Bab IX : Malaikat Penghisap Darah jilid 1
Kita tinggalkan dulu Kahar yang sedang terhanyut menceritakan kasih asmaranya di masa lalu dan Bumi yang asyik mendengarkan.
Kembali ke nagari Batang Kapeh, setelah kepergian Kahar dan Bumi ada sebuah kejadian yang nantinya mempengaruhi kehidupan Karim sebagai salah satu penumpas kekuasaan kegelapan.
Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, orang tua Karim telah kembali dari perjalanan mereka jadi kebanyakan mereka selalu ada di rumah untuk memperhatikan anak mereka. Sejak hari di mana mereka mendatangi rumah wali Bumi, mereka tidak ada habis-habisnya mebicarakan kejadian saat itu.
Ada saja yang mereka bicarakan bahkan sekarang bicara mereka sudah melebar ke mana-mana dan Karim mendengarkan saja cerita orang tuanya dengan asyik. Walaupun bagi anak yang pintar ini dia merasa ada kejanggalan dari cerita-cerita orang tuanya dan sering mengerutkan kening mendengar cerita yang tidak masuk akalnya.
Sering dia menanyakan kepada orang tuanya jika dia menemukan kejanggalan cerita orang tuanya terutama bapaknya. Bagi anak secerdas dia, hal-hal yang tidak masuk logikanya pasti dia akan mengejar kejelasan dari cerita itu. Yang nantinya berakhir dengan pertengkaran bapak dan anak karena masing-masing memegang teguh pemikirannya. Dan biasanya diselesaikan dengan kemenangan pihak orang tua tentunya menggunakan kata-kata pamungkasnya, “Kamu masih kecil belum tahu apa-apa, Bapak ini sudah tua dan sudah banyak makan asin asam dunia jadi bapak jauh lebih pengalaman dibandingkan kamu. Jadi lebih baik kamu mendengarkan saja kata-kata Bapak dan jangan tanya-tanya terus serta membantahnya.”
Karim sangat membenci mendengar perkataan seperti itu, karena dia merasa dilecehkan dan dengan muka kesal dan cemberut dia pergi keluar sambil menghantak-hantakan kakinya. Kali ini saking kesalnya dia pergi sambil banting pintu pula, biasanya sudah begini dia suka mencari Aswin untuk menceritakan kekesalannya dan berdua mereka suka membahasnya ala anak seusia mereka. Tapi dia tahu biasanya jam segini Aswin tidak ada di rumah, entah ke mana anak itu pergi setiap ditanya selalu saja tersenyum jahil.
Sambil mulut komat kamit tidak jelas dia berjalan terus tanpa menghiraukan kanan kirinya, dia tidak sadar sudah jalan jauh dari rumah mendekati tepi nagari. Tiba-tiba dia mendengar suara rintihan seseorang, antara perasaan ingin tahu dan takut dia berusaha mencari sumber suara tersebut. Akhirnya dia menemukan di samping kirinya mendekati pohon beringin besar yang berdiri megah di sisi jalan tertutup ilalang tinggi. Perlahan-lahan dia mendekati asal suara tersebut, berlindung di balik pohon dia melihat ada tubuh pria dewasa yang tergeletak. Takut-takut dia menghampiri tubuh yang terlentang itu, dia melihat tubuh orang tersebut penuh luka bacokan dan darah yang sudah agak mengering melekat di bajunya, sedangkan wajah orang itu tertutup tangan kirinya dan tangan kanan memegang dada yang terlihat sobek besar.
Orang tersebut mendengar ada yang mendekati tapi tidak bisa bergerak kuatir kalau musuh yang datang dia pasrah akan nasibnya, dengan memejamkan mata dan menyebut nama Tuhan, dia siap menghadap sang Pemilik Nyawanya. Yang ditunggu-tunggu tetap tidak terjadi malah dia mendengar helaan nafas ngeri dari kanak-kanak, akhirnya dia membuka mata dan melihat ke arah kirinya langsung menemukan dirinya tercermin di sepasang mata besar dan jernih sedang memandang dirinya dengan takut tapi ada rasa ingin tahu yang kental sekali.
Anak yang cakap dan kelihatan bersih tidak seperti anak desa biasa, entah kenapa pria ini merasa pernah melihat tatapan mata yang serupa dengan anak ini. Ada perasaan akrab dan hangat dalam dirinya ketika menatap sepasang mata yang sekarang memandangnya dengan kening berkerut.
“Paman siapa? Kenapa bisa terluka? Kenapa tergeletak di sini ? Apa lukanya sakit? Paman bisa bicara ?” bertubi-tubi pertanyaan yang dilontarkan oleh anak itu, sehingga pria ini merasa geli melihat gaya anak itu bertanya.
Dengan susah payah pria ini berusaha menjawab pertanyaan, “Anak kecil siapa nama kamu?”
“Namaku Karim, paman kenapa bisa ada di sini ? paman sepertinya perlu obat, sebentar aku panggilkan etek Siti untuk obatin paman.”
Cepat anak itu bergerak dan berlari meninggalkan pria itu, terpaksa pria itu mengerahkan sisa tenaga yang ada di tubuhnya dan mengalirkan ke tangan kirinya melontarkan ilmu Penghisap Raga Mematikan Langkah. Dan terjadi keanehan tubuh kecil Karim tiba-tiba seperti tertarik ke belakang dan dia tidak bisa menggerakan tubuhnya untuk meneruskan larinya. Seperti ada tenaga penghisap yang kuat sekali menarik dirinya, sehingga kakinya terasa seperti terangkat dari tanah dan bergerak mundur ke sumber tenaga yang menghisapnya itu.
Terkejut dan takut, Karim berteriak kencang sekali memanggil-manggil orang tuanya dan terakhir memanggil nama Aswin, entah kenapa dia memanggil nama temannya itu. Pria yang menarik anak itu merasa tidak enak juga membuat anak kecil ketakutan tapi dia sadar kalau dia tidak melakukan hal ini segera maka dia tidak punya kesempatan lagi untuk bicara dan menitipkan pesan.
Segera setelah Karim berdiri di dekatnya, orang itu melepaskan tenaga dalamnya tapi dengan cepat mencekal tangan anak itu, karena kuatir dia akan lari. Dengan sisa tenaga yang masih ada, orang itu berusaha berbicara kepada Karim.
“ Anak baik, jangan takut, paman tidak bermaksud jahat kepada kamu. Paman tahu umur paman sudah tidak bisa dipertahankan lagi dengan luka yang begini banyaknya. Kamu lihat sendirikan badan paman berdarah semua,” katanya sambil berusaha memperdengarkan nada yang ringan supaya sang anak tidak takut padanya.
Melihat keadaan orang itu yang menggenaskan Karim merasa kasihan sekali dan mulai bisa meredakan rasa takut dalam dirinya, setelah itu kembali dia melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi lagi kepada orang itu.
“Paman siapa, asalnya dari mana, kenapa bisa ada di sini, bagaimana bisa terluka begini, siapa orang jahat yang melukai paman, jauhkah rumah paman dari sini ? Paman harus segera diobati, di nagari kami ada seorang tabib yang hebat sekali banyak orang yang berobat padanya dan sembuh. Paman jangan kuatir tidak bisa disembuhkan oleh beliau, aku yakin pasti bisa beliau dijuluki Dewi Tangan Dingin oleh orang kampung kami.”
Mendengar pertanyaan yang begitu banyaknya sempat orang ini merasa geli akan kebawelan anak ini, tapi begitu mendengar bahwa tabib yang berjuluk Dewi Tangan Dingin ada di kampung anak ini langsung tumbuh harapan dalam diri orang ini. Tapi dia juga sadar bahwa keadaan dirinya benar-benar terluka sangat parah sekali ditambah lagi tadi dia sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk menarik anak itu kembali.
“Namamu Karim bukan? Tanya dia, dan melihat anak kecil itu mengganggukkan kepalanya dengan mata yang masih menyiratkan kecemasan dan kuatir, hatinya terasa hangat melihat tatapan mata polos dan cemas itu. Sudah lama dia tidak lagi merasakan kehangatan di hati sejak kematian isteri dan anaknya dibunuh oleh musuh besarnya dan itu terjadi setahun yang lalu. Dia seperti menemukan diri anaknya yang meninggal itu pada bocah bawel ini, anaknya sebelum meninggal seusia bocah ini dan sama cerewetnya.
“Paman, tunggu di sini aku akan panggilkan orang kampung untuk bantu angkat paman ke tempat etek Siti, mau ya paman?” bujuk anak ini karena menguatirkan keselamatan orang itu. Entah kenapa dia merasa kasihan dan ingin sekali menolong paman tersebut, ada seperti dorongan yang kuat dalam dirinya segera berlari memanggil orang kampung untuk membantu orang ini.
“Sabarlah nak, paman ingin bicara sebentar…” belum selesai dia bicara tiba-tiba dia merasa ada orang yang sedang menuju ke tempatnya dengan gerakan cepat sekali walaupun dia terluka parah tapi tenaga dalamnya yang sangat tinggi membuat dia masih bisa bertahan sampai sekarang dan bisa mengetahui ada orang lain.
Tiba-tiba di depan mereka berdiri seorang bocah lain seumuran Karim dan seorang tua yang dia tidak bisa melihat jelas wajahnya karena seperti tertutup oleh kabut tipis yang mengelilingi sekitar tubuhnya.
Terdengar Karim berkata,”Aswin!”
