak itu untuk berusaha duduk, pasti seluruh tubuhnya berdenyut kesakitan saat dia menggerakan tubuhnya dan menduduki bekas pukulan yang ada di pantatnya. Hebatnya tidak keluar suara keluhan apapun dari mulut mungil tertutup rapat itu, bahkan di wajahnyapun tidak tergambar kesakitan yang dia rasakan. Tapi jika memperhatikan dengan seksama maka ada siratan kesakitan dalam mata sendu itu, dalam hati Ropita bertanya-tanya penderitaan seperti apa yang dialami anak ini sehingga rasa sakit saja tidak bisa dia ungkapkan keluar.

Hati Ropita seperti diiris-iris membayangkan bocah berusia 6 tahun harus menanggung penderitaan seperti ini. Dia berjanji mulai saat ini tidak ada seorangpun yang boleh menyakiti Saiful, kalau tidak akan berhadapan dengannya langsung dan dia tidak akan segan-segan menghabisi nyawa orang yang berani menyakiti anaknya. Iya, Saiful mulai sekarang adalah anak dia dan Basri, dia yakin sang suami pasti setuju dengan usulan dia untuk mengangkat Saiful sebagai anak mereka. Dia akan membicarakan masalah ini dengan suaminya nanti malam, sekarang yang terpenting mengisi perut anaknya yang sudah lapar.

Ropita menyadarkan tubuh Saiful pada bantal-bantalan yang ditegakan di belakang punggungnya. Mata sendu bocah itu menatapnya dengan lekat-lekat seperti ingin mengukir wajah dia dan Basri di dalam hatinya. Pelan-pelan Ropita menyuapi Saiful untuk makan, setiap dia melihat kejaban mata tanda kesakitan dari anak itu, hatinya terasa sesak sekali bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Basripun mengalami hal yang sama, berkali-kali dia menghela nafas panjang untuk mententramkan gejolak kesedihan di hatinya. Dia tidak bisa makan makanan yang telah disediakan isterinya di meja setiap melihat Saiful berusaha menelan makanannya.

Biarpun masih bocah kecil tapi Saiful sudah dimatangkan oleh penderitaan sehingga ketika ada sepasang suami isteri yang begitu hangat dan penuh kasih sayang kepadanya, dia seperti sebuah spon yang menyerap air itu terus menerus. Dia ingin sekali membahagiakan kedua orang yang baik hati ini dan berjanji dalam hati, budi kebaikan ini akan selalu dia ingat dan berusaha membalasnya dengan segenap jiwa raganya. Melihat wanita cantik itu meneteskan air mata untuknya dia merasa terharu sekali, dengan susah payah dia berusaha menggerakan kedua tangannya untuk mengusap butir-butir air mata yang mengalir di pipi yang mulus itu.

Usahanya berhasil menghapus air mata di pipi itu, dengan suara yang begitu lirih sekali dia berkata kepada Ropita, “Ibu, jangan menangis lagi, sakit dadaku melihat ibu menangis.”

Jika mereka bukan sepasang pendekar yang hebat dan sudah terlatih pendengarannya mungkin mereka tidak akan bisa mendengar suara lirih yang keluar dari bibir mungil itu. Mendengar perkataan itu Ropita tambah keras tangisnya dan memeluk tubuh ringkih itu erat-erat, tersentuh perasaan keibuannya dengan perkataan Saiful itu. Basri juga tersentuh sekali dengan kehalusan jiwa Saiful, dia tahu isterinya tidak akan pernah melepaskan Saiful pergi jauh-jauh dari sisinya, entah bagaimana nanti kelak bila saatnya Saiful akan dibawa pergi oleh gurunya yang lain. Dia juga tidak berani membayangkan bagaimana perasaannya ketika Saiful dibawa pergi oleh guru barunya, yang penting saat sekarang ini dia berdua isterinya akan merawat dan menjaga Saiful dengan sebaik-baiknya.

Sejak hari itu Saiful menjadi salah satu penghuni rumah besar milik Basri dan Ropita, ternyata benar dugaan Basri, anak ini mempunyai kehalusan budi pekerti dan pribadi lembut yang sangat menunjang dia untuk disayang oleh semua penghuni rumah. Setiap orang menatap mata sendu itu terutama wanita rasanya ingin melakukan apapun agar mata itu tidak berselimutkan kesedihan yang dalam. Semakin hari seiring dengan kesembuhannya, berkat perawatan Basri dan isterinya beserta seluruh penghuni rumah, wajah dan tubuh Saiful semakin pulih seperti sedia kala. Mereka terkagum-kagum melihat di bawah wajah yang membengkak mengerikan itu tersimpan seraut wajah yang tampan sekali walau si pemilik jarang tersenyum tapi sorotan sendu yang lembut darinya membuat semua orang tahu isi hatinya yang sedang senang.

Selama hampir 3 bulan dia tinggal di rumah besar itu hanya sekali sepasang suami isteri itu melihat dia tertawa terbahak-bahak ketika dia mendengar cerita bagaimana Basri dikerjain oleh Ropita saat mereka muda dulu. Ternyata suara tertawanya sangat merdu sekali mengalun seindah tatapan matanya yang berbinar bahagia. Memang yang baru mampu membuat dia tertawa hanya Basri dan Ropita saja, sedangkan penghuni yang lain baru bisa mengundang senyumnya saja. Para pembantu dan pegawal rumah itu sudah mendengar kisah anak angkat sekaligus murid majikan mereka dari para kusir yang datang menemani sang majikan pulang ketika itu. Jadi mereka sudah punya perasaan kasihan dan iba terhadap nasib anak yang malang ini, mereka berusaha untuk membuat anak itu betah tinggal di rumah besar ini.

Mereka memanggil dia tuan muda, tapi dia bersikeras meminta mereka memanggil dia dengan nama Ipul, tapi mana mungkin mereka mendengar permintaannya. Anak ini ringan tangan, dan senang membantu siapa saja walau jarang bicara tapi dia suka mendengarkan siapa saja bercerita dengan tatapan mata yang begitu semangat. Semua penghuni rumah dipanggilnya dengan rasa hormat, dari pembantu rumah tangga sampai pengawal sehingga mereka semakin jatuh sayang dan diam-diam menghormati tuan muda mereka ini.

Di suatu senja Basri memanggil Saiful dan isterinya untuk duduk-duduk di teras tingkat dua rumah mereka sambil memandang matahari yang hampir tenggelam. Basri melihat Ropita selalu mendudukan Saiful di tengah-tengah antara mereka berdua, lalu mereka berdua akan berbisik-bisik seru walau kebanyakan Ropita yang berbisik tapi tidak mengurangi keseruan bisik-bisik mereka. Dan dia melihat pancaran kebahagiaan dari dua orang yang dia sayangi ini, sekali-kali dia melihat Saiful memeluk Ropita dengan erat sekali dan pernah dia melihat anak itu mencium pipi isterinya. Melihat hal-hal ini dia hanya bisa tertawa puas karena mendapat murid yang cocok dengan isterinya dan penghuni lain. Sebenarnya juga dia senang sekali karena Saiful sangat mencocoki hatinya juga, anak itu tidak pernah menerima perkataan dia begitu saja, jika dia tidak mengerti maka Basri bisa membaca pertanyaan dari mata dan wajahnya. Ekspersi mata dan wajah Saiful hanya terlihat jika dia menginginkan mereka melihatnya, bila dia tidak ingin memperlihatkan maka tiada orang yang bisa membacanya.

Wajah tampan itu begitu dingin tapi diperlembut dengan sepasang mata indah nan sendu, sering membuat Basri berpikir bagaimana jika dia besar kelak berapa banyak gadis yang akan jatuh bangun karenanya. Sekarang saja semua wanita penghuni rumah ini sangat memujanya, apapun yang dikehendaki akan mereka lakukan dengan cepat dan senang hati. Untungnya anak ini tahu diri tidak termanjakan dengan keadaan lingkungan yang begitu siap menolongnya setiap saat mengingat latar belakangnya. Basri sendiripun harus mengakui dia sendiri selalu ingin memanjakan bocah tampan ini dengan memberikan mainan yang mahal dan bagus, tapi pernah sekali waktu Saiful dengan takut-takut bicara padanya mengatakan untuk tidak terlalu memanjakannya karena dia takut lupa diri dan menjadi takabur.

Mendengar pemintaan seperti itu Basri semakin sayang pada Saiful, dia tahu dia tidak salah memilih Saiful sebagai muridnya. Ternyata tidak hanya pada Basri, Saiful mengatakan hal serupa kepada isterinya untuk tidak membelikan dia banyak baju yang mewah dan mahal serta perhiasan untuk dipakainya. Dia sudah merasa cukup kaya dengan kasih sayang dan kehangatan dari mereka berdua, kata-kata bijak yang keluar dari seorang bocah yang penuh penderitaan hidupnya sungguh meluluhkan hati bagi si pendengarnya. Memang penderitaan yang dideritanya sejak kecil membuat dia dewasa sebelum waktunya, bayangkan anak yang berusia 6 tahun yang kenyang akan siksaan dari orang terdekatnya sudah bisa menahan dirinya dari nafsu ketamakan dan selalu bersyukur atas apapun yang diterimanya sungguh bocah yang sangat istimewa sekali.

Tapi kadang-kadang Basri dan Ropita melihat bocah itu menatap langit dengan tatapan sendu berselimutkan kepedihan seakan ingin mengadu kepada bintang-bintang semua kepedihan hatinya yang tersimpan rapi di lubuk hatinya yang paling dalam. Mereka berdua tidak berhasil mengorek apa penyebab kesedihan yang tercermin di mata itu, akhirnya mereka hanya bisa menghibur bocah itu dengan kasih sayang yang mereka miliki.

Memasuki bulan keempat Saiful tinggal bersama mereka, Basri mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada muridnya itu, di bawah pengawasan isterinya, dari pagi sampai malam anak itu tidak ada lelahnya berlatih. Kadang-kadang Basri suka pergi ke daerah-daerah untuk mengecek usahanya, dan saat dia pulang dia terkejut sekali dengan kemajuan dari Saiful. Yang tidak dia sadari adalah berkat campuran buah Lembah Setan dan obat racikan Siti membuat Saiful bisa melakukan gerakan-gerakan yang sulit penuh tenaga terasa lebih mudah. Ditambah dengan kecerdasannya yang memang di atas rata-rata membuat kemajuan Saiful sangat pesat sekali.

Dalam kurun waktu 3 bulan setelah kesembuhannya, Saiful sudah bisa meniru semua gerakan silat dasar yang diajarkannya bahkan jurus silat dasar dari isterinya juga mampu dilakukannya dengan sempurna, hanya sayang tenaga dalamnya belum memadai untuk disalurkan di setiap pukulannya. Tapi kemajuan ini sangat menyenangkan hati Basri dan isterinya, mereka tambah semangat mengajarinya. Basri juga tidak melupakan wejangan dari Datuak Inyiak Balang untuk melatih ilmunya lagi dan mencari buku pemberian gurunya dulu di perpustakaan keluarga yang berisikan ilmu Mato Alang (Elang) Jelajah Alam yang sangat hebat untuk melawan bangsa kegelapan.

Perlahan-lahan anak harimau yang terluka itu pulih fisiknya seperti sedia kala, tapi luka batin yang tertoreh dalam belum bisa hilang begitu saja hanya sekarang seperti tersimpan di suatu tempat yang gelap di sudut ruang yang paling dalam dirinya. Basri dan Ropita hanya bisa mengobati luka yang kelihatan di permukaan saja, tanpa seijin yang punya luka merekapun tidak dapat berbuat apa-apa. Saiful menjalani hidupnya dengan tenang dan damai bersama guru sekaligus ayah dan ibu angkatnya, mata sendunya lebih terlihat bercahaya dibandingkan sebelumnya, tapi jika dia bersama mereka atau penghuni lain di rumah besar itu. Jika dia sendirian tetap saja mata sendu itu berselimutkan kesedihan yang dalam sekali yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang berperasaan halus saja.

Di suatu tempat tersembunyi bahaya mengintai ketentraman rumah besar ini, hanya menunggu kesempatan saja untuk menghancurkan seluruh penghuninya.

Posted by sieklie in 16:26:46 | Permalink | No Comments »

Thursday, February 21, 2008

VI : Perjalanan anak harimau menuju ibukota

Kita ikuti perjalanan Burhan terlebih dahulu, Masnan dan Burhan berangkat terlebih dahulu dibandingkan dengan Basri dan Saiful, pagi-pagi sekali mereka sudah siap untuk berangkat dengan dibekali makanan dan obat-obatan oleh Siti agar bisa digunakan selama dalam perjalanan panjang mereka.

Masnan datang ke nagari Batang Kapeh menggunakan kuda kesayangannya si Tunggul Item yang merupakan keturunan kuda yang hebat sekali anak dari kuda kesayangan raja yaitu kuda Petir Biru yang berasal dari negeri seberang, hadiah upeti dari saudagar negeri Tar-tar. Kuda yang sangat elok sekali dan mempunyai daya tahan tubuh yang hebat sekali bisa berlari terus menerus selama 2 hari tanpa makan dan minum dengan kecepatan yang tetap stabil.
Karena ingin cepat sampai di rumah, maka Masnan mengajak Burhan untuk naik kuda bersamanya. Burhan yang tidak pernah naik kuda sebelumnya, dalam hati merasa takut melihat kuda besar berbadan hitam pekat ini. Bagi dia, kuda ini terlihat tinggi dan besar sekali, tapi dia memang anak yang spesial sekali ketakutannya tidak diperlihatkannya di depan orang-orang dengan menggertakan giginya dia berusaha mengatasi rasa takutnya itu.

Ketika Masnan yang dari atas kuda mengulurkan tangannya kepada Burhan untuk mengangkat anak ini duduk di belakangnya, sempat Burhan ragu sejenak dan Masnan yang mengetahui ketakutan Burhan berusaha membujuk anak itu untuk tidak takut naik kuda ini. Dia tidak sempat mengajarkan kepada Burhan cara mendekatkan diri pada kuda ini, agar Burhan tidak takut lagi pada Tunggul Item.

Akhirnya siaplah berangkat mereka berdua, setelah berpamitan dengan yang lain, segera Masnan memacu kudanya ke arah Barat menuju Pagaruyuang. Selama di perjalanan Burhan memeluk pinggang Masnan erat-erat karena selain dia takut pada kuda tersebut, dia juga takut jatuh. Belum pernah seumur hidupnya naik kuda, selama ini dia hanya tahu naik gerobak yang ditarik kuda saja tapi benar-benar naik kuda ini merupakan pengalaman pertama baginya.

Pengalaman ini sangat tidak enak sekali, pantatnya sampai sakit duduk di atas kuda, dan punggungnya pegal sekali karena harus duduk tegak terus, tapi tidak pernah dimulutnya terdengar keluhan. Setelah setengah hari mereka berkuda, Masnan menghentikan kudanya untuk beristirahat, karena dia merasakan perut Burhan yang menempel di punggungnya berbunyi minta diisi, baru dia sadar dia tidak sendirian naik kuda tapi bersama seorang anak kecil yang tidak mempunyai daya tahan tubuh seperti dia. Dekat sebuah sungai, Masnan menghentikan kudanya untuk istirahat, dia membiarkan kudanya merumput dan minum air dari sungai tersebut, sementara itu Masnan membuka perbekalan untuk dimakan bersama Burhan. Sebenarnya Masnan sudah melihat wajah Burhan yang terlihat menahan sakit akibat menunggang kuda, tapi sengaja dia tidak menanyakan kepada anak itu karena dia melihat anak itu tidak mengeluarkan keluhan apapun atas penderitaannya. Dia jadi ingin menguji daya tahan ini sampai mana, Masnan tahu betapa sakit dan pegal-pegalnya semua urat di paha atas, punggung dan pantat anak itu belum ditambah teriknya matahari yang menyorot mereka, benar-benar penderitaan yang tidak mengenakkan sekali bagi seorang anak kecil seperti Burhan.

Setelah mereka memakan roti untuk mengganjal perut segera Masnan berdiri mengajak Burhan untuk melanjutkan perjalanan. Burhan yang belum pernah mengalami hal seperti ini, berusaha bangkit dari duduknya, langsung rasa sakit karena pegalnya menghajar paha dan pinggangnya, ingin dia berteriak tapi dengan keras hati dia mengunci rapat mulutnya. Dengan tertatih-tatih dia berjalan menghampiri Masnan yang sudah menunggu dia di dekat kuda mereka.

“Burhan, apa kamu kesakitan ?” tanya Masnan.

“Iya, paman.”sahut Burhan.

“Apa kita istirahat lagi sampai kamu memulihkan kondisi kamu?”

“Tidak perlu paman, aku masih bisa dan kuat untuk meneruskan perjalanan kita.”

“Kamu yakin?” tanya Masnan.

“Yakin, paman” dengan tegas Burhan menjawab pertanyaan Masnan.

Sebenarnya Masnan tidak tega melihat penderitaan Burhan, tapi dia tidak ingin mempunyai murid cengeng dan dia juga tahu Burhan merupakan seorang anak yang tidak suka dikasihani, dia akan berusaha sekuatnya sampai titik darah penghabisan baru dia minta tolong. Segera Masnan dan Burhan melanjutkan perjalanan mereka, kuda terus berlari cepat dan semakin lama semakin cepat sehingga Burhan hanya melihat kelabatan daun-daun di sepanjang jalan saking kencangnya kuda terebut berlari. Kesakitan dan pegal yang dirasakan oleh Burhan tambah lama tambah parah tapi tetap dia tidak mengeluhkannya sedikitpun. Bagi dia, ini adalah sebuah ujian hidup yang harus dilalui dan dia mengeraskan hatinya untuk bisa melalui semua ini. Lama kelamaan dia merasa mengantuk sekali, akhirnya dia tertidur di punggung Masnan, dengan tidak mengendorkan pegangan tangan kanannya pada pelana kuda, Masnan menggunakan tangan kirinya untuk memegang tangan Burhan agar dia tidak jatuh akibat goncangan dari lari kudanya.

Menjelang tengah malam sampailah Masnan di pinggiran sebuah desa, dia megurangi kecepatan kudanya agar tidak menganggu penduduk desa tersebut. Pelan-pelan dia menjalankan kudanya, baru dia masuk masuk wilayah desa tersebut, tiba-tiba dia mendengar suara keributan di ujung desa sebelah sana, terdengar teriakan dan jeritan yang menyayat hati. Segera dia memacu kudanya menuju arah suara keributan tersebut, sementara itu Burhan sudah terbangun dari lelapnya, seluruh badanya terasa remuk sekali tapi tidak keluar keluhan dari mulutnya. Dia juga mendengar jeritan yang mengiriskan hati, jantungnya berdebar-debar kencang, dia mempererat pelukannya pada pinggang Masnan.

Masnan mengetahui ketakutan Burhan, tapi dia ingin mendidik muridnya itu untuk melihat di lapangan secara langsung situasi apa yang sedang terjadi dan bagaimana mengatasinya. Mereka sudah mendekati tempat asal jeritan tadi, pemandangan di situ benar-benar mengejutkan hati Masnan, di lapangan luas itu dia melihat ada beberapa laki-laki kasar sedang memperkosa wanita-wanita kampung secara terbuka seperti binatang saja, dan para laki-lakinya sedang diikat di tiang dan sedang dilecuti. DI sudut kanan terlihat beberapa mayat bergelimpangan, keadaan ini sungguh mengerikan sekali dan yang terlebih menjijikan lagi hal ini disaksikan oleh 3 orang laki-laki yang berbentuk aneh sedang duduk di tengah-tengah kekacauan ini sambil menikmati santapan ayam panggangnya dan minum tuak. Mereka seolah-olah melihat sebuah pertunjukan yang memang disajikan untuk menambah selera makan mereka

Orang pertama yang dilihat Masnan dari ketiga orang ini, adalah yang sedang memegang paha ayam di tangan kiri dan di tangan kanan memegang dan meremas-remas kedua bukit seorang gadis, gadis itu sudah dalam kondisi menggenaskan sekali, rambut kusut masai, baju sudah sobek-sobek memperlihatkan bentuk tubuhnya yang memang aduhai, tapi pandangan mata gadis itu sudah kosong seperti orang mati walaupun dia belum mati. Dan orang yang memegangnya mempunyai bentuk wajah mengerikan penuh dengan codet dengan bibir yang tebal menjijikan dan mempunyai mata juling yang bergerak liar tidak menentu.
Sedangkan teman di sebelah kanannya telihat lebih mengerikan, hidungnya somplak sebagian, pipinya penuh dengan jerawat besar-besar dan bernanah yang dibiarkan oleh pemilik wajah tersebut meleleh membasahi mukanya. Benar-benar wajah yang memuakan sekali. Terakhir orang yang dilihat Masnan tidak memuakan dan mengerikan seperti kedua temannya, wajahnya biasa saja tapi sinar matanya kejam sekali dan senyumnya merindingkan bulu kuduk bagi yang melihatnya. Masnan menyesal membawa Burhan ke tempat itu, seharusnya dia meninggalkan bocah bersama kudanya di pinggiran desa sebelah sana, tapi karena keinginannya yang egois sehingga menyebabkan bocah yang masih kecil ini harus melihat pemandangan yang mengerikan seperti ini.

Ketiga orang yang sedang makan itu cepat menolehkan kepalanya melihat siapa yang sedang mendekati tempat bersenang-senang mereka. Mereka melihat seorang pria gagah bersama dengan seorang bocah mendekati tempat mereka dengan tenang. Mereka tertarik sekali melihat pria, bocah dan kuda yang datang mendekat tersebut dengan pandangan yang tajam, mereka saling pandang satu dengan yang lain dan tiba-tiba mereka tertawa terbahak-bahak yang menggema di seluruh tempat itu.

“Sakti, malam ini kau tidak lagi bakalan mengeluh karena kami dapat hiburan kesenangan sedangkan kau tidak, aku lihat kesukaanmu itu benar-benar pilihan tidak seperti bocah dusun tadi. Hahahahaa…” kata pria yang mempunyai hidung somplak itu kepada temannya.

“Belum tentu aku suka, karena aku belum lihat wajah dan bentuk tubuhnya dengan jelas.”kata pria yang bermata kejam tersebut dengan senyum-senyum.

Dalam hati dia senang sekali karena melihat calon mangsanya datang mendekat, dia yakin mangsanya kali ini jauh lebih baik dari tadi. Pria yang bernama Sakti ini mempunyai kelainan gila, sangat suka melakukan hubungan sex dengan bocah-bocah kecil baik itu laki-laki atau perempuan, tapi tidak sembarangan bocah juga, dia sangat pemilih dengan mangsanya, dia menyukai bocah yang berkulit bersih dan berbadan tegap serta berwajah bagus. Tadi dia sudah menyalurkan hasratnya kepada seorang bocah dusun, tapi anak tersebut tidak kuat menahan gelora gila Sakti, sehingga anak tersebut pingsan berkali-kali dan akhirnya mati dipukul kepalanya oleh Sakti yang kesal sekali melihat anak tersebut pingsan terus menerus, sedangkan dia menyukai sedang melakukan itu mangsanya harus menjerit-jerit kesakitan baru dia bisa mencapai kepuasannya. Benar-benar seorang sakit jiwanya (jaman sekarang disebut psikopat), dan terlebih menjijikan lagi dia suka melakukannya di depan teman dan anak buahnya seperti ingin memamerkan keperkasaannya.

“Dan kau, Epen, aku lihat kau sudah mengeluarkan liur dari bibirmu melihat kuda hitam yang bagus itu. Malam ini kita benar-benar menikmati kesenangan…hahahahaha..”kata pria yang sedang memegang gadis kepada pria yang hidungnya somplak itu.

“Benar sekali, sudah lama sekali aku menginginkan mempunyai kuda yang sangat bagus, ternyata malam ini ada orang yang berbaik hati mengantarkannya untukku. Menurutmu Pinyak, hadiah apa yang harus kuberikan kepada pria yang sudah baik hati mengantarkan kesenangan buat aku dan Sakti…hahahaha” kata Epen kepada teman-temannya itu.

“Menurutku, karena sudah lama sekali tidak pernah menguji coba ilmu terakhir kita, Pukulan Trisula Kalajengking Merah, bagaimana kalau kita hadiahkan dia pukulan tersebut. Dia merupakan tamu kehormatan kita untuk merasakan pukulan tersebut, bagaimana menurut kalian?”

“Wah ide yang bagus sekali, aku sudah tidak sabar lagi ingin mencicipi kesukaanku itu,”kata Sakti dengan mata berbinar-binar setelah dia melihat Burhan dengan lebih dekat lagi. Dia menyukai yang dia lihat, sungguh bocah yang membuat hasratnya terbangun dengan dahsyatnya.

Bocah itu mempunyai wajah yang begitu gagah dan bentuk badan segitiga terbalik yang sangat proposional sekali. Benar-benar bocah pilihan sekali, dia juga melihat anak ini mempunyai tulang dan darah yang bersih, dia sangat menyukai mangsanya kali ini jarang sekali dia melihat bocah seperti ini. Dulu dia pernah mendapatkan mangsa seperti bocah ini, dan dia puas sekali karena bocah itu bisa kuat menahan gelora hasrat birahinya berhari-hari sebelum akhirnya anak itu mati dibunuhnya. Apalagi anak ini seharusnya lebih hebat lagi, dia merasa tertantang melihat sinar tajam dari bocah itu ketika memandang dia dan teman-temannya walaupun mukanya pucat pasi melihat situasi di sekitanya, benar-benar menggairahkan untuk ditaklukan. Pikiran yang kotor dan menjijikan bermain-main di benaknya, kalau saja Burhan atau Masnan tahu apa yang ada di benak orang gila ini mereka akan menggidik ngeri dan jijik sekali.

Masnan yang mendengar pembicaraan mereka dan melihat keadaan ini menjadi sangat murka, dia tahu maksud hati  orang yang bernama Sakti itu, dia mengincar Burhan untuk menjadi korban kepuasannya. Membayangkannya sungguh sangat menjijikan sekali, Masnan ingin sekali meremukan kepala mereka segera, tapi dia tahu diri dengan keadaan di sekitarnya apalagi dia harus melindungi Burhan. Dia pernah mendengar Pukulan Trisula Kalajengking Merah, pukulan ini dimiliki oleh pimpinan perkumpulan Kalajengking Merah yang dikenal di dunia persilatan dengan julukan 3 Iblis Darah Gila. Perkumpulan ini sudah lama sekali ingin dibasmi oleh pasukan kerajaan maupun orang-orang dari dunia persilatan tapi selalu saja mereka dapat meloloskan diri. Mereka merupakan perampok yang terkenal dengan kekejamannya, korban mereka selalu diperkosa dulu sebelum dibunuh baik itu wanita maupun anak kecil sedangkan laki-laki dewasa suka disiksa dengan racun mereka, Racun Kalajengking Merah.

Ilmu silat ketiga pimpinan perkumpulan ini sangat tinggi apalagi jika mereka menggabungkan diri membentuk barisan trisula, jarang orang yang bisa menandingi ilmu mereka. Oleh karena itu mereka sangat sombong sekali, seolah-olah tidak takut melakukan kekejaman di tempat umum. Sudah banyak korban mereka diantaranya ada keluarga bangsawan, keluarga pesilat kenamaan, dan orang-orang kaya daerah. Mereka pernah menyatroni Basri di rumahnya tapi kebetulan saat itu kedua mertua Basri sedang datang berkunjung sehingga mereka dapat dikalahkan walau akhirnya mereka dapat meloloskan diri dalam keadaan luka parah. Peristiwa itu membuat nama mereka hilang dari dunia persilatan, tapi sepertinya sekarang mereka mulai muncul kembali setelah hampir 5 tahun tidak kedengaran lagi namanya.

Kini Masnan harus menghadapi mereka seorang diri, dia merasa kuatir juga karena harus melindungi Burhan, tadi diam-diam dia sudah melepaskan panah ke angkasa untuk memanggil bantuan dari pasukan kerajaan. Dia berharap jika pasukan itu datang dia bisa meminta mereka melarikan Burhan sehingga dia bisa berkelahi dengan tenang tanpa memikirkan keselamatan Burhan lagi dan dia bisa menangkap dedengkot perkumpulan yang sudah mengganggu ketentraman masyarakat.

Burhan yang memang bocah polos dan selalu hidup sederhana, tidak pernah menyangka bahwa di luar lingkungannya ada hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dia melihat semua kejadian di tempat itu dengan bingung dan merasa aneh dengan semua tingkah laku orang-orang yang ada di sana. Matanya menatap tajam sekitarnya dan keningnya berkerut tanda tidak mengerti, tapi nalurinya mengatakan bahwa semua yang terjadi tersebut merupakan hal yang salah tidak sesuai dengan semua ajaran kebaikan yang dia terima selama ini. Ketika matanya beradu pandang dengan salah satu pria yang ada di dekat api unggun itu, dia merasa semua bulu kuduknya berdiri dan perasaan ngeri seakan menyelimuti dirinya, otomatis dia bergerak berlindung di belakang Masnan dengan memegang jubah panjangnya. Belum pernah sepanjang hidupnya Burhan merasakan kengerian seperti ini, dia merasa orang itu menatap dia seakan ingin menelannya terlihat jakun orang itu turun naik seakan setiap saat akan melahapnya.

Tapi walaupun begitu bocah inipun bukan bocah sembarangan, dia merupakan bocah pilihan untuk mengatasi sang angkara murka, wajahnya tetap tenang dan sinar matanya tetap tajam menatap semua yang terjadi. Di wajahnya tidak ada guratan takut, kuatir atau apapun, seolah tenang dan teduh saja, hanya Masnan yang tahu betapa ketakutannya anak ini, dia merasakan tubuh anak ini gemetar dan tangannya mencengkram erat jubahnya serta jantungnya berdebar keras di kakinya. Sempat Masnan menoleh untuk memberikan ketenangan pada anak ini, tapi begitu melihat wajahnya yang tenang tidak mencerminkan ketakutannya sama sekali, Masnan dibuat kagum sekali, inilah wajah yang akan bisa menipu orang di meja judi tanpa orang tahu dia sudah menipu. Dia melihat 3 orang yang ada di api unggun itu memancarkan sinar kekaguman yang sama dengannya ketika melihat wajah tenang Burhan.

Dalam hati ketiga orang itu langsung punya dugaan bocah ini pasti didikan orang hebat, dan pria yang bersamanya pasti juga orang hebat karena mereka melihat gerakan yang mantap dari pria itu dan wajah yang dingin memandang mereka dengan mata yang tajam memiriskan hati. Mereka tahu mereka berhadapan dengan orang yang berilmu tinggi juga, karena itu mereka harus hati-hati dan tidak boleh salah langkah, sekali salah nyawa taruhannya. Mereka sudah melihat nyawa mereka menjadi taruhan dalam penyelesaian mereka dengan pria gagah itu. Tapi mereka tidak takut selain ilmu mereka sudah meningkat secara personal dibandingkan dulu dan mereka juga menyempurnakan ilmu pukulan mereka dengan bimbingan guru baru mereka yang sangat mumpuni itu. Desa ini merupakan korban kedua setelah lama mereka menyembunyikan diri untuk menyembuhkan diri dan berlatih meningkatkan ilmu silat mereka.

Dendam mereka kepada suami isteri Pendekar dari Bukit Naga selalu membara, semua cacat yang ada di tubuh mereka merupakan hasil karya sepasang pendekar ini tapi mereka tahu mereka belum bisa menandingi pasangan pendekar itu bahkan dengan ilmu andalan mereka yang terbarupun masih belum mampu menandingi gabungan ilmu kedua pendekar itu. Oleh karenanya mereka harus mempunyai rencana yang matang agar bisa menghancurkan musuh mereka itu kalau perlu menggunakan cara licik supaya berhasil. Sebelum rencana itu terlaksana mereka ingin menguji coba ilmu mereka yang sudah disempurnakan, karena saat ini mereka bertemu dengan orang yang kelihatannya bisa menandingi mereka. Melihat cara pria gagah itu bergerak dan sinar matanya, kelihatan bahwa orang ini berisi pasti mempunyai tenaga dalam yang hebat karena bisa mengeluarkan sinar mata yang tajam jernih.

Sakti yang melihat bocah bersama pria gagah itu, merasa sangat baik sekali peruntungannya karena baru sekali ini dia melihat bocah pilihan yang jarang sekali bisa ditemui, berwajah gagah dan menyiratkan ketenangan, mempunyai sepasang mata yang bening teduh menghanyutkan setiap dia memandang mata bocah itu dia merasa dia ingin menenggelamkan diri ke dalam keteduhan mata bening itu. Hasratnya menjadi menggila setiap kali memandang wajah bocah itu belum lagi bentuk tubuhnya yang tegap gagah dengan dada bidang sungguh sebuah kombinasi yang nyaris sempurna yang dimiliki seorang bocah laki-laki, dia yakin jika bocah ini besar nanti pasti akan banyak sekali gadis-gadis jatuh hati padanya. Tapi hal ini tidak boleh terjadi hanya dia seorang yang boleh memiliki bocah sempurna ini, dia tidak akan membaginya dengan orang lain. Jika dia tidak dapat bocah ini maka tidak ada orang lain yang boleh memilikinya juga, dia sudah merencanakan jika mereka kalah nanti minimal bocah ini harus mati, dia cemburu dan iri membayangkan orang lain yang memiliki bocah ini. Sungguh pikiran orang gila dan sakit batinnya sampai bisa memikirkan hal seperti itu..

Epen yang sudah tergiur melihat kuda milik pria gagah itu langsung buka mulutnya,”Hai saudara, siapa awak (kamu) ini? Apakah datang ke sini ingin ikut berpesta bersama kami ? Hahahhaa..”

Masnan menahan kemarahannya, karena dia tahu jika emosinya naik maka dia tidak akan bisa tenang memikirkan situasi di sini, dengan suara lantang mencerminkan kegagahannya dia menyahut,” Namaku Masnan, dan ini muridku Burhan, aku tahu siapa kalian. Kalian merupakan pimpinan dari perkumpulan Kalajengking Merah yang bergelar Iblis Muka Setan, Iblis Mata Juling dan Iblis Gila Bocah.”

“Wah Pinyak, hebat dia bisa tahu siapa kita tapi dia kurang ajar mengatakan kau si mata juling..hahahaha” kata Epen, dia sengaja mengatakan seperti itu karena dia tahu temannya itu paling benci dibilang mata juling.

Benar saja pria yang bermata juling itu langsung naik darah mendengar Masnan memanggil dia juling, dia merasa matanya adalah keistimewaannya yang bisa melihat segala arah dalam waktu bersamaan sekarang dihina orang dengan kata juling, langsung saja dia membuang ayam dan gadis yang ada di pangkuannya, berdiri dan bersiap ingin menyerang Masnan, tapi untung keburu ditahan temannya yang bernama Sakti.

“Sabar dulu teman, kalau kau mau menghajar dia boleh saja tapi aku harus menyelamatkan dulu bocah kesayanganku itu supaya tidak kena hajaranmu. Dan lagian waktu kita masih panjang untuk mengerjai dia…hahahaha.. janganlah cepat kita mengotori tangan kita biar anak-anak saja yang menyelesaikannya,”kata Sakti dengan congkak, dia memang yang paling licik diantara mereka, dengan mengorbankan anak buah mereka dia bisa mengukur kekuatan lawannya terlebih dahulu sebelum dia turun tangan, kalaupun akhrinya dia turun tangan, lawannya sudah terkuras tenaga melawan anak buahnya itu.

“Anak-anak hayo siap-siap kalian untuk menghadapi mainan baru.”kata Sakti kepada anak buahnya. Begitu mendengar komando dari pimpinan mereka, segera mereka meninggalkan apapun yang sedang mereka kerjakan untuk siap-siap menyerang musuh. Di sini terlihat betapa hebatnya kepatuhan anak buah kepada para pimpinannya, padahal ada beberapa diantara mereka sedang melampiaskan nafsu binatangnya, biasanya tidak mudah untuk membuat orang yang sedang di puncak gairah menghentikan kegiatannya hanya berdasarkan perintah, tapi mereka melakukan hal itu dengan tertibnya bahkan sudah membentuk barisan walau ada beberapa diantara mereka tetap dalam kondisi memperbaiki pakaian mereka yang berantakan.

Mereka melakukan ini bukan karena mereka memang menghormati pimpinannya tapi karena takut, para pimpinan tidak segan-segan menyiksa mereka jika tidak mengikuti komando, pernah dulu ada teman mereka ada yang sedang keasyikan melampiaskan nafsunya tidak mendengar perintah pimpinannya, langsung saat itu juga dikebiri oleh pimpinan, tak tebayangkan kesakitan yang diderita teman mereka itu. Sejak saat itu tidak berani lagi mereka melanggar perintah dari pimpinan walau dalam keadaan yang tidak memungkinkan sekalipun. Pimpinan mereka memang kejam tapi juga royal, semua hasil rampok dibagi rata diantara mereka, bahkan tidak segan-segan memberikan hadiah besar kepada mereka jika memang pantas diberikan.

“Bagaimana pria gagah, hebat bukan anak buah kami? Dalam sekejab mereka siap untuk menyerang saudara, jadi lebih baik menyerah saja sebelum dagingmu dicincang oleh mereka. Kami akan memperlakukan saudara dan anak saudara sebaik mungkin sehingga anda tidak akan menyesal pernah hidup di dunia ini….hahahaha…”kata Sakti dengan pongahnya kepada Masnan.

Memang dalam hati Masnan ada kekaguman akan ketaatan anak buah dari perkumpulan Kalajengking Merah ini, tidak mudah untuk membuat orang bersiap dalam kondisi asyik masyuk seperti tadi. Dari sini dia dapat menganalisa betapa hebat dan kejamnya pada pimpinan itu sehingga bisa membuat anak buahnya dalam kondisi apapun mematuhi perintah tanpa banyak gerutu dan caci maki. Masnan semakin yakin dia dalam posisi sulit melihat keadaan seperti ini, tingkat kewaspadaan dan aliran tenaga dalam ke seluruh tubuhnya semakin meningkat seiring dia merasa akan bahaya yang mengintai Burhan setiap saat. Dia melihat orang yang bernama Sakti itu tidak melepaskan tatapan matanya kepada Burhan sedari mereka datang ke tempat ini, Masnan tahu orang seperti Sakti merupakan orang yang paling berbahaya diantara 2 pimpinan yang lain. Karena itu dia harus benar-benar kosentrasi menjaga segala kemungkinan yang terjadi, yang paling dia pikirkan adalah Burhan, kasihan anak ini kalau sampai jatuh ke tangan orang yang bernama Sakti tersebut.

Semua dalam keadaan membisu, belum ada yang berani bergerak karena takut akan kalah langkah, Masnan sudah berkeputusan akan melontarkan Burhan ke atas punggung si Tunggul untuk dibawa lari menghindar dan dia tidak mau gegabah salah mengambil langkah mengingat dia akan dikeroyok dan 3 pimpinan tersebut dalam keadaan menonton, dia tidak mau semua perhitungannya meleset sehingga semakin membahayakan Burhan. Hanya sekarang dia menunggu saat yang tepat agar bisa menyelamatkan Burhan sambil menunggu bala bantuan tiba. Panah yang dia lepaskan tadi merupakan panggilan khusus kepada para wakilnya untuk menemui dia secepat mungkin. Dia mempunyai 3 wakil yang berilmu tinggi juga dan masing-masing membawahi 3 kepala regu yang juga ilmunya setara dengan pimpinan perguruan silat tingkat menengah dan masing-masing regu mempunyai 30 orang anggota.

Dia memperkirakan orang yang ada di lapangan ini berkisar 50 orang perampok termasuk pimpinannya dan ada 20 orang penduduk desa yang dalam keadaan menggenaskan. Dia berharap para wakilnya mengerti tindakan apa yang harus dilakukan dengan terlepasnya panah khusus itu sehingga dia bisa menangkap juga para dedengkot perkumpulan ini.

Keadaan ini berlangsung cukup lama, ketiga pimpinan Kalajengking Merah ini sengaja belum ambil tindakan apapun karena mereka mau melihat mental lawannya apakah sekuat yang mereka perkirakan atau tidak. Jika lawan mereka merupakan lawan yang tangguh maka kondisi seperti ini tidak akan mempengaruhinya, tapi jika lawannya mental tempe maka dia akan bertindah gegabah tidak sabaran untuk memulai gerakan di saat itulah bisa terjadi salah langkah yang mengakibatkan kekalahan bagi pihak lawan. Tapi yang mereka hadapi adalah salah satu panglima kepercayaan dari sang raja, yang berarti bukan merupakan orang sembarangan yang gampang digertak atau dipermainkan dengan mudah. Setiap panglima mempunyai ciri khas masing-masing tapi mereka semua mempunyai kesamaan dalam tingkat kesabaran yang luar biasa sekali, mereka sudah didik untuk tetap tenang dan sabar dalam segala situasi sehingga mereka tidak pernah kalah dalam pertempuran apapun juga minimal seri.

Akhirnya malah pihak Kalajengking Merah yang tidak sabaran, Pinyak yang memang paling emosional diantara mereka sudah tidak sabar ingin melihat kehebatan pria gagah itu, dia merasa pria ini bisa dikalahkan dengan begitu banyak anak buahnya dan kedua temannya dibandingkan dengan pria itu sendiri belum lagi harus melindungi bocah yang ada di sampingnya. Berarti posisi pria itu tidak menguntungkan, tadi dia sudah marah sekali ketika pria itu menghina matanya. Sekarang kesabaran dia sudah menipis apalagi melihat pria itu memandang mereka dengan tenangnya tanpa ada perasaan takut dan ngeri di matanya. Langsung saja keluar perintah dari mulutnya untuk menyerang pria itu.

“Anak-anak, hayo serang pria itu dari empat penjuru, gunakan ilmu barisan Sengatan Kalajengking.”

Langsung anak buahnya bergerak dengan cepat membentuk 4 barisan kecil yang berbentuk kalajengking, ini tidak ada dalam perkiraan Masnan bahwa dia akan dikepung dari 4 penjuru dengan ilmu barisan yang sangat rapi sekali kerjanya, dia memandang sekelilingnya dan melihat ada 4 kelompok orang yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk kalajengking. Setiap kelompok terdiri dari 12 orang yang sudah siap dalam posisinya masing-masing, ada yang membentuk seperti capit kalajengking, ada yang di belakang 1 orang mendukung temannya membentuk setengah lingkaran seakan-akan menyerupai ekor kalajengking mengandung racun itu, dan memang terlihat di tangan orang yang di atas memegang tombak yang ujungnya berkilauan berwarna merah darah yang artinya sudah dilumuri dengan racun kalajengking merah. Mereka dalam posisi siap untuk menyerang hanya tinggal tunggu komando dari pimpinannya.

“Eh Pinyak, hati-hati dengan kuda yang bagus itu jangan pula kau suruh anak-anak sengat kuda kesayanganku itu. Kuhantam kepalamu nanti kalau terjadi sesuatu pada kuda cantik itu.” Kata Epen dengan kuatir.

“Iya Pinyak, kalau sampai bocah kecintaanku tergores sedikit saja kulitnya, akan kubikin lurus kedua biji matamu itu.”teriak Sakti dengan cemas.

“Kalian berdua ini maunya apa hah? Kalau kalian kuatir dengan barang kesayangan kalian, pikir saja sendiri bagaimana caranya menyelamatkan jangan aku yang kalian salahkan, kita ini sedang menghadapi musuh tangguh jadi tidak bisa menguatirkan apapun, bisa kalah kita nanti.” Kata Pinyak dengan gusar.

“Hmmm benar juga kau, Pinyak, baiklah Sakti hayo kita serang dulu pria itu kau ambil bocah itu dan aku menarik kudanya biar leluasa anak buah kita melawan dia. Eh pria gagah, supaya kau bisa melawan kami dengan tenang lebih baik kau serahkan kuda dan bocah itu kepada kami agar bisa dijaga dengan baik. Kau tidak usah kuatir kami pasti merawat mereka berdua dengan sebaik-baiknya.”kata Epen dengan tersenyum licik.

Masnan sudah tahu bahwa mereka tidak akan melepaskan kuda dan Burhan begitu saja, akhirnya dia mengambil keputusan untuk mendukung Burhan di punggungnya sementara si tunggul dibiarkan pergi karena kuda itu akan bisa lari dengan lebih cepat kalau tidak ada yang menunggangi dan dia tidak kuatir Burhan jatuh juga. Sgera dia menggamit tangan Burhan dan berbisik pada bocah itu.

“Burhan, keadaan gawat, paman akan menggendong kamu di punggung paman, tangan kamu harus memegang leher paman dengan kuat dan kaki kamu harus melingkari pinggang paman dengan erat supaya kamu tidak lepas, apapun yang terjadi kamu harus bertahan, jangan pernah lengah karena musuh kita sangat kejam sekali. Kamu bisa dan berani melakukan itu ?”tanya Masnan.

Burhan hanya menganggukkan kepalanya karena dia tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya saking tegangnya, dan dia tahu jika ingin selamat dia harus melakukan apa yang diperintahkan, ini pengalaman pertama dan baru bagi dia di mana keselamatan dirinya terancam dan dia merasa tegang sekali ada perasaan takut tapi dia percaya pamannya tidak akan membiarkan dia celaka. Tanpa mengendorkan kewaspadaannya, Masnan mengulurkan tangan untuk mengangkat Burhan ke punggungnya dan Burhan melakukan semua yang diperintahkan, setelah merasakan posisi badan Burhan di belakangnya terasa mantap, Masnan kembali mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya.

