Selasa, Juni 10, 2008

Jilid VIII

Part II

Terdesak dengan keadaan, rombongan Lukman dan Malik segera berupaya mencari jejak ke mana perginya tabib itu, dikarenakan kuda yang dimiliki sang tabib sangat menyolok sekali warna putihnya sehingga orang yang bertemu di jalan ingat akan kuda putih itu. Dan mereka dengan cepat bisa mengikuti jejak sang tabib, pernah sekali hampir mereka bisa menemui sang tabib, tapi kembali dia menghilang dengan menggunakan penyamarannya yang hebat itu. Kali ini sang tabib merubah warna kudanya menjadi abu-abu dan dia merubah diri menjadi seorang gadis yang berusia 30 tahunan yang mempunyai wajah biasa saja, sehingga orang bisa cepat melupakan wajah yang tidak ada istimewanya itu.

Sudah hampir seminggu mereka mengejar sang tabib masih belum ketemu juga sampai di suatu malam di pinggiran hutan, mereka sedang melepaskan lelah setelah berkuda sekian lama untuk mencari sang tabib yang masih belum ditemui itu. Mereka berbincang-bincang mengenai perangai sang tabib yang menurut mereka sangat aneh dan belagak sekali mentang-mentang mau dimintai tolong. Dari pembicaraan yang mengenai sang tabib, entah bagaimana tiba-tiba mereka teringat akan musuh mereka dan membicarakannnya.

Terdengar pandeka Konek bertanya,” Aku merasa heran sekali kenapa waktu kita meninggalkan nagari itu sampai saat ini mereka tidak mengejar kita? Padahal kita sama-sama tahu mereka mendendam sekali pada tuan muda Lukman, biasanya mereka pasti menggunakan segala macam racun untuk mengerjai kita. Tapi anehnya selama hampir satu minggu ini kita berjalan tidak sekalipun kita menemui niat jahat mereka. Aku sudah berjaga-jaga takutnya mereka mancido (membokong) kita dari belakang, apa kalian tidak merasakan keanehan tersebut?”

“Iya, benar sekali kakek, aku merasakan hal yang sama karena biasanya sasaran mereka adalah aku. Terbukti waktu kita menemui tabib itu, jika tidak pasti aku sudah mati karena racun mereka. Tapi entah kenapa aku belum bisa menerima kalau bukan tabib itu yang meracuni aku, terbukti sejak dia menghilang kita semua aman-aman saja tidak ada yang kena racun satu orangpun juga dalam rombongan kita. Aku mulai berpikir apa bukan tabib itu merupakan orang mereka yang sengaja berbuat begitu supaya bisa masuk ke benteng kita dengan alasan mau mengobati ibu kami?”

“Entahlah tuan muda, aku selalu berfirasat tabib itu bukanlah orang jahat, memang dia nyentrik dan seenaknya sendiri mungkin karena dia mengerti kemampuannya sehingga menjadi bertingkah seperti itu. Tapi kalau dia berniat jahat pada kita, aku rasa tidak karena jika dia mau menganiaya kita mudah sekali baginya terutama tuan muda Lukman yang memang merupakan sasaran orang dari perguruan Merak Hitam. Aku tetap merasa ada sesuatu yang ganjil dari semua ini dan aku masih belum menangkap keganjilan itu lebih lanjut,’ kata pandeka Tangan Siluman.

“Apa kalian merasa tidak selama seminggu ini, kita mengejar sang tabib tidak sekalipun kita merasa ada ancaman bahaya yang mengintai kita bahkan seolah-olah ada yang melindungi kita. Pernah suatu malam aku terbangun tiba-tiba tapi aku tidak tahu apa penyebabnya, hanya merasa mendengar sesuatu yang halus sekali tapi entah apa itu. Saat itu aku berpikir apakah aku ngelindur atau berhalusinasi, tapi kini setelah kita ngobrol begini aku merasa memang ada sesuatu yang tidak wajar sedang berlangsung di sekitar kita tanpa kita sadari sama sekali.”

“Adik Malik, aku juga merasakan hal yang sama,  pernah aku merasa melihat berkelabat bayangan orang tapi ketika aku melihat ke arah itu tidak terlihat apapun, hanya aku melihat pohon ditempat itu berubah dari coklat lama-lama menjadi abu-abu seperti abu kayu yang habis terbakar. Hanya waktu itu aku tidak menyadarinya karena sedang tegang  dan berjaga-jaga serangan dari musuh,” kata salah satu dari saudara seperguruan Malik.

“Hmmmm… memang ada yang tidak beres dengan ini semua, oleh karena itu kalian waspadalah mulai sekarang jangan sampai kita celaka di tangan musuh. Apapun yang mencurigakan tolong beritahukan kepada yang lain sehingga kita bisa saling mengingatkan dan berjaga-jaga,” kata Lukman dengan kening yang berkerut.

Dia yang berilmu silat tinggi bahkan lebih tinggi 1 tingkat dari Malik dan kedua kakek pengawalnya tersebut tidak bisa mengetahui jika ada orang lain di sekitar mereka. Berarti ilmu orang tersebut jauh lebih tinggi dari mereka semua, buktinya mereka bisa merasakan kehadirannya tapi tidak bisa mengetahui di mana keberadaannya.

Tiba-tiba mereka mendengar suara ringkikan kuda di kejauhan dan sepertinya kuda tersebut berlari menuju ke arah mereka. Belum sempat Lukman berteriak memperingati rombongannya, sebuah benda putih melesat dengan cepatnya seperti anak panah yang dilepaskan dari busur lewat di samping mereka sehingga mereka hanya merasakan angin yang bertiup sangat kuat sekali di sekitar mereka dan debu berterbangan menutupi pandangan mata mereka. Tapi Kasman yang berdiri dari agak jauh dari benda tersebut dapat melihat dengan jelas bahwa benda itu adalah seekor kuda putih yang terasa kontras dengan gelapnya suasana akibat sudah turunnya sang malam. Langsung dia berteriak-teriak memberitahukan kepada yang lain, mereka bergegas menaiki kuda masing-masing untuk mengejar kuda putih tersebut.

Kuda Lukman dan kuda Malik merupakan kuda-kuda pilihan juga dan keturunan dari  kuda-kuda yang langka dan hebat, tetapi dibandingkan dengan kuda putih di depan itu tidak ada artinya sebentar saja mereka kehilangan bayangan kuda putih tersebut, hanya dari jauh mereka mendengar samar-samar derap langkah kaki kuda itu. Penasaran mereka berdua memacu kedua kudanya untuk mengejar kuda putih itu, sehingga sebentar saja mereka meninggalkan rombongan mereka yang hanya menggunakan kuda “biasa” dibandingkan dengan kedua kuda pemuda itu.

Kira-kira hampir sejam kemudian rombongan itu bertemu dengan kedua pemuda yang sedang memeriksa tanah dan pepohonan di sekitar mereka. Mereka berdua sedang sibuk melihat, memegang bahkan mencium udara di sekitar tempat itu, seolah-olah mereka mencari sesuatu.

“Tuan muda Lukman, apa yang terjadi? Apa yang kalian berdua lakukan?”

“Kakek Konek, anda lihat tidak pohon yang di sebelah sana itu?”

Segera mereka melihat arah yang ditunjuk oleh Lukman, mereka melihat pohon itu biasa-biasa saja seperti umumnya pohon. Tapi pandeka Tangan Siluman punya pemikiran lain, jika sampai tuan muda bertanya pasti ada sesuatu pada pohon itu, cepat diarahkan kudanya mendekati pohon tersebut.  Setelah mengamati beberapa saat dia melihat pohon itu berubah warna menjadi abu-abu sebesar lingkaran gelas minum teh di bagian tengah pohon. Dia menjulurkan tangannya untuk menyentuh pohon, tapi segera Malik berteriak untuk mencegahnya.

“Jangan sentuh pohon itu kakek, nanti bisa kena racun yang mematikan!”

Kaget pendekar ini mendengar pernyataan Malik, untung dia belum menyentuh pohon itu, kalau tidak bisa mati tanpa tahu sebabnya.
“Tuan muda, kenapa kalian bisa tahu pohon ini mengandung racun?”

“Tadi di kejauhan kami mendengar suara pertarungan dan waktu kami hampir mendekati tempat ini tiba-tiba suara pertarungan itu berhenti dan kami masih mendengar suara seseorang berkata, Berani sekali kalian main racun jahat di sekitarku, nih rasakan racunku, aku ingin lihat apakah kalian sanggup menyembuhkan diri, Bilang pada guru kalian si Merak Hitam kalau dia berani main racun jahat lagi mencelakai orang, aku tidak akan segan-segan lagi membuat dia menyesal belajar ilmu racun. Kemudian terdengar teriakan kesakitan, dari mulut beberapa orang, dan pas kami sampai suasana sudah sunyi seperti tidak pernah terjadi sesuatu di sini. Mereka semua telah pergi dengan cepat sekali, Lukman mengejar ke arah kiri dan aku mengejar ke arah kanan, tidak lama aku mengikuti bayangan orang itu aku mendengar dia berkata, anak muda berhati-hatilah lebih baik segera kau susul sepupumu itu,  sebelum dia menjadi mayat pulang ke rumah kalian. Aku sudah tidak bisa melindungi kalian lagi sekarang karena tugasku sudah mendesak sekali harus diselesaikan segera, dan mengenai ibu kalian, ambilah obat ini untuk diberikan kepada beliau, aku sudah mengetahui apa penyebab penyakit ibu kalian dari orang perguruan Merak Hitam, ibu kalian diracuni oleh mereka, dan ini obat penawarnya, mudah-mudahan bisa cepat sembuh.”

“Aku terkejut sekali tiba-tiba ada benda yang melesat dengan cepat sekali ke arahku, cepat aku menangkap benda tersebut, dan di tanganku ada 1 kantong kecil serta di dalamnya ada 6 butir obat berwarna kuning dan berikut kertas cara penggunaannya. Karena menangkap obat itu aku agak tertunda mengikuti bayangan tersebut, jadi aku sudah tidak bisa mengejar lagi. Dari perkataan orang itu aku berkesimpulan semua bentuk  aneh di sekitar daerah ini pasti mengandung racun, makanya aku melarang kakek untuk menyentuh pohon tersebut.”

“Tuan muda Lukman, bagaimana dengan dirimu? Apa yang terjadi, tidak dapatkah kau mengejar bayangan yang lari ke arah kiri?” Tanya Pandeka Tangan Siluman.

“Tidak, aku tidak berhasil mengejar mereka, karena ketika aku sudah hampir mendekati mereka, tiba-tiba mereka membalikan badan menyambitkan pisau belati ke arahku, diserang seperti itu buru-buru aku menghindarinya. Walaupun aku tidak bisa mengejar mereka lagi, tapi aku yakin mereka itu orang perguruan Merak Hitam karena aku melihat bendera mereka dipegang oleh salah satu dari mereka. Cepat aku kembali ke sini karena menguatirkan Malik mengejar bayangan ke arah berlawanan itu.”

“Waktu aku sampai di sini aku melihat Malik juga baru sampai, lalu dia menceritakan apa yang terjadi padaku, tapi aku masih tidak mempercayainya. Kami bertengkar dan hampir aku membuang obat itu kalau tidak kebetulan lewat sahabat ayah, Datuak Marindiang, beliau melihat dan memeriksa obat yang ada di tangan Malik, dan beliau mengatakan bahwa benar obat ini obat pemunah segala racun yang merupakan obat andalan dari Tabib Mato Tigo. Dia mengetahui obat ini dari bau dan warna kuningnya yang khas, karena dulu dia pernah minum obat manjur ini ketika dia kena racun jahat juga. Mendengar omongan beliau baru aku mempercayai bahwa obat ini adalah obat manjur.”

“Ke mana perginya Datuak Marindiang sekarang, tuan muda. Aku sudah lama tidak bertemu beliau, ingin sekali berbincang-bincang menukar pengalaman dengan beliau.”

“Ala kakek Konek bilang saja kau mau mengajak dia bertanding ilmu silat lagi kan ? Kau tidak terima kekalahanmu yang dulu bukan ?” sahut Kasman dengan senyum usilnya.

Mendengar perkataan Kasman, pandeka Konek langsung cemberut dan mendelik kepada pemuda yang polos dan nakal itu.

