Jilid VIII
Part II
Terdesak dengan keadaan, rombongan Lukman dan Malik segera berupaya mencari jejak ke mana perginya tabib itu, dikarenakan kuda yang dimiliki sang tabib sangat menyolok sekali warna putihnya sehingga orang yang bertemu di jalan ingat akan kuda putih itu. Dan mereka dengan cepat bisa mengikuti jejak sang tabib, pernah sekali hampir mereka bisa menemui sang tabib, tapi kembali dia menghilang dengan menggunakan penyamarannya yang hebat itu. Kali ini sang tabib merubah warna kudanya menjadi abu-abu dan dia merubah diri menjadi seorang gadis yang berusia 30 tahunan yang mempunyai wajah biasa saja, sehingga orang bisa cepat melupakan wajah yang tidak ada istimewanya itu.
Sudah hampir seminggu mereka mengejar sang tabib masih belum ketemu juga sampai di suatu malam di pinggiran hutan, mereka sedang melepaskan lelah setelah berkuda sekian lama untuk mencari sang tabib yang masih belum ditemui itu. Mereka berbincang-bincang mengenai perangai sang tabib yang menurut mereka sangat aneh dan belagak sekali mentang-mentang mau dimintai tolong. Dari pembicaraan yang mengenai sang tabib, entah bagaimana tiba-tiba mereka teringat akan musuh mereka dan membicarakannnya.
Terdengar pandeka Konek bertanya,” Aku merasa heran sekali kenapa waktu kita meninggalkan nagari itu sampai saat ini mereka tidak mengejar kita? Padahal kita sama-sama tahu mereka mendendam sekali pada tuan muda Lukman, biasanya mereka pasti menggunakan segala macam racun untuk mengerjai kita. Tapi anehnya selama hampir satu minggu ini kita berjalan tidak sekalipun kita menemui niat jahat mereka. Aku sudah berjaga-jaga takutnya mereka mancido (membokong) kita dari belakang, apa kalian tidak merasakan keanehan tersebut?”
“Iya, benar sekali kakek, aku merasakan hal yang sama karena biasanya sasaran mereka adalah aku. Terbukti waktu kita menemui tabib itu, jika tidak pasti aku sudah mati karena racun mereka. Tapi entah kenapa aku belum bisa menerima kalau bukan tabib itu yang meracuni aku, terbukti sejak dia menghilang kita semua aman-aman saja tidak ada yang kena racun satu orangpun juga dalam rombongan kita. Aku mulai berpikir apa bukan tabib itu merupakan orang mereka yang sengaja berbuat begitu supaya bisa masuk ke benteng kita dengan alasan mau mengobati ibu kami?”
“Entahlah tuan muda, aku selalu berfirasat tabib itu bukanlah orang jahat, memang dia nyentrik dan seenaknya sendiri mungkin karena dia mengerti kemampuannya sehingga menjadi bertingkah seperti itu. Tapi kalau dia berniat jahat pada kita, aku rasa tidak karena jika dia mau menganiaya kita mudah sekali baginya terutama tuan muda Lukman yang memang merupakan sasaran orang dari perguruan Merak Hitam. Aku tetap merasa ada sesuatu yang ganjil dari semua ini dan aku masih belum menangkap keganjilan itu lebih lanjut,’ kata pandeka Tangan Siluman.
“Apa kalian merasa tidak selama seminggu ini, kita mengejar sang tabib tidak sekalipun kita merasa ada ancaman bahaya yang mengintai kita bahkan seolah-olah ada yang melindungi kita. Pernah suatu malam aku terbangun tiba-tiba tapi aku tidak tahu apa penyebabnya, hanya merasa mendengar sesuatu yang halus sekali tapi entah apa itu. Saat itu aku berpikir apakah aku ngelindur atau berhalusinasi, tapi kini setelah kita ngobrol begini aku merasa memang ada sesuatu yang tidak wajar sedang berlangsung di sekitar kita tanpa kita sadari sama sekali.”
“Adik Malik, aku juga merasakan hal yang sama, pernah aku merasa melihat berkelabat bayangan orang tapi ketika aku melihat ke arah itu tidak terlihat apapun, hanya aku melihat pohon ditempat itu berubah dari coklat lama-lama menjadi abu-abu seperti abu kayu yang habis terbakar. Hanya waktu itu aku tidak menyadarinya karena sedang tegang dan berjaga-jaga serangan dari musuh,” kata salah satu dari saudara seperguruan Malik.
“Hmmmm… memang ada yang tidak beres dengan ini semua, oleh karena itu kalian waspadalah mulai sekarang jangan sampai kita celaka di tangan musuh. Apapun yang mencurigakan tolong beritahukan kepada yang lain sehingga kita bisa saling mengingatkan dan berjaga-jaga,” kata Lukman dengan kening yang berkerut.
Dia yang berilmu silat tinggi bahkan lebih tinggi 1 tingkat dari Malik dan kedua kakek pengawalnya tersebut tidak bisa mengetahui jika ada orang lain di sekitar mereka. Berarti ilmu orang tersebut jauh lebih tinggi dari mereka semua, buktinya mereka bisa merasakan kehadirannya tapi tidak bisa mengetahui di mana keberadaannya.
Tiba-tiba mereka mendengar suara ringkikan kuda di kejauhan dan sepertinya kuda tersebut berlari menuju ke arah mereka. Belum sempat Lukman berteriak memperingati rombongannya, sebuah benda putih melesat dengan cepatnya seperti anak panah yang dilepaskan dari busur lewat di samping mereka sehingga mereka hanya merasakan angin yang bertiup sangat kuat sekali di sekitar mereka dan debu berterbangan menutupi pandangan mata mereka. Tapi Kasman yang berdiri dari agak jauh dari benda tersebut dapat melihat dengan jelas bahwa benda itu adalah seekor kuda putih yang terasa kontras dengan gelapnya suasana akibat sudah turunnya sang malam. Langsung dia berteriak-teriak memberitahukan kepada yang lain, mereka bergegas menaiki kuda masing-masing untuk mengejar kuda putih tersebut.
Kuda Lukman dan kuda Malik merupakan kuda-kuda pilihan juga dan keturunan dari kuda-kuda yang langka dan hebat, tetapi dibandingkan dengan kuda putih di depan itu tidak ada artinya sebentar saja mereka kehilangan bayangan kuda putih tersebut, hanya dari jauh mereka mendengar samar-samar derap langkah kaki kuda itu. Penasaran mereka berdua memacu kedua kudanya untuk mengejar kuda putih itu, sehingga sebentar saja mereka meninggalkan rombongan mereka yang hanya menggunakan kuda “biasa” dibandingkan dengan kedua kuda pemuda itu.
Kira-kira hampir sejam kemudian rombongan itu bertemu dengan kedua pemuda yang sedang memeriksa tanah dan pepohonan di sekitar mereka. Mereka berdua sedang sibuk melihat, memegang bahkan mencium udara di sekitar tempat itu, seolah-olah mereka mencari sesuatu.
“Tuan muda Lukman, apa yang terjadi? Apa yang kalian berdua lakukan?”
“Kakek Konek, anda lihat tidak pohon yang di sebelah sana itu?”
Segera mereka melihat arah yang ditunjuk oleh Lukman, mereka melihat pohon itu biasa-biasa saja seperti umumnya pohon. Tapi pandeka Tangan Siluman punya pemikiran lain, jika sampai tuan muda bertanya pasti ada sesuatu pada pohon itu, cepat diarahkan kudanya mendekati pohon tersebut. Setelah mengamati beberapa saat dia melihat pohon itu berubah warna menjadi abu-abu sebesar lingkaran gelas minum teh di bagian tengah pohon. Dia menjulurkan tangannya untuk menyentuh pohon, tapi segera Malik berteriak untuk mencegahnya.
“Jangan sentuh pohon itu kakek, nanti bisa kena racun yang mematikan!”
Kaget pendekar ini mendengar pernyataan Malik, untung dia belum menyentuh pohon itu, kalau tidak bisa mati tanpa tahu sebabnya.
“Tuan muda, kenapa kalian bisa tahu pohon ini mengandung racun?”
“Tadi di kejauhan kami mendengar suara pertarungan dan waktu kami hampir mendekati tempat ini tiba-tiba suara pertarungan itu berhenti dan kami masih mendengar suara seseorang berkata, Berani sekali kalian main racun jahat di sekitarku, nih rasakan racunku, aku ingin lihat apakah kalian sanggup menyembuhkan diri, Bilang pada guru kalian si Merak Hitam kalau dia berani main racun jahat lagi mencelakai orang, aku tidak akan segan-segan lagi membuat dia menyesal belajar ilmu racun. Kemudian terdengar teriakan kesakitan, dari mulut beberapa orang, dan pas kami sampai suasana sudah sunyi seperti tidak pernah terjadi sesuatu di sini. Mereka semua telah pergi dengan cepat sekali, Lukman mengejar ke arah kiri dan aku mengejar ke arah kanan, tidak lama aku mengikuti bayangan orang itu aku mendengar dia berkata, anak muda berhati-hatilah lebih baik segera kau susul sepupumu itu, sebelum dia menjadi mayat pulang ke rumah kalian. Aku sudah tidak bisa melindungi kalian lagi sekarang karena tugasku sudah mendesak sekali harus diselesaikan segera, dan mengenai ibu kalian, ambilah obat ini untuk diberikan kepada beliau, aku sudah mengetahui apa penyebab penyakit ibu kalian dari orang perguruan Merak Hitam, ibu kalian diracuni oleh mereka, dan ini obat penawarnya, mudah-mudahan bisa cepat sembuh.”
“Aku terkejut sekali tiba-tiba ada benda yang melesat dengan cepat sekali ke arahku, cepat aku menangkap benda tersebut, dan di tanganku ada 1 kantong kecil serta di dalamnya ada 6 butir obat berwarna kuning dan berikut kertas cara penggunaannya. Karena menangkap obat itu aku agak tertunda mengikuti bayangan tersebut, jadi aku sudah tidak bisa mengejar lagi. Dari perkataan orang itu aku berkesimpulan semua bentuk aneh di sekitar daerah ini pasti mengandung racun, makanya aku melarang kakek untuk menyentuh pohon tersebut.”
“Tuan muda Lukman, bagaimana dengan dirimu? Apa yang terjadi, tidak dapatkah kau mengejar bayangan yang lari ke arah kiri?” Tanya Pandeka Tangan Siluman.
“Tidak, aku tidak berhasil mengejar mereka, karena ketika aku sudah hampir mendekati mereka, tiba-tiba mereka membalikan badan menyambitkan pisau belati ke arahku, diserang seperti itu buru-buru aku menghindarinya. Walaupun aku tidak bisa mengejar mereka lagi, tapi aku yakin mereka itu orang perguruan Merak Hitam karena aku melihat bendera mereka dipegang oleh salah satu dari mereka. Cepat aku kembali ke sini karena menguatirkan Malik mengejar bayangan ke arah berlawanan itu.”
“Waktu aku sampai di sini aku melihat Malik juga baru sampai, lalu dia menceritakan apa yang terjadi padaku, tapi aku masih tidak mempercayainya. Kami bertengkar dan hampir aku membuang obat itu kalau tidak kebetulan lewat sahabat ayah, Datuak Marindiang, beliau melihat dan memeriksa obat yang ada di tangan Malik, dan beliau mengatakan bahwa benar obat ini obat pemunah segala racun yang merupakan obat andalan dari Tabib Mato Tigo. Dia mengetahui obat ini dari bau dan warna kuningnya yang khas, karena dulu dia pernah minum obat manjur ini ketika dia kena racun jahat juga. Mendengar omongan beliau baru aku mempercayai bahwa obat ini adalah obat manjur.”
“Ke mana perginya Datuak Marindiang sekarang, tuan muda. Aku sudah lama tidak bertemu beliau, ingin sekali berbincang-bincang menukar pengalaman dengan beliau.”
“Ala kakek Konek bilang saja kau mau mengajak dia bertanding ilmu silat lagi kan ? Kau tidak terima kekalahanmu yang dulu bukan ?” sahut Kasman dengan senyum usilnya.
Mendengar perkataan Kasman, pandeka Konek langsung cemberut dan mendelik kepada pemuda yang polos dan nakal itu.
“Setelah memberi penjelasan kepada kami, beliau menanyakan kepada Malik ke mana arah orang yang memberikan obat ini pergi, Malik menunjukan ke arah mana dia pergi dan beliau langsung menyusulnya. Sempat sebelum beliau pergi beliau mengatakan kepada kami untuk mempelajari daerah sekitar sini agar kami bisa mengenali bau khas yang dikeluarkan oleh racun dari Perguruan Merak Hitam agar kelak nanti kami bisa mengantisipasinya.”
“Kenapa beliau mengejar orang itu, apakah beliau sakit?”
“Aku sempat menanyakan hal itu kepada beliau, kata beliau, dia mendengar kabar bahwa orang tersebut adalah murid Tabib Mato Tigo, dan katanya kakek itu selalu membangga-banggakan keahlian pengobatan cucunya yang sudah menyamai dia dalam usia yang muda sekali. Dan juga beliau penasaran sekali apakah wajah nona tersebut secantik kakaknya yang sangat terkenal di kota raja dengan sebutan Dewi Nan Kuniang.”
“Dasar tua bangka mata keranjang tidak bisa melihat rupa cantik nan rupawan, langsung saja mau caliak (lihat,” gerutu pandeka Konek bersungut-sungut.
Mereka semua tertawa mendengar gerutuan tersebut, karena mereka mengetahui Datuak Marindiang merupakan pria setengah tua yang iseng saja, dia tidak akan mengganggu nona-nona cantik dalam arti menjadi “penjahat pemetik bunga”. Beliau memang punya kegemaran aneh suka melihat wajah-wajah yang cantik dan tampan rupawan, lalu melukis wajah mereka untuk menjadi koleksi pribadinya. Dan sebenarnya tidak banyak orang yang menurut beliau tampan dan cantik bahkan Lukman dan Malik yang termasuk kategori tampan saja bagi beliau biasa-biasa saja. Memang sebuah kegemaran yang aneh sekali, tapi hal inilah yang mempertemukan dia dengan ayah Lukman dan menjadi sahabat baik, karena ayah Lukman menurut beliau merupakan termasuk pria yang paling tampan yang pernah ditemuinya.
“Jadi sekarang, kedua tuan muda sudah tahu bagaimana bau khas yang dikeluarkan oleh racun perguruan Merak Hitam?”
“Iya kira-kira begitu uda Randu, ada semacam bau yang khas sekali di setiap racun perguruan Merak Hitam, aku juga mencium bau ini di tubuh ibu ketika aku dekat-dekat beliau,” kata Malik.
“Maksud tuan muda, bau khas yang seperti apa?” kata Randu sambil mengendus-endus di sekitar mereka.