Burhan biarpun jantungnya berdebar keras, tetapi dia tetap bisa mengendalikan dirinya untuk tetap tenang menghadapi situasi genting seperti ini. Pikiran jernihnya bisa melihat bahwa pasukan lawan sudah mempersiapkan diri untuk menyerang, walaupun dia anak-anak tapi kecerdasannya di atas rata-rata, dia bisa melihat barisan yang ada di barat tidak sebaik 3 barisan lain. Lalu juga dia melihat barisan yang di utara pemegang tombaknya terlihat dalam posisi siap sekali dan mata orang itu berkilat tajam menandakan orang ini memiliki kekuatan di atas teman-temannya. Berarti barisan ini lebih tangguh dibandingkan barisan yang lain, Burhan menatap sekelilingnya dengan tenang sambil melihat-lihat keadaan.

Dia mengambil keputusan untuk membisikan kepada Masnan tentang apa yang dia lihat, dia ingin membantu agar mereka bedua bisa melewati keadaan yang genting ini dengan baik. Dengan berbisik-bisik di telinga Masnan, Burhan mengatakan temuannya, Masnan terkejut sekali dengan bisikan Burhan tidak dia sangka bocah ini bisa melihat keadaan dengan baik sekali walaupun Masnan dapat merasakan ketegangannya. Dia mengedarkan pandangannya ke barat dan melihat memang apa yang dikatakan Burhan benar adanya, tadi dia sudah melihat hal itu tapi tidak berpikir jauh tapi setelah mendapat bisikan dari Burhan apalagi dia melihat barisan Utara memang terkesan lebih tangguh dari barisan yang lain, dia jadi merubah siasat perangnya.

Burhan yang tadinya ditempatkan di belakang punggung sekarang dia rubah posisinya pindahkan ke depan badannya, ada dua hal dia melakukan hal ini pertama dia merasa barisan Utara kuat berarti berbahaya sekali kalau Burhan ada di punggungnya, kedua dengan Burhan pindah ke depan mungkin saja dia tidak terlalu leluasa bergerak tapi dia bisa minta bantuan Burhan untuk melihat keadaan di belakangnya, walaupun Burhan belum mempunyai mata tajam bisa melihat gerakan orang yang melebihi kecepatan orang biasa, tapi minimal anak itu bisa membantu dia melihat keadaan di belakang punggungnya.

Ketiga pimpinan Kalajengking Merah melihat kejadian yang berlangsung cepat yang dilakukan oleh lawan bersama bocah itu, mereka melihat bocah itu membisikan sesuatu di telinga pria tersebut dan tidak lama posisi bocah berubah menjadi ke depan. Mereka heran apa yang dibisikan oleh anak itu kepada lawan sehingga dia mengambil posisi yang berbeda, Sakti yang memang sudah mengincar anak itu merasa bahwa bocah kali ini merupakan anak yang sangat istimewa. Dia melihat ada ketenangan yang tidak wajar di mata anak itu, seakan mata itu bisa menghipnotis orang untuk menghentikan gerakannya, hanya dengan menatap matanya yang jernih dan teduh itu. Sakti sempat merasakan dirinya seakan tenggelam, ketika pandangan matanya beradu dengan pandangan mata anak itu, ada sesuatu yang berdesir di dadanya setiap melihat bocah itu, seakan ada perintah dalam hatinya untuk menjaga pemilik mata teduh itu. Makanya dia merasa kuatir mendengar perintah temannya untuk mengurung musuh menggunakan ilmu barisan mereka. Dia tahu ilmu barisan mereka merupakan ilmu barisan yang tangguh sekali hanya bisa dikalahkan dengan ilmu barisan dari Perguruan Dewa Kuda, sangat jarang ada pendekar yang bisa menghancurkan formasi mereka, kecuali pendekar tersebut benar-benar pendekar yang mumpuni.

Dia tahu lawan sekali ini sangat tangguh tapi tidak menutup kemungkinan setiap perkelahian pasti ada yang terluka, dia kuatir akan keadaan bocah yang dikaguminya itu. Sedangkan Epen, juga menguatirkan kuda incarannya, kuda itu terus menempel di dekat tuannya, dan dia melihat kuda itu juga dalam keadaan tenang walau dia bisa melihat kuda itu merasakan ketegangan yang ada di sekelilingnya tapi tetap saja kuda itu berdiri dengan kokoh dan gagah disamping tuannya. Benar-benar kuda yang hebat sekali, Epen semakin ingin memiliki kuda luar biasa ini, jika dia berhasil menaklukan kuda itu dia yakin kuda itu akan setia padanya seperti yang ditunjukan pada majikannya sekarang.

Pinyak sudah tidak sabar dengan keadaan ini, langsung mengeluarkan aba-aba,”Serang  2 siap 1 dan mundur 1.”

Bagi orang awam, mereka tidak mengerti arti perintah itu tapi bagi mereka yang diperintah sudah tahu apa yang akan dilakukan, segera barisan selatan dan timur menyerang ke arah Masnan bertiga, ketika Masnan mendengar teriakan aba-aba itu, segera dia menepuk tengkuk kudanya sebanyak 3 kali dan langsung kuda itu berbalik arah ke barat untuk berlari kencang ke arah barat. Sedangkan pasukan Barat yang sedang melakukan gerakan mundur tidak menyangka akan diserang oleh seekor kuda yang bergerak seperti angin besar menuju ke arah mereka, pasukan ini langsung kacau balau apalagi mereka juga mendengar teriakan pimpinan mereka yang tidak boleh melukai kuda itu. Kuda itu memperlihatkan keistimewaannya dengan mampu meloncati formasi 2 orang yang berdiri menumpuk menjadi ekor tersebut dengan indahnya sehingga mereka semua terpana menatap keindahan itu, tidak lama derap kuda itu menghilang di tengah kegelapan malam semakin lama semakin menjauh dan akhirnya tidak terdengar sama sekali, itu dilakukan dalam hitungan detik saja.

Masnan yang melihat kudanya menarik perhatian lawan segera menggunakan keadaan ini dengan sebaiknya, dia mengeluarkan 2 buah pil kecil dari pinggangnya untuk diberikan kepada Burhan dan dirinya untuk menelannya. Lalu dia juga mengeluarkan 2 butir benda bulat kira-kira sebesar gundu dan menyerahkan kepada Burhan untuk digenggam dalam kedua tangannya dengan pesan Burhan tidak boleh melemparkan kedua benda itu sampai dia merasa keadaan mereka sudah parah sekali dan tidak ada jalan keluar lagi. Sungguh tanggung jawab yang berat bagi seorang anak yang baru berusia 6 tahun, tapi kembali Burhan menunjukan keistimewaannya, dia tahu pasti apa yang harus dia lakukan dan mengambil keputusan untuk melakukannya sebaik mungkin. Sebenarnya Masnan juga ingin menguji bocah itu apakah dia memang seistimewa yang diperkirakan Masnan.

Untungnya tindakan mereka berdua tidak ada yang melihat karena semuanya sedang terpana menatap kehebatan kuda yang dimiliki lawan. Ketika sadar langsung Epen berkoar-koar memerintahkan untuk menangkap kuda itu kembali, anak buah mereka jadi bingung mau mengikuti perintah siapa, di tengah kebingungan tersebut dimanfaatkan oleh Masnan untuk bergerak cepat ke arah Selatan untuk mendobrak formasi yang ada di sana, mereka yang tidak menduga adanya serangan yang datang tiba-tiba gegalapan menerima serangan tersebut. Tapi ternyata itu serangan tipuan yang dilakukan oleh Masnan, karena begitu mereka bergerak menghindarkan diri, Masnan berlari cepat menjauhi lapangan tersebut, dia sengaja melakukan itu agar mereka mengikutinya dan meninggalkan penduduk yang dalam keadaan menggenaskan itu tanpa diganggu, karena dia kuatir benda yang diberikan kepada Burhan itu kalau dilontarkan ke tanah akan meledak dan melukai orang sedangkan penduduk itu tidak dalam keadaan bisa menolong diri mereka untuk menghindar dari daya ledakan itu. Jadi lebih baik dia menyingkir mencari daerah yang lebih lapang untuk menunggu mereka.

Melihat Masnan melarikan diri, segera ketiga pimpinan Kalajengking merah menyadari bahwa mereka telah ditipu mentah-mentah oleh pria itu. Segera mereka berlari memburu sambil berteriak-teriak memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti mereka. Sakti yang tidak ingin kehilangan Burhan dengan cepat mengejar ke arah larinya Masnan, memang dian diantara mereka yang mempunyai ilmu peringan tubuh yang bagus, sehingga dia duluan sampai di tempat Masnan menunggu mereka. Dia tidak melihat Burhan, langsung dia mengedarkan pandangannya di sekitar tempat itu bahkan dia memandang pepohonan yang ada di sekitar mereka untuk memastikan di mana Masnan menyembunyikan bocah tersebut. Tetapi tetap saja dia tidak melihat bocah itu, hatinya berdebar keras sekali ketakutan kehilangan bocah yang sudah membetot hatinya itu.

“Eh pria gagah ke mana kau sembunyikan bocah tampan itu?” tanya dia dengan gusar kepada Masnan.

“Tidak perlu kau tahu ke mana dia, yang jelas dia sudah aman dari gangguan orang gilo kayak kau ini.”

“Hahaha… baiklah aku akan menangkap kau dulu dan menyiksamu sampai kau mengatakan di mana anak itu kau sembunyikan. Teman-teman, dia ada di sini.”teriak Sakti dengan nyaring sekali menggunakan ilmu suara jarak jauh. Segera saja tempat ini dipenuhi oleh teman-temannya, Pinyak langsung merepet mencaci maki karena dia harus membetulkan dulu baju dan celananya sebelum mengejar musuh yang lari cepat. Epen menyeringai buas karena tidak suka sampai dikerjai seperti tadi, musuh hampir saja lolos dan kuda incarannya sudah menghilang, dia ingin melampiaskan kekesalan hatinya pada pria gagah itu.

“Baiklah, kau memang orang hebat bisa menipu kami dengan caramu itu, tapi ini tidak berlaku untuk kedua kalinya, kali ini kau akan lumat seperti daging cincang karena sudah berani menipu kami. Hayo anak-anak cepat kalian siapkan barisan kalian, jika kalian berani lengah lagi seperti tadi kalian rasakan nanti akibatnya aku sendiri akan membuat kalian menyesal berani melanggar perintahku.”teriak Epen dengan garang.

Mendengar ancaman tersebut berlari-lari mereka mencari posisi mereka dan menyusun barisan seperti tadi dengan cepat, kembali Masnan melihat benar yang dikatakan Burhan bahwa barisan Barat paling lemah diantara semua barisan dan barisan Utara yang paling tangguh. Dia kagum sekali pada muridnya itu ternyata muridnya benar-benar mempunyai daya analisa yang tajam sekali, kelak dia bisa didik untuk menjadi ahli strategi yang hebat sekali bahkan dalam hati kecilnya Masnan tahu suatu saat nanti Burhan akan bisa melampauinya. Dan dia bisa berbangga diri bahwa anak yang hebat ini, dia ada ambil bagian dalam mendidiknya. Sekarang dia sudah siap menghadapi serangan mereka, Burhan sudah disembunyikannya di tempat yang aman, di mana mereka tidak akan pernah menduga di mana dia menyembunyikannya.

Dengan Masnan ditengah kepungan 4 barisan itu, terlihat ketiga pimpinannya menatap barisan tersebut dengan tenang karena mereka yakin sekali mampu mengalahkan orang ini. Karena Epen yang paling gusar dengan kejadian tadi maka komando ada di bawah kendalinya, kedua temannya tidak akan ikut campur karena mereka tidak mau membingungkan anak buahnya. Mereka bertiga masing-masing bisa memberikan komando kepada anak buahnya tapi tidak pernah sekaligus memerintahkan berbarengan. Bahkan jika mereka ikut bertempur mengeroyok lawan mereka, otomatis komando akan dipegang Sakti dan mereka semua tanpa terkecuali mematuhi apapun perintah dari Sakti, karena yang lain tahu Sakti yang paling cerdik dan licik diantara mereka, dia mampu membaca situasi dengan cepat sekali dan beberapa kali mereka berhasil lolos dari bahaya berkat kecerdikan Sakti. Dan sebenarnya diantara mereka, Saktilah yang paling berbakat, tapi dia memang orangnya tidak bisa dipegang buntutnya seperti seniman gila bertindak sesuai dengan angin mana yang menghembusi dia. Jadi mereka semua sepakat yang memimpin kelompok mereka diserahkan ke tangan Epen yang paling besar pengaruhnya terhadap anak buah mereka.

Dan barisan mereka sungguh dilatih dengan disiplin yang keras sekali, mereka bergerak sesuai dengan aba-aba yang diberikan, bahkan setiap hari tidak ada dilalui tanpa latihan yang keras dari pimpinan mereka, hanya saat-saat tertentu seperti sekarang ini saja mereka tidak berlatih. Tiap 1 bulan sekali mereka meliburkan diri dari latihan selama 1 minggu untuk bersenang-senang setelah itu mereka harus berlatih kembali, mereka telah melakukannya hampir 3 tahun belakangan ini, sehingga dapat dibayangkan kekompakan mereka dalam bekerjasama. Barisan mereka memang sangat terkenal di dunia persilatan bahkan didengung-dengungkan bisa menandingi barisan perguruan Dewa Kuda yang memang sudah mempunyai nama besar dalam ilmu barisan.

Epen dengan berkacak pinggang menatap tajam ke arah Masnan, dia sudah bertekat ingin melumatkan lawannya itu untuk melampiaskan kedongkolannya akibat kuda incarannya dibiarkan lolos oleh  majikannya. Epen melirik kepada Pinyak dan Sakti, dia melihat kedua temannya menganggukan kepala tanda dia boleh mulai serangan mereka.

“Depan 1, dakek (dekat),  1 tunggu.”demikian teriakan perintah Epen kepada anak buahnya, segera membentuk formasi sesuai dengan perintah itu. Tiga barisan yaitu utara, selatan dan timur bergerak mematuhi perintah sedangkan barat tetap di tempatnya semula, barisan timur dan selatan bergerak saling berdiri berdekatan dan yang utara maju ke depan dari posisi semula, jadi sekarang posisi Masnan di depan barisan Utara dan membelakangi barisan Barat, sedangkan kedua barisan lain saling bersebelahan di belakang barisan Utara.

“Serang dengan Gelombang Sengatan Memecah Bumi.”teriak Epen, segera barisan utara menyerang ke arah Masnan dengan cepat sekali sambil bagian ekor yang memegang tombak mengayunkan tombaknya ke arah Masnan, disusul dengan kedua barisan di belakang bersiap untuk menggantikan posisi utara jika berhasil dipukul. Dua belas orang bergerak berbarengan meluruk ke arah Masnan yang sudah siap sedia. Terjadi benturan dan iringan teriakan kesakitan ketika benturan pertama terjadi diantara mereka, cepat sekali kedua barisan di belakang bergerak menutupi ruang langkah Masnan untuk menghindari serangan. Masnan merasakan bahwa tenaga dalam mereka semua masih di bawah dia, tapi yang dia salut sekali adalah kerapian gerakan mereka untuk saling menutupi kelemahan atau kekosongan akibat berhasil dipukul oleh Masnan.

Terdengar lagi teriakan Epen,”Kibasan Ekor Menyengat Bumi”, segera mereka bergerak lagi membentuk formasi baru untuk menghadapi Masnan, Barisan Barat yang tadinya diam saja mulai memasuki arena pertempuran. Sekarang Masnan dikeroyok 48 orang dengan 4 tombak beracun yang selalu mengincar dia kemanapun bergerak. Masnan tentu saja tidak membiarkan tombak itu mengenai tubuhnya segera dia melakukan serangan balik dengan ilmu andalannya Manyilang Tangan Bumi Tarangkek yang bermuatan tenaga dalam tiga perempat bagian, dia tidak mau keluarkan semua karena takutnya pemimpin mereka turun tangan dia tidak bisa melawan mereka. Itu saja dia sudah bisa mengimbangi formasi tersebut, melihat hal ini Epen tambah naik darah, dia memerintahkan lagi,” Terjangan Kaki Hantam Bumi” ini merupakan ilmu ketiga pada barisan kalajengking, berarti tinggal 2 gerakan lagi dalam formasi itu.

Keadaan ini berlangsung cukup alot dan dahsyat sekali, mereka yang jatuh bangun karena pukulan Masnan langsung bangkit kembali dan bergerak ke dalam formasinya untuk mengurung Masnan. Sungguh sebuah formasi yang sangat tangguh, mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh mematuhi setiap perintah yang diberikan. Masnan melihat walaupun pimpinannya memberikan aba-aba formasinya tapi dalam formasi itu sendiri mereka mempunyai pimpinan barisan yang bergerak sesuai dengan instruksi dari tombak yang digerakkan oleh orang yang bertumpu pada bahu temannya atau bisa dikatakan sebagai ekor dari kalajengking. Masnan mulai merasa keadaan ini tidak menguntungkannya mereka sudah bertempur cukup lama, dan dia tahu 48 orang itu sudah pernah kena kepalan tangan dan kakinya tapi herannya mereka seakan tidak merasakannya. Dia mulai melihat sekelilingnya sambil tetap menghindari tusukan tombak beracun itu, ketika matanya terarah kepada orang yang bernama Pinyak, dia melihat mulut orang itu komat kamit dan matanya dalam posisi lurus menatap satu arah yaitu ke arahnya.

Masnan tidak tahu apa yang terjadi tapi dia melihat setiap ada yang jatuh tiba-tiba mereka bisa berdiri kembali dalam kondisi sepertinya tidak merasakan kesakitan akibat pukulan atau tamparan yang diberikan padahal jelas sekali kondisi mereka sudah babak belur tapi tetap saja mereka mampu bergerak seperti tidak ada apa-apa. Memang Masnan tidak mau membunuh mereka langsung selain dia tidak tega dia juga ingin menangkap mereka hidup-hidup agar bisa diadili sesuai hukum kerajaan. Ini bisa menjadi contoh bagi perampok lain untuk tidak berbuat seperti perkumpulan ini. Tapi ini hanya tinggal keinginan karena semakin lama formasi ini semakin berbahaya karena para anggotanya mulai bergerak nekat mendekati dan mengepung dia.

Epen yang melihat keadaan lawan sudah agak keteteran menjadi senang sehingga dia menjadi meningkatkan serangan untuk segera menyelesaikan pertarungan ini. Dia bersama teman-temannya juga menganggumi pria yang bernama Masnan ini, masih dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu apapun padahal ilmu yang mereka lontarkan sudah mencapai tingkat ketiga. Kini dia melihat dia bisa melontarkan ilmu tingkat empat untuk semakin menekan lawan sehingga keadaan berbalik menjadi kemenangan di pihak dia.

Terdengar teriakan menggelegar dari mulut Epen,”Marapek(merapat) Badan Sejajar Bumi” ini adalah formasi yang paling berbahaya karena semua anggota barisan kembali mengepung Masnan dari 4 penjuru tapi dengan posisi kaki setengah ditekuk bahkan yang bergerak seperti capit, semua berjongkok dan orang yang bertumpu di badan temannyapun sudah turun ke belakang tombak tetap terentang di atas kepala. Tiba-tiba terdengar desingan tombak dari 4 penjuru menyerang Masnan, dan capit yang tadinya berjongkok begerak bersamaan meloncat ke depan menubruk kaki Masnan.

Dia diserbu dua arah dari bawah dan atas, jika dia mengelakkan tubrukan kaki meloncat ke atas sudah pasti tubuhnya menjadi sasaran empuk tombak, jika dia merunduk kakinya disamber dari bawah. Yang hebatnya lagi ke empat tombak berdesing ke arahnya tidak pada ketinggian yang sama, bahkan mereka berjenjang mulai dari setinggi si bawah pusar, setinggi perut, setinggi dada dan setinggi leher, semuanya susul menyusul dari 4 penjuru, jadi hanya orang2 yang benar-benar mempunyai ilmu peringan tubuh tingkat tinggi yang mau mengelak dari lontaran tombak itu. Dan dia tahu dia tidak punya ilmu seperti Kahar dalam hal ilmu peringan tubuh, tapi dia punya tenaga dalam yang kuat sekali yang bertumpu pada bumi, oleh karena itu dia memutuskan merundukan badannya dan memperkokoh kuda-kudanya mempersiapkan dirinya menggunakan ilmu Hempasan Angin Tabangkan Awan untuk menerima serangan dari bawah.

Jadi sebelum tombak itu mengenai tubuhnya segera dia mengayunkan tangannya ke arah bawah, terjadilah benturan yang hebat sekali dan terlihat orang yang berusaha menyambar kaki Masnan tadi terlempar semua ke belakang dengan wajah berlepotan darah karena tinjunya bersarang di wajah mereka dengan telak sekali, menimpa temannya di belakang yang sedang menunggu untuk membantu serangan mereka. Sedangkan tombak yang dilontarkan hanya sedikit sekali jaraknya dari punggung Masnan yang buru-buru merunduk menghindari serangan, diterima oleh masing-masing pemegang tombak, ini artinya tombak tersebut sudah bukan milik semula semua bertukar posisi sesuai dengan arah lontaran.

Benar-benar serangan yang berbahaya sekali, kini Masnan tahu kalau dia ingin segera menyelesaikan pertempuran ini dia harus secepatnya menyikirkan lawannya, yang berarti dia harus membunuh atau minimal melukai berat mereka. Segera dia merapal ilmu andalannya dalam tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya, dan bersiap menerima serangan berikut. Dan kembali dia melihat keanehan orang yang sudah kena hajaran dia dengan keras sekali, masih bisa berdiri dan membentuk formasi kembali, bahkan dia tidak melihat di wajah mereka rasa sakit akibat pukulannya itu. Dia memalingkan kepalanya ke arah pria yang bernama Pinyak itu dan dia melihat pria itu sedang komat kamit dan dari kepalanya keluar asap berkilauan keperakan dari ubun-ubunnya.

Langsung dia dapat menduga pria ini mempunyai ilmu hitam yang bisa menghipnotis orang untuk tidak merasakan kesakitan atau yang lebih dikenal di dunia persilatan dengan sebutan Ilmu Hitam Panarik (penarik) Sukma, ilmu ini sudah lama hilang dari dunia persilatan tapi kini bisa muncul lagi ini artinya dunia persilatan akan diguncang kembali dengan prahara. Tapi dia bisa melihat ilmu yang digunakan pria itu belum terlalu sempurna bahkan masih belum menyamai sang empunya ilmu ketika waktu dia kecil dulu melihat gurunya bersama para sahabatnya menghadapi Bandaro Rumbiah (sejenis daun yang digunakan untuk atap) seorang iblis yang mempunyai ilmu kebatinan aliran sesat tingkat tinggi. Dia mampu membuat orang yang setengah karat tetap melanjutkan pertempuran dengan tenaga yang sama seperti dia normal. Akhirnya Bandaro Rumbiah berhasil dibunuh, dan beredar kabar ilmu itu lenyap bersama meninggal sang pencipta ilmu itu. Tapi kini ilmu itu muncul kembali berarti ilmu jahat itu sudah ada perwarisnya, dia harus berhati-hati kalau ingin bisa selamat dari pertempuran yang mematikan ini.

Kembali dia diserang dari segala arah, pertempuran semakin lama semakin tidak beres, tenaga Masnan tambah lama tambah terkuras sedangkan musuh sepertinya tidak berhenti juga tenaganya tetap seperti semula. Dia melihat keadaannya benar-benar tidak menguntungkan, bala bantuan yang diharapkan tetap saja belum datang. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk meningkatkan penggunaan tenaga dalamnya sampai tingkat tertinggi dan melontarkan puncak ilmunya Hampasan Angin Tabangkan Awan pada jurus terakhir. Dia mulai mempersiapkan dirinya, sedangkan Epen melihat bahwa lawannya akan mengerahkan ilmu mautnya kepada mereka, segera dia meningkatkan penggunaan ilmu barisannya ke tingkat kelima, teriaknya,”Kalajengking Merah keluar sarang!”

Dan semua barisannya tiba-tiba bergerak bergabung dan membentuk kalajengking besar dengan capit di kiri kanan, 4 orang yang memegang tombak memecahkan diri dua-dua orang membentuk capit, sedangkan di ekornya telah ada Sakti dengan tangan sudah memegang tombak pula berdiri di pundak kedua temannya Epen dan Pinyak. Mulut Pinyak masih dalam keadaan komat kamit, tapi tidak seperti tadi berdiri diam sekarang dalam posisi menahan tubuh Sakti yang akan bergerak menyerang seperti ekor kalajengking. Keadaan terasa semakin memanas, masing-masing pihak mengerahkan ilmu tertingginya untuk mengalahkan lawan. Keadaan ini sudah diperhitungkan oleh Masnan, hanya yang tidak pernah dia pikirkan adalah di jurus terakhir semua pimpinannya turun tangan sendiri.

Hal ini terjadi karena Sakti sudah melihat lawan sekali ini benar-benar hebat sekali sudah bertempur kurang lebih 2 jam tapi masih dalam kondisi tegar, kalo lawan lain sudah dari tadi kalah. Si licik ini bisa melihat walau mereka bergabung menjadi satu sesuai dengan ilmu mereka tetap saja mereka membutuhkan waktu yang lama untuk mengalahkan pria ini. Sedangkan dia merasa ada yang tidak wajar seakan-akan pria ini menunggu-menunggu sesuatu karena seharusnya dengan ilmu yang dia miliki dari tadi barisan mereka sudah hancur, bahkan mungkin sekarang mereka bertiga yang sedang bertempur dengan pria ini. Karena itu dia membisikan ke telinga teman-temannya dengan ilmu pengirim suara untuk segera menyudahi pertempuran ini, artinya mereka semua harus siap-siap terjun ke arena pertempuran dan membentuk formasi kalajengking besar.

Teman-temannya langsung menyetujui, karena mereka sendiri sudah mulai gemas dan kuatir seandainya mereka terbantai malam ini. Segera formasi besar itu mulai mengitari sekeliling Masnan dengan kecepatan pelan tapi sangat teratur dan rapi sekali. Keempat orang yang akan bertindak sebagai capit sudah mulai menghunuskan tombaknya ke arah Masnan dengan keadaan saling memunggungi satu dengan yang lain. Sedangkan Sakti sendiri sudah bersiap-siap untuk mengkomandoi pertempuran kali ini, dia sudah tidak sabar ingin segera mengetahui keberadaan bocah yang telah menawan hatinya itu.

“Serang kanan, mundur kiri.” Segera mereka melakukan perintahnya, dan Masnan yang menghadapi serangan capit kanan berusaha menangkis hujaman tombak ke arahnya, tapi baru dia mengangkat tangannya untuk menangkis capit, dari atas kepalanya sudah datang tombak yang dipegang Sakti yang menghujam ke kepalanya. Sungguh sebuah serangan yang ganas sekali kecepatan ekor jauh lebih menekan dari sebelumnya karena dilakukan oleh 3 pimpinan perkumpulan ini yang mempunyai ilmu dan tenaga dalam yang selisihnya tidak jauh dari Masnan.Gerakan Sakti yang ditopang oleh kedua kawannya sungguh hebat sekali, ekor itu bisa bergerak ke segala arah dengan tingkat kedinamisan yang tinggi sekali jauh dibandingkan dengan permainan anak buah mereka. Temannya bisa memegang kedua kaki Sakti dan mengayunkannya ke segala arah dengan tenaga dalam gabungan mereka bertiga sehingga menghasilkan tingkat serangan yang mematikan. Mulailah Masnan kewalahan dengan semua serangan ini, dia harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bisa menahan serangan mereka.

Perlahan-lahan dia mulai keteteran dan harus mundur sampai jungkir balik menghindari serangan capit dan ekor barisan ini. Suatu saat tiba-tiba terdengar teriakan Sakti,”Kena kau,” dia melihat peluang untuk menghantam dada Masnan dengan tombak, padahal di saat itu Masnan sedang mencoba mengibaskan serangan dari kedua capit. Masnanpun berpikir kali ini kena dia akan tombak beracun itu, tapi emang Tuhan yang punya kuasa di saat genting itu tiba-tiba terdengar seperti suara deru ombak yang kencang sekali di telinga semua orang dan itu terasa menusuk-nusuk telinga mereka sehingga mengganggu kosentrasi mereka semua. Tapi Sakti memang hebat walau dia sempat sesaat kehilangan kosentrasi tapi dia tetap bisa melanjutkan serangannya, Masnan yang juga terpengaruh gelombang suara deru ombak itu semakin keteter dengan serangan dari Sakti. Untuk mengurangi kerusakan yang timbul akibat tusukan tombak didadanya itu dengan cepat dia menyilangkan tangannya ke dada untuk menahan tusukan tombak yang datang, dia rela kehilangan satu tangannya daripada mati tanpa perjuangan untuk hidup walau dia sudah mati langkah.

Ternyata Tuhan berkehendak lain, tombak yang mengarah ke dada Masnan, tiba-tiba hancur seperti debu dihantam oleh sebentuk kepalan tinju yang tidak jelas datangnya dari mana. Sakti yang memegang tombak itu sampai terlempar jauh bersama kedua teman yang memegang kakinya itu, getaran tinju yang sarat dengan tenaga dalam itu benar-benar menggetarkan dada mereka semua, sehingga mereka muntah darah menahan getaran tenaga dalam itu. Tapi mereka masih belum terluka dalam, mereka melihat keadaan yang sangat tidak menguntungkan tersebut buru-buru mereka melarikan diri meninggalkan semua anak buahnya untuk menahan kejaran orang hebat itu. Para anak buah melihat pimpinannya lari, semua ikutan berlari mengejar pimpinannya, dalam sekejab terdengar derap kaki orang yang berlarian semakin lama semakin menjauh. Masnan bergerak hendak mengejar mereka, tapi tiba-tiba di telinganya terdengar suara, “Sudah jangan dikejar lagi, kamu harus mengobati luka di tanganmu yang tergores tombak beracun itu.”

Kaget Masnan mendengar hal itu, dia tidak sadar bahwa ternyata tangannya sempat tergores oleh ujung tombak, dan dia melihat tangan kanannya disekitar goresan berubah berwarna merah menghitam dan dia merasakan aliran darahanya mulai membaca racun tersebut, buru-buru dia menotok tangannya untuk menghentikan aliran darahnya, tapi belum sempat dia melakukannya dia merasa tangannya seperti ada angin yang menggores lebih besar lukanya, segera saja darah hitam keluar dari luka yang menganga di tangannya itu mengalir dengan derasnya seakan-akan ada yang mengurutnya untuk keluar, memang dia merasakan ada tekanan udara pada lengan itu. Dia kaget sekali ada orang yang demikian hebatnya bisa melukai tangannya hanya dengan angin kibasan tangannya dan menekan urat di lengannya dari jarak jauh. Segera Masnan menegakkan kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang membantunya itu, tidak terlihat orang sejauh matanya memandang kegelapan malam ini. Matanya yang sudah terlatih untuk melihat kegelapan tidak mampu melihat di mana orang itu tepatnya berdiri. Tidak lama pengobatan itu selesai, terdengar suara,”Hmmm racun di tubuhmu sudah aku keluarkan, buka mulutmu makan obat penawar ini,” terdengar desingan angin cepat sekali mengarah ke mulut Masnan.

“Kau balutlah lukamu segera dengan bubuk ini,”kembali terdengar desingan angin ke arahnya, dia sudah berusaha melihat darimana datangnya angin itu tetapi tetap dia tidak bisa melihatnya. Cepat dia menyambut bungkusan kecil yang dilemparkan kepadanya itu, dan membuka bungkusan serta menaruh bubuk itu di sepanjang luka goresannya itu, anehnya langsung lukanya mengering dan tidak lama kulitnya langsung menutup, yang terlihat hanya sebuah goresan panjang di tangannya seperti orang terluka akibat goresan kertas. Sungguh obat yang mujarab sekali dan dia ingin berterima kasih kepada penolongnya,”Tuan, terima kasih atas pertolongan tuan, budi besar ini akan saya bayar kelak, siapakah gerangan tuan.”

“Aku tidak butuh balas budinya, hanya pesanku lain kali berhati-hatilah, jangan gegabah membawa anak kecil ke medan pertempuran seperti ini.” Kata suara itu.

Masnan menyadari kesalahannya seharusnya dia tidak membawa Burhan ke tempat orang-orang jahat itu berkumpul, dia seharusnya meninggalkan anak itu di pinggiran hutan bersama kudanya sementara dia menyelesaikan pekerjaannya. Inilah kecerobohannya akibat rasa ego ingin mempunyai murid yang hebat melebihi teman-temannya, padahal dia sudah tahu bahwa muridnya tidak kalah istimewanya dibandingkan murid temannya. Sadarlah dia bahwa selama ini walau sedikit ada perasaan penasaran ingin mempunyai kelebihan yang bisa dibanggakan dari teman-temannya seperti Kahar yang mempunyai ilmu silat lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang lain. Dengan cepat dia memohon maaf kepada sang Pencipta agar dia diberi kelapangan hati dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sesaat dia sudah tidak merasakan lagi kehadiran orang itu, tapi sempat dia terpikir olehnya darimana orang itu tahu dia bersama seorang anak di medan pertempuran ini. Tapi mengingat betapa hebatnya orang ini, dia yakin orang itu berkat tenaga dalamnya yang tinggi mempunyai pendengaran yang sangat peka sehingga bisa membedakan tarikan nafas orang dewasa dengan anak kecil. Dia sudah menyembunyikan Burhan dengan lihai sekali bahkan tadi lawan-lawannya saja sampai tidak tahu ke mana dia menyembunyikan anak itu. Mengingat Burhan, buru-buru dia berjalan ke arah pohon paling besar di situ dan mendorong pohon itu ke arah samping sedikit lalu dengan berjongkok memasukan kepalanya ke dalam lubang kecil yang ada di bawah akar pohon itu.

“Burhan, kamu mendengarkan paman?” lama tidak ada jawaban terdengar, mulailah Masnan cemas kalau terjadi sesuatu pada anak itu, karena tadi saking terburu-buru dikejar musuh begitu melihat tempat persembunyian yang bagus ini dia langsung saja memasukan Burhan ke dalam lubang kecil ini. Lubang inipun ditemukan tidak sengaja, saat dia sedang memandang sekeliling melihat di mana dia akan menyembunyikan Burhan, tiba-tiba Burhan memandang ke arah pohon tersebut, dia merasa ada yang aneh pada pohon itu kenapa pohon ini bisa berdiri condong ke arah kiri dan akarnya sampai keluar sebagian di permukaan tanah.

“Paman, lihat pohon itu aneh sekali.”

Masnan yang lagi bingung hendak menyembunyikan Burhan sempat jengkel mendengar pertanyaan Burhan, tapi dia tetap saja ingin melihat pohon aneh yang dikatakan Burhan itu, dengan maksud ingin mengomeli anak itu dalam keadaan genting masih melihat hal yang aneh. Tapi saat dia melihat pohon itu dia juga merasakan keanehan pada pohon itu, cepat dia bergerak ke arah pohon itu dan melihat-lihat di sekitarnya ternyata di samping belakang pohon itu ada lubang sebesar anak kecil yang bisa dimasukin oleh anak-anak. Pas saat dia hendak memeriksa lebih lanjut tiba-tiba dia mendengar desiran angin tanda lawan sudah dekat buru-buru dia menggapai tangan Burhan untuk menyembunyikannya di dalam lubang itu.

“Burhan, musuh sudah datang, paman tidak ingin kau celaka, maka paman akan sembunyikan kau di lubang ini, apa kau takut masuk ke dalam lubang ini?” Masnan sudah berpikir jika anak ini tidak mau, dia akan melindungi anak ini sampai titik darah penghabisan.

“Tidak paman, aku percaya orang baik pasti dilindungi Tuhan.” Sahut anak ini dengan gagah berani.

“Baiklah, paman masukan kau ke lubang ini dan menutupinya dengan daun, kamu tunggu di sini sampai keadaan aman baru kau keluar atau kau tunggu sampai paman memanggilmu. Kamu mengerti?”

“Mengerti paman.”

“Kamu memang anak yang berani, paman bangga menjadi gurumu, sekarang paman masukan kamu ke dalam lubang ini.”

Tidak lama Masnan menutup lubang tempat persembunyian Burhan, Sakti hadir di depannya, seperti yang telah diceritakan terdahulu.

Sekarang Masnan sedang kebingungan karena dia sudah memanggil-manggil Burhan tetapi tetap saja tidak ada sahutan, dan tanah tempat Burhan berpijak tadi sudah amblas ke dalam, dia kuatir sekali kalau terjadi apa-apa pada Burhan bagaimana pertanggungjawaban dia kepada teman-temannya dan keluarga Burhan. Kecemasannya semakin meningkat karena sudah sekian lama dia memanggil anak itu tetap tidak ada sahutan, lubang itu terlalu kecil bagi tubuhnya untuk dimasuki, karena cemasnya dia menggali lubang itu untuk diperbesar, tapi baru sebentar dia menggali tiba-tiba telinganya menangkap erangan suara anak-anak di bawah sana.

“Burhan… Burhan… kamukah itu?” teriak Masnan ke arah lubang itu.

Kembali terdengar erangan kesakitan dari dalam sana, Masnan semakin panik tambah cepat dia menggali tanah di sekitar pohon itu.

Terdengar suara lemah,”Paman, tolong aku.”

“Kamu di mana Burhan? Paman pasti menolong kamu, tunggu sebentar paman mencarikan tali buat menolong kamu.” Masnan melihat tidak memungkinkan baginya untuk menggali tanah itu, dia kuatir malah pohon itu akan ambruk menggetarkan tanah sehingga lubang persembunyian Burhan bisa tertutup selamanya.

Oleh karena itu dia langsung berdiri, dan memasukan jarinya di mulut dan bersiul nyaring sekali dengan ditambah tenaga dalamnya saking mencemaskan keadaan Burhan, dia memanggil kudanya karena di pelananya ada tali panjang yang disimpannya untuk keadaan-keadaan darurat seperti ini. Tidak lama terdengar derap langkah yang cepat sekali menuju ke arahnya, sepertinya tidak terlihat apa-apa hanya derap dan deru angin saja mengiringi kedatangan kuda hebat itu, mungkin karena kuda itu berbadan hitam pekat seperti malam sehingga saat dia bergerak dia hampir menyatu dengan pekatnya malam.

Ketika kuda itu sudah mendekati Masnan, dia mengurangi kecepatan larinya dan berhenti pas di samping Masnan.

“Kuda pintar, kau memang hebat dan kebanggaanku.”kata Masnan sambil menepuk-nepuk lehernya, kuda itu seakan mengerti dan mengangguk-anggukan kepalanya.

Masnan mengambil tali yang ada di pelana dan mengulurkan ke lubang itu, sambil berseru,”Burhan, paman menurunkan tali ke bawah, kamu peganglan tali itu, paman akan menarikmu ke atas.”

Lama Masnan tidak mendengar apapun di bawah sana, tali yang diulurkan oleh Masnan sudah 5 tombak panjangnya baru terasa menyentuh dasar, berarti Burhan jatuh dari ketinggian yang bisa membuat patah kakinya. Memikirkan ini Masnan tambah cemas lagi, kembali dia memanggil-manggil Burhan.

Tiba-tiba talinya terasa bergerak ada yang berusaha meraihnya, “Burhan, cepat raih tali itu, nak, paman akan menarik kamu ke atas, pegang talinya erat-erat jangan dilepaskan apapun yang terjadi.”

Masnan merasakan talinya seperti diganduli benda berat dan tertarik ke bawah sedikit sesuai dengan berat benda yang ada di bawah itu. Pelan-pelan Masnan menarik beban itu ke atas, semakin lama semakin cepat tarikannya karena dia ingin segera melihat keadaan Burhan, hampir mendekati permukaan tanah dia sudah melihat memang Burhan yang memegang tali itu erat-erat, wajah dan bajunya sudah berlumuran tanah. Buru-buru Masnan menariknya dan melepaskan tali, memegang tubuh Burhan yang melemas. Masnan menghapuskan noda tanah yang ada di wajah Burhan, tiba-tiba dia terpekik kaget karena wajah Burhan seperti terbungkus semacam cairan lilin yang tebal berwarna bening sehingga masih bisa melihat wajah Burhan di bawahnya, dan hanya mata, serta semua lubang di wajahnya saja yang tidak tertutup cairan yang membeku itu.

Belum hilang kaget Masnan, tiba-tiba di sampingnya telah berdiri seorang tua yang gagah sekali memandang wajah Burhan.

“Hmmm.”katanya, suara itu mirip sekali dengan suara orang yang menolong dia. Tangan orang tua itu bergerak di sekujur tubuh Burhan sambil terus menggumam tidak jelas, semakin dia memeriksa semakin berseri wajah orang tua itu.

“Anak yang hebat dan beruntung. Mempunyai susunan tulang yang sempurna dan susunan syaraf otak yang luar biasa serta ketahanan tubuh yang hebat, benar-benar kombinasi yang nyaris tanpa cacat.”kata kakek itu dengan senang,

“Siapa nama anak ini?”tanya kakek pada Masnan.

“Burhan, tuan, dan siapakah tuan, apakah tuan yang menolong saya tadi?”

“Kamu jangan panggil aku tuan, panggil saja pak Gaek (Tua). Apakah ini muridmu?”

“Benar sekali pak Gaek,” dalam hati Masnan heran kenapa orang ini bisa tahu Burhan adalah muridnya bukan anaknya.

“Pasti kau bertanya dalam hati kenapa aku tahu dia bukan anakmu, itu dikarenakan struktur tulangnya jauh lebih bagus darimu dan bentuk wajahnya tidak ada sedikitpun yang mirip denganmu,”kata orang tua itu dengan tersenyum geli.

Masnan semakin yakin bahwa orang tua yang senang dipanggil pak Gaek ini pastilah tokoh persilatan ternama yang sudah menghilang dari dunia persilatan. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan karena dia kuatir wajah Burhan yang ditutupi oleh cairan bening itu.

“Pak, tahukah anda cairan apa yang membeku di wajah muridku ini?”

“Aku tahu, anak ini benar-benar beruntung sekali, kau pernah mendengar nama binatang Kadal Baangin (berangin)?”

“Pernah, dulu sekali diceritakan oleh guruku. Jangan katakan muridku mendapat semburan ludah dari kadal itu?”tanya Masnan was-was, karena dia pernah mendengar cerita bahwa kadal ini mempunyai kelebihan dan kekurangan, dagingnya sangat lezat sekali untuk dimakan, barang siapa yang pernah memakan dagingnya maka suhu tubuhnya akan bisa menyesuaikan diri pada lingkungannya, jadi suhu tubuh orang itu akan tetap stabil di udara dingin maupun di udara panas sekalipun. Hanya ludah kadal ini tidak baik bagi sembarangan orang, bisa menyebabkan kematian yang menggenaskan, tapi jika orang sudah pernah memakan dagingnya maka ludah ini tidak berpengaruh apapun bahkan bisa membuat bagian tubuh manapun kena semburannya, akan bisa menyembuhkan lukanya sendiri misalnya kalau orang itu kena goresan tombak seperti Masnan tadi maka luka yang menganga di kulit itu akan mengering dan menutup sendiri tanpa perlu bantuan obat-obatan apapun juga serta tidak meninggalkan jejak pada kulitnya.

“Apapun yang diceritakan oleh gurumu, itu benar adanya, anak ini sungguh beruntung sekali.”

Tiba-tiba Burhan membuka matanya dan saat dia membuka matanya dia langsung menatap wajah pak tua itu, dan orang tua itu langsung kaget menerima tatapan bening dan teduh dari Burhan.

“Hahahaha… Tuhan, Kau sungguh baik mengabulkan permohonan hambaMu yang rendah ini. Di usia yang semakin larut ini Kau berikan aku sebuah hadiah yang bagus sekali yang tidak berani aku meminta lebih,”kata kakek itu dengan berlinang air mata tapi mulutnya tetap tersenyum.

Masnan dan Burhan yang baru sadar itu terkejut melihat kakek itu tertawa dengan gembiranya sampai berlinangan air matanya. Mereka heran apa yang dikatakan oleh orang tua itu, terlebih lagi Burhan yang baru sadar dia masih kebingungan memandang sekitarnya.

“Paman, di manakah kita ini? Dan kenapa mukaku terasa tebal?” tanya dia kebingungan. Tangannya sudah terangkat hendak memegang wajahnya, tapi buru-buru orang tua itu menarik tangannya.

“Jangan kau pegang wajahmu dulu, besok siang baru boleh dibersihkan, karena cairan itu belum membeku sepenuhnya di wajahmu, jadi khasiatnya belum sempurna.”

Burhan memandang orang tua itu dengan bingung, matanya tajam menatap seakan ingin mengerti apa yang barusan dikatakan oleh orang itu.

“Anak yang baik, kau memang seorang anak yang beruntung sekali, aku melihat di tubuhmu sudah ada mengendap khasiat dari kadal yang kau makan dan juga aku merasakan aliran darahmu sangat baik sekali bahkan ada beberapa bagian jalan darahmu terbuka dengan sendirinya tanpa perlu latihan tenaga dalam untuk membukanya, ibaratnya tubuhmu sudah seperti wadah terbuka lebar yang menunggu diisi dengan tenaga dalam agar bisa membangkitkan tenaga murnimu. Boleh aku tahu selain kau makan kadal, apakah kau ada makan yang lain?”