“Karim, aku mendengar teriakanmu memanggilku tadi, ada apa?” tanya Aswin sambil tetap matanya memandang ke arah orang yang terluka itu.
Sementara itu orang tua yang menyertai Aswin, memandang pria terluka itu dengan tenang lalu berkata,”Hmmmm pukulan Pencabik Nyawa dan sabetan Ladiang (Golok) Angek (Panas), orang muda, kau pasti berilmu tinggi karena tidak sembarang orang masih bisa bertahan setelah dilukai oleh 2 orang sehebat Iblis Gadang Sarewa dan Datuak Runduang Alam dengan begitu parahnya. Aku akan membantu mengobati lukamu agar kau bisa bertahan sampai kau bisa diobati oleh tabib.”
Cepat sekali gerakan orang tua itu menotok dan menyalurkan tenaga dalam ke tubuh orang yang terluka ini, tidak sampai lama orang itu merasa dadanya yang sesak berangsur mulai lega dan kesakitan tubuhnya mulai berkurang serta darah yang mengalir sudah berhenti sama sekali. Walau dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih seperti semula tapi dia tahu dia sudah diselamatkan oleh orang tua yang datang bersama anak yang bernama Aswin itu.
“Terima kasih orang tua, kau telah menolong nyawaku, budi baik ini pasti suatu saat akan aku bayar.”
Aswin yang dari tadi diam saja sekarang buka mulut,” Kakek, paman ini harus segera kita bawa ke tempat etek Siti supaya beliau bisa mengobati luka tubuhnya.”
“Iya kakek, kasihan paman ini dari tadi sudah terbaring tidak bisa gerak, aku sudah cemas sekali tidak bisa bawa dia ke tempat etek Siti,”kata Karim kepada orang tua yang datang bersama Aswin.
“Orang muda siapa namamu, kenapa kau bisa ada di sini?”
“Nama saya, Manik Siahaan dari Utara, saya berada di sini karena mengejar musuh besar tapi sesampai di sini dia telah menunggu bersama kedua temannya dan mengeroyok saya, setelah sekitar tujuh puluh jurus saya tidak bisa bertahan lagi, saya sempat melukai mereka tapi tetap saja tidak bisa mengalahkan mereka, mungkin karena ilmu saya belum tinggi sehingga bisa dikalahkan dengan mudah.’ kata orang yang bernama Manik ini dengan geram.
“Ha ha ha anak muda, menurut aku yang tua ini kamu itu sudah termasuk kategori orang yang berilmu tinggi sekali, karena bisa menghadapi keroyokan dari 2 orang dengan ilmu setingkat Iblis Gadang Sarewa dan Datuak Runduang Alam, serta 1 orang yang dibantu dari jauh dengan ilmu hitam tidak banyak orang yang bisa menghadapi salah satu dari mereka saja, tapi kau bisa bertahan berarti ilmu kesaktianmu pasti di atas mereka. Dan masa ini orang muda yang berilmu tinggi sepertimu tidak banyak, kau tidak perlu merendahkan dirimu sendiri, memang mereka saja yang pengecut, tahu tidak bisa menghadapimu seorang diri maka melakukan pengeroyokan.”
Dalam hati Manik terkejut dan kagum sekali, orang tua itu tahu dia dikeroyok oleh 3 orang, padahal beliau hanya menyebut 2 nama saja, artinya beliau kenal 2 orang itu sedangkan orang ketiga memang pasti beliau tidak kenal karena orang ketiga inilah musuh besarnya yang dia kejar dari kampungnya di Utara Pulau Andalas sampai ke sini. Dan dia bertambah kagum lagi mendengar bahwa kakek itu bisa menduga musuh besarnya menggunakan ilmu hitam untuk melawan dirinya. Dari pembicaraan ini Manik langsung tahu dia berhadapan dengan orang tua yang berilmu tinggi sekali mungkin di atas dirinya jauh karena bisa menebak dari lukanya saja dan tadi juga dia merasakan ada aliran tenaga dalam yang dahsyat yang masuk ke tubuhnya membantu tenaga dalamnya sendiri untuk bertahan dari semua luka yang dia derita.
“Kakek, sudahlah jangan banyak bicara lagi dengan paman ini, segera saja kita bawa dia untuk diobati, aku cemas lihat luka di tubuhnya itu,”kata Karim dengan mata yang kuatir menatap Datuak Inyiak Balang.
“Baiklah, kakek akan bawa dia ke rumah Aswin, dan kau berjalan pulanglah dengan Aswin,” setelah berkata demikian orang tua itu menggerakan tangan kanannya perlahan dan terjadi keanehan tubuh Manik terangkat lurus seperti dia diangkat dengan tandu dan sekejab saja orang yang terluka itu dan Datuak sudah tidak ada di sekitar tempat tadi.
Karim yang kaget melihat kejadian itu hanya bisa terbengong-bengong dengan mulut menganga, Aswin yang melihat temannya dalam keadaan seperti itu timbul keisengannya. Diambilnya buah ceri yang ada di samping pohon di belakang dia berdiri dan menimpuknnya ke mulut temannya yang sedang menganga itu. Karim terkejut ketika merasa ada benda yang masuk mulutnya, secara reflek menutup mulutnya dan menelan benda yang masuk mulutnya itu.
Cepat dia berpaling menatap Aswin,”Apa yang kau masukan dalam mulut aku?” tanyanya kebingungan.
“Aku masukan daki di ketiakku ke dalam mulutmu,” kata anak nakal itu dengan terbahak-bahak.
Tapi Karim merupakan anak yang cerdik sekali, sebelum dia menelan sempat dia merasakan benda yang masuk mulutnya itu terasa licin dan bulat kecil jadi dia tahu pasti itu bukan daki seperti yang dikatakan Aswin. Menurut pemikiran cerdiknya daki itu kalau dibulatinpun tidak akan terasa licin seperti yang dia rasakan di mulutnya itu. Jadi dia tahu Aswin membohonginya, timbul keinginannya untuk balas mengisengin temannya walau sebenarnya dia ingin segera menyusul kakek dan paman yang terluka itu.
“Wah dakimu enak yah Win, lain kali boleh aku coba lagi, benar-benar enak banget,’ katanya sambil mendecak-decakan mulutnya seperti orang yang mencicipi makanan enak.
Aswin yang membayangkan Karim mencicipi dakinya, merasa perutnya langsung mual dan ingin muntah, cepat dia menutup mulutnya agar tidak muntah, karena dia bisa ditertawakan oleh Karim kalau sampai terjadi.
Buru-buru dia mengajak Karim kembali ke nagari untuk menyusul gurunya dan orang terluka itu, dalam hati dia mengutuk habis-habisan temannya yang balik mengerjai dia. Sedangkan Karim menahan geli melihat wajah Aswin yang menahan muntahnya tadi, dia ingin tertawa keras-keras tapi entah kenapa dia merasa tidak mampu melakukannya, dia masih mencemaskan keadaan paman Manik itu. Segera Aswin menarik tangan temannya untuk segera berlari cepat menyusul, karena Aswin sudah memiliki tenaga dalam maka dengan mudahnya dia membantu temannya untuk mengimbangi ilmu lari cepatnya, sehingga kedua bocah ini bisa dengan cepat sampai di rumah Aswin.
Sesampai mereka di rumah itu, kelihatan kesibukan terjadi di ruang pengobatan, tapi Aswin sudah tidak melihat gurunya lagi.
Tiba-tiba dia mendengar suara gurunya di telinganya,” Aswin, hari ini sampai di sini dulu latihan kita, kamu temani temanmu Karim bermain dan jaga-jaga kondisi paman yang terluka itu, jika terjadi sesuatu yang sangat berbahaya kamu panggil kakek segera.”
“Baik, kek,” sahut Aswin pelan.
Sementara itu Siti sibuk mengobati pria yang terluka itu, luka sabetan golok melintang di dadanya terlihat mengerikan sekali karena di pinggiran luka terlihat seperti melepuh yang menjadi ciri khas dari Golok Angek, dan di paha kanannya ada luka berwarna kehijauan yang berarti luka tersebut beracun, tapi bagusnya racun itu tidak menjalar sampai ke atas. Di sekujur tubuhnya penuh dengan sayatan-sayatan halus sepertinya dia terkena puluhan benda tajam yang kecil, itulah kehebatan ilmu Pencabik Nyawa.
Untung sebelumnya dia sudah mendapat bantuan pengobatan dari Datuak Inyiak Balang, sehingga lebih memudahkan Siti untuk melakukan pengobatan selanjutnya. Setelah membersihkan semua luka, Siti meminumkan obat hasil ramuan dari daging ikan Karak Batu (sejenis ikan yang berwarna coklat gelap dan bersisik keras seperti batu) merupakan ikan jenis langka sekali yang bisa ditemukan di kedalaman lautan pada saat bulan purnama penuh dengan remasan bunga kenanga merah yang ditemukan di dasar Gunung Merapi. Obat ini berkhasiat untuk membersihkan segala macam racun jahat yang ada di dalam tubuh pasiennya.