“Setelah memberi penjelasan kepada kami, beliau menanyakan kepada Malik ke mana arah orang yang memberikan obat ini pergi, Malik menunjukan ke arah mana dia pergi dan beliau langsung menyusulnya. Sempat sebelum beliau pergi beliau mengatakan kepada kami untuk mempelajari daerah sekitar sini agar kami bisa mengenali bau khas yang dikeluarkan oleh racun dari Perguruan Merak Hitam agar kelak nanti kami bisa mengantisipasinya.”

“Kenapa beliau mengejar orang itu, apakah beliau sakit?”

“Aku sempat menanyakan hal itu kepada beliau, kata beliau, dia mendengar kabar bahwa orang tersebut adalah murid Tabib Mato Tigo, dan katanya kakek itu selalu membangga-banggakan keahlian pengobatan cucunya yang sudah menyamai dia dalam usia yang muda sekali. Dan juga beliau penasaran sekali apakah wajah nona tersebut secantik kakaknya yang sangat terkenal di kota raja dengan sebutan Dewi Nan Kuniang.”

“Dasar tua bangka mata keranjang tidak bisa melihat rupa cantik nan rupawan, langsung saja mau caliak (lihat,” gerutu pandeka Konek bersungut-sungut.

Mereka semua tertawa mendengar gerutuan tersebut, karena mereka mengetahui Datuak Marindiang merupakan pria setengah tua yang iseng saja, dia tidak akan mengganggu nona-nona cantik dalam arti menjadi “penjahat pemetik bunga”. Beliau memang punya kegemaran aneh suka melihat wajah-wajah yang cantik dan tampan rupawan, lalu melukis wajah mereka untuk menjadi koleksi pribadinya. Dan sebenarnya tidak banyak orang yang menurut beliau tampan dan cantik bahkan Lukman dan Malik yang termasuk kategori tampan saja bagi beliau biasa-biasa saja. Memang sebuah kegemaran yang aneh sekali, tapi hal inilah yang mempertemukan dia dengan ayah Lukman dan menjadi sahabat baik, karena ayah Lukman menurut beliau merupakan termasuk pria yang paling tampan yang pernah ditemuinya.

“Jadi sekarang, kedua tuan muda sudah tahu bagaimana bau khas yang dikeluarkan oleh racun perguruan Merak Hitam?”

“Iya kira-kira begitu uda Randu, ada semacam bau yang khas sekali di setiap racun perguruan Merak Hitam, aku juga mencium bau ini di tubuh ibu ketika aku dekat-dekat beliau,” kata Malik.

“Maksud tuan muda, bau khas yang seperti apa?” kata Randu sambil mengendus-endus di sekitar mereka.

“Aku tidak bisa bilang bau yang seperti apa, kalau kau tidak konsentrasikan pancaindramu memang bau ini tidak akan tercium coba kerahkan ilmu Kijang Mencium Bayangan, pasti kau akan bisa mencium bau yang aku maksudkan.”

Segera kelima saudara seperguruan Malik mengerahkan ilmu tersebut, memang ilmu ini sangat khas sekali karena ilmu ini mengandalkan bau seseorang untuk mengetahui posisi lawan di saat pertandingan melawan musuh yang bisa menggandakan dirinya seperti ilmu Gandakan Roh Setan milik Datuak Kalam Kambang, yang merupakan pimpinan dari perguruan Kalam Kambang dan seorang datuk sesat yang menguasai wilayah Timur dari pusat kerajaan Pagaruyung. Selama ini datuak ini tidak bisa mengganggu pusat kerajaan karena di sekeliling ibukota dijaga ketat oleh pasukan Garuda yang terkenal kedahsyatannya. Bahkan sempat perguruan beliau hampir musnah oleh panglima dan 3 jenderal pasukan Garuda ketika mereka mencoba memasuki ibukota, sejak itu mereka melarikan diri ke Timur dan berdiam di daerah jauh dalam perdalaman hutan.

Ilmu ini juga sudah digunakan oleh Malik dan saudara-saudaranya dalam melacak keberadaan tabib sakti itu tapi memang tabib itu hebat sekali dia mampu menghilangkan bau khas dari tubuhnya sehingga mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan sang tabib sampai sekarang ini.

“Benar sekali tuan muda ada semacam bau khas yang tertinggal di sekitar sini, kalau ini benar cirri khas perguruan Merak Hitam dalam ilmu racun mereka, kita akan bisa mengantisipasinya ke depan nanti,” kata Randu dengan gembira.

Sementara itu kedua kakek tersebut sudah juga bisa mencium bau khas yang dimaksud, hanya Kasman sendiri yang masih belum bisa mencium bau khas yang dimaksud tapi dia tidak berani bilang kepada yang lain takut disangka bodoh dan rendah ilmunya dibandingkan dengan yang lain. Kesombongannya inilah yang nantinya mencelakakan dirinya.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan tuan muda, obat sudah di tangan sebaiknya kita kembali ke rumah untuk memberikan obat ini kepada nyonya berdua,” kata Pandeka Konek.

Lukman terlihat berpikir dari tadi dan tidak banyak berbicara karena sebenarnya dia penasaran sekali kenapa mereka tidak bisa menemui sang tabib, seakan sang tabib merasa mereka tidak pantas bertemu dengannya. Dia sangat penasaran sekali bahkan dia tidak mampu melupakan sorot mata sang tabib yang seakan membetot sukmanya itu. Terbersit di dalam hatinya untuk mengetahui apakah benar sang tabib itu adalah seorang gadis rupawan yang menyamar ataukah itu hanya isu yang sengaja dilontarkan di dunia persilatan agar gadis itu mendapat nama dengan cepat.
Semua menunggu keputusan Lukman sambil memandang wajahnya yang terlihat sedang berpikir keras. Akhirnya dia bicara dengan suara pelan dan jelas terkandung rasa penasaran kepada yang lain.

“Tolong kalian jawab yang jujur, apakah kalian tidak penasaran dengan sang tabib yang misterius itu? Terus terang saja aku merasa terhina sekali kenapa dia tidak mau bertemu dengan kita dan menerima terima kasih kita secara langsung? Sedemikian tidak berharganya terima kasih dari keluarga kita padanya sehingga bahkan dia tidak mau bertemu muka dengan kita dan datang berkunjung ke rumah kita untuk mengobati ibu? Aku ingin sekali melihat wajahnya dan bisa berbicara dengannya untuk menanyakan padanya kenapa dia berbuat begitu pada kita sehingga bisa hilang rasa penasaran di hatiku saat ini, kalau memang kita telah berbuat salah yang tidak kita sengaja aku bersedia meminta maaf padanya,” kata Lukman.

Yang lain mendengar perkataan Lukman memang merasa penasaran sekali kenapa sang tabib seperti itu dengan mereka, apa yang telah mereka perbuat sehingga beliau tidak mau bertemu dengan mereka. Tapi merekapun sadar mereka tetap harus mengantar obat tersebut untuk kedua orang yang sedang menderita kesakitan di rumah.

“Tuan muda Lukman, terus terang saja aku penasaran juga tapi kita harus segera pulang untuk membawa obat tersebut  agar  nyonya bisa segera bebas dari kesengsaraannya.”

“Iya, uda Lukman kita harus segera kembali untuk bawa obat buat ibu.”

“Kalian benar, kakek Tangan Siluman dan Kasman, kita harus segera kembali demi ibu, tapi kenapa hatiku masih tidak rela melepaskan tabib tersebut seakan sudah di depan mata tapi kita tidak bisa meraihnya. Aku juga ingin meminta obat penawar racun seandainya perguruan Merak Hitam menyerang kita kembali dengan racun, yah minimal petunjuknya agar obat penawar tersebut dapat kita buat sendiri dan diperbanyak untuk dibagikan kepada anggota kita semua.”

“Benar yang kau katakan Lukman, aku juga berpikiran sama denganmu, mungkin lebih baik kita pecah menjadi 2 rombongan, 1 rombongan mengantar obat buat ibu dan 1 rombongan lagi menyusul ke mana tabib itu pergi. Bagaimana menurut kalian usulku ini?”

Belum sempat Lukman menjawab usul Malik, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi letusan di udara, dan terlihat di langit warna hijau pekat sekali sesaat sebelum buyar ditiup angin, itu tanda pengenal dari perguruan mereka yang menandakan ada anggota mereka yang dalam bahaya.

Melihat hal tersebut semua orang buru-buru naik ke kuda mereka dan melupakan masalah sang tabib karena tanda bahaya yang dilepaskan itu tanda bahaya tingkat 3 yang artinya benar-benar dalam keadaan yang berbahaya dan genting sekali.

“Cepat, kita menuju ke Utara, sepertinya ada teman kita yang dalam bahaya, mudah-mudahan tidak jauh dari sini,” kata Lukman sambil dengan cepat mengarahkan kudanya.

Untungnya malam itu langit sangat terang benderang, bulan bersinar bulat penuh dan banyak bintang yang berserakan di pekatnya malam sehingga seperti lampu yang redup menyinari bumi. Tapi bagi kaum pendekar pengelana dengan penerangan seperti ini sudah cukup membantu bagi penglihatan mereka akan sekelilingnya, mengingat mereka mempunyai mata yang berbeda dengan manusia biasa, karena semakin tinggi tenaga dalam seseorang akan semakin kuat daya penglihatan orang tersebut.

Tidak lama mereka mendengarkan suara pertempuran yang seru sekali di depan mereka, semakin cepat mereka memacu kudanya, Lukman dan Malik segera mendahului sampai. Terlihat suasana di sebuah lapangan pertempuran tidak seimbang, adik kedua Lukman, Darman sedang dikeroyok tokoh kelima dan keenam perguruan Merak Hitam yaitu Siluman Merak Rawa dan Siluman Merak Pohon, dan yang lain 8 orang saudara seperguruan Malik sedang dikeroyok oleh 25 orang anggota Merak Hitam. Dan terlihat 2 tubuh yang tergeletak di tanah yaitu  pengawal Rangkayo Padang Jati, Pandeka Tendangan Petir dan Pandeka Pedang Pamuncak, mereka terlihat seperti sudah tidak bernafas dan wajah mereka sudah berubah menjadi menghitam itu tanda mereka keracunan hebat.

Tanpa pikir panjang lagi segera Lukman menyerbu untuk membantu adiknya yang sudah dalam keadaan payah sekali dan Malik memburu kedua pengawal tersebut sambil mengeluarkan 2 butir obat penawar racun yang diberikan oleh tabib itu, yang penting menyelamatkan jiwa orang yang ada di depan mata dulu, dia melupakan bahwa mencari obat pemberian tabib itu susah sekali sekarang dia memberikan kepada orang lain tanpa pikir panjang. Sungguh benar-benar seorang pemuda yang mempunyai hati yang baik sekali jarang ada orang yang seperti dia, apalagi obat itu berguna untuk orang yang paling disayanginya tapi berhubung ada orang lain yang membutuhkan dia memberikannya.

Malik membantu menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh kedua pengawal tersebut, sedangkan Lukman begitu terjun ke gelanggang segera mengeluarkan ilmu andalannya yaitu Ilmu Walet Menerjang Badai.

“Darman, aku datang membantumu!”

Ketiga orang yang sedang terlibat perkelahian seru itu kaget mendengar perkataan itu, Kedua Siluman Merak itu merasakan ada angin dahsyat yang bergerak tajam menuju mereka, cepat Siluman Merak Rawa mengangkat kedua tangannya untuk menangkis serangan dari Lukman. Sedangkan Siluman Merak Pohon tetap dalam posisi menyerang Darman, tadinya mereka sudah senang sekali sudah hampir bisa menangkap dan menyandera anak kedua dari musuh perguruan mereka. Tapi gangguan datang terpaksa mereka membagi kekuatan, tapi siluman Merak Pohon tetap yakin dia dapat meringkus pemuda yang jadi lawannya.