Burhan yang berada di pangkuan Masnan masih dalam keadaan bingung berusaha menjawab pertanyaan orang tua itu,”Tadi waktu aku masuk ke dalam lubang bersembunyi, aku mendengar suara pertempuran tapi lama kelamaan aku merasa lapar sekali dan tubuhku mulai terasa sakit semua, aku tidak tahu harus bagaimana, jadi aku berjongkok di dalam lubang itu, pas tanganku meraba tanah, aku merasa tanah yang aku pegang berbeda dengan tanah biasanya, tanah ini sangat halus dan lembut sekali, tapi itu hanya ada di dinding kanan aku sedangkan dinding kiri tetap seperti tanah biasa.

Karena bosan, aku mengorek-ngorek tanah lembut itu untuk dibuat mainan, belum lama aku bermain, terdengar getaran keras yang menghantam tanah dekat tempat aku bersembunyi, dan tanah tempat aku berpijak ambruk dengan cepatnya, aku sudah tidak bisa berteriak minta tolong karena aku sendiri kaget dan berusaha menggapai di dinding supaya tidak jatuh semakin dalam. Tapi aku tidak dapat memegang apapun, aku jatuh di tanah yang empuk sekali walaupun begitu aku merasakan kakiku sangat sakit sekali. Lalu aku memandang sekeliling aku dan melihat banyak jamur yang aneh bentuknya mengeluarkan bau menyengat hidung, aku melihat semut-semut memakan jamur itu, aku pikir pasti jamur ini tidak beracun karena semut saja makan jamur ini. Aku memetik beberapa buah dan memakannya, memang baunya tidak enak tapi waktu sampai di mulut terasa enak sekali, jadi karena lapar aku memakan hampir semua jamur yang tumbuh di sekeliling aku.

Sedang aku asyik makan tiba-tiba keluar kadal yang juga ingin makan jamur yang sedang kucoba petik, dia menggigit tanganku karena kesakitan aku bales gigit dia dan dia melepaskan gigitan di tanganku dan menyemburkan ludahnya ke wajah dan leherku. Karena jijik dan kesal, ludahnya meleleh di wajah dan tubuhku, aku kembali menggigit kadal itu dengan kencang sekali, ternyata darah dan dagingnya terasa sangat manis, saking kelaparannya aku memakan binatang itu, aku sudah meminta maaf padanya karena memakan dia,”kata Burhan dengan air mata berlinang dan wajah yang merasa bersalah karena sudah bertindak kejam memakan kadal itu.

Burhan tidak pernah melakukan perbuatan seperti tadi, memakan mentah-mentah kadal yang menggigit tangannya itu, dia merasa dia sudah menjadi orang yang sama dengan penjahat tadi, makanya dia merasa sedih sekali.

Buru-buru Masnan menghiburnya,”Burhan, kamu melakukan itu karena ingin menyelamatkan dirimu, jadi apa yang telah kamu lakukan tidak salah.”

“Tapi paman jika seandainya aku tidak berebutan jamur dengan kadal itu pasti aku tidak akan memakan kadal itu,”bantah Burhan.
Kakek tua yang mendengar percakapan mereka tersenyum geli sekali, dia tahu anak yang ingin dia jadikan murid ini merupakan seorang anak yang baik dan tulus hatinya serta mempunyai prinsip. Benar-benar sesuai harapan dia selama ini, memang dia sudah memiliki 2 orang murid, mereka mengharumkan namanya di dunia persilatan tapi tidak ada yang mempunyai bakat seistimewa dan seberuntung anak ini. Dia ingin mengambil murid terakhir sebelum dia pergi dari dunia ini, ilmu terakhirnya harus ada pewarisnya, kedua murid pertamanya tidak bisa menguasai ilmunya, walau dia sudah melatih mereka dalam 2 tahun terakhir ini tapi tetap saja kemajuan mereka sangatlah lamban sekali.

Dia ingin ilmu terakhirnya ini dimiliki oleh orang yang berhati tulus dan tidak serakah, dan anak ini sangat mencocoki keinginannya itu. Mendengar guru dan murid ini masih berbantahan, dia merasa perlu menengahi.

“Anak yang baik, apa yang dikatakan gurumu benar adanya, jangan pernah menyesal apapun yang telah kau lakukan karena itu tidak menyelesaikan kesulitanmu, yang harus kau lakukan adalah berjalanlah terus ke depan dan perbaikilah semua kesalahan yang telah kau lakukan sebelumnya, agar jalan berikutnya bisa sesuai dengan hati nuranimu.”

Sungguh sebuah filsafat hidup yang sederhana sekali tapi mengandung arti yang begitu luas. Anak seusia Burhan mana mengerti dengan pernyataan dari kakek itu, tapi sungguh aneh sekali ternyata dia mengerti, karena memang anak ini mempunyai kecerdasan di atas rata-rata anak biasa dan suka menganalisa sesuatu makanya dia bisa mengerti apa yang dikatakan kakek itu walau tidak semua tapi minimal dia paham sedikit.

“Terima kasih kakek yang baik atas nasihatnya.”

Burhan berusaha bangkit berdiri dari pangkuan Masnan, tapi ternyata dia tidak mampu melakukannya, kakinya terasa lemas sekali. Masnan membantu dia berdiri, tapi karena kakinya lemas sekali akhirnya Masnan menggendongnya.

“Burhan, sekarang juga kita lanjutkan perjalanan kita, mudah-mudahan di jalan kita bertemu dengan pasukan kerajaan yang bisa bantu kita menolong penduduk desa itu.”

“Pak Gaek, kami pamit dulu karena perjalanan kami masih jauh, terima kasih atas pertolongannya,”kata Masnan sambil membungkuk hormat, dia tidak bisa merangkap tangannya karena menggendong Burhan.

“Orang muda, kamu akan mendidik anak ini?”

“Iya, ini amanat yang aku terima dari kakek guru kami.”

“Amanat, maksudmu?”

Masnan mempercayai orang tua itu, dan menceritakan secara ringkas tentang mimpi aneh Bumi, sahabatnya itu. Saat mendengar dedengkot persilatan akan ikut mendidik 5 orang anak itu dia terkejut bahkan ketika gelarnya disebut juga dia lebih kaget lagi. Jadi benar memang anak ini berjodoh dengannya, semesta sudah mengatur pertemuan ini sedemikian rupa sehingga dia juga berminat mengambil anak ini sebagai muridnya tanpa menyadari Tuhan sudah merancang buatnya.

“Hahaha… sekali lagi terima kasih Tuhan, telah Kau kirimkan anak ini untuk menjadi muridku.”

“Oya siapa namamu orang muda?”

“Nama saya Masnan, pak Gaek, dan siapakah nama bapak?”

“Apakah engkau, Masnan yang Panglima Kerajaan itu?”

“Benar sekali pak.”

“Bagus…bagus… kamu akan bisa meletakkan dasar yang baik untuk calon muridku ini.”

“Maksud bapak?”tanya Masnan kebingungan.

“5 tahun lagi aku akan menjemput anak ini untuk kudidik di kediamanku, jagalah dia baik-baik, pas siang hari nanti kau basuhlah tubuhnya di sungai yang ada di dekat sini tidak jauh dari desa sebelah Utara tempat ini. Khasiat jamur dan kadal itu pasti berguna sekali baginya, sayang aku tidak tahu nama jamur yang disebutnya tadi.”

“Selamat tinggal, sampai ketemu 5 tahun lagi.” Seiring dengan ucapan tersebut orang tua itu menghilang dari pandangan mereka. Masnan yang tahu dia berhadapan dengan orang yang hebat, penasaran ingin tahu siapa gerangan orang tua yang berwajah tirus penuh ketenangan itu.

“Pak gaek, siapakah gerangan bapak, bolehkah aku mengenal nama anda?”

Terdengar suara mengalunkan sebuah syair ,”Hai sang rembulan ke manakah kau sembunyi, aku akan mengejarmu dengan tanganku membelah lautan mencari tempat persembunyianmu di sebuah pulau.”

Mendengar syair itu Masnan tersentak kaget, itu merupakan syair yang sering disebut gurunya sebagai tanda ciri khas seorang dedengkot persilatan yang ternama jauh di atas jaman gurunya, beliau dikenal dengan nama Pandeka Tinju Lautan yang bersemayam di Pulau Bulan (dekat P. Batam sekarang). Tokoh sakti ini sudah lama menghilang dari dunia persilatan hampir 40 tahun tidak terdengar kabar beritanya, hanya anak muridnya saja yang dikenal orang karena mereka memang bergerak di dunia persilatan menunaikan tugas yang diberikan gurunya untuk membantu orang.

Kini dia melihat sendiri tokoh yang nyaris menjadi legenda itu, kalau tidak salah gurunya mengatakan bahwa dia mengundurkan diri di usia 52 tahun, jadi kalau dihitung sekarang seharusnya kakek itu berusia sekitar 90 tahun, tapi kenapa wajahnya masih terlihat lebih muda. Benar yang dikatakan dalam mimpi Bumi, bahwa salah satu dedengkot dunia persilatan akan mengambil muridnya sebagai pewaris, dia merasa bangga sekali diberi kesempatan untuk memberikan dasar-dasar silat pada muridnya. Ini artinya dia harus kerja keras agar tidak memalukan namanya di depan tokoh ini, dia berjanji akan mendidik Burhan dengan sebaiknya.

Segera dia berjalan menuju kudanya, dan naik ke punggung kuda serta mengarahkan kudanya menuju arah yang ditunjuk kakek sakti itu. Tidak lama dia berjalan, dia menemui anggota pasukannya yang sedang mencarinya, dan dia meminta mereka untuk pergi ke desa yang diserang perampok agar bisa membantu penduduk desa itu. Dua orang wakilnya dengan cepat memenuhi perintahnya dan seorang wakilnya mendampingi dia dalam perjalanan pulang ke ibukota.

Setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh kakek sakti itu untuk memandikan Burhan tepat jam 12 siang di tengah sungai dekat desa, dia melihat wajah dan tubuh Burhan berubah menjadi lebih bersih dan sehat dari sebelumnya, semua kotoran yang melekat tubuhnya bersih bersama dengan terkelupasnya cairan yang membeku itu. Wajahnya terlihat lebih bersinar dan matanya terlihat lebih jernih dari biasanya, semua orang yang melihat anak ini melihat sebuah wajah yang gagah rupawan dan mempunyai aura yang kuat sekali serta keagungan yang hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan saja. Sepintas orang akan menyangka Burhan merupakan anak dari seorang pangeran atau raja muda atau masih keluarga dekat kerajaan. Karena wajahnya sangat aristokrat sekali kelihatannya, dan ketenangan wajah ditambah dengan keteduhan pandangan matanya melengkapi seluruh nilai tambah yang ada di dirinya.

Masnan dan wakilnya melihat Burhan, seakan melihat seorang putra raja yang dalam pakaian sederhana, mereka mengagumi anak kecil ini, timbulah perasaan tenang dan damai setiap kali melihat wajah anak ini. Segera saja mereka jatuh sayang pada anak kecil ini, ada perasaan ingin melindunginya.

Jarak tempat mereka beristirahat dengan ibukota sudah dekat, Masnan mengajak wakilnya dan Burhan untuk secepatnya melanjutkan perjalanan. Burhan walaupun masih merasa uratnya sakit naik kuda, tapi perlahan-lahan dia sudah dapat irama menunggang kuda dengan baik.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju ibukota, sesampai di rumah Masnan, sang wakil berpamitan untuk pulang ke rumahnya karena mereka sampai sudah menjelang malam. Mereka disambut oleh isteri dan anak Masnan, oleh Masnan, Burhan diperkenalkan sebagai muridnya. Burhan sesuai dengan ajaran sopan santun yang dia terima langsung mengambil tangan isteri Masnan dan menciumnya sambil memperkenalkan dirinya. Isteri Masnan yang bernama Risma langsung jatuh sayang pada anak gagah rupawan yang sopan ini, dia senang sekali ternyata murid suaminya sangat mengenal sopan santun walau dibesarkan di sebuah nagari. Sedangkan Hasnah, anak Masnan, merasakan mendapatkan teman bermain dan saudara, dia senang sekali dengan hadiah yang dibawa ayahnya kali ini.

Sejak hari itu Burhan tinggal bersama keluarga Masnan untuk menerima didikan dari sang paman agar bisa menjadi pandeka hebat yang akan mengalahkan sang kegelapan dan memusnahkan sang angkara murka.
Demikianlah perjalanan Burhan menuju tempat dia melaksanakan pendidikan dasarnya, bagaimana dengan Syaiful, pengalaman apa yang diterimanya ? Apakah berbeda dengan Burhan ?

bersambung

Posted by sieklie in 17:42:08 | Permalink | No Comments »

Friday, January 11, 2008

PART II

Seperti yang diceritakan sebelumnya selesai mereka makan siang, mereka berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan bantuan yang diharapkan oleh wali Bumi pada penduduknya..


“Persoalan apa Wali Bumi, katakanlah pada kami siapa tahu kami bisa membantu!” kata Jintan.


“Yah Wali Bumi, bantuan seperti apa yang bapak harapkan dari kami mengingat teman-teman bapak orang-orang yang hebat yang sudah pasti lebih mampu menolong bapak dibandingkan kami.” Mamak Burhan angkat bicara.


“Jangan berkata begitu, memang teman-temanku ini hebat-hebat tapi justru merekalah yang menyusahkan aku karena itu butuh bantuan kalian.”kata Bumi sambil menghela nafas dan melihat sekeliling.


Mendengar hal ini para orang tua dan wali kaget sekali, bantuan seperti apa yang bisa mereka berikan jika orang hebat yang menyusahkan wali mereka.

“Pak Wali, tolong segera katakan bantuan seperti apa yang bisa kami berikan? Jangan buat kami penasaran.”kata Mamak Burhan.


Bumi melihat bahwa yang semuanya penasaran kecuali orang tua Saiful yang acuh tak acuh mendengarkan pembicaraan  ini, mereka sepertinya ingin segera angkat kaki dari rumah Bumi, apalagi mereka melihat cara Basri memandang mereka membuat mereka tambah gerah. Memang wajah Basri tersenyum tapi senyumnya sangat sinis sekali dan sorotan matanya dingin menatap mereka, sungguh suatu pemandangan wajah yang mendirikan bulu roma bila setiap kali mereka memandang ke arah Basri. Bumi memaklumi perasaan Basri yang sangat menyukai anak-anak itu, apalagi dia sudah jatuh sayang pada Saiful semakin dia benci kepada kedua orang itu.  Bumi merasa sebaiknya segera membicarakan keinginan mereka mengingat suasana hati Basri ini.


“Baiklah aku akan langsung katakan kepada kalian,  kesusahan apa yang ditimbulkan oleh teman-temanku ini,  seperti yang kalian tahu teman-temanku ini juga merupakan tokoh persilatan ternama di ranah Minang ini. Mereka sedang mencari murid untuk menurunkan ilmu silat mereka yang mumpuni ini. Kebetulan mereka menyukai anak-anak kalian dan berniat menurunkan ilmu mereka kepada anak kalian,” sengaja Bumi berhenti bicara agar para orang tua meresapi perkataannya.

Terlihat di wajah mereka kegembiraan karena anak mereka dipilih orang-orang seperti teman-teman wali yang hebat itu untuk dijadikan murid. Masing-masing dengan pemikiran sendiri bahwa kelak anak-anak mereka akan sehebat gurunya. Semua manggut-manggutkan kepalanya, dalam hati mereka merasa ini masalah kecil, mereka pasti setuju menjadikan anak mereka murid dari orang-orang hebat ini. Tapi mereka juga melihat di balik penjelasan dari wali Bumi ada hal lain yang belum diungkapkan, ini yang membuat mereka agak was-was.


“Bagaimana, apa kalian setuju anak kalian menjadi murid orang-orang hebat ini ?” Tanya Bumi.

Hampir semua mengangguk kepalanya tanda setuju, yang tidak memberikan reaksi hanya orang tua Saiful yang diam membisu saja, karena memang mereka tidak perduli akan nasib anak mereka. Bumi dan teman-temannya juga melihat hal ini, terlihat Basri saling melemparkan pandangan matanya dengan Bumi. Dalam hati Basri benar-benar kuatir jika mereka tidak setuju dia menjadikan Saiful muridnya.


“Jadi kalian setuju kan , anak-anak kalian menjadi murid teman-temanku ini?”Bumi memastikan.

“Benar bapak wali saya setuju anak saya mendapat guru seperti beliau-beliau ini.”kata Jintan.

“Saya tidak keberatan pak wali tapi siapa yang akan jadi guru anak saya, apa semuanya?”Tanya Lastri.

“Tidak semua menjadi guru anak kalian, temanku sudah memilih yang mana menjadi murid mereka. Seperti Masnan ini, beliau sudah memilih Burhan untuk menjadi muridnya.”kata Bumi sambil menoleh ke arah mamak Burhan seolah minta persetujuan.


Mamak Burhan yang memang seorang pencinta nagarinya sangat menyukai Masnan yang seorang perwira kerajaan, dia sangat senang kemenakannya didik oleh seorang perwira hebat seperti Masnan, malahan diam-diam dia ingin mengajukan permohonan kepada Masnan agar anaknya juga didik oleh perwira ini. Siapa tahu anaknya bisa hebat seperti perwira ini, walaupun dia sayang juga kepada Burhan tapi bila dibandingkan dengan anak sendiri tentu beda kadar sayangnya.

“Wali Bumi, kami setuju Burhan menjadi murid dari Panglima Masnan.”sengaja dia menyebutkan pangkat Masnan agar terdengar keren.


“Terima kasih Datuak mengijinkan saya menjadi guru bagi kemenakan anda, mudah-mudahan saya tidak mengecewakan harapan Datuak.” Sahut Masnan.


Sementara itu anak-anak yang tadinya asyik bermain dan mengobrol di sudut ruangan besar itu, mulai terlihat menegakkan badannya dan berjalan ke arah orang tua mereka yang sedang berbicara itu. Terutama Aswin penasaran sekali karena tadi dia mendengar paman Masnannya mengangkat Burhan jadi muridnya, dia ingin tahu paman yang lain memilih temannya yang mana untuk dijadikan murid.


Terdengar suara Bumi,”Dan Kahar ini memilih Bastian untuk menjadi muridnya, bagaimana Lastri apa kamu keberatan?”

Mendengar hal ini Lastri menjadi senang dan bahagia sekali, tidak pernah dia membayangkan bahwa Kahar akan memilih anaknya menjadi murid. Tadi saja dia sudah kuatir anaknya akan menjadi murid dari yang lain walau dia senang juga anaknya didik oleh orang hebat tapi kalau boleh jujur dia lebih memilih Kahar untuk menjadi gurunya. Segera dia menyetujui hal ini, dalam hati dia bahagia sekali, merasa jodohnya dengan Kahar diberikan kesempatan kedua oleh Yang Maha Kuasa. Seperti orang mabuk dia tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana mereka menjadi suami isteri nantinya. Dia tidak sadar bahwa ada yang memperhatikan dirinya yang sedang bahagia itu, mata jeli nan indah  sudah memandang wajah temannya sejak mendengar Kahar menjadi guru anaknya jadi dia tahu perubahan yang terjadi di mata dan wajah temannya itu. Hatinya berdesir melihat semua ini, walaupun dia merasa Kahar hanya memperhatikan dirinya tapi dia tidak pernah tahu bagaimana kelanjutannya nanti seperti dulu siapa sangka akhirnya mereka berpisah juga.


Lastri seorang wanita yang ceria, periang dan mudah bergaul dengan siapa saja seperti Rohaya, wanita yang pernah sangat dekat dengan Kahar dulu, sedangkan dia seorang gadis pemalu dan pendiam, tidak pandai mengambil hati seorang laki-lakipun. Akankah tali asmara mereka yang terjalin dulu akan bisa menyambung kembali, atau malah semakin menjauhkan mereka?  Siti tidak mau memikirkan lebih lanjut, dia hanya berpikir kalau memang nanti Kahar lebih bahagia bersama Lastri, dia akan merelakannya, karena bagi dia mencintai itu artinya tidak harus saling memiliki, yang terpenting ingin melihat orang yang dicintai bahagia selalu. Hal ini pernah dilakukannya dulu ketika Kahar lebih memilih Rohaya daripada dirinya, walaupun dia sangat terluka, tapi  tidak pernah di wajahnya tampil kesedihan, selalu tersenyum melihat Kahar dan Rohaya saling bermesraan di depan matanya seolah-olah hal itu tidak melukai hatinya.


Kahar sempat melihat perubahan di mata Siti, dia melihat sekilas ada sinar kesedihan yang memancar dari mata yang indah  itu, tapi belum sempat dia memastikannya sinar itu sudah lenyap berganti dengan sinar yang lembut dan penuh kasih karena Siti melihat  Aswin datang mendekatinya. Ingin sekali Kahar juga menerima tatapan seperti itu, selama beberapa hari ini sinar mata Siti memang lembut menatapnya tapi hanya sebatas itu saja tidak seperti tatapan dia kepada Aswin, sinar matanya memancar dengan penuh kasih yang mendalam bahkan cendrung seperti memuja bocah nakal itu. Dia bertekat dalam hati dalam beberapa hari ini dia akan melakukan pendekatan kembali pada Siti, apapun resiko akan ditempuh seumpama harus berlutut memohon maaf dari Siti akan dilakukannya, dia sudah tidak mau melakukan kesalahan seperti dulu yang berakhir dengan kepahitan, dia kehilangan wanita yang paling dicintainya.  Kini sekian tahun telah berlalu, dia tidak akan mengulang lagi kesalahan dan kebodohan  yang sama, bagaimanapun caranya, dia akan berusaha menjadikan Siti miliknya dan tidak akan dia lepaskan lagi.


Sementara Kahar sibuk dengan gejolak hatinya, Bumi kembali melanjutkan pembicaraannya,”Dan Karim, aku telah memutuskan untuk menjadikan dia murid utamaku bersama puteraku.”


Orang tua Karim kelihatan gembira tapi kalau menuruti hati, mereka lebih ingin Karim menjadi murid Basri karena bisa diajarkan ilmu dagang juga, siapa tahu nanti Karim bisa melanjutkan usaha mereka lebih baik lagi.

“Dan terakhir untuk Saiful telah dipilih oleh Basri menjadi muridnya. Bagaimana dengan kalian, bapak dan ibu Saiful?” Tanya Bumi sambil menatap kedua orang itu.


“Kami terserah anaknya saja, jika dia mau kami tidak bisa melarangnya,” kata ibu Saiful dengan acuh tak acuh, karena dia sudah tidak tahan lama-lama dipandangi dengan tatapan yang dingin dari semua tamu wali nagari.


“Saya lihat semuanya sudah memahami maksud hati teman-temanku ini, dan aku senang kalian bisa menerima mereka akan menjadi guru anak-anak kalian. Tapi ada sedikit hal yang perlu didiskusikan dengan kalian terutama dengan orang tua Saiful dan Mamak Burhan. Seperti yang kalian ketahui Masnan dan Basri punya kesibukan dan keluarga yang tidak berada di sini. Mereka merencanakan akan pulang dalam waktu dekat ini, ini artinya mereka juga akan mengajak murid-murid mereka ke tempat tinggal mereka.  Sedangkan Kahar karena dia seorang bujangan dan suka berkelana untuk sementara waktu akan tinggal di rumahku sampai dia mulai ingin berkelana lagi.”


Begitu mendengar hal ini langsung Mamak Burhan menyatakan ketidaksetujuannya, karena dia merasa bertanggung jawab kepada kemenakannya ini, kalau Burhan jauh dari sisinya dia tidak bisa lagi memantau perkembangan Burhan. Lastri senang mendengar Kahar akan menetap di sini, dia melihat kesempatan dia terbuka lebar untuk mendekati Kahar, sedangkan Kahar yang mendengar perkataan Bumi, kaget sekaligus senang karena secara tidak langsung Bumi mau mengatakan bahwa Kahar boleh tinggal di rumahnya sementara waktu, dia tidak akan membuang kesempatan emas ini secara percuma, jadi dia tidak komentar apa-apa mengenai hal ini. Yang paling terkejut sebenarnya adalah Siti, hatinya berdetak cepat membayangkan dia akan serumah dengan orang yang dicintainya itu. Entah apa yang akan terjadi dengan hubungan ketiga orang ini, kita lihat saja perkembangannya.


Bapak Saiful juga tadinya hendak protes tapi belum sempat dia buka suara, terdengar bisikan di telinganya,”Jika kau tidak setuju anakmu pergi, maka aku akan membuat kau menyesal telah pernah muncul di hadapanku. Tapi kalau kau setuju aku akan memberikan sejumlah uang emas untuk kau gunakan membeli rumah dan peralatan rumah yang lebih baik dari sekarang serta bisa kau gunakan untuk usaha.”


Segera dia menoleh ke arah Basri, dia menjadi bingung karena dia tidak melihat Basri buka mulut untuk bicara padanya  bahkan terlihat sedang berusaha ajak bicara anaknya dan sepertinya yang lain tidak mendengarkan apa yang dibisikan ke telinganya. Dia melihat anaknya diam menatap Basri tapi dia tidak melihat sinar takut di mata anaknya seperti jika anaknya menatap dia dan isterinya. Dia tahu sebenarnya isterinya juga suka menyiksa anak mereka, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa karena takut sang isteri akan meninggalkannya. Akhirnya karena memedam semua perasaan yang melukai hatinya membuat dia suka mabuk-mabukan sesudahnya melampiaskan semua luka hatinya pada orang di sekitarnya termasuk anaknya.


Kini dia merasa mendapat jalan menyingkirkan anak yang dibenci isterinya itu sekaligus dia mendapat uang banyak sehingga dia berharap isterinya menjadi lebih baik padanya dia. Dia berencana akan meminta uang sebanyak-banyaknya pada saudagar kaya itu dan pergi dari sini untuk tinggal di pusat kerajaan, dia tidak memperdulikan anaknya karena dia yakin saudagar itu akan bisa menjaga anaknya lebih baik lagi dan siapa tahu kalau anaknya besar nanti bisa jadi kaya raya serta memberi dia kelimpahan pada saat tuanya. Pikiran-pikiran egois ini bermain di benaknya, dan semakin memantapkannya untuk membiarkan anaknya ikut saudagar ini kalau perlu tidak usah kembali lagi.


Bumi melihat yang hanya protes Mamaknya Burhan sedangkan orang tua Saiful diam saja bahkan kelihatan bapaknya wajahnya seperti senang mendengar anaknya akan pergi meninggalkannya. Bumi menjadi muak sekali memikirkan kedua orang tua ini, jika dia yang jadi orang tua Saiful tidak akan pernah dalam kamusnya merelakan anaknya pergi dengan orang asing walaupun orang itu dapat dipercaya tapi tetap saja dia akan memaksa ikut kalau anaknya dia bawa pergi. Ternyata hal ini tidak saja dirasakan oleh Bumi, bahkan teman-temannya yang lain melihat juga hal ini, semua berpikir buruk terhadap orang tua Saiful. Dan yang paling mengiriskan hati adalah Saiful juga menyadari hal ini karena ketika Bumi mengatakan dia akan dibawa oleh paman yang murah senyum itu pulang ke kampungnya, orang tuanya tidak memberikan reaksi seperti yang dilakukan oleh mamak Burhan. Ini sangat memedihkan hatinya, dia merasa tidak berarti bagi keluarganya dan ini melukai dia dengan teramat sangat,  malah timbul ketakutan dalam dirinya seandainya dia pergi apa nanti orangtuanya akan melupakannya?


Perasaan ini menghantuinya dan membuat dia tidak ingin pergi, seketika dia menarik diri dari dekat Basri dan beringsut mendekati orangtuanya. Basri yang merasakan hal ini menjadi bingung kenapa anak ini tiba-tiba menjauhkan diri darinya setelah mendengar ucapan Bumi, apakah orang tuanya melarang dia secara diam-diam tanpa sepengetahuannya? Tapi rasanya tadi dia melihat orang tua Saiful sudah setuju untuk membiarkan anaknya ikut dengan Basri, apalagi setelah diiming-iming akan diberikan uang emas. Basri menjadi cemas dan kuatir anak itu tidak mau ikut dengannya, tadi dia sempat melihat di pergelangan anak itu ada bekas ikatan tali yang kuat, sebelumnya dia tidak melihat karena tertutup baju tangan panjang anak itu, kebetulan ketika anak itu sedang mengangkat tangannya membenahi rambutnya dia melihatnya. Hatinya terkoyak merasakan penderitaan Saiful, dia yakin di badan anak itu pasti ditemukan lebih banyak bekas luka akibat penganiayaan orang tuanya. Dia bertekat bagaimanapun caranya dia akan membawa anak ini pergi menjauhi kedua orang tua sadis itu.


Ibu Saiful juga melihat anaknya menjauhi Basri, dia yang sudah mendengar bisikan suaminya tentang uang emas yang akan diberikan kepada mereka jika mengijinkan saudagar itu membawa anak mereka, mengerutkan keningnya. Dia sudah membayangkan akan bersenang-senang dengan uang emas itu, membeli baju-baju sutera seperti yang diimpikannya, alat-alat percantik diri, rumah yang bagus tidak seperti sekarang ini seperti kubangan kerbau kalau hari hujan karena masih berlantai tanah.  Dia akan memaksa anaknya pergi dengan saudagar kaya itu, kalau perlu memakai kekerasan agar anaknya mau pergi, dia tidak rela uang emas yang hampir ada di genggaman tangannya lepas begitu saja. Dia sudah muak menjadi orang miskin terus ditambah lagi mempunyai suami yang begitu dibencinya membuat hidupnya terasa seperti di neraka, sekarang pintu surga terlihat sudah terbuka untuknya mana mungkin dia akan melepaskan begitu saja.


Sementara itu mamak Burhan masih berargumentasi dengan Bumi dan Masnan mengenai kepergiaan Burhan mengikuti Masnan, sebenarnya mamak Burhan keberatan karena dia ingin Masnan mengajari anaknya juga. Jika Masnan akan membawa Burhan pergi, ini artinya anaknya tidak akan bisa menjadi murid Masnan karena isterinya pasti tidak mengijinkan anak bungsu mereka yang baru berusia 3 tahun ikut Burhan berguru pada Masnan. Dia berharap dengan dia keberatan seperti ini Masnan akan mau mengajar Burhan di Batang Kapeh bagaimanapun caranya, karena Masnan sendiri yang meminta Burhan menjadi muridnya, ini artinya Masnan yang membutuhkan Burhan jadi pasti Masnan akan mengalah demi kepentingannya. Tapi dia salah memperkirakan hal ini, Masnan tidak bisa melakukan seperti yang dia minta karena dia harus segera balik ke markasnya, cutinya sudah hampir habis. Jadi jika memang Burhan tidak bisa ikut karena mamaknya tidak setuju, dia tidak bisa berbuat apa-apa, paling nanti dia pikirkan caranya bagaimana agar tetap dia bisa menjalankan amanat dari sesepuh itu, jadi dia tidak memaksa terlalu jauh.


Melihat Masnan tidak memaksa hendak membawa Burhan, dan sepertinya tidak menjadi masalah Burhan tidak ikut mamak Burhan menjadi bertanya-tanya dalam hati apa bukan dia yang kelewatan memaksa kehendaknya ? Karena dia tahu orang seperti Masnan pasti mempunyai tugas dan kewajiban yang sangat besar dan penting terhadap kerajaan, masak hanya gara-gara seorang anak kecil dia akan mengorbankan semuanya. Hanya karena kepentingan dia yang egois menjadikan masa depan kemenakannya jadi suram, minimal jika kemenakannya menjadi pasukan kerajaan seperti Masnan, dia akan kecipratan juga senangnya dan dia bisa mengangkat harga diri keluarganya karena mempunyai kemenakan seorang perwira kerajaan. Dia mulai menyesali tindakannya yang gegabah itu, tapi bagaimana memperbaiki keadaan yang sudah kadung seperti ini.


Tiba-tiba dia dapat akal, dia tahu Burhan sangat mengagumi perwira gagah ini, dia akan pura-pura menanyakan kepada kemenakannya apa mau ikut pergi dengan calon gurunya itu.


“Burhan,”kata Mamaknya sambil melambaikan tangannya menyuruh Burhan menghampiri dia, segera bocah itu mendatangi mamaknya,”Yah, Mamak.”sahut Burhan dengan sikap sopan. Ini tidak terlepas dari mata Masnan yang melihat bagaimana anak itu bertindak sangat sopan dan santun serta bersahaja tapi tidak mengurangi aura wibawa yang memancar dari tubuhnya.


“Burhan, kamu sudah mendengar tadi bahwa paman itu ingin mengangkat kau sebagai muridnya. Mamak setuju beliau menjadi gurumu supaya kelak besar nanti kaupun akan segagah gurumu itu. Masalahnya adalah jika kau mau menjadi muridnya kau harus ikut dia pergi ke Pagaruyuang, karena beliau merupakan perwira penting dari kerajaan kita. Mamak keberatan jika kau pergi dengan beliau karena selain tanggung jawab mamak pada ibumu juga masalahnya kau akan jauh dari mamak, jadi mamak kuatir kau tidak bisa menyesuaikan diri pada lingkungan keluarga gurumu itu. Jika kau tetap berkeras ingin ikut gurumu, karena memang ini demi masa depanmu juga nantinya, mamak tidak akan melarang sebab mamak ingin yang terbaik untukmu supaya kamu juga bisa membuat bangga orang tuamu yang sudah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanmu dari marabahaya.  Jadi nak, pikirkan baik-baik jangan kuatirkan mamak dan bibimu serta saudara-saudaramu, kamu bisa sekali-kali pulang untuk menjenguk kami disini tentunya seijin gurumu.”


Masnan yang mendengar perkataan Mamak Burhan, menjadi kagum  juga pada mamak Burhan, anak berusia 6 tahun seperti Burhan sudah diajarkan untuk menjadi mandiri dan bertanggung jawab terhadap pilihannya, sebenarnya dengan usia 6 tahun, anak-anak masih belum terlalu mengerti dengan apa itu tanggung jawab mengenai pilihan hidup mereka, tapi kembali dia kaget bercampur kagum melihat wajah Burhan, anak itu sepertinya mengerti apa yang dikatakan mamaknya dan termenung seperti berpikir dulu sebelum menjawab, terkesan hati-hati dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan, semua dipikirkannya dulu dengan baik.


Burhan memalingkan wajahnya ke arah Masnan dan bertanya,”Paman, apa benar paman menginginkan saya sebagai murid paman?”


“Benar sekali, Burhan, jika kau juga berminat menjadi muridku.”sahut Masnan.


“Paman, aku akan mempelajari apa dari paman, kalau aku boleh tahu.”


“Paman akan mengajarkan kamu banyak hal seperti ilmu agama, membaca dan menulis, ilmu silat, ilmu tenaga dalam dan lain-lain yang nantinya akan bermanfaat bagimu kelak, tapi dengan catatan kamu harus rajin dan giat belajar baru kamu bisa menjadi hebat kelak.”


“Apa aku bisa seperti paman menjadi seorang panglima kerajaan juga?” Burhan mengetahui Masnan seorang panglima dari Aswin, tadi saat mereka bercakap-cakap di sudut ruangan, Aswin banyak bercerita mengenai paman-pamannya ini, dia menceritakan sedemikian menariknya dengan cara bocahnya sehingga teman-temannya menjadi terkesima dan ingin menjadi sehebat paman-paman itu.


“Hahahaha… pertanyaan bagus. Paman tidak bisa menjawabnya, yang bisa menjawabnya hanya kamu sendiri, paman hanya tahu cara untuk bisa menjadi seorang panglima tapi apakah kamu akan menjadi panglima atau tidak nantinya semua kamu yang menentukannya sendiri.”


Kembali terlihat Burhan sepertinya merenungkan perkataan Masnan, matanya bersinar-sinar menandakan otaknya lagi berpikir keras. Masnan tahu Burhan seorang anak yang cerdas sekali dan juga sangat hati-hati, maka dia membiarkan Burhan dalam keadaan seperti itu, sampai dia siap melontarkan pertanyaan lagi.


“Apakah aku akan tinggal bersama paman dan keluarga? apakah keluarga paman tidak keberatan aku tinggal di rumah paman?”


“Jangan kuatir Burhan, keluargaku adalah keluarga yang bersahaja, kami selalu menerima siapa saja yang datang ke rumah kami, pintu rumah kami selalu terbuka untuk teman-teman dan sahabat kami yang datang mengunjungi kami. Dan lagi di rumah kami, ada beberapa kamar kosong yang biasa ditempati oleh para tamu kami yang menginap jadi kamu tidak usah kuatir kalau kamu jadi merepotkan kami. Hmmm sebelum kamu bertanya lebih jauh, paman akan mengatakan padamu bahwa paman mempunyai seorang putri yang hampir seusia kamu, jadi paman rasa kamu bisa mendapat teman bermain seusia kamu. Isteri paman juga sangat menyukai anak-anak dan paman yakin kamu akan bisa memperoleh kasih sayang dia.”


Burhan merenungkan kata-kata Masnan, “Paman, apa aku harus memanggil paman dengan sebutan guru atau paman?”

Mendengar pertanyaan ini Masnan tahu dia sudah memenangkan hati anak itu, tinggal tunggu anak itu siap memberikan jawabannya.


“Terserah kamu mau panggil apa padaku, paman boleh, guru boleh atau ayahpun boleh, aku tidak keberatan.”

Dia melihat Burhan memandang wajah mamaknya dan wajah dia secara bergantian, akhirnya dia lihat anak itu siap memberikan jawaban setelah mempertimbangkan semua seperti memang wataknya yang selalu berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata.


“Pertama aku akan tetap memanggil paman, kalau diperbolehkan,” dia memandang Masnan dan melihat anggukan Masnan, dia melanjutkan, ”Aku suka sekali menjadi murid paman, tapi aku punya syarat.”


“Baiklah, apa syaratmu, anak baik.” Kata Masnan penasaran.

“Paman, bisakah dalam setiap 2 tahun aku pulang ke sini untuk ketemu sama mamak dan keluargaku? “ 


“Tentu saja bisa, karena paman juga ingin bertemu dengan paman Bumi ini. Baiklah paman berjanji setiap 2 tahun sekali kamu boleh balik ke sini selama 2 minggu dan akan paman temani kalau tidak bisa nanti akan paman minta bantuan teman paman. Bagaimana menurutmu?”


“Baiklah paman, aku setuju, aku akan ikut bersama paman pulang.”kata Burhan tegas, dia merasa senang dengan adanya janji dari paman Masnan.


Dan mamak Burhan jadi senang sekali karena dia melihat ada kesempatan 2 tahun lagi puteranya bisa didik oleh perwira hebat ini.


“Burhan, karena kamu sudah menyetujuinya, mamak hanya bisa merestuinya dan mendoakan saja. Panglima, aku menyerahkan kemenakanku di bawah bimbinganmu, semoga kelak dia besar nanti dia akan bisa seperti anda.”


“Terima kasih atas restu dan pujian Datuak, aku tidak akan menyia-nyiakannya.”


Urusan Burhan selesai dengan sendirinya, direncanakan dalam waktu 3 hari kedepan Masnan akan pulang dengan membawa Burhan pergi. Sekarang giliran Basri karena dia juga mau membawa Saiful pulang ke rumahnya, dia berharap dia tidak menemukan kesulitan dalam hal ini.


“Bagaimana dengan kamu, Karim, apa kamu mau menjadi murid utama paman? tanya Bumi, sengaja dia menunda menanyakan Saiful karena dia ingin Saiful merasa nyaman dengan situasi ini, dia sudah melihat tanda-tanda kegelisahan pada wajah Saiful, dia tidak mau membuat anak itu jadi takut pada rencana mereka.


“Apakah nanti aku berlatih dengan Aswin, paman? “


“Iya. Apa kamu pikir nantinya kamu bisa mengalahkan Aswin? Sahut Bumi kepada Karim.


“Tentu saja bisa paman,  nanti  ketika aku sudah besar pasti aku bisa mengalahkan Aswin.” Jawab Karim dengan pasti.


“Baiklah kita lihat saja nanti, yang penting kamu rajin berlajar dan berlatih pasti bisa.”


“Paman akan mengajari apa padaku? Selama ini aku kan sudah berlatih sesuai dengan petunjuk paman, apa ada ilmu lain yang akan paman ajarkan padaku?”


“Iya, makanya kamu rajin berlatih biar kamu bisa tambah hebat lagi  dan mengalahkan Aswin.”


“Apa aku boleh ikut berlatih dengan uda Karim dan Aswin juga paman?”Tanya Bastian.


“Hahahaha… Bastian, kamu sudah punya guru sendiri, kamu tahu beliau ini lebih jago dari paman, kamu beruntung dipilih beliau jadi muridnya. Walaupun kamu sudah diajarin paman Kahar, kamu bisa berlatih bersama-sama Aswin dan Karim, supaya ilmu kamu semakin mantap. Paman juga jadi bisa lihat siapa yang terhebat diantara kalian.”kata Bumi sambil memotivasi anak-anak itu.

Sebenarnya persaingan diantara mereka inilah nantinya yang membuat mereka terus tekun mengasah diri untuk menjadi yang terbaik, untung saja mereka dididik oleh tokoh-tokoh yang memang matang kepribadiannya kalau tidak akan bisa menimbulkan iri hati diantara sesama mereka yang bisa berakibat hubungan mereka malah jadi berantakan semua.


“Dan nanti kalau Burhan dan Saiful pulang liburan, kalian juga bisa berlatih bersama, jadi pasti akan ketahuan siapa yang malas berlatih dan siapa yang rajin.”kata Bumi sambil tersenyum jahil seperti Aswin kepada anak-anak itu. Padahal sebenarnya dia juga memperhatikan wajah Saiful, apakah anak itu memperlihatkan reaksi penolakan ketika dia berbicara seperti itu, tapi dia tidak melihat reaksi apapun pada wajah anak itu, ini membuat dia kuatir karena itu dia harus memikirkan dengan cara bagaimana supaya anak itu mau berguru dengan Basri. Belum sempat dia menemukan cara terbaik untuk menyampaikan hal ini, anaknya sudah buka suara yang secara tidak langsung membantu dia meyakinkan Saiful agar mau berguru dengan Basri.


“Uda Ipul, bagaimana menurut uda, apa nanti uda bisa mengalahkan aku setelah berguru dengan paman Basri?”Tanya Aswin sambil tersenyum-senyum nakal.


Anehnya begitu Aswin yang berbicara wajah sendu Saiful langsung memberikan reaksi, matanya yang tadinya redup menjadi bersinar.  Terlihat mulutnya bergerak perlahan tapi suara yang keluar pelan sekali, hampir tidak terdengar. Aswin jadi kesal dengan cara menjawab Saiful.


“Uda, kan aku sudah bilang uda kalau bicara yang keraslah, uda, anak laki-laki masak bicaranya seperti anak perempuan.”protes Aswin dengan manja pada Saiful. Entah kenapa Saiful selalu merasa Aswin itu seperti adik yang dia tidak punya sehingga selalu berusaha untuk memenuhi semua permintaan Aswin. Ada perasaan ingin membahagiakan dan melindungi dari dalam dirinya terhadap Aswin, padahal dia tahu anak ini jauh lebih bisa menjaga diri daripada dirinya. Tapi ini juga mengherankan dirinya, Aswin selalu bisa membuat dia merasa ingin menjadi lebih baik dari dirinya sekarang seperti ada aliran dorongan semangat dari setiap perkataan dan perbuatan Aswin padanya.


Dia berusaha menjawab pertanyaan Aswin,” Uda pasti bisa mengalahkan kamu nanti, Win, lihat saja.”kata Saiful dengan nada lebih keras dan keyakinan yang tinggi.


“Jadi uda Ipul mau kan ikut dengan paman Basri untuk belajar macam-macam ilmu pada beliau?” Tanya Aswin, sebenarnya Aswin melakukan ini karena dia ingin Saiful pergi jauh-jauh dari orang tuanya yang jahat itu. Walaupun Aswin baru berusia 5 tahun tapi anak itu sudah punya pikiran seperti orang dewasa, dia tidak ingin melihat temannya disiksa seperti yang dilakukan oleh kedua orang itu.


Diam-diam dalam hati dia mencatat semua perbuatan kedua orang itu di dalam hatinya, jika dia sudah punya kemampuan dia akan membuat kedua orang itu menyesal atas semua perbuatannya. Dia tidak sadar sebenarnya dia sudah bisa melakukan hal itu,  karena saat dia pertama kali melihat bagaimana kedua orang itu menyiksa Saiful, dia sudah hampir membunuh kedua orang itu kalau saja tidak cepat gurunya datang mencegah kekuatan alam bawah sadarnya bekerja muncul di permukaan. Aswin mempunyai kekuatan tenaga kebatinan yang menjadi warisan keluarganya yang turun temurun, kekuatan ini akan muncul pada yang berjodoh saja  dan secara kebetulan kekuatan ini sekarang dimiliki oleh Aswin, tanpa yang bersangkutan mengetahuinya. Sudah lama kekuatan ini tidak pernah muncul, hampir 200 tahun tidak ada satu juga dari silsilah garis keturunan keluarga Aswin yang mewarisinya, baru Aswinlah kekuatan alam ini muncul kembali, oleh karena itu Aswin harus dididik benar-benar secara matang agar dia tidak menggunakannya secara sembarangan.