Lalu Siti mengoleskan juga obat ramuan bubuk akar bahar dengan ular Balang Limo sejenis ular air yang paling berbisa yang hidup di perairan payau pada luka di sekujur tubunya dengan cepat sekali, saat dioles pada luka di dada, Manik langsung mengeluarkan jeritan kesakitan yang menyayat hati, tinggi melengking seakan bisa membangkitkan orang mati untuk hidup kembali. Siti sengaja tidak memberitahukan kepada pasien akan kesakitan yang bakalan dialami, karena dia tidak mau pasien berusaha menahan sakit sehingga membuat kulit di sekitar luka menjadi tegang, menyebabkan kulit susah untuk bertaut kembali. Tapi akibatnya semua orang yang hadir di ruangan tersebut merasa telinganya berdenging-denging akibat jeritan yang dikeluarkan oleh Manik, untung dia tidak menyertakannya dengan tenaga dalam kalau tidak entah apa yang bakalan terjadi. Setelah mengeluarkan jeritan panjang itu, Manik langsung pingsan karena sudah tidak punya tenaga lagi untuk menahan sakit yang menggila pada luka di dadanya.
Setelah mengoles luka tersebut Siti langsung membalut kuat luka-luka dengan kain putih bersih yang memang disediakan untuk membalut luka, selesai membalut terlihat keadaan Manik seperti mumi yang hanya kelihatan wajahnya saja karena seluruh tubuhnya dari leher, tangan, dada, perut, kaki dibalut dengan kain putih itu. Ini dilakukan Siti untuk menjaga agar obat bisa bekerja dengan baik pada setiap luka yang ada.
Muka yang berlepotan dengan darah dan tanah itu dibersihkan Siti dengan hati-hati karena takut ada luka di wajah pria itu. Setelah dibersihkan terlihatlah seraut wajah pucat yang gagah dan jantan dengan hidung mancung agak bengkok di batangnya dan dagu persegi yang menjadi ciri khas orang Utara dari Pulau Andalas, tapi semua ini diperlunak dengan bibir yang sexy untuk ukuran pria jantan sepertinya.
Berbisik Karim kepada Aswin,”Win, paman itu gagah juga yah tapi hi hi hi kayak mayat hidup mengerikan dibalut seperti itu.”
“Hush, jangan berisik nanti paman bisa bangun sedangkan dia butuh istirahat, hayo kita keluar, aku sudah lapar. Kamu mau ikut makan ketupat buatan etek Siti?”
“Mau… mau … aku mau…,” sahut Karim dengan mata berbinar-binar senang.
Akhirnya mereka semua meninggalkan pria itu untuk istirahat memulihkan tenaganya, Siti merapikan semua peralatan pengobatannya dibantu oleh Uni Anik. Setelah melihat keadaan pasiennya sekali lagi, Siti meninggalkan kamar tapi sebelumnya dia berpesan kepada Uni Anik untuk menjaganya sebentar sampai Siti kembali lagi untuk memeriksa keadaannya.
Siti berjalan ke ruang makan untuk menemui kedua anak kesayangannya itu dan makan bersama mereka. Sambil berjalan Siti memikirkan kenapa pria itu bisa bertahan dengan luka-luka seperti dideritanya, tadi dia sempat juga memeriksa detak nadi dan aliran darah pasien, dia menemukan ada 2 macam aliran tenaga yang halus sekali sedang membantu tubuh pasien untuk mengatur peredaran darahnya yang kacau akibat luka pukulan maupun luka karena racun. Kedua tenaga ini saling membantu untuk memulihkan semua aliran darah yang tersumbat agar bisa mempercepat kesembuhan dari dalam tubuhnya. Mungkin tenaga inilah yang membuat pasiennya bisa bertahan cukup lama terhadap semua lukanya.
Terlihat kedua anak tersebut sedang asyik sekali makan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa, Siti tanpa terasa ikut tersenyum juga melihatnya. Memang kedua anak ini sangat lucu sekali kalau sudah seperti itu, tapi kalau kenakalannya kumat tidak ada seorangpun yang lolos dari kejahilannya dan Siti hanya bisa mengurut dada menahan kejengkelan melihat kelakuan mereka berdua.
“Anak-anak, enak tidak ketupat buatan etek?”
“Wah, etek ini adalah ketupat yang paling enak sedunia, tiada tandingannya bahkan kehebatan ibuku memasak masih jauh dibandingkan dengan etek. Aswin memang beruntung sekali bisa makan enak setiap hari, aku jadi iri.”
“Hehehe… jangan irilah, kalau kamu suka bisa saja datang ke sini setiap hari untuk makan makanan buatan etekku ini yang lamak nian.”
Siti tersenyum mendengar celoteh kedua anak kecil ini, dia senang sekali mereka menyukai masakannya dan dia juga tahu Aswin bukan anak yang pelit terhadap teman-temannya, semua yang dia rasa enak pasti dia bagi ke teman-temannya atau orang-orang yang dia sayangi. Dan sepertinya semua orang yang ada di nagari ini juga seperti itu padanya, semua makanan enak pasti ada saja yang mengantar buat Aswin jika dia menginginkannya. Untung saja anak itu tahu diri dan tidak pernah menyalahgunakan kesayangan orang padanya walau tetap saja kenakalannya tidak bisa ditahan.
Tiba-tiba langit yang tadinya cerah dan terang benderang sekarang menjadi gelap dan mendung, patuih (petir) menyambar-nyambar dengan garangnya, di kejauhan seperti terdengar suara dengungan yang sangat kuat sekali. Udara langsung berubah dingin sekali, di luar terdengar teriakan orang-orang untuk segera membereskan pekerjaan karena hujan akan menjelang. Tapi ada keanehan dengan keadaan ini, cuaca mendung ini hanya menggantung di daerah sekeliling nagari tapi begitu lepas dari pinggiran nagari cuaca tetap terang benderang seperti semula.
Mula-mula orang tidak menyadari hal ini karena sedang sibuk berlarian dan berteriak untuk segera membereskan pekerjaan sebelum hujan, tapi orang-orang yang tinggal agak di pinggiran negeri mulai menyadarinya karena mereka merasa sebagian tempat mereka berlangitkan mendung gelap sekali sedangkan sebagian lagi terang dengan sinaran matahari yang terik sekali. Sementara mereka terbengong-bengong melihat keanehan ini, mendadak mereka melihat ada segumpalan kabut tipis sekali yang melesat cepat ke arah kampung, yang datang entah dari mana.
Kabut ini bergerak sangat cepat sekali, bahkan mereka sudah tidak bisa melihatnya lagi, mereka berpikir apakah tadi itu hanya ilusi saja. Tapi sebenarnya apa yang mereka lihat tadi benar adanya, itu adalah kabut pembunuh kiriman dari seorang dukun santet yang hebat sekali yang berasal dari bagian paling Utara pulau Andalas ini. Dukun ini bernama Sibayak Langu merupakan dukun hitam yang sangat sadis dan kejam sekali, dengan uang emas semua bisa diselesaikannya dengan tuntas. Selain itu dukun sesat ini juga terkenal kesukaannya pada perempuan tidak perduli siapa dia kalau dia sudah suka tidak ada yang lolos dari cengkramannya.
Banyak tokoh-tokoh persilatan golongon putih yang menjajal ketinggian ilmunya tapi banyak berakhir dengan kematian. Dukun ini bertempat tinggal di Gunung Sibayak, tempat ini hutan belantara yang sangat mengerikan sekali jarang manusia yang mau ke sana kalau tidak ingin sesuatu darinya. Salah satu orang yang minta bantuannya adalah Garang Simanungkalit yang merupakan ayah dari Ranting Simanungkalit, musuh besar dari Manik Siahaan. Orang tua itu tahu anaknya telah berlaku kelewatan dengan membunuh isteri serta anak Manik, karena tidak rela wanita itu bersuamikan orang lain selain dirinya. Dan beliau juga mengetahui bahwa anaknya bukanlah tandingan dari pria perkasa itu, bahkan dia sendiri yang terkenal ilmunyapun tidak bisa menandingi Manik.
Sebagai orang tua yang menyayangi anaknya, dia berusaha melindungi semua perbuatan anaknya, karena memang di tanah Batak, anak laki-laki sangat dihargai bak pangeran walaupun anak tersebut tidak memiliki sifat yang baik. Ketika Manik mengetahui bahwa Ranting membunuh anak isterinya, maka mulai saat itu kehidupan keluarga mereka tidak ada kententraman lagi, banyak orang-orang hebat yang diperkerjakan untuk menahan serangan dari pria yang sudah gelap mata itu, tapi tiada satu jua yang bisa menahannya. Terakhir karena takut anaknya menemui ajal maka Garang Simanungkalit menyuruh anaknya pergi ke barat dari Pulau Andalas ini untuk tinggal bersama tulangnya yang menikah dengan orang Minang yang juga merupakan tokoh terkenal di sana yaitu Datuak Runduang Alam.
Dengan berbekal uang emas dan surat dari sang ayah serta didampingi orang berkepandaian tinggi yang dipilih ayahnya, Ranting Simanungkalit berangkat segera menuju ke tempat bibinya. Sayang sekali maksud hatinya tersebut sampai juga di telinga Manik, segera pria muda itu memburu musuhnya itu ke ranah Minang, Garang yang mendengar hal ini menjadi cemas dan ketakutan sekali anaknya bisa menemui ajal di tangan Manik. Dia berusaha mencari berita dari teman-temannya siapa pembunuh bayaran yang paling hebat untuk melakukan pembunuhan terhadap musuh anaknya itu, akhirnya setelah hampir 2 bulan dari saat keberangkatan anaknya, dia mendengar tentang dukun santet, Sibayak Langu ini. Dengan susah payah selama hampir sebulan dia mencari dukun ini akhirnya menemukannya, dengan uang emas sebanyak 10 keping, terjadilah kesepakatan pembunuhan terhadap Manik Siahaan, musuh anaknya.