Dengan pukulan beracun Merak Menebarkan Benih, dia melompat ke atas dengan posisi kaki yang merapat, dia melontarkan puluhan jarum beracun kea rah Darman, dia yakin sekali jarum itu akan mengenai pemuda lawannya. Setelah itu dibarengi dengan kecepatan yang tinggi dia berbalik arah dan mempersiapkan kedua tangannya membentuk mulut merak dengan ilmu Merak Mematuk Mangsa menyerang ke arah Lukman yang sedang mendesak saudaranya itu. Tapi yang menjadi pemikirannya bukanlah yang dikehendaki oleh sang Ilahi, di saat keadaan Darman sedang genting, tiba-tiba dari arah belakang Darman terlontar sebuah batu hitam  berbentuk persegi panjang sebesar batu bata dan begitu batu itu melayang ke arah jarum-jarum tersebut, semua jarum-jarum yang tadinya bergerak menyerang Darman tiba-tiba seperti tersedot oleh batu tersebut. Jarum-jarum itu semuanya melengket di batu hitam tanpa tersisa, dan selamatlah Darman.

Ternyata batu hitam itu merupakan batu sembrani (magnet) yang bisa menyedot semua benda yang terbuat dari besi. Darman menoleh ke belakangnya untuk melihat siapa orang yang telah membantunya itu, dia melihat seseorang bercadar dan tertutup dengan jubah besar berwarna lembayung yang indah sekali sedang duduk di atas seekor kuda putih. Lalu orang itu menggerakan tangannya dan batu hitam yang jatuh di tanah tersebut bergerak meluncur ke arahnya dengan cepat sekali. Terlihat pada batu itu terlilit seuntas tali panjang yang bisa digunakan untuk menariknya kembali kepada sang pemilik. Dan batu hitam itu disimpan di kantong yang ada di sisi kakinya, dan dari kantong itu dia mengeluarkan sebuah botol berbentuk seperti buah alpukat.

Dia melemparkan botol itu ke arah Darman sambil menghentakan kakinya ke perut kuda putih itu dan kuda putih itu segera berlari cepat seperti angin menjauhi arena perkelahian seru itu. Terdengar kata-katanya kepada Darman,”Anak muda, kau ambilah botol ini lalu berikan kepada teman-temanmu untuk diminum agar semua racun yang ada dalam tubuh mereka bisa bersih segera, dan berikan juga obat ini kepada ibumu yang sedang sakit karena keracunan. Katakan kepada saudaramu, jangan lagi mengikuti aku dengan alasan apapun juga, di dalam botol ini ada 500 butir obat penawar racun yang bisa kalian gunakan seandainya kalian keracunan berat nantinya. Dan kau juga sekarang segera minum obat penawar itu, jangan sampai terlambat.”

Darman menerima botol yang dilemparkan kepadanya itu, ingin dia mengucapkan terima kasih kepada penunggang kuda putih itu tapi mereka sudah tidak terlihat lagi seakan hanya dalam mimpi saja ada orang yang menolongnya kalau dia tidak memegang botol obat ini. Dia mengalihkan pandangannya ke arah pertempuran seru di depannya, dia melihat sekarang Lukman berhadapan dengan Siluman Merak Rawa dan Malik dengan Siluman Merak Pohon, kedua pengawalnya terlihat sedang bersila memulihkan kondisi tubuh mereka, 8 orang yang lain sudah menjadi bulan-bulanan dari orang perguruan Merak Hitam, cepat dia berlari ke arah pertempuran itu sambil membuka tutup botol dan mengeluarkan 1 butir obat berwarna kuning untuk ditelannya, tidak sedikitpun dia terpikir untuk meragukan maksud orang tersebut. Karena kalau oang itu benar-benar hendak mencelakainya tidak bakal orang itu berbicara seperti itu padanya, berarti orang itu kenal dengan saudaranya, hanya dia belum tahu saudaranya yang mana, setelah itu dia memasukan botol obat ke dalam bajunya. Begitu Darman datang membantu keadaan menjadi semakin ramai, dengan serangan-serangan gencar dan berbahaya Darman berusaha menyelamatkan teman-temannya dari barisan perguruan Merak Hitam itu.

Sementara itu pertempuran Lukman dan Siluman Merak Rawa sudah mencapai titik tertinggi, keduanya terlihat sedang mempersiapkan diri dengan ilmu pemuncak mereka. Dari beberapa kali bentrokan tangan tadi, Lukman sudah bisa mengukur tenaga dalam Siluman Merak Rawa masih kalah setingkat dari dirinya, tapi dia tidak bisa lengah juga karena semua ilmu dari siluman itu mengandung racun yang berbahaya dan mematikan jika kena anggota tubuh.  Lukman mengerahkan ilmu Walet Menerjang Badai tingkat ke 9 yaitu Walet Memapas Angin, dengan mengandalkan ilmu peringan tubuh tingkat tinggi dia memainkan ilmu dahsyat ini, ilmu ini tidak mengeluarkan suara apapun dan tidak terasakan adanya angin yang bergerak di sekitarnya.

Siluman Merak Rawa tahu dia dalam keadaan berbahaya pemuda lawannya ini lebih hebat lagi dari pemuda sebelumnya, dia melihat ada kemiripan diantara kedua pemuda tersebut pasti mereka kakak beradik tapi pemuda yang pertama jauh lebih tampan dari yang ini. Dia merapalkan ilmu tertingginya ilmu Bayangan Merak Menarik Arwah, ini merupakan ilmu yang paling hebat dari perguruannya, walaupun dia baru sampai tingkat 4 tapi dia sudah susah dicari tandingannya. Dia tidak tahu bahwa musuh yang paling dicari kakak pertamanya adalah pemuda ini, karena selama ini dia dan Merak Pohon selalu harus menemani guru mereka bertualang ke tanah Jawa. Sejak guru mereka meninggal dunia beberapa bulan yang lalu, mereka dipanggil oleh kakak seperguruan mereka untuk kembali ke perguruan dan membantu sang kakak untuk membalas dendam.

Terlihat keduanya sedang mempersiapkan diri untuk memuntahkan ilmu tertinggi mereka kepada lawan. Sementara itu Malik juga sudah mengimbangi permainan Merak Pohon, terlihat memang Malik kalah setengah tingkat dari musuhnya tapi untungnya dibantu dengan ilmu peringan tubuhnya yang bagus dia masih bisa menapaki semua serangan musuh dengan baik. Dengan ilmu Ula Kuniang Mengejar Bayangan dia menyerang dan bertahan melawan Merak Pohon, dan musuhnya sudah mulai hilang kesabarannya setelah melihat situasi bisa berubah sewaktu-waktu, segera dia memainkan ilmu Bayangan Merak Menarik Arwah tingkat 3 agar bisa cepat mengalahkan musuhnya.

Merak Pohon kosentrasi mempersiapkan diri dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke arah jari-jari tangannya sambil menahan gempuran dari Malik yang bergerak bagaikan ular menyusup di setiap celah lowong diantara serangannya. Pertandingan kedua orang ini berlangsung seru, tiba-tiba terdengar jeritan kesakitan dari arah pertempuran Darman dengan Barisan Merak Hitam, ternyata salah seorang dari teman rombongan Darman kena pukulan akibat sebelumnya dia sudah kena racun sehingga tenaga dalamnya berkurang dan menyebabkan gerakannya menjadi lambat untuk menghindari serangan. Keadaan pertempuran Darman dan teman-temannya melawan Barisan Merak Hitam terlihat tetap tidak membaik, karena rata-rata mereka semua sudah kepayahan akibat racun yang disebarkan oleh orang perguruan Merak Hitam. Jika kondisi mereka tidak keracunan mungkin mereka masih bisa bertahan dan tidak seperti sekarang sewaktu-waktu akan ambruk.

Malik masih sempat melihat ke arah teriakan itu dan hampir saja kena pukulan dari Merak Pohon akibat kelengahannya itu, sedangkan Lukman tidak berani menoleh ke arah jeritan itu karena dia sudah melihat lawannya sudah siap melontarkan pukulan mematikan ke arahnya. Dalam keadaan yang semakin genting tiba-tiba mereka semua mendengarkan derap kaki kuda yang banyak sekali menuju ke lapangan itu. Lukman dan Malik yang tahu itu adalah rombongan mereka menjadi lebih lega dan tenang karena tahu situasi sebentar lagi akan berbalik, sedangkan dari pihak musuh mulai menyadari keadaan bisa memburuk jika yang datang adalah musuh. Sementara itu kedua pengawal Darman yang sudah hampir selesai mengobati diri menyadari akan kedatangan banyak orang, mereka cemas sekali takut musuh yang datang sedangkan mereka dalam masa kritis mengobati luka mereka. Darman dan teman-temannya yang sedang bertempur di sisi lainnya tidak memperhatikan hal itu karena mereka sedang sibuk kosentrasi untuk melayani serangan yang sangat teratur dari Barisan Merak Hitam jika lengah sedikit nyawa taruhannya.

Seperti dugaan Lukman dan Malik memang yang sedang datang mendekat itu adalah rombongan mereka. Begitu sampai ke lapangan itu mereka semua bergerak ke lapangan untuk membantu teman-teman mereka, Pandeka Tangan Siluman dan Pandeka Konek berpencaran membantu Lukman dan Malik, sedangkan yang lain langsung terjun ke pertempuran Darman. Melihat kedatangan teman-temannya, mereka menjadi semangat sekali dan pertempuran menjadi tambah seru.

Pandeka Konek yang hendak membantu Lukman segera dicegahnya, “Kakek, cepat kau tolong Darman, aku masih bisa atasi mereka. Darman dan yang lain keracunan hebat takutnya mereka tidak bisa ditolong lagi kalau terlambat!”
 
Setelah melihat Lukman tidak bakalan kalah dari lawannya, cepat Pandeka Konek bergerak ke arah pertempuran Darman dan teman-temannya. Dia melihat pertempuran tersebut masih berlangsung alot sekali, Barisan Merak Hitam itu sungguh sebuah barisan kerjasama tim yang sangat kompak sekali, setiap orang tahu posisi masing-masing dan secara bergantian memainkan ilmu menyerang dan bertahannya dengan sangat baik sekali. Sedangkan di pihak mereka, keadaan Darman dan  8 orang temannya dalam keadaan payah sekali di seluruh tubuh mereka sudah banyak luka dan sewaktu-waktu bisa ambruk tapi setelah ditambah dengan Kasman dan 5 orang saudara perguruan Malik, keadaan mulai membaik walau tetap tidak bisa mengalahkan barisan tersebut.

Barisan Merak Hitam ini dimainkan oleh 25 orang dengan sangat baik sekali, karena mereka dilatih langsung oleh ketua mereka dengan sangat keras. Mereka seolah-olah menyatu satu dengan yang lainnya, orang lain tidak tahu siapa yang memegang komando dari gerakan barisan yang memang sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga orang lain tidak mengetahuinya kecuali oleh anggotanya sendiri. Sebenarnya kunci rahasia kelemahan barisan ini ada pada si pemegang komando, karena jika orang mengetahui siapa yang mengatur bisa mengincarnya dan mematikan gerakannya, otomatis jika gerakannya mati anggota yang lainpun akan kebingungan untuk menggerakan barisannya. Mereka berjumlah 25 orang merupakan sebuah barisan yang mempunyai jumlah orang yang sangat banyak jadi tidak gampang untuk mengatur gerakan penyerangan dan pertahanan jika mereka tidak ada yang mengepalainya.

Ditambah lagi mereka semua menggunakan baju dan penutup wajah berwarna hitam sehingga susah sekali untuk mengetahui pimpinan mereka. Lawan tidak bisa melihat wajah mereka sehingga mereka dengan leluasa bisa bergerak tanpa kuatir sang pemimpin akan diredam gerakannya. Pandeka Konek yang melihat keadaan ini langsung mengetahui satu-satunya cara adalah menggempur barisan ini dari belakang, jadi menyerang mereka dari dua sisi depan dan belakang. Dia langsung menyerang sisi belakang barisan yang sedang sibuk menggempur Darman dan teman-teman yang lain. Dan ternyata Pandeka Konek kecele dengan dugaannya, barisan ini benar-benar barisan yang tangguh dan hebat sekali, memang mereka dilatih untuk menghadapi saat harus bertempur menyerang kubu Rangkayo Jati yang dikawal oleh banyak orang-orang berilmu tinggi, jadi satu-satunya cara adalah membuat sebuah barisan yang bisa meredam kekuatan pengawal keluarga itu. Begitu tahu mereka diserang dari belakang, mereka langsung merubah gaya serangan tadinya mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam, sekarang mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam Kembar jadi seperti dua orang anak kembar mereka bisa saling bergantian menutupi kanan kiri mengisi kelemahan posisi teman-teman mereka.