“Aku tidak bisa bilang bau yang seperti apa, kalau kau tidak konsentrasikan pancaindramu memang bau ini tidak akan tercium coba kerahkan ilmu Kijang Mencium Bayangan, pasti kau akan bisa mencium bau yang aku maksudkan.”
Segera kelima saudara seperguruan Malik mengerahkan ilmu tersebut, memang ilmu ini sangat khas sekali karena ilmu ini mengandalkan bau seseorang untuk mengetahui posisi lawan di saat pertandingan melawan musuh yang bisa menggandakan dirinya seperti ilmu Gandakan Roh Setan milik Datuak Kalam Kambang, yang merupakan pimpinan dari perguruan Kalam Kambang dan seorang datuk sesat yang menguasai wilayah Timur dari pusat kerajaan Pagaruyung. Selama ini datuak ini tidak bisa mengganggu pusat kerajaan karena di sekeliling ibukota dijaga ketat oleh pasukan Garuda yang terkenal kedahsyatannya. Bahkan sempat perguruan beliau hampir musnah oleh panglima dan 3 jenderal pasukan Garuda ketika mereka mencoba memasuki ibukota, sejak itu mereka melarikan diri ke Timur dan berdiam di daerah jauh dalam perdalaman hutan.
Ilmu ini juga sudah digunakan oleh Malik dan saudara-saudaranya dalam melacak keberadaan tabib sakti itu tapi memang tabib itu hebat sekali dia mampu menghilangkan bau khas dari tubuhnya sehingga mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan sang tabib sampai sekarang ini.
“Benar sekali tuan muda ada semacam bau khas yang tertinggal di sekitar sini, kalau ini benar cirri khas perguruan Merak Hitam dalam ilmu racun mereka, kita akan bisa mengantisipasinya ke depan nanti,” kata Randu dengan gembira.
Sementara itu kedua kakek tersebut sudah juga bisa mencium bau khas yang dimaksud, hanya Kasman sendiri yang masih belum bisa mencium bau khas yang dimaksud tapi dia tidak berani bilang kepada yang lain takut disangka bodoh dan rendah ilmunya dibandingkan dengan yang lain. Kesombongannya inilah yang nantinya mencelakakan dirinya.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan tuan muda, obat sudah di tangan sebaiknya kita kembali ke rumah untuk memberikan obat ini kepada nyonya berdua,” kata Pandeka Konek.
Lukman terlihat berpikir dari tadi dan tidak banyak berbicara karena sebenarnya dia penasaran sekali kenapa mereka tidak bisa menemui sang tabib, seakan sang tabib merasa mereka tidak pantas bertemu dengannya. Dia sangat penasaran sekali bahkan dia tidak mampu melupakan sorot mata sang tabib yang seakan membetot sukmanya itu. Terbersit di dalam hatinya untuk mengetahui apakah benar sang tabib itu adalah seorang gadis rupawan yang menyamar ataukah itu hanya isu yang sengaja dilontarkan di dunia persilatan agar gadis itu mendapat nama dengan cepat.
Semua menunggu keputusan Lukman sambil memandang wajahnya yang terlihat sedang berpikir keras. Akhirnya dia bicara dengan suara pelan dan jelas terkandung rasa penasaran kepada yang lain.
“Tolong kalian jawab yang jujur, apakah kalian tidak penasaran dengan sang tabib yang misterius itu? Terus terang saja aku merasa terhina sekali kenapa dia tidak mau bertemu dengan kita dan menerima terima kasih kita secara langsung? Sedemikian tidak berharganya terima kasih dari keluarga kita padanya sehingga bahkan dia tidak mau bertemu muka dengan kita dan datang berkunjung ke rumah kita untuk mengobati ibu? Aku ingin sekali melihat wajahnya dan bisa berbicara dengannya untuk menanyakan padanya kenapa dia berbuat begitu pada kita sehingga bisa hilang rasa penasaran di hatiku saat ini, kalau memang kita telah berbuat salah yang tidak kita sengaja aku bersedia meminta maaf padanya,” kata Lukman.
Yang lain mendengar perkataan Lukman memang merasa penasaran sekali kenapa sang tabib seperti itu dengan mereka, apa yang telah mereka perbuat sehingga beliau tidak mau bertemu dengan mereka. Tapi merekapun sadar mereka tetap harus mengantar obat tersebut untuk kedua orang yang sedang menderita kesakitan di rumah.
“Tuan muda Lukman, terus terang saja aku penasaran juga tapi kita harus segera pulang untuk membawa obat tersebut agar nyonya bisa segera bebas dari kesengsaraannya.”
“Iya, uda Lukman kita harus segera kembali untuk bawa obat buat ibu.”
“Kalian benar, kakek Tangan Siluman dan Kasman, kita harus segera kembali demi ibu, tapi kenapa hatiku masih tidak rela melepaskan tabib tersebut seakan sudah di depan mata tapi kita tidak bisa meraihnya. Aku juga ingin meminta obat penawar racun seandainya perguruan Merak Hitam menyerang kita kembali dengan racun, yah minimal petunjuknya agar obat penawar tersebut dapat kita buat sendiri dan diperbanyak untuk dibagikan kepada anggota kita semua.”
“Benar yang kau katakan Lukman, aku juga berpikiran sama denganmu, mungkin lebih baik kita pecah menjadi 2 rombongan, 1 rombongan mengantar obat buat ibu dan 1 rombongan lagi menyusul ke mana tabib itu pergi. Bagaimana menurut kalian usulku ini?”
Belum sempat Lukman menjawab usul Malik, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi letusan di udara, dan terlihat di langit warna hijau pekat sekali sesaat sebelum buyar ditiup angin, itu tanda pengenal dari perguruan mereka yang menandakan ada anggota mereka yang dalam bahaya.
Melihat hal tersebut semua orang buru-buru naik ke kuda mereka dan melupakan masalah sang tabib karena tanda bahaya yang dilepaskan itu tanda bahaya tingkat 3 yang artinya benar-benar dalam keadaan yang berbahaya dan genting sekali.
“Cepat, kita menuju ke Utara, sepertinya ada teman kita yang dalam bahaya, mudah-mudahan tidak jauh dari sini,” kata Lukman sambil dengan cepat mengarahkan kudanya.
Untungnya malam itu langit sangat terang benderang, bulan bersinar bulat penuh dan banyak bintang yang berserakan di pekatnya malam sehingga seperti lampu yang redup menyinari bumi. Tapi bagi kaum pendekar pengelana dengan penerangan seperti ini sudah cukup membantu bagi penglihatan mereka akan sekelilingnya, mengingat mereka mempunyai mata yang berbeda dengan manusia biasa, karena semakin tinggi tenaga dalam seseorang akan semakin kuat daya penglihatan orang tersebut.
Tidak lama mereka mendengarkan suara pertempuran yang seru sekali di depan mereka, semakin cepat mereka memacu kudanya, Lukman dan Malik segera mendahului sampai. Terlihat suasana di sebuah lapangan pertempuran tidak seimbang, adik kedua Lukman, Darman sedang dikeroyok tokoh kelima dan keenam perguruan Merak Hitam yaitu Siluman Merak Rawa dan Siluman Merak Pohon, dan yang lain 8 orang saudara seperguruan Malik sedang dikeroyok oleh 25 orang anggota Merak Hitam. Dan terlihat 2 tubuh yang tergeletak di tanah yaitu pengawal Rangkayo Padang Jati, Pandeka Tendangan Petir dan Pandeka Pedang Pamuncak, mereka terlihat seperti sudah tidak bernafas dan wajah mereka sudah berubah menjadi menghitam itu tanda mereka keracunan hebat.
Tanpa pikir panjang lagi segera Lukman menyerbu untuk membantu adiknya yang sudah dalam keadaan payah sekali dan Malik memburu kedua pengawal tersebut sambil mengeluarkan 2 butir obat penawar racun yang diberikan oleh tabib itu, yang penting menyelamatkan jiwa orang yang ada di depan mata dulu, dia melupakan bahwa mencari obat pemberian tabib itu susah sekali sekarang dia memberikan kepada orang lain tanpa pikir panjang. Sungguh benar-benar seorang pemuda yang mempunyai hati yang baik sekali jarang ada orang yang seperti dia, apalagi obat itu berguna untuk orang yang paling disayanginya tapi berhubung ada orang lain yang membutuhkan dia memberikannya.
Malik membantu menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh kedua pengawal tersebut, sedangkan Lukman begitu terjun ke gelanggang segera mengeluarkan ilmu andalannya yaitu Ilmu Walet Menerjang Badai.
“Darman, aku datang membantumu!”
Ketiga orang yang sedang terlibat perkelahian seru itu kaget mendengar perkataan itu, Kedua Siluman Merak itu merasakan ada angin dahsyat yang bergerak tajam menuju mereka, cepat Siluman Merak Rawa mengangkat kedua tangannya untuk menangkis serangan dari Lukman. Sedangkan Siluman Merak Pohon tetap dalam posisi menyerang Darman, tadinya mereka sudah senang sekali sudah hampir bisa menangkap dan menyandera anak kedua dari musuh perguruan mereka. Tapi gangguan datang terpaksa mereka membagi kekuatan, tapi siluman Merak Pohon tetap yakin dia dapat meringkus pemuda yang jadi lawannya.
Dengan pukulan beracun Merak Menebarkan Benih, dia melompat ke atas dengan posisi kaki yang merapat, dia melontarkan puluhan jarum beracun kea rah Darman, dia yakin sekali jarum itu akan mengenai pemuda lawannya. Setelah itu dibarengi dengan kecepatan yang tinggi dia berbalik arah dan mempersiapkan kedua tangannya membentuk mulut merak dengan ilmu Merak Mematuk Mangsa menyerang ke arah Lukman yang sedang mendesak saudaranya itu. Tapi yang menjadi pemikirannya bukanlah yang dikehendaki oleh sang Ilahi, di saat keadaan Darman sedang genting, tiba-tiba dari arah belakang Darman terlontar sebuah batu hitam berbentuk persegi panjang sebesar batu bata dan begitu batu itu melayang ke arah jarum-jarum tersebut, semua jarum-jarum yang tadinya bergerak menyerang Darman tiba-tiba seperti tersedot oleh batu tersebut. Jarum-jarum itu semuanya melengket di batu hitam tanpa tersisa, dan selamatlah Darman.
Ternyata batu hitam itu merupakan batu sembrani (magnet) yang bisa menyedot semua benda yang terbuat dari besi. Darman menoleh ke belakangnya untuk melihat siapa orang yang telah membantunya itu, dia melihat seseorang bercadar dan tertutup dengan jubah besar berwarna lembayung yang indah sekali sedang duduk di atas seekor kuda putih. Lalu orang itu menggerakan tangannya dan batu hitam yang jatuh di tanah tersebut bergerak meluncur ke arahnya dengan cepat sekali. Terlihat pada batu itu terlilit seuntas tali panjang yang bisa digunakan untuk menariknya kembali kepada sang pemilik. Dan batu hitam itu disimpan di kantong yang ada di sisi kakinya, dan dari kantong itu dia mengeluarkan sebuah botol berbentuk seperti buah alpukat.
Dia melemparkan botol itu ke arah Darman sambil menghentakan kakinya ke perut kuda putih itu dan kuda putih itu segera berlari cepat seperti angin menjauhi arena perkelahian seru itu. Terdengar kata-katanya kepada Darman,”Anak muda, kau ambilah botol ini lalu berikan kepada teman-temanmu untuk diminum agar semua racun yang ada dalam tubuh mereka bisa bersih segera, dan berikan juga obat ini kepada ibumu yang sedang sakit karena keracunan. Katakan kepada saudaramu, jangan lagi mengikuti aku dengan alasan apapun juga, di dalam botol ini ada 500 butir obat penawar racun yang bisa kalian gunakan seandainya kalian keracunan berat nantinya. Dan kau juga sekarang segera minum obat penawar itu, jangan sampai terlambat.”
Darman menerima botol yang dilemparkan kepadanya itu, ingin dia mengucapkan terima kasih kepada penunggang kuda putih itu tapi mereka sudah tidak terlihat lagi seakan hanya dalam mimpi saja ada orang yang menolongnya kalau dia tidak memegang botol obat ini. Dia mengalihkan pandangannya ke arah pertempuran seru di depannya, dia melihat sekarang Lukman berhadapan dengan Siluman Merak Rawa dan Malik dengan Siluman Merak Pohon, kedua pengawalnya terlihat sedang bersila memulihkan kondisi tubuh mereka, 8 orang yang lain sudah menjadi bulan-bulanan dari orang perguruan Merak Hitam, cepat dia berlari ke arah pertempuran itu sambil membuka tutup botol dan mengeluarkan 1 butir obat berwarna kuning untuk ditelannya, tidak sedikitpun dia terpikir untuk meragukan maksud orang tersebut. Karena kalau oang itu benar-benar hendak mencelakainya tidak bakal orang itu berbicara seperti itu padanya, berarti orang itu kenal dengan saudaranya, hanya dia belum tahu saudaranya yang mana, setelah itu dia memasukan botol obat ke dalam bajunya. Begitu Darman datang membantu keadaan menjadi semakin ramai, dengan serangan-serangan gencar dan berbahaya Darman berusaha menyelamatkan teman-temannya dari barisan perguruan Merak Hitam itu.
Sementara itu pertempuran Lukman dan Siluman Merak Rawa sudah mencapai titik tertinggi, keduanya terlihat sedang mempersiapkan diri dengan ilmu pemuncak mereka. Dari beberapa kali bentrokan tangan tadi, Lukman sudah bisa mengukur tenaga dalam Siluman Merak Rawa masih kalah setingkat dari dirinya, tapi dia tidak bisa lengah juga karena semua ilmu dari siluman itu mengandung racun yang berbahaya dan mematikan jika kena anggota tubuh. Lukman mengerahkan ilmu Walet Menerjang Badai tingkat ke 9 yaitu Walet Memapas Angin, dengan mengandalkan ilmu peringan tubuh tingkat tinggi dia memainkan ilmu dahsyat ini, ilmu ini tidak mengeluarkan suara apapun dan tidak terasakan adanya angin yang bergerak di sekitarnya.
Siluman Merak Rawa tahu dia dalam keadaan berbahaya pemuda lawannya ini lebih hebat lagi dari pemuda sebelumnya, dia melihat ada kemiripan diantara kedua pemuda tersebut pasti mereka kakak beradik tapi pemuda yang pertama jauh lebih tampan dari yang ini. Dia merapalkan ilmu tertingginya ilmu Bayangan Merak Menarik Arwah, ini merupakan ilmu yang paling hebat dari perguruannya, walaupun dia baru sampai tingkat 4 tapi dia sudah susah dicari tandingannya. Dia tidak tahu bahwa musuh yang paling dicari kakak pertamanya adalah pemuda ini, karena selama ini dia dan Merak Pohon selalu harus menemani guru mereka bertualang ke tanah Jawa. Sejak guru mereka meninggal dunia beberapa bulan yang lalu, mereka dipanggil oleh kakak seperguruan mereka untuk kembali ke perguruan dan membantu sang kakak untuk membalas dendam.