Dukun sesat ini senang sekali menerima 10 keping uang emas dari Garang Simanungkalit, segera dia memerintahkan kedua muridnya turun gunung untuk membunuh Manik. Berbekal cermin Bala Sibayak, kedua murid tersebut mempelajari semua gerak gerik pria muda itu, mereka mengetahui bahwa pemuda ini bukan lawan yang enteng karena mempunyai ilmu kebatinan tingkat tinggi dan binatang peliharaan makhluk halus yang diwariskan oleh leluhurnya. Sementara mereka akan tinggal di rumah keluarga Simanungkalit untuk lebih leluasa melakukan pekerjaan mereka.
Pas hari itu mereka melihat di cermin Bala, Ranting bersama paman dan teman pamannya dapat dikejar oleh Manik dan terlibat perkelahian. Langsung murid tertua membantu Ranting dengan ilmu hitam mereka, Tenaga Setan Menguak Neraka tingkat tiga, yaitu sebuah ilmu jarak jauh yang disalurkan kepada yang dituju untuk menambah tenaga dalam dan menambah ilmu silatnya. Dan murid keduanya menyalurkan ilmu Penyirap Roh melalui kedua mata Ranting agar lawan tidak bisa bergerak karena rohnya sudah disirap sehingga mudah sekali untuk dibunuh.
Sayang sekali yang dihadapi mereka adalah seorang pria hebat didikan orang yang dijuluki setengah dewa oleh masyarakat persilatan daerah Batak sana, yaitu Kakek Penghisap Darah, sebuah julukan yang seram sekali padahal kakek ini dari golongan putih tetapi memang ilmunya pamungkasnya ganas sekali, Ilmu Aliran Darah Dewa. Ilmu ini dimainkan dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk cakar yang mengincar leher korban, sehingga luka yang dihasilkan seperti luka akibat gigitan drakula, yang hebatnya darah yang keluar dari luka itu mengalir dengan derasnya seperti ada dorongan dari tubuh si korban untuk memompa keluar semua darah yang ada di tubuhnya.
Dan tidak seorangpun dapat membendung keluarnya darah tersebut walau dibantu dengan ilmu totokan untuk menghentikan aliran darah tersebut tetap saja tidak bisa berhenti. Selama ini tidak ada seorangpun dari lawan si kakek yang dapat diselamatkan sekali sudah kena ilmu tersebut walaupun sudah memanggil tabib yang paling hebat sekalipun. Hanya kakek ini saja yang bisa menyembuhkan orang yang kena luka ini, dengan ilmu Totokan Pengikat Nadi, yang juga merupakan ilmu yang hebat sekali di mana seluruh aliran nadi di tubuh yang bersangkutan akan membeku bila kena totokan ini dan tidak ada seorangpun juga yang bisa membebaskan dirinya dari totokan ini, kecuali dibebaskan oleh orang yang menggunakan ilmu ini.
Kedua ilmu ini sudah diwariskan kepada murid kesayangannya Manik Siahaan, yang sudah menguasai kedua ilmu ini dengan baik sekali walau masih belum sempurna, tinggal dilatih terus menerus agar semakin sempurna penguasaannya terhadap ilmu ini. Bahkan berkat bakat dan kecerdikannya, Manik berusaha mengembangkan ilmu ini dengan menggabungkan menjadi sebuah ilmu yang lebih hebat lagi. Dan dia sedang dalam tahap pengujian akan penggabungan kedua ilmu ini, maka dapat dibayangkan kalau ilmu tersebut berhasil diyakininya, dia akan masuk ke jajaran tokoh persilatan nomor satu yang susah dicari tandingannya, bisa disejajarkan dengan kehebatan gurunya sendiri. Kakek Penghisap Darah menyadari kehebatan muridnya, maka sedari kecil pria ini sudah dididik dengan keras sekali akan kejujuran, kerendahan hati dan kebaikan agar tidak tersesat jalan hidupnya kelak. Karena dia merupakan musuh yang berbahaya sekali bagi golongan putih jika dia benar-benar sesat jalan hidupnya.
Ditambah lagi dia mendapatkan warisan hebat dari keluarganya, benar-benar seorang lawan tangguh. Jadi mereka tidak tanggung-tanggung dalam memberikan bantuan kepada Ranting Simanungkalit.
Kejadian ini bermula saat Ranting Simanungkalit jatuh cinta kepada seorang dara jelita yang bernama Mega Sagala, diam-diam dalam hati dia ingin memiliki bunga jelita ini, tapi sayang sang dara sudah mempunyai pilihan hati sendiri. Segala upaya dia lakukan untuk merebut sang dara dari tangan kekasihnya, tapi apa lacur dara tersebut tidak bergeming dari pilihan hatinya. Ranting yang merupakan anak tunggal dari kepala daerah dan terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya tidak bisa dengan mudahnya menyingkirkan lawan asmaranya yang sudah terkenal akan kehebatan ilmunya dan merupakan keturunan keluarga terpandang seperti yang dilakukannya pada musuhnya yang lain. Bahkan ayahnya yang mempunyai jabatan penting dalam pemerintahan juga tidak berani bertindak seenaknya terhadap keluarga Manik Siahaan.
Hal ini sangat mengesalkan hatinya dan membuat dia gelap mata ketika mendengar sang pujaan akan menikah. Dia merencanakan akan menculik dara itu dan memaksanya menjadi isterinya kalau perlu memperkosanya sehingga dara itu akan terpaksa menikah dengannya. Ketika dia melaksanakan niatnya itu dan hampir berhasil tiba-tiba dia dihadang oleh kekasih dara itu yaitu Manik Siahaan, terjadilah perkelahian hebat antara Manik dengan Ranting yang dibantu oleh orang-orang bayarannya. Rencana ini gagal, Ranting pulang dengan tubuh luka-luka akibat pukulan Manik dan membawa serta dendam mendalam terhadap Manik dan Mega.
Dia berusaha memperdalam ilmunya dengan berguru kepada seorang tokoh sesat terkenal yang bernama Iblis Muka Seribu yang tinggal di salah satu pulau yang ada di lautan Indonesia. Selama 5 tahun dia berguru, saat dia kembali dia mendengar kabar dara yang dicintainya itu sudah menikah dan mempunyai anak dari musuhnya. Dendam semakin membara sehingga membutakan mata hatinya untuk merelakan Mega menjadi milik Manik, kembali dia merencanakan untuk membalas dendamnya kepada keluarga kecil Manik Siahaan itu.
Saat yang ditunggu akhirnya datangnya juga ketika Manik dipanggil oleh kakek buyutnya ke Mandailing, dia tahu dibutuhkan waktu cukup lama untuk Manik kembali ke daerah mereka, Balige. Manik sendiri tidak mengetahui bahwa pelukan dan ciuman yang diberikan kepada isteri dan anaknya sebelum dia berangkat merupakan yang terakhir kalinya. Isteri dan anaknya dititip di rumah mertuanya karena keluarganya semua berangkat menuju ke Mandailing untuk memenuhi panggilan sesepuh keluarga mereka itu.
Tiga hari setelah kepergian Manik, Ranting menyatroni rumah keluarga Mega untuk meminta dengan paksa agar Mega mau menjadi isterinya dan meninggalkan Manik. Keluarga Mega menentang keras tindakan Ranting ini, akibatnya terjadi perang mulut yang berakhir dengan pembantaian yang dilakukan Ranting kepada keluarga Mega dan anak Manik. Sedangkan Mega dibawa lari olehnya, Mega yang tidak kuat menahan penderitaan batinnya berteriak-teriak seperti orang gila, Tombak yang ingin menghentikan teriakan-teriakan Mega mencekik lehernya dengan tujuan sebenarnya hanya menakut-nakuti saja tapi yang terjadi malahan Mega meninggal akibat cekikan Tombak yang terlalu kuat.
Ranting menjadi ketakutan dengan perestiwa ini, cepat dia balik ke rumahnya dan meminta ayahnya menyelesaikan masalah yang sudah ditimbulkannya. Segera sang ayah menyuruh orang-orang kepercayaannya membersihkan bukti-bukti kesalahan Ranting dengan cara mereka membakar rumah keluarga Mega untuk menghapus jejak dan membunuh 3 orang saksi mata yang melihat kejadian di rumah Mega. Dikarenakan keluarga Mega tinggal di pinggiran kampung jauh dari pusat kampong maka tidak banyak orang yang tahu kejadian sebenarnya. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga, ini yang terjadi pada Ranting, dia tidak menyangka ada 1 sanksi penting yang lolos dari pembantaian itu yaitu pengasuh anak Manik yang kebetulan saat kejadian sedang buang hajat di kali yang tidak jauh dari rumah.
Saat dia kembali, dia masih sempat melihat Ranting membanting anak asuhnya lalu menarik majikannya dengan paksa keluar rumah, saking ketakutannya dia pingsan melihat kejadian itu. Ini yang menyelamatkan dia dari ancaman kematian, ketika dia siuman dia melihat rumah orang tua majikannya sedang dilalap di jago merah dengan hebatnya. Sang pengasuh setia ini hancur hatinya, dengan berbekal uang dan pakaian yang ada di tubuhnya, dia menyusul majikan laki-lakinya ke Mandailing karena dia tahu kalau dia masuk ke kampung mereka maka orang suruhan dari keluarga Simanungkalit akan membunuhnya.