Sungguh pemandangan luar biasa, 25 orang bertempur menekan 2 orang pesilat dengan ilmu kelas satu dibantu dengan 14 orang lainnya tanpa mereka sendiri mengalami kesulitan bahkan pihak yang digempur harus berhati-hati beradu tangan dengan mereka karena seluruh tubuh 25 orang ini berlumuran racun yang mematikan. Yang paling parah keadaannya adalah Merak Pohon karena dikeroyok oleh Malik dan Pandeka Tangan Siluman, mereka berdua ingin cepat-cepat menyudahi pertempuran karena mau membantu kelompok Darman yang beberapa orang diantaranya sudah sangat kepayahan akibat racun yang masuk ke tubuh mereka.
Merak Pohon menyadari keadaannya yang berbahaya itu tapi dia tidak mau menyerah kalah, dia mengeluarkan senjata andalannya pisau terbang Merak Hitam, di tangannya pisau ini bergerak seakan terbang mencari mangsanya. Begitu dia mengeluarkan 2 pisau dari dalam bajunya, segera tercium bau amis yang sangat menyengat hidung, Malik dan Pandeka Tangan Siluman mengetahui bahwa senjata ini dilumuri dengan racun yang sangat berbahaya sekali, mereka harus berhati-hati agar tidak tergores pisau belati beracun itu.

Sedangkan keadaan Lukman sudah di atas angin, Merak Rawa sudah mulai susah menahan gerakan Lukman, terpaksa dia mengeluarkan juga senjata andalannya sabuk yang terbuat dari bulu-bulu merak yang sudah direndam dengan obat-obat dan racun ganas supaya bisa menjadi senjata. Melihat hal ini Lukman tidak mau kalah mengeluarkan senjatanya yaitu pedang Walet Perak, pedang ini warisan dari gurunya, khusus dibuat dari perak murni yang mempunyai kadar murninya sangat tinggi hampir mencapai 100% dan dicampur dengan baja putih yang jarang sekali ditemukan jadi dapat dibayangkan kehebatannya. Pedang ini sangatlah tajam sekali dan belum ada yang bisa menghancurkannya,  pedang yang bisa mengimbangi ketenarannya adalah  pedang Batu Angin milik Orang Gaek Indak Banamo (Orang tua tidak bernama) dan pedang Gadang Barek (Besar berat) pusaka perguruan Jawi Putiah (sapi putih). Konon kabarnya pedang ini hanya bisa dihancurkan oleh pedang pusaka Naga Hijau yang dipegang oleh raja Adtyawarman dan Pedang legenda Damar Pelangi yang konon tidak jelas keberadaannya.

Benar-benar pertempuran tingkat tinggi, Lukman mengerahkan ilmu pedang Walet Peraknya untuk menandingi Sabuk Merak Hitam milik Merak Rawa. Pedang di tangan Lukman bergerak-gerak cepat sekali seperti burung walet menyambar-nyambar ke segala arah tubuh Merak Rawa, sedangkan sabuk Merak Rawa tidak mau ketinggalan bergerak mengimbangi kekuatan pedang Walet Perak. Merak Rawa selalu berusaha menjaga jarak jangkauan sabuknya yang panjang itu, sedangkan Lukman lebih menyukai pertempuran jarak pendek. Untuk mengatasi hal ini keduanya berusaha menggunakan cara apapun untuk saling mengalahkan. Melihat hal ini Lukman merubah strategi permainan silatnya, mulai dia menggunakan pedangnya untuk memapas sabuk tersebut, dari beberapa kali benturan, pedang itu berhasil memotong sabuk itu hampir sepertiga panjangnya. Merak Rawa mulai merasa gelagat tidak baik berpihak pada dia dan rombongannya, sambil terus memainkan sabuknya sempat dia melirik ke arah dua pertempuran lainnya.

Dia melihat adik seperguruannya sedang terdesak hebat dikeroyok 2 orang tinggal tunggu saatnya saja untuk binasa, sedangkan barisan Merak Hitamnya sedang diobrak abrik oleh 7 orang dengan tingkat kepandaian yang lebih tinggi dari musuh sebelumnya, walaupun belum terlihat mereka bakalan kalah. Dan terlihat di sudut kanan lapangan 8 orang lawan awal dari barisan Merak Hitam sedang bersila memulihkan kondisi mereka yang sudah terluka dan keracunan. Hal ini sangat tidak menguntungkan sekali bagi pihaknya, dia harus segera menyingkir dari sini. Mulailah akal liciknya bekerja, perlahan-lahan dia menggeser pertempurannya mendekati saudaranya, dan menggunakan ilmu bicara jarak jauh dia menyuruh saudaranya mulai bergeser ke arah barisan merak hitam serta dia juga menyuruh pimpinan barisan menyiapkan anak buahnya semua untuk kabur dari gelanggang dengan menggunakan bom racun buatan mereka.

Duuuuaaarrrrr, terdengar ledakan keras sekali dari tengah pertempuran dari barisan Merak Hitam, ternyata salah satu dari anggota barisan menjatuhkan bom untuk mengalihkan perhatian Malik dan Pandeka Tangan Siluman yang telah mendesak Merak Pohon yang sudah terluka. Ketika semua orang dikagetkan dengan bunyi ledakan itu, Merak Rawa mengambil kesempatan itu lari menuju ke saudaranya dan menangkap tangannya untuk dibawa berlari dengan cepat sekali. Semua orang selain dari perguruan Merak Hitam buru-buru menjauhi asap beracun yang menyelimuti arena pertempuran, cepat mereka menarik saudara mereka yang terluka agar tidak terhirup asap itu. Terdengar ledakan kedua, dan asap semakin tebal mengitari arena, tambah jauh rombongan Lukman dan Darman berlari meninggalkan tempat itu.

Setelah mereka cukup jauh dari arena pertempuran barulah mereka berhenti berlari, sambil meletakkan saudara-saudara mereka yang terluka di tanah. Mereka melupakan kuda-kuda mereka yang tertambat di dekat pertempuran tadi, karena mereka hanya memikirkan menyelamatkan diri dan teman-teman dari bahaya keracunan akibat bom asap tersebut.

“Kurang ajar, memang bangsat licik, coba mereka tidak main bom asap itu, tidak nanti mereka bisa meloloskan diri.” Sumpah serapah Pandeka Konek.

“Sudahlah kakek, sekarang yang penting kita obati dulu teman-teman kita” sahut Darman sambil membagi-bagikan obat yang telah dia terima dari orang misterius tadi.

“Darman, darimana kau dapat obat ini?”Tanya Malik.

“Tadi ketika aku sudah hampir kena jarum Merak Hitam,  tiba-tiba datang seseorang yang berjubah lembayung yang sangat indah sekali menolong aku dan memberikan obat ini.”

“Jangan-jangan dia datang membantu kita?”

“Aku yakin sekali, Man, sepertinya memang dia yang membantu kita.”

“Ini sudah yang ke berapa kalinya dia membantu kita, berarti dia tidak seperti yang kau curigai selama ini, Lukman.”

“Aku tahu, kakek Konek, hanya aku penasaran saja kenapa dia tidak mau bertemu muka dengan kita?”

“Kalau aku boleh bertanya, emangnya siapa yang kalian bicarakan dari tadi?” Tanya Darman kebingungan.

“Oya, kenapa kalian bisa sampai di sini, bertemu dengan musuh?” Tanya Lukman.

“Kami mendengar kabar Datuak Kaba Angin bahwa Dewi Tangan Dingin sedang menuju gunung Tandikat untuk mencari obat, makanya kami menyusul ke sini, baru kami sampai, tiba-tiba kami diserang mereka dengan cara curang sekali, makanya kedua paman sampai bisa diracuni mereka. Untung kalian keburu datang kalau tidak kami semua sudah mati dibunuh mereka.”

“Tapi kalau melihat cara mereka menyerang sepertinya mereka tidak ingin membunuh kalian, karena kalau mereka benar-benar hendak membunuh kalian dari tadi pasti kalian sudah mati oleh racun Merak Hitam mereka yang berbahaya itu. Aku rasa mereka ingin menyandera kalian untuk tujuan yang tidak baik.”

“Benar juga yang uda Lukman katakan, sepertinya memang begitu rencana mereka, ketika semburan racun mereka yang dihadang oleh paman Jamin (Pandeka Tendangan Petir) dan paman Dasrun (Pandeka Pedang Pamuncak) tidak sampai merenggut nyawa mereka langsung biasanya sehebat apapun ilmu tenaga dalam orang bila sudah berhadapan dengan racun Merak Hitam tidak ada yang bisa selamat, pasti hanya bisa bertahan sebentar saja sebelum kehilangan kesadaran atau nyawa.”

Darman telah selesai membagikan obat kepada yang terluka kena racun, dan memasukan botol obat tersebut ke dalam bajunya lagi. Belum sempat dia membuka mulut untuk menanyakan sampai di mana pencarian mereka akan obat untuk ibu mereka, tiba-tiba terdengar gemuruh suara derap kuda yang ramai sekali di belakang mereka dari arah pertempuran tadi. Buru-buru mereka semua menyingkir dan mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Terlihat sekumpulan debu berterbangan mengiringi kuda-kuda yang berlari ke arah mereka yang dipimpin oleh seekor kuda putih yang berlari tenang ke arah mereka.

Mereka yang sudah pernah melihat kuda putih ini tahu bahwa bukan musuh yang datang, ketika hampir mendekati tempat mereka, kuda putih itu berhenti berlari dan mengangkat kedua kaki depannya dan meringkik dengan keras seakan memerintahkan kuda lain yang ada di belakangnya untuk berhenti. Dan anehnya semua kuda yang ada di belakangnyapun berhenti berlari bahkan mereka berdiri dengan membentuk sebuah barisan yang teratur sekali. Kuda Putih itu menolehkan kepalanya kepada semua manusia yang sedang memandang dengan melongo takjub melihat semua ini, lalu kuda itu menganggukan kepalanya dan kembali berdiri dengan kedua kaki depannya sebelum dia pergi dengan kecepatan angin meninggalkan mereka semua.

Tidak ada satupun dari manusia yang ada di sana yang tidak terpesona akan kecerdikan dan kehebatan kuda putih itu. Cukup lama mereka dalam keadaan diam diri dan tidak tahu harus berkata apa, keheningan itu dipecahkan oleh suara kuda-kuda yang mendengus dan menggerak-gerakan badannya.

“Kalian lihat tadi ? Apa aku bermimpi seekor kuda mengantarkan kuda kita dan menganggukan kepalanya pada kita?” Tanya Darman dengan masih tidak percaya.

“Memang kuda yang sangat hebat sekali, ingin aku memiliki kuda seperti itu biarpun hanya keturunannya saja. Sang tabib berhasil melatih kudanya dengan luar biasa sekali.”sahut Malik dengan takjub.

Lukman hanya terdiam di tempat dan tidak habis berpikir, kalau kuda putih itu muncul di sini artinya pemiliknya tidak jauh-jauh dari mereka dan masih ada di sekitar mereka untuk melindungi mereka.

Mereka semua terkejut ketika mendengar suara Darman yang sambil merangkapkan kedua tangannya dan membungkukan badannya ke semua arah, “Terima kasih kepada anda yang sudah menolong kami, budi baik ini pasti akan kami balas suatu saat nanti.” Dia menggunakan ilmu Teriakan Gaung Bumi untuk menyampaikan pesan kepada sang penolong mereka yang tidak tahu ada di mana.

“Tuan muda Darman, kau ini bikin kami terkejut saja.”kata Jamin sambil mengurut-urut dada saking terkejutnya mendengar suara keras yeng bergema tadi.

Tapi Darman diam saja seperti mendengarkan sesuatu, mereka melihat ke arahnya dengan bingung.

“Darman, ada apa ?” Tanya Malik.

“Ssssttt….”

Terlihat beberapa kali Darman mengangguk-anggukan kepalanya tanda menyetujui sesuatu atau mengerti sesuatu, mereka semua menunggu sampai Darman buka suara.