Terlihat keduanya sedang mempersiapkan diri untuk memuntahkan ilmu tertinggi mereka kepada lawan. Sementara itu Malik juga sudah mengimbangi permainan Merak Pohon, terlihat memang Malik kalah setengah tingkat dari musuhnya tapi untungnya dibantu dengan ilmu peringan tubuhnya yang bagus dia masih bisa menapaki semua serangan musuh dengan baik. Dengan ilmu Ula Kuniang Mengejar Bayangan dia menyerang dan bertahan melawan Merak Pohon, dan musuhnya sudah mulai hilang kesabarannya setelah melihat situasi bisa berubah sewaktu-waktu, segera dia memainkan ilmu Bayangan Merak Menarik Arwah tingkat 3 agar bisa cepat mengalahkan musuhnya.
Merak Pohon kosentrasi mempersiapkan diri dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke arah jari-jari tangannya sambil menahan gempuran dari Malik yang bergerak bagaikan ular menyusup di setiap celah lowong diantara serangannya. Pertandingan kedua orang ini berlangsung seru, tiba-tiba terdengar jeritan kesakitan dari arah pertempuran Darman dengan Barisan Merak Hitam, ternyata salah seorang dari teman rombongan Darman kena pukulan akibat sebelumnya dia sudah kena racun sehingga tenaga dalamnya berkurang dan menyebabkan gerakannya menjadi lambat untuk menghindari serangan. Keadaan pertempuran Darman dan teman-temannya melawan Barisan Merak Hitam terlihat tetap tidak membaik, karena rata-rata mereka semua sudah kepayahan akibat racun yang disebarkan oleh orang perguruan Merak Hitam. Jika kondisi mereka tidak keracunan mungkin mereka masih bisa bertahan dan tidak seperti sekarang sewaktu-waktu akan ambruk.
Malik masih sempat melihat ke arah teriakan itu dan hampir saja kena pukulan dari Merak Pohon akibat kelengahannya itu, sedangkan Lukman tidak berani menoleh ke arah jeritan itu karena dia sudah melihat lawannya sudah siap melontarkan pukulan mematikan ke arahnya. Dalam keadaan yang semakin genting tiba-tiba mereka semua mendengarkan derap kaki kuda yang banyak sekali menuju ke lapangan itu. Lukman dan Malik yang tahu itu adalah rombongan mereka menjadi lebih lega dan tenang karena tahu situasi sebentar lagi akan berbalik, sedangkan dari pihak musuh mulai menyadari keadaan bisa memburuk jika yang datang adalah musuh. Sementara itu kedua pengawal Darman yang sudah hampir selesai mengobati diri menyadari akan kedatangan banyak orang, mereka cemas sekali takut musuh yang datang sedangkan mereka dalam masa kritis mengobati luka mereka. Darman dan teman-temannya yang sedang bertempur di sisi lainnya tidak memperhatikan hal itu karena mereka sedang sibuk kosentrasi untuk melayani serangan yang sangat teratur dari Barisan Merak Hitam jika lengah sedikit nyawa taruhannya.
Seperti dugaan Lukman dan Malik memang yang sedang datang mendekat itu adalah rombongan mereka. Begitu sampai ke lapangan itu mereka semua bergerak ke lapangan untuk membantu teman-teman mereka, Pandeka Tangan Siluman dan Pandeka Konek berpencaran membantu Lukman dan Malik, sedangkan yang lain langsung terjun ke pertempuran Darman. Melihat kedatangan teman-temannya, mereka menjadi semangat sekali dan pertempuran menjadi tambah seru.
Pandeka Konek yang hendak membantu Lukman segera dicegahnya, “Kakek, cepat kau tolong Darman, aku masih bisa atasi mereka. Darman dan yang lain keracunan hebat takutnya mereka tidak bisa ditolong lagi kalau terlambat!”
Setelah melihat Lukman tidak bakalan kalah dari lawannya, cepat Pandeka Konek bergerak ke arah pertempuran Darman dan teman-temannya. Dia melihat pertempuran tersebut masih berlangsung alot sekali, Barisan Merak Hitam itu sungguh sebuah barisan kerjasama tim yang sangat kompak sekali, setiap orang tahu posisi masing-masing dan secara bergantian memainkan ilmu menyerang dan bertahannya dengan sangat baik sekali. Sedangkan di pihak mereka, keadaan Darman dan 8 orang temannya dalam keadaan payah sekali di seluruh tubuh mereka sudah banyak luka dan sewaktu-waktu bisa ambruk tapi setelah ditambah dengan Kasman dan 5 orang saudara perguruan Malik, keadaan mulai membaik walau tetap tidak bisa mengalahkan barisan tersebut.
Barisan Merak Hitam ini dimainkan oleh 25 orang dengan sangat baik sekali, karena mereka dilatih langsung oleh ketua mereka dengan sangat keras. Mereka seolah-olah menyatu satu dengan yang lainnya, orang lain tidak tahu siapa yang memegang komando dari gerakan barisan yang memang sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga orang lain tidak mengetahuinya kecuali oleh anggotanya sendiri. Sebenarnya kunci rahasia kelemahan barisan ini ada pada si pemegang komando, karena jika orang mengetahui siapa yang mengatur bisa mengincarnya dan mematikan gerakannya, otomatis jika gerakannya mati anggota yang lainpun akan kebingungan untuk menggerakan barisannya. Mereka berjumlah 25 orang merupakan sebuah barisan yang mempunyai jumlah orang yang sangat banyak jadi tidak gampang untuk mengatur gerakan penyerangan dan pertahanan jika mereka tidak ada yang mengepalainya.
Ditambah lagi mereka semua menggunakan baju dan penutup wajah berwarna hitam sehingga susah sekali untuk mengetahui pimpinan mereka. Lawan tidak bisa melihat wajah mereka sehingga mereka dengan leluasa bisa bergerak tanpa kuatir sang pemimpin akan diredam gerakannya. Pandeka Konek yang melihat keadaan ini langsung mengetahui satu-satunya cara adalah menggempur barisan ini dari belakang, jadi menyerang mereka dari dua sisi depan dan belakang. Dia langsung menyerang sisi belakang barisan yang sedang sibuk menggempur Darman dan teman-teman yang lain. Dan ternyata Pandeka Konek kecele dengan dugaannya, barisan ini benar-benar barisan yang tangguh dan hebat sekali, memang mereka dilatih untuk menghadapi saat harus bertempur menyerang kubu Rangkayo Jati yang dikawal oleh banyak orang-orang berilmu tinggi, jadi satu-satunya cara adalah membuat sebuah barisan yang bisa meredam kekuatan pengawal keluarga itu. Begitu tahu mereka diserang dari belakang, mereka langsung merubah gaya serangan tadinya mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam, sekarang mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam Kembar jadi seperti dua orang anak kembar mereka bisa saling bergantian menutupi kanan kiri mengisi kelemahan posisi teman-teman mereka.
Sungguh pemandangan luar biasa, 25 orang bertempur menekan 2 orang pesilat dengan ilmu kelas satu dibantu dengan 14 orang lainnya tanpa mereka sendiri mengalami kesulitan bahkan pihak yang digempur harus berhati-hati beradu tangan dengan mereka karena seluruh tubuh 25 orang ini berlumuran racun yang mematikan. Yang paling parah keadaannya adalah Merak Pohon karena dikeroyok oleh Malik dan Pandeka Tangan Siluman, mereka berdua ingin cepat-cepat menyudahi pertempuran karena mau membantu kelompok Darman yang beberapa orang diantaranya sudah sangat kepayahan akibat racun yang masuk ke tubuh mereka.
Merak Pohon menyadari keadaannya yang berbahaya itu tapi dia tidak mau menyerah kalah, dia mengeluarkan senjata andalannya pisau terbang Merak Hitam, di tangannya pisau ini bergerak seakan terbang mencari mangsanya. Begitu dia mengeluarkan 2 pisau dari dalam bajunya, segera tercium bau amis yang sangat menyengat hidung, Malik dan Pandeka Tangan Siluman mengetahui bahwa senjata ini dilumuri dengan racun yang sangat berbahaya sekali, mereka harus berhati-hati agar tidak tergores pisau belati beracun itu.
Sedangkan keadaan Lukman sudah di atas angin, Merak Rawa sudah mulai susah menahan gerakan Lukman, terpaksa dia mengeluarkan juga senjata andalannya sabuk yang terbuat dari bulu-bulu merak yang sudah direndam dengan obat-obat dan racun ganas supaya bisa menjadi senjata. Melihat hal ini Lukman tidak mau kalah mengeluarkan senjatanya yaitu pedang Walet Perak, pedang ini warisan dari gurunya, khusus dibuat dari perak murni yang mempunyai kadar murninya sangat tinggi hampir mencapai 100% dan dicampur dengan baja putih yang jarang sekali ditemukan jadi dapat dibayangkan kehebatannya. Pedang ini sangatlah tajam sekali dan belum ada yang bisa menghancurkannya, pedang yang bisa mengimbangi ketenarannya adalah pedang Batu Angin milik Orang Gaek Indak Banamo (Orang tua tidak bernama) dan pedang Gadang Barek (Besar berat) pusaka perguruan Jawi Putiah (sapi putih). Konon kabarnya pedang ini hanya bisa dihancurkan oleh pedang pusaka Naga Hijau yang dipegang oleh raja Adtyawarman dan Pedang legenda Damar Pelangi yang konon tidak jelas keberadaannya.
Benar-benar pertempuran tingkat tinggi, Lukman mengerahkan ilmu pedang Walet Peraknya untuk menandingi Sabuk Merak Hitam milik Merak Rawa. Pedang di tangan Lukman bergerak-gerak cepat sekali seperti burung walet menyambar-nyambar ke segala arah tubuh Merak Rawa, sedangkan sabuk Merak Rawa tidak mau ketinggalan bergerak mengimbangi kekuatan pedang Walet Perak. Merak Rawa selalu berusaha menjaga jarak jangkauan sabuknya yang panjang itu, sedangkan Lukman lebih menyukai pertempuran jarak pendek. Untuk mengatasi hal ini keduanya berusaha menggunakan cara apapun untuk saling mengalahkan. Melihat hal ini Lukman merubah strategi permainan silatnya, mulai dia menggunakan pedangnya untuk memapas sabuk tersebut, dari beberapa kali benturan, pedang itu berhasil memotong sabuk itu hampir sepertiga panjangnya. Merak Rawa mulai merasa gelagat tidak baik berpihak pada dia dan rombongannya, sambil terus memainkan sabuknya sempat dia melirik ke arah dua pertempuran lainnya.
Dia melihat adik seperguruannya sedang terdesak hebat dikeroyok 2 orang tinggal tunggu saatnya saja untuk binasa, sedangkan barisan Merak Hitamnya sedang diobrak abrik oleh 7 orang dengan tingkat kepandaian yang lebih tinggi dari musuh sebelumnya, walaupun belum terlihat mereka bakalan kalah. Dan terlihat di sudut kanan lapangan 8 orang lawan awal dari barisan Merak Hitam sedang bersila memulihkan kondisi mereka yang sudah terluka dan keracunan. Hal ini sangat tidak menguntungkan sekali bagi pihaknya, dia harus segera menyingkir dari sini. Mulailah akal liciknya bekerja, perlahan-lahan dia menggeser pertempurannya mendekati saudaranya, dan menggunakan ilmu bicara jarak jauh dia menyuruh saudaranya mulai bergeser ke arah barisan merak hitam serta dia juga menyuruh pimpinan barisan menyiapkan anak buahnya semua untuk kabur dari gelanggang dengan menggunakan bom racun buatan mereka.
Duuuuaaarrrrr, terdengar ledakan keras sekali dari tengah pertempuran dari barisan Merak Hitam, ternyata salah satu dari anggota barisan menjatuhkan bom untuk mengalihkan perhatian Malik dan Pandeka Tangan Siluman yang telah mendesak Merak Pohon yang sudah terluka. Ketika semua orang dikagetkan dengan bunyi ledakan itu, Merak Rawa mengambil kesempatan itu lari menuju ke saudaranya dan menangkap tangannya untuk dibawa berlari dengan cepat sekali. Semua orang selain dari perguruan Merak Hitam buru-buru menjauhi asap beracun yang menyelimuti arena pertempuran, cepat mereka menarik saudara mereka yang terluka agar tidak terhirup asap itu. Terdengar ledakan kedua, dan asap semakin tebal mengitari arena, tambah jauh rombongan Lukman dan Darman berlari meninggalkan tempat itu.
Setelah mereka cukup jauh dari arena pertempuran barulah mereka berhenti berlari, sambil meletakkan saudara-saudara mereka yang terluka di tanah. Mereka melupakan kuda-kuda mereka yang tertambat di dekat pertempuran tadi, karena mereka hanya memikirkan menyelamatkan diri dan teman-teman dari bahaya keracunan akibat bom asap tersebut.
“Kurang ajar, memang bangsat licik, coba mereka tidak main bom asap itu, tidak nanti mereka bisa meloloskan diri.” Sumpah serapah Pandeka Konek.
“Sudahlah kakek, sekarang yang penting kita obati dulu teman-teman kita” sahut Darman sambil membagi-bagikan obat yang telah dia terima dari orang misterius tadi.
“Darman, darimana kau dapat obat ini?”Tanya Malik.
“Tadi ketika aku sudah hampir kena jarum Merak Hitam, tiba-tiba datang seseorang yang berjubah lembayung yang sangat indah sekali menolong aku dan memberikan obat ini.”
“Jangan-jangan dia datang membantu kita?”
“Aku yakin sekali, Man, sepertinya memang dia yang membantu kita.”
“Ini sudah yang ke berapa kalinya dia membantu kita, berarti dia tidak seperti yang kau curigai selama ini, Lukman.”
“Aku tahu, kakek Konek, hanya aku penasaran saja kenapa dia tidak mau bertemu muka dengan kita?”
“Kalau aku boleh bertanya, emangnya siapa yang kalian bicarakan dari tadi?” Tanya Darman kebingungan.
“Oya, kenapa kalian bisa sampai di sini, bertemu dengan musuh?” Tanya Lukman.
“Kami mendengar kabar Datuak Kaba Angin bahwa Dewi Tangan Dingin sedang menuju gunung Tandikat untuk mencari obat, makanya kami menyusul ke sini, baru kami sampai, tiba-tiba kami diserang mereka dengan cara curang sekali, makanya kedua paman sampai bisa diracuni mereka. Untung kalian keburu datang kalau tidak kami semua sudah mati dibunuh mereka.”
“Tapi kalau melihat cara mereka menyerang sepertinya mereka tidak ingin membunuh kalian, karena kalau mereka benar-benar hendak membunuh kalian dari tadi pasti kalian sudah mati oleh racun Merak Hitam mereka yang berbahaya itu. Aku rasa mereka ingin menyandera kalian untuk tujuan yang tidak baik.”