Saiful terdiam mendengar pertanyaan Aswin, dan ketika dia menatap mata Aswin dia melihat mata temannya itu menatap dengan penuh harap agar dia mengabulkan permintaannya. Kembali dia merasa seperti ada kekuatan yang mendorong dia untuk memenuhi permintaan Aswin, dia tidak ingin mengecewakan harapan yang dia lihat di mata temannya itu akhirnya dia memutuskan untuk memenuhinya. Dia tahu paman yang murah senyum itu tidak akan menyakitinya seperti kedua orang tuanya itu, sekalipun dia akan kehilangan kedua orang tuanya karena kepergiannya ini, dia tidak merasa menyesal karena dia bisa memenuhi harapan Aswin. Di dunia ini yang paling berharga dalam hatinya adalah teman-temannya terutama Aswin,  selama hidupnya baru sekali ini dia merasa berbahagia memiliki orang yang menyayanginya seperti dia menyayangi mereka. Dia melihat teman-temannya bersedia menjadi murid teman ayah Aswin dan semua berjanji akan kembali untuk mengalahkan Aswin, oleh karena itu dia memutuskan untuk menerima tawaran itu dan tidak pernah mengecewakan temannya apapun yang terjadi.

Dan dia sudah berjanji juga untuk bisa mengalahkan Aswin, dan dia tahu dia harus berlatih di bawah bimbingan orang hebat baru dia bisa menandingi Aswin, karena dia sudah melihat kemampuan Aswin untuk melakukan hal-hal yang mustahil yang bisa dilakukan olehnya dan teman-teman lainnya. Sering dia dan teman-teman yang lain membicarakan ingin bisa seperti Aswin, dia melihat Burhan dan Karim serta Bastian sudah bertekat untuk bisa mengalahkan Aswin jadi kenapa dia tidak melakukan hal yang sama. Karena selama ini dia merasa malu dia lebih tua dari Aswin tapi selalu saja Aswin yang melindunginya bukan sebaliknya, untuk itu dia bertekat harus bisa menlindungi Aswin suatu saat kelak.


“Bagaimana uda Ipul, jadi tidak ikut paman Basri, uda bisa pulang 2 tahun sekali seperti uda Burhan bertemu dengan kami di sini, lalu kita bisa latih tanding siapa yang paling hebat,”Tanya Aswin mendesak karena dia takut temannya tidak mau pergi.


“Baiklah Aswin, demi kamu, aku akan ikut paman Basri,”kata Saiful pelan tapi tegas menjawab pertanyaan Aswin.


“Hore…. Asyik… Nanti aku akan punya lawan tanding, tidak seperti sekarang aku bosan tidak ada teman tanding ilmuku… Terima kasih teman-teman, aku tunggu kalian untuk menandingi aku,” kata Aswin sambil melonjak-lonjak kegirangan.

Basri mendengar percakapan kedua anak itu merasa lega sekali akhirnya Saiful mau ikut dirinya, dia berterima kasih kepada Aswin karena telah memungkinkan hal itu. Bumi juga senang anaknya bisa membantu teman-temannya untuk menjalankan amanat dari sesepuh. Sedangkan anak-anak lain tersenyum senang dan bahagia juga merasakan kegembiraan Aswin, mereka bertekat akan belajar sebaik-baiknya agar  bisa mengalahkan teman mereka yang nakal ini. Selama ini mereka selalu kalah jika bertanding apapun dengan Aswin baik itu adu lari, adu kecepatan tangan, adu memanjat,  bahkan Aswin bisa memecahkan batu bata dengan tangannya. Dan mereka ingin bisa melakukan hal itu, dan entah kenapa Aswin selalu bisa membangkitkan perasaan persaingan di dalam diri mereka tapi anehnya mereka tidak iri akan kemampuan Aswin karena teman mereka ini tidak pernah menyombongkan kemampuannya bahkan membantu mereka untuk bisa seperti dia.


“Paman Basri, aku titip temanku uda Saiful, tolong paman menjaga dia dengan baik yah, karena aku tidak mau lihat dia bersedih lagi dan aku ingin saat dia kembali nanti dia akan bisa lebih sering tersenyum seperti paman,”kata Aswin dengan jahil tapi Basri juga melihat di balik kejahilannya Aswin menatap penuh harapan padanya agar bisa membantu teman yang dia sayangi itu.


“Aswin, jangan kuatir paman dan bibi pasti akan menjaga uda Saifulmu dengan sebaik-baiknya, tidak akan mengecewakan harapan kamu,” sahut Basri dengan tersenyum.


“Terima kasih paman,”kata bocah nakal itu.


“Nak, paman akan membawamu pergi dalam 3 hari ini persiapkanlah semua keperluanmu, nanti paman akan jemput kamu di rumahmu pagi-pagi sekali agar kita bisa naik kereta dengan santai,”kata Basri kepada Saiful.


Saiful menganggukkan kepalanya, dia tidak berani memandang orang tuanya karena takut melihat tatapan marah dari kedua orangtuanya, dia merasa di rumah nanti pasti kedua orangtuanya akan memukul dia karena telah lancang ambil keputusan seperti itu, tapi dia sudah tidak perduli lagi karena dia nekat ingin memehuhi janjinya kepada Aswin, tidak ada yang bisa mencegah dia untuk membuat Aswin bahagia seperti tadi.


Hari menjelang sore ketika mereka meninggalkan rumah wali nagari, sudah ada kesepakatan diantara mereka mengenai pembicaraan tadi. Masnan dan Burhan serta Basri dan Saiful dalam waktu 3 hari ke depan akan berangkat meninggalkan nagari Batang Kapeh menuju rumah masing-masing. Sedangkan Kahar berhubung dia tidak punya tempat yang dituju maka untuk sementara dia akan menetap di rumah wali Bumi sampai saat dia akan pergi ke Gunung Merapi sesuai dengan saran Datuak Inyiak Balang dalam rangka memperdalam ilmunya.


Tidak banyak terjadi dalam 3 hari ke depan, hanya yang ada sebuah perestiwa kecil yang membuat hubungan Kahar dengan Siti membaik. Ini bermula dari kenakalan Aswin, anak nakal ini suka sekali mandi di lubuk (danau kecil)yang ada dalam hutan, air di lubuk ini sangat jernih berasal dari air terjun yang mengalir dari atas bukit. Suatu siang karena panas sekali anak nakal ini ingin sekali mandi di sana tapi dia tidak ingin mandi sendiri, dia tidak bisa mengajak gurunya yang sedang asyik bersemedi, dia juga tidak bisa mengajak bundanya  yang sedang pergi keluar memetik daun obat, apalagi mengajak sang ayah yang sejak pagi tadi sudah pergi dengan teman-temannya entah ke mana. Yang tinggal di rumah hanyalah Kahar yang memang dari tadi pagi sedikit merasa kurang enak badan sehingga memilih untuk tinggal di rumah beristirahat.


Melihat hal ini, Aswin mengajak Kahar untuk pergi ke lubuk tersebut, dengan bujuk rayu yang tidak tertahankan akhirnya Kahar mengabulkan permintaan Aswin. Pergilah mereka ke lubuk tersebut, dan sesampai di sana ketika Kahar melihat air jernih dari lubuk itu langsung terbit keinginan di hatinya untuk berenang bersama Aswin.  Kedua laki-laki satu besar dan satu kecil asyik sekali bermain air dan berenang-renang di lubuk itu, terdengar gelak tawa dan jeritan senang dari kedua orang itu. Mereka tidak sadar ada sepasang mata yang indah sekali menatap mereka dengan tersenyum maklum atas kelakuan kedua orang ini. Sepasang mata milik Siti ini menatap dari gua di balik air terjun, dari tadi sebenarnya Siti sudah menyadari kehadiran mereka, dia memang punya kebiasaan setelah sibuk seharian mencari daun obat, dia suka sekali berenang di lubuk ini dan beristirahat dalam gua di belakang air terjun. Dia sedang mengeringkan tubuh dan rambutnya ketika kedua orang ini datang dan menyeburkan diri mereka.


TIba-tiba Kahar merasa bulu kuduknya berdiri dan sesaat dia tertegun merasa kehadiran seseorang di sekitar mereka, yang anehnya dia merasakan kehadiran Siti bukan orang lain. Segera dia mengedarkan matanya di sekeliling lubuk untuk melihat apakah benar ada orang di sekitar mereka. Dia tidak melihat ada orang,  dia berdiri mematung memandang ke arah hutan, Aswin yang melihat keadaan Kahar jadi bingung dan bertanya. Kahar mengatakan bahwa dia merasa kehadiran seseorang di dekat mereka. Aswin langsung mengerti apa yang dimaksudkan Kahar, karena dia sudah tahu bahwa bundanya suka beristirahat di gua, pasti yang dimaksudkan oleh pamannya itu adalah bundanya.


Segera dia menarik tangan sang paman untuk berenang mendekati air terjun yang berada cukup jauh dari tempat mereka berenang sekitar 8 tombak. Kahar yang tidak mengerti maksud Aswin menurut saja ditarik, dia berpikir anak itu mengajak dia bermain dengan air terjun walau dia tetap merasakan getaran kehadiran Siti di dekat mereka. Sebenarnya dia penasaran sekali, tapi dia berusaha menepis perasaannya karena dia kuatir dia hanya terlalu banyak berkhayal mengenai Siti sehingga di saat-saat seperti inipun dia merasa kehadiran Siti.


Siti yang sibuk mengeringkan rambutnya tidak menyangka bahwa kedua orang yang tadinya diintai olehnya sedang berenang menuju ke arahnya. Siti dalam kondisi memakai baju dalamnya yang tipis karena baju luarnya masih lembab dikarenakan baju tersebut habis dicuci akibat kena Lumpur saat dia mendaki bukit untuk mengambil daun obat, tidak menyadari mereka sudah ada di balik air terjun dan sedang naik untuk masuk ke dalam gua. Kahar tidak menyangka di belakang air terjun ada sebuah gua, menjadi ingin masuk ke gua untuk melihat ke dalamnya.  Ternyata gua ini cukup terang karena di langit-langit gua ada sebuah lubang yang cukup besar sehingga bisa dimasuki cahaya dari luar membuat gua itu terlihat jelas dalamnya.


Saat itulah Kahar dan Aswin melihat sebentuk badan perempuan yang tinggi langsing dan berkulit sawo matang yang mulus sekali dalam balutan kain tipis berwarna putih, jantung Kahar seakan berhenti berdetak karena secara naluri dia tahu siapa gerangan wanita tersebut. Hal ini dipertegas dengan teriakan Aswin memanggil Siti dan saking kagetnya Siti langsung memutar badannya ke belakang tanpa mengingat bahwa dia tidak menggunakan baju sepantasnya. Terpampanglah di depan mata Kahar sebentuk tubuh wanita yang elok dan indah dipandang mata, dengan kedua bukit dada yang terlihat ranum seperti mangkuk, perut yang datar dan di tengahnya seperti ada jalur yang seksi sekali, serta kedua tungkai yang seperti bulir padi sangat menggiurkan mata laki-laki yang melihatnya.


Tidak berkedip mata Kahar melihat keindahan yang dimiliki sang pujaan hati, tak terasa mulutnya menganga sehingga meneteskan air liurnya. Aswin yang senang sekali melihat bundanya tidak memperhatikan keadaan Kahar, dia sudah berlari menghampiri sang bunda dan menubrukan badannya, Siti yang tidak siap dengan kehadiran mereka tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, akibat tubrukan dari Aswin hampir jatuh terjengkang ke belakang, keburu ditangkap oleh Kahar, yang entah bagaimana bisa bergerak cepat sekali menahan tubuh Siti supaya tidak terjatuh.


Sesaat mereka berdua tidak tahu hendak berkata apa hanya saling memandang saja, Kahar tidak melepaskan tangannya dari tubuh Siti dan Siti tidak berusaha keluar dari pelukan Kahar. Keadaan ini cukup lama, dan Aswin melihat hal ini, anak yang tidak mengerti apa-apa ini terheran melihat kedua orang dewasa ini hanya saling menatap tapi tidak saling bicara. Bolak balik matanya menatap Aswin dan Siti berulang kali, akhirnya karena tidak tahan lagi dia menarik tangan Siti dan bertanya kepada mereka mengapa tidak saling berbicara.  Mereka seperti disadarkan oleh keadaan mendengar suara Aswin, segera Siti berusaha melepaskan diri dari pelukan Kahar tetapi Kahar sepertinya berat melepaskan tangannya dari tubuh molek wanita yang telah menambat hatinya itu, jauh dalam dirinya getaran gairah kejantanannya berdetak keras sekali. Nafsu dan gairah  ingin memiliki sang pujaan semakin menghunjam dirinya dengan kuat sekali, dia sadar hal ini timbul karena perasaan cinta dan rindunya kepada Siti yang terpendam sekian lama.


Akhirnya Siti terbebaskan dari pelukan Kahar, tapi ini menyebabkan dia tambah malu sekali sekarang Kahar bisa melihat tubuhnya setiap detailnya dengan jelas sekali cahaya yang memantul di gua mempertegas pemandangan yang ada di depan mata Kahar. Dalam hati dia berjanji ini adalah yang terakhir kalinya dia memeluk Siti dalam keadaan seperti ini hanya dalam waktu sebentar saja, lain waktu jika dia memeluk wanita molek ini lagi pasti dia akan memuaskan dirinya dalam waktu yang lama sekali…. Dia sudah membayangkan apa saja yang akan dia lakukan dengan wajah yang memerah merona itu, bibir ranum menantang, dan tubuh molek yang membangkitkan gairah kelelakiannya itu. Dia akan memastikan kali ini mimpinya akan terwujud apapun caranya, dia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa cinta dan rindunya kepada Siti, memikirkan Siti sudah tidak di pelukannya saja dia sudah merasa tubuhnya dingin sekali. Cukup sudah semua penderitaannya kehilangan wanita yang dicintainya ini, sekarang wanita itu di depan matanya tidak akan dia lepaskan lagi, apapun halangannya akan dihancurkannya.


Siti melihat emosi yang terpencar di wajah Kahar, dia melihat emosi yang kuat sekali mempertegas wajah jantan itu, matanya seakan memancar api yang membara hanya yang dimengerti secara naluriah oleh seorang wanita, pipinya semakin memerah melihat hal itu. Dia tidak berani berharap banyak lagi seperti dulu karena takut kejadian dulu terulang kembali, dia tidak sanggup kalau harus menanggung kesakitan dan penderitaan kehilangan pemuda yang dicintainya ini. Siti sudah melihat bahwa ibu Bastian juga menaruh perasaan pada Kahar, walaupun dia merelakannya tapi tetap sebagai perempuan perasaan halusnya tersakiti melihat sang pujaan hati lebih memilih perempuan lain daripada dirinya. Karena itu dia tidak mau lagi mengalami hal yang sama kedua kalinya, kini dia lebih berhati-hati lagi dan tidak berani menaruh harapan besar akan hubungan mereka.


Sejak kejadian di lubuk itu, Kahar selalu terbayang-bayang wajah dan kemolekan tubuh Siti di pelupuk matanya, dia tidak bisa tidur nyenyak dan selalu gelisah, dia sudah tidak tahan dengan keadaan ini, harus segera diselesaikan mulailah dia memberanikan diri untuk berbincang-bincang dengan sang pujaan hati dan mencari cara agar secepatnya dia bisa memiliki Siti. Dia sudah berusaha menyampaikan kepada Bumi mengenai perasaan hatinya ini dengan sangat hati-hati sekali agar tidak mengejutkan semua orang, dan dia merasa Bumi mengerti maksud hatinya tapi kenapa dia tidak merasakan Bumi berusaha membantunya mendekatkan dia kepada Siti. Seakan Bumi menunggu tindakan dia terlebih dahulu, karena tidak sabar dengan semua ini mulailah dia mendekatkan diri kepada Siti bahkan sampai Siti pergi mencari obatpun dia mau ikut agar Siti tidak curiga dia menggunakan Aswin untuk menjadi tameng keinginannya itu.


3 hari telah berlalu, tiba saat keberangkatan Masnan dan Burhan serta Basri dan Syaiful, ternyata setelah kejadian hari itu sepulang dari rumah wali nagari Syaiful dikejutkan dengan tidak marahnya kedua orangtuanya sehubungan dengan rencana kepergiannya mengikuti Basri, bahkan yang lebih mengherankan lagi mereka sepertinya tidak sabar akan kepergiannya itu. Dia menjadi sedih sekali, dia merasa tidak ada orang yang menyayanginya lagi kecuali Aswin dan temannya yang lain. Dia bertekat untuk belajar dengan rajin dan giat agar nantinya dia bisa membuat orang tuanya bangga sehingga mereka akan menyayanginya. Sungguh pemikiran yang meremukan hati jika ada yang tahu apa yang menjadi pemikiran bocah berusia 6 tahun ini. Seperti apapun perlakuan kedua orang tuanya kepadanya tetap saja dia menginginkan kasih sayang dari mereka. Terlihat bahwa dia haus akan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan sering dia iri melihat anak2 yang lain begitu disayangi kedua orang tuanya, tapi untunglah dia tidak mempunyai sifat jahat akibat perasaan irinya itu.


Terlihat sudah ada 2 kereta di depan rumah wali nagari, yang akan mengantarkan mereka kembali ke tempat asalnya. Masnan dan Burhan sudah siap dari tadi, setelah pamit dengan Bumi dan mamak Burhan, mereka berjalan menuju kereta untuk melanjutkan perjalanan. Sedangkan Basri masih menunggu Syaiful yang belum datang juga, dia gelisah sekali apakah anak itu akan jadi ikut atau tidak. Bumi sudah menyuruh tukang kebunnya untuk menyusul ke rumah Syaiful, tidak lama terlihat tukang kebun itu menggendong Syaiful di belakangnya berlari-lari. Begitu mendekat, Basri langsung naik darah karena dia melihat keadaan wajah dan tubuh Syaiful yang babak belur. Rasanya dia ingin terbang ke rumah anak itu untuk menghajar orang tuanya, buru-buru dia mengambil Syaiful dari gendongan tukang kebun, dengan hati yang pedih sekali dia membawa masuk anak itu untuk diobati sebelum dia membawa anak itu pergi. Ingin sekali dia secepatnya membawa anak ini pergi agar tidak usah lagi menerima siksaan dari orang tuanya.


Bumi yang melihat keadaan Syaiful juga menjadi geram sekali, dia menanyakan kepada tukang kebun apa yang terjadi. Tukang kebun tidak tahu apa yang terjadi hanya pas dia sampai di sana dia melihat orang tua Syaiful sedang memukuli anaknya, dan dia marah sekali melihat hal itu, di lihat di situ ada sebuah tongkat panjang langsung dia ambil tongkat itu dan memukulkannya kepada bapak Syaiful. Orang tua Syaiful langsung menghindar dari kejaran tongkat yang digunakan tukang kebun. Setelah itu tukang kebun menggendong Syaiful yang sedang tidak sadarkan diri itu ke rumah wali nagari, karena kuatir nanti dikejar oleh bapaknya Syaiful makanya dia berlari-lari sambil menggendong anak itu.


Syaiful yang sudah dibawa ke dalam langsung ditangani oleh Siti, Aswin yang baru habis mandi langsung ke ruang pengobatan bundanya untuk melihat ada kejadian ribut apa di sana . Alangkah kagetnya dia melihat temannya babak belur seperti itu, kemarahannya timbul dengan hebatnya, terlihat matanya berubah menjadi berkilat-kilat kehijauan memancarkan cahaya mematikan. Tiba-tiba dia menggerakan tubuhnya, melesat dengan cepat sekali ke luar rumah, Basri dan Bumi tidak memperhatikan hal itu karena mereka sedang cemas dan prihatin akan keadaan Syaiful, tapi Kahar melihatnya dan dia terkejut sekali dengan kecepatan Aswin yang berlari keluar itu, anak berusia 5 tahun seperti Aswin mempunyai kemampuan untuk bergerak secepat itu tidak pernah dia temui sebelumnya.


Karena kuatir Aswin akan menimbulkan masalah, buru-buru Kahar menyusulnya, dia harus mengerahkan tenaga ilmu peringan tubuhnya  4 bagian untuk dapat menyusul larinya Aswin yang telah mendahuluinya. Dari jauh dia melihat Aswin seperti anak peluru yang berlari cepat sekali ke arah selatan dari rumahnya. Melihat hal ini Kahar semakin mempercepat larinya agar bisa menyusul anak itu, ketika sudah dekat Kahar mengulurkan tangannya untuk menangkap tangan Aswin tapi dia tidak menyangka ternyata Aswin mengelak dengan tangkas sekali.


Semakin cepat anak itu berlari dan semakin cepat pula Kahar mengejarnya sebenarnya ingin sekali dia mengukur kemampuan Aswin yang sebenarnya, sayang sekali saat ini tidak memungkinkan karena tadi dia sudah melihat mata Aswin berkilat-kilat kehijauan dengan sinar mata yang mencorong mematikan, dia takut anak itu berbuat yang tidak baik pada orang tua Syaiful karena saking marahnya. Segera dia mengeluarkan ilmunya untuk menangkap Aswin, untunglah Aswin ini masih kecil dan belum matang ilmu, kalau sudah belum tentu dia dapat menangkap dengan begitu mudahnya.


Buru-buru dia menenangkan anak kecil yang sedang marah ini, dengan susah payah akhirnya dia berhasil meyakinkan anak itu untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan penyesalan nanti. Dia membujuk anak itu untuk pulang melihat keadaan temannya yang akan segera berangkat dengan Basri. Dengan menggandeng tangan Aswin, Kahar mengembangkan ilmu peringan tubuhnya agar cepat bisa sampai di rumah Bumi. Benar yang dikatakan Kahar terlihat Syaiful sudah sadarkan diri dan sedang dipersiapkan untuk bisa menempuh perjalanan panjang ikut dengan Basri.


Dengan berurai air mata Aswin memeluk Syaiful karena dia sedih sekali melihat keadaan temannya itu, Syaiful yang melihat anak bandel ini menangis karenanya menjadi terharu dan akhirnya ikut-ikutan menangis.  Orang dewasa di sekeliling mereka juga berkaca-kaca matanya melihat kejadian ini. Siti membekali Basri dengan segala macam obat yang diperlukan oleh Syaiful, Basri sudah tidak bisa ditahan menunggu kesembuhan Syaiful baru berangkat. Dia beralasan akan bisa membunuh kedua orang tua Syaiful bila dia masih lama lagi di sini, jadi lebih baik sekarang perginya, dia akan memastikan Syaiful akan aman selama di perjalanan.


Akhirnya Bumi meluluskan permintaan Basri untuk segera membawa Syaiful pergi bersamanya. Setelah semua persiapan selesai, mereka semua berjalan mengantarkan kepergian Basri dan Syaiful.


Dengan berlari-lari Aswin mengiringi kereta yang membawa teman tersayangnya Syaiful ke tempat paman Basri, dia sempat membisikan kepada temannya itu bahwa dia akan menunggu kepulangan temannya agar mereka bisa bermain kembali, dan Syaiful berjanji akan menjaga dirinya dan belajar dengan giat supaya bisa mengalahkan Aswin.


Aswin mengantar temannya sampai di pinggiran nagari dengan ditemani oleh Kahar yang takut anak ini melakukan sesuatu yang akan disesalinya nanti. Untunglah setelah habis mengantar temannya pergi, Datuak datang menjemput muridnya itu. Kahar hanya merasakan angin lembut menerpa tangan kanannnya saat dia melihat ke kanan, dia tidak melihat siapapun, dan dia menoleh ke  arah Aswin, anak itupun sudah tidak ada di tempat. Kemudian terdengar suara yang dikenalnya sebagai suara Datuak, mengatakan  membawa Aswin pergi berlatih.


Kahar geleng-geleng kepala akan kehebatan Datuak Inyiak Balang tersebut. Dan dia juga bertanya dalam hati akan jadi apa Aswin besar nanti karena dia sudah merasakan pembawa yang hebat sekali pada anak bandel itu. Teringat dia akan tugas yang diembankan padanya, mudah-mudahan dia bisa mendidik Bastian sehebat Aswin, karena dia juga bisa melihat muridnya itu juga mempunyai suatu perbawa lain dibandingkan teman-temannya.


Kini dimulailah tugas mereka untuk mendidik calon-calon pejuang yang akan membela kebenaran di masa depan itu.


Sementara itu di suatu tempat, di dekat daerah Sungai Puar terdapat sebuah rumah yang besar sekali, pada halamanya sedang berkumpul  seratus orang yang sedang giat berlatih ilmu silat. Di dalam rumah tersebut, di sebuah balairung besar, terlihat berkumpul 13 orang yang diketuai oleh seorang pria setengah baya yang berparas aneh, sebelah wajahnya mencerminkan ketampanannya di masa muda, dan sebelahnya sangat menyeramkan sekali karena kulitnya sudah hancur dan mengoyak mengerikan wajah tampan itu. Kedua mata pria itu dingin mengerikan sekali sedang menatap semua yang hadir di ruangan itu. Mereka sedang merencanakan sesuatu yang akan mengacaukan keadaan kerajaan yang sedang aman dan tentram ini.


Siapakah mereka dan apa gerangan yang sedang mereka rencanakan ?

Posted by sieklie in 08:04:47 | Permalink | No Comments »

Monday, December 3, 2007

V. PARA MURID
Part I

Sementara menunggu anak-anak itu datang, Bumi mengajak Kahar, Basri dan Masnan ke ruang kerjanya. Maksud Bumi sebelum mereka bertemu lebih baik dia memberitahu kepada teman-temannya latar belakang dari calon murid mereka nantinya. Setelah duduk di tempat yang tersedia, Bumi mulai angkat bicara untuk menyampaikan kepada teman-temannya.

“Saudara-saudaraku, aku pikir sebelum kalian berkenalan dengan calon murid kalian terlebih dulu aku ingin memberi sedikit info yang aku ketahui kepada kalian mengenai mereka supaya nanti lebih bisa cepat saling mendekatkan diri satu dengan yang lainnya, bagaimana menurut kalian ?”

“Uda Bumi, gagasan uda bagus sekali jadi nanti kami tidak akan sungkan berhubungan dengan keluarga si anak dan juga bisa lebih cepat memahami karakter mereka, ini sangat membantu sekali untuk bisa mengatasi kecanggungan diantara kami.” Kata Basri.

“Benar sekali uda, karena Basri dan aku pasti akan membawa pergi kedua murid kami ke tempat kami, seharusnya kami lebih mengenal mereka supaya lebih gampang menyesuaikan diri. Beda dengan Kahar berhubung belum berkeluarga dia bisa saja tinggal di sini untuk mendidik muridnya itu.” Kata Masnan dengan senyum kecil yang terlihat mencurigakan bagi Kahar.

“Aku sih tidak keberatan kalau Kahar mau latih muridnya di sini, aku malahan senang artinya aku punya teman latih tanding yang hebat untuk membantu meningkatkan ilmu silatku. Dan juga aku dapat bantuan tambahan orang untuk menemani Siti kalau dia pergi ke nagari-nagari tetangga untuk mengobati orang. Selama ini aku selalu menguatirkan dia kalau pergi jauh-jauh, pernah sekali waktu hampir 3 bulan lamanya dia menghilang tanpa pengawal yang biasa mendampinginya, aku cemas sekali tapi ternyata dia diundang oleh Rangkayo Syamsul dari Koto Gadang untuk mengobati penyakit isterinya yang parah sekali.  Karena diburu waktu Siti sampai lupa memberitahukan kepadaku ke mana dia pergi.” Kata Bumi sambil tersenyum-senyum simpul.

Mendengar ini wajah Kahar menjadi merah sekali karena dia benar-benar malu, saudara-saudaranya sudah bisa menebak isi hatinya kepada Siti. Untuk menutupi perasaannya itu dia berusaha mengalihkan pembicaraan yang sudah menjurus memojokan dia tersebut.

“Uda Bumi, bisa tidak uda ceritakan pada kami mengenai latar belakang anak-anak tersebut?” kata dia cepat-cepat, takut mereka tambah semangat menggodanya.

“Sabarlah Kahar, kenapa kamu terburu-buru begitu, apa yang kamu kejar? Apa sudah tidak sabar mau ke ruang makan bantuin Siti siapkan makan siang?”goda Bumi sambil tersenyum jahil.

“Bukan begitu uda, aku cuma ingin supaya aku bisa lebih mengenal muridku dengan baik sehingga bisa memikirkan metode apa yang terbaik yang bisa kuajarkan kepadanya karena waktu kita untuk mengajar mereka singkat sekali hanya 5 tahun. Sedangkan mereka belum punya dasar-dasar ilmu yang memadai untuk menerima pengajaran kita, benar kan ?”kata Kahar dengan tersipu dan berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Sudahlah uda jangan kamu ganggu juga adik kita itu, nanti yang ada malah dia bisa benar-benar jadi manusia api seperti anakmu bilang.”kata Masnan sambil tersenyum.

“Hehehehe….. kau benar Masnan, yah sudah aku akan mulai menceritakan mengenai Burhan dulu, karena dia yang tertua dari kelima anak lainnya.” Sahut Bumi.

“Burhan, merupakan anak yang tenang dan pendiam, dia sudah tidak mempunyai orang tua lagi sejak nagarinya dilanda gampo(gempa) besar beberapa waktu yang lalu. Sekarang dia tinggal bersama dengan keluarga mamak(paman)nya, anak-anak mamaknya sepantaran dengan dia yang berusia 6 tahun, satu anak perempuan berusia 7 tahun dan satu anak laki-laki berusia 3 tahun. Keluarga mamaknya bukan keluarga berada, mereka juga keluarga miskin, untuk hidupnya mamak dan isterinya harus bekerja di sawah orang lain dan menerima upah untuk menghidupi keluarga mereka. Kehadiran Burhan sebenarnya memberatkan mereka, tapi karena mereka sepasang suami isteri yang baik hati, mereka tetap menerima kehadiran anak itu. Dan untungnya  Burhan seorang anak yang tahu diri, suka membantu mamaknya dengan menemani dan menjaga kedua anak mamaknya, membersihkan rumah bahkan kadang-kadang aku lihat dia sedang memasak nasi untuk makanan mereka semua.

Aku suka sedih memikirkan nasibnya, dia baru berusia 6 tahun tapi kehidupan yang keras membuat dia seperti bukan kanak-kanak lagi, cara berpikirnya sudah seperti orang dewasa, penuh pengertian dan bijaksana, kadang-kadang aku suka terheran-heran dengar semua perkataannya. Aku suka suruh Aswin memanggil dia main ke sini sore-sore sambil aku ajarkan ilmu pernafasan untuk menguatkan badannya, Aswin juga berteman baik dengan dia, bahkan kadang-kadang aku melihat Aswin lebih mematuhi perkataan Burhan daripada aku.” Kata Bumi dengan menghela nafas.

“Uda Bumi, sudah berapa lama kau ajarkan dia ilmu pernafasan?” Tanya Masnan.

“Kira-kira hampir 2 tahun, aku mengenal anak ini pertama kali ketika dia sakit dan dibawa mamaknya berobat pada Siti, dia harus dirawat dengan sebaik-baiknya karena kondisi dirinya parah sekali, ketika itu dia baru datang diantar orang ke tempat mamaknya tidak lama sepeninggalan orang tuanya. Badannya kurus sekali, kulitnya bercak-bercak merah, nafasnya tinggal satu-satu  seakan-akan setiap saat bisa meninggal, menurut orang yang membawanya dia tertimbun tanah selama 7 hari dan masih hidup waktu ditemukan tapi dalam kondisi yang menggenaskan sekali. Dan menurut Siti, dia digigit oleh semut beracun dan kelabang bertanduk yang sangat berbahaya sekali racunnya. Campuran kedua racun ini menyebabkan dia dalam keadaan kritis, yang mengherankannya lagi seharusnya dia sudah lama mati akibat keracunan kedua binatang itu tapi entah kenapa dia tetap bisa bertahan hidup sampai diantarkan ke sini, sudah menjelang 1 bulan dari gampo tersebut terjadi. “

“Siapa orang itu uda, kenapa dia bisa tahu Burhan harus dibawa ke mamaknya di sini?”Tanya Masnan dengan serius.

“Aku tidak tahu jelas siapa orang itu, kamu bisa tanyakan langsung pada mamaknya ketika mereka datang. Yang aku tahu ketika orang itu datang, dia hanya bilang bahwa dia disuruh seseorang untuk mengantarkan anak ini ke Batang Kapeh karena mamaknya tinggal di sana , lalu seseorang itu memberikan uang untuk biaya perjalanan mereka. Hanya itu saja keterangan yang aku ketahui, selebihnya aku tidak tahu karena kesibukanku saat itu jadi tidak membuat aku ingin mengetahui lebih lanjut.” Jawab Bumi.

“Tapi dia benar-benar anak yang tangguh, ketika dia diobati oleh Siti, aku tahu sekali dia itu kesakitan karena Siti harus berusaha menetralisir kedua racun yang mengendap di tubuhnya, jadi Siti terpaksa meminumkan kepadanya air murni dari Danau Maninjau yang telah dicampur dengan sari bunga Cempaka Biru. Ketika air campuran tersebut diminumkan padanya, tidak lama dia menggeliat-geliat kesakitan dan seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat segadang-gadang biji jagung, tapi dia menggigit bibirnya tidak mengeluarkan rintihan sedikitpun. Menurut Siti, penderitaan dia itu belum tentu orang dewasa bisa menahannya karena kerjanya pemunah racun itu harus melebur kedua racun itu menjadi satu sebelum dikeluarkan melalui kencing. Dan dia harus meminum ramuan tersebut selama 1 bulan penuh sampai kedua racun itu benar-benar hilang dari tubuhnya.”

“Aswin sempat menangis melihat Burhan kesakitan seperti itu, cukup lama dia bertahan dalam kondisi seperti itu sampai akhirnya dia pingsan tidak sadarkan diri. Aku sempat bingung juga kenapa Aswin bisa tahu seberapa kesakitannya Burhan ketika itu, ketika kutanyakan kata dia, saat dia pegang tangan Burhan, dia mencengkram tangan Aswin dengan kuat sekali sampai sakit rasanya, tapi Aswin tidak merasakan kesakitan itu karena dia merasa kasihan melihat penderitaan Burhan. Tadinya aku tidak sadar juga kenapa Aswin bisa menahan sakit akibat cengkraman Burhan, kini aku tahu ternyata anakku saat itu sudah diisi oleh datuak sehingga bisa menahan sakit. Sejak saat itu sampai saat  kesembuhannya, Burhan selalu ditemani Aswin, bahkan anakku mau tidur hanya dengan Burhan saja, dan Burhan perlahan-lahan sembuh, proses kesembuhannya memakan waktu hampir 3 bulan.”

“Setelah dia sembuh, Burhan dan Aswin menjadi sobat sejati, mereka begitu dekat satu dengan yang lainnya, Burhan selalu menutupi semua kenakalan Aswin dan cendrung selalu membela anakku yang bandel itu. Dan aku tertarik dengan ketabahan dan kesetiaannya mulai mengajarkan dia ilmu pernafasan itu tujuannya agar bisa memperkuat kondisi tubuhnya. Tidak lama keluarga mamaknya membawa dia pulang ke rumah mereka, sejak saat itu anakku suka bermain ke sana dan setiap senja Aswin akan membawa Burhan ke sini untuk berlatih ilmu pernafasan dan meditasi denganku selama 2 jam setiap harinya. Dan ternyata dia merupakan seorang murid yang berbakat ditambah lagi dia tekun dan rajin sekali melakukan latihan, aku menjadi bersemangat mengajarinya tidak seperti ajarin Aswin walaupun anakku itu tidak kalah bakatnya tapi setiap mengajari dia, rasanya aku mau marah-marah terus akibat kemalasannya tapi sejak ada Burhan, anakku jadi ikut-ikutan rajin berlatih.” Kata Bumi sambil menggeleng-geleng kepala ingat kelakuan anaknya.

“Uda Bumi, dari tadi kau hanya ceritakan keistimewaan anak ini, apa tidak ada kejelekannya sama sekali?” Tanya Masnan penasaran.

“Uda Masnan, dari tadi uda terus bertanya tentang anak ini, apa uda suka anak ini ?” Tanya Kahar.

“Entahlah Kahar, aku merasa anak ini akan cocok menjadi muridku, ada perasaan seakan-akan dia akan menjadi bagian dari hidupku.”kata Masnan sambil merenung.

“Mengenai kejelekannya, aku merasa tidak terlalu mempengaruhi semua keistimewaan dia. Dia itu terlalu pendiam, apa yang ada di hatinya tidak akan pernah kita bisa tahu, semua kesedihan dan kesusahannya tidak pernah terungkap keluar semua tersimpan rapi di dalam hatinya. Pernah aku menanyakan kepadanya bagaimana caranya orang tua dia meninggal, dia hanya menatapku dengan sedih dan di matanya kulihat kepedihan yang begitu dalam, tapi satu katapun tidak keluar dari mulutnya. Hanya dengan menatap dia, aku rasanya tidak sanggup lagi mendesak dia untuk menceritakan kisah hidupnya yang begitu menggenaskan harus kehilangan orang tuanya dalam usia muda. Sejak saat itu aku tidak pernah bertanya lagi mengenai orangtuanya dan kehidupannya saat dia masih di kampungnya, takut dia merasa sedih.”

“Hmmm… anak yang luar biasa, kuat menahan derita dan tabah menjalani kehidupannya tanpa mengeluh. Benar-benar anak pilihan, aku akan bangga sekali bisa menjadi gurunya walau tidak dalam waktu yang lama, tapi aku yakin dia pasti akan bisa menjadi seorang pendekar yang gagah berani.”kata Masnan dengan hati senang.

“Bagaimana dengan kalian, Kahar dan Basri, apa kalian ingin anak ini menjadi murid kalian?”

“Uda Masnan, jangan senang hati dulu, kita kan hanya baru mendengar kata uda Bumi, belum kita lihat anak itu secara langsung, siapa tahu begitu melihatnya uda tidak berkenan mengambilnya sebagai murid.”goda Basri.

“Tidak mungkin Basri, aku tidak akan tertarik pada anak ini, aku mempercayai penilaian uda Bumi, walaupun nanti pas saat ketemu ternyata anaknya berwajah jelek sekalipun, aku tetap akan mengangkat dia menjadi muridku.”tegas Masnan.

“Yah ampun uda, masak lihat calon muridnya dari segi paras, jelek atau tampan yang penting hatinya, untuk apa dia tampan kalau dia buruk hatinya, malah nanti dia akan memalukan kita sebagai gurunya.”kata Kahar.

“Bukan begitu maksudku Kahar, itu perumpaanku saja. Bagaimana uda Bumi, apa menurutmu dia bisa menjadi muridku?”Tanya Masnan.

“Kita lihat saja nanti Masnan, jangan terburu-buru menentukan hanya dari ceritaku mengenai Burhan, kau kan belum mendengar tentang anak-anak yang lain. Dan satu hal yang perlu kau ketahui Burhan bukan anak yang berparas tampan, tapi aku menyukai parasnya karena mempunyai karakter wajah yang jantan, dan aku yakin jika dia besar nanti akan banyak wanita yang mencari perlindungan pada dirinya.”kata Bumi dengan nyengir.

“Ah, uda Bumi macam-macam saja, bilang anak orang jelek tapi bisa membuat wanita menyukai dia, gimana ni uda penjelasannya.”kata Masnan dengan tersenyum.

“Yah sudah, kau lihat saja nanti anaknya.”

“Terus uda gimana dengan anak yang lain?” Tanya Basri penasaran. Kalau mau jujur memang dia tertarik juga dengan Burhan tapi dia tidak mau rugi jadi perlu mendengar latar belakang anak yang lain.

“Baiklah, anak kedua yang kita bicarakan adalah Karim, anak ini adalah anak sepupuku yang dititipkan padaku beberapa waktu yang lalu ketika orangtua pergi ke tanah seberang, baru beberapa waktu yang lalu orangtuanya pulang dari rantau dan mengambil anak tersebut kembali. Anak ini dititipkan ke aku setiap kali orang tuanya pergi, jadi dia sudah akrab dengan Aswin, bahkan menjadi teman sekomplotan Aswin dalam melakukan kenakalan, mereka berdua merupakan anak yang paling nakal sedunia menurutku. Dan lucunya mereka patuh sekali pada Burhan, setiap aku melarang mereka melakukan sesuatu mereka hanya saling pandang satu dengan yang lain lalu tetap saja melakukan apapun yang aku larang. Tapi ketika Burhan melarang mereka, tidak satupun dari mereka yang akan melanggarnya. Sering aku bertanya-tanya wibawa apa yang dipunyai Burhan sehingga mereka patuh padanya?”kata Bumi dengan gemas sekali.

“Sebenarnya Karim anak yang pintar nan licik, dia bisa memasang wajah tidak berdosanya untuk mengelabui orang atas perbuatannya, tapi sejak bergaul dengan Aswin kelicikan dia berkurang tapi tingkat kenakalannya bertambah. Yang aku maksudkan licik adalah dia mampu membuat anak lain yang bertanggung jawab atas semua perbuatan kenakalannya. Dia hampir  selalu lolos dari setiap hukuman atas perbuatannya, hanya pada Aswin saja yang dia tidak mampu memanipulasi, karena ternyata kelicikan anakku di atas Karim.”

“Hahahaha…. Uda Bumi, seharusnya kau bersyukur bahwa tidak ada orang nantinya yang bisa mengerjai anakmu.”tawa Masnan dengan keras, sedangkan yang lain mendengarnya sambil tersenyum.

“Sejak kenal Aswin, memang banyak juga perubahan dalam dirinya, tadinya dia merupakan anak yang bandel luar biasa, suka mengerjai anak lain sampai orang tua anak-anak itu mengeluh dan mengadu padaku mengenai masalah ini. Karena pengaduan inilah akhirnya aku memutuskan untuk menerima anak ini di rumahku setiap kali orang tuanya pergi, tidak lagi membiarkan anak itu ditinggalkan dengan pembantu di rumah. Dan itu sudah berlangsung sejak 1 tahun yang lalu, dan sama seperti Burhan dan Aswin, aku mendidik anak ini dengan ilmu pernafasan dan meditasi agar bisa meredam sedikit kenakalannya. “

“Wah uda, masak setelah mengatakan yang baik-baik mengenai Burhan, sekarang malah menjelek-jelekan Karim, jangan-jangan karena uda sudah pusing atas kelakuan anak itu makanya jadi tidak melihat keistimewaan anak itu lagi.”kata Kahar menggoda Bumi, karena biarpun Bumi menjelek-jelekkan anak tersebut tapi tetap di nada Bumi, dia bisa merasakan rasa sayang Bumi pada anak ini.

“Aku bukan mau menjelek-jelekan anak ini tapi memang kenyataannya begitu kok.”bantah Bumi.

“Tapi uda, masih tidak ada sedikitpun kebaikan dalam diri anak tersebut?”Tanya Basri.

“Kebaikannya ada yang justru juga kelemahannya, dia bisa membujuk orang untuk melakukan apa yang dikehendakinya tanpa orang itu punya rasa keberatan sedikitpun. Bila sedang senang dia suka bernyanyi-nyanyi kecil dan suaranya merdu sekali, bisa membuat orang terbuai mendengar suaranya. Selain itu dia suka meniru-niru suara dan gaya temannya, dan  yang istimewanya, cara dia meniru persis sekali. Aku suka keliru antara suara dia dengan Aswin, karena dia mampu menirukan suara Aswin dengan baik sekali tanpa cela, bahkan gaya berjalan Aswinpun mampu ditiru olehnya. Kadang-kadang hal ini membuat dia berkelahi dengan Aswin, karena anakku merasa terganggu dengan Karim meniru-niru dirinya, tapi untungnya mereka sehabis berkelahi langsung baikan lagi. Sebenarnya Karim seperti itu karena dia kesal sendirian di rumah dengan pembantu yang selalu menuruti semua perintahnya, akibat bosan dia mulai belajar meniru semua gaya dan suara orang tuanya untuk mengerjai pembantunya. Lama-lama dia mulai mempelajari gaya dan suara orang lain, dan pada akhirnya ini menjadi salah satu keahlian dia untuk berbuat kenakalan.”

“Tapi uda Bumi biarpun dia mampu meniru suara orang lain, tapi dia kan masih anak-anak pasti suara orang dewasa yang ditirunya tidak sempurna, pasti masih ada aksen anak-anaknya.”kata Kahar.

“Itu benar sekali, Kahar, tapi kau tahu dia bisa memanfaatkan kain untuk mengeluarkan suara yang berat seperti orang dewasa, entah bagaimana cara dia melakukannya tapi dia pernah berhasil mengelabui Aswin dan Siti ketika dia meniru suaraku.”

“Bagiku ini menunjukkan bahwa Karim juga bukan anak biasa, dia mempunyai kecerdikan dan kepintaran yang luar biasa untuk membuat dirinya senang, selain tentunya bakat alami dia untuk meniru orang lain.”

“Memang betul yang kau katakan itu, Basri tapi ingat hal ini bisa membahayakan orang lain jika dia bermaksud jahat kalau dia besar nantinya. Aku kuatir saja dia bisa mencelakai orang lain dan dirinya akibat bakatnya, makanya aku berusaha untuk menanamkan budi pekerti padanya dengan menyuruh Burhan dan Aswin berteman dengan dia untuk mengajarkan hal-hal baik yang harus dilakukannya.”

“Untungnya dia punya perasaan sungkan pada Burhan, dan sedikit perasaan agak takut pada Aswin, aku sendiri tidak tahu kenapa dia punya perasaan takut pada Aswin. Karena aku pernah melihat suatu ketika dia berbuat kenakalan yang keterlaluan menurutku, dan baru aku mau menegur perbuatannya tapi sudah didahului oleh Aswin.”

“Kenakalan seperti apa yang dilakukannya sehingga menyebabkan anakmu marah?” Tanya Masnan.