“Baiklah, akan aku laksanakan perintah tabib.”kata Darman dengan keras seperti tadi menggunakan ilmu Teriakan Gaung Bumi.

“ Ada apa Darman, cepat katakan,” kata Lukman tidak sabar.

“Tadi tabib berpesan kepadaku agar obat yang dia berikan itu segera diberikan kepada ibu kita, yang satu ditelan sedangkan yang satu lagi dilarutkan dalam air mandi ibu setelah dia dapat berdiri kembali. Sedangkan yang satu lagi untuk berjaga-jaga seandainya kondisi ibu tidak segera pulih keesokan harinya. Beliau bilang sudah memberikan 6 butir obat itu kepada uda Malik, dan dia tahu 2 butir sudah digunakan untuk mengobati paman, jadi dia menyuruh aku memberikan dua butir lagi kepada uda sebagai ganti obat yang telah ditelan paman.”

“Apalagi yang dikatakan beliau?” Tanya Malik.

“Beliau juga mengatakan agar kalian jangan mengejar beliau lagi, kita disuruh segera balik dengan membawa obat penawar racun ini untuk digunakan bilamana musuh menyerang dengan racun. Dan agar ibu bisa cepat sembuh kembali. Beliau berani jamin ibu akan bisa disembuhkan dengan obat penawar racun yang beliau berikan, jika ibu masih belum sembuh juga mungkin karena racunnya sudah menyebar ke seluruh organ penting dalam tubuh ibu maka kita diharuskan untuk pergi ke nagari Batang Agam menemui Nenek Ubek Sakti untuk meminta daun Selasih Cicak agar dicampur dengan obat dari beliau dan rebus untuk diminumkan. Guna daun ini untuk memulihkan luka akibat racun yang merusak organ tubuh ibu, dan kita harus segera mengobati ibu agar jangan sampai terlambat, karena waktu untuk mengobati ibu hanya tinggal 1½ bln lagi, lewat dari masa itu biarpun Tabib Mato Tigo sendiri yang mengobati tetap saja nyawa ibu bisa tidak tertolong lagi.”

Mendengar penuturan Darman, mereka semua sepakat untuk cepat pulang membawa obat yang dibutuhkan oleh ibu mereka, setelah kondisi yang terluka sudah memadai. Obat yang diberikan oleh sang tabib memang sangat mujarab sekali, sebentar saja mereka semua sudah pulih dari keracunan hanya tinggal luka luar yang sudah mereka obati pula dengan obat yang mereka bawa dari rumah. Setelah semua selesai pengobatannya mereka menaiki kuda mereka dan melarikan kudanya ke arah pulang.

Selama melarikan kuda mereka menuju pulang masing-masing dari mereka tidak lepas dari memikirkan sang tabib yang misterius itu apalagi Lukman dan Malik, mereka masih penasaran terhadap sang tabib yang tidak berhasil mereka temui itu. Baru mereka berjalan sebentar saja mereka menemui rombongan ketiga pencari obat yaitu rombongan yang dipimpin oleh paman mereka, Datuak Samolangik, adik dari ayahnya Malik.

Mereka juga mendengar kabar bahwa tabib yang mereka cari sedang menuju ke daerah Gunung Tadikat, makanya mereka bisa sampai di daerah ini. Kebetulan perjumpaan mereka ini sudah menjelang tengah malam dan mereka semua yang tadi habis bertempur tiba-tiba merasa kelaparan, mengingat mereka tidak sempat untuk makan karena pertempuran itu memakan waktu yang cukup lama.  Hal ini bisa saja terjadi karena sekarang mereka dalam situasi aman dan tenang sehingga mereka sudah bisa merasakan perut mereka kosong belum diisi. Mereka mengambil tempat melingkari api unggun yang sudah dibuat  sambil membuka perbekalan mereka dan makan dengan lahapnya. Selesai makan, mereka ingin mengaso dan tiduran sejenak setelah tadi mereka bertempur mati-matian melawan musuh dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing silih berganti.

Terlihat Lukman diam membisu saja dari tadi sepertinya sedang memikirkan sesuatu, yang lain tidak berani menganggu. Kemudian dia memandang kepada mereka semua dengan wajah penuh pertimbangan, mereka sudah selesai saling bercerita pengalaman dan istirahatnya, sekarang sudah ingin bergerak untuk melanjutkan perjalanan.

“Kalian pulanglah semua dulu, bawa obat untuk ibu. Aku masih ingin tinggal di sini,”kata Lukman kepada mereka semua.

“Mau apa tuan muda Lukman tetap tinggal di sini? Bukannya tuan ingin cepat-cepat pulang bertemu dengan keluarga?” Tanya Pandeka Konek yang memang paling dekat dengan Lukman sehingga beliau berani bicara terus terang apa saja kepadanya.

“Aku ingin mencari tabib itu untuk menyampaikan maafku karena selalu salah sangka dan terima kasih atas bantuan beliau kepada kita secara langsung.”

“Tapi uda, beliau kan sudah katakan bahwa kita tidak perlu mencari beliau lagi, harus cepat pulang untuk membawa obat untuk ibu.”

“Aku tahu itu Darman, tapi aku tidak bisa menutupi rasa penasaranku akan beliau, kenapa beliau selalu bersembunyi-sembunyi menolong kita dan kenapa beliau tidak mau menemui kita? Apakah karena beliau tersinggung akan perkataanku? Jika benar aku ingin sekali minta maaf langsung kepada beliau.”

“Apa kalian juga tidak merasa aneh dan penasaran terhadap tabib ini ? Bukannya aku meragukan kemampuan beliau untuk menyembuhkan ibu kita tapi entah kenapa aku merasa harus bertemu dengan beliau untuk menuntaskan rasa penasaran yang bercokol di hatiku ini. Aku juga mendengar bahwa beliau menuju gunung Tandikat untuk mencari obat langka di sana , pasti tidak mudah untuk melakukan hal ini. Aku ingin membantu beliau karena kita sudah menerima budinya yang sangat besar itu, jadi menurutku inilah caranya agar kita bisa membalas budinya, walau beliau tidak mengharapkan balasan apapun dari kita. Bagaimana menurut kalian ?”

“Benar juga yang kau katakan Lukman, terus terang saja aku masih penasaran dengan tabib itu, beliau sudah menjaga kita dari marabahaya dan melepaskan budi pula kepada kita, rasanya kita ini sudah begitu banyak menerima budi, tapi tidak tahu bagaimana membalasnya. Aku sependapat denganmu, Man, kita memang harus membantu beliau dan kalau bisa sesudah urusannya selesai kita  bisa mengajak beliau ke rumah kita agar kita sekeluarga bisa menyampaikan terima kasih yang layak kepada beliau.”

“Uda Lukman dan uda Malik, apa kalian lupa ibu sedang menunggu obat dari kita, apa kalian tidak rindu kepada ibu dan ingin melihat beliau segera sembuh,” debat Kasman dengan mimik kebingungan mendengar pembicaraan kedua kakaknya itu.

“Benar sekali Malik, apa kau tidak rindu kepada ibumu? Bukannya kau yang paling kuatir ketika ibumu sakit, apa kau tidak ingin tahu apakah ibumu bisa disembuhkan atau tidak?” Tanya Datuak Samolangik.

Kedua pemuda itu terdiam mendengar pendapat adik dan paman mereka, di batin mereka berperang keinginan untuk mencari tabib itu dan melihat kesembuhan ibu mereka.

“Uda berdua, aku mengerti perasaan uda, aku juga merasakan hal yang sama. Begini sajalah kita bertiga pergi mencari tabib itu, sedangkan yang lain pulang dengan membawa obat untuk diserahkan kepada ibu. Aku yakin berkat obat ini ibu pasti sembuh, karena tabib itu sudah terkenal kehebatannya jadi pasti beliau tidak akan merusak reputasinya dengan memberikan obat sembarangan untuk ibu. Bagaimana menurut kalian?”

“Tuan muda Darman, kau ingin ikut juga?” Tanya Jamin menatap kuatir tuan muda kesayangannya itu, diantara ketiga anak Rangkayo Jati memang Darmanlah yang paling disayangi semua orang, dia seorang yang pemuda yang ramah dan sopan kepada siapa saja. Senyumnya dapat meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya ditambah lagi dengan tutur katanya yang lembut membuat siapa saja tidak bisa marah kepadanya. Berbeda dengan Lukman yang memang dari kecil sudah menunjukan wataknya yang keras dan pendiam sehingga para pengawal agak sedikit sungkan kepadanya, sedangkan Kasman masih bertingkah laku kekanak-kanakan seperti anak kecil yang manja jadi mereka masih menanggapnya pemuda yang baru besar.

Waktu pembagian rombongan untuk mencari sang tabib saja mereka juga berebutan ingin menemani Darman, bahkan Pandeka Konek yang memang dekat dengan Lukmanpun lebih memilih ikut rombongan Darman. Tapi setelah melihat orang berebutan ingin mendampingi Darman, akhirnya dia bersama Pandeka Tangan Siluman memutuskan untuk menemani Lukman dan Malik saja.

“Paman, jangan kuatir seperti itu, kami pasti bisa menjaga diri kami, yang penting sekarang kalian pulang cepat untuk memberikan obat kepada ibu dan bersiaga kalau-kalau musuh akan menyerang kita karena mereka tahu banyak diantara kita yang tidak ada di tempat sekarang ini.”

“Kalau begitu biarlah aku ikut tuan muda, sedangkan yang lain pulang mengawal obat itu,”sahut Pandeka Konek cepat, dia ingin sekali berjumpa dengan Datuak Marindiang yang sedang mengejar tabib itu juga.

“Kami juga ingin mengawal tuan muda, bagaimana pertanggunganjawab kami kepada ayah tuan muda sekiranya kami membiarkan tuan muda pergi begitu saja tanpa kami,” Tanya Randu sambil memandang kepada Malik.

Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya mereka memutuskan rombongan Lukman dan Malik tetap mencari sang tabib, Darman tetap pulang bersama 2 rombongan lain membawa obat penawar racun tersebut. Mereka berpisah menuju arah yang berbeda, Lukman beserta rombongannya menuju arah mereka datang tadi sedangkan rombongan Darman bergerak ke Utara menuju pulang.

Setelah beberapa hari mereka melacak jejak sang tabib akhirnya mereka menemukannya sedang menuju gunung Tandikat dari arah Timur gunung tersebut, dan hampir mereka berhasil menyusul tabib tersebut tapi kembali tabib itu bisa meloloskan diri. Mereka terus mengejar beliau dengan tidak kenal lelah kadang-kadang mereka mendapat petanda dari Datuak Marindiang yang ternyata diam-diam membantu mereka juga untuk menemukan sang tabib.  Sampai akhirnya suatu ketika mereka menemukan jejak sang  tabib yang menuju sebuah sungai yang mengalir di sebuah hutan yang mendekati kaki gunung Tandikat tersebut.
Posted by sieklie at 17:23:09 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, May 16, 2008

VIII  SAKITNYA PANAH ASMARA


Part 1


Setelah kepergian Masnan dan Basri, Bumi mengajak Kahar untuk menemani dirinya pergi ke nagari tetangga. Sebenarnya maksud Bumi mengajak Kahar karena dia ingin memastikan dugaannya bahwa Kahar memang menaruh hati pada iparnya. Dia tidak ingin salah dalam menilai sehingga nantinya bisa meregangkan hubungan diantara mereka karena masalah ini. Memang beberapa kali Kahar secara tersamar menyinggung hubungannya dengan Siti tapi dia masih ragu untuk menanggapi karena dia masih menunggu reaksi Siti. Setelah beberapa hari ini dia melihat reaksi Siti, dia menjadi lebih yakin ternyata maksud hati Kahar disambut oleh Siti walau tidak kentara tapi dia yang sudah bertahun-tahun mengenal iparnya ini mengerti juga akan perasaan wanita cantik itu.

Kahar yang memang tidak mempunyai kerjaan lain, merasa senang sekali diajak Bumi, karena terus terang saja dia bingung mau melakukan apa di rumah Bumi. Dia masih belum dapat caranya untuk mengajak ngobrol sang pujaan, karena dia masih menyimpan sedikit kekuatiran apakah Siti masih menyukai dia seperti dulu atau sudah tidak lagi sejak dia menyakiti hati wanita itu. Merupakan penyesalan yang tidak berkesudahan dalam hidupnya saat dia secara sengaja menyakiti hati Siti akibat cemburu yang membabi buta yang tidak pula terbukti kebenaran dugaan buruknya itu.