“Benar juga yang uda Lukman katakan, sepertinya memang begitu rencana mereka, ketika semburan racun mereka yang dihadang oleh paman Jamin (Pandeka Tendangan Petir) dan paman Dasrun (Pandeka Pedang Pamuncak) tidak sampai merenggut nyawa mereka langsung biasanya sehebat apapun ilmu tenaga dalam orang bila sudah berhadapan dengan racun Merak Hitam tidak ada yang bisa selamat, pasti hanya bisa bertahan sebentar saja sebelum kehilangan kesadaran atau nyawa.”
Darman telah selesai membagikan obat kepada yang terluka kena racun, dan memasukan botol obat tersebut ke dalam bajunya lagi. Belum sempat dia membuka mulut untuk menanyakan sampai di mana pencarian mereka akan obat untuk ibu mereka, tiba-tiba terdengar gemuruh suara derap kuda yang ramai sekali di belakang mereka dari arah pertempuran tadi. Buru-buru mereka semua menyingkir dan mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Terlihat sekumpulan debu berterbangan mengiringi kuda-kuda yang berlari ke arah mereka yang dipimpin oleh seekor kuda putih yang berlari tenang ke arah mereka.
Mereka yang sudah pernah melihat kuda putih ini tahu bahwa bukan musuh yang datang, ketika hampir mendekati tempat mereka, kuda putih itu berhenti berlari dan mengangkat kedua kaki depannya dan meringkik dengan keras seakan memerintahkan kuda lain yang ada di belakangnya untuk berhenti. Dan anehnya semua kuda yang ada di belakangnyapun berhenti berlari bahkan mereka berdiri dengan membentuk sebuah barisan yang teratur sekali. Kuda Putih itu menolehkan kepalanya kepada semua manusia yang sedang memandang dengan melongo takjub melihat semua ini, lalu kuda itu menganggukan kepalanya dan kembali berdiri dengan kedua kaki depannya sebelum dia pergi dengan kecepatan angin meninggalkan mereka semua.
Tidak ada satupun dari manusia yang ada di sana yang tidak terpesona akan kecerdikan dan kehebatan kuda putih itu. Cukup lama mereka dalam keadaan diam diri dan tidak tahu harus berkata apa, keheningan itu dipecahkan oleh suara kuda-kuda yang mendengus dan menggerak-gerakan badannya.
“Kalian lihat tadi ? Apa aku bermimpi seekor kuda mengantarkan kuda kita dan menganggukan kepalanya pada kita?” Tanya Darman dengan masih tidak percaya.
“Memang kuda yang sangat hebat sekali, ingin aku memiliki kuda seperti itu biarpun hanya keturunannya saja. Sang tabib berhasil melatih kudanya dengan luar biasa sekali.”sahut Malik dengan takjub.
Lukman hanya terdiam di tempat dan tidak habis berpikir, kalau kuda putih itu muncul di sini artinya pemiliknya tidak jauh-jauh dari mereka dan masih ada di sekitar mereka untuk melindungi mereka.
Mereka semua terkejut ketika mendengar suara Darman yang sambil merangkapkan kedua tangannya dan membungkukan badannya ke semua arah, “Terima kasih kepada anda yang sudah menolong kami, budi baik ini pasti akan kami balas suatu saat nanti.” Dia menggunakan ilmu Teriakan Gaung Bumi untuk menyampaikan pesan kepada sang penolong mereka yang tidak tahu ada di mana.
“Tuan muda Darman, kau ini bikin kami terkejut saja.”kata Jamin sambil mengurut-urut dada saking terkejutnya mendengar suara keras yeng bergema tadi.
Tapi Darman diam saja seperti mendengarkan sesuatu, mereka melihat ke arahnya dengan bingung.
“Darman, ada apa ?” Tanya Malik.
“Ssssttt….”
Terlihat beberapa kali Darman mengangguk-anggukan kepalanya tanda menyetujui sesuatu atau mengerti sesuatu, mereka semua menunggu sampai Darman buka suara.
“Baiklah, akan aku laksanakan perintah tabib.”kata Darman dengan keras seperti tadi menggunakan ilmu Teriakan Gaung Bumi.
“ Ada apa Darman, cepat katakan,” kata Lukman tidak sabar.
“Tadi tabib berpesan kepadaku agar obat yang dia berikan itu segera diberikan kepada ibu kita, yang satu ditelan sedangkan yang satu lagi dilarutkan dalam air mandi ibu setelah dia dapat berdiri kembali. Sedangkan yang satu lagi untuk berjaga-jaga seandainya kondisi ibu tidak segera pulih keesokan harinya. Beliau bilang sudah memberikan 6 butir obat itu kepada uda Malik, dan dia tahu 2 butir sudah digunakan untuk mengobati paman, jadi dia menyuruh aku memberikan dua butir lagi kepada uda sebagai ganti obat yang telah ditelan paman.”
“Apalagi yang dikatakan beliau?” Tanya Malik.
“Beliau juga mengatakan agar kalian jangan mengejar beliau lagi, kita disuruh segera balik dengan membawa obat penawar racun ini untuk digunakan bilamana musuh menyerang dengan racun. Dan agar ibu bisa cepat sembuh kembali. Beliau berani jamin ibu akan bisa disembuhkan dengan obat penawar racun yang beliau berikan, jika ibu masih belum sembuh juga mungkin karena racunnya sudah menyebar ke seluruh organ penting dalam tubuh ibu maka kita diharuskan untuk pergi ke nagari Batang Agam menemui Nenek Ubek Sakti untuk meminta daun Selasih Cicak agar dicampur dengan obat dari beliau dan rebus untuk diminumkan. Guna daun ini untuk memulihkan luka akibat racun yang merusak organ tubuh ibu, dan kita harus segera mengobati ibu agar jangan sampai terlambat, karena waktu untuk mengobati ibu hanya tinggal 1½ bln lagi, lewat dari masa itu biarpun Tabib Mato Tigo sendiri yang mengobati tetap saja nyawa ibu bisa tidak tertolong lagi.”
Mendengar penuturan Darman, mereka semua sepakat untuk cepat pulang membawa obat yang dibutuhkan oleh ibu mereka, setelah kondisi yang terluka sudah memadai. Obat yang diberikan oleh sang tabib memang sangat mujarab sekali, sebentar saja mereka semua sudah pulih dari keracunan hanya tinggal luka luar yang sudah mereka obati pula dengan obat yang mereka bawa dari rumah. Setelah semua selesai pengobatannya mereka menaiki kuda mereka dan melarikan kudanya ke arah pulang.
Selama melarikan kuda mereka menuju pulang masing-masing dari mereka tidak lepas dari memikirkan sang tabib yang misterius itu apalagi Lukman dan Malik, mereka masih penasaran terhadap sang tabib yang tidak berhasil mereka temui itu. Baru mereka berjalan sebentar saja mereka menemui rombongan ketiga pencari obat yaitu rombongan yang dipimpin oleh paman mereka, Datuak Samolangik, adik dari ayahnya Malik.
Mereka juga mendengar kabar bahwa tabib yang mereka cari sedang menuju ke daerah Gunung Tadikat, makanya mereka bisa sampai di daerah ini. Kebetulan perjumpaan mereka ini sudah menjelang tengah malam dan mereka semua yang tadi habis bertempur tiba-tiba merasa kelaparan, mengingat mereka tidak sempat untuk makan karena pertempuran itu memakan waktu yang cukup lama. Hal ini bisa saja terjadi karena sekarang mereka dalam situasi aman dan tenang sehingga mereka sudah bisa merasakan perut mereka kosong belum diisi. Mereka mengambil tempat melingkari api unggun yang sudah dibuat sambil membuka perbekalan mereka dan makan dengan lahapnya. Selesai makan, mereka ingin mengaso dan tiduran sejenak setelah tadi mereka bertempur mati-matian melawan musuh dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing silih berganti.
Terlihat Lukman diam membisu saja dari tadi sepertinya sedang memikirkan sesuatu, yang lain tidak berani menganggu. Kemudian dia memandang kepada mereka semua dengan wajah penuh pertimbangan, mereka sudah selesai saling bercerita pengalaman dan istirahatnya, sekarang sudah ingin bergerak untuk melanjutkan perjalanan.
“Kalian pulanglah semua dulu, bawa obat untuk ibu. Aku masih ingin tinggal di sini,”kata Lukman kepada mereka semua.
“Mau apa tuan muda Lukman tetap tinggal di sini? Bukannya tuan ingin cepat-cepat pulang bertemu dengan keluarga?” Tanya Pandeka Konek yang memang paling dekat dengan Lukman sehingga beliau berani bicara terus terang apa saja kepadanya.
“Aku ingin mencari tabib itu untuk menyampaikan maafku karena selalu salah sangka dan terima kasih atas bantuan beliau kepada kita secara langsung.”
“Tapi uda, beliau kan sudah katakan bahwa kita tidak perlu mencari beliau lagi, harus cepat pulang untuk membawa obat untuk ibu.”
“Aku tahu itu Darman, tapi aku tidak bisa menutupi rasa penasaranku akan beliau, kenapa beliau selalu bersembunyi-sembunyi menolong kita dan kenapa beliau tidak mau menemui kita? Apakah karena beliau tersinggung akan perkataanku? Jika benar aku ingin sekali minta maaf langsung kepada beliau.”
“Apa kalian juga tidak merasa aneh dan penasaran terhadap tabib ini ? Bukannya aku meragukan kemampuan beliau untuk menyembuhkan ibu kita tapi entah kenapa aku merasa harus bertemu dengan beliau untuk menuntaskan rasa penasaran yang bercokol di hatiku ini. Aku juga mendengar bahwa beliau menuju gunung Tandikat untuk mencari obat langka di sana , pasti tidak mudah untuk melakukan hal ini. Aku ingin membantu beliau karena kita sudah menerima budinya yang sangat besar itu, jadi menurutku inilah caranya agar kita bisa membalas budinya, walau beliau tidak mengharapkan balasan apapun dari kita. Bagaimana menurut kalian ?”
“Benar juga yang kau katakan Lukman, terus terang saja aku masih penasaran dengan tabib itu, beliau sudah menjaga kita dari marabahaya dan melepaskan budi pula kepada kita, rasanya kita ini sudah begitu banyak menerima budi, tapi tidak tahu bagaimana membalasnya. Aku sependapat denganmu, Man, kita memang harus membantu beliau dan kalau bisa sesudah urusannya selesai kita bisa mengajak beliau ke rumah kita agar kita sekeluarga bisa menyampaikan terima kasih yang layak kepada beliau.”
“Uda Lukman dan uda Malik, apa kalian lupa ibu sedang menunggu obat dari kita, apa kalian tidak rindu kepada ibu dan ingin melihat beliau segera sembuh,” debat Kasman dengan mimik kebingungan mendengar pembicaraan kedua kakaknya itu.
“Benar sekali Malik, apa kau tidak rindu kepada ibumu? Bukannya kau yang paling kuatir ketika ibumu sakit, apa kau tidak ingin tahu apakah ibumu bisa disembuhkan atau tidak?” Tanya Datuak Samolangik.
Kedua pemuda itu terdiam mendengar pendapat adik dan paman mereka, di batin mereka berperang keinginan untuk mencari tabib itu dan melihat kesembuhan ibu mereka.
“Uda berdua, aku mengerti perasaan uda, aku juga merasakan hal yang sama. Begini sajalah kita bertiga pergi mencari tabib itu, sedangkan yang lain pulang dengan membawa obat untuk diserahkan kepada ibu. Aku yakin berkat obat ini ibu pasti sembuh, karena tabib itu sudah terkenal kehebatannya jadi pasti beliau tidak akan merusak reputasinya dengan memberikan obat sembarangan untuk ibu. Bagaimana menurut kalian?”
“Tuan muda Darman, kau ingin ikut juga?” Tanya Jamin menatap kuatir tuan muda kesayangannya itu, diantara ketiga anak Rangkayo Jati memang Darmanlah yang paling disayangi semua orang, dia seorang yang pemuda yang ramah dan sopan kepada siapa saja. Senyumnya dapat meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya ditambah lagi dengan tutur katanya yang lembut membuat siapa saja tidak bisa marah kepadanya. Berbeda dengan Lukman yang memang dari kecil sudah menunjukan wataknya yang keras dan pendiam sehingga para pengawal agak sedikit sungkan kepadanya, sedangkan Kasman masih bertingkah laku kekanak-kanakan seperti anak kecil yang manja jadi mereka masih menanggapnya pemuda yang baru besar.
Waktu pembagian rombongan untuk mencari sang tabib saja mereka juga berebutan ingin menemani Darman, bahkan Pandeka Konek yang memang dekat dengan Lukmanpun lebih memilih ikut rombongan Darman. Tapi setelah melihat orang berebutan ingin mendampingi Darman, akhirnya dia bersama Pandeka Tangan Siluman memutuskan untuk menemani Lukman dan Malik saja.
“Paman, jangan kuatir seperti itu, kami pasti bisa menjaga diri kami, yang penting sekarang kalian pulang cepat untuk memberikan obat kepada ibu dan bersiaga kalau-kalau musuh akan menyerang kita karena mereka tahu banyak diantara kita yang tidak ada di tempat sekarang ini.”
“Kalau begitu biarlah aku ikut tuan muda, sedangkan yang lain pulang mengawal obat itu,”sahut Pandeka Konek cepat, dia ingin sekali berjumpa dengan Datuak Marindiang yang sedang mengejar tabib itu juga.
“Kami juga ingin mengawal tuan muda, bagaimana pertanggunganjawab kami kepada ayah tuan muda sekiranya kami membiarkan tuan muda pergi begitu saja tanpa kami,” Tanya Randu sambil memandang kepada Malik.
Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya mereka memutuskan rombongan Lukman dan Malik tetap mencari sang tabib, Darman tetap pulang bersama 2 rombongan lain membawa obat penawar racun tersebut. Mereka berpisah menuju arah yang berbeda, Lukman beserta rombongannya menuju arah mereka datang tadi sedangkan rombongan Darman bergerak ke Utara menuju pulang.
Setelah beberapa hari mereka melacak jejak sang tabib akhirnya mereka menemukannya sedang menuju gunung Tandikat dari arah Timur gunung tersebut, dan hampir mereka berhasil menyusul tabib tersebut tapi kembali tabib itu bisa meloloskan diri. Mereka terus mengejar beliau dengan tidak kenal lelah kadang-kadang mereka mendapat petanda dari Datuak Marindiang yang ternyata diam-diam membantu mereka juga untuk menemukan sang tabib. Sampai akhirnya suatu ketika mereka menemukan jejak sang tabib yang menuju sebuah sungai yang mengalir di sebuah hutan yang mendekati kaki gunung Tandikat tersebut.