“Dia melempari orang gila dengan batu dan teriak-teriak mengejeknya terus, ketika orang gila itu mengejar dia, langsung suruh pembantunya memukuli orang gila itu. Aswin marah sekali melihat hal itu belum pernah aku melihat anakku marah seperti itu, Aswin hanya panggil nama dia sekali saja begitu Karim menoleh ke arah anakku, langsung aku melihat wajahnya berubah menjadi takut dan buru-buru menyuruh pembantunya berhenti memukuli orang gila itu, segera dia menghampiri Aswin dengan kepala menunduk serta berbisik minta maaf. “

“Aku heran sekali kenapa ketika melihat wajah Aswin, dia menjadi takut, padahal aku perhatikan wajah anakku biasa saja seperti wajah anak-anak marah.”

“Masak sih, aku yakin pasti ada sesuatu dalam diri Aswin yang tidak terlihat olehmu uda, tapi terlihat oleh Karim.”

“Mungkin juga Kahar, ada yang terlewatkan olehku saat itu karena aku terlanjut heran dengan kelakuan Karim. Tapi untunglah sejak saat itu Karim berubah menjadi anak yang lebih baik, masih tetap nakal tapi tidak mencelakai orang lain. Bersama dengan anakku dia selalu berbuat keributan di mana saja,  hanya bila bersama Burhan saja mereka tidak melakukan perbuatan yang menjengkelkan.”kata Bumi dengan gemas bercampur geli.

“Bagaimana dengan anak  yang lain uda, apa mereka dekat juga dengan Aswin?”Tanya Basri.

“Sabar Basri, kamu sepertinya sudah lapar yah jadi tidak sabar menunggu kelanjutan cerita dariku.”goda Bumi.

“Bukan begitu uda, aku hanya ingin segera mengetahui latar belakang mereka  supaya pas ketemu lebih tahu apa yang mau kukatakan karena aku ingin segera pulang dan segera melatih ilmu baruku itu seperti yang uda katakan, waktu kita tidak banyak untuk melatih anak-anak tersebut.” Bantah Basri.

“Benar yang kau katakan Basri. Sekarang kita bicara tentang Saiful, sebenarnya aku tidak tahu harus berkata apa tentang anak ini. “Bumi berkata dengan wajah serius.

“Memangnya kenapa uda?” kejar Basri penasaran.

Dengan menghela nafas Bumi bercerita tentang Saiful, “Baru-baru ini aku mengetahui ternyata Saiful itu sering dianiaya orangtuanya. Selama ini aku heran kenapa anak itu selalu memakai baju tangan panjang dan celana panjang. Dan tidak seperti anak yang lain dia selalu murung dan wajahnya selalu terlihat sedih tidak pernah aku melihat dia tertawa seceria  teman-temannya. Dia seorang anak yang pemalu dan pemurung sekali, tadinya aku pikir wajahnya sering luka dan bengkak akibat berantem dengan teman seusianya atau seperti alasan yang sering dia katakan saat dia berobat pada Siti bahwa dia sering jatuh karena tidak hati-hati berjalan. “

“Aku tidak pernah memperhatikan hal ini sebelumnya, 3 bulan yang lalu Aswin pulang ke rumah dan bicara padaku, dia bertanya apa pantas seorang ayah memukuli anaknya sampai babak belur bahkan anak itu tidak bersalah sekalipun. Aku yang tidak tahu arah pembicaraan anakku tentu saja agak marah mendengar pertanyaan seperti itu. Aku pikir anakku mau menguji aku, makanya aku menegur dan memberitahukan padanya, sampai kapanpun aku tidak akan memukul dia tanpa alasan yang jelas.”

“Saat aku tanya dia mengapa dia berkata seperti itu, dia menceritakan tentang penderitaan Saiful, rupanya saat itu dia ke rumah Saiful, terus dia mendengar rintihan-rintihan kesakitan, karena penasaran dia mengintip ke dalam rumah, dia melihat sebuah pemandangan yang mengejutkannya, Saiful sedang dipukuli habis-habisan oleh bapaknya dan ibunya hanya melihat saja anaknya dipukuli. Aswin shock sekali melihat itu, karena tidak tahan dia melempar bapak Saiful dengan batu dan menyebabkan luka di kepala bapaknya.  Karena terkejut Bapaknya Saiful berhenti menyiksa anaknya dan melihat ke arah jendela. Aswin yang melihat Saiful tergeletak di lantai dalam keadaan babak belur marah sekali. Menurut cerita orang tua Saiful saat itu mata Aswin memancarkan sinar kehijauan yang tajam sekali ke arah mereka, dan wajahnya berubah sangat menakutkan sehingga yang tadinya mereka mau memarahi Aswin karena ikut campur urusan mereka,  malah menjadi ketakutan sekali melihat wajah dan mata Aswin. Mereka seperti berhadapan dengan seorang yang sangat agung sekali dan itu membuat mereka berlutut kepadanya untuk meminta ampun.  Aku tidak tahu apa yang dilakukan Aswin kepada mereka, tapi saat itu mereka benar-benar merasa ketakutan sekali, mereka tidak berani menceritakan apa yang telah anakku katakan pada mereka.”

“Gila, jaman sekarang masih ada juga orang tua yang sakit seperti itu. Kalau orang seperti itu bertemu dengan aku, akan aku lumat dia menjadi bubur.”kata Basri dengan marah sekali.

“Ketika aku mengetahui hal itu aku juga naik darah, buru-buru aku hendak ke rumah mereka, tapi Aswin bilang dia sudah membawa Saiful untuk diobati oleh Siti. Aku langsung ke ruang pengobatan Siti, apa yang aku lihat di sana benar-benar menggenaskan sekali, anak itu tergeletak di sana dengan wajah hancur berlumuran darah, tulang rusuknya patah, tangannya penuh dengan luka akibat dibakar pakai rokok. Rasanya saat itu juga aku ingin membunuh bapaknya, tubuh kurus kering seorang anak kecil yang berusia 6 tahun mana kuat dia menahan pukulan dari seorang dewasa yang bertubuh sebesar kau, Masnan. Aku merasa malu sekali sebagai seorang wali nagari tapi tidak tahu adanya penyiksaan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada anak kecil di wilayahku. Ternyata ayah Saiful seorang pemabuk dan pejudi, sedangkan ibunya seorang wanita yang tidak mencintai suaminya, karena kekesalan hati sang ayah maka dilampiaskan hal itu pada anaknya, sang ibu yang melihat hal itu masa bodoh saja karena memang sejak dulu dia sudah membenci anaknya yang menurutnya adalah hasil suaminya memperkosa dirinya.”

“Yah Tuhan, aku sampai tidak bisa berkata apapun saat itu,  ingin aku mengusir kedua orang itu dari wilayahku, tapi aku takut nanti malah aku tidak bisa mengawasi mereka jika mereka kembali menyiksa Saiful. Sejak kejadian itu Saiful tinggal di rumahku, kalian tahu dibutuhkan waktu hampir 2 bulan untuk memulihkan tubuhnya akibat deraan itu. Setiap kali aku melihat Saiful, hatiku sedih sekali, ingin rasanya berteriak meminta keadilan pada Tuhan kenapa ini harus terjadi pada anak seperti dia. Burhan, Aswin, Karim dan bahkan si kecil Bastian selalu menjaga dan melindungi dia, mereka berusaha menghibur dan menjadi teman yang baik bagi Saiful. Aku jarang mendengar tertawa lepasnya, selama di sini baru sekali aku mendengar suara tawanya ketika dia sembuh dan anak-anak yang lain merayakannya dengan bertindak gila-gilaan di kamar Aswin. Ketika aku masuk mau melarang mereka berbuat keributan, saat itu aku baru melihat senyum dan tawa yang tulus di wajah Saiful, aku tidak sampai hati melarang mereka, hatiku terenyuh melihat senyum dan tawa itu seakan-akan perbuatan ini baru pertama kali dilakukannya.”

Mendengar kisah ini, semua pria yang ada di ruangan itu merasakan hatinya iba dan pedih sekali atas penderitaan anak yang bernama Saiful itu.  Bahkan Basri berlinangan air mata, karena jauh dalam lubuk hatinya dia sangat menginginkan seorang anak untuk memeriahkan rumah tangganya tapi apa daya karena dia pernah keracunan sangat hebat membuat dia tidak bisa memiliki seorang anak. Sempat hal ini membuat dia putus asa dan tidak ingin menikah, tapi isterinya,  seorang pendekar wanita yang hebat bernama Ropita, berjuluk Gadis Jarum Neraka, tetap bersikeras memilih dia menjadi suaminya, walaupun mengetahui mereka tidak bakal dikarunia seorang anakpun. Memang mereka merencanakan hendak mengangkat anak dalam waktu dekat ini, hanya belum sempat terlaksana karena mereka berdua masih sibuk mengurusi usaha mereka.

Di dalam hati Basri bertekat akan mengambil Saiful sebagai muridnya, karena dia ingin memberikan kepada Saiful perasaan kasih sayang orang tua kepada anaknya, dan ingin menerima cinta yang tulus  dari seorang anak.

Lanjut Bumi,”Kalian tahu yang paling memiriskan hatiku adalah ketika aku Tanya kepada Saiful apakah orang tuanya benar menyiksanya, dia malah membela orang tuanya dengan mengatakan dia yang nakal sehingga orang tuanya ingin memberi pelajaran kepadanya supaya lain kali tidak berbuat nakal lagi. Bahkan setelah dia sembuh, dia ingin pulang ke rumahnya, katanya kasihan ibunya tidak ada yang bantuin bersihkan rumah kalau dia kelamaan tinggal di rumahku.”

“Benar-benar anak yang berhati mulia, walaupun disiksa habis-habisan seperti itu masih saja dia berbakti pada orangtuanya. Aku ingin sekali anak itu bisa ikut denganku menjadi muridku, pasti Ropita sangat senang sekali aku bisa membawa pulang Saiful untuk menemaninya.”kata Basri.

“Jadi, kau sudah menetapkan pilihanmu Basri, tidak mau yang lain ? Kita belum mendengar kisah mengenai Bastian kan ?” kata Masnan.

“Uda Masnan, aku sudah menetapkan pilihanku untuk memilih Saiful menjadi muridku, aku tahu kau sudah mempunyai seorang putri, bisa jadi kasih sayangpun terpecah jika Saiful menjadi muridmu, kasihan putrimu nantinya. Sedangkan kami tidak mempunyai seorang anakpun, jadi jika kami melimpahkan kasih sayang padanya tidak akan ada yang merasa iri hati. Karena anak seperti Saiful itu membutuhkan penanganan lebih supaya dia bisa membuka pintu hatinya kepada orang dewasa dan dengan kasih sayang yang berlimpah untuk membuat dirinya merasa menjadi manusia seutuhnya.  Tidak seperti sekarang, dia tidak tahu salahnya apa sehingga menerima siksaan seperti ini, orang tuanya sudah memanipulasi jiwanya sehingga dia tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah lagi secara manusiawi.”

“Wah Basri, kau benar-benar serius sekali ingin mengambil Saiful menjadi muridmu, kalau begitu aku sudah tidak bisa bicara lagi, baiklah apa ada yang keberatan jika Saiful jadi murid Basri?”Tanya Bumi.

Masnan dan Kahar sama-sama geleng-geleng kepala karena mereka melihat di wajah dan mata Basri terlihat tekat untuk memiliki Saiful sebagai muridnya, kalau sudah begitu pasti dia pasti akan melakukan apapun agar bisa menjadikan Saiful muridnya.  Dan mereka berdua tidak mau ribut hanya masalah begini saja, Masnan sendiri sebenarnya sudah puas dengan Burhan menjadi muridnya, apalagi mendengar cerita mengenai Burhan, dia merasa Burhan akan cocok ikut dia, sebab dia sudah terbiasa menjaga anak mamaknya. Putri Masnan, merupakan seorang anak perempuan yang nakal sekali bernama Nilam berusia 4 tahun, dia tahu semua orang menyayanginya sehingga dia menjadi manja sekali. Bahkan Masnan sendiri tidak sampai hati marah kepada Nilam setiap dia melakukan perbuatan yang nakal. Dia berharap Burhan bisa menangani anaknya seperti dia bisa menangani Aswin, yang dia tahu merupakan seorang bocah laki-laki yang bandel dan cerdik sekali.

“Baiklah, aku teruskan cerita mengenai Bastian, dia merupakan anak terkecil dari kelompok mainnya Aswin, hampir seusia dengan Aswin tapi Aswin tua beberapa bulan darinya. Aku tidak tahu banyak mengenai latar belakang keluarga mereka. Yang aku tahu sepeninggal ayahnya, ibunya mengajak anaknya pindah ke sini, mereka sudah tinggal di sini sekitar 4 tahun lamanya. Ibunya sangat akrab dengan Siti, mungkin karena mereka sebaya, jadi cepat sekali bisa dekat. Ibu bastian bernama Lastri, pernah aku mendengar dia mengatakan kepada Siti bahwa dia tidak mempunyai sanak keluarga karena dia anak tunggal dari orang tuanya yang sudah lama meninggal, selama ini dia dibesarkan oleh keluarga teman ayahnya dan mempunyai guru silat yang dia tidak tahu siapa namanya, karena setiap kali mengajar selalu memakai topeng jadi sampai sekarang dia tidak pernah tahu siapa gurunya itu. “

“Ketika usianya sudah cukup, dia merantau untuk memperdalam pengalaman dan ilmu silatnya. Saat dia merantau di tanah Jawadwipa itulah dia bertemu dengan ayah Bastian, dan mereka menikah. Sampai sebelum ayah Bastian meninggal karena sakit mereka masih tinggal di Jawa, tapi setelah ayah Bastian meninggal mereka meninggalkan daerah itu dan pulang kembali ke asal sang ibu, akhirnya sampailah mereka ke sini. Menyukai daerah ini mereka mulai menetap, sejak kecil Bastian menjadi teman bermain bagi Aswin, tapi Aswin memperlakukan Bastian seperti adiknya saja, selalu berusaha melindungi Bastian dari gangguan siapapun.  Lastri juga menyayangi Aswin, dia selalu mengatakan dia mempunyai anak kembar yang nakal sekali, dan aku juga merasakan hal yang sama. Mereka benar-benar seperti anak kembar, ke mana-mana selalu berdua, tapi sejak Aswin mengenal Burhan, Karim dan terakhir dengan Saiful, mereka berlima menjadi sahabat karib bahkan kata Aswin, mereka sudah terikat sumpah setia satu dengan yang lainnya. Anakku benar-benar memusingkan kepala, lagaknya seperti orang dewasa saja.”kata Bumi gemas.

“Dan perlu kalian ketahui dikarenakan Bastian beribukan seorang ibu yang pandai silat, maka sejak kecil dia sudah dilatih silat oleh ibunya, makanya dia bisa mengimbangi kenakalan Aswin. Aku pernah melihat ibunya berlatih dan ilmu silatnya lumayan menurutku, ketika aku pegang tubuh Bastian aku juga sudah merasakan di dalam tubuhnya sudah mengalir tenaga dalam, ini berarti ibunya sudah melatih anaknya sejak kecil. Menurut Siti, Lastri sering menanyakan kepada dia mengenai khasiat tanaman atau binatang2 yang bisa memperkuat tubuh. Terakhir aku dengar dari Siti, dia pernah menanyakan mengenai khasiat dari Lebah Biso (Racun) Api yang merupakan salah satu  binatang langka.”

“Hmmm…. seingat aku, konon kabarnya binatang ini merupakan piaraan dari Dewi Kipeh Matohari dari Gunung Merapi.  Tapi kenapa dia menanyakan hal ini, apa dia kenal dengan sang Dewi atau dia juga memelihara binatang ini?” kata Kahar dengan kening berkerut.

“Aku tidak tahu mengenai hal itu, karena aku tidak pernah masuk ke rumahnya, tapi kalau dari cerita Siti yang sering main ke rumahnya, dia tidak pernah melihat adanya sarang lebah di rumah itu.”

“Khasiat Lebah Biso Api sangat bagus sekali bagi manusia yang meminum madunya dan memakan ratu lebah. Lebah ini  ukurannya sama besar dengan lebah biasa hanya yang membedakan mereka mempunyai tubuh berwarna bening merah keemasan seperti bara api. Dan di setiap satu sarang akan berisikan 5 ekor ratu yang dipimpin oleh 1 ekor  ratu yang mempunyai warna tubuh yang paling indah dan cemerlang. Lebah-lebah ini sekali menyengat bisa menyebabkan binatang atau manusia mati seketika dengan tubuh hangus, tapi yang aneh ratu lebah ini tidak mempunyai sengat sehingga ratu-ratu ini sangat dijaga dengan ketat oleh lebah pekerjanya.”

“Kahar, kenapa kau bisa mengetahui mengenai perihal lebah ini?” Tanya Masnan.

“Dulu, aku pernah melihat dan menangkap lebah api itu karena aku tertarik melihat keanehan tubuh lebah itu. Aku sempat tersengat oleh lebah yang kutangkap itu, dan tidak lama tubuhku serasa seperti terbakar api, panas sekali dan tenaga dalamku bergolak dengan hebat sekali. Karena kesal aku makan lebah api itu dengan harapan rasa terbakar di tubuhku menghilang, tapi ternyata aku keracunan malahan panas tubuhku meningkat dan aku merasa kulitku terbakar  perih sekali serta mulai melepuh, banyak tumbuh benjolan-benjolan berisikan air di sekitar tubuhku. Ini sangat menyiksa sekali aku tidak bisa mengerahkan tenaga dalamku karena dia bentrok dengan racun dari lebah api itu. Aku tidak tahu berapa lama aku dalam keadaan seperti ini, ketika aku sadar dan membuka mataku, di depanku berdiri seorang wanita tua yang masih cantik memandangku dengan tenang. Dia mengatakan bahwa untung dia lewat di tempatku, sehingga bisa menyelamatkan nyawaku karena makan lebah apinya, dia memperkenalkan dirinya dengan sebutan Dewi Kipeh Matohari dan mengatakan lebah api itu adalah piaraannya. Aku disembuhkan dengan menggunakan madu dari lebah api tersebut, tapi ada efek yang tidak terduga pada diriku, tenaga dalamku berubah menjadi berunsurkan api, karena racun lebah api melebur ke dalam tenaga dalamku.”

“Sejak saat itu aku berlatih ilmuku mengarah ke unsur api akibat sengatan lebah biso api itu. Dan sang dewi mengatakan kepadaku, untung aku tidak memakan ratu lebah apinya karena kalau itu terjadi entah bagaimana dia bisa membantuku. Karena aku harus minum madunya dulu beberapa waktu baru kemudian boleh makan ratu lebah api untuk menambah tenaga dalamku.”

Yang heran adalah Bumi, semua terjadi sesuai dengan perkataan dari Pangeran Satyawarman, bahwa sang guru akan memilih murid-muridnya sendiri tanpa dia harus memberikan petunjuk kepada mereka siapa yang akan menjadi murid mereka masing-masing.  Dan semua itu cocok dengan kelima unsur yang disebut oleh beliau untuk melengkapi unsur air, yang menjadi pusat keseimbangan dalam menghancurkan dunia kegelapan.

Terdengar suara ketukan di pintu, dan anak buah Bumi memberi salam sekaligus memberitahukan bahwa para tamu sudah hadir di ruang tengah. Segera mereka beranjak menuju ke ruang tengah untuk menemui calon murid mereka. Di sana terlihat semua hadir, Lastri ibunya Bastian, orangtua Saiful, orang tua Karim yang kebetulan sudah pulang dari merantau, Mamaknya Burhan dan  Siti ada bersama mereka. Sedangkan anak-anak terlihat sedang berkumpul di sudut ruangan berbicara sambil ketawa cekikikan. Bumi memanggil nama Aswin, dan segera semua bocah itu melihat ke arah Bumi, mereka melihat 5 orang bocah yang berwajah cakap dan lugu yang sedang memandangi mereka. Dalam hati mereka, jika bocah-bocah ini besar nanti pasti akan membuat banyak perempuan yang tergila-gila, mereka semua mempunyai ketampanan yang berbeda satu dengan yang lain.

“Aswin,  bawa teman-temanmu ke sini, kenalkan dengan para pamanmu!”

“Baik ayah, hayo teman-teman aku kenalkan dengan para pamanku yang gagah berani ini.”

Segera bocah-bocah ini berdiri mengikuti Aswin yang menghampiri keempat pria gagah yang sedang berdiri dekat pintu pembatas ruang tengah dan ruang dalam.  Aswin memperkenalkan mereka semua dengan cara dia yang lucu dan menggemaskan.

“Hmmm…. Teman-teman, pria yang gagah dengan kumis melintang itu bernama Paman Masnan, pria yang selalu tersenyum manis itu bernama paman Basri dan terakhir yang paling ganteng diantara semua pamanku yang tercinta ini bernama paman Kahar atau aku sebut beliau, Manusia Api… hehehehe..” kata bocah nakal tersebut dengan tertawa jahil.

“Manusia Api…? Kenapa disebut demikian ? Apa dia bisa mengeluarkan api ? Bagaimana caranya ?” Tanya keheranan bocah yang paling kecil diantara mereka dan mempunyai wajah yang sangat imut-imut pada Aswin.

Belum sempat Aswin menjawab, langsung Kahar yang menjawab karena dia tidak mau Aswin membuat dia jadi bahan tertawaan apalagi ada Siti,”Pertanyaan bagus sekali, anak baik. Paman tidak bisa mengeluarkan api, hanya Aswin saja yang pintar-pintar memberi julukan Manusia Api pada paman.”

“Iya,  tapi tidak mungkin Aswin berikan nama Manusia Api pada paman kalau tidak ada alasannya!” bantah bocah lain yang berwajah gagah dan sinar mata tenang itu.

Semua mata para bocah itu memandang Kahar, seolah minta jawaban, sepertinya mereka lupa siapa yang memberi julukan kepada Kahar. Kahar yang ditanya balik seperti itu kebingungan juga ditatap keempat pasang mata dengan penasaran dan sepasang mata yang memandang dengan nakal sambil tersenyum-senyum jahil.

Ketiga temannya memandang dia dengan tersenyum-senyum, sedangkan orang lain di ruangan itu memandang bingung pada pemuda tampan ini, tapi ada 2 orang wanita yang memandang wajah Kahar itu dengan perasaan yang berdebar-debar.  Akhirnya Kahar memutuskan untuk menceritakan yang kejadian tadi pagi dengan versi dia, tapi belum sempat dia bicara, sudah dipotong oleh Bumi yang kasihan melihat dia dipelototin oleh bocah-bocah nakal itu.

“Sudah, nanti saja kalian Tanya sama Aswin sendiri, sekarang paman mau memperkenalkan orang tua kalian pada paman-paman ini.”

“Tapi ayah, para paman kan belum kenalan sama teman-temanku!” kata Aswin.

“Ya, sudah kamu lekas perkenalkan temanmu pada para paman.”

“Baiklah paman-pamanku tercinta,”kata Aswin dengan lagak jenaka,”ini aku perkenalkan teman-temanku,”sambil menunjuk tangannya ke arah kanannya, “anak yang berwajah gagah menyeramkan itu bernama Burhan, terus di sebelahnya yang bermata dingin itu bernama Saiful, di sebelah kiri yang ini yang paling bawel namanya Karim, sedangkan yang kecil lucu itu bernama Bastian.”

“Aswin, aku itu tidak kecil, umur kita sama.”protes Bastian.

“Lho memang badan kamu paling kecil diantara kita, benar tidak teman-teman?” Tanya Aswin.

Yang lain manggut-manggut menjawab pertanyaan Aswin sambil tersenyum geli karena mereka tahu sebentar lagi akan terjadi perang mulut antara kedua bocah itu. Belum sempat Bastian membela diri, segera Bumi bicara,” Anak-anak, sekarang giliran kalian perkenalkan orang tua kalian pada paman-paman ini.”

“Bastian, kamu kenalkan ibu kamu pada paman di sini.”perintah Bumi cepat, karena dia sudah tahu jika tidak cepat melerai mereka, bisa ribut berkepanjangan.

Dengan wajah cemberut bocah imut-imut ini menghampiri ibunya dan menarik tangannya menuju ke arah pria-pria itu, “Paman sekalian ini ibuku, namanya Lastri.”

Lastri dengan merangkap tangan di dada memberikan salam kepada mereka semua, sambil mencuri-curi pandang pada Kahar.  Segera mereka membalas sapaan itu dengan hormat yang sama. Ibu Bastian ini merupakan seorang wanita yang cantik, masih berusia muda sekitar 28 tahunan, dan matanya bersinar cukup tajam menandakan dia mempunyai ilmu tenaga dalam.  Hatinya bergetar saat dia melihat Kahar, karena wajah pemuda itu mirip sekali dengan teman masa kecilnya dulu, dia ingin menanyakan hal ini kepada Kahar tapi tahu situasi tidak memungkinkan oleh karena itu dia akan mencari kesempatan untuk menanyakan hal ini.

Kemudian Bumi menunjuk kepada Burhan, segera bocah ini mengetahui maksud Bumi, dan berjalan menghampiri mamaknya. Mereka berjalan menuju ke kelompok ini, “Paman, ini mamakku namanya Datuak Sapinggan Alang.”

“Salam kenal saudara-saudaraku.”kata mamak Burhan dengan kedua tangan merangkap di dada, dibalas oleh mereka semua.

Giliran Karim yang ditunjuk Bumi, sebelum anaknya menghampiri kedua orang tua Karim sudah mendahului berjalan menuju mereka.

“Perkenalkan nama saya, Jintan, dan isteri saya, Hasnah.”kata orang tua Karim dengan ramah.

Tinggal giliran Saiful yang memperkenalkan orang tuanya, tapi Bumi dengan cepat mengarahkan matanya ke arah dua orang yang sedang berdiri dengan agak takut-takut memandang ke mereka. Kedua orang ini merasakan tatapan kemarahan dari para pria yang belum mereka kenal itu mengarah kepada mereka. Bumi melambaikan tangannya memanggil kedua orang itu, dengan perlahan kedua orang itu mendekati.

Basri yang memang berniat untuk mengambil Saiful sebagai muridnya, sudah memperhatikan bocah itu sejak Aswin memperkenalkan mereka. Hatinya sangat terenyuh melihat tubuh kurus anak yang bernama Saiful itu,  anak ini cukup tinggi dibandingkan dengan anak seusianya, tubuhnya ringkih sekali, berwajah sendu dan memiliki mata yang begitu dingin. Dia kelihatan tampan sekali pada saat tersenyum, di kedua belah pipinya terlihat dekik yang sangat dalam. Dan entah kenapa begitu memandang wajah sendu itu, Basri langsung jatuh sayang kepada anak ini,  dia berjanji dalam hati akan merawat anak ini sebaik-baiknya, bila memungkinkan dia ingin mengangkat anak ini sebagai anaknya, tapi nanti masalah ini dibicarakan lagi karena dia belum tahu bagaimana reaksi isterinya begitu melihat Saiful.

Ketika kedua orang tua Saiful sudah sampai di dekat kelompok ini, Basri baru menolehkan kepalanya menatap kedua orang yang begitu kejam terhadap anak sendiri. Sang ibu berwajah cantik manis dengan tubuh yang masih sintal tapi memiliki mata yang sangat dingin sekali seperti mata anaknya. Sang ayah berwajah biasa saja dengan bibir lebar dan tebal sehingga membuat wajah itu terlihat jelek sekali jika tersenyum, tapi berbadan tinggi besar dan urat-urat yang menonjol di sekitar tangannya membuat pria ini kelihatan sangat menyeramkan. Membayangkan kepalan tangan sebesar buah kelapa meninju anak seringkih Saiful membuat Basri ingin sekali menghajar pria itu sampai semaput.

Dengan tergagap pria itu memperkenalkan namanya dan isterinya, keempat pria yang lain dengan wajah dingin menyambut penghormatan yang diberikan kepada mereka. Setelah itu segera Bumi mengajak mereka ke ruang makan untuk makan siang bersama, anak-anak mendengar kata makan langsung gembira dan berlari-lari mengikuti Aswin yang menarik tangan Burhan dan Saiful ke dalam. Siti sudah menunggu mereka semua di ruang makan, dan sudah mulai menyajikan makanan di meja dan menata piring dan gelas di setiap kursi yang ada. Lastri dengan cepat berusaha membantu Siti, sedangkan ibu Saiful pura-pura tidak melihat kesibukan itu, dia malas sekali membantu karena takut jari tangannya bisa rusak. Selama ini setelah Saiful berusia 5 tahun, ibunya memaksa dia untuk mengurus dapur dan menyediakan makanan, bayangkan anak sekecil itu sudah dipaksa melakukan pekerjaan seorang ibu, benar-benar perempuan yang sadis sekali.

Oleh karena itu Basri yang sudah mendengar kisah Saiful menjadi tidak suka sekali pada kedua orang ini,  dia sempat melihat tubuh ringkih Saiful yang menegang ketika kedua orangtuanya mendekati dan berdiri di belakangnya. Seolah-olah tubuh kecil itu siap jika terjadi sesuatu, ini merupakan sebuah gerakan reflek dari sang bocah setiap saat dia bersama kedua orangtuanya itu. Mendidih hati Basri melihat keadaan itu, ingin rasanya dia berteriak memaki-maki kedua orang yang tidak tahu malu itu, tapi dia kuatir jika dia melakukan itu dia akan membuat Saiful takut menjadi muridnya.

Karena tidak tahan Basri langsung berjongkok memandang Saiful,”Namamu Saiful kan ? Berapa usia kamu sekarang?” Tanya Basri lembut pada Saiful. Mata Saiful memandang Basri dengan dingin dan membisu, melihat hal ini ayahnya langsung mendorong tubuh anaknya untuk menjawab pertanyaan itu. Tangan Saiful langsung menutupi wajahnya dan tubuhnya mengkeret seolah-olah dia takut dipukul oleh sang ayah. Basri yang melihat hal ini tidak tahan lagi ingin segera meninju muka ayah Saiful dan memakinya, tapi untung Bumi segera melihat perubahan wajah Basri, cepat dia memegang pundak Basri untuk menenangkannya. Sedangkan ayah Saiful melihat wajah Basri menjadi takut dan berkeringat dingin, karena mata Basri memancarkan hawa pembunuh ke arahnya.

“Tenang Saiful, kamu tidak usah takut sama paman Basri, dia orang baik dan ingin mengetahui usia kamu jadi kamu harus menjawabnya.” Kata Bumi dengan lembut.

“Iya, uda Saiful, aku kan sudah bilang kalau ditanya harus jawab, kan uda tidak bisu.”tukas Aswin.

Dengan suara perlahan sekali nyaris tidak terdengar Saiful menjawab pertanyaan Basri,”6 tahun”

“Kamu takut pada paman?”Tanya Basri.

Saiful menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menunduk, tadi saat dia memandang wajah pria murah senyum ini, dia merasakan sebuah kehangatan dalam dirinya. Dia tahu pria ini tidak akan pernah menyakitinya seperti ayahnya, dia melihat cara pria itu memandang dirinya seperti ayah Aswin memandang Aswin, ada perasaan bahagia ditatap seperti itu. Sekalipun mata ayah Aswin menyorot marah pada anaknya tapi tetap dia merasakan beda dengan sorotan mata ayahnya. Saiful benar-benar seorang anak yang sangat sensitive akibat luka batinnya yang diderita sejak dia kecil, sehingga dia bisa menyelami perasaan orang lain padanya. Diam-diam di hatinya terbesit pikiran seandainya pria bernama Basri ini ayahnya pasti hidupnya akan penuh senyum seperti pria itu. Sekarang ini dia tidak mampu terlalu banyak tersenyum karena memang dia merasa tidak ada hal yang bisa membahagiakan dirinya di rumah, kecuali saat dia bersama teman-temannya.

Basri merasa lega sekali, Saiful tidak takut padanya, dia merasa ada sebuah kemajuan dalam hubungan mereka, dia akan menyediakan waktu agar anak ini mau pergi bersamanya, tadinya dia buru-buru mau mengajak anak itu pergi tapi setelah melihat Saiful, dia tahu harus pelan-pelan membujuk anak ini untuk ikut bersamanya karena anak ini mempunyai trauma dengan orang dewasa selalu kuatir dia akan dipukul. Dia bertekat anak ini harus ikut dengannya menjauhi orang tuanya yang sadis dan kejam itu.

Begitu juga dengan Masnan, dia merasa puas sekali dengan pilihan hatinya, Burhan memang benar-benar seorang anak yang berbadan kokoh dan berwajah jantan sekali, dengan alis hitam yang tebal dan mata yang begitu tenang melihat sekitarnya, benar-benar bocah pilihan. Dia yakin sekali bisa mengajarkan ilmunya kepada Burhan tanpa perlu susah payah, ditambah lagi dia akan tenang sekarang karena ada yang akan menemani putrid tunggalnya bermain.

Dan Kahar  puas dengan calon muridnya, yang memang seperti Aswin katakan bertubuh paling kecil diantara mereka dan memiliki wajah imut-imut sekali serta mata yang berbinar-binar terang seperti bintang di pagi hari. Mengingatkannya pada adik terkecilnya yang sudah meninggal dunia, dia seperti menemukan lagi adik yang paling disayanginya itu dalam diri Bastian.

Lain lagi dengan Bumi, selama ini karena dia sudah tahu kelakuan Karim, selama anak itu bergaul dengan anaknya dan akhir-akhir ini menjadi muridnya bersama yang lain, dia sudah lama mengamati tingkah laku anak itu dan sudah tahu anak itu merupakan bocah pilihan dengan kecerdasan yang ditunjukan selama ini mengatasi semua kesulitan yang datang padanya dan tugas yang akan diembannya kelak.

Mereka semua puas dengan calon murid mereka, sekarang tinggal bagaimana menyampaikan kepada orang tuanya untuk bisa membawa murid tersebut pergi ke tempat mereka. Bumi yang melihat wajah teman-temannya jadi senang karena dia tidak melihat ada kekecewaan di wajah mereka, semuanya sepertinya antusias sekali untuk cepat-cepat bisa membawa muridnya pulang terutama Masnan dan Basri.

Segera Bumi mengajak mereka semua ke ruang makan untuk makan siang bersama sambil saling mengakrabkan diri. Basri yang telah jatuh sayang pada Saiful berjalan mendampingi bocah itu, dia belum berani mengulurkan tangannya takut sang anak akan menjauhkan diri jadi dia hanya mengajak Saiful untuk berjalan bersamanya. Saiful yang sensitive ini bisa merasakan rasa sayang dari Basri, dia senang sekali ternyata ada orang asing yang bisa menyukai dia, tapi di wajahnya tidak terlukis kebahagiaannya, hanya matanya tidak bersinar sendu dan dingin seperti tadi, sekarang ada setitik cahaya di sana. Basri melihat hal itu dan menjadi senang sekali, dia semakin optimis anak ini akan bisa dia pulang.

Masnanpun berjalan di samping Burhan, dia menyukai cara berjalan Burhan yang gagah dan kokoh, bahu bidang yang tegap dan langkah kaki yang mantap membuat dia merasa tidak sia-sia selama ini dia menunggu untuk mendapatkan seorang murid yang bagus seperti Burhan. Dan dia juga yakin isteri dan anaknya pasti menyukai anak ini, sebenarnya jika dia mau jujur dialah yang paling bahagia dengan adanya Burhan, dia merasa seolah-olah mendapat anak laki-laki yang selama ini dia inginkan tapi sayang sang isteri tidak bisa memberikan anak laki-laki untuknya karena kondisi isterinya yang tidak memungkinkan. Tidak seperti pria lain yang mempunyai isteri lebih dari satu dengan alasan apapun, dia mempunyai prinsip jika laki-laki tidak bisa memenuhi janji yang telah dikeluarkan dari mulutnya maka dia bukan seorang kesatria yang pantas dihormati,  melainkan seorang pecundang besar. Burhan merasakan perhatian pria ini padanya, dan di dalam hati dia sangat mengagumi dan menaruh rasa hormat pada pria gagah tersebut,  dia ingin jika dia besar nanti akan bisa seperti paman Masnan yang kelihatannya gagah perwira dan berwibawa.

Karim, Bastian dan Aswin berjalan bersama-sama sambil saling berbicara dan tertawa-tawa. Disusul oleh para orang tua dan wali dari masing-masing anak itu. Kahar berjalan bersama Bumi sambil sekali-kali mencuri pandang ke arah Siti yang kelihatan sedang asyik bercakap-cakap dengan ibu Bastian. Kedua perempuan ini benar-benar cantik sekali, ibu Bastian masih terlihat cantik sekali mungkin karena usianya yang masih muda. Dia juga merasakan bahwa wanita ini sering mencuri-curi pandang ke arahnya, dia merasa risih sekali karena jauh dalam lubuk hatinya dia berharap Sitilah yang mencuri-curi pandang padanya. Tapi terlihat Siti dengan tenang dan lembut berjalan dan tidak pernah sekalipun dia merasa memandang ke arahnya.

Sampai di ruang makan, di meja makan tersaji makanan yang banyak dan terlihat sangat mengundang selera, seperti ada daun singkong rebus, gulai pakis, rendang, gulai kol, ikan bakar, ayam balado, dan lain-lain, tidak ketinggalan lado mudo  (cabe hijau) dan krupuk merah yang menjadi ciri khas daerah Batang Kapeh. Wah benar-benar menggiurkan, Bumi menyilahkan tamu-tamunya untuk duduk, dengan segera mereka mengambil posisi mengelilingi meja besar itu.  Anak-anak kebagian duduk di meja kecil yang terletak di sudut ruangan, di sana juga tersaji makanan khas untuk anak-anak.

Setelah berbasa-basi sejenak, mereka mulai makan dengan lahap, makanannya benar-benar sangat enak sekali, tidak lama berkumandang pujian untuk Siti yang telah susah payah memasak makanan seenak ini. Yang dipuji hanya bisa tersipu malu, dan Kahar memandang sang pujaan hati dengan mata yang berbinar-binar, makanan yang dimakannya terasa sangat nikmat melebihi makanan yang tersaji di istana Pagaruyuang. Cukup lama juga mereka menikmati makanan lezat ini, karena mereka makan sampai menambah-nambah nasinya, semua orang merasa senang dan gembira.

Setelah mereka mencicipi hidangan penutup seperti pisang hasil kebun sendiri, es kelapa muda dan kue manis, mereka berjalan kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan pembicaraan. Sampai di ruang tengah, masing-masing ambil posisi duduk yang menyenangkan bagi mereka.

Bumi membuka pembicaraan ini dengan memberikan salam kepada mereka semua, dia memperkenalkan teman-temannya dengan gelar dan status mereka miliki karena ini akan mempermudah  mereka untuk memberitahukan maksud dari dia dan teman-temannya yang ingin mengambil anak-anak mereka sebagai murid.

“Para saudara sekalian, tadi kita sudah mengetahui nama dari teman-temanku ini, tapi kalian kan belum tahu siapa mereka ini sebenarnya.” Dia melihat warganya manggut-manggutkan kepalanya membenarkan ucapannya.

“Baiklah aku akan memberitahu kepada kalian mengenai mereka, pria berkumis nan gagah tersebut seperti yang kalian tahu bernama Masnan, beliau adalah wakil panglima  pasukan Garuda Malayang, yang  sangat terkenal dengan kehebatan para anggotanya. Beliau bergelar Panglima Garuda Emas, yang artinya beliau merupakan pimpinan dari pasukan Garuda Emas, sebuah pasukan elite  utama kerajaan yang bertugas mengawal keluarga raja dan melindungi istana dari serbuan pengacau. Tidak sembarang orang bisa masuk jadi pasukan Garuda Emas, banyak pemuda-pemuda kita berambisi bisa masuk jadi anggota tapi seleksinya sangat ketat sekali sehingga yang benar-benar hebat dan tangguh yang bisa menjadi pasukan Garuda Emas.” Kata Bumi dengan bangga.

Pasukan Garuda Malayang merupakan pasukan yang sangat terlatih dengan baik dan menjadi kebanggaan kerajaan. Pasukan ini terdiri 5 unit utama, yaitu pasukan Garuda Emas, Garuda Perak, Garuda Besi, Garuda Hitam dan Garuda Merah. Garuda Emas bertugas melindungi istana dan keluarga raja, Garuda Perak merupakan pasukan perang yang dimiliki kerajaan bertugas untuk melindungi kerajaan dari serangan musuh, Garuda Besi merupakan pasukan penjaga keamanan di perbatasan kerajaan dengan tetangga, Garuda Hitam merupakan pasukan mata-mata kerajaan, tidak ada yang tahu berapa banyak anggotanya dan siapa pimpinan pasukan ini karena semua mereka menggunakan topeng dan pakaian dari kain hitam bahkan mata mereka ditutup dengan kain jaring hitam sehingga orang lain tidak bisa menduga siapa gerangan orang-orang dari pasukan ini konon kabarnya orang yang direkrut di dalam pasukan ini merupakan orang-orang yang terhebat dan pilihan dari pasukan garuda lainnya (tidak ada seorangpun yang tahu bahwa panglima pasukan ini adalah Bumi, hanya 3 orang saja yang tahu hal ini, yaitu raja, penasihat kerajaan dan panglima besar kerajaan). Dan terakhir adalah pasukan Garuda Merah yang bertugas menjaga keamaan di dalam kerajaan ibaratnya polisi jaman sekarang.  Masing-masing pasukan Garuda ini dipimpin oleh seorang panglima yang bertanggung jawab kepada panglima besar dan raja. Ini sekelumit tentang unit-unit yang ada dalam pasukan Garuda Malayang.

“Ah, uda Bumi ini terlalu memuji, aku hanya orang biasa saja, kebetulan saja raja mempercayai aku untuk memimpin pasukan Garuda Emas itu.” Kata Masnan dengan rendah hati.

Para orang tua dan wali dari anak-anak itu sangat terkejut saat mendengar perkenalan dari Bumi, tidak pernah mereka sangka ternyata pria gagah ini merupakan seorang panglima dari pasukan elit kerajaan. Bermacam-macam perasaan timbul di hati masing-masing, ada perasaan bangga, kuatir, cemas dan takut,  yang paling mendesak adalah perasaan bertanya-tanya kenapa seorang panglima kerajaan diperkenalkan pada mereka, apa tujuan sebenarnya. Tapi mereka semua diam dan menunggu perkenalan selanjutnya, sekarang mereka menjadi penasaran siapa sebenarnya kedua pria lainnya.

“Nah, yang  di samping kiriku ini bernama Basri Surian, merupakan seorang pedagang sangat terkenal sekali. Mungkin yang suka merantau dan berdagang di luaran mengenal Balai Gadai Damai atau Rumah Makan Sabana Sero, beliau ini pemiliknya.”kata Bumi.

Orang tua Karim langsung menarik nafas kaget karena mereka sudah mendengar kedua nama tersebut, tidak pernah mereka menyangka pria murah senyum ini adalah pemilik Balai Gadai Damai, yang merupakan tempat orang menggadaikan barang-barangnya untuk mendapatkan uang, ada di mana-mana, hampir di setiap nagari ada balai ini, begitu juga dengan rumah makan tersebut juga tersebar di banyak tempat dan sangat terkenal dengan masakan rendang dan gulai otaknya yang luar biasa enaknya. Itu yang mereka tahu saja, tapi dari kabar yang beredar pemilik kedua tempat ini bahkan punya banyak usaha lainnya dan isterinya merupakan pendekar pilih tanding yang terkenal 20 tahun yang lalu dengan julukan Gadis Jarum Neraka, dengan senjata rahasianya berbentuk jarum sudah banyak tokoh sesat yang dibinasakannya dan tidak pernah memberi ampun kepada mereka. 

“Beliau ini mempunyai julukan Rangkayo dari Sijunjuang.”sambung Bumi kepada yang lain. 

Kembali terdengar desah kaget mendengar julukan beliau, sungguh tak terbayangkan bagaimana kaya rayanya orang ini dan pasti ilmu silatnya juga sangat hebat karena beristerikan seorang pendekar wanita ternama.  Tamu yang lain yang belum pernah mendengar julukan ini jadi bertanya-tanya pada Jintan, sambil berbisik-bisik Jintan dan isterinya menjelaskan pada mereka, setelah itu mereka baru mengerti siapa pria murah senyum ini dan bertanya-tanya dalam hati jika dia memang orang sekaya itu kenapa berpakaian sangat sederhana sekali. Mereka sempat meragukan hal ini tapi karena yang memperkenalkan adalah wali nagari yang sangat mereka hormati jadi mau tidak mau mereka mempercayainya.

“Nah, pemuda yang tampan ini bernama Kahar atau terkenal juga dengan nama Sutan Mudo Barangin, masih kemenakan dari raja kita sekarang, dan beliau juga sangat terkenal di dunia persilatan.”

Mereka semua yang hadir tambah terkejut lagi dengan status dari pemuda tampan itu, ini artinya dia seorang pangeran juga. Memang terpancar di wajahnya aura keagungan keluarga kerajaan, sikap dan tindak tanduknya sangat halus sekali seperti sikap seorang bangsawan.  Lastri merasa lebih terkejut lagi, karena teman masa kecilnya memang dari keluarga kerajaan juga, semakin yakin dia bahwa Kahar adalah teman masa kecilnya, dia sudah merencanakan akan mendekati pemuda ini dan menanyakannya. Sebenarnya Kahar adalah teman kakaknya tapi sering bermain juga dengan dirinya, diam-diam waktu kecil dia berangan bisa menjadi isteri Kahar, dan perasaan cinta ini sampai sekarang masih ada di dadanya. Dia tahu Kahar belum mempunyai isteri, dia sudah menanyakannya pada Siti, walaupun dia sudah punya anak tapi dia yakin masih bisa merebut hati Kahar, karena dia masih terlihat cantik dan usianya juga masih lebih muda dari Siti 2 tahun ditambah lagi waktu kecil dulu mereka pernah berjanji akan menjadi suami isteri ketika besar nanti.