Sementara itu Manik dan keluarganya telah tiba di rumah leluhur pihak ibunya, dalam perjalanan menuju ke Mandailing beberapa kali perasaan tidak enak mengganggu perasaan Manik, ada dorongan dalam dirinya untuk kembali pulang melihat isteri dan anaknya. Tapi setiap kali dia mengungkapkan masalah ini kedua orang tua dan saudara-saudaranya langsung menasihati panjang lebar mengenai pentingnya memenuhi panggilan sang sesepuh itu. Manik yang tidak ingin ribut dengan keluarganya akhirnya tetap berangkat walau tetap dihantui perasaan tidak enak yang mengganggu hatinya.
Dalam tempo 4 hari dengan menunggang kuda, mereka sekeluarga sampai di Mandailing, dan bertemu dengan sanak saudara yang sudah sampai terlebih dahulu. Malam itu diadakan pesta syukuran antar keluarga dengan menyajikan bermacam-macam makanan khas orang Batak, dan terdengar juga suara-suara indah diiringi oleh alat musik yang menyertai kemeriahan suasana pesta itu. Tapi di balik kemeriahan suasana, ada seseorang yang gundah gulana, hatinya risau, ini membuat dia murung dan tidak bisa ikut bergembira pada pesta itu. Oleh karenanya sesudah makan, dia langsung masuk kamar dan beristirahat, jauh dalam hati sebenarnya dia males sekali untuk pergi jauh meninggalkan anak dan isterinya.
Manik datang ke rumah besar keluarga Siregar benar-benar karena ingin memenuhi permintaan ibunya saja, tidak ada pemikiran lain dan sedikitpun tidak terbesit keinginan untuk mendapatkan warisan yang menjadi dasar pemanggilan sang kakek buyut kepada keluarga besarnya. karena dia sadar warisan itu hanya diberikan kepada pembawa marga Siregar, sedangkan dia menggunakan marga Siahaan. Menurut adat istiadat turun menurun yang berlaku seharusnya warisan ini diberikan kepada cucu laki-laki dan cucu buyut laki-laki langsung yang membawa nama marga keluarga, Siregar yang merupakan marga kakek buyut Manik dari pihak ibu.
Ketika itu kakek buyut Siregar merasa dirinya menjelang ajal, maka beliau mengumpulkan semua keluarganya untuk mendengar pesan terakhirnya dan memberikan warisan leluhur kepada orang pilihan. Setelah kedatangan keluarga Manik, maka sudah lengkaplah keluarga garis keturunan sang kakek buyut ini. Dua hari sesudah kedatangan Manik di rumah besar itu, sang kakek memanggil semua keluarga laki-lakinya untuk berkumpul di ruang tengah, sedangkan yang perempuan tidak diperkenankan mendekati ruang tengah tersebut, jadi mereka semua hanya boleh di kamar atau di dapur saja. Ternyata ada sekitar 20 orang terkumpul di ruangan leluhur keluarga Siregar, bersama mereka juga ada 5 orang sesepuh keluarga dan 5 orang teman lama keluarga yang dijadikan saksi agar tidak ada yang merasa dirugikan dengan ketidakadilan.
Manik yang perasaan hatinya sedang tidak enak, merasa tidak bergairah untuk ikut-ikutan berkumpul, ingin rasanya dia segera pulang menemui anak dan isterinya. Ibunya yang melihat hal ini langsung menegur dia agar segera ke ruang tengah supaya urusan di sini bisa cepat beres dan dia bisa pulang segera. Mendengar perkataan ibunya, Manik buru-buru ke ruang tengah. Ketika dia sampai di ruang tengah dia melihat semua orang berkumpul dengan antusias sekali, suara dan tawa bergema dengan enaknya.
Setelah melihat semuanya sudah berkumpul maka mulailah sang sesepuh membuka pembicaraan dengan menyampaikan alasan kenapa mereka berkumpul hari ini adalah untuk menurunkan warisan leluhur kepada pemilik barunya dengan upacara adat yang sudah ditentukan. Sebelum dimulai upacara penyerahan warisan itu, Datuk Kumis Putih menyampaikan beberapa pesan penting dan pembagian tugas kepada keluarga yang hadir.
Ada satu perkataan penting mengenai warisan leluhur yang menjadi perhatian semua orang bahwa ilmu Penghisap Raga Mematikan Langkah hanya bisa didapat setelah makhluk halus yang berwujud elang penjaga roh memilih dan menyatu dengan tuannya yang baru. Jadi ilmu Penghisap raga mematikan langkah merupakan satu kesatuan dengan elang penjaga roh, tidak bisa dipisahkan. Semakin kecil harapan mereka untuk mendapatkan salah satu dari warisan itu, beliau juga meminta kepada yang tidak terpilih untuk tidak kecewa dan berusaha merebut warisan itu dengan membunuh pemilik barunya karena itu tidak ada gunanya. Warisan itu tidak dapat seenaknya saja dirampas dari pemiliknya, jika pemiliknya dalam keadaan sangat berbahaya sekali kedua warisan ini akan melindungi tuannya.
Warisan ini telah membuktikan bahwa siapapun pemiliknya akan termasuk jajaran tokoh utama di dunia persilatan Pulau Andalas ini dan jarang ada yang bisa menandinginya. Siapa yang tidak pernah mendengar nama Datuk Kumis Putih yang merupakan julukan kakek buyut Siregar, apalagi beliau sedari muda senang bertualang sampai ke nagari seberang kerajaan Melayu dan tanah Jawa, sehingga namanya semakin terkenal sebagai tokoh pilih tanding dalam menumpas kejahatan dan menegakkan kebenaran. Bahkan sempat beliau menjadi pimpin tokoh persilatan di tanah Batak ini selama hampir 1 dekade sampai dia menyerahkan jabatannya pada temannya, si Tongkat Penghancur Tulang, yang hanya menjabat sebentar saja lalu dipaksa bubar oleh tokoh2 persilatan lainnya.
Oleh karena itu diantara mereka sangat mengharapkan mendapat warisan ini berangan-angan akan menjadi pemimpin dunia persilatan tidak hanya di sini tapi di seluruh Pulau Andalas. Bahkan ada yang diam-diam mempersiapkan diri untuk merebut warisan tersebut jika dia tidak mendapatkannya. Dan seperti yang telah sama-sama mereka ketahui juga warisan ini akan memilih sendiri tuannya yang baru dan itu tidak bisa mereka rubah sendiri sesuai dengan kemauan mereka. Tapi yang namanya manusia selalu saja ingin mencoba meraih apapun yang diinginkannya menggunakan segala cara dengan harapan bisa terjadi sesuai keinginan hati mereka, walaupun hal ini seringkali gagal.
Setelah sang kakek memberikan nasihat dan pesan yang beliau rasa penting untuk disampaikan, maka dimulailah upacara penyerahan warisan leluhur itu. Manik yang sedang gelisah memikirkan anak dan isterinya tidak konsentrasi dengan apa yang sedang terjadi malah sibuk memikirkan kenapa perasaan tidak enak selalu menggelayuti hatinya. Sesuai dengan adat yang berlaku dipilihlah 3 orang yang dianggap paling baik ilmu silat dan budi pekertinya diantara yang lain. Karena calon harus melalui 3 tahap ujian sebelum dia mendapatkan warisan tersebut, ujian pertama mengenai budi pekerti, ujian kedua kemampuan ilmu silatnya, dan ujian terakhir yang paling berat adalah ujian kebatinan. Supaya pilihan ini adil maka diserahkan kepada pendengar untuk memilih 3 orang yang dirasa memang pantas mendapatkan warisan tersebut.
Dari sekian banyak orang terpilihlah 2 orang yang mereka anggap pantas menerima warisan tersebut, kebetulan salah satunya bernama Sutan Siregar yang merupakan murid kesayangan langsung dari Datuk Kumis Putih. Dalam hati Datuk Kumis Putih senang juga muridnya terpilih, tapi karena calon kurang 1 orang lagi, maka mereka kembali diharuskan memilih. Terjadi keributan yang lebih heboh dibandingkan ketika memilih kedua orang pertama. Karena masing-masing mengganggap diri paling hebat, hanya ada satu orang yang tidak tertarik dengan apa yang terjadi matanya terlihat merawang memandang kosong ke depan. Keadaan ini disadari oleh sang kakek, beliau tahu cucu buyut luarnya yang satu ini sebenarnya paling hebat dibandingkan dengan yang lain dari segi ilmu maupun budi perkertinya tapi sayang dia hanya cucu luar jadi tidak bisa dipilih.
Beliau merasa sayang sekali kenapa orang sehebat ini tidak mempunyai hak untuk ikut pemilihan ahli waris. Walaupun beliau tidak terlalu mengenal kepribadian cucu luarnya terlalu jauh dan masih mengharapkan agar cucu dalamnya yang dapat warisan itu, hati kecil beliau tetap menginginkan cucu luarnya itu mendapat hak juga untuk dipilih. Sambil merenung memikirkan bagaimana caranya agar bisa memasukan cucu luarnya ini, beliau memperhatikan sekelilingnya.