Terdesak dengan keadaan, rombongan Lukman dan Malik segera berupaya mencari jejak ke mana perginya tabib itu, dikarenakan kuda yang dimiliki sang tabib sangat menyolok sekali warna putihnya sehingga orang yang bertemu di jalan ingat akan kuda putih itu. Dan mereka dengan cepat bisa mengikuti jejak sang tabib, pernah sekali hampir mereka bisa menemui sang tabib, tapi kembali dia menghilang dengan menggunakan penyamarannya yang hebat itu. Kali ini sang tabib merubah warna kudanya menjadi abu-abu dan dia merubah diri menjadi seorang gadis yang berusia 30 tahunan yang mempunyai wajah biasa saja, sehingga orang bisa cepat melupakan wajah yang tidak ada istimewanya itu.
Sudah hampir seminggu mereka mengejar sang tabib masih belum ketemu juga sampai di suatu malam di pinggiran hutan, mereka sedang melepaskan lelah setelah berkuda sekian lama untuk mencari sang tabib yang masih belum ditemui itu. Mereka berbincang-bincang mengenai perangai sang tabib yang menurut mereka sangat aneh dan belagak sekali mentang-mentang mau dimintai tolong. Dari pembicaraan yang mengenai sang tabib, entah bagaimana tiba-tiba mereka teringat akan musuh mereka dan membicarakannnya.
Terdengar pandeka Konek bertanya,” Aku merasa heran sekali kenapa waktu kita meninggalkan nagari itu sampai saat ini mereka tidak mengejar kita? Padahal kita sama-sama tahu mereka mendendam sekali pada tuan muda Lukman, biasanya mereka pasti menggunakan segala macam racun untuk mengerjai kita. Tapi anehnya selama hampir satu minggu ini kita berjalan tidak sekalipun kita menemui niat jahat mereka. Aku sudah berjaga-jaga takutnya mereka mancido (membokong) kita dari belakang, apa kalian tidak merasakan keanehan tersebut?”
“Iya, benar sekali kakek, aku merasakan hal yang sama karena biasanya sasaran mereka adalah aku. Terbukti waktu kita menemui tabib itu, jika tidak pasti aku sudah mati karena racun mereka. Tapi entah kenapa aku belum bisa menerima kalau bukan tabib itu yang meracuni aku, terbukti sejak dia menghilang kita semua aman-aman saja tidak ada yang kena racun satu orangpun juga dalam rombongan kita. Aku mulai berpikir apa bukan tabib itu merupakan orang mereka yang sengaja berbuat begitu supaya bisa masuk ke benteng kita dengan alasan mau mengobati ibu kami?”
“Entahlah tuan muda, aku selalu berfirasat tabib itu bukanlah orang jahat, memang dia nyentrik dan seenaknya sendiri mungkin karena dia mengerti kemampuannya sehingga menjadi bertingkah seperti itu. Tapi kalau dia berniat jahat pada kita, aku rasa tidak karena jika dia mau menganiaya kita mudah sekali baginya terutama tuan muda Lukman yang memang merupakan sasaran orang dari perguruan Merak Hitam. Aku tetap merasa ada sesuatu yang ganjil dari semua ini dan aku masih belum menangkap keganjilan itu lebih lanjut,’ kata pandeka Tangan Siluman.
“Apa kalian merasa tidak selama seminggu ini, kita mengejar sang tabib tidak sekalipun kita merasa ada ancaman bahaya yang mengintai kita bahkan seolah-olah ada yang melindungi kita. Pernah suatu malam aku terbangun tiba-tiba tapi aku tidak tahu apa penyebabnya, hanya merasa mendengar sesuatu yang halus sekali tapi entah apa itu. Saat itu aku berpikir apakah aku ngelindur atau berhalusinasi, tapi kini setelah kita ngobrol begini aku merasa memang ada sesuatu yang tidak wajar sedang berlangsung di sekitar kita tanpa kita sadari sama sekali.”
“Adik Malik, aku juga merasakan hal yang sama, pernah aku merasa melihat berkelabat bayangan orang tapi ketika aku melihat ke arah itu tidak terlihat apapun, hanya aku melihat pohon ditempat itu berubah dari coklat lama-lama menjadi abu-abu seperti abu kayu yang habis terbakar. Hanya waktu itu aku tidak menyadarinya karena sedang tegang dan berjaga-jaga serangan dari musuh,” kata salah satu dari saudara seperguruan Malik.
“Hmmmm… memang ada yang tidak beres dengan ini semua, oleh karena itu kalian waspadalah mulai sekarang jangan sampai kita celaka di tangan musuh. Apapun yang mencurigakan tolong beritahukan kepada yang lain sehingga kita bisa saling mengingatkan dan berjaga-jaga,” kata Lukman dengan kening yang berkerut.
Dia yang berilmu silat tinggi bahkan lebih tinggi 1 tingkat dari Malik dan kedua kakek pengawalnya tersebut tidak bisa mengetahui jika ada orang lain di sekitar mereka. Berarti ilmu orang tersebut jauh lebih tinggi dari mereka semua, buktinya mereka bisa merasakan kehadirannya tapi tidak bisa mengetahui di mana keberadaannya.
Tiba-tiba mereka mendengar suara ringkikan kuda di kejauhan dan sepertinya kuda tersebut berlari menuju ke arah mereka. Belum sempat Lukman berteriak memperingati rombongannya, sebuah benda putih melesat dengan cepatnya seperti anak panah yang dilepaskan dari busur lewat di samping mereka sehingga mereka hanya merasakan angin yang bertiup sangat kuat sekali di sekitar mereka dan debu berterbangan menutupi pandangan mata mereka. Tapi Kasman yang berdiri dari agak jauh dari benda tersebut dapat melihat dengan jelas bahwa benda itu adalah seekor kuda putih yang terasa kontras dengan gelapnya suasana akibat sudah turunnya sang malam. Langsung dia berteriak-teriak memberitahukan kepada yang lain, mereka bergegas menaiki kuda masing-masing untuk mengejar kuda putih tersebut.
Kuda Lukman dan kuda Malik merupakan kuda-kuda pilihan juga dan keturunan dari kuda-kuda yang langka dan hebat, tetapi dibandingkan dengan kuda putih di depan itu tidak ada artinya sebentar saja mereka kehilangan bayangan kuda putih tersebut, hanya dari jauh mereka mendengar samar-samar derap langkah kaki kuda itu. Penasaran mereka berdua memacu kedua kudanya untuk mengejar kuda putih itu, sehingga sebentar saja mereka meninggalkan rombongan mereka yang hanya menggunakan kuda “biasa” dibandingkan dengan kedua kuda pemuda itu.
Kira-kira hampir sejam kemudian rombongan itu bertemu dengan kedua pemuda yang sedang memeriksa tanah dan pepohonan di sekitar mereka. Mereka berdua sedang sibuk melihat, memegang bahkan mencium udara di sekitar tempat itu, seolah-olah mereka mencari sesuatu.
“Tuan muda Lukman, apa yang terjadi? Apa yang kalian berdua lakukan?”
“Kakek Konek, anda lihat tidak pohon yang di sebelah sana itu?”
Segera mereka melihat arah yang ditunjuk oleh Lukman, mereka melihat pohon itu biasa-biasa saja seperti umumnya pohon. Tapi pandeka Tangan Siluman punya pemikiran lain, jika sampai tuan muda bertanya pasti ada sesuatu pada pohon itu, cepat diarahkan kudanya mendekati pohon tersebut. Setelah mengamati beberapa saat dia melihat pohon itu berubah warna menjadi abu-abu sebesar lingkaran gelas minum teh di bagian tengah pohon. Dia menjulurkan tangannya untuk menyentuh pohon, tapi segera Malik berteriak untuk mencegahnya.
“Jangan sentuh pohon itu kakek, nanti bisa kena racun yang mematikan!”
Kaget pendekar ini mendengar pernyataan Malik, untung dia belum menyentuh pohon itu, kalau tidak bisa mati tanpa tahu sebabnya.
“Tuan muda, kenapa kalian bisa tahu pohon ini mengandung racun?”
“Tadi di kejauhan kami mendengar suara pertarungan dan waktu kami hampir mendekati tempat ini tiba-tiba suara pertarungan itu berhenti dan kami masih mendengar suara seseorang berkata, Berani sekali kalian main racun jahat di sekitarku, nih rasakan racunku, aku ingin lihat apakah kalian sanggup menyembuhkan diri, Bilang pada guru kalian si Merak Hitam kalau dia berani main racun jahat lagi mencelakai orang, aku tidak akan segan-segan lagi membuat dia menyesal belajar ilmu racun. Kemudian terdengar teriakan kesakitan, dari mulut beberapa orang, dan pas kami sampai suasana sudah sunyi seperti tidak pernah terjadi sesuatu di sini. Mereka semua telah pergi dengan cepat sekali, Lukman mengejar ke arah kiri dan aku mengejar ke arah kanan, tidak lama aku mengikuti bayangan orang itu aku mendengar dia berkata, anak muda berhati-hatilah lebih baik segera kau susul sepupumu itu, sebelum dia menjadi mayat pulang ke rumah kalian. Aku sudah tidak bisa melindungi kalian lagi sekarang karena tugasku sudah mendesak sekali harus diselesaikan segera, dan mengenai ibu kalian, ambilah obat ini untuk diberikan kepada beliau, aku sudah mengetahui apa penyebab penyakit ibu kalian dari orang perguruan Merak Hitam, ibu kalian diracuni oleh mereka, dan ini obat penawarnya, mudah-mudahan bisa cepat sembuh.”
“Aku terkejut sekali tiba-tiba ada benda yang melesat dengan cepat sekali ke arahku, cepat aku menangkap benda tersebut, dan di tanganku ada 1 kantong kecil serta di dalamnya ada 6 butir obat berwarna kuning dan berikut kertas cara penggunaannya. Karena menangkap obat itu aku agak tertunda mengikuti bayangan tersebut, jadi aku sudah tidak bisa mengejar lagi. Dari perkataan orang itu aku berkesimpulan semua bentuk aneh di sekitar daerah ini pasti mengandung racun, makanya aku melarang kakek untuk menyentuh pohon tersebut.”
“Tuan muda Lukman, bagaimana dengan dirimu? Apa yang terjadi, tidak dapatkah kau mengejar bayangan yang lari ke arah kiri?” Tanya Pandeka Tangan Siluman.
“Tidak, aku tidak berhasil mengejar mereka, karena ketika aku sudah hampir mendekati mereka, tiba-tiba mereka membalikan badan menyambitkan pisau belati ke arahku, diserang seperti itu buru-buru aku menghindarinya. Walaupun aku tidak bisa mengejar mereka lagi, tapi aku yakin mereka itu orang perguruan Merak Hitam karena aku melihat bendera mereka dipegang oleh salah satu dari mereka. Cepat aku kembali ke sini karena menguatirkan Malik mengejar bayangan ke arah berlawanan itu.”
“Waktu aku sampai di sini aku melihat Malik juga baru sampai, lalu dia menceritakan apa yang terjadi padaku, tapi aku masih tidak mempercayainya. Kami bertengkar dan hampir aku membuang obat itu kalau tidak kebetulan lewat sahabat ayah, Datuak Marindiang, beliau melihat dan memeriksa obat yang ada di tangan Malik, dan beliau mengatakan bahwa benar obat ini obat pemunah segala racun yang merupakan obat andalan dari Tabib Mato Tigo. Dia mengetahui obat ini dari bau dan warna kuningnya yang khas, karena dulu dia pernah minum obat manjur ini ketika dia kena racun jahat juga. Mendengar omongan beliau baru aku mempercayai bahwa obat ini adalah obat manjur.”
“Ke mana perginya Datuak Marindiang sekarang, tuan muda. Aku sudah lama tidak bertemu beliau, ingin sekali berbincang-bincang menukar pengalaman dengan beliau.”
“Ala kakek Konek bilang saja kau mau mengajak dia bertanding ilmu silat lagi kan ? Kau tidak terima kekalahanmu yang dulu bukan ?” sahut Kasman dengan senyum usilnya.
Mendengar perkataan Kasman, pandeka Konek langsung cemberut dan mendelik kepada pemuda yang polos dan nakal itu.
“Setelah memberi penjelasan kepada kami, beliau menanyakan kepada Malik ke mana arah orang yang memberikan obat ini pergi, Malik menunjukan ke arah mana dia pergi dan beliau langsung menyusulnya. Sempat sebelum beliau pergi beliau mengatakan kepada kami untuk mempelajari daerah sekitar sini agar kami bisa mengenali bau khas yang dikeluarkan oleh racun dari Perguruan Merak Hitam agar kelak nanti kami bisa mengantisipasinya.”
“Kenapa beliau mengejar orang itu, apakah beliau sakit?”
“Aku sempat menanyakan hal itu kepada beliau, kata beliau, dia mendengar kabar bahwa orang tersebut adalah murid Tabib Mato Tigo, dan katanya kakek itu selalu membangga-banggakan keahlian pengobatan cucunya yang sudah menyamai dia dalam usia yang muda sekali. Dan juga beliau penasaran sekali apakah wajah nona tersebut secantik kakaknya yang sangat terkenal di kota raja dengan sebutan Dewi Nan Kuniang.”
“Dasar tua bangka mata keranjang tidak bisa melihat rupa cantik nan rupawan, langsung saja mau caliak (lihat,” gerutu pandeka Konek bersungut-sungut.
Mereka semua tertawa mendengar gerutuan tersebut, karena mereka mengetahui Datuak Marindiang merupakan pria setengah tua yang iseng saja, dia tidak akan mengganggu nona-nona cantik dalam arti menjadi “penjahat pemetik bunga”. Beliau memang punya kegemaran aneh suka melihat wajah-wajah yang cantik dan tampan rupawan, lalu melukis wajah mereka untuk menjadi koleksi pribadinya. Dan sebenarnya tidak banyak orang yang menurut beliau tampan dan cantik bahkan Lukman dan Malik yang termasuk kategori tampan saja bagi beliau biasa-biasa saja. Memang sebuah kegemaran yang aneh sekali, tapi hal inilah yang mempertemukan dia dengan ayah Lukman dan menjadi sahabat baik, karena ayah Lukman menurut beliau merupakan termasuk pria yang paling tampan yang pernah ditemuinya.
“Jadi sekarang, kedua tuan muda sudah tahu bagaimana bau khas yang dikeluarkan oleh racun perguruan Merak Hitam?”
“Iya kira-kira begitu uda Randu, ada semacam bau yang khas sekali di setiap racun perguruan Merak Hitam, aku juga mencium bau ini di tubuh ibu ketika aku dekat-dekat beliau,” kata Malik.
“Maksud tuan muda, bau khas yang seperti apa?” kata Randu sambil mengendus-endus di sekitar mereka.