Lastri mulai mengkhayalkan menjadi isteri Kahar, dia tidak menyadari bahwa Kahar tidak mempunyai perasaan apapun padanya bahkan ingat dia teman masa kecilnya saja tidak. Hati Kahar sekarang ini terisi penuh dengan wajah Siti, dia sudah tidak mampu lagi melihat wanita lain, apalagi sang pujaan hati begitu memikat hati penampilannya siang ini seakan membetot sukmanya keluar dari tubuhnya. Ini sebabnya dia tidak dengar saat Bumi memperkenalkannya pada yang lain, karena dia sedang sibuk meredakan denyut jantungnya ketika pandangan matanya bersirobok dengan kerlingan mata Siti.  Bumi yang tidak mendengar sahutan dari Kahar, memalingkan wajahnya melihat Kahar, dan langsung tawanya hampir tersembur keluar, karena melihat wajah Kahar yang memerah malu sambil curi-curi pandang pada Siti. Seorang pria dewasa yang terkenal ketampanannya dan ilmu silatnya yang hebat bisa salah tingkah di depan seorang gadis. 

Semakin bulat tekat Bumi untuk menjodohkan kedua insan ini, karena dia sudah melihat tanda-tanda dari keduanya yang saling menyukai. Dia merencanakan nanti malam akan menanyakan hal ini pada Kahar, apakah serius ingin mempersunting Siti. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa mereka berdua pernah saling menjalin hubungan asmara dulunya yang berakhir dengan kesedihan, ditambah lagi dengan kehadiran Lastri yang akan menyulitkan dia menyatukan kedua insan ini.

Setelah acara perkenalan selesai, para orang tua dan wali keempat anak yang sedang asyik bermain dengan Aswin ini tambah menjadi sungkan terhadap tamu istimewa dari wali nagari mereka. Tidak pernah terlintas dalam benak mereka untuk bisa bertemu dan berbicara dengan tamu istimewa ini. Dan ini semakin timbul pertanyaan dalam hati mereka, mau apa orang-orang terkenal seperti mereka mau berkenalan dengan mereka yang bukan siapa-siapa ini. Dengan wajah yang kebingungan mereka memandang wajah wali nagari dan ingin mengajukan pertanyaan. Bumi yang sudah melihat gelagat mereka ingin bertanya segera membuka suara untuk menjelaskan.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu, kedatangan kalian ke rumah aku ini dikarenakan aku mau minta pendapat dari kalian mengenai sebuah persoalan, entah kalian bisa membantu atau tidak?”


 

Apa tanggapan mereka atas permintaan Wali Nagari itu ? Apa yang akan terjadi dengan calon murid ini ?


bersambung

Posted by sieklie in 01:58:14 | Permalink | Comments Off

Tuesday, November 13, 2007

IV. Para guru

Pagi-pagi sekali sudah terlihat kesibukan orang di Batang Kapeh, ada yang sudah bersiap-siap masak untuk sarapan, mencuci, mandi, jalan pagi sambil menghirup udara segar. Benar-benar suasana terasa tenang dan damai, orang-orang yang tinggal di rumah Wali Bumipun sudah bangun sejak tadi, dan di halaman belakang rumah sudah terdengar suara-suara orang yang sedang berlatih silat. Terlihat Wali Bumi sedang berlatih silat dengan Masnan, sedangkan Kahar dan Basri duduk memperhatikan mereka dari arah teras belakang rumah. Di atas meja kecil dengan tempat mereka duduk sudah tersedia 4 gelas kopi yang mengeluarkan asap mengepul dan 1 kendi berisikan air putih segar untuk mereka nikmati di pagi yang cerah ini. Tak lama Siti keluar dari rumah sambil membawa sepiring pisang goreng dan ketan putih dicampur kelapa dan gula untuk menemani mereka sambil minum kopi. Di belakang Siti, menyusul Aswin yang baru bangun dengan mata yang masih sayu memandang ke halaman belakang melihat ayahnya bersilat dengan paman Masnan.

“Selamat pagi uda Basri dan uda Kahar, apakah tidurnya nyenyak semalam ?” Tanya Siti kepada mereka.
“Selamat pagi juga Siti, wah awak (kamu) terlihat segar dan cantik sekali. Kami bisa tertidur dengan nyaman semalam walaupun sempat juga berpikir tentang mimpi aneh uda Bumi.” Jawab Basri.
“Selamat pagi Siti.” Jawab Kahar,

Hanya perkataan itu yang sanggup keluar dari mulutnya karena dia sedang sibuk meredakan detakan jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya, dia takut orang bisa melihat bajunya bergerak akibat debaran jantungnya yang menggila setelah melihat Siti yang pada pagi ini terlihat sangat cantik dan segar seperti yang dikatakan Basri. Mengenakan baju kurung krem lembut dan sarung songket coklat yang sepadan serta rambut yang dikonde kecil dengan anak-anak rambut yang mengitari wajah ayunya membuat gadis ini terlihat sangat cantik, pantas saja gadis ini menjadi salah satu dari wanita tercantik di ranah minang ini. Bahkan Basri yang sudah mempunyai isteri saja dan mencintainya bisa melihat betapa cantiknya dara ini apalagi Kahar yang memang sudah lama mencintai Siti rasanya jantungnya seakan mau meledak melihat senyum manis dari Siti menjawab sapaan mereka. Kisah mereka berdua akan penulis ceritakan pada bab yang lain, tidak kalah serunya juga kisah perjumpaan dan perpisahan mereka.

Tiba-tiba Aswin berteriak,”Wah, ayah kena pukulan paman, yah ayah payah masak dak bisa balas pukul paman di rusuk kiri.”

Teriakan Aswin ini membuyarkan pikiran Kahar mengenai Siti tapi juga mengagetkan mereka dengan pernyataan Aswin tersebut, karena apa yang dikatakan oleh Aswin benar adanya seharusnya Bumi bisa mengatasi pukulan dari Masnan dengan menyerang rusuk kiri Masnan sehingga akan membuyarkan serangan tersebut karena yang bersangkutan buru-buru hendak melindungi rusuk kirinya. Kedua orang yang sedang berlatih itu otomatis menghentikan kegiatan mereka dan memandang Aswin dengan terkejut sekali bahkan Basri dan Kaharpun terlihat sedang memandang bocah bandel itu dengan sama kagetnya.

Sungguh tidak masuk akal anak sekecil itu bisa melihat kelemahan seseorang dari sebuah pertandingan silat, apalagi sang ayah yang ditegur itu malah merasa tidak percaya anaknya bisa mengetahui kelemahannya dalam ilmu silat.  Saking penasarannya sang ayah menanyakan kepada anaknya,” Aswin, kenapa kau bisa tahu, ayah harus menusuk tulang rusuk kiri pamanmu?”

“Tadi aku disuruh kakek Inal untuk memperhatikan pertandingan ayah dengan paman, lalu kakek menunjukan kelemahan ilmu silat ayah dan paman,” sahut Aswin yang sekarang kelihatan jauh lebih segar dari tadi, matanya berkilat penuh cahaya semangat.

Mereka menjadi maklum karena ada orang pintar yang melihat kelemahan ilmu mereka, jadi setidaknya mereka tidak terlalu malu jika seandainya benar-benar Aswin yang bisa melihat kelemahan itu. Lain halnya dengan Kahar, dia mempunyai pemikiran sendiri, biarpun Aswin dibantu oleh pendekar nomor satu seperti Datuak Inyiak Balang tapi belum tentu dia bisa melihat pertandingan tersebut karena gerakan yang dilakukan oleh kedua orang tadi sungguh cepat sekali kalau hanya dengan mata awam biasa hal itu akan memusingkan kepala mereka karena saking cepatnya gerakan mereka. Tapi Aswin mengatakan tadi bahwa dia disuruh memperhatikan pertandingan mereka dan diberi petunjuk tentang  kelemahan kedua pesilat tersebut, itu artinya Aswin bisa mengikuti pertandingan tingkat tinggi tadi dengan matanya.  Kahar semakin penasaran dengan kehebatan Aswin, dia jadi ingin menguji sampai di mana kelihaian pendekar nomor satu itu dalam mendidik Aswin sehingga dalam usia semuda ini saja dia sudah bisa menyaksikan pertandingan tingkat tinggi dengan baik sekali, ini bukan sebuah hal yang biasa terjadi, hanya orang-orang yang sudah mempunyai ilmu tenaga dalam yang tinggi yang bisa melihat pertandingan tersebut dengan jelas sekali.

“Aswin, paman mau Tanya, apa tadi Aswin bisa melihat pertandingan ayahmu dengan paman Masnan?” Tanya Kahar.
“Bisa paman, memangnya kenapa paman ?”
“Apa kamu lihat dengan jelas?”
“Jelas, paman.”
“Kamu ingat dak gerakan yang dilakukan ayah kamu dan paman Masnan?”
“Yah, paman manalah Aswin ingat semua, hanya beberapa saja.”
“Hmmm… bisa dak Aswin peragakan buat paman?”
“Tapi paman, Aswin belum bisa gerakan itu nanti malah tambah salah lagi.”
“Gak apa-apa, paman hanya mau tahu saja seberapa kuat ingatan kamu, boleh kan ?”
“Hmmm, baiklah paman akan Aswin coba.”

Sementara itu yang lain mendengar percakapan antara Aswin dengan Kahar menjadi semakin tertarik, dan merekapun mulai berpikir kenapa anak sekecil Aswin bisa mengikuti pertandingan silat tadi dengan jelas seharusnya hanya orang-orang yang sudah mempunyai tenaga dalam yang tinggi yang bisa melihat karena dengan penyaluran tenaga dalam tersebut ke mata mereka maka mereka bisa melihat pertandingan tingkat tinggi seperti tadi itu. Bahkan Bumi tidak mempercayai pendengarannya bahwa anaknya bisa melihat pertandingan tersebut dengan jelas, dia berpikir anaknya hanya membual saja, makanya dia ingin tahu apakah benar anaknya bisa mengingat gerakan yang dia dan Masnan lakukan selama pertandingan tersebut. Jika terbukti anaknya tidak bisa lakukan gerakan tersebut berarti anaknya telah berbohong dan dia merencanakan untuk menghukum anak bandel ini karena sudah berani berbohong kepada orang tua, kecil-kecil pintar berbohong apalagi sudah tua bisa tambah runyam urusannya nanti. Dia sudah siap dengan pikiran hukuman apa yang pantas bagi anaknya yang sudah berbohong ini.

Aswin dengan baju piyamanya bergerak menuju lapangan tempat tadi ayahnya bersilat, sesampai di sana dia menggerak-gerakan tangan dan kakinya seperti ingin melemaskan otot-otot tangan dan kakinya, terlihat wajahnya sangat santai, tapi anehnya adalah sinar matanya seperti berkilat-kilat kehijauan tanda bahwa otaknya sedang berpikir. Setelah beberapa saat dia melakukan semua itu, tiba-tiba dia mengambil sikap diam membisu dengan merangkapkan kedua tangannya di dada sambil memejamkan matanya dia mulai menarik nafas perlahan-lahan dan membuangnya dengan perlahan juga. Mereka yang melihat gerakan-gerakan yang dilakukannya merasa tertarik sekali, bahkan Masnan mulai merasakan adanya kekuatan lain yang berpusaran di sekitar mereka, tambah lama kekuatan tersebut tambah besar dan bergerak menuju sekeliling Aswin, berputar di sana untuk beberapa saat. Yang lain tidak merasakan hal yang sama dengan Masnan, tapi Basri, Kahar maupun Bumi mulai merasakan akan terjadi hal yang luar biasa sebentar lagi, mereka menjadi waspada karena kuatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Dan… Aswin mulai menggerakkan tubuh, tangan dan kakinya, sesuai dengan gerakan yang dilakukan oleh Bumi selama terjadinya pertandingan, yang mengherankan semua gerakan yang dilakukan oleh Aswin sangat mirip sekali dengan gerakan yang dilakukan oleh ayahnya bahkan walaupun masih kelihatan kaku tapi sungguh sudah memadai sekali. Bumi merasa sangat heran sekali karena dia merasa tidak pernah mengajari ilmu silat kepada anaknya, baru akhir-akhir ini saja dia meletakan dasar-dasar silat kepada anaknya tapi belum berkembang sampai sejauh ini. Aswin melakukan semua gerakan ini dengan wajah berseri-seri gembira seperti seolah-olah dia sedang bermain-main saja, matanya terlihat berkilat-kilat sekali-kali seperti mengeluarkan sinar kehijauan. Orang yang melihat ini menyangka mata anak itu berkilat karena pantulan sinar matahari pagi yang membias pohon-pohon hijau yang ada di sekitar lapangan tersebut. Tapi bagi Masnan itu merupakan sebuah hal yang menakjubkan sekali, dia menjadi teringat perkataan gurunya bahwa orang yang bisa mengeluarkan kilat sinar kehijauan dari matanya itu menandakan bahwa dia orang yang istimewa yang memang ditakdirkan untuk menjadi orang yang luar biasa dalam ilmu kebatinan nantinya.  Tanpa perlu bersusah payah lagi dia secara otomatis mempunyai dasar kekuatan kebatinan dalam dirinya yang mana orang lain harus memupuknya setengah mati dan makan waktu bertahun-tahun tapi orang tersebut tidak perlu melakukan hal tersebut, hanya diajarkan sedikit saja dia akan dengan cepat sekali menguasainya bahkan dengan dasar yang dia punya dia bisa mengembangkannya lebih hebat lagi.

Bahkan konon kabarnya dengan larikan sinar mata seperti itu dia bisa membunuh dengan membakar hangus bangsa jin, setan, lelembut, siluman dan iblis dengan sekali pandang.  Sedangkan terhadap manusia, tidak menyebabkan dia seperti bangsa jin hangus terbakar tapi bisa membuat mereka berhalusinasi yang menyebabkan kematian mereka seperti mereka bisa menusuk diri mereka sendiri setelah mereka memandang mata tersebut dan mendengar perintah dari si pemiliknya.  Semakin tajam terlihat kilatan sinar hijau di mata orang tersebut akan semakin kuat tenaga batinnya, karena itu menandakan yang bersangkutan sudah bisa mengontrol tenaga batinnya dengan sangat baik, bisa menggunakannnya kapan saja dan di mana saja. Sungguh kekuatan batin yang sangat menggiriskan sekali, kalau di salah gunakan akan berakibat membahayakan terhadap lingkungan sekitarnya.

Masnan yang tenggelam dalam pikirannya tidak menyadari bahwa Aswin sudah selesai memperagakan gerakan silat ayahnya waktu melawan dirinya, sekarang Aswin sedang bersiap-siap mau menirukan gerakan yang dilakukan oleh Masnan. Kahar segera menyenggol siku Masnan untuk melihat apa yang dilakukan oleh Aswin, Masnan terkejut dan tersadar dari perenungannya tadi dan memandang Kahar untuk menanyakan apa maksudnya, Kahar menjawab dengan memajukan dagunya ke arah lapangan. Alangkah terkejutnya Masnan melihat Aswinpun dapat menirukan gerakan silatnya dengan baik walau masih terlihat kaku, tapi semua gerakan tersebut benar sesuai dengan gerakan yang dilakukan Masnan ketika melawan Bumi. Basri lebih terkejut lagi dengan mengucek-ngucek matanya dia memandang Aswin lalu Masnan bergantian dengan perasaan tidak percaya melihat pemandangan itu. Dia merasa benar-benar tidak percaya Aswin bisa melakukan hal itu, tadinya waktu Aswin melakukan gerakan ayahnya dia berpikir bahwa sang ayah pasti pernah mengajarkan teori silatnya kepada anaknya walaupun belum pernah praktek, tapi kini anak tersebut bisa melakukannya dengan mantap dan nyaris sebaik yang dilakukan oleh Masnan membuat dia mau tidak mau harus mempercayai matanya.

Lain lagi dengan pemikiran Bumi setelah dia dikejutkan dengan kepandaian anaknya menirukan gerakan silatnya kini dia lebih dikejutkan lagi karena anaknya bisa meniru juga gerakan yang dilakukan oleh Masnan, sempat dia tidak mempercayai semua ini. Tapi setelah dia pikir dan renungkan kembali percakapan tadi, dia sadar guru anaknya ada di sekitar mereka tentu sang guru yang membantu muridnya untuk bisa mengingat semua gerakan silat, mulailah dia tenang karena semua sudah masuk ke logikanya ibarat bermain puzzle dia sudah menempatkan puzzle terakhir pada tempatnya maka semua sudah sesuai dengan logikanya dan ini semua masuk akal serta tidak mengherankan lagi baginya karena dia tahu guru anaknya merupakan pendekar nomor satu di ranah minang ini tentu saja dibandingkan dengan dia, baik ilmu silat dan tenaga dalamnya jauh sekali bedanya. Dan sewajarnya sang guru bisa memberi petunjuk kepada muridnya untuk melakukan gerakan silat yang dia dan Masnan lakukan tadi. Mulai dia dengan tenang dan bibir tersinggung senyuman memandang anaknya bersilat, tapi biar bagaimanapun dia bangga juga walau mendapat petunjuk dari gurunya, anaknya bisa melakukan semua gerakan tersebut tanpa salah sedikitpun seperti seolah-olah anaknya pernah melatih ilmu-ilmu mereka walau belum sempurna. Padahal anaknya baru sekali ini melihat gerakan silat Masnan, kalau dirinya mungkin saja anaknya sudah pernah lihat gerakan yang dia lakukan waktu melatih muridnya yang lain, tapi kalau dia boleh jujur ilmu barunya yaitu “Tinju Bumi Tendangan Maut”  merupakan sebuah kombinasi ilmu silat yang mengandalkan kecepatan kaki dan tinju yang belum pernah dia perlihatkan kepada orang lain, hari ini baru pertama kali dia keluarkan karena dia ingin menguji keampuhan dari ilmu tersebut. Dan ternyata anaknya mampu menirunya dengan sangat baik sekali.

Terdengar seruan kaget dari Masnan, ketika Aswin mulai melakukan gerakan silat yang terakhir digunakannya ketika melawan Bumi. Masnan mengeluarkan ilmu barunya bernama “Hempasan Angin Terbangkan Awan”, sebuah ilmu yang hebat sekali yang terpaksa dikeluarkannya ketika dia kewalahan menahan serangan ilmu baru dari Bumi.  Ilmu ini didasarkan dengan tenaga dalam yang lembut untuk menahan tenaga dalam keras yang menyerang, karena ilmu baru dari Bumi didasarkan pada tenaga dalam keras (atau dalam ilmu silat Cina disebut tenaga Yang). Ilmu ini terlihat tenang dan lembut seakan tidak bertenaga tapi di balik itu kekuatan mendorongnya sangat kuat sekali, Bumi yang tidak menyangka di balik kelembutan ilmu itu tersembunyi tenaga dorongan yang dasyat, terkejut sekali dan ini yang menyebabkan dia telat mengambil tindakan untuk antisipasi gerakan dorongan tadi sehingga dia bisa terpukul oleh Masnan.

Masnan terkejut sekali dengan gerakan yang dilakukan Aswin karena menurut hematnya ilmu ini tidak gampang sekali dikuasai banyak perubahan dan perkembangan dalam ilmu ini sehingga bagi anak kecil seusia Aswin seharusnya tidak bisa menguasainya dengan cepat sekalipun di bawah bimbingannya langsung. Dia membutuhkan waktu 9 tahun untuk bisa mengembangkan ilmu itu sedemikian rupa, tapi Aswin dengan sekali melihat saja dia bisa melakukan gerakannya sampai ke gerakan 39 selanjutnya dia tidak meneruskan karena memang di jurus ke 39 lah pertandingan antara Bumi dan dia berakhir. Benar-benar anak yang mengagumkan sekali dalam usia 5 tahun dia bisa menghapal dan meniru semua gerakan yang dilakukan oleh 2 orang tanpa kesalahan sedikitpun.  Masnan, Kahar dan Basri menjadi kagum sekali pada Aswin, mereka mengeluarkan pujian atas kehebatan Aswin. Baru Bumi mau buka suara menyanggah pujian teman-temannya untuk anaknya dengan memberitahukan kepada yang lain bahwa guru anaknya ada di sekitar mereka, terdengar suara Aswin berseru ke arah pohon cemara yang besar dan rindang di belakang lapangan tersebut.

“Kakek, bagaimana gerakan silatku, aku mampukan hafal dan meniru gerakan silat ayah dan paman? Tadi kakek bilang mau taruhan sama aku bahwa aku tidak bisa menghafal dan meniru mereka berdua, ternyata aku mampu berarti aku menang yah kek… Horeeee… aku menang….” Kata Aswin dengan gembira sambil berjingkrak-jingrak kegirangan.  “Itu artinya aku bisa menagih hadiah kemenanganku pada kakek….cihuyyy !”

Terdengar jawaban dari arah pohon tersebut, “Bagus sekali. Kamu memang bisa melakukannya, baiklah kakek akan memberikan kamu hadiah, kamu mau apa dari kakek.”

Sungguh aneh sekali tidak  terlihat ada orang di sekitar pohon itu, mereka berusaha mengerahkan mata mereka ke arah pohon supaya bisa melihat wajah pendekar nomor satu itu tapi tetap saja mereka tidak bisa melihatnya. Masnan memejamkan matanya dan mengerahkan tenaga batinnya untuk bisa membantu matanya melihat orang yang duduk di sekitar pohon tersebut. Setelah itu dia membuka matanya dan melihat memang di ujung dahan cabang pohon yang agak tinggi dia melihat seorang pria berkumis misai putih  sedang duduk tenang seakan tidak takut akan dahan tersebut akan patah akibat berat tubuhnya, wajah pria tersebut tidak terlihat jelas akibat dia duduk membelakangi matahari. Segera Masnan merangkapkan kedua tangan di dadanya dan mengarahkan pandangan matanya  ke arah pria tua itu, “Salam Sejahtera dan selamat bertemu, Datuak.” Masnan menerka inilah dia si pendekar nomor satu ranah Minang, Datuak Inyiak Balang sehingga dia langsung menyebut pria itu dengan sebutan datuak.

Yang lain terbengong melihat ucapan dan gerakan Masnan ke arah pohon itu, bahkan Bumi mencolek Masnan,”Masnan, memangnya kau bisa lihat datuak itu? Aku tidak melihat adanya orang di sekitar pohon itu?” katanya.

“Ayah, masak tidak bisa melihat kakek ? Itu orangnya sedang duduk di dahan pohon sebelah kiri itu.” Kata Aswin keheranan karena ayahnya tidak bisa melihat kakeknya.

“Kalian semua segera kerahkan tenaga batin kalian salurkan ke mata kalian lalu lihatlah ke arah pohon itu kembali.”

Segera semua melakukan yang disuruh oleh Masnan, setelah itu mereka memandang ke arah pohon dan sekarang mereka memang melihat ada orang di sana tapi tidak terlihat jelas wajahnya. Segera mereka melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Masnan memberikan salam kepada orang tua itu.

“Salam sejahtera untuk kalian semua. Maaf jika aku mengganggu kesenangan kalian, aku si orang tua ini paling senang melihat pertandingan silat jadi tanpa sadar sudah datang ke sini dan mencuri lihat pertandingan itu.”

“Datuak, kenapa tidak turun dan singgah ke rumah kami yang buruk ini, sekalian memperdalam perkenalan kita karena kami sudah lama mengagumi anda.”

“Terima kasih Bumi, bukan maksud hatiku untuk menampik tawaranmu itu, hanya belum saatnya kalian lebih mengenal aku, ini kebetulan saja karena aku memang suka iseng melihat orang yang bersilat sehingga aku hadir di sini. Kalian juga harus mengerahkan tenaga batin untuk melihatku dikarenakan memang jasadku tidak ada di sini, yang hadir hanya rohku saja. “ terdengar senyuman dalam jawaban itu.

“Bagaimanapun sebagai ucapan terima kasihku pada undangan kalian, aku akan memberikan sepatah dua patah kata untuk kamu dan Masnan?”

“Tentu saja boleh, kami senang sekali jika anda mau memberikan petuah bagi kamu yang muda ini,” sahut Bumi dengan cepat.
“Benar datuak silahkan saja, kami siap mendengarnya, “ kata Masnan.

“Baiklah kalau begitu aku tidak perlu basa basi lagi, untukmu Bumi, belajarlah sifat unsur tanah dengan baik, perhatikanlah bagaimana tanah menjadi bagian dari kejadian alam sehingga kamu akan mengerti perbaikan apa yang harus kamu lakukan pada ilmumu yang terakhir itu. Dan aku melihat kamu harus memperdalam ilmu kebatinanmu juga, karena unsur tanah dalam ilmu terakhirmu sangat bagus sekali untuk digunakan ketika melawan bangsa kegelapan. Sudah saatnya aku memberikan kepadamu, buku  yang dititipkan guruku untuk diberikan kepadamu, ilmu dalam buku ini sangat bermanfaat sekali buatmu untuk melatih muridmu melawan bangsa kegelapan. Nama ilmu itu Jubah Gaib Tanpa Bayangan, ilmu ini akan membantu kamu untuk memahami ilmu barumu, jika kamu sudah mengerti dengan baik, mulailah lebur ilmu barumu ke dalam ilmu Jubah Gaib Tanpa Bayangan sehingga ilmu kamu akan meningkat dengan sangat pesat sekali. Ilmu ini bisa kau gunakan untuk manusia dan juga bangsa kegelapan, setelah kau hafal dan mengerti isi buku ini maka kamu jangan heran buku itu akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 3 bulan dari hari pertama kamu mulai membuka halaman pertama buku tersebut, jadi saranku hafal dan pelajarilah baik-baik isi buku ini setelah itu baru kau praktekkan. ”

Tiba-tiba terdengar desiran angin  yang bergerak cepat ke arah Bumi, segera dia membuka tangannya bermaksud untuk menangkis angin tajam itu, tapi terdengar datuak berkata,” Buka tanganmu Bumi dan terimalah buku ini.”
Segera Bumi melakukan permintaan beliau, dan baru dia membuka tangannya, tiba-tiba di tangannya sudah ada sebuah buku tipis bersampul coklat.  “Simpan dan pelajarilah buku ini baik-baik, didiklah muridmu nanti dengan dasar-dasar ilmu yang ada di buku itu dan ilmu barumu karena waktumu untuk mendidik dia tidak lama hanya 5 tahun saja jadi kamu harus serius mendidiknya dengan kedua ilmu pamungkas ini saja, ditambah ilmu lain yang berhubungan dengan pesan yang diberikan kakek guruku.”

Bumi keheranan dengan pernyataan datuak, mengapa beliau bisa tahu mengenai mimpi anehnya itu, tapi kemudian dia ingat dengan siapa dia berhadapan dan dia menjadi maklum. Segera buku itu disimpan ke dalam kantong bajunya dengan hati-hati sekali dan berjanji dalam hati untuk sungguh-sungguh mempelajarinya.

“Terima kasih banyak datuak, kepercayaan datuak pada saya tidak akan saya sia-siakan dan pesan kakek pasti akan aku laksanakan dengan sebaik mungkin.” kata Bumi dengan penuh hormat.

“Untukmu Masnan, aku lihat ilmumu sudah berkembang lebih baik tapi terlalu banyak perubahan gerak yang kau lakukan untuk itu saranku perhatikanlah unsur angin di sekelilingmu dan lihatlah bagaimana mereka bergerak mendorong awan dengan lembut sehingga manusia tidak merasakan bahwa awan itu sudah berpindah tempat. Jika kamu sudah bisa melakukan hal itu dengan baik, maka kamu tidak memerlukan perubahan gerak sebanyak yang sekarang bahkan dengan jurus yang simple dan tidak banyak perubahan akan lebih efektif untuk mengalahkan musuhmu dengan cepat. Aku juga tahu ilmu kebatinanmu paling tinggi diantara teman-temanmu, oleh karena itu dalam waktu dekat ini ada seorang pertapa sakti  yang akan datang untuk membantumu dalam ilmu kebatinan, saranku minta padanya untuk mengajarkan ilmunya yang bernama Halimun Senja Pengejar Roh, lalu kau gabungkanlah ilmu itu dengan ilmu barumu itu agar bisa membantu dalam menghadapi bangsa kegelapan.”

“Terima kasih datuak, aku pasti akan melakukan seperti yang datuak sarankan.” Kata Masnan juga dengan perasaan hormat yang mendalam.

Mendengar uraian dari Datuak ini, sebenarnya mereka berdua merasa tergetar  hatinya karena anjuran dari Datuak benar-benar membantu mereka membuka mata mereka akan kelemahan dari ilmu masing-masing. Hanya dengan perenungan sebentar saja, mereka sudah merasakan manfaatnya dan menyadari bahwa mereka harus kerja keras dan berusaha lebih tekun lagi untuk menyempurnakan ilmu baru tersebut. Mereka tidak sadar telah berdiam diri cukup lama untuk merenungkan apa yang dikatakan oleh Datuak. Mereka berjanji dalam hati untuk melaksanakan sesuai dengan saran datuak  dan diam-diam mereka bersyukur sekali ternyata secara tidak terduga mereka mendapat tambahan ilmu  sakti lagi untuk menambah kedalaman ilmu silat dan batin mereka.

Yang lain mendengarkan  uraian Datuak, mulai juga memikirkan perkembangan ilmu silat mereka, seandainya saja mereka mendapat petunjuk juga dari datuak mungkin ilmu mereka juga akan berkembang seperti kedua teman mereka itu. Lain lagi yang menjadi pemikiran Aswin, dia mulai tidak sabar dengan semua ini, ingin segera mendapatkan hadiah dari kakek Inal.

Karena itu dia mulai dengan tidak sabar merengek kepada datuak,” Kakek, mana hadiah yang kakek janjikan untukku, aku mau pergi mandi, badanku sudah terasa lengket karena keringat.”

“Anak nakal, kau memang tidak sabaran sekali. Baiklah, buka mulutmu sekarang.”

“Cihuy, aku dapat buah enak lagi, baik kek. Ahhhh…”

Baru dia buka sebentar mulutnya terasa ada sebuah benda masuk ke dalam mulutnya dan rasa manis mengalir di lidahnya,  langsung dia melonjak kesenangan.

“Terima kasih kakek, sekarang aku mandi dulu yah kek,” langsung Aswin berlari ke dalam rumah untuk pergi mandi, dan Siti mengikuti bocah nakal itu karena kuatir dia akan kelamaan main air sehingga menyebabkan banjir di seluruh ruangan  mandi.

Adapun benda yang dimasukan ke dalam mulut Aswin oleh Datuak, adalah buah langka yang bernama kaluang darah yang berasal dari Rimbo Kaluang,  sebuah hutan yang sangat mengerikan untuk dikunjungi oleh manusia biasa. Banyak  orang yang sudah datang ke tempat ini tidak ada satu juga yang kembali, baik  pendekar-pendekar dari ranah minang sendiri bahkan sampai dari luar seperti pendekar dari tanah Java, pendekar dari Borneo pernah mendatangi Rimbo Kaluang tapi tidak satu juga kembali dari sana.  Mereka seperti ditelan bumi dan tidak pernah kelihatan bayangannya lagi, sanak saudara dan teman  mereka sudah menunggu di luar Rimbo  tapi sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan tidak juga ada yang keluar. Ada yang coba masuk untuk mencari tapi tim pencari tersebutpun sepertinya hilang ditelan bumi, akhirnya tidak ada satu orangpun berani ke sana lagi. Sebenarnya para pesilat hendak memasuki wilayah Rimbo Kaluang ini dikarenakan ada legenda mengenai daerah ini.

Menurut berita yang beredar di dunia persilatan bahwa di rimbo ini terdapat buah langka yang bernama kaluang darah makanya rimbo ini disebut Rimbo Kaluang. Buah ini sangat berkhasiat luar biasa sekali, selain membuat yang memakannya kebal terhadap racun tapi juga menambah tenaga dalam  serta memberi kekebalan tubuh yang baik sekali terhadap penyakit-penyakit yang sering menimpa manusia seperti demam, flu, batuk dan lain-lain. Tapi makan buah ini tidak bisa sembarangan harus ada aturannya yang hanya diketahui jika mereka menemukan istana Damar Pelangi di dalam rimbo itu.  Barang siapa yang bisa menemukan istana tersebut dan menguasai pedang Damar Pelangi maka orang itu akan bisa menjadi pemimpin dunia persilatan. Di dalam istana itu sendiri tersimpan 5 senjata maut yang pernah menggetarkan di dunia persilatan dan dunia kegelapan pada masa dulu yaitu  Tongkat Kayu Kaluang, Lacuik (Cambuk) Bara Mentari,  Saluang Kemala Biru, Golok Sabit Hitam, dan terakhir adalah Pedang Damar Pelangi. Mengenai senjata-senjata ini akan penulis kisahkan keistimewaannya setelah senjata itu dikuasai oleh tuannya.

Selain kelima senjata tersebut, di situ juga tersimpan 2 buku yang hebat sekali yaitu 1 buku silat  yang menuliskan semua inti sari dari ilmu silat yang ada di dunia. Keistimewaan buku ini selain menuliskan inti sari ilmu silat juga mengajarkan cara menambah tenaga dalam dengan cepat tanpa perlu sampai berpuluh-puluh tahun jika sudah mengetahui rahasianya. Anehnya bagi yang membacanya bisa berbeda-beda cara mereka menafsirkan arti sajak-sajak yang digunakan sebagai petunjuk atas ilmu silat tertinggi dalam buku itu, sehingga peningkatan ilmu silat dan tenaga dalam merekapun jadi berbeda pula setiap orangnya tergantung pada kemampuan dan bakat yang bersangkutan. Dan 1 buku lagi berisikan cara-cara meningkatkan ilmu kebatinan tingkat tinggi dan mantra-mantra yang bisa digunakan untuk melawan bangsa kegelapan serta kekuatan dan kelemahan dari masing-masing jenis bangsa kegelapan itu.

Ditambah lagi ada berita yang lebih membuat orang tambah berbondong-bondong kesana, adanya harta karun yang disimpan dalam istana itu. Bahkan istana itu sendiri juga sangat indah bermandikan sinar warna warni seperti pelangi di saat matahari bersinar, dan pada malam hari jika mempunyai tenaga batin yang kuat akan bisa juga melihat istana itu di kelilingi sinar yang sangat indah sekali.  Hanya orang yang berjodoh saja yang bisa memasuki istana ini dan mengambil ke 5 senjata serta mempelajari buku ajaib itu. Bahkan jin-jin, siluman, dan semua kuasa kegelapan yang ada di  dalam rimbo itu tidak bisa mendekati istana Damar Pelangi, seakan-akan ada dinding kekuatan yang hebat sekali memagari istana ini sehingga siapapun tidak bisa memasukinya. Setiap bangsa kegelapan hendak mencoba menembus dinding kekuatan itu selalu hangus terbakar, bahkan untuk iblis yang mempunyai tingkatan tertinggi sekalipun tidak bisa memasukinya, begitu juga dengan manusia sekalipun dia merupakan pendekar jempolan jika tidak berjodoh dengan istana ini maka akan kena luka dalam yang parah sekali sehingga menyebabkan kematian akibat hantaman dari dinding kekuatan Damar Pelangi.

Jadi kenapa buah ini bisa berada di tangan Datuak Inyiak Balang dan diberi makan kepada Aswin ? Ini karenakan Datuak berhasil memasuki Rimbo Kaluang dan memasuki istana Damar Pelangi tersebut, memang beliau beruntung sekali bisa masuk ke istana itu tapi sayang sekali beliau tidak berjodoh dengan ke 5 senjata dan buku silat yang ada di sana serta harta karun yang ada karena untuk membuka pintu yang menyimpan harta karun itu dibutuhkan lima senjata berikut dengan tuannya yang sudah dilatih dengan buku silat yang tersimpan di sana. Biarpun begitu tetap tidak sia-sia Datuak masuk ke istana itu, di ruang utama bangunan itu di dindingnya tertulis syair-syair yang indah dan gambar-gambar bagus, jika orang yang melihatnya sudah mempunyai ilmu tenaga dalam dan batin tingkat tinggi akan bisa melihat bahwa gambar-gambar tersebut mengandung maksud karena di sana tergambar cara dan akibat jika memakan buah kaluang darah tanpa petunjuk seperti yang tertera di gambar tersebut. Sedangkan syair-syair itu ternyata menyimpan makna untuk  2  ilmu silat tingkat tinggi yaitu Ilmu Cakar Maut Harimau Dewa dan Ilmu Lompatan Kayangan Harimau Setan yang memang sudah sesuai sekali dengan dasar ilmu yang sudah dimiliki oleh Datuak. Ilmu tadinya diperkirakan sudah musnah bersama menghilangnya Pangeran Satyawarman dan Panglima Sulaiman, karena kedua ilmu merupakan salah satu dari ilmu pamungkas yang dimiliki oleh kedua manusia sakti ini.

Dengan kedua ilmu inilah maka Datuak Inyiak Balang bisa menduduki sebagai tokoh nomor satu di dunia persilatan ranah minang, bahkan menjadi tokoh terkenal mumpuni juga di Tanah Java dan Borneo .  Sedangkan mengenai buah kaluang darah yang tergambar di lukisan-lukisan yang ada di dinding, menggambarkan bahwa buah ini di satu sisi sangat baik sekali dimakan kalau tahu cara memakannya tapi jika tidak akan terjadi sebaliknya, barang siapa yang memakannya tanpa aturan maka semua lubang yang ada di tubuh orang tersebut akan mengeluarkan darah karena semua urat tubuhnya yang mengalirkan darah akan pecah akibat sel-sel darahnya membesar sehingga uratnya tidak kuat menampung membesarnya sel-sel tersebut.  Buah Kaluang Darah bentuknya seperti donut kecil sekali sebesar buah ceri dan berwarna seperti darah bahkan tetesan airnya saja berwarna merah seperti darah manusia, berbau harum dan rasanya manis yang enak di lidah. Di dalam Rimbo Kaluang ini tanaman ini tumbuh subur hanya di taman belakang istana Damar Pelangi dikelilingi dengan rimbunan bunga racun Asmara Hitam. Tanaman ini  hanya berbuah 10 biji dalam 7  tahunnya, jika sudah dipetik buah matangnya maka harus menunggu 7 tahun lagi  baru dia berbuah lagi.

Buah Kaluang Darah ini dapat dimakan oleh anak kecil berusia 3 tahun dimana seluruh sel-sel darahnya belum terlalu terkontaminasi dengan zat-zat yang masuk kedalam tubuhnya tapi di satu sisi sel darahnya juga harus mempunyai sistem kekebalan bagus ini bisa dites dengan cara mengeluarkan darah anak itu dan mencampurnya dengan tetesan air rendaman buah itu, jika berwarna tetap merah muda maka aman untuk dimakan tapi jika berubah menjadi merah darah yang pekat sekali maka berarti anak itu tidak bisa makan buah kaluang darah. Sekali sudah makan buah kaluang darah maka otomatis system tubuh si anak akan bisa menerima buah ini sebagai makanan dan mencernanya untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Hanya buah ini boleh dimakan 3 bulan sekali 1 butir tidak bisa dimakan sekaligus banyak karena tidak berefek bagus juga bagi yang memakan kalau dia kuat dia akan bertahan tapi jika tidak akan langsung meninggal dengan tubuh yang meledak akibat sel-sel darahnya membesar.

Dan bagi orang dewasa, buah kaluang ini juga harus hati-hati memakannya, hanya boleh dimakan separuh saja setiap 6 bulan sekali artinya hanya boleh 1 buah 1 tahun, jika memakan lebih dia akan langsung meninggal saat itu juga karena reaksi sel-sel darah merah pada tubuh orang dewasa lebih cepat bereaksi terhadap buah ini dibandingkan anak-anak. Dan pertama kali Datuak Inyiak Balang datang ke istana tersebut hampir 30 tahun yang lalu dan saat itu buahnya sudah membusuk akibat kematangan dan sambil dia belajar ilmu silat yang ada di istana serta mempelajari riwayat istana dari lukisan yang ada di dinding, dia menunggu juga pohon kaluang berbuah. Tapi sayang belum sempat dia menikmati buah kaluang pada tahun kelima setelah kedatangannya dia menerima wangsit dari gurunya untuk menghancurkan kekuatan jahat yang mulai berkembang di ranah minang. Membutuhkan waktu hampir 4 tahun untuk menyelesaikan pertikaian yang terjadi saat itu. Saat dia balik ke istana buah itu sudah membusuk lagi, kembali dia bertapa di istana sambil menunggu buah kaluang matang.  Kembali dia mendapat wangsit dari gurunya untuk pergi ke tanah Java dan Borneo, akhirnya setelah berkelana hampir 10 tahun lamanya, kira-kira 10 tahun yang lalu dia kembali ke istana untuk semakin memantapkan ilmunya dan menunggu kematangan buah. Untunglah ketiga kali ini dia berhasil mendapat buah kaluang yang matang sebelum gurunya memberi tugas baru untuknya.

Setelah buah matang sesuai petunjuk harus dipetik tidak dengan tangan tapi dengan menggunakan kain sutra hitam yang ada di meja sembahyang ruang dalam, karena kalau menggunakan tangan, akan kena racun bunga Asmara Hitam yang sangat berbahaya itu, kain ini digunakan untuk menutupi rimbunan bunga dan menjejakan kaki di atas kain lalu menggunakan ujung kain memetik buah kaluang, itu artinya si pemetik harus memiliki ilmu peringan tubuh yang bagus sekali sehingga bisa berdiri di atas rimbunan bunga yang kecil-kecil berwarna abu kehitaman itu. Setelah mendapatkannya di bungkus dengan kain sutra itu dan direndam dalam air kolam yang ada di tengah istana selama 10 hari, air itu sangat dingin sekali dan berkhasiat mengawetkan buah kaluang serta membersihkan serbuk racun bunga Asmara Hitam yang telah dinetralisir oleh kain sutra hitam itu. Baru kemudian bisa dipegang oleh tangan manusia dan dimakan. Jika ingin buah ini awet tidak rusak bertahun-tahun maka buah ini harus direndam dengan air kolam, dan kebetulan pada saat Datuak berkeliling melihat istana sampailah dia di dapur istana di sana dia melihat ada sebuah tabung kecil yang terbuat dari logam yang berwarna kebiru-biruan yang indah sekali karena tertarik dia mengambil tabung itu dan memeriksanya. Tabung itu terasa dingin sekali tapi berkat tenaga dalamnya yang hebat dia tidak merasakan hawa dingin dari tabung tersebut. Buah Kaluang yang telah dipetiknya disimpan di dalam tabung berikut dan diisi dengan air kolam sehingga suhu air kolam tersebut tetap terjaga dalam tabung itu. Dan kain sutra hitam yang sudah digunakan harus dilipat kembali dan diletakkan ke meja sembahyang kalau ini tidak dilakukan maka penggunanya akan hidup dalam bahaya karena roh jahat yang menyertai kain itu akan selalu mengganggunya sampai mati.

Kain sutra hitam itu sendiri entah terbuat dari apa, sangat kuat sekali dan lentur serta rapat sekali tenunannya, sehingga terlihat sangat hitam sekali bahkan bila ditaruh di atas cahaya, dan cahaya tidak bisa menembus kain itu, oleh karenanya kain itu disebut Kain Tenun Siluman. Jika tidak ada cahaya maka kain ini benar-benar tidak terlihat sama sekali, sepertinya menyatu dengan kegelapan. Bangsa siluman, jin dan setan mengincar barang ini karena konon kabarnya ratusan tahun yang lalu kain ini merupakan kain kesayangan dari Maharaja Kegelapan yang paling sakti mandraguna dibandingkan dengan maharaja yang lain, yang dililit ke sekujur tubuhnya. Diyakini apabila mereka mendapatkannya maka mereka akan mendapatkan kesaktian dari Maharaja itu dan diangkat sebagai Maharaja Kegelapan yang baru karena kain ini merupakan salah satu symbol penguasa Kerajaan Kegelapan. Sedangkan bunga Asmara Hitam merupakan bunga lambang kerajaan Kegelapan, oleh karena itu bunga ini bisa dinetralisir dengan menggunakan kain Tenun Siluman.

Sama juga dengan 5 senjata utama itu hanya yang berjodoh saja bisa menggunakan kekuatan dari kain Tenun Siluman ini, manusia hanya bisa menggunakannya sebagai alat untuk mengambil buah kaluang darah, lain dari itu tidak ada gunanya sama sekali, sama seperti kain biasa, bahkan yang tidak kuat imannya bisa kerasukan roh jahat atau mati dengan tidak sempurna alias menjadi budak bangsa kegelapan.