Sebelum pergi Bumi memberi instruksi kepada pegawainya untuk melakukan beberapa hal yang berkaitan dengan keadaan nagari. Setelah semua selesai dan berpamitan dengan Siti, mereka berdua berjalan kea rah Selatan dari nagari, pada saat masih di dalam nagari mereka berjalan seperti biasa, tapi begitu sudah menjauhi pinggiran nagari mereka menggunakan ilmu peringan tubuh untuk mempercepat langkah mereka karena hari sudah siang. Bumi sengaja tidak ajak Kahar makan siang di rumah, karena dia ingin mengajak Kahar makan di rumah makan yang ada di nagari tetangga sambil ngobrol masalah Siti dan dia tidak mau Siti mengetahui pembicaraan mereka.
Tidak lama sampailah mereka di nagari tetangga, memang ilmu kedua orang ini sangatlah mumpuni, perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 1 hari dengan berjalan kaki biasa, dapat mereka lakukan dalam waktu 2 jam saja tanpa terlihat nafas mereka memburu. Begitu sampai di pinggiran nagari, mereka mengurangi kecepatan dan mulai berjalan biasa sambil bercakap-cakap. Bumi mengajak Kahar berjalan menuju ke rumah makan yang cukup terkenal di nagari.

Rumah makan yang terkenal itu bernama Gadang Salero, dan merupakan pemilik dari wali nagari ini yang juga merupakan teman dari Bumi. Sehingga waktu Bumi memasuki rumah makan ini pelayan dan pengawas rumah makan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka. Semua orang yang ada di rumah makan itu mengenal siapa Bumi adanya, selain merupakan teman baik majikan, mereka juga tahu bahwa orang ini merupakan tokoh hebat dari dunia persilatan. Karena sudah beberapa kali mereka melihat kehebatan tokoh ini ketika menolong nagari mereka dari gangguan perampok, sehingga setiap kedatangan beliau ke nagari ini selalu disambut dengan sukacita.

Bumi yang melihat pengawas rumah makan yang bernama Daus menghampirinya segera tersenyum dan menyapa, “Hmmm Daus, apa kabar ?, apa ada meja kosong buat kami ?”

“ Ada tuan Bumi, meja yang anda suka gunakan kebetulan sekali kosong, silahkan anda ikuti saya,” sahut pengawas itu.

Diiringi dengan pelayan, mereka segera menuju ke meja makan yang ada agak di belakang dari rumah makan tersebut. Tempatnya agak terpojok sehingga jika orang datang ke rumah makan itu tidak akan bisa melihat mereka segera, tapi bagi yang duduk di meja tersebut bisa leluasa memandang orang-orang yang datang ke rumah makan itu. Bumi sangat menyukai lokasi penempatan meja tersebut karena tidak terganggu dengan kesibukan di rumah makan yang selalu ramai ini.

“Tuan hendak pesan makan apa, atau mau yang seperti biasa ?”

“Daus, apa hari ini ada masak gulai otak dan kepala ikan?”

“Kebetulan sekali tuan, kedua gulai kesukaan tuan hari ini ada, tukang masak kami sedang suka membuatnya.”

“Baiklah Daus, aku pesan gulai otak dan kepala ikan dan sayur pucuk paranci (daun singkong) serta lado (sambal) yang banyak. Kahar, kamu mau pesan apa ? Di sini makanannya enak-enak, tukang masaknya Ajo Iman itu kalau memasak makanan apa saja wah lamak bana (enak benar).”

“Benarkah? Aku jadi penasaran, apa di sini ada jual pakasan (sejenis masakan campuran durian matang dengan udang dan pete, masakan ini cukup terkenal)? Ini makanan kesukaanku yang tidak semua orang bisa memasaknya dengan enak,” kata Kahar dengan tersenyum.

“Wah tuan benar-benar mengenal masakan enak, hari ini hari keberuntungan tuan, menu special kami hari ini memang pakasan, saya jamin pasti tuan akan kecanduan dengan masakan pakasan Ajo Iman, karena beliau terkenal sekali dengan masakan ini dan biasanya beliau jarang sekali memasaknya, repot kerjanya.”

“Oya, baguslah aku pesan 1 porsi ditambah dengan gulai paku (sejenis tanaman pakis), aku lihat di sebelah sana orang makan gulai paku dengan enaknya. Dan juga jangan lupa bawakan 1 ekor ayam goreng.”

“Ujang, bawa pesanan ini ke Ajo Iman, bilang wali Bumi yang pesan pasti dia senang sekali.”

Buru-buru pelayan berjalan ke belakang untuk menemui tukang masak, benar saja dugaan si pengawas begitu tahu ini merupakan pesanan dari orang yang pernah menolongnya, Ajo Iman dengan senang dan cekatan menyiapkan semua pesanan wali Bumi.

Sedangkan si pengawas masih mendampingi Bumi dan Kahar,”Tuan-tuan mau minum apa ? Bagaimana kalau saya sarankan minum tea Embun Pagi yang merupakan racikan khusus yang di bawa dari daerah Agam. Teanya sangat wangi dan segar sekali diminum dingin di saat siang garang begini.”

“Bagaimana Kahar, apa kamu ingin mencobanya?”

“Boleh uda Bumi, sepertinya sangat menggoda sekali kedengarannya, memang aku sudah berasa panas untung saja kita duduk di tempat yang semilir anginnya terasa kalau tidak sudah kegerahan aku dari tadi.”

“Sebentar lagi makanan dan minumannya akan kami antar, harap sabar menunggu pasti tidak akan lama saya jamin. Kalau tidak ada lagi yang hendak dipesan saya permisi mengurus tamu yang lain.”

“Silakan Daus, oya kamu tidak usah beritahu kepada majikanmu bahwa aku ada di sini, tidak enak rasanya setiap kali ke sini makan gratis apalagi aku bawa teman. Terima kasih Daus.”

“Baiklah tuan Bumi, saya tidak akan memberitahukan majikan, saya permisi.”

Segera Daus meninggalkan kedua tamu itu, dia berjalan menuju meja kasir dan berdiri di sampingnya sambil terus menyapa tamu yang datang dan menemani mereka jika kebetulan mereka merupakan pelanggan tetap rumah makan ini.

Sepeninggal si pengawas, Bumi mulai berpikir bagaimana caranya untuk mencari tahu perasaan Kahar kepada Siti, dan dia juga merasa bahwa diantara kedua insan ini pasti pernah terjadi sesuatu. Karena belum pernah Bumi melihat Kahar sangat gugup dan cemas dalam menghadapi wanita, biasanya dia tenang-tenang saja malah kebanyakan wanita-wanita cantik itu dekat-dekat dan berusaha mencari perhatian dia. Tapi dengan Siti kebalikannya, Kahar yang berusaha menarik perhatian wanita cantik itu dan sepertinya takut-takut membuat Siti tersinggung. Menurut Bumi, hal ini sangat menggelikan sekali dia sudah pernah membahas masalah ini dengan Basri dan Masnan, kedua temannya juga menganggap lucu sekali. Dan ada satu informasi yang didapat Bumi dari salah satu anak buahnya, bahwa dulu sekali pernah ada hubungan antara Kahar dengan Siti tapi entah kenapa hubungan pertemanan itu berakhir.

Bumi ingin sekali mengetahui hal ini, apa penyebab kekakuan dalam hubungan Kahar dan Siti, seolah-olah Kahar takut menyakiti Siti dan Siti sepertinya agak menjaga jarak dengan Kahar. Sering Bumi melihat Kahar sembunyi-sembunyi menatap Siti dengan pilu dan mata yang penuh kerinduan bahkan sekali-kali Bumi melihat ada guratan penyesalan di wajah pemuda itu. Ini membuat Bumi penasaran sekali ingin mengetahui apa yang telah terjadi antara ipar dan adik angkatnya, karena di wajah iparnya dia tidak bisa melihat apapun wajah itu selalu tenang sepertinya tidak ada gejolak apapun yang bisa mengoyak ketenangan yang dalam itu.

Hanya anaknya yang bandel itu saja yang mampu membuat wajah Siti mempunyai emosi, setiap kali menatap Aswin mata dan wajahnya melembut, atau kalau anak bandel itu terluka dia melihat sinar kecemasan dan kekuatiran tergurat di wajah cantik itu. Selebihnya dia tidak pernah melihat emosi apapun terpancar di wajah Siti kecuali ketenangan dan kedamaian. Dulu sekali ketika dia baru menikahi isterinya, dia sering melihat sinar kebahagiaan bermain-main di wajah Siti tapi sejak kepulangannya dari merantau dan kematian isterinya, wajah Siti berubah menjadi tenang yang dingin seolah-olah semua emosi yang ada dalam dirinya raib bersama kepergian sang kakak tercinta.

Tapi setelah dipikir-pikir dia ingat cerita Kahar, bahwa pemuda itu sudah lama mengenal Siti dan waktunya itu bersamaan dengan waktu Siti pergi merantau. Jangan-jangan mereka berdua ada apa-apanya waktu sama-sama merantau dulu. Semakin Bumi memikirkannya semakin dia penasaran daripada dia mati karenanya biar dia menanyakan saja pada yang bersangkutan, karena menanyakan pada Siti tidak leluasa seperti dia bertanya pada Kahar.

Sedangkan Kahar ternyata memikirkan hal yang sama juga, dia lagi mencari cara bagaimana baiknya menyampaikan maksud hatinya kepada Bumi. Dia sudah tidak sabar lagi untuk segera mempersunting wanita pujaan hatinya itu, karena dia takut jika menunda-nunda lagi dia bisa kehilangan lagi. Sudah cukup semua kebodohan dan kesakitan hatinya dengan kehilangan Siti, dia sudah tidak sanggup lagi kalau harus kehilangan kedua kalinya. Setiap kali memandang wajah Siti, dia disiksa oleh perasaan bersalah dan pedih serta yang paling parah adalah kerinduannya pada wanita cantik itu. Dia tahu Siti seorang wanita yang lembut dan peka perasaannya, pasti sudah memaafkan dia atas semua perbuatannya di masa lalu. Tapi apa masih cintakah wanita ini padanya itu merupakan sebuah pertanyaan, kadang dia melihat Siti menatap dia dengan lembut tapi kebanyakan sinar mata dan wajahnya tidak tersirat apapun saat memandang padanya.

Semuanya terasa dingin mencekam hatinya, tidak seperti tatapan mata dan wajah Siti ketika memandang Aswin yang begitu hangat dan penuh kasih sayang. Dulu sekali tatapan seperti itu pernah diterimanya dari Siti, dia merasa hatinya penuh kehangatan dan cinta setiap kali Siti memandangnya seperti itu. Dan dari dulu dia juga tahu Siti bukanlah tipe wanita yang gampang menunjukan perasaannya kepada orang lain. Hanya orang yang peka perasaannya tahu bagaimana kuatnya perasaan wanita itu terhadap orang-orang yang dicintainya. Sayang dia melupakan hal itu, sehingga mengakibatkan hancurnya hubungan mereka dan berakhir dia selalu merana dan kesepian dalam jiwanya akibat kehilangan Siti.

Kini Tuhan mengabulkan doanya untuk memberi kesempatan kedua untuk meraih lagi kebahagiaan bersama orang yang dicintainya, tidak akan lagi dia mengulangi kebodohan yang sama ditambah lagi sekarang tidak ada penghalang bagi hubungan mereka. Dia tidak sadar bahwa ibu muridnya menaruh pengharapan padanya yang nantinya bisa mengganggu hubungannya dengan Siti.

Belum sempat Bumi membuka mulut untuk bertanya, Kahar sudah mendahuluinya bicara,”Uda, sudah berapa lama kita menjadi saudara angkat ?”

Bumi yang ditanya jadi bingung kenapa tiba-tiba saudara angkat termudanya bisa bertanya seperti itu. Dia belum melihat arah dari pembicaraan Kahar, tapi dia menjawab juga,”Kurang lebih hampir 15 tahun, kenapa ?”

“Apa selama kita berteman, uda melihat aku seperti seorang pemuda genit yang gampang tergoda oleh wanita cantik?”