“Aku tidak bisa bilang bau yang seperti apa, kalau kau tidak konsentrasikan pancaindramu memang bau ini tidak akan tercium coba kerahkan ilmu Kijang Mencium Bayangan, pasti kau akan bisa mencium bau yang aku maksudkan.”
Segera kelima saudara seperguruan Malik mengerahkan ilmu tersebut, memang ilmu ini sangat khas sekali karena ilmu ini mengandalkan bau seseorang untuk mengetahui posisi lawan di saat pertandingan melawan musuh yang bisa menggandakan dirinya seperti ilmu Gandakan Roh Setan milik Datuak Kalam Kambang, yang merupakan pimpinan dari perguruan Kalam Kambang dan seorang datuk sesat yang menguasai wilayah Timur dari pusat kerajaan Pagaruyung. Selama ini datuak ini tidak bisa mengganggu pusat kerajaan karena di sekeliling ibukota dijaga ketat oleh pasukan Garuda yang terkenal kedahsyatannya. Bahkan sempat perguruan beliau hampir musnah oleh panglima dan 3 jenderal pasukan Garuda ketika mereka mencoba memasuki ibukota, sejak itu mereka melarikan diri ke Timur dan berdiam di daerah jauh dalam perdalaman hutan.
Ilmu ini juga sudah digunakan oleh Malik dan saudara-saudaranya dalam melacak keberadaan tabib sakti itu tapi memang tabib itu hebat sekali dia mampu menghilangkan bau khas dari tubuhnya sehingga mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan sang tabib sampai sekarang ini.
“Benar sekali tuan muda ada semacam bau khas yang tertinggal di sekitar sini, kalau ini benar cirri khas perguruan Merak Hitam dalam ilmu racun mereka, kita akan bisa mengantisipasinya ke depan nanti,” kata Randu dengan gembira.
Sementara itu kedua kakek tersebut sudah juga bisa mencium bau khas yang dimaksud, hanya Kasman sendiri yang masih belum bisa mencium bau khas yang dimaksud tapi dia tidak berani bilang kepada yang lain takut disangka bodoh dan rendah ilmunya dibandingkan dengan yang lain. Kesombongannya inilah yang nantinya mencelakakan dirinya.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan tuan muda, obat sudah di tangan sebaiknya kita kembali ke rumah untuk memberikan obat ini kepada nyonya berdua,” kata Pandeka Konek.
Lukman terlihat berpikir dari tadi dan tidak banyak berbicara karena sebenarnya dia penasaran sekali kenapa mereka tidak bisa menemui sang tabib, seakan sang tabib merasa mereka tidak pantas bertemu dengannya. Dia sangat penasaran sekali bahkan dia tidak mampu melupakan sorot mata sang tabib yang seakan membetot sukmanya itu. Terbersit di dalam hatinya untuk mengetahui apakah benar sang tabib itu adalah seorang gadis rupawan yang menyamar ataukah itu hanya isu yang sengaja dilontarkan di dunia persilatan agar gadis itu mendapat nama dengan cepat.
Semua menunggu keputusan Lukman sambil memandang wajahnya yang terlihat sedang berpikir keras. Akhirnya dia bicara dengan suara pelan dan jelas terkandung rasa penasaran kepada yang lain.
“Tolong kalian jawab yang jujur, apakah kalian tidak penasaran dengan sang tabib yang misterius itu? Terus terang saja aku merasa terhina sekali kenapa dia tidak mau bertemu dengan kita dan menerima terima kasih kita secara langsung? Sedemikian tidak berharganya terima kasih dari keluarga kita padanya sehingga bahkan dia tidak mau bertemu muka dengan kita dan datang berkunjung ke rumah kita untuk mengobati ibu? Aku ingin sekali melihat wajahnya dan bisa berbicara dengannya untuk menanyakan padanya kenapa dia berbuat begitu pada kita sehingga bisa hilang rasa penasaran di hatiku saat ini, kalau memang kita telah berbuat salah yang tidak kita sengaja aku bersedia meminta maaf padanya,” kata Lukman.
Yang lain mendengar perkataan Lukman memang merasa penasaran sekali kenapa sang tabib seperti itu dengan mereka, apa yang telah mereka perbuat sehingga beliau tidak mau bertemu dengan mereka. Tapi merekapun sadar mereka tetap harus mengantar obat tersebut untuk kedua orang yang sedang menderita kesakitan di rumah.
“Tuan muda Lukman, terus terang saja aku penasaran juga tapi kita harus segera pulang untuk membawa obat tersebut agar nyonya bisa segera bebas dari kesengsaraannya.”
“Iya, uda Lukman kita harus segera kembali untuk bawa obat buat ibu.”
“Kalian benar, kakek Tangan Siluman dan Kasman, kita harus segera kembali demi ibu, tapi kenapa hatiku masih tidak rela melepaskan tabib tersebut seakan sudah di depan mata tapi kita tidak bisa meraihnya. Aku juga ingin meminta obat penawar racun seandainya perguruan Merak Hitam menyerang kita kembali dengan racun, yah minimal petunjuknya agar obat penawar tersebut dapat kita buat sendiri dan diperbanyak untuk dibagikan kepada anggota kita semua.”
“Benar yang kau katakan Lukman, aku juga berpikiran sama denganmu, mungkin lebih baik kita pecah menjadi 2 rombongan, 1 rombongan mengantar obat buat ibu dan 1 rombongan lagi menyusul ke mana tabib itu pergi. Bagaimana menurut kalian usulku ini?”
Belum sempat Lukman menjawab usul Malik, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi letusan di udara, dan terlihat di langit warna hijau pekat sekali sesaat sebelum buyar ditiup angin, itu tanda pengenal dari perguruan mereka yang menandakan ada anggota mereka yang dalam bahaya.
Melihat hal tersebut semua orang buru-buru naik ke kuda mereka dan melupakan masalah sang tabib karena tanda bahaya yang dilepaskan itu tanda bahaya tingkat 3 yang artinya benar-benar dalam keadaan yang berbahaya dan genting sekali.
“Cepat, kita menuju ke Utara, sepertinya ada teman kita yang dalam bahaya, mudah-mudahan tidak jauh dari sini,” kata Lukman sambil dengan cepat mengarahkan kudanya.
Untungnya malam itu langit sangat terang benderang, bulan bersinar bulat penuh dan banyak bintang yang berserakan di pekatnya malam sehingga seperti lampu yang redup menyinari bumi. Tapi bagi kaum pendekar pengelana dengan penerangan seperti ini sudah cukup membantu bagi penglihatan mereka akan sekelilingnya, mengingat mereka mempunyai mata yang berbeda dengan manusia biasa, karena semakin tinggi tenaga dalam seseorang akan semakin kuat daya penglihatan orang tersebut.
Tidak lama mereka mendengarkan suara pertempuran yang seru sekali di depan mereka, semakin cepat mereka memacu kudanya, Lukman dan Malik segera mendahului sampai. Terlihat suasana di sebuah lapangan pertempuran tidak seimbang, adik kedua Lukman, Darman sedang dikeroyok tokoh kelima dan keenam perguruan Merak Hitam yaitu Siluman Merak Rawa dan Siluman Merak Pohon, dan yang lain 8 orang saudara seperguruan Malik sedang dikeroyok oleh 25 orang anggota Merak Hitam. Dan terlihat 2 tubuh yang tergeletak di tanah yaitu pengawal Rangkayo Padang Jati, Pandeka Tendangan Petir dan Pandeka Pedang Pamuncak, mereka terlihat seperti sudah tidak bernafas dan wajah mereka sudah berubah menjadi menghitam itu tanda mereka keracunan hebat.
Tanpa pikir panjang lagi segera Lukman menyerbu untuk membantu adiknya yang sudah dalam keadaan payah sekali dan Malik memburu kedua pengawal tersebut sambil mengeluarkan 2 butir obat penawar racun yang diberikan oleh tabib itu, yang penting menyelamatkan jiwa orang yang ada di depan mata dulu, dia melupakan bahwa mencari obat pemberian tabib itu susah sekali sekarang dia memberikan kepada orang lain tanpa pikir panjang. Sungguh benar-benar seorang pemuda yang mempunyai hati yang baik sekali jarang ada orang yang seperti dia, apalagi obat itu berguna untuk orang yang paling disayanginya tapi berhubung ada orang lain yang membutuhkan dia memberikannya.
Malik membantu menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh kedua pengawal tersebut, sedangkan Lukman begitu terjun ke gelanggang segera mengeluarkan ilmu andalannya yaitu Ilmu Walet Menerjang Badai.
“Darman, aku datang membantumu!”
Ketiga orang yang sedang terlibat perkelahian seru itu kaget mendengar perkataan itu, Kedua Siluman Merak itu merasakan ada angin dahsyat yang bergerak tajam menuju mereka, cepat Siluman Merak Rawa mengangkat kedua tangannya untuk menangkis serangan dari Lukman. Sedangkan Siluman Merak Pohon tetap dalam posisi menyerang Darman, tadinya mereka sudah senang sekali sudah hampir bisa menangkap dan menyandera anak kedua dari musuh perguruan mereka. Tapi gangguan datang terpaksa mereka membagi kekuatan, tapi siluman Merak Pohon tetap yakin dia dapat meringkus pemuda yang jadi lawannya.
Dengan pukulan beracun Merak Menebarkan Benih, dia melompat ke atas dengan posisi kaki yang merapat, dia melontarkan puluhan jarum beracun kea rah Darman, dia yakin sekali jarum itu akan mengenai pemuda lawannya. Setelah itu dibarengi dengan kecepatan yang tinggi dia berbalik arah dan mempersiapkan kedua tangannya membentuk mulut merak dengan ilmu Merak Mematuk Mangsa menyerang ke arah Lukman yang sedang mendesak saudaranya itu. Tapi yang menjadi pemikirannya bukanlah yang dikehendaki oleh sang Ilahi, di saat keadaan Darman sedang genting, tiba-tiba dari arah belakang Darman terlontar sebuah batu hitam berbentuk persegi panjang sebesar batu bata dan begitu batu itu melayang ke arah jarum-jarum tersebut, semua jarum-jarum yang tadinya bergerak menyerang Darman tiba-tiba seperti tersedot oleh batu tersebut. Jarum-jarum itu semuanya melengket di batu hitam tanpa tersisa, dan selamatlah Darman.
Ternyata batu hitam itu merupakan batu sembrani (magnet) yang bisa menyedot semua benda yang terbuat dari besi. Darman menoleh ke belakangnya untuk melihat siapa orang yang telah membantunya itu, dia melihat seseorang bercadar dan tertutup dengan jubah besar berwarna lembayung yang indah sekali sedang duduk di atas seekor kuda putih. Lalu orang itu menggerakan tangannya dan batu hitam yang jatuh di tanah tersebut bergerak meluncur ke arahnya dengan cepat sekali. Terlihat pada batu itu terlilit seuntas tali panjang yang bisa digunakan untuk menariknya kembali kepada sang pemilik. Dan batu hitam itu disimpan di kantong yang ada di sisi kakinya, dan dari kantong itu dia mengeluarkan sebuah botol berbentuk seperti buah alpukat.
Dia melemparkan botol itu ke arah Darman sambil menghentakan kakinya ke perut kuda putih itu dan kuda putih itu segera berlari cepat seperti angin menjauhi arena perkelahian seru itu. Terdengar kata-katanya kepada Darman,”Anak muda, kau ambilah botol ini lalu berikan kepada teman-temanmu untuk diminum agar semua racun yang ada dalam tubuh mereka bisa bersih segera, dan berikan juga obat ini kepada ibumu yang sedang sakit karena keracunan. Katakan kepada saudaramu, jangan lagi mengikuti aku dengan alasan apapun juga, di dalam botol ini ada 500 butir obat penawar racun yang bisa kalian gunakan seandainya kalian keracunan berat nantinya. Dan kau juga sekarang segera minum obat penawar itu, jangan sampai terlambat.”
Darman menerima botol yang dilemparkan kepadanya itu, ingin dia mengucapkan terima kasih kepada penunggang kuda putih itu tapi mereka sudah tidak terlihat lagi seakan hanya dalam mimpi saja ada orang yang menolongnya kalau dia tidak memegang botol obat ini. Dia mengalihkan pandangannya ke arah pertempuran seru di depannya, dia melihat sekarang Lukman berhadapan dengan Siluman Merak Rawa dan Malik dengan Siluman Merak Pohon, kedua pengawalnya terlihat sedang bersila memulihkan kondisi tubuh mereka, 8 orang yang lain sudah menjadi bulan-bulanan dari orang perguruan Merak Hitam, cepat dia berlari ke arah pertempuran itu sambil membuka tutup botol dan mengeluarkan 1 butir obat berwarna kuning untuk ditelannya, tidak sedikitpun dia terpikir untuk meragukan maksud orang tersebut. Karena kalau oang itu benar-benar hendak mencelakainya tidak bakal orang itu berbicara seperti itu padanya, berarti orang itu kenal dengan saudaranya, hanya dia belum tahu saudaranya yang mana, setelah itu dia memasukan botol obat ke dalam bajunya. Begitu Darman datang membantu keadaan menjadi semakin ramai, dengan serangan-serangan gencar dan berbahaya Darman berusaha menyelamatkan teman-temannya dari barisan perguruan Merak Hitam itu.
Sementara itu pertempuran Lukman dan Siluman Merak Rawa sudah mencapai titik tertinggi, keduanya terlihat sedang mempersiapkan diri dengan ilmu pemuncak mereka. Dari beberapa kali bentrokan tangan tadi, Lukman sudah bisa mengukur tenaga dalam Siluman Merak Rawa masih kalah setingkat dari dirinya, tapi dia tidak bisa lengah juga karena semua ilmu dari siluman itu mengandung racun yang berbahaya dan mematikan jika kena anggota tubuh. Lukman mengerahkan ilmu Walet Menerjang Badai tingkat ke 9 yaitu Walet Memapas Angin, dengan mengandalkan ilmu peringan tubuh tingkat tinggi dia memainkan ilmu dahsyat ini, ilmu ini tidak mengeluarkan suara apapun dan tidak terasakan adanya angin yang bergerak di sekitarnya.
Siluman Merak Rawa tahu dia dalam keadaan berbahaya pemuda lawannya ini lebih hebat lagi dari pemuda sebelumnya, dia melihat ada kemiripan diantara kedua pemuda tersebut pasti mereka kakak beradik tapi pemuda yang pertama jauh lebih tampan dari yang ini. Dia merapalkan ilmu tertingginya ilmu Bayangan Merak Menarik Arwah, ini merupakan ilmu yang paling hebat dari perguruannya, walaupun dia baru sampai tingkat 4 tapi dia sudah susah dicari tandingannya. Dia tidak tahu bahwa musuh yang paling dicari kakak pertamanya adalah pemuda ini, karena selama ini dia dan Merak Pohon selalu harus menemani guru mereka bertualang ke tanah Jawa. Sejak guru mereka meninggal dunia beberapa bulan yang lalu, mereka dipanggil oleh kakak seperguruan mereka untuk kembali ke perguruan dan membantu sang kakak untuk membalas dendam.