Setelah hampir 7 tahun Datuak bertapa di sana, dia mendapat wangsit dari gurunya mengenai Aswin, maka keluarlah dia dari Rimbo Kaluang untuk mencari anak yang akan dilahirkan sebagai cahaya yang menerangi kegelapan. Petunjuk  gurunya juga yang menyuruh untuk memberikan buah kaluang darah kepada Aswin, karena buah ini benar-benar sangat berkhasiat sekali melawan racun, bahkan buah ini  bisa menetralisir racun bunga asmara hitam. Rendaman buah kaluang darah bisa memunahkan bermacam-macam racun tapi dibutuhkan setetes darah dari orang yang sudah makan 2 atau lebih buah kaluang darah untuk bisa memunahkan racun bunga asmara hitam.  Karena kelak Aswin akan memerlukan kekuatan buah kaluang darah untuk melawan sang Maharaja Kegelapan yang menggunakan Ilmu Tebaran Bunga Asmara Hitam. Makanya sejak bocah itu berusia 3 tahun setiap 3 bulan sekali Datuak memberikan buah ini kepada dia untuk dimakan, dan bocah ini sangat menyukainya, selalu merengek-rengek memintanya karena Datuak pusing menolak permintaan bocah bandel ini maka dibuatlah peraturan setiap Aswin bisa melakukan sesuatu yang hebat dalam 3 bulan maka dia diberikan buah kaluang ini. Dasar bocah kecil yang tidak mengerti apa-apa dia menyanggupi syarat tersebut tapi keesokannya dia lupa dengan penuh kesabaran akhirnya datuak berhasil membuat bocah ini mengerti arti perjanjian mereka.

Dan hari ini sebenarnya sudah tiba waktunya Aswin harus memakan buah itu lagi dan kebetulan terjadi perestiwa itu maka sebagai imbalan dari perbuatan hebatnya dia diberikan hadiah buah kaluang darah oleh gurunya. Dia senang sekali dengan usianya yang bertambah, semakin dia mengerti bahwa dia harus melakukan sesuatu yang berkenan di hati gurunya agar bisa dapat hadiah buah enak itu dalam waktu 3 bulan sekali.

Kembali kepada Bumi dan teman-teman serta Datuak Inyiak Balang, setelah memberi petunjuk kepada Bumi dan Masnan, segera Datuak ingin berlalu dari situ tapi belum sempat dia berlalu, Kahar buru-buru bertanya kepada beliau,”Datuak, jika berkenan bersediakah Datuak juga memberi petunjuk kepada saya mengenai ilmu silat saya?”

“Kenapa harus saya, anak muda? Bukannya kamu sendiri sudah merupakan orang yang sudah diakui kesaktiannya?”
“Datuak, saya sangat menghormati anda dan sangat menghargai pendapat dari datuak. Saya ini apalah, tidak ada hebatnya hanya kebetulan saja ilmu saya lebih baik dari lawan saya selama ini, kalau saya melawan datuak sudah pasti saya kalah jauh. Oleh karena itu saya ingin sekali mendengar pendapat Datuak mengenai ilmu silat saya,” kata Kahar penuh dengan kerendahan hati.
“Saya juga datuak, saya ingin sekali kalau memungkinkan datuak bisa memberi saran untuk ilmu silat baru saya ciptakan akhir-akhir ini,” kata Basri.
Dengan menghela nafas, orang tua itu berkata,”Baiklah, aku akan membantu kalian karena kalianpun membawa misi untuk membantu mendidik anak-anak yang kelak akan menjernihkan kegelapan yang akan merasuki alam semesta ini. Cobalah engkau dulu, Basri, aku akan membantumu melihat kelemahan ilmu barumu.”

Segera Basri bergerak di lapangan dan langsung mengeluarkan golok yang tersampir di pinggangnya dan mulai bersilat memperagakan ilmunya yang baru bernama ilmu Kilatan Golok Pencari Emas, ilmu didasarkan pada kecepatan gerakan golok yang berkelebatan sehingga terlihat seperti adanya kilatan-kilatan kekuning-kuningan di sekitar tubuh Basri akibat energi tenaga dalamnya yang disalurkan ke goloknya. Ada 15 jurus golok yang diperagakan oleh Basri dan dia melakukannya sepenuh hati tidak tanggung-tanggung karena dia tidak mau rugi mumpung ada orang hebat yang bisa memberikan saran yang bermanfaat baginya. Setelah ke 15 jurus itu dimainkannya, dia berhenti dan mengusap keringatnya sambil memandang ke arah pohon tempat di mana Datuak duduk tenang berayun-ayun di dahan pohon.

Terdengar Datuak berkata,” Basri, ilmu sudah bagus sekali tetapi terlihat sekali engkau tidak mau rugi dalam melakukan setiap gerakan, malah hal ini menghambat perkembangan yang bagus pada ilmu itu. Apa kamu bisa bermain catur ?”

Dengan keheranan Basri menjawab,”Bisa datuak, kenapa?”

“Basri, ada kalanya di permainan catur kita harus mengalah untuk meraih kemenangan yang lebih besar, jika kita tidak melakukan hal itu kita tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan bahkan hanya bisa diam tidak bergerak-gerak menghabiskan waktu dan tenaga saja. Kenapa kita tidak melakukan pengorbanan yang tidak seberapa tapi bisa menghasilkan hasil yang jauh lebih baik dari sekarang?”
 
Basri langsung memikirkan kata-kata Datuak itu, dan benar dia mulai merasakan adanya kelemahan yang menyolok mulai pada jurusnya yang ke 8 dan seterusnya.

“Basri, aku tahu kamu mempunyai ilmu peringan tubuh yang hebat kalau tidak salah nama ilmu itu ilmu Langkah Angin Menembus Badai, kenapa tidak engkau gabungkan ilmu langkah itu dalam ilmu baru itu, mungkin hasilnya akan jauh lebih baik lagi. Dan kau perlu meningkatkan ilmu kebatinanmu, aku tahu gurumu pernah memberikan padamu sebuah buku mengenai ilmu kebatinan, ilmu yang ada di buku itu namanya Mato Elang Jelajah Alam. Sebuah ilmu yang hebat sekali, kau harus mulai melatihnya dan kombinasikanlah ketiga ilmu itu sehingga kau bisa mendidik muridmu melawan bangsa kegelapan nantinya. ”

Basri terkejut sekali Datuak mengetahui bahwa gurunya pernah memberikan dia sebuah buku kepadanya, sebenarnya dia pikir ilmu kebatinan itu tidak terlalu perlu dipelajari sehingga dia lebih memfokuskan diri pada ilmu silat saja. Tidak pernah terpikirkan olehnya ternyata ilmu itu hebat sekali sehingga Datuak memberikan saran untuk mempelajarinya. Dia berjanji dalam hati sepulangnya dari sini dia akan langsung mencari buku itu di perpustakaannya karena dia mulai merasa pasti ada sebabnya sehingga Datuak meminta mereka semua meningkatkan ilmu kebatinan masing-masing. Tambah dipikir lagi saran dari Datuak, tambah semangat dia untuk cepat-cepat pulang membawa muridnya dan segera menyempurnakan ilmunya menjadi seperti yang dikatakan oleh Datuak.

“Terima kasih banyak, Datuak, akan aku turuti semua saran yang datuak berikan padaku hari ini, mudah-mudahan di perjumpaan kita di masa datang, Datuak bisa melihat kemajuan ilmuku itu.” Kata Basri sambil merangkapkan kedua tangan di dada dan menundukkan kepala sebagai rasa hormat dan terima kasih.

“Bagaimana denganmu Kahar? Apa ada ilmu baru yang ingin kau minta petunjuk dariku?” Tanya Datuak.

“Ada Datuak, aku menamakan ilmu ini Jentikan Bara Panah Api.”

“Hmmmm nama yang berunsurkan api, berarti engkau bermain dengan energi panas. Baiklah aku akan lihat ilmumu itu.”

Kahar berjalan menuju ke lapangan, teman-temannya yang tadinya kelihatan masih sibuk dengan pikiran masing-masing sekarang mereka memandang ke arah Kahar karena mereka ingin tahu sampai di mana kehebatan ilmu saudara terkecil mereka ini. Jauh dalam lubuk hati mereka, mereka juga ingin bisa menyamai kesaktian adik mereka ini, karena mereka tahu adik mereka masuk ke daftar tokoh yang dianggap mumpuni oleh orang-orang di dunia persilatan, malu rasanya jika ilmu mereka jauh bedanya dengan sang adik.

Sedangkan Kahar sedang konsentrasi menyalurkan tenaga dalamnya ke 2 tangannya, terlihat telapak tangannya berubah warna menjadi merah, dan mulailah dia bergerak jurus pertama dari Jentikan Bara Panah Api. Begitu dia mulai terasa hawa di sekitar lapangan tersebut berubah panas sekali, dan setiap jentikan yang dilakukannya seolah-olah seperti mengeluarkan percikan-percikan api yang bergerak seperti panah menuju sasaran yang ditujunya. Jurus ini terdiri dari 9 jurus yang mempunyai variasi gerakan yang sangat dinamis dan cepat sekali. Tidak terasa 9 jurus sudah selesai dimainkan oleh Kahar, terlihat peluh membasahi semua bajunya sehingga menjadi kuyub sekali.

“Hihihi… paman Kahar sudah mandi juga yah… mandi keringat…..   ah bau… makanya jangan main panas-panas bisa cepat keringatan“ kata Aswin meniru ucapan Bundanya yang memarahi dia jika bajunya basah akibat keringat,  sambil menutup hidungnya dan tertawa-tawa nakal, bocah ini sudah selesai mandi dan sarapan, langsung dia lari-lari ke belakang untuk melihat pamannya bersilat, dia tidak sempat melihat Basri tapi dia melihat gerakan Kahar.

Semua orang yang mendengarkan seruan bocah nakal ini tersenyum simpul, dan Kahar yang menoleh ke arah Aswin ingin balas menggoda, batal melakukannya karena dia melihat Siti berdiri di belakang Aswin sambil tersenyum manis. Kahar merasa seluruh dirinya berubah menjadi merah akibat malu dilihat Siti dengan badan berkeringat seperti itu.

Aswin yang melihat wajah dan leher Kahar memerah berpikir bahwa ilmu panas tadi masih bekerja di tubuh pamannya itu langsung menggoda lagi,” Wah paman Kahar sudah kayak manusia merah, …hmmmm… tapi gak enak kedengarannya… sudah kayak manusia api…hihihii…”

Kahar mendengar perkataan tersebut tambah merah wajahnya, sehingga teman-temannya yang melihat hal itu tambah tertawa, yang paling keras tertawanya adalah Bumi karena dia dapat menduga apa penyebab memerahnya wajah Kahar. Datuak juga ikutan tersenyum melihat kenakalan Aswin yang polos dan lugu itu, dan dia menegur bocah nakal itu,” Aswin, kakekkan sudah bilang jangan menganggu orang yang lagi serius belajar silat, apa kamu lupa pesan kakek?”

“Bukan begitu kek,”bantah Aswin, “Kan paman Kahar sudah selesai melakukan gerakan silatnya, dan badannya masih kelihatan merah seperti api, makanya aku ingin memanggil dia manusia api seru kan kek.”

Terlihat datuak geleng-geleng kepala mendengar bantahan anak nakal ini, dia hanya bisa tersenyum saja dan berusaha untuk membantu Kahar memulihkan keadaan yang sedang mempermalukan dirinya itu, sedikit banyak Datuak dapat menduga bahwa Kahar menyukai gadis cantik yang berdiri di belakang Aswin sambil tersenyum manis itu.

“Hmmm, Aswin jangan banyak omong, sekarang kakek mau bicara sama paman Kaharmu. Kahar, aku sudah melihat ilmumu itu tadi, ilmumu sudah mendekati sempurna semua gerakan yang kamu lakukan benar-benar bermanfaat dan beerguna untuk menandingi ilmu lawan.  Aku sudah tidak melihat hal lain yang bisa diperbaiki lagi, yang kamu perlukan hanya latihan untuk semakin memantapkan ilmu itu.”

“Terima kasih atas pujian Datuak, tapi aku masih belum puas Datuak, aku masih merasa ada beberapa bagian yang harus aku perbaiki lagi sehingga ilmu ini semakin sempurna. Apakah aku perlu melatihnya dengan pasir yang dipanggang di kuali, Datuak, untuk memperkuat hawa bara yang aku keluarkan dari jentikanku?”

“Kahar, aku senang engkau tidak cepat puas dengan ilmumu itu, memang ada sedikit saran dariku tapi engkau membutuhkan waktu untuk melakukannya. Jika engkau punya waktu pergilah engkau ke kawah Gunung Merapi dari arah selatan dan akan kamu temui sebuah gua yang tidak sama dengan gua yang lain berhawakan panas, gua ini sangat dingin sekali, bertapa dan berpuasalah engkau disana selama 40 hari dan pelajari letupan-letupan api larva yang dikeluarkan oleh gunung merapi tersebut.  Jika engkau mampu menyelami semua itu dalam 40 hari dan  kau sudah sanggup membuat gua itu menjadi sama panasnya dengan gua yang lain, ini menandakan bahwa engkau sudah berhasil melatih ilmu tenaga dalammu untuk membuat  ilmu barumu menjadi sempurna. Dan hasil tapamu kelak secara tidak langsung akan membantumu dalam ilmu kebatinanmu juga.  Satu hal yang perlu kau ketahui pada dinding gua itu terukir sebuah ilmu kebatinan yang hebat untuk melawan bangsa kegelapan, ilmu ini hanya bisa kau dapat dengan membuat gua itu membara dan dengan menggunakan tenaga batin pada matamu maka ilmu ini baru bisa terlihat untuk dipelajari. Bahkan jika engkau benar-benar berbakat dalam melatih ilmu di dinding itu maka jentikan bara panah apimu itu benar-benar akan bisa mengeluarkan percikan panah api yang bisa membakar musuhmu baik itu bangsa manusia maupun bangsa kegelapan sesuai dengan seberapa besar tenaga dalam yang engkau keluarkan. “ kata Datuak.

“Terima kasih Datuak atas penjelasannya, saran Datuak akan aku laksanakan sesegera mungkin.”kata Kahar dengan posisi sama dengan Basri dalam memberi hormat. Sungguh tidak disangka-sangka olehnya bahwa kedatangan dia ke Batang kapeh akan mendapat tambahan ilmu yang hebat dan…….juga dapat tambahan hadiah special, bertemu dengan sang pujaan hatinya yang sudah lama dirindukan olehnya.

“Tidak usah kalian berterima kasih kepadaku, ini memang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa untuk aku membantu kalian agar kalian bisa mendidik dan memberikan pondasi yang kokoh buat murid-murid kalian. Bumi, aku akan membawa pergi Aswin untuk melatih dia, nanti sore aku akan mengantarnya pulang kembali, sementara itu kalian laksanakanlah wangsit dari kakek guruku untuk mendidik 4 bocah lagi sebagai tulang punggung melawan kegelapan ” Terdengar suara Datuak yang semakin menjauh dari mereka.

Mereka segera melihat ke arah pohon, dan memang Datuak sudah tidak ada di sana lagi. Begitu juga dengan Aswin yang sudah lenyap dari tempat dia berdiri tanpa mereka semua menyadari kapan Datuak membawa bocah itu pergi. Mereka semua bergidik dan meleletkan lidah saking kagumnya pada ilmu Datuak Inyiak Balang tersebut, tidak heran kenapa dia merupakan tokoh nomor satu untuk saat ini. Benar-benar seorang tokoh yang sangat mumpuni sekali kesaktiannya, dan teguran dari Datuak menyadarkan mereka tugas yang diembankan kepada mereka untuk diselesaikan.

Terdengar Kahar berkata,” Wah uda-udaku ternyata diam-diam menciptakan ilmu silat baru yang hebat sekali, aku jadi kagum sekali dan artinya aku tidak boleh kalah dari uda-uda, harus lebih giat lagi belajar supaya tidak ketinggalan.”

“Kau juga hebat sekali Kahar, bahkan datuak tidak menyebutkan kelemahan ilmu barumu seperti yang dia lakukan pada kami.” kata Bumi.

“Ah uda Bumi, itu hanya kebetulan saja ilmuku lebih baik karena aku sudah menciptakan dan melatihnya sejak 3 tahun yang lalu, memang aku belum pernah mengeluarkan ilmu ini melawan musuh-musuhku karena aku masih belum percaya diri ilmu ini akan bisa menandingi mereka, aku masih merasa banyak kelemahannya di sana sini.”

“Hari ini kita benar-benar harus bersyukur bertemu dengan orang hebat seperti datuak, aku merasa kita beruntung sekali beliau mau membantu kita dalam memberikan saran-saran untuk ilmu kita. Aku jadi bersemangat sekali untuk cepat-cepat pulang dan melakukan saran beliau.” Kata Basri dengan bersemangat.

“Iya, tapi kita jangan lupa juga pada pesan beliau untuk bisa mendidik murid special kita sehingga mereka tidak akan memalukan kita kelak dan bisa membawa nama harum kita di dunia persilatan.” Kata Masnan dengan tenang.

“Benar kata kalian, aku merasa karena kita diberikan tugas yang berat ini makanya sang Dewata memberikan kita tambahan ilmu lagi agar kita bisa membantu manusia mengusir kegelapan yang akan datang segera.”

“Uda Bumi benar, kita karena mengemban tugas penting maka datuak mau membantu kita menyempurnakan ilmu-ilmu kita, kalau dalam keadaan biasa belum tentu kita punya kesempatan untuk bertemu dan bisa pula mendapat saran dari beliau.” Sahut Masnan.

Mereka manggut-manggut membenarkan perkataan Masnan, sungguh kalau dipikir dan dikaji ulang semua ini ada hubungan sebab akibatnya. Oleh karena itu mereka harus benar-benar dan disiplin melatih diri mereka sebelum menghadapi prahara yang akan datang menjelang kelak. Sementara itu Basri mempunyai pemikiran lain lagi, dia merasa ada unsur keanehan dari saran-saran yang datuak berikan, dia melihat datuak memberikan saran berdasarkan unsur-unsur yang ada di alam semesta ini. Semakin dia pikirkan semakin dia melihat kejanggalan itu, dia diam berpikir keras mengapa ini terasa menganggu sekali.

Kahar melihat kening Basri berkerut-kerut menjadi penasaran sekali ingin menggoda,”Sudahlah uda Basri, nanti saja dipikirkan saran datuak, mendingan sekarang kita mandi dan sarapan supaya kita merasa segar waktu ketemu dengan calon murid kita. Benar yang dikatakan Aswin, kita ini memang sudah mandi tapi mandi keringat.”

Belum sempat Bumi menimpali kata-kata Kahar, Basri sudah bicara,”Bukan begitu Kahar, aku hanya merasakan sebuah keanehan saja dengan ilmu dan saran dari datuak. Kalian merasakan tidak keanehannya?”

“Hmmm… aku pikir hanya aku saja tadi yang merasa seperti itu. Benar yang engkau katakan Basri, aku merasa sepertinya kita diarahkan menyatu dengan unsure-unsur yang ada di alam menurut kitab-kitab kuno jaman dulu  yang kita ketahui.” Sahut Masnan.

Mereka jadi mulai memikirkan kembali saran dari datuak kepada mereka, mulai mereka merasakan keanehan dari saran itu seakan ilmu-ilmu mereka saling melengkapi satu dengan yang lain sehingga membentuk unsure-unsur alam yang ada.

“Benar sekali uda Basri, tadi aku juga sempat merasa aneh tapi aku pikir karena ilmu aku didasarkan pada unsur api maka datuak ingin memperkuat ilmu aku dengan menyarankan aku bertapa di gunung merapi.  Setelah dipikir kembali katakan memang ilmu aku didasarkan pada unsur api seharusnya cukup dengan melatih kekuatan tanganku pada pasir panas maka ilmu baruku bisa berkembang lebih baik.  Tapi beliau menghendaki agar ilmu aku bisa benar-benar mengeluarkan percikan api, dan sampai aku harus bertapa dan berpuasa untuk meningkatkan ilmu kebatinanku, mulai aku merasa kita dipersiapkan untuk mendidik murid kita selain melawan manusia-manusia sesat tapi juga melawan bangsa kegelapan.”

“Aku juga merasa beliau mempersiapkan aku untuk menjadi unsur tanah, kalau tidak mengapa beliau menghendaki aku melihat pergerakan tanah dalam mempengaruhi sekitar kita? Aku merasa ini pasti ada sebabnya kenapa beliau mempersiapkan kita menurut unsur yang ada di alam semesta ini. Bagaimana menurutmu Masnan ?”

“Memang benar kita dipersiapkan berdasarkan unsur alam, uda Bumi unsur tanah, Basri unsur logam, Kahar unsur api dan aku sendiri unsur angin. Masing-masing kita melatih seorang murid untuk bergerak berdasarkan unsur-unsur tersebut, sedangkan anak yang akan melawan sang angkara murka berjumlah 5 orang berarti ada 5 unsur yang akan dilatih menghadapi bangsa kegelapan. Ini artinya Aswin akan dilatih menjadi unsur yang paling nyata dan mempunyai kekuatan  dinamis di alam semesta ini yaitu unsur air. “ kata Masnan.

“Kenapa harus 5 unsur ini?” Tanya Bumi.

“Menurut guruku, konon kabarnya beratus tahun yang lalu, ada seorang maharaja kegelapan yang sangat sakti mandraguna, dia merupakan seorang tokoh kosen saat itu bahkan kesaktiannya melampaui pendahulu-pendahulunya. Dia malang melintang tanpa ada manusia atau bangsa kegelapan yang bisa menghancurkannya, apapun kehendaknya harus bisa terlaksana kalau tidak akan musnah menjadi debu dengan ilmunya. Benar-benar saat itu mengerikan sekali, bencana terjadi di mana-mana, manusia hidup dalam ketakutan sehingga penderitaan dan kesengsaraan manusia pada waktu itu diibaratkan seperti hidup segan matipun tidak bisa. Banyak manusia-manusia sesat yang bergabung dengan bangsa kegelapan untuk menikmati kesengan dunia, mereka inilah mengkhianati manusia lainnya untuk hidup dalam kesengsaraan. Setiap hari ada saja manusia yang mati berserakan di pinggir jalan, sementara itu bangsa kegelapan seolah-olah menguasai dunia ini dengan seenaknya saja. Kehidupan pada waktu itu sangat sulit sekali bagi bangsa manusia, hanya Tuhan yang tahu kapan semua ini akan berakhir. . .”sahut Masnan.

“Apa hubungannya semua ini dengan kita?” kata Bumi.

“Sabar uda Bumi, dengarkan saja cerita uda Masnan dulu.”kata Basri.

“Maharaja memiliki 4 orang pembantu utama yang pilih tanding, mereka itu hanya 1 tingkat di bawah dia dalam ilmu kesaktian tapi dia punya kelebihan dibandingkan dari pembantunya yaitu dia bisa punya charisma wibawa pemimpin yang hebat sekali, semua bangsa kegelapan sangat memujanya dan bersedia mati demi dia tanpa pikir dua kali. Biarpun maharaja dan 4 pembantu utamanya sangat hebat sekali, tapi suatu ketika entah dari mana datangnya tiba-tiba muncullah dua orang manusia yang luar biasa kesaktiannya, mereka bisa mengalahkan 4 pembantu utama maharaja sekaligus. Dan bahkan pada akhirnya mereka berhasil membunuh maharaja itu, sehingga bangsa kegelapan menjadi musnah atau yang selamat melarikan diri entah ke mana, beratus tahun kemudian situasi dunia menjadi aman kembali sampai sekarang. Maharaja itu merupakan maharaja terakhir yang menguasai dunia kegelapan.” Cerita Masnan.

“Wah hebat sekali orang itu, siapa gerangan beliau dan memakai ilmu apa dia mengalahkan maharaja itu?” kata Basri penasaran.

“Menurut guruku, tidak lama sesudah mengalahkan bangsa kegelapan, mereka itu menghilang dari peredaran, terdengar kabar mereka kembali ke tempat persembunyiannya untuk menyembuhkan dirinya yang terluka setelah pertempuran terakhir dengan maharaja kegelapan.  Ilmu mereka menggunakan ke 5 unsur yaitu tanah, api, air, logam dan angin untuk mengalahkan maharaja dan 4 pembantu utamanya itu. Jadi aku rasa kita dibentuk atas 5 unsur itu juga dalam mendidik murid kita mungkin didasarkan pada legenda yang diceritakan oleh guruku ini. Aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak ada hubungannya tapi aku mempunyai firasat cerita ini benar-benar pernah terjadi dan sekarang kita mendapat kehormatan untuk memberikan pondasi dasar kepada calon murid kita untuk dipersiapkan menerima ilmu berdasarkan 5 unsur alam tadi guna mengalahkan bangsa kegelapan.”

“Tapi kenapa mesti 5 orang bukannya dulu mereka hanya berdua saja sudah mampu mengalahkan maharaja dan 4 pembantunya itu?”Tanya Bumi kepada Masnan.

“Terus terang saja uda, aku tidak tahu kenapa seperti ini tapi aku yakin sekali pasti semua itu pasti ada maksudnya jadi kita harus bersabar dan menunggu  apa yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Yang jelas saat ini selain melatih dan menyempurnakan ilmu silat & kebatinan, kita juga harus melatih murid-murid kita dengan sebaik-baiknya sesuai dengan amanat  yang telah kita terima.”

“Yah, benar apa yang dikatakan oleh uda Masnan, sekarang adalah giliran kita berperan untuk mendidik calon-calon penghancur sang angkara murka, jadi kerjakan tugas kita dengan sebaik-baiknya saja.” Sahut Kahar.

“Aku jadi tidak sabar lagi bagaimana kelak murid-murid kita menghadapi manusia-manusia sesat dan bangsa kegelapan. Mudah-mudahan mereka semua tidak akan mengecewakan kita dengan segala jerih payah yang kita berikan pada mereka.” Kata Basri.

“Sudahlah, sekarang mendingan kita masuk untuk mandi dan makan siang, tidak terasa hari sudah menjelang siang, sebaiknya secepatnya kalian bertemu dengan calon murid kalian sehingga kalian bisa mengenal mereka dan mulai melatih mereka dan diri kalian sendiri karena waktu kita hanya singkat yaitu 5 tahun saja oleh karena itu kita harus bertindak cepat dan segera agar tidak membuang-buang waktu lagi.”kata Bumi.

“Benar, uda Bumi, sebaiknya sekarang segera uda menyuruh orang untuk memanggil mereka dan keluarganya agar bisa kami diperkenalkan karena kami ingin segera membawa mereka ke tempat kami untuk dilatih.”
“Baiklah Masnan, aku akan menyuruh orang memanggilkan mereka datang untuk bersama kita makan siang agar saling mengenal dengan baik sehingga timbul kepercayaan mereka pada kalian sehingga kalian bisa membawa murid kalian pergi. Sementara itu lebih baik kita juga segera mandi, karena aku mulai mencium bau-bau tidak sedap sedang beredar di sekitar kita, buktinya Siti sampai lari masuk ke dalam karena tidak tahan bau badan kita.”kata Bumi sambil tersenyum-senyum sambil mata jahilnya melirik ke arah Kahar.

Benar saja habis dia berkata begitu langsung muka Kahar kemerahan karena malu sekali ketahuan sedang mencuri-curi pandang ke arah kepergian Siti yang masuk ke dalam untuk mempersiapkan makan siang. Masnan dan Basri mulai curiga dengan melihat tingkah Bumi dan Kahar, terlebih-lebih dengan senyum jahil Bumi menyebabkan muka Kahar memerah karena malu.

“Kini aku mengerti darimana Aswin memperoleh kejahilannya, buah memang jatuhnya tidak jauh dari pohon.”goda Masnan kepada Bumi.

“Iya uda, malahan aku merasa ada sesuatu istimewa terjadi di sekitar kita tanpa kita sadari tapi sudah tercium baunya. Jangan-jangan kita tertipu dipaksa datang ke sini yang katanya untuk membicarakan usaha kita tapi ada maksud lain yang kita tidak tahu nih.” Sambung Basri.

Bertambah merah dan salah tingkah Kahar mendengar ledekan dari teman-temannya ditambah lagi Bumi semakin lebar senyum menggodanya. Karena tidak tahan buru-buru Kahar masuk ke dalam maksudnya melarikan diri dari godaan teman-temannya, tapi siapa sangka ini malah menambah godaan dari udanya.

“Lihat saja itu Basri, ada yang sudah tidak tahan ingin kelihatan ganteng di depan mata sang pujaan hati, buru-buru mau mandi padahal ingin mengejar bayangan sang juwita.”sahut Bumi dengan menahan tawa.

Tambah cepat jalan Kahar ke dalam untuk menghindari godaan teman-temannya yang sekarang sepertinya kompak ingin menggodanya bersama-sama, dari pada tambah berlarut-larut dan membuat mukanya memerah mendingan menulikan telinga dan langsung berjalan pergi. Karena kalau diladeni bisa tambah panjang urusan dan bisa terbongkar isi hatinya yang belum bersedia dia ceritakan pada orang lain.

Kini tampaknya Masnan dan Basri sudah mulai bisa menduga maksud kata-kata bersayap Bumi yang ditujukan kepada Kahar, sepertinya saudara kecil mereka ini sudah jatuh cinta dengan ipar Bumi yang memang cantik jelita itu. Lelaki mana yang tidak tertarik dengan Siti, hanya pria yang tidak normal saja yang tidak menyukai gadis itu. Mereka sudah berbahagia berkeluarga, kalau mereka masih sendiri tidak menutup kemungkinan juga hati mereka akan tertawan oleh dara seperti Siti. Jadi mereka bisa memaklumi kenapa adik mereka bisa seperti sekarang ini tingkah lakunya, dia masih muda, tampan dan berilmu tinggi, gadis mana yang bisa menolak pria seperti Kahar. Tapi mereka semua tahu selama ini Kahar sepertinya tidak memperdulikan gadis-gadis yang jatuh cinta kepada dia, seakan-akan hatinya tidak mengenal dengan apa artinya cinta. Bukan berarti selama ini Kahar menunjukan tanda-tanda menyukai pria, dia menerima dan memberi perhatian lebih kepada para gadis-gadis tapi sebatas teman saja tidak lebih dari itu. Bnyak dari gadis-gadis itu salah sangka dengan semua itu, bahkan ada beberapa dari gadis-gadis itu yang minta pertolongan mereka untuk membuat Kahar menerima mereka, tapi sayang tidak pernah sekalipun mereka melihat hati Kahar tergerak seperti sekarang ini.

Ini membuat mereka senang sekali, karena sudah lama mereka prihatin kepada adik mereka ini kapan akan menikah sedangkan usia sudah tidak remaja lagi. Sekarang melihat semua ini, ketiga laki-laki ini saling memandang sehingga tercipta pengertian diantara mereka untuk membantu sang adik untuk mendapat sang pujaan hati. Mudah-mudahan tidak lama lagi mereka bisa merayakan sebuah hajatan yang meriah untuk sang adik. Bumi merasa senang sekali bisa memenuhi amanat isterinya untuk mencarikan pendamping yang cocok buat adik iparnya itu. Dan dia merasa Kahar merupakan pilihan yang sangat sempurna buat Siti, dia akan menanyakan pada Siti bagaimana pendapatnya tentang Kahar karena dia pernah melihat Siti curi-curi pandang pada Kahar dan selalu tersipu malu setiap kali matanya bertemu dengan mata Kahar. Itu artinya sang gadis juga menyukai Kahar, jadi tinggal mencari cara saja bagaimana mendekatkan Kahar dengan Siti.

Setelah sesaat mereka segera menyusul Kahar untuk masuk ke dalam dan mandi bersiap-siap untuk makan siang dan bertemu dengan calon murid mereka. Bumi segera memanggil muridnya yang sedang bertugas membersihkan halaman depan untuk memanggilkan 4 anak tersebut berikut dengan keluarganya untuk diundang makan siang bersama. Sementara murid itu memanggil mereka, mereka semua pergi basuh diri dan berganti pakaian.

Siapakah sebenarnya keempat anak yang akan mereka didik itu ? Apakah benar mereka dipersiapkan untuk mewakili unsur tanah, api, angin dan logam dalam melawan kerajaan kegelapan ?


bersambung
Posted by sieklie in 05:18:33 | Permalink | No Comments »

Monday, August 13, 2007

III : Mimpi Yang Aneh


Sambil makan malam bersama mereka berbincang-bincang hal-hal yang ringan dan sambil mengingat-ingat masa lalu, tapi dalam hati masing-masing tetap tidak bisa menghilangkan kejadian tadi. Aswin dengan santainya makan tanpa merasa terganggu dan Siti pura-pura mnyibukan diri membantu Aswin makan, karena sebenarnya dia merasa malu, sejak tadi dia merasa Kahar mencuri-curi pandang padanya. Sedangkan yang lain sibuk dengan makanan dan pikirannya masing-masing, tapi mereka berdua tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan tingkah laku mereka.

Wali Bumi bukanlah orang yang buta apalagi bodoh yang tidak bisa melihat dan merasa ada apa-apa diantara kedua orang ini. Oleh karena itu diam-diam dia memperhatikan mereka berdua dan tertawa dalam hati melihat tingkah laku mereka berdua. Dia merencanakan nanti jika ada waktu senggang dia akan menanyakan kepada Kahar mengenai hal ini, karena kalau memang keduanya saling jatuh cinta dia akan dengan senang sekali bisa mengikat tali persaudaraan yang lebih erat dengan Kahar.

Dan dia merasa bahagia bisa membantu adik iparnya mendapatkan seorang calon suami yang begitu baik, dia sangat berterima kasih selama ini kepada adik iparnya karena sudah membantu dia membesarkan Aswin dan mengurus rumah tangganya dengan baik, sampai-sampai lupa untuk menikah padahal usianya sudah termasuk kategori perawan tua untuk ukuran masa itu. Bukan tidak ada orang yang melamar iparnya, malahan saking banyaknya kadang-kadang membuat dia pusing tujuh keliling.

Kadang-kadang dia merasa tidak enak hati karena selalu merepotkan iparnya dengan segala masalah yang ada di rumah tangganya walau iparnya tidak pernah keberatan membantunya. Oleh sebab itu dalam hati dia bertekat akan berusaha mewujudkan perjodohan Siti dengan Kahar, dia tidak akan seberani ini mencampuri urusan percintaan orang lain jika dia tidak yakin bahwa keduanya mempunyai perasaan yang sama.

”Uda Bumi, mengapa tersenyum-senyum sendiri, bagilah ke kami apa yang ada di pikiran uda,” kata Basri sambil memandang wali Bumi.

”Ah tidak Basri, aku sedang berpikir mengenai suatu hal yang lucu saja, tapi untuk saat ini belum bisa aku bagikan kepada kalian. Nantilah jika sudah saatnya pasti kalian juga mengetahuinya.” kata Bumi dengan misterius.

”Begitu yah, Uda!, ngomong-ngomong, Uda sudah mendidik Aswin dengan dasar-dasar ilmu silat ?”

”Dari dia umur 3 tahun aku sudah mengajarkan padanya ilmu pernafasan untuk membantu dia memupuk tenaga dalamnya. Ada apa Masnan, kenapa kamu menanyakan hal ini ?”

”Bagaimana kemajuannya, Da?”

”Menurutku cukup baik karena sekarang dia bisa duduk bersemedi sampai 3 jam lamanya. Dan sejak bulan lalu aku sudah mulai ajarkan kuda-kuda dan ilmu dasar silat padanya.”

”Hmmm…mmmm… baguslah anak seusia dini mungkin diajarkan ilmu pernafasan biar dia bisa mempunyai tenaga dalam yang baik.”

”Masnan, ada apa kamu menanyakan hal ini? Kamu jangan buat uda tambah penasaran.”

”Begini uda, aku bermaksud untuk mengambil anak uda menjadi muridku, apa uda keberatan ?”

”Eh, tunggu dulu uda Masnan, aku juga ingin Aswin menjadi muridku.”

”Aku juga tidak keberatan kalau Aswin mau menjadi muridku.” kata Kahar pula.

”Ha .. ha… ha…, anakku yang mantiko (bandel sekali) ini ternyata banyak yang berminat menjadikan murid, ini benar-benar  merupakan sebuah keberuntungan bagi anakku.”

”Maaf uda, bukan maksud kami meremehkan kepandaian uda tapi kami merasa ilmu kami yang tidak seberapa ini harus ada pewarisnya. Kami melihat Aswin bertulang bagus dan mempunyai bakat untuk menerima pelajaran ilmu silat dari kami. Sayang kalau bakat seperti ini tidak dibina dengan sebaik-baiknya.” kata Masnan.

”Putar-putar kata kamu, Masnan, tetap saja bilang aku tidak becus mendidik anak ini.” kata Bumi.

”Uda, sabar dulu janganlah berang (marah) aku tidak bermaksud seperti itu…”

”Jadi maksudmu apa ?” potong wali Bumi dengan wajah cemberut.

”Basri, kamu bantulah aku bicara kepada uda Bumi, biasanya kamu kan pandai membujuk orang.” kata Masnan menggaruk-garuk kepalanya kebingungan salah tingkah takut telah menyinggung perasaan kakak angkatnya itu.

”He..he..he… Uda Masnan ini, penyakitnya kalau sudah buang sampah, awak (kita) yang disuruh bersihkan, betul dak, Kahar.” goda Basri.

Terlihat Kahar manggut-manggut sambil tersenyum mendengarkan candaan Basri.

Tiba-tiba Aswin bertanya,”Ayah, apa maksud paman Masnan mengambil murid, aku tidak mengerti ?”

Wali Bumi masih dengan cemberut menjawab,” Pamanmu Masnan ini ingin mengambil kamu sebagai muridnya, karena katanya ayah tidak becus mendidik kamu, anak nakal.”

”Aduh, uda bukan begitu maksudku… uda janganlah berburuk sangka begitu.” kata Masnan tambah panik.

Melihat Masnan panik dan berkeringat dingin, wali Bumi yang tidak tahan melihatnya, langsung tertawa terbahak-bahak karena bisa mengerjai Masnan, hal ini sudah lama sekali tidak dia lakukan yaitu menggoda adik-adik angkatnya. Sekarang Masnan baru sadar sudah masuk jebakan sang uda, dan akhirnya dia ikut tertawa tapi dengan tawa yang miring karena jengkel dikerjai udanya.

”Sekarang aku mengerti dari mana Aswin dapat sifat jahil itu, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” gerutu Masnan.

”Masnan…Masnan… janganlah terlalu serius begitu, hidup ini sudah terasa sulit, santailah sedikit,  dunia tidak akan berhenti berputar dengan kita tertawa..” kata Bumi geli.

”Nah, kita sudah selesai makan bagaimana kalau kita pindah ke ruangan keluarga, biar kita bisa santai ngobrolnya, tidak tegang seperti tadi. Siti, minta Uni (kakak perempuan) Anik bawakan kopi buat kami dan kamu serta Aswin ikut kami.” kata Bumi, dia sudah mulai menjalankan perannya sebagai mak comblang, dia ingin Siti dan Kahar bertemu sesering mungkin sehingga ada kesempatan  untuk mendekatkan hati mereka.

Siti mendengarkan perkataan udanya hanya menganggukan kepala sambil membawa Aswin ke belakang untuk mencuci mulut dan tangannya yang kena makanan serta mengganti baju anak ini dengan baju tidur, supaya nanti kalau dia mengantuk, tidak susah lagi ganti-ganti bajunya. Karena anak ini kalau sudah mengantuk langsung pulas, jika harus tukar baju lagi biasanya bisa berakibat anak ini ngambek saking kesal tidurnya terganggu.

Sedangkan Kahar yang mendengar Siti akan ikut ngobrol dengan mereka, merasa jantungnya berdebar tidak karuan antara senang, bingung, cemas, pokoknya semua perasaan bercampur menjadi satu. Tapi yang paling penting dia merasa bahagia karena masih bisa memandang wajah sang pujaan hati lebih lama lagi. Dia seakan-akan tidak ada puasnya melihat Siti, serasa dunia penuh warna dan hatinya terasa ringan serta ingin tersenyum terus, tapi dia tahu tidak bisa sembarangan bertindak karena kalau ketahuan oleh yang lain, entah bagaimana dia harus menjelaskan, lagi pula akan ditaruh ke mana mukanya jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja, belum lagi jika bicara semua perbuatannya terhadap Siti selama mereka berkenalan dulu, rasanya dia ingin menghilang dari permukaan bumi.

Sekarang mereka sudah ada di ruang tengah sambil menikmati kopi mereka, dan kebetulan pula mereka adalah pria-pria yang tidak suka mengisap rokok dan makan sirih, mereka hanya penikmat kopi dan tuak (minuman keras) yang sekali-kali mereka minum kalau sedang berada di luaran bersama.

Setelah sejenak mereka duduk dengan diam dan santai, Basri mulai membuka pembicaraan,”Uda Bumi, bagaimana dengan usul kami tadi, kami hendak ambil puteramu sebagai murid kami, uda bisa pilih salah satu dari kami yang menurut uda pantas menjadi guru putera uda.”

Sekarang wali Bumi merasa menghadapi dilema, di satu sisi dia tidak ingin berpisah dengan anaknya walaupun anaknya nakal tapi tetap menjadikannya sebagai penghiburan dan pengisi hatinya yang sepi sejak ditinggal oleh isteri tercinta. Tapi di lain pihak dia sadar dan merasa bangga bahwa tokoh-tokoh ternama di dunia persilatan seperti adik-adik angkatnya ini ingin menjadikan anaknya sebagai murid mereka. Tetapi memilih salah satu dari mereka itu lebih memusingkan kepala karena dia tidak ingin menyinggung perasaan adik-adiknya itu. Dia sudah mengangkat saudara dengan mereka, dan mereka memposisikan diri menjadi adik-adik angkatnya didasarkan pada usia dia yang memang lebih tua dari yang lain bukan dari peringkat ketinggian ilmu silat dan kepandaian lainnya. Dibandingkan dengan Basri, dia tidak bisa menyamai kecerdikan adiknya yang satu ini, dengan Masnan dia kalah dalam hal tenaga dalam, apalagi dengan Kahar dia kalah segala-galanya dari segi ilmu silat maupun tenaga dalam, adik mereka yang paling muda ini memang mempunyai ilmu silat dan tenaga dalam yang paling mumpuni diantara mereka. Tapi yang membuat dia selalu bangga menjadi kakak mereka adalah mereka tidak pernah mempermasalahkan dan membangga-banggakan kepandaian mereka, mereka tetap menghormati dia dan selalu minta pendapat dia untuk hal-hal yang mereka rasa mereka memerlukan pendapatnya dalam mengambil keputusan.

”Basri, aku pada prinsipnya tidak keberatan kalian menjadi gurunya Aswin, tapi kalau disuruh pilih salah satu aku susah jadinya, belum lagi kalian pasti ingin membawa Aswin ke rumah kalian untuk dilatih, sedangkan dia masih terlalu kecil untuk jauh-jauh dari aku dan Siti.”

”Uda, jangan menguatirkan kami akan tersinggung nanti jika uda memilih salah satu diantara kami menjadi guru Aswin, kami akan menerimanya dengan lapang dada karena kami yakin pasti uda sudah memikirkan terbaiknya bagi putera uda. ” kata Basri.

” Uda, kami berjanji pada uda untuk tidak merasa tersinggung atau marah pada uda, kalau uda memilih salah satu dari kami, tenang saja uda, kami kan bukan lagi anak-anak yang sedang memperebutkan mainan, tapi kami sungguh-sungguh ingin membantu uda untuk memberikan putera uda yang terbaik, bukan begitu uda Masnan dan uda Basri ?” sambung Kahar.

Masnan dan Basri manggut-manggut membenarkan perkataan Kahar. Mereka melihat uda mereka merasa kebingungan dengan permintaan mereka, karena itu mereka mempertegas maksud mereka untuk tidak membuat uda mereka susah dalam mengambil keputusan.

”Kahar, uda sangat berterima kasih kepada kalian yang mau membantu uda untuk mendidik Aswin, uda yakin seyakin-yakinnya bahwa maksud kalian murni selain mempunyai pewaris ilmu kalian, juga kalian ingin membantu aku mendidik anakku. Kalian sendiri sudah lihat kan tadi tingkah laku anakku, aku hanya kuatir nanti dia akan sangat merepotkan kalian saja.”

Siti dan Aswin diam saja mendengarkan pembicaraan ini, jauh dalam lubuk hati Siti tidak bersedia dipisahkan dari Aswin tapi dia tidak bisa menentangnya juga karena dia bukan ibu kandung Aswin semua merupakan keputusan ayahnya sebagai orang tua kandung Aswin, selain itu semua ini untuk kebaikan Aswin juga. Jadi dia lebih memilih untuk diam saja menunggu keputusan kakak iparnya itu karena dia tahu pasti uda Bumi tidak akan mengambil keputusan yang akan mengecewakan semua orang.

”Baiklah adik-adikku, beri aku waktu untuk berpikir yang terbaik bagi kita semua, bagaimana ?”

“Tidak masalah uda, ambilah waktu untuk berpikir, kami percaya uda pasti bisa memberikan keputusan yang baik untuk semuanya. Hanya sementara kami menunggu, kami akan merepotkan uda sekeluarga dengan kehadiran kami, apa uda tidak keberatan ?” tanya Masnan.

”Aduh, kalian ini seperti orang yang tidak kenal uda saja, kami sudah biasa kedatangan tamu, jadi tidak pernah merasa repot dengan semua ini, apalagi kalian jadi tamu, aku malah tambah senang karena ada teman ngobrol dan latihan silat… yah siapa tahu nanti malah ada yang bisa menetap di sini…” jawab Bumi sambil tersenyum simpul dan melirik Kahar.

Kahar yang merasa tersindir pura-pura ambil gelas kopinya untuk menutupi mukanya yang semburat merah karena malu. Cepat-cepat dia berusaha membelokan arah pembicaraan agar dia tidak merasa terpojok dengan sindiran sang uda.

”Oya mengenai masalah tadi uda, mungkin uda perlu menyelidiki siapa gerangan kakek Inal menurut Aswin itu. Karena terus terang saja walau dia tidak bermaksud jahat tapi aku tetap penasaran siapa gerangan dia, aku merasa semua ini mempunyai latar belakang yang tidak biasa.”