Terlihat semua orang sibuk bicara saling membanggakan diri, bahkan beliau dapat merasakan diantara mereka ada yang membentuk kelompok agar bisa mendukung pencalonan dirinya. Keributan ini masih belum selesai juga sekarang malahan diantara mereka terbagi 2 kelompok yang masing-masing berkeras dengan orang pilihannya melihat hal ini sang kakek segera turun bicara. Semakin mantap hatinya untuk memilih cucu luarnya itu untuk menjadi salah satu calon.
Dengan mengangkat tangannya dan suaranya yang lantang beliau menyuruh diam mereka semua, dikarenakan suara yang keluar diiringi dengan tenaga dalam maka semua orang merasakan telinganya berdengung keras dan bagi ilmunya yang rendah langsung merasa pusing kepalanya. Dan ketika sang kakek melirik ke arah cucu buyutnya yang sedang bengong itu, beliau tersirap hatinya karena sang cucu seperti tidak merasakan apa-apa bahkan masih dalam posisi bengongnya seperti tidak merasakan hentakan suara ke gendang telinganya. Kini beliau sadar bahwa cucunya yang satu ini tidak kalah dengan cucu kesayangannya dalam hal tenaga dalam. Beliau memang mendengar kabar bahwa cucunya ini menjadi murid tunggal sahabat lamanya, Kakek Penghisap Darah, tapi beliau tidak menyangka tingkatan cucunya sudah begitu tingginya.
Karena keseharian cucunya tidak terlihat bahwa dia mempunyai ilmu silat tinggi, cendrung terlihat seperti orang biasa saja, tidak pernah dia membanggakan dirinya atau menggunakan ilmunya untuk memamerkan kehebatannya. Baru kali ini sang kakek menyadari bahwa cucunya yang satu ini mungkin orang istimewa juga, selama ini dia lebih memperhatikan cucu dalamnya saja yang membawa marganya. Semakin penasaran hatinya ingin tahu sampai di mana kehebatan hasil didikan sahabat lamanya itu.
Suasana menjadi hening setelah suara menggelegar sang kakek untuk meminta mereka diam, semua mata memandang sang kakek.
“Cucuku semua, pemilihan ini menyebabkan keributan diantara kalian yang seharusnya tidak perlu terjadi jika seandainya kalian sadar dan mawas diri. Kerendahan hati sangat diperlukan diantara kalian agar orang lain bisa meninggikan diri kalian, tapi ketinggian hati hanya mengakibatkan kehancuran bagi sang punya diri.”
Secara tidak langsung sang kakek menyindir semua cucunya yang sudah berlagak paling hebat sejagat raya, sekarang beliau menyadari banyak diantara mereka yang tidak mempunyai sifat yang baik malahan ada beberapa yang cendrung mempunyai sifat yang jahat. Mereka yang merasa tersindir langsung dengan perkataan sang kakek langsung menundukan kepalanya, tidak berani lagi banyak bicara.
“Bagus, sekarang kalian menyadari hal itu. Setelah aku melihat dan mempertimbangkan beberapa hari ini, aku melihat ada 1 orang diantara kalian yang sebenarnya memiliki ilmu silat dan tenaga dalam yang hebat tapi tidak pernah menonjolkan diri sehingga tidak banyak diantara kita yang tahu kehebatannya. Mungkin pilihan aku pada dia kali ini akan menimbulkan keributan diantara kalian dikarenakan tidak sesuai dengan adat yang berlaku selama ini,” sengaja sang kakek diam untuk melihat reaksi para cucunya.
Setelah melihat wajah-wajah penasaran dan kebingungan yang memandang dirinya, beliau melanjutkan ucapannya.
“Beberapa waktu yang lalu aku pernah membaca catatan-catatan lama dari leluhur kita mengenai upacara penyerahan warisan ini, aku baru tahu bahwa warisan ini dulunya adalah milik marga lain bukan marga Siregar seperti yang kita ketahui selama ini. Kalian bisa melihat dan membaca hal ini tercatat dalam daun lontar yang ada di ruangan tempat penyimpan barang-barang antik keluarga kita.”
“Ompung, kalau boleh aku bertanya apa yang ompung maksudkan dari tadi, pusing kepala aku mendengarkan perkataan ompung,”kata salah seorang cucu dalamnya yang bernama Sirdar, paman kandung dari Sutan.
“Sirdar, kau semakin tua semakin tidak sabaran, belajarlah sabar, malu sama usia berkelakuan seperti anak muda yang tidak sabaran,” tegur sang kakek.
Mendengar teguran ini Sirdar langsung terdiam dan tertunduk malu, karena dia sadar diantara yang lain dia yang paling bodoh jadi dengan pertanyaannya itu secara tidak langsung dia menyatakan bahwa dia adalah lekaki kasar yang bodoh. Yang lain juga ikut-ikutan diam dan tidak berani bertanya lagi, takut kena semprotan tajam dari ompung mereka.
Sang kakek melanjutkan pembicaraannya,” kalian dari tadi meributkan siapa yang paling berhak menjadi calon pewaris, dan kalian sudah sepakat untuk memilih Sutan dan Tombak sebagai calon. Sekarang tinggal 1 orang lagi apa kalian sudah mendapatkan orang yang sehebat calon sebelumnya?”
Kembali keributan terjadi saling menonjolkan pilihan mereka, tapi dalam hati mereka semua tahu tidak ada calon lain yang sehebat Sutan dan Tombak. Jadi sebenarnya siapapun yang terpilih pasti akan kalah jika mengikuti ujian yang diberikan. Diantara mereka yang pintar dan cerdas langsung menyadari makna pernyataan dan pertanyaan sang kakek itu, dari tadi mereka ributkan memilih calon yang membawa marga tapi ketika menyimak kembali perkataan sang kakek, mereka merasa sang kakek memberikan kesempatan kepada yang tidak membawa nama marga. Ada enam orang yang tidak membawa nama marga sang kakek termasuk Manik, dan mereka sebenarnya tidak kalah dengan saudara-saudara yang lain hanya karena mereka dilahirkan dari ayah yang membawa marga sendiri maka mereka secara tidak langsung tersisihkan.
Tapi setelah mendengarkan perkataan sang kakek, timbul harapan di hati mereka, siapa tahu mereka bisa mewarisi ilmu leluhur itu. Sedangkan yang membawa marga mulai menyadari adanya saingan tidak langsung dengan pernyataan sang kakek, dan mulai mereka was-was akan hilangnya kesempatan mereka. Karena sedikit banyak mereka tahu diantara 6 orang itu ada 1 saudara mereka yang memang hebat setingkat dengan Sutan dan Tombak yaitu Pane Aritonang dari Muara Nauli, merupakan murid kesayangan dari Raja Pedang Naga yang sudah terkenal kelihayannya hampir menyamai kakek mereka. Dan Pane sendiri mendapat julukan Pedang Naga Kecil dari dunia persilatan di mana dia sudah menebar banyak bibit kebaikan dan menumpas kejahatan sehingga namanya semakin harum saja.
Dibandingkan Sutan dan Tombak sebenarnya Pane jauh lebih terkenal di kalangan dunia persilatan jauh sebelum mereka berdua memasukinya. Sekarang Pane berusia hampir 37 tahun, yang berarti lebih matang pengalamannya dibandingkan dengan Sutan yang baru berusia 26 tahun dan Tombak yang berusia 34 tahun. Jadi wajarlah bila Pane diikutkan sebagai calon dengan segudang pengalaman dan namanya yang harum di dunia persilatan. Ini membuat cemas para cucu yang membawa nama marga, mereka kuatir kedua orang calon sebelumnya bisa dikalahkan sehingga warisan itu akan keluar dari marga mereka.
Diam-diam sebenarnya Pane senang sekali dengan pernyataan sang kakek, tapi di permukaan wajahnya hal itu tidak bisa terlihat, dia dengan tenang memandang sekitarnya dan sepertinya tidak memperdulikan pandangan mata beberapa orang yang ditujukan kepadanya. Dalam hati dia sudah merasa yakin bahwa dia bakalan terpilih sebagai salah satu dari calon itu, sementara pelan-pelan suara ribut itu mereda ketika semua mulai menyadari maksud dari pernyataan dan pertanyaan sang kakek. Satu hal yang patut sangat dibanggakan dari orang Batak adalah mereka tidak malu mengakui kehebatan orang lain setelah mereka benar-benar merasa dikalahkan, dan hal ini terjadi juga dalam ruangan, perlahan-lahan mereka mulai sepertinya menyadari bahwa ada orang hebat diantara mereka yang harus diperhitungkan.
Walau dalam hati tidak setuju tapi mereka menyadari bahwa hal ini tidak terhindarkan, jadi mereka hanya ambil sikap diam saja dan menyerahkan semua keputusan ke tangan sang kakek. Mata awas sang kakek melihat mereka semua melirik ke arah Pane dan tidak satu juga yang melirik ke cucu incarannya itu. Karena yang bersangkutan masih asyik saja dengan pikirannya sendiri tanpa menghiraukan keributan yang terjadi di sekitarnya. Sang kakek juga tahu pilihan mereka terhadap Pane sudah menunjukan kualitas orang itu, tapi beliau tetap menginginkan yang satu itu terpilih. Beliau ingin membukakan mata dan hati yang lain akan makna kerendahan hati dan kesederhaan sikap.
“Hmmmm sekarang kalian sudah tenang jadi berarti kalian sudah tahu apa yang dari tadi aku hendak sampaikan, bagaimana menurut kalian?”