Terlihat keduanya sedang mempersiapkan diri untuk memuntahkan ilmu tertinggi mereka kepada lawan. Sementara itu Malik juga sudah mengimbangi permainan Merak Pohon, terlihat memang Malik kalah setengah tingkat dari musuhnya tapi untungnya dibantu dengan ilmu peringan tubuhnya yang bagus dia masih bisa menapaki semua serangan musuh dengan baik. Dengan ilmu Ula Kuniang Mengejar Bayangan dia menyerang dan bertahan melawan Merak Pohon, dan musuhnya sudah mulai hilang kesabarannya setelah melihat situasi bisa berubah sewaktu-waktu, segera dia memainkan ilmu Bayangan Merak Menarik Arwah tingkat 3 agar bisa cepat mengalahkan musuhnya.
Merak Pohon kosentrasi mempersiapkan diri dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke arah jari-jari tangannya sambil menahan gempuran dari Malik yang bergerak bagaikan ular menyusup di setiap celah lowong diantara serangannya. Pertandingan kedua orang ini berlangsung seru, tiba-tiba terdengar jeritan kesakitan dari arah pertempuran Darman dengan Barisan Merak Hitam, ternyata salah seorang dari teman rombongan Darman kena pukulan akibat sebelumnya dia sudah kena racun sehingga tenaga dalamnya berkurang dan menyebabkan gerakannya menjadi lambat untuk menghindari serangan. Keadaan pertempuran Darman dan teman-temannya melawan Barisan Merak Hitam terlihat tetap tidak membaik, karena rata-rata mereka semua sudah kepayahan akibat racun yang disebarkan oleh orang perguruan Merak Hitam. Jika kondisi mereka tidak keracunan mungkin mereka masih bisa bertahan dan tidak seperti sekarang sewaktu-waktu akan ambruk.
Malik masih sempat melihat ke arah teriakan itu dan hampir saja kena pukulan dari Merak Pohon akibat kelengahannya itu, sedangkan Lukman tidak berani menoleh ke arah jeritan itu karena dia sudah melihat lawannya sudah siap melontarkan pukulan mematikan ke arahnya. Dalam keadaan yang semakin genting tiba-tiba mereka semua mendengarkan derap kaki kuda yang banyak sekali menuju ke lapangan itu. Lukman dan Malik yang tahu itu adalah rombongan mereka menjadi lebih lega dan tenang karena tahu situasi sebentar lagi akan berbalik, sedangkan dari pihak musuh mulai menyadari keadaan bisa memburuk jika yang datang adalah musuh. Sementara itu kedua pengawal Darman yang sudah hampir selesai mengobati diri menyadari akan kedatangan banyak orang, mereka cemas sekali takut musuh yang datang sedangkan mereka dalam masa kritis mengobati luka mereka. Darman dan teman-temannya yang sedang bertempur di sisi lainnya tidak memperhatikan hal itu karena mereka sedang sibuk kosentrasi untuk melayani serangan yang sangat teratur dari Barisan Merak Hitam jika lengah sedikit nyawa taruhannya.
Seperti dugaan Lukman dan Malik memang yang sedang datang mendekat itu adalah rombongan mereka. Begitu sampai ke lapangan itu mereka semua bergerak ke lapangan untuk membantu teman-teman mereka, Pandeka Tangan Siluman dan Pandeka Konek berpencaran membantu Lukman dan Malik, sedangkan yang lain langsung terjun ke pertempuran Darman. Melihat kedatangan teman-temannya, mereka menjadi semangat sekali dan pertempuran menjadi tambah seru.
Pandeka Konek yang hendak membantu Lukman segera dicegahnya, “Kakek, cepat kau tolong Darman, aku masih bisa atasi mereka. Darman dan yang lain keracunan hebat takutnya mereka tidak bisa ditolong lagi kalau terlambat!”
Setelah melihat Lukman tidak bakalan kalah dari lawannya, cepat Pandeka Konek bergerak ke arah pertempuran Darman dan teman-temannya. Dia melihat pertempuran tersebut masih berlangsung alot sekali, Barisan Merak Hitam itu sungguh sebuah barisan kerjasama tim yang sangat kompak sekali, setiap orang tahu posisi masing-masing dan secara bergantian memainkan ilmu menyerang dan bertahannya dengan sangat baik sekali. Sedangkan di pihak mereka, keadaan Darman dan 8 orang temannya dalam keadaan payah sekali di seluruh tubuh mereka sudah banyak luka dan sewaktu-waktu bisa ambruk tapi setelah ditambah dengan Kasman dan 5 orang saudara perguruan Malik, keadaan mulai membaik walau tetap tidak bisa mengalahkan barisan tersebut.
Barisan Merak Hitam ini dimainkan oleh 25 orang dengan sangat baik sekali, karena mereka dilatih langsung oleh ketua mereka dengan sangat keras. Mereka seolah-olah menyatu satu dengan yang lainnya, orang lain tidak tahu siapa yang memegang komando dari gerakan barisan yang memang sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga orang lain tidak mengetahuinya kecuali oleh anggotanya sendiri. Sebenarnya kunci rahasia kelemahan barisan ini ada pada si pemegang komando, karena jika orang mengetahui siapa yang mengatur bisa mengincarnya dan mematikan gerakannya, otomatis jika gerakannya mati anggota yang lainpun akan kebingungan untuk menggerakan barisannya. Mereka berjumlah 25 orang merupakan sebuah barisan yang mempunyai jumlah orang yang sangat banyak jadi tidak gampang untuk mengatur gerakan penyerangan dan pertahanan jika mereka tidak ada yang mengepalainya.
Ditambah lagi mereka semua menggunakan baju dan penutup wajah berwarna hitam sehingga susah sekali untuk mengetahui pimpinan mereka. Lawan tidak bisa melihat wajah mereka sehingga mereka dengan leluasa bisa bergerak tanpa kuatir sang pemimpin akan diredam gerakannya. Pandeka Konek yang melihat keadaan ini langsung mengetahui satu-satunya cara adalah menggempur barisan ini dari belakang, jadi menyerang mereka dari dua sisi depan dan belakang. Dia langsung menyerang sisi belakang barisan yang sedang sibuk menggempur Darman dan teman-teman yang lain. Dan ternyata Pandeka Konek kecele dengan dugaannya, barisan ini benar-benar barisan yang tangguh dan hebat sekali, memang mereka dilatih untuk menghadapi saat harus bertempur menyerang kubu Rangkayo Jati yang dikawal oleh banyak orang-orang berilmu tinggi, jadi satu-satunya cara adalah membuat sebuah barisan yang bisa meredam kekuatan pengawal keluarga itu. Begitu tahu mereka diserang dari belakang, mereka langsung merubah gaya serangan tadinya mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam, sekarang mereka menggunakan ilmu Barisan Merak Hitam Kembar jadi seperti dua orang anak kembar mereka bisa saling bergantian menutupi kanan kiri mengisi kelemahan posisi teman-teman mereka.
Sungguh pemandangan luar biasa, 25 orang bertempur menekan 2 orang pesilat dengan ilmu kelas satu dibantu dengan 14 orang lainnya tanpa mereka sendiri mengalami kesulitan bahkan pihak yang digempur harus berhati-hati beradu tangan dengan mereka karena seluruh tubuh 25 orang ini berlumuran racun yang mematikan. Yang paling parah keadaannya adalah Merak Pohon karena dikeroyok oleh Malik dan Pandeka Tangan Siluman, mereka berdua ingin cepat-cepat menyudahi pertempuran karena mau membantu kelompok Darman yang beberapa orang diantaranya sudah sangat kepayahan akibat racun yang masuk ke tubuh mereka.
Merak Pohon menyadari keadaannya yang berbahaya itu tapi dia tidak mau menyerah kalah, dia mengeluarkan senjata andalannya pisau terbang Merak Hitam, di tangannya pisau ini bergerak seakan terbang mencari mangsanya. Begitu dia mengeluarkan 2 pisau dari dalam bajunya, segera tercium bau amis yang sangat menyengat hidung, Malik dan Pandeka Tangan Siluman mengetahui bahwa senjata ini dilumuri dengan racun yang sangat berbahaya sekali, mereka harus berhati-hati agar tidak tergores pisau belati beracun itu.
Sedangkan keadaan Lukman sudah di atas angin, Merak Rawa sudah mulai susah menahan gerakan Lukman, terpaksa dia mengeluarkan juga senjata andalannya sabuk yang terbuat dari bulu-bulu merak yang sudah direndam dengan obat-obat dan racun ganas supaya bisa menjadi senjata. Melihat hal ini Lukman tidak mau kalah mengeluarkan senjatanya yaitu pedang Walet Perak, pedang ini warisan dari gurunya, khusus dibuat dari perak murni yang mempunyai kadar murninya sangat tinggi hampir mencapai 100% dan dicampur dengan baja putih yang jarang sekali ditemukan jadi dapat dibayangkan kehebatannya. Pedang ini sangatlah tajam sekali dan belum ada yang bisa menghancurkannya, pedang yang bisa mengimbangi ketenarannya adalah pedang Batu Angin milik Orang Gaek Indak Banamo (Orang tua tidak bernama) dan pedang Gadang Barek (Besar berat) pusaka perguruan Jawi Putiah (sapi putih). Konon kabarnya pedang ini hanya bisa dihancurkan oleh pedang pusaka Naga Hijau yang dipegang oleh raja Adtyawarman dan Pedang legenda Damar Pelangi yang konon tidak jelas keberadaannya.
Benar-benar pertempuran tingkat tinggi, Lukman mengerahkan ilmu pedang Walet Peraknya untuk menandingi Sabuk Merak Hitam milik Merak Rawa. Pedang di tangan Lukman bergerak-gerak cepat sekali seperti burung walet menyambar-nyambar ke segala arah tubuh Merak Rawa, sedangkan sabuk Merak Rawa tidak mau ketinggalan bergerak mengimbangi kekuatan pedang Walet Perak. Merak Rawa selalu berusaha menjaga jarak jangkauan sabuknya yang panjang itu, sedangkan Lukman lebih menyukai pertempuran jarak pendek. Untuk mengatasi hal ini keduanya berusaha menggunakan cara apapun untuk saling mengalahkan. Melihat hal ini Lukman merubah strategi permainan silatnya, mulai dia menggunakan pedangnya untuk memapas sabuk tersebut, dari beberapa kali benturan, pedang itu berhasil memotong sabuk itu hampir sepertiga panjangnya. Merak Rawa mulai merasa gelagat tidak baik berpihak pada dia dan rombongannya, sambil terus memainkan sabuknya sempat dia melirik ke arah dua pertempuran lainnya.
Dia melihat adik seperguruannya sedang terdesak hebat dikeroyok 2 orang tinggal tunggu saatnya saja untuk binasa, sedangkan barisan Merak Hitamnya sedang diobrak abrik oleh 7 orang dengan tingkat kepandaian yang lebih tinggi dari musuh sebelumnya, walaupun belum terlihat mereka bakalan kalah. Dan terlihat di sudut kanan lapangan 8 orang lawan awal dari barisan Merak Hitam sedang bersila memulihkan kondisi mereka yang sudah terluka dan keracunan. Hal ini sangat tidak menguntungkan sekali bagi pihaknya, dia harus segera menyingkir dari sini. Mulailah akal liciknya bekerja, perlahan-lahan dia menggeser pertempurannya mendekati saudaranya, dan menggunakan ilmu bicara jarak jauh dia menyuruh saudaranya mulai bergeser ke arah barisan merak hitam serta dia juga menyuruh pimpinan barisan menyiapkan anak buahnya semua untuk kabur dari gelanggang dengan menggunakan bom racun buatan mereka.
Duuuuaaarrrrr, terdengar ledakan keras sekali dari tengah pertempuran dari barisan Merak Hitam, ternyata salah satu dari anggota barisan menjatuhkan bom untuk mengalihkan perhatian Malik dan Pandeka Tangan Siluman yang telah mendesak Merak Pohon yang sudah terluka. Ketika semua orang dikagetkan dengan bunyi ledakan itu, Merak Rawa mengambil kesempatan itu lari menuju ke saudaranya dan menangkap tangannya untuk dibawa berlari dengan cepat sekali. Semua orang selain dari perguruan Merak Hitam buru-buru menjauhi asap beracun yang menyelimuti arena pertempuran, cepat mereka menarik saudara mereka yang terluka agar tidak terhirup asap itu. Terdengar ledakan kedua, dan asap semakin tebal mengitari arena, tambah jauh rombongan Lukman dan Darman berlari meninggalkan tempat itu.
Setelah mereka cukup jauh dari arena pertempuran barulah mereka berhenti berlari, sambil meletakkan saudara-saudara mereka yang terluka di tanah. Mereka melupakan kuda-kuda mereka yang tertambat di dekat pertempuran tadi, karena mereka hanya memikirkan menyelamatkan diri dan teman-teman dari bahaya keracunan akibat bom asap tersebut.
“Kurang ajar, memang bangsat licik, coba mereka tidak main bom asap itu, tidak nanti mereka bisa meloloskan diri.” Sumpah serapah Pandeka Konek.
“Sudahlah kakek, sekarang yang penting kita obati dulu teman-teman kita” sahut Darman sambil membagi-bagikan obat yang telah dia terima dari orang misterius tadi.
“Darman, darimana kau dapat obat ini?”Tanya Malik.
“Tadi ketika aku sudah hampir kena jarum Merak Hitam, tiba-tiba datang seseorang yang berjubah lembayung yang sangat indah sekali menolong aku dan memberikan obat ini.”
“Jangan-jangan dia datang membantu kita?”
“Aku yakin sekali, Man, sepertinya memang dia yang membantu kita.”
“Ini sudah yang ke berapa kalinya dia membantu kita, berarti dia tidak seperti yang kau curigai selama ini, Lukman.”
“Aku tahu, kakek Konek, hanya aku penasaran saja kenapa dia tidak mau bertemu muka dengan kita?”
“Kalau aku boleh bertanya, emangnya siapa yang kalian bicarakan dari tadi?” Tanya Darman kebingungan.
“Oya, kenapa kalian bisa sampai di sini, bertemu dengan musuh?” Tanya Lukman.
“Kami mendengar kabar Datuak Kaba Angin bahwa Dewi Tangan Dingin sedang menuju gunung Tandikat untuk mencari obat, makanya kami menyusul ke sini, baru kami sampai, tiba-tiba kami diserang mereka dengan cara curang sekali, makanya kedua paman sampai bisa diracuni mereka. Untung kalian keburu datang kalau tidak kami semua sudah mati dibunuh mereka.”
“Tapi kalau melihat cara mereka menyerang sepertinya mereka tidak ingin membunuh kalian, karena kalau mereka benar-benar hendak membunuh kalian dari tadi pasti kalian sudah mati oleh racun Merak Hitam mereka yang berbahaya itu. Aku rasa mereka ingin menyandera kalian untuk tujuan yang tidak baik.”