”Apa yang kamu katakan itu benar Kahar, aku juga merasakan hal yang sama, di dunia ini tidak ada yang terjadi tanpa sebab, pasti ada latar belakangnya. Apa uda tidak merasakan keanehan yang terjadi di sekeliling uda selama ini ? Atau keanehan yang terjadi pada anak uda ?”

Terlihat wali Bumi berpikir sambil mengelus-elus dagunya, terus dia mengambil kopinya seperti sedang mencari-cari jawabannya di dalam hirupan kopi itu. Tiba-tiba dia menggebrakan gelas kopinya ke meja…bruk… kopinya berceceran di atas alas meja.

”Basri, karena kamu bicara begitu aku baru teringat, kira-kira sebulan yang lalu, pagi hari sebelum aku mengajarkan kuda-kuda kepada Aswin, aku pernah mencoba menyalurkan tenaga dalamku ke tubuhnya, maksudku untuk membantu dia memperlancar jalan darahnya sebelum dia mulai latihan ilmu silat. Kamu tahu Basri, terjadi sebuah keanehan…” terdiam sejenak Bumi setelah mengatakan hal ini.

”Apa yang terjadi uda?, jangan bikin kami mati penasaran dengar cerita uda.” kata Masnan dengan tidak sabar.

”Sabar Masnan, aku lagi mencoba mengingat kejadian aneh itu, tadinya aku pikir ini kejadian yang biasa terjadi makanya aku melupakannya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi hal ini tidak merupakan hal biasa terjadi.”

Kembali wali Bumi terdiam sambil berpikir keras, yang lain berusaha sabar menunggu Bumi meneruskan ngomongnya. Cukup lama juga dia terdiam sambil serius memandang anaknya, ini membuat yang lain mulai tidak sabar lagi. Sedangkan Aswin yang dipandang ayahnya seperti itu malah membalas menatap dengan mata yang bersinar tenang dan berkilauan jernih. Tapi akhirnya anaknya tidak tahan ditatap seperti itu oleh ayahnya.

”Ayah, kenapa ayah menatap aku seperti itu, apa di hidung Aswin tumbuh tanduk ?” kata anak itu sambil mulai memandang hidungnya.

Semua yang mendengar tersenyum, dan suasana mencair menjadi lebih santai.

”Bukan hidung kamu tumbuh tanduk, tapi di kepala kamu tumbuh dua tanduk.” kata Bumi menggoda anaknya.

Buru-buru Aswin meraba-raba kepalanya untuk memastikan ucapan ayahnya itu.

”Ah ayah, mana ada tanduk di kepalaku, emangnya aku setan makanya punya 2 tanduk di kepala?” rengek manja Aswin kepada ayahnya.

Sebenarnya Aswin sudah tidak betah duduk diam-diam mendengarkan ayahnya berbincang-bincang dengan teman-temannya, tapi seperti anak-anak lain seusia dia, dia juga mau tahu apa yang dibicarakan para orang-orang yang lebih tua. Oleh karena itu dia membetahkan dirinya dengan cara melatih mengatur pernafasannya sesuai petunjuk kakek Inal. Ilmu pernafasan yang diajari kakek Inal memang berbeda dari yang diajarkan ayahnya, dia dapat melakukannya di mana saja dalam keadaan apa saja tanpa harus dalam posisi tertentu,  karena itu dia lebih menyukai latihan yang diberikan oleh kakek Inal dibandingkan oleh ayahnya.

Tetapi kakek Inal tetap menyuruh dia melatih ilmu pernafasan yang diajarkan ayahnya, karena itu sangat bagus untuk melatih kesabaran dan ketenangan. Dia tidak mengerti maksud kakeknya itu, tapi dia tetap melakukannya karena merasa nyaman setelah melakukan semedi.

Maka sekarang dalam keadaan duduk di kursi bundar di samping Bundanya dan mengambil sikap duduk tegak lurus, sedangkan kedua tangan dilemaskan dan diletakan di atas lutut. Perlahan-lahan dia menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkannya melalui mulut, kemudian lama kelamaan dia mulai mengatur peredaraan hawa murni tubuhnya mengikuti gerakan pernafasannya. Lalu dia mulai menarik nafas bertambah pelan dan jarak tarikan nafas pertama dengan berikutnya lebih lama, seperti pernafasan orang yang lagi tidur dengan tenang, ini dilakukannya perlahan-lahan dan terus menerus.

Menurut kakek Inal, kalau dia rajin melatih ilmu pernafasan ini, dia akan bisa lama menyelam di air, karena dia bisa menahan dan menyimpan nafas dengan waktu yang lebih panjang dari orang normal lainnya. Hal inilah kenapa dia mau mempelajari ilmu pernafasan, karena ilmu ini awalnya cukup susah dibutuhkan konsentrasi yang baik untuk melakukannya. Apalagi untuk anak kecil lebih terasa susah, melatihnya dengan mata terbuka sehingga bisa melihat sekelilingnya, belum lagi masalah jika dia terburu-buru atau konsentrasinya buyar, dadanya akan terasa sakit sekali. Oleh karena itu dia sangat berhati-hati melatih ilmu pernafasan ini.

Saat ini dia bisa melakukan karena tidak ada kejadian atau pembicaraan yang menarik ditambah lagi orang-orang dewasa yang berbincang-bincang sepertinya tidak memperdulikannya sehingga dia merasa enak untuk melatih ilmu pernafasan ini. Tapi sekarang karena sang ayah sedang memperhatikan dia, makanya sebelum dia bertanya tadi dia sudah mulai menarik hawa murninya kembali ke perut dan dengan santainya bicara pada sang ayah tanpa takut ada akibat sampingan karena sudah melakukan ilmu pernafasan tadi.

”Uda, kami menunggu apa yang aneh pada Aswin.” kata Masnan.

”Begini, waktu uda salurkan tenaga dalam uda kepada Aswin, awalnya uda tidak merasakan apa-apa tapi lama kelamaan uda merasa tenaga dalam uda seperti tersedot tapi pelan-pelan sekali atau lebih tepatnya kalau diberikan perumpaan seperti kendi yang tiba-tiba airnya habis, padahal kalau dilihat sepintas kendi tersebut tidak ada lubang yang mengakibatkan kebocoran, tapi jika kamu memasukan air ke dalam kendi baru kamu akan bisa melihat ternyata ada lubang yang sangat kecil yang mengeluarkan air, semakin banyak kamu masukan air maka semakin deras pula air yang keluar di lubang yang kecil itu tadi. Nah, aku merasakan hal yang sama terjadi pada tenagaku pada saat kualirkan ke Aswin. ”

Maksud uda bagaimana, kami tidak mengerti, sudah jelas tenaga dalam uda tersedot keluar kan uda sedang mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Aswin ?”.

”Benar Masnan, bagaimana ya cara menjelaskannya ?” kata Bumi sambil menggaruk-garuk kepala.

”Maksud uda Bumi itu begini uda Masnan, Uda bumi menyalurkan tenaga dalamnya tiga bagian tapi sepertinya tenaga yang tersedot keluar bukan tiga bagian lagi tapi malahan lebih banyak. Bukan bagitu maksud uda Bumi ?” kata Basri.

Memang diantara mereka berempat, Basrilah yang paling cerdik dan pintar melihat keadaan, mungkin karena dia mempunyai kehidupan dan latar belakang pedagang, karena itu dia harus bisa dengan cepat memahami keinginan orang lain supaya barang dagangannya laku.

” Benar seperti itu maksudku Basri, aku merasa tenagaku merembes keluar lebih dari yang aku salurkan, seperti ada yang menyedot keluar tenagaku memang awalnya tidak terasa sekali karena kecil sekali rembesan itu tapi deras dan terus menerus, makanya lama kelamaan aku merasakannya juga.”

”Pada waktu itu apa uda tidak memikirkan keanehan ini ?” kata Basri.

”Tadinya aku tidak memikirkannya lebih lanjut karena aku tidak merasakan sekali pengaruhnya, hanya setelah aku menarik tenaga dalamku aku merasa kelelahan dan tenagaku berkurang, aku pikir lumrah hal itu terjadi karena kebetulan saat itu aku baru habis bertempur melawan perampok. Tapi ketika aku mengulangi proses ini keesokan harinya, aku mulai merasa aneh dan ini berlangsung terus setiap aku menyalurkan tenagaku padanya.”

”Aneh juga ?! Aku belum pernah mendengar  ada orang yang bisa menyedot tenaga dalam orang lain seperti yang uda alami.” kata Kahar.

”Selain merasa kelelahan apa uda merasakan hal lainnya, tidak ?”  kata Masnan.

Kembali Bumi mengingat-ingat kejadian setelah itu, pelan-pelan dia menggeleng-geleng kepalanya sambil mengerutkan keningnya, ”hanya … tapi entah ini dapat dikatakan ada hubungannya dengan tersedotnya tenaga dalamku atau tidak ?” gumam Bumi.

”Maksud uda ? ” kata Basri ikut-ikutan mengerutkan keningnya.

”Uda, katakan saja, kita sama-sama bahas apakah itu aneh atau bukan ?” kata Masnan.

”Kira-kira sebulan yang lalu, waktu aku tidur, antara sadar dan tidak sadar aku merasa didatangi oleh seorang pria yang gagah dengan wajah yang berwibawa dan berkumis tebal didampingi seekor harimau yang gadang (besar) sekali dan terlihat angker. Mereka datang dan mengajak aku bicara, yang aneh adalah harimau itu juga bisa bicara, aku sempat kaget dan takut, tapi saat itu rasanya aku tidak bisa bergerak untuk melarikan diri.” kata Bumi, lalu dia terdiam.

”Apa katanya uda ?” kata Basri penasaran.

”Hah… aku baru teringat.” kata Bumi sambil memandang aneh ke arah adik-adiknya dan anaknya.

”Kenapa aku bisa lupa perkataan orang tua itu ?” kata dia sambil menggaruk-garuk kepalanya kebingungan.”

”Uda….!!!” kata Masnan tidak sabar.

Yang lain juga mulai tidak sabar dan penasaran mendengar kata-kata Bumi yang terputus-putus tidak jelas maksudnya.

”Uda, kenapa uda memandang kami begitu aneh.” sekali ini Siti yang bertanya.

”Eh iya, uda kenapa memandang kami begitu.” kata Basri.

”Hmmm … tiba-tiba aku ingat isi mimpi itu, padahal dari saat bangun sesudah mimpi itu sampai tadi aku sama sekali tidak ingat bermimpi seperti itu. Tapi setelah aku berusaha ingat-ingat  kembali baru aku teringat kembali mimpi itu.”

”Begitu yah, uda. Berhubung uda sudah ingat mimpinya, bisa uda ceritakan kepada kami ?” kata Masnan tidak sabar.

”Seperti yang aku katakan tadi, aku didatangi seorang pria tua sekali dan seekor harimau besar. Mereka berdua mengajak aku duduk di sebuah pohon yang rindang sekali, setelah itu pria itu memperkenalkan dirinya, dia bernama Satyawarman dengan gelar Sutan Bagindo Inyiak dan harimau di sebelahnya bernama Sulaiman dengan gelar Panglima Harimau.”

”Sutan Bagindo Inyiak dan Panglima Harimau, kata uda Bumi?” potong Masnan.

“Iya benar, kenapa Masnan ?”

”Aku pernah mendengar legenda tentang mereka dari kakekku yang juga diceritakan oleh kakeknya, mereka merupakan orang-orang sakti yang mumpuni sekali di jamannya. Satyawarman masih keturunan raja, tadinya dia yang merupakan calon kuat pengganti raja tapi entah karena apa tiba-tiba dia menghilang dan tidak kedengaran lagi beritanya, tidak lama panglima kerajaan saat itu yang bernama Sulaiman juga menghilang.”

”Aku tidak pernah mendengar kisah ini sebelumnya, wah ini tambah seru saja, aku jadi tambah penasaran, hayo uda Masnan lanjutkan, untuk sementara uda Bumi dengarkan dulu, sesudah itu giliran uda Bumi yang ceritakan mimpinya.” kata Basri.

”Baiklah aku lanjutkan. Tidak lama setelah hilangnya mereka, di dunia persilatan muncul seorang sakti yang suka menumpas kejahatan dan selalu didampingi oleh seekor harimau. Setiap kemunculan orang itu selalu sendirian dan tidak disangka-sangka tiada yang sadar atau tahu kehadirannya, tapi jika terjadi pengeroyokan dalam jumlah besar maka akan ada harimau yang membantunya.” kata Masnan sambil tangannya mengambil gelas kopi untuk meminumnya, karena dia merasakan tenggorokannya mulai kering karena bicara terus.

Kemudian dia melanjuti ceritanya,” Kejadian ini tambah menggemparkan ketika tentara kerajaan mengalami musibah, bertempur melawan musuh dan mereka terdesak hebat. Tiba-tiba mereka mendapat bantuan dari orang itu dan harimaunya, dan yang lebih anehnya lagi baik orang sakti itu dan harimaunya sangat ahli dalam strategi perang. Orang sakti itu bisa memberikan aba-aba dengan menggerak-gerakan bendera kerajaan untuk melaksanakan perintahnya kepada prajurit secara tepat dan suara auman yang dikeluarkan harimau itu merupakan cara komunikasi perang yang suka digunakan Panglima Sulaiman untuk memulai melaksanakan aba-aba dari bendera.”

”Jadi walaupun mereka tidak melihat kedua orang itu tapi mereka merasa harus mematuhi dan melaksanakannya. Saat para prajurit ditanya, kenapa bisa mematuhi aba-aba dan perintah itu, mereka berkata, mereka merasa seperti sedang bertempur didampingi oleh Pangeran Satyawarman dan dipimpin oleh Panglima Sulaiman. Memang kedua orang yang menghilang itu merupakan para ahli strategi perang, setiap peperangan yang dipimpin oleh mereka selalu berakhir dengan kemenangan. Entah mulai kapan beredar berita bahwa orang sakti itu adalah Satyawarman dan harimau itu adalah jelmaan panglima Sulaiman.

Tapi benar atau tidaknya tiada yang tahu karena setiap orang yang pernah bertarung dengan mereka, tidak pernah melihat jelas wajah orang sakti itu dan mereka juga tidak pernah melihat adanya harimau di sekitar mereka, hanya mendengar suara aumnya saja, lalu tiba-tiba di saat-saat genting mereka bisa melihat berkelabat bayangan harimau di dekat mereka, dan harimau itu juga jago bertempur, banyak diantara mereka terkapar kesakitan kena terjang dan cakar harimau, sedangkan yang pernah bertempur langsung dengan orang sakti itu, selalu melihat gerakan silatnya seperti gerakan harimau. Makanya oleh orang-orang aliran sesat mereka dijuluki Bayangan Setan dan Harimau Setan, sedangkan kerajaan dan aliran putih memberi mereka julukan Sutan Bagindo Inyiak (panggilan hormat untuk harimau) dan Panglima Harimau, karena jika benar mereka itu adalah Pangeran Satyawarman dan Panglima Sulaiman maka julukan ini sangat cocok dengan mereka.”

Kembali tangan Masnan meraih gelas kopinya, tapi sayang kopi di gelas sudah habis, dia meletakan kembali gelasnya. Segera Bumi berteriak,”Uni Anikkk, tolong bawakan kopi ke sini.”

Tergopoh-gopoh pelayan yang bernama Anik itu keluar dari dapur sambil membawa ceret kopi yang masih keluar asap dari corongnya.

”Pak, ini kopinya.”

”Tolong uni tuangkan ke gelas itu dan sesudahnya letakan di tengah meja, biar nanti kami bisa ambil sendiri.”

Setelah dia menuangkan kopi ke gelas Masnan, langsung Masnan mengambil dan meminumnya untuk membasahi tenggorokannya.

”Ah nikmat rasanya. Nah itulah sekelumit cerita yang aku dapatkan dari kakekku, mengenai siapa gerangan orang sakti dan harimau itu, siapa sebenarnya mereka tidak ada yang tahu sampai saat ini. Makanya mendengar cerita uda didasarkan dari pengakuan mereka, aku jadi yakin akan kisah mereka itu. Uda Bumi, sekarang giliranmu menyambung ceritamu tadi.”

”Tapi mengapa mereka datang dan bicara pada uda Bumi, apa maksudnya?, Uda lanjutkan lagi ceritanya, kami penasaran.” tanya Kahar

Tiba-tiba,”Uuuaaahhhh. Bunda, aku ngantuk. Ayah, boleh aku kembali ke kamar duluan?” kata Aswin dengan suara yang terdengar mengantuk.

”Eh yah, sekarang sudah jauh malam, iya, Aswin kamu sudah boleh tidur. Siti, kamu bisa mengantarkan Aswin ke kamarnya, kalau kamu  sudah mengantuk boleh tidur juga.”

”Baiklah uda, permisi uda semua, kami mau tidur dulu, hayo Aswin ucapkan selamat malam.”

”Selamat malam ayah dan paman semua, sampai jumpa besok pagi.”

Sebenarnya Siti masih ingin mendengarkan kelanjutan cerita Bumi, tapi dia merasa malu bergabung dengan mereka, kalau tadi ada Aswin jadi tidak terlalu kentara kehadirannya diantara mereka, tapi setelah Aswin tidak ada dia merasa tidak ada tameng dia melawan rasa malunya karena senang Kahar suka curi-curi pandang ke arahnya. Dia pikir lebih baik dia tidur dan mungkin nanti bisa tanya ke Bumi kelanjutan ceritanya.

Kahar yang melihat Siti hendak berlalu untuk pergi tidur merasa senang dan kecewa juga, senang karena dia bisa lebih santai melepaskan ketegangannya dan kecewa karena tidak bisa memandang wajah sang pujaan hati. Tapi dia juga tahu besok dan sampai beberapa hari lagi masih bisa memandang wajah Siti.

”Selamat malam juga  Aswin, Siti!” balas Basri.

”Hmmm… selamat tidur.” kata Masnan.

”Baiklah, selamat malam, Siti, cepat kamu gendong dan bawa Aswin ke dalam, matanya sudah terpejam.” kata Bumi.

”Selamat malam.” kata Kahar pelan dan matanya tidak berani memandang Siti, hanya memandang punggung Aswin saja.

Melihat itu Bumi merasa geli dan ingin menggoda adiknya, tapi dia menahan karena tidak enak mempermalukan Kahar di depan yang lain dan lagian dia belum tahu apakah Siti juga menyukai Kahar, kalau dilihat dari sikap Siti ada tanda-tanda ke arah itu tapi karena memang Siti orangnya pendiam dan pemalu maka tanda-tanda itu terlalu samar. Dia ingin mempertegas dulu perasaan Siti sebelum mulai menggoda mereka berdua di depan yang lain, karena dia tidak ingin menyakiti perasaan kedua orang yang disayangi seperti adik sendiri ini.

Setelah Siti dan Aswin berjalan menuju ke dalam, Bumi segera mengangkat ceret untuk menuangkan isinya ke gelas yang lain dan gelasnya. Mereka sama-sama angkat gelasnya dan minum kopi yang sudah mulai dingin itu, lalu meletakan kembali gelasnya ke meja.

”Uda, sekarang sudah bisa lanjutkan ceritanya, terus terang saja hatiku mengatakan bahwa cerita uda itu ada sangkut pautnya juga dengan kami.”

”Eh  Kahar, kenapa kamu bisa berpikir begitu?” kata Basri.

”Coba uda pikir, kenapa uda Bumi tiba-tiba bisa ingat mimpinya setelah kita mendesak dia dan uda lihat tidak tatapan aneh dari uda Bumi kepada kita tadi ?”

”Hmmm benar juga, tapi anehnya kenapa kamu bisa menyangkutkan mimpi uda Bumi dengan kita ?” kata Masnan.

”Uda Bumi, benar tidak perkataanku, atau instingku salah ?”

”Kahar, engkau memang pria pintar, tidak salah kamu dipercayai kerajaan menjadi penyelidik, karena kehebatan cara kamu berpikir untuk merangkai-rangkai kejadian yang terjadi.”

”Jadi maksud uda Bumi, apa yang dikatakan Kahar itu benar ? Apa mimpi uda ada sangkutan dengan kami !” kata Basri kaget juga, dalam hati dia harus mengakui kepintaran adiknya ini, dia memang cerdik dan dengan cepat bisa membaca situasi tapi dibandingkan dengan Kahar, dia merasa rendah diri karena kemampuan adiknya dalam merangkai perestiwa-perestiwa yang terjadi sangatlah hebat ini menandakan kecermatan dan ketelitian dia dalam memandang sebuah persoalan atau kejadian. Dia hanya cermat dan teliti selama itu menyangkut dengan uang, di luar itu sepertinya otaknya tidak bisa bekerja baik. Dia tidak iri akan kehebatan adiknya ini karena dia tahu setiap orang punya kelebihan dan kelemahan juga, yang jelas kalau menyangkut uang adiknya kalah jauh dari dia.

Makanya dia bisa sekaya sekarang karena kecerdikan dia dalam mengelola usaha dan keuangannya, semua saudaranya mengakui kehebatannya karena itu mereka mempercayai dia untuk mengelola keuangan mereka. Uang mereka digabungkan dan ditambah dengan uangnya, dia buka sebuah toko keperluan sehari-hari di Teluk Kabung, dan usaha ini sangat laris dan banyak pelanggan yang datang ke tempat ini. Selain tentunya usaha-usaha dia yang lain tersebar sampai ke Muaro Bungo (Jambi) dan Sinabang (Sumatera Utara).

Kali ini juga pertemuan mereka sebenarnya pertemuan rutin setiap tahunnya untuk membahas masalah toko dan pembagian keuntungan. Kebetulan pertemuan sekali ini dilakukan di tempat Bumi, setelah beberapa kali dilakukan di tempat dia. Mereka sering juga bertemu tapi biasanya karena ada persoalan-persoalan yang mereka membutuhkan bantuan yang lain. 2 bulan yang lalu mereka juga baru bertemu karena Kahar meminta bantuan mereka untuk mencari informasi mengenai perampok bernama Urang Rante (Orang Rantai julukan yang diberikan kepada narapidana, karena kaki mereka diikat dengan rantai) dari Sitiung.

“Benar sekali, supaya kalian tidak penasaran sekarang aku lanjutkan ceritanya. Setelah dia memperkenalkan diri dia melanjutkan pembicaraan…..” Wali Bumi mulai membayangkan kejadian di mimpinya  dan menceritakan kepada saudaranya.

Seperti yang diceritakan Bumi, mereka duduk di bawah pohon yang rindang, di atas akar pohon yang menonjol keluar  dan keadaan di sekeliling mereka hijau dipenuhi dengan rumput dan pepohonan lainnya. Suasana sangat tenang dan teduh sekali, Bumi tidak tahu di mana mereka berada.

”Cucuku, Bumi, mungkin kamu kaget dengan pertemuan kita. Baiklah, aku akan langsung saja bicara terus terang supaya kamu tidak tambah bingung dengan kehadiran kami. Bumi, perlu kamu ketahui anak laki-laki kamu itu adalah anak yang terbekati oleh Yang Maha Esa. Dia merupakan anak yang dipilih untuk melawan sang angkara murka, seperti ketika jaman aku masih hidup, akupun ditakdirkan untuk melawan iblis yang dilahirkan untuk memberi kekacauan di dunia ini. Dan perlu kamu ketahui lawan-lawan anakmu sudah dilahirkan, bahkan diantara mereka ada yang sudah dilahirkan 1 tahun lebih awal dari anakmu. Tapi jika kamu bertanya kepadaku siapa saja mereka, aku tidak bisa memberi jawaban karena itu merupakan rahasia alam dan kehendak sang Maha Kuasa. Aku hanya tahu bahwa aku harus mempersiapkan anakmu dan beberapa anak lain untuk menghadapi mereka.” kata Pangeran Satyawarman dengan menghela nafas dalam.

”Maksud kakek, ada beberapa anak selain anakku yang akan menumpas kejahatan ? Siapa mereka ?” kata Bumi.

”Bumi, kamu sudah mengenal mereka, yaitu Bastian, Saiful, Burhan, dan Karim, mereka juga murid-muridmu.”

”Hah,  mereka ?” kata Bumi tercengang.

”Ini semua sudah diatur oleh alam, sejak kecil mereka sudah dipertemukan agar bisa saling mendekatkan diri dan sehati dalam menghadapi sang angkara murka. Karim akan menjadi patih kanan bertugas sebagai mata-mata, sedangkan  Saiful yang akan menjadi patih kiri bertugas sebagai ahli pembuat senjata rahasia,  Burhan yang akan menjadi pemimpin dari kelompok ini, Bastian akan menjadi penasehat sekaligus ahli strategi dan Aswin yang sebenarnya pemimpin utama tetapi karena karakternya suka seenaknya sendiri maka akan susah untuk menyuruh dia memimpin tim ini. Mereka semua akan kami didik secara langsung setelah 10 tahun mereka digembleng oleh guru-guru mereka yang berarti kemampuan dasar mereka sudah menjadi lebih matang.

”Jadi, maksud kakek, kelima anak itu akan menjadi pewaris ilmu harimau kalian, dan mereka nantinya akan mempunyai kemampuan yang berimbang ?!.” tanya Bumi.

”Mengenai apakah kemampuan mereka berimbang kelak, itu juga masih merupakan rahasia alam, yang aku tidak dapat meramalkannya. Yang jelas kami menerima wangsit dari Yang Maha Kuasa bahwa kami harus melatih kelima anak itu sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Tetapi sebelum mereka kami latih, mereka harus melewati tahap persiapan akan dasar-dasar tenaga dalam dan ilmu-ilmu silat. ”

”Maafkan aku, kakek, aku masih tidak mengerti maksud kakek karena terus terang saja kepintaran dan kecerdikanku pas-pasan saja.” kata Bumi malu-malu.

”Ha..ha…ha… Bumi, aku senang kepada manusia seperti kamu, polos, jujur, apa adanya dan tidak malu untuk bertanya. Baiklah, aku akan menjelaskan lebih lanjut padamu.” kata Pangeran Satyawarman.

”Bumi, dalam wangsit yang aku terima, kelima anak ini sebelum di didik oleh kami, akan didik terlebih dahulu orang lain yang sudah digariskan untuk mempersiapkan mereka supaya kelak bisa menerima ilmu harimau dari kami. Adapun anakmu sudah dipilih oleh Datuak Inyiak Balang untuk dijadikan pewarisnya, ini merupakan suatu keberuntungan bagi anakmu karena dia juga merupakan murid dari perguruan kami  sehingga mungkin kelak anakmu tidak akan mengalami kesulitan untuk ilmu-ilmu yang akan kami wariskan.”

Kaget sekaligus bangga Bumi mendapat tahu bahwa puteranya dipilih oleh pendekar nomor satu seluruh ranah Minang untuk dijadikan muridnya, karena penasaran dia mengajukan pertanyaan kepada Pangeran Satyawarman.

”Kakek, kenapa bisa pendekar nomor satu itu memilih anakku sebagai pewarisnya, apakah atas petunjukmu ?” tanya Bumi.

”Bukan Bumi, kami tidak pernah memberikan petunjuk apapun kepada dia untuk mengambil puteramu sebagai pewaris. Tapi perlu kamu ketahui cucu muridku Datuak Jangek Kuniang mempunyai sebuah keahlian khusus yang dia dapat dari tanah seberang yaitu ilmu perbintangan dan meramal. Jadi dialah yang menuntun cucu muridnya Datuak Inyiak Balang untuk mengambil Aswin sebagai muridnya. Kakek Inal yang kelak disebut-sebut anakmu itu adalah dia, nama dia waktu mudanya adalah Zainal, tapi dia menyebut dirinya Inal.”

”Aku tahu Bumi, kamu pasti senang sekali anakmu menjadi murid tokoh utama di ranah ini.” kata Sulaiman dengan tiba-tiba

Bumi  sampai terlonjak kaget karena tiba-tiba mendengarkan suara manusia yang dikeluarkan oleh seekor harimau. Pangeran merasakan keterkejutan Bumi dan merasa kasihan melihat wajahnya yang memucat melihat ke arah Sulaiman.

”Kakanda Sulaiman, janganlah kamu menakut-nakuti Bumi, rubahlah penampilanmu menjadi manusia kembali.” kata Pangeran dengan pelan.

”Baiklah, Yang Mulia Pangeran”, sahut Sulaiman.

Wessss… bummm…asap timbul mengelilingi harimau itu,  tiba-tiba di tempat tadinya ada seekor harimau duduk, sekarang berubah menjadi seorang pria seumuran Bumi yang gagah perkasa dengan kumisnya yang melintang menambah keangkeran pemilik wajah itu.

Bumi menatap terpana atas kejadian itu, sambil mengucek-ngucek matanya dia memandang wajah pria gagah itu. Wajah itu mirip sekali dengan kakek moyang isterinya, yang lukisannya tergantung di rumah mertuanya.

“Jangan kaget Bumi, memang lukisan yang tergantung di rumah mertuamu itu adalah aku. Jadi anakmu masih mewarisi darahku di tubuhnya dan darah paduka Pangeran. Karena mertua laki-lakimu merupakan hasil pernikahan dari keturunanku dan keturunan paduka Pangeran. Mungkin kau bertanya dalam hati kenapa mertuamu hanya memiliki lukisanku tapi tidak mempunyai lukisan paduka Pangeran?, itu dikarenakan lukisan paduka Pangeran disimpan di istana Pagaruyuang dan tidak diperkenankan dipamerkan kepada khalayak umum.”

Bumi semakin terheran-heran dan kagum kepada kedua orang sakti ini yang bisa meraba apa yang menjadi pemikiran dia. Sekaligus dia semakin merasa bangga karena pernah menikahi keturunan dari kedua orang hebat ini. Sekarang dia tidak heran lagi akan kehebatan mertua laki-lakinya itu karena dia merupakan keturunan dari kedua orang hebat ini.

“Tapi Bumi, kamu jangan besar kepala dengan semua ini dan lupa diri, biar bagaimanapun dirimu adalah dirimu, pada saat kamu meninggal nanti segala embel-embel yang melekat padamu kini tiada artinya, jadi selalu mawas diri dan rendah hatilah selalu seperti sekarang ini jangan berubah.” kata panglima Sulaiman.

“Aku berjanji kakek, aku akan selalu mawas diri dan tidak tinggi hati dengan semua yang ada padaku. Jika aku melanggarnya kakek berdua boleh menghukum aku, dan aku tidak akan melawan sedikitpun.” Sahut Bumi.

“Baguslah kalau begitu, kembali ke masalah kita tadi, Bumi, sebagaimana yang telah aku katakan tadi bahwa anakmu akan menjadi murid dari cucu muridku, oleh karena itu aku minta kau mengizinkannya dan kau boleh tetap mewarisi ilmu pamungkasmu kepada anakmu itu. Ilmu-ilmu apapun yang diberikan kepada anakmu tidak akan menjadi masalah bagi dia karena memang dia dipersiapkan sedemikian rupa untuk bisa menerima ilmu-ilmu yang kelak akan kami wariskan kepadanya dengan harapan nantinya dia benar-benar mempunyai kemampuan dan kehebatan silat maupun tenaga dalam yang bisa menandingi sang angkara murka itu.”

“Ilmu-ilmu yang kami berikan kepadanya nanti merupakan ilmu yang sangat berat dan dibutuhkan kecerdasan pikiran dan kematangan tindakan, juga harus dilengkapi dengan hati yang tulus dan berbudi luhur. Oleh karena itu kami mengharapkan kau bisa menanamkan budi pekerti dan ketulusan hati padanya sejak dini agar kelak dia dewasa, dia akan menjadi seorang pendekar yang berbudi luhur dan membela kebajikan.” Kata Sulaiman.

Sekarang setelah Panglima Sulaiman berubah wujud kembali menjadi manusia, lebih banyak beliau yang berbicara sedangkan Pangeran Satyawarman mendengarkan saja.

Sambung panglima Sulaiman,”Kamu mempunyai kesempatan untuk mendidik anakmu sampai dia berusia 8 tahun saja, karena setelah itu kami akan meminta Zainal membawanya pergi untuk dilatih lebih lanjut di perguruan kami supaya dia lebih konsentrasi.”

“Kamu tentu juga ingin tahu mengenai nasib anak-anak yang lain?, sebelumnya perlu engkau ketahui kelak banyak orang yang ingin menjadi guru untuk anakmu termasuk adik-adik angkatmu. Tapi takdir menentukan lain adik-adik angkatmu akan menjadi guru dasar bagi anak-anak yang lain. Tugasmu adalah mempertemukan adik-adik angkatmu dengan anak-anak itu, biarkan mereka memilih diantara anak-anak itu siapa yang akan menjadi murid mereka. Khusus Karim, engkau akan dapat mendidiknya bersama dengan Aswin karena dia harus engkau yang mendidiknya langsung. Setelah mereka mendidik ketiga anak yang lain selama 5 tahun, kamu harus membawa mereka kembali ke sini, karena akan datang guru lain yang akan mendidik mereka.”

Sejenak Sulaiman terdiam setelah bicara panjang lebar atas uraiannya, suasana terasa hening, kemudian terdengar suara Bumi bertanya.

“Kakek, bolehkah aku bertanya lebih lanjut?” tanya Bumi.

“Apakah engkau ingin tahu kenapa Karim harus engkau yang didik ? Dan siapa gerangan yang akan menjadi guru selanjutnya dari anak-anak itu ?, Benar tidak, Bumi ?”

Kembali Bumi merasa sedikit gentar karena tokoh-tokoh di depan dia itu bisa membaca pikirannya, sehingga dia merasa harus berhati-hati kalau memikirkan sesuatu, takut mereka marah setelah tahu apa yang dia pikirkan.

“Bumi, kamu jangan gentar karena kami bisa membaca pikiran kamu, jika pikiranmu bersih engkau tidak harus takut dengan hal ini.” Kata Pangeran Satyawarman dengan senyum dikulum.

“Baiklah Bumi, aku menjawab pertanyaanmu itu supaya kamu tidak penasaran. Mengenai kenapa Karim harus kamu didik dikarenakan kami tahu kamu adalah mata-mata bagi kerajaan di masyarakat (istilah jaman sekarangnya agen rahasia), Tidak banyak yang tahu mengenai pekerjaanmu ini bahkan keluarga dan para saudara angkatmupun tidak mengetahuinya. Ini saja sudah membuktikan kehebatan kamu sebagai seorang mata-mata yang diutus langsung oleh baginda. Kamu bisa menipu orang lain dengan penampilan kamu yang terkesan lugu dan sederhana itu.” Kata Sulaiman dengan tersenyum simpul.

Ternyata Bumi ini mempunyai pekerjaan sampingan selain sebagai wali nagari, tidak heran dia sering pergi ke luar kota karena dia harus pergi menyelesaikan tugas yang diberikan baginda dan melaporkan hasilnya. Inilah salah satu lagi kehebatan dari Bumi adalah dia bisa menyembunyikan identitas dirinya dari orang lain. Memang kehebatan dari seorang mata-mata itu diukur dengan kemampuan dia membaur dalam masyarakat tanpa mereka menyadari siapa sebenarnya dia. Dalam hati Bumi semakin salut kepada kedua tokoh mumpuni ini, karena mereka bisa mengetahui apa yang dikerjakannya.

“Kami ingin Karim mempunyai kemampuan seperti kamu, kami juga tahu mendidik anak itu untuk menjadi sehebat kamu tidaklah mudah, tapi tidak apa kami ingin dia mendapatkan dasar-dasarnya dari kamu, setelah dia mendapat didikan dari kamu selama 5 tahun, akan tiba masanya sama dengan anak-anak lain, dia bertemu dengan guru berikutnya. Sedangkan siapa gerangan guru selanjutnya bagi anak-anak itu, ada beberapa orang yang kamu pernah dengar namanya seperti Datuak Saluang Maut, Pandeka Tinju Lautan dari Pulau Bulan, Dewi Kipeh (Kipas) Matohari, Dua Serigala Putih dari Sungai Dareh, dan ada beberapa yang lain.” Kata Sulaiman. “Wah, kakek, mereka adalah tokoh-tokoh legendaries berpuluh tahun yang lalu, sungguh hebat mereka masih hidup sampai sekarang, mungkin umur mereka sudah di atas 80 tahun. Kakek, bagaimana dengan Aswin, apakah dia juga akan menerima pendidikan selanjutnya dari guru lain yang hebat-hebat juga seperti nama yang telah kakek sebutkan tadi ?”

 “Khusus untuk anakmu ada sedikit perbedaan, karena dia sudah dipilih langsung oleh Zainal, maka pendidikannya akan terus berlanjut tanpa terputus. Dan kau jangan kuatir anakmu akan kalah hebatnya dibandingkan dengan anak-anak yang lain, karena sewaktu berada di tempat Zainal nanti, dia akan bertemu dengan guru-gurunya yang lain.” kata panglima Sulaiman.

“Syukurlah Aswin akan dididik oleh orang hebat juga, aku berharap dia tidak mengecewakan kelak.”.

“Setelah mereka dididik selama 5 tahun oleh guru-guru selanjutnya, maka kami akan datang menjemput mereka untuk kami didik Tentang perhitungan 5 tahun itu dimulai saat kedatangan adik-adik angkatmu ke rumahmu dan Aswin serta Bastian berusia 5 tahun, sedangkan anak yang lain berusia 6 tahun. Jadi tepat di usia 15 tahun nanti Aswin akan mulai kami didik sendiri.”

Tidak terasa berapa lama mereka bicara, tiba-tiba terdengar kokok ayam memanggil sang surya untuk memancarkan sinarnya di ranah minang ini.

“Bumi, itu pertanda sudah saatnya kami pergi, ingatlah baik-baik pesan kami ini kepadamu, kami yakin kamu mampu melaksanakannya. Setelah ini kamu akan melupakan pembicaraan kita ini, pada saatnya nanti kamu akan mengingatnya kembali dan kami harap kamu bisa menceritakan hal ini pada adik-adik angkatmu tetapi hanya hal-hal  yang memang perlu mereka ketahui saja, kami yakin kamu bisa melaksanakannya secara bijaksana.” Kata Pangeran Satyawarman dengan nada halus.

Tapi entah kenapa Bumi merasakan nada halus itu sepertinya mempunyai kekuatan magis membuat dia mematuhi perintah terselubung itu.

“Sekarang kembalilah kamu, Bumi, laksanakanlah tugasmu dengan sebaik-baiknya, kami mengandalkanmu agar bisa terselesaikan dengan baik sesuai permintaan Sang Maha Kuasa.”

Setelah itu keadaan tempat mereka duduk dilingkupi oleh kabut, dan kedua tokoh itupun menghilang. Dan tiba-tiba Bumi terjaga dari tidurnya tanpa dia tahu apa yang membuat dia terbangun secara mengejutkan itu.

“Begitulah mimpiku itu adik-adikku, setelah mereka menghilang dan aku terjaga tapi aku tidak bisa mengingat mimpi itu sampai tadi kita berbicara. Mungkin sudah saatnya semua tahu apa yang akan terjadi nantinya. Dan aku senang ternyata anakku akan menjadi murid tokoh-tokoh utama yang mumpuni”,kata Bumi, tentunya ada beberapa bagian dari mimpi itu yang tidak dia ceritakan kepada yang lain seperti bahwa dia seorang mata-mata, kakek Inal yang dimaksud anaknya adalah Datuak Inyiak Balang, dan ada beberapa bagian lagi sesuai dengan nalurinya untuk tidak menceritakannya.

“Tokoh utama di dunia persilatan ? Siapa gerangan dia uda, apa mereka tidak katakan siapakah orang menjadi guru anakmu itu ?” tanya Masnan penasaran.

”Mereka hanya bilang nanti pada waktunya kita akan tahu siapa gerangan tokoh itu.”

Semua terdiam mendengar jawaban Bumi, mereka masih merasa takjub mendengar kisah mimpi Bumi yang sudah meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan, tapi tetap masih terselubung misteri.

”Uda, apa anak-anak yang lain tinggal di dekat sini? Dan apakah masih mempunyai orang tua ?”

”Mereka memang tinggal di sini, Karim tinggal bersamaku dan kedua orang tuanya ada di tanah seberang, kedua orangtua Saiful masih ada asli penduduk sini. Sedangkan Burhan anak yatim piatu yang sekarang dibesarkan oleh keluarga mamaknya (paman/kakak dari ibu), Bastian hidup bersama ibunya. Mengapa engkau tanyakan hal ini Basri ?”

”Uda, seperti yang dikatakan para sesepuh, kalau memang benar aku akan mengambil salah satu dari anak-anak itu menjadi murid, pasti aku akan membawa dia pergi, apakah orang tuanya tidak keberatan dengan itu ?”

”Benar juga sih, tapi mungkin kalau diberi penjelasan mereka akan mengerti dengan sendirinya. Kalau perlu aku akan bantu menjelaskan kepada penanggung jawab mereka.”

Terdengar di luar kentongan dipukul sebanyak tiga kali, ini berarti sudah hampir menjelang subuh. Mereka memerlukan istirahat dan perenungan atas kejadian dari tadi siang sehingga malam begini, agar mereka lebih bisa menerima situasi yang telah terjadi sekarang ini.

”Dik, kalian pasti sudah lelah dan butuh istirahat, bagaimana kalau kita semua pergi tidur dulu, pembicaraan ini akan kita lanjutkan nanti, Aku juga akan mengundang anak-anak itu datang ke sini supaya kalian bisa melihat mereka dan siapa tahu mereka memang berjodoh dengan kalian.”

”Baiklah uda, aku pikir juga itu yang terbaik, dengan istirahat siapa tahu kita bisa lebih berpikiran jernih dan membantu permintaan dari para sesepuh itu.” sahut Kahar.

”Selamat malam uda, kami tidur dulu.” kata Masnan.

”Selamat malam juga, mudah-mudahan besok tidak terjadi hal-hal yang mengagetkan seperti hari ini.” sahut Bumi.

Segera semua berlalu dan berjalan menuju kamar mereka masing-masing sawmbil membawa pemikiran yang bermacam-macam sehubungan dengan mimpi dari Bumi itu. Tak lama suasana rumah semakin hening dan tenang, yang terdengar hanyalah suara koor para jangkrik untuk mengiringi sang rembulan yang semakin lama semakin bergerak menuju ke peraduannya.

Nun jauh di luar sana ada seseorang yang tidak tidur malam ini, bahkan di benaknya terjadi kesibukan merancang rencana ini itu untuk menggemparkan dunia persilatan, sebentar terlihat keningnya berkerut dalam dan mata yang berkilat-kilat penuh kebencian,  sebentar berubah cerah bahkan sampai membuat dia tertawa kecil dengan mata yang memancarkan kelicikan dan kekejaman.

Di hadapan dia terdapat sebuah tempat tidur yang indah dengan 4 tiang penyangga yang terdapat ukiran ular yang sedang merayap naik dan melilit tiang itu. Sungguh sebuah ukiran yang sangat indah dan tidak ternilai harganya. Dikelilingi dengan kelambu yang putih berenda transparan yang sangat halus sekali jahitannya. Ruangan tidur inipun besar, dindingnya dihiasi dengan lukisan indah yang dibuat oleh pelukis terkenal dari seberang. Semua perabotan yang ada baik bangku, meja, lemari yang terdapat di kamar itupun merupakan hasil pahatan sangat halus dan indah, di setiap kakinya ada ukiran ular yang sedang membelilit kaki meja atau bangku tersebut.

Sungguh yang empunya kamar pastilah orang kaya raya melihat isi dalam kamar tersebut penuh dengan hasil karya manusia yang luar biasa indahnya. Dari semua yang indah ini ada satu hal yang mengganggu yaitu wajah orang yang ada di kamar itu, wajahnya sungguh menyeramkan dengan adanya bekas luka yang memerah menjijikan karena masih berair nanah di sekeliling pinggiran luka tersebut, kerusakan wajah itu dari kening kanan sampai tengah dagu, ditambah lagi dengan mata kanannya yang sudah tidak ada lagi sehingga terlihat hanya rongga hitam yang mengerikan.

Sebaliknya wajah di sebelah kirinya merupakan wajah seorang pria yang sangat tampan dengan mata hitam yang mempunyai pinggiran kebiru-biruan dan berbulu mata hitam lentik. Pasti dulunya sebelum wajah itu rusak, dia merupakan seorang pria yang sangat tampan sekali, entah apa penyebab sehingga wajah itu sekarang begitu mengerikan. Orang ini mempunyai tubuh tinggi kekar dengan warna kulit yang sawo matang, tapi sayang kakinya kecil tidak sepadan dengan besar tubuhnya.

Di atas tempat tidur itu terlihat sosok bocah kecil yang sedang tertidur pulas, raut wajahnya tampan dengan hidung yang tinggi mancung dan berkulit terang. Wajah itu terlihat tidak seperti wajah orang setempat, lebih tepat dikatakan anak ini bukanlah dari ranah ini tapi dari dunia lain sana. Sesekali orang yang sedang duduk itu melemparkan pandangannya kepada bocah ini dengan tatapan memuja. Sungguh sebuah pemandangan yang ganjil sekali, anak kecil dengan raut wajah yang mempesonakan, didampingi oleh orang dewasa yang bertampang mengerikan benar-benar bumi dan langit perbedaannya.

Siapakah gerangan kedua orang ini, apakah hubungannya dengan 5 harimau muda kita ? Bagaimana sebenarnya hubungan Kahar dan Siti ?

bersambung

 

Posted by sieklie in 08:29:02 | Permalink | No Comments »