Lintar yang merupakan cucu paling tua yang ada di ruangan ini mewakili saudara-saudaranya untuk menjawab sang kakek,”Ompung, kami sadar sebagai cucu dalam ompung sudah mengecewakan, tidak bisa mensejajarkan diri dengan Sutan dan Tombak. Oleh karena itu ompung, kami menyerahkan semua keputusan ini ke tangan Ompung, apalagi ompung bicara itu ada dasarnya jadi kami tidak bisa berkata lain, semua terserah Ompung.”
“Kalian yakin dengan keputusan ini dan tidak akan menyesalinya di kemudian hari? Aku ingin sekarang kita terbuka untuk membicarakannya agar semua bisa puas dengan keputusanku ini.”
Kembali Lintar yang menjawab setelah terlebih dahulu memandang wajah semua yang ada di ruangan itu,”Ompung, kami yakin dengan hal ini karena memang ini salah kami yang tidak bisa menjadi lebih baik, dan seperti yang ompung ajarkan kepada kami, untuk berani dan secara jantan mengakui kehebatan orang lain tanpa menyalahkan siapa-siapa. Dan kini kami sebagai cucu orang nomor satu di dunia persilatan tanah Batak ini harus jujur dan jantan mengakui bahwa saudara kami, Pane memang merupakan orang pilihan yang istimewa sama dengan Sutan dan Tombak.”
“Jadi kalian sepakat untuk memilih Pane menjadi calon ketiga?”
Serentak mereka semua menjawab tegas,”Iya, ompung!”
“Baguslah kalau begitu, tidak sia-sia aku masih hidup sampai hari ini untuk melihat sikap jantan semua cucuku, aku bangga sekali, tidak menyesal aku pergi dari dunia ini karena sudah berhasil mendidik kalian menjadi seorang lelaki kebanggaan keluarga,” sahut sang kakek dengan terharu.
“Pane, bagaimana dengan dirimu? Apa kau siap untuk menghadapi ujian ini ?”
“Ompung, aku siap menghadapi ujian ini, dan berusaha tidak akan memalukan diriku sendiri dan membuat saudara yang lain menyesal memilih aku sebagai calon pewaris,” jawabnya perlahan namun tegas.
Pane berusaha menahan gejolak dirinya untuk berteriak dan melompat kegirangan, dia yakin bisa menangani kedua saudaranya itu agar bisa memenangkan ujian yang diberikan. Mereka semua tidak tahu apa yang berkecamuk di hati pemuda ini, tapi mata batin sang kakek bisa meraba isi hati sang cucu. Beliau masih tidak puas dengan pilihan mereka, tapi hendak dikata pilihan mereka ini memang yang terbaik dari yang ada di luar kedua calon lainnya. Semakin terpojok membuat sang kakek semakin berusaha mencari jalan keluar untuk “memaksa” cucu incarannya itu menjadi calon.
Sang cucu dilihatnya masih tidak perduli dengan apa yang terjadi tapi sekarang sudah mulai kembali dari penjelahan alam pikirannya. Dengan tenang dan santai dia memandang sekelilingnya, matanya hanya menatap agak lama kepada Sutan, Tombak dan Pane sesudahnya dia ambil sikap diam saja memandang lurus ke depan ke arah jendela yang ada di samping belakang kepala sang kakek.
“Baiklah, calon 3 orang sudah dipilih…” tiba-tiba sang kakek menghentikan pembicaraan dan dengan cepat tangannya menjentik ke arah depan.
Terdengar teriakan,” Aduh…”
Semua mata memandang ke arah teriakan itu, terlihat Manik sedang mengusap-usap kedua kupingnya yang pedas kena jentikan tangan jarak jauh dari kakeknya.
“Manik, mengapa kau melamun saja dari tadi, apa kau merasa hal ini tidak penting? Atau kau merasa paling hebat sehingga tidak menghendaki warisan dariku ini?” bentak Datuk Kumis Putih dengan keras sekali dan mata yang melotot marah kepada cucunya itu.
Manik yang mendapat serangan mendadak dan sekarang ditambah lagi dengan bentakan dari sang kakek, terkejut setengah mati, kebingungan dia dengan situasi yang sekarang semua mata memandang dia dengan mencela. Tergagap dia berusaha menjawab pertanyaan sang kakek, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya karena masih terkejut setengah mati dan tangannya mengusap-usap telinganya yang sakit akibat jentikan sang kakek.
Keadaannya benar-benar lucu sekali, wajah memerah malu, mata yang terlihat cemas kebingungan, mulut megap-megap, dan kedua tangan sedang mengusap-usap telinganya yang memerah. Kalau tidak takut sang kakek tambah marah mau mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat Manik. Tapi tahu sang kakek sedang marah besar tiada satu juga yang berani menunjukan muka geli dan komentar atas kejadian ini. Sebenarnya Datuk Kumis Putih ada perasaan sedikit kesal juga terhadap cucunya ini, tapi dia senang juga karena dia tahu sang cucu mempunyai tenaga dalam yang bagus sekali. Dia mengetahuinya karena pada saat dia menjentikan tangannya, dia menyertakan sepertiga tenaga dalamnya, dia melihat sebenarnya sang cucu bisa saja mengelak dari serangannya itu tapi Manik madah saja terima.
Makanya telinganya terasa pedas dan berdenging, untung dia sempat menyalurkan tenaga dalam ke kupingnya untuk menghindari kehancuran akibat jentikan sang kakek. Diam-diam dia semakin mengagumi kakeknya yang hebat itu dan merasa bangga memiliki kakek seperti Datuk Kumis Putih.
“Jawab Manik, apa kau merasa dirimu paling hebat sejagat raya sehingga kau tidak memperdulikan perkataanku?” bentak sang kakek.
Manik tahu dia harus menjawab cepat bentakan sang kakek, kalau tidak mau urusan tambah runyam. Cepat dia mengendalikan dirinya agar bisa dengan tenang menjawab kakeknya.
“Maafkan aku, ompung. Tidak ada maksud dalam hati seperti yang ompung katakan, jadi jangan salah sangka. Aku tidak merasa diri paling hebat, ompung, bahkan aku kagum kepada saudara-saudara kita yang ternyata hebat-hebat semua,” katanya dengan tulus.
“Hmmm apa benar pemikiranmu seperti itu, jangan-jangan dalam hati kau meremehkan mereka, hanya karena aku yang bicara maka kau pura-pura rendah hati? Aku tidak percaya dengan semua omonganmu itu, oleh karena itu sebagai hukuman kau harus menjadi calon pewaris agar kau merasakan pahitnya ketiga ujian yang aku berikan,” kata sang kakek dengan tegas dan mata yang menatap Manik dengan dingin seperti merasa terhina dengan semua kelakuan cucunya itu.
Manik yang tidak menyangka akan dihukum seperti itu hanya bisa menganga mulutnya dan bengong seperti orang bodoh.
Sedangkan yang lain karena mereka semua tidak tahu banyak tentang diri Manik, menyangka itu adalah cara sang kakek memberikan hukuman agar sang cucu dipermalukan karena telah membuat sang kakek marah. Banyak diantara mereka yang diam-diam dalam hati menyukuri hukuman yang diberikan sang kakek, mereka berpikir Manik akan menerima pelajarannya dengan sangat pahit sekali. Tapi hanya satu orang saja yang tahu kehebatan Manik sebenarnya, orang itu adalah Datuk Kumis Putih.
“Jadi sekarang aku tetapkan 4 orang yang menjadi calon pewaris ilmu penyirap raga mematikan langkah dan elang penjaga roh. Kalian setuju?”
“Kami setuju!” teriak yang lain.
Tapi Manik yang merasa bersalah dengan semua ini berusaha berkata kepada kakeknya,”Ompung, aku tidak setuju dengan ini, kenapa ompung tidak menghukum aku dengan cara yang lain?”
“Apa maksudmu, anak nakal?”
“Ompung, ujian ini bukan untuk dibuat main-main, aku tahu aku bersalah dan memang pantas untuk dihukum. Aku bersedia dihukum tapi bukan dengan cara begini, lagian..…” belum selesai Manik berkata langsung dipotong sang kakek karena beliau kuatir maksud hatinya gagal.
“Oooohhh… maksudmu kau takut menerima hukuman ini, kau takut malu karena gagal mengikuti ujian atau kau takut ketahuan bahwa kau itu hanya seorang pemuda yang tidak berguna? Malu aku mempunyai cucu yang pengecut seperti kau tidak berani menerima hukuman walau tahu diri bersalah.” kata sang kakek dengan tajam dan pandangan meremehkan.
Melihat hal itu kembali semua mata memandang Manik, tapi kali ini dengan tatapan menghina dan menantang jiwa kependekarannya. Panas juga hati Manik menerima semua ini, maksudnya baik tidak ingin mengganggu kelancaran jalannya upacara penyerahan warisan itu, dia rela mengganti hukuman itu dengan hukuman cambuk seperti yang selalu dilakukan orang tua kepada anaknya yang bersalah besar.
Dengan emosi dia berkata,”Baik ompung, kalau memang hukuman ini yang harus aku jalani aku siap menerimanya.”
Sang kakek senang sekali siasatnya berhasil menjebak semua orang untuk menerima maksud hatinya, tapi dia masih belum puas mengerjai cucunya itu, dia ingin sang cucu benar-benar mengerahkan tenaganya untuk menjalani “hukumannya” itu.
“Hmmmm… apa kata-katamu bisa dipegang Manik ?”
“Pasti ompung, sekali laki-laki berucap seribu kudapun tidak akan mampu menariknya kembali,” tegas Manik berucap.
“Baiklah, kalau kau bisa menyelesaikan ujian ini dengan baik dan sepenuh hatimu berusaha, maka aku akan memaafkan engkau. Tapi jika aku melihat kau tidak sungguh-sungguh menjalani ujian ini maka aku akan memutuskan tali kekeluargaan denganmu, bahkan ibumu tidak aku perkenankan untuk mengakui kau sebagai anaknya!”
Semua yang mendengar hal ini terkejut sekali berubah pucat muka mereka, semuanya merasa bahwa sang kakek tersinggung sekali sehingga marah besar kepada Manik seperti itu. Wajah Manik terlihat putih seperti mayat saking shock mendengar kata-kata sang kakek, dia benar-benar tidak menyangka kelakuannya menyebabkan kakek yang dihormatinya ini sangat marah sampai seperti itu padanya, semua kecemasan hati sebelum ini lenyap terganti dengan kekuatirannya menghadapi kemarahan sang kakek. Peluh membanjir keluar dari lubang pori-porinya, dadanya berdegub kencang, dia harus benar-benar menfokuskan dirinya untuk menghadapi “hukumannya”. Walau perasaannya masih memikirkan anak dan isteri tapi karena sekarang dia sudah mengeluarkan janji seperti itu ditambah lagi ancaman sang kakek, jadi benar-benar harus serius dan mengerahkan segala kemampuannya.
Sang kakek yang berhasil membuat cucunya terpojok merasa gembira sekali, dia tahu manusia manapun yang bila dipojokan sampai sedemikian rupa akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk melawan keadaan. Tapi dia ingin membuat ujian yang diadakan berlangsung dengan hebat dan tidak akan terlupakan oleh semua orang karena itu dia juga berusaha memotivasi cucunya yang lain supaya mengerahkan segenap kemampuan mereka.
“Dan kalian, Sutan, Tombak dan Pane, aku ingin kalian juga mengerahkan segala kemampuan kalian, jangan kalian berani kalah dari Manik. Dia pasti akan mengerahkan semua kemampuannya untuk melaksanakan hukumannya dengan baik. Kalian yang melakukan hal ini karena memang pilihan orang-orang yang mempercayai kalian buktikan kepada mereka bahwa kalianlah yang terbaik. Jangan buat aku kecewa dan malu jika Manik sampai menang, dia melakukan ini karena hukuman sedangkan kalian karena terpilih. Ingat itu baik-baik!” tegas Datuk Kumis Putih dengan garang.
Ketiga calon yang lain segera berkobar dadanya mendengar perkataan sang kakek, mereka bertekat untuk memberikan yang terbaik dan tidak akan kalah terhadap Manik. Mereka merasa pasti bisa mengalahkan Manik yang tidak punya kelebihan apapun, mereka menganggap enteng Manik dan hanya memikirkan bagaimana mengalahkan salah satu diantara mereka saja. Mereka tidak tahu bahwa lawan terberat mereka sebenarnya adalah pemuda ini, yang selalu menyembunyikan kehebatan dirinya di mata orang lain sesuai pesan gurunya.
“Baik, ompung, kami pasti akan mengerahkan segenap kemampuan kami agar tidak mengecewakan ompung dan saudara yang lain!” sahut Sutan mewakili yang lain.
Dia senang sekali bahwa kali ini ujian yang dia berikan akan berlangsung dengan meriah sekali karena dia telah mendapatkan calon-calon yang hebat untuk membuktikan siapa yang pantas menerima warisan dari dirinya. Karena sudah saatnya makan siang, sang kakek membubarkan mereka semua untuk istirahat, besok dimulainya ujian dari pagi sampai malam dan berlangsung selama 2 hari. Jadi mereka harus siapkan diri mereka dengan baik supaya ujian besok bisa berlangsung dengan lancar.
Manik yang masih kebingungan dan kuatir dengan hukumannya tidak habis mengerti kenapa dia bisa tertimpa sial seperti ini. Dan saudara-saudaranya yang lain mengolok-olok dia dan orang tuanya memarahi karena kelakuan yang membuat sang sepuh marah besar. Walaupun hatinya masih resah dengan perasaan tidak enak memikirkan anak dan isterinya, tapi sebagai seorang laki-laki yang sudah mengeluarkan janjinya maka dia harus melakukannya dengan segenap kemampuannya. Dia sadar harus berkosentrasi penuh dan mempersiapkan dirinya diantaranya harus bersemedi, melatih gerak tangan dan kaki.
Sementara semua menyerbu ruang makan, terlihat sang kakek belum beranjak dari tempat duduknya tadi dan beliau ditemani oleh salah seorang teman sejatinya sedari kecil, Benteng Simbolon. Mereka terlibat percakapan dengan serius sekali walau wajah mereka berdua terlihat selalu tersenyum.
“Bang Kumis, aku tahu kau merencanakan sesuatu dengan pencalonan seperti tadi itu. Aku tahu sebenarnya kau tidak dalam kondisi ingin menghukum cucumu, jadi ceritakan padaku apa yang ada di benakmu itu dan jangan berdusta karena aku tahu siapa kau ini?”
“Benteng, kamu memang seperti cacing dalam perutku saja, tidak ada yang lolos dari pengamatan mata licikmu itu?” sahut Datuk Kumis Putih sambil tersenyum.
“Karena aku merasa aneh saja, kau yang tidak pernah perduli pada banyak peradatan tiba-tiba bisa marah seperti itu mana mau putuskan hubungan keluarga lagi. Bisa terkencing-kencing takut cucu kau itu kalau dia sampai kalah, aku tahu kau mau tekan dia supaya keluarkan seluruh kemampuannya. Apa sedemikian hebatkah dirinya sehingga perlu kau melakukan semua ini agar dia bisa ikut ujian yang kau berikan ?”
“Kau tahu Benteng, cucuku yang satu itu murid kesayangan dari sahabat lamaku. Kau pernah dengar seorang tua yang dijuluki Kakek Penghisap Darah ?”
“Jangan kau katakan bahwa cucumu itu muridnya?” kata Benteng dengan tercengang.
“Hahahaha… sekarang kau mengerti kenapa aku memaksa dia ikut ujian ini ? Kau tahu ini satu rahasia lagi yang mau kukatakan padamu, cucuku itu di dunia persilatan dijuluki Malaikat Penghisap Darah,” kata sang kakek dengan bangga.
“Hah… dari mana kau tahu bahwa Malaikat Penghisap Darah itu adalah cucumu, selama ini tidak ada satupun orang yang pernah melihat wajah aslinya. Seluruh kepalanya ditutupi kain putih bahkan matanya saja ditutupi kain kasat, bagaimana kau tahu dia adalah pendekar pilih tanding itu?” kata Benteng bingung.
“Memang aku tidak tahu pasti, tapi aku sangat yakin bahwa cucuku itulah Malaikat Penghisap Darah. Tadi aku sudah uji sedikit kemampuannya dan kau tahu dia lulus dengan baik. Kau lihat saja besok saat dia ujian kedua dan ketiga, baru kau sadar siapa cucuku itu sebenarnya,” kata sang kakek tersenyum senang.
“Apa kau berharap dia yang akan menerima warisan darimu ? Bukannya itu malah melanggar aturan yang ada ? Bagaimana kau akan atasi hal ini ? Aku tahu kau bilang dasarnya dari sejarah yang tertulis di daun lontar yang kau punya, tapi apa itu bisa diterima oleh cucumu kelak?”
“Hehehe… Benteng, aku yakin beberapa dari cucuku sekarang pasti sedang pergi mencari daun lontar itu, untuk memastikan perkataanku tadi. Bagiku hal itu lebih baik lagi karena memang begitulah kenyataan yang tercatat di sejarah, dan aku yakin mereka tidak akan berani mencuri untuk menghapus kebenaran yang tertera di daun lontar itu.”
“Kenapa?”
“Karena aku sudah meletakkan penjaga di ruangan itu dan penjaga khusus daun lontar, tidak sembarangan orang yang bisa mengalahkan para penjaga itu. Kalaupun kalah, maka aku akan segera tahu.”
“Tapi terlepas dari itu semua sebenarnya ujian yang aku laksanakan itu hanya sekedar melihat kemampuan para cucuku saja. Ujian yang benar-benar adalah ketika ilmu dan elang itu memilih sendiri tuannya, bahkan akupun tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika mereka sudah menetapkan majikan mereka yang baru.”
“Hmmm jadi begitu, yah kita lihat saja nanti bagaimana jadinya, mudah-mudahan semua bisa berjalan lancar.”
“Yah sudah, hayo kita makan, aku sudah lapar. Ah… aku tidak sabar lagi menunggu besok, pasti sangat menarik.”
Maka berlalulah mereka ke ruangan makan, dan benar apa yang dikatakan sang kakek, beberapa dari cucunya pergi ke ruang antic belakang untuk mencari daun lontar itu. Mereka hanya bisa melihatnya dari luar lemari kaca, dan ketika ada yang hendak menyentuhnya, tangannya langsung kebakar, sehingga yang lain tidak ada yang berani menyentuhnya lagi.
Dan hari itu berlalu dengan berbagai hal yang berkecamuk di benak masing-masing orang, sedangkan yang hendak ujian besok mempersiapkan diri mereka agar bisa tampil dengan membanggakan.