“Benar juga yang uda Lukman katakan, sepertinya memang begitu rencana mereka, ketika semburan racun mereka yang dihadang oleh paman Jamin (Pandeka Tendangan Petir) dan paman Dasrun (Pandeka Pedang Pamuncak) tidak sampai merenggut nyawa mereka langsung biasanya sehebat apapun ilmu tenaga dalam orang bila sudah berhadapan dengan racun Merak Hitam tidak ada yang bisa selamat, pasti hanya bisa bertahan sebentar saja sebelum kehilangan kesadaran atau nyawa.”
Darman telah selesai membagikan obat kepada yang terluka kena racun, dan memasukan botol obat tersebut ke dalam bajunya lagi. Belum sempat dia membuka mulut untuk menanyakan sampai di mana pencarian mereka akan obat untuk ibu mereka, tiba-tiba terdengar gemuruh suara derap kuda yang ramai sekali di belakang mereka dari arah pertempuran tadi. Buru-buru mereka semua menyingkir dan mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Terlihat sekumpulan debu berterbangan mengiringi kuda-kuda yang berlari ke arah mereka yang dipimpin oleh seekor kuda putih yang berlari tenang ke arah mereka.
Mereka yang sudah pernah melihat kuda putih ini tahu bahwa bukan musuh yang datang, ketika hampir mendekati tempat mereka, kuda putih itu berhenti berlari dan mengangkat kedua kaki depannya dan meringkik dengan keras seakan memerintahkan kuda lain yang ada di belakangnya untuk berhenti. Dan anehnya semua kuda yang ada di belakangnyapun berhenti berlari bahkan mereka berdiri dengan membentuk sebuah barisan yang teratur sekali. Kuda Putih itu menolehkan kepalanya kepada semua manusia yang sedang memandang dengan melongo takjub melihat semua ini, lalu kuda itu menganggukan kepalanya dan kembali berdiri dengan kedua kaki depannya sebelum dia pergi dengan kecepatan angin meninggalkan mereka semua.
Tidak ada satupun dari manusia yang ada di sana yang tidak terpesona akan kecerdikan dan kehebatan kuda putih itu. Cukup lama mereka dalam keadaan diam diri dan tidak tahu harus berkata apa, keheningan itu dipecahkan oleh suara kuda-kuda yang mendengus dan menggerak-gerakan badannya.
“Kalian lihat tadi ? Apa aku bermimpi seekor kuda mengantarkan kuda kita dan menganggukan kepalanya pada kita?” Tanya Darman dengan masih tidak percaya.
“Memang kuda yang sangat hebat sekali, ingin aku memiliki kuda seperti itu biarpun hanya keturunannya saja. Sang tabib berhasil melatih kudanya dengan luar biasa sekali.”sahut Malik dengan takjub.
Lukman hanya terdiam di tempat dan tidak habis berpikir, kalau kuda putih itu muncul di sini artinya pemiliknya tidak jauh-jauh dari mereka dan masih ada di sekitar mereka untuk melindungi mereka.
Mereka semua terkejut ketika mendengar suara Darman yang sambil merangkapkan kedua tangannya dan membungkukan badannya ke semua arah, “Terima kasih kepada anda yang sudah menolong kami, budi baik ini pasti akan kami balas suatu saat nanti.” Dia menggunakan ilmu Teriakan Gaung Bumi untuk menyampaikan pesan kepada sang penolong mereka yang tidak tahu ada di mana.
“Tuan muda Darman, kau ini bikin kami terkejut saja.”kata Jamin sambil mengurut-urut dada saking terkejutnya mendengar suara keras yeng bergema tadi.
Tapi Darman diam saja seperti mendengarkan sesuatu, mereka melihat ke arahnya dengan bingung.
“Darman, ada apa ?” Tanya Malik.
“Ssssttt….”
Terlihat beberapa kali Darman mengangguk-anggukan kepalanya tanda menyetujui sesuatu atau mengerti sesuatu, mereka semua menunggu sampai Darman buka suara.
“Baiklah, akan aku laksanakan perintah tabib.”kata Darman dengan keras seperti tadi menggunakan ilmu Teriakan Gaung Bumi.
“ Ada apa Darman, cepat katakan,” kata Lukman tidak sabar.
“Tadi tabib berpesan kepadaku agar obat yang dia berikan itu segera diberikan kepada ibu kita, yang satu ditelan sedangkan yang satu lagi dilarutkan dalam air mandi ibu setelah dia dapat berdiri kembali. Sedangkan yang satu lagi untuk berjaga-jaga seandainya kondisi ibu tidak segera pulih keesokan harinya. Beliau bilang sudah memberikan 6 butir obat itu kepada uda Malik, dan dia tahu 2 butir sudah digunakan untuk mengobati paman, jadi dia menyuruh aku memberikan dua butir lagi kepada uda sebagai ganti obat yang telah ditelan paman.”
“Apalagi yang dikatakan beliau?” Tanya Malik.
“Beliau juga mengatakan agar kalian jangan mengejar beliau lagi, kita disuruh segera balik dengan membawa obat penawar racun ini untuk digunakan bilamana musuh menyerang dengan racun. Dan agar ibu bisa cepat sembuh kembali. Beliau berani jamin ibu akan bisa disembuhkan dengan obat penawar racun yang beliau berikan, jika ibu masih belum sembuh juga mungkin karena racunnya sudah menyebar ke seluruh organ penting dalam tubuh ibu maka kita diharuskan untuk pergi ke nagari Batang Agam menemui Nenek Ubek Sakti untuk meminta daun Selasih Cicak agar dicampur dengan obat dari beliau dan rebus untuk diminumkan. Guna daun ini untuk memulihkan luka akibat racun yang merusak organ tubuh ibu, dan kita harus segera mengobati ibu agar jangan sampai terlambat, karena waktu untuk mengobati ibu hanya tinggal 1½ bln lagi, lewat dari masa itu biarpun Tabib Mato Tigo sendiri yang mengobati tetap saja nyawa ibu bisa tidak tertolong lagi.”
Mendengar penuturan Darman, mereka semua sepakat untuk cepat pulang membawa obat yang dibutuhkan oleh ibu mereka, setelah kondisi yang terluka sudah memadai. Obat yang diberikan oleh sang tabib memang sangat mujarab sekali, sebentar saja mereka semua sudah pulih dari keracunan hanya tinggal luka luar yang sudah mereka obati pula dengan obat yang mereka bawa dari rumah. Setelah semua selesai pengobatannya mereka menaiki kuda mereka dan melarikan kudanya ke arah pulang.
Selama melarikan kuda mereka menuju pulang masing-masing dari mereka tidak lepas dari memikirkan sang tabib yang misterius itu apalagi Lukman dan Malik, mereka masih penasaran terhadap sang tabib yang tidak berhasil mereka temui itu. Baru mereka berjalan sebentar saja mereka menemui rombongan ketiga pencari obat yaitu rombongan yang dipimpin oleh paman mereka, Datuak Samolangik, adik dari ayahnya Malik.
Mereka juga mendengar kabar bahwa tabib yang mereka cari sedang menuju ke daerah Gunung Tadikat, makanya mereka bisa sampai di daerah ini. Kebetulan perjumpaan mereka ini sudah menjelang tengah malam dan mereka semua yang tadi habis bertempur tiba-tiba merasa kelaparan, mengingat mereka tidak sempat untuk makan karena pertempuran itu memakan waktu yang cukup lama. Hal ini bisa saja terjadi karena sekarang mereka dalam situasi aman dan tenang sehingga mereka sudah bisa merasakan perut mereka kosong belum diisi. Mereka mengambil tempat melingkari api unggun yang sudah dibuat sambil membuka perbekalan mereka dan makan dengan lahapnya. Selesai makan, mereka ingin mengaso dan tiduran sejenak setelah tadi mereka bertempur mati-matian melawan musuh dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing silih berganti.
Terlihat Lukman diam membisu saja dari tadi sepertinya sedang memikirkan sesuatu, yang lain tidak berani menganggu. Kemudian dia memandang kepada mereka semua dengan wajah penuh pertimbangan, mereka sudah selesai saling bercerita pengalaman dan istirahatnya, sekarang sudah ingin bergerak untuk melanjutkan perjalanan.
“Kalian pulanglah semua dulu, bawa obat untuk ibu. Aku masih ingin tinggal di sini,”kata Lukman kepada mereka semua.
“Mau apa tuan muda Lukman tetap tinggal di sini? Bukannya tuan ingin cepat-cepat pulang bertemu dengan keluarga?” Tanya Pandeka Konek yang memang paling dekat dengan Lukman sehingga beliau berani bicara terus terang apa saja kepadanya.
“Aku ingin mencari tabib itu untuk menyampaikan maafku karena selalu salah sangka dan terima kasih atas bantuan beliau kepada kita secara langsung.”
“Tapi uda, beliau kan sudah katakan bahwa kita tidak perlu mencari beliau lagi, harus cepat pulang untuk membawa obat untuk ibu.”
“Aku tahu itu Darman, tapi aku tidak bisa menutupi rasa penasaranku akan beliau, kenapa beliau selalu bersembunyi-sembunyi menolong kita dan kenapa beliau tidak mau menemui kita? Apakah karena beliau tersinggung akan perkataanku? Jika benar aku ingin sekali minta maaf langsung kepada beliau.”
“Apa kalian juga tidak merasa aneh dan penasaran terhadap tabib ini ? Bukannya aku meragukan kemampuan beliau untuk menyembuhkan ibu kita tapi entah kenapa aku merasa harus bertemu dengan beliau untuk menuntaskan rasa penasaran yang bercokol di hatiku ini. Aku juga mendengar bahwa beliau menuju gunung Tandikat untuk mencari obat langka di sana , pasti tidak mudah untuk melakukan hal ini. Aku ingin membantu beliau karena kita sudah menerima budinya yang sangat besar itu, jadi menurutku inilah caranya agar kita bisa membalas budinya, walau beliau tidak mengharapkan balasan apapun dari kita. Bagaimana menurut kalian ?”
“Benar juga yang kau katakan Lukman, terus terang saja aku masih penasaran dengan tabib itu, beliau sudah menjaga kita dari marabahaya dan melepaskan budi pula kepada kita, rasanya kita ini sudah begitu banyak menerima budi, tapi tidak tahu bagaimana membalasnya. Aku sependapat denganmu, Man, kita memang harus membantu beliau dan kalau bisa sesudah urusannya selesai kita bisa mengajak beliau ke rumah kita agar kita sekeluarga bisa menyampaikan terima kasih yang layak kepada beliau.”
“Uda Lukman dan uda Malik, apa kalian lupa ibu sedang menunggu obat dari kita, apa kalian tidak rindu kepada ibu dan ingin melihat beliau segera sembuh,” debat Kasman dengan mimik kebingungan mendengar pembicaraan kedua kakaknya itu.
“Benar sekali Malik, apa kau tidak rindu kepada ibumu? Bukannya kau yang paling kuatir ketika ibumu sakit, apa kau tidak ingin tahu apakah ibumu bisa disembuhkan atau tidak?” Tanya Datuak Samolangik.
Kedua pemuda itu terdiam mendengar pendapat adik dan paman mereka, di batin mereka berperang keinginan untuk mencari tabib itu dan melihat kesembuhan ibu mereka.
“Uda berdua, aku mengerti perasaan uda, aku juga merasakan hal yang sama. Begini sajalah kita bertiga pergi mencari tabib itu, sedangkan yang lain pulang dengan membawa obat untuk diserahkan kepada ibu. Aku yakin berkat obat ini ibu pasti sembuh, karena tabib itu sudah terkenal kehebatannya jadi pasti beliau tidak akan merusak reputasinya dengan memberikan obat sembarangan untuk ibu. Bagaimana menurut kalian?”
“Tuan muda Darman, kau ingin ikut juga?” Tanya Jamin menatap kuatir tuan muda kesayangannya itu, diantara ketiga anak Rangkayo Jati memang Darmanlah yang paling disayangi semua orang, dia seorang yang pemuda yang ramah dan sopan kepada siapa saja. Senyumnya dapat meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya ditambah lagi dengan tutur katanya yang lembut membuat siapa saja tidak bisa marah kepadanya. Berbeda dengan Lukman yang memang dari kecil sudah menunjukan wataknya yang keras dan pendiam sehingga para pengawal agak sedikit sungkan kepadanya, sedangkan Kasman masih bertingkah laku kekanak-kanakan seperti anak kecil yang manja jadi mereka masih menanggapnya pemuda yang baru besar.
Waktu pembagian rombongan untuk mencari sang tabib saja mereka juga berebutan ingin menemani Darman, bahkan Pandeka Konek yang memang dekat dengan Lukmanpun lebih memilih ikut rombongan Darman. Tapi setelah melihat orang berebutan ingin mendampingi Darman, akhirnya dia bersama Pandeka Tangan Siluman memutuskan untuk menemani Lukman dan Malik saja.
“Paman, jangan kuatir seperti itu, kami pasti bisa menjaga diri kami, yang penting sekarang kalian pulang cepat untuk memberikan obat kepada ibu dan bersiaga kalau-kalau musuh akan menyerang kita karena mereka tahu banyak diantara kita yang tidak ada di tempat sekarang ini.”
“Kalau begitu biarlah aku ikut tuan muda, sedangkan yang lain pulang mengawal obat itu,”sahut Pandeka Konek cepat, dia ingin sekali berjumpa dengan Datuak Marindiang yang sedang mengejar tabib itu juga.
“Kami juga ingin mengawal tuan muda, bagaimana pertanggunganjawab kami kepada ayah tuan muda sekiranya kami membiarkan tuan muda pergi begitu saja tanpa kami,” Tanya Randu sambil memandang kepada Malik.
Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya mereka memutuskan rombongan Lukman dan Malik tetap mencari sang tabib, Darman tetap pulang bersama 2 rombongan lain membawa obat penawar racun tersebut. Mereka berpisah menuju arah yang berbeda, Lukman beserta rombongannya menuju arah mereka datang tadi sedangkan rombongan Darman bergerak ke Utara menuju pulang.
Setelah beberapa hari mereka melacak jejak sang tabib akhirnya mereka menemukannya sedang menuju gunung Tandikat dari arah Timur gunung tersebut, dan hampir mereka berhasil menyusul tabib tersebut tapi kembali tabib itu bisa meloloskan diri. Mereka terus mengejar beliau dengan tidak kenal lelah kadang-kadang mereka mendapat petanda dari Datuak Marindiang yang ternyata diam-diam membantu mereka juga untuk menemukan sang tabib. Sampai akhirnya suatu ketika mereka menemukan jejak sang tabib yang menuju sebuah sungai yang mengalir di sebuah hutan yang mendekati kaki gunung Tandikat tersebut.