“Hmmmm… memang aku juga suka heran kenapa kamu tidak tergoda oleh wanita-wanita cantik yang mengelilingi dan mengagumi dirimu, bahkan sempat terpikir oleh kami jangan-jangan kau tertarik pada pria,” kata Bumi sambil tersenyum menggoda.

Mendengar perkataan Bumi, buru-buru Kahar memalingkan wajah untuk memandang wajah Bumi yang sedang menyeringai jenaka, dia langsung tahu sang uda sedang menggodanya. Kahar tersenyum pahit melihat itu, karena dia tidak sanggup tersenyum saat ini ada beban yang berat sekali ingin diungkapkan kepada sang uda. Dia tidak tahu bila udanya mendengar apa yang ingin dia ceritakan apa masih mau membantunya mendapatkan Siti atau tidak.

Belum sempat dia melanjutkan pembicaraan, masakan yang masih panas mengepul diantarkan pelayan untuk dihidangkan ke meja mereka, segera tercium bau masakan yang lamak sekali yang mengundang perut menyanyikan nada sumbangnya. Selain pesanan mereka ternyata pelayan juga menyajikan dendeng batokok (empal empuk), jengkol muda yang dijadikan lalapan, pete balado (bercabe) yang digoreng dengan kulitnya, gulai ikan pangek (ikan asam pedas). Benar-benar masakan yang mengundang selera ditambah dengan nasi putih pulen yang berasal dari beras Solok yang diletakkan dalam bakul. Hmmm lamak bana, mintuo lalu indak caliak lai (enak sekali, mertua lewat tidak lihat lagi), kemudian tea yang dijanjikanpun dihidangkan dan benar seperti yang dikatakan bau wangi yang enak tercium dari teko.

“Kahar, nanti saja kita bicaranya, aku sudah lapar sekali, kan lebih enak kalau bicara dalam keadaan sudah kenyang. Mau bicara sampai berapa jam juga akan aku layani, gimana?”

“Aku rasa juga enakan begitu, uda, karena sepertinya makanannya mengundang selera sekali.”

Setelah mencuci tangan bersih-bersih, mereka makan dengan lahapnya menggunakan sendok yang diberikan langsung oleh Tuhan yaitu tangan, yo bana sero (ya benar2 enak). Bumi sangat menikmati makanannya, sedangkan Kahar tidak terlalu menikmatinya karena pikirannya sibuk memikirkan apa dia akan bercerita jujur atau ada bagian2 yang dihilangkan supaya Bumi tidak menyalahkannya dan mau membantu hubungannya dengan Siti.
Selesai makan sambil menikmati tea dingin yang disajikan, Kahar merasa sudah saatnya dia menyambung pembicaraannya yang terputus tadi. Kebetulan suasana di rumah makan tersebut sudah mulai sepi jadi enak untuk bicara tanpa takut terganggu dengan suara orang lain.

“Nah, Kahar, perut sudah kenyang, hati sudah lapang, silahkan kau lanjutkan pembicaraan yang terputus tadi.”

Dengan menghela nafas Kahar memulai pembicaraannya,”Aku tahu uda semua suka bingung dengan sikapku yang tidak tertarik pada wanita cantik manapun. Bukan maksud aku seperti itu uda, mungkin pada awal perkenalan kita dulu, aku belum mengerti artinya cinta dan rindu, oleh karena itu aku tidak terlalu menanggapi para wanita cantik yang mendekati aku. Tapi setelah aku mengenal Siti, aku baru tahu enaknya diperhatikan dan disayang oleh wanita cantik. Mungkin karena keenakanlah yang membuat aku lupa diri dan sengsara begini…”

“O, jadi kau sudah lama mengenal Siti ? Kenapa kau bilang sejak mengenal Siti, kau tahu artinya cinta, apa dulu kalian sempat menjadi sepasang kekasih?” potong Bumi tidak sabar.

“Begitulah uda, kami berdua pernah menjadi sepasang kekasih, tapi karena kebodohanku maka aku kehilangan cinta sejatiku,” kata Kahar dengan pilu.

“Kenapa bisa begitu, setahuku engkau bukanlah seorang pemuda yang bodoh, Kahar,” selagi Bumi memotong pembicaraan Kahar yang dia rasanya terlalu lama dan tidak langsung ke tujuan tapi dibalik semua perkataan Kahar, dia merasakan kesedihan dan penyesalan yang mendalam.

Dengan senyum yang teramat pahit Kahar menjawab,”Terima kasih atas pujian uda, tapi uda dalam kasus ini aku benar-benar orang yang paling bodoh sejagat raya ini. Aku menyia-nyiakan kasih murni dari Siti lantaran cemburu dan godaan sesaat.”

“Kahar, sudah cukup basa basimu itu sekarang lebih baik kau ceritakan awal mula kebodohanmu itu, aku sudah tidak sabar mendengarnya.”

Kembali Kahar merasa berat sekali menceritakan kebodohannya bukan karena dia malu tapi dia takut setelah menceritakan kisah ini kemungkinan besar Bumi tidak setuju menjodohkan dia dengan Siti. Sedangkan dia tahu sekali Siti sangat menghormati iparnya sehingga bisa jadi mempengaruhi keputusan wanita pujaannya itu ditambah lagi dia tidak yakin akan perasaan Siti padanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya, lebih baik begini karena dia percaya uda Bumi pasti bisa mempertimbangkannya dengan bijaksana.

“Baiklah uda Bumi, aku akan mulai menceritakan kisah kami, tapi uda jangan potong pembicaraan aku, karena susah sekali rasanya mengeluarkannya dari dalam sini,”kata Kahar sambil menunjuk dadanya.

Bumi menganggukkan kepalanya, dia dapat melihat dari wajah dan mata Kahar, penderitaan batin yang selama ini disembunyikan pemuda ini dari mereka, saudara angkatnya. Dia tambah penasaran lagi, apa yang telah terjadi sehingga pemuda seperti Kahar jadi menderita begini.

Sambil menatap awan dari jendela di samping mereka, Kahar mengenang masa lalu pertemuan dia dengan Siti dan mulai menceritakan….

Kahar yang ketika itu merupakan pemuda yang baru lulus dari perguruan silatnya diijinkan oleh gurunya untuk turun gunung dan merantau sekalian pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya yang sudah hampir 8 tahun tidak ditemuinya. Dia merasa senang sekali karena diantara murid-murid yang lain dia tidak diperbolehkan sering turun gunung sampai pelajarannya selesai. Perkenalannya dengan Bumi, Masnan dan Basri dikarenakan kebetulan sekali mereka ikut gurunya datang berkunjung pas perayaan ulang tahun ketua perguruan silat tempat dia bernaung, dan sempat terjadi kekacauan besar tapi yang berbuah mereka mengangkat saudara satu dengan yang lain.

Guru Kahar yang merupakan adik seperguruan dari kakek guru ketua perguruan Api Matahari memang menggembleng dia dengan keras, yang untungnya dia merupakan murid yang sangat berbakat sekali sehingga semua pelajaran yang diberikan bisa diselesaikannya dengan baik dalam waktu yang singkat. Dididik oleh orang seperti Datuak Matohari Ameh membuat Kahar menjadi pendekar yang mumpuni, karena memang gurunya merupakan tokoh yang paling berbakat dan tinggi ilmunya dalam perguruan Api Matahari. Hanya karena beliau tidak menyukai keduniawian maka beliau tidak terlibat langsung pada operasional perguruan semua diserahkannya pada kakak seperguruannya dan dilanjutkan oleh murid-murid lainnya. Beliau belum pernah menerima murid sebelumnya sampai dia bertemu dengan Kahar ketika terjadi kerusuhan di perayaan ulang tahun itu.

Sebenarnya gurunya berat melepaskan Kahar untuk pergi merantau karena selain anak ini memang berbakat, dia pintar menghibur hati gurunya dan sangat rajin sehingga sang guru sangat menyayanginya. Tapi semua pelajaran telah diberikan kepada Kahar, sehingga sudah tiba waktunya untuk Kahar menimba pengalaman di dunia persilatan, gurunya yakin dengan ilmu yang diberikan kepada pemuda ini bisa mengatasi semua masalah yang terjadi. Gurunya selalu berpesan agar dia selalu berbuat baik, menghindari pertengkaran yang tidak perlu, dan berusaha memberi ampun kepada orang yang mau bertobat. Ketika Kahar mau turun gunung, dia menyempatkan diri bertemu dengan guru pertamanya yaitu ketua perguruan yang bergelar Pandeka Penakluk Matahari.

Pandeka Penakluk Matahari sendiri merupakan tokoh persilatan yang disegani sekali oleh perguruan silat lainnya. Kahar menjadi murid pandeka ini dikarenakan hubungan persaudaraan antara ayahanda Kahar dengan pandeka ini. Ketua perguruan ini mempunyai 4 murid utama termasuk Kahar, tapi dia memang paling sayang pada Kahar karena pemuda ini sangat berbakat dan rendah hati walaupun dia termasuk keluarga kerajaan. Makanya waktu paman kakek gurunya mengambil Kahar menjadi muridnya, pandeka ini tidak keberatan karena dia tahu bakat anak ini yang melampaui teman-temannya.

Kini anak itu menghadap padanya dan tetap bersikeras memanggilnya guru, padahal dari segi kedudukan Kahar di atas dia, setingkat dengan gurunya. Dan pada saudara perguruannya tetap memanggil uda dan uni tanpa membedakan kedudukan, pokoknya siapa yang lebih tua darinya selalu dipanggil dengan hormat. Semua orang menyayangi pemuda cakap ini kecuali kakak seperguruannya yang nomor 2 bernama Yunus. Pemuda ini selalu iri terhadap Kahar yang melebihi segalanya dari dia, Yunus juga termasuk keluarga kerajaan hanya dia merupakan saudara jauh sedangkan Kahar merupakan sepupu dari raja sekarang.

Tapi dia pintar menutupi perasaan irinya pada Kahar, di muka semua orang dia berlaku sopan dan baik sehingga tidak terlihat sifat jeleknya. Hanya Datuak Matahari Ameh yang bisa merasakan ketidakberesan pemuda ini, oleh karena itu dia memesan wanti-wanti kepada muridnya untuk berhati-hati pada pemuda itu. Karena beliau melihat aura kegelapan yang melingkupi sekeliling pemuda itu, dan dengan tenaga kebatinan dia juga tahu bahwa pemuda ini mempunyai kekuatan sesat dalam dirinya yang belum dibangkitkan. Beliau tidak bisa mengusir pemuda itu dari perguruan Api Matahari, karena akan menimbulkan masalah besar ke depannya. Makanya yang dia bisa lakukan hanya memperkuat kebatinan dan ilmu serta tenaga dalam Kahar agar nantinya bisa menghadapi Yunus.

Setelah berpamitan dengan guru dan saudara seperguruannya, Kahar melangkah dengan ringan menuju ke kaki gunung Tandikat untuk memulai pertualangannya. Karena dia berjalan dengan santai sekali maka sampai di kaki gunung sudah senja, segera dia pergi ke rumah wali nagari untuk menumpang mandi dan makan. Semua penduduk sudah mengenal murid-murid perguruan Api matahari, mereka senang sekali menerima dan membantu karena murid-murid dari perguruan ini sangat baik dan ramah serta ringan tangan menolong mereka. Jadi tidak masalah kalau ada murid perguruan ini minta berteduh dan makan di rumah wali nagari itu. Sesudah mandi dan makan, Kahar berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya, dia tidak ingin mengganggu wali nagari yang baik itu lebih lama lagi.

Dengan santai dan bersiul-siul dia melangkahkan kakinya menuju hutan yang menjadi perbatasan nagari ini dengan dunia luar, kebetulan sinar bulan sangat penuh dan terang sekali sehingga memudahkan dia untuk melanjutkan perjalanan. Dengan ilmu lari cepat dia sudah meninggalkan nagari dan kira-kira tengah malam dia sudah hampir sampai di pinggiran hutan sebelah sana . Tapi karena ngantuk dia mau istirahat dulu, dia lihat pohon-pohion yang tumbuh di sekitar tempat dia berdiri dan melihat ada sebuah pohon yang kelihatannya enak untuk menjadi tempat tidurnya. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh dia sampai di atas pohon, dan sebentar kemudian diapun sudah terlelap. Malam semakin larut, tiba-tiba dia mendengar derap kuda yang kencang sekali menuju ke arah pohon tempat dia tidur, segera dia membuka matanya melihat arah datangnya suara derap kuda tapi dia tidak merubah posisi tubuhnya yang masih tertidur di atas dahan pohon.

Terlihat seekor kuda putih berlari kencang sekali dari arah Timur membawa sosok tubuh kecil di atasnya, Kahar tidak bisa melihat wajah si penunggang kuda karena tertutup dengan kain yang melilit kepalanya. Ketika hampir dekat pohon Kahar, tiba-tiba si penunggang kuda bersiul tinggi melengking dan hebatnya kudanya berhenti berlari seakan-akan dia mempunyai rem di kakinya. Sambil terus menengok ke belakang si penunggang kuda turun dari atas kudanya.

“Bening, aku rasa kita sudah meninggalkan jauh orang-orang bawel itu di belakang kita, lebih baik kita istirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan kita ke perguruan Api Matahari,”terdengar suara lirih si penunggang bicara dengan kudanya.

Kahar tidak bisa memastikan apakah itu suara pria atau wanita karena dia masih belum bisa melihat wajah dan potongan tubuh penunggang kuda itu. Hanya kalau dia taksir tinggi orang itu hanya sebatas dadanya saja, Kahar termasuk pemuda yang tinggi dan berdada bidang yang cukup lebar, sedangkan penunggang kuda ini kelihatannya bertumbuh kurus. Orang dan kudanya langsung duduk di atas tanah dengan enaknya seolah tidak memperdulikan kotor atau tidaknya tanah itu. Si penunggang kuda langsung menjatuhkan badannya ke perut kudanya dan langsung tertidur. Sang kudapun dengan tenang membaringkan tubuhnya di tanah dan membiarkan tuannya tidur di perutnya. Kahar masih belum bisa melihat wajah sang penunggang kuda karena tertutup oleh kain yang menutupi seluruh tubuhnya termasuk wajahnya.

Suasana tenang dan sepi membuat Kahar mengantuk lagi, ingin melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu karena kehadiran orang dan kudanya. Tadi sempat dia heran mendengar gumaman orang itu yang mau ke perguruannya, besok dia akan menguntit orang ini karena dia ingin memastikan apakah orang ini bermaksud jelek ke perguruannya atau tidak. Jika tidak dia bisa dengan tenang meninggalkan daerah perguruannya untuk melanjutkan perjalanan.

Baru saja dia merasa tertidur tiba-tiba di kejauhan lamat-lamat dia mendengar derap kuda yang banyak menuju ke arah dirinya, Sambil menggerutu kesal dia terbangun dari tidurnya, tapi suasana sudah mulai terang, malam sudah menyelinap ke peraduannya untuk memanggil bangun sang mentari. Suasana sungguh indah sekali di remang-remang cahaya pagi, bila tidak terganggu oleh suara derap kaki kuda. Kesal sekali rasanya belum kenyang tidurnya harus terganggu lagi, cepat dia menoleh ke arah orang dan penunggang kuda di bawahnya. Rupanya orang itu belum mendengar derap kuda dari jauh itu tapi sang kuda sudah mendengarnya dan mengeluarkan suara ringkikan pelan sambil kepalanya ditoleh ke samping dan sundul pelan majikannya. Tapi sang majikan masih keenakan tidurnya mungkin karena kelelahan berkuda sehingga tidak terbangun walau sudah disundul-sundul kudanya. Semakin lama suara derap kuda itu semakin dekat, kuda itu mengeluarkan suara ringkingan keras dan berusaha berdiri agar bisa membangunkan sang majikan. Akhirnya sang majikan bangun juga dan terduduk dengan lemasnya, kudanya kembali mendorong-dorong punggung majikannya agar segera berdiri. Sang majikan mengangkat kedua tangannya  dan mendoyongkan kepalanya ke arah belakang sambil menggeliatkan badannya.

Saat itulah penutup kepalanya terbuka dan rambut yang menutupi wajah itu tersibak tergerai ke belakang. Tampaklah seraut wajah wanita yang sangat cantik sekali apalagi ketika sinar matahari yang mulai mengintip malu-malu mencium wajah itu. Kahar terpesona memandang wajah itu sungguh teramat sangat cantik, berkulit sawo matang yang mulus, berbibir bawah yang tebal sensual dan hidung yang mungil mancung melengkapi keindahan wajah itu. Dia belum bisa melihat mata sang pemilik wajah dikarenakan dia masih menutup matanya menikmati ciuman hangat dari sang mentari. Ketika si cantik membuka matanya, sang dewa langsung melepaskan panah asmaranya tepat mengenai jantung Kahar, sejak saat itu wanita itu sudah merenggut kedamaian dan ketenangan Kahar.

Kahar jatuh cinta tanpa bisa mengelak atau melepaskan diri lagi dari panah asmara yang sudah menancap di jantungnya dengan tepat sekali. Mata indah sang pemilik wajah cantik itu benar-benar menggoncangkan iman, begitu bening dan teduh sekali jika memandang ke dalamnya seakan ingin ikut tenggelam ke dalam mata indah itu. Belum pernah selama hidupnya Kahar merasakan gairah dan semangat yang membara karena seorang gadis cantik, sudah banyak ditemui gadis-gadis cantik yang pernah datang berkunjung ke perguruannya atau teman-teman mainnya waktu masih di istana tapi tidak ada satunya yang mampu mengguncang perasaannya seperti saat ini.

Dia lupa akan keadaan sekitarnya hanya mampu melihat pemandangan indah di depannya tanpa berkedip, sedangkan suara derap banyak kuda semakin mendekati tempat mereka. Tapi yang anehnya si cantik itu tidak menghiraukan hal itu bahkan dia masih menikmati angin nan lembut yang meniupi rambut dan bajunya perlahan-lahan. Terdengar senandung lembut dari bibirnya yang sensual itu seakan menikmati cerahnya pagi ini. Dan kudanya sudah berjalan agak ke samping menuju sungai kecil yang mengalir untuk minum dan makan rumput yang tumbuh subur di pinggiran sungai tersebut.

“Bening, kamu enak sekali sudah minum, aku juga ingin minum tapi harus ditadah dulu pasti segar sekali rasa embun pagi,” terdengar suara merdu nan lembut keluar dari bibir sensual itu.

Kahar semakin terbuai dengan keadaan yang ada di sekitarnya, apalagi setelah mendengar suara yang lembut berirama itu. Dia melihat gadis itu mengeluarkan sebuah tabung dari bamboo dari balik bajunya dan dengan gerakan yang luwes sekali dia menyapukan bamboo itu pelan-pelan ke titik-titik embun yang ada di dedaunan yang tumbuh subur di dekatnya. Gerakannya sedemikian cepat dan luwes sekali, tidak ada embun pagi yang lolos dari tabung bamboonya. Melihat hal ini Kahar tahu bahwa gadis ini bukan orang sembarangan pasti mempunyai ilmu silat yang bagus sekali, walau mungkin dibandingkan dengan dirinya masih jauh tapi cukup untuk dia membela diri seandainya terjadi sesuatu.

Setelah beberapa lama dia memasukan embun pagi di tabung bambunya, gadis itu tertawa lembut melihat hasil kerjanya, suara tawanya sungguh menggelitik sukma Kahar, dia jadi ikutan tersenyum melihat tingkah laku dara cantik itu.

“Bening, cukup banyak juga embun yang aku dapat, lumayan untuk melepaskan dahaga.”

Segera dara itu meminum embun pagi yang ada di tabung bambunya,”Hmmmm…. Nikmati sekali rasanya Bening, sekarang aku sudah siap menghadapi orang-orang bandel itu. Tapi aku harus mencuci muka dulu menghilangkan debu yang melengket ini.”

Biarpun dia seorang perantau akan tetapi tetap dia seorang anak gadis yang mementingkan kebersihan dan kerapian dirinya. Dia berjalan menuju sungai kecil itu dan mencuci tangan dan mukanya, sambil melepaskan jubah kain yang melingkari tubuh dan kepalanya. Kembali Kahar terpana menatap dara itu, ternyata dia memiliki rambut hitam panjang yang indah berkilauan dan bentuk tubuh yang sangat proposional sekali dengan tinggi tubuhnya. Sempurna kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan dara itu, jari tangan yang lentik itu menepuk-nepuk mukanya dengan air sungai yang jernih itu.

Dan sementara itu segerombolan orang berkuda sudah terlihat mendekati tempat mereka, dan pemimpin rombongan sudah mengangkat tangannya untuk memerintahkan kepada rombongan agar menghentikan lari kuda mereka. Dia sudah melihat kuda putih itu dan pemiliknya yang sedang berjongkok mencuci tangan dan wajahnya di sungai itu.

“Selamat pagi Dewi, maafkan kami yang mengejar anda seperti ini,” sapa halus sang pemimpin kepada dara yang sedang membelakangi mereka.

Kahar memandang pemimpin rombongan itu, seorang pemuda yang cakap sekali dengan pakaian mahal membalut tubuhnya. Ada sekitar 10 orang dalam rombongan berkuda itu, 5 orang diantaranya sudah berusia paruh baya sedangkan 2 orang sudah kakek-kakek dan sisanya anak muda seumuran dengan pemimpin rombongan yang ditaksir Kahar tidak beda usianya dengan dirinya. Dia bersiap-siap akan membantu dara cantik itu seandainya rombongan ini mengganggunya.

Pemuda pemimpin rombongan ini bernama Lukman, yang merupakan putera pertama dari keluarga ternama Rangkayo Padang Jati sedangkan 2 pemuda di belakangnya merupakan adik kandungnya, Kasman, dan sepupunya, Malik yang juga berasal dari keluarga hebat yang memiliki perguruan silat Ula Kuniang (Ular Kuning). Sedangkan 2 orang kakek yang ada dalam rombongan ini juga bukan orang sembarangan, yang pendek dengan rambut putih panjang sebahu bergelar Pandeka Konek dari Bukit Sagantang, sedangkan yang lebih tinggi dengan kepala botak bergelar Pandeka Tangan Siluman. Kedua kakek ini merupakan tokoh hebat dalam dunia persilatan hanya sedikit orang yang mampu menghadapi kehebatan mereka, selama ini mereka menjadi pengawal pribadi dari ayah Lukman yaitu Sutan Mudo Padang Jati.

Yang 5 orang lagi merupakan murid-murid utama dalam perguruan silat Ula Kuniang, mereka datang karena mengawal putera guru mereka. Rombongan ini ditugaskan oleh Sutan Mudo Padang Jati untuk mencari tabib yang bisa menyembuhkan ibu Lukman dan ibu Malik yang tiba-tiba diserang penyakit yang tidak ketahuan dari mana datangnya. Kedua perempuan ini sudah seminggu lamanya berbaring sakit dengan seluruh tubuh memerah dan melepuh seakan kena bakar api yang sangat hebat. Kedua suami mereka sudah memanggil tabib-tabib ternama tapi tidak seorangpun mampu menyembuhkan kedua wanita ini. Sehingga suatu ketika seorang pedagang teman baik Sutan Padang Jati, memberitahukan bahwa sekarang di dunia persilatan terdengar kabar ada seorang tabib yang sakti murid dari Tabib mato Tigo yang suka menolong orang. Tabib itu bernama Dewi Tangan Dingin, beliau sangat terkenal sekali kesaktian ilmu pengobatannya, masalahnya tidak mudah untuk bisa menemui beliau.

Tabib ini sering menyamar sehingga wajah aslinya tidak seorangpun yang tahu, yang orang tahu bahwa tabib ini seorang wanita tapi apakah dia sudah tua atau muda tidak ada seorangpun yang tahu dengan jelas. Orang yang sudah pernah ditolongnya menyebut beliau dengan sebutan Dewi Tangan Dingin, karena selain tahu dia seorang wanita, mereka yang pernah diobatinya tahu dia memiliki tangan yang terasa dingin sejuk setiap menyentuh luka atau tubuh si sakit. Dan ciri tangan dingin sejuk inilah merupakan petunjuk khusus tabib itu yang tidak dimiliki oleh tabib